web hit counter

Cinta yang Liar Part 32

0
420

Cinta yang Liar Part 32


ECHA ALISIA


ASMARA MEDITA


ERLINA EKA PANGESTUTI​

Di dalam sebuah kamar kos berukuran 4×5 meter ini aku sedang terdiam di depan laptop milik teman perempuanku. Tubuhku kaku dan tak bisa bergerak. Sebuah cutter menyilang di leherku yang dipegang oleh teman perempuanku ini. sebuah kesalahan telah aku perbuat karena membuka folder pribadinya. Entah mengapa setelah aku membuka folder pribadinya dia begitu marah.

“Maaf Ar, Aku sudah bilang sama kamu untuk tidak membuka file-file pribadiku” ucap mbak erlina tiba-tiba sudah berada di belakangku yang tak aku dengar suaranya ketika keluar dari kamar mandi.

“Eh…” ucapku terkjeut, terhenti dan tubuhku tak bisa bergerak. Kurasakan tangan kanan mbak erlina memgang sebuah cutter yang bagian tajam berada di depan leherku.

“Mbak, ada apa ini? ergh…” ucapku terhenti karena bagian tajam cutter itu semakin menekan ke leherku

“Maaf Ar, sebenarnya aku tidak tega karena kamu telah menolongku tapi dengan tindakanmu kali ini aku tidak bisa membiarkan hidup karena bisa membahayakan keberadaanku” ucapnya

“Sebentar-sebentar mbak, aku tidak tahu maksud dari perkataan mbak” ucapku sedikit memundurkan leherku, namun seketika itu pula cutter itu ikut mendekati leherku kembali

“Kamu pasti tahu kan siapa lelaki di foto itu?” ucapnya, aku hanya bisa mengangguk, bahkan untuk menelan ludah saja aku merasakan takut

“Kamu sudah tahu segalanya Ar, kamu harus mati hari ini, maafkan aku” ucapnya

“Kalau mati, aduh aku belum siap, aku baru merokok separo batang dunhill dan sisanya aku masukan ke dalam bungkusnya lagi, sayang sekali… Ibu?! ” bathinku

“Mbak…” ucapku sambil menarik kebelakang leherku hingga bagian belakang kepalaku menyentuh bahu kanan mbak erlina

“Aku punya satu permintaan terakhir” lanjutku yang seketika itu aku teringat Ibuku

“Baiklah… Aku kabulkan permintaan terakhirmu tapi tetap diam disini” ucapnya

“Iya mbak, tolong jaga Ibuku, sampaikan padanya jika aku menyayanginya, aku tidak ingin Ayahku menyakitinya. Dan tolong sampaikan kepada sahabat-sahabatku mereka biasa kumpul di warung milik seorang sahabatku bernama wongso di jalan kencang, nama warungnya warung MUREK (Murah Enak). Katakan Aku sangat menyayangi mereka dan salam koplak, hanya itu saja.” ucapku. Suasana menjadi hening sesaat tak ada kata-kata dari mbak erlina keluar dari mulutnya, nampaknya dia sedang memikirkan sesuatu.

“Kenapa kamu sangat peduli dengan Ibumu, sahabatmu, Ayahmu saja tidak pernah peduli dengan orang lain” ucapnya tiba-tiba

“Aku bukan Ayahku, aku sangat menyayangi Ibuku dan sahabat-sahabatku” ucapku

“Cuuih… jangan berlagak kamu, mana ada anak pembunuh bisa mengatakan sayang” ucapnya

“Pembunuh?…”

“He he he… Mbak, sekarang aku tahu kamu pasti punya hubungan dengan KS, iya kan?” ucapku, tak ada jawaban dari mbak erlina, Dia hanya diam

“Entah apa hubunganmu dengan KS, tapi yang jelas jika kamu mengatakan Ayahku seorang pembunuh kamu pasti tahu sesuatu tentang Ayahku dan aku tidak tahu mengapa kamu bisa tahu jika aku adalah anak dari Ayahku”

“Dan yang jelas, aku bukan Ayahku sekalipun aku anaknya” ucapku

“Sebelum kamu benar-benar membunuhku maukah kau berjanji menyampaikan permintaanku tadi dan jika bisa bawa Ibuku pergi sejauh-jauhnya dari Ayahku” lanjutku

“Aku tidak peduli dengan Ibumu maupun sahabtmu” ucap mbak erlina

“Eh…” aku terkejut dengan perkataannya

“Mungkin aku akan bertemu dengan Ibu di kehidupan kedua” bathinku ketika mendengar kata-kata mbak erlina

“hessssssssh ssssssssh sssssssssssh….” kudengar desah nafas mbak erlina

“aku tahu kamu, ketika aku mencari sematpon milik KS, aku melihatmu menemukannya di kolam ikan tersebut walau tubuhmu tertutup dengan pakaian dan helm. Aku terus membuntutimu dan mencari tahu siapa kamu. Hingga akhirnya aku membuntutimu sampai di kampus dan aku bisa melihatmu secara keseluruhan dan mendapatkan identitasmu” ucapnya

“siapa?” ucapku

“Ya jelas aku yang mencari tahu tentang kamu siapa lagi?!” ucapnya sedikit membentak

“yang tanya?” ucapku dengan santai

“Kamu mau mati saja nyebelin banget ya!” ucapnya

“Segera bunuh aku, tak usah kamu menceritakan detail mengenai kegiatan ddetektif kamu itu. Percuma aku tahu karena setelahnya aku mati. Dan satu hal lagi jika kamu memang tidak peduli dengan Ibuku tolong setelah kamu membunuhnya, kuburkan aku dekat dengan Ibuku dan tentang sahabatku tak perlu kamu menemuinya” ucaku santai

“Segera bunuh aku, agar kamu tidak kehabisan tenaga hanya untuk menjelaskan sesuatu hal yang tidak penting bagiku” lanjutku. Sejenak kemudian mbak erlina mengendorkan tangannya yang memegang cutter. Dengan santai aku mengambil rokok dari saku celanaku.

“Kamu mau apa?” ucap mbak erlina kembali mengalungkan cutter itu kembali

“tenang mbak aku tidak akan melawan, aku hanya mau menghabiskan rokokku tadi, sayang masih separo mbak, biar aku tidak mati penasaran sama rokok” ucapku. Kuhisap separo batang dunhill mild sisa tadi pagi hingga habis, walau masih ada beberapa batang panjang di bungkus rokokku.

“sudah mbak aku sudah siap!” ucapku sambil memajamkan mataku

“kamu ini hiks hiks hiks”

“KENAPA KAMU PEDULI DENGAN ORANG LAIN? KENAPA KAMU PEDULI DENGAN IBUMU?SAHABATMU? KAMU ITU MAU MATI TAPI LAGAKMU ITU! Hiks hiks hiks” ucap mbak erlina tiba-tiba melepaskan cutter dan memukul punggungku

“Aku peduli karena Ibuku mengajariku kasih sayang, cinta dan kepedulian terhadap orang lain, aku peduli dengan sahabatku karena mereka megajariku tentang indahnya perbedaan. Dan aku tenang karena aku tahu kamu akan menguburkan jasadku berdekatan dengan Ibuku” ucapku santai sambil mengambil sebatang dunhill dann kusulut lagi. Kurasakan kedua tangan mbak erlina mngepal dan dijatuhkannya dipungguku. Kepala mbak erlina pun rebah di punggungku. Hanya tangisan yang aku dengar dari mbak erlina yang berada di belakangku

“mbak…” ucapku

“APA! Hiks hiks hiks” jawabnya membentak di iringi tangisan

“Jadi bunuh aku tidak?” ucapku

“Bodoh! Dasar orang nyebelin kamu!” ucapnya membentakku

“Yah, ndak jadi mati…” ucapku kemudian membalikan tubuhku kebelakang dan hegh… mbak erlina langsung memelukku. Wanita berambut panjang yang selama ini selalu tertutup oleh kerudungnya, wajahnya cantik dan putih bersih. Tampak dia mengenakan kaos merah lengan pendek yang ketat memperlihatkan tonjolan payudaranya dan celana training putih

“Aku benci kamu! Hiks hiks hiks” ucapnya sambil terisak

“Yaelah, tadi mau membunuh sekarang malah mengungkapkan perasaan, ini bukan termehek-mehek mbak” ucapku santai

PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK… tamparan di pipi kanan dan kiriku berkali-kali aku dapatkan. Seperti adonan martabak yang dibanting berkali-kali di meja adonan

“DASAR NYEBELIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIN!” teriaknya di depan wajahku sambil menjauhkan tubuhnya dan duduk dihadapanku.

“Sssssssh hhaaaaaaahhhh….” kepulan asap rokok

“Jujur mbak aku tahu lelaki di foto itu, lelaki itu adalah Kaiman Supraja. Lelaki yang dibunuh di perumahan SAE. Aku memang menemukan sematpon di kolam ikan. Awalnya aku tidak tahu mengenai sematpon itu tapi setelahnya aku tahu itu milik siapa”

“Ayahku terlibat dalam pembunuhan itu dan aku bermaksud mengakhiri karirnya tapi tidak dengan serta merta membunuhnya, karena itu terlalu mudah bagiku. Aku ingin dia menderita seperti Ayah dan Ibunya yang dia terlantarkan, seperti penjaga Losmen yang diperalatnya. Aku bisa melakukannya dengan sangat mudah namun jika hanya dia yang aku hancurkan, orang-orang disekelilingnya pasti masih berkeliaran. Aku ingin mereka semua ikut menderita” jelasku dengan asap rokok yang semakin pekat di kamar ini. Mbak Erlina kemudian berdiri dan membuka jendela kamarnya dan duduk di pinggir jendela.

“Kenapa malah kesitu, ntar kesusahan bunuh aku lho mbak?” ucapku dengan santai

“Asap rokok kamu itu, ndak sehat!” ucapnya sedikit membentak dengan sedikit masih tersengal

“Ndak jadi bunuh aku mbak” ucapku

“Kenapa kamu yakin aku tidak akan membunuhmu?” ucapnya

“Sekalipun mbak mampu tapi hati mbak terlalu lemah” ucapku

“Sok tahu!” ucapnya

Suasana menjadi hening sesaat. Kepulan asap dunhill semakin menghilang keluar dari jendela yang dibuka oleh mbak erlina. Aku hanya duduk dan memandangnya, butiran air mata mulai mengering di pipinya. Pandanganya jauh keluar jendela walau sebenarnya pemandangannya hanya taman di depan kosnya. Tampak sekali matanya mencoba mengulang sebuah rekaman memori yang indah. Kumatikan dunhill di piring nasi gorengku dan kini aku hanya berdiam diri di kamar itu.

“Aku adalah anak KS, Kaiman Supraja” ucapnya membuatku sedikit terkejut karena dugaanku pertama, mbak erlina adlaah wanita simpanan KS

“Aku anak dari istri pertamanya, yang sudah meninggal 15 tahun yang lalu. Ayahku kemudian menikah lagi dan mempunyai anak dari istri keduanya. Sekalipun Ayah menikah lagi, kasih sayangnya terhadapaku tidak pernah luntur, Ibu tiriku pun sangat menyayangiku. Setelah Ayah menikah lagi aku tinggal bersama kakek dan nenekku” Jelasnya. Kemudian dia memandangku dan mellihatku tajam

“Apakah aku bisa mempercayaimu jika kamu memang ingin menyingkirkan Ayahmu?” ucapnya

“Aku tidak tahu mbak, yang jelas semua itu tergantung mbak erlina, mau percaya atau tidak” ucapku

Sesaat hening kembali bercanda di sekelilingi kami berdua. Tatapan matanya sangat tajam bak busur panah yang siap menghujamku kapan saja. Ditutupnya jendela itu dan kemudian dudu disebelahku. Kepalanya bersandar di bahu kiriku.

“Ayahmu….”

“Bajingan…” ucapnya

“Aku tahu mbak” jawabku

“Dia memperalat Ayahku sebagai kurir untuk menyerahkan uang hasil korupsinya kepada geng-nya. Ketika keuangan instansinya diaudit, dia meng-kambing hitam-kan adik Ayahku. Ayahku tidak terima dan mau membocorkan kebusukan mereka namun dia dibunuh dengan cara yang keji. Aku tahu itu d dari berita di TV ketika aku berada di rumah kakekku” ucapnya

“Bagaimana mbak tahu jika KS atau Ayah mbak diperalat? Dan bagaimana mbak tahu jika Ayah mbak adalah seorang kurir?” ucapku

“Ketika itu Ayahku dijebak, Ayahku diajak oleh Bajingan itu berpesta hingga dia mabuk berat. Entah apa yang terjadi, di dalam ruang pesta itu tiba-tiba saja Ayahku dituduh telah membunuh rekan kerja si bajingan itu. Ada sebuah video yang ditunjukan kepada Ayahku bahwa dialah yang membunuh rekan kerjanya, namun video itu tampak janggal karena hanya merekam ketika Ayahku memegang pisau yang sudah tertancap di tubuh rekan kerja si bajingan itu. Mayat dibuang kesungai dan tidak ada satupun yang tahu keberadaanya sampai sekarang, bahkan keluarga korban saja tidak tahu dengan siapa korban bertemu”

“Bajingan itu hiks hiks mengancam Ayahku, jika tidak menuruti kemauannya dia akan dilaporkan. Dan kejadian itu terjadi ketika aku masih SMP” jelas mbak erlina yang membuat aku tercekat

“Masalah kurir itu?” tanyaku

“Pernah suatu malam setelah Ayahku menjemputku, aku diajaknya ke sebuah tempat di gedung tua disana sudah menunggu beberapa orang, kelihatanya mereka adalah pejabat penting. Aku bersembunyi di jok belakang, ketika Ayahku menyerahkan uang itu aku merekamnya dari dalam mobil tapi tidak jelas siapa mereka” ucapnya membalikan badan kearahnya dan memgang kedua bahunya

“Mana Videonya mbak, tunjukan kepadaku, aku harus tahu siapa mereka semua” ucapku. Dengan sedikit tersenyum di dekatinya laptopnya, kemudian diubahnysettingan hidden folder menjadi dapat terlihat.

“Ini, lihatlah…” ucapnya. Aku kemudian mengklik video tersebut

——
Kresek… kresekkk… sssh….heh heh heh heh…

“Akhirnya datang juga makan malam kita” ucap seseorang dengan suara yang samar-samar. Tak jelas bentuk dan rupanya karena Suasana dalam gedung tua itu gelap hanya cahaya mobil yang menjadi penerang

“Ini Pak” ucap seseorang yang membelakangi kamera video, suaranya pun juga tidak begitu jelas namun sangat kecil volumenya namun bisa dengar

“Bagus, bagus” ucap seseorang tadi

“Woi tukang, ada makan malam ni, kita bisa pesta” ucap seseorang yang memanggil nama tukang dengan suara khasnya

“Wah wah… asyik juga ya, Woi aspal dihitung dulu berapa isinya?” ucap seseorang yang dipanggil dengan nama tukang dengan suara khasnya. View video yang selalu bergoyang dan terhalang membuat suara kresek-kresek. Selang beberapa saat setelahnya.

“Pas nih, nggak nyangka Si Kebo dan si Gareng itu jago juga” ucap seseorang yang dipanggil dengan nama aspal

“Bilang sama Bos kamu, kita akan pesta dua minggu lagi dan katakan pada mereka, tendernya akan kita kasihkan ke “benderanya”, dan jangan lupa, jangan sekali-kali kamu bertindak bodoh atau kamu tahu sendiri akibatnya he he he” ucap seseorang yang dipanggil Aspal

“Ayo pal, kita pergi” ucap seorang yang di panggil tukang. Selang beberapa saat kemudian, dua mobil itu pergi dan kamera bergerak-gerak denga sendirinya.

“Ayah, kenapa Ayah tidak melaporkannya saja atau Ayah bisa pergi sejauh mungkin dari sini?” ucap seorang perempuan yang tidak lain adalah mbak erlina. Tak ada gambar di video itu hanya hitam dan hitam alias BF (Black Film)

“Ayah, tidak bisa apa-apa nak, jika Ayah pergi atau membocorkan ini semua, bagaimana nasib Ibumu? Bagaimana nasib adik-adikmu? Kakekmu dan nenekmu?” ucap laki-laki tersebut

“Tapi Ayah…” ucap mbak erlina

“Sudahlah nak, mereka sudah tahu mengenai semua keluarga kita, Kakek, nenek, Pak Dhe, Om, Ibu, Adik-adikmu. Mereka bisa dibunuh jika Ayah membocorkan rahasia mereka. Kamu, kamu sebaiknya setelah lulus pergi dari tempat ini, mereka tidak tahu siapa kamu” ucap lelaki tersebut. Sssssstttt…. prttt… pet

—-

“Kemana? Kemana si Buku, kenapa tidak ada di video itu? Di email om nico ada kata-kata si buku” bathinku. Aku mengrenyitkan dahiku, memegang kepalaku dengan tangan kananku. Kucoba klik video satunya lagi tentang rekan kerja Ayahku (Mahesa) yang dibuat seolah-olah dibunuh oleh KS, memang terlihat sangat janggal.

“Ar…” ucap pelan mbak erlina mengagetkan aku

“Eh… i… iya mbak” ucapku

“Ada apa dengan kamu?” ucapnya

“tidak mbak, hanya saja seharusnya mereka lima orang tetapi kenapa dalam video itu hanya ada dua orang, seharusnya masih ada satu orang lagi mbak” ucapku

“Aku tidak tahu Ar” ucapnya hanya merunduk dan meneteskan air mata

“Aku masih beruntung Ar, karena ayah tidak mencantumkan aku sebagai anak di identitasnya apalagi di kartu keluarganya karena setelah Ibu meninggal, namaku digantinya semua mengenai aku dihapuskan dari informasi mengenai Ayahku. Aku dibuatkan identitas baru dan KK baru sebagai anak Yatim Piatu, karena Ayah takut jika suatu hari nanti terjadi sesuatu yang membahayakan paling tidak aku masih bisa selamat. Bajingan-bajingan itu tidak pernah tahu mengenai Aku dan hanya tahu tentang Ibuku yang dibuat oleh Ayah seolah-olah Ibuku tidak bisa memberikan anak kepadanya”

“Sejak.. hufthh… Om di fitnah melakukan korpusi dan masuk penjara, dan Ayah di ancam dibunuh hiks hiks hiks Ayah mengungsikan semua keluarga Ayah ke luar pulau semua dan aku menolaknya hiks hiks hiks. KAMU TAHU AR?! AYAH… AYAH… DIBUNUH LAYAKNYA ANJING! Hiks hiks hiks” jelasnya dengan isak tangis, di benamkannya wajahnya ke dadaku dan kupeluk kepalanya dengan lembut

“Ba… Bagaimana mbak bisa tahu?” ucapku pelan

“Jasad Ayah hiks hiks di hiks hiks dimasukan di rumah sakit tempat aku bekerja.slurrrpp aaahhhh. Lebih dari 21 tusukan pada tubuhnya, tembakan pada kaki kanannya, dan luka gores pada kepalanya seperti luka terseret hiks hiks hiks aku hanya mampu menangis dikamar mandi RS ketika melihatnya,hiks hiks karena aku takut jika ada yang mengetahui identitasku” ucapnya pelan dengan posisi masih dalam pelukanku

“AKU BENCI MEREKA AR, BENCI BENCI MEREKA JAHAT Huaaaa hiks hiks hiks hiks” teriaknya menangis sejadi-jadinya sambil memandangku

“BUNUH MEREKA AR…”

“BUNUH MEREKA hiks hiks hiks” teriaknya dengan kepalan tanganya memukul-mukul dadaku. Aku kemudian berusaha menenangkannya dengan memegang kedua tangannya

“tenang mbak tenanglah…” ucapku mencoba menenangkannya

“hiks hiks hiks berjanjiiah kepadaku bahwa kamu akan membuat mereka menderita”

“BERJANJILAH PADAKU AR….”

“Aku mohon hiks hiks hiks…” ucapnya disertai isak tangis

“Aku janji mbak… aku pasti membuat mereka menderita…” ucapku dengan tatapan mata yang tajam kearahnya. Lebih tajam dari elang yang siap menyambar mangsa yang sedang berlari dibawahnya. Lebih tajam dari tatapan harimau yang siap menerkam mangsanya.

“terima kasih ar, aku sangat berharap kepadamu hiks hiks hiks…” ucapnya. Tanganya kemudian melemah, aku pun melemahkan peganganku. Diusapnya air matanya dengan kedua tangannya

“Mbak, aku memang tidak bisa berjanji dalam waktu dekat namun aku pastikan mereka akan menderita” ucapku serius kemudian tersenyum kepadanya

“Jangan menangis lagi, Pak Kaiman pasti sedih jika tahu mbak menangisinya. Beliau telah berusaha sebaik mungkin untuk menjaga keluarga mbak” tenangku kepada mbak erlina

“Aku kelihatan cengeng ya Ar hiks hiks hiks…” ucapnya

“Wajar itu mbak, ketika kita tahu orang yang kita sayangi pergi dengan cara tidak wajar. Namun, aku berharap mbak bisa diajak berkerja sama, dan aku akan berusaha membalaskan perlakuan yang telah dilakukan bajingan itu terhadap keluarga mbak” tenangku

“terima kasih… Ar…”

“Aku sangat mempercayaimu” ucapnya dengan senyuman

“Mbak bisa mempercaiyai…kummm….” ucapku terhenti. Tiba-tiba kecupan bibirnya jatuh di bibirkku

“mmmm… mbak sudah…. mmmm… aku sudah pernah mmm bilang mmmhhhh kan… no love” ucapku dengan mulut tersumbat mencoba menghindari ciumannya yang terus memburu bibirku

“This is no love, but this gift for your promise”

“Karena aku yakin kamu pasti menepati janjimu” ucapnya yang kemudian menubrukku hingga ku jatuh terlentang

“Mbak… mmm… tidak … mmm…. perlu… seperti ihnih… mmm…”ucapku

“Ambilah Ar, aku memohon…” ucapnya dengan tatapan yang sendu

“Mbak, sudahlah kita tidak perlu… erghhh…..” ucapku terhenti mataku terpejam tidak bisa menolak kenikmatan ini. aku tak berdaya manakala ujung-ujung jari mbak erlina mengelus selangkanganku walau masih terbungkus celana jeans. Terasa sangat nikmat, aku sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Tak ada kucing yang tidak mau ikan goreng.

“Ar…” bisik pelan mbak erlina

“Erghhh…” desahanku dan kubuka mataku. Tak lagi ada Arya yang bisa mengontrol logikanya. Kuraih kepalanya dan kudaratkan ciuman pada bibirnya

“Hesh hesh maaf mbak, aku tidak bisa menahannya lagi” ucapku dengan nafas layaknya harimau yang berlari memburu mangsanya

“ehemmm…” senyumnya kepadaku

Segera aku membalikan tubuhku, kini aku berada di atasnya dengan bibirku yang sudah menempel pada bibirnya. Kedua tangannya meranngkul leherku, menekan erat leherku. Ciuman kami beradu, saling menjilat, saling mengecup, saling menyedot. Kuarahkan ciumanku ke pipinya dan turun ke lehernya.

“ahhhh… Aryaaaahhhh…. ehmmmmm” desah lembutnya

Darahku semakin ternakar, ciumanku kemudian semakin turun ke susunya yang masih terbungkus oleh pakaiannya. Kedua tanganku meremas kedua susunya. Ciuman-ciuman aku daratkan di kedua susunya. Kedua tangan mbak erlina memeluk kepalaku dengan erat, kulirik wajahnya tampak kedua matanya terpejam menikmati perlakuan yang aku berikan. Tangan kananku kemudian turun kebawah, kuselipkan dibalk bajunya dan merayap ke atas menuju gunung indah yang lebih indah dari Mount Everest. Remasan-remasan kecil pada susu kanannya membuat desahan mbak erlina semakin menjadi-jadi. Segera aku singkap kaosnya ke atas dan tersembulah sebuah gunung kembar nan indah. Segera aku tarik kaosnya hingga terlepas. Payudaranya tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, sangat pas dan masih sekal. Payudara yang dihiasi dengan puting kecil ditengah-tengahnya. Kecil? Kenapa kecil kok berbeda dengan punya yang sebelum-sebelumnya aku mainkan? Bodoh Ah!

“Arghhh… Arya… emhhh….” desahnya yang hanya mampu memanggil namaku.

Matanya masih terpejam, kuciumi sekitar puting susu kirinyanya dengan tangan kananku membelai lembut susu kanannya. Ciuman memutar mendekati puting susunya dan hap, kulumat habis dan ku jilati puting susunya dengan pnuh nafus. Tangan kananku pun memainkan puting susu kanan mbak erlina.

“Ergh… Ar, kamu sudah pernah yah… emmmhhh” desahnya pelan

“Slurp slurp… iya mbak slurp slurp…” jawabku

“Ar, dikasur saja punggungku sakit” ucapnya kemudian aku bangkit dan memandang wajahnya. Mbak erlina kemudian menciumku, tanpa dikomando aku membopongnya dan aku dudukan di pinggir kasur dengan ranjang berkaki pendek. Ciumanku saling beradu dengannya, tangan kanan mbak erlina membelai lembut selangkanganku yang masih terbungkus oleh celana jeansku. Dengan kedua tangannya, mbak erlina membuka celana jeans beserta celana dalamku.Toeeeenng…

“Aku bebas… hmmmm ssssshhhhhh aaaaaahhh…. baunya sangat berbeda kakak” ucap dedek arya

Di kocoknya lembut dedek arya dengan tangan kanannya. Tak ada komentar apapun tentang dedek arya dari mbak erlina, aneh memang beberapa perempuan yang bermain denganku selalu memberikan komentarnya tentang dedek arya. Kususupkan tangan kiriku kedalam celanan training mbak erlina hingga menyentuh bagian kewanitaannya.

“Ahhh… pelan ar… slurpp….” desahnya mulutnya yang kemudian tersumpal kembali oleh mulutku

Dengan segera aku menarik celana trainingnya hingga terlepas, kini mbak erlina telanjang tanpa sehelai benang. Kumainkan jariku di klitorisnya, kadang aku kocok pelan jari-jariku di vagina mbak erlina.

“Argghhh… Ar… pelan Ar… emmmmhhh… aishhhh ashhhh aahhhh….” desahnya melepaskan ciumanku dengan kedua tanganya berpegang pada kedua bahuku

“Enak mbak…” ucapku

“He’….em…. Ar erghhhhhh…..” desah mbak erlina

Kumasukan jariku lebih kedalam lagi tampak becek dan sempit. Tapi baru masuk pada kedalaman sekian centimeter, mbak erlina menahan tanganku.

“Masukan Ar, aku sudah tidak tahan lagi…” ucapnya dengan wajah sayu-nya. Tanpa berkata-kata aku kemudian merebahkan tubuh telanjang mbak erlina di kasurnya. Sejenak aku pandangi tubuh indah berbelut kulit yang putih kekuningan ini. wajahnya Ayu nan eksotis, payudaranya tampak sangat kencangn dan menjulang tinggi keatas dengan hiasan puting kecilnya. Segera aku posisikan tubuhku ditengah-tengah selangkangan mbak erlina

“Mbak yakin?” ucapku, dia hanya menjawab dengan anggukanku

“Maaf ya mbak, aku benar-benar sudah tidak tahan” ucapku. Segera aku arahkan dedek arya ke dalam vaginanya

“Arghhhh… PELAAAAN AR… SAKIIIIITTT…. hiks hiks” desah tangisnya, aku sedikit heran kenapa mbak erlina kesakitan, mungkin ukuranku terlalu besar baginya. Aku berhenti sejenak dan kemudian aku coba dorong lagi.

“Arghhh… Aryaaaaa… pelaaaaaaan… sakiiiit sekali hiks hiks hiks” ucapnya mengiba. aku tak tega melihatnya kemudian menarik mundur dedek arya dari vaginanya. Namun kedua tangan mbak erlina meraih tubuhku untuk tidak menghentikan tindakanku

“Mbak…” ucapku

“Sudah, tekan tapi pelan-pelan saja Ar…” ucapnya dengan kening mengrenyit dan raut wajah kesakitan

Aku tekan perlahan, kepala mbak erlina mendongak keatas menahan sakit. Kupeluk tubuhnya dan kucium leher jenjangnya itu. Dengan perlahan aku tekan lagi, namun ada sesuatu yang menghalangi pergerakan ujung dedek arya. Setiap aku mencoba menekannya, mbak erlina mengaduh keras, sangat keras membuat tubuhnya terangkat namun tetap aku tahan dengan pelukanku. Aku tidak habis pikir kenapa mbak erlina sangat kesakitan, sudah kepalang tanggung aku bangkit dan aku bertumpu pada kedua tanganku. Ku hentakan sangat keras untuk menerobos penghalang itu. Dan…

“Arghhhhh…. Sakiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit hiks hiks hiks hiks” teriak mbak erlina denga tubuh melengking keatas bertumpu pada kedua siku tangannya. Spontan, aku langsung memeluknya, kuraih kepalanya dengan tangan kananku dan ku cium bibirnya.

“Sakit banget ar… hiks hiks hiks” ucapnya terisak

“Kita hentikan saja mbak, mbak kelihatan kesakitan “ ucapku

“Pelan-pelan saja Ar… hiks hiks” ucapnya

Ku maju mundurkan pinggulku perlahan, rintihan sakit dari mbak erlina semakin menjadi-jadi. Namun selang beberapa lama, setiap gerakan pinggulku membuatnya merasakan kenikmatan. Mulutnya membentuk huruf O dan kedua tangannya memegag kedua lenganku. Vaginanya terasa sangat menjepit dedek arya, setiap gesekan dengan dinding vaginanya sangat terasa sekali.

“Erhmmm… terus ar, aku sudah bisa menikmatinya owhhh…. lebih keras sedikit ar…”

“Lebih dalam lagi Ar, arghhh… asssshhhh… penismu menyentuh rahimku…” desahnya lembut

“Iya mbak…” ucapku

Aku menaikan tempo goyangan pinggulku secara perlahan. Semakin lama semakin cepat goyangan pinggulku. Tampak kenikmatan mulai didapatkannya, tubuhnya bergoyang ke kanan dan ke kiri. Kepalanya menggeleng-geleng, wajahnya tampak sekali kepuasan. Suasana redup dalam kamar membuatku semakin cepat menggoyang pinggulku. Semakin cepat aku menggoyang semakin sensitif dedek arya. Benar-benar perasaan yanng berbeda dari sebelum-sebelumnya. Vaginanya walau sangat becek tetap bisa mencengkram dedek arya.

“Ar… aku mau pipis.. ergghhhh….”

“Terus ar… erghhhh erghhhh erghhhh….” ucapnya

“Aku juga mbak, vagina mbak sangat nikmat, sempit sekalihhh owhhhhhhhh…” desahku

Aku semakin cepar menggoyang pinggulku, kurasakan spermaku sudah berada di ujung dedek arya. Payudara mbak erlina nampak bergoyang tapi tidak seperti payudara sebelum-sebelumnya yang dapat bergoyang naik turun. Payudaranya bergoyang namun tetap tegak menjulang.

“mba, aku hamupir keluar… “

“Aku keluar mbak, arghhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh” teriakku

“Aku juga Aryaaaaaaaaaaaaa….. aku pipissssss…..” teriaknya

Croot croot croot croot croot croot croot croot croot croot croot

Tubuhnya melengking keatas, dan langsung aku tangkap dengan pelukanku. Cairan hangat mengalir di batang dedek arya. Kupelu tubuhnya dan aku ciumi seluruh wajahnya. Matanya terpejam menikmati sensasi yang baru saja dia nikmati.

“Ash ash ash ash ash….” desah nafas mbak erlina

“emmmm…..” desahku yang membenamkan wajahku di susunya

Setelah nafasnya teratur aku kemudian mengankat kepalaku dan kudaratkan ciuman di bibirnya. Dibalasnya ciumanku dengan sambutan hangat. Kami berpelukan dan berciuman sangat lama. Hingga akhirnya dia merasa lelah dan tertidur. Aku posisikan tubuhku di sampingnya dan kupeluk tubuhnya. Ku ambil selimut yang masih terlipat dibawah kakiku dan kututupi tubuhku dan tubuhnya. Jujur saja aku ingin menambah lagi tapi dengan melihatnya sangat kelelahan aku tak tega. Akhirnya aku ikut tertidur disampingnya. Plup… dedek arya keluar dari sarang barunya.

Malam sekitar pukul 02.00 aku terbangun dari tidurku. Aku kemudian duduk disamping mbak erlina yang masih terlelap dalam kelelahannya. Kupandangi wajahnya dan kukecup keningnya. Aku kemudian bangkit dan mengenakan celana jeansku dan kaosku, ku ambil minuman teh sisa dari makan nasi gorengku tadi. Aku kemudian keluar dari kamar dan duduk bersama sematponku, kusulut dunhil mild. Centung… BBM. Mbak erlina.

From : mbak erlina
Kok keluar, kenapa?
To : mbak erlina
Ngrokok mbak

Kleeek… mbak erlina mengeluarkan kepalanya tampak hanya mengenakan kaos ketat tanpa bra.

“Masuk saja, ngrokok didalam, jendelanya dibuka…” ucap mbak erlina

“Disini saja mbak lebih rileks” jawabku

“MA… SUK…” ucapnya dengan wajah garangnya. Aku kemudian masuk kututp pintu, kulihat mbak erlina berjalan dihadapanku dengan sedikit kesulitan melangkah. Dilepaskannya selimut yang menutupi bagian bawahnya. Ahhh… ternyata dia tidak mengenakan apa-apa.

“Kalau ngrokoknya sudah, tidur sama aku lagi, aku ingin dipeluk” ucapnya

“Yah mbak, sebentar lah, ini rokoknya kan sayang…” ucapku sambil membuka jendela

“iya… iya.. erghhh….” ucapnya sambil kesakitan ketika hendak duduk.

“Ada apa mbak?” ucapku

“sakit tahu!” ucapnya dengan wajah meringis

“Eh…” aku terkejut

“Kenapa sakit? Ada apa dengan vagina mbak erlina? Apakah ukuranku terlalu besar untuk vaginanya?”bathinku

“Sakit kenapa mbak?” ucapku

“Heh! Sini… lihat!” ucap mbak erlina sambil menujuk pada sprei berwarna putihnya. Aku bangkit dan menuju ke arah mbak erlina

“kok ada darah mbak?” ucapku polos

“pura-pura bodoh lagi” ucapnya

“beneran aku ndak tahu mbak” ucapku

“Duduk sini” ucapnya, aku kemudian duduk disampingnya dan di merebahkan kepalanya di dadaku

“kamu pernah melakukannya?” ucap mbak erlina

“pernah” ucapku

“sama siapa?” ucapnya

“ya ada deh” ucapku

“pernah lihat seperti itu erghhh… aduh…” ucapnya ketika mencoba menyilangkan kakinya

“ndak pernah mbak” ucapku. Kemudian mbak erlina bangkit dan memandangku

“memangnya kamu mainnya sama siapa sich Ar?” ucapnya

“ada pokoknya, mbak” ucapku

“jujur sama mbak, kamu pasti main sama cewek-cewek yang sudah pernah begituan kan?” ucapnya dan aku hanya mengangguk

“pantes…” ucapnya sambil merebahkan kepalanya lagi

“pantes kenapa mbak?” ucapku polos

“Pantes kamu ndak pernah lihat darah!” ucapnya

“Kan kalau gituan ndak perlu ada darah mbak, di film-film juga ndak ada mbak” ucapku

“Ya jelas di film ndak ada, apalagi cewek yang main sama kamu sebelumnya”

“karena mereka sudah ndak perawan lagi aryaaaaa” ucapnya

“Eh… perawan?” ucapku

“itu darah perawan, kamu itu nyebelin banget, udah ngambil perawanku masih pura-pura bodoh lagi, iiiiiiiiiiiiih…” ucapnya sambil membetet hidungku. Dia kemudian berbaring lagi.

“Lepas baju sama celanamu kalau mau tidur” lanjutnya. Kulepas pakaianku, seperti kerbau yang dicocok hidungnya aku menuruti kemauannya. Aku tidur disampingnya dan kupeluk tubuhnya, kedua tangannya dan juga tubuhnya tenggelam dalam dekapanku

“jika seorang wanita belum pernah melakukan hubungan seks, pasti akan keluar darah ar. Contohnya aku” ucapnya dengan mata terpejam

“berarti mbak masih perawan dan aku yang memerawani mbak” ucapku

“iya arya sayanng, itu hadiah buat kamu, jangan kecewakan aku ar…”

“tepati janjimu padaku…” lanjutnya. Aku tak mampu menjawab pernyataannya, aku hanya memeluknya

“Ah benar-benar gila, pengalaman pertamaku dengan yang tidak perawan ada dan pengalamanku dengan yang perawan ada. Sungguh berbeda” bathinku

“mbak…” ucapku

“Hmm…” jawabnya

“Boleh lagi ndak?” ucapku

“Ndak, besok lagi, masih sakit tahu!” ucapnya sambil menggigit kulit dadaku

“bobo..” lanjutnya

“iya mbak he he he” balasku. Mau bagaimana lagi, jujur saja sensasinya sangat berbeda ketika dengan mbak erlina. Aku peluk tubuhnya yang hangat itu dan aku ikut terlelap dalam gelapnya malam.

Pagi menjelang tak kudapati mbak erlina di sampingku. Ketika aku duduk pintu kamar mandi terbuka, munculah sesosok perempuan cantik berbalut handuk. Dia berjalan ke arahku dan mengecup keningku.

“mandi sana” ucapnya. Aku kemudian beranjak dari tempat tidur, kuambil pakianku dan segera mandi. Setelahnya aku keluar nampak mbak elrina sedang mengeringkan rambutnya dengan pengering rambut dan masih berbalut. Aku duduk di jendela yang aku buka sambil menyulut dunhill mild. Dengan santai mbak erlina membuka lilitan handuknya dan berganti dihadapanku, sungguh tubuh yang sangat istimewa.

“mbak, mbok ganti di dalam kamar mandi napa?” ucapku

“Kenapa? Kamu sudah llihat kenapa aku harus menutupinya lagi” ucapnya

“Oh iya ya he he he…”

“Mbak, apa benar-benar sangat sakit tadi malam? Aku minta maaf mbak, seandainya aku tahu mbak masih perawan mungkin aku masih bisa mengontrol diriku” ucapku

“Seandainya aku mengatakannya kepadamu, kamu pasti tidak akan mau melakukannya” ucap mbak erlina santai yang masih mengenakan BH, celana dalam kemudian kaos lengan panjangnya.

“Maaf mbak…” ucapku

“Kamu itu aneh ya, laki-laki paling aneh, banyak cowok yang mencari perawan, kamu dapet malah menyesal” ucapnya sambil mengenakan celana pensilnya

“bukannya menyesal mbak, tapi aku tidak enak jika pacar kamu mengetahuinya” ucapku

“Ar…” ucapnya

“Iya…” balasku

“selama kamu belum menuntaskan janjimu, kamu adalah milikku dan kamu setiap minggu harus ke kosku tanpa terkecuali” ucapnya sambil mengenakan kerudung putihnya dengan model masa kini

“tapi mbak kita kan…” ucapku

“iya aku tahu, No Love, tapi sebelum kamu melunasi hutangmu aku tidak akan melepaskanmu. Dan jika kamu lari dariku, kamu akan menemukan jasadku dan akan kutuliskan namamu di sekiar jasadku. Agar kamu menjadi tersangka dan mendekam di penjara” ucapnya

“Haduuuuuh…” ucapku pelan sambil memandangnya dengan senyum

“Dapet perawan tapi resikonya lebih gede ternyata” ucapku

“Ya begitulah… hi hi hi dan aku tidak main-main dengan hal itu”

“Lagian semalam kamu mau nambahkan? Apa ndak penasaran?”ucapnya

“Penasaran.. penasaran mbak, tapi brrrr menakutkan…” ucapku. dia kemudian duduk di bawahku dan menyandarkan kepalanya di kakiku

“Makanya kamu jangan bohong dan harus menepati janjimu, aku sangat bergantung padamu” ucapnya

“Mbak…” ucapku

“hm…” balasnya

“Believe me… and thank you for your guft… i’ll keep my promise” ucapku

“I Believe in you” ucapnya

Aku berada dikosnya hingga makan siang, kini aku benar-benar merasakan kehadiran seorang yang lan. Entah pacar atau kekasih, sekalipun aku bersama Ibuku namun dengan mbak erlina sangat berbeda. Seakan-akan ini pertama kalinya aku memiliki pacar, dia melayaniku dengan sangat riang. Menyiapkan aku makan, minum, kadang memijit-mijit pundakku. Kebersamaanku dengan mbak erlina akhirnya berakhir pada pukul 14:00, aku pulang kerumah dan tidak kudapati Ibu ataupun Ayah. Aku telepon Ibu, katanya Kakek dan nenek masih membutuhkannya di rumah karena pembantu dirumah kakek dan nenek sedang ada keperluan keluarga. ku telepon Wongso.

“Woi cat… dapa?”

“Aku dapat informasi baru”

Aku kemudian menceritakan mengenai mbak erlina. Wongso hanya mengiyakan setiap penjelasanku.

“Minggu depan ke warung cat, nanti aku hubungi anton”

“Ya, oke, oh ya, nanti aku telepon anton”

“Oke”

Selang beberapa saat aku kemudian menelpon anton mengenai perihal mbak erlina. Anton mengiyakan untuk bertemu. Dia menyarankan untuk mengajak mbak erlia juga dalam pertemuan itu, agar IN dapat memberikan perlindungan kepadanya. Aku mengiyakan namun dengan syarat, hanya anton yang mengetahui mengenai mbak erlina tanpa memberitahukan kepada pimpinannya. Karena semakin banyak yang tahu akan semakin berbahaya. Anton mengiyakan dan siap menyamarkan nama mbak erlina dalam laporannya.

Keesokan harinya aku PKL seperti biasa, aku menghadap ke mbak echa untuk memberikan standar analisa yang lebih baku ketimbang yang digunakan oleh perusahaan. Dengan sangat gembira mbak echa menerimanya bahkan mbak echa langsung menawariku pekerjaan di perusahaannya jika lulus nanti. Aku sangat bersyukur karena sudah ada satu pandangan dimana aku akan bekerja nanti. Di dalam laboratorium aku juga dapat beradaptasi dengan baik, ide dan saranku diterima dengan baik pula oleh Yanto, Encus dan juga mbak ela.

Seminggu berlalu Ibu masih di rumah Kakek dan Ayah entah kemana, di hari sabtu ini aku ke kos mbak erlina. Tepat pukul 13:00 aku sampai dikos mbak erlina. Kusampaikan niatku kepada mbak erlina, beberapa saat mbak erlina berpikir. Di awal memang dia tampak sedikit ragu namun akhirnya dia mau untuk bertemu dengan sahabat-sahabatku. Namun kemudian dia mau.

“Emm… Ar…” ucapnya yang masih mengenakan kerudung putihnya

“Iya mbak” ucapku

“Ndak nambah lagi? Hi hi hi” ucapnya

“hadeeeeh… ntar kelamaan mbak, ndak usah saja, pokoknya mbak bisa percaya sama aku” ucapku

“Tapi… kan aku sudah janji sama kamiu ar”

“Beneran ndak mau Ar? Ya sudah aku tak siap-siap saja…”ucapnya sambil bangkit dan berjalan membelakangiku menuju ke tempat tidurnya. Dia kemudian mengambil sematponnya yang berada di kasur dengan posisi berlutut kemudian menungging. Seagian tubuhnya berada di tempat tidurnya. Sebuah pemandangan yang tak pernah aku lihat, wanita berkerudung menggodaku dan kini posisinya juga sangat menggodaku. Entah kenapa akal sehatku selalu hilang ketika bersama mbak erlina, apa mungkin karena dia memiliki penampilan yang berbeda dengan yang lain? Aku bangki tan segera berlutut di belakang pantatnya yang masih terbungkus dengan rok panjangnya yang berumbai

“Mbak…” ucapku. Dia hanya menoleh ke belakang tanpa mengubah posisinya, lalu tersenyum kepadaku. Aku singkap rok panjangnya hingga pinggangnya, terlihat celana dalam tipis dan berpenampilan hamir seperti G-String. Segera aku lorotkan celana dalamnya hingga setengah pahanya

“Katanya ndak mau ahhhhhh…..” ucapnya tercekat, karena ulahku yang langsung tanpa aba-aba menjilati setiap nanometer vaginanya. Lidahku bermain-main di klitorisnya, membuat mbak erlin bergelinjang nikmat.

“Arya… pelan erghhhh… aduh itu itilku kamu apakan ufthhhh enak ar….sssshhh” desahnya

Kujilati vagina bagian bawah dekat dengan anusnya, dan Jari kananku bermain hingga ke dalam vaginanya. Kutekuk jariku dan aku kocok dengan perlahan. Dengan tempo sesingkat-singkatnya aku percepat kocokannku menyentuh bagian atas dinding vaginanya. Kocokanku semakin cepat, kulihat kedua tangannya terbuka lebar mencengkram sprei tempat tidurnya.

“erghhh… ariiiya… essttthhhhh…. ehmmmm…. aku mau pipis…”

“”Arya… oufthhh… aryaa…. aryaaaaaaaaaaaaaaemmmmmmhhh…..” racaunya

Tubuhnya menggelinjang berkali-kali, kurasakan cairan hangat keluar dari vaginanya. Segera aku lepaskan celana jeansku dan toeeeeng… dedek arya bangki, siap masuk! Setelah tubuhnya terdiam aku lesakan dedek arya ke dalam vaginanya. Sangat basah namun sensasi kesempitan dari vaginanya tetap sama seperti ketika keperawanannya hilang di batang dedek arya. Kumasukan perlahan hingga terbenam semua dedek arya di dalam vaginanya, kudiamkan sejenak.

“Pelaaan ar…. masih terasahhh sakithhh oufthhhh….”

“Kalau mau keluar, nanti di keluarkan penis kamu itu essh esh esh” ucapnya kepadaku

“Terserah mbak erlin” ucapku yang kemudian perlahan menggoyang pinggulku. Dengan tempo dan irama yang pas, aku kemudian mempercepat goyangan pinggulku. Aku peluk tubuhnya dan kuremas dua buah payudaranya yang masih terbungkus itu dengan kedua tanganku.

“Owghh… ar… rasanya nikmat sekali owhhh… terus ar… aku suka erghhhh permainanmu…” racaunya

“Aku juga sukahhh has has has vaginamu mbak sempit oufth….” balasku

Aku kemudian memgang pinggulnya dan Goyangan pinggulku semakin cepat membuat mbak erlina hanya bisa mendesah. Tubuhnya setengah berbalik ke belakang dengan tangan kanannya sedikit menahan pundakku.

“Enak mbak erghhh… erghhh erghhh…” ucappku

“He’em…mmmhhh… mhhh…” jawabnya.

Aku semakin cepat menggoyang pinggulku. Gesekan dinding vaginanya yang masih sempit itu membuat kulit dedek arya semakin sensitif. Mbak erlina mulai bergerak tidak kaaruan. Tubuhnya tiba-tiba melengking dan menggelinjang berkali-kali. kurasakan otot-otot vaginanya mencengkram erat dedek arya. Aku diam sejenak, kemudian aku lanjutkan lagi menggoyang tanpa komando dari mbak erlin. Kugoyang pinggulku semakin cepat.

“Mbak, aku mau keluar…” ucapku

“Cabut ar… cabuthhh erghhh….” ucapnya. Aku kemudian menuruti perkataan mbak erlin, kucabut batang dedek arya dan bergerak sedikit kebelakang. Dengan gerak cepat mbak erlin merubah posisinya berbalik dan langsung melahap batang dedek arya dan mengulumnya. Disedot-sedotnya sangat kuat batang dedek arya.

“Mbak aku keluaaaaaarrrr….” ucapku

Crooot Crooot Crooot Crooot Crooot Crooot Crooot

Sperma keluar di mulut mbak erlina, ketika baru beberapa crootan. Mbak erlina melepaskan kulumannya sehingga spermaku muncrat di wajah mbak erlina. Sebuah pemandangan yang memberikan sensasi tersendiri bagiku.

“Banyak banget Ar has has hash…” ucapnya. Dilapnya spermaku dan dengan ujung kerudungnya lalu dia tersenyum kepadaku

“mbak, enak banget, yakin mbak…” ucapku

“hi hi hi… enakkan? Hi hi hi” ucapnya sembari berjalan ke kamar mandi dan kudengar suara gemercik air menandakan dia mandi. Selang beberapa saat dia menyuruhku mandi juga.

Setelah kami berdua bersih, aku sedikit mengobrol dengan mbak erlin. Aku menanyakan kepadanya mengenai perihal kulumannya yang seakan-akan sudah menjadi kebiasaannya. Jika dia baru pertama kali melakukannya biasanya akan terasa sakit. Dia hanya menjawab, dia sudah sering melakukannya dengan pacarnya yang berada di luar kota. Paling tidak setiap satu bulan sekali selama 3 hari pacarnya akan menginap dikosnya dan mbak erlin memberikan servis kuluman kepadanya. Perihal keperawanannya aku disuruhnya untu tenang,karena dia mengaku pada pacarnya kalau keperawanannya sudah hilang akibat kecelakaan jatuh dari sepeda motor. Konyol memang tapi mau bagaimana lagi, mbak erlin yang dengan suka rela memberikannya kepadaku.

Ku telepon Anton untuk menemuiku di warung wongso dan dia mengiyakannya. Pertemuan di warung wongso pukul 16:00. Segera aku berangkat dengan mbak erlin ke warung wongso tanpa memberitahukan ke wongso. Selama perjalanan sematponku bergetar terus-terusan dengan nada sambung panggilan, namun aku acuhkan. Setibanya aku disana aku melihat wongso sedang menata motor yang parkir di warungnya, dia tampak kaget dengan kehadiran bersama mbak erlina. Bahasa tubuhnya menyuruhku untuk segera pergi dari warungnya, namun aku cuek saja.

“Kaya orang gila saja kamu itu Wong?” ucapku sambil turun dari motorku bersama mbak erlina

“Kamu pergi sekarang, ada…” ucapnya terpotong

“Hai Ar…” sapa seorang wanita yang keluar dari warung dan berjalan menuju kearahku. Bu Dian, mengenakan celana pensil hitam dengan kaos lengan panjang longgar berwanya putih

“Aduuuh…” ucap wongso sambil kedua tangan berpinggang dan kepalanya menggeleng-geleng

“Lho Ibu kok disini?” ucapku

“Siapa Ar?” ucap mbak erlin

“Aku teman baiknya sekaligus Dosen Arya”

“Kamu sendiri?” ucap Bu Dian sambil mengulurkan tangannya ke Mbak Erlin

“Erlina,…”

“Temannya juga” ucap mbak erlina

Aku kemudian duduk di ujung kursi panjang di depan warung wongso. Bu Dian kemudian duduk di kananku, tiba-tiba mbak erlina mendesakku dan sekarang duduk di kiriku. Wongso hanya duduk di motor pelanggan warungnya. Kuliihatwajah mbak erlina nampak sedikit judes karena Bu Dian yang tiba-tiba duduk di sebelah kananku.

“Kok pada diem?” ucapku

“Tahu tuh, apa ndak tahu kalau kamu dateng sama aku, bisa-bisanya duduk langsung disebelahmu, iiih ndak menghargai aku sama sekali, apa dia ndak tahu siapa aku?” ucap mbak erlina judes

“Owh aku minta maaf er jika terlalu lancang, maaf ya” balas Bu Dian lembut

“iya mbak.. kalau mau duduk disebelah arya ijin aku dulu?” ucap mbak erlina

“Eh… maaf” ucap Bu Dian kemudian membuang muka melihat jalan-jalan yang penuh dengan kendaraan yang berlalu-lalang

“Mbak erlina, sudah mbak, Bu Dian ini Dosenku dan tolong hormati dia”ucapku ke mbak erlina. Sejenak kupandangi wajah lebut Bu Dian yang memandang ke arah jalan

“iiiiiiiiiiiih…” ucapnya mbak erlina sambil melipat kakinya dengan sikunya bertumpu pada pahanya untuk menyangga dagunya

“Weleh.. weleh… Ar… ar… betapa beruntungnya kamu diperebutkan dua wanita cantik” ucap wongso. Aku hanya mengacungkan jari tengahku ke arah wongso.

“Arya, sayang aku pijitin ya kamu kan pastinya capek ya tadi mboncengin aku ya?” ucap mbak erlina yang kemudian memijit-mijit bahu kiriku

“Mbak sudah dong” ucapku sambil mencoba melepaskan pijitan mbak erlina

“Ndak papa, kan kamu capek, wajar kan teman memijit teman.” ucap mbak erlina menyindir Bu Dian. Bersamaan dengan mbak erlina berbicara, sebuah taksi datang dan keluarlah Pak Wan. Bu Dian kemudian bangkit.

“Maaf sudah mengganggu kalian berdua, aku pulang dulu ya”

“Wongso aku pulang dulu” ucap Bu Dian sembari melangkah menuju taksi pak wan

“Iya Bu, hati-hati” ucap wongso. Aku merasa tidak enak dengan sikap mbak erlina terhadap Bu Dian, kemudian mengejarnya

“Pak Antar saya pulang” ucap Bu Dian

“Oh ya mbak” ucap Pak Wan, yang kemudian masuk kedalam taksinya lagi

“Sebentar pak…” ucapku sambil mencegah pintu mobil tertutup

“Bu, tolong maafkan teman saya” ucapku

“Ndak papa Ar, santai saja, lagian aku yang salah sudah mengganggu kalian” ucapnya dengan sambil tersenyum ke arahku

“Jalan pak” ucap Bu Dian

“Duluan mas Arya…” ucap pak wan dan wush taksi berjalan menjauhiku

Perempuan memang sulit untuk dimengerti. Kadang dia cuek bebek, kadang pula mereka meminta untuk diperhatikan. Setiap laki-laki pasti lebih sering salahnya ketibang benernya dihadapan seorang perempuan. Kadang bilangnya tidak ingin diperhatikan, tapi setelah di kabulkan eh malah marah-marah. Bilangnya ndak level, barang sudah dijauhi eh malah mendekat. Bikin bingung saja.

“Karena kamu ndak bisa membohongi persaanmu kakak” ucap dedek arya

“Sialan kamu, siapa yang nyuruh kamu ngomong!” bentak bathinku ke dedek arya

Aku kembali ke arah mbak erlina, dan wongso hanya tertawa cekiki-an. Wajahku lesu karena entah ada sesuatu yang mengganjal di dalam bathinku. Entah kenapa sekarang aku malah merasa sangat bersalah kepada Bu Dian.

“Kamu suka ya sama dosen kamu?” ucap mbak erlina

“ndak mbak, dia sudah bertunangan lagian kenapa juga aku suka sama dosenku sendiri, aku kan bukan levelnya” ucapku

“hi hi hi kamu ndak bisa ngebohongin perasaan kamu sendiri Ar” ucap mbak erlina

“lagian kenapa mbak erlina tadi ngajak perang Bu Dian?” ucapku

“Yeee… iseng saja, karena pandangan matanya ketika melihatmu tampak lain, ya aku tes saja” ucapnya

“Argh mbak itu iiiih…” ucapku gemes

“Sudah tenang saja, No Love, aku Cuma ngetes dia doang kok ndak ada yang lain, kalau dia bener-bener sayang sama kamu pastinya dia akan sangat tersinggung dengan ucapanku dan pastinya dia merasa jengkel karena ndak bisa melakukan sesuatu untuk kamu. Buktinya dia langsung pergi gitu saja, itu tandanya karena dia merasa jengkel pada dirinya sendiri ndak bisa mijitin kamu nempel-nempel kamu hi hi hi” ucpa mbak erlina

“Sok tahu” ucapku

“Bukannya sok tahu ar, hanya saja dia masih menjaga hubungan Dosen-Mahasiswa dengan kamu. Coba saja kalau kamu sudah lulus, bisa lebih nekat dari aku dia itu” ucap mbak erlina

“Iya bener tuh kata mbaknya” ucap asmi tiba-tiba datang dari dalam warung

“setuju ndak mas?” ucap Asmi kepada Wongso

“Aku selalu setuju apapun pendapat kamu sayang” ucap wongso

“Kalian itu erghhhh….” ucapku yang kemudian ditertawakan oleh mereka semua.

Memang ada benarnya kata mbak erlina, tapi mau bagaimana lagi. Sekalipun aku harus maju ada pak felix disana. Masa bodoh ah!. Aku kemudian memperkenalkan mbak erlina kepada wongso dan asmi, ya maklumlah kelupaan. Selang beberapa saat anton datang, lalu aku,wongso dan anton beserta mbak erlina masuk ke dalam rumah. Asmi tetap berada di warung membantu Ibu wongso. Setelah kami berkumpul di dalam rumah wongso, aku kemudian menjelaskan kepada Anton begitupula mbak erlina. Kuperlihatkan dua video rekaman, yang pertama video rekaman yang menjebak KS sebagai pembunuh rekan kerja Ayahku, yang kedua video rekaman serah terima uang yang direkam oleh mbak erlina. Aku kemudian meminta anton untuk merahasiakan identitas mbak erlina kepada siapapun, Anton pun mengiyakan.

“Hufth… Video ini belum bisa dijadikan barang bukti” ucap anton

“Kenapa?” ucap wongso

“Kamu bisa lihat, semua di video ketika penyerahan uang tersebut? Semua gambar tampak buram, wwajah mereka tidak bisa kellihatan. Memang kita bisa menebak-nebak siapa saja mereka, namun tanpa adanya bukti kita akan kalah di persidangan. Rekan kerjaku mengatakan kepadaku bahwa pentolannya ada 5 orang. Jika kita berpaku pada video ini, jumlah orang jika kita jumlahkan jumlahnya hanya 4 orang. Ar, sebelum KS atau Ayah mbaknya ini meninggal kami sudah mengorek beberapa informasi dari KS, KS mengatakan bahwa jumlah mereka ada 5. Waktu itu kami mengintrogasinya di dalam kantor, namun untuk keterangan siapa-siapa saja 5 orang itu belum sempar dikatakan oleh KS. Kami memberinya waktu istirahat saat itu dikantor namun KS ijin untuk pulang dan disitulah kami kecolongan Ar. Kami tidak mengawal KS sama sekali, dan terjadilah pembunuhan itu”

“Bisa di bilang, pembunuh KS sudah berada di dalam rumah KS sebelumnya. Menurut penuturan KS pula kami tahu jika Jsemua keluarga KS sudah di ungsikan keluar pulau. Kami juga tidak tahu menahu mengenai mbak erlina adalah anak dari KS. Untuk saat ini kita harus mencari bukti tambahan dan saksi. Apakah mbak mau menjadi saksi suatu saat nanti?” jelas Anton

“Aku mau, tapi tidak untuk sekarang. Aku tidak ingin berakhir seperti Ayahku” ucap mbak erlina

“Oke, aku akan tetap merahasiakan identitas mbak kepada semua orang tak terkecuali tim dan pimpinanku. Ar… Wong… jika kalian mendapatkan informasi tambahan lagi, segera hubungi aku. Kita akan susun rencana setelahnya” ucap Anton

“Siap Ndan!” ucap kami serentak

Perbincangan kami menemui titik akhir, dimana kita harus mengumpulkan bukti lagi. Karena bukti kita masih kurang. Mbak erlina tampak bahagia karena banyak yang membantunya untuk membalas perlakuan Ayahku dan om Nico terhadap Ayahnya. Mbak erlina pun berjanji jika nanti dia mendapatkan bukti lain akan segera di sampaikan kepada kami. Kami akhiri perbincangan kami dengan canda dan gurau bersama hingga larut malam. Segera aku antarkan mbak erlina pulang kekosnya. Tepat di depan kosnya, ku matikan mesin REVIA.

“Hei Ar, berjuanglah, Dosen kamu itu pasti bisa kamu dapatkan” ucap mbak erlina

“Iya… iya.. tapi ndak mbak” ucapku

“kalau kamu menyerah begitu saja, berarti kamu juga menyerah pada janjimu kepadaku”

“Ya sudah cepet pulang sana dah malam” ucap mbak erlina

“Oke mbak” ucapku. Sembari menyalakan mesin motor REVIA.

“Ar…” ucap mbak erlina

“Iya mbak, ada apa?” ucapku menoleh ke arahnya

“Seandainya saja kita bertemu dari awal, dan aku mengenalmu terlebih dahulu. Mungkin aku akan sangat bahagia” ucap mbak erlina

“Hm hm hm… mbak erlinaaaaaaaaaaaa” ucapku yang mengerti maksud perkataanya

“Iya No Love, tapi tolong sayangi aku jangan jadikan aku hanya sebagai wanita sementaramu” ucapnya. Kulepas Helmku dan Kupandangi wajahnya, kuambil sebatang dunhill dan kusulut

“hufthhh…”

“Mbak…” ucapku

“Iya Ar…” balasnya

“Aku sayang mbak sebagai seorang sahabat dan juga sebagai seorang kakak perempuanku. Sebenarnya aku juga tidak ingin melakukan hubungan seperti yang sudah-sudah kita lakukan. Seandainya saja mbak tidak memberiku hadiah pun aku akan tetap membantu mbak” ucapku

“Karena aku merasakan kehilangan juga seperti mbak, kehilangan Kakek dan Nenekku, Orang tua Ayahku yang harus menderita karena ulah Ayahku. Aku ingin menyingkirkannya bukan membunuhnya, karena aku ingin dia juga merasakan apa yang di rasakan oleh kakek dan nenek” lanjutku

“Eh…”

“Ssssshh…. Hmmmmmssshhhhhh…”

“Ternyata Dian lebih beruntung daripada aku, padahal dia juga cocok sebagai kakak perempuanmu” ucapnya

“Maksud mbak” ucapku

“Ya dia beruntung karena dia memiliki seorang lelaki yang mencintainya sebagai seorang wanita bukan seorang kakak perempuannya. Dan orang itu adalah kamu” ucapnya

“Halah mbak itu mengada-ada” ucapku

“Cara mata kamu memandangnya ketika dia keluar dari warung wongso. Cara kamu memperlakukannya ketika dia mau naik taksi. Itu adalah perlakuan seorang lelaki yang mencintainya” jelas mbak erlina

“Dasar peramal ndak lulus ha ha ha” candaku. Tiba-tiba mbak erlina melangkah menuju ke arahku

“Mungkin aku terlambat, namun dengan aku sebagai sahabat dan juga seorang kakak perempuan bagimu memang sedikit membuatku kecewa namun aku tidak bisa memaksakan kehendakku. Kamu ada untuk aku karena Ayahku, dan aku ada untuk kamu karena janjimu. Aku akan menikmati masa-masa sampai kamu menepati janjimu Ar, dan aku akan doakan kamu bisa bersama Dian” ucapnya tepat di depan wajahku dengan tangannya memegang lengan tanganku yang memegang rokok

“Kamu tidak perlu menyesal atas apa yang telah terjadi, karena aku akan menikmati masa-masa itu. Berjanjilah kepadaku bahwa kamu akan menepati janjimu dan lindungilah aku” ucapnya

“Eh… pasti mbak, aku berjanji… mmm” ucapku terhenti karena mulutku tersumbat oleh bibirnya. Hanya sebentar namun cara dia menciumku berbeda dari sebelumnya, aku dapat merasakannya.

“Hati-hati pulangnya ya Arya nyebeliiiiiiiiiin” ucapnya sembari berlari masuk ke kosnya.

“dasar kakakku yang aneh!” teriakku.

Segera aku nyalakan mesin motorku. Dalam perjalanan pulang aku merenungkan perkataan mbak erlina. Sesampainya dirumah, keadaan masih sepi hanya ada aku sebagai penghuni tunggal rumahku. Kurebahkan tubuhku di kasur kenyamananku. Kuraih sematponku dan ku buka BBM.

“Semua karena kesalahanku”​

Begitulah status Bu Dian

To : Bu Dian
Bu Dian, saya mohon maaf atas sikap teman saya tadi ya bu
Mohon di maafkan.
From : Bu Dian
Ya Ar, ndak papa
Lagi ngapain?
To : Bu Dian
Terima kasih Bu
Lagi mau tidur bu
From : Bu Dian
Ow… met bobo ya
To : Bu Dian
Iya Bu, terima kasih
Bu Dian juga ya, met istirahat
From : Bu Dian
Iya Arya, terima kasih :)

Sebuah pesan singkat masuk ke dalam sematponku, bukan BBM namun Short Message Service. Sebuah perpesanan tua yang sudah jarang digunakan. Bu Dian.


If the moon, embarrassed to shine tonight
and hiding behind the clouds night
I will break the clouds
so that the light accompany your sleep tonight
Goodnight and have a nice dream :)

Aku hanya tersenyum dan tak mampu membalas smsnya. Kupandangi pesan singkat itu hingga lelah mata ini memandang dan terlelap dalam lelahnya malam.

Bersambung

Hallo Bosku, Disini Admin KisahMalah
Agar Admin Semakin Semangat Update Cerita Cerita Seru Seterusnya, Bantu Klik Iklan yang Ngambang ya.
Atau Gambar Dibawah INI

Atau Bagi Kamu yang suka bermain game Poker Online atau Gambling Online lainnya, bisa di coba daftarkan ya. Banyak Bonus dan Hadiahnya Loh.
Untuk yang Kesulitan Daftar bisa Hub Admin di WA untuk di bantu Daftar.
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part