web hit counter

Cerita Lama Sungai Hitam Part 2

0
527

Cerita Lama Sungai Hitam Part 2

JUMAT, 10 OKTOBER 1997, PUKUL 20:24
Setelah mengantar Karen pulang, hatiku berbunga-bunga. Senyum dan tawanya terbayang-bayang selalu dan bikin aku juga sering tersenyum dan tertawa sendiri. Masih terasa pukulan dan dorongannya di bahuku. Dan yang jelas masih terasa adalah kenyalnya payudaranya yang menyentuh punggungku. Tangan Karen yang halus mulai mengusap perutku. Lho!!! Kok larinya kesana. Ya sudah deh lanjut aja. Aku mulai buka lagi celanaku. Kubaringkan Karen di ranjang. Aku elus betisnya. Lalu aku sobek belahan rok baju terusannya, sobekannya sampai atas lalu aku sibakkan roknya sehingga terlihat celana dalamnya, yang berenda-renda. Terbayang lagi tatapan matanya yang ramah. Aku sobek lagi pakaiannya sampai ke atas sampai terbelah dua sehingga memperlihatan gundukan payudaranya dibalik branya yang berwarna hitam.
Tidak! Tidak! Aku tidak bisa melanjutkan khayalanku. Penisku pun langsung lemas kembali. Entah kenapa aku tidak bisa bermasturbasi dengan membayangkan Karen dengan tubuh setengah bugilnya. Malahan aku hanya membayangkan memegang tangannya lalu memeluknya tapi dengan dia masih mengenakan pakaiannya. Aku peluk hangat tubuhnya sampai aku tertidur.

Semenjak aku mengantarnya pulang, aku dan Karen semakin dekat. Memang ternyata Karen sangat suka pakai rok mini. Jadi pahanya yang mulus sudah menjadi tontonan biasaku. Namun seperti yang kubilang waktu itu, banyak teman kuliahku yang naksir dia. Kadang bikin aku jealous kalo ada cowo yang ngobrol dan menggoda Karen. Satu kelebihanku di antara mereka semua, aku sudah pernah mengantarnya pulang, meskipun hanya naik motor.

Ada satu cowok namanya Michael, yang jelas-jelas ngejar Karen. Orang ini memang patut dicemburui olehku. Kalo soal tampang, ya memang dia ganteng, tapi aku tidak kalah ganteng. Sialnya dia ini pintar dan anak orang kaya. Itu yang aku sulit tandingi. Kalo soal nilai mungkin aku bisa mengejarnya tapi kalo soal kekayaan, nah ini yang bikin aku minder. Satu lagi bodinya Michael keren, atletis karena dia rajin fitness. Sedangkan aku karena bukan orang kaya, badanku memang tidak gendut tapi bisa dibilang tidak berotot. Kalo soal penis, mungkin penisku lebih besar, tapi ya ga tau juga soal penisnya Michael. Jadi aku tidak bisa bersaing dengan hanya modal penis.

Sejauh ini, untungnya yang lebih dekat dengan Karen itu aku. Sebenarnya Joko juga jadi dekat dengan Karen, plus ditambah entah gimana prosesnya Ira juga jadi dekat dengan kami bertiga. Kami berempat sering duduk berderet jika sedang kuliah atau sering ke kantin bersama.

JUMAT, 7 NOVEMBER 1997 PUKUL 17:05
Mungkin aku lupa cerita. Untuk menambah uang jajanku, diluar jam kuliah, aku memberikan les privat untuk anak SMP dan SMA. Ada satu muridku namanya Mary. Dia kelas dua SMA. Yang bikin aku seneng ngelesin dia itu karena dia kalo les sering pake baju yang seksi. Mungkin memang untuk menggodaku. Karena kalo aku sedang menerangkan tentang matematika, sering kuperhatikan dia bukannya memperhatikan tapi hanya memandangiku. Mungkin kalian berpikir bakal ada sesuatu antara aku dan Mary. Well, tebakan kalian tidak sepenuhnya salah.
Hari ini jadwal aku memberi les privat pada Mary. Mary tidak cantik tapi bisa dibilang imutlah. Hari ini Mary pakai rok mini warna putih. Mini banget. Kira-kira 20 cm di atas lutut. Sedangkan atasnya dia pake tanktop putih. Biasanya dia pakai celana pendek, tapi hari ini dia pakai rok mini. Seperti kalian tahu, rok mini adalah kelemahanku.

Hari itu tidak ada orang di rumah Mary karena orang tuanya lagi keluar kota. (alasan klise untuk terjadi sesuatu). Biasanya dia duduk di meja di seberangku, kini dia sengaja duduk di sampingku. Aku sih biasa aja hanya aku tergoda melihat pahanya yang terbalut rok mini. Pahanya lebih kecil dari Karen. Putih dan mulusnya sih sama menurutku.
Tiba-tiba dia bertanya
“Koko uda punya pacar belum?”
“Lho emang kenapa?” tanyaku.
Dia tertawa genit
“Aku mau jadi pacar koko,” katanya tidak terlihat maen-maen.
“Ah kamu becanda aja deh, isengin orang aja ah,” hindarku sambil membuka buku pelajarannya.
“Eh serius lah, koko kan ganteng,” Mary menggenggam tanganku.
Aku mulai blingsatan tidak enak hati. Takut tiba-tiba ada yang muncul di ruang tamu tempat belajar kami.
“Eh aku tidak lihat papi dan mami kamu,” pancingku.
“Mereka lagi keluar kota. Mary sendirian di rumah sama pembantu,” tangan Mary beralih ke lenganku.

Sebagai laki-laki normal yang ganteng (apa hubungannya), penis aku sedikit bereaksi ketika jemari halus Mary mengelus-elus lenganku.
“Mar, kita belajar tentang ini yah,” lanjutku mengalihkan topik pembicaraan.
Mary menggeser kursinya ke dekatku. Kakinya menempel pada kakiku. Paha kami beradu. Untung aku pakai celana panjang, kalo aku pake celana pendek, jelas paha kami akan bersentuhan langsung.
“Aku mau belajar kalo dipangku ama koko,” langsung saja Mary duduk di pangkuanku. Wajahnya menghadap aku.
“Mar, apa-apaan sih, entar si Bi Minah liat kita. Gimana?” aku sulit mengusirnya dari pangkuanku karena tangannya sudah melingkar di leherku.
Mary tertawa kecil. Wajahnya sangat dekat dengan wajahku. Tubuhnya harum tapi wanginya beda dengan Karen.

Pinggul Mary bergoyang-goyang. Membuat penisku berdiri. Jelas aku kan pria normal. Dada Mary berimpit dekat dengan dadaku. Payudaranya yang kecil terlihat belahannya dari arahku.
“Mar, udahan deh becandanya. Ayo kita belajar,” aku berusaha mengangkat tubuhnya. Mary menekan tubuhku tetap duduk. Mungkin dia merasakan penisku menegang, makanya Mary menjadi lebih berani. Dia mulai menempelkan payudaranya di dadaku.
“Kontol koko uda berdiri ya?” lirihnya sambil tertawa kecil.
“Eh..eh..engga,” aku berkilah.
“Koko boong, ini buktinya,” Mary langsung menekan-nekan pantatnya di penisku. Ugghh enak banget.

Aku tersipu malu karena ketahuan belangnya oleh Mary. Tiba-tiba Mary mencium bibirku. Lembut dan basah. Sekian detik, aku menikmati cumbuan Mary. Ini pertama kalinya aku mencium bibir cewe. Mary semakin berani, dia menurunkan tali tanktopnya sehingga payudara kanannya terbuka. Penisku tambah menegang.
Mary menciumku lagi. Aku memeluk tubuhnya yang ramping. Aku balas menciumnya. Mary menekan-nekan payudaranya di dadaku. Kecil tapi tetap terasa kenyal. Aku teringat kenyalnya payudara Karen.
“Aahh enak banget Karen,” ucapku tanpa sengaja ditengah-tengah ciuman kami.
Mary berhenti menciumku.
“Siapa itu Karen, ko?” tanyanya curiga.
“Egh..bukan siapa-siapa,” jawabku.
“Bohong! Pacar koko yah,” tanya Mary lagi masih tetap duduk di pangkuanku.
“Pengennya sih,” ujarku dengan otomatis.
Mary terlihat merajuk. Dia langsung berdiri dan duduk lagi di kursinya. Payudara kanannya masih terbuka.

Semenjak itu, Mary tidak pernah menggodaku lagi. Dan bulan itu terakhir kalinya aku memberi les privat pada Mary. Aku tidak menyesal tidak jadi melanjutkan ciuman kami. Karena saat itu yang terbayang-bayang di pikiranku hanyalah Karen. Dan akhirnya aku menyadari bahwa aku jatuh cinta dengan Karen. Karena jika kuperhatikan, aku tidak pernah bermasturbasi lagi membayangkan Karen karena aku tidak tega melakukannya, seakan-akan jika aku beronani dengan membayangkan Karen, aku berarti menodainya. Aku tidak mau hal itu terjadi. Aku mencintainya dengan tulus. Aku menghargainya.

SABTU, 15 NOVEMBER 1997 PUKUL 18:17
Hari ini aku excited banget. Aku, Joko dan Ira diundang ke ulang tahun sweet seventeennya adik Karen. Disebuah ballroom hotel mewah di kotaku. Aku sengaja beli kemeja lengan panjang dan celana panjang baru dari hasil kerja sampinganku. Les privat. Ngomong-ngomong belum ada hal aneh lagi yang terjadi dengan kegiatanku yang satu itu setelah insiden Mary.

Acara mulai jam 18:30. Tapi aku sudah stand by di tempat parkir motor di basement. Aku sudah mandi, aku iseng aja pakai sabun yang wanginya sama dengan Karen. Entah kenapa hatiku agak sedikit deg-degan. Mungkin karena aku ingin menyatakan cintaku pada Karen pada momen ini.

Sekitar jam setengah 7 kurang 3 menit, aku ketemu Joko dan Ira di lobby hotel. Ira bawa sebuah bungkusan kado gede. Iya kami patungan bertiga beli kado itu. Sebuah boneka Teddy Bear yang besar. Lumayan nih uang sakuku terkuras buat momen ini. Tapi ga apa-apalah kan demi Karen.

Ketika masuk ke ballroom hotel itu, aku takjub melihat mewah interior dan dekorasinya dalam rangka ultah sweet seventeen ini. Aku meneguk ludah. Aku bisa membayangkan berapa biaya yang dihabiskan untuk acara ini oleh orang tuanya Karen. Ketika otakku sedang memperhitungkan layaknya seorang akuntan kira-kira berapa biayanya.
“Hai kalian sudah datang,” sebuah suara yang sering mengisi lamunanku muncul.

Aku menoleh. Kulihat Karen memakai gaun hitam panjang sampai lantai dengan dua tali tipis yang menggantung di bahunya. Belahan dadanya terlihat sedikit. Rambutnya yang pendek diatur sedemkian rupa di atas kepalanya. Mungkin ditambah beberapa rambut palsu sebagai tambahan karena rambutnya terlihat tidak pendek. Wajahnya didandan sedemikian rupa. Aku ga tau istilah alat-alat make up. Tapi mataku menatapnya terpesona. Cantik sekali. Aku masih ternganga kecil ketika Karen mendekati kami, sambil tangannya mengangkat gaunnya di bagian paha biar lebih gampang berjalan.
Karen tersenyum manis padaku.
“Halo bert,” sapanya.
Aku tidak bisa mengeluarkan kata-kata melihat kecantikannya. Mataku tidak berkedip.
“Loe kenapa, bert?” tanya Karen.
Perlu Joko untuk menyadarkanku dengan jitakannya. Sekali lagi itulah gunanya sahabat karib.
“Eh ga kenapa-napa, Karen. Kamu kok cantik banget sih,” ceplosku tanpa aku sadari. Yang membuatku malu seketika tapi sekilas aku melihat senyum malu juga di wajah Karen.
“Aku tinggal dulu yah, teman-teman. Kalian makan dulu aja,” Karen melambaikan tangannya pada kami.

Aku memperhatikan Karen meninggalkan kami. Aku timbul perasaan ragu untuk nembak Karen.
Joko dan Ira sudah meninggalkanku entah kemana. Mungkin mereka langsung menyerbu salah satu booth makanan. Ira kan bomber. Hehehe
Aku berkeliling tanpa tujuan. Banyak teman-temannya Keisya, adik Karen yang berseliweran dengan gaun-gaun seksi mereka. Cantik-cantik sih. Tapi mataku hanya mencari-cari dimana Karen. Sambil berusaha meredam keraguanku. Akhirnya kulihat Karen lagi berdiri di salah satu meja diujung, sedang berbicara dengan seorang cowo. Cowo itu pake sepatu mengkilat, kelihatan baru dan mahal. Kemeja Silver dengan rompi yang pas sekali dengan kemejanya. Tunggu. Itu kan si Michael. Ternyata si kunyuk itu diundang juga. Aku ingin beralih ke tempat lain ketika Karen melihatku dan memanggilku.
“Bert, sini,” tangannya melambai padaku.

Mau tidak mau, aku mendekati mereka. Michael tersenyum padaku. Pengen kutabok dia. Ketika sudah mendekat.
“Eh Michael loe disini juga,” aku berusaha tersenyum.
“Iya lah pasti gua disini. Masa cewe secantik Karen tidak ada yang menemani,” guraunya dengan mengedipkan satu mata ke Karen.
Karen menepuk bahu Michael. Sialan, ternyata bukan bahu aku aja yang ditepuk Karen.
“Papinya Michael itu temen maen golfnya papi gua, bert,” jelas Karen.
Pengen aku lempar kursi ke Michael begitu mendengar hal itu.
“Oh gitu,” tapi itu kata yang keluar dari mulutku.

Aku tidak ingat apa yang terjadi selanjutnya. Hanya ketika acara mulai, Joko dan Ira sudah disampingku. Karena adik Karen yang ultah, makanya Karen berdiri di depan dekat keluarga dan adiknya. Tapi eh ngapain Michael juga berdiri di sebelah Karen.
Kudengar Ira memuji kegantengan Michael. Aku ingin lempar kapak ke Michael mendengarnya. Ketika acara suap kue. Keisya menyuapkan kue ultah ke papi maminya. Dan pas giliran Karen yang disuap, entah tuh MC lagi ngaco atau apa.
“Ini pacar cicinya yah?” sambil menarik tangan Michael mendekat ke Karen.
Karen tidak menjawab tapi Michael dengan semangat 45
“Iya betul, saya pacar cicinya Keisya,” jawabnya tanpa malu-malu.
Karen mendorong lagi bahu Michael. Terlihat Karen sedikit malu.
“Suapin dong kuenya ke calon kakak ipar,” gurau MCnya. Andai aku punya granat.
Sialnya. Keisya ngasi kue ke Karen buat disuapin ke Michael. Sialnya lagi Karen nyuapin tuh kue ke keparat Michael. Tiba-tiba panas banget nih ballroom. Aku membuka satu kancing kemejaku. Tidak membantu. Terasa lebih panas dadaku ketika melihat Michael menggandeng tangan Karen ke tempatnya semula.

Penderitaanku belum berakhir ternyata. Aku belum pernah menghadiri acara sweet seventeen. Jadi aku tidak tahu ternyata kemudian ada acara dansa bersama. Musik lembut mulai mengalun. MC mengumumkan lagi agar tiap orang untuk mencari pasangan, tapi karena ultah Keisya. Keisya yang harus memulai dansanya. Keisha menggandeng seorang cowo, yang kemudian aku tahu itu sepupunya. Lalu MC mengumumkan dengan mic-nya agar cicinya yang menyusul kemudian dan papi maminya. Jelas bukan aku pasangan dansa Karen. Tapi si keparat itu. Hatiku tambah menciut dan sangat membara. Dan enak aja si Joko dan Ira ikut berdansa juga. Dan tinggallah aku sendirian terbengong di kursiku, terhempas. Buyar sudah rencanaku untuk nembak Karen. Awalnya aku ragu, tapi sekarang jelas aku sudah kalah telak. Momen itu yang membuat aku merasa betapa miskinnya aku dan tiba-tiba kenangan masa lalu terbersit di batinku, yang untungnya langsung kupendam dalam-dalam kenangan masa lalu itu. Aku mengambil segelas coca-cola dan langsung menegak semuanya sampai habis ketika menuju pintu keluar ballroom dan aku meninggalkan pesta itu dalam kegalauan hebat.

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part