web hit counter

Adiknya Pacarku True Story Part 9

0
402

Adiknya Pacarku True Story Part 9

Tak akan pernah aku lupakan obrolan panjang antara diriku dengan Hana, sehari setelah percumbuan kami dikamar mandi itu aku beranikan diri bertanya dari mana dia tahu seni handjob & blowjob, karena sejujurnya aku tak pernah menyangka dia akan memberikan servis dari mulutnya pada penisku. Pelan-pelan dia ceritakan pengalaman-pengalaman kurang menyenangkan yang dia alami selama kuliah, dia ceritakan apa yang dia Prasetya & Eko lakukan padanya, bagaimana dia melihat foto-foto & video syur teman sekostannya, dia pun tak lupa menceritakan bagaimana tubuhnya mengalami sensasi aneh pada tubuhnya ketika melihat file pada Hp Tari sampai Hana mengeluarkan cairan kewanitaannya. Puncaknya adalah ketika dia hampir saja merelakan tubuhnya dinikmati oleh Eko, dia mengakui merasakan kenikmatan aneh disekujur tubuhnya, terutama ketika payudaranya diremas & vaginanya dipermainkan, rasa penasaran untuk menggapai puncak kenikmata itu yg hampir menamatkan status mahasiswi berprestasi yg melekat padanya.

Mendengar cerita adikku tersebut, hatiku panas, tanganku terkepal, ingin rasanya aku mencari kedua orang itu & memberi mereka pelajaran, “akan kubuat mereka cacat seumur hidup” emosiku dalam hati, namun didalam imajinasi & fantasy liarku, aku tak bisa tidak horny mendengar ceritanya. Didalam suara nafsuku, aku ingin melihat wajah serta ekspresi tubuh adikku ketika jatuh sesaat dalam birahi bersama Eko. Tapi!! Ada suatu pertanyaan yang sebenarnya tak pernah ingin kutanyakan, karena aku tak pernah mau tahu jawabannya, tapi ada suatu dorongan kuat dari dalam diriku untuk mengeluarkan pertanyaan ini, akal sehatku menolak, tapi justru akal birahiku setuju dengan pertanyaan ini, kenapa? Karena birahi ku yakin apapun jawaban dari pertanyaan ini nantinya akan menambah gairah seksual ku pada tubuh Hana, adikku sayang.
Maka dengan segenap keberanian yg aku kumpulkan, kutanyakan ini pada Hana
“terus dulu waktu pertama kali Mas cium bibir kamu, terus mulai gerayangin badan kamu sampai mainin dada sama vagina mu, kenapa kamu gak nolak dek? Sampe akhirnya kita keluar bareng-bareng kenapa kamu gak teriak?”
Adikku kaget mendengar pertanyaanku, sempat kutangkap kebingungan dalam wajahnya, entah dia bingung karena tidak tahu atau bingung mencari kata yang tepat untuk menjawab sebelum akhirnya dia mulai bicara.
“sebenernya awalnya aku jelas nolak.. aku bener-bener kaget Mas bisa nekat kaya gitu, kata siapa aku gak mau teriak” kata adikku sambil menatap kuku-kukunya, tak mau menatap mataku, lalu dia melanjutkan,
“tapi waktu mas cium bibir aku, lama-lama badanku ngerasa aneh lagi, mirip waktu aku dipeluk sama Eko, aku bingung waktu itu, hatiku pengen banget nolak, tapi aku gak bisa bohong kalo badanku pengen nerima lebih, lagian aku gak ngerasain ancaman dari ciuman mas, waktu itu perlahan aku ngerasa nyaman, dan waktu itu gak tau kenapa, aku gak bisa lagi nahan perasaan aneh tubuh aku, jadi aku pengen rasa penasaran itu tuntas hari itu juga.”
Aku diam, fikiran ku tak karuan, bingung mau memberikan tanggapan seperti apa, aku benar-benar takut salah bicara. Namun ternyata perkataan Hana belum selesai, dia kembali bicara,
“Dan menurut aku, nuntasin penasaran ini sama mas jauh lebih baik daripada sama Pras & Eko” Aku pun melongo bego.

Setelah obrolan dengan ibu di telpon yang mengabarkan Hana menerima interview pekerjaan di Bandung aku sempat terbengong sebentar, Hana akan bertemu dengan ku lagi di Bandung. Perasaan rindu yang selama ini tertahan dan ingin meledak seolah mendaptkan pemantiknya, “udah hampir tiga minggu mas gak ketemu kamu dek” batinku.
Saat itu juga peristiwa-peristiwa menyenangkan pasca curhatan Hana yg terekam dalam kenanganku malah berputar kembali dalam kepala. Aku ingat waktu bagaimana aku & Hana menonton film Kapten Amerika Perang Saudara di Laptop sambil tangan Hana bermain dipenisku dan tanganku bermain pada dadanya, bagaimana percumbuan kami dikamar orang tua kami hingga aku orgasme diatas perut Hana, juga ketika aku mencumbui Hana sambil dia membuatkan sarapan buat kami, & yang paling berkesan adalah ketika Hana sedang membuat roti selai coklat dimeja makan, tiba-tiba aku cumbui lehernya dari belakang, setelah pemanasan dengan saling pagut, saling gesek & saling meremas, lalu aku singkap daster putih belang hitam yang dia kenakan hingga CD & Branya tampak di wajahku, aku singkap Bra coklatnya, lalu bermain diputing kirinya yg jd favorit ku sekaligus menjadi titik lemah Han.
Bagian terbaiknya adalah ketika aku tuangkan selai coklat disekujur perut, buah dada melintasi kedua putingnya sampai leher dan mulutnya. Aku mulai jilatanku dengan untuk menyapu coklat ditubuh Hana, dimulai dari pusarnya, perut, payudara melonnya kiri & kanan, leher & berakhir dibibirnya yang ranum. Ooohh, luar biasa sensasinya waktu itu, ditambah dengan racauan tak jelas yg keluar dari mulut adikku, benar-benar momen sensual yg luar biasa, dan berakhir dengan orgasme kami berdua sambil berpelukan diatas meja makan.
Aku membayangkan kenangan-kenangan yg kami lalui sambil berharap, semoga bisa melepaskannya hasrat yg terpendam selama ini saat Hana di Bandung nanti.

Aku lihat arlojiku, aku kaget, sudah pukul Sembilan, “ya ampun, udah sejam aja gw ngayalin adek gw, sialan lah” aku raih tasku & bergegas menuju kantor.
Tempat pelatihan Kantorku adalah sebuah hotel berbintang di Bandung, letaknya strategis dekat dengan pusat kota. Kami tiba saat adzan shubuh berkumandang dikota Bandung. Setelah istirahat sebentar kami langsung ke loby hotel. Setiap Divisi akan memiliki jatah kamarnya masing-masing. Di divisi kami ada Pak Najib sebagai kepala divisi, aku, Bu Erni serta Pak Ilham. Sebagai wanita satu-satunya Bu Erni sempat protes dengan cara pembagian kamar ini, namun setelah mengecek kondisi kamar, ternyata kamar ini memiliki ruang televisi sendiri serta dua kamar lagi didalamnya, akhirnya Bu Erni mampu menerimanya. Sebenarnya toh kalau difikir tak aka nada yg mau macam-macam dengan dia, Bu Erni adalah sosok wanita berumur 42 tahun yg cerewet & tukang gosip, sebenarnya beliau baik, waktu awal-awal aku dikantor dia pernah mentraktirku nasi padang terenak didekat kantor, tapi mulutnya itu tak pernah berhenti bicara, seperti senapan mesin, ada saja yg dia bicarakan. Bodynya tak menarik, pantatnya turun, perutnya menggembung. Sedangkan Pak Ilham adalah pria kurus tinggi dengan rambut lurus,taka da yg menarik dari penampilannya kecuali sifatnya kebapakan banget, karena beliau seumuran dengan Pak Najib Bos Kami. Pak Najib sendiri pria tambun dengan rambut tipis hampir botak, sifatnya menyenangkan.
Karena hanya satu-satunya wanita dalam tim ini, Bu Erni mendapatkan kamar dekat balkon & ada jendela yg menghadap langsung ke luar. Beruntungnya arah kamar kami menghadap langsung ke Kota Kembang, sedangkan kami bertiga para pria mendapatkan kamar yg besar ditengah. Namun dalam hati aku lebih memilih tidur disofa depan Tv di banding berdesakan dengan para pria ini. Hehehehehe..
Kami hanya diberi istirahat sebentar dikamar ini, karena kegiatan kami langsung dimulai hari ini juga di Ballroom Hotel.
Kegiatan pelatihan kami berjalan seharian penuh, dari pukul Sembilan pagi hingga tujuh malam. Dihari pertama pelatihan, tak semua peserta bisa benar-benar fokus pada materi yang dibawakan, karena sebagian dari kami masih lelah diperjalanan. Malamnya kami seperti dibius, kembali ke kamar masing-masing lalu langsung tertidur. Yang menyenangkan adalah malam dihari kedua kegiatan, Pak Najib mengajak kami jalan-jalan, aku yang sudah cukup hafal spot-spot menyenangkan di Bandung menjadi pemandu mereka.

Aku benar-benar larut pada kegiatan pelatihanku hingga lupa kalau hari ini adalah hari kedatangan adikku Hana ke kota ini. Pukul empat sore dihari ketiga pelatihan, ponselku berbunyi, ada pesan yang ternyata dari adikku “Mas, aku udah diterminal Leuwip*****g, bisa jemput aku sekarang?” aku benar-benar lupa adikku akan datang, jadi tak sempat bilang apa-apa pada pak Najib. Yah tapi mau bagaimana lagi, aku harus menjemputnya. “OK tunggu” balasku dalam pesan.
Dengan berpura-pura izin ke toilet, aku keluar dari Ballroom, & dengan sembunyi-sembunyi aku menyelinap keluar hotel langsung menyetop sebuah taksi. Dalam taksi aku mengutuki diri sendiri karena belum sempat bertanya dimana adikku akan interview, jadi aku belum sempat mencarikan Hana tempat menginap.
“kamu tunggu di gerbang terminal aja ya dek, biar gampang nyarinya” aku pesan adikku
“iya, ini udah digerbang kok” balas Hana.
Sepuluh menit kemudian aku sampai diterminal, untungnya tak sulit menemui adikku, mobilpun berhenti tepat didepannya.
“apa kabar kamu dek?” sapaku ketika keluar dari mobil, Hana tak menjawab, hening sesaat sebelum dia menyambar tubuhnya ketubuhku, dia peluk erat diriku, aku dengar dia sedikit terisak membenamkan kepalanya dalam dadaku, masih dengan suara terisak adikku berkata “Mas aku kangen banget” walau wajahnya terbenam ketubuhku suaranya masih dapat kudengar jelas. “Mas juga kangen sama kamu dek” sambil kubelai kepalanya yg berjilbab.

“Ini pak hotelnya?” kataku bertanya pada pak supir Taxi. “iya pak, yg lumayan murah, tapi gak jelek kok saya jamin” katanya sambil menurunkan tas ransel adikku dari bagasinya.
“oh gitu ya, yaudah deh makasih ya” kataku sambil membayar ongkos taxi.
Tanpa membuang-buang waktu aku bantu Hana melakukan check in, lalu menuju ke kamarnya.
Dari cerita Hana selama perjalanan kami, dia menerima panggilan disebuah perusahaan pengembangan IT di daerah cik**o. interviewnya dimulai besok pagi jam Sembilan. Yah adikku memang cukup menguasai komputer, bahkan disemester lima dia sudah mahir bermain dengan coding. Tapi yang membuatku bingung setelah kami berpelukan tadi, ekspresi wajah Hana jd aneh, kami memang ngobrol, tap nada bicaranya tak bergairah seperti biasa, & yg lebih mengganjal adalah dia tak pernah mau menatap mataku.
“ini pak kamarnya, ini kuncinya, adalagi yg bisa sy bantu?” perkataan pelayan hotel menyadarkan lamunan ku.
“oh sudah mas, makasih yah” sambil menyerahkan selembar uang dua puluh ribuan sbg tip.
Kamar ini berada di lantai empat, cukup nyaman, walau kecil tapi bersih dan harum, kamar ini jg memiliki balkon yg menghadap jalan raya. Begitu petugas hotel itu pergi Hana langsung melemparkan badannya ke kasur, “aarrrgggghhh, capeknya!!” sambil meluruskan tangan & kakinya sehingga badannya membentuk huruf X. aku hanya tersenyum.
Saat itu dia memakai jilbab ungu favoritnya, dia juga mengenakan jersey meriam London warna emas (Hana ini fans Thiery Henry dulunya, makanya jadi fans meriam London. Sekarang dia cinta mati sama mesut oezil, lah ane sendiri malah fans Setan Merah karena gaya maen ane Paul Scholes banget. Hehehe) dengan jaket jeans biru.
“mendingan sana kamu mandi, baru istirahat, nih buat beli cemilan, nanti malem kita makan. Sekarang kakak balik ke pelatihan lagi ya” aku menyarankan.
Adikku bangkit, dia duduk dipinggir kasur sambil menatapku tajam, aku jadi sedikit deg-degan dia menatapku seperti itu, baru agak lama sambil bangkit dan melengos dia bilang
“jangan bohong ya, gak enak tau di anggurin” kata Hana.
Deg!! Lagi-lagi aku dibuatnya kaget sekaligus bingung, memang Aku menangkap rasa kesal, cuek, ngambek dan sejenisnya dari kata-kata ini, tapi sebenarnya apa maksud dari kata-kata Hana tadi?

Bersambung

Hallo Bosku, Disini Admin KisahMalah
Agar Admin Semakin Semangat Update Cerita Cerita Seru Seterusnya, Bantu Klik Iklan yang Ngambang ya.
Atau Gambar Dibawah INI

Atau Bagi Kamu yang suka bermain game Poker Online atau Gambling Online lainnya, bisa di coba daftarkan ya. Banyak Bonus dan Hadiahnya Loh.
Untuk yang Kesulitan Daftar bisa Hub Admin di WA untuk di bantu Daftar.
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part