web hit counter

Cinta yang Liar Part 25

0
436

Cinta yang Liar Part 25

DIAN RAHMAWATI​

Di sebuah cafe yang terletak lumayan jauh dari perumahan ELITE, perumahan dimana Wanita cantik yang bersamaku ini tinggal. Aku diajak oleh wanita ini untuk makan malam bersama, kami mengobrol banyak mengenai beberapa hal yang bisa kami bicarakan untuk mencairkan suasana. Tatapan matanya ketika berbicara kadang sangat tajam menuju kearah bola mata ini. Tatapan mata yang tajam dan penuh arti yang tak bisa aku terjemahkan dalam kalimat. Suatu pemandangan aneh memang ketika seorang wanita cantik dengan gelar pendidikan yang tinggi serta kesehariannya mengajarku sekarang mengajakku untuk makan malam. Terbesit dalam pikiranku kalau wanita di depanku saat ini adalah seorang wanita yang sedang jatuh cinta kepadaku, tapi pikiran itu selalu aku buang jauh-jauh dan hanya aku gantung sebagai sebuah angan yang tak mungkin aku raih.

Setiap kumpulan makanan yang berada di alat makanku kadang aku diamkan sejenak ketika aku angkat hanya untuk mencoba melihat wajah cantik dan manisnya itu hanya untuk meluhatnya walau sebentar saja. Senyumannya kadang membuatku semakin gugup, kadang membuatku terbang ke awang-awang, kadang pula aku sedikit tidak percaya dengan apa yang terjadi di malam ini, apakah aku sedang bermimpi? Itulah pertanyaan yang tepat di malam ini. Namun kebahagiaan itu dalam sekejap berubah menjadi sebuah tempat gelap nan kelam bagiku.

Braaaak…. tiba-tiba seorang lelaki menggebrak meja makan kami, sempat aku melihat seorang lelaki dengan postur tubuh tinggi dan berkulit putih. Memakai HEM dan di lengkapi oleh jas berwarna abu-abu serta celana berwarna hitam.

Cepraaaaaaaaaat… minumanku di siramkannya di wajahku, aku tekejut dan kelabakan. Ada beberapa molekul-molekul dalam minuman itu masuk ke dalam mataku. Pedih rasanya mata ini, tanganku yang semula memgang alat makan langsung kulepas. Kedua tanganku mengucek-ucek kedua mata ini walau terasa semakin perih.

“DASAR LAKI-LAKI TIDAK TAHU MALU, BERANINYA MENGAJAK JALAN CEWEK ORANG!” bentak laki-laki tersebut yang tak bisa aku lihat ekspresi wajahnya karena perihnya mata ini

“Lucas, Apa-apaan kamu ini? Jangan sembarangan!” bentak bu Dian

“Lucas, siapa lucas? Kenapa dia marah kepadaku? Pedih sekali mataku, Sial! Tisu, aku butuh tisu dan air” bathinku

Kulepaskan kucekan pada mata kiriku, tangan kiriku mencoba meraih tisu makan yang ada di meja. Pandanganku sedikit buram, semua nge-blur, walau buram aku masih dapat melihat Bu Dian yang nampak berdiri, kedua tangannya memegang tangan kanan Lucas. Kudengar pertengkaran antara mereka berdua, dimana bu Dian mencoba untuk menarik Lucas dan Lucas mencoba untu kmemberiku sebuah “Hadiah”. Kualihkan pandanganku ke tisu makan walau sedikit buram aku masih bisa melihatnya. Kusentuh bagian ujung tisu makan yang ada di meja itu dan BUGHH! Sebuah hantaman keras mengenai pipi kiriku dengan posisiku yang tidak siap menerima pukulan keras. Aku terjatuh kelantai disebelah kananku, tangan kananku mencoba untuk menahan laju tubuhku tetapi karena pukulan itu datang tiba-tiba aku terjatuh ditambah lagi kaki kananku sedikit terpeleset cairan mungkin itu adalah minumanku tadi. Kini aku jatuh dengan posisi tubuh miring, segera aku rubah posisiku menjad duduk dilantai. Kuraih kaosku sendiri dan kulap pada wajahku.

“ARYAAAAAAA! LUCAS HENTIKAN!” Teriak Bu Dian

Masih sedikit perih memang, kupaksa mata ini membuka dan sudah mampu untuk melihat lagi. Pandanganku sedikit kabur, kulihat Bu Dian mendorong lucas dan bergerak ke arahku tetapi dengan sigap lucas memgang tangan kiri Bu Dian dan menariknya kebelakang. Bu Dian tertarik kebelakang, secara tiba-tiba lucas meraih kaosku dan di tariknya aku. Aku yang semula berada di posisi duduk sekarang bagaikan seekor anjing ditarik, kucoba untuk berdiri walau ditarik oleh lelaki yang bernama Lucas ini.

“Lucas hentikan! Apa-apaan kamu ini!” Teriak Bu Dian di hadapan lucas, yang mencoba menghalangi jalan Lucas

“Apa-apaan? Kamu yang apa-apaan! Beraninya jalan dengan cowok lain!” bentak Lucas

“Kamu tidak berhak melarangku, karena kamu bukan siapa-siapaku!” balas Bu Dian, dan aku masih mencoba membersihkan wajahku dan menyeka mataku dengan lengan kaos di bahuku. Mataku kini sudah tidak begitu pedih, kulirik ke kanan dan kiriku tampak semua orang mengamati kami semua.

“Oh ya! Lalu selama ini aku kamu anggap apa!” bentak lucas yang masih memegang kaosku

“Kamu itu temanku,tidak lebih!” bentak Bu Dian

“Oooo jadi karena laki-laki ini sekarang kamu mau meninggalkan aku, begitu!”

“Kalau begitu laki-laki ini harus diberi pelajaran agar tahu bagaimana caranya menghormati hubungan seseorang” bentak lucas yang menarikku. Kini aku berdiri di belakang lucas yang masih memegang kaosku, kutatap mereka berdua. Aku tidak memberikan perlawanan apapun dan hatikupun sedikit setelah mendengar apa yang lucas katakan pada Bu Dian.

“Hubungan? Ahh… memang benar apa yang dikatakan Lucas, aku selalu hadir di tengah-tengah hubungan seseorang, arghhhh sial kenapa pedih lagi mataku” Bathinku

“Dia tidak ada hubungannya dengan ini semua! Lepaskan dia!” Bentak Bu Dian

“HAAAAAAAAH! Masa Bodoh, minggir!” bentak lucas sedikit mendorong tubuh bu dian, bu dian hampir saja jatuh tapi dia mampu menahan tubuhnya dengan berpegangan kepada sebuah meja.

Ditariknya tubuhku dengan kedua mataku yang sedikit pedih. Lelaki ini, Lucas, menarikku dan berteriak-teriak meminta semua orang yang berada di dalam cafe untuk menyingkir. Hingga di tempat parkir yang berada di depan cafe aku dilempar hingga jatuh tersungkur. Masih dalam posisi mengucek mataku, aku mencoba berdiri.

“HAJAR DIA! BERI DIA PELAJARAN!” Teriak lucas

Bugh… ku rasakan sebuah pukulan pada punggungku membuat aku jatuh tersungkur. Sempat kulihat dalam jatuhku orang-orang suruhan Lucas jumlahnya cukup banyak. Aku terjatuh miring, segera aku meringkuk, kedua kakiku kutarik kedalam dan kupeluk dengan kedua tangaku, wajahku kumasukan ke dalam pelukan tanganku itu. Tendangan keras dan injakan pada sekujur tubuhku dapat aku rasakan sangat kejam.

“HAJAR! JANGAN BERI AMPUN! JANGAN BERI AMPUN! DASAR PERUSAK HUBUNGAN ORANG!” Teriak lucas yang suaranya mulai aku kenali

“Lucas hentikan! Atau aku laporkan kamu ke polisi” teriak Bu Dian, ya suara itu adalah suara Bu Dian

“Mau lapor? Lapor saja, dan kamu akan mendapatkan mayat dia ha ha ha” balas lucas dengan tawanya yang keras. Tiba-tiba tangan halus kurasakan pada tubuhku, Mataku ku buka seidikit dan dapat kulihat Bu Dian yang mencoba mendorong dan menjauhkan para lelaki-lelaki itu dariku. Aku kini dapat melihat air matanya yang keluar mengalir di pipinya. Tapi itu tidak berlangsung lama, tubuh Bu Dian kemudian ditarik oleh Lucas menjauh dariku.

“Kamu tidak usah ikut campur! Ini urusan laki-laki” bentak lucas dengan kasarnya

“Kamu jangan Lucas! Lepaskan!” ucap bu Dian kepada Lucas, yang kemudian mengalihkan pandanganya ke arahku

“Hentikan hiks hiks hentikaaaaaaaaaaaan, Aryaaaaa” teriak Bu Dian yang mencoba melepaskan genggaman Lucas pada lengan tangan kanannya. Ah Sial, kenapa juga ini orang memukuliku. Aku kemudian menendang salah seorang dari mereka, mereka tampak terkejut. Aku kemudian mencoba bangkit, segera aku mendorong salah seorang dari mereka lagi. Bughhh… hantaman keras di punggungku membuat aku jatuh tersungkur kembali. Aku mencoba bangkit kembali, dari sudut pandang sempitku kulihat orang yang aku tendang sedang menenteng kursi dari dalam cafe. Aku yang mencoba mebalikan badanku, dalam posisi setengah miring menghadap ke laki-laki itu aku terkejut.

“MATI KAU!” teriak laki-laki itu sambil mengangkat sebuah kursi di atas kepalanya dan siap di hantamkan padaku yang sedang dalam posisi benar-benar tidak siap sama sekali.

“ARYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!” teriak seorang wanita, Bu Dian yang sedang meronta-ronta mencoba melepaskan tangannya dari genggaman lucas

Jika kursi itu mengenai kepalaku, mungkin ini malam terakhir down hill update, eh salah mungkin ini malam terakhirku melihat Bu Dian. Ibu, bagaimana dengan Ibu? Ibu Bisa saja dipermainkan oleh Ayah jika tidak ada aku. Kakek, Nenek, Pakdhe, Budhe, Om, Tante dan adik-adikku. Selamat tingg….

CIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIT……

BUGH… BUGH…. BUGH….

PRAAAAAAAAAAAAAK… PRAAAAAAAAAAAAAAAAAAANG!

BRAAAAAAAAAAAAAK…. GLODAAAAAAAAAAAAAAAAK

BUGH BUGH BUGH!

Dari posisiku aku dapat melihat sebuah kayu besar dan panjang jatuh di hadapanku, entah siapa yang melemparnya. Beberapa orang dari mereka nampak mundur karena adanya seseorang yang memukul mundur mereka.

“SIAPA KALIAN BERANI SEKALI MENGANGGU URUSAN ORANG!” Bentak seorang laki-laki suruhan Lucas

“BUKAN URUSAN KITA??? HA HA HA HA” ucap lelaku dihadapanku yang membelakangiku

“Perkenalken, nama saya WONGSO ALIAS WONG DOYAN MENUNGSO (Orang yang doyan manusia)“ Ucap lelaki dihadapanku, wongso. Bersyukurnya aku mereka datang tepat waktu, ternyata ini bukan hari terakhirku

“Aku ANTON ALIAS AWAN KINTON” ucap seseorang yang kemudian berdiri di samping kiri wongso dengan lagaknya yang sama sejak SMA, selalu menggoyangkan kedua bahunya, Anton.

“WOI AKU ARIS AHLI KERIS HO HO HO”

“Tangi cat, malah turu wae, makane nek meh geger ngejak-ngejak ojo dewean (Bangun cat, malah tidur saja, makanya kalau mau geger ajak-ajak jangan sendirian)” Ucap seseorang yang memapah tubuhku dengan gayanya yang sok artis, Aris

“DEWO Gede Lan Dowo (Besar dan panjang)” ucap seseorang yang tingginya melebihi tinggiku dengan gagah dia berdiri di samping kanan wongso, dia satu-satunya sahabatku yang dari SMA memiliki tinggi lebih dariku

“Aku… Sudira Suka Jadi Waria emmmuaaaaaaaaaach…” ucap seseorang yang memapahku lembut dan menggrepe-grepe tubuhku, Sudira, sahabat SMA yang doyan sekali memake-up dirinya menjadi wanita

“Woi Ingat Ndes! Ini itu sobat sendiri jangan di embat juga kali!” bentak Aris yang mencegah tangan dira

“Iiiiiih mumpung ada kesempatan hi hi h hi” ucap dira khas dengan suara wanitanya

Aku kemudian berdiri di belakang ketiga orang yang sudah sedari tadi berdiri dihadapanku. Aku tersenyum bahagia karena mereka datang tepat waktu. Kelima orang ini adalah sahabatku sejak SMA, sahabat yang membentuk Geng Koplak yang sampai sekarang tidak pernah pudar tali persahabatan kami. kulihat Bu Dian nampak menangis, air matanya mengalir di pipi indahnya, ingin sekali aku mengusapnya tapi aku harus menyelesaikan ini dulu.

“WOI KO! AWAS KALAU TELEPON POLISI! TAK POTONG-POTONG KONTOLMU!” Teriak Dira dengan nada laki-lakinya. Aku menoleh ke dalam cafe tampak seorang lelaki tua berkulit putih sedikit ketakutan dengan teriakan dira.

“Ndak papa kamu cat?” tanya Anton dan wongso bersamaan dengan masih menatap ke depan

“Biasa saja, kaya tidak pernah tahu aku saja Bro” jawabku santai

“HAH! DASAR ORANG KOPLAK! HAJAR MEREKA!” Teriak Lucas

“Yaelah, memang kita ini Geng Koplak, ya jelas Koplak, Majuuuuuuuuuuuuu!” teriak Dewo. Dengan senyum sumringah di bibirku aku kemudian ikut maju dan bertempur dengan mereka berlima. Memang kami kalah jumlah 5 : 10 dan itu selalu terjadi di setiap perkelahian kami.

Wongso ahli beladiri taekwondo, Anton Ahli Judo, Dewo ahli karate, Aris ahli Wushu dan Aku masuk dalam kategori Karate bersama Dewo. Sudira? Jangan tanya ke dia, dia adalah satu-satunya sahabatku dengan teknik beladiri tingkat atas, bahkan bisa dikatakan dialah yang terkuat diantara kami semua tapi karena sifatnya yang kewanita-wanitaan membuat dia dianggap lemah oleh musuh. Eitss.. tapi kalau sudah marah, Rumah bisa dia robohkan. Masih ada beberapa sahabatku yang tidak hadir disini mungkin mereka akan marah-marah ke aku karena tidak mengajak mereka berpesta!

Wongso tampak dengan santai menghajar 2 orang dari mereka tendangannya, 2 orang itu jatuh tersungkur. Anton membanting orang dengan teknik Judonya membuat dua orang kelabakan menghadapi Anton, Dewo memegang kepala dua orang dari mereka dan dibenturkan ke satu sama lain. Aris dengan lihai menghajar 2 orang secara bersamaan. Dira bermain-main dengan seorang dari mereka, di kuncinya tubuh orang itu dan diremas-remasnya kontol orang itu oleh Dira. Aku hanya kebagian satu orang, ku majukan tendanganku ke arah perut membuat orang itu membungkuk dengan cepat kuraih kepalanya dengan kedua tanganku. Kulayangkan dengkul manisku kewajah orang itu.

Perkelahian berlangsung cukup lama, walau sebenarnya kami menikmatinya sebagai permainan masa SMA kami. satu persatu wajah mereka babak belur dan terjatuh di lantai bagaikan kayu bakar yang baru saja diambil dari hutan. Wongso berdiri diatas 2 tubuh lelaki, Dewo berjongkok dengan kedua kakinya beralaskan dua kepala lelaki suruhan Lucas. Aris dan Anton menumpuk 4 orang dan didudukinya mereka, sedangkan Dira mengunci seorang lelaki yang sudah tidak berdaya dan meremas-remas selangkangan lelaki tersebut. Aku berdiri di atas tubuh seorang lelaki.

Aku melihat Bu Dian meronta dan melepaskan genggaman Lucas, yang terbelalak terkejut dengan aksi kami. 10 orang suruhan dia hancur di hadapan kami. Bu Dian berlari ke arahku sambil menangis dia memegang kedua pipiku.

“Kamu ndak papa kan Ar?” ucap bu Dian

“Ndak papa bu, sudah biasa” ucapku, kulihat Bu Dian akan memelukku tapi terkejut dengan teriakan Lucas

“wah kontole mas’e cilik owk bro, ora doyan aku (Wah kontol mas-nya kecil, aku tidak doyan bro)” ucap Dira yang tiba-tiba menghajar mainan itu lagi hingga tersungkur dilantai parkir

“Dian, kembali kesini atau mereka semua aku tembak!” teriak lucas yang menodongkan pistol, membuat kami sedikit terkejut. Bu Dian nampak terkejut pula menyaksikan Lucas menodongkan pistol kearah kami

Ciiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit…..

2 motor berhenti di depan cafe diluar tempat parkir. 4 orang turun dari motor itu berjalan ke arah kami, ya mereka adalah Karyo alias Kekar tidak Loyo, joko alias Ojo kondo-kondo nek aku joko (jangan bilang-bilang kalau aku perjaka), Parjo alias Paringino Kejo (Berikanlah kerja), Tugiyo alias Untu gingsul marake loyo (gigi gingsul membuat loyo, ada kaitanya sama ML). Pandangan kami semua tertuju pada mereka.

“Pelurumu itu hanya berisi 6 peluru, jika kamu bisa membunuh 6 orang diantara kami, masih tersisa 4 orang. Dan 4 orang inilah yang akan menyiksamu dengan mencabuti semua kukumu, memotong kemaluanmu, mencukil matamu, dan tak akan kami biarkan kamu mati dengan mudah. Kami akan menyekapmu hingga kamu kelaparan dan akan aku buat kamu gila dan seterusya dan seterusyaaaaaaaa capek kalau aku ngomong” ucap seseorang dengan tubuh gemuknya merupakan atlit Gulat kelas 120 Kg, Ya dia Karyo yang berdiri jauh di samping Lucas. Lucas tampak kebingungan menodongkan pistolnya, didepannya ada yang siap menghajarnya jika dia lengah, disampingnya ada 4 orang sahabat kami yang siap menghajarnya pula.

“Maafnya Bro, yang tiga lagi sibuk bantu mama-mamanya jualan” ucap seorang laki-laki paling pendek diantara kami dengan tinggi 155 cm, tugiyo, seorang atlit gulat kelas 60Kg. Kulihat Joko dan Parjo yang sama-sama ahli pencak sila dari satuperguruan ini mengacungkan jari tengahnya kearah kami, dibalasnya dengan acungan jempol dijepit oleh Dewo.

BUGH…DAGH….

“ARGGGGGGGGGHHHH…” teriak lucas tiba-tiba. Ternyata Dira mengendap-endap dari samping untuk melumpuhkan lucas yang sedang dalam kondisi kebingungan. Lucas jatuh meringkuk, pistolnya kemudian diambil oleh Dira.

“Walah ini sich mainan” ucap Dira yang menendang kepala Lucas, kami semua hanya melongo atas aksi Dira. Dira lalu berjalan berlenggak-lenggok menuju ke arah karyo, Tugiyo, Parjo dan Joko.

“halo karyo sayang-sayangku, muachhh…” ucap dira kepada 4 orang yang baru datang

“Hueeeeeeeeeeek….” jawaban mereka serentak

“Ampuni aku… tolong ampuni aku…” ucap lucas yang tiba-tiba bersujud memohon ampun kepada kami. Kami hanya melongo atas tingkah laku laki-laki ini, yang semula sangar menjadi melempem kaya krupuk nyemplung di kali.

Dengan lagak sok jagonya, kami menendangi suruhan-suruhan Lucas untuk pergi dari tempat ini. Ya, Kami akhirnya melepaskan mereka semua, terlihat mereka berlari dengan memegang perut, wajah, tangan dan bagian-bagian tubuh lainnya yang babak belur. 10 orang itu kemudian lari tunggang langgang dengan menggunakan mobil, beberapa dari mereka ada yang menggunakan motor. Tertinggal lucas dihadapan kami, aku papah dia untuk berdiri. Dengan tenang aku memberikan senyum pada Lucas, Sahabat-sahabatku berada dibelakangku dengan wajah garangnya. Bu Dian namapak dibelakangku dan memegang lengan kananku

“Perkenalkan nama saya Arya, saya tidak ada maksud apa-apa dengan Bu Dian, saya hanya mendapatkan hadiah sebagai hasil kerja keras saya selama membantu Bu Dian. Mohon maaf jika makan malam saya dengan Bu Dian mengganggu perasaan Bapak Lu Lu… Lucas ya?” ucapku dihadapanya yang tingginya hampir sama denganku tapi lebih pendek sedikit, dia hanya diam saja dan menunduk tanpa memandangku

“Cuih… aku tidak percaya, kamu perusak hubungan orang, beraninya main keroyok”ucap lucas, namun aku masih bisa mengontorl emosiku

“Woi ASU YA KOWE! SING NGROYOK KAN KOWE SEK TO SU! (Wo Anjing ya kamu! Yang Mengeroyok kan kamu dulu to Njing!)” Teriak Parjo dibelakangku, aku kemudian menoleh kebelakang dan membuat gerakan tanganku naik turun untuk menenangkannya

“Sudah Ar, Kamu jangan dengarkan dia, dia hanya temanku saja, bukan pacarku” ucap Bu Dian dibelakangku

“Saya mohon maaf pak atas perkataan sahabat-sahabat saya, hanya saja semua ini pasti bisa dibicarakan” ucapku tenang kepada Lucas

“DIAN! Kamu seharusnya membela aku bukan mereka” ucap lucas yang menatap Bu Dian di belakangku

“Kamu yang memulai dan kamu juga yang membuat keramaian disini, lebih baik kamu pergi dari sini, kamu laki-laki kasar!” bentak Bu Dian dari belakangku. Aku menoleh kebelakang dan kusilangkan jariku di bibirku agar bu Dian tidak lagi membentak-bentak

“Maaf pak, jika memang saya sudah mengganggu hubungan bapak, saya bersedia menemani bapak untuk mengantar Bu Dian sampai kerumah, bukan apa-apa pak hanya saja saya tadi yan gmenjemputnya” ucapku tenang

“Aku ndak mau, suruh Lucas pulang!” bentak bu Dian dari belakangku

“Cuiiiih… kamu pasti akan menyesal Dian, karena telah mencampakan aku!” ucap Lucas yang kemudian berjalan ke arah mobilnya dan dengan cepat dia pergi.

Kini aku dihadapan mereka semua,Sahabat sejatiku. Kulihat kembali mereka setelah kesibukan-kesibukan yang kami alami. Lama kami tidak pernah berjumpa kecuali Wongso yang satu Universitas denganku. Beberapa dari mereka ada yang kuliah diluar daerah yang tidak begitu karena mencari ingin pengalaman Baru. Sebenarnya kami bisa saja selalu berkumpul setiap saat namun karena lelahnya perjalanan yang mereka jalani, hanya istirahat yang mereka butuhkan ketika di rumah. Sebuah Geng yang terbentuk karena keegoisan masing-masing dari kami, merasa masing-masing paling hebat dengan keahlian beladirinya. Namun semua perbedaan itu sirna setelah pertempuran melawan Geng Tato, sebuah geng dari gabungan beberapa sekolah yang selalu mengintimidasi SMA kami. Kami akhirnya bersatu dan terbentuklah GENG KOPLAK, yang dengan cepat menghantam dan menguasai daerah tempat tinggalku. 13 orang pentolan Geng Koplak, masih ada 3 yang belum hadir.

“Edan kamu itu Ar, Berkelahi ndak ngajak-ngajak!” ucap keras Wongso

“Lha kalau aku tahu mau berkelahi, kalian tak calling bro” ucapkku

“Wah, pasti gara-gara mbaknya ya, tumben arya nggandeng cewek” ucap Dewo

“Iya ya, dari SMA sampai sekarang ndak pernah lho aku lihat arya bawa cewek” ucap Tugiyo

“Berarti dah normal dia bro ha ha ha ha” ucap karyo yang diikuti gelak tawa semua sahabatku ini

“Oh ya, kenalkan ini Bu Dian Do…” ucapku terpotong

“Teman dekatnya Arya, lebih dekat dari teman” ucap Bu Dian yang berada dibelakangku dan hanya memperlihatkan kepalanya seperti orang mengintip

“Eh… Arya sudah laku, uuuuuhhh… Arya jahaaaaaaaaaaaaat” ucap Dira sambil kakinya menghentak-hentakan ke bawah, kemudian bersedekap dan membuang muka

“Diem kamu Dir” ucap aris

“Dasar jeruk suka jeruk” ucap Aris, Joko, Parjo secara bersamaan diikuti gelak tawa kami semua

“Eeehhh… enak saja, aku cewek ya, nih coba diraba dah gak ada batangnya ya” ucap Dira membela, yang kemudian diraba oleh Parjo yang ada didekatnya

“Wah iya, dah ndak punya batang” teriak karyo yang membuat kami terkejut

“HAAAAAAAAAH!” keterkejutan kami serentak

“Aku dah operasi kali, aku kan sudah punya pacar, tinggal besok operasi susu aja, biar montok kaya mbaknya” ucap dira santai yang kemudian berlenggak-lenggok ke arah cafe menghampiri Orang Tua yang tadi dia bentak. Kami semua hanya melongo dengan tingkah laku Dira.

“Koko maafin dira ya tadi membentak koko, koko jangan marah, nanti dira bobo ditempat koko deh…” ucap dira sambil memeluk lelaki tua itu

“Iya Dira sayang, nanti rumah koko ya muach…” ucap koko yang mendaratkan ciuman di keningnya

Semua penghuni nampaknya tidak terkejut dengan hal itu, tapi kami sahabat-sahabatnya sangat terkejut dengan apa yang terjadi dihadapan kami. Memang dira sejak SMA suka berdandan ala cewek, kami mengira itu hanya sebuah hal biasa tapi ternyata kenyataannya dia benar-benar jadi Waria.

“EDAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAN!” teriak kami secara bersamaan, dira dengan santai hanya melempar senyum kearah kami yang Cuma bisa geleng-geleng kepala. Ada sebuah pertemuan ada sebuah perpisahan, akhirnya kami berpisah dengan sedikit bercakap-cakap menunggu bu Dian membayar makanan di cafe beserta ganti rugi yang tidak mau di terima oleh si eko (lelaki setengah baya pacar Dian). Bu Dian kembali dan berjalan dibelakangku dengan menggenggam erat tangan kiriku menuju motor kami semua parkir. Hanya dira yang ditinggal di cafe tersebut katanya mau bobo sama pacarnya itu.

“Oh ya, kalian kok bisa tahu kalau aku ada disini?” ucapku sambil mengenakan helam dan naik ke REVIA

“Dari Udin” ucap Dewo yang sudah berada di atas motornya

“Tadi dia telepon aku, katanya tadi ada pria putih yang membeli rokok dikiosnya, sedang telepon ke seseorang, pria itu beteriak, Pokoknya kalian semua ke cafe itu, biar aku nanti yan menyeret lelaki itu, kumpulkan orang-oranngmu, begitu” ucap wongso yang membonceng Dewo

“kok udin bisa tahu kalau itu aku?” tanyaku

“Ya jelas saja udin tahu, kata udin pria itu menyebut motor Revo plus plat nomernya, kamu tahu sendiri siapa yang sering make motor kamu dan sering kena tilang? Kan udin, jelas dia hafal motor kamu” ucap wongso, aku hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala melihat bagaimana sahabat-sahabatku mengenalku dengan teliti.

CIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIT….

4 motor yang secara bersamaan berhenti, semuanya 8 perempuan. Dan turun dengan wajah garangnya.

“MAAAAAAAAAAAAAAAASSSSS!” teriak mereka secara bersamaan sambil menuju ke arah masing-masing sahabatku

“Pasti habis berkelahi lagi iya?! Berkelahi terus saja sana! Iiiih iiiiiiiiiiiih iiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiih” ucap seorang wanita yang aku tahu namanya asmi, pacar wongso. Kulihat semua perempuan-perempuan itu mencubiti pacar-pacar mereka, aku tertawa geli melihat mereka semua. Preman takut istri, ya begitulah mereka walau garang tapi kalau sudah dihadapan pacarnya selalu mencoba untuk hormat ke pacar-pacarnya. Ku sapa mereka satu persatu dan sedikitnya mereka juga menghujamiku dengan cubitan, gelan canda dan tawa kami tak terelakan.

Akhirnya pertemuan yang tidak sengaja itu kami akhiri, masing-masing dari kami pulang dengan pasangan masing-masing. Aku pulang bersama Bu Dian yang dari tadi hanya tersenyum dan geli melihat tingkah kami semua. Ku antar Bu Dian kembali kerumahnya, selama perjalanan setelah berpisah dengan semua sahabt-sahabatku.

“Aduuuuuuuuuuuuuuuh… sakit Bu” teriakku yang dicubit keras oleh Bu Dian

“Besok jangan berkelahi lagi” ucap Bu Dian lembut

“Eh…” kagetku, kenapa Bu Dian malah mencubitku ya? Adakah sesuatu didalam pikirannya dan hatinya. Tiba-tiba tangan hangat melingkar di perutku, kepalanya berada di bahu kananku

“pelan-pelan saja bawa motornya, 20 KM saja kalau bisa” ucap bu dian lembut

“Kalau begitu sampai rumah Bu Dian besok pagi bu” ucapku

“Ndak papa…” ucap Bu Dian yang selalu memberikan pelukan erat kepadaku setiap kali selesai berbicara. Laju Revia pun melambat seiring dengan pelukan erat Bu Dian.

“Bu, Lucas itu siapa?” tanyaku

“Dian atau mbak saja tidak usah pakai Bu kalau diluar…” ucapnya

“maaf belum terbiasa” ucapku

“Mbak, Lucas itu siapa?”

“Dia temanku kuliah di Jerman tapi berbeda jurusan, Dia mengejarku tapi aku tidak mau” jawabnya singkat

“Eh… Berarti Ibu eh mbak Dian benar-benar tidak punya pacar?” ucapku

“Tidak akan pernah punya, sebelum…” ucapnya tercekat

“Sebelum apa Bu?” tanyaku

“Lupakan saja, nanti kamu pasti akan mengetahui kalima selanjutnya” ucapnya. Kurasakan bibir indahnya menciumi bahuku

Dalam perjalanan pulang itu, percakapan kami kembali kepada sahabat-sahabtku yang selalu kompak. Bu Dian merasa iri karena aku memiliki mereka semua. Kadang kami juga membicarakan kekonyolan-kekonyolan Dira yang memang terlihat benar-benar akan mengubah dirinya menjadi seorang wanita. Gelak tawa, canda dan gurau menemani laju Revia menuju Rumah Bu Dian. Hingga sampailah aku dirumah Bu Dian, di depan pintu gerbang rumahnya. Bu dian kemudian turun dan berdiri di depan gerbang rumahnya dengan menenteng helm di tangan kanannya. Dengan sedikit salam akhirnya aku pamit, sewaktu memutar motorku didepan pintu rumahnya.

“Arya, bisa bantu aku, kuncinya susah dibuka” ucap Bu Dian yang kemudian menoleh kearahku dengan helm yang diletakan di kananya. Aku lepas helmku dan turun dari Revia menuju motorku, segera aku membantu Bu Dian membuka pintu gerbangnya. Klek… Ngiiiiiiiiiiiik akhirnya terbuka.

“Bu Sudah Bis…. hegghhhh…” ucapku terpotong. Sebuah pelukan dari Bu Dian yang sangat lembut dan hangat. Kedua tangannya merengkuh tubuhku dari sela-sela tubuh dan tanganku. Pelukan erat dan hangat.

“Terima kasih untuk malam ini…” ucapnya sembi mendaratkan ciuman di pipi kananku. Aku hanya bisa melongo, menatapnya kemudian mengalihkan pandanganku ke depan. Pelukan hangat dan erat itu kemudian terlepas, dan tubuhku masih kaku. Lama aku berdiri hingga suara lembutnya menyadarkan aku.

“Kamu mau berdiri di situ terus? ndak pulang?” ucapnya

“oh i… i… iya bu…eh em embak.. pu… pu… pulang… pulang mbak, saya pu pu pulang du dulu mbak” ucapku bingung sambil kepalaku mengangguk-angguk dan melangkah pulang

“Aryaaaaaaaaaa….” panggil Bu Dian

“Motornya mau ditinggal di sini? Aku Jual Lho” ucap Bu Dian, tanpa sadar aku berjalan pulang tanpa megendarai motorku

“eh i.. i… ya bu eh mbak, motor iya motor he he he” ucapku kemudian berjalan ke arah motor dan menaikinya dan kutuntun dengan kedua kakiku, Helm pun masih menggantung di spion kanan

“Mau didorong terus? Apa ndak capek Ar?” ucap Bu Dian santa dengan senyuman khas

“oh iya dinyalakan mbak he he he”

“Kunci.. kunci dimana kunci” ucapku gelagapan mencari kunci

“itu masih menggantung hi hi hi…” ucap Bu Dian

“Oh iya, menggantung” ucapku segera aku nyalakan motorku

“Helmnya ndak dipakai arya?” ucap Bu Dian, benar-benar gila aku, cara naik motor saja bisa sampai lupa. Bu Dian melangkah ke arahku

“Oh iya helm iya heleeeeeeemmmmm” ucapku terngangah. Helmku diambil oleh Bu Dian dan Dipakaikan di kepalaku. Sebelum Helm itu dipakaian sebuah kecupan di pipi kiriku kudapatkan dari bibir bu Dian.

“Dah, pulangnya hati-hati ya ehmmmmm” ucapnya sambil tersenyum

Aku pulang dengan hati layaknya taman bunga, sebelum aku membelok aku selalu memperhatikan spion kiriku. Kulihat bu dian masih berdiri di depan gerbangnya memperhatikan lajuku. Hingga akhirnya aku keluar dari perumahan ELITE. Indah benar-benar indah malam ini, inikah yang dirasakan kawula muda? Rasanya ingin momen yang baru saja terjadi terulang kembali. Aku mengingat momen indah bersama Bu Dian, teringat pula momen indah bersama Ibu. Kedua wanita itu memberikan momen yang benar-benar indah kepadaku. Dua wanita yang umurnya berbeda jauh namun bisa memberikan kebahagiaan kepadaku seorang lelaki yang masih muda yang tidak pernah laku sejak SMA, SMP?SD? sama saja belum laku. Perjalanan pulang aku nikmati, ku arahkan motorku mengelilingi Rektorat Universitasku agar aku bisa lebih lama lagi menikmati kebahagiaan ini.

“Lho itu kan motor Rahman?” bathinku dalam hati.

Aku melihat sebuah motor yang sudah tidak asing lagi di dekat sebuah taman di rektorat universitasku. Aku kemudian berhenti tepat disampingnya, layaknya maling aku celingukan kesana kesini mencari Rahman. Perhatianku kemudian tertuju kesuatu tempat yang rimbun oleh pagar tanamannya. Suara desah tertahann seorang wanita aku dengar dari tempat itu. Dengan mengendap-endap aku mengintip. Aku terkejut melihat peristiwa itu, Rahman sedang mendoggie style seorang perempuan entah siapa dia tidak jelas. Dikarenakan pandanganku terhalang oleh daun-daun dari tempatku mengintip. Kulihat Rahman sedang mendoggie dengan memegang Sematpon di tangan kirinya dan tangan kanannya memegang pinggul perempuan tersebut. Pemandangan tersebut membuat aku horny, tapi dapat kutahan. Kutinggalkan dia bersama wanita tersebut dan merokok di atas REVIA. Sedang asyik-asyiknya merokok kulihat satpam kampus sedang patroli. Segera aku menelepon rahman karena aku yakin dia pasti akan mengangkatnya.

“Halo Ar, adahh apahhh?”

“Kamu merunduk dulu Kang, ada satpam patroli”

“He? Kamu tahu aku sedang”

“Iya cepetan daripada ketahuan” tuuuuuuut…

Satpam itu menghampiriku dan kemudian menerangi tempat-tempat gelap itu dengan menggunakan senternya. Aku sedikit mengobrol dengan mereka, hingga akhirnya mereka pergi semua. Sms masuk kulihat Ibu menyuruhku untuk segera pulang, segera kutelepon rahman kembali bahwa suasana sudah aman dan aku akan pulang terlebih dahulu. Kami berpisah walau tidak bertatap muka.

Aku pulang dengan segera dengan kecepatan maksimum aku pacu laju Revia. Sampailah aku di ruhku dan dibukakan pintu oleh Ibu. Kupeluk Ibu dengan sangat erat, ibu hanya tersenyum melihat tingkahku ini. Mungkin Ibu tahu apa yang aku alami malam ini, sebuah kebahagiaan. Ibu kemudian menyuruhku segera beristirahat karena besok adalah hari pertama aku kulaih di semester 6. Sebelum aku tidur aku membuat sebuah status di BBM-ku.

“I Think I Fell in Love”

Kubuka pada update status kontak BBM-ku, Bu Dian pun ternyata membuat sebuah status.

“Me Too”

Me too? Apakah dia membalas statusku? Ah Ke-GeEr-ran aku. Kubuat sebuah status kembali.

“This is may be just my hallucinations”

Status bu Dian Berubah

“It’s real and fact, face it”

Aku tertegun dengan status bu Dian yang berubah setiap kali aku mengubah statusku

“Thank you for your k**s”

Status Bu Dian berubah

“you are welcome, i hope you are serious person, thank you for this beautiful night :*”

“Bu Diaaaaaaaaaaaaan… I Love You” teriak hatiku, ku ubah statusku

“You are welcome :*”

Tak ada perubahan status Bu Dian, ku tarik selimut malamku, kurebahkan kepalaku di bantal empuk ini. Ah, kenapa juga aku harus ke-GeEr-ran dengan status bu Dian, mungkin saja itu untuk seseorang yang lain lagi. Aku harus bisa jaga perasaanku. Centung…

From : Diyah Ayu Pitaloka
Ibu tahu lho status kamu, cemburu ah hi hi hi

“eh? Kapan ibu punya PIN BB-ku? Kapan pula Ibu beli sematpon?” bathinku

To : Diyah Ayu Pitaloka
Kok, Ibu punya BBM?
From : Diyah Ayu Pitaloka
Rahasia, Dah bobo! :*

Aku turuti kemauan Ibu dan mulai tertidur dalam lelapnya malam. Kunyalakan radio kuno pemberian Ibu ketika aku masih SMP. Sebuah stasiun radio memutar sebuah lagu, dengan iringan sebuah lagu itu mengantarkanku dalam tidur lelapku..

At the mirror you fix your hair
And put your makeup on
You’re insecure about what clothes to wear
I can’t see nothing wrong
To me, you look so beautiful
When you can’t make up your mind
It’s half past eight, it’s getting late
It’s okay, take your timeStanding here, my hands in my pockets
Like I have a thousand times
Thinking back, it took one breath
One word to change my life
The first time I saw you, it felt like coming home
If I never told you, I just want you to know
You had me from hello

When we walk into a crowded room
It’s like we’re all alone
Everybody tries to kidnap your attention
You just smile and steal the show
You come to me and take my hand
We start dancin’ slow
You put your lips up to my ear
And whisper way down low
From the first time I saw you, it felt like coming home
If I never told you, I just want you to know

You had me from hello
And when you’re laying down beside me
I feel your heartbeat to remind me
The first time I saw you, it felt like coming home
If I never told you, I just want you to know
You had me from hello
From hello​

Ya, kamu memilikiku sejak pertama kali kita berjumpa, Dian rahmawati…

Bersambung
Hallo Bosku, Disini Admin KisahMalah
Agar Admin Semakin Semangat Update Cerita Cerita Seru Seterusnya, Bantu Klik Iklan yang Ngambang ya.
Atau Gambar Dibawah INI

Atau Bagi Kamu yang suka bermain game Poker Online atau Gambling Online lainnya, bisa di coba daftarkan ya. Banyak Bonus dan Hadiahnya Loh.
Untuk yang Kesulitan Daftar bisa Hub Admin di WA untuk di bantu Daftar.
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part