web hit counter

Cerita Lama Sungai Hitam Part 12

0
359

Cerita Lama Sungai Hitam Part 12

SELASA, 15 MARET PUKUL 06:59
Aku terbangun. Aisya masih tertidur. Kulihat jamku. Kupandangi wajahnya. Wajahnya begitu sensual di mataku. Kembali naluri kelaki-lakianku muncul. Kulepaskan pelukanku. Aisya bergerak mengganti posisi tidurnya tapi tetap melanjutkan tidurnya. Muncul “keisenganku” lagi. Pelan-pelan aku meloroti celana dalamnya. Hingga kini dia telanjang bulat. Aisya masih tetap belum terbangun. Baru kali ini aku melihat Aisya dalam keadaan telanjang bulat. Benar-benar menggairahkan. Bulu-bulu halus di selangkangannya tidak begitu lebat. Begitu sempurna menghiasi selangkangannya. Dan vaginanya yang merah muda terlihat begitu menggoda. Perlahan aku melebarkan sedikit kakinya. Lalu aku mulai mendekatkan hidungku ke arah selangkangannya. Kuciumi bulu-bulu halus itu. Jangan ditanya, penisku sedang berdiri tegak di dalam celana dalamku. Lalu kuciumi vaginanya. Harum wanginya. Menusuk penciumanku. Membuat birahiku semakin memuncak. Aku mulai menjilati bibir klitoris Aisya. Aisya bergumam tidak jelas tapi belum terbangun. Aku menggunakan jari telunjuk dan jempolku membuka lebar bibir klitoris Aisya. Kujilati bagian tengah vaginanya. Aisya bergumam dan kini dia membuka matanya. Aku teruskan lidahku menjilati vaginanya. Aisya mendesah. Kini dia benar-benar terbangun. Aku lebarkan lagi kedua kakinya. Kini aku mulai menjilati dari vaginanya bagian bawah, pelan-pelan aku tekan lidahku disana dan aku gerakan lidahku ke bagian atas vaginanya. Aisya mendesah lebih hebat.

Tangannya meremas rambutku. Aku jepit bibir klitorisnya dengan bibirku. Aisya mulai merintih secara teratur dengan rangsanganku. Selain menjepitnya kini aku mulai menghisap vaginanya. Suara hisapan ku terdengar cukup keras. Membuat Aisya semakin menggelinjang. Remasan di rambutku semakin kuat. Aku terus menjilatinya dan ketika mulutku mencapai itilnya. Aku jepit dengan bibirku dan aku tarik lembut itilnya.
“Aaaaah…,” Aisya mengerang keras tanpa malu-malu lagi. Pahanya kini menjepit kepalaku. Aisya mulai menggerakan pinggulnya menekan ke arah mulutku sehingga lidahku dan mulutku semakin menekan ke selangkangannya. Aku terus memborbardir itil Aisya. Air ludahku sudah bercampur dengan cairan vaginanya disekitar mulutku. Aku semakin cepat menjilati, menjepit itilnya dan menyedotnya dan memainkan itilnya dengan lidahku.
Jepitan paha Aisya semakin kuat di kepalaku. Membuatku sedikit sulit bernafas. Tapi aku terus melancarkan seranganku. Dan akhirnya Aisya menggelinjang hebat dan berteriak
“aaaaaaahhhhh,”
Mukaku merasakan semprotan hangat dari cairan orgasmenya. Mulutku tetap di vaginanya sampai gelinjangnya Aisya selesai.

Pagi itu kami awali dengan orgasmenya Aisya. Aisya semakin dekat denganku. Dia sudah tidak terlihat malu-malu lagi. Kami makan bersama. Becanda bersama. Aisya sudah tidak merasakan bahwa dia adalah tawananku, apalagi ketika aku membuka borgol kakinya sehingga kini dia benar-benar “bebas” Dan dia tidak merasa risih bugil di depanku.

PUKUL 09:00
Ketika aku sedang bersandar di tembok. Aisya tidur di pangkuanku. Tiba-tiba mulut Aisya mencium penisku dari luar celana dalamku. Bibirnya menjepit batang penisku. Menjepit pelan-pelan tiap inci dari batang penisku dari pangkal sampai ke daerah kepala penisku. Aku memejamkan mata merasakan hangat dan basah mulutnya membasahi celana dalamku. Penisku membesar. Aisya tertawa kecil. Lalu dia mulai berani membuka celana dalamku. Aisya terlihat sedikit kaget melihat batang penisku yang cukup besar dan berdiri tegak. Dia menatapku dengan tersenyum. Jarinya menelusuri batang kemaluanku dari pangkal dekat buah zakar sampai ke bagian kepala penisku.

Khayalanku menjadi kenyataan. Meskipun tidak sampai ujung telunjuknya menelusuri lubang kencingku. Aisya mulai melingkarkan jarinya mengelilingi batang penisku dan mulai mengocoknya. Melihat aku memejamkan mata menikmati kocokannya. Aisya mencium ujung lubang kencingku.
Tanpa sadar aku mendesah
“aah.”
Aisya memasukkan kepala penisku ke dalam mulutnya. Bibirnya yang tipis terasa menggesek halusnya kepala penisku. Hangat dan terasa geli, membuat aku merinding.

Beberapa kali Aisya menggerakan bibirnya disekitar area kepala penisku. Lalu Aisya memiringkan kepalanya dan mulai menggerakan bibirnya “mengelus” batang kemaluanku. Membuatnya basah dengan air liurnya. Aisya bergerak naik turun. Kadang-kadang dia melakukan hisapan dengan mulutnya. Suara isapannya bagaikan obat perangsang yang membuat aku semakin bergairah. Kini tangan Aisya meremas buah zakarku dan tangan satunya lagi mengocok batang penisku sementara mulutnya bermain-main di kepala penisku. Menghisapnya, menjilatinya dan bahkan lebih dari khayalanku, lidah Aisya yang menelusuri lubang kencingku.
“aaaah,” entah sudah berapa kali aku mendesah seperti itu. Tidak kusangka gadis pemalu ini benar-benar ahli melakukan oral seperti ini. Mungkin karena cuplikan-cuplikan film itu sudah merasuki otaknya. Peduli amat. Yang penting aku benar-benar terangsang dengan apa yang dilakukan Aisya.

Kocokan Aisya semakin cepat dan jilatan dan sedotannya semakin kuat. Aku beberapa kali mengangkat pinggulku ke atas, menahan aliran spermaku agar tidak cepat keluar. Sampai akhirnya aku tidak tahan lagi. Aku menyemprotkan spermaku.
“aaaahh.”

Spermaku muncrat mengenai hidung Aisya, pinggiran bibirnya dan sebagian jatuh di selangkanganku sendiri. Aisya terlihat senang karena aku orgasme. Aisya mengoleskan jarinya membersihkan spermaku di bagian wajahnya dan menjilati jarinya dengan lidahnya. Ya ampun, luar biasa sekali sensasinya melihat Aisya melakukan itu. Dia menggunakan tangannya mengelap sperma di sekitar selangkanganku. Lalu kembali lagi dia menjilati sisa sperma itu dari tangannya. Aku memeluknya erat. Dia sudah hampir menjadi milikku seutuhnya.

PUKUL 12:12
Kami makan bersama sambil bugil, benar-benar telanjang bulat. Aisya beberapa kali tertawa melihat penisku menggantung di selangkanganku. Aku hanya mesem-mesem saja melihat dia tertawa. Aku tidak mau kalah, kadang aku mencubit payudaranya yang menggantung montok di dadanya. Dia balas memegang penisku sambil ditarik-tarik. Aku tidak tahan. Aku membaringkan dia di selimut. Lalu aku langsung meremas payudaranya yang indah menggumpal. Aku remas dengan kedua tanganku kedua payudaranya. Aku duduk mengangkang diatas perutnya. Ujung penis dan buah zakarku menekan perutnya. Aku maenkan putingnya dengan jari-jariku. Aisya tertawa menatapku. Aku menunduk. Mencium putingnya. Mengecupnya. Menjepitnya dengan bibirku. Aku pilin putingnya dengan bibirku. Aisya tertawa sambil mendesis. Aku remas payudara kanannya dengan tanganku. Kugunakan jari-jariku mencengkeram payudara seperti cakar macan menangkap mangsanya. Lidahku kukeluarkan untuk “mengelus” puting kirinya. Beberapa kali aku “lap” lidahku pada putingnya yang mulai mengeras. Aisya mulai mendesah nikmat. Aku sedot putingnya sambil tangan kiriku mulai juga memainkan puting kanannya. Aisya mendesis keenakan. Aisya tidak mau kalah. Dia membalikan tubuhku ke selimut. Giliran dia mengarah ke selangkanganku. Ditahannya penisku berdiri sehingga dia leluasa menciumi buah zakarku. Penisku yang tegang menempel di pipinya. Lidah Aisya menjilati buah zakarku. Giliran aku yang mendesis nikmat. Disedotnya satu buah zakarku membuat aku menegang kenikmatan. Sambil tangannya mengocok lembut penisku. Aku tidak ingin orgasme dalam waktu singkat. Aku mendorong tubuh Aisya ke selimut lagi. Giliran aku merangsangnya lagi. Kuciumi perutnya. Terus turun ke selangkangannya. Tanganku meremas teteknya dan mulutku mulai melancarkan aksiku. Lidahku kumasukkan sedalam-dalamnya dalam vaginanya. Membuat Aisya langsung melenguh. Kepalanya naik keatas menahan jilatanku dalam vaginanya.
“Aaaah , mas,” teriaknya. Entah kenapa dia memanggilku mas.
“Aku ingin kamu memasukkan penismu, mas, ” mohonnya.
Aku berhenti merangsang vaginanya. Aku bergerak sehingga wajahku berhadapan dengannya. Aku menatapnya lembut.
“kamu yakin, sayang?” aneh aku pun memanggilnya sayang.
Aisya mengangguk penuh kepastian. Aku menciumnya lembut. Melumat bibirnya. Lalu aku menggerakkan badanku. Kubuka kakinya lebar-lebar. Kuarahkan kepala penisku menggesek bibir klitorisnya. Aisya mengejang. Pelan-pelan aku tekan kepala penisku masuk membelah bibir klitorisnya. Aisya mengerang enak.
“pelan-pelan, mas. Aku masih perawan,” katanya.
Pelan-pelan aku masukkan kepala kontolku sedikit demi sedikit, membuka pelan-pelan vaginanya lebih lebar. Aku memperhatikan reaksi Aisya, aku takut dia merasakan rasa sakit. Lalu pelan-pelan sekali, aku masukan batang penisku. Pelan, sambil melihat reaksi Aisya. Ketika penisku agak dalam, Aisya terlihat mengernyitkan muka.
“Sakit?” tanyaku. Aisya menggeleng.
“Teruskan mas. Enaknya lebih kerasa kok,” jawabnya.
Aku masukin lagi pelan-pelan batang penisku. Aisya mengernyit lagi sedikit. Lalu dia pun mulai menggigit bibir bawahnya. Aku gerakan penisku maju mundur di dalam vaginanya. Aku merasakan otot-otot vagina Aisya mulai menjepit batang penisku. Terasa hangat. Aku belum berani bergerak terlalu cepat, takut menyakitinya. Aisya melihat aku berhati-hati, dia mulai menggerakkan pinggulnya, seakan-akan memberi isyarat padaku untuk mulai memompa penisku di dalam. Aku pun mulai menggerakkan kontolku naik turun dalam vaginanya. Aisya mulai mendesah nikmat, memegang kedua tanganku yang menahan tubuhku. Aku pun semakin merasakan hangatnya dan otot-otot vagina Aisya yang menjepit penisku. Gerakan memompaku semakin cepat. Begitupun dengan gerak pinggul Aisya.

Aisya menatapku manja yang membuat aku terpesona dengan kesensualannya. Penisku terasa membesar dalam vaginanya. Membuat Aisya semakin merintih lebih keras. Tubuhnya Aisya sudah berkeringat. Begitupu ada peluh yang menetes dari daguku. Kocokan penisku di vaginanya semakin cepat, lalu tiba-tiba Aisya mendesis keras. Menggoyangkan pinggulnya naik turun dengan cepat dan badannya menggelinjang ketika penisku merasakan semprotan hangat cairannya pada penisku. Aku pun dengan cepat memanfaatkan momen ini, aku menggerakkan penisku naik turun dengan cepat. Dan aku mulai merasakan desakan spermaku di ujung penis, dan aku memuncratkan air maniku dalam vaginanya. Aku menindih tubuh Aisya ketika aku mencapai klimaks. Aku terengah-engah, Aisya mengusap keringat di dahiku. Dia menciumku. Lalu memeluk aku dengan erat. Kami tertidur dengan tubuh penuh keringat. Kelelahan.

PUKUL 16:20
Begitu lamanya aku tertidur. Aku terbangun disambut dengan Aisya lagi memandang wajahku. Aku mengelus pipinya. Aku berdiri, menggandengnya. Lalu kuajak ke atas. Memasuki kamar mandiku yang besar. Aku hidupkan shower dengan air hangat. Aku bawa dia berdiri dekatku dibawah siraman air.

Aku menciumnya lagi. Badan telanjang kami saling bersentuhan dibawah siraman air hangat. Aku ambil sabun cair lalu kugosokan di dadanya. Kuusap sabun di kedua payudaranya. Dia menghentikan gerakanku. Aisya berjongkok di depanku. Dibawah siraman air hangat. Dia mulai mengoral penisku. Siraman air membasahi rambutnya ketika Aisya memasukkan penisku ke dalam mulutnya. Kurasakan hangatnya penisku. Aisya bergerak maju mundur, mengulum penisku. Bahkan beberapa kali, Aisya berusaha memasukkan penisku sedalam-dalamnya dalam mulutnya, sehingga aku bisa merasakan ujung penisku menyentuh ujung tenggorokannya. Nikmat sekali.

Setelah beberapa lama, aku mengangkatnya berdiri. Kusandarkan badannya di tembok kamar mandi. Aku angkat kaki kirinya. Lalu aku mulai memasukkan penisku dalam vaginanya. Aisya langsung merangkulku erat. Aku gerakan penisku yang sudah tegang maju mundur dalam vaginanya. Teriakan Aisya terdengar lirih dibawah siraman air shower. Kugerakan pinggulku dalam-dalam sehingga penisku menekan dalam vaginanya. Aisya mengerang. Tangannya merangkul leherku erat. Aisya pun menggerakan pinggulnya memutar, maju mundur. Tak lama kemudian pun kami sama-sama mencapai klimaks.

PUKUL 16:35
Kami berbaring diranjangku dengan hanya berbalut handuk. Aisya bersandar pada dadaku. Sekali lagi entah muncul nafsu birahi dari mana. Aisya mulai menjilati putingku. Dihisapnya pelan-pelan putingku. Tangannya merogoh alat kelaminku. Aku paling tidak kuat kalau putingku dipermainkan apalagi ditambah penisku dikocoknya. Melihat penisku sudah berdiri tegak. Aisya langsung saja duduk di atas selangkanganku. Dengan tangannya menahan penisku dan mulai vaginanya diarahkan ke penisku dan langsung ditekannya penisku. Masuk dalam-dalam di lubang kemaluannya. Aisya yang kini lebih menguasai. Dia menggerakkan pinggulnya memutar, maju mundur. Menekan penisku dan buah zakarku. Kedua tangan kami saling menggenggam. Dadanya yang membusung bergerak-gerak mengikuti irama goyangannya. Aku tetap terpesona dengan buah dadanya yang montok. Aisya bergerak semakin cepat, aku pun tidak tahu kenapa aku begitu terangsang. Tak lama kemudian kami pun saling memuncratkan cairan kami. Dan kami pun tertidur kelelahan lagi.

RABU, 16 MARET PUKUL 03:00
Aku terbangun. Sudah subuh. Aku mengelus-elus punggung Aisya yang halus. Kucium dahinya. Aisya bergerak sedikit. Aku melepaskan pelukanku. Dan kuselimuti dia. Aku duduk di sofa di kamarku. Kuhidupkan sebatang rokok. Aku mengamati Aisya yang tertidur lelap. Wajahnya tidak terlalu cantik tapi kini aku melihat sensual wajahnya semakin menggodaku. Aku mengelus penisku dengan tangan yang tidak memegang rokok. Aku membayangkan lagi saat-saat kami melakukan senggama. Aku tersenyum.

Sudah saatnya aku menyelesaikan apa yang aku inginkan. Aku berdiri, mengambil barang yang aku inginkan dan aku kembali duduk di sofa. Bersandar sambil memperhatikan Aisya yang sedang tertidur. Berjam-jam kemudian Aisya baru terbangun. Aisya tersenyum melihatku duduk di sofa. Ketika dia hendak menghampiriku. Aku bilang padanya.
“Merangkak ke arahku, Aisya,” kataku. Aisya seperti bingung.
“Merangkak ke arahku seperti yang kamu lihat di film,” ulangku.

Aisya masih terlihat bingung, tapi dia melakukan apa yang kuminta. Aisya merangkak dengan bertumpu pada lutut dan tangannya. Payudaranya yang montok bergelantungan bergerak-gerak ketika dia menghampiriku.
“Berlutut,” perintahku. Aisya berlutut dekat kakiku. Sambil duduk aku mendekatinya. Lalu aku berbisik di telinganya.
“kamu mau menjadi milikku?” aku berbisik lirih di telinganya.
Aisya mengangguk. Aku berkata
“Jangan mengangguk, tapi ucapkan dengan jelas,” sambungku.
“ya mas, aku adalah milikmu,” jawab Aisya yakin.
Aku mengambil sesuatu dari sebuah tas. Kupakaikan di lehernya Aisya. Itu sebuah choker berwarna hitam. Perfect. Akhirnya Aisya milikku seutuhnya.
“Aku ingin kau mengenakan ini kemanapun kau pergi. Ini sebuah simbol bahwa kamu adalah milikku.”

Aisya meraba chokernya dengan tangannya.
“Cobalah lihat di kaca,” kataku.
Aisya berdiri dan melangkah ke kaca. Dia memperhatikan choker hitam jaring di lehernya. Aku melihatnya dari kejauhan. Dengan tubuh telanjangnya dan hanya menggunakan choker. Benar-benar sempurna. Aisya mendekatiku dengan tersenyum. Aku masih duduk di sofa. Dia berdiri di depanku. Dan aku memeluknya dan menempelkan wajahku di perutnya yang langsing. Aku sudah mempersiapkan sarapan. Kami berdua makan sambil Aisya hanya mengenakan choker di lehernya dan aku sudah berpakaian lengkap.

Selesai sarapan, aku memberikan sebuah tas padanya.
“Bukalah dan kenakan di depanku,” perintahku lagi.
Dia membukanya dan memakainya di depanku. Iya aku sudah membuatkan pakaian seragam waitress yang baru untuknya. Beberapa pasang. Bentuk dan warnanya sama persis dengan seragamnya yang sudah aku rusak. Hanya kemeja yang sekarang aku kurangi satu kancing bagian atas. Dan rok hitamnya aku bikin sedikit lebih pendek. Setelah memakai seragamnya. Aku berkata padanya.
“Aisya, aku ingin mulai sekarang kamu memakai seragam yang sudah aku buat. Memang lebih seksi tapi ya kamu itu harus mulai percaya diri. Kamu harus percaya padaku bahwa kamu itu sebenarnya seksi tidak kalah dengan teman-teman kerjamu yang lain,” jelasku.

Aisya sekali lagi memperhatikan seragamnya. Dia tidak terlihat keberatan. Aku mendekatinya, memeluknya dari belakang dan mencium lehernya.
“Mari aku antarkan kamu pulang sekarang,” kataku sambil menggandeng tangannya.

Dalam perjalanan ke tempat kos Aisya. Aisya banyak berdiam diri. Aku merasa dia berat untuk berpisah denganku. Dan perkiraanku terbukti. Aisya tiba-tiba berkata
“Mas, katanya kita bakal seminggu bersama. Kenapa sekarang kamu mengantarkan aku pulang?” tanyanya.
Aku tersenyum dalam hati. Ya, kamu memang sudah menjadi milikku. Batinku gembira karena pertanyaannya itu.
“Nanti juga kamu akan mengerti, Aisya,” aku mencium tangannya.
Setelah sampai di depan kosnya. Aku memberikan Aisya sebuah amplop.
“Baca suratnya begitu kamu sudah di dalam kamar kos,” ujarku. Aku mencium bibirnya. Aisya membalas menciumku dengan mesra dan seakan tidak ingin berpisah denganku. Dia memeluk leherku sambil menciumku lebih dalam lagi.
“Maaf Aisya, aku mendapat telepon dari kantor bahwa aku harus keluar kota beberapa hari. Jadi aku harus meninggalkanmu. Ingat semua perintahku tadi tentang choker dan seragam kerjamu,” tambahku lagi. Aku menciumnya lagi sebelum Aisya turun dari mobil.

SABTU, 19 MARET PUKUL 18:45
Aku mengendarai mobil menuju bar. Sudah beberapa hari sengaja aku tidak menemui Aisya. Alasan keluar kota itu hanya karanganku saja. Sangat berat ketika waktu itu aku mengantarnya pulang. Dalam hati aku selalu ingin bersamanya, menyentuhnya, mengelusnya, melakukan hubungan dengannya. Tapi seperti yang aku bilang, aku butuh satu minggu untuk membuat Aisya menjadi milikku seutuhnya. Jika selalu bersama, sudah pasti tidak akan terlihat apakah dia benar-benar milikku seutuhnya, karena sudah pasti dia akan selalu berusaha menyenangkan aku karena aku berada disampingnya. Tapi bagaimana apabila sesudah beberapa hari kami tidak bertemu, apakah dia masih akan menyimpan rasa bahwa dia milikku, itu belum tentu. Makanya beberapa hari ini, adalah pembuktian terakhir apakah benar-benar dia adalah milikku seutuhnya.

Aku masuk ke bar pelan-pelan sambil mencari-cari wajah Aisya. Dia tidak terlihat. Aku mengambil meja di pojok tapi bukan tempat langgananku. Aku pesan minuman dari waitress yang lain. Aku menunggu hampir lima menit tapi Aisya belum terlihat. Kemana dia hari ini. Apakah tidak masuk? Sialan kalau dia tidak masuk dan tidak kerja disini lagi. Andai dia tahu betapa beberapa hari ini, aku sangat merindukannya. Aku sangat ingin menemuinya tapi aku tahan-tahan karena aku tidak ingin rencanaku tidak berjalan lancar. 5 menit terasa sangat lama bagiku. Aku menundukkan kepala karena sekali lagi aku melihat sekeliling bar, aku tidak melihat sosok Aisya. Aku menutup wajahku dengan kedua tangan. Mungkin ini keputusan yang salah. Seandainya aku tidak mengantarnya pulang hari Rabu, dan terus saja bersama dia sampai Sabtu mungkin tidak akan begini kejadiannya.

Pikiranku berkecamuk. Mungkin dia tidak senang dengan choker pemberianku atau mungkin dia tidak suka dengan seragam yang aku berikan untuknya. Hatiku gundah. Apa dia tidak suka dengan isi suratku yang mengatakan, “Aisya kamu milikku selamanya. Aku ingin kau menyerahkan seluruh hati, pikiran dan badanmu untukku.”

Penyesalanku semakin menjadi-jadi. Kutekan kedua tanganku dalam-dalam ke wajahku, sambil mengutuk kebodohanku.
“Mas..” seseorang menyapaku. Hatiku langsung gembira. Aku melepaskan tanganku dari wajahku dan melihat kearah suara yang memanggilku. Seorang berpakaian rok hitam dan kemeja putih. Tapi wajahnya bukan wajah Aisya. Aku langsung kecewa berat. Hatiku hancur.
Wanita itu tersenyum.
“Mas ini ada surat dari Aisya,” dia memberikanku secarik kertas.

Aku mengucapkan terima kasih dan dia menjauhiku. Hatiku berdebar-debar, aku tidak siap membuka kertas yang terlipat itu. Sekali lagi aku menyesali segala rencana bodohku. Pelan-pelan kubuka lipatan kertas dan membacanya.
“Mas, maaf aku tidak bisa bekerja sebagai waitress di bar ini lagi. Aku sudah mengundurkan diri dari bar ini. Maafkan aku mas. Sampai ketemu lagi. Aisya”

Hatiku benar-benar hancur. Aku mengutuk diriku sendiri. Bodoh kau. Bodoh kau. Makiku dalam hati. Aku memang seorang yang bodoh. Sangat-sangat bodoh.
Dengan langkah lunglai, aku berjalan menuju pintu bar. Aku meremas surat kecil dari Aisya dan mengepalkan tanganku kuat-kuat. Lalu aku buang surat itu di tong sampah terdekat. Aku melangkah keluar bar.

Menghampiri mobil Fortunerku yang kuparkir dekat pintu bar. Cahaya lampu bar yang terang tidak bisa menerangi gelapnya pikiranku. Aku menekan remote mobilku. Aku membuka pintu mobilku dengan tidak bersemangat.
“Mas…” sebuah suara memanggilku. Apalagi sih. Apa ada surat yang lain untukku. Aku menoleh ke belakang. Dan kulihat Aisha sedang berdiri menghadapku. Dengan rambut panjang lurusnya. Memakai kemeja putih dengan kancing atasnya yang tidak ada dan rok hitam yang kini agak tinggi di atas lutut. Dan choker hitamnya terpasang di lehernya. Aku tidak mempercayai penglihatanku.
Aisya berjalan mendekatiku. Aku langsung memeluknya. Memeluknya kencang-kencang.

Setelah berhasil menguasai perasaanku yang campur aduk. Aku berkata padanya
“Kenapa kamu menulis surat itu?” kataku dengan suara agak parau.
“Iya mas, aku tidak bohong. Aku tidak bisa bekerja sebagai waitress di sini lagi, karena aku akan menemani mas sebagai pelayan dalam kehidupan mas, karena aku akan menyerahkan hidupku untukmu, mas.” Aisya tersenyum.
“Seperti kata mas, dalam waktu satu minggu, aku akan menjadi milikmu seutuhnya. Makanya aku menunggu mas di sini. Aku, Aisya, milik mas seutuhnya,” tambahnya.

Aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku kembali memeluknya. Aisya pun membalas pelukanku dengan tidak kalah erat. Aku sibakkan rambutnya dan kulihat choker hitam di lehernya. Iya Aisya, kamu memang milikku seutuhnya. Dalam terangnya lampu, bagian belakang choker terlihat tulisan “Albert KA” aku sengaja memasangnya di bagian belakang choker agar tidak semua orang bisa melihatnya.
Yes, My name is Albert KA and this is My story..

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part