web hit counter

Adiknya Pacarku True Story Part 20

0
351

Adiknya Pacarku True Story Part 20

“Cam, hari minggu jangan lupa ya. Kamu ati-ati pulangnya, see u on Sunday. Love u so much my cami” pesan Yunda yang tertera pada layar Hp ku, dia mengingatkan agenda kami, aku hanya menjawab singkat “Ok”, semoga dia paham aku sedang sibuk. Aku baru selesai membereskan kontrak pihak ketiga saat ini. Mataku terasa panas menatap layar monitor delapan jam nonstop & hanya sekali diselingi istirahat makan. Langsung saja aku pecah menjadi tiga file, kurapikan menjadi satu folder & siap kuberikan kepada pak Najib atasanku. Aku ketuk pintu ruangan beliau & langsung saja kuberikan data kontrak tersebut melalui flashdisk.
“semua udah pak, di cek aja dulu. Kalo ada yg kurang telpon saya aja ya pak. Maaf sy mau langsung pulang nih”
Pak Najib menerima Fd ku, beliau memeriksa sebentar, lalu berkata “Ok nanti sy cek lagi Ar. Kamu buru-buru amat mau pulang. Udah kangen sama calon istri mu ya. Heheheh” kata pak Najib sambil tersenyum.
“hehehehe. Iya pak, minggu ini ada yg harus disiapin. Mohon do’anya ya pak supaya lancer”
“iya nak tenang aja. Semoga lancer sampai hari akad mu ya. Eh ngomong-ngomong kalo udah ditentuin hari-H nya, langsung kabarin saya ya. Biar sy langsung kabarin sekantor. Hehe”

“oh iya pak, tentu. Nanti segera saya kabarkan”

“okeeh.. sy tunggu kabar baiknya yah nak. Kamu hati-hati dijalan kalo gitu”

Yah, setelah agenda kantor kami di Anyer pertengahan bulan lalu aku, ibu serta Yunda & keluarga bu Vera resmi mengakhiri kerahasiaan perjodohan kami. Ayahku setelah diceritakan mengenai keseriusanku pada Yunda menyambut baik niatku, beliau bilang asal aku sudah mantap & yakin pasti di dukung. Ayahku percaya aku sudah bukan anak-anak lagi, jadi mampu menentukan pilihan terbaik buat masa depanku. Memang selama ini aku tidak pernah mengecewakan beliau, jadi mudah bagiku mendapatkan kepercayaannya. Selain itu keluarga kami juga sudah mengenal baik om Deden serta bu Vera sehingga memudahkan persetujuan dari Ayahku. Setelah menyetujui keseriusanku, ayah langsung merencanakan lamaran resmi untuk keluarga om deden, beliau bahkan ingin agar lamaran dilaksanakan secepat mungkin.
“kalau bisa bulan ini kita sudah pinang Yunda Ar” kata Ayahku. Maka setelah lobby-lobby dari kedua keluarga, disepakati acara lamaran pada pertengahan Oktober.
Karena itulah hari minggu nanti aku & Yunda sepakat mencari baju yg sesuai & kalau bisa satu warna untuk acara lamaran nanti.
Rekan-rekan kantorku menyambut baik & ikut gembira ketika ku ceritakan perihal rencana lamaranku. Mereka menyambut hangat & siap turut serta meramaikan pernikahan ku nanti.
“mau dibeliin apa Ar buat hadiah kamu nanti? Lemari, kulkas, springbed atau kompor gas?” celetuk Bu Erni penuh semangat. Ketika kuperlihatkan foto Yunda, reaksi mereka semakin bergairah. Mereka memuji kecantikan Yunda. Aku jadi semakin semangat & mantap. Namun sayangnya bukan persiapan perjodohan ku yg membuatku semangat pulang, namun ada sebuah janji dari adikku, bahwa kami akan melakukan permainan cinta kami untuk terakhir kalinya.

Ternyata adikku sudah dari jauh-jauh hari mengetahui rencana ibu ku untuk pergi ke rumah nenek kami di Kudus. Ibu ku hendak bersilaturrahmi kepada keluarga disana sekalian mengabarkan & minta restu dari nenek perihal perjodohan kami. Ibu akan berangkat bersama Ayahku. Sebenarnya ibu juga mengajak Hana, namun dia menolak dengan alasan ada acara bersama temannya. Padahal yg sebenarnya terjadi saat Ibu & Ayah tak ada dirumah inilah dia menyiapkan “perpisahannya” denganku.

Hana sendiri semenjak pulang dari Anyer dia Nampak datar, biasa, atau berusaha cuek. Tak ada gurat sedih di wajahnya, bahkan ketika keluarga kami mengobrol tentang perjodohanku & lamaran yg dibahas untuk Yunda, aku sendiri tak bisa menebak apa yg ada dalam benak adikku saat ini. Sejak obrolan kami terakhir kali di tepi pantai itu perhatiannya padaku jadi jauh berkurang, baju-baju daster menggodanya yg dulu sering ia pakai kini berganti menjadi training panjang serta kaus oblong, walau tetap saja itu tak bisa menutupi keindahan pantat & payudaranya.

*****

Aku bangun pukul setengah Sembilan pagi. Ibu & Ayah telah berangkat sejak shubuh tadi meninggalkan aku & adikku di rumah. “ibu tinggal ya Ar” hanya itu kata-kata yg ku ingat dari ibuku shubuh tadi, aku mendengarnya dalam keadaan setengah sadar.

Dengan malas aku bangkit meraih handuk untuk bergegas mandi. Begitu keluar kamar aku melihat keadaan rumah sepi, entah ada dimana adikku.

“Deeek..” aku memanggil Hana, namun tak ada jawaban. “lagi ke minimarket apa yah?” kataku dalam hati. Disamping aku juga sungguh menanti kapan perpisahan yg dia janjikan. Aku bergegas mandi agar saat Hana siap aku juga dalam keadaan yg terbaik. Selesai mandi aku kembali k kamarku, menyalakan laptop bersiap main game online. Ohiya, sedikit cerita saja, sebenarnya Yunda agak kurang suka dengan game, menurutnya itu hanya menumpulkan otak & membuat orang jadi anti-sosial. Dia sendiri memintaku untuk mengurangi hobby ku bermain game online. Agak menyebalkan sih, tapi menurutku disinilah awalnya kami saling mempelajari & menerima perbedaan di antara kami. Yunda berpikir seperti itu wajar, dia adalah tipe orang disiplin, jarang mau menghabiskan waktu untuk hal-hal remeh & tidak bermanfaat menurutnya. Tapi aku melihat sisi positifnya, sifat disiplin luar biasa tersebut akan bermanfaat buat keluarga kedepannya, walau kadang menurutku Yunda agak over hingga memaksakan kehendak baik untuk dirinya maupun kpd orang lain, namun disitulah aku menjadi rem & pengingat buatnya. Untungnya Yunda bukan orang bebal yg sulit di ingatkan.

Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul tengah hari, perutku sudah terasa sangat lapar. Aku lupa tadi tidak sarapan pagi, jadi kuputuskan untuk mencari makan di dapur. Ketika aku keluar kamar aku kaget karena keadaan ruang tengah sangat gelap, begitu juga dengan ruang tamu & dapur. Ternyata semua gorden tertutup rapat. aku bingung siapa yg melakukan ini? Apa mungkin adikku? Tapi memang iya untuk apa? Lagipula dimana adikku.

“Deek.. kamu dimanasih?” kataku memanggilnya agak berteriak, namun lagi-lagi taka da jawaban.

Masih dalam keadaan bingung aku menuju dapur, membuka kulkas untuk mencari apapapun yg bisa ku olah atau ku makan. Lagipula lampu ricecooker menyala kuning, tanda ada nasi tanak didalamnya. Setelah aku mengambil beberapa sayuran, bumbu nasi goreng & telur, aku dua sendok nasi untuk aku goreng. Namun baru saja aku menyalakan kompor tiba-tiba ku dengar pintu terbuka, aku reflek menengok ke arah ruang tengah, terlihat Hana adikku memakai tank top serta celana street ketat. Otomatis aku melongo bego, menelan ludah karena tubuh adikku yg indah tercetak sempurna dalam balutan pakaian super ketat tersebut, belum lagi rambutnya yg dikuncir tinggi membuat leher adikku terlihat menggoda. Yang membuatku bertambah kaget adalah pakaian tersebut merupakan pakaian Hana ketika kami mengawali permainan cinta kami pada februari lalu. Namun terlihat kali ini tubuhnya semakin semok, mungkin karena sudah menghabiskan banyak waktu dirumah & tidak terlalu banyak kegiatan sehingga aku merasa tubuhnya pantat serta lengannya tambah berisi.

“Laper mas? Sini aku aja yg masakin” kata adikku tersenyum, aku cuma bisa melongo.

“ini gorden kenapa pada ditutup dek?” aku mencoba menyembunyikan kegugupan ku.

“Mas duduk aja, sini biar aku yg masak” katanya penuh otoritas.

******

Aku duduk dimeja makan sementara adikku Hana memaasak nasi goreng buatan kami berdua. Mataku benar-benar dimanjakan melihat pantat serta punggung adikku yg sedang memasak, walau masih tertutup oleh pakaiannnya namun sekali lagi itu tak mampu menyembunyikan tubuhnya, apalagi kait bra’a yg tercetak dipunggung adikku.

Tak lama kemudian nasi goreng ayam pedas tersaji didepan kami. Aku mencoba makan walau sesekali mataku menatap belahan dada adikku yg terlihat jelas didepan mataku. Sungguh aku tak mampu menikmati lezatnya nasi goreng buatan Hana ini. Belum lagi suasana dapur & seluruh rumah yg remang-remang.

Selesai makan Hana menyajikan teh madu untuk kami. Keluargaku memang penyuka madu, aku & Hana sering mencampur madu dengan susu atau roti saat kami sekolah dulu, bahkan adikku masih suka sampai sekarang. Ibu suka meminumnya langsung, sedang ayah kadang mencampurnya dengan jamu kadang mencampurnya dengan telur ayam kampung.

Kami meminum teh dengan tenang. Aku sendiri masih bingung mengapa adikku menutup gorden rumah kami. “Dek, ini kamu yang nutup gorden semuanya?” adikku hanya mengangguk sambil menyeruput teh nya.

“buat apa dek?” aku mencoba bertanya lagi.

“Abisin teh nya mas” dia mengacuhkan aku.

Selesai menghabiskan teh kami tiba-tiba adikku berdiri lalu menuju jendela dapur kami, sekilas dia tampak memeriksa kerapatan gordennya, lalu dia berbalik menghadap ke arahku.

“Mas, aku udah janji mau ngasih kamu yg terakhir kalinya..” kata adikku sambil wajahnya menunduk namun tampak merona merah. “Karena ini yg terakhir aku pengen ini berkesan buat kita berdua… jadi bisa gak aku sama mas seharian ini….. di rumah & pake…. daleman aja”
Deg!! Jadi ini alasan adikku menghalangi cahaya masuk ke penjuru rumah kami…

Bersambung

Hallo Bosku, Disini Admin KisahMalah
Agar Admin Semakin Semangat Update Cerita Cerita Seru Seterusnya, Bantu Klik Iklan yang Ngambang ya.
Atau Gambar Dibawah INI

Atau Bagi Kamu yang suka bermain game Poker Online atau Gambling Online lainnya, bisa di coba daftarkan ya. Banyak Bonus dan Hadiahnya Loh.
Untuk yang Kesulitan Daftar bisa Hub Admin di WA untuk di bantu Daftar.
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part