web hit counter

Halaman yang Hilang Part 14

0
370

Halaman yang Hilang Part 14

INDAH & TAK PERNAH TERJAMAH

—-POV REGA—-

Kupikir kesetiaan itu sangatlah penting dalam setiap hubungan. Terutama hubungan yang sudah terikat oleh pernikahan dengan segala nilai kesakralannya. Menjadi saksi secara langsung sebuah tragedi Cinta segitiga yang terjadi antara Bu Fiona, suaminya dan wanita simpanan suaminya membuatku bertanya-tanya,

Apakah kesetiaan sudah tidak ada artinya?

Padahal dilihat dari segi manapun, Bu Fiona adalah wanita yang mempunyai ciri-cirik fisik yang sempurna, selain itu menurutku Bu Fiona mempunyai kepribadian yang baik. Pokoknya dia adalah tipe wanita idaman banyak pria. Tetapi bukannya bersyukur karena mendapatkan istri idaman, suaminya masih menyeleweng dan nekat selingkuh di rumahnya sendiri.

Apakah pada dasaranya manusia adalah makhluk yang tidak bisa setia?

Faktanya, kamu pasti setuju kalau manusia adalah makhluk yang tidak pernah bisa merasa puas. Manusia selalu mempunyai keinginan dan tertantang untuk mencoba sesuatu yang baru. Karena sesuatu yang baru biasanya membawa suasana baru, petualangan baru, gairah baru dan menawarkan kemungkinan kemungkinan baru yang lebih mendebarkan dibandingkan sesuatu yang sudah lama atau sudah dimiliki sejak lama. Itu sebabnya manusia tidak akan pernah bisa menjadi makhluk yang setia. Terutama makhluk bernama Pria !.

Dalam hal ini, Bu Fiona sebagai korban perselingkuhan tentu merasa sangat tersakiti akibat ulah suaminya yang sudah merusak kesetiaan dan komitmen pernikahan mereka. Aku bahkan tidak sanggup membayangkan rasa sakit yang dirasakannya ketika melihat suami yang sangat dia cintai sedang berhubungan seksual dengan wanita lain di dalam rumahnya, di dalam kamarnya, di atas tempat tidur, di tempat dimana dia dan suaminya selalu berbagi cinta dan kebahagaiaan.

Hari itu, sambil menangis Bu Fiona tak henti-hentinya mengutuk suami dan selingkuhan suaminya. Aku sampai terbawa emosi dan kecewa kepada wanita simpanan Suami Bu Fiona yang tidak lain adalah Melly. Dia tega merusak kehormanisan hubungan asmara orang lain yang sudah terikat dalam sebuah pernikahan. Namun aku langsung tersadar kalau selama ini aku juga telah melakukan kesalahan yang sama seperti Melly. Aku juga menjalin hubungan terlarang dengan mamanya Mira di rumahnya sendiri. Aku baru merasakan betapa besar kesalahanku saat melihat Bu Fiona yang sangat terpukul mengetahui suaminya selingkuh. Aku membayangkan Mira atau papanya jika tau hubungan Mommy denganku pasti juga akan sangat terpukul seperti Bu Fiona.

Rasa bersalahku semakin mendalam karena Mommy bukanlah pertama. Beberapa kali aku pernah ‘tidur’ bersama wanita yang sudah bersuami, entah itu hanya sebatas One Night Stand atau hubungan yang berlanjut lebih dari sekali seperti Mbak Tina. Bahkan sudah tidak terhitung aku tidur bersama cewek yang sudah punya kekasih, tega membiarkan cewek-cewek menghianati pasangannya seperti Jessica walaupun sekarang dia sudah putus dengan pacarnya.

Ternyata aku masih belum bisa berubah, tak lebih dari serigala liar yang selalu lapar dan terangsang. Apapun alasan dibalik orang nekat berselingkuh maupun mau jadi selingkuhan, itu hanyalah sebuah pembenaran atas perbuatan yang secara moral tidak baik untuk dilakukan. Karena apapun alasannya, selingkuh adalah perbuatan yang salah.

Setelah semalaman menemani Bu Fiona, Keesokan harinya aku pulang ke rumah kost. Saat masuk ke dalam rumah, aku mendapati Winry sedang duduk di sofa ruang tengah.

.

.

.

“Bee.. !! Kayaknya kamu melewatkan sesuatu deh..” Seru Meta memotong Ceritaku. “Ada yang belum kamu katakan kepadaku?.

Aku menggelengkan kepala “Enggak ada Sayang”.

“Ngapain aja semalaman bersamanya di apartemen? Hmm?” Tanya dia sambil senyum sinis.

“Nggak ngapa-ngapain Bee” Jawabku. Aku berusaha bersikap sewajarnya padanya.

Meta terdiam seraya menatap tajam mataku. Mencoba mencari sesuatu dari sorot mataku. Dia masih belum percaya dengan ceritaku.

“kamu masih tidak mau jujur kepadaku” Ucapnya lalu mengalihkan pandangannya dariku. Memandang keramaian kota dari ketinggian di malam hari. “Tadi kamu bilang kalau kamu sudah tidak peduli lagi dengan wanita lain dari masa lalumu, seharusnya kamu ga perlu ragu mengatakan semuanya kepadaku.”

Shit. Aku meraih tangan Meta yang masih duduk di pangkuanku kemudian mengusapnya. Hembusan angin malam menerpa tubuh kami.

“Aku tidak mengatakannya karena kupikir itu akan menyakitimu” Ucapku.

Meta menatapku lagi “I DON’T FUCKING CARE” Bentaknya “Bukankah sudah kubilang kalau aku sudah menerima apapun masa lalumu?”

“Maaf.. aku Cuma nggak ingin kamu kecewa denganku karena mengetahui semua apa yang aku lakukan di masa lalu. Aku ga ingin kamu pergi lagi dariku… aku ga mau kehilanganmu lagi..” Ucapku.

Meta mendekatkan wajahnya kepadaku lalu dia mencium bibirku. Hembusan angin yang agak kencang tidak mengganggu bibir kami saling berpagutan.

“Bodoh !!” Serunya setelah ciuman kami terlepas “Masa lalumu gak akan pernah bisa berubah, aku gak akan pergi karena apa yang kamu lakukan di masa lalu, yang terpenting adalah kamu yang sekarang. Aku juga gak akan pernah melepasmu. Meskipun suatu saat nanti masa lalumu datang kembali berusaha merebutmu dariku, aku tetap tidak akan pernah melepaskanmu lagi kepada siapapun”

Aku sangat bahagia mendengar ucapannya. Seakan Meta menegaskan kalau dia tidak peduli dengan apapun yang terjadi padaku di masa lalu. Dan dia tidak akan pernah menyerah lagi denganku, akan selalu ada disiku apapun yang akan terjadi nanti. Aku merasa melihat Alexa dan Rein di dalam diri Meta. Ahh tidak,, bagiku Meta adalah yang terbaik.

“Lihat mataku,,,,” Perintahnya, kutatap mata sipit kekasih yang sangat kucintai ini ”Aku ingin hidup bersamamu Bee,.. maka dari itu jangan sembunyikan apapun lagi dariku. Katakan yang sejujurnya.. aku tidak akan marah..” Ucapnya. Kami berdua saling bertukar senyum.

“Kalau kamu tidak marah, kenapa daritadi kamu memukul, mencubit dan berusaha menamparku selama aku cerita?” Tanyaku sambil tersenyum sinis kepadanya.

Meta malah nyengir “Anggep saja sebagai penebusan dosa masa lalumu” Ucapnya.

“Punya tunangan kok sadis amat kalau marah..” Gerutuku. Padahal belum seberapa kuceritakan dosa-dosa masa laluku.

Meta merangkul leherku “Terus kamu maunya diapain? Digigitin pundaknya??” Bisiknya menggoda. Lalu Meta menarik bagian lengan kaosku kemudian membenamkan wajahnya di pundakku lalu digigitnya pelan kulit pundakku seperti seorang Drakula. Kalau Drakulanya secantik ini sih aku rela digigit setiap hari. Hihi. Tapi bukannya sakit, aku malah kegelian karena gigitan Meta di pundakku.

“Beee !!! Ngapain sihh? Gelii tau…” Seruku “Jangan disitu gigitnya…”

“Terus dimana?” tanya dia. Aku hanya nyengir sambil menatap wajahnya.

“Mau Sekarang? Disini?” Tanya dia sambil senyum-senyum. Sepertinya dia tau maksudku.

“ga ada yang lihat,,” Bisikku pelan. Cubitan panas langsung mendarat di perutku.

“awwww sakittt Beee..” Gilak panas banget.

“kamu mau tanggung jawab kalo aku jadi pengen??” tanya dia. “Egois banget sihhh”

“hehe.. kirain “

Selain menahan sakit di perutnya, Meta juga harus menahan hasratnya untuk bercinta karena sedang haid. Katanya sih, wanita yang sedang menstruasi itu gairah seksnya meningkat. Gak kebayang penderitaan yang sedang dia rasakan.

“Yaudah Lanjutin lagi ceritanya.. nanti aku kasih..” Ucapnya

“kasih apa?”

“masa depanku..” Ucapnya sambil tersenyum manis dengan wajah yang merona. Senyumnya membuat kecantikannya semakin terlihat sempurna.

Kubalas senyumnya. “oke… Tapi isepin juga ya….” Godaku.

“BBBBBEEEEEE…..” Dia langsung cemberut dan memukul mukul dadaku pelan. Aku tertawa puas setelah membuatnya kesal.

Kulanjutkan ceritaku meskipun tidak menjamin Meta akan berhenti menyiksa tubuhku. But it’s OK. Yang penting Meta sudah berjanji tidak akan meninggalkanku sampai kapanpun meski dia tau semua masa laluku. Benarkah? Hmm.. Malam ini bakal menjadi malam terpanjang bagi kami berdua.

Sudah kukatakan sebelumnya bahwa manusia adalah makhluk yang tidak pernah bisa merasa puas. Ada sisi liar seperti binatang didalam setiap diri manusia jika berkaitan dengan kontak fisik dengan lawan jenis. Jika nafsu sudah menguasai, apapun akan dilakukan tidak peduli itu benar atau salah. Namun manusia mempunyai akal sehat yang bisa membatasi sisi liar dalam dirinya. Akal sehat yang mencegah manusia melakukan hal yang tidak dibenarkan secara moral.

Tetapi malam itu di apartemennya Bu Fiona, akal sehatku dikalahkan oleh nafsu liar yang menguasai tubuh dan pikiranku.

.

.

.

.

Hatinya pasti tercabik-cabik setelah mengetahui kebenaran tentang suaminya. Dia pasti sedih, dia pasti marah, dia pasti merasa rumah tangganya sudah hancur. Cukup lama dia menangis di dalam kamarnya, hampir dua jam berlalu aku masih mendengar dia menangis, menangis, dan menangis lagi meskipun sempat berhenti.

Apa yang harus aku lakukan ?? Apakah aku harus bilang kepada Bu Fiona kalau aku kenal dengan wanita yang merusak rumah tangganya itu? Apa yang terjadi kepada Melly nantinya? Fuckk. Tapi aku harus segera memberitahu Rein, karena dia adalah sahabatnya Melly. Tetapi masalahnya Rein tidak bisa dihubungi selama dia KKN. Sebaiknya untuk sementara ini lebih baik aku merahasiakan identitas Melly dari Bu Fiona sambil menunggu apa yang akan dilakukan Bu Fiona.

Satu jam berikutnya aku sudah tidak mendengar tangisannya lagi. Apakah dia baik-baik Saja? Ahh Idiot, dia pasti tidak sedang baik-baik saja. Kucoba mengetuk pintu kamarnya untuk memastikan keadannya. Tak lama pintu kamarnya terbuka. Bu Fiona berdiri lemas sambil menatapku.

“Sakit banget Ga. Aku sampai tidak bisa menahannya“ Ucapnya dengan suara yang serak. Aku sampai merasa iba mendengar ucapannya. Seolah aku bisa merasakan apa yang sedang dia rasakan.

“Ibu membutuhkan sesuatu?“ tanyaku

“kamu.. “ Serunya “aku butuh kamu, jangan pulang, jangan tinggalkan aku “ Ucapnya, air mata kembali menetes di pipinya.

aku akan tinggal disini malam ini “ Ucapku. Melihat keadaannya seperti ini, mana mungkin aku tega meninggalkannya sendirian.

“Maukah kamu melakukan sesuatu untukku?“ Tanya dia sambil menatapku.

“tentu,,“

“peluk aku. please !!“ Pintanya sambil menangis.

Aku langsung meraih tubuhnya dalam dekapanku. Lalu dia kembali menangis sejadi-jadinya di dalam pelukanku. Kubiarkan dia Melepaskan semua emosi dalam tangisannya. Tanganku mencoba menenangkannya dengan membelai-belai rambutnya.

Aku selalu benci melihat seorang wanita yang menangis. Aku selalu marah jika ada wanita menangis karena disakiti oleh pasangannya. Bukankah wanita harusnya dilindungi, dicintai, disayangi dan selalu dibahagiakan? Bukan untuk disakiti dan dibuat terluka hatinya. Terlebih lagi oleh pasangan yang sudah dalam ikatan suci pernikahan. Dimana mereka bersama-sama sudah berjanji untuk menjaga hati dan tubuhnya hanya untuk pasangannya.

Cukup lama Bu Fiona berada di pelukanku hingga akhirnya tangisannya mereda. Dengan sendirinya dia melepasakan diri dari pelukanku kemudian menatapku dengan wajah cantiknya yang malam ini terlihat lusuh karena daritadi menangis. Kemudian tiba-tiba Bu Fiona mengarahkan wajahnya ke wajahku dan betapa kagetnya aku ketika dia mencium bibirku.

Sepersekian detik Aku membeku dan hanya bisa menatap matanya yang terpejam. Rasanya seperti waktu disekitarku berhenti berputar. Ciuman dari bibir Bu Fiona yang lembut terasa begitu menuntut. Kenapa dia menciumku?.

Aku merasa apa yang sedang dilakukannya in bukanlah ciuman. Melainkan sebuah teriakan. Bu Fiona berteriak dalam ciumannya merasakan betapa menyakitkannya hatinya saat ini. Aku berpikir dia tidak bersungguh-sungguh menciumku, ciumannya ini hanya sebuah pelarian dari rasa sakit yang sedang dia rasakan. Atau mungkin secara realistis dia sedang membalas dendam terhadap suaminya. Apapun itu alasan dia menciumku, jelas Bu Fiona sedang tidak bisa berpikir jernih sehingga dia tidak bisa mengambil keputusan atau tindakan yang normal.

Ciuman bibirnya terasa semakin tergesa-gesa, semakin menuntut bibirku agar membalas ciumannya. Sedetik kemudian kudorong pelan tubuhnya hingga ciumannya terlepas. Ciumannya begitu singkat tapi bibirnya yang lembut masih terasa di bibirku. Bu Fiona menatapku tajam. Kemudian dia berusaha mendekatkan wajahnya lagi ke wajahku namun kutahan tubuhnya dengan kedua tanganku memegang kedua pundaknya.

“please..” Pintanya pelan. Meskipun pelan, namun terdengar seperti sebuah teriakan di telingaku.

Kami berdua saling berpandangan. Jantungku berdetak begitu kencang, didepanku berdiri dosen yang selama ini kuidolakan di kampus sedang memohon-mohon untuk mencumbuku. Seolah seperti sedang mendapatkan kesempatan emas yang mungkin tidak akan pernah datang lagi. Tapi aku tidak bisa mengambil kesempatan dari wanita yang sedang rentan secara mental seperti Bu Fiona. Itu adalah hal yang sangat-sangat buruk.

“tapi Bu…”

“berhenti memanggilku seperti itu, kita tidak sedang berada di kampus, panggil namaku” serunya. “Aku tau sejak lama kamu menginginkan tubuhku, seperti aku, malam ini aku menginginkanmu Rega”

Shit. Apa yang sedang dia pikirkan? Kenapa dia berkata seperti itu? Tidak peduli seberapa parah dia sedang terluka, aku harus menjaga jarak. Karena dia adalah dosenku, dan dia sudah berkeluarga. Tapi dia sudah diselingkuhin suaminya, keluarganya sudah hancur. Apa yang aku takutkan? Dia? Suaminya? Atau diriku sendiri.. Shit.. shit. Aku mulai mencari pembenaran-pembenaran yang seharusnya salah untuk dilakukan.

Bu Fiona mengarahkan wajahnya lagi ke wajahku namun aku menjauhkan wajahku.

“Maaf aku ga bisa… ” Ucapku pelan.

Ya. Aku yakin ini adalah keputusan yang benar. Selain membantunya mendapatkan bukti perselingkuhan suaminya, tidak ada hal lain lagi yang bisa kulakukan untuknya. Aku bersedia membantunya dalam hal itu, tetapi mengganggu pernikahan orang lain adalah hal lain. Dan aku tidak mau lagi masuk ke dalam hubungan pernikahan orang lain, meskipun pernikahan Bu Fiona sudah berada di ujung tanduk.

Bu Fiona terdiam di depanku. Menunduk, melihat kearah lantai tidak berani menatapku lagi. Kulihat air mata membasahi pipinya lagi. Kulepaskan genggaman tanganku di pundaknya. Kemudian dia berjalan melewatiku menuju meja pantry, lalu berdiri disebelahnya membelakangiku.

“aku merasa seperti orang gila, aku,, aku Cuma ingin tau apa alasannya? Aku ingin tau apa yang dia rasakan saat dia selingkuh,, aku benar-benar bodoh berpikir bisa memanfaatkanmu.. maafkan aku..” Ucapnya.

Dia menjerit dalam setiap kata-kata yang diucapkan. Dia menjerit karena hatinya terlalu sakit. Dia terlihat begitu putus asa. Kuakui dia memang bodoh ingin membalas perbuatan suaminya dengan hal yang sama. Karena api tidak mungkin bisa padam dengan api.

“Pulanglah !! terima kasih sudah membantu” Ucapnya.

Tetapi ada satu hal yang mungkin tidak aku sadari. Aku adalah satu-satunya orang yang menjawab jeritannya bahkan sejak pertama kali dia curiga suaminya selingkuh. Akulah yang menerima jeritannya sebagai kenyataan. Dia butuh pertolongan. Dia butuh seseorang. Aku tidak bisa mendengar apapun selain detak jantungku yang sangat kencang. Ini pertanda bahaya, akal sehatku dan sisi liarku sedang bertarung dalam diriku.

Kudekati Bu Fiona yang sedang berdiri membelakangiku di dekat meja dapur apartemennya. Kuraih tangannya hingga dia berbalik badan menghadapku. Saat menatap wajahnya, Ada satu hal yang menggema di kepalaku, ini salah, ini sangat sangat salah. aku harus segera pergi, dia memberiku kesempatan untuk pergi dari semua ini sebelum semuanya menjadi semakin rumit. Tapi kemudian, aku melakukan sesuatu yang bahkan lebih bodoh darinya.

Kupegang dan kutahan dagu Bu Fiona yang lancip. Kutatap matanya, kemudian Kudekatkan wajahku ke wajahnya lalu Kucium bibir Bu Fiona yang indah. Tidak hanya mencium, tapi kulumat bibirnya yang terasa manis di bibirku. Matanya terpejam menikmati cumbuanku, tapi tidak denganku. Mataku terbuka lebar saat melumat bibir Bu Fiona.

Ciuman kami berlangsung lama. Semakin panas, semakin sensual saat lidah kami saling membelit di dalam mulutnya. Tubuhku semakin menekan tubuhnya sampai tubuhnya bersandar di meja pantry. Tanganku meremas nakal bokong Bu Fiona yang sintal. Sedangkan tangannya tak tinggal diam mengusap penisku yang sudah mengeras. Kemudian kucengkram bagian belakang paha Bu Fiona dengan kedua tanganku lalu kuangkat tubuhnya hingga terduduk di atas meja pantry.

Kupegang bagian bawah tank top Bu Fiona lalu meloloskannya dari tubuhnya. Kutatap tubuh Indah Bu Fiona yang sedang duduk diatas meja Pantry. Aku baru menyadari betapa mulusnya kulit dosenku. Sungguh sempurna. bagian atas tubuhnya hanya tertutupi bra warna hitam yang menghalangi payudaranya yang luar biasa dari pandanganku.

Kuremas dengan kasar salah satu payudaranya itu, Bu Fiona mendesis. Lalu kucium kembali bibirnya dengan ganas. Kurasakan kembali bibirnya yang lembut dan nafasnya yang hangat di mulutku. Bibirku mulai bergerak mencumbu wajahnya, turun menciumi lehernya dan menjilati telinganya.

“enggggghhhh,,,”

Bu Fiona mengerang saat kedua payudaranya kuremas dengan kasar sambil tetap mencumbu lehernya. Bu Fiona semakin terhanyut dengan cumbuanku di lehernya. Tangannya mengangkat bagian belakang bajuku lalu mengusap punggungku, terkadang mencakarnya ketika tanganku meremas payudaranya atau saat bibirku menghisap lehernya sampai merah.

Lehernya sudah basah akbiat kecupan bibirku dan jilatan lidahku. Lalu ciumanku bergerak turun ke pundak dan tulang lehernya. Lidahku menjilati dadanya yang kemerah-merahan. Kemudian Satu tanganku berpindah ke belakang tubuhnya untuk melepaskan kait bra-nya. Pengalamanku yang sudah meniduri banyak wanita membuatku begitu mudah melepaskan kait bra dengan cepat hanya dengan satu tangan. Bra yang dipakai Bu Fiona pun terlepas dari tubuhnya.

Ternyata benar, volume payudaranya sangat besar dan bulat sempurna, begitu sintal dosenku ini. Payudaranya Terlihat begitu padat, kencang dan…

“indah..” Ucapku sambil memandangi payadara Bu Fiona.

Namun aku dibuat dibuat terkejut dengan bercak cairan putih di sekitar kedua puting payudaranya. Bercak yang sama kulihat di bagian dalam cup bra yang tergelatak di lantai. Itu ASI?. Bu Fiona sedang menyusui, Air susunya keluar saat aku meremas kedua payudaranya tadi.

“kamu ingin mencobanya?” Tanya dia setelah menyadari perhatianku pada cairan yang keluar dari putingnya. Bu Fiona menarik kepalaku lalu mengarahkannya ke salah satu payudaranya “cobalah !!” Serunya. Bu Fiona seperti ingin menyusuiku.

Lidahku terlebih dahulu menjlati area sekitar puting payudaranya, cairan itu masih terasa samar di lidahku karena hanya sedikit. Namun pada saat aku menghisap puting payudaranya yang menegang, air susunya keluar begitu deras memenuhi mulutku. Rasanya sangat manis, bahkan lebih manis daripada susu sapi. Mengetahui manisnya rasa ASI untuk pertama kali membuatku semakin bersemangat menghisap puting payudara Bu Fiona agar ASI nya terus keluar.

“Aaccccchhh SHhhhhh Gaaaaa”

Bu Fiona mendesah manja. Hisapanku mulutku di ujung payudaranya membuat dia menggelinjang hebat. Tanganku memegang penuh lekukan payudaranya yang lain, lalu meremasnya dengan kuat. Air susu langsung muncrat membasahi telapak tanganku.

“eeeeeeeennggghhh”

Bu Fiona semakin megerang, tubuhnya melengkung, semakin membusungkan dadanya ke depan. Kemudian kedua payudara Bu Fiona kuhisap secara bergantian, luar biasanya air susunya tidak berhenti keluar. Sebenarnya aku masih belum puas menikmati air susu Bu Fiona, tapi aku sudah tidak tahan untuk merasakan penisku di dalam memeknya.

Kubangkitkan tubuhku menatapnya, kedua nafas kami menderu di dalam ruangan. Bu Fiona menggerakkan tangannya, meraih kacamataku dan melepasnya lalu menaruhnya di meja. kemudian dia kembali mendapatkan bibirku yang belepotan air susunya. Setelah itu dia berusaha melepas bajuku. setelah berhasil meloloskan bajuku dia mengarahkan wajahnya ke dadaku kemudian menghisap puting payudaraku. Aku langsung merasakan kegelian.

“Ssshhhh, FFFIiii…”

Tangannya tak tinggal diam masuk ke dalam celanaku dan memegang penisku. Kuraskan tangannya yang dingin di penisku. Mulutnya bergantian memanjakan masing-masing puting payudaraku.

Aku yang sudah tidak tahan langsung mendorong tubuhnya pelan. Tangannya terlepas dari dalam celanaku. Lalu tanganku berusaha melepaskan celana pendek dan pantiesnya.

Aku dibuat terkagum-kagum melihat tubuh polos dosenku yang sedang duduk di atas meja pantry di hadapanku. Daya tarik tubuh sensualnya sangat kuat bahkan disaat dia sedang berpakaian lengkap. Sungguh beruntung dirinya memiliki kesempurnaan tubuh seindah itu. Sangat menggungah selera seks siapun yang memandangnya. Kedua kakinya yang jenjang tertutup rapat, menghalangiku untuk melihat pusat kenikmatan yang ingin segera kurasakan.

Lalu kulepaskan celanaku di hadapannya, dia terlihat tertegun ketika menatap penisku yang tegak mengacung ke arahnya. Kemudian Bu Fiona membuka lebar kakinya di hadapanku. Memek Bu Fiona yang bersih dan terawat terekspos dengan jelas. Dengan nakalnya Bu Fiona menggodaku dengan membuka bibir kemaluannya dengan dua jari tangannya. Seolah memeknya itu sudah siap menerima penisku atau dia ingin menunjukkan kalau malam ini, memeknya itu milikku. Aku yakin dia termasuk tipe wanita yang liar di atas ranjang.

“Eat Me!!” Serunya.

Aku jongkok di bawah tubuhnya. Menciumi betis Bu Fiona sesekali mengigitnya pelan sambil tanganku membelai bibir memeknya. Bu Fiona menatapku, tatapannya terasa begitu mengharap. Sambil menatapnya, jari tengahku menusuk memeknya.

“achh,,,”

Dia mendesah saat jariku menusuk memeknya dengan gerakan pelan. Lalu Bibirku mengecup dan menciumi memek Bu Fiona. Aroma khas kewanitaan menusuk hidungku, begitu kuat aromanya. Dengan lihai lidahku menjilati bibir memeknya dan jari tengahku bergerak keluar masuk di dalam lobang yang yang terasa hangat ini.

“Achhh achhh”

Dia semkain terlihat gelisah saat kumasukkan kedua jariku di lobang memeknya. Nafasnya terengah-engah. Mulutnya tidak berhenti mendesah menyebut namaku dan memohon agar aku segera melakukan penetrasi.

“Regaa.. achh,, skk aku mau ach,,,”

“gaaaa.. sshhh”

Aku semakin mempercepat gerakan tanganku, dia malah menjambak rambutku. Memeknya tidak berhenti mengeluarkan cairan-cairan pelumas yang sesekali kuhisap habis. Bunyi gerakan jariku dan memeknya yang becek terdengar begitu nyaring beriringan dengan teriakannya.

“achhh achhhh achhhhhh”

Kuhentikan gerakan tanganku tepat sebelum ledakan orgasmenya, dia mengerutkan dahinya dan terlihat kecewa. Aku sengaja ingin menyiksa gairahnya. Kemudian aku berdiri, kuarahkan kedua jariku yang basah akan cairan memeknya ke arah mulutnya, dia agak ragu dengan niatku tapi akhirnya dia mau mengulum kedua jariku yang basah karena cairan memeknya di dalam mulutunya. Shit, dia sangat liar.

Tanganku yang lain meraih tangannya lalu menuntun tangannya itu untuk mengocok penisku. Kemudian aku mengarahkan penisku yang sudah tegang tepat di memeknya Bu Fiona. Tinggi meja pantry begitu pas dengan pingglku, jadi aku tidak akan kesulitan penetrasi dengan posisi seperti ini. Kutuntun kepala penisku untuk menggesek gesek bibir kemaluan Bu Fiona, dia menatap penisku yang besar sambil menggigit bibir bawahnya.

Aku mendadak teringat dengan penolakanku sebelumnya, hal yang seharusnya tidak aku lakukan karena sangat salah. Tiba-tiba akal sehatku memberi peringatan, tidak sepantasnya aku berbuat seperti ini kepada Bu Fiona. Karena hanya binatang yang akan melakukan hal seperti ini, hanya binatang yang tega bercinta dengan wanita yang sedang rentan seperti Bu Fiona.

Tapi persetan dengan itu, persetan dengan akal sehatku, aku tidak akan menyia-nyiakan kenikmatan yang ada di hadapanku ini. Karena aku memang binatang, aku adalah serigala liar.

Seperti sebuah pisau tajam, penisku langsung menusuk memeknya Bu Fiona. Begitu kuat, begitu dalam hingga membuat Bu Fiona terpekik kesakitan.

“aaakkkhhhhh Gaaa sshh pelann”

Memek Bu Fiona terasa sangat sempit. Seperti tertusuk pisau tajam, pasti dia merasakan sakit yang luar biasa karena memeknya belum terbiasa kemasukan penis sebesar penisku. Tapi yang kurasakan sebaliknya, aku merasakan nikmat yang luar biasa di penisku ketika dinding-dinding memeknya yang masih rapat menghimpit penisku dengan kuat. Aku sampai mendesiss.

“ssshhh”

Walaupun Bu Fiona meronta dan memohon agar aku bergerak pelan, tapi aku tidak menghiraukannya dan tetap menggerakkan pinggulku dengan cepat. Ini sangat sempit, sangat enak, sangat nikmat.

“Gaaaaaaa tunggguuu acchhh perih,,,” Jeritnya. Sambil berusaha mendorong tubuhku.

Aku tetap menggerakkan dengan cepat pingguluk tidak peduli dengan jeritannya. Gilak, ini benar-benar nikmat. Air mata Fiona jatuh mengalir membasahi pipinya. Aku tidak tau dia menangis karena kesakitan atau menangis karena akhirnya dia bercinta dengan orang lain selain suaminya. Tapi aku tetap tidak mempedulikannya, Aku benar-benar seperti monster jika seperti ini.

Tubuh Bu Fiona sampai terkulai kebelakang, namun kutahan lengannya. Kuremas dengan kuat payudara Fiona. Sampai air susunya muncrat ke dadaku.

“Ahhhh Gaa pleasee stop….”

“achhhmm achhhhh ahhhhhhhh sakittt gaaa”

Bu Fiona terus meracau kesakitan dan aku tidak peduli. Lima belas menit kemudian yang terdengar adalah desahan kami berdua memenuhi seluruh ruangan apartemen. Bu Fiona sudah semakin rileks. Memeknya sudah bisa menerima penisku. Dan dia sudah bisa menikmati gesekan penisku di dinding-dinding memeknya.

“Sshh acchhh terusss Gaaa…”

“Enak Fii?” Tanyaku. Dia mengangguk.

Aku tetap menggerakan pinggulku dengan tempo yang teratur. Kami masih tetap berada dalam posisi semula. Penisku keluar masuk di dalam memeknya yang sudah basah banget, sesekali kami berciuman, dan sesekali aku melakukannya sambil menghisap air susu dari payudaranya.

Sepuluh menit berikutnya aku masih bisa bertahan sedangkan Bu Fiona sudah dua kali orgasme. Kucabut penisku dari memeknya lalu kuposisikan tubuhnya agar terlentang di atas meja pantry. Karena tergesa-gesa, Piring bekas makan kami dan kacamataku sampai terjatuh ke lantai.

Setelah itu aku menaiki meja pantry dan menindihnya. Bu Fiona kembali melenguh ketika penisku menusuk memeknya Lagi.

“ougghhh..”

Dengan posisi misionaris, pinggulku bergerak naik turun memompa memeknya Fiona. Penisku kembali terbalut oleh kelembapan dan kehangatan di dalam memeknya. Mencengkram penisku dengan hebatnya. Sungguh nikmat sekali.

Gerakan pinggulku semakin cepat. Kami berdua tidak mamu menahan jeritan, desahan, dan kenikmatan yang tak tertahankan. Kuraskan tubuh Bu Fiona menegang, dia akan segera orgasme lagi. Mengetahui hal itu, kuhentakkan pinggulku sangat dalam beberapa kali. Dia berteriak kencang sambil memejamkan matanya.

“aaahhhh achhhhh ahhhhhhhhhh”

Kubiarkan penisku menyodok begitu dalam agar orgasme yang dia rasakan semakin nikmat. Penisku terasa diguyur cairan yang hangat di dalam sana. Setelah itu matanya terbuka lalu bibirnya menangkap bibirku dan dilumatnya bibirku dengan ganas.

“kamu kuat banget Ga..?” Tanya dia setelah pelepasan orgasmenya.

“lebih hebat dari suamimu yang brengsek?” tanyaku balik. Dia tidak menjawabku lalu memalingkan wajahnya ke samping.

Lalu tubuhnya kembali bergoyang. Penisku yang masih berada di dalam memeknya kembali bergerak mencari kenikmatan. Sepuluh menit berikutnya pun aku masih bisa bertahan, pinggulku masih kuat bergerak di atas tubuh dosenku yang sudah terlihat melemah. Desahannya tidak sekencang tadi. Dia seperti sudah mencapai batasnya. Dia butuh istirahat. Kupercepat gerakan pinggulku agar segera mencapai puncak orgasme.

Lima menit berikutnya nafasku semakin terengah. Bu Fiona menatapku yang sedang merasakan kenikmatan menjelang orgasme. Di sisa-sisa tenagaku, aku memompa tubuhnya dengan lebih cepat. Membuat Fiona kembali mendesah.

“acchh achhh shhh”

“aku mau keluarr fii,, “ Ucapku.

“di dalem aja Ga,,” Pintanya

Aku mengehentakan pinggulku dengan keras. Menekan memeknya begitu dalam untuk meraih pelepasan orgasmeku yang kali ini terasa begitu dahsyat. Aku mengerang panjang lalu spermaku langsung menyembur rahimnya Fiona. Sangat banyak, sangat nikmat sekali bercinta dengan dosenku ini.

Dan aku pun terkulai lemas di atas tubuh dosenku. Deru nafas kami berdua saling bersahutan. Tangannya mengusap usap punggungku yang sudah dipenuhi keringat.

Sekitar lima belas menit kemudian kami berdua masih saling menindih di atas meja pantry. Malam sudah semakin larut. Mataku masih terpejam karena kelelahan.

“Ga,, aku mau mandi dulu,,” Ucap Fiona sambil menepuk-nepuk punggungku. Meminta agar aku berpindah dari atas tubuhnya.

Aku turun dari meja begitu juga dengannya. Dia berjalan menuju kamar untuk menuju kamar mandi. Aku mengikutinya dari belakang. Di dalam kamar mandi, kulihat dia sedang melihat tubuhnya di depan cermin wastafel. Mengamati leher dan dadannya yang merah di beberapa titik karena cumbuanku.

Melihat tubuh telanjangnya yang seksi dari belakang membuat penisku kembali bergejolak. Bu Fiona masuk ke dalam ruang shower yang terpisah oleh sebuah kaca di dalam ruang kamar mandi. Kemudian terdengar suara gemercik air yang jatuh ke lantai.

Aku masuk begitu saja ke ruang shower tanpa sepengetahuan Fiona. Dia sedang menyabuni tubuhnya dengan sabun cair di telapak tangannya. Aroma lemon memenuhi seluruh ruangan. Kemudian aku memeluk tubuh Fiona dari belakang. Air hangat langsung mengguyur tubuhku. Fiona sedikit kaget dengan kedatanganku yang tiba-tiba dan memeluk tubuhnya. Lalu dia melanjutkan menyabuni tubuhnya.

Dengan tanganku aku berusaha melebarkan kaki Fiona. Dia menyadari apa yang akan aku lakukan. Dia menoleh ke belakang.

“lagi?” Tanya dia pelan.

“Punyamu enak banget FI..” Bisikku. Sambil jariku mulai nakal membelai memeknya dari belakang.

Fiona tak kuasa menolak saat kupaksa membuka kakinya agak lebar dan kudorong punggungnya agar sedikit membungkuk. Penisku langsung menyodok memeknya dari belakang.

“Sshhhh aahhhhh”

Kami berdua melakukannya sekali lagi di dalam kamar mandi ditemani guyuran air hangat yang membasahi tubuh kami berdua.

.

.

.

.

Keesokan harinya aku terbangun di sebelah Bu Fiona yang sedang tertidur pulas di sampingku. Dia pasti sangat kelelahan, pikirku. Sejak kapan dia memakai kembali pakian dalamnya? Seingatku setelah kami bercinta di dalam shower, kami melanjutkannya di sini, di atas tempat tidur. Seperti dugaanku, Dia benar-benar liar. Beberapa kali aku menyemprot memeknya dan juga mulutnya. Kami bercinta tanpa henti sampai menjelang pagi dan aku ketiduran setelahnya. Tiba-tiba Bu Fiona terbangun.

“Hei,, “ Sapanya dengan suara serak sambil tersenyum menatapku. Kubalas senyumnya.

“maaf..” Ucapnya

“Untuk apa?” tanyaku, “Harusnya aku yang minta maaf”

“aku telah memaksamu.. sekarang aku tau kenapa dia berselingkuh. Karena rasanya menyenangkan ” Ucapnya sambil mengusap wajahku. Shit..shitt,, apa yang telah aku lakukan kepadanya?

“Apa yang akan kamu lakukan?” tanyaku

“sekarang, aku hanya ingin segera bertemu anak-anakku..” Ucapnya.

.

.

.

.

.

Aku dan Bu Fiona berpisah di parkiran apartemen. Hari sudah siang menjelang sore. Aku langsung pulang ke rumah kost. Ketika masuk ke dalam rumah, aku mendapati Winry sedang berada di ruang tengah sedang membaca sesuatu.

Dia melihatku masuk ke dalam rumah, aku pun menghampirinya dan duduk tepat disebelahnya. Tanpa berbicara apa-apa aku nekat merebahkan kepalaku begitu saja di pundaknya Winry. Dia sedikit kaget dengan kelakuanku.

“Win. Boleh pinjam pundakmu sebentar?” Tanyaku dengan nada manja setelah bersandar di pundaknya. Aku mencium aroma parfum yang segar dari tubuhnya.

“ii,.iya. Tapi lain kali pastikan urutannya bener Senior.. minta izin dulu sebelum melakukan sesuatu. Bukan sebaliknya..” Protesnya.

“Hehe sorry, dua hari ini begitu melelahkan. Aku butuh sandaran..” Ucapku.

“Yang kamu butuhkan itu tempat tidurmu Senior. Badanku pendek, Pundakku kecil, kamu ga akan betah..” Ucapnya.

“eh kata siapa? Aku bisa ketiduran di pundakmu yang nyaman ini..” Seruku.

Padahal benar apa yang dikatakannya, perbedaan tinggi badan diantara kami berdua membuatku agak kesulitan mencari posisi yang nyaman untuk bersandar di pundaknya. Seandainya saja aku bisa menyandarkan kepalaku di pangkuannya, pasti akan lebih nyaman hihi. Tapi aku tidak akan senekat itu dengan Winry. Dia bukan Rein yang bisa bebas aku apa-apain.

Aku tidak ingin Winry merasa ilfil denganku jika aku nekat flirty lebih dari ini. Meskipun tadi sebenarnya takut juga sih kalau tiba-tiba dia marah ataupun risih denganku saat aku memberanikan diri bersandar di pundaknya ini.

Semenjak aku membantunya mengerjakan tugasnya sampai ketiduran di kamarnya seminggu yang lalu, hubunganku dengan Winry jadi semakin dekat. Di rumah maupun di kampus. Di dalam rumah, kami sudah terbiasa ngobrol dan nonton tv berdua lagi di ruang tengah seperti dulu awal-awal dia kost disini. Kami juga beberapa kali keluar mencari makan malam bersama. Ketika berada di dalam kampus, aku dan dia bertemu di dalam perpustakaan saat jeda jam kuliah. Sekedar membaca buku bersama atau mengerjakan tugas kami masing-masing. Walaupun kami berdua banyak diamnya, tapi aku selalu menantikan saat-saat bisa ngobrol dengannya.

Seperti sekarang ini, aku sedang butuh teman ngobrol untuk menenangkan pikiranku. Aku ingin melupakan sejenak tentang Bu Fiona, Melly dan tentang keterlibatanku dalam cinta segitiga mereka. Menurutku Winry adalah pengalih perhatian yang sempurna.

“kirain kamu akan kembali besok,” Ucap Winry “Karena kupikir kamu pulang ke rumah”

“Aku gak pulang kok Win, aku.. aku telah melakukan sesuatu yang sangat buruk” Ucapku pelan. Winry terdiam sejenak.

“aku yakin kamu punya alasan yang baik dibalik apa yang telah kamu lakukan” Ucap Winry. Terlihat usahanya untuk menghiburku meskipun dia tidak tau apa yang sebenarnya terjadi kepadaku.

Aku menggelengkan kepalaku pelan di pundaknya. “Aku sudah mencobanya, mencari-cari alasan yang baik untuk berbuat buruk. Tetapi sama saja, apa yang aku lakukan tidak bisa dimaafkan” Ucapku.

Aku tidak mengerti kenapa aku dengan mudahnya berkata seperti itu kepada Winry, hal yang seharusnya kusimpan untuk diriku sendiri. Aneh memang, rasanya aku ingin berbagi semua keluh kesah ku dengannya, tapi aku tidak bisa, aku tidak boleh mengatakannya kepada Winry.

Aku yakin cewek manis berwajah menarik ini sekarang sedang mencoba merasuk ke dalam pikiranku. Mencoba mencari tau apa yang sebenarnya telah aku alami, atau apa yang aku lakukan. Satu hal yang menarik dari Winry, dia bukan tipe cewek yang kepo dengan urusan orang lain. Aku yakin dia tidak akan bertanya lebih jauh kepadaku.

“Aku juga sering melakukannya !! terkadang kita memang melakukan kesalahan, meskipun kita melakukan hal yang buruk bahkan sampai tidak bisa dimaafkan, tetapi bukan berarti kita adalah orang yang jahat” Ucapnya. Aku tersenyum mendengar apa yang dia katakan.

Winry. Bolehkah aku memelukmu? Tanyaku dalam hati.

Seandainya dia tau betapa besarnya kesalahanku. Seandainya dia tau ada serigala liar dalam diriku. Apakah dia masih akan menganggapku bukan orang jahat?. Atau mungkin selama ini dia sudah tau?.

Aku mengingat saat-saat Winry mengetahui semua perbuatan burukku, saat dia melihatku bersama Kak Netta, saat dia melihatku bercumbu dengan Ressa di dalam Hutan padahal saat itu aku berpacaran dengan Alexa, dia tau kesalahanku kepada Alexa, dia melihat langsung saat aku memaki-maki Rein di acara Reuni sekolah tahun lalu. Dia juga tau selama ini aku membawa cewek yang berbeda ke dalam kamarku. Bahkan mungkin Mira sudah cerita kepadanya tentang apa yang aku lakukan dirumahnya. Kenapa dia masih bersikap biasa saja denganku meskipun dia sudah tau sebagian kelakuan burukku?

Entahlah, mungkin Winry memang tipe orang yang tidak peduli dengan urusan orang lain. Seperti dia yang tidak ingin dicampuri urusannya oleh orang lain, itu sebabnya selama ini dia begitu tertutup.

Tak berapa lama aku mendengar suara motor sport yang tiba di depan rumah. Pasti Angel, pikirku. Beberapa saat setelah suara motor itu berhenti, Angel masuk ke dalam rumah. Aku yakin ketika Angel masuk ke dalam rumah, dia langsung melihat ke arah ruang tengah dimana aku duduk bersebelahan di sofa dengan Winry dengan posisiku bersandar di pundaknya.

Tidak berkata apapun, dia langsung menaiki tangga di depanku dan Winry. Aku meliriknya ketika dia menaiki anak tangga. Saat itu dia juga sedang menatapku dan juga Winry.

Entah apa yang dia pikirkan melihatku sedekat ini dengan Winry. AKu sih bodo amat sama apa yang dia pikirkan. Kemudian dia tiba di lantai dua dan masuk ke dalam kamarnya. Akhir-akhir ini aku jarang bertemu atau bicara dengan Angel, dia jarang tidur disini. Terakhir kali aku bertemu dengannya hari senin lalu saat dia memberikan alat-alat untuk menjebak suaminya Bu Fiona.

Aku belum mendapat kabar dari Angel tentang rencana pergi ke kota sebelah. Apakah rencana itu batal? Atau mungkin malah dia sudah berangkat sendiri tanpa bantuanku?. Ahh ngapain juga aku mikirin Angel dan rencananya, terlalu banyak yang harus aku pikirkan saat ini. Aku nggak mau nambahin beban pikiran otakku yang sedang kacau saat ini.

“kamu lagi baca apa Win?” Tanyaku sambil melirik majalah yang dia letakkan di pangkuannya.

Kutegakkan badanku agar bisa melihat lebih jelas. Pada halaman majalah yang sedang terbuka aku melihat sebuah artikel yang bejudul ‘HIDDEN PARADISE’ dilengkapi beberapa foto pantai dengan lautnya yang berwarna biru kehijau-hijauan.

“Pantai yang baru saja ditemukan oleh beberapa penjelajah pesisir pantai, tersembunyi di dalam hutan, bahkan belum memiliki nama,” Jelas Winry.

“kayaknya indah banget, dan pastinya belum pernah terjamah” Ucapku “emang dimana lokasinya?” Tanyaku lagi.

“Di ujung timur pulau Jawa dekat dengan wisata pantai yang terkenal disana” Ucapnya

“hmm Jawa memang banyak memiliki pantai yang masih asri dan alami” Ucapku “bicara tentang pantai, aku selalu membayangkan duduk di bibir pantai menghadap laut sambil memandang indahnya sunset di ujung senja” Ucapku.

“atau Sunrise di pagi hari..” Sahut Winry sambil menatapku.

Kami saling memandang, “ya,, bermain-main dengan ombak” Ucapku. Dia mengangguk

“Berlari-lari di atas pasir putih” Ucapnya.

“Bergandengan tangan….” Ucapku sambil menatapnya.

Mendengar ucapanku, Winry langsung mengalihkan pandangannya ke majalah yang dia baca. Sempat kulihat senyum di wajahnya. Sial, memalukan, kenapa aku berkata seperti itu kepadanya. Pasti karena daritadi aku membayangkan terakhir kalinya mengunjungi pantai di Pulau Dewata bersama Luna dan juga AL. Saat itu kami dan beberapa anggota HIMA yang lain mendatangi pesta dugem terbesar disana, Dreamfields. Aku masih ingat saat itu aku dan AL duduk di atas pasir yang basah di tepi pantai ketika matahari tenggelam sambil bergandengan tangan.

“Kapan terakhir kali kamu ke pantai?” Tanyaku pada Winry.

“Sudah lama sekali…” jawabnya masih tidak memandangku.

“gimana kalau libur semester nanti kita pergi kesana?” Ajakku. Mendengar ajakanku Winry langsung menatapku. “ahh maksudku kita ajak Mira, aku juga akan mengajak Rein.. pasti seru..”

Libur semester kurang lebih masih tiga bulan lagi. Pasti akan menyenangkan liburan ke pantai bersama mereka. Sudah lama juga aku tidak pergi liburan bersama dengan Rein. Aku juga akan mengajak Luna, pasti lebih seru jika banyak yang ikut. Apalagi kalau Luna memakai bikini seperti yang dia pakai di Bali waktu itu. Atau aku harus menyuruh Rein membawa bikininya? Atau Aku juga harus mengajak Billa dan menyuruhnya membawa bikini? Waaaaaaa pantai bakal menjadi semakin indah ketika para bidadari-bidadari itu memakai bikininya masing, hahaha.

“gimana menurutmu?” Tanyaku

“aku akan mengatakannya kepada Mira..” Ucap Winry

“btw, aku ga pernah melihatmu bersama dengan Mira di kampus, dia juga ga pernah main kesini? Apa kalian baik-baik saja?” Tanyaku.

Akhirnya aku mendapatkan kesempatan bertanya tentang hal ini kepadanya. Cukup lama Winry terdiam tanpa memadangku. Dan kurasakan perubahan ekspresi wajahnya ketika aku menanyakan tentang hubungannya dengan Mira.

“kami berdua baik-baik saja kok.. Mira lagi sibuk aja dengan modellingnya” Ucapnya. Kemudian dia berdiri dari duduknya. “uhm, seniorr. aku mau siap-siap dulu”

“eh? Oke..” Jawabku. Tak terasa hari sudah semakin sore, sudah waktunya dia berangkat kerja di hari minggu ini. Winry berjalan melewatiku menuju tangga.

“Winry !!.” Seruku memanggilnya sebelum dia menaiki tangga, dia berbalik badan menghadapku.

“Nanti malam, uhmm boleh aku menjemputmu lagi?” Tanyaku. Dia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pelan.

“makasih senior, tapi aku bisa pulang sendiri kok..” Ucapnya. Aku hanya mengangguk. Lalu dia melanjutkan menaiki tangga menuju kamarnya.

Tidak ada salahnya dicoba kan?. Jangankan untuk mengantar atau menjemputnya kerja, dia juga masih menolak waktu aku ajak berangkat ke kampus bersama denganku. Padahal kita sudah semakin akrab di dalam rumah maupun saat sedang di kampus. But it’s Ok. Semakin hari, progress hubunganku dengan Winry semakin menunjukkan peningkatan, buktinya tadi dia tidak marah atau risih saat aku tiba-tiba bersandar di pundaknya. Yang penting aku tidak terlalu memaksakan diriku untuk lebih dekat dengannya. Bukannya semakin dekat, yang ada nanti dia bisa menjauh jika aku terlalu memaksakan kehendak. Karena cewek itu pada dasarnya nggak suka dengan cowok yang terlalu memaksa.

Tapi kenapa? kenapa aku ingin lebih dekat lagi dengan Winry? Apakah kedekatan ini belum cukup? Entahlah, aku Cuma merasa ingin lebih dekat lagi dengan dia. Aku seperti merasakan sesuatu yang hanya terasa saat aku bersamanya. Seperti sebuah koneksi yang akan tersambung jika aku berada di dekatnya. Tapi aku belum bisa memastikan perasaan apa itu.

.

.

.

Sepanjang sisa hari minggu itu aku hanya berada di dalam kamar untuk menyelesaikan tugas kuliah. Tetapi aku kehilangan fokus mengerjakan tugas ketika Bu Fiona dan juga Melly merasuk ke dalam pikiranku. Fuck. Kutinggalkan laptopku di meja belajar kemudian merebahkan diri di atas tempat tidur memandang langit-langit kamarku. Apa yang akan dilakukan Bu Fiona? Apa yang akan terjadi Pada Melly? Apa yang bisa aku lakukan? Shit. Aku overthinking lagi. Aku harus mengalihkan pikiranku untuk hal lain karena percuma aku terlalu memikirkannya, karena saat ini tidak ada yang bisa aku lakukan. Sejujurnya aku tidah tau harus berbuat apa. Seandainya aku bisa bicara dengan Rein.

Dari dalam kamarku, aku mendengar suara pintu terbuka. Saat kulihat jam di dinding kamarku, ternyata hari sudah larut malam. Aku yakin itu adalah suara pintu kamarnya Winry, dia pasti baru saja pulang dari tempat kerja. Kuberi jeda sepuluh menit lalu aku mencoba mengirimkan pesan untuk Winry.


 

Lagi ngapain Win?

 


Aku harap dia masih belum akan tidur dan membalas pesanku. Mungkin ini terdengar egois, tapi aku sedang butuh seseorang untuk mengalihkan pikiranku. Tak berselang lama hapeku berbunyi. Winry membalas pesanku, aku sangat antusias membaca balasan pesan darinya sampai membuatku bangkit dari tidurku.


Writing.
Belum bisa tidur?


Winry sedang Menulis? Menulis apa? Apakah maksudnya adalah menulis tugas?. Kemudian aku membalas pesannya dan kami saling berbalas pesan.


 

Lagi ngapain Win?


Writing.
Belum bisa tidur?


Yap. Aku g bisa tidur dengan perut kosong :(
Btw, kamu g laper?


Aku udah makan di tempat kerja.


Aku tau,
tapi bukan itu pertanyaanku. :)


Sebenarnya agak laper
Tapi bukankah ini terlalu malam utk keluar mencari makan?


We don’t have to go out.
Ada mie instant di dapur :D
Mau masak bersama?


Secara tidak sadar kakiku bergerak sendiri saat aku menunggu balasan dari Winry. Semoga dia mau kuajak masak mie bersama. Tak berselang lama, Akhirnya dia membalas pesanku.


ok
tapi aku mandi dulu bentar
10 menit lg aku akan menyusul ke dapur


Yes. Aku langsung loncat dari tempat tidur setelah membaca balasan pesan darinya. Kemudian aku bergegas segera turun ke dapur. Sesampainya di dapur aku Menyalakan kompor, lalu membuka dan menutup beberapa laci sampai menemukan peralatan untuk memasak mie. Kemudian aku mengambil mie instan dan telor dari dalam kulkas, sayang banget tidak ada satupun sayuran di dalam kulkas.

Soal masakan, Aku paling jago memasak mie dan telur, karena hanya itu yang bisa kumasak hehe. Selama hidup di kost aku bertahan hidup dengan membeli makanan di luar. Kecuali kalau Rein sedang menginap di sini, dia pasti akan masak sesuatu untukku.

Winry datang ketika aku baru saja memasukkan mie kering ke dalam rebusan air yang mendidih.

Dia berdiri di dekatku. Perpaduan aroma sabun yang segar, sedikit minyak bayi, dan shampo beraroma permen karet langsung tercium di hidungku. Sungguh perpaduan aroma yang menyenangkan, bawaannya pengen meluk deh kalau disuguhi wangi-wangian seperti ini.

Winry mencermati keadaan di atas kompor, kemudian mengaduk-ngaduk mie di dalam panci. Sedangkan aku malah mengamati Winry. Mencermati wajahnya yang bersih dan natural tanpa make up serta warna bibir yang polos, tapi tetap cantik.

“Kayaknya udah hampir mateng..” Ucapnya tanpa menatapku. Tapi aku tidak fokus dengan apa yang dia katakan. Aku masih memandang wajahnya. Apakah biasanya Winry secantik ini? Kenapa aku tidak pernah menyadarinya?. Kemudian dia menangkapku sedang memperhatikannya, Kulihat wajahnya berubah memerah lalu mengalihkan pandangannya kedepan. Aku langsung tersadar kalau terlalu lama terpesona memandang wajahnya.

“ehh udah mateng ya?” Ucapku.

Lalu aku mematikan kompor. Winry membantuku menuangkan Mie ke dalam mangkuk dan membawanya ke meja makan.

.

.

.

Aku dan Winry menikmati makanan ini dalam diam dan fokus pada makanan kami masing-masing. Suasana begitu hening, padahal kami duduk bersebelahan. Sesekali aku melirik Winry yang sedang menikmati makanannya.

“Kukira kamu gak akan mau kuajak makan, kamu tau kan, kebanyakan cewek menghindari makan selarut ini,,” Ucapku mencairkan suasana .

“aku bukan tipe cewek seperti itu, lagipula aku belum pernah bermasalah dengan berat badan” Ucapnya

“ohh,,”

Suasana jadi hening lagi. Sial, kenapa jadi akward seperti ini?

“btw, apa kamu nggak takut pulang kerja sendirian malem-malem?” Tanyaku lagi.

“Aku bukan anak kecil lagi, senior.” Sanggahnya

“iya sih, tapi kan,,,”

“aku bisa jaga diri dan akan selalu berhati-hati” Potongnya. Dia menatapku sambil tersenyum. Aku mengangguk.

“Padahal kata mamaku, dulu waktu kecil aku selalu takut dengan apapun” Ucapnya “saat kecil, aku paling takut dengan gelap dan juga dokter gigi”.

Eh? Aku nggak salah denger kan? Winry cerita masa kecilnya? Hmm, sepertinya dia sudah mulai terbuka denganku. Ini kesempatan yang bagus untuk lebih dekat dengannya.

“uhmm kalau aku, dulu waktu kecil aku paling takut dengan cewek cantik” Ucapku.

“Serius?” Tanya dia.

“Ya, dulu aku sangat pemalu Win,, dulu waktu awal-awal masuk SMP, aku suka dengan teman sekelasku, namanya Dias. Bukan hanya cantik, tapi senyumnya sangat indah. Aku selalu mencuri-curi pandang kepadanya. Tapi saat dia mencoba bicara denganku, aku malah lari…”

Winry tak bisa menahan tawanya mendengar ceritaku. Dias apa kabar ya sekarang?. Aku yakin Dias yang sudah dewasa akan semakin cantik.

“Ga kebayang jika suatu saat nanti kalian bertemu lagi,, ” Serunya

“Aku yakin Dias pasti kaget melihatku jika kami bertemu lagi,,,” Ucapku. Karena dulu penampilanku tidak seperti ini.

“Winn !! Mira sudah cerita semuanya kepadaku…” Ucapku pelan. Winry langsung menatapku

“apa yang sudah dia ceritakan?” Tanya Winry, entah kenapa dia terlihat kaget dan syok.

“tentang kamu yang sudah tidak punya siapa-siapa lagi, apakah itu benar?” tanyaku. Dia masih menatapku kemudian menatap ke depan lalu menganggukan kepalanya pelan membenarkan pertanyaanku..

“bagaimana dengan keluarga orang tuamu?” Tanyaku, cukup lama dia terdiam. Tidak ada perubahan ekspresi dari wajahnya. “Maaf, kamu tidak harus menjawab pertanyaanku.. “ Ucapku merasa bersalah.

“Papaku seorang perantauan dari luar pulau dan sudah lama pisah dengan keluarganya sebelum menikah dengan mamaku. Papa meninggal karena sakit saat aku masih berusia tujuh tahun. Aku juga tidak pernah tau keluarga mamaku. Yang akau tau, mama berasal dari keluarga orang kaya dan mapan. Tapi keluarga mama tidak merestui mama menjalin hubungan dengan papa, mereka pun nekat menikah diam-diam tanpa sepengetahuan keluarga mama. Keluarga mama sangat marah besar saat tau mereka menikah diam-diam, dan puncaknya mereka tidak mengakui mama sebagai bagian keluarga mereka setelah tau mama sedang mengandungku.. Mama harus rela hidup dalam kesederhanaan, melepaskan keluarganya yang kaya demi cintanya kepada Papa dan demi bayi yang sedang di kandungnya. Setelah Papa meninggal, mama terpaksa menikah lagi dengan seorang duda agar aku punya masa depan,, tapi sejak mama meninggal, keluarga tiriku hanya menganggapku sebagai orang asing di rumah mereka.,, itu alasannya aku tinggal disini, karena aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi di Dunia ini, ”

Astaga, aku merasa iba mendengar cerita tentang keluarganya. Begitu tragis. Kasihan Winry, dia tidak diakui oleh keluarga tirinya bahkan tidak diakui oleh keluarganya sendiri. Meskipun aku juga tidak dibesarkan oleh sosok seorang ayah, tapi aku masih punya Bunda yang membesarkanku sampai sekarang. Bunda juga menikah lagi dengan papanya Rein. Aku sungguh beruntung punya keluarga baru seperti Rein dan papanya. Bukan hanya soal materi, tetapi kasih sayang mereka kepadaku dan Bunda sungguh luar biasa. Terutama Rein yang begitu menyayangiku.

Aku menatap Winry yang masih terdiam. Dia sudah tidak memiliki keluarga. Dia benar-benar sendiri di Dunia ini. Dia harus berjuang sekuat tenaga seorang diri untuk bertahan hidup. Tidak ada lagi keluarga yang peduli jika dia kenapa-kenapa di Dunia ini. Kakui dia begitu tangguh bisa bertahan sejauh ini, tapi aku yakin di suatu titik tertentu hatinya pasti rapuh menghadapi kenyataan. Setelah mendengar cerita langsung darinya, membuatku merasa ingin melindunginya, aku ingin menjaganya seperti keluargaku sendiri.

Kuberanikan diri memegang tangannya Winry di atas meja. “Winry, kamu punya aku..” Ucapku.

Winry menatapku lalu menarik tangannya agar terlepas dari tanganku. Kemudian dia berdiri. “aku duluan senior.. makasih” Ucapnya lalu pergi meninggalkan dapur.

.

.

.

.

Beberapa hari berikutnya. Hari kamis sekitar pukul delapan malam aku baru saja terbangun dari tidurku. Sepertinya aku ketiduran setelah pulang kuliah tadi. Aku ambil handuk, lalu bergegas keluar kamar untuk menuju kamar mandi. Saat keluar kamar dan menengok ke arah lantai bawah, aku melihat Winry sedang serius menonton tv di ruang tengah.

Seusai mandi aku langsung menuju ke lantai bawah, Winry masih duduk di sofa ruang tengah merengkuh kakinya sendiri sambil serius memperhatikan TV.

.

“Lagi nonton apa Win? Serius amat?” Tanyaku sambil berjalan menuruni anak tangga.

“Kaminari-Sama” Jawabnya.

“hah?? Acara Apaan itu? “ aku bingung dengan ucapannya. Dia tersenyum,

“Thor. Kaminari-Sama artinya Dewa Petir” . Jelasnya

“Ohh,” Kemudian aku duduk di sebelahnya.

Di tv, Thor sedang bertarung melawan pasukan frost giants di jotunheim. Aku pun jadi ikutan terbawa dalam adegan-adegan di filmnya sampai aku lupa tujuanku turun ke lantai bawah itu untuk mengajak Winry keluar mencari makan.

Beberapa menit kemudian aku mendengar suara motor sportnya Angel tiba di depan rumah. Tak lama, Angel masuk ke dalam rumah.

Aku dan Winry kaget melihat penampilan Angel dengan rambut barunya. Dia memotong rambut panjangnya menjadi pendek. Sekarang rambutnya jadi pendek sebahu seperti Winry. Angel berjalan masuk ke dalam rumah langsung menghampiriku. Dia berdiri tepat di depanku menghalangi pandanganku ke tv.

“kita berangkat sekarang !!” Serunya.

BERSAMBUNG

Hallo Bosku, Disini Admin KisahMalah
Agar Admin Semakin Semangat Update Cerita Cerita Seru Seterusnya, Bantu Klik Iklan yang Ngambang ya.
Atau Gambar Dibawah INI

Atau Bagi Kamu yang suka bermain game Poker Online atau Gambling Online lainnya, bisa di coba daftarkan ya. Banyak Bonus dan Hadiahnya Loh.
Untuk yang Kesulitan Daftar bisa Hub Admin di WA untuk di bantu Daftar.
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part