web hit counter

Cinta yang Liar Part 26

0
420

Cinta yang Liar Part 26

Di sebuah rumah perumahan ELITE, dimana seorang wanita sedang rebah dengan wajah sumringahnya. Setelah hari ini, tepatnya malam ini dia telah melewati malam yang baginya adalah malam indah, malam yang sangat indah. Bertemu dengan sorang lelaki yang menurut dia adalah lelaki yang lucu dan gentle. Sambil tersenyum sumringah dia menatap langit-langit kamarnya.

“Hmmmm… anaknya ternyata lucu juga hi hi hi hi” bathin wanita tersebut, dengan wajah yang sumringah

————————————————————————————————————————

Sematponku berbunyi dengan sangat keras di awal semester enam ini, membuat kuping ini serasa berdengung. Aku terperanjat kaget, segera aku raih sematpon KW super-ku ini. terlihat pukul 05.00. Dengan secepat kilat bagai petir yang menyambar aku mandi dan mempersiapkan semua keperluanku Kuliah hari ini. ini adalah hari pertamaku kuliah di semester 6, semester tua menurut beberapa temanku karena ini adalah semester terakhir bagiku. Di semester 7 nanti akan lebih banyak kegiatan kuliah di luar kampus, KKN dan PKL, selebihnya tidak ada kuliah di kampus. Di semester 6 ini aku menganmbil jadwal pagi di hari senin yaitu pukul 07.30 selebihnya pukul 08.30 jadi aku harus berangkat dari rumah jam 06.00.

Dibawah Romo tampak masih santai dengan kaos oblong dan sarungnya sedangkan Ibu juga masih terlihat menyiapkan sarapan pagi. Senyum sapa kepada Ibu yang tulus dan senyum sapa palsu terhadap Ayahku. Tidak bisa aku memungkiri jika dalam hati ini masih terbesit sebuah kekesalan terhadap Ayahku. Segera aku menyantap sarapan pagiku, sambil sarapan kulirik jam dinding menunjukan pukul 05.50. Kupercepat sarapan pagi ini dan segera aku bangkit pamit dengan kedua orang tuaku lalu melaju menyusuri jalanan daerahku menuju kampus tercinta.

“Hati-hati tidak usah ngebut-ngebut nanti Nak” ucap Ibuku yang mengantarku sampai depan garasi

“Iya Ibuku tercintaaaaa” ucapku dengan senyuman, ditariknya aku kedalam garasi dan kami berciuman lembut di dalam sana. Setelah adgena yang lumayan panas di dalam garasi walau hanya ciuman dibibir, segera aku keluar dari garasi dan memacu REVIA.

Kecepatan penuh aku tarik dengan tangan kananku, hembusan angin dingin menerpa tubuh ini. terasa dingin walau sudah mengenakan jaket sport yang tebal. Kecepata maksimum hingga sebuah motor roda tiga bisa menyalipku dengan santainya. Maklum kecepatan maksimum REVIA sudah menurun dan tidak bisa semaksimal ketika REVIA masih muda. Dan ciiiiiiiiiiiiiit… sampailah aku didepan kampus tercintaku. Aku melangkah menuju ke kampus idaman semua lulusan SMA di daerahku, dengan langkah cepat.

Bughh….

“Adiauuuuhhhhhhhhh….” sebuah pukulan ringan mendarat dikepalaku tanpa aku sadari

“Mangkanya, kalau jalan ndak usah cepet-cepet Ar” ucap Rahman dari belakangku

“Wooooo… dasar kamu kang” balasku, kami kemudian melangkah bersama ke ruang kelas

“Ssssttt… kemarin ente beneran lihat ane?” bisik rahman

“Lihat” jawabku dengan senyum cengengesan

“berarti ente tahu siapa cewek yang sedang ane kikuk-kikuk?” bisik rahman dengan wajah tegang

“ndak kelihatan kang, emang siapa kang?” jawabku

“Fyuuuuuuuuuhhhh untunglah kalau begitu, ya udah masuk kelas saja, dah hampir setengah delapan” ucap rahman sembari menepuk bahuku. Aku berdiri dan tidak bergerak melihat gelagat aneh Rahman, biasanya dia akan cerita mengenai siapa wanita tersebut kepadaku dan kali ini berbeda. Segera aku melangkah masuk ke kelas yang berada di lantai dua ini. ketika satu kakiku masuk kekelas aku menengok kearah kananku, ke arah kelas sebelah yang ditempati oleh adik tingkatku.

Seorang wanita dengan mengenakan pakaian putih yang ditutup oleh blazer hitam serta celana panjang kain bukan jeans yang tidak begitu ketat memandangku. Bu Dian, dia tersenyum manis kepadaku, rasanya hati ini jatuh kelantai meleleh dan menguap menjadi gas yang berhembus masuk kedalam hatinya. Aku hanya mampu tersenyum dan menganggukan kepalaku. Bu Dian kemudian masuk ke dalam kelas dan begitu pula denganku. Selang beberapa menit dosen masuk ke dalam kelas, Dia adalah Bu Ernaningsih, seorang dosen muda yang sudah menikah wajahnya sama seperti semua dosen wanita di kampusku, JUDES!

“Okay, Good Morning ladies ang gentlemen” ucap Bu Erna

“Morning Miss….” ucap serentak semua mahasiswa

“Before we start iur study today, let’s pray toogether” ucap bu erna, yang kemudian semua mahasiswa berdoa menurut agama dan kepercayaannya masing-masing

Bu Erna kemudian memberikan kontrak kuliah yang begitu kejam kepada kami, padahal dulu sewaktu kami masih semester 2. Kontrak kuliah Bu Erna masih fleksibel tapi sekarang semua mahasiswa tidak boleh ada yang terlambat masuk kuliah, pengumpulan tugas, dan tidak boleh bolos sekalipun walau sebenarnya ada peraturan 75% kehadiran. Benar-benar sadis, bagaimana coba kalau pada hari minggu malam aku ber-kikuk-kikuk sama Ibu, kan capek paginya. Kuliah dimulai dengan benatakan keras kepada kami semua, membuat semua menjadi tegang atas bawah khusus bagi laki-laki, kalau perempuan tegang atas saja (kepala maksundnya). Bagaimana tidak tegang bawah, lha wong pakaiannya saja kaya Teller Bank, rok diatas lutut, dan pakaian bagian atas sangat ketat.

Dua setengah jam kami lewati dengan sangaaaaaat lama, apalagi setiap pembelajaran yang di berikan Bu Erna selalu saja membingungkan. Kuliah telah selesai beberapa mahasiswa berhamburan menuju gedung jurusan kami untuk melihat dosen pembimbing Tugas Akhir (skripsi) kami.

“Ayo, Ar kita lihat dosbing kita” ajak rahman

“Oke kang” jawabku yang kemudian melangkah bersamanya

Di dalam gedung jurusan, terdapat tempelan –tempelan kertas yang terbagi-bagi. Semua mahasiswa hanya mendapatkan satu Dosbing tidak seperti tahun-tahun sebelumnya dimana satu mahasiswa memiliki dua dosen pembimbing. Kuamati baris satu persatu mencari nama seorang lelaki keren, Arya Mahesa Wicaksono. Kutemukan namaku dan kutarik kesamping, Dian Rahmawati. Raut mukaku tetap sama saja tapi di dalam hatiku, aku sedang bersalto melompat kegirangan.

“Bu Diaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan yes yes yes yes yes” teriak bathinku. Segera aku membaca note di bawah tempelan kertas itu “Segera temui dosen pembimbing untuk awal pembimbingan”.

“Enak ente Ar, dapat Bu Dian, masih muda cantik lagi” ucap Rahman

“Ya Nasib kang, kan tahu sendiri judes, mending kamu dapat Bu Endang, orangnya enak di ajak ngobrol” jawabku

“Iya sich, montok lagi, moga aja bisa menyentuh kemontokannya he he he” ucap Rahman

“Gundulmu isinya Cuma mesum doang Ha ha ha ha ha” candaku

Akhirnya mahasiswa angkatanku berada di depan gedung jurusan untuk menunggu Dosen Pembimbingnya. Jika diamati mereka semua seperti gelandangan begitupula aku, Ada yang merokok, tiduran dilantai, ada yang pacaran, ada juga yang nonton pilem porno alias bokep. Lama menunggu satu persatu temanku masuk kedalam jurusan karena dosbingnya sudah pada datang semua. Sedangkan aku masih menunggu di depan gedung menanti kedatangan Bu Dian yang cantik imut dan muach-muach. Satu persatu mereka mulai meninggalkan aku sendiri di depan gedung jurusan begitu pula Rahman yang sudah tidak tahan terhadap laparnya.

“Hei, Ayo masuk” ucap seorang wanita yang menepuk bahuku

“Oh… Mbak eh Ibu, i… iya bu” ucapku

“sudah, tidak usah gugup seperti itu, biasa saja ya ehemmm…” ucapnya sambil tersenyum. Aku kemudian mengikutinya dari belakang dan masuk ke dalam ruang Dosen. Di sini setiap Dosen memiliki ruagan tersendiri, dimana 1 ruangan untuk 2 dosen saja.

“Duduk Ar…” ucap bu Dian lembut

“I.. iya Bu…” ucapku sedikit gugup

“iniiii, kemarin kan kita sudah buat KTI bersama jadi saya usul ke ketua jurusan agar kamu masuk dalam bimbingan saya”

“kamu tinggal melanjutkan KTI ini dengan menambah atau mengubah variabel bebasnya ya” ucap Bu Dian

“I… Iya bu…” ucapku

“Jangan gugup gitu dong, kaya lihat setan saja” ucap bu dian

“ee…. e… bukan begitu bu, grogi” ucapku

Kleeeek…. suara pintu terbuka

“kalau orang grogi biasanya orang itu suka sama yang di grogi’in lho Ar” Ucap Bu Erna yang masuk ke dalam ruangan. Ya Bu Erna memang satu ruangan dengan Bu Dian

“E… E… bukan aduh… itu bu… anu… ehhh… aaaahhhh” ucapku gugup

“yan, tuh Arya naksir sama kamu” ucap bu Erna yang kemudian duduk di kursinya

“Apaan sich mbak, kasihan Arya ni lho mbak” ucap Bu Dian

“Ya ndak papa to Yan, sama Arya saja daripada kamu menunggu yang tidak pasti” ucap Bu Erna

“Eh…” aku terkejut dengan ucapan Bu Erna, menunggu yang tidak pasti, apakah Bu Dian memiliki seseorang yang ditunggunya untuk menyatakan cinta dan perkataan itu seakan-akan ditujukan kepada laki-laki lain selain diriku. Perkataan Bu Erna membuatku tertunduk lesu dihadapan Bu Dian.

“Apakah status BBM-nya bukan untukku tapi untuk orang lain” bathinku

“Sudah jangan didengarkan omongan Bu Erna Ar, ya?” ucap Bu Dian. Kuangkat kepalaku dan memandang senyumannya.

“Eh… Iya Bu” ucapku. Kuhela nafas panjang, ku kondisikan diriku agar tidak gugup lagi.

“Aduuuuh, Arya kasihan, kalau Bu Dian ndak mau sama Bu Erna saja, Bu Erna mau kok hi hi hi” ucap Bu Erna yang seakan-akan meyakinkan aku mengenai lelaki misterius itu

“Waduh bu, bisa dibunuh sama suami Ibu nanti he he he” ucapku kepada Bu Erna

“Ya Diem-diem dong hi hi hi” ucap bu erna melanjutkan

“Mbak! Sudah deh ah!” ucap Bu Dian agak sedikit keras, Bu Erna hanya terkekeh-kekeh melihat reaksi Bu Dian

“Eeee… Bu Dian, terima kasih, nanti proposal akan segera saya buat, dan saya usahakan minggu depan akan segera saya berikan ke Bu Dian, mohon bimbingannya ya Bu” ucapku lancar dengan tersenyum

“I… Iya, saya tunggu”ucap Bu Dian dengan wajah agak sedikit gugup

“Kalau begitu saya pamit dulu Bu Dian, Bu erna, Mari” ucapku kepada mereka berdua dan dijawab oleh mereka berdua

Kulangkahkan kakiku menuju ke warung biasa aku dan rahman nongkrong. Kulihat dia sedang memainkan sematponnya. Aku menghampirinya setelah memesan makan siang kepada penjaga warung tersebut. Dengan lagak Rahman yang sok cuek aku duduk disebelahnya, ku amati layar sematponnya, Pilem Bokep sedang diputar.

“Udah ente makan dulu, nanti ane kasih Ar” ucap Rahman

“Dasar otak Mesum!” ucapku yang dibalas dengan gelak tawa rahman

Segera kulahap makan siangku, sesekali aku amati wajah rahman seakan-akan menyimpan sebuah rahasia kepadaku. Ya, aku tahu karena setiap kali dia menatap layar sematponnya itu raut wajahnya tidak sama dengan sebelum-sebelumnya. Apa mungkin tentang Ajeng? Atau Ayahnya? Atau mungkin dia tahu hubunganku dengan Ibunya? Mati aku.

“Kamu kenapa to kang?” ucapku setelah makanan di piring telah habis aku lahap

“Masalah cewek Ar biasa?” jawabnya

“Ajeng?” balasku

“Bukan” jawabnya

“Lalu?” ucapku

“Nanti kamu akan aku kasih tahu tapi bukan sekarang, pokoknya bisa bikin aku gila Ar” ucap Rahman

“Kalau Ajeng?” ucapku

“Haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah….” dia menghela nafas panjang, menatap langit warung makan, kemudian memandangku dengan tatapan serius

“Ar, boleh aku jujur sama ente?” ucapnya, dan aku hanya mengangguk

“Ane tidak pernah mencintai ajeng, ane memacarinya karena ane ingin mendekati teman kosnya, hanya itu saja, dan sekarang dia mau menikah, bebaslah ane he he he” ucapnya membuat aku emosi

“Terserah ente mau bilang apa atau mau menghardiku bahkan menghajarku, jujur Ar, ane tidak punya perasaan apapun, semua yang ane katakan ke ente adalah bohong, Dia sebenarnya sukanya sama ente, karena sebelum jadian sama ane dia curhatnya tentang kamu terus, ya ane manfaatin buat ngedeketin teman kosnya, lagian dia ceweknya kurang asyik ndak mau tak sentuh, kasihan dong dedek-ku” jelasnya yang membuat darahku mendidih, mendengar penjelasannya seakan-akan aku melhat Om Nico dalam dirinya. Sesorang yang hanya ingin kesenangan saja.

“Tega kamu…” ucapku pelan

“Ane tidak ingin melanjutkannya lagi Ar, terserah pandangan ente terhadap ane apa, dan ane minta maaf karena ane memanfaatkan cewek yang seharusnya menjadi pacar kamu” ucapnya sambil menyulut Dunhill. Aku hanya tertunduk, kuraih bungkus rokok dunhill milik Rahman dan kusulut sebatang. Perasaanku semakin galau dengan semua yang terjadi, ingin aku menghajar orang didepanku ini tapi dia sahabatku. Di sisi lain aku juga telah menikmati tubuh Ibunya walau bukan aku yang menginginkannya tapi tetap saja aku menusuknya dari belakang. Kupandang wajahnya seakan-akan sudah tidak peduli lagi dengan ajeng, mungkin telah terjadi peterngakaran diantara mereka.

“Aku pulang…” ucapku pelan kepada Rahman, segera aku membayar makananku dan melangkah melewatinya yang sedang duduk

“Maafkan ane Ar, bukan maksudku mempermainkannya, tapi….” ucapnya ketika aku melangkah didepannya dan berhenti sejenak, kembali mengambil rokoknya dan kusulut sebatang lagi

“dia sendiri yang memintanya agar dia bisa dekat denganmu, tak ada perasaan antara ane dan dia, sama sekali tidak ada, semua yang aku katakan kepadamu adalah bohong mengenai persetubuhan-persetubuhan dengannya”

“Ane sempat jatuh cinta kepada Ajeng, tapi sisi kerasnya yang selalu menginginkanmu yang membuat ane menyerah Ar, hingga aku akhirnya memutuskan untuk bermain-main dengannya, terkadang aku juga bermain cinta dihadapannya dengan teman kosnya, karena aku sangat cemburu kepadamu Ar dan kecewa dengan ajeng” jelas Rahman membuat mataku terbelalak dan memandangnya, sedikit ada rasa sesal dalam hatiku

“Sejak Ajeng memutuskan untuk menikah dan meninggalkan ane dengan alasan ane tidak serius, ane menyetujuinya karena pada saat itu adalah saat ane sudah merasa muak dengannya. Tentang semuanya, tentang dia dan juga cinta dia kepada ente. Ane benar-benar muak. Jika ente ingin dia kembali disini, hanya ente yang bisa menghentikan pernikahan itu dan ane tidak akan mengganggu kalian berdua” jelas Rahman, dalam berdiriku aku menatap Rahman

“Aku sudah bertemu dengannya…” ucapku, rahman hanya tertunduk dan tersenyum melihat layar sematponnya

“Aku tidak bisa…” ucapku pelan

“Kenapa?” ucap Rahman

“Karena cinta tidak bisa dipaksakan, dan pernikahan adalah hal yang sakral” ucapku pelan

“Sudah ane duga ente akan menolaknya, karena ane ente Bro… ente bukan orang yang mudah jatuh cinta dan mudah menerima, you are too hard to understand” ucap rahman

“Sekalipun pernikahan itu tidak dilangsungkan apakah ente tetap pada pendirianmu?” lanjut Rahman

“Aku tidak ingin membohongi perasaanya, percuma aku dengan dia jika hanya tubuh ini yang mau menerimanya tapi hati menolaknya” ucapku. Hening sesaat antara aku dan Rahman

“Apakah ente mau memaafkan ane? Semua ini tak akan terjadi jika saja ane tidak memanfaatkannya” ucap Rahman

“Kamu tidak memanfaatkannya, nyatanya kamu jatuh cinta padanya walau pada akhirnya dia tidak mencintaimu, semua ini terjadi juga karena kesalahanku juga, aku juga tidak jujur pada diriku sendiri ketika kamu mengatakan kepadaku akan mengejarnya, di saat itu aku sebenarnya menyukainya tapi sekarang sudah ada yang mengisi hatiku” jelasku

“Haaaaaaaaaaah… hmmmm…” dilemparnya pandangannya keluar warung, melihat motor-motor yang berlalu-lalang

“terima kasih… ane bersyukur memiliki sahabat seperti ente Ar” ucap Rahman

“Sama-sama aku juga bersyukur” balasku

Tossss…. suara tos dari kedua tangan kami. ya mungkin adalah sebuah kesalahan ketika aku mundur dan Rahman maju untuk mendapatkan Ajeng. Itu semua terjadi karena ketidak terbukaanya aku terhadap Rahman juga sebaliknya. Memang dalam persahabatan selalu ada masalah, tapi semua bisa diatasi jika saja selalu ada keterbukaan antar keduanya. Mungkin ini adalah pembelajaran bagiku dan Rahman. Akhirnya kami berppisah dan aku menuju jalan pulang ke rumahku. Sebelum berpisah rahman mengatakan kepadaku bahwa dia memiliki sebuah masalah yang besar, namun dia enggan untuk menceritakannya kepadaku untuk sementara ini. Akhirnya aku sampai di rumah dengan perasaan yang sangat lelah. Ibu menyambutku ramah, dan senyuman inilah yang sampai sekarang memiliki bius di hatiku.

“Capek sayang?” ucap Ibu, aku hanya mengangguk

“Istirahat dulu saja ya, dan kamu harus cerita kepada Ibu, tuh dikepala kamu banyak tulisan-tulisan yang belum diterjemahkan hi hi hi” ucap Ibu

“Ah Ibu bisa saja, Arya Istirahat dulu ya Bu” ucapku kemudian melangkah naik ke kamarku

Ingin sekali aku bercerita kepada Ibu, karena hanya dia yang dapat menjadi tempat curhatku selama ini. Namun dengan keberadaan Ayah yang ada dirumah membuatku tak bisa berlama-lama dengan Ibu. Dengan segala kegelisahan dalam pikiranku, Aku merebahkan tubuhkudi kasur empukku, kubuka sematponku ada notifikasi BBM yang belum aku buka. Bu Dian. Dan kubalas secukupnya saja.

From : Bu Dian
Kamu jangan dengarkan Omongan Bu Erna ya :)
To : Bu Dian
Iya :)

Tak ada balasan dari sms bu Dian hanya saja ada status Bu Dian berubah.

“I hope you sure of what you feel”

Dan ku balas

“I Believe in you”

Bu Dian, sebenarnya bagaimana perasaanmu kepadaku? Apa arti kecupan tempo hari itu? Kau buart aku terbang tinggi sekarang? Akankah kau terbang bersamaku atau malah menjatuhkan aku? Beberapa pertanyaan bergelayut di dalam pikiranku hingga mata ini terpejam dengan sendirinya. Aku kemudian terbangun karena sura teriakan Ayah yang memaki-maki orang yang berada di dalam sematponnya. Aku langsung bangkit dan membuka sedikit pintu kamarku , mencoba mendengarkan percakapan Ayah.

“Tidak, bisa! Kita harus segera menemukan orang itu! Dia sudah mengambil banyak!” Bentak Ayah kepada seseorang yang berada di telepon cerdasnya sambil berjalan ke arah pekarangan rumah. Dalam hatiku aku berharap tidak ada keterangan mengenai si pengambil uang tabungannya. Kualihkan pandanganku ke bawah, kulihat Ibu yang berada di depan TV kemudian menatap kearah pintu kamarku, dia tersenyum dan kemudian bangkit menuju ke kamarku, masuk dan menutup pintu.

“Sssst… biarkan dia teriak-teriak paling sebentar lagi dia tidur” ucap Ibuku dalam posisi kedua tangannya berada di bahuku

“Beneran Bu..” ucapku yang kemudian dibalasnya dengan anggukan manja. Ku majukan bibirku tapi Ibu menghindarinya

“Cerita dulu…” ucap Ibuku, kemudian aku dan Ibu duduk di pinggiran ranjang, dan Ibu duduk didepanku smabil kupeluk. Ini adalah momen terindah yang aku inginkan, bisa memeluknya dan menceritakan keluh kesahku. Kuceritakan semua yang terjadi di hari ini dari bimbingan dengan Bu Dian, perkataan Bu Erna dan percakapan dengan Rahman. Dengan manjanya Ibu menyandarkan tubuhnya di tubuhku sambil mendengarkan ceritaku

“Sudah tenang saja sayangku, everything’s gonna be okay” ucap Ibuku dengan senyumannya. Senyumannya membuat aku menjadi lebih tenang.

“Nimas!” teriak Ayah dari lantai bawah

“Iya, sebentar…” teriak Ibu dari dalam kamarku, Ibu kemudian keluar menemui Ayah. Sebelum Ibu keluar dengan bahasa tubuhnya dia melarangku untuk keluar dari kamar. Aku tidak tahu menahu apa yang dilakukan Ibu dibawah sana, sedikit aku intip dari pintu kamarku. Ibu hanya melakukan kegiatan Ibu Rumah Tangga biasa saja.

Malam semakin larut, Ayah kemudian berada di teras depan rumah, merokok dan menelepon temannya. Mungkin itu adalah telepon penting dari temannya aku tidak tahu. Ibu menarikku untuk duduk bersamaya di depan TV.

“Itulah Romomu…”

“Dia tidak ingin Ibu terlalu dekat denganmu, karena waktu itu sewaktu kamu pergi dan tak ada kabar. Dia itu keceplosan kalau dia tidak ingin masa lalunya terungkap, ya ketika memperkosa Ibu itu. Karena sejujurnya Dia itu takut kepadamu, sejak kejadian malam itu, ketika kamu menolong Ibu dari teman Romomu. Padahal kamu sudah tahu semuanya hi hi hi” jelas Ibu, walau dalam situasi apapun Ibu selalu mencoba untuk tenang

“Dia tahu tidak bu mengenai gerakanku?” tanyaku

“Tidak, sama sekali tidak, dia hanya kebingungan mengenai telepon KS dan uang dalam bank-nya hilang begitu saja. Dia sudah menghubungi pihak bank untuk menemukan pelaku, tapi yang didapat dari kamera CCTV tidak jelas, katanya orang itu tinggi dan kulitnya hitam, rambutnya gondrong” jelas Ibuku

“fyuuuuuuuuuuuuhh… syukurlah klaau begitu” ucapku, Ibuku hanya menatapku dengan senyuman. Dikecupnya bibir ku sebentar

“Maafin Ibu ya, belum bisa hi hi hi sabar ya sayang paling sebentar lagi dia pergi” ucap Ibu sambil meletakan kepalanya di bahu kananku. Kurangkul bahu kanan Ibu dengan kedua tanganku dan kudekap lembut. Dalam diam kami berpelukan, hingga suara pintu terbuka membuat kami berpisah. Aku kembali ke dalam kamarku.

Kunyalakan komputer kamarku dan ku kerjakan proposal Tugas Akhirku. Sambil mengerjakan proposal TA, aku juga membuka email Om Nico tapi tak ada pesan masuk ke dalam emailnya. Tak lupa aku mengirim BBM ke Bu Dian sekedar menanyakan kabar dan mencoba untuk memberikan perhatian kepadanya. Aku masih berharap untuk bisa jalan dengannya. Jam berdetak menunjukan waktu semakin malam hingga akhirnya aku menyudahi membuat proposal, mencoba menyambut esok pagi.

Pagi kembali beraksi dihadapanku, kini kuliah dimulai jam setengah sembilan pagi. Aku berangkat dengan sedikit berat hati karena hari ini Ayahku juga berangkat bersamaan denganku, sehingga tak ada kecupan dibibirku. Ku percepat laju motorku hingga kampus agar lepas penat ini. Ku temui beberapa temanku dan juga Rahman yang sudah berada didalam kelas. Pandangan matanya tampak sedikit kosong dan pikiranku selalu kembali ke Ajeng, mungkin Rahman ingin kembali ke Ajeng, hanya itu yang selalu dalam pikiranku.

“Kang, ada apa to?” ucapku

“Ah… bikin kaget saja ente itu” ucap Rahman

“Lha kamu kaya orang hilang ingatan gitu kok” ucapku

“Arghhh… bingung ane mau cerita sama ente, kapan-kapanlah, kalau ane sudah siap ane akan cerita ma ente” ucap Rahman

Tiba-tiba seorang Dosen Pria masuk ke dalam kelasku, ucapan salam dibalas serentak oleh kami semua. Pria bertubuh yang tingginya sama denganku, dan kulitnya lebih putih dari kulitku ya karena mungkin aku terlalu banyak kepanasan jadi kulitku tambah sedikit gelap. Semua mahasiswi dalam kelasku terpukau bahkan ada beberapa dari mereka yang memandangnya seperti memandang Artis Korea.

“Perkenalkan nama saya Felix, saya Dosen lama di kampus kalian, hanya saja selama tiga tahun ini saya melanjutkan S3 di luar negeri, jadi tidak pernah bertemu kalian” ucap Dosen tersebut, Felix namanya

“Ada yang mau ditanyakan?” ucap pak felix, sambil tersenyum dan menyapu ruang kelas

“Pak Felix? Sudah punya pacar?” tanya mahasiswi temanku

“Hmmm… bagaimana ya? Bisa punya bisa belum” jawab pak felix

“Belum saja pak, kita mau lho jadi pacar bapak he he he” jawab seorang mahasiswi lainnya, kemudian gelak tawa dari kami semua meramaikan suasana kelas

“GAK LEPEL KALI AMA KAMU!” Teriak teman mahasiswaku

“KAMU KALI YANG GAK LEPEL SAMA KITA!” teriak seorang mahasiswi lainya, diikuti gelak tawa para mahasiswi

“Sudah… sudah… kita lanjutkan tanya jawabnya ya, jangan yang terlalu personal” tenang pak felix

Perkenalan itu berlangsung cukup lama karena para mahasiswi selalu bertanya-tanya mengenai hal-hal yang tidak penting untuk dijawab. Dan para mahasiswa dikelasku selalu menimpalinya dengan hal-hal konyol. Aku sendiri tidak tertarik, lebih cenderung diam di dalam kelas mengamati setiap tingkah laku dari teman-temanku. Perkuliahan selesai tanpa adanya mata kuliah yang diajarkan dari pak Felix itu. Seperti biasa aku ajak Rahman untuk nongkrong di warung, tapi kali ini dia menolaknya. Aku mulai curiga kalau dia mengetahui sesuatu tentang aku, Ibunya, ataupun Ayahnya.

Sebulan bulan awal Semester enam ini kehidupanku berjalan sangat monton, tak ada yang spesial di dalamnya. Aku hanya menanti Dua orang sahabatku dari Geng Koplak pulang dari kesibukannya, ya selain mereka bersembilan sewaktu berada di cafe, masih ada 3 orang lagi yang disebutkan oleh Karyo masih membantu mama-mamanya. Udin alias Unik Dan Intelektual Ndase (Kepalanya), Si Andri Alias Anak mandiri dan yang terakhir adalah Hermawan alias Hebat Rupawan Manis dan menaWan. Dua yang terakhir sering sekali keluar kota untuk membantu Ibunya membeli dagangan yang akan dijual, karena diluar kota harganya lebih murah. Dan biasanya mereka akan sedikit longgar dibulan ke 5 dan ke 6. Pertemuan ini adalah yang pertama kalinya sejak kami semua lulus kuliah, kadang aku bertemu dengan mereka tapi hanya beberapa.

Rumah yang seharusnya menjadi sebuah tempat dimana seorang anak berkumpul dan berbagi kebahagiaan tidak aku rasakan sama sekali. Ayah masih sibuk dengan pekerjaanya, entah pekerjaan seperti apa yang dilakukannya, ingin sekali aku mengakhiri karirnya namun untuk saat ini sangat tidak mungkin. Ibu menjaga jarak denganku karena Ayah berada dirumah. Aku bersikap sangat patuh kepada Ayahnya dan juga Ibunya.

Perkuliahanku di hari-hari berikutnya dapat aku ikuti dengan baik. Selama satu bulan aku selalu ber-BBM ria dengan Bu Dian, ya mencoba untuk lebih dekat lagi dengan bu Dian. Selama itu pula aku belum bisa menemuinya untuk melangsungkan bimbingan dikarenakan Bu Dian memiliki kesibukan lain. Kelas yang diajarnya pun digantikan oleh dosen lain yang satu tim dalam mengajar mata kuliahnya. Aku jatuh hati kepada Bu dian? Bisa jadi, walau dalam hatiku aku masih terlalu sayang terhadap Ibu, tetapi ketika melihat wajah dan senyuman Ibu serta dorongan agar mencari wanita lain, aku kembali bersemangat. Ya sebenarnya hubungan ini memang salah tapi aku masih belum bisa benar-benar melepas Ibu. Lamanya aku tidak bertemu Bu Dian akhirnya aku sedikit memberanikan diriku untuk meneleponnya.

“Halo..”

“Halo Mbak, selamat Malam, ganggu tidak ya mbak?”

“Tidak Ar, ada apa tumben kamu telepon aku?”

“E….” (Aduh sialan kenapa juga telepon, mau apa coba aku)

“Ar… Halooo… kamu masih disitu?”

“Masih… masih mbak…”

“Kok malah bengong, kasihan yang ditelepon dong kalau kamu diem saja?”

“E… E… begini bu besok malam minggumbak ada acara tidak?”

“Ada…”

“Owh…”

“Ada acara kalau kamu ngajak aku keluar”

“Eh… maksudnya Mbak?”

“Ya ada acara kalau kamu ngajak keluar, tapi ya ndak ada acara kalau kamu nggak ngajak kemana-mana”

“Eh… iya bu eh mbak… jadi bisa kan mbak?”

“Bisa apanya?”

“E… kalau aku ajak keluar malam minggu, gitu maksudku? He he”

“Iya bisa”

Percakapan hangat antara kami masih berlangsung, aku dengarkan suara indahnya mengenai cerita-cerita pendek mengenai dirinya. Aku pun sedikit bercerita tentang diriku walau sebenarnya dia sudah pernah aku ceritakan. Akhirnya mencapai pada titik akhir percakapan dan kami mengakhirinya. Aku berharap malam ini dapat berlangsung dengan cukup cepat agar malam minggu segera hadir.

Malam minggu telah datang, malam yang aku tunggu-tunggu telah hadir. Kini aku telah di depan rumah Bu Dian, setelah sore tadi jam 14:00 aku berpamitan kepada Ayah dan Ibuku. Ibuku berpesan agar aku bersikap lebih jantan kepada Bu Dian. Aku datang lebih awal karena ingin membawa Bu Dian jalan-jalan dan menunjukan suatu tempat yang indah kepadanya. Lama aku menunggu akhirnya keluar juga seorang wanita yang mulai mengisi hati ini, dihadapan pintu gerbang rumahnya dia berdiri dan tersenyum manis kepadaku. Mengenakan Kaos putih longgar dan celana jeans hitam pensilnya serta sepatu karet berwarna putihnya. Memang wanita ini sungguh cantik sekali. Di hari sabtu sore ini aku ajak Bu Dian makan bersama di warung emperan, maklumlah aku ingin mentraktir Bu Dian dengan menggunakan uangku sendiri. Setelah makan bu Dian aku ajak ke tempat dimana aku dan Ibu pernah berduaan disana, di sebuah taman pinggiran bukit. Suasana masih ramai dengan pasangan muda mudi di sini. Hingga akhirnya aku mendapatkan tempat yang sama seperti yang aku tempati ketika aku ke tempat ini bersama Ibu. Kubelikan minuman pukari suwet dan aku duduk disebelahnya. Kami mulai mengobrol sedikit banyak mengenai perkulihan atau hal lain yag sekiranya bisa mencairkan suasana.

“Em… mbak, kok ndak pernah kelihatan mengajar?” tanyaku

“Ada urusan Ar”

“Kamu sudah sering kesini Ar?” Lanjut Bu Dian, mengalihkan tema pembicaraan

“Baru sekali mbak, dan kedua kali ini bersama mbak, mbak belum tahu tempat ini ya?” ucapku

“Belum, baru kali ini sama kamu. Yang pertama sama siapa Ar?” ucapnya dengan senyum manis

“Sama Ibu, waktu itu Ibu minta diajak jalan-jalan mbak” ucapku

“baik banget kamu sama ibu kamu ar” ucap Bu Dian

“kan anak satu-satunya mbak jadi ya apa permintaan Ibu aku turuti he he he” ucapku, kulihat wajah manisnya memandang rembulan sabit yang menggantung di langit. Mata indahnya seakan-akan menjadi cermin rembulan sabit tersebut. Tiba-tiba sebuah pesan di sematponnya masuk dengan bunyi notifikasi standarnya. Kupandangi wajahnya ketika membaca pesan tersebut. Setelah itu wajahnya menjadi seperti orang terkejut yang penuh kebimbangan.

“Mbak, apakah ada yang mbak pikirkan?” ucapku kepada Bu Dian

“Tidak, tidak ada” ucap Bu Dian

“Ada apa mbak? Mungkin Arya bisa bantu?” ucapku

“Tidak ada Ar, sudahlah jangan kamu tanyakan lagi” ucapnya.

“Ya, aku mungkin tidak begitu tahu masalah perempuan mbak, tapi kadang aku bisa kasih solusi mbak he he he” ucapku sedikit menghibur. Raut mukanya penuh kebimbangan kaki kananya yang ditumpuk di atas kaki kirinya terus bergoyang-goyang yang menandakan agar cepat bisa mengakhiri kebersamaan kami

“Mungkin sebaiknya kamu antar aku pulang sekarang” ucap Bu Dian. Dalam kebisuan aku mengantar Bu Dian pulang kerumahnya. Dia memelukku erat, dari dibelakangku. Wajahnya dibenamkannya di punggungku. Perjalanan aku percepat sesuai dengan keinginan Bu Dian. Sampailah aku di depan rumahnya, Bu Dian kemudian turun dari motor dan tersenyum penuh paksaan kepadaku. Kulepas Helmku untuk melihatnya.

“Terima kasih buat malam ini Ar… cup….” ucapnya sembari memberikan kecupan pada pipiku.

“Sama-sama mbak, terima kasih juga” ucapku. Kecupan kali ini terasa berbeda, ada sesuatu yang disembunyikan oleh Bu Dian. Dia kemudian masuk kedalam rumahnya tanpa melihatku sama sekali. Dengan rasa kegundahan aku kemudian pulang. Dalam perjalanan pulang dan masih didalam kawasan Perumahan ELITE, aku berpapasan dengan sebuah mobil yang berad di seberang median jalan. Tampak mobil itu aku kenal tapi aku lupa dimana aku pernah melihatnya, masa bodohlah. Ahhh… Satu bulan yang lalu aku pulang dengan hati yang sumringah tapi hari ini, kurang lebih satu bulan setelahnya aku pulang dengan perasaan tidak menentu. Aku sampai dirumah dengan disambut oleh Ibu, dan Ibu seakan-akan tahu apa yang aku rasakan. Ibu tersenyum dan memberikan kecupan pada bibirku. Dan menagantarkan aku ke dalam kamar lalu meninggalkan aku sendiri, ya karena Ayah ada dirumah.

Di hari minggu siang aku mencoba menghubungi Bu Dian, karena proposal Tugas Akhirku sudah selesai aku rapikan dan kuperbaiki serta aku berikan beberapa tambahan. Akhirnya aku menelepon Bu Dian. Tuuuuuuuuuut tuuuuuuuuuuuut cklek telepon diangkat.

“Ya Halo”

“Selamat malam mbak, maaf mengganggu”

“Iya, Ar ada apa?”

“Emm… kapan ya mbak bisa bimbingan lagi?”

“Besok senin ya, emm… maaf Ar, aku sedang ada perlu bisa dilanjut lain waktu tidak teleponnya”

“Eh… bisa-bisa mbak, terima kasih mbak”

“Ya sama-sama” tuuuuuuut

Benar-benar sesuatu yang bertolak belakang dengan kejadian hari minggu yang telah lalu. Aku mencoba menerawang ingatanku kembali ke hari minggu itu, senyum dan sapanya masih sama ketika aku memandangnya di hari senin kemarin. Tapi setelah satu bulan lamanya Bu Dian tampak berbeda. Adakah yang salah denganku? Dari pertama kali bimbingan itu sikapnya masih wajar-wajar saja, tapi setelah itu untuk membalas pesan BBM-ku saja lama sekali padahal sebelum-sebelumnya aku tidak perlu menunggu lama untuk balasan BBM-ku. Apalagi setelah malam minggu ini, sikap dia seperti acuh kepadaku. Haruskah aku membuang perasaan ini? Ibu pasti akan marah karena Ibu sudah terlanjur suka kepada Bu Dian, tapi aku harus tetap realistis. Walau kemungkinannya sangat kecil aku tetap mengirimkan pesan penuh perhatian kepada Bu Dian walau tidak berbalas.

Hari berganti dengan cepat tanpa ada yang dapat aku lakukan di dalam rumah. Email Om Nico, Sematpon KS-pun tidak ada yang menarik. Mungkin semua ini berjalan agar aku bisa lebih fokus pada satu permasalahan, yaitu Bu Dian. Setelah kuliah dengan Bu Erna, aku kemudian menuju ke gedung jurusan untuk menemui Bu Dian.

Glodak… Glodak.. Glodak.. Glodak.. Glodak.. Gubrak. Ringtone telepon. Bu Dian dan kuangkat.

“Saya ada didepan gedung jurusan kamu turun saja untuk bimbingan” tuuuuuuuuuuuut

“Ada apa dengan Bu Dian?” bathinku. Aku kemudian langsung turun kebawah menuju tempat Bu Dian berada. Dia sedang berdiri di depan gedung jurusan.

“Mana?” ucap Bu Dian

“Ini Bu” ucapku sembari menyerahkan proposalnya. Dan langsung ditanda tanganinya.

“Kamu langsung urus semua kebutuhan kamu di laboratorium, buat surat ijin penelitian yang mengatas namakan saya dan segera memulai penelitian”

“Saya ada janji, kapan-kapan saya akan jenguk kamu di laboratorium” ucap Bu dian. Singkat padat, jelas dan akurat tanpa memberiku kesempatan untuk berbicara dia langsung pergi meninggalkan aku berdiri di sini sendiri.Ku tatap kepergiannya hingga masuk ke mobil fortune-nya dan menghilang.

“Ada yang berbeda dengan kamu mbak? Sangat berbeda, mungkin kamu malu jika bersama denganku, entah apa yang ada di hatimu aku tak akan pernah tahu” bathinku

Dihari berikutnya semua kelengkapan pengurusan ijin penelitan di laboratorium telah aku selesaikan. Penelitian aku lakukan atas nama Bu Dian karena pada semester enam biasanya mahasiswa belum diperbolehkan melakukan penelitian, diperbolehkan melakukan penelitian biasanya di semester 7. Mulai minggu depan aku akan langsung melakukan penelitian sesuai dengan proposal Tugas Akhirku.

Hampir dua bulan lamanya aku melakukan penelitian di dalam laboratorium untuk mendapatkan hasil. Penelitian aku mulai setelah jam kuliah selesai. DI awal peneletian aku masih bisa pulang lebih awal atau paling tidak pulang pada sore hari menjelang maghrib karena di langkah awal penelitianku hanya berisi preparasi sampel yang tidak memakan waktu yang lama. Sampai pada pertengahan penelitianku memakan waktu lebih lama, karena untuk sekali running proess paling tidak memerlukan waktu hingga malam hari. Ibu mendukungku penuh untuk segera menyelesaikan penelitianku agar setelah lulus nanti harapan Ibu aku melanjutkan S2.

Dalam masa penelitianku tak lupa setiap harinya aku selalu mengirimkan BBM kadang juga SMS ke Bu Dian yang berisi kata-kata bijak, kata motivasi dan perhatian untuk tidak lupa makan atau apapun itu. Tapi seseringnya aku mengirim pesan sesering itu pula tak ada balasan darinya walau terkadang aku mendapatkan balasan hanya sepatah dua patah kata.

Rahman? semakin hari dia semakin linglung dengan keadaanya, tak pernah mencoba untuk bercerita kepadaku. Ibu, menjadi sangat jarang berkumpul denganku walau hanya sekedar bercekap-cakap. Semua nampak semakin jauh dariku, entah karena kesibukanku atau karena kesalahan-kesalahan yang aku buat. Intensitas pertemuanku dengan Ibu dan Bu Dian berkurang, karena beberapa bulan ini Ayah selalu berada dirumah lebih awal sedangkan Bu Dian yang sudah berjanji untuk menjengukku pun tak kunjung datang. Di hari itu aku sedang menunggu proses yang kurang lebihnya harus aku tunggui hingga malam hari, tepatnya di hari kamis malam jumat.

Pada hari minggu kuturut ayah kekota naik delman istimewa kududuk dimuka. Ringotne telepon. Wongso.

“Woi wong, ada apa?”

“Besok malam minggu kumpul, ada sesuatu yang penting untuk dibahas”

“Oke aku bisa, memange ada apa Wong?”

“ini mengenai sesuatu yang penting dan kamu harus datang tepat waktu”

“iya iya, serius amat, amat saja gak serius, dimana?”

“kamu ke warungku dulu oke?”

“Siiip…”

Sedikit obrolan dengan wongso dan wongso mengakhirinya. Ketemu dengan teman-teman pastinya mereka pada mengajak para kekasihnya, mungkin aku bisa mengajak Bu Dian untuk kumpul bersamaku. Aku kemudian menelepon Bu Dian.

Tuuuuuuuuuuuuut…. tuuuuuuuuuuuuuuuuut…. ceklek

“Halo ar ada apa?”

“Eh… mbak, kok ndak jenguk aku di lab?”

“Aku lagi sibuk, banyak janji, pokoknya aku percaya saja sama kamu, gitu ya?”

“Iya mbak, emmm….”

“Ada apa Ar? Jika sudah tidak ada lagi, dilanjut kapan-kapan saja”

“Bentar-bentar mbak, ini aku mau mengajak mbak besok malam minggu kumpul sama temen-temenku yang kemarin itu nolong kita di cafe, bisa ndak mbak?”

“maaf ndak bisa, dah dulu ya aku lagi ada janji dengan seseorang. Maaf”

“sebentar mbak jangan ditutup dulu”

“iya ada apa? Aku itu lagi ketemu seseorang, tahu ndak sich!” (sedikit membentak)

“Maaf mbak, aku hanya ingin minta maaf mbak, karena mbak tidak seperti biasanya lagi, tampak berbeda”

“Terus aku harus bagaimana? Memohon maaf gitu sama kamu, ingat kamu itu mahasiswaku”

“iya mbak saya tahu, bukan maksud saya seperti yang mbak katakan, hanya saja aku Cuma ingin minta maaf kepada mbak, itu saja, Aku mohon mbak jangan marah”

“iya iya… Sudah kan?” tuuuuuuuuuuuuuuuut

Kecewa sangat kecewa, kenapa dia begitu kaku dan dingin kepadaku akhir-akhir ini? Dia yang memilihku menjadi mahasiswa bimbingannya jika ada akhirnya aku di cueki seperti ini? mending dengan dosen lain yang sekiranya bisa aku ajak bercengkrama. Mungkin memang benar jika ini semua hanya halusinasiku tentang dia menyukaiku.

Keesokan harinya pada hari jumat, aku tidak mengikuti kuliah tetapi sebelumnya aku meminta izin kepada dosen untuk meneruskan penelitianku karena akan memakan waktu yang sangat lama. Sebelum aku memulai penelitianku kembali di laboratorium aku menyempatkan diriku untuk kejurusan menemui Bu Dian, jujur saja aku merasa bersalah kepadanya. Gedung Jurusan nampak sepi dari mahasiswa dan juga dosen, hanya ada beberapa mahasiswa semester ataskku yang sedang menunggu dosbingnya. Kulangkahkan kakiku hingga didepan pintu masuk ruangan Budian dan Bu Erna yang terbuat dari kaca yang buram. Kudengar percakapan diantara keduanya.

“Eh, Yan, gimana Arya? Ditembak aja ganteng lho” ucap Bu Erna samar-samar tapi terdengar

“Kalau mbak mau ambil saja hi hi hi masa Dosen pacaran sama mahasiswanya, ya ndak level dong” balas Bu Dian

“Eh… eh… eh… jangan bilang gitu kualat lho nanti kamu” balas Bu Erna

“Eh jangan nyumpahin gitu dong” ucap Bu Dian. Tiba-tiba nada dering telepon berbunyi dari dalam ruangan tersebut.

“Bentar mbak ada telepon” ucap Bu Dian. Kulihat bayangan Bu Dian bangkit dari tempat duduknya dan menuju ke pintu. Aku pun segera melangkah menuju pintu samping (bukan pintu utama) gedung jurusan. Kleeeeeeeeeeeek…

“Halo sayang, ada apa?” ucap Bu Dian. Kudengar jelas perkataan itu dari mulut Bu Dian yang berada dibelakangku, aku tetap melangkah tanpa mempedulikannya

“Arya?!”

“Arya tunggu” teriak Bu Dian. Aku hanya berbalik dan tersenyum sambil membungkukan badanku kepada Bu Dian lalu melanjutkan langkahku kembali

“Nanti dilanjutkan lagi” ucap Bu Dian menutup teleponnya.

“Aryaaaa, tunggu sebentar” teriak Bu Dian lagi, aku berhenti dan melihat Bu Dian

“Bukannya kamu ada jam kuliah sekarang? Kenapa di Jurusan?” ucap Bu Dian

“Mohon maaf Bu, saya mohon izin untuk melanjutkan penelitian di Lab” ucapku tanpa menjawab pertanyaan dari Bu Dian, dan langsung kembali melangkah

“Tunggu sebentar! Saya ini sedang berbicara dengan kamu” ucap Bu Dian

“Sebenarnya saya hanya ingin memberikan laporan penelitian saja selama dua bulan ini bu, tapi kelihatannya Ibu sibuk jadi saya berniat melanjutkan penelitian dulu baru minggu depan akan saya laporkan setelah kuliah” ucapku dengan senyuman untuk menutupi kekecewaanku

“Ja.. jadi kamu sudah disini dari tadi?” ucap Bu Dian

“Baru saja kok Bu he he he” ucapku dengan senyum cengengesanku dan menggaruk-garuk kepala bagian belakangku

“Saya mohon undur diri dulu Bu, mohon doanya agar penelitian saya cepat selesai dan lekas lulus dari universitas” ucapku tersenyum dengan membungkukan badan, kemudian melangkah meninggalkan Bu Dian

“kamu mendengarnya?” ucap Bu Dian tiba-tiba

“Saya tidak mendengar percakapan Ibu, beneran kok bu saya tidak mendengarnya sama sekali” ucapku yang kembali menghadap kembali ke Bu Dian. Aku sudah tidak bisa melihat apa yang ada diwajahnya, sedikit sakit

“Berarti kamu mendengarnya dan saya har…” ucap Bu Dian

“Maaf Bu Boleh saya melanjutkan penelitian saya? Saya hanya seorang mahasiswa yang berusaha untuk cepat lulus dan meninggalkan universitas ini untuk menempuh hidup baru sebagai seorang pekerja diluar sana” ucapku, aku kemudian melangkah meninggalkan Bu Dian. Tak ada sepatah katapun dari Bu Dian.

“Ya aku hanya mahasiswa dan dia adalah seorang Dosen” bathinku.

Aku kembali ke peradabanku di laboratorium tempat aku melakukan penelitian. Baru saja aku menjalankan proses, semua tampak begitu suram, aku sudah tidak dapat berpikir jernih. Otakku hanya berputar-putar pada perkataan Bu Dian dan Bu Erna. Tiga jam terlewati begitu saja menjalankan proses, Aku hanya bisa meletakan kepalaku di atas tumpukan tanganku yang berada dimeja. Kuberesi semua peralatanku dan kumasukan ke dalam almari, aku mengakhiri penellitianku kali ini.

“Lho mas, kok sudah selesai? Bukannya penelitiannya masih lama mas?” ucap Pak Laboran

“Minggu depan saja pak, saya mau pamit pulang, badan saya lagi ndak enak” ucapku

“Oh ya sudah, hati-hati dijalan ya mas” ucap Pak Laboran

“Iya pak…” ucapku

Aku keluar dari gedung laboratorium dengan wajah yang muram. Segera aku melangkah menuju ke tempat parkir, ditengah-tengah perjalananku menuju tempat parkir aku bertemu dengannya lagi.

“Lho sudah selesai Ar?” ucap Bu Dian

“Senin saja saya lanjutkan Bu, untuk laporannya mungkin selasa atau rabu bu, mohon maaf” ucapku

“Kamu baik-baik saja?” ucapnya yang mencoba memberikan perhatian kepadaku

“Sangat baik bu, sangat baik “ ucapku yang tersenyum lebar didepannya. Entah kenapa pandangan Bu Dian seakan-akan merasa bersalah kepadaku. Aku melanjutkan langkahku, dan tiba-tiba tangan Bu Dian memgang lengan kananku.

“Tunggu Ar, aku mau bicara” ucap Bu Dian yang berada dibelakangku

“Maaf saya sedang banyak urusan Bu” ucapku tanpa menoleh kebelakang. Segera aku menarik kembali tanganku dengan keras, masa bodoh kalaupun aku tidak lulus karena mengacuhkan dosen pembimbingku, aku tidak peduli lagi. Aku masih bisa meminta ganti dosbing yang lainnya. Aku melangkah menjauhinya, aku sudah tidak mempedulikan lagi apa yang akan terjadi minggu depan.

Sesampainya dirumah, rumah tampak sepi. Kubuka sematponku terdapat sms dari Ibu, Ibu sekarang berada dirumah tante ratna karena tante ratna ditinggal dinas oleh suaminya dan Ibu dimintai tolong untuk menemaninya hingga besok senin. Ayah pun tidak berada dirumah, dari penuturan Ibu Ayah sedang dinas luar kota. Lengkap sudah penderitaan ini, aku sudah mulai muak melihat kampusku lagi. Kurebahkan tubuhku di kamar, serasa malas untuk memecahkan setiap masalah yang hadir dalam hidupku. KS, Mahesa, Nico, Si Buku, Si tukang, Si Aspal, Pak Koco, Tante Warda kulupakan sejenak semua itu. Ting! Bunyi notifikasi BBM-ku.

From : Ibu
Apapun yang terjadi, seorang laki-laki harus teguh pada pendiriannya
Karena dia adalah seorang pemimpin dan penyayang bagi yang dicintainya
Ibu tidak tahu masalahmu, tapi Ibu bisa merasakan bahwa kamu sekarang sedang gelisah
Bersemangatlah, masih ada Ibu, ingat itu :*
To : Ibu
Terima kasih, aku masih punya Ibu :*

Sebuah pesan yang kembali mengangkat motivasiku, ya aku masih punya Ibu.

————————————————————————————————————————

Malam minggu telah tiba, aku kirimkan pesan ke Ibu kalau aku akan berkumpul dengan sahabat-sahabatku semasa SMA. Setelah mendapatkan izin dari Ibu aku langsung berangkat menuju warung Wongso. Dengan secepat kilat, penuh semangat aku memacu REVIA. Sampailah aku di warung wongso, di sedang menghembuskan asap didepan warungnya.

“Wehhh… tumben datang lebih awal cat?” ucap wongso. Aku kemudian turun dari motroku yang aku parkir didekat motornya lalu aku menuju tempat wongso duduk

“Di rumah ndak ada orang, daripada telat di maki-maki kamu sama yang lain, mending datang awal”

“Minta rokoknya” ucapku

“Nih…”

“Oh ya kita langsung saja ke TKP bagaimana? Anak-anak langsung ke sana”

“Oh ya aku tapi nanti jemput pacarku dulu, lha cewek kamu itu kemana?” lanjutnya

“oh lagi ada urusan ndak bisa kumpul” ucapku

“Wah, dia itu jadi primadona pembicaraan temen-temen kelasku lho Ar” ucap Wongso yang satu fakultas denganku tapi berbeda jurusan

“Alah, ndak usah dibahas lagi, ntar kita ketinggalan wong” ucapku yang langsung menuju ke arah motorku

“Lagi da masalah kamu?” ucap wongso yang berjalan disampingku

“May be Yes, May Be No” ucapku

Aku kemudian mengikuti wongso menuju rumah pacarnya, pacarnya sudah menunggunya didepan rumah. Kemudian aku dan wongso melanjutkan perjalanan menuju tempat berkumpulnya Geng Koplak. Tempat kumpul kami berada di sebuah tempat pusat orang-orang berpacaran dan tempat orang-orang nongkrong, tapi malam ini tampak sepi dikarenakan di alun-alun ada konser musik. Ditempat kami berkumpul, ada sebuah taman berbentuk lingkaran ditengah-tengahnya. Taman berbentuk lingkaran itu berada diantara jajaran pohon-pohon besar yang tertata rapi dihiasi pedagang kaki lima yang masih bertahan berjualan walaupun jumlahnya sedikit (imajinasi bentuk taman –O–, lingkaran adalah taman, strip adalah jajaran pohon).

Tampak beberapa sahabatku sudah berkumpul disana. Aku menghampiri mereka yang sudah berada disana bersama pacar-pacarnya. Salam sapa penuh canda mengiringi pertemuan ini. kemudian beberapa dari kami mulai berdatangan. Satu-persatu mulai berkumpul dan yang terakhir adalah Sudira, lengkap sudah Geng Koplak.

“Lho Ar, cewekmu mana?” ucap Dira sambil berjalan kearah kami dari motornya

“Sedang ada urusan Dir” ucapku kepada Dira

“Asyik Arya, sendirian jadi kita bisa pacaran dong Ar hi hi hi” ucap Dira

“Woi, itu teman sendiri jangan diembat!” kata hermawan, diikuti gelak tawa kami semua

“Eh dir, itu dada kenapa gede sekali, diisi berapa lliter balonnya” ucap Karyo

“E… e… e… enak saja balon, asli tahu!” ucap Dira santai

“masa asli?” ucap parjo

“Ngapusinan! (Suka berbohong)” ucap Joko dan aris bersamaan

“Aku kasih lihat tapi jangan nafsu lho hi hi hi” ucap Dira

“nih…” ucap dira sembari membuka bajunya

“EDAAAAAAAAAAN! Asli!” ucap kami serentak. Langsung pacar-pacar mereka menutupi mata sahabat-sahabatku

“Sudah diberitahu kok ndak percaya, hayo jangan nafsu, kalau nafsu ndak papa sich, nanti Dira kasih dech” ucap dira sembari menutup kembali bajunya

“HUEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEK” ucap kami serentak yang diikuti gelak tawa kami semua

“Dari mana kamu dapat susu asli kaya gitu?” ucapku

“Dari pacarku dong, dia yang nyuruh aku operasi he he he” ucap Dira santai

Canda tawa, sendau gurau dan gaya konyol tercurah semua pada pertemuan ini. ada yang berlagak menggoda Dira, ada yang menceritakan kejahilan masa SMA. Ada juga yang menceritakan tawuran dengan Geng Tato. Benar-benar masa terindahku adalah masa SMA, karena ketika kuliah semua teman-temanku adalah orang-orang serius dan genius.

“Ar, tuku rokok kono (Ar beli rokok sana)” ucap Aris

“Ndi… (mana)” jawabku. Dilemparnya uang itu ke arahku, dan aku membeli rokok di pedagang kaki lima.

Saat aku membeli rokok, melintas seorang wanita yang aku kenal, Bu Dian. Dia berada di seberang tempat kami berkumpul, dia berjalan dari kananku menuju ke arah taman bundar. Aku sedikit bahagia mungkin sja dia bisa aku ajak untuk berkumpul dengan sahabat-sahabatku. Tanpa berpikir panjang aku segera berlari mengendap-endap mendahului Bu Dian, dan bersembunyi di salah satu poho besar didepannya. Ketiak berlari wongso dan pajo memanggilku tapi aku menyilangkan jariku menyilang dibibirku. Segera aku berdiri dan diam dibalik pohon besar itu. Lama aku menunggu tapi Bu Dian tak kunjung datang. Segera aku mengeluarkan kepalaku dari pohon itu dan…

Bersambung
Hallo Bosku, Disini Admin KisahMalah
Agar Admin Semakin Semangat Update Cerita Cerita Seru Seterusnya, Bantu Klik Iklan yang Ngambang ya.
Atau Gambar Dibawah INI

Atau Bagi Kamu yang suka bermain game Poker Online atau Gambling Online lainnya, bisa di coba daftarkan ya. Banyak Bonus dan Hadiahnya Loh.
Untuk yang Kesulitan Daftar bisa Hub Admin di WA untuk di bantu Daftar.
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part