web hit counter

Halaman yang Hilang Part 15

0
371

Halaman yang Hilang Part 15

KAMINARI

—-POV REGA—-

Winry sudah tidak memiliki keluarga. Dia benar-benar sendiri di Dunia ini. Dia harus berjuang sekuat tenaga seorang diri untuk bertahan hidup. Tidak ada lagi keluarga yang peduli jika dia kenapa-kenapa di Dunia ini. Kakui dia begitu tangguh bisa bertahan sejauh ini, tapi aku yakin di suatu titik tertentu hatinya pasti rapuh menghadapi kenyataan. Setelah mendengar cerita langsung darinya, membuatku merasa ingin melindunginya, aku ingin menjaganya seperti keluargaku sendiri.

Kuberanikan diri memegang tangannya di atas meja. “Winry, kamu punya aku..” Ucapku.

.

.

.

.

.

KEESOKAN HARINYA

Di siang hari yang sedikit mendung ini aku sedang tenggelam di dalam lamunan. Aku masih ingat dengan begitu jelas kalimat kalimat yang dia ucapkan waktu itu. Dengan suara sedikit serak dan terdengar sexy dia berkata,

“Libido adalah keinginan, ataupun hasrat yang bisa muncul saat kamu bertemu dengan seseorang yang kamu anggap memenuhi syarat ukuran daya tarik seksual yang telah kamu tentukan. Seseorang yang kamu anggap sebagai…. Target libidomu.”

“Gairah seksual yang tersembunyi di dalam kesadaranmu akan meledak ketika kamu bertemu dengan target libidomu.”

“Menurutku bukanlah hal yang buruk jika kamu bereaksi terhadap target libidomu. Karena menjadi terangsang secara seksual karena melihat orang lain adalah hal yang wajar.”

“Rega.. aku ingin kamu membangkitkan Desire yang tertanam di dalam kesadaranmu. Bebaskan dirimu dari pengekangan dan segala hal yang kamu anggap tabu.”

“Dan kamu akan menemukan jawaban atas kebebasan sejati yang selama ini kamu inginkan.”

Seperi sebuah sugesti yang mempengaruhi otakku. Kalimat-kalimat yang dia ucapkan waktu itu telah berhasil membangkitkan sisi liar dalam diriku. Membuatku menjadi orang lain, seperti bukan diriku. Dia berhasil merubahku menjadi serigala yang selalu lapar.

Tadinya kukira kepergiannya akan menahan sisi liar dalam diriku. Ternyata aku salah, aku masih tidak bisa meredam sisi liar dalam diriku meskipun dia telah pergi.

“Kamu Masih sering ke SKY HIGH?” Tanyaku kepada Dicky yang sedang duduk di depanku.

Di Jeda pergantian jam Kuliah siang hari ini, aku dan Dicky berada di sebuah tempat penjual makanan di dekat pintu barat samping kampus. Kami berdua baru saja menikmati pedasnya semangkuk seblak.

“Semalem gue dari sana.” Jawabnya setelah menghirup rokok elektriknya dalam-dalam “kenapa? Kangen ewein Laura? Helen? Atau dua duanya?” tanya dia.

“pernah bertemu atau ngelihat dia disana?” tanyaku lagi.

“Dia Siapa?” Tanya dia.

“Kamu tau siapa yang aku maksud…”

“Siapa sih? AL ? Namanya tabu banget ya untuk lu ucapin,,??” Sindirnya.

“Pernah ngeliat apa enggak?” Tanyaku sedikit kesal karena Dicky bawel banget.

“Halu lu ya?? Sadar !!, AL sudah pergi.. ngapain sih lu masih mikirin dia?”

Sial. Sejujurnya aku juga tidak mengerti kenapa tiba-tiba aku kepikiran dia setelah sekian lama. Hanya saja, saat ini kepalaku penuh tentang dia lagi. Kemudian aku berdiri, memakai jaketku untuk bersiap-siap pergi dari tempat makan ini.

“Mau kemana Lu? Jam kuliah masih lama..” Ucap Dicky.

“Perpus…” Jawabku singkat. Lalu berjalan keluar menuju kampus.

Aku berjalan melewati jalan beraspal menuju perpustakaan yang terletak di lantai dua dan tiga gedung G. Sebelum bayangan AL bertubi-tubi merasuki pikiranku, sebenarnya daritadi aku memikirkan Bu Fiona yang hari ini tidak datang ke kampus. Aku memastikan ketidakhadirannya hari ini dengan bertanya langsung ke petugas TU Fakultas Ekonomi tadi pagi sebelum jam kuliah dimulai.

Bagaiamana keadaannya? Apa yang akan dia lakukan? Apa yang harus aku lakukan?

Pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar terus di kepalaku sejak kuliah jam pertama. Bahkan sudah mengganggu pikiranku sejak terbangun dari tidurku pagi ini. Aku punya firasat jika saat ini Bu Fiona sedang menyelesaikan masalahnya dengan Suaminya. Aku membayangkan perdebatan, amarah dan pertengkaran ketika Bu Fiona mengkonfrontasi suaminya dengan bukti-bukti penyelewengan. Pikiranku juga membayangkan skenario terburuk yang akan dilakukan Bu Fiona. Untuk membalas perbuatan suaminya, aku membayangkan dia berkata ke Suaminya kalau dia telah tidur dengan pria lain. Fuck.

Aku semakin merasa bersalah karena ikut terseret dalam pusaran hancurnya rumah tangga mereka. Perasaan bersalah ini tidak akan ada jika kemarin aku tidak bercinta dengan Bu Fiona. Faaaaaaakkk. Karena tidak bisa mengendalikan sisi liar dalam diriku aku telah melakukan sesuatu yang tidak seharusnya aku lakukan.

Gawat !!. Aku overthinking lagi. Sebelum aku semakin terhisap dalam perasaan bersalahku, Sebaiknya aku mengalihkan pikiranku dari hal-hal yang belum tentu akan terjadi. Itulah sebabnya aku memutuskan untuk mendatangi perpustakaan. Belakangan ini aku rajin berkunjung ke perpustakaan. Bukan untuk membaca ataupun meminjam buku. Bukan juga untuk mengerjakan tugas ataupun untuk numpang tidur. Tapi aku mendatangi perpustakaan untuk bertemu dengan seseorang.

Perpustakaan di kampus ini cukup besar dan luas. Terdiri dari dua lantai dengan koleksi buku mencapai jutaan. Selain menjadi salah satu tempat ruang baca, Lantai pertama dikhususkan untuk layanan sirkulasi peminjaman, pengembalian, perpanjangan dan juga pendaftaran member. Di lantai satu tersedia majalah, surat kabar, komik, novel serta dipajang ratusan piala-piala yang tidak tau sejak kapan disimpan disana. Sedangkan buku-buku tentang perkuliahan berada di lantai kedua. Di lantai dua banyak tersedia meja panjang dan kursi untuk mahasiswa belajar secara berkelompok yang tersebar di samping-samping rak buku. Juga terdapat meja baca perorangan yang memiliki sekat antar mejanya.

Selain itu, di lantai dua juga tersedia beberapa ruangan kecil atau bilik yang awal tujuannya agar bisa digunakan untuk belajar berkelompok atau berdiskusi dengan menggunakan layar proyektor. Ruangan itu juga agak kedap suara. Jadi mahasiswa bisa berdiskusi semaksimal mungkin tanpa mengganggu pengunjung perpustakaan yang lain. Namun bilik-bilik itu malah digunakan mahasiswa untuk beradu kelamin. Tempat yang tertutup dan jauh dari pengawasan petugas perpustakaan membuat mahasiswa bebas berbuat mesum di sana. Aku sih yakin petugas perpustakaan yang sebagian besar merupakan mahasiswa juga, sebenarnya tau apa yang dilakukan mahasiswa di ruangan-ruangan itu. Tapi mereka hanya diam saja dan membiarkannya.

Billa yang merupakan seniorku pernah berkata kepadaku kalau kampus ini ‘menyediakan’ banyak sudut gelap dan sepi yang bisa digunakan untuk berbuat mesum para mahasiswanya. Berdasarkan pengalamanku kuliah selama hampir empat semester, ada beberapa tempat yang dijadikan ajang berbuat mesum mahasiswa yaitu di Lantai 9 gedung G, ruangan HIMA kalau sedang tidak digunakan, Bilik-bilik perpus, toilet, dan di dekat Danau. Aku yakin masih banyak tempat lain yang digunakan mahasiswa beradu kelamin secara sembunyi-sembunyi. Bahkan di gedung fakultas ekonomi pernah diadakan acara pesta orgy para anggota HIMA. Acara itu diberi nama “ALL YOU CAN FUCK”. Aku masih ingat betapa gila dan liarnya acara itu. Ya, aku mengingatnya karena aku menjadi salah satu peserta.

Aku bisa melihatnya. Dia duduk di tempat biasa kami berdua bertemu di dalam perpustakaan ini. Di bagian sudut belakang perpustakaan dekat dengan rak buku-buku mata kuliah teknik. Dia pernah berkata kalau suka berada di antara rak buku tentang teknik karena meja-mejanya selalu kosong tidak ada mahasiswa yang menempati. Memang anak teknik jarang ada yang ke perpustakaan.

Winry menyadari kedatanganku ketika aku sudah hampir mendekatinya. Aku tersenyum kepadanya lalu duduk dihadapannya. Dia membalas senyumku lalu kembali fokus pada laptopnya. Mungkin dia sedang mengerjakan tugas atau sedang melanjutkan menulis seperti yang dia katakan semalam.

“hei, apa aku mengganggumu?” Tanyaku “Aku akan pergi jika kamu merasa terganggu..” Dia melirikku.

“enggak kok !!” Serunya “sudah terlanjur terganggu oleh mereka..” Ucapnya menghadap ke samping.

Tidak jauh dari tempat kami sedang duduk, sekelompok mahasiswa tampak sangat berisik sedang bercanda satu sama lain. Seakan mereka tidak peduli etika utama yang harus dipatuhi ketika mengunjugi perpustakaan. Tentu tidak dilarang bicara di perpustakaan, tapi tidak baik jika terlalu keras atau malah bercanda dengan yang lain. Mereka pasti paham akan hal itu. Tapi karena sudah terbiasa, akhirnya menjadi sebuah kebiasaan buruk.

Tak hanya mereka yang berisik. Tapi beberapa kelompok mahasiswa lain juga terlihat asyik bercengkrama satu sama lain dengan suara keras.

“Aku bisa menyuruh mereka diam agar kamu gak terganggu..” Ucapku. Senyum manis terukir di bibirnya, pipinya merona mendengar ucapanku yang sok keren.

“Jangan !! Biarkan saja, aku sudah terbiasa kok..” Ucapnya.

“Lihat mereka !!” Seruku “Mereka gak bisa membedakan antara sedang berada di perpustakaan atau sedang berada di café.” Ucapku sambil memandang kelompok mahasiswa yang begitu berisik itu.

“Atau hotel…” Seru Winry menyelesaikan kalimatku sambil menghadap ke arah yang lain.

Dia melihat ke arah rak buku tak jauh dari meja kami. Shit. Disana terdapat sepasang mahasiswa yang sedang ‘make out’ dengan posisi ceweknya bersandar di rak buku. Lengan cewek itu dikalungkan di leher cowoknya dan tangan si cowok memeluk pinggang ceweknya. Mereka sangat intim, sangat bergairah. Mereka berdua begitu larut dengan apa yang sedang mereka lakukan, tidak peduli jika ada yang sedang memperhatikan mereka.

Melihat mereka berciuman membuatku sedikit envy. Mereka pasti saling mencintai kan? Mereka sedang berbagi cinta dan kasih sayang meski bukan di tempat yang tepat. I want that. I want feel that way. Aku ingin berciuman dengan cewek yang benar-benar kucintai. huuuff

Kuakui memang terkadang cinta ataupun nafsu bisa bikin kita lupa diri dan menggoda kita untuk melanggar norma norma kewajaran. Aku sih sudah sering banget melihat mahasiswa sedang berciuman secara sembunyi-sembunyi seperti yang sedang mereka lakukan. Bahkan aku juga sering mendapati sepasang mahasiswa sedang bercinta di tempat-tempat yang tadi aku sebutkan. Bukan hal baru lagi bagiku melihat hal-hal semacam itu di kampus ini, apalagi aku adalah salah satu pelaku yang pernah berbuat mesum di kampus.

Winry melihat mereka. Dia melihat apa yang terjadi diantara rak buku itu. Aku penasaran apa yang sedang dia pikirkan ketika melihat mereka. Apakah dia merasa jijik? Apakah dia marah? Atau apakah dia merasakan sesuatu yang lain di dalam dirinya?. Kupandang wajahnya. Dia terlihat biasa-biasa saja. Tapi tidak mungkin dia melihat sesuatu seperti itu dan tidak merasakan apapun. Atau mungkin.. dia memikirkan sama seperti apa yang aku pikirkan? Dia Ingin merasakan ciuman dengan seseorang yang dia cintai?. Entah kenapa tiba-tiba aku melihat bibirnya yang terlihat sungguh indah. Shit. Apa yang sedang aku pikirkan?

“ini bukan pertama kalinya mereka seperti itu?” Tanyaku kepada Winry. Dia mengangguk.

“Bagi mereka, mungkin Perpus memang tempat yang tepat untuk kencan tanpa mengeluarkan biaya” Ucapku “karena makanan apapun dilarang dibawa masuk kan?”

“Aku pernah lihat yang lebih parah” Serunya.

“hah? Disini?” Tanyaku.

Apakah Winry tau tentang bilik-bilik perpustakaan?. Hampir setiap hari dia mengunjungi perpustakaan. Besar kemungkinan dia tau apa saja yang biasa dilakukan mahasiswa di dalam perpustakaan ini.

“Bukan” Serunya “Bukan disini, di tempat lain yang lebih ekstrim, itupun udah lama banget” Ucapnya tanpa melihatku.

“Ohh…” .

Aku penasaran seberapa parah yang pernah dia lihat. Eh?. Di tempat yang ekstrim dan udah lama banget? Astaga, Jangan-jangan yang dia maksud adalah saat dia memergoki aku sedang ‘nyusu’ payudaranya Ressa di tengah tengah Hutan?. Sial. Sial sial. Benarkah? Tapi aku tidak akan memastikan padanya tentang apa yang dia maksud tadi. Karena akan sangat memalukan jika memang benar.

Memikirkan kejadian saat itu, aku jadi teringat dengan Ressa.

Sudah hampir dua tahun aku tidak bertemu dengan Ressa yang sudah kuanggap seperti adikku sendiri. Padahal aku pernah berjanji akan selalu menjaganya. Sekarang bahkan aku tidak tau bagaimana kabarnya. Aku begitu kangen dengannya. Terkahir kali kami bertemu, dia masih terlelap dalam tidur panjangnya. Bagaimana keadaannya sekarang? Apakah dia sudah sembuh? Atau apakah dia….. Kuharap aku bisa segera mendapatkan kabar darinya atau bisa bertemu langsung dengannya.

“Kamu mau ngapain disini Senior?” Tanya Winry membuyarakan lamunanku.

Apa yang aku lakukan disini? Satu satunya tujuanku datang ke perpustakaan adalah untuk bertemu dengannya. Awalnya aku hanya ingin lebih mengenalnya. Aku mendekatinya agar dia bisa lebih terbiasa dengan kehadiranku dan agar dia tidak menghindariku lagi. Tapi lama-kelamaan aku jadi ketagihan ingin terus bertemu dengannya. Karena memandang wajahnya yang manis saat sedang bicara ataupun lagi diem bisa meringankan beban pikiranku yang selalu over.

“Pasti ga ngapa-ngapain lagi kan?” Tanya dia lagi. Aku tersenyum memandangnya.

“aku kesini itu untuk menyelamatkanmu dari rasa bosan. Kamu pasti bosen kan sendirian disini?” Ucapku. Dia tersenyum manis lagi.

“Merasa Sendirian dan pengen menyendiri itu bukan istilah yang identik senior..” Jawabnya tanpa melihatku.

Winry memang anaknya pendiam dan lebih banyak menghabiskan waktunya dengan dirinya sendiri. Meskipun begitu, Dia sangat menikmati kesendirian dan kesunyiannya. Seringnya, kesendiriannya itu dia manfaatkan dengan membaca buku.

“Win, tentang semalam, aku minta maaf. Aku gak bermaksud membuatmu merasa ga nyaman dengan pertanyaanku..” Ucapku.

Winry menatapku cukup lama. “bukan seperti itu Senior, aku yang harus minta maaf karena tiba-tiba pergi,, , hanya saja, aku ga terbiasa menceritakan tentang itu kepada orang lain,, karena aku gak ingin dikasihani. Aku gak ingin dikasihani siapapun” Ucapnya sedikit tegas di akhir kalimatnya.

Tidak ada yang tau seberapa berat penderitaan yang dia rasakan. Tapi seberat apapun itu dia tetap tidak ingin terlihat lemah dan tidak ingin dikasihani. Itulah winry, dia ingin berjuang melewati penderitaan hidupnya tanpa membebani orang lain.

“Mungkin selama ini kamu menganggapku terlalu berlebihan kepadamu, seperti terus-terusan menawarkan untuk menjemputmu pulang kerja, mengajak berangkat dan pulang kampus bareng, ataupun mungkin kamu merasa aku terlalu mengusik kesendirianmu. Tapi beneran aku gak ada niat untuk mengasihinimu.. aku.. aku hanya ingin bisa lebih deket lagi sama kamu .. seperti kamu dan Mira.. temen spesial.. uhmm maksudku temen deket,, eh, deket sebagai temen,, iya temen,,”

Sial. Kenapa canggung banget bicara seperti itu kepadanya. Winry terdiam menatapku. Kira-kira apa yang sedang dia pikirkan? Apa aku terlalu memaksakan? Aku terpaksa berbohong kepadanya. Siapapun pasti akan merasa iba setelah mendengar cerita hidupnya. Termasuk aku. Tetapi setengah dari niatku memang menginginkan agar bisa lebih dekat lagi dengannya.

“Aku ga yakin bisa melakukannya senior” Ucapnya pelan tanpa menatapku. Sepertinya aku memang terlalu memaksakan diriku untuk masuk ke dalam dunianya.

Winry memandangku. Aku tersenyum kepadanya. “Baiklah, tapi kamu ga akan menghindariku lagi kan? dan kamu ga akan melarangku mengganggu kesendirianmu disini kan?” Tanyaku. Winry tersenyum dan mengangguk.

Sebesar apapun niatku untuk lebih dekat dengannya, namun masih ada batasan batasan yang tidak bisa aku terjang begitu saja. Tidak untuk sekarang, karena semuanya butuh proses.

Kemudian kami berdua menghabiskan jeda waktu pergantian jam kuliah siang ini dengan membicarakan hal-hal yang tidak penting. Sampai tiba waktunya aku harus segera menuju ke gedung Fakultas Ekonomi untuk mengikuti kuliah Business English. Aku keluar terlebih dahulu dari perpustakaan karena hari ini Winry sudah tidak ada Kuliah lagi dan dia masih ingin berada di perpustakaan untuk melanjutkan menulis.

Sebuah pesan masuk di handponeku ketika aku sedang berjalan menuju gedung Fakultas Ekonomi. Dan pesan itu dari Bu Fiona.


Kamu pasti mencariku.
Beberapa hari ke depan aku tdk mengajar
Aku butuh waktu.
Tapi Jangan khawatir, aku baik2 aja kok.
Kita bertemu hari jumat di lab.
Kerjakan tugasmu !!!


Bu Fiona mengatakan dalam pesannya kalau dia tidak akan ke kampus selama beberapa hari dan memintaku untuk tidak terlalu mengkhawatirkannya. Dia juga mengirimkan kepadaku foto selfinya dengan wajah yang tersenyum. Seberapa parahnya kepalaku dipelintir dengan rasa bersalah, tapi yang terpenting bagiku adalah keadaan Bu Fiona. Dan sepertinya dia terlihat baik-baik saja. Memang tidak ada orang yang baik-baik saja saat menghadapi kehancuran rumah tangganya. Apalagi Bu Fiona adalah korban, dan dia adalah seorang wanita, seorang Ibu dari dua anak yang masih kecil-kecil. Aku tidak akan menutup mata melihat dia menangis sedih setelah mengetahui selama ini suaminya menghianatinya. Jadi apakah benar dia sedang baik-baik saja? Aku akan mengetahuinya hari jumat nanti. Untuk saat ini tidak ada yang bisa aku lakukan selain menunggu. Bahkan aku masih ragu untuk menghubungi atau menemui Melly. Ya benar, seperti biasa, tidak ada yang bisa aku lakukan.

.

.

.

—-POV WINRY—-

Pikiranku melayang-layang seiring dengan langkah kaki Kak Rega meninggalkan perpustakaan. Sepanjang kebersamaan dengannya lagi-lagi pikiranku tertahan oleh tatapan matanya. Mata cokelatnya yang indah menatap lurus mataku. Seringkali nafasku tersangkut saat tiba-tiba sorot matanya menangkapku. Kak Rega adalah pusat semesta yang menyedot semua kekuatan super dari tubuhku. Seakan aku menjadi lemah saat berada di dekatnya.

Aku merasa menyesal menolak keinginannya untuk lebih dekat denganku. Aku terpaksa melakukannya bukan karena dia adalah kelemahanku. Tapi aku menolaknya karena… hmm karena aku juga menginginkan hal yang sama. Rumit sekali bukan?.

Aku sadar ini tidak seharusnya terjadi tapi rasanya begitu menyenangkan ketika dia mengatakan ingin lebih dekat denganku. Dalam beberapa hari kebelakang sering kali dia mengisyaratkan dalam ucapan dan tingkah lakunya bahwa dia bersungguh-sungguh ingin lebih dekat denganku. Sejauh aku mengenal Kak Rega, dia selalu mengatakan hal-hal yang memang ingin dia katakan. Tapi Kenapa?? Kenapa dia ingin lebih dekat dari ini? Sebagai teman, sedekat apa yang dia inginkan?. Apa kedekatan ini masih belum cukup?

Apapun alasan Kak Rega ingin mendekatiku, sebaiknya aku tetap harus bisa menahan dan membatasi diri dengannya. Aku tidak bisa lebih dekat dari ini. Aku tidak boleh melakukannya karena aku takut tidak bisa menahan perasaanku dan akhirnya melewati batas. Dan juga karena ada orang-orang yang tidak akan rela melihatku dekat dengan Kak Rega. Seperti Mira. Selama ini aku berusaha menyembunyikan kedekatanku dengan Kak Rega dari Mira selama di kampus.

Meskipun begitu, aku tetap tidak akan bisa menjauhinya. Aku dan dia tinggal di dalam satu rumah yang sama. Hal itu tidak memungkinkanku untuk menjauh darinya.

Kemudian aku mulai merapikan buku dan laptopku di atas meja. Bersiap-siap meninggalkan kampus lalu menuju rumahnya Mira. Tadi pagi Tante Merry, mamanya Mira mengirimkan pesan kepadaku agar aku mampir ke rumahnya setelah pulang kuliah. Aku tidak bisa menolak permintaan Tante Merry karena selama ini keluarganya Mira sangat baik kepadaku. Lagipula sudah lama aku tidak main ke sana. Semoga hari ini Mira tidak terlalu sibuk dengan modellingnya biar aku bisa bertemu dengannya. Aku juga ingin membicarakan tentang ajakan Kak Rega ke Pantai saat libur semester nanti

Tak berselang lama, mendadak seseorang menghampiriku. Menarik kursi lalu duduk di hadapanku.

“Kak Rega baru saja pergi..” Ucapku kepada Luna. Dia pasti mencari Kak Rega. Tidak mungkin dia kesini untuk bicara denganku.

“Ya Aku tau.. dari tadi aku memperhatikan kalian dari jauh.” Ucapnya “Aku hanya ingin memastikan sesuatu kepadamu… Meskipun Rega gak pernah mengatakannya,, Kamu pasti menyangka kalau selama ini aku dan Rega memiliki suatu hubungan, uhm kami memang memiliki hubungan.. hubungan fisik yang menyenangkan, tapi…. ”

“Apa yang terjadi diantara kalian itu sama sekali bukan urusanku…” Ucapku tegas memotong kalimatnya. Kenapa dia mengatakan hal seperti itu kepadaku?. Luna menatapku begitu dalam.

“why are you so tense? Yang ingin aku tau,,,apakah kalian berdua lagi deket? Karena tidak hanya hari ini aku melihat kalian berduaan disini..” Ucapnya. Sekarang aku paham maksudnya menjelaskan kepadaku tentang hubungannya dengan Kak Rega. Sepertinya Dia salah satu orang yang tidak suka melihat kedekatanku dengan Kak Rega. Reaksi normal saat melihat orang yang dia sukai dekat dengan orang lain.

“Aku dan Kak Rega gak sedeket yang kamu kira.. aku dan dia hanya teman, gak lebih !!” Ucapku tegas dan sedikit kesal. Kemudian aku memasukkan dengan cepat laptop dan buku-buku ke dalam tas. Aku ingin sesegera mungkin pergi dari sini.

“Kayaknya kita memulai obrolan ini dengan salah.. maafkan aku..” Ucapnya “Bisakah kita mulai lagi dari awal? Aku ga ingin terjadi kesalahpahaman diantara kita.. listen, aku sama sekali ga keberatan atau bahkan sampai jealous melihat kalian berduaan.. karena kami tidak punya hubungan apapun, kami berdua hanya sebatas,,, uhmm, kamu tau lah.. kamu bukan anak kecil.. aku hanya ingin memastikan seperti apa hubungan kalian yang sebenarnya, jika kalian memang sedang dekat, aku janji tidak akan pernah lagi dekat-dekat dengan Rega..” Ucapnya.

“Kutegaskan sekali lagi,, aku tidak punya hubungan apa-apa dengan Kak Rega, dan aku ingin tetap seperti itu… You can do whatever you Want!” Ucapku.

“Really? Aku bisa melihatnya dari caramu memandangnya, kamu yang jadi salah tingkah setiap dia menatapmu, lalu kamu tersenyum setiap dia tidak memandangmu.. meskipun kamu tidak mengakuinya atau menyadarainya, bahasa tubuhmu sudah menjelaskan semuanya kalau kamu punya sebuah rasa kepadanya meskipun kecil.,,”

Aku terkejut dia bisa menilaiku dari sikapku. Luna bukan cewek bodoh. Apakah tingkahku saat didepan kak Rega kelihatan banget? Apakah Kak Rega juga menyadari sikapku saat sedang bersamanya?

“sebenarnya aku senang melihat kedekatan kalian..” Ucapnya lagi.

“kenapa tidak kalian saja yang harusnya dekat? Kita berdua sama-sama tau cewek seperti apa yang dia sukai..” Ucapku mengalihkan perhatian agar dia tidak semakin menyudutkanku dengan perasaanku kepada Kak Rega.

Dia tersenyum lagi. Senyum yang pasti bisa membuat semua cowok meleleh. Memang cantik banget cewek yang sedang duduk dihadapanku ini.

“Rega pernah meminta agar kami berdua bisa lebih dari sekedar teman..” Serunya. Pasti semua cowok juga berharap seperti itu jika dekat dengan cewek secantik dia. “tapi sekarang aku masih tidak bisa menjalin suatu hubungan,, tapi bukan itu saja,, aku merasa dia tidak benar-benar sepenuh hati ingin menjalin hubungan denganku. Dia masih menunggu seseorang, bodohnya, dia menunggu seseorang yang tidak akan pernah kembali”

Seseorang yang tidak akan pernah kembali? Siapa?. Apa yang sebenarnya terjadi? Luna seakan tau semua tentang Kak Rega.

“Kukatakan satu hal lagi kepadamu” Serunya “Rega bukan tipe cowok yang memandang cewek hanya dari fisiknya.. Rega akan dekat dengan siapapun yang bisa memahaminya. Meskipun itu bukan cewek baik-baik. lagipula siapapun bisa terlihat cantik di hampir semua hal. kecantikan hanya ada di mata yang melihatnya kan? Bahkan meskipun kamu gak menyadarinya.. Winry !! kamu tidak tau kalau kamu itu sebenarnya cantik.. tapi itu yang semakin membuatmu terlihat sempurna. mungkin itu juga yang membuat Rega nyaman saat sedang bersamamu.”

.

.

.

 

—-POV REGA—-

Beberapa hari berikutnya. Hari kamis sekitar pukul delapan malam aku baru saja terbangun dari tidurku. Sepertinya aku ketiduran setelah pulang kuliah tadi. Aku mengambil handuk, lalu bergegas keluar kamar untuk menuju kamar mandi. Saat keluar kamar dan menengok ke arah lantai bawah, aku melihat Winry sedang serius menonton tv di ruang tengah.

Seusai mandi aku langsung menuju ke lantai bawah, Winry masih duduk di sofa ruang tengah merengkuh kakinya sendiri sambil serius memperhatikan TV.

.

“Lagi nonton apa Win? Serius amat?” Tanyaku sambil berjalan menuruni anak tangga.

“Kaminari-Sama” Jawabnya.

“hah?? Acara Apaan itu? “ aku bingung dengan ucapannya. Dia tersenyum,

“THOR. Kaminari-Sama artinya Dewa Petir” . Jelasnya

“Ohh,” Kemudian aku duduk di sebelahnya.

Di dalam layar tv, Thor sedang bertarung mengeluarkan kekuatan petir dari palunya, mjolnir. Dia sedang melawan pasukan frost giants di jotunheim. Aku pun jadi ikutan terbawa dalam adegan-adegan di filmnya sampai aku lupa tujuanku turun ke lantai bawah itu untuk mengajak Winry keluar mencari makan.

Beberapa menit kemudian aku mendengar suara motor sportnya Angel tiba di depan rumah. Tak lama, Angel masuk ke dalam rumah.

Aku dan Winry kaget melihat penampilan Angel dengan rambut barunya. Dia memotong rambut panjangnya menjadi pendek. Sekarang rambutnya jadi pendek sebahu seperti Winry. Angel berjalan masuk ke dalam rumah langsung menghampiriku. Dia berdiri tepat di depanku menghalangi pandanganku ke tv.

“kita berangkat sekarang !!” Serunya.

“hah? Kenapa mendadak banget?” Protesku. Angel menatapku tajam. Lalu dia menatap Winry.

“Bisa tinggalkan kami?” Ucap Angel kepada Winry disebelahku. Winry kebingungan.

“Hoi,,!! Hoi..!! ” Seruku pada Angel yang bicara seenaknya sendiri mengusir Winry “Kamu tetap disini. biar kami bicara dibelakang” Ucapku kepada Winry.

Lalu aku dan Angel berjalan menuju bagian terbuka di belakang rumah. Saat aku menutup pintu geser pemisah ruangan yang terbuat dari kaca, aku melihat Winry sedang memperhatikan kami.

“Kenapa harus sekarang sih?? Ini kan udah malem?” tanyaku. Apakah memang rencana yang pernah dia katakan tentang mendatangi sebuah tempat itu harus dilakukan malam hari?. Angel berdiri di hadapanku dengan lengan tangannya disilangkan di bawah payudaranya yang gede.

“kita harus berangkat malam ini juga, karena besok pagi kita akan menyusup ke tempat itu..”

“Hahhh? Besok? Emang berapa lama kita akan berada di kota sebelah?” Tanyaku.

“Dua sampai tiga hari,”

“Whattt? Besok Aku masih ada Kuliah tau, Gak mau ah !!” Protesku. Apalagi besok hari Jumat aku harus bertemu dengan Bu Fiona untuk memastikan keadaannya. “Apa ga bisa ditunda minggu depan? aku ga bisa keluar kota selama dua atau tiga hari,,”

“bisa lebih lama lagi jika semua tidakk berjalan seperti yang sudah direncanakan…” Serunya “kamu sudah berjanji akan membantu saat kamu minta bantuanku mencarikan alat-alat untuk temanmu.. cukup jadi cowok mesum saja, jangan jadi cowok yang omongannya gak bisa dipegang !!” Ucapannya mulai pedas, Dia sudah terlihat kesal denganku.

Faaaakkkk. Aku tidak bisa menolak ajakannya lagi. Aku harus bertanggung jawab karena aku sudah terlanjur berjanji.

“FINE.. FINEE.. tapi kamu yakin ada pesawat berangkat jam segini?” Tanyaku.

“Siapa yang bilang kita akan naik pesawat?”

“Lalu ? naik apa kita kesana? Motormu?”

“Exactly..” Ucapnya sambil tersenyum tipis.

“Hei.. hei.. ke kota sebelah naik motor? kamu bercanda kan?” Tanyaku. Dia menggelengkan kepalanya. “Kamu gila ya? Mending pake mobilku saja…”

“Denger ya. Kita akan melakukan sesuatu yang bisa dikatakan,,, sedikit ilegal.. jadi agar tidak meninggalkan jejak apapun, Lebih baik kamu tidak memakai atau membawa barang-barang pribadimu, tinggalkan disini termasuk handphone dan dompetmu. Ngerti?. Atau jangan-jangan kamu gak bisa naik motor??”

Shit. Angel mulai menyebalkan lagi. Ucapannya tentang akan melakukan sesuatu yang ilegal membuatku semakin berat untuk berangkat. Itu saja sudah membuatku berpikir kalau kami berdua akan mendatangi tempat berbahaya.

“aku tunggu di depan!!. Kita berangkat sepuluh menit lagi.. “ Ucapnya lalu berjalan masuk ke dalam rumah.

.

.

Setelah berganti pakaian, aku keluar kamar dan bergegas turun ke lantai bawah. Winry masih nonton TV di ruang tengah. Kuhampiri dia.

“Umm, aku akan pergi selama beberapa hari,, kamu gapapa kan sendirian disini? kamu bisa ajak Mira untuk menemanimu disini..” Ucapku kepada Winry.

“Kamu kan sudah tau kalau aku suka dengan keheningan..” Ucapnya sambil tersenyum “jangan mengkhawatirkanku senior!!”

Kubalas senyumnya. Ya, sepertinya aku tidak perlu mengkhawatirkan Winry sendirian di rumah ini. Sebaiknya aku mengkhawatirkan apa yang akan terjadi besok. Meskipun Winry bukan tipe orang yang peduli dengan urusan orang lain. Tapi aku yakin dia bertanya dalam hatinya, kemana dan untuk apa aku pergi selama beberapa hari bersama dengan Angel. Aku harap dia tidak berpikiran macam-macam melihatku pergi berdua denga Angel. Wait, untuk apa aku menginginkan Winry seperti itu?

Angel sudah bersiap di beranda rumah.

Meskipun Angel merubah gaya rambutnya menjadi pendek, tapi malam hari ini dia masih terlihat cantik dan seksi seperti biasanya. Pakaian serba ketat membungkus tubuh indahnya. Tanktop ketat hitam dengan belahan rendah memperlihatkan lekukan-lekukan payudaranya yang menggiyurkan. Dia memakai kemeja denim tebal sebagai luaran. Celana hitam ketat menempel di kaki jenjangnya. Sepatu boot dengan hak yang tinggi semakin menambah kesan seksi dari dirinya.

“Kenapa lama banget?” Ucapnya saat aku mendekatinya “aku tadi kan bilang sepuluh menit”. Dia menatapku dengan tatapan khas yang selalu terlihat kesal denganku. Kuhiraukan omelannya. Angel bagaikan salju. Indah tapi begitu Dingin. Kenapa sih dia kayak benci banget sama aku?

“Mana Kuncinya?” Tanyaku meminta kunci motornya. Dia berikan kunci yang dia pegang padaku.

“Kirain kamu itu anak mami yang tidak bisa naik motor”

“jangan meremehkanku, aku bukan cowok manja” Ucapku lalu berjalan menuju motornya Angel yang sudah terparkir di luar rumah.

“Pegangan biar gak jatuh !!” Seruku saat Angel sudah duduk di atas motor di belakangku.

“jangan Modus !!” Ucapnya.

Kuhidupkan mesin motor. Suara mesin motor sportnya Angel terdengar menggelegar di malam hari yang sunyi. Kutarik tuas gas dengan perlahan, motor pun berjalan di atas jalan komplek perumahan. Lalu dengan sengaja kutarik tuas gas agak kencang hingga membuat motor ini berjalan lebih cepat. Angel yang berada di belakangku terpaksa merelakan tangannya untuk memeluk pinggangku.

Motor yang kami kendarai mulai membelah malam. Jarak tempuh menuju kota sebelah dengan menaiki motor kurang lebih selama tiga jam. Selama ini aku belum pernah naik motor sejauh itu, ga kebayang bagaimana nasib bokongku nanti sesampainya di kota sebelah. Aku pernah mengendarai motor sport seperti ini saat masih sekolah dulu. Motor itu milik Adit dan sering kubawa pulang ke rumah.

.

.

Dua jam berikutnya, Aku mengendarai motor dengan sedikit santai. Angin malam yang sejuk menusuk-nusuk tubuhku. Tanganku sudah terasa capek, bokong sudah semakin panas, perutku juga sangat lapar. Sepanjang perjalanan hampir tidak ada obrolan antara aku dan Angel. Hanya kudengar beberapa kali dia ngomel-ngomel karena aku menggeber motornya dengan kencang atau pada saat aku mengerem dengan mendadak.

Alasan sebenarnya aku mengendarai motor dengan pelan dan santai, tidak ngebut seperti sebelumnya adalah karena ingin menikmati lebih lama hangatnya bulatan-bulatan payudara Angel yang nempel di punggungku. Hihihi. Angel terpaksa semakin mendekatkan tubuhnya ke tubuhku karena daritadi aku ngebut di jalanan. Dia semakin memelukku erat saat melewati jalanan yang rusak atau melewati polisi tidur. Menang banyak pokoknya aku malam ini,, hahaha. Tapi karena hal itu juga lah yang membuatku agak gak konsen menyetir. Ada gejolak-gejolak yang menyala-nyala ketika bagian belakang tubuhku dan bagian depan tubuhnya Angel saling bertemu dan saling bergesekan, geli-geli hangat. Aku langsung terbesit membayangkan Bagaiamana misalnya posisi seperti ini dengan dia tanpa ada pakaian yang menghalangi, hmmmm.

Saat kami berdua sudah memasuki wilayah ibu kota. Kami disambut oleh langit malam yang mendung, aroma tanah yang terbawa oleh angin, suara langit yang bergemuruh serta kilatan cahaya blitz raksasa terlihat menyambar-nyambar dari kejauhan. Sepertinya akan segera turun hujan. Benar saja, tak selang beberapa lama, tetes-tetes kecil air hujan mulai membasahi tubuh kami.

Angel memberi isyarat agar aku mengendarai motor lebih cepat. Dia membimbingku dengan menunjukan jalan yang harus kulewati ketika sudah memasuki ibu kota. Lalu lintas masih begitu ramai meskipun sudah hampir larut malam. Ibu Kota masih menunjukkan aktivitasnya. Memang kota ini tidak pernah tidur meski di malam hari.

Kami berdua tiba di sebuah hotel di pinggiran Ibu Kota. Hotel yang tidak begitu besar, hanya terdiri dari beberapa lantai. Sepertinya aku dan Angel akan bermalam di hotel ini. Tapi aku penasaran apakah Angel memang sudah memesan kamar di Hotel ini jauh-jauh hari atau terpaksa bermalam disini karena hujan mulai turun dengan deras. Aku tidak sempat bertanya kepadanya karena hujan yang terus-terusan membully tubuh kami. Aku dan Angel ingin segera masuk ke dalam hotel.

Setelah memakirkan motor, kami berdua sedikit berlari menuju lobby hotel. Sebelum masuk lobby, Angel melihat keadaan angkasa yang dipenuhi dengan awan mendung. Dia tampak begitu gelisah. Ada apa dengannya?. Dengan pakaian yang sebagaian besar basah, Angel berjalan cepat menuju resepsionis, aku mengikutinya dari belakang. Meskipun hotel ini kecil dan terletak di pinggiran, tetapi cukup banyak tamu-tamu hotel yang berada di lobby. Beberapa pria tampak terpesona melihat Angel.

“Dua kamar atas nama Pamela” Ucap Angel kepada mbak-mbak resepsionis yang manis dengan rambut poninya. Pamela? Siapa? Ahhh pasti nama samaran yang dipakai Angel.

Resepsionis itu tersenyum ramah dan berkata “Saya akan cek terlebih dahulu”.

“Maaf Ibu, kamar yang dipesan atas nama Ibu Pamela hanya satu kamar.”

“Hah? Kok Bisa?” Seru Angel. Resepsionis tampak kebingungan. “Kalau gitu aku pesan satu kamar lagi..” Ucap Angel.

“Kebetulan malam ini semua kamar penuh, maaf” Ucap Resepsionis,

“Sama sekali nggak ada kamar lagi?” Tanyaku. Resepsionis menggelengkan kepalanya pelan.

Aku tidak menyangka, hotel kecil ini saja bisa penuh. Mungkin karena ini sudah akan masuk akhir pekan. Aku menantikan keputusan Angel yang terlihat sedang berpikir. Dia semakin terlihat gelisah. Sepertinya kami terpaksa harus mencari hotel yang lain. Tapi di luar cuaca sedang sangat buruk.

“Aku ambil kamarnya..” Ucap Angel kepada Resepsionis sembari mengambil sebuah kartu akses kamar di atas meja resepsionis. What? Jadi aku harus tidur sekamar dengan Angel?. Aku menghalangi tubuh Angel yang akan segera meninggalkan meja resepsionis.

“jadi kita tidur sekamar? Kamu ga keberatan tidur berdua denganku?” Tanyaku. “Kalau aku sih gapapa..”

Aku sudah biasa tidur ditemani seorang cewek, bahkan yang belum kukenal sekalipun. Kurasa tidak masalah bagiku jika harus berbagi kamar dengan Angel.

Angel menatapku. “No !! Kamu tidur di Lobby atau terserah kamu mau tidur dimanapun kamu mau asal tidak sekamar denganku apalagi satu bed..” Serunya

“What?? Enak aja kalau ngomong,, gak bisa gitu dong. Kamu yang mengajakku kesini !! Aku udah capek-capek nyetir motor berjam-jam, sekarang kamu buang gitu aja kayak sampah..” Ucapku kesal. Dia selalu maunya enaknya sendiri. Gak adil banget.

“KATAMU KAMU BUKAN COWOK MANJA ??!!” Bentaknya.

“Maaf Bapak Ibu. Kami juga menyediakan extra bed..” Ucap Resepsionis.

“Boleh Mbak, tolong disiapkan di dalam kamar” Ucapku.

“Baik,,” Jawab resepsionis. Tidak ada respon dari Angel. Sepertinya dia terpaksa menyetujuinya. Dia memaksa berjalan melewatiku menuju lift yang ada di dalam loby. Kenapa lagi sih tu cewek?, kenapa dia terlihat begitu tegang?. Sebelum aku mengikuti Angel menuju lift, aku meminta kartu akses kamar tambahan kepada resepsionis.

Kami berdua membisu ketika berjalan beriringan menuju kamar di lantai tiga. Kamar kami berada di ujung koridor lantai tiga. Ya , kamar kami, satu kamar untuk aku dan Angel. Seorang petugas hotel baru saja keluar dari dalam kamar. Sepertinya dia baru saja menyiapkan extra bed untukku.

Kamarnya lumayan besar dengan tempat tidur ukuran king. Tempat tidur yang seharusnya sayang jika dipakai untuk satu orang. Di Sebelah ranjang besar itu sudah disiapkan extra bed yang ditaruh begitu saja di atas lantai lengkap dengan bantal dan selimut. Ada sebuah meja dengan cermin yang besar, dua buah sofa tunggal, lemari yag cukup besar untuk menaruh dan menyimpan barang, tv besar menempel di salah satu sisi dinding, AC dan kamar mandi lengkap dengan wastafel, ruang shower dan bathtub-nya.

Angel menaruh tas ransel kecilnya begitu saja dekat dengan tempat tidur. Lalu dia melepaskan kemeja denimnya yang basah dan ditaruhnya di dalam lemari. Sebenarnya tanktop dan celananya juga basah, tapi dia tidak akan melepaskan pakaiannya yang basah itu karena ada aku di dalam kamar ini.

“Awas kalau kamu sampai macam-macam denganku..” Ancamnya “Jangan berani-berani sedikitpun naik ke atas tempat tidur..”

“Heh, aku nggak bakalan ngapa-ngapain kamu,, ”

Angel sedang berada dalam mode siaga tinggi. Terlihat sekali dia begitu tidak nyaman dengan keberadaanku.

Kemudian dia langsung naik ke atas ranjang, menutupi tubuhnya dengan selimut membelakangiku. Kukira dia tidak pernah tidur di malam hari. Mungkin dia sedang kecapek’an? Atau dia buru – buru tidur karena besok pagi ada misi yang harus dikerjakan?

Sama seperti Angel, aku menyimpan jaketku yang basah di dalam lemari. Kulepasan juga kaos dari tubuhku. Tanpa melepaskan celana, aku juga segera merebahkan diriku di atas bed yang sempit dan terasa agak keras ini. Tak lupa aku mematikan lampu kamar. Sebenarnya aku pengen mandi tapi percuma mandi jika aku tetap memakai pakaian yang setengah basah ini. Aku dan Angel sama-sama tidak membawa pakaian ganti. Sepertinya hujan tidak ada dalam perencanaan yang di buat Angel.

Sekilas kulirk Angel di atas tempat tidur.

“uhm Angel, sebenarnya apa yang akan kita lakukan besok? Kamu belum menjelaskan apapun kepadaku tentang besok..” Tanyaku. Pertanyaan itu sudah ada di pikiranku sejak kami berangkat menuju kesini. Aku juga bertanya-tanya apakah kami akan berurusan lagi dengan orang-orang berpakaian hitam itu.

“I’m tired !! besok akan kujelaskan semua.. !!” Jawabnya tanpa meihatku.

Seperti biasa, dia mengabaiakanku. Mungkin baginya apa yang dia lakukan besok itu sudah biasa dia lakukan. Itu sebabnya dia terlihat begitu santai awalnya. Rasanya aku jadi pihak yang paling dirugikan disini. Dia bisa tidur nyaman di tempat tidurnya. Sedangkan aku? di atas tempat tidur yang rasanya seperti sama saja sedang tidur di atas lantai yang keras.

“so.. gimana tempat tidurnya princess? Nyaman kah?” Tanyaku, terdengar seperti sebuah sindiran.

“FUCK OFF” Umpat Angel. Sial, padahal tempat tidur itu sangat besar dan luas. Tidak bisakah dia berbagi denganku?. Kami berdua memiliki selimut masing-masing. Jadi kalau kami berdua berada di atas tempat tidur itu, kecil kemungkinan kami akan bersenggolan waktu tidur. Jika tidak sengaja saling bersenggolan pun pasti kami tidak akan merasakannya. Atau mungkin aku bisa bernegoisasi dengannya?

“btw, apa kamu tau kalau cuddle bisa meningkatkan kualitas tidur..?” Ucapku. Seketika Angel langsung bangkit dari tidurnya setelah mendengar ucapanku. Kemudian menatapku dengan tatapan yang menyeramkan. Dia terlihat sangat marah.

“Hoi, santai.. santai.. aku cuman bercanda..” Ucapku.

“gak Lucu…”. Serunya. Kemudian dia kembali merebahkan dirinya dan menutup sebagain besar tubuhnya dengan selimut. Shit. Dia memang sedang tidak bisa diajak bernegoisasi. Baiklah jika memang dia sudah capek, aku tidak akan mengganggunya lagi. Dan sebaiknya aku juga segera tidur. Rasa lapar tidak akan menggangguku untuk bisa segera tidur karena badanku terasa sangat lelah.

Badanku terasa sangat letih karena dipaksa nyetir motor berjam-jam. Apalagi motornya Angel sangat tidak cocok untuk dikendarai selama berjam-jam. Punggungku rasanya sangat kaku. Penderitaanku belum juga berakhir karena terjebak badai berdua di dalam kamar bersama The Ice Queen. Penderitaanku semakin diperparah saat terpaksa harus tidur di kasur yang keras ini.

Di luar sedang terjadi badai. Begitu derasnya hingga suara hujan yang jatuh terdengar begitu keras. Suara gemuruh langit terdengar saling bersautan. Aku mencoba memejamkan mata ditengah-tengah amukan badai. Kemudian tak butuh lama bagiku untuk segera terlelap.

“AAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHH”

Belum sempat aku terlelap lebih jauh, aku dikagetkan suara teriakan Angel. Aku langsung bangkit dari tidurku dan menyalakan lampu. Kulihat Angel yang sedang meringkuk di atas tempat tidurnya sambil menutupi telinganya dengan kedua tangannya.

“hei kamu kenapa?” tanyaku heran. Dia terlihat sangat ketakutan. Apa yang membuat dia takut? .

DHHHUUUUAAARRRRRRRRRRRR !!!!

Tiba-tiba terdengar suara petir yang menyambar, begitu dekat dan begitu keras suaranya. Bersamaan dengan suara petir itu, Angel berteriak lagi.

“AAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHH”

Astaga, dia seperti itu karena suara petir?. Aku baru menyadari kalau Angel takut dengan suara petir. Berkali-kali dia mengejekku masih kayak anak kecil, eh dia sendiri masih seperti kayak anak kecil yang takut dengan petir.

Seakan langit sedang mengamuk, suara petir terdengar beberapa kali secara bersamaan. Angel kembali berteriak dan semakin membenamkan kepalanya pada lengannya yang terlipat dan menangis terisak.

Aku tidak bisa diam saja melihat dia begitu ketakutan. Kemudian Aku naik ke atas tempat tidurnya, Angel meringkuk membelakangiku. Kupegang lengannya yang berada di kepalanya, terasa sangat tegang waktu kupegang.

“Hei,, it’s Ok. itu cuman suara petir…” Ucapku di belakangnya berusaha menenangkannya.

Kuposisikan tubuhku rebahan disebelah tubuhnya lalu kutarik lengannya agar menghadapku. Kini Angel menghadapku. Dia menangis, ketakutan tampak sekali di wajahnya yang cantik. Suara petir kembali terdengar, kali ini sangat keras. Angel langsung membenamkan kepalanya di dadaku yang telanjang. Tangisannya kembali pecah dan dia sangat ketakutan.

“aku takut…” Ucapnya pelan. Kulihat air mata menetes membasahi pipinya.

Langsung kupeluk tubuhnya dan kubelai punggungnya untuk bisa menenangkannya. Aku kebingungan melihat tingkahnya, kesan judes dan galak yang selama ini dia perlihatkan langsung menghilang seketika.

“Jangan takut,, ada aku, kamu aman disini, petir itu gak akan menemukanmu disini..” Ucapku lalu memeluknya semakin erat sambil mengusap usap kepalanya. Akhir-kahir ini banyak cewek yang menangis di pelukanku. Setelah Rein dan Bu Fiona, kali ini Angel..

Satu jam kemudian Angel sudah tenang dan rileks. Bahkan dia sudah terlelap sejak setengah jam yang lalu. Dia tertidur di pelukanku. Nafasnya terdengar teratur. Hujan telah reda namun suasana menjadi sangat dingin. Angel pasti kedinginan karena masih memakai pakaiannya yang basah. Kurapatkan tubuhku padanya untuk menghangatkannya.

Aku tidak bisa tidur bahkan tidak bisa berkedip karena pemandangan yang ada didepanku. Pemandangan yang sangat menggoda dan begitu menyenangkan untuk dilihat.

Karena belahan tanktopnya yang rendah, aku bisa melihat jelas sebagian besar payudara Angel yang bulat sempurna. Kulit payudaranya yang sangat putih dan mulus. Dan belahan payudaranya itu begitu panjang dan dalam, menandakan begitu besarnya payudara Angel. Baru kali ini aku melihat payudara Angel sedekat dan sejelas ini. Benar-benar indah !!. Masih tertutupi saja sudah kelihatan indah, bagaimana jika aku bisa melihat seutuhnya?

Aku berusaha sekuat tenaga menahan hasrat yang timbul karena bisa sedekat ini dengan Angel dengan segala keindahan tubuhnya dan kecantikan wajahnya. Namun melihat pemandangan payudaranya yang padat dan berisi semakin membangkitkan sisi liar dalam diriku. Sial, benar-benar tidak tau suasana. Serigala yang lapar dalam diriku serasa tidak ingin melewatkan umpan yang telah disodorkan di depan mataku. Ingin rasanya aku membelai langsung kulit payudaranya Angel.

Apa aku bisa?

Aku sangat tau resikonya jika Angel menyadari perbuatanku. Tau sendiri kan bagaimana responnya?. Dia pasti akan langsung meledak-ledak, kemudian menghajarku sampai aku babak belur.

Tapi sebentar saja gapapa kan? Dia pasti tidak akan merasakannya. Jika pun dia akhirnya terbangun, Aku akan beralasan tidak sengaja menyentuh payudaranya. Apakah bisa seperti itu?

Aku kembali mengingat ucapan AL kepadaku. “Whatever you want, Do as your heart desires, Rega !!”

Ikuti kata hatimu dia bilang?. Jantungku berdebar kencang. Aku masih memandang payudara Angel yang bergerak seirama dengan nafasnya. Mungkin aku tidak akan mendapat kesempatan lagi lain kali. Aku akan membelai payudara Angel. Aku akan menjelajahi bentuk dan tekstur payudara Angel. Bahkan kalau memungkinkan, aku bisa menyingkap tanktop dan bra yang dia kenakan. Atau aku bisa melakukan hal yang lebih?

Ya, ini satu-satunya kesempatanku. Tanganku mulai bergerak. Tanganku yang sedikit bergetar sudah hampir menyentuh langsung kulit payudara Angel. Kemudian ……

.

.

.

.

.

KEESOKAN PAGINYA

—-POV ANGEL—-

Aku terbangun ketika merasa kesulitan menggerakkan badanku. Rasanya seperti ada yang menahan pinggangku. Saat aku membuka mata, yang pertama kali kulihat adalah dada bidang telanjang seorang cowok. Mataku membesar menatap pemandangan di depanku. Aku mendongak sedikit ke atas dan mendapati wajah polos cowok mesum yang itu yang masih tidur pulas. Tangannya juga lah yang memeluk pinggangku hingga aku kesulitan bergerak.

Kupandang wajahnya yang masih terpejam. Kutelusuri setiap garis dan lekukan wajahnya. Rahangnya begitu kokoh. Kuakui sebagai cowok, bentuk fisiknya diatas rata-rata cowok-cowok lain. Suara nafasnya terdengar teratur, hembusannya menerpa kepalaku.

Aku sama sekali tidak ingat sejak kapan dan kenapa aku tidur dalam dekapan cowok mesum sialan ini. Aku mencoba membebaskan diri dari dekapannya. Tiba-tiba dia terbangun karena gerakanku. Matanya terbuka lebar menatapku yang masih berada di dalam pelukannya.

“Oh Hei, kamu sudah bangun..?” Ucapnya.

Karena kaget, aku langsung mendorong tubuhnya cukup keras dengan tangan dan kakiku sampai dia terjatuh di bawah tempat tidur. Dia langsung meringis kesakitan.

“kamu kenapa sih? Itu caramu berterima kasih setelah apa yang aku lakukan semalam?” Ucapnya kesal. Aku kaget mendengar ucapannya.

“Apa yang sudah kamu lakukan semalam? Kamu pasti berbuat aneh-aneh pada tubuhku kan?” Ucapku tak kalah kesal dengannya. Aku memperhatikan tubuhku, semua pakaianku masih lengkap. Tapi bukan berarti dia tidak macam-macam pada tubuhku. Dia pasti sudah megang-megang tubuhku.

“Hahhh? Kamu satu-satunya yang melakukan hal aneh semalam..” Ucapnya. “Kamu lupa ?”

“what.. What are you talking about?”

Dia terdiam menatapku “Nothing…” Ucapnya.

Lalu dia melangkah menuju kamar mandi. Apa yang aku lakukan semalam? Kenapa aku ga inget sama sekali.? Apa yang sebenarnya terjadi semalam? Yang kuingat hanyalah suara petir dan aku,,, astaga.. aku menangis seperti bayi.. dan.. dan cowok mesum itu berusaha menenangkanku. . Oh tidak…. Shit.. shitt.. Ini sangat memalukan, kenapa dia harus melihatku dalam kondisi seperti itu? AAAAAAAAAAHHHHHHHHH. this is not how it’s supposed to be.

Beberapa menit berlalu, pintu kamar mandi terbuka. Perlahan cowok mesum itu keluar dengan hanya berbalutkan handuk di pinggangnya. Mataku melihat sisa-sisa air di tubuhnya yang tegap. Dia berdiri menatapku yang sedang duduk di tepi tempat tidur. Dia mengambil kaosnya yang disimpan di dalam lemari.

“kamu sudah ingat?” Tanya dia. Aku tidak menjawabnya “sepertinya ingatanmu sudah pulih” Ucapnya sambil tersenyum penuh kemenangan. Fuck.

“Apa saja yang kamu lakukan pada tubuhku saat aku tidur?” Tanyaku. Dia menatapku begitu dalam. Aku mempunyai keyakinan besar kalau dia melakukan sesuatu pada tubuhku saat aku tidur.

“kamu gak merasakannya?” Tanya dia.

“APA KAMU BILANG?”. Teriakku. Mendengar ucapannya itu, aku jadi sangat marah. jadi benar dia melakukan sesuatu pada tubuhku?

“Aku masih cowok normal yang bisa sange melihat tubuhmu dan tetekmu yang selalu kamu biarkan terbuka.. jika semalam kamu gak merasakan aku menyentuh tubuhmu, itu karena semalam aku sama sekali gak menyentuh tubuhmu,,, terserah kamu mau percaya atau tidak. aku baru akan menyentuh tubuhmu kalau kamu yang memintanya..” Ucapnya lalu kembali masuk ke dalam kamar mandi.

Kemudian tak berselang lama dia keluar lagi dengan sudah memakai pakaian lengkap. Lalu dia berjalan menuju pintu kamar.

“Aku mau keluar dulu cari makan,, kamu pasti juga lapar kan?. aku akan membawakannya untukmu” Ucapnya lalu keluar kamar.

Cowok mesum sialan, pagi-pagi bikin kesel. Kenapa aku harus berurusan dengan cowok mesum nyebelin seperti dia?. Ini semua gara-gara aku harus membayar kekalahan akibat sok-sok an memenuhi tantangan yang tidak bisa aku lakukan.

Kemudian Aku berdiri di depan cermin besar di depan tempat tidur. Kulihat kartu akses kamar masih ada di atas meja. Cowok sialan itu tidak akan masuk kedalam kamar kecuali aku membuka pintunya dari dalam. Mengetahui hal itu, kutanggalkan semua pakaianku, bersiap untuk mandi. Kemudian kupandang tubuh telanjangku di cermin. Aku mengingat kembali ucapannya,

“Aku masih cowok normal yang bisa sange melihat tubuhmu dan tetekmu yang indah..

… aku baru akan menyentuh tubuhmu kalau kamu yang memintanya.”

Dasar cowok mesum brengsek, umpatku dalam hati. Kenapa dia selalu saja terobsesi dengan tubuhku dan payudaraku. Kupegang kedua payudaraku sendiri dengan kedua tanganku.

CLEKKKKKK.

Aku mendengar suara, seperti suara pintu yang terbuka. Saat aku menoleh ke asal suara, cowok mesum sialan itu berdiri dekat pintu sedang menatap tubuh telanjangku.

BERSAMBUNG

Hallo Bosku, Disini Admin KisahMalah
Agar Admin Semakin Semangat Update Cerita Cerita Seru Seterusnya, Bantu Klik Iklan yang Ngambang ya.
Atau Gambar Dibawah INI

Atau Bagi Kamu yang suka bermain game Poker Online atau Gambling Online lainnya, bisa di coba daftarkan ya. Banyak Bonus dan Hadiahnya Loh.
Untuk yang Kesulitan Daftar bisa Hub Admin di WA untuk di bantu Daftar.
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part