web hit counter

Cinta yang Liar Part 28

0
495

Cinta yang Liar Part 28

Disebuah universitas tepatnya di taman rektorat universitas SABARIN, aku dan rahman janji ketemuan untuk membicarakan beban yang menjadi pikirannya selama ini. Tepat pukul 19:30 aku datang dan Rahman sudah ada di tempat itu. Dengan sebungkus rokok dilemparkannya kepadaku dan sebotol panta merah. Aku duduk disampingnya, kusulut sebatang rokok dan sesekali aku meneguk panta merah. Tapi aku tersedak manakala dia bercerita tentang semua yang menjadi beban pikirannya.

“Ane telah menyetubuhi mamaku…” ucap Rahman

“Uhuk uhuk uhuk uhuk… ” aku tersedak seketika itu

“Apa?!” ucapku sedikit berteriak

“Iya aku tahu salah tapi mamaku itu arggggghhhhhhh….” ucap rahman kemudian dia mulai bercerita

———————————————————————————————————————–
Sudut pandang Rahman.

Ketika itu aku pulang kerumah selepas aku camping bersama teman-teman kompleksku. Dengan tujuan melepaskan penat di kepalaku setelah Ajeng memutuskan diriku. Aku sangat shock mendengar itu semua tapi mau bagaimana lagi, cintaku selama ini tidak pernah terbalas karena ajeng mencintai Arya. Sebelum kepulanganku, teman-temanku mengajakku minum minuman keras. Dalam kondisi mabuk aku pulang dengan tubuh yang bergoyang ke kanan dan kekiri. Sesampainya dirumah aku membuka pintu rumah dengan sangat pelan, walau mabuk kesadaranku masih ada sedikit. Ketika itu aku hendak naik ke kamarku dilantai atas, aku melewati kamar mamaku. Pintu kamar tidak tertutup rapat. Sekilas aku meliat mamaku sedang membuka pahanya yang sudah tidak becelana dalam. Dimasuk keluarkannya benda berbentuk penis kedalam vagina yang rimbun itu.

“Arghhhh… aerghhhh… ehemm…..” suara desahan mamaku. nafsuku terbakar melihat permainan solo mamaku sendiri. Kukeluarkan batang penisku dari sarangnya, sambil mengocok aku memperhatikan mamaku sendiri. Gerakan-gerakan penis mainan itu semakin sangat cepat membuat mamaku menrintih kenikmatan dan membuat aku semakin bernafsu. Aku sudah tidak tahan lagi, akhirnya aku masuk kedalam kamar mamaku.

“Rahman! Apa yang kamu lakukan? Keluar” teriak mama kaget dengan kehadiranku. Dengan pengaruh alkohol yang masih menjalar di dalam tubuhku, aku bergerak maju. Kutarik mamaku sendiri dan aku kemudian menubruknya. Kini aku berada di atas tubuh mamaku. mama terus meronta meminta aku untuk melepaskannya.

“Rahman! Lepaskan! Aku ini mamamu! LEPASKAN!” bentak mamaku

“Mama butuh ini kan he he he akan rahman beri ma!” ucapku keras kepada mamaku. aku kangkangkan kedua paha mulus mamaku sendiri dan kuarahkan ke dalam vagina mama

“Rahman jangan , hentikan!”

“Arghhhhhhhhh….” teriak mamaku di akhiri dengan rintihannya ketika batangku masuk ke dalam vaginanya

“Arghhh… enak sekali ma, memekmu benar –benar lebih enak dari mahasiswi-mahasiswi di kampusku ma”

“ouwghh… enak sekali ma” ucapan liarku karena pengaruh alkohol

Plak… plak… plak… tiga tamparan mendarat di pipiku

“Mau kasar iya?!” bentakku membuat mamaku menangis, kedua tanganya aku pegang erat dengan kedua tanganku. Aku mulai menggoyang dan terus menggoyang pinggulku.

“Enak mahhhh ouwghhh memekmu nikmat… kontolku nikmat mamah… ouwgh nikmat sekali….”

“Aku suka mememkmu maaaah…ouwghh… arggghhh….” racauku

“Argh.. rahman hentikan… argh…. hiks hiks hiks…” pinta mama

Aku sudah tidak mempedulikannya lagi, aku terus menggoyang dan menggoyang pinggulku untuk mendapatkan kepuasan. Kulihat mama mulai mendesah menikmati sodokan-sodokan penisku ke dalam vaginanya.

“Sssshhhh… erghhhhh… aishhhhh.. oufthhhhhhh…. ah ah ah aha” desahan mamaku

“Arghhh… sempit sekali mama, aku mau keluar…..”

“memekmu sempit mama lebih sempit dari ayam kampus argghhh nikmat maaaah”teriakku kugoyang semakin cepat pinggulku, mama kelihatan menahan desahannya. Matanya terpejam tubuhnya bergoyang ke kanan dan kekiri.

“Aku keluaaaaaaaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrr……………….” teriakku

Croot croot croot croot croot croot croot

Tubuhku ambruk diatas tubuh mama yang baru saja melengking ke atas, nafasku tersengal-sengal tak karuan merasakan nikmat yang seharusnya tidak aku rasakan. Kurasakan cairan hangat mengalir dibatang penisku. Aku kemudian terlelap tanpa tahu apa yang terjadi selanjutnya.

Aku terbangun di pagi hari dengan tubuhku terlentang di samping mamaku. mamaku meringkuk di sampingku membelakangiku. Tampaknya dia sedang menangis, ku coba mengingat sedikit kejadian malam tadi aku merasa kotor lebih kotor dari sebelumnya. Aku geser tubuhku ke mendekat ketubuh mamaku, mencoba kupeluk mama. Tapi dengan halus mama melempar tanganku kembali kepadaku.

“KELUAR! KELUAR!” bentak mama. Aku kemudian keluar dari kamar mama dengan tubuhku yang masih telanjang pada bagian bawahku. Kuraih celana jeansku, kupandangi mamaku tapi dia membuang muka.

Didalam kamar aku kemudian merebahkan tubuhku, terlintas secuil ingatan dari persetubuhan malam tadi. Jujur aku merasa sangat bersalah. Ayahku juga tidak ada dirumah, dia memang selalu berpergian entah kemana. Ku bersihkan tubuhku, dan berganti pakaian, inginku beranjak kebawah namun aku merasa malu atas kejadian malam tadi. Sekitar pukul 08:00 aku mendapatkan sms dari mama untuk makan pagi, akku segera turun dengan harapan mamaku menemaniku, tapi mama berada dalam kamarnya dan tak menegur atau menyambutku sama sekali. Hingga malam tiba aku tidak dapat menemui mama karena mama selalu mengurung diri dalam kamar. Tepat pukul 22:00.

Tok Tok ToK… ku buka pintu kamarku

“mama…” ucapku. Mama hanya terdiam di depanku dengan mengenakan gaun tidur terusan hingga pahanya yang tipis, gaun itu digantungkan dengan tali kecil di atas bahunya. Jika dilihat lebih dalam lagi mama tidak mengenakan BH.

“Ma… maafkan rahman ya” ucapku. Namun reaksi yang aku dapatkan berbeda sangat berbeda. Tiba-tiba mama memelukku dengan sangat erat.

“Mama tahu ini salah man, tapi mama membutuhkannya, mama tidak bisa membohongi diri mama sendiri” ucap mamaku. Deg.. disaat aku merasa bersalah disaat itulah aku merasa mendapat durian runtuh. Mama melepaskan pelukanku, dengan tubuhnya yang pendek dia kemudian berjinjit dan mengecup bibirku

“Maafkan mama, tapi setelah kemarin malam, mama tidak bisa lepas dari kamu sayang, mama mohon”

“peluk mama sayang” ucap mamaku. Kupeluk tubuh hangatnya kembali, tubuhnya masuk dalam dekapanku. Aku sudah tidak dapat berpikir jernih lagi, apakah ini benar atau salah? Kedua tanganku kemudian turun kebawah dan meremas bongkahan pantatnya

“Lakukan nak, mama sekarang menjadi milikmu, mama ingin kamu dan mama harap kamu juga menginginkannya” ucap mamaku yang menatapku dengan wajah penuh nafsunya. Ku tundukan kepalaku dan kucium bibirnya. Ciumanku kemudian turun ke leher mamaku. pikiranku dikuasai oleh nafsuku, sudah tak ada lagi logika di dalam otakku.

“arghhh… ssssshhhh…. terus sayang… kamu pintar sekali… ouwghhhh” desah mamaku

Ciumanku semakin turun kebawah dan tali gaun tidur tipis mama aku singkirkan dengan lidahku. Dengan kedua tanganku secara perlahan aku turunkan hingga dibawah sikunya. Payudaranya kemudian tersembul keluar dengan indahnya, dengan lahapnya aku langsung menyeruput payudara mama.

“Arggghhhh… ehmmmm…. asssssssshhhhhhh….” desah mama

Sembari mengulum-ulum bagian susunya kanannya dan tangan kiriku mermas susu kirinya, tangan kananku menarik lembut tali kiri gaun tidurnya hingga lepas, begitupun sebaliknya ketika aku mengulum susu bagian kirinya tali kanan gaun tidurnya aku lepas. Kini gaun tidur mama tersangkut dipinggangnya. Ciumanku tak hanya berhenti di bagian susunya, langsung aku sibak gaun tidurnya yang masih menutupi selangkangan mama. G-String berwarna hitam menutupi sedikit vagina mamamku. Aku geser sedikit dan mulai aku jilati bibir vagina mama.

“Asshhhhhhhhhhh…. hmmmm…. erghhhh… sayangkuwhhh owhhhh…..” desahan mama. Kuangkat paha kiri mama dan aku letakan di bahu kananku. Terlihatlah vagina yang lengkap yang sedikit tertutu oleh G-stringnya. Jari tengah tangan kiriku mulai aku masukan ke dalam vaginanya perlahan dan terasa sudah sangat becek sekali. Jilatanku beralih menuju biji kecil dibagian atas bibir vaginanya. Aku mulai mengocok perlahan pada vagina mama.

“Owghhhh… sayang… erghhhh… memek mama kamu apakanhhh owghhhhh… enakkkhhhh”

“jadikan itu milikmuh sayaghhh…” desah dan racaunya. Aku kemudian mempercepat kocokan pada vagina mama dan jilatanku semakin liar, kadang aku berika jilatan dan sedotan pada vagina mamaku

“Arghhh sayang… aishhhh arghhhh… lebih cepathhh… arghhh mama hampir…”

“terushhh erghhh… mama hampir sampai… arghhhhhh…..”

“Mama keluarhhhhh aerghhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh” teriak mama yang kemudian kedua tanganya bertumpu pada kedua bahuku, kaki kirinya langsung ditariknya turun. Tubuh mama beringsut turun dan kemudian bersimpuh dihadapanku. Ciuman didaratkannya di bibirku, aku kemudian memeluknya.

“Kamu sudah sering ya sayang hash hash has” ucap mama

“eh… iya mah, maaf…” ucapku

“tidak perlu minta maaf sayang, sekarang mama akan menjadi pengganti wanita-wanitamu itu”

“jika mama tidak dapat memuaskanmu, mama tidak akan lagi meminta darimu” ucap mama sembari melepaskan celana boxer-ku dan munculah penis perkasaku. Mama tampak kagum dengan penisku, walau ukurannya tidak begitu besar tapi cukuplah untuk seorang wanita. Mama memandangku dengan snyumannya sambil mengelus-elus penisku dengan kedua tangan mama. Kadang mama mencium ujung penisku dengan bibirnya.

“gagah ya?” ucap mama, aku hanya bisa mengrenyitkan dahiku dan menikmati sensasi dari elusannya itu. Dan tiba-tiba, mama langsung memasukan penisku kedalam mulutnya.

“arghhhhhhhhh… mama… owh…..” desahanku merasakan setiap gesekan rongga mulutnya dengan batang penisku. Ini membuat sensasi tersendiri buatku, melihat mamaku sendiri sedang mengulum batang penisku. Jilatan dan sedotanyang sangat mantap aku rasakan, membuat aku sedikit tida bisa bertahan.

“mamah… sudahhhh ma, nantiihhh arghhh rahman keluarhhh owhhhh….” desahku dan segera aku pegang kepala mamaku agar tidak melanjutkannya lagi. Mama kemudian mengangkat kepalanya dan memandangku dengan senyumannya

“pindah ka… aaaa” ucap mama terpotong karena aku segera bangkit dan membopong tubuhnya. Kurebahkan tubuhnya terlentang di tempat tidurku, dia telrihat sedikit malu memperlihatkan vaginanya kepadaku. Perlahan aku mendekatinya dan kucium bibir indahnya

“Ehmmmm…..mm….m….mm….mmmmm” desahan mama. Tangan kanan mama memegang penisku dan diarahkan ke vaginanya.

“dorong pelan sayang…ergghhhh” ucap mama ketika melepas ciuman kami berdua

“Mamahh… enakhhh mahhhh… arghhhh….” racauku

“Enak manahhh erghhh sama temen erghh kamuwhhh….” ucap mama

“mama, mama sayanghhh arghhh… aku suka punya mamah arghhhh…” ucap mama. Aku semakin cepat menggoyang pinggulku, pemandangan indah didepan kedua mataku. Payudaranya bergoyang naik turun seirama dengan goyangan pinggulku. Aku langsung kuremas kedua payudaranya dengan kedua tanganku.

“mamah, kontollku enak di memek mamah owghh… enak sekali mahh… arghhh lebih sempithhh… arghhh… enak sekali ouwghhh…..” racauku kesetanan

“keras… remassshhh yang kuat susu mamah buathhh muwhhhh….”

“sayanghhhh… fuck me harder! Lebih kerass sayanghh.. mamah untuk muwh ouwghhh…. mama akan menjadi wanitamuwhhhh selamanyaaaaaaaaaaaaahhhh….” racau mama. Tubuh mama melengking, kemudian tubuh itu bergetar seperti tersengal-sengal. Kurasakan cairan hangat menjalar kebatang penisku.

“kamu arghhh buat mamah keluar sayangkuwh owh…. hosh hosh hosh” ucap mama

“mah…”ucapku

“Hm…” jawabnya, seakan-akan tahu keinginanku mama langsung membalikan tubuhnya dan menungging di hadapanku. Segera aku masukan penisku dengan bantuan tangan kanan mama

“ouwghhh lebih sempit memekmu becek dan sempit mahh…owgh….” perlahan aku memasukan penisku hingga tenggelam semuanya

“sayanghhh… akmu memang nakal, masa mama sendiri kamu kenthu owghhh….” ucap mamaku

“mama suka kan? Makanya Rahman ngenthu mama… arghh… enak sekali memekmu mah…” ucapku

“Goyang sayang, kenthu mamamu, jadikan mamamu istrimu arghhhhh…” ucap mamaku. aku kemduian mulai menggoyang pinggulku semakin cepat

“Mama adalah milikku arghhh mama punyaku mama istriku, memekmu hanya untuk mah arghhh.. sempit sekali memek mu mamah… owghhh… memekmu menjepit kontolku mah… memekmu menyedot kontolku mamah arghhh… nikmat owgh… mamahhhh” racauku

“ayo sayanghhh… masukan lebih dalam lagi kontolmuhhh… kenthu mamahmuwh ini arghhh…owhhh.. jadikan mamah milikhhmush owghh… kenthu mamah terushhh….arghhhh… mamahh… mamah… arghhhh… akan jadi ayam kampusmu sayanghhh arghhhhh….” racaunya semakin liar

Aku semakin mempercepat goyanganku, semakin kuat aku menghentakan penisku di dalam vaginanya. Membuat kedua tangan mama sudah tidak kuat lagi menumpu tubuh bagian depannya. Dia tersungkur dengan posisi pinggulnya mash menungging. Aku masih tetap dalam posisi menggoyang pinggulku maju dan mundur.

“Aghhhh…. syaangkuwhhh… owghhh…. lebih kerashhh lagih lebih dalamhhh lagih owghhh… mama suka kontol kamuwh owgh… mau kontol kamuwh owgh….”

“sirami… sirami rahimmhhhh argghhhh mamah denganhhh pejuhhhh pejuhhhmuwh….” racaunya

“Iya ma hashhh arghhhh akan kusiram rahimmu dengan pjuhhhh arggghhhh kuuuwhhhh owghhh…”racauku. semakin lama intensitas goyanganku semakin cepat dan membuat aku merasakan akan keluar.

“Mamah… aku sudahhh arghhh mau keluarhhhh owghhh….” racauku

“Keluarkan sayang owghhh mama juga hampirhhh keluar owghhh kontolmu buat owgh keluar arghhhh… ahhhh keluarkan owghhhh di memek mama sayang arghhhh hashhh….” racaunya

“ARGHHHHHHHHHHHHH!” teriakku

Croot croot croot croot croot croot croot croot croot

Aku ambruk di atas tubuh mama yang telengkup di atas kasur. Tubuhku jatuh kesamping mama, mama kemduian membalik tubuhnya dan masuk dalam dekapanku. Aku tidak pernah menyangka bakal terjadi seperti ini, aku juga tidak pernah menyangka akan melakukannya dengan wanita yang aku hormati, mamaku.

“Sayang… maafkan mama ya…hash hash hash” ucap mama

“Maafkan Rahman juga ma… hash hash…” ucapku

Kami berdua kembali berciuman dan saling memeluk erat. Kehangatan payudara mama yang menempel di dadaku membuat aku merasa nyaman ditambah lagi dengan kehangatan tubuhnya.

“Mulai sekarang, Rahman pulangnya lebih rajin ya, biar mama tidak sendirian” ucap mama pelang dengan mata terpejam

“Bahagiakan mama, jangan tinggalkan mama, mama sudah tidak bisa merasakan kebahagiaan jika dengan papamu” ucap mama

“Iya ma, pasti, aku akan membahagiakanmu” ucapku dengan memeluknya erat

“I’ll be everything you want dear” ucap mama

“me too…” ucapku

Aku sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa. Dengan adanya mama sejak saat itu membuatku lebih nyaman dan lebih tentram. Tak perlu lagi merasakan sakit hati ataupun bermain cinta diliuar. Aku tahu ini salah tapi aku sejak pertama kali aku melakukannya aku tidak bisa berhenti. Mama menjadi lebih bersemangat dalam hidupnya dan satu kenyataan pahit yang aku dapatkan dari mama adalah Papa. Papa selama ini yang terlihat baik dan berwibawa ternyata dia memperlakukan mama dengan sangat keji. Ditambah lagi dari pengakuan mama, papa selalu berman cinta diluar sana. Memang tak ada bedanya denganku, tapi sejak ada mama, aku sudah menjadi pribadi yang berbeda. Walau setiap saat aku seperti orang stress karena menyetubuhi mamaku sendiri. Aku harus bercerita ini kepada Arya, hanya dia satu-satunya sahabatku yang bisa aku percaya dan tidak mungkin dia memanfaatkan situasi ini. Ya, Arya…
————————————————————————————————————————

“Gila! Eh ya ndak juga sich, kalau gila aku juga gila, aduh bagaimana ini? aku juga tidak bakalan bisa memberi saran ke Rahman” bathinku

“itu beneran apa bohongan?” ucapku

“Beneran Arya, sahabatkuuuuuuuuu” ucap rahman. kalau kata orang inggris “speechless” tapi kalau kata orang indonesia “Bengong” Kalau kata orang di daerahku “Ngowoh”. Benar-benar diluar dugaan, Aku melakukannya dengan Ibuku dan Rahman melakukannya dengan mamanya. Namun aku tidak ingin bercerita mengenai diriku dan Ibu, karena itu adalah rahasia kita berdua.

“Jujur kang, aku bingung…” ucapku

“Ente yang denger aja bingung apa lagi ane, ar?!” ucap rahman

“terus apa yang akan kamu lakukan kang?” ucapku

“Hashhh…”

“Ane jatuh cinta pada Ibuku sendiri Ar” ucapnya. Aku terkejut dengan pernyataan Rahman, dia memiliki hal yang sama dan terjadi padaku.

“Ane hanya takut jika kebablasan Ar, walau begitu mama terus membujukku untuk mencari pasangan juga, bingung aku Ar?”

“Disisi lain Mama juga bercerita mengenai kasarnya Papa selama pernikahan mereka, apalagi ketika melakukan hubungan seks dengan Papa, mama sering dijadikan anjing peliharaan Papa”

“maka dari itu Ar, mama lebih suka bermain denganku tapi…”ucapnya

“Tapi apa kang?” ucapku

“Mama sering mengajakku main diluar Ar, dan yang kamu lihat malam itu adalah aku dan mamaku” ucap rahman

“heghhh….” aku hanya bisa terkejut saja, pantas saja aku sedikit mengenal tubuh itu

“bagaimana ini Ar, disisi lain kadang mama juga menginginkan aku bermain kasar, aku kasihan Ar” ucap Rahman

“Aduh bagaiaman ini, aku saja belum menemukan solusi tentang hubunganku dengan Ibu, masa aku harus memberi solusi ke kang rahman?” bathinku

“Emm… kang?” ucapku

“ya…hashhhhh” jawabnya dengan semburan asap putih

“Aku tidak tahu menahu tentang hubungan itu, dan aku tidak memmpunyai solusi bagi hubungan kalian tapi memang alangkah baiknya jika kamu mencari pasangan juga, sesuai perkataan mamamu”

“Terus…” ucapku

“terus Apa ar?” ucapnya

“Jika kamu memperlakukan seorang wanita dengan liar maka dia akan menjadi liar, jika kamu memperlakukan dia dengan lembut dia akan menjadi seorang yang lembut” ucapku

“mungkin yang terakhir ane akan mencobanya, tapi untuk kmencari pasangan, ane hanya takut jika kelak pasanganku itu mengetahui hubunganku dengan mama, itu bisa menjadi boomerang bagi keluargaku” ucap Rahman

“Benar juga, jika saja suatu saat nanti pasanganku mengetahui hubungan itu, mungkin dia akan menjauh dariku” bathinku. Aku kemudian merebahkan diriku di atas rerumputan dengan bantalan kedua tanganku.

“Kang….” ucapku

“Hm…” jawab rahman

“Pasti dari jutaan wanita itu ada yang mau menerimamu apa adanya, dan jika dia benar-benar menerimamu mungkin kamu dan mamamu bisa menghentikan hubungan kalian berdua” ucapku

“Dimana ane bisa menemukan wanita seperti itu Ar?” ucap Rahman

“jika kau bertanya tentang itu, Entah Kang… aku tidak tahu… ”

“Kamu akan menemukannya jika kamu mau mencarinya” ucapku

“benar juga sahabat, aku tidak akan menemukannya jika tidak mencarinya”

“hanya saja ane masih ketakuatan, jika waktu yang aku gunakan dalam mencari pasangan hidupku itu ternyata membuatku semakin cinta terhadap mamaku sendiri” ucap Rahman

“Kita tidak akan pernah tahu api itu panas jika kita tidak berada didekatnya”

“Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya jika kita tidak mencobanya” ucapku

“Huh…”

“itulah ente” ucap Rahman

“Seandainya kamu tahu kang, aku juga memiliki masalah yang sama denganmu, dan aku mengalaminya lebih dahulu dari kamu kang” bathinku dengan mataku yang memandang ke langit malam

Dalam hening kami kami disapa oleh angin malam yang berhembus. Dalam remang-remang kami menerawang. Entah apa yang ada dipikiran Rahman saat ini, yang jelas pikiranku hanya tertuju padamu Ibu. Aku merasa sangat bersalah kepada semua orang disini, apakah memang aku tidak ada bedanya dengan Ayahku sendiri? Kata Ibu aku berbeda dengannya, dari sikap, cara pandang dan bahkan daya tarik terhadap perempuan aku lebih dari Ayah. Ibu, jika aku pulang nanti aku akan paksa Ibu untuk bersamaku, aku tidak peduli dengan Ayah.

“Ar, ane masih bingung…” ucap Rahman

“Lebih baik sekarang kamu pulang kang, temui mamamu dan ajaklah dia berbicara agar tidak terlalu keluar dari jalur, paling tidak kalau melakukan tidak di rektorat” ucapku

“mungkin benar apa katamu”

“Ya sudah aku pulang dulu”ucap Rahman. ketika rahman pulang aku kemudian menelepon Tante ima.

“Ya halo ar…”

“Tan, bagaimana kabarnya?”

“baik, kamu sendiri?”

“baik, oia tan…”

“Ada apa?”

“Hashhhh… tolong hubungan kita terdahulu jangan di beritahukan kepada rahman”

“tidak akan Ar, tenang saja kamu ya?”

“tan…”

“Iya…”

“lepaskan rahman ketika dia sudah memiliki pasangan hidup”

“Eh… dia bercerita kepadamu Ar?”

“Iya semuanya tan”

“Maafkan tante, karena om-kamu, seks menjadi kebutuhanku”

“tapi bisakan jika suatu saat tante melepaskan Rahman jika dia sudah menikah?”

“Tergantung pada rahman…”

“terima kasih tan”

“sama-sama”

Tidak ada percakapan lanjutan dengan tante, karena memang aku sudah memantapkan diriku untuk berhenti menyentuhnya. Aku bangkit dari tempatku duduk dan kemudian aku arahkan motorku ke arah warung wongso. Mungkin dengan dia aku bisa curhat. Sesampainya di warung wongso aku kemudian masuk dan menyalami Ibu dan adik wongso, kulihat dia sedang mencuci piring dan gelas di belakang dan hanya meyapaku sekedarnya saja. Dengan santai akulangsung membuat minuman sendiri lalu ku bawa ke depan warung. Wongso kemudian datang, diraihnya bungkus rokokku dan disulutnya sebatang, dia duduk disebelahku.

“bagaimana dengan kuliahmu cat?” ucap wongso

“beres wong, kamu jadi kuliah lagi semester depan” ucapku

“jadi, aku cuti setahun saja Ar, ekonomi keluarga sudah stabil” ucap wongso

“jika nanti kamu butuh sesuatu, bilang saja ma aku wong” ucapku

“iya arya yang baik dan gemar menabung…. plak…” ucapnya sembari menampar kepalaku

“dasar wong edan!” bentakku

“Oh ya, bagaimana dengan Bu Dian itu?” ucap wongso

“Sudah enggak Wong..” ucapku

“mungkin seharusnya kamu itu….” ucap wongso terpotng

Greeeeng greeeeeng greeeeeeng greeeeng pluk. Ringtone sematpon wongso.

“tumben dira telepon” ucap wongso

“alah paling dia kangen sama kamu ha ha ha” ucapku

“gundulmu!”

“Ya Dir, halloooo….” ucap wongso

“APA! DIMANA?!” wongso bangkit dari duduknya, membuatku sedikit kaget

DICAFE?! OKE AKU KESANA SAMA ARYA?!” lanjut wongso dengan bentakan yang lebih keras

“A.. ada apa wong?” ucapku yang ikut bangkit

“Gerombolan siapa itu cowok yang mukulin kamu?” ucap wongso yang nampak kebingungan

“Lucas?”ucapku

“iya, dia sedang di cafe yang kemarin, ini dira disana, katanya tukas arghhh kupas kakas” ucap wongso tambah kebingungan

“lucas? Tenang saja kenapa kamu” ucapku

“alah ndak penting namanya, dia sekarang sedang membuat onar di cafe itu, cecunguk itu sedang mengeroyok seorang lelaki yang bersama Bu Dian di depan cafe”

“Si empunya toko di sandra agar tidak menelepon polisi, ini dira lagi ngumpet ditoilet dan telepon aku” ucap wongso

“Bu Dian?! Kenapa harus wanita itu lagi? Kenapa dia selalu berada di sekitarku!” bathinku

“Malas wong…” ucapku santai dan kembali duduk

Bugh…. pukulan ringan mendarat di pipi kananku

“aku ndak ngerti masalah kamu dengan wanita itu, dia mau nyakitin kamu, dia mau membunuh kamu, aku ndak peduli, tapi ini mengenai Dira! Dasar ******!” bentak wongso

“Dira, dira sahabatku” bathinku. Segera bagkit dan naik ke motorku

“Ayo ndes ojo kesuwen, selak perawane nglahirke (ayo ndes jangan kelamaan, keduluan perawannya melahirkan)” teriakku,

“O… Lha celeng kowe Ar, Raimu Pak Tai tenan Ndes! (O… lha babi hutan kamu Ar, Wajahmu kena tinja, pak dari kata gopak atau kena cipratan) ” ucap wongso yang kemudian memboncengku.

“Hei, bawa ini” ucap Ibu wongso yang melemparkan kayu pemukul dengan ukiran yang khas dan ditangkap oleh wongso. Dari mata Ibu wongso seakan-akan yakin bahwa anaknya akan memenangi perkelahian ini. Dalam perjalanan wongso menelepon sahabat-sahabatku yang lain agar segera datang. Ku tancap pedal gas eh salah ku tarik gas secepatnya dan sampailah aku dan wongso

Di depan sana, dari kejauhan terlihat seseorang yang sedang diinjak-injak hingga di tepian jalan. Lelaki itu adalah pak felix, ya! pak felix. Seorang wanita mencoba mencegah kerumunan orang yang sedang menginjak-injak pak felix, perempuan itu adalah Bu Dian. Segera kutabrakkan sepeda motorku ke orang terdekan hingga dia terpental. Satu persatu mereka bergerak mundur.

“WOI KALO BERANI SATU-SATU LO! JANGAN MAIN KEROYOK!” bentakku, sembari mengangkat tubuh pak felix. Bu Dian yang sedari tadi mencoba melepaskan genggaman Lucas, akhirnya bisa terlepas dan langsung berlari ke arah pak felix. Bu Dian kemudian memapahnya mundur

“Arya terima kasih hiks hiks” ucap Bu Dian yang melangkah mundur. Aku dan Wongso berdiri di depan mereka berdua.

“Well well well wewe gombel… ternyata para jagoan sudah datang, jadi aku tidak perlu mancari kalian lagi ha ha ha” ucap lelaki dari dalam cafe yang kemudian berjalan keluar. Cafe sudah terlhat sangat sepi tidak ada pengunjung sama sekali. Mungkin karena keonaran mereka dan para pengunjung pergi dengan sendirinya.

“Lucas!” gerutuku

“Sekarang apa kalian bisa mengalahkan pasukanku, lihatlah kalian Cuma berdua dan kami berjumlah 30 orang, apa bisa kalian mengalahkan kami ha ha ha ha” ucap

“Ar, kayane bakalan modar awake dewe (kayaknya kita bakalan mati)” ucap wongso setengah berbisik kearahku

“Lha wes piye maneh? Mau ndadak mangkat (lha mau bagaimana lag? Tadi kok ya berangkat)” ucapku

“Ar, kalau aku mati disini, tolong jaga keluargaku ya” ucap wongso

“Gundulmu Su….”

“Tidak, kita akan hidup dan mereka yang akan mati” ucapku

“ternyata wongso dan arya, bagaimana kabar kalian?” ucap seseorang dari belakang lucas yang ditemani dengan seseorang lagi

“Paijo!”

“Ilman!” ucap kami bersamaan. Seorang musuh bebuyutan dari geng koplak dan selalu membuat masalah dengan geng koplak. Dia adalah teman SMA yang selama ini selalu bersebrangan dengan kami, mereka berdua merupakan ahli beladiri sama dengan kami. Mereka dikeluarkan dari perguruan karena tindakan indisipliner.

“ha ha ha… sekarang akan menjadi akhir dari geng koplak ha ha ha” ucap ilman

“HAJAR MEREKA!” teriak lucas

AKU
Satu orang maju memukul dengan tangan kanannya dapat aku hindari, segera aku tarik tanganya dan aku banting kebelakang. Tiba-tiba ada orang lain yang menendang punggungku, aku hampir jatuh tersungkur, aku segera berbalik dan kudapati seseorang akan menendangku lagi. Dengan kaki menyodok kedepan aku arahkan tendanganku ke bagian selangkangan lelaki tersebut hingga jatuh tak berdaya. Aku maju kudapati dua orang memukulku secara bersamaan dan aku segera menunduk. Dengan dua kepalan tangaku aku meng-upper cut dagu mereka berdua.

WONGSO

Wongso yang memainkan kayu yang diberikan Ibunya, langsung memeukul ke kepala seseorang dari mereka hingga terjatuh dan tersungkur. Diayunkannya dari kiri kekanan kayu itu ke arah dua orang di depannya, dua orang itu dapat menghindar dengan baik namun dengan lihainya wongso mengayunkan kembali kayu itu lebih rendah dari kanan kekiri, pertama mengenai orang tersebut da labgsung terjatuh menghantam orang di sampingngnya. Wongso kemudian mengayunkan kayu itu dari atas ke bawah ke arah kepala orang yang tertubruk tadi. Darah berkucuran dari ketiga orang yang dihantam oleh wongso.

AKU DAN WONGSO
Baru saja aku dapat melumpuhkan empat orang dan wongso baru melumpuhkan tiga orang. Tiba-tiba dari belakang kami, ada yang berteriak memanggil kami.

“ARYA”

“HEI WONGSO” teriak dua orang bersamaan memanggil kami dari belakang, kami menoleh dan…

Pyaaaaar……

“ARYAA!” teriak Bu Dian dan Pak Felix

Sebuah pukulan botol menghantam kepala kami berdua, kepalaku terasa sangat perih dan ngilu. Aku jatuh seperti orang merangkak, begitupula wongso langsung jatuuh berlutut memegang kepalanya. Darah menetes ke atas lantai parkir ini.

Bugh… ditendangnya tubuhku dan tubuh wongos hingga tersungkur bersebelahan. Sial, ternyata ilman dan paijo yang mengendap-endap dari belakang. Dengan membawa botol minuman yang sudah pecah karena mengenai kepala kami berdua.

“Saksikanlah… saksikanlah kehancuran pentolan Geng koplak! Ha ha ha ha” teriak Ilman

“Bunuh dia sekalian ha ha ha” ucap lucas

“Pastinya kita buat lumpuh mereka seumur hidup ha ha ha” teriak paijo

“Sialan! beraninya dari belakang!” bentak wongso

“inilah hidup kawan ha ha ha” teriak ilman

“Heentikan! Hentikaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan!” teriak Bu Dian

“Eh Ibu cantik diam saja, nanati urusan Ibu denan kontol saya”

“pegangi dia dan laki-laki itu!” ucap ilman kepada beberapa orang suruhan lucas

“Hei kalian bisa saya laporkan ke polisi!” ucap pak felix

“Iya sebelum kamu lapor kamu sudah mati dulu ha ha ha” ucap paijo

Dengan tubuh tak berdaya aku, kepalaku terasa sakit dan pening. Tiba-tiba injakan tepat pada perut kami membuat kami semakin merintih kesakitan. Ilman dan paijo tidak henti-hentinya menghajarku dan wongso. Beberapa orang dari mereka juga menendangi tubuhku. Dengan sekuat tenaga aku memegang satu kaki mereka dan aku dorong, aku peluk tubuh wongso sehingga wongso tidak mendapatkan tendangan lagi. Ilman kemudian menarikku dan paijo menarik wongso, jujur aku dan wongso sudah tidak berdaya lagi seperti sebuah kain yang diangkat oleh mereka berdua. Ditendangnya perut kami berdua hingga jatuh bersujud, kemudian kami bangkit. Baru saja kami mencoba bangkit degan tubuh sedikit membungkuk.

“MATI KALIAN!” ilman dan paijo masing-masing mengangkat dua buah botol yang akan di hantamkan di kepala kami.

“Aku akan mati….” bathinku. Aku melirik wongso dan kulihat dia tersenyum. Diacungkannya jempol kananya kearahku.

May be this is Goodbye……

“ARYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!” teriak Bu dian

Bersambung

Hallo Bosku, Disini Admin KisahMalah
Agar Admin Semakin Semangat Update Cerita Cerita Seru Seterusnya, Bantu Klik Iklan yang Ngambang ya.
Atau Gambar Dibawah INI

Atau Bagi Kamu yang suka bermain game Poker Online atau Gambling Online lainnya, bisa di coba daftarkan ya. Banyak Bonus dan Hadiahnya Loh.
Untuk yang Kesulitan Daftar bisa Hub Admin di WA untuk di bantu Daftar.
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part