web hit counter

Cinta yang Liar Part 12

0
496

Cinta yang Liar Part 12


KAKEK WARNO SUCIPTO


NENEK AYU PITALOKA


ANDI PITWARNO SUCIPTO


IKA ANA KUNCORO


ANDRA DWI KUNCORO


RATNA AYU PITALOKA


IBUNYA RAHMAN​

DEG… DEG… DEG…

Jantungku berdetak sangat cepat, keringat mulai bercucuran. Kenapa nama Romo yang muncul di Hpku? Ya aku memang menyimpan nomor Romo di HP lama ataupun baru dengan nama Romo Mahesa. Di awal tadi tidak terlihat karena mungkin sinkronisasi kontak HP yang memakan waktu cukup lama.

“Apa? Apa ini? ada kaitan apa Romo dengan si empunya HP ini? Apakah HP ini milik KS yang tercelup?” bathinku

Ku raih telepon cerdaskku, kubuka website berita www.menitankoreng.com, kuilhat sebuah berita tentang kematian KS. Disitu tertuliskan,

“KS mati terbunuh dengan perkiraan pembunuhan di taman perumahan SAE, Mayat KS kemungkinan sempat diseret dari taman menuju depan rumahnya. Terlihat bercak darah yang menuju dari taman menuju ke rumahnya. Kemungkinan KS mati ditusuk terlebih dahulu kemudian di tembak di bagian keningnya”​


Keanehan terjadi, kenapa tadi tidak ada garis polisi di taman tepat di kolam ikan yang aku duduki? Padahal itu tempat terjadi pembunuhan. Kucoba kuingat-ingat lagi dan ternyata memang ada garis polisi di taman tetapi tidak pada bagian kolam ikan. Aku rebahkan tubuhku di kasur kulihat jam dinding menunjukan pukul 14.00. Semua tampak buram, siapa sebenarnya Ayah?Apa yang telah dilakukannya selama ini? membuatku menjadi pusing tujuh keliling, apa lagi ada sms yang tersimpan di dalam SIM CARD ini menunjukan pengirimnya adalah Ayah. Kuletakan HP jadul-ku di kasur dan kutinggalkan.

Aku bangkit dari tempat tidurku, kemudian kulangkahkan kakiku menuju pekarangang rumah. Dengan asap yang mengepul dari mulutku layaknya sebua Lokomotoif, ditangan kiriku menggenggam telepon cerdasku. Aku duduk di tempat duduk santai, ku amati Telepon cerdas yang aku jemur tampak sudah kering karena teriknya matahari yang menyengat ini. kepulan demi kepulan asap memngandung beribu-ribu pertanyaan yang membuat pikranku seolah-olah ditekan oleh batu 1 ton. Masa bodohlah… itu bukan urusanku. Ku mainkan sebuah lagu dari Band beraliran Galm Rock yang mendunia saat itu. Gun n’ Roses – Welcome To The Jungle. Setiap lirik aku coba dengarkan dan resapi, hingga pada sebuah lirik…

“Ya learn to live like an animal in the jungle where we play”

Benarkah? Benarkah kita manusia tetapi hidup layaknya seekor binatang? Berebut kekuasaan, menindas yang lemah, bahkan membunuh mereka yang tidak sepaham dengan kita. Layaknya rimba hutan, dibutuhkan penguasa yang mampu memberi rasa takut kepada penduduk rimba. Bedanya, hewan lebih hebat seekor hewan dapat berkuasa dengan kekuatannya sendiri tetapi manusia memanfaatkan uang untuk menghancurkan pesaingnya. Ahhhh… jika dipikir tidak akan ada habisnya. Yang aku tahu seperti kata Ibuku, manusia adalah tempat untuk berbagi, saling menyayangi dan menghormati tanpa harus meliha perbedaan. Ahhh kenapa aku risau akan semua ini? yang terpenting aku harus bisa memposisikan diriku untuk bisa selalu diterima oleh masyarakat sekitar, tak akan kupedulikan apa kata orang. Intinya adalah aku harus bisa bersosialisasi dengan semua lapisan masyarakat. Hei? Kenapa aku seperti negarawan saja ha ha ha.

Pull me under pull me under pull me under i’m not afraid… bunyi panggilan pada telepon cerdasku. Kulihat nama Ibu tertera pada layar telepon cerdasku, segera ku angkat.

“Sugeng Siang Ibu, bagaimana kabarnya?” ucapku kepada Ibu di telepon

“Iya… Arya sayang… kamu tidur dirumah kakek saja ya, Rumah kamu kunci semua saja daripada kamu tidur sendirian di rumah”

“Bawa juga pakaian secukupnya ya, biar nanti kalau mau ke rumah teman kamu itu bisa langsung dari sini” ucap Ibu dari dalam telepon cerdasku

“Arya tidur di rumah saja bu” jawabku pendek

“Apa ndak kangen Ibu to? Pokoknya ya kamu kesini titik” jawab Ibu sedikit membentak dari dalam telepon

“Kangen iya kangen, Ibunya kangen tidak sama Arya” ledekku kepada Ibu

“Iya kangen to, masa sama anak sendiri ndak kangen” jawab Ibu

“Kangen yang mana? He he he” ledekku kembali

“Hmm…. mau tidak?!” terdengar bentak Ibu lagi

“Iya bu iya… nanti jam empat sore, Arya berangkat dari rumah” ucapku, kembali Ibu menjawab dengan sedikir obrolan-obrolan mengenai apa yang aku lakukan seharian. Kemudian Ib mengakhiri pembicaraan kami, dan dia menunggu aku di rumah kakek.

Kembali musik mp3 yang berada dalam telepon cerdasku berputar walau sempat berhenti karena panggilan telepon dari Ibu. Lagu kembali aku dengarkan sebuah lagu dari seorang solois bernama Bryan Adams – Never give up. Ya aku tidak boleh menyerah dengan keadaan ini, tidak boleh aku harus menemukan jawabanku. Lama aku melamun, lama pula aku mendengar lagu yang berputar. Kulihat jam pada telepon cerdasku menunjukan pukul 15.00, aku bangkit dan ku angkat telepon cerdas temuanku. Tampak sudah kering dan kerontang. Kubawa ke dalam kamar, kemudian aku pasangkan kembali MMC dan SIM cardnya. Kunyalakan, YES BISA!

Sambil menunggu Telepon cerdas menyala sempurna, kutinggalkan telepon cerdas itu diatas kasur. Kemudian aku menata semua keperluanku untuk menginap di rumah kakek. Setelah semua pakaianku beres, kuraih telepon cerdas temuan itu dan ternyata masih bisa berjalan dengan normal. Kubuka pada bagian galeri foto, tampak foto-foto KS dengan keluarganya sedang tersenyum bahagia. Tapi apa benar ini foto KS? Ku coba browsing dengan menggunakan telepon cerdasku dan tuing memang benar HP ini adalah telepon cerdas KS. Aku menunduk dan merasa terpukul, bagaimana bisa seorang kepala keluarga yang bahagia dibunuh hanya karena ingin membongkar kasus korupsi. Tampak telepon cerdas itu masih menyambung dengan koneksi datanya.

Kucoba buka pada menu SMSnya, tampak sebuah nama yang tidak asing lagi Mahesa. Ku sentuh bagian nama itu dan terlihat deretan text sms. Hanya terlihat 5 pesan berurutan yang tampak dari telepon cerdas yang ku temukan. Mungkin sms yang tadi aku baca berada pada bagian atas dan perlu ku scroll ke atas dulu. Tapi 5 pesan yang tampil ini sangat membuatku deg-degan.

Kenapa Bapak mengkambing hitamkan adik saya?
Padahal Bapak sendiri pelakunya
Monday, 28/8/20xx
Diam saja kamu
Jika kamu berani bicara di publik
Aku akan membunuhmu
Monday, 28/8/20xx

 

Tidak, akan saya akui kesalahan saya
Dan saya siap menerima hukuman dari pihak berwajib
Begitu pula dengan bapak
Monday, 28/8/20xx

 

DASAR BAJINGAN!
AKAN KU BUNUH KAMU!
Monday, 28/8/20xx
SAYA TIDAK TAKUT!
SAYAMEMINTA PERLINDUNGAN HUKUM!
Monday, 28/8/20xx

Apa maksdunya ini? Pull me under pull me under pull me under i’m not afraid… bunyi panggilan pada telepon cerdasku. Kulihat nama Ibu tertera pada layar telepon cerdasku lagi, segera ku angkat. Nampak Ibu memastikan aku untuk segera berangkat karena khawatir akan hujan deras, kulihat dari dalam kamar melewati jendela awan sangat gelap. Segera aku mempersiapkan diriku, ku matikan telepon dari Ibu. Tak lupa pula aku matikan telepon cerdas temuanku, ketika hendak mematikan telepon cerdas terdengar bunyi tung… sebuah notifikasi dari Bau Badan Messenger (BBM), muncul sebuah nama MAHESA diikuti isi pesan “MATI KAU HAHAHA!”

Aku benar-benar kaget, ketika melihat notifikasi tersebut. Kucoba membuka aplikasi BBM melalui menu agar tidak membuka langsung pesan BBM tersebut karena jika aku buka pengirim akan tahu bahwa pesan itu telah di “R”. Dan kulihat kontak BBM tersebut dan benar itu kontak itu bernama MAHESA kusamakan dengan foto yang berada di BBM telepon cerdasku, ya itu sama persis. Segera aku matikan telepon cerdas temuanku itu agar tidak dihubungi atau tidak diketahui oleh orang yang mencarinya. Setelah kupastikan mati total, aku sembunyikan di dalam kamarku yang bahkan semua orang tidak akan pernah tahu keberadaanya. Segera aku angkat semua kebutuhanku yang berada dalam tas untuk menuju kerumah kakek, karena aku juga sangat kangen dengan Ibuku, kekasihku. Setelah semua kupastikan terkunci aku kemudian tunggangi REVI MONTOK SEMOK-ku.

Dalam perjalanan aku menuju rumah kakekku, aku memutuskan untuk tidak memberitahukan kepada siapapun atas apa yang aku alami dalam minggu ini. Minggu yang penuh dengan bermiliyar-miliyar pertanyaan dalam otakku. Kupacu dengan penuh semangat…… saatnya menuju ke barat menuju kerumah kakekku. Nguuuuuuuuuuuuuuuuuuueeeeeeeeeeeeeeeengg………………

Setelah mendapatkan satu jam perjalanan, sejenak aku beristirahat di sebuah kedai nasi harimau. Makan secukupnya dan mulai berbaur dengan orang-orang yang berada di tempat itu. Bersendau gurau dan bercanda. Ya inilah bangsaku, bangsa yang benar-benar menghargai perbedaan. Setelah dua bang dunhill hilang menjadi asap aku melanjutkan kembali perjalanan, tepat pukul 19.00 aku sampai dirumah kakek.

Ibu menyambutku dengan penuh kebahagiaan seakan-akan sudah lama tak jumpa, Tante Ratna, Pak dhe (Paman) Andi semua berkumpul terlihat juga nenek Ayu dan Kakek Warno yang sedang bersendau gurau dengan adik-adikku dari tante ratna dan pak dhe Andi. Tante Ratna memiliki 2 orang anak, cowok berumur 10 tahun dan yang cewek berumur 7 tahun sedangkan Pak Dheku memiliki Tiga orang anak, anak pertama berumur 11 tahun, anak kedua berumur 9 tahun dan anak ketiga berumur 5 tahun. Ketika semua berkumpul tampak dari semuanya terlihat bahagia. Sedikit cerita, Ketika Pak dhe menikah dengan bu dhe bertemulah tanter ratna dengan Adik dari istri pak dhe, mereka saling jatuh cinta dan akhirnya mereka menikah juga. Jadi, Istri Pak dhe dan Suami Tante Ratna adalah kakak beradik.

Di sela-sela kebahagiaan itu muncul sebuah tanda tanya besar “Kenapa aku tidak pernah bertemu dengan kakek dan nenek dari Ayah?”. Pertanyaan muncul dan aku simpan dalam hati, pertanyaan yan muncul karena berbagai hal aneh yang terjadi di minggu ini. Kami berkumpul bercerita mengenai berbagai macam hal dari A hingga Z dai 0 hingga 9.

“Arya, dah punya pacar belum?” tanya tante ratna yang disampingnya duduk suaminya Om Andra Dwi Kuncoro dengan wajah yang ramah.

“Iya nih, dah punya belum masa 20 tahun masih Jomblo?” sambung pamanku yang di dadanya rebah kepala dari istrinya Ika Ana Kuncoro nan cantik yang juga tersenyum kepadaku.

“Eeeeeeeeeee… Mas sama dik ratna itu bagaiman to biarkan Arya kuliah dulu baru nanti mencari pacar” jawab Ibuku dari belakang sambil membawa senampan minuman hangat.

“Belum Pak dhe, tante tidak laku aku ini… he he he” ucapku yang dibarengi dengann tawa mereka semua.

“Masa cowok seganteng kamu belum laku? Jangan-jangan…..” ledek tante Ratna

“Bener juga ya Rat, ada yang tidak beres sama Arya” ucap Tante Ika menimpali Tante Ratna, belum juga aku menjawab giliran pak dhe dan Om Andra yang menimpali secara bersamaan.

“Wah iya ini jangan-jangan Arya….” ledek kedua laki-laki di depanku

“APAN SICH TANTE, OM SAMA PAK DHE ITU? AKU MASIH NORMAL YA…..”

“Ibu, belain aku to ya…” ucap ku kepada Ibu

“iiiih kakak udah gede masa minta di belain sama bu dhe” ucap anak tante ratna

“Sudah-sudah kaya kalian umur 20-an sudah punya pacar saja…” bela Ibu

“Yeee… tapi kan punya banyak fans dari lawan jenis, weeeek ketimbang Arya, emang punya fans?” celetuk pak dhe-ku, belum sempat aku menimpali

“Ooooo jadi bangga ya punya banyak fans?” ucap Bu dhe Ika dengan tangan bersedekap memandang tajam ke arah pak dhe. Aku melihat itu semua kemudian tertawa terbahak-bahak, semua orang yang berada di situ awalnya heran dengan tingkahku kemudian mereka pun ikut menertawakan Pak dhe. Kakek dan Nenek hanya menggeleng-gelengkan kepala saja melihat tingkah laku anak dan cucu-cucunya.

“EEEE AAAA EEEE AAAA EEEE AAAA…. ada yang marah tuh….” ledekku ke pak dhe.

Suasana tetap riang walaupun saling lempar ejekan dan gurauan. Hingga pukul 21.30 tampak wajah mereka sudah mengantuk dan mulai menguap satu per satu. Satu per satu mereka minta ijin untuk berangkat menuju ke kamar masing-masing.

“Arya kamu tidur sama Ibu kamu saja, karena disini kamarnya cuma tiga” ucap nenek kepadaku

“Tidak mau nek, kan Arya sudah besar masa tidur sama Ibu, Arya tidur di ruang tamu saja” jawabku

“Hush, tidak boleh membantah nenek” ucap pak dhe meniru aksen Kakekku, di iringi gelak tawa dari mereka semua. Kakekku hanya geleng-geleng kepala ketika melihat ulah pak dhe. Akhirnya aku menuruti perkataan nenekku, semua akhirnya masuk ke dalam kamar. Aku kemudian berjalan ke arah dapur untuk mengambil air putih.

Minggu ini benar-benar aneh, belum juga aku mengakhiri meinggu ini sudah banyak pertanyaan dari dalam otakku. Ah masa bodohlah… aku tak mau tahu. Kuhabiskan dua batang dunhill mild dan kuhabiskan pula segelas teh hangat. Pintu belakang rumah kakek pintu tradiisional, mirip dengan pintu gerbang tapi ukuran lebar hanya sekitar 2 meter kurang, disetiap pintu terdapat kaca-kaca yang berada dibagian tengahnya. Ketika aku hendak masuk tepat di depan pint itu aku melihat bayangan putih, ya itu adalah kakek dalam mimpiku.

“Sampeyan kudu iso nglakoni kabeh, kabeh tergantung karo sampeyan” ucap kakek tua itu.

Aku kaget setengah mati, aku menengok kebelakang dan tak ada satu orang pun di sana. Segera aku masuk mencuci muka dan masuk ke kamar Ibu. Ku kunci kamar Ibu dan langsung tengkurap di sebelah Ibu. Jujur aku takut setengah mati, apalagi ucapan pak dhe dan kakek memberiku seribu pertanyaan. Ibu yang kaget bangkit kemudian mengelus-elus kepalaku.

“Ada apa to nak?” tanya Ibuku, mendengar ucapan Ibu kemudian aku bangkit dari dan duduk menghadap ke Ibu. Kamar Ibu cukup luas dengan kamar mandi didalamnya. Kemudian kuceritakan semua kejadian yang menimpaku tadi ketika dipekarangan rumah.

“Sudah-sudah, ndak papa, itu tandanya kamu adalah lelaki hebat” ucap Ibu sambil tersenyum kepadaku,mencoba untuk menenangkan pikiranku. Aku kemudian memeluk Ibuku, kurebahkan kepalaku di susu Ibu.

“Bu, Arya takut…” ucapku,

“Nak, seharusnya Ibu yang takut, kenapa malah kamu?”

“Bukannya, Arya yang selalu berjanji untuk melindungi Ibu?” ucap Ibu kepadaku.

Malu, aku benar-benar malu ketika mendengar itu terucap dari mulut Ibu. Aku kemudian bangkit dari susu Ibu, dan tetap menundukan kepalaku sembari meminta maaf kepada Ibuku. diangkatnya kepalaku dengan kedua tangan Ibu, dan lidah lembutnya memaksa masuk ke dalam mulutku. Kubuka sedikit dan kamipun berciuman selayaknya sepasang kekasih. Aku kemudian mengarahkan kedua tanganku meremas susu Ibu, dan Ibu mulai mendesah sangat pelan menikmati sensasinya.

“Bu Arya pengen….” ucapku

“Pakai ini saja ya… “balas Ibu sambil menunjukan bibirnya dan kubalas dengan anggukan.

Aku kemudian melepas kaos Ibu, dengan penuh semangat dan juga BH Ibu. Tampak susu Ibu yang sekal dan besar kembali aku lihat, sungguh indah. Tanpa babibu Ibu menarikkku kepinggir ranjang dan dia berlutut dihadapanku.

“Ingat, No Sound, keep silent….” ucap Ibu kubalas dengan anggukan dan kecupan dikeningnya. Ya wajarlah seorang lulusan S2 berbicara dengan logat inggris yang fasih. Dan sleeeb….

Kuluman Ibu membuat aku kelojotan, setiap kuluman terdapat sapuan lidah. Dimasukan dedek arya kesamping kanan rongga mulutnya seakan-akan seperti orang yang sedang menggosok gigi. Dikembalikannya lagi ditengah kemudian disedotnya kuat-kuat. Digesernya lagi dedek arya kekiri rongga mulutnya dimaju mundurkan kemudian dikembalikan ke tengah dan di sedotnya kuat-kuat. Lama ibu melakukan kuluman itu tapi sama sekali tidak membuatku merasa akan mengalami puncak.

“Bu…” bisiku sambil kulepaskan kuluman Ibu dari dedek Arya

“Pakai susu Ibu saja….” lanjutku berbisik

“Bagaimana caranya? Ibu belum pernah… di ajari ya sayang” bisik Ibu sambil mengelus-elus dedek arya

Kemudian kumajukan sedikit duduku kutarik Ibu hingga mendekatiku dan kusuruh Ibu mengapit dedek arya dengan menggunakan susunya. Kusuruh Ibu menaik turunkan tubuhnya ah senasi yang benar-benar berbeda dari biasanya. Kulihat setiap Ibu menurunkan tubuhnya tampak dedeka rya menyentuh mulut Ibu. Susu Ibu yang besar tampak dengan mudah melahap dedek arya. Setiap kali Ibu menurunkan tubuhnya, dedek arya mendapat sensasi kuluman pada helmnya.

“Bu, kassssih… lud… dah biar lancaarr…ah aha h” rintih nikmatku yang sangat pelan, Ibu tersenyum kemudian meludahi dedek arya.

Tampak perjalanan dedek arya melewati lembah susu ibu semakin lancar. Semakin cepat Ibu melakukan permainan ini, semakin terasa sensitifitas pada dedek arya. Semakin lama aku semakin tidak kuat menahan lahar yang akan muntah dari mulut dedek arya. Dengan memajukan tubuhnya ibu memberi sedikit tekanan pada dedek arya.

“Bu… Arya mah….hu kel…luhar….” bisiku, selang beberapa menit kemudian.

“Bu Arya…. Keluaaaaaaaaaaaar…..” rintihku tertahan, Dengan sigap, Ibu langsung mengulum dedek arya.

Croooot croooot croooot crooot croooot crooot crooot

Keluarlah semua cairan hangat itu di mulut Ibuku, setiap crootan dari dedek arya tampak langsung ditelan oleh Ibu. Setelah beberapa menit dan klimaksku telah berlalu, aku langsung angkat Ibu dan mencium bibirnya. Kupeluk erat tubuhnya dan akhirnya kami rebah di kasur. Permainan lidah kami berlangsung cukup lama.

“Sudah istirahat ya…” ucap Ibu, sembari mengecup bibirku

“Iya bu…” balasku sembari mengecup bibirnya

Ibu melangkah ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri, dipakainya kembali kaosnya. Kemudian membersihkan dedek arya dengan menggunakan handuk basah dan dipakaikannya lagi celanaku. Aku yang terlalu lelah dengan berbagai macam perjalanan hari ini mulai mengantuk. Kuposisikan diriku agar lebih nyaman untuk tidur, Ibu kemudian berbaring disampingku dan memeluk kepalaku di dadanya.

“Ibu hebat kan nak?” tanya Ibu

“Pasti Bu… yang terhebat” jawabku sambil memejamkan mata

“Lindungi Ibu, dan jagalah keluarga ini… Ibu sangat menyayangimu” ucap Ibu kemudian

“Pasti bu, aku pasti melindung…. ngi…. mu….zzzzzzzz” ucapku terputus dan tertidur

Tampak seorang Ibu yang sangat menyayangi anaknya, memluknya dengan erat. Dielus-elusnya kepala anak itu. Hingga anak itu terlelap dalam buaian kasih sayang dan mimpinya.

Pagi menjelang, tampak sinar matahari masuk melalui celah-celah ventilasi kamar Ibu, ya kamar ketika Ibu masih muda dulu. Ibu sudah bangun terlebih dahulu tanpa membangunkan aku. Ku bangung tepat pukul 05.30, beranjak dari tempat tidur kemudian aku mandi dan berberes kamar sebentar. Tampak suara panggilan kakek dari luar kamarku mengajakku untuk makan pagi di pukul 06.00. Suasana kekluargaan dan kebersamaan memang selalu terpancar dari keluarga Ibu, memnag benar-benar lengkap walau tak ada Ayah disini aku tetap merasa bahagia.

Setelah selesai makan pagi, semua kembali ke ruang keluarga sedangkan aku membantu Bu dhe Ika dan Tante Ratna membersihkan piring. Terlihat Ibu masuk kamar karena perutnya sakit. Selama mencuci piring aku dan ke dua saudara Ibuku ini saling bercanda bahkan selalu mengejekku mengen pacar, pacar dan pacar. Tapi selalu bisa aku balas dengan ledekanku.

“iiiiiiiiiiiih bikin gemes tante saja kamu itu…..” ucap tante sambil mencubit pipi kiriku

“iya nih bikin gemes saja….” ucap tanteku sambil mencubit pipi kananku

“Eh apa-apan ini, anakku kalian apakan?!” hardik Ibu dari belakang

“Iiiiibuuuuuu…. aku tadi di pukuli sama bu dhe sama tante hiks hiks hiks aku di aniaya” ucapku dengan nada memelas dan pura-pura menangis sembari melangkah ke belakang Ibu

“Yeeee…. Lebay” ucap mereka berdua secara bersamaan, yang kemudian tante dan bu dhe berlari ke arahku mencoba mencubit aku lagi, tapi aku masih bisa menghindar walaupun berikutnya tidak sama sekali. Suasana menjadi ramai di dalam dapur, Ibu nampak kewalahan mengahdangi tante dan bu dhe ku. Hingga semua telah selesai dan kami kembali menuju dapur. Ibu kembali ke ruang keluarga terlebih dahulu, di susul tante dan bu dhe yang berjalan melewatiku.

“Seneng deh punya keponakan ganteng kaya kamu…” bisik tante sambil mencubit pipiku

“Gemesssss….” ucap bu dhe sambil mencubit pipiku juga

Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala ketika mereka melakukan hal itu, wajar juga Tante dan Bu dhe masih terlihat muda jadi ya suka sok gaul kalau sama aku, gitu deh. Ku jalani hari ini dengan penuh kebahagiaan dan penuh kesenangan terutama adalah bermain dengan adik-adikku ya karena aku memang selalu membayangkan mempunyai seorang adik tapi dari penuturan Ibu, Ayah tidak ingin menambah momongan. Waktu tak terasa sudah pukul 12.30, aku pamit izin ke pada kakek dan nenek tak lupa pula kepada Pak dhe, Ibu, dan tante untuk menginap di rumah teman sekaligus sahabatku, Rahman. Perjalanan cukup jauh aku tempuh, dan sudah hal biasa bagiku karena memang keseharian aku kuliah dengan jarak yang cukup jauh pula. Hingga akhirnya aku sampai di rumah Rahman. Ku tekan bel pintu gerbang rumah Rahman. Keluarlah seorang wanita keturunan India yang cantik dan berkulit putih,Ibu Rahman yang selalu aku panggil Tante karena selama ini aku tidak pernah tahu nama Ibu Rahman walaupun aku sering bermain atau bahkan menginap di Rumah Rahman semenjak semester 3 lalu.

“Oh nak Arya, masuk nak” ucap Ibu Rahman sembari membukakan pintu gerbang. Ku papah REVI sibodi montok dengan perlahan, ya aku tahu dia kelelahan karena telah melayaniku selama perjalanan menuju Rumah Rahman. Setelah aku parkir di dalam garasi rumah Rahman, kemudian aku berjalan berdampingan dengan Ibu Rahman menuju ke dalam rumah.

“Ada acara apa ini?” tanya Ibu Rahman

“Ini tante, mau mengerjakan tugas, kemarin Rahman memaksa aku untuk main kesini tante” jelasku kepada Ibu Rahman

“Pasti, Rahman mendapat kesulitan ya dengan tugas kuliahnya? Anak itu memang jarang mau belajar, padahal Ibunya dulu waktu kuliah selalu mendapat IP di atas 3,5. Mungkin nurun dari Ayahnya” jelas tante sembari membukakan pintu dan kami masuk

“Ah ya enggak tante, Rahman Rajin kok belajarnya” ucapku sedikit membela Rahman

“Rajin???? Rajin memerawani cewek-cewek kampus iya tante” Bathinku

“Tante itu lebih tahu daripada kamu, kalau dia sudah dirumah ngegaaaame mulu, tante mpai menyerah kasih tahu dia, Huft!” ucap tante dengan sedikit emosi sembar berjalan menuju ruang tengah.

“Mami itu apaan sich, aku kan anak Rajin, tul gak Ar?” ucap Rahman dari atas yang sedang menuruni tangga menyambutku

“Yoi kang!” jawabku sederhana

“Ayo langsung masuk aja ente ke kamar kita belajar” ucap Rahman dengan gaya sok pintarnya.

“Ya biar istirahat dulu si Aryanya kan kasihan baru saja sampai” ucap Ibu

“Ya deh… Arya sahabatku, silahkan istirat dulu, bubu dulu di kamarku tidak apa-apa kok” ucap Rahman sok manis

“Naaaah ini tante, kelihatan sekarang batang hidungnya… ini Rahman kalau di kampus suka goda cewek dengan nada sok imut ini tante” balasku meledek Rahman

“oooo…. lebih mentingin cewek daripada kuliah ya?” ucap tante dengan tangan berpinggang dan mata mendelik ke arah kami.

“Lari Broo… Akan ada bom nuklir“ ucap rahman yang kemudian menarikku ke atas menuju kamarnya, kulihat Ibu Rahman hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil mengelus dada. Ya walaupun sedikit marah Ibu Rahman ini tetap kelihatan guratan-guratan kecantikannya. Wanita keturunan India, dengan kulit putih tinggi hampir sama dengan Ibu dan ukuran susunya ah aku tidak tahu, megang saja belum he he he.

Rumah Arya termasuk luas dengan dua lantai di dalamnya. Ketika masuk akan langsung berada di ruang tamu yang kemudian hanya di batasi bifet saja sudah ada ruangkeluarga yang sangat luas. Di samping kananku ketika aku berbincang dengan Ibu Rahman terdapat pintu kamar tante kemudian di lanjutkan tangga menuju lantai dua tempat kamar Rahman berada. Ruang keluarga yang cukup luas yang bersatu dengan ruang makan, agak kebelakang ada dapur dan pekarangan rumah.
Kini aku berada dalam kamar, kulhat jam dinding menunjukan pukul 15.30. aku kemudian tiduran di kamar rahman yang sangat luas, ada area santainya dengan dua kursi meghadap ke jendela, area main game beralaskan kasur lantai ada juga tempat tidur ukuran 2 x 2 meter. Aku tertidur di kasur sedangkan Rahman? Terakhir kali mataku terbuka dia sedang main game online dengan komputernya.

Pada malam 06.30 aku diajak makan malam bersama dengan Rahman dan keluarganya, tampak tante dan suaminya (Ayah Rahman). Kami makan malam sambil berbincang-bincang mengenai kuliah, dimana Rahman selalu di jadikan sasaran kemarahan Ibunya karena jarang sekali belajar. Walaupun begitu Rahman menanggapinya dengan santai karena sudah menjadi hal biasa ketika Rahman dibully ketika makan malam. Makan malam selesai dan kemudian kami beruda naik ke atas, kami mulai belajar. Kami? Oh tidak hanya aku saja, Rahman? Main game.

“Ar, ane selalu dukung ente apapun yang terjadi…”

“Dan ku dukung belajarmu semoga kamu bisa selesai dalam mengerjakan tugas kuliah kita” ucapnya dengan wajah penuh motivasi dan semangat tapi dia kembali main game dan aku yang sibuk mengerjakannya.

Satu setengah jam terlewati, tepatnya pukul 21.30 aku selesai mengerjakan tugas. Rahman kemudian mengabadikan tugasku dalam kameranya, biar bisa dicontek nantinya. Aku dan Rahman kemudian main game Winning The Pooh-PleSetan 4. Kuambil posisi duduk di sebelah Rahman yang dengan tidur tengkurap sambil main game.

Tok tok tok…. suara ketukan pintu dan masuklah bidadari di rumah ini melewati pintu kamar rahman yang jarang sekali di tutup, ya itu Ibu Rahman.

“Sudah selesa tugasnya?” tanya Ibu Rahman sembari meletakan minuman hangat di depan kami

“Sudah tante… “ jawabku sambil tersenyum

“Jelas sudah dong. Siapa dulu gitu mam, Rahman….” ucap rahman dengan nada kesombongannya

“Iya sudah nyontek Arya…” jawab Ibu Rahman Judes

Aku hanya bisa tertawa ketika Ibu dan anak ini saling meledek apalagi kalau sudah ada pertengkaran kecil. Ibu Rahman kemudian meninggalkan kamar kami, ku minum teguk demi teguk minuman dari Ibu Rahman, begitu pula dengan Rahman selama permainan. Lama kami bermain, Hingga minuman habis, dan berbatang-batang rokok menumpuk di asbak. Kurasakan dalam tubuh ini terasa panas, kulihat Rahman sudah tengkurap dan tertidur pulas. Aku masih bingung dengan keadaanku, sama sekali tidak mengantuk tetapi kenapa Rahman dengan mudah tidur. Kulihat jam dinding menunjukan pukul 23.30

“Nak Arya…..” teriak Ibu Rahman dari lantai bawah

“Tolong Tante sebentar, ini TV bawah kok tidak bisa menyala…” teriaknya kembali, malam sekali tante tidur biasanya jam segini sudah tidur. (berdasarkan pengalaman menginap sebelumnya)

“Iya tante…. Aku turun kebawah” ucapku, kemudian melangkah ke bawah dengan menahan panas dalam tubuh ini. Ketika di bawah aku melihat tante dengan pandangan berbeda, padahal pakaian yang dikenakannya adalah pakaian yang sama ketika aku datang tadi. Pikiran “ngeres” sering muncul ketika aku berhadapan dengan tante malam ini. Ku dekati televisi kemudian aku cari penyebab kenapa Televisi ini tidak mau menyala, sepele kabel belum di colokan ke dalam stop kontak.

“Tante… ini sudah…”

“Cuma kabelnya saja belum nyolok ke stop kontak, mungkin ke cabut tante” jelasku kepada tante

“Masa iya?” Ucap tante sembari mendekatkan tubuhnya, kedua susu tante menempel pada lengan kananku, semakin berdesir darah ini dan “Hoooooooooooammm… Aku bangun kakak”, sial bagaimana bisa aku berpikir ngeres ke Ibu temanku sendiri.

“Oya sudah terima kasih ya, ni Tante buatin minuman hangat diminum dulu” ucap tante

“Iya tante…” ucapku tak kuasa aku menolak, kami berdua duduk bersebelahan di depan televisi.

Tampak tante membuka percakapan untuk mengobrol denganku tapi panasnya tubuh ini membuat aku tidak bisa berkonsentrasi dengan apa yang Ibu Rahman bicarakan. Aku menoleh kearah Ibu Rahman mencoba untuk mendengarkan yang tante bicarakan, Semakin lama semakin menjadi semakin lama aku hanya fokusku bukan pada wajah tante melainkan pada susu tante.

“Arya…. Tante ingin kamu… “ tiba-tiba tante berbisik di telingaku, aku tidak mengira akan mendengar hal seperti itu dan…

Tante memelukku kemudian di daratkannya bibir indahnya ke bibirku, lidahnya mula memaksa masuk ke dalam mulutku. Aku yang sudah panas sejak tadi juga tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Kubuka mulutku dan kami berciuman layaknya sepasang kekasih yang hasu akan belaian. Kupeluk tante dengan erat, dan kukulum bibir tante dengan penuh nafsu. Walaupun bayangan Rahman hinggap dalam pikiranku tapi tubuhku tak bisa berhenti untuk menolak semua ini.

“Kang Rahman sahabtku, maafkan aku” bathinku

Ciuman tante kemudian turun keleherku aku yang duduk di sofa depan di TV hanya bisa mendesah atas perlakuan tante. Kuarahkan kedua telapak tanganku menuju ke susu tante kuremas dan kuremas, ah tampak besar, posisi tante sekarang adalah berlutut dihadapanku dengan masih menciumi leherku. Tiba-tiba tante melepaskan kaos yang aku kenakan, poloslah dadaku yang bidang ini. Tane menjilati ke dua pentil di dadaku dengan penuh nafsu secara bergantian. Jilatannya kemudian berpindah ditengah-tengah dada turun-turun dan kemudian tepat dipusarku tante mencoba melepaskan celanaku dengan kedua tangannya. Dengan sedikit bantuanku akhirnya lepaslah celana dan celana dalamku. Toeeeeeeeeeng “mangsa baru ya kakak, yaelah STW lagi, gak ada yang perawan kakak” ucap dedek arya, “diem lo! Tinggal nikmati saja” mungkin itu pertengkaran yang akan terjadi antara aku dan dedek arya.

“Kenapa tante?” ucapku dengan nafas yang tidak beraturan karena panas tubu ini

“Besar sekali sayang bahkan lebih besar dari punya om…mmmm…..” ucap Ibu Rahman yang kemudian mengulum dedek arya. Menyedotnya dengan sangat kuat bahkan jika dibandingkan dengan Ibu, Ibu masih kalah jauh mungkin karena Ibu Rahman sudah sering melakukannya dengan om.

Kuluman dan jilatan tante sangat terasa di kemaluanku, membuat aku belingsatan. Tante kemudian memaju mundurkan kepalanya, darahku yang semakin panas membuat aku tidak tahan dengan kondisi ini. kupegang kepala Ibu Rahman ini dengan kedua tanganku dan ku maju mundurkan dengan sedikit kasar. Tak ada perlawanan sama sekali dari Ibu Rahman, dia terus mengikuti gerakan tanganku. Terus dan terus membuatku semakin belingsatan dan tak karuan. Ku tarik kepala Ibu Rahman dan kemudian aku ciumi dan aku lumat dengan penuh nafsu. Dengan sepenuhnya memaksa aku berdirikan Ibu Rahman, aku buka pakaian Ibu Rahman yang berupa dress terusan hingga lutunya ini. Ku singkap ke atas hingga kepalanya dan terlepaslah, terliha tubuh indah tante dengan balutan BH dan CD tipis G-String. Langsung aku tubruk tubuh tante hingga tante rebah dilantai yang beralaskan karpet ini. Didepan TV sebagai saksi bisu persetubuhanku dengan Ibu sahabatku sendiri. Ku cuka BH Ibu Rahman tersembulah sebuah Susu indah kencang tapi sedikit kendur, jika dibandingkan dengan Ibu lebih indah Susu Ibu dan lebih besar susu Ibu sedikit. Kukulum dan kujilati setiap nano meter susu Ibu Rahman ini. Ku jilati memutar pada salah satu susu dan satu tanganku mengelus memutar pada susu yang lain secara bergantian. Dan cruuup kukulum pentil tante yang hitam dan sedikit lebar ini,ku jilati dan kumainkan secara bergantian dari satu susu ke susu lain.

Entah kenapa tak ada perlawanan sama sekali dari tante, tante hanya mampu mendesah dan mendesah. Kujilati semakin ke bawah, kutarik G-string milik tante dan terlepaslah G-Stringnya. Kumasukan jariku kedalam vagina tante.

“Ah Ah Ah ya sayang begitu… enakk nikmaaaat aaaaah” rintih kenikmatan tante, aku semakin buas dalam keadaan ini hanya sebentar mengocok dengan jari kemudian aku posisikan tubuhku di tengah-tengah selangkanagn Ibu Rahman. Sekejap bayangan Rahman muncul, khentikan aksiku.

“Kenapa sayang, tante sudah siap….” ucap Tante kepadaku

“Tidak tante ini salah, Tante adalah Ibu Rahman, sahabatku…”

“Aku takut jika da bangun….” ucapku penuh ketakutan dan memundurkan tubuhku hingga duduk bersandar pada kaki sofa. Tante kemudian berdiri dan mengakangi tubuhku dan diarahkannya dedek arya ke dalam vaginanya. Dan blesss perlahan… ketika baru masuk setengah ku tahan tubuh tante untuk tidak melanjutkannya.

“Kenapa….? mereka tidak akan bangun Arya, mereka tante kasih obat tidur dosisi tinggi, sekalipun kita berteriak mereka tidak akan bangun” ucap tante sembari melepaskan tanganku yang menahannya, aku hanya bisa diam dan melihat vagian Ibu Rahman menelan dedek arya hingga tak terlihat. Kurasakan sedikit longgar vagina Ibu Rahman, dan becek tak seperti vagina Ibuku yang sempit dan kesat. Aku jadi kangen dengan Ibu.

“Aaaaaaaaaaahhh…. besar sekali…. penuh memek tanteeeeeeee”

“Kontolmu menyentuh rahiiiim…. tannn…. teh…. uhhhh” teriak kenikmatan tante, aku masih diam dan tidak percaya dengan apa yang baru aku lihat. Tante mulai menggoyang perlahan dan perlahan kulihat susu tante yang sedikit kendor itu mulai berayun ke atas dan ke bawah. Panasnya tubuh ini menghilangka rasa bersalahku terhadap rahman. Ku remas susu tante dengan sedikit kasar dan kemudian kukulumi satu persatu selama tante menggoyang tubuhnya.

“Seperti itu sayang…. uftttt… remas yang ku…. hat…”

“Kon… tol kamyuh…. bes…sarhhh dan nikmathhhh… uftttt…..” rintih tante

“Slurp slurp… mmm…. mmmm” ucapku sembari mengulumi susu Ibu Rahman

Semakin cepat Ibu Rahman menggoyang semakin aku bernafsu, sedikit aku goyangkan pinggulku keatas walau aku kesulitan. Dan ekspresi tante semakin menggila.

“Aiiiiih auuuuuuuhh… kontol kontol… kontol kamu nikmaaaaaatttttt” racaunya

“Tante sampai… tante mau sampai… aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa” teriaknya, diikuti ambruk tubuhnya ke arahku yang kemudian memelukku kepalaku erat tepat di susunya.

“Kamu hebat hah hah hah sayangku” ucapnya

“Tante… maaf….” ucapku

“Apa? Kenapa minta maaf” ucapnya kepadaku

“aaaaaa…..” dilanjutkan teriakan kecil karena kaget tubuhnya aku angkat dan aku baringkan di karpet lantai lagi.

“Rahman, aku minta maaf tapi tampaknya Ibumu butuh kepuasan kawan” ucapku sambil mengarahkan pandanganku ke kamar Rahman

“Nakal hash hash hash hash kamu ya, Ibu teman kamu, kamu setubuhi” ucapnya kepadaku

“Mau lanjut atau tidak tante?” ucapku tanpa menghiraukan ledekkannya, dijawab dengan anggukan oleh Ibu Rahman.

Perlahan aku mulai menggoyang pinggulku, pelan-pelan dan semakin cepat cepat dan cepat. Membuat Ibu Rahman tampak belingsatan dan tak karuan.

“Aiiish aissssshssshshshs… ouwhhh…. pelan… pelan….”

“Kontolmu ter…. la…. lu bes…sarhhh” rintih Ibu Rahman

“Tapi suka kan….?” ucapku

“eeeh eeeh eeeh iya ahhh… lebih kerassssh sayang….” ucap tante, Ku goyang semakin keras tampak bergoyang susu Ibu Rahman seakan-akan terkena gempa. Kupegang erat susu Ibu Rahman dan kuremas, kadang aku bungkukukan tubuhku untu kmenjilati susunya. Semakin keras aku menggoyang semakin kurasakan sensitifitas pada dedek arya. Kupindahkan kedua tanganku ke pinggang Ibu Rahman dan kugoyang semakin keras.

“Ah terlalu longgar vagina Ibu Rahman, aku kangen dengan vagina Ibu… Ibu…” bathinku yang teringat akan Ibu

“Tante mau sampai sayangh… lebih kerashhh… uftth….” racau Ibu Rahman

“aku juga tantehhhh… ahhhhh” racauku

“Tante keluaaaaaaaaaaaaarrrrrr……” teriak tante

Croot Croot Croot Croot Croot Croot Croot Croot

Keluarlah spermaku ke dalam vagina Ibu Rahman, kurebahkan tubuhku ke tubuh Ibu Rahman ini. kuciumi dan ku jilati setiap bagian wajahnya.

“mmmm…. terima kasih arya…. tante merasa sangat puas….” ucapnya

“iya tante… arya juga….” ucapku, kemudian kami saling berciuman dan saling mengulum bibir. Kemudian aku bangkit dan bersandar pada kaki sofa diikuti tante yang kemudian bangkit dan merebahkan kepalanya di dadaku. Terlepaslah dedek arya yang masih sangat tegang.

“Masih mau nambah lagi?” ucap tante, sambil mengelus-elus dedek arya yang masih lengket dengan cairan kenikmatan kami berdua yang bercampur menjadi satu, kujawab dengan senyuman dan anggukan

“Kamu hebat, selama ini tante belum pernah merasakan puncak”

“Hanya dengan kamu dan untuk kedua kalinya hash hash hash” ucap tante dengan nafas tersengal-sengal

“Tante… kenapa tante memilihku?” tanyaku tiba-tiba

“Karena kamu mirip dengan pacar tante, pacar pertama tante yang pertama kali mengambil perawan tante dan memberikan puncak kenikmatan kepada tante”

“Bahkan selama ini tante selalu merindukannya” ucapnya kepadaku

“Tante minta maaf jika tante melampiaskannya kepadamu, sahabat anakku sendiri”

“Bagaimana bisa tante melakukan ini semua?” tanyaku

“Tante memberi obat tidur pada Rahman dan om, sedangkan pada minumanmu tante beri obat perangsang”

“Jujur sayang, sejak pertama kali kamu main kerumah ini, tante seakan-akan kembali ke masa muda tante dimana tante melihat jatidiri pacar tante di dalam dirimu, yang selalu mengayomi, melindungi dan menyayangi”

“Maafkan tante…. hiks hiks hiks….” ucap Ibu Rahman yang kemudian terisak-isak menangis di dadaku yang kemdudian memeluku erat.

“Jangan menangis tante” ucapku sembari mengakat kepalanya dan kudaratkan ciuman mesra ke bibirnya.

“Arya tahu tante rindu sama kekasih tante, tapi apa tidak kasihan om dan Rahman?” tanyaku

“Tante sudah tidak peduli dengan Om kamu itu, benar-benar tidak peduli, dia hanya memntingkan dirinya sendiri, memerangkap tante di dalam rumah ini melarang tante keluar rumah hiks hiks hiks hiks” ucapnya disertai isak tangis

“Sudah tante tidak usah menangis, selama obat tidurnya masih bekerja Arya siap jadi kekasih tante” jawabku menenangkan Ibu Rahman, jujur saja aku tak tega melihat wanita menangis dihadapanku walau hatiku berteriak untu kmenghentikan semua ini. Ku peluk kepala tante didadaku, ku elus dan kuciumi ubun-ubunya. Ibu Rahman membalasnya denga pelukan erat pada tubuhku.

“Kontol kamu belum tidur sayang, mau nambah lagi?” ucapya disertai linangan air mata, kujawab dengan senyuman dan anggukan

“Tante bersihin dulu ya, biar kamu makin nikmat” ucapnya sembari tangaku menghapus air matanya

Tante kemudian berdiri dan mengabil tisu yang dibasahi oleh air dan dilapkannya ke vaginanya. Kulihat tubuh seksi tante membuat dedek arya selalu ON. Inginku segera menghentikan ini tapi tubuh ini selalu menjawab ajakan Ibu Rahman dengan jawaban “iya”. Setelah membersihkan vagiananya Ibu Rahman mengambil dua gelas air putih. Aku kemudian bangkit dan duduk di sofa, diberikannya kepadaku satu gelas. Kuminum, aaaaaaaaaahhh segarnya…..Terasa elusan hangat dari tangan tante mengelus-elus pipiku.

“Kamu benar-benar hampir mirip dengan pacar tante hanya saja, kamu lebih tinggi darinya” ucapnya sembari menyambut gelas yang aku berikan kepadanya, kemudian Ibu Rahman beranjak ke dapur untuk mengambil air putih kembali

“Nambah?” ucapnya, ku jawab dengan anggukan

“Dulu tante pernah sekolah di daerah ini sewaktu masih muda hanya saja, ada sebuah kejadian yang membuat tante malu dan merasa bersalah, hingga akhirnya tante dinikahkan dengan om kamu diawaktu masih sangat muda itu, dan dibawa pergi dari daerah ini bersama om-kamu itu”

“Kejadian apa tante?” tanyaku ketika tante masih berjalan menuju dapur, di dapur tante bersandar pada meja dapur modern yang disampingnya terdapat tempat air minum (jujur saja penulis agak sedikit bingung dengan nama meja dapur modern ini).

“Akan tante ceritakan asal kamu janji tidak bilang ke Rahman” ucapnya, aku mengangguk dan memandangi tubuh indah tante ini.

“Ketika tante masih SMA kelas satu, tante sudah kehilangan keperawanan dengan orang yang paliiiing tante cintai, tapi pada waktu itu di hari sabtu malam tante mengalami pemerkosaan hingga akhirnya tante hamil Rahman”

“Jika merasa malu tentunya tante merasa malu, tapi disisi lain ada rasa bersalah tante kepada sahabat tante, yang hingga sekarang tante sesali” jelasnya sembari mengambilkan air putih kembali

“Kenapa dengan sahabat tante?” tanyaku

“hufffffft…..” Ibu Rahman menghelas nafas panjang, sambil menekan tomob alir pada tempat minum tersebut

“Waktu itu di Losmen yang bernama melati, tante diajak oleh om kamu (Ayah Rahman) untuk menginap dikarenakan ban mobilnya bocor, ditempat itu tempat dimana tante diperkosa, sebelum pemerkosaan itu tante sempat bertemu dengan sahabat om kamu, dia adalah pacar dari sahabat tante…”ucap tante menjelaskan

“Losmen melati? Ibu?” bathinku, tapi aku tetap diam dalam pendengaranku atas cerita tante

“Dia tampak meminjam tali kepada penjaga losmen tetapi penjaga losmen tidak mempunyainya, tante kemudian meminjaminya ikat pinggang tante, karena ikat pinggang tante terbuat dari tali tambang kecil yang tante ayam sendiri….”

“Pacar dari teman tante itu kemudian seperti minum minuman keras tapi kelihatannya tidak ditelan atau bagaiman gitu, tidak jelas karena tante langsung di ajak om-kamu untuk istirahat di kamar”

“Akhirnya om-kamu perkosa tante hingga hamil, Setelah pemerkosaan kepada tante, tante merasa malu ditambah lagi tante hamil dan akhirnya mau tidak mau tante menikah dengan om-kamu dan meniggalkan pacar tante tanpa kabar…hiks hiks hiks” ucap tante sembari meletakan gelas yang berisi air di meja dapur kemudian berdiri bersedekap dan bersandar di sampingnya. Linangan air mata kembali terurai dari matanya

“Yang aneh dari pemerkosaan itu adalah ban mobil yang semula bocor, yang katanya tidak ada yang bisa mebenarkan tiba-tiba setelah pemerkosaan itu sudah bisa dipakai” ucap tante sembari memandangku dengan senyuman yang dihiasi

“Terus kenapa tante merasa bersalah kepada sahabat tante?” tanyaku pelan dengan rasa penasaran

“Ah sudahlah…” sembari tante mengusap air matanya kemudian diarahkannya pandangannya ke langit-langit dapur

“…. tali yang berikan kepada pacar tante itu digunakan oleh pacar dari sahabat tante untuk memperkosa sahabat tante yang terbaik, tante… tante… merasa bersalah hiks hiks hiks…” ucapnya, terlihat jelas uraian air mata dari mata tante, kemudian di usapnya air mata itu dan mengambil dua gelas air putih.

“Tante….” panggilku kepada Ibu rahman, tante kemudian berbalik dan tersenyum kepadaku

“Sahabat tante itu….” ucapku terputus, kulihat tante mulai berjalan dengan dua buah gelas dan buah dada yang terayun

“bernama DIYAH AYU PITALOKA…..” ucapku

Bersambung

Hallo Bosku, Disini Admin KisahMalah
Agar Admin Semakin Semangat Update Cerita Cerita Seru Seterusnya, Bantu Klik Iklan yang Ngambang ya.
Atau Gambar Dibawah INI

Atau Bagi Kamu yang suka bermain game Poker Online atau Gambling Online lainnya, bisa di coba daftarkan ya. Banyak Bonus dan Hadiahnya Loh.
Untuk yang Kesulitan Daftar bisa Hub Admin di WA untuk di bantu Daftar.
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part