web hit counter

Cinta yang Liar Part 29

0
450

Cinta yang Liar Part 29

Disebuah cafe dimana merupakan tempat makan malamku pertama kali dengan wanita yang pernah masuk kedalam hatiku, Bu Dian. Disinilah tempat dimana aku bertemu dengan beberapa sahabatku pentholan Geng Koplak. Dan disini pulalah kemungkinan hari terakhirku. Dua orang yag dulu selalu membuat Onar di sekolahan kami, yang dulu aku hajar habis-habisan sekarang ada didepanku, ilman dan paijo. Ilman berda di depanku dan paijo berada didepan wongso, mereka memegang dua buah botol yang sudah terangkat oleh kedua tanganya dan siap di hantam kan ke kepala kami. 99,9% jika dua botol itu terkena kepala kami berdua, nyawa kami pasti melayang.

“MATI KALIAN!” ilman dan paijo masing-masing mengangkat dua buah botol yang akan di hantamkan di kepala kami.

“tidak… tidak aku tidak ingin mati disini!” bathinku bergejolak

“heghhhh….” dengan sisa tenagaku aku menahan kedua pergelangan tangan ilman yang hendak menghantamkan botol itu kekepalaku. Begitupula dengan wongso yang memegang tepat botol paijo.

Bugh…. aku dan wongso melancarkan tendangan tepat ke arah perut mereka berdua yang tanpa pertahanan sama sekali. Mereka berdua jatuh terjengkang, botol yang mereka pegang terlepas dari tangan mereka. Aku dan wongso hampir terjatuh setelah menendang mereka berdua, tapi dengan sigap aku dan wongso saling menopang tubuh sehingga aku dan wongso masih tetap dapat berdiri. Aku dan wongso kemudian memposisikan saling membelakangi. Aku sudah tidak peduli lagi dengan tubuh yang lemah ini, aku tidak ingin mati jika aku belum menghajar mereka.

“Wong, kamu ingat film Shonan Junan Gumi?” ucapku dibelakang wongso

“He he he masih saja kamu membicarakan hal yang tidak perlu”

“aku masih ingat” ucap wongso

“Kalau begitu kita mati-matian seperti onizuka dan ryuji, okay su?!” ucapku dengan senyum sinisku

“He he… mati bersama leng!” ucap wongso

“Kamu tetap dibelakangku wong, aku maju kamu mundur, kamu maju aku mundur” ucapku

“Wani piro? He he” ucap wongso

“KOPLAAAAAAAAAAAAAAK!” teriak kami berdua

Aku kemudian maju melancarkan pukulan ke wajah orang yang berada di depanku, namun dapat ditangkisnya dengan kedua tanganya, wongso pun mundur melindungi bagian belakangku. Segera aku lancarkan tendangan ke arah perutnya hingga dia membungkuk, segera aku berikan lututku hingga dia terjengkang. Aku kemudian maju meraih kedua kaki orang tersebut dan kuhimpit pada pinggangku dengan kedua tanganku.

“Wongm kananku!” teriakku. Dengan segera wongso melancarkan tendangan menyodoknya ke arah kananku dengan kaki kirinya.

“Kiri!” teriakku. Dengan segera wongso menyodokkan kaki kanannya ke arah kiriku.

“melu aku wong! (ikuti aku wong!)” teriakku

Dengan segera ku putar-putarkan tubuh orang ini sehingga bagian kepalanya membentur beberapa badan temannya. Hampir aku terjatuh namun wongso yang berada dibelakangku mencoba menyeimbangkan aku agar tersu berputar. Beberapa orang mundur tidak mendekati kami, dan kami tetap berputar dengan tameng teman mereka sendiri. Langsung aku lemparkan orang tersebut ke kerumunan temannya, hingga mereka semua terjatuh terjengkan mencoba menangkap tubuh temannya. Aku kemudian meraih kayunya yang terjatuh sebelumnya, kusodok orang yang tepat berada di depanku hingga dia mengaduh kesakitan. Langsung ku ayunkan kayu itu ke atas tepat pada kepala orang tersebut dan orang tersebut langsung jatuh terjengkang kebelakang.

Klintiiiiing… bunyi botol yang menggelinding pelan karena tersenggol kakiku

Wongso masih dibelakangku mengambil botol tersebut tampak wongso menghindari pukulan seseorang, dipegangnya tangan orang tersebut dan diayunkan botol yang dipegangnya kearah kepalanya. Kami berdiam sejenak menghela nafas, semua mata orang-orang itu menatap tajam ke arah kami, tampak beberapa dari mereka terkapar dan tak berdaya beberapa orang dari mereka ada yang menolong temannya yang terkapar.

“Wong, gowo rokok? (Wong, bawa rokok?)” ucapku

“Mestine gowo to ndul, udud sek po? (Pastinya bawa to ndul, ngrokok dulu po)” ucap wongso. Dengan santai kami menyulut rokok kami, dengan tatapan tajam kami kearah mereka semua.

“Woi, Maju!” teriakku dengan kepala sedikit menengadah ke atas dan tatapan sinis ke arah mereka. Wongso dibelakangku tampak meraih botol lagi dengan tangan kirinya, dia berjongkok jinjit dengan kedua siku tangannya bertumpu pada lutut kakinya.

“Sudah siap mati kalian?” ucap wongso kepada mereka semua yang tampak ketakutan

“AYO MAJU JANGAN BERDIRI SAJA!” teriak llucas

“Cepat Maju, jumlah kalian lebih banyak!” ucap ilman, paijo disampingnya mendorong seseorang untuk maju. Orang tersebut maju seperti orang yanng tersandung ke arah kami dengan cepat wongso menganyunkan sebuah botol hingga pecah di kepala orang itu hingga tumbang bersimbah darah.

“BAJINGAAAAN! HYAAAAA!” teriak paijo yang kemudian berlari dan melompat kearah kami dengan tendangan tepatnya dari arah samping kami. Kami berdua kemudian menghindarinya dengan maju satu langkah, aku kemudian memutar balik tubuhku sambil mengayunkan kayu tersebut dan tepa mengenai wajahnya. Paijo dengan seketika itu ambruk dengan hidung dan mulutnya berdarah, dia bangkit dan kemudian lari mundur dan berdiri disamping Ilman.

“MATI KAU!” ucap ilman yang menodongkan pitol ke arah kami

DHUAAARRRRR! Suara letupan pistol

Kulihat pak felix entah datang dari mana dia menahan tangan ilman dan mengarahkan tembakan itu ke langit. Sedikit bayangan orang dibelakang paijo, orang yang memegangi pak felix terluka pada bagian hidungnya. Pistol ilman terjatuh dan dengan cepat pak felix menyambar pistol teresbut dan dilemparnya jauh, entah jatuh dimana benda itu. Tiba-tiba saja sebuah sebuah botol menghantam kepala bagian belakan pak felix, dia terjatuh dan meringkuk dibawah. Beberapa orang kemudian menghujami pak felix dengan tendangan dan injakan.

“FELIIIIIIIIIIIIIIIIX! Teriak Bu Dian yang tidak dapat berkutik karena dipegang erat oleh orang suruhan Lucas

“SIAL!” ucapku dan wongso secara bersamaan. Aku dan wongso kemudian bergerak ke arah pak felix, menghamtamkan kayu dan botol kami ke arah orang-orang yang mengrumuni pak felix. Di saat inilah pertahanan kami terbuka, tak ada lagi yang dibelakang kami.

Braaaak…. sebuah kursi mengahantam kami berdua, kami terjatuh. Tampak banyak sekali orang yang mengerumuni kami menginjak-injak kami. kulihat pak felix sudah tidak berdaya lagi, aku dan wongso kemudian bangkit, kupegang kaki mereka dan kudorong begitupula dengan wongso. Aku dan wongso kemudian menutupi tubuh pak felix, aku menutupi bagian kepala dan wongso bagian tubuhnya. Terasa sangat perih injakan-injakan ini, aku dan wongso hanya bisa mengaduh dan mengaduh. Disaat itu aku memandang wongso.

“terima ugh kasih ugh rokoknya ughh” ucapku kepada wongso sembari menerima injakan-injakan

“Sama ugh ugh sama” ucap wongso yang mengalami hal yang sama denganku

“Minggir semuanya, ha ha ha” teriak ilman dan paijo secarea bersamaan

Tawa bajingan-bajingan sangat keras di sekitar kami berdua. Manusia-manusia yang hanya bisa bermain keroyokan dan apa mereka tidak pernah mendengarkan lagu band apa? Yang judulnya STOP WAR! Kalau berani satu-satu. Kupandangi mereka satu persatu untuk menginngat wajah mereka jika aku manti dan gentayangan akan aku cari mereka satu persatu. Tatapan mata yang penuh kesombongan terpancar dari mata mereka semua. Dengan tubuh yang sudah bisa dikatakan hancur, aku dan wongso kemudian bangkit dengan saling menopang tubuh satu sama lain.

“HA HA HA HA… SEKARANG SAATNYA KALIAN BERDUA MATI!” ilman berteriak ke arah kami. dua orang dari cecunguk lucas memberikan sebuah batang besi panjang, ilman dan paijo kemudian memegangnya dan mereka berjalan ke arah kami. Sudah tak ada kekuatan di tubuh kami. kupandangi wongso.

“Wong, ududmu isih (rokokmu masih) he he” ucapku pelan

“He he entek cat (habis cat) he he ” ucap wongso kepadaku

“Sudah… hentikan aku mohon hiks hiks hiks aku mohon hentikaaaaaaaaaaaaaaaan!”

“Lucas, kamu ingin aku hiks ambil aku biarkan mereka hidup” teriak bu dian

“Aku ingin mereka mati setelah itu baru aku menikmatimu sayang ha ha ha” tawa lucas dari dalam cafe. Langkah kedua bajingan ini semakin dekat dengan kami, ujung batang besi digesekannya di lantai parkir ini.

“MATI KAU” teriak ilman

“HIYAAAA” teriak paijo

Ciiiiiiiiiiiiiiiiiiiit….

Wuiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing… brak…. bruuuuk….

Sebuah batang kayu besar yang sangat panjang melayang mengenai tubuh ilman dan paijo. Mereka tersungkur dihadapan kami, besi yang mereka pegang terlepas dari tangan mereka. Aku dan wongso memandang ke arah asal leparan kayu itu. Mereka gondes-gondes, bajingan-bajingan, celeng-celeng, asu-asu yang terlalu lama datang, 10 pentil eh pentholan geng koplak. Aku dan wongso kemudian beringsut duduk mencoba menyadarkan diri kami, kuraih tubuh pak felix dan memeluknya. Pak felix hanya tersenyum kepada kami berdua. Dalam suasana terkejut, Dewo dengan sangat cepat berlari ke arah kerumunan orang disekitar kami, dengan cepat diraihnya dua kepala manusia yang sedang tidak siap dan dibentur-benturkan berulang kali dan terakhir di adunya dengkul dewo dengan kepala manusia itu, dan kemudian ditariknya kebwah dua kepala manusia itu hingga terbetur keras dilantai hingga kedua manusia itu tak dapat berkutik lagi, 2 tumbang. Beberapa orang dari mereka yang sudah pulih dari keterkejutan mereka langsung berlari ke arah pentholan geng koplak, begitu pula dengan orang-orang yang memegangi Bu Dian dan Pak felix. Dengan cepat karyo mengayunkan pukulan keras ke kepala orang yang akan menyerangnya, bugh, jelas saja dia langsung tersungkur, mana ada yang bisa menahan pukulan orang dengan berat 120 kg. Karyo kembali beraksi dengan cepat ke arah satu orang lagi, dia masuk dari sisi samping orang itu dan dipeluknya tubuh orang itu kemudian dengan gaya kayang dibantingnya orang itu hingga dari tengkuk orang itu terdengar suara krekkk. Walau beberapa pukulan mendarat di tubuh karyo, dia tidak merasakan apa-apa.

Joko berlari dengan cepat menendang orang yang akan menghantam dewo dari belakanng, tepat di tengkuk kepala orang itu. Orang itu roboh dan langsung diinjak oleh kedua kaki Joko, kini joko berdiri membelakangi Dewo. Tugiyo dengan tubuh kecilnya berlari dengan lincah, diangkatnya tubuh seseorang dan dibantingnya dengan teknik kayang, Anton yang dengan santai menerima pukulan-pukulan dari orang orang itu. Setiap pukul yang dapat dihindarinya pastilah akan berakhir dengan bantingan. 3 orang yang yang dengan brutal menyerang anton semuanya tumbang dengan teknik Judo milik anton. Aris dengan wushunya dikeroyok oleh tiga orang, aris menghindari pukulan-pukulan keras dari lawannya. Dengan cepat diraihnya selangkangan orang itu dan dipukulnya keras, kemudian dia berada dibelakang orang itu dan ditendangnya ke depan sehingga menabrak dua orang lainnya. Diambilnya sebuah botol yang aku tahu itu adalah botol yang digunakan oleh ilman dan paijo saat aku tendang tadi. Dua botol itu langsung dihantamkan aris kekepala dua orang yang ada dihdapanya. Satu orang kemudian dinaikinya dan dihantam berkali-kali tepat dikepalanya.

Udin, melancarkan sebuah tendangan ke arah selangkangan suruhan lucas hingga seidkit membungkuk. Dengan gesit dia hantamkan siku kanannya ke pelipis kanan orang tersebut hingga terjatuh. Hermawan dengan teknik tinjunya melakukan pukulan jap pada kepala seseorang dan diakhiri dengan bogem mentah pada hidung orang tersebut, dengan gaya nasem hamednya dia menghindar dengan sangat lihai setiap kali pukulan datang ke arahnya. Pukulan telak oleh hermawan pada perut orang tersebut menjadi akhir dari orang itu berdiri. Andri dengan taekwondonya, membuat sebuah tendangan-tendangan layaknya Hwoarang (tokoh Teken) kepada dua orang di depannya. Setiap tendangan mengenai bagian-bagian vital dari orang-orang tersebut. Ketika mereka membungkuk, satu persatu dari mereka mendapatkan tumit kaki indah Andri pada bagian belakang kepala mereka.

Parjo yang dengan santai menghadapi tiga orang, menggunakan jurus apa entah aku juga tidak pernah tahu. Parjo dengan gemulai menghindari pukulan ketiga orang itu, dan setiap kali mengindari pukulan orang-orang itu parjo mendaratkan pukulan-pukulan keras tepant diwajah mereka bertiga. Posisi parjo yang berada di belakang seorang yang tadi memukulnya, ditarik kedua kaki orang itu hingga jatuh telengkup. Kemudian parjo melompat dan menendangkan kedua kakinya tepat kekepala dua orang dan kemudian menjatuhkan diri tepat di tengkuk orang yang tadi jatuh telengkup. Dewo meraih kepala seseorang yang kemudian dia tinju dan dilemparkannya kearah Udin, dengan sigap Karyo memeluk orang itu dan dibanting dengan teknik kayangnya.

Tugiyo dan Anton, tugiyo meraih tubuh seseorang dari belakang kemudian dibanting kayang. Anton yang mendapati musuh terkapar dia kemudian melompat dan menjatuhkan dirinya dengan siku tepat dikepalanya. Karyo menarik seseorang dari mereka yang bertubuh kecil dan diangkatnya seperti menagangkat batang kayu dan dilemparkannya kearah kerumunan cecunguk-cecunguk itu. Dewo yang kemudian mengambil sebatang kayu yang aku tahu itu adalah kay pemberian Ibu wongso dengan membabi buta menyikat setiap kepala yang ada didepannya hingga semuar kepala orang-orang itu bersimbah darah dan tak mampu beridiri lagi. Suasana kembali tenang dan tegang, ilman dan paijo kebinngungan melihat segerombolan orang dihajar habis oleh 10 orang yang baru datang. Mereka langkah mundur kearah dalam cafe.

“GONDES! Bisa tidak kalian itu datang tepat waktu” ucapku

“He he he… tambah ganteng tuh kamu kalau pake bedak warna merah he he he” ucap Andri

“gundulmu su (njing)!” ucap wongso. Aris kemudian melepar sebuah botol air mineral 1, 5 liter kearah kami berdua, dengan cepat kami langsung meminumnya dan menyiramkannya ke kepala kami berdua. Tak lupa aku memberikannya kepada ke felix.

“Malah adus to ndes, ijik rusuh ki lho (Malah mandi to ndes, masih rusuh ini lho)” ucap Hermawan

“Cangkem nek ora dipajeki koyo ngono iku (mulut kalau tidak bayar pajak kaya gitu)” ucapku

“Ciye… ciyee… yang lagi pacaran ha ha ha” ucap Parjo

“Kakek’ane kowe su! (kakek’ane kamu njing)” ucapku dan wongso bersamaan. (Kakek’ane sebuah bahasa makian, jujur saja nubie juga tidak tahu bahasa indonesianya). Kemudian Bu Dian yang terlepas dari pegangan itu lari ke arah pak felix dan memeluk pak felix, sebuah pemandangan yang cukup romatis bagiku. Memang mereka sepasang burung dara yang tak akan pernah terpisahkan. Bu Dian tampak menangis sejadi-jadinya dan memeluk pak felix, kemudian di papahnya pak felix menjauh dari kerumunan sahabat-sahabatku dan duduk bersandar pada sebuah tembok pembatas bangunan. Kupandangi mereka sejenak, aku hanya mampu tersenyum.

“ada yang punya rokok?” ucap wongso. Andri kemudian melempar sebungkus rokok dengan korek gas ke arah kami

“ye tak sawang-sawang wajahmu tambah ganten Ar, wong! (kalau tak lihat-lihat wajah kamu tambah ganteng Ar, Wong)” ucap Andri

“MATAMU! (MATA KAMU = bahasa makian)” ucap kami berdua serempak

Suasana menjadi hening, tenagaku sudah sedikit terkumpul ya paling tidak untuk membantu mereka aku dan wongso masih bisa. Kami kemudia berdiri bersama 10 orang yang lain, 12 orang telah siap mengahajar 3 orang tersisa. Dihadapan kami ada Paijo dan Ilman yang berdiri ketakutan, Lucas tampak masuk ke dalam cafe kemudian menarik seseorang

“AAAAAAAAAAAAAAAAAA….” teriak seseorang, Sudira yang diikat dengan beberapa sayatan di tubuhnya, tubuhnya telanjang menampakan tubuh seorang wanita.

“KALO KALIAN BERANI MAJU, AKU BUNUH ORANG INI” ucap Lucas yang mengarahkan pisau ke leher Sudira yang ditelanjangi oleh mereka dan diikat. Kami tertegun, tak bisa bergerak.

“HA HA HA HA… kenapa tidak berani ya? Ha ha ha ha” teriak ilman yang berada didepan lucas kira-kira dua meter

“itu tu banci, kenapa kalian? Kalian homo ya suka sama banci ha ha ha” teriak paijo

“Heh ughh koplak, kalian bukan koplak kalau kalian mikirin Dira! Ayo maju hajar mereka erghhh”

“gak usah mikirin dira, dira baik-baik saja ueghhhh” ucap dira dengan luka pada kepalanya. Baik-baik saja bagaimana, kondisinya saja sangat mengenaskan. Kami semua geram dan bisa menggerutu.

PLAK!

“Diam kamu banci! Ha ha ha ha” ucap lucas yang baru saja menampar dira

Kulihat seseorang bergera mengendap-endap dibelakang Lucas. Didorongnya lucas hingga dia terjatuh dan tersungkur, terlepas pisau itu dari tangannya. Eko, Eko menolong Sudira. Paijo dan ilman terkejut dengan hal itu menoleh kebelakang, dan mereka kehilangan pertahanan mereka. Ilman, karyo meraih tubuh ilman dan langsung dibanting kebelakang hingga jatuh terlentang. Tanganya kemudian ditarik oleh parjo dan dipatahkannya kedua lengan tanganya dengan pukulan serta tendangannya. Setelah parjo, tugiyo melompat diatas tubuh ilman dan didaratkannya kedua sikunya tepat ditulang rusuk kedua orang itu dan krekkk entah apa yang patah. Dibangkitkannya ilman dan kemudian ditendang kesamping oleh wongso tepat pada rusuknya hingga ilman jatuh tersungkur dan kesulitan berdiri. Hermawan kemudian berjalan santai ke arah ilman dengan keras dia menduduki kepala ilman dengan bokongnya. Paijo, Dewo meraih tubuhnya dan dihadiahi tubuhnya dengan dengkul Dewo beberapa kali. Aris kemudian menarik tubuh paijo yang masih membungkuk dan kemudian dibanting tubuhnya kebawah hingga wajanhya menyentuh lantai parkir. Anton dan joko kemudian menarik kedua tangan paijo, dan krekk entah apa yang patah dari tangan paijo. Kemudian tendangan keras dari anton dan joko mendarat tepat dirusuk samping paijo, lalu dilemparnya paijo seperti ayam yang baru disembelih. Udin dengan santai berjalan ke arah paijo, diinjaknya kepala paijo dengan sangat keras.

Aku yang berdiri tepat di hadapan lucas, tiba-tiba karyo maju dan menjambak lucas. Plak…plak…plak…plak….ditamparinya wajah lucas berkali-kali lalu ditariknya dan dilemparnya kebelakang dan disambut oleh andri dengan tamparan serupa. Ditariknya kepla lucas kebelkang hingga tubuhnya ikut terdorong ke belakang, dengan sigap aku langsung meng-uppercut dagu lucas, dengan cepat tak kubiarkan dia jatuh. Kutarik tubuhnya, kupegang kepalanya dan dengkul indahku mendarat tepat di wajahnya. Berkali-kali dengkul itu menikmati wajah lucas, dan kemudian aku tarik wajahnya dan aku benturkan kepalanya di kaca mobilnya, pyaaaaaaar…. Lucas jatuh beringsut di dekat pintu mobilnya.

“Ampuuuun… ampuuuun” ucap lucas dengan wajah bersimbah darah

“Arghhh….” ucap ilman yang tak mampu berkata-kata karena kepalanya di duduki hermawan

“Ampuni kami” ucap paijo yang tepat di mukanya masih ada telapak kaki udin.

“Ampunni kami tolong ampuni kami” ucap beberapa dari mereka

“Ah, sayang, koko tidak akan membiarkan kamu terluka sayangku hiks hiks hiks” ucap eko, sembari menutupi tubuh dira dengan taplak meja

“koko terima kasih, dira sayang koko” ucap dira. Eko kemudian menutupi tubuh telanjang dira yang sudah sama persis dengan perempuan itu dengan taplak meja.

“Edan, malah pacaran!” ucap karyo

Wiu wiu wiu wiu wiu wiu wiu ….

“Polisi” ucap aris

“Kalian cepat sembunyi di dalam” ucap eko. Kami akhirnya masuk kedalam cafe, dan bersembunyi di dalam cafe.

—————————————————————-
Sudut pandang orang ketiga

Polisi berdatanngan mereka mendapat laporan dari pengunjung yang diusir oleh para berandalan ini. Beberapa polisi kemudian meminta keterangan kepada pihak cafe, terutama eko. Beberapa polisi yang lain memaukan satu persatu berandalan itu dalam mobil tahanan, khusus untuk berandalan yang masih bisa berdiri. Berandalah-berandalan yang sudah tak berdaya, akhirnya dipanggilkan ambulan terutama lucas, paijo dan ilman begitu pula felix.

“Sayang kamu bawa mobil kamu saja, nanti susul aku, aku tidak apa “ ucap felix

“tapi bagaimana dengan kamu?” ucap Dian

“Aku tidak apa-apa, sudah tenang saja” ucap felix

“Ibu, bernama Bu Dian?” ucap seorang polisi

“Iya, pak” ucap Dian. Kemudian terjadi interogasi kepada Dian

“baiklah jika nanti kami membutuhkan Ibu sebagai saksi, Ibu Dian siap?” ucap polisi itu

“ya saya siap” ucap Dian. Setelah semuanya dimintai keterangan, polisi-polisi itu mulai pergi satu-persatu, terkecuali satu mobil ambulan.

“Arya…” ucap seorang perawat wanita yang keluar dari mobil ambulan tersebut yang melihat sebuah motor yang dikenalinnya

“Kamu disini dulu saja dik, saya mau kedalam cafe, tidak usah kemana-mana, nanti saya akan tanggung jawab ke atasan” ucap wanita tersebut sambil membawa perlengkapan medic-nya

Dian, kemudian menghampiri Sudira dan Eko, kemudian perawat tersebut juga menghampirinya. Di obatinya luka dira oleh perawat tersebut. Dira hanya diam dan sedikit ketakutan dengan wajah wanita yang sedang merawatnya itu. Tak berani dia mengaduh ketika cairan alkohol menyentuh lukanya.

“Kamu itu ndak berubah-ubah!” ucap wanita tersebut

“he he he tante cantik maafin dira gih” ucap dira

“sudah ayo masuk, ada yang harus tante selesaikan di dalam” ucap wanita tersebut

“eh tante jangan marah-marah dunkz hi hi hi” ucap dira yang langsung terdiam ketika pandangan tajam layaknya elang yang akan menyambar mangsanya tertuju padanya. Dira langsung merunduk dan tak berani berbuat apa-apa. Kemudian dipapahnya sudira yang mendapatkan luka pada tubuhnya oleh perawat tersebut dan juga eko ke dalam cafe diikuti Dian. Hingga didalam cafe.

“ARYAAAAA! KELUAR! ATAU MENYAPU HALAMAN!” teriak wanita tersebut dengan kedua tangan berpinggang. Wanita cantik keturunan jepang itu membuat Dian kaget karena wanita itu tahu tentang seorang lelaki yang dikenalnya, Arya.

Sudut pandang orang ketiga selesai
———————————

Bersambung

Hallo Bosku, Disini Admin KisahMalah
Agar Admin Semakin Semangat Update Cerita Cerita Seru Seterusnya, Bantu Klik Iklan yang Ngambang ya.
Atau Gambar Dibawah INI

Atau Bagi Kamu yang suka bermain game Poker Online atau Gambling Online lainnya, bisa di coba daftarkan ya. Banyak Bonus dan Hadiahnya Loh.
Untuk yang Kesulitan Daftar bisa Hub Admin di WA untuk di bantu Daftar.
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part