web hit counter

Guru Kami Part 13

0
480
kisah malam

Guru Kami Part 13

MISS TANIA
SISCA
SANDI

Ternyata maksud Will bersenang-senang itu seperti. Gila siapa sih dia sebenarnya? Tembakan dan serangannya cepat dan langsung ke titik sasaran. Ini gila, semua gila. Dan aku yakin ini bukan mimpi. Dan Toni mati gara-gara aku. Atau gara-gara William sebenarnya. Setelah aku pikir-pikir, ini semuanya berasal dari umpan William yang kebetulan aku ambil. Aah pusing kepalaku.

Aku mengikuti saja Sisca yang menggandeng tanganku menuju apartemennya. Untung tidak ada satupun makhluk itu yang menghadang kami. Sisca buru-buru menarikku masuk ke apartemennya. Mungkin dia takut ada yang mengincar kami. Aku mengikutinya ke arah kamar. Mungkin ini kamar Sisca.

Aku terduduk di lantai, punggungku bersandar pada lemari besar yang membelakangi pintu. Kurasakan jantungku berdetak kencang. Malam ini benar-benar gila, Miss Tania ternyata bukan manusia. Aku sudah terjebak oleh kecantikan dan keseksiannya. Niatnya aku yang ngerjain dia, malah kami yang dikerjain.

Aku menatap Sisca yang sedang menatapku. Pandangannya seperti berbinar-binar. Selama ini aku tidak terlalu memperhatikannya di sekolah. Biasanya rambutnya dikepang dua dan berkacamata dan pakaiannya sangat tertutup. Tapi kini dihadapanku, Sisca tampil tanpa kacamata, rambut panjangnya digerai. Pakaiannya atasnya sedikit terbuka memperlihatkan dadanya yang putih mulus tanpa cacat dengan sedikit belahan dadanya terlihat. Lalu pakaian bawahnya rok mini mengembang, memperlihatkan pahanya yang putih mulus. Kalo sekarang kondisinya berbeda, pasti aku akan langsung mendekapnya dan mengeksekusinya. Tapi tidak-tidak boleh, Sisca punya William. William sangat menyukai gadis ini. Meskipun aku brengsek, tapi aku tidak mau merebut milik kawanku. Itu kode etikku.

Hidung Sisca terlihat kembang kempis, sambil menatapku dengan pandangan yang sulit kuartikan. Lalu tiba-tiba, Sisca duduk di kedua pahaku yang terselonjor ke depan. Gerakannya tiba-tiba, aku tidak sempat menghindar. Kedua kakinya melebar, mengapit kedua pahaku. Wajahnya begitu dekat denganku.

“Jangan Sisca, kamu mau ngapain?” aku menggerakkan kepalaku ke samping, menghindar dari wajahnya yang semakin dekat dengan wajahku. Kedua tanganku memegang bahunya, berusaha mendorong tubuhnya menjauh. Tapi sulit karena kini kedua lutut Sisca menjepit pinggangku. Apalagi ketika dia memegang kedua pipiku dengan tangannya yang halus. Mengarahkan wajahku ke depan menatapnya dari dekat. Seakan-akan ada magnet yang membuat aku tidak bisa menolaknya. Lalu ketika bibirnya mencium bibirku, aku seakan-akan tidak bisa menghindar. Aku bisa merasakan lembut bibirnya melumat bibirku. Tidak ada sensasi rasa seperti disedot seperti ketika aku dicium Miss Tania. Bibir Sisca terasa lembut di bibirku. Tanpa sadar, aku memeluknya dan membalas melumat bibirnya yang mungil. Aku merasakan perasaan mesra dari Sisca ketika dia memeluk kepalaku dengan tangannya yang mungil. Maaf Will, entah kenapa aku tidak bisa menolak Sisca melakukan ini. Aku ini memang bajingan atau seperti ada magnet yang sangat kuat, yang menarikku untuk membalas perlakuan Sisca padaku. Tapi yang pasti, aku merasa nyaman di pelukan Sisca. Aneh.

SISCA

Aku menatap wajah ganteng di depanku. Yes, aku gembira sekali. Akhirnya aku bisa berduaan dengan pangeranku. Bener-bener hebat perkataan Mama, di usiaku yang mau 18 tahun, akhirnya aku dapat berduaan dengan pangeranku. Bayangkan di kamarku. Hanya berdua dengan pria idamanku dari dulu. Andai dia tahu, betapa tiap di sekolah aku selalu mencuri pandang ke arah mejanya. Tapi ya, aku harus menahan kecewa karena tidak mungkin Sandi melihat ke arah gadis berkacamata, rambut berkepang dua dan pakaian yang selalu berlebihan untuk menutupi tubuhnya.

Sebenarnya aku agak risih ketika murid baru itu, William selalu melirik ke arahku ketika aku sedang menatap Sandi. Pandangannya pun seperti jatuh cinta padaku. Maaf Will, aku ini wanita yang hanya mencintai satu pria. Dan aku sudah jatuh cinta pada Sandi sejak pertama kali aku bertemu dengannya. Tapi harus kuakui, William tadi begitu melindungi keselamatanku. Begitu menjagaku. Sejujurnya aku terharu melihat tindakan William. Tapi mau gimana lagi, aku sudah jatuh cinta begitu dalam dengan Sandi. Hanya Sandi yang kuingin menjadi pangeranku, mendampingi hidupku sampai nanti.

Tapi Sandi kan idola di sekolah. Banyak gadis-gadis cantik yang berebutan menjadi pacarnya. Aku harus sering menahan rasa sedihku ketika Sandi selalu berganti-ganti pacar, dengan cewe-cewe cantik. Sama sekali tidak melirikku. Tapi akhirnya kesabaranku terbayar. Kini dia bisa melihatku tanpa memakai kacamata, rambut panjangku tergerai. Dan pakaianku sedikit nakal. Ini kesempatanku untuk menarik perhatiannya.

Entah timbul keinginanku untuk memberanikan diri duduk dipangkuannya. Mungkin ini karena libido yang muncul ketika aku mencapai usia dewasaku. Nafasku kembang kempis, wajahku begitu dekat dengan wajah gantengnya. Aku bisa merasakan nafas Sandi di wajahku, begitu hangat. Ah aku merasakan getaran-getaran merinding di sekujur tubuhku. Ketika wajahnya berpaling ke kiri. Aku memegang kedua pipinya dengan tanganku yang lembut. Lalu aku menciumnya di bibirnya. Rasanya luar biasa. Lalu aku merasakan Sandi membalas ciumanku. Melumat bibirku. Aku seakan-akan melayang tinggi di langit. Kami berciuman mesra. Saling melumat bibir. Lalu ketika lidah Sandi menyelip masuk ke dalam mulutku. Menyentuh lidahku. Aku merasakan getaran enak yang belum pernah kurasakan. Aku merasakan nafasku semakin memburu. Sandi, aku milikmu mulai sekarang. Entah desakan dari mana, aku menurunkan baju atasku hingga kini kedua payudaraku terbuka. Aku tidak merasa malu dipandangi oleh pangeranku. Dia menatap kedua payudaraku yang terbuka. Lalu aku pun memegang kedua tangan Sandi untuk memegang kedua payudaraku.

“Remas payudaraku, San. Ini semua milikmu,” bisikku pelan. Aku merasakan suasana yang sangat romantis dan menggairahkan. Seperti yang sering kubaca di internet. Ternyata ini rasanya menggairahkan. Jantungku berdetak kencang. Rasanya luar biasa ketika kedua tangan Sandi meremas kedua payudaraku. Aku merasakan vaginaku sedikit lembab, seperti ada sesuatu yang merembes keluar dari dalam vaginaku. Dengan tangan Sandi masih memegang kedua payudaraku, aku kembali melumat bibir Sandi. Aku melumatnya dalam-dalam.

“Aah…,” aku mengeluarkan rintihan tertahan ketika telapak tangan Sandi bergesekan dengan kedua putingku yang kurasakan tiba-tiba mengeras.

“Aaah..,” sekali lagi aku mendesah, sambil aku menyandarkan kepalaku di sebelah kanan Sandi, ketika aku melihat sekelebat bayangan di luar pintu kamarku.

Aku kaget. Aku buru-buru memakai lagi baju atasku. Aku berdiri. Sandi pun seperti kaget melihat apa yang baru kulakukan. Aku memberi tanda pada Sandi dengan telunjuk di mulutku. Aku pelan-pelan mendekati pintu Lalu ketika aku sudah diluar, aku melihat sosok William yang tiba-tiba melangkah cepat ke arah pintu apartemenku, menjauhi kamarku. Berarti dari tadi William ada disini. Pasti dia melihat apa yang baru saja kami lakukan.

WILLIAM

Rasanya sakit sekali. Melihat mereka berdua berciuman, apalagi ketika Sisca menurunkan bajunya. Memperlihatkan keindahan kedua payudaranya dengan kulit dadanya yang putih mulus tanpa cela. Aku sampai menggenggam erat gagang pisauku, untuk menahan panasnya di dadaku. Jantungku berdetak cepat. Ini yang rasanya cemburu. Tidak mengenakkan sekali. Tapi wanita mana yang tidak akan tergoda dengan ketampanan Sandi. Dan aku seperti menyadari kebodohanku. Jadi selama ini ketika Sisca melirik ke arahku. Dia bukan melihatku tapi melihat ke arah Sandi. Betapa bodohnya aku. Apalah artinya aku dibandingkan dengan Sandi. Wajar kalo Sisca suka dengan Sandi. Aku saja yang terlalu percaya diri. Menyangka kalo Sisca suka padaku. Tapi aku harus berbesar hati. Meskipun cintaku tidak terbalas, bukan berarti aku tidak akan menyelamatkan Sisca dari sini. Aku harus bisa menyelamatkan Sisca dari gedung apartemen ini. Paling tidak itulah yang bisa kulakukan untuk membuktikan bahwa aku benar-benar mencintainya.

“Aaahh..,” aku mendengar rintihan Sisca. Bangsat. Rasanya kok tidak enak begini. Aku harus menghindar dari sini. Ketika aku hendak berbalik menuju ke arah pintu apartemen. Tiba-tiba muncul beberapa mahkluk yang membuka pintu. Bajingan, kenapa mereka bisa disini. Apakah tadi mereka mengikutiku?

Langsung saja, aku berlari menyongsong mereka. Makhluk pertama yang paling dekat denganku, ingin menebas diriku dari samping kanannya. Aku seperti ingin menyalurkan rasa panas di dadaku. Aku menunduk membiarkan pedang itu lewat di atas kepalaku, lalu aku menggerakkan pisauku, memotong pergelangan tangannya yang memegang pisau. Tanganya kanannya terbabat putus oleh pisauku. Dia berteriak kesakitan. Karena sempitnya pintu, teman-temannya hanya bisa berdiri di belakangnya. Aku menembakkan pistolku dekat di wajahnya. Aku tembak berkali-kali. Lalu aku tendang tubuhnya sehingga mendorong teman-temannya keluar dari apartemen. Lalu aku menginjak tubuh yang sudah mati itu, aku mendekat ke makhluk yang terjatuh, yang paling dekat denganku. Aku hantam kepalanya ke tembok lalu kutempelkan pistolku ke jidatnya dan menembaknya. Darahnya yang berwarna hitam gelap langsung menghiasi dinding. Lalu aku menendang kepala makhluk yang terjatuh di sebelah kiriku. Kepalanya menghantam tembok juga, lalu aku menusukkan pisauku ke arah matanya. Setelah menancap, lalu aku menembak kepalanya dari samping. Aku menggila. Aku harus menjauhkan mereka dari apartemen Sisca. Dua makhluk sudah bangkit, ku tackle kaki yang paling dekat denganku. Sehingga dia terjatuh kembali dengan kepalanya membentur lantai. Lalu aku berjongkok di dekatnya. Menusukkan pisauku di kuping kanannya. Lalu aku menembak kepalanya dua kali. Tinggal satu makhluk di depanku. Dia seperti takut melihat wajahku yang seperti kesetanan.

“Ayo serang aku, bangsat!!” teriakku. Dia menghunus pedangnya.

“Ayo!” teriakku. Setelah ragu-ragu sesaat, dia menusukkan pedangnya ke arah dadaku. Aku menghindar ke samping. Pedangnya lewat di depan dadaku. Aku menembak selangkangannya. Dia mengerang kesakitan, pedangnya terlepas dan kedua tangannya memegang selangkangannya. Kutendang kepalanya keras-keras dengan lututku hingga dia tersungkur ke lantai. Kumasukkan pisauku ke dalam tempatnya di pinggangku. Kutembak kepalanya. Kemudian aku mengambil pedangnya yang terjatuh. Kutembak kepalanya sekali lagi. Lalu kutusukkan pedangnya ke jidatnya sampe tembus ke belakang. Aku merasakan nafasku sangat memburu. Namun terasa nikmat sekali rasanya membantai mereka dengan cara seperti ini.

Aku melihat Sisca menatapku di depan pintunya. Aku bisa merasakan ada darah yang menetes dari daguku. Aku yakin ini bukan darahku. Aku membalas tatapan Sisca dengan nafas memburu. Dia seperti kaget melihat betapa ganasnya aku. Maaf, Sis. Aku harus melampiaskan kemarahanku ini. Kalo tidak urat-uratku akan pecah karena kecemburuanku. Dan sayangnya aku tidak bisa melampiaskannya padamu atau Sandi.

Bersambung