web hit counter

Cinta yang Liar Part 54

0
482

Cinta yang Liar Part 54

Ke mana pun angin berhembus menuntun langkahku
Memahat takdir hidupku di sini
Masih tertinggal wangi yang sempat engkau titipkan
Mengharumi kisah hidupku ini

Meski kuterbang jauh melintasi sang waktu
Ke mana pun angin berhembus, ku pasti akan kembali

Kulukiskan indah wajahmu di hamparan awan
Biar tak jemu kupandangi selalu
Kubiarkan semua cintamu membius jiwaku
Yang memaksaku merindukan dirimu

Meski langit memikatku dengan sejuta senyum
Aku takkan tergoyahkan, aku pasti akan kembali
Aku paaaaaaaasti akaaaaan kembali​


Alunan lagu band lokal kesayanganku yang menemaniku selama perjalanan ke Rumah sakit. Walau band lawas tapi lagu-lagunya bermutu. Bukan lagu mengeja dan tetap berkualitas walau sudah usang. Akhirnya aku sampai di rumah sakit ini, aku segera melangkah menuju resepsionis menanyakan dimana dian berada. Sedikit ingatanku kembali ketika pertama kali bertemu dengan mbak erlina, ya disini ditempat ini. setelah aku mendapatkan informasi, aku segera menuju ke lantai. Ah, seperti biasa aku menggunakan tangga entah kenapa aku mungkin memang orang ****** tapi mau bagaimana lagi naik tangga lebih enak kelihatannya. Bisa menyapa orang ketika bertemu, begitukan dasarnya orang-orang di negara tempatku tinggal. Negara yang selalu ramah… ya begitu pula orang-orang yang berada didalamnya.

Hingga akhirnya aku berada dilantai dimana dian berada, aku lihat tante wardani yang sedang berjalan membelakangiku berbelok. Aku berlari ke arah tante wardani dan tiba-tiba saja sebuah tangan halus menarik tanganku. Aku terhenti sejenak, kulihat ke arah tangan itu menarikku.

“bisa kita bicara sebentar” ucap perempuan tersebut

“eh… mbak itu bikin kaget saja, ada apa mbak?” ucapku

“hanya ingin berbicara saja… di ruanganku, sebentar” ucapnya

“iya mbak dokteeeeeeeer” ucapku mengikutinya keruangannya

Tertulis sebuah ruang dokter bertuliskan , Dr. Ara, simple tidak ada lengkapnya. Aku masuk dan sesaat setelah pintu tertutup mbak ara kemudian berbalik. Tiba-tiba saja memelukku dengan sangat erat.

“terima kasih ar… terima kasih banyak…” ucap mbak ara

“iya mbak sama-sama, jadi yang mau dibicarakan apa?” ucapku

“Cuma pengen peluk kamu saja, rasanya hatiku bahagia ketika mendengar orang-orang itu telah kaku disana” ucapnya

“peluk aku, sekali ini saja…” ucapnya

“haaassssh… okay” ucapku langsung kupeluk tubuhnya

“kamu ndak mau hadiah?” ucap mbak ara

“mbak tahu wanita yang tertembak?” ucapku

“he’em…” balasnya

“mbak pengen aku merasakan bersalah?” ucapku

“tidak…” ucap mbak ara, mengangkat tubuhnya dan memandangku tapi kedua tangannya masih memeluk pinggangku

“baiklah… aku tahu, Dian Rahmawati Sukoco ya? Dia sangat beruntung mendapatkan lelaki sepertimu ar” ucap mbak ara

“eh… kenapa ada nama pak koco sekarang? Kapan dikasihnya?” bathinku

“ya..” ucapku membenarkan walau sebenarnya aku tidak tahu darimana nama sukoco berasal

“aku tidak akan mengangganggumu tapi berikan aku ciuman perpisahan…” ucap mbak ara yang tiba-tiba saja memeluk pinggangku lebih erat, matanya memandangku tajam

“mbaaaak… dian ada disini…” ucapku

“aku tidak akan melepaskan tanganku sebelum kamu memberikannya. Tak peduli… ruangan ini sering dimasuki oleh perawat-perawat yang menemuiku jika kamu tidak memberikannya, mereka akan tahu aku memelukmu disini…” ucap mbak ara, mau bagaimana lagi?

Aku daratkan bibirku di bibirnya, mbak ara memiintaku menciumnya dengan melumat bibirnya. Akhirnya aku berciuman dengan mbak ara, lama sekali berciuman mungkin ada sekitar 10 menitan. Walau dedek arya akku tahu bangun tetap saja dia melemas lagi karena otakku memikirkan dian.

“terima kasih… ar…” ucapnya sembari melepas ciumannya

“sama-sama mbak… boleh aku pergi sekarang?” ucapku, mbak ara mengangguk

Ketika aku membuka pintu hendak keluar…

“Ar, terima kasih banyak seandainya saja aku tidak bertemu denganmu, mungkin semuanya sudah menjadi hilang…” ucapnya

“sama-sama mbak, dan terima kasih mau menolong warga saat aku KKN” ucapku

“iya… oh iya, dia ada diruang VVIP. Disana aku sudah tulis namanya di pintu kamarnya…” ucap mbak ara

“oh oke siap” ucapku

“kamu ndak tanya nama yang aku tulis disana?” ucap mbak ara

“eh, emang ditulis apa?” ucapku

“Arya’s Love” ucap mbak ara, aku malu wajahku sedikit memerah

“yeeee dokter galak ternyata romantis juga ya he he he” ucapku

Aku memandang mbak ara sejenak, pandangan kami bertemu. Mungkin kami berdua teringat ketika kami pertama kali bertemu di rumah sakit ini..

“hi hi hi he he he he… he…. he…. ha ha ha ha ha ha ha ha” tawa kami bersama

Setelah pertemuan dengan mbak ara, aku ke kamar mandi sebentar. Mencuci mulutku agar tak tercium bau mbak ara he he. Selepas keluar dari kamar mandi, aku berjalan menuju ruang VVIP, ketika aku melangkah. Tiba-tiba seseorang memanggilku…

“Ar…” panggil lelaki itu

“eh… kamu nton, aku kira siapa?” ucapku

Anton kemudian mengajakku ke atap gedung, ah dunhill…

“nihhh….” ucap anton melempar sesuatu kearahku, sebuah kotak dan aku buka sebuah botol kecil dan sebuah suntikan

“apa ini?” ucapku

“dasar, kamu ndak lulus SD apa, baca tuh keterangannya, goblol!” ucap anton

“iya pak komandan…” ucapku, aku langsung membacanya

“masih bisa bergerak ndak?” ucapku

“masih tapi terbatas, kalau dikasih itu ya lemes terus, walaupun mereka sehat. Gerakannya pun tidak akan seperti ketika mereka sembuh. Intinya lemas terus lah…” ucap anton

“darimana?” ucapku

“si dokter cantik anaknya pak medita…” ucapnya, ah mbak ara.

“dimana mereka?” ucapku

“lantai bawah kamar dian, masih terkapar…” ucap anton

“nton, makasih banyak ya…” ucapku

“makasih… makasih, emang sini ngasih apa ke kamu? suuuudaaaaaahlaaaaaaah…” ucapnya

“oiya kayaknya koplak bakal jarang kumpul ar…” ucap anton

“lho lho lho… ada apa?” ucapku

“aku sudah melamar anti, dan dia sekarnag tinggal bersamaku. Kemarin aku sempat bertemu dengan karyo, hermawan dan udin. Mereka juga sudah melamat pasangannya dan mungkin yang lain juga. Tinggal kamu…” ucapnya, aku hanya tersenyum mendengar kebahagiaan ini.

“aku akan menyusul… tapi….” ucapku

“tapi apa?” ucap anton

“koplak masih ada kan?” ucapku

“ha ha ha ha… masih ada tapi hanya jarang kumpul. Kalau aku, tahu sendirilah bagaimana aku dhadapan anti..” ucap anton menunjuk hidungnya sendiri

“aku juga nton, kayaknya harus berdiplomasi jauh-jauh hari kalau mau kumpul. Sekarang aku sudah tinggal bersama dian… ssssssssssshhh aaaaaaashhhhhhhhhh… tapi aku harap kita masih tetap menjadi satu” ucapku

“satu ya tetap, tapi kalau dulu kita bisa dari jam 12 malam sampai jam 12 malam lagi sekarang…. paling 30 menit sudah disuruh pulang ha ha ha ha” ucap anton

Aku dan antoon tertawa bersama, ngakak habis tak habis-habisnya aku berhenti tertawa. Jika di lihat lagi koplak memang sangat mencintai pasangannya. Sampai-sampai diberi label suami takut istri, tapi bukan berarti takut yang sebenarnya. Takut kalau sudah tidak ada yang mengendalikan emosi mereka, karena hanya pasangan mereka saja yang bisa. Aku dan anton kemudian berjalan menuju ke kamar ayah dan om nico. Tepat didepan kamar yang dijaga oleh dua petugas…

“masuk saja…” ucap anton, aku mengangguk dan kemudian masuk ke dalam kamar ini. kulihat dua orang memandangku tajam yng terbaring lemas karena perban dan juga kayu-kayu penyangga pada tangan, kaki dan lehernya. aku hanya tersenyum… melangkah menuju ke arah mereka…

“Apa kabar? Bagaimana rasanya?” ucapku sembari berdiri ditengah-tengah mereka

“bajinganhhh kamu” ucap ayah

“dasar bajingan” ucap om nico

“lho… lho kok malah aku? Bukannya kalian?” ucapku

“masih ingat ini?” ucapku sembari melepas kalung dileherku

“kamu….” ucap ayah

“ingat tidak, kan pernah aku perlihatkan ke kalian” ucapku, mereka terdiam

“aku mencari mereka, mereka yang selalu merindukan aku. Aku menemukan mereka, dan mereka hidup berbalik sangat berbalik dengan kehidupan kalian. Kalian bisa hidup enak, makan enak, tidur di kasur empuk… hmmmmm… tapi tahu tidak kalau mereka tinggal dirumah yang peyot, makan juga tidak teratur, tidur saja di ranjang dengan kasur papan kayu…” ucapku

“tahu tidak?” ucapku, mereka terdiam

“TAHU TIDAK! SIAPA YANG BAJINGAN! MEREKA ITU YANG BUAT KALIAN JADI ORANG HEBAT! TAHU TIDAK!” seketika emosiku meledak

“eh… kamu searusnya tidak melakukan ini kepada ka…” ucap ayah

“tidak seharusnya? Aku sudah berjanji kepada mereka, janji harus ditepati dan aku akan membuat kalian lebih menderita dari yang mereka rasakan…” ucapku, aku mendekati mereka dan duduk disamping ayahku

“lho ndak bisa gerak ya?” ucapku

“ergh sialan kamu…” ucap ayah, yang semua tangannya tampak berbalut dengan perban dan juga kayu penyangga

“kakek wicak itu orangnya bijaksana lho yah, bahkan dalam keterasingannya pun mereka masih tetap dianggap sebagai orang nomor satu di banyu biru dan banyu abang, begitu pula nenek mahesawati. Mereka pindah karena memang sudah tidak ingin melihatmu lagi datang, mereka sudah tidak punya apa-apa lagi. Warga tidak bisa berbuat apa-apa karena mereka juga hidup sederhana, mereka tetap membantu kakek dan nenek dalam hal makanan dan lain sebagainya. Bahkan tanpa dibayarpun wara melayani mereka bak raja dan ratu didaerah itu. hmmm… pasangan yang serasi tapi sayang… kamu malah jadi bajingan!” ucapku

“kamu tidak menceritakan mereka mmmmm….” ucap ayahku dan kututup mulutnya dengan tanganku

“dan ayah tahu, kamu juga hei jangan sok ndak denger! Kamu juga di besarkan oleh mereka” ucapku sembari menendang tempatnya berbaring

“arghh… jangan kamu tendang dasar sialan!” ucap om nico

“kamu itu yang sialan, sebut sembarang orang sialan. Dasar bajingan!” ucapku menedang kembali, dia mengaduh kesakitan karena sedikit saja goncangan tubuh mereka merasakan sakit

“Oh iya lupa aku mau melanjutkan dongengku…” kupandangi ayah

“dan ayah tahu, ketika aku datang… mereka menceritakan semuanya, dan kalung ini disimpan ole nenek diberikan kepadaku agar aku bisa menunjukannya ke ayah… anaknya dan juga teman anaknya yang sekarang terbaring lemas…” lanjutku sembari memegang kalung nenek dan aku perlihatkan tepat di wajah ayah, lalu aku berdiri dtengah-tengah mereka dan membelakangi mereka

“oh ya, kalian berpikir tidak kalau aku hanya akan datang dan diam begitu saja?” ucapku, tak ada jawaban

“aku tidak akan membiarkan kalian bisa berdiri tegak lagi…” ucapku

Aku membuka kotak yang diberikan anton, seperti seorang dokter aku memasukan jarum suntik ke botol itu. aku mendekati infus ayah, ayah berteriak-teriak minta tolong.

“percuma yang jaga diluar sana itu temanku” ucapku sembari menyuntikan cairan itu di infus ayah

Aku ambil lagi cairan itu dengan menggunakan jarum suntik, dan aku mendekati om nico. Kusuntikan cairan itu ke infus om nico.

“well… selamat menikmati akhir hidup kalian, dan aku beritahu… sekalipun kalian mencoba bunuh diri tak akan aku biarkan, aku akan membuat kalian tetap hidup, dan menderita lebih dari kakek dan nenek” ucapku dan berbalik

Teriakan bajingan, segala macam umpatan terdengar keras… aku hanya tersenyum… sembari mengangkat kedua tanganku…

“lebih keras lagi…” ucapku yang membelakangi mereka sembari mengakat kedua tangan bak seorang musisi yang mengatur orkestranya

“ha ha ha ha ha…” tawaku

Aku kemudian diam… aku berbalik dan memandang ayah… yang wajahnya terlihat marah…

“terima kasih telah mendatangkan aku ke dunia ini… karena kamu ada aku, karena aku adalah pemberhentimu… terima kasih…” ucapku tersenyum dan melangkah keluar

“sudah?” ucap anton

“sudah… dan aku berharap aku masih bisa mengawasi mereka, aku tidak ingin mereka bunuh diri. Mereka harus lebih menderita dariemua orang yang mereka hancurkan…” ucapku dengan tatapan tajam

“celeng! Wajahmu jangan serius gitu kenapa, nakut-nakutin saja!” ucapku

“eh… he he he terbawa suasana wan (awan kinton sebutan anton)…” balasku

“wes lek dang, bojomu njalok kelon kae lho (dah cepat, istrimu minta kelon itu lho)” ucap anton

“ah.. yah…” segera aku berlari menuju lantai atas,

ketika itu berlari aku melihat tante war hendak masuk ke dalam lift. Aku berteriak memanggilnya dan tante war melihatku. Dia menunjuk-nunjuk ke jalan yang mengaarah ke kamar dian sambil tersenyum bahagia.

“DIAN SUDAH MENUNGGUMU” ucap tante war dan pintu lift tertutup

Aku memandang jalan itu kembali, dan aku melangkah ke arah kamar dian. langkah itu seperti meumbuhkan bunga diantaranya. Langkahku semakin cepat dan berlari hingga aku berada didepan pintu yang bertuliskan “Arya’s Love”. Aku tersenyum sejenak…

Didalam sini ya….
Haruskah aku mengetuk pintu?…
Haruskah aku membukanya langsung?…
Kenapa rasanya lebih berat daripada bimbingan skripsi yah?…
Lho… kok tiba-tiba ada bunga tumbuh di pinggiran pintu?…
Adakah yang menanam bibir bunga disini?…
Kenapa gemetar sekali rasanya tubuh ini?…
Tidak dingin, tapi tubuhku kaku…


Malam hari (hari 1)

Setelah aku dibawa oleh ambulan aku dimasukan kedalam ruang perawatan. Aku hanya ditemani ibuku saja, mbak asih mmm tante asih juga terlihat disini bersama dengan kedua nenek arya beserta kedua tantenya yang lebih muda dariku. Tapi hanya sebentar saja mereka bersamaku dan langsung pamitan untuk pulang kerumah. Kini hanya aku dan ibuku saja diruangan ini. Ibu sudah mendapatkan perawatan seharusnya juga berbaring di tempat tidur, tapi ibu bersikeras untuk bersamaku. Wajarlah aku jarang sekali bertemu dengan ibu, walau tubuhku banyak berubah ibu tetap saja mengenaliku. Aku berbaring dikasur dengan tanganku dibalut oleh perban, untung saja ndak di infus.

“ma…” ucapku melihat ibu sedang menyiapkan minuman untukku

“iya ada apa dha” ucapnya

“kok dha, dian maaaaa…” ucapku

“eh maaf, kan kebiasaan sayang” ucap ibu

“mama kok tahu kalau aku anak mama, secara aku kan dah ndak dekil kaya dulu lagi?” ucapku

“hmmm… kamu mau operasi plastikpun mama bakalan tahu. Suatu saat nanti kamu akan tahu ketika kamu menjadi seorang ibu” ucap ibuku

“hmmm… mama so sweet deh, sini mah tidur sama dian. anak mama yang cantik ini” ucapku

“bukan cantik tapi manis dan cantik sekali…” ucap ibu

“iya mama juga cantik hi hi hi” ucapku

Mama kemudian duduk disebalhku…

“ma, tidur sama dian ya… dian lma banget ndak bobo sama mama” ucapku

“iya sayang, iya tapi nanti kalau sudah ndak ada perawat yang datang yah” ucap ibuku

Kleek…

“hai yan..” ucap seorang perempuan, aku sedikit terkejut tapi kemudian tersenyum kepadanya. Ibu langsung turun dari tempat tidurku dan berdiri disampingku.

“hai er mmm mbak erlina…” ucapku

“ih pakai mbak segala, wong umurnya juga hampir sama kok” ucap erlina

“ndak papalah secara kan kamu…” ucapku tersenyum dan erlina mengerti itu

“iya deh, tapi kamu ndak papa kalau…” ucapku

“ndak papa, malahan seneng kan punya saudara lagi…” ucapku

“lho kalian sudah saling kenal?” ucap ibuku

“sudah, ini kan kakak angkatnya ary…” ucapku

“ooowalah… tante ndak tahu…” ucap ibuku

“erlina tante…” ucap erlina

“iya, ini tante ibunya dian, panggil saja tante war, lengkapnya wardani” ucap ibuku

“tante cantik ya sama kaya anaknya…” ucap erlina

“bisa saja kamu mbak, mbak kan juga cantik” ucapku memuji erlina, kami semua tertawa bersama

“ini obat diminum ya yan, biar lukamu cepet kering dan juga cepet sembuhnya” ucap erlina

“he’em, tapi kan lukanya ndak dalem-dalem banget kan?” ucapku

“ndak, kamu tertembak pada bagian bahu untungnya saja anton cepat mengelurakan peluru kamu jadi ndak perlu operasi. Sebenarnya ya ndak boleh, pasti sakit banget. Tapi kalau dilihat dari robekannya kelihatannya anton sudah ahli dalam membedah, robekannya teratur dan bagus” ucap erlina, tidak mungkin aku mengatakan kepada erlina siapa anton

“ndak tahu juga mbak… tapi terima kasih sudah merawatku” ucapku

“iya sama-sama, dah istirahat ya biar lekas sembuh” ucap erlina

Erlina pun berpamitan kepada ibuku, dan keluar dari kamar. ibu kemudian berbaring disamping kirkuku. Aku memiringkan tubuhku ke kiri agar aku bisa berhadapan dengan ibu, tahu sendiri kan kalau bahu kananku tertembak jadi tidak mungkin aku tindih dengan tubuhku. Ibu mengelus wajahku, elusan yang sangt aku rindukan selama ini. Elusan-elusan lembut ibu membuatku mengantuk, tiba-tiba dalam khayalanku, membuat susuku mengeras sendiri ketika teringat seorang lelaki yang selalu aku minta untuk selalu mengelus susuku ketika hendak tidur. Aku tersenyum sendiri dalam tidurku…

Hari-2
Aku bangun siang sekali, kulihat matahari dari jendela tampak sudah menyala-menyala. Kulihat jam dinding dalam kamar ini menunjukan pukul 10 pagi. Tak kudapati ibu disampingku, kulihat sekeliling juga tak ada ibu. beberapa saat kemudian ibu masuk dengan membawa handuk kecil.

“mama dari mana?” ucapku

“tadi minta handuk kecil buat mambasuh tubuh kamu. jadi kamu ndak usah mandi dulu ya” ucap ibuku

“nanti kan bau, apa mama ndak kangen mandiin aku?” godaku

“yeee kangen sih kangen tapi…” ucap ibuku

“tapi apa ma?” aku heran

“tapi nanti arya ndak ada kerjaan kalau kamu sudah mandi” ucap ibuku

“iiih masa aku disuruh mandi bareng sama arya” ucapku, ibu melihatku dengan pandangan yang bagaiman gitu…

“iiih mama lihatnya gitu deh… iya, dian sudah sama arya… tapi jangan di omongin, dian kan malu” ucapku

“siapa yang maksud ke situ? Maksudnya arya yang ngater ke kamar mandi, terus kamu dimandiin sama susternya gitu. Ketahuan ya…” ucap ibuku, membuatku malu sendiri sudah mengakuinya dihadapan ibu

“huh paling ibu juga sudah tahu…” ucapku, sembari pipi kanan dan kiriku menggelembung

“sudah ndak usah dibahas lagi, masalah tahu atau tidak… ya mama kan tahu, secara mama kan ibu kamu… terserah kamu sayang yang penting kamu bahagia, ibu senang” ucap ibuku, langsung aku peluk

Aku bercanda dengan mama, dan kemudian tubuhku dibasuhnya. Lucu juga ya, bagaimana nanti kalau mas mandiin aku pasti hiiii… digituin. Tapi itunya gede banget, kemarin saja sakit banget. Aaaaaa… aduh gimana ini… tapi tapi… aaaaaaaaa…. kangeeeeeeennn….

“lagi mikirin apa? Wajahnya kok memerah gitu hayoooo” ucap ibuku

“rahasia weeeeek…” ucapku, ibu hanya tersenyum kepadaku

“kemarin kamu olesi apa sayang kok orangnya langsung K.O” ucap ibu

Aku kemudian menceritakan pertemuanku dengan ibu diah, ibu arya. dari situ aku cerita panjang lear mengenai pertemuanku. Dan disitulah ibu arya mengolesi bagian-bagian sensitifku agar aku tetap terjaga. Ibu Diah juga telah memberitahukan kepadaku kalau cukup dbasuh dengan air saja sudah hilang. Setelah cerita itu, ibu menjutkan membersihkan semua bagian tubuhku hingga benar-benar bersih. Teringat ketika aku masih kecil.

Setelah semua bersih, ibu memakaikan pakaianku kembali. Pakaian lengan panjang yang longgar, membuatku teringat akan kaos panjang yang aku minta paksa dari mahasiswaku. Kalau dulu aku ngebet banget dapat kaos darinya, tapi aneh juga ya kenapa aku harus ngebet banget? Jadi tambah maluuu… apalagi huh! Memang mahasiswa nyebelin masa sama dosennya sendiri mengkritik pakaian yang dikenakannya, pikirannya mesum banget! Tapi benar juga… aaaa pokoknya kamu salah, salah, salah dasar cowok nyebelin!

Setelah bergulat dengan perasaanku sendiri, perasaanku kembali menjadi tenang, entah apakah karena esok aku akan bertemu dengannya. Sudah terlalu rindu aku dibuatnya. Pokoknya kalau besok ketemu, mau aku… erghhh… kangen bangeeeeeeeet. Cepetan datang, eh jangan aku belum mandi, datang saja nanti mandiin aku, eh tapi aku maluuuuuu… dasar cowok nyebeliiiiin!….

“kangen nih yeee” ucap ibuku, menggugah lamunanku

“uh apaa sih mama, godain dian terus” ucapku, setelah membalas ibu, pandanganku menjadi sedikit kososng melamun lagi

“ngalamun lagi dah kangen berat ya? berapa kilo?” canda ibu kembali

“eh… mama! Jangan godain dian terus kenapa sih uuuuh” ucapku sembari nganmbek

“hmm… ternyata anak mama ini kalau ngambek cantik juga ya? pantesan, si bocah SMP itu terseret-seret…”goda ibuku

“mamaaaaaaa….” ucapku semakin ngambek

“secara kan dah berapa hari ndak ketemu sama ehem ehemnya” ucap ibu, mendekatiku dan mencubit kedua pipiku

“he’em… banget ma…” ucapku

“iiih wajahnya merah banget…” ucap ibuk sembari memelukku dari samping. Aku tersipu malu sekali dihadapan ibu, bagaimana ya kabar cowok nyebelin itu!

“ma…” ucapku, tiba-tiba teringat akan papa

“ya…” balas ibuku

“ndak pengen ketemu sama papa?” ucapku

Ibu menghelas nafas panjang dan memandangku…

“iya nanti sayang kalau arya sudah datang ya” ucapnya aku tersenyum

“iya ma, temui saja. papa pasti bahagia ketemu sama mama lagi..” bujukku

“mama ndak yakin nak, setelah semua yang terjadi. Walau sebenarnya itu semua… ahh… tidak usah dilanjutkan saja mama, tidak kuat kalau harus mengingat masa lalu… biarkan besok ketika bertemu, papamu mau menerima mama atau tidak” ucap ibuku

“yakin deh ma, pasti mau ketemu kok” kembali aku meyakinkan ibuku

Hari ini aku lalui dengan bercanda bareng ibuku, mengenang masa-masa indah ketika kami tinggal bersama. ya indah, kalau bajingan itu pas ndak datang kerumah tapi kalau pas datang seperti neraka. Untung dia sekarang sudah tertangkap. Hingga malam hari, erlina datang kemudian erlina meminta waktu kepada ibu agar bisa berbicara kepadaku.

“ada apa mbak?” ucapku, yang duduk diatas tempat tidurku

“sebenarnya ndak papa sih Cuma pengen ngobrol saja…” ucapnya

“wajahnya jangan gitu dong mbak, ada yang mbak pikirkan?” ucapku

“eh… anu itu… gimana ya yan ngomongnya, susah” ucapnya, aku wanita dia juga wanita. Wanita memiliki perasaan yang mungkin seorang lelaki tidak pernah mengetahuinya. Aku merasa dia ingin mengakui sesuatu tetapi takut mengungkapkannya, mungkin aku harus memulainya terlebih dahulu agar suasana tidak canggung seperti ini.

“mbak… arya sudah cerita semuanya, yang terpenting harapanku cuma satu mbak. Biarkan aku yang menjadi satu-satunya untuk dia” ucapku, membuatnya sedikit terkejut dengan ucapanku

“haaaaaasssssh…” erlina menghela nafas panjang

“ternyata dia sudah cerita ya? padahal aku dulu memintanya merahasiakannya, maaf yan… sebenarnya aku ingin mengakui semuanya disini bukan untuk merusak hubungan kalian hanya saja aku merasa bersalah kepadamu, hanya itu… kita sama-sama wanita, dan aku juga pasti akan merasakan sakit jika pasanganku melakukan hal yang sama, maka dari itu disini aku hanya ingin minta maaf dan aku pastikan aku akan menjadi kakak perempuannya seperti kakak kandungnya sendiri. aku tidak ingin ketika kelak kamu mengetahuinya kamu akan membencinya, karena semua adalah kesalahanku” ucap erlina berdiri di depan ranjangku

“sudah mbak… harapanku ya itu tadi, tak masalah mbak tetap menjad kakak perempuannya. Hanya itu tadi mbak…” ucapku

“iya yan, pasti…” ucapnya tersenyum dan mendekatiku dari samping. Dengan hati-hati aku dipeluknya.

“maafkan aku yan, maaf aku tidak akan lagi memperlakukannya seperti dulu. Aku tidak tahu yan sungguh aku tidak tahu jika kamu sangat mengharapkannya, aku juga telah menghianati pacarku sendiri. mulai sekarang dan seterusnya aku akan membahagiakan alan kekasihku, aku harap kamu uga membahagiakan adikku. Hiks hiks….” ucapnya menangis

“iya mbak… hiks…” akupun ikut menangis, dia melepaskan pelukanku

“kalau dia sampai menyakitimu, bilang aku ya… biar aku hajar dia” ucapnya, sembari memngusap air matanya

“iya…” ucapku yang ikut menangis

Kami berpelukan kembali…

“oh iya, jadi mau kan jadi kakak iparku” ucapku

“he’em… punya adik ipar cantik seneng juga” ucap erlina

Kami kemudian berpisah dan selang beberap saat ibu kembali. Ibu tersenyum kepadaku, dan mengatakan kepadaku kalau aku lebih kuat darinya. Aku membalas ibuku, kalau dia lebih kuat dariku. Canda tawa kami bersama, hingga mengantuk dan ibu tidur bersamaku kembali.

“hati kamu besar juga ya nak” ucap ibu sayup-sayup aku dengar

“itu semua ibu yang mengajari…” ucapku yang kemudian tertidur dalam pelukannya

Hari-3

“mama, datangilah papa” ucapku sekembalinya ibu dari luar kamarku

“tapi arya belum datang sayang” ucapnya

“sudahlah bu, hari ini dia pasti datang” ucapku

“kamu yakin?” ucapnya

“he’em ibu tenang saja, arya tidak pernah ingkar janji” ucapku

“baiklah kalau begitu, ibu mandi dulu ya” ucapnya

“oia bu, nanti kalau ada taksi diluar rumah sakit bilang sama supir taksinya untuk memanggilkan pak wan, gitu ya bu. Itu langganan taksiku sama arya” ucapku, ibu mengangguk

Setelah beberapa saat ibu mandi, kemudian aku dan ibu mengobrol sejenak. Aku kuatkan hati ibuku agar mau bertemu dengan ayah. Ya, bertemu dengan suaminya walau dia bukan ayahku secara biologis aku akan menganggapnya sebagai ayah kandungku. Setelah lama mengobrol kesana kemari ibu akhirnya meninggalkanku, peluk dan cium darinya membuatku kembali tegar menunggunya. Selepas ibu pergi, aku sendirian didalam kamar. Sejenak aku merasakan rindu yang sulit diobati, ugh jengkel banget sama cowok nyebelin itu huh!


Selang beberapa saat aku merasakan akan kehadiran seseorang didepan pintu kamar rawatku…
Entah kenapa hati ini tiba-tiba saja mengatakan kepadaku ada seseorang diluar sana…
Apakah seseorang yang aku tunggu…
Mataku terus tertuju pada pintu itu…
Dadaku berdegup dengan kencang…
Kenapa seperti ini rasanya?…
Ah…
Aku berjalan keluar dari kamar anakku, menuju lift untuk segera berangkat menuju tempatku dulu. Saat masuk lift aku melihat arya yang memanggilku, aku menunjuk-nunjuk ke arah jalan menuju kamar anakku. Karena pintu tertutup aku segera berteriak ke arahnya, agak sedikit ndeso sebenarnya aku ini jadi ketika didalam lift aku masih sedikit bingung ketika harus membuka pintu itu kembali. Maklum, dari dulu setiap naik lift selalu suamiku yang mencet-mencet. Ketika aku sering dibawa kehotel pun juga sama, mereka yang mencet-mencet. Hingga diluar rumah sakit, aku mendekati sebuah taksi dan kutanyakan kepada supir taksi tersebut mengenai pak wan.

“saya sendiri bu” ucapnya

“benar anda pak wan langganan anak saya dian?” ucapku ragu

“owh dian, pacarnya den arya?” ucap lelaki tersebut

“eh den arya?” aku heran

“iya dia anak majikan saya didesa bu, silahkan masuk nanti akan saya ceritakan. Dari kemarin saya mangkal disini bu, karena ya tahu mbak dian itu disini jadi ya saya berada disini terus” ucapnya sembari aku masuk kedalam taksi, setelah itu lelaki yang disebut pak wan masuk

“bapak tidak narik?” ucapku

“ndak bu, saya disini hanya mengawasi cucu majikan saya saja. saya ndak butuh uang, uang sudah ada Cuma tinggal balas jasa saja sama majikan saya” ucap pak wan

“kakek nenek arya ya pak?” ucapku, mobil taksi kemudian berjalan

“iya, ayah dan ibunya si mahesa itu” ucapnya membuaku terkaget

“jadi bapak disini untuk…” ucapku ketakutan

“ibu tenang saja… jangan takut… makanya saya mau cerita ke ibu biar ibu ndak takut. Ini mau kemana bu?” ucapnya

“eh, ke…” ucapku kemudian mengatakan tujuanku, hotel dimana tempat suamiku bekerja

Pak wan kemudian menceritakan semua cerita tentang ayah dan ibu mahesa. Dari kebaikan kepada warga dan lain sebagainya. Aku kemudian percaya kepada dia, ditambah lagi aku sedikit terkejut ketika dia mengatakan kepadku kalau dia yang mengantar arya ke rumah dimana aku selalu berada didalamnya. Dia mengatakan kepadaku, jika dia disini adalah melayani cucu dari tuannya. Bahkan bukan Cuma dia, semua orang dari desanya yang berada disini semuanya selalu memberikan informasi kepadanya tentang arya. aku kemudian menceritakan tenang aku adalah ibu dian dan bagaimana aku harus menjadi tahanan mahesa dan nico tanpa membicarakan seks tentunya. Aku ceritakan juga tujuanku untuk menemui suamiku.

“pasti dia masih ada buat ibu, tenang saja bu. Saya yakin kok” ucap pak wan menenangkan aku. Hingga akhirnya taksi berhenti di depan sebuah hotel dimana aku bertemu dengan suamiku dulu, sudah berubah total karena aku sudah tidak pernah lagi datang kemari semenjak aku ditahan oleh mereka berdua.

“hotel ini bu?” ucap pak wan

“iya… tapi apa suamiku masih ada disitu ya?” ucapku

“sudah ibu disini saja. biar saya yang tanya” ucap pak wan yang keluar dari taksi kemudian menuju tempat satpam

Akhirnya pak wan kembali tapi satpam tidak tahu menahu mengenai suamiku. Tapi pak wan diberitahu mengenai beberapa orang yang mungkin tahu keberadaan suamiku. Hingga sore hari pak wan membantuku menemukan suamiku, akhirnya ketemu.

“Ibu saya tinggal bu, ini nomor saya jadi kalau butuh apa-apa hubungi saya lagsung” ucap pak wan

“berapa pak?” ucapku

“mertua den arya gratis, sudah ya bu saya jalan dulu” ucapnya

“eh pak jangan…” ucapku terlambat karena pak wan langsung memacu taksinya

Aku memasuki gang, pakaianku sopan. Longga dengan rok hingga menutupi lututku. Aku berjala menuju sebuah rumah yang pak wan ceritakan. Semua mata memandangku tapi aku tidak pedulikan. aku sadar aku menjadi perhatian mereka yang melihatku, tak kupungkiri kalau aku masih terlihat cantiku apalagi kaos longgarku tidak bisa menutupi dadaku yang memang besar. Masa bodoh setelahnya terus berjalan hingga aku menemukan sebuah rumah kecil. Ah… inikah rumahnya, aku takut sekali jika dia tidak mau menerimaku setelah waktu itu. jika aku mengingatnya air mataku menetes dengan sendirinya.

Tok… tok… tok..

Tok… tok… tok..

Tok… tok… tok..

Tok… tok… tok..

“Iya sebentar…” ucap seorang lelaki yang aku kenal

Lama aku menunggu diluar… tapi tak kunjung pintu itu terbuka…

Tok… tok… tok..

Tok… tok… tok..

Tok… tok… tok..

Tok… tok… tok..

Kembali aku mengetuk pintu itu kembali…

“Pergi saja kamu! ndak usah kesini! Aku tidak sedang mau menerima tamu!” teriaknya dari dalam, apakah dia tahu kalau itu aku. Aku terisak menangis… segera aku hapus air mataku dan kembali mengetuk pintu

“Arghhhh siapa sih ini! dasar! Aku sedanga tidak mener….” ucap lelaki, dia marah-marah membuka pintu matanya memandangku terbelalak

Tubuhnya kurus, rambutnya kumal. Kulitnya tampak lusuh, tak terawat sama sekali. Matanya seperti mata ada noda hitam meligkar disekitar matanya. Berbanding terbalikd denganku. Matanya terbelalak, melihatku entah terkejut atau marah aku tidak tahu. Dia melepaskan ganggang pintu itu, dan berdiri mematung memandangku. Melihatku seperti melihat hantu. Aku ingin memeluknya sekarang, aku tidak peduli dengan penampilannya sekarang. Dia suamiku, dia pujaan hatiku dia yang selalu bisa memanjakanku. Dia yang selalu membuat marahku menjadi tawa, aku ingin memeluknya, aku inginmenyentuhnya. Aku ingin dimanja olehnya, aku ingin… aku ingin… aku ingin… dia…

“mas…” ucapku pelan

“war… war… da…” ucapnya, tapi respon yang aku dapat berbeda dari yang aku harapkan. Dia menjulurkan tangannya kepadaku. Hanya tangannya saja, ingin aku menangis tapi aku tahan. Inikah yang aku dapatkan setelah aku menantinya selama ini. aku menajabat tangannya, tangannya kasar tapi itulah yang aku inginkan selama ini. kenapa mas? Kenapa kamu tidak memelukku? aku istrimu mas…. hatiku menangis…

“boleh aku masuk…” ucapku pelan, dengan suara sedikit parau

“eh si… si…lahkan….” aku dipersilahkan

“maaf berantakan, rumahnya memang kumuh sekali… maaf da… maaf sekali kotor sekali ya…” ucapnya

Aku berdiri melihatnya memunguti sampah-sampah berserakan di ruang tamu yang kecil ini. membersihkannya, memeluk sampah sembari memutar-mutar keseluruh ruangan yang kotor ini. aku tidak butuh bersih, aku cuma butuh kamu mas. Kenapa kamu malah mengurusi sampah, aku kangen mas kangen sama kamu. aku tutup pintu dan kudekati dia yang sedang memunguti sampah dari belakang tubuhnya. Aku langsung memeluk tubuhnya dari belakag.

“mas… hiks ini warda mas hiks… kenapa mas? hiks Bencikah mas sama warda? Hiks hiks hiks” ucapku, tubuhnya tegak melepas semua sampah yang ada ditangannya. Kedua tangannya meremas tanganku

“warda hiks hiks hiks hiks hiks…” isak tangisnya membuatku menangis

“aku kangen banget sama mas hiks hiks… mas… koco… hiks hiks…” isak tangisku, tubuhnya berlik tangaku pelukanku melonggar. Dihadapanku berdiri lelakiku… yang langsung memelukku dengan sangat erat.

“mas kangen… mas rindu… mas… mas hiks hiks hiks mas bener-bener kanget berat… mas kangen sama senyum kamu, kangen sama manja kamu hiks hiks… mas mas mas… hiks hiks cinta sama warda hiks hiks hiks… maafkan masmu ini yang hiks hiks ndak bisa njaga kamu hiks hiks hiks hiks…” isak tangisnya pecah, pelukannya erat sekali. Inilah yang aku inginkan, inilah yang aku rindukan. Tubuhnya tidak seberisi dulu, tapi tubuh inilah yang terindah bagiku.

“warda juga kangen banget hiks hiks hiks sama mas… hiks hiks…” ucapku yang sudah tak sanggup lagi aku berkata-kata

Kami berpelukan sangat lama… inilah yang aku inginkan… lelaki ini yang aku inginkan… lelaki ini… aku angkat wajahku dan memandangnya…

“masihkan aku istrimu mas? Hiks…” tanyaku

“kamu masih cantik sayang, aku tua keriput dan jelek… dan…” ucapnya kupotong

“masihkah aku istrimu mas? Aku tidak butuh keadaanmu, aku butuh jawabanmu” ucapku memandangnya

“YA KAMU ISTRIKU SELAMANYA KAMU ISTRIKU, TAK AKAN AKU BIARKAN KAMU PERGI LAGI! KAMU ISTRIKU, ISTRIKU, WANITA YANG PALING AKU CINTAI!” teriaknya sembari memelukku sangat erat, sangat erat sekali

“Terima kasih mas, terima kasih… aku akan jadi isrtri yang baik buatmu, sekarang hingga akhir hayat kita mas… hiks hiks hiks” ucapku terisak

Aku lepas pelukanku, aku pandang lagi wajah lelaki yang memang sudah menua ini tapi bagiku dialah yang terganteng dan termuah dihatiku. Kuusap wajahnya keriput diwajahnya sudah mulai terlihat sangat jelas, rambut putihnya juga sudah mulai menjajah kepalanya, kusapu lembut bibirnya yang kering itu.

“jelek ya? aku sudah tua kan ndut…” ucapnya

“ulangi lagi mas…” ucapku

“jelek ya? aku sudah tua kan ndut…” ucapnya

“bukan… yang terakhir…” ucapku

“ndut…” ucapnya

“lagi mas…” ucapnya, air mataku keluar seperti air terjun

“ndut.. ndutku sayang, ndut cintaku… ndut… ndut… ndut..” ucapnya

“lagiiiii…” ucapku manja,

“ndut.. ndutku sayang, ndut cintaku… ndut… ndut… ndut..” ucapnya

Aku langsung menarik kepalanya, kudaratkan bibirku dibibirnya. aku melumat bibir keringnya itu, memang telrihat kontras jika dibandingkan denganku. Aku sudah tidak peduli lagi, hanya lelaki ini yang mengerti akan diriku. Aku melumat bibir yang sudah hampir 20 tahun lebih tak aku sentuh, aku kangen… benar-benar kangen dengannya. Bibirnya yang semula diam, mulai membuka terasa sangat kasar di bibirku. Lidahnya mulai masuk kedalam mulutku, aku memjamkan mata hanya bisa meraskan lidahnya menari kembali didalam bibirku. Aku tutup bibirku, dan kubuka mataku kembali aku melihatnya. Aku tarik lagi kepalanya jadi aku tidak perlu berjinjit, keningnya bersatu dengan keningku.

“jele banget ya aku n… ndut…” ucapnya terbata

“iya dari dulu memang hiks kamu cowok jelek… cowok jelek yang suka ngegombal setiap kali aku berlibur… cowok jelek yang suka kirim pesan sok perhatian… kamu jelek hiks hiks jelek bangethhh hiks hiks hiks… jelek banget… banget banget banget… hiks hiks hiks” ucapku, entah apa yang sebenarnya aku katakan, tapi di hadapannya aku tidak bisa menyembunyika sifat asliku yang manja. Aku sudah tua, tap aku tetap tak bisa menyembunyikan manjaku dihadapannya. Aku bisa tegar dihadapan orang lain, tahan banting tapi dihadapannya aku, aku seorang wanita yang manja…

“dan kamu cewek ndutku…” ucapnya yang langsung memeluk tubuhku kembali

“mas… aku sayang sekali sama mas… sayang bangethhh cinta mashhh… hiks hiks hiks” ucapku sekali lagi

“he’em aku juga cinta kamu… hiks hiks hiks ndut hiks hiks hiks…” ucapnya

Aku berpelukan lama sekali, tak ingin aku lepaskan. Mataku terpejam seakan ingin tidur dalam pelukannya. Lama sekali hingga dia melepasan pelukannya, aku merasa jengkel ketika dia melepas pelukannya.

“ndut mau bobo? Ndut mau digendong dipunggung ndak? Ndut mau dipuk-puk lagi ndak kaya dulu” ucapnya, kata-kata itu, kata-kata yang telah lama hilang dari dalam hidupku. Jengkelku hilang, sifat lamaku muncul seakan tidak peduli lagi dengan umur yang sudah aku sandang.

“pengen… pengen digendong… cepetaaan digendooong…” ucapku manja dengan kedua tangan lurus

Ah, aku benar-benar merasakan kebahagiaan yang selama ini tak pernah aku rasakan. Dirumah kecil ini, aku digendong dipunggungnya. Berputar-putar seperti dulu ketika aku baru menikah bersamanya. Tawaku, terus keluar dari bibirku, walaupun hanya memutari ruang tamu ini aku sangat bahagia. bahagia sekali, lama tak ada yang menggendongku, lama tak ada yang membuatku merasakan diriku sebagai seorang wanita.

“ha ha ha ha…” tawa kami bersama-sama…

Hingga akhirnya aku turun dan langsung menyuruhnya untuk bersantai, seperti dulu. Aku membersihkan rumah ini, membersihkan rumahnya, menyapu, mengepel. Aku melihat rumah ini begitu kecil dan kumuh. Kamarnya pun berantakan, hanya sebuah kasur kapuk dengan satu bantal didalam kamarnya. Penuh dengan puntung rokok, kertas dan sebuah foto seorang wanita menempel di dinding kamarnya.

“hanya itu yang aku punya, hanya itu yang selalu mengingatkanku kepadamu” ucap mas koco dari belakang

“eh, mas…” ucapku

“setiap malam aku turunkan foto itu, berharap kamu selalu hadir dalam mimpiku. Berharap kamu datang ke duniaku” ucapnya

“mas…” ucapku langsung mendekatinya dan merebahkan kepalaku di dadanya

“kini kamu sudah ada disini, inilah aku sekarang. Tua, jelek, keriput dibandingkan dengan kamu yang tidak jauh berbeda dengan masa ketika kita menikah dulu yang” ucapnya

“aku juga sama sudah bertambah tua mas, sama seperti kamu hanya saja mereka mengoperasiku menjadikanku tetap sama. Maafkan aku mas, ini bukan aku yang sebenarnya, disana hiks.. hiks aku …” ucapku

“sudah jangan kamu katakan kepadaku apa yang terjadi disana, melihatmu dulu ketika itu terjadi dihadapanku sudah cukup membuatku merasakan sakit bertubi-tubi… semua beawal dari kesalahanku, maafkan aku… mungkin sekarang inilah yang aku punya… bahkan untuk menghidupi dan membahagiakanmu kembali mungki ak…” ucapnya aku tutup dengan jariku

“bisa, pasti bisa kita bisa… aku ingin hidup dengan apapun yang terjadi, tak peduli harus hidup di tempat ini, yang terpenting itu denganmu. Kita bisa memulai hidup baru mas dan mas…” aku berbalik menghadap ke arahnya

“ada satu hal yang ingin aku katakan kepada mas, kalau…” ucapku terhenti

“kenapa ndut? …” ucap mas koco yang mendekatkan wajahnya ke wajahku

“anak yang dulu pernah lahir dari m…” ucapku

“ssssttt… aku tidak peduli dia dari aku dari siapa, yang terpenting dia keluar dari rahimku. Yang keluar dari rahimmu berarti anakku. Aku ayahnya, dan dia harus memanggilku ayah, bapak, papa terserah dia. Jangan permasalahkan lagi mengenai anak kita, dia anak kita…” ucap mas koco memelukku

Aku peluk dia lagi, ah walaupun niatnya membersihkan rumah kalau leleki jelek ini berdiri didekatku tetap saja aku ingin memeluknya. Aku lepas pelukannya dan marah-marah kepadanya, ya marah kecil karena mengganggu bersih-bersih rumahku. Senyumnya tidak jauh berbeda seperti duluyang selalu menggodaku ketika aku bersih-bersih rumah. Kutemukan surat nikah, dan foto-foto kenagan bersamanya. Ah… dasar cowok jelek!

Setelah semuanya bersih, aku mengajak mas koco untuk keluar rumah untuk mencari makan. Dengan mesra aku berjalan sambil memeluk tangannya. Berjalan menyusuri gang yang aku lalui sebelumnya.

“woi co, entuk lonthe ndi? Po kuat mbayar kowe ha ha ha rene wenehke aku wae! (woi co, dapat lonthe darimana? Apa kuat kamu bayar kasihkan ke aku saja)” teriak seorang lelaki dari sebuah pos, disana banyak nongkrong lelaki

“jangan asal bic…” ucap mas koco yang terlihat emosi, aku hentikan

“sudah mas…”

“iya mas ku lonthenya tapi juga istrinya!” bentakku

“halah lonthe saja berlagak istrinya, sini mbak punyaku di emut” ucap seorang lelaki berdiri

“ndak!” bentakku

“dasar lonthe sok jual mahal!” ucap seorang lelaki yang kemudian berdiri mendekatiku bersama beberapa orang lelaki

“masss….” ucapku ketakutan gara-gara ulahku sendiri, mas koco langsung berdiri di depanku

“jangan sentuh istriku!” ucapnya

“halah co co, apa kamu itu punya istri! Istrimu sudah minggat! Mending kasihkan lonthe itu ke kami biar kami rasakan rame-rame!” ucap seorang lelaki

Tapi mas koco tetap membelaku, dan siap memberikan bukti kalau aku istrinya. Aku tahu mas koco tidak pandai berkelahi, tapi bagaimana ini suasan menjadi panas. mas koco terus melindungiku…

“STOP!” ucap seorang lelaki

“hah… apa ka… eh…” teriak seorang lelaki yang nongkrong tadi. Aku menengok ke depan melihat tiga orang lelaki berdiri gagah

“Jika kalian beran menyentuh pak koco dan bu wardani kalian akan kami penjarakan, atau mungkinakan kami bunuh disini!” ucap lelaki yang baru saja datang

“eh… bro itu beneran istri koco kayaknya mending ndak usah ganggu daripada kita mati, mereka bawa pistol bro..” ucap salah satu lelaki yang nongkrong

Mereka langsung mundur dan lari…

“pak koco dan bu wardani, sudah kalian tenang saja. kasus memang sudah selesai tapi kalian berdua masih dalam pengawasan kami. jadi tenang saja…” ucap lelaki tersebut

“eh, kalian siapa?” ucapku

“anda ingat anton bu? Yang bawa senapan panjang?” ucapnya aku mengangguk

“dia yang meminta kami untuk melindungi mertua dari sahabatnya, jadi tenang saja bu” ucap mereka yang kemudian pergi menghilang dengan cepat

Mas koco terdiam berpikir, aku katakan kepadanya untuk memikirkan itu nanti saja. bak seorang pengantin baru, aku terus memeluk taangannya. Dengan gagah dia berjalan disampingku, bahkan ketika makan di warung pun aku tak sungkan untuk minta disuapi. Setelahnya aku kembali kerumah bersama mas koco…

“Anton itu siapa ndut?” ucapnya

“dia teman calon mantu kamu mas” ucapku

“mantu? Siapa?” ucapnya

“namanya arya, dia anak mahesa tapi mas jangan marah dia yang telah menyelematkan aku dan semuanya… dia juga yang menghancurkan ayahnya sendiri, aku pernah bertemu dengannya…” ucapku

“ah, arya… anak itu telah menepati janjinya…” ucapnya

“eh, mas kenal arya?” ucapku,

Setelah aku bertanya mas koco menceritakan semua tentang arya. begitupula aku bercerita tentang arya tapi tidak aku ceritakan kalau aku sudah pernah memperkosa calon mantuku sendiri. dipeluknya aku erat, dan didekap kembali bibirnya menyentuh bibirku. Aku kemudian minta digendong ke dalam kamar, aku dorong mas koco hingga rebah di kasur kecil itu. aku buka satu persatu pakaian yang menutupiku hingga tak ada sehelai benangpun menutupi tubuhku. Kulihat wajahnya terlihat takjub…

“mas… maafkan aku, memang ini semua palsu…” ucapku lirih, dia menarikku

“tapi kamu wardani kan?” ucapnya aku mengangguk

“istriku kan?” ucapnya kembali ,aku jawab dengan anggukan

“Aku tidak peduli kamu keriput, aku tidak peduli kamu menjadi tua… yang penting kau adalah istriku, wardani” ucapku

“he’em mas hiks… ini semua untuk mas… “ucapku

Kulumat bibirnya, kupelulk kepalanya. Aku bangkit hingga susu besarku menenggelamkan wajahnya, ah… tangannya yang kasar sudah mulai memainkan jatahnya di vaginaku. Dalam sekali mengobok-obok vaginaku. Aku mendesah tak peduli dengan tetangga-tetanggaku, pinggulku bergerak maju mundur sendiri meminta perlakuan lebih dari jari-jari kasarnya itu. lidahnya sudah bermain-main di puting susuku, ah nikmat sekali. Jarinya mengocok vaginaku, satu tanganya lagi bermain-main di itilku.

“arghhh mashhhh aaku keluaarhhhhhhhh….” jerit kecilku, tubuhku mengejang tak karuan. Sembari mengejang aku memanandang mas koco dan melumat bibirnya.

“cairanmu hangat dek, sudah lama aku tidak merasakannya…” ucapnya, membuatku bertanya-tanya

“apa mas tidak pernah melakukannya dengan mmm…” ucapku

“tidak dek, tidak… aku pernah punya pemikiran seperti itu tapi setiap kali aku ingin melakukannya dan melihat foto kamu, aku tidak sanggup. Lebih baik aku tidak meraskanya jika tidak dengan kamu” ucapnya, membuat hatiku pedih mendengarnya. Aku selalu dijadikan anjing peliharaan oleh mereka, sekalipun banyak yang keluar masuk di vaginaku tapi hanya sekali aku merasakan klimak sebenarnya selama aku menjadi tahanan mereka, dengan calon mantu.

“ah, mas sekarang puaskan dirimu mas… mas ingin apapun akan aku lakukan buat kamu” ucapku sembari turun kebawa berlutut dihadapanya yang duduk dikasur kecil tanpa ranjang

“Ah dek… kamulah yang terseksi…” ucapnya,

aku tersenyum dan mas koco kemudian sedikit bangkit dan berlutut diatas kasur seakan mengerti maksudku. Aku tarik celananya sekaligus celana dalamnya, dan…

“mas… “ ucapku terkejut kedua tanganku aku tarik untuk menutupi kedua mulutku. Aku menengadah ke arah mas koco.

“ke kenapa dek?” ucapnya

“kenapa jadi lebih besar mas? Dulu tidak seperti ini?” ucapku

“nduuuut ini masih yang dulu nduuuut… ndak berubah, ini yang dulu sering kamu mainin nduuut…” ucapnya

“endak mas, dulu ndak segini…” ucapku masih shock melihat ukuran batangnya,

“coba deh dipegang…” ucapnya

Aku arahkan tanganku memegang batang kemaluan mas koco. dilihat dari manapun batang itu mengingatkan aku dengan batang calon mantuku. Setidaknya hampir sama, walau lebih pendek 1-2 cm dan besarnya hampir sama juga. Seingatku dulu tidak sebesar ini, ah…

“benarkanhhhhh erhhh sama kan nduttt….” ucapnya menahan nikmat karena tanganku naik turun di batangnya

“he’em mas sama… maaf mas aku lupa” ucapku, mas koco tidak melanjutkan percakapan itu karena mas koco tahu percakapan ini akan berlanjut ke arah masa-masa kelamku disana

“ndut… aku sudah kangen ndut… boleh aku masukan ndut…” ucapnya memohon

“mmmm… ndak boleh, endut kan belum mainan…” ucapku sedikit manja

“ya udah ndut, dimainkan ndut. Ini mainan kesukaanmu ndut” ucap mas koco

Aku mengulum dan menjilati batang mas koco dengan sangat buah, ah benar-benar besar dan kuat tidak seperti yang pernah masuk sebelumnya. Mahesa dan nico semuaya hanya kepuasan mereka, aku yakin batang ini akan memuaskanku. Karena batang ini adalah batang kesayanganku semenjak dulu. Aku sudah tidak tahan lagi, aku segera berdiri dan langsung melumat bibir mas koco hingga mas koco terduduk. Aku kangkangi selangkangannya, dan kumasukan.

“Arghhh…..” rintihku

“kenapa sayang?” ucap mas koco

“besar banget mas… ndak bisa masuk…” ucapku manja

“ya sudah, kamu tiduran sayang” ucap mas koco

Mas koco langsung menidurkan aku, dibuka lebar pahaku. Perlahan batang mengerikan itu diarahkan ke vaginaku. Terasa nyeri, seperti robek dan sangat penuh. Aku merasakan vaginaku seperti robek seperti ketika batang arya masuk. Ah, tapi batang ini arghhhh sungguh nikmat sekali aku tak mampu menahan semua nafsuku lagi. Mas koco yang semula perlahan memasukan terlihat sudah tidak bisa menahan nafsunya dengan paksa dia memasukannya.

“ah… sayang sempit sekali sayang, ah… inikah rasanya sayang hampir 20 tahun aku tidak merasakannya” ucapnya

“iya mas erghhh terus goyang mas enak sekali mas… terushhh mashhh ah ah ah ah” ucapku yang sebenarnya berharap batang mas koco tidak langsung menggoyang karena vaginaku terasa sakit, tapi setelah apa yang mas koco katakan kepadaku aku hanya bisa menerima

Mas koco meremas susuku, menggoyang pinggulnya perlahan-perlaha hingga pinggulnya bergoyang sangat cepat sekali. Aku mengaduh mengerang dan tak bisa aku pungkiri lagi kalau aku merasakan nikmat yang tiada tara. Pintu rahimku serasadi sodok-sodok oleh kelaminnya, membuatku merasakan sakit tapi nikmat. Owhhh… yah aku ingin semalaman di sodok oleh penisnya kontolnya.

“ah mas… enak sekali memeku enak banget mas ah ah ah ah terus mas memek ndut kangen berat sama kontol mas” racauku

“oh ya sayng pasti akan kupuaskan dirimu ah aku akan pejuhi mememu sempitmu ini” racaunya

“yah mas terushhh…” racauku

Mas koco terus menggoyang hingga beberapa saat tubuhku melengking sejenak mas koco mengehntikan gerakannya. Aku mengejang beberapa kali, ku atur cepat nafasku dan meminta mas koco untuk memulainya lagi. Aku benar-benar tak sanggup lagi menunggu goyangan pinggulnya.

“ah mas… terusshhh yah lagi massshh terushhh sayang terusshhh ah ah ah” racauku

“memekmu enak sayang.. enak sekali ah ah ah” racaunya

“memekmu ini mas… kontoli memekmu ini mas… ayo mas, memek ndut ini memekmu mas butuh kontolmu… kontoli terusss ah ah ah kontoli terush mas…” racauku

Selang beberapa saat… aku merasakan puncak yang dekat, mas koco memelukku…

“kita keluar sama-sama mas…. ah” ucapku

“iya sayang aku pejuhi memekmu…” ucapnya

Crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot

Terasa hangat sekali pejuhnya, ah untung saja pejuhnya tidak jadi batu. Ku peluk tubuhnya tubuh kami bersatu kembali setelah sekian lama berpisah. Kami berciuman, ku goda masku ini yang staminanya sebenarnya sudah tidak seperti dulu lagi. Tapi batangnya masih bisa bangkit lagi menandakan gairah mudanya belum hilang. Ya, aku melakukannya lagi hingga tubuh kami remuk karena kenikmatan ini. dan terlelap…

Pagi hari, aku dan mas koco berbincang setelah 2 ronde pagi hari…

“mas…” aku berbisik ditelinganya

“jangan dek…” ucapnya melarangku

“please sekali saja, setelah itu ndak lagi…” ucapku

“iya tapi jangan hari ini… hari ini kita pacaran dulu ya 3 hari atau 2 hari gitu…” ucapku

“he’em kang maaaaaaasss…” manjaku

“oia dek, ini di operasi juga” ucapnya, memegang susuku

“iya mas..” balasku

“besok dilepas saja silikonnya. Mau kendur atau bagaimana itu lebih aman buat kamu dek” ucapnya, aku mengangguk menyetujui agar silikon di susuku dlepas.

Jujur saja susuku sudah masuk dalam kategori besar namun megendur dengan bertambahnya usia tapi mau bagaimana lagi dua bajingan itu mengencangkannya lagi. Aku tinggalkan anakku karena aku yakin anakku aman disana.

“Maaf ya ardha, eh dian… hari ini mama mau jaga papa kamu yang ganteng ini. mama juga pengen dong pacaran sama papamu lagi, apalagi papamu aw nggemesin itunya hi hi hi” bathinku sembari memandang wajah mas koco

Masih, masih ada yang harus aku lakukan, aku harus mengobati “lukamu” mas…

Akhirnya sampai juga aku dirumah kakek dan nenek arya yang tak lain adalah ayah dan ibuku sendiri. tampak sedikit ramai didalam sana, ada apa sebenarnya? Segera aku keluar dari mobil dan masuk kedalam rumah. Ramai sekali, terdengar suara kakakku andi, adiku ratna dan juga ada asih dan adiknya heri. Ketika aku memasuki ruang tamu suara yang familiar terdengar olehku, aku lanjutkan langkahku menuju ke ruang keluarga dan aku melihat sosok yang sudah tidak asing lagi bagiku.

“TANTE IFAH! TANTE LAILA!” teriakku langsung berlari kecil ke arah mereka. kupeluk mereka dengan erat

“tante kok bisa disini?” ucapku

“hiiiiiii… mbak diah kuper, makanya kalau pergi jangan lama-lama… jablai lho entar ha ha ha” ucap ratna

“ealah… kaya kamu aja ndak jablay weeeeeek….” balasku

“ih mbak diah” ucap ratna ngambek

“maaaaaaaasss….” aku tersenyum karena ratna langsung merajuk ke suaminya

“iya… iya besok ndak pergi-pergi lagi…” ucap suami ratna, andra membuat kami semua tertawa

“kok belum tahu to mbak?” ucap asih

“ya aku ndak tahu to ya kalau tante sudah datang kesini, benar kan yah?” ucapku

“mereka datang sama asih barusan tadi pagi” ucap ayah

“Lho ini siapa? Kok kayanya kenal ya” godaku kepada dua wanita cantik

“anu… e…. tante… eh… mbak… aduh susah manggilnya, aku alya…” ucap alya kepadaku, sebenarnya tidak susah mengenali wajah mereka berdua

“alsa…” ucap alsa

“panggil aja mbak, kan aku masih muda” ucapku

“sudah tuek masih saja ngaku muda” ucap mas andi yang dari dulu memang suka ngejek aku dan ratna

“daripada situ… tuaan mana?” ucapku

“kalau itu bukan cuma tua udah keriput ha ha ha” ucap asih, ratna dan herni istri heri bebarengan

“HEH! Enak saja! tua-tua gini juga ganteng kaleeee” bela mbak ika, sambil kedua tangannya berada dipinggangnya

“Yeeee… ratunya ngebelain tuh… marah maraaaaaaaaah… ha ha ha ha” ucap kami

“hadeeeeeeeeh begini ini kalau rumah banyak ceweknya!” keluh mas andi, Andra, Heri dan juga askha suami asih

“emang situ mau kalau ndak ada ceweknya” celetuk ibuku dan juga tante umi (ibu asih)

“gih mboten ngoten mbah putri (ya ndak gitu)…” mereka berempat kompak membela

“kalian kompak benar ya, dah lama ndak kumpul masih saja kalian suka saling ejek. Ingat tuh sudah ada ekornya lho….” ucap tante ifah

“iya bener, kompak benar mas anak-anak dan mantu kalian ini” ucap tante laila

“ya beginilah ha ha ha” ucap ayahku sembari tertawa terbahak-bahak

Ruang keluarga di rumah ayahku memang yang paling besar diantara ruang keluarga dirumah anak-anaknya. Karena memang tempat berkumpul keluarga bukan, asih dengan askha suaminya beserta anak mereka, ratna dengan andra juga dengan anak mereka, Mas Andi dengan mbak Ika juga dengan anaknya, Heri dengan Herni juga dengan anak mereka. bahkan tante laila dan tante ifah juga dengan anak mereka tapi memang minus ayah dari alya dan alsa. Aku merasa iri dengan mereka, tapi mau bagaimana lagi, keluargaku memang hancur karena mahesa. Seandainya bukan mahesa yang menjadi suamiku mungkin akan berbeda lagi tapi tak akan ada arya jika bukan mahesa. Ah, nak bagaimana kabarmu nak? Ibu ingin berkumpul bersamamu disini sebagai ibu dan anak.

“Diah, anata ga omou mono wa arimasu ka? (Ada yang kamu pikirkan?” Ucap ibuku tiba-tiba

“Watashi wa sore o shitte imasu… (Ibu tahu saja)” balasku

“Haha wa anata no okāsan’nanode, haha wa subete o shitte imasu.. (Ibu adalah ibu kamu, jadi ibu tahu segalanya)” ucap ibuku, aku hanya tersenyum ketika ibu seakan tahu yang ada dipikiranku

“Kamu tinggal sama ibu ya sayang…” ucap ibuku

“He’em…” ucapku

“terus apa rencana mbak?” ucap ratna

“ya, sesuai dengan apa yang ibu katakan rat” ucapku

“maksudnya itu mau nikah lagi?” ucap ratna

“tidak, belum kepikiran aku… mau membesarkan anak dalam kandunganku saja dulu” ucapku santai

“HAAAA?!” teriak mereka bersama-sama, ayah dan ibuku tampak terlihat santai. Mereka tersenyum juga om Wardi dan tante umi.

“biasa saja kali, aku kan punya suami jadi wajar kan kalau aku hamil. Apa? Bingung?” ucapku

“sebentar-sebentar mbak, jadi mbak itu hamil sama si itu tuh…” ucap asih yang mendekatiku dan duduk disampingku. Aku hanya mengangguk sambil menyilangkan kakiku

“bentar-bentar… ada yang aneh ini…” ratna mendekatiku

“aneh gimana? Kamu tuh yang aneh, eits… kakak dan adikku jangan mikir macem-macem lho…” ucapku sambil memandang mereka yang memandangku heran

“kok bisa? Ceritain mbak?!” ucap ratna

“yeee kalau diceritain parno dong…” ucapku

“ya bukan begitu iiih mbak nyebelin deh!” ratna ngambek

“mbak, pas pulang sebelum jemput aku itu berarti mbak ketemuan sama… bukan sama arya?” ucap asih aku menoleh ke arahku

“kamu mau memperpanjang catatan si baj… eh… si dia?” ucap kak andi yang sadar kalau ada anak-anaknya

“benar kata mas-mu yah” ucap mbak ika

“okay daripada kalian mikir yang ndak jelas, waktu itu aku memutuskan untuk pulang kan?” ucapku kepada semua dan mereka semua mengangguk tapi ayah dan ibu serta om wardi dan tante umi tidak, karena mereka sudah aku jelaskan sebelumnya

“aku pulang, kemudian asih menghubungiku. Tapi sebelum aku menjemput asih dihari berikutnya aku menemuinya, ya bilang ini itu dan lain sebagainya, hingga akhirnya aku… itu anak-anak suruh main diatas dulu lah… ndak enak ceritanya” ucapku

“eh iya… dika ajak adik-adikmu semua main ke atas ya” ucap mbak ika ke dika, anak tertuanya agar mengajak anak-anak dari ratna, asih dan heri juga.

“yah, mama… kan asyik disini rame…” ucap dika, mbak ika mendelik dan langsung dika megajak yang lain naik. Sebenarnya banyak yang malas tapi ketika mata dari ibu mereka melotot semua naik.

“okay… aku lanjutkan…” ucapku

“setelah bertemu dengannya aku memohon kepadanya agar aku bisa medapatkan keturunan kembali. Awalnya dia tidak setuju tapi ya… gitu deh akhirnya dia mau, dan dalam keadaan setengah sadar, aku suruh dia tanda tangan ini” ucapku sembari berdiri dan mengambil secarik kertas di dalam tas yang aku bawa. Ratna langsung merebutnya dan membacanya

“jadi ini surat cerai mbak?” ucapnya

“iya, tapi tanggalnya tak suruh ngubah…” ucapku

“sama…” ucap asih yang mendekati ratna

“apa sih?” ucap mbak ika yang ikut mendekat

“pengacaranya ayah lah, aku suruh buat tapi tanggalnya… itu tanggal bulan depan, malaslah masih sama dia… tapi ya untungnya jadi” ucapku santai sambil merebahkan punggungku di sofa

“nekat kamu ya yah?” ucap mbak ika

“kalau ndak nekat mau bagaimana lagi? Anakku sudah menemukan tambatan hatinya dan sudah tinggal bersama beberapa hari sebelum aksinya dimulai. Jadi aku tidak bisa melarangnya, karena mungkin itu sudah jalan takdirnya…” ucapku

“arya ya…” ucap ayahku

Semua menjadi hening tak ada suara dari siapapun ketika ayah menyebut namanya…

“ini… dasar anak kamu itu memang nekat!”

“tapi kalau bukan dia, mungkin dulu aku sudah…” ucap ratna

“sudah apa mah?” ucap andra

“iiih papa pengen tahu aja, kan mama sudah pernah cerita” ucapnya memandang ratna yang pada dasarnya dia bangga mempunyai keponakan arya.

Kira-kira 10 tahun yang lalu atau 11 tahun yang lalu ya? ratna memang selalu dibuat jengkel oleh anakku, arya selain nyebelin arya memang suka menggoda tantenya. Ratna selalu marahi anakku, karena mungkin selain jengkel ratna sangat benci terhadap suamiku.

“beda lagi masa SMA, huh anak itu benar-benar hmmmm bikin rusuh saja” ucap asih

“rusuh bagaimana sih?” ucapku bercanda

“iih mbak kaya ndak tahu saja tuh sama koplak!” ucapnya

“hi hi hi…” aku dan semua orang tersenyum di ruangan itu

“apaan sih!” ucap asih

“ha ha ha… sudah lah mah, dulu arya juga yang nyari-nyari mamah waktu muncak. Eh malah ilang… ha ha ha” ucap askha suami dari asih

“yeee… itu kan salah papah, ninggalin mama” ucap asih

“pi… tuh…” ucap herni istri heri

“dulu juga dia yang tiba-tiba datang waktu aku sama herni pacaran. Pas pacaran dia sama koplak kalau ndak salah waktu itu tapi ndak 12 orang kok. Datang nyelametin om-nya yang ganteng ini” ucap heri

“lho kok aku ndak tahu?” ucap asih

“ya ndak lah, terakhir ketika mereka sudah habis-habisan dan mereka menang. Arya bilang, om jangan bilang smaa tante asih, ntar aku disuruh nyapu halaman lagi. Kalau marah dia seperti monster, ndak Cuma aku om teman-temanku takut juga om, hiiii ngeri om ha ha ha” ucap heri

“APA! Awas dia kalau sudah balik kesini!” ucap asih

“tapi bener lho mbak ha ha ha” ucap heri

“kamu juga ikut-ikutan?” ucap asih membentak heri

“eitss… mbak jangan macem-macem sama suamiku tersayang weeeek” ucap herni membela heri

Ha ha ha ha suara tawa akan kenangan bersama arya membuat kami semua tertawa terbahak-bahak…

“mas… ndak ngomong sekalian?” ucap mbak ika dengan lirikan wajah yang sangat sinis ke mas andi. Hanya aku yang tahu…

“mmm… ndak jadi…” ucap mas andi langsung memeluk mbak ika

“ih malu tuh dilihat sama adik-adiknya…” ucap mbak ika kepada mas andi yang membenamkan wajahnya dipunggung mbak ika

“ada apa mbak cerita dong” ucap ratna

“iya tuh…” ucap asih

“hi hi hi hi…” tawaku

“DIAH!” teriak mbak ika dengan mata melotot

“iya… iya ndak cerita, rahasia. Tapi ada uang tutup mulut dong…” ucapku

Ratna membujukku namun aku tetap tidak bercerita. Apa harus aku ceritakan kalau mas andi ketemuan sama karima? Ndak mungkin juga, aku dan keluargaku kini bisa tersenyum bahagia setelah 20 tahun lamanya tidak pernah bisa sebahagia ini. Tiba-tiba anak ratna turun, anak yang paling kecil dan memeluk ratna.

“tapi arya itu memang berbeda dengan waktu anak-anak…” ucap tante laila

“beda bagaimana?” ucap ibu

“karena Cuma aku, laila, alsa dan alya yang melihat bagaimana dia menyelamatkan kami” ucap tante ifah

“iya, dulu padahal cengeng banget..” ucap alsa

“beda banget..” ucap alya

“cerita tante,ayo ceritakan…” ucap ratna, yang antusias degan musuh bebuyutannya

“Lho bukannya itu musuh kamu?” ucap ibu

“apaan sih ibu itu, cepetan tante ceritakan jangan dengerkan ibu weeeeeek…” ucap ratna

Kemudian tante laila dan tante ifah menceritakan kejadian berada digedung, betapa heroiknya seorang anak yang melumpuhkan ayahnya sendiri. terdengar sedikit aneh memang tapi tante laila dan tante ifah menceritakannya dengan sangat detail membuat kami yang berada diruangan sangat antusias mendengarnya.

“tatapan mata arya sama persis dengan tatapan mata pak dhe warno” ucap alsa

“tapi kadang tatapan matanya juga berbeda, aku belum pernah melihatnya” ucap alya membuat kami semua bingung tapi aku tahu siapa lelaki yang dimaksud alya

“kaya kakek yang didapur tadi…” ucap anak ratna yang paling kecil ini tiba-tiba saja membuat suasana menjadi hening

“eh… kakek mana sayang?” ucap ratna sedikit terkejut

“tadi ada kakek-kakek di sana, senyum ke adek, terus adek juga senyum tapi kakek itu tiba-tiba hilang ndak ada lagi. Matanya sama persis dengan mata kak arya” ucap anak ratna yang paling kecil

Kami semua menjadi sangat hening, aku juga sedikit bingung dengan keadaan ini. Arya sudah cerita mengenai ayah dan ibu mertuaku, wicaksana dan mahesawati. Semua tampak meandang bahkan tante ifah dan tante laila yang sebelumnya menceritakan betapa heroiknya arya kini mulai terdiam. Semua, semua yang ada dalam ruang keluarga ini terdiam membisu. Apakah ayah mertuaku datang lagi ya? atau memang dia ingin bertemu dengan arya?

“Senyum tante alsa dan tante alya juga sama dengan kakek yang tadi senyum ke adek, kakek tadi senyum di depan pintu lantai dua. Makanya adek turun kesini” ucap anak ratna untuk kedua kalinya membuat kami terkejut

“adek sudah jangan bilang yang tidak-tidak, ndak boleh dari tadi juga kan yang ada disini ade sudah lihat semua” ucap ratna pada anaknya

“iiih mama, beneran ma… tapi kakek yang didapur sama kakek yang di lantai dua tadi berbeda. yang satu kaya mas arya yang satunya lagi mirip tante alsa dan tante alya” ucapnya kembali

Ucapan dari anak ratna membuat mata tante ifah dan tante laila langsung berkaca-kaca. Aku berdiri dan medekati tante laila, mencoba menenangkan mereka berdua. Ibuku juga menghampiri mendekati tante ifah.

“sudah, sudah… jangan dibahas lagi” ucap ayahku

“namanya juga kangen kadang ya kelihatan kan…” lanjut ayahku mencoba menenangkan semuanya

“ah… iya benar juga, mungkin hanya halusinasi dari anak ratna saja ha ha ha” ucap om wardi

“ayo… ayo dimakan lagi ini camilannya, biar tambah berat badannya jarang-jarang lho kita bisa bercanda seperti ini” ucap tante umi

“eh… tante ceritakan lagi dong tuh tentang si jomblo itu lagi” ucap mbak ika mencoba menghangatkan suasana

“bener si jomblo itu ya, iya tan ceritakan lagi saja. itu anak dari kecil nakal hi hi hi” ucap ratna

“eh… iya yah, sampai kelupaan… hem hem hem…” ucap tante ifah

“yeee… ntar mbak sama kamu dek bakalan bungkam ketika lihat cewek arya” ucapku

“Ariya, bōifurendo o motte imasu ka? (arya sudah punya pacar?)” ucap ibu

“Hai, kanari hahaoya ga suki ni narudeshou (iya, cantik sekali ibu pasti suka)” balasku

“Watashi wa sore ga dekinai no bōifurendo o motte iru to wa omoimasen ha ha ha (aku tidak percaya kalau sudah punya pacar, tidak mungkin ha ha ha)” ucap ratna

“kamu lihat sendiri saja nanti kalau dia pulang ke sini, pasti kamu ndak bakal bisa ngejek dia lagi” ucapku

“beneran sudah punya pacar yah? Wah ndak bisa ngejekin anakmu lagi” ucap mbak ika

“cantik banget… pas aku sama ibu disandra kan juga ada pacarnya arya dan ibunya juga” ucap alsa

“jadi dua wanita yang dicertakan tadi pacarnya arya?” ucap ratna

“dasar ndak konekan, lemot” ucapku

“ih mbak biarin kali” ucap ratna membalas

Tawa riang dan canda berada dalam ruangan ini. aku memang merasakan kehadiaran dari ayah dan ibu mertuaku, kulihat tante ifah dan tante laila juga merasakan kediran suaminya. Mungkin mereka datang untuk menyambut kedatangan pahlawan kecilnya. Ya, pahlawan dalam keluarga ini seorang bocah yang dulu tidak aku harapkan, seorang bocah yang dulu ingin aku lenyapkan dari dunia ini. bocah itu arya, anakku sendiri.

Malam hari setelah semua tertidur, aku terbangun dan menuju dapur untuk menikmati minuman hangat. Kulihat tante ifah dan tante laila berada di pekarangan rumah, melihat sekeliling. Kubuatkan minuman hangat dan kubawa menggunakan nampa.

“teh tante…” ucapku mengejutkan mereka

“oh kamu yah, bikin kaget saja. makasih buat minumannya” ucap tante laila

“kamu kok belum tidur yah?” ucap tante ifah

“tadi bangun, sebenarnya Cuma pengen minum saja tapi lihat tante jadi pengen ngobrol”

“tante ifah sama tante laila kenapa belum tidur?” ucapku

Kulihat kedua tanteku ini menghela nafas panjang. Kulihat sebuah tatapan akan kerinduan didalam mata mereka.

“kangen sama om?” ucapku lirih, merea berdua memandangku dan mengangguk

“maafkan diah tan, kalau saja dulu diyah tidak terjebak dalam pertunangan itu” ucapku

“bukan kamu yang salah yah, semua berawal dari kami berdua. Dulu mahesa mengear-ngejarku tapi aku tidak mau dan memilih om kamu” ucap tante laila

“begitu pula aku, nico, tapi aku sama sekali tidak menyukainya” ucap tante ifah, aku hanya memandang mereka berdua dan melihat penyesalan di mata mereka

“tapi jika tante menerima mereka, tante juga akan menjadi seperti yang sekarang. Bahkan mungkin lebih parah. Jika saja dulu aku menolak dan bersikeras melawan ayah mungkin…” ucapku terpotong

“tidak, itu diawali dari kami berdua. Aku dan ifah adalah sahabat, ketika kami mengetahui saling menyukai om kamu, kami bersepakat untuk menjadikannya kepala keluara bagi kami. tapi ternyata mahesa dan nico tidak berhenti begitu saja, dia meminangmu entah bagaimana bisa tapi yang jelas itu membuat mereka semakin dekat dengan kami. ifah dan aku ketakutan, maka dari itu kami pergi tapi namanya om kamu tidak bisa jauh dari keluarga angkatnya dia memilih untuk datang kembali. Dan perstiwa itu terjadi, om kamu hiks… “ ucap tante laila mulai terisak dan dipeluk oleh tante ifah

“sudah mbak… dan mayatnya dibuang entah kemana. Mereka menculik kami dan anak-anak kami. untung saja alsa dan alya disekolahkan. Dan mereka tahu perlakuan mahesa dan nico selama ini, tapi mereka diam dan selalu menenangkan aku dan mbak laila. Hingga akhirnya mereka juga tahu akan dijadikan seperti kami… haaaassshhhh hiks…” ucap tante ifah yang juga mulai terisak

“maafkan aku tan…” ucapku sekali lagi, air mataku mengalir

“bukan salahmu… karena kamulah penyelamat keluarga ini” ucap tante laila membuatku sedikit terkeut

“Arya… dialah penyelamat yang telah kamu hadirkan, kalau saja tidak ada arya, kalau saja dulu kamu meniadakannya. Mungkin keluarga ini akan hancur, aku minta maaf padamu karena kesalahanku kamu menjadi korban” ucap tante laila, aku hanya tersenyum dan berlutut dihadapan mereka sembari kedua tanganku meraih satu tangan mereka masing-masing

“tante tenang saja, yang terpenting kita semua telah kembali berkumpul. tante bisa melanjutkan hidup kembali, masih banyak peninggalan om tian yang diurusi oleh ibu dan tante bisa melanjutkannya… kita akan tinggal bersama lagi, kami juga tidak peduli jika nanti tante akan menikah lagi. Ibu sudah pernah mengatakannya kepada kami semua, jika tante kembali dan menikah dengan orang lain kami tetap akan menganggap tante sebagai bagian keluarga besar ini” ucapku

“tidak… aku tidak akan menikah lagi… tubuh ini hanya milik tian seorang” ucap tante ifah

“begitu pula denganku, tidak ada lagi lelaki selain om kamu yah” ucap tante laila

“dan apapun yang terjadi kalian tetap keluarga kami” ucapku, kami saling berpelukan

“Famirī eien no kazoku (keluarga selamanya keluarga)” ucap ibuku tiba-tiba muncul

“Ibu… bikin kaget saja” ucapku

“eh, mbak…” ucap tante ifah dan tante laila

“sudah yang penting kita sudah berkumpul, jadi kita akan selalu bersama lagi. Kalian akan tinggal di perumahan ini, semua keluarga kita akan dijadikan satu oleh mas kamu, fah, lail” ucap ibuku

“terima kasih mbak, aku tidak tahu cara berterima kasih kepada kalian semua..” ucap tante ifah

“gampang kok tante…” ucapku

“eh,…” mereka berdua terkejut

“caranya, yuk tidur ndak boleh lagi melamun disini” ucapku

Kami berempat tertawa riang dengan suara yang pelan. Hingga kami merasa lelah dan masuk ke dalam rumah untuk melanjutkan tidurku lagi. Hari yang melelahkan bukan? Hmmm…

Hei kamu, aku masih ingin menemui lagi… sekali lagi… untuk perpisahan kita, perpisahan yang….


(siang hari setelah seorang wanita pergi dari sebuah ruang VVIP, selang beberapa saat)

Siapa?
Siapa yang diluar sana?
Siapa yang ada disana?
Cepatlah masuk aku ingin tahu siapa kamu?

Jika kamu memang bukan siapa-siapa bagiku kenapa kamu lama sekali berada didepan pintu itu?
Jika kamu memang bukan datang untukku kenapa kamu masih berdiri didepan pintu itu?
Masuklah, aku hanya ingin tahu siapa kamu?
Hei… cepatlah masuk…

Apa kamu tidak tahu jika aku ketakutan?
Apa kamu tidak tahu berdetak dengan sangat kencang disini?
Kenapa kamu?
Siapa kamu?
Kenapa kamu berdiri didepan pintu?

Lihatlah, apa kamu tidak melihat hal yang aneh ketika kamu berdiri didepan pintu itu?
Aneh tahu…
Aku takut…
Karena ada bunga yang mulai mengembang disini
Aku takut, bunga tidak seharusnya tumbuh di lantai tempatku berada
Tidak ada disin…
Cepatlah masuk, aku hanya ingin tahu siapa kamu…
Dan aku berharap kamu sesuatu yang ah aku takut…
Bunga itu, yang tumbuh disekeliling kamu…
Cepatlah…
Cepatlah masuk…

Jangan buat aku menunggu
Tak ada teman disini…
Apa kamu tidak lelah berdiri disana?
Kemarilah masuk, aku tahu kamu berdiri disana
Menatap pintu..
Apa tanganmu terlalu lelah untuk memutar daun pintu itu…
Aku mohon masuklah, aku takut….

Kenapa sih lama sekali?
Apa yang kamu tunggu?
Kalau kamu terlalu lama disana aku bisa marah dengan kamu
Kamu yang tidak pernah aku tahu siapa kamu

Uuuuugh!
Kenapa sih?
Ada apa sih?
Mengapa?
Dimana kamu berada aku sudah tahu!
Tapi uuuugh
Masuk kenapa?
Kamu dokter? perawat?
Kamu tahu tidak kalau duduk di tempat tidur,
Memanandang sesuatu yang tidak pasti itu menjenuhkan!

Aku akan berada disini…
Memandang pintu yang kamu pandang sekarang
Aku akan berada disini…
Menunggumu membuka pintu itu
Aku akan berada disini…
Hingga aku tahu siapa kamu
Dan aku berharap kamu adalah….

Bersambung

Hallo Bosku, Disini Admin KisahMalah
Agar Admin Semakin Semangat Update Cerita Cerita Seru Seterusnya, Bantu Klik Iklan yang Ngambang ya.
Atau Gambar Dibawah INI

Atau Bagi Kamu yang suka bermain game Poker Online atau Gambling Online lainnya, bisa di coba daftarkan ya. Banyak Bonus dan Hadiahnya Loh.
Untuk yang Kesulitan Daftar bisa Hub Admin di WA untuk di bantu Daftar.
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂