web hit counter

Black Circle Part 19

0
379
kisah malam

Black Circle Part 19

Siapa Dia?

Sudah seminggu sejak kepulangan Viona ke Jakarta, hari-hari Haris sudah berjalan seperti biasa lagi. Dia beberapa kali dihubungi oleh Andi, sekedar memberi kabar kalau Viona baik-baik saja, dan mengatakan kalau sampai saat ini dia belum bisa menemukan orang yang bisa benar-benar dipercaya untuk melindungi, atau paling tidak bisa diajak sharing oleh Haris soal hal itu. Andi juga menanyakan apakah ada yang mengikuti atau mengganggu Haris. Selama seminggu ini Haris tak merasa ada yang mengikuti bahkan sampai mengganggunya. Dia hanya tak menyadari saja, kalau dari jauh, sepasang mata selalu mengawasinya.

Meskipun begitu, orang yang mengawasi Haris itu tak pernah bergerak mendekat. Dia memang sudah dipesankan oleh bossnya agar tidak melakukan apapun selain hanya mengawasi Haris. Lagipula dalam seminggu ini, kegiatan Haris hanya berkutat di kantor dan kostannya saja. Beberapa kali dia keluar untuk makan malam dengan adiknya, tapi hal itu tak sampai dilaporkan pengintainya kepada sang boss.

Haris juga sudah beberapa kali berkomunikasi dengan Lidya. Gadis itu menceritakan kalau setibanya di Jakarta Viona langsung menemuinya. Banyak hal yang diceritakan, tapi semua hampir mirip dengan cerita Viona kepada Haris. Lidya juga mengatakan kalau dia belum mendapat informasi dari kakaknya tentang Titus.

Haris juga berpesan kepada Lidya untuk meminta bantuan kepada kakaknya, agar bisa melindungi Viona. Ternyata Lidya memang sudah meminta hal itu kepada kakaknya, dan itu membuat Haris sekarang bisa menjadi lebih tenang. Hanya saja dia masih belum dihubungi oleh Viona. Haris masih penasaran apakah Viona juga langsung menemui Aldo atau tidak. Haris penasaran dengan apa yang ingin dibicarakan oleh Viona dengan Aldo, dan ingin tahu hasilnya seperti apa. Tapi dia masih segan untuk langsung bertanya pada Viona. Karena itulah dia meminta Lidya untuk mengorek informasi itu dari Viona.

Sementara itu di kantornya, setelah resmi diangkat menjadi karyawan tetap dengan diberikannya SK oleh pak Eko beberapa hari yang lalu, semangat kerja Haris kian naik. Apalagi rekan-rekannya di kantor juga selalu memberinya dukungan, terlebih pak Eko dan Eva. Semua yang diterimanya ini membuat hari-hari yang dijalaninya menjadi lebih mudah.

Jika sudah pulang dari kantor, Haris lebih sering menghabiskan waktunya di kostan saja. Tapi hari ini adiknya mengajaknya keluar. Rani kemarin cerita kalau dia agak pusing dengan kegiatan di kampusnya, apalagi dengan dibebani penelitian yang seharusnya belum dia lakukan sekarang. Karena itulah dia ingin refreshing, dan mengajak Haris untuk nonton di bioskop.

Haris sudah bersiap untuk menjemput Rani. Tadi dia sempat berbasa-basi dengan teman kostnya. Selama kost disini, Haris memang tidak terlalu akrab dengan para tetangga kamarnya itu. Sebenarnya bukan hanya Haris, tapi rata-rata penghuni kost disini memang seperti itu. Kalau bukan teman sekantor atau sekampus, maka sangat jarang yang saling mengenal, apalagi berinteraksi.

Haris sudah sampai di depan kostan Rani. Dia menunggu di kursi depan yang memang disiapkan untuk para tamu. Kostan ini melarang anak kostnya untuk membawa masuk tamu lawan jenis, kecuali memang keluarga inti mereka. Haris sebenarnya sudah cukup dikenal oleh penjaga kost disini dan juga sebagian besar teman kost Rani, tapi dia memilih untuk tetap menunggu di depan saja.

“Mas Haris mau ketemu Rani? Kok nggak masuk aja mas?” tanya seorang wanita yang menghampirinya. Wanita itu adalah penjaga kost ini.

“Eh, iya bu. Disini ajalah, abis ini kami mau keluar soalnya.”

“Oh gitu. Ngomong-ngomong, mas Haris ini kerja dimana?”

“Itu bu, di PT Dwiputra. Kantornya di daerah nol kilometer, deket alun-alun lor.”

“Oh disana tho? Deket sama rumah saya itu mas.”

“Lho emang ibu rumahnya disana?”

“Iya, rumah saya daerah alun-alun mas. Tapi yang tinggal disana sekarang anak saya. Kapan-kapan mampir kesana lah mas.”

“Iya deh bu, boleh tuh kalau dari kantor keujanan, bisa numpang neduh ya bu? Hehe.”

“Boleh aja kok mas. Eh tuh mbak Rani udah dateng mas. Saya duluan mas, mau belanja.”

“Oh iya makasih bu.”

Sepeninggal penjaga kost itu tak lama kemudian Rani menghampiri Haris. Dia juga sudah bersiap. Tak menunggu lama keduanyapun berangkat. Mereka menuju ke sebuah gedung bioskop yang kondisinya malam ini cukup ramai. Tapi Haris tak perlu khawatir karena tadi siang Rani sudah membeli tiket untuk malam ini. Sampai di bioskop mereka langsung masuk dan mencari tempat untuk menunggu karena film yang akan mereka tonton baru akan diputar setengah jam lagi.

“Mas aku beli popcorn sama minuman dulu ya? Mas Haris mau apa?”

“Yang biasanya aja Ran.”

“Oke.”

Rani kemudian beranjak untuk membeli makanan dan minuman, sedangkan Haris duduk menunggunya. Haris mengedarkan pandangannya ke sekitar. Banyak juga pasangan muda-mudi yang menghabiskan malam ini. Tak hanya muda-mudi, tampak juga beberapa orang tua yang membawa anak-anak mereka yang masih kecil, karena memang ada film untuk keluarga juga yang diputar hari ini.

Sampai kemudian pandangan Haris terhenti pada satu titik. Dia tak berkedip, melihat seorang gadis yang sedang berkumpul dengan teman-temannya yang semuanya adalah perempuan. Gadis itu sangat cantik menurut Haris. Penampilannya anggun dan tertutup. Beberapa kali gadis itu tersenyum dan membuatnya semakin manis.

Untuk beberapa saat Haris terpaku, tak mengalihkan sama sekali pandangannya dari gadis itu. Ada sesuatu yang timbul di dalam diri Haris. Dia tak tahu itu apa, dan belum mau tahu, karena yang dia mau saat ini terus memandangi gadis cantik itu.

“Mas, hoy, malah bengong,” tiba-tiba Rani datang dan duduk di sebelahnya lagi.

“Eh kamu Ran, ngagetin aja sih.”

“Emang kenapa sih mas? Mas Haris lihat apaan?”

“Eh, enggak kok, hehe.”

“Apa hayoo? Liatin cewek pasti ya?”

“Hehe, iya Ran.”

“Yang mana mas?”

“Yang itu, loh, kemana ya?”

Haris celingukan karena gadis yang tadi dia lihat sudah tidak ada di tempatnya. Haris mencari-cari gadis itu, tapi karena kondisi di gedung bioskop ini yang cukup ramai membuatnya tak bisa menemuikan gadis itu lagi.

“Mana mas?” tanya Rani lagi.

“Nggak ada Ran, udah ilang. Udah masuk mungkin.”

“Ooh.. emang siapa sih mas?”

“Yaa nggak tau, nggak kenal.”

“Cantik ya?”

“Iya Ran, banget, hehe.”

“Ya salahnya nggak disamperin tadi. Ya udah deh, masuk yuk mas, tuh udah dibuka.”

“Ayo.”

Haris dan Rani berjalan ke studio yang akan memutar film yang akan mereka tonton. Haris masih sambil melihat ke sekitar, berharap menemukan gadis itu lagi, tapi sampai dia masuk tak juga ditemukan. Haris hanya mengangkat bahunya saja, sambil berharap, suatu saat, kapanpun itu, bisa dipertemukan dengan gadis itu lagi.

Di dalam gedung bioskop Haris tak terlalu menikmati film yang dia tonton. Film ini tentang drama cinta-cintaan, bukan genre favoritnya. Tapi karena memang Rani yang ingin menonton, dan Rani yang memang sedang butuh refreshing, maka Haris menurut saja. Akhirnya setelah hampir 2 jam film itupun selesai. Haris cukup senang saat melihat wajah adiknya sudah ceria lagi. Baginya, yang penting sang adik merasa senang, diapun ikut senang.

Setelah dari bioskop mereka sempat mencari makan malam dulu, baru mengantar Rani pulang ke kostnya. Setelah itu Haris pulang ke kostnya sendiri. Sampai di kost, dia kembali terbayang dengan gadis yang sempat dilihatnya tadi. Dia benar-benar berharap bisa bertemu lagi dengan gadis itu, untuk kemudian berkenalan. Selanjutnya urusan nanti, yang penting berkenalan saja dulu.

+++
===
+++​

Beberapa hari setelahnya, Haris kembali menjalani aktivitasnya seperti biasa. Tapi dia masih saja kepikiran dengan gadis yang dilihatnya tempo hari di bioskop. Memang sayangnya dia tak sempat menghampiri dan berkenalan dengan gadis itu. Mencarinya juga tak mungkin, mau mencari kemana? Kenal saja tidak.

Sore harinya ketika pulang kantor dan sudah sampai di kostnya, Haris merasa bosan dan ingin jalan-jalan keluar. Tapi sayangnya Rani sedang ada acara dengan teman-teman kampusnya. Mau mengajak Bagas, dia juga sedang keluar dengan pacarnya. Mau tidur, masih terlalu sore. Akhirnya setelah mandi diapun memutuskan untuk jalan-jalan ke mall, sekalian membeli beberapa baju yang belum sempat dia lakukan sesampainya di kota ini.

Haris berjalan sendirian di mall. Agak iri juga dia melihat beberapa orang yang berpasangan, saling bergandengan tangan, atau bercanda dengan mesra. Dia jadi teringat beberapa bulan yang dia jalani di Jakarta, sempat seperti itu dengan Lidya. Dia hanya tersenyum dan menggelengkan kepala, ‘Nantilah kalau udah punya pacar, bisa jalan-jalan seperti mereka, batinnya.

Setelah membeli beberapa pakaian yang dia suka, dia melihat jam. Belum terlalu malam, dan rasanya juga belum ingin pulang, tapi dia bingung mau kemana lagi. Akhirnya Haris memutuskan untuk melangkah ke sebuah toko buku. Tidak ada yang ingin dicarinya, hanya menghabiskan waktunya saja disitu, siapa tahu ada yang bisa dibaca-baca, atau mungkin dibeli.

Hampir lima belas menit Haris berkeliling di toko buku itu sampai akhirnya berhenti di rak khusus majalah, yang berada di samping rak untuk novel terbitan baru. Dia mengambil beberapa untuk dibaca. Saat sedang asyik membaca dia merasa di sampingnya ada orang yang sepertinya sedang kesulitan untuk meraih ke bagian atas. Diapun menolehkan kepalanya ke samping, dan betapa terkejutnya dia melihat siapa yang ada di sampingnya. Seorang gadis. Dan ternyata, gadis itu adalah gadis yang dia lihat di bioskop tempo hari.

Gadis itu kemudian menoleh ke Haris karena merasa sedang dilihat. Dia tersenyum kepada Haris, yang membuat Haris membalas senyumannya.

Ya ampun, manis banget.”

Keduanya sempat sesaat terdiam saling tatap. Tapi kemudian gadis itu kembali mencoba untuk meraih sesuatu di bagian atas rak buku itu. Haris ikut melihat ke atas, sepertinya gadis itu ingin mengambil sebuah buku.

“Butuh bantuan?” tanya Haris.

“Eh, hmm boleh kalau nggak ngerepotin,” jawab gadis itu.

Suaranya yang lirih terdengar indah di telinga Haris. Diapun tersenyum mendengarnya, dan mencoba meraih apa yang ingin diambil oleh gadis itu.

“Yang ini?”

“Iya.”

Setelah memastikan buku mana yang diinginkan oleh gadis itu, Harispun mengambilnya. Dia lalu memberikannya kepada gadis itu.

“Makasih ya mas.”

“Iya sama-sama.”

Tak lama kemudian gadis itupun pergi meninggalkan Haris yang masih mematung, memandangi gadis itu sambil tersenyum. Pandangan matanya bahkan terus mengikuti langkah gadis itu ke kasir. Setelah membayar buku yang dibelinya gadis itu kemudian keluar dari toko buku. Semua itu terus diikuti oleh pandangan mata Haris, yang masih saja tersenyum dan mematung di tempatnya tadi.

Setelah gadis itu hilang dari pandangan Haris, diapun kembali menatap majalah yang dari tadi sedang dibacanya. Tapi baru beberapa saat melanjutkan membaca majalah itu, tiba-tiba Haris tersadar, kemudian menepuk keningnya sendiri.

Loh, kok ****** banget tho? Kenapa tadi nggak kenalan? Duh, mana lagi cewek itu?

Cepat-cepat Haris mengembalikan majalah yang dia baca ke rak kemudian bergegas keluar dari toko buku itu. Haris celingukan melihat ke kanan kiri, mencari kemana perginya gadis itu. Dia kemudian melangkah ke kiri, karena yakin tadi gadis itu juga melangkah ke arah kiri. Sambil berjalan dia terus melihat ke kiri kanan, siapa tahu ketemu lagi dengan gadis itu. Tapi mencari seseorang di sebuah mall sebesar ini, dengan orang-orang sebanyak ini, bukanlah hal yang mudah.

Sampai akhirnya Haris capek sendiri, dia tak ketemu lagi dengan gadis itu. Dalam hati dia mengumpat sendiri, menyadari kebodohannya. Padahal kesempatan emas datang, dia bisa saja berkenalan dengan gadis itu tadi, tapi bukannya melakukan itu, malah dia hanya berdiri terpaku dan melihatnya saja.

Aduuh bener-bener bego deh. Kenapa tadi nggak kenalan sih? Kalau gini gimana mau nyarinya coba? Oalah Ris Ris, kok yo bodoh banget kamu ini.’

Terus terusan dia menyalahkan dirinya. Karena sudah cukup malam diapun memutuskan untuk pulang saja. Sepanjang perjalanan dia masih terus memikirkan momen yang dia lewatkan tadi. Sebuah kesempatan emas, yang terlewat begitu saja hanya karena dia tak bergerak sedikitpun.

Haris sangat menyesalinya, karena kesempatan seperti itu mungkin tidak akan pernah datang lagi. Padahal sudah berhari-hari dia terbayang oleh gadis itu. Hari ini bertemu, bahkan sempat bicara dengannya, tapi bodohnya malah tidak berkenalan. Akhirnya diapun hanya bisa berdoa dalam hatinya, agar diberi kesempatan sekali lagi bertemu dengan gadis itu, yang tak akan dia sia-siakan lagi.

Duh Gusti, kalau dia jodohku, pertemukanlah kami kembali. Kalau dia bukan jodohku, tolong jodohkanlah kami.’

+++
===
+++​

“Heh Ris, ngelamun aja!”

“Eh aduh. Mbak Eva ngagetin aja.”

“Ya abis kamu dari tadi bukannya kerja malah ngelamun. Lagi mikirin apa? Itu kerjaan udah beres?”

“Udah beres semua kok mbak, nih.”

Haris memperlihatkan pekerjaannya kepada Eva, yang memang telah selesai. Saat ini, atau lebih tepatnya setelah Haris menerima SK pengangkatan karyawan tetap minggu lalu, dia memang memanggil Eva dengan sebutan mbak. Itu Eva sendiri yang memintanya, biar nggak terlalu kaku katanya. Selain Eva, beberapa karyawan lain yang usianya tidak terpaut jauh dengan Haris juga minta dipanggil mas atau mbak saja.

Hal ini tentunya berbeda dengan yang di kantor pusat. Dulu selama di kantor, Haris tetap bersikap profesional dengan memanggil bu kepada Viona. Tapi disini, hal itu tidak berlaku. Mereka bisa kembali saling memanggil pak atau bu kalau ada tamu dari kantor pusat. Pak Eko sebagai kepala cabang disini sudah tahu, dan dia tidak masalah dengan hal itu.

“Hmm ya baguslah kalau udah kelar. Tapi kamu ni kenapa kok malah ngelamun tadi? Nggak biasanya kayak gini? Hmm, pasti mikirin cewek ya?”

“Haha, mbak Eva kok mikirnya langsung kesitu sih?”

“Yaa abis, apa lagi yang mau dipikirin cowok seumuran kamu? Kerjaan ada, tampang bolehlah, tinggal pasangan aja kan yang belum punya?”

“Haha, bisa aja sih mbak. Tapi ya, emang gitu sih, hehe.”

“Nah kan bener. Cerita dong Ris, siapa cewek yang beruntung itu?”

“Haduh, beruntung gimana mbak? Yang ada malah aku yang sial.”

“Loh, kok gitu?”

“Iya. Jadi gini mbak, minggu kemarin kan aku nonton sama adikku, nah disana aku ngeliat ada cewek, cantik banget mbak, manis gitu. Tapi ya cuma ngeliat aja, nggak sampai nyamperin. Nah kemarin itu, aku ketemu lagi sama cewek itu di toko buku. Aku liat dia butuh bantuan ngambil buku, aku bantuin.”

“Lha terus, apanya yang sial? Justru beruntung dong ketemu lagi gitu?”

“Sampai disitu sih masih beruntung. Tapi abis itu sial mbak. Aku tuh, hmm, gimana ya, lupa nggak kenalan sama dia.”

“Hah? Kok bisa lupa?”

“Yaa nggak tau mbak. Aku cuma diem aja liat dia pergi. Pas udah beneran pergi, baru nyadar kalau belum kenalan. Pas aku kejar, eh udah nggak tau kemana tuh cewek.”

“Hahaha, lha kok bisa gitu sih Ris? Itu sih kamunya yang oon.”

“Nah itu dia mbak, kan sial kan jadinya?”

“Bukan sial, tapi bego, hahaha.”

“Haha, sialan. Duh, gimana ya mbak? Kira-kira aku bisa ketemu lagi nggak ya sama cewek itu?”

“Yaa mana aku tau. Ya berdoa aja Ris, kali aja kan jodoh kamu, jadi bisa ketemu lagi. Tapi kalau udah ketemu, ajakin kenalan, jangan cuma diem aja.”

“Iya mbak, pokoknya kalau ketemu aku ajakin kenalan deh. Urusan dia udah ada yang punya sih belakangan, yang penting kenal dulu.”

“Nah gitu dong. Kalau udah ada yang punya, tapi belum nikah, sikat aja Ris, rebut, haha.”

“Yee nggak bisa gitu dong.”

“Lha kenapa nggak bisa? Bisa ajalah, namanya juga usaha kan? Siapa tau nantinya malah jadi milik kamu. Selama janur kuning belum melengkung, kan masih milik umum.”

“Kalau udah melengkung mbak?”

“Ya terserah, kalau mau disetrika aja biar lurus lagi, haha.”

“Haha, bisa aja sih mbak. Ah, tapi itu nanti lah, yang penting bisa ketemu lagi aja, aku udah seneng, hehe.”

“Hmm, jadi ceritanya, kamu lagi jatuh cinta pada pandangan pertama nih?”

“Hehe, mungkin sih mbak. Soalnya dari pertama liat itu aku udah kepikiran terus.”

“Yo wes, yang penting berdoa aja. Dan yang pasti, jangan sampai ganggu kerjaan kamu lho. Untung ini kerjaan kamu udah beres. Awas ya kalau lain kali aku liat kamu ngelamun lagi tapi kerjaan belum beres.”

“Siap mbak boss.”

+++
===
+++​

Di tempat lain, disaat yang bersamaan. Titus sedang duduk bersantai di ruang tamu sebuah rumah dengan hanya memakai celana pendek dan kaos singlet saja. Dia sedang menunggu kedatangan seorang anak buahnya, yang dia suruh untuk mengikuti dan mengumpulkan informasi tentang Haris. Tak lama kemudian anak buahnya itupun datang juga.

“Sore boss, maaf udah bikin nunggu lama.”

“Iya nggak papa. Jadi gimana? Kamu udah dapet info apa aja soal anak itu?”

“Seperti yang udah saya kasih tau kemarin itu boss, si Haris itu udah tau banyak soal Viona dan Aldo. Dia ada disana waktu Aldo ditangkap waktu itu, jadi dia lumayan mengikuti perkembangannya.”

“Dia disana ngapain?”

“Dia tinggal di rumahnya Aldo boss. Waktu itu dia masih training, sekarang pindah kesini dan dia diangkat jadi karyawan tetap disini.”

“Oh gitu. Hmm, oke. Terus, apa lagi?”

“Selain itu, saya juga udah cari informasi tentang latar belakangnya boss. Nggak ada catatan yang menarik sih. Dia dulunya hanya mahasiswa biasa. Dia bahkan nggak terlalu dekat dengan Aldo karena masalah di keluarga besarnya.”

“Maksud kamu, soal ayahnya si Aldo itu?”

“Bener boss. Karena masalah itu yang jadi sebab kenapa dia nggak terlalu dekat dengan Aldo. Dia akhirnya bisa deket lagi sama Aldo karena kebetulan diterima kerja disana aja. Dia juga baru tau kalau Aldo udah nikah setelah tinggal disana.”

“Hmm gitu. Tapi sepertinya anak itu tau banyak soal Viona, soal masa lalunya. Jadi, dia tau itu darimana? Setauku Viona menutup banget masa lalunya, bahkan sama Aldo aja dia nggak cerita, dan Aldo taunya masa lalu Viona itu dari kita, dan Aldo nggak mungkin cerita sama dia.”

“Kalau soal itu saya juga belum tau boss. Mungkin dia denger dari Viona langsung, atau mungkin dari orang yang ngebantuin Viona dulu itu boss.”

“Apa kamu punya info tentang teman-temannya Haris juga, yang kemungkinan tau masalah Viona?”

“Ada beberapa, tapi yang saya curigai ada 2 orang.”

“Siapa?”

“Yang pertama polisi yang sempat ditelpon oleh anak itu, yang namanya Andi. Yang kedua, ada teman kerja mereka, namanya Lidya. Tapi kalau menurut saya, kemungkinan dia tau itu dari Andi, karena menurut info yang saya dapet, Haris sama Lidya cuma sekedar dekat, ya kayak orang pacaran ajalah boss. Selain mereka berdua, Haris nggak terlalu banyak bergaul.”

“Hmm, oke. Aku suruh nanti orang-orang kita yang ada disana buat nyelidiki si Andi sama Lidya ini. Terus, ada info apa lagi?”

“Yang terakhir ini, mungkin yang agak menarik boss.”

“Apa?”

“Si Haris ini ternyata adalah mantan pacarnya Mira, menantu boss Titus.”

“Oh ya?”

“Iya boss. Mungkin nanti boss bisa nanya langsung ke Mira soal itu, bener atau nggaknya.”

“Hmm, menarik, ini menarik. Kalau dia bener mantannya Mira, mungkin dia bisa kita pakai untuk nyeret anak itu, seperti saat kita nyeret si Aldo dulu.”

“Yaa, sepertinya begitu boss.”

“Baiklah, ada yang lain?”

“Sementara itu dulu boss. Saya masih nyari info lainnya.”

“Keluarganya yang lain gimana? Ada yang kemungkinan tau soal si Aldo atau Viona?”

“Kemungkinan kecil boss. Kalaupun ada, mungkin adiknya yang masih kuliah disini, namanya Rani.”

“Oke, kalau gitu kamu terus pantau anak itu, sekalian sama adiknya itu. Aku akan buat rencana khusus buat anak itu.”

“Oke boss, siap. Hmm, tapi boss…”

“Ada apa lagi? Butuh duit? Butuh barang?”

“Bukan, bukan itu boss. Kalau masalah itu, suplay dari boss Titus selama ini masih cukup kok buat saya.”

“Terus, apa lagi?”

“Gini boss, si adiknya yang namanya Rani itu. Saya tertarik sama dia boss, boleh nggak kalau cewek itu buat saya aja?”

“Oh masalah itu. Silahkan, terserah kamu aja. Tapi inget, jangan bikin sesuatu yang mencurigakan. Aku nggak mau gara-gara urusan kamu sama cewek itu nantinya malah ngerusuhin rencana kita.”

“Siap boss, tenang aja, saya bakal main lembut kok.”

“Ya udah kalau gitu, kamu bisa pergi.”

“Baik boss.”

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part