web hit counter

Guru Kami Part 15

0
401
kisah malam

Guru Kami Part 15

MISS TANIA

SISCA

23:40

WILLIAM

Apa maksudnya Sisca menciumku tadi? Apakah dia menyukaiku? Kalo menyukaiku, kenapa tadi bermesraan dengan Sandi. Ah mungkin dia hanya ingin berterima kasih padaku karena sudah menyelamatkannya berkali-kali. Aku meraba lagi bibirku yang tadi dicium oleh Sisca. Masih terasa hangat dan basah bibirnya. Apapun yang terjadi aku harus menyelamatkan sebanyak mungkin yang aku bisa selamatkan dari sini. Terutama Sisca. Aku janji Sis. Meskipun akhirnya kamu mungkin akan bersama Sandi. Aku tetap akan menyelamatkanmu.

Ketika aku mencapai kamar 709. Tidak ada orang, pada kemana. Aku sedikit panik. Apakah mereka semua ditangkap oleh Miss Tania? Aku segera keluar apartemen. Kudengar dari arah apartemen Miss Tania, seperti ada keributan. Aku berlari sambil mengeluarkan pisau dan pistolku. Begitu sudah mendekat lalu aku mengambil pose siaga.

Begitu aku masuk ke dalam apartemen Miss Tania. Aku melihat Sandi lagi melumat bibir Anna dengan Thomas yang bergelayut di punggung Sandi. Lalu kulihat Sandi berhenti mencium Anna. Lalu bergerak mundur mendorong Thomas ke arah dinding, mendekat kepadaku. Dengan tangan saling disilangkan, aku berdiri di tembok dimana Thomas akan dibenturkan oleh Sandi, aku menahan agar Thomas tidak terbentur tembok. Sandi tidak sadar ada aku di belakang. Sekali lagi dia mendorong Thomas ke tembok. Sekali lagi aku menahannya.

Melihat Thomas tidak berhasil roboh, Sandi menarik punggung Thomas lalu hendak dibanting ke depan. Aku cepat mendorong Thomas agar tubuhnya tidak dapat dilemparkan ke depan sekaligus mendorong Sandi ke depan, sehingga Sandi terdorong maju dan Thomas melepaskan pegangannya di leher Sandi. Aku menahan tubuh Thomas agar tidak jatuh. Aku segera menyimpan pisau dan pistolku.

Sandi terdorong ke depan, tatapannya mengarah ke Anna yang sedang ketakutan. Sandi lalu berjalan cepat ke Anna. Angga menghadang di depan Anna.

“San, sadar,” teriak Angga.

Sadar? Apa Sandi kerasukan? Jangan-jangan Sandi sudah jadi bagian dari mereka. Cilaka.

Sandi melayangkan tinju kanannya, hendak memukul wajah Angga. Angga menangkis pukulan Sandi dengan tangan kirinya. Terlihat Angga seperti menahan sakit. Anna buru-buru mundur namun ketahan tembok. Angga membungkuk, memeluk perut Angga, mendorong Sandi agar tidak maju mendekat ke arah Anna. Lutut Sandi digerakkan menghantam perut Angga. Angga berteriak kesakitan hingga terlepaslah pelukannnya pada perut Sandi.

Ini Sandi, aku tidak bisa menggunakan pistol dan pisauku. Ketika aku hendak maju, kulihat Fatty langsung melompat ke arah Sandi dan karena bobot Fatty, Sandi terdorong ke kanan, terjatuh. Fatty pun terjatuh di dekat Sandi, sambil meraba dadanya yang kesakitan terbentur lantai. Sandi cepat berdiri.

Aku segera berlari, menghadang jalannya.

“San,” tatapku dengan suara keras. Kulihat wajah Sandi berbeda seperti sebelumnya. Ada sesuatu yang tidak beres. Sandi melompati tubuh Fatty dan mengarahkan bogemnya ke wajahku. Aku mundur menghindari serangannya. Lalu tangan kiri Sandi yang kini dilayangkan ke arah wajahku. Aku memiringkan badanku ke kanan, sehingga pukulannya meleset. Tapi dengan cepat Sandi mengarahkan sikut kanannya ke wajahku. Aku sempat melihat matanya. Itu bukan Sandi. Kutendang dadanya, membuat Sandi mundur beberapa langkah. Fatty menangkap kedua kaki Sandi. Thomas tanpa kapok merangkul Sandi lagi dari belakang dengan memegang lehernya. Sandi dengan kuat menggoyang-goyang tubuhnya. Thomas terlempar ke sofa. Untung ke sofa. Kasian, Fatty kena tendangan di wajahnya. Pelipisnya berdarah. Kemudian Angga menarik kemeja Sandi. Namun Sandi berontak ke belakang sehingga kini leher Angga yang terpiting oleh tangan kanan Sandi. Namun Angga gesit memegang kemeja depan Sandi. Lalu Sandi memukul wajah Sandi dengan pukulan tangan kirinya, sehingga Angga terjatuh, bibir Angga berdarah sedikit, dan tangannya yang menarik kemeja depan Sandi sempat merobek kemeja Sandi bagian depan. Terlihatlah tanda merah di atas dada Sandi. Masih agak tidak terlihat jelas, tapi ada tanda merah di dada kirinya.

Sialan, bener. Sandi sudah menjadi bagian dari mereka. Tapi aku tetap tidak tega membunuh Sandi. Aku maju menghadangnya lagi.

“San!” teriakku. Ketika Sandi hendak meninjuku lagi dengan tangan kanannya, aku menunduk dan meninju perutnya. Sandi membungkuk terhuyung ke belakang.

“Come on, Sandi! Sadarlah!” Sandi baru saja menjadi bagian dari mereka, harusnya proses Sandi belum benar-benar menjadi mereka. Aku masih bisa menyadarkannya kalo belum terlalu terlambat.

Tanpa mengenal sakit, Sandi maju lagi. Melompat, mengarahkan lutut kanannya ke arah dadaku. Aku memiringkan badanku ke kiri lalu kuarahkan sikut kananku ke arah dadanya. Bugh. Telak kena dadanya. Kembali lagi Sandi mundur beberapa langkah. Kali ini Sandi tampak gusar, dengan kedua tangannya yang terentang di kiri dan kanan. Dia berlari ke arahku. Dia hendak menghajar wajahku dari kiri dan kanan. Ketika Angga hendak menghentikan Sandi lagi.

“Jangan, Nga,” lalu aku memiringkan badanku dan mengarahkan tendangan kaki kananku ke dadanya. Tampaknya Sandi belajar dari gerakanku sebelumnya yang mengincar dadanya. Tiba-tiba kedua tangannya yang terentang menangkap kaki kananku. Aku sudah berantisipasi gerakan Sandi. Lalu aku menarik kaki kiriku memutar hingga mengangkat ke atas dan kutendang kembali dada Sandi. Terlepaslan pegangan Sandi pada kaki kananku, dan dia mundur beberapa langkah lagi. Lalu cepat-cepat aku melompat ke arah Sandi dan menendang dadanya lagi dengan kedua kakiku. Bugh. Sandi terdorong mundur lebih jauh.

“Sadar, San!” teriakku lagi.

Ekspresi wajah Sandi berubah, seperti kesakitan.

“Will, bunuh gua. Gua ga mau jadi mereka,” wajahnya seperti menahan kesakitan yang amat sangat.

Lalu wajahnya berubah lagi menjadi aneh. Sandi maju lagi dengan gerakan melompat, kedua tangannya mencengkeram ke arah leherku. Aku menunduk ke bawah, lalu kuhantam dagunya dari bawah dengan tangan kananku dan langsung kuhajar lagi dadanya dengan kepalan tangan kiriku. Bugh.

Sandi mundur ke belakang beberapa langkah. Sekali lagi aku bergerak cepat mendekat, memukul dadanya lagi dengan tangan kiriku. Bugh. Lalu tangan kananku. Bugh. Sandi sampai mundur menghantam tembok.

Wajah kesakitannya muncul lagi.

“Will, please bunuh gua. Sebelum gua bener-bener menjadi seperti mereka,” wajahnya mengernyit kesakitan. Sandi sampai mengepalkan tangannya, kedua bahunya maju ke depan, menahan rasa sakit Sandi. Jelas Sandi lagi menolak sel-sel di badannya berubah menjadi mereka.

“Arrrghhh…,” teriak Sandi sambil wajahnya menengadah ke atas. Ketika wajahnya menatapku, wajahnya terlihat lebih seram. Aku terkejut. Tampaknya kini Sandi sudah benar-benar menjadi mereka.

“Will, please…tembak gua,” Sandi kini berlutut. Menatapku. Dia memukul-mukul dada kirinya.

“Cepat Will, sebelum gua seutuhnya jadi seperti mereka,” teriak Sandi lagi. Sandi menundukkan kepalanya. Kulihat tanda merah di dada kirinya semakin bertambah merah. Sandi sudah tidak bisa ditolong lagi.

Lalu aku mengambil pistolku, kuarahkan ke jidatnya.

Sandi seperti masih melawan proses tranformasinya dengan sisa kekuatannya. Ketika jari-jariku sudah berada di pelatuk pistolku. Kulihat Sandi tersenyum. Dia merogoh kantongnya, melemparkan kunci mobil yang kutangkap dengan tangan kiriku.

“Selamatkan teman-teman yang lain,” Lalu wajahnya kembali berubah seram menakutkan. Sambil memejamkan mata, kutarik pelatuk pistolku. Dan jatuhlah tubuh Sandi di depanku. Sorry San, I have to do this. Dan sori Sis, aku sudah membunuh Sandi. Kamu pasti sangat membenciku sekarang. Tapi ini tidak ada hubungannya dengan perasaanku padamu. Aku harus membunuh Sandi agar dia tidak tersiksa menjadi bagian dari mereka. Kudengar teriakan Fatty, Thomas. Angga hanya menatapku. Seakan-akan dia membenarkan tindakanku. Aku mendekati Anna yang berdiri mematung bersandar tembok. Ketika aku sudah dekat, Anna memelukku. Kudengar isakan tangisnya. Aku menyimpan kunci mobil Sandi di kantong celana kiriku. Aku mengusap punggungnya. Lalu aku mengangkat wajahnya.

“Uda, jangan nangis. Bentar lagi kita selamat,” ucapku dengan lembut sambil menghapus air matanya.

“Maaf teman-teman, gua terpaksa bunuh Sandi karena dia sudah jadi seperti mereka,” aku memejamkan mataku, terbayang senyum Sandi sebelum kubunuh tadi.

Tau-tau terdengar tepuk tangan di arah pintu apartemen Miss Tania. Aku menoleh. Aku melihat Miss Tania muncul bersama kakaknya, yang tampaknya sudah pulih dari lukanya. Lalu di belakangnya ada beberapa anak buahnya yang kulihat kini semuanya wanita.

“Bagus, ternyata kalian ngumpul semua disini,” Miss Tania tersenyum manis. “Jadi gampang buat menghabisi kalian semua.” Senyum manisnya menghilang diganti tatapan tajam pada kami semua.

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part