web hit counter

Halaman yang Hilang Part 5

0
364

Halaman yang Hilang Part 5

Bidadari Tak Bersayap

MALAM HARI SEBELUMNYA

—-POV WINRY—-

Beberapa hari berlalu sejak pertama kali menginjakkan kaki pertama kali di rumah ini. Memulai chapter baru dalam cerita kehidupanku sebagai anak kost. Selama itu juga aku tidak mendengar kabar apapun tentang papa tiriku ataupun Dion. Bukan berarti aku ingin tau tentang kabar mereka, tetapi sampai sekarang mereka sama sekali tidak mencariku ataupun berusaha menghubungiku. Padahal aku pergi begitu saja dari rumah tanpa berpamitan kepada mereka. Apakah mereka tidak menyadari ketidakhadiranku dirumah selama beberapa hari?. Hmmm Mungkin Bi’ Tati sudah memberitahu mereka. Atau mungkin mereka memang sudah tidak peduli lagi denganku. Dan mungkin saja mereka senang dengan kepergianku dari rumah mereka. Jadi mereka tidak perlu susah susah mengusirku dari sana.

Whoaaa, aku benar-benar sudah lepas dari mereka. Rasanya begitu menyenangkan. Hidup mandiri rasanya seperti memiliki kekuatan kendali hidupku mutlak di telapak tanganku sendiri. Tetapi memikirkan hidup sendiri tanpa bantuan orang lain sempat membuatku cemas, apakah aku bisa hidup mandiri? Harus bagaimanakah aku menjalani hidup ini?. Ahhhh, kepada siapapun aku bertanya pasti mereka akan menjawab “tidak ada seorangpun yang tahu kecuali dirimu sendiri”.

Yang kuinginkan hanyalah agar hidupku tidak menderita lagi. Egoiskah aku jika hanya menginginkan kebahagiaan dalam hidup? Aku hanya ingin melihat melihat langit malam dengan tenang. Bukan dengan kesedihan dan air mata lagi. Sebelum ini, rasanya aku seperti sedang menjalani peran di hidupku sebagai tokoh protagonis yang sering menderita, berulang kali ditinggalkan orang-orang yang paling kucintai dan ditinggalkan kepada orang-orang yang tidak mengharapkan kehadiranku. Hufttt !!

Seharunya aku layak mendapatkan piala penghargaan atas peranku yang selalu dramatis di dunia ini. Terkadang memikirkan itu membuatku bertanya tanya, apakah di akhir cerita nanti aku akan mendapatkan kebalikannya?. Seperti kebanyakan cerita novel dan komik atau cerita fiksi lainnya dimana protagonis dibuat menderita dulu di awal cerita dan akhirnya mendapatkan kebahagiaan di akhir cerita. Lagi, orang-orang pasti mengatakan “tidak ada seorangpun yang tahu kecuali dirimu sendiri”.

Malam ini di dalam kamar, aku sedang iseng mencoba menulis sebuah cerita pendek di laptop. Uhmm menulis atau mengetik?. Menurutku sih tetep dibilang menulis sih. Mencoba mengembangkan imajinasi level rendahan didalam kepalaku mengenai kisah pengembara galaksi, alien berwajah tampan seperti penghuni planet krypton yang datang ke Bumi dengan pesawat luar angkasanya yang tidak bisa dilihat manusia lalu alien itu bertemu dan jatuh cinta dengan cewek Bumi.

GLLLEEEEEEEEEEEEKK!! Saat sedang asik menulis tiba-tiba terdengar suara pintu menuju balkon lantai dua terbuka.

Sekarang aku tinggal di sebuah rumah yang dijadikan pemiliknya sebagai tempat kost. Kamarku berada di lantai dua. Saling berhadap-hadapan dengan kamarnya Kak Rega, teman kost sekaligus pemilik kost ini. Dan di rumah ini aku hanya tinggal berdua bersama Kak Rega. Sudah pasti dia yang membuka pintu menuju teras atau balkon lantai dua. Tapi kenapa? tidak biasanya kak Rega malam-malam seperti ini berada di balkon lantai dua, kenapa tidak di balkon kamarnya?. Biasanya setiap malam seperti ini dia ada dibawah, menonton tv.

Karena tinggal di rumah yang sama dan pintu kamar kami berdua yang saling berhadap-hadapan, sangat mudah bagiku dan Kak Rega untuk bertemu satu sama lain setiap hari. Seolah kita ditakdirkan untuk bertatap muka setiap hari meskipun kami tidak menghendakinya. Menjalani hidup sebagai anak kost berarti aku akan lebih banyak menghabiskan waktu di tempat ini, seharusnya akan sangat mudah untuk dekat atau berteman dengan penghuni kost yang lain.

Tetapi masalahnya, aku bukan Miranda yang mudah bergaul dengan orang lain. Bagiku harus bersosialisasi dengan orang lain ataupun orang yang baru kukenal adalah sebuah mimpi buruk. Karena aku memang tidak suka pergaulan, teman baru, suasana baru. Bisa dikatakan aku sangat membenci permulaan. Aku juga tidak suka keramaian dan lebih nyaman berteman dengan keheningan.

Aku tidak mengalami apa yang dianamakan krisis kepercayaan diri, tetapi aku hanyalah seorang cewek biasa yang kadang hanya dipandang sebelah mata oleh orang-orang, tidak dipedulikan, tidak diperhatikan, kadang kurasa keberadaanku tidak dilihat atau dirasakan orang-orang karena tidak ada satupun yang menarik dalam diriku. Bahkan Miranda sering mengatakan kalau aku adalah cewek yang aneh. Tapi aku tidak masalah dengan itu semua. Meskipun hanya cewek biasa-biasa yang berdiri di pojokan jauh dari keramaian dan tidak terlihat oleh orang lain, tapi kupikir aku suka dengan itu. Yang kuinginkan hanyalah ketenangan hidup bersama orang-orang yang dekat denganku.

Beberapa menit berlalu sejak pintu menuju balkon lantai dua terbuka, tidak ada tanda-tanda terdengar pintu itu tertutup lagi. Apakah Kak Rega masih berada di balkon?. Rasa penasaran membawaku untuk keluar dari kamar dan memeriksanya. Dan benar, dia masih disana.

Dia sedang bersandar pada tepian balkon dengan pandangan tertuju pada langit yang malam ini tampak cerah sama seperti malam-malam sebelumnya. Musim kemarau masih singgah dengan nyaman seakan enggan untuk pergi. Membawa suasana panas yang menimbulkan gerah di siang hari. Padahal bumi sudah kering dan rindu dibasahi air hujan. Seperti aku, aku sangat merindukan kehangatan dan kenyamanan dikala air hujan yang dingin membasahi tubuhku.

Kuberanikan diri mendekati Kak Rega. Tidak mungkin selamanya aku terus-terusan terjebak dalam suasana awkward saat hanya berdua bersamanya. Karena mulai sekarang kami tinggal serumah. Aku menginginkan suasana yang lebih ‘mencair’ dengannya. Aku ingin lebih dari sekedar saling bertukar senyum saat tidak sengaja berpapasan di dalam rumah. Tapi kenapa rasanya begitu sulit? Hei Winry, sadarlah !! dia itu Kak Rega, cowok yang sudah kamu kenal cukup lama.

Apakah karena dia itu Kak Rega?. Yang membuat suasana saat berdua dengannya menjadi begitu canggung. Karena kami dulu pernah dekat, kami pernah bergandengan tangan dan pernah saling berpelukan bahkan dia pernah ‘melihat’ tubuhku. Walaupun cuma sesaat dan terjadi sudah cukup lama, Apakah Kak Rega masih mengingatnya? Atau sudah melupakannya? Haruskah kuingatkan dia?. AAAAaaaaaa, tidak.. tidak… tidak… membicarakan itu sebagai topik pembicaraan dengan Kak Rega akan membuat suasana semakin terasa canggung. Huffttt.

Kemudian aku berdiri di dekatnya, bersandar pada tepian balkon. Saat aku akan menyapanya, dia menangkapku dengan matanya yang tajam itu. Sungguh tatapan matanya itu membuatku gila, sepersekian detik mampu membuatku lumpuh. Dari jarak sedekat ini dengan jelas aku melihat persamaannya antara binar matanya kak Rega dengan Bintang. Membuatku merindu, membuatku berangan-angan akan kenangan masa lalu saat tatapan mata yang sama menghujamku, menghempaskan tubuhku menjadi tak berdaya dan pasrah dengan segala yang dia lakukan kepadaku, pada tubuhku…. sepanjang malam.

Tidak ingin terlalu lama terbuai dengan tatapan matanya Kak Rega yang akan bisa membuatku salah tingkah, aku berusaha mengendalikan diri, mengendalikan emosiku dan meredam detak jantungku yang entah kenapa kali ini berdetak begitu bersemangat. Aku berusaha untuk tetap tenang dihadapannya, melemparkan senyum kepadanya lalu mengalihkan pandanganku ke langit, memandang kemilau jutaan bintang-bintang di angkasa. Itulah sebabnya kenapa aku tidak bisa mencairkan kebekuan saat sedang bersama Kak Rega.

Beberapa saat kemudian suasana menjadi sangat hening. Sambil sama-sama menatap bintang-bintang di langit, Aku dan kak Rega diam seribu bahasa. Kami berdua membisu. Padahal kami beridiri bedekatan, tapi rasanya seperti kami tidak saling mengenal satu sama lain. Kira-kira apa yang sedang dia pikirkan?

Apakah dia juga bertanya tanya tentang apa yang sedang kupikirkan?. Sambil terpesona dan takjub dengan keindahan bintang-bintang di langit, aku memikirkannya, memikirkanmu. Memikirkan seberapa jauh jarak diantara kita. Seandainya aku punya sayap yang bisa membuatku terbang ke langit menuju……. Bintang. Aku ingin menuju ke tempatnya, ke tempatmu. Sudah lama aku ingin bertemu denganmu. Aku telah menulis banyak hal yang akan aku lakukan jika aku bisa bertemu denganmu. Pertama, mungkin aku akan marah dan berteriak kepadamu, memukul-mukul dadamu, bertanya sambil berteriak kepadamu kenapa kamu melakukan itu?. bertanya mengapa kamu pergi meninggalkanku?. Lalu Aku akan bilang kepadamu, tanpamu semua tidak lagi sama. Dan aku akan menangis memelukmu sambil mengatakan kalau tanpamu.. cinta ini terasa sangat menyakitkan.

“Tumben Mira tidak kesini?” tanya Kak Rega memecahkan keheningan, membuyarkan lamunanku.

Aku menatapnya .“umm, dia tadi bilang sedang pergi dengan mamanya, ada acara keluarga ” Jawabku,

“ohhh gitu..” Ucapnya sambil mengangguk pelan “Uhm, Win…” Kak Rega akan berkata sesuatu tapi terpotong bunyi dering handphone yang daritadi kupegang.

TRINGGGGGGGGGGGGGGGGGG!!!

Aku tau siapa yang sedang menghubungiku meskipun tanpa melihat layar handphone. Karena ini sudah waktunya. Setiap hari di jam yang sama, dia pasti akan menghubungiku melalui panggilan video. Kemudian aku memberi gestur anggukan kepala kepada Kak Rega bermaksud untuk pergi meninggalkannya. Lalu berjalan kembali ke dalam kamarku sambil menerima panggilan di handphoneku.

“Hai,, sudah di kampus?” Tanyaku padanya sambil membuka pintu kamarku.

.

.

.

KEESOKAN HARINYA

“Halo Mir,, kamu dimana sih? “Tanyaku kepada Mira melalui handphone. “Ayo pulang..!!”

Aku sedang berdiri di depan perpustakaan sambil melihat sekeliling berusaha mencari keberadaan Mira. . Tadi dia menolak saat kuajak mencari dan meminjam buku mata kuliah di dalam, dan dia bilang akan menungguku di sini, di depan perpus. Tapi setelah aku selesai meminjam buku, dia tidak ada di depan perpus. Setelah menunggu sekitar lima belas menit akhirnya aku memutuskan untuk menghubunginya

Panggilanku ke handhponenya Mira tersambung tapi suaranya Mira terdengar sangat jauh dan samar. Aku berusaha memfokuskan pendengaranku dan yang terdengar adalah. “,, ahhh,, ssh, bentar Kak bentar….. ahhh ahh,, Kakkkk berenti dulu.. aku mau, Halo Win.. enghhh, ahhh,,”

Aku begitu shock dan terkejut saat samar-samar mendengar erangan Mira sambil berbicara dengan seseorang selain bicara denganku.

“Mira kamu dimana?” Tanyaku sekali lagi dengan nada meninggi. Tapi kemudian sambungan telepon kami terputus, aku mencoba menghubunginya beberapa kali tapi dia tidak mengangkatnya. Berbagai pertanyaan muncul dikepalaku. Apa yang sedang dia lakukan? Apakah dia sedang melakukan apa yang sedang kupikirkan? Dimana? Dengan siapa?.

Dan setelah menunggu sekitar tiga puluh menit kemudian, Mira belum juga kembali maupun memberi kabar. Kupikir memang sia-sia menunggunya disini karena dia pasti sudah pergi dari kampus. Akhirnya aku pulang ke tempat kost sendirian. Sepanjang perjalanan menuju rumah aku masih memikirkan apa yang sedang dilakukan Mira dengan segala erangan dan desahannya itu. Aku juga ingin tau sedang dengan siapa dia. Apakah saat dia menungguku di luar perpus dia bertemu dengan mahasiswa lain dan mereka pergi keluar kampus melakukan apapun yang sedang mereka lakukan tadi. Atau mungkin mahasiswa yang mengawal ospek kemarin ? Secara Mira sudah akrab dan kenal dengan beberapa kakak kelas pengawal kegiatan ospek kemarin. Dan tadi dia sempat menyebut orang yang sedang bersamanya itu dengan sebutan ‘Kak’ . Aku heran, kenapa sih Mira segampang itu??. Tidak, tidak seharusnya aku menghakimi dan menuduh sahabatku sebelum tau kebenarannya, mungkin diam-diam Mira sudah jadian dengan salah satu mahasiswa kampus.Tapi yang paling membuatku kesal, kenapa dia tidak memberitahuku dulu sebelum pergi?? Hufft.

Sepuluh menit berjalan, aku sudah sampai di depan rumah. Dari luar aku melihat Kak Rega sedang membersihkan halaman.

“hei Winn, sudah pulang?” Sapa Kak Rega kepadaku saat aku memasuki halaman.

Dan seperti biasa, sambil berjalan menuju kedalam rumah aku hanya tesenyum dan mengangguk tanpa berkata apapun. Saat sudah masuk kedalam kamar aku mengutuk diriku sendiri, betapa bodohnya diriku ini. Kenapa sih aku hanya diam saja? Paling tidak, seharusnya tadi aku menawarkan bantuan pada Kak Rega. Melalui jendela kamarku, kuintip Kak Rega yang sedang membersihkan halaman. Tak lama, sebuah mobil berhenti di depan rumah.

.

.

SEBELUMNYA

—-POV REGA—-

Di sore hari sepulang dari kampus aku melihat banyaknya dedaunan kering mengotori halaman rumah. Pftt, padahal setiap hari sudah kubersihkan. Bergegas aku masuk kamar mengganti pakaianku dengan kaos oblong dan celana pendek. Kemudian kembali lagi ke halaman Rumah dengan membawa sapu lidi dan memulai membersihkan halaman. Tak berselang lama, Winry juga pulang. Dia hanya tersenyum saat aku menyapanya.

Hanya perasaanku saja atau memang Winry terlihat semakin cantik meskipun dengan make up tipis di wajahnya?. Dia yang dulu bisa menenangkanku kini terlihat semakin dewasa dan tumbuh menjadi wanita yang cantik. Aku jadi teringat ucapan Mira tempo hari tentang Winry yang tidak bisa lagi tinggal di rumahnya. Aku harus segara bertanya kepada Mira tentang apa yang sebenarnya terjadi kepada Winry.

Setelah menebar senyuman yang indah, Winry langsung masuk ke dalam rumah dan aku melanjutkan membersihkan daun-daun kering yang bertebaran di seluruh halaman. Rein menolak dengan keras saat kuminta kepadanya agar Mbak Tina membantuku di rumah ini. Dia bilang akan mencarikan ART yang lain tetapi belum ada kabarnya sampai sekarang. Akibatnya setiap hari aku harus membersihkan rumah ini, mulai menyapu, mengepel sampai membersihkan kamar mandi. Huaaaa, tapi sampai kapan?

Saat sedang berusaha membersihkan daun-daun kering diatas rumput halaman, tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah. Mobil itu?. Mobil mewah yang sering kulihat berkeliaran di kampus. Kalau gak salah itu kan mobilnya,,, seseorang keluar dari mobil itu dan berjalan ke arah pagar.

Angela ?

Satu-satunya mahasiswa yang memakai mobil mewah seperti itu di kampus. Satu-satunya mahasiswa dalam sejarah kampus yang mampu mendapatakan nilai sempurna dua semester berturut-turut. Wajah yang cantik, rambut panjang lurus dicat berwarna gray, tubuh yang langsing, dan yang paling identik dari dirinya adalah payudaranya yang sangat besar dan masif. Tidak salah lagi, dia adalah Angela.

Kenapa dia kesini?

Matanya yang tajam mengamatiku saat aku mendekati pagar. “Panggil Majikanmu !! aku ingin bertemu dengannya.” Ucapnya tegas.

“Ma,,ma,,majikan??” Sial, sok tau banget ni cewek. hanya karena dia melihatku membersihkan halaman dengan memakai kaos dan celana pendek, dia mengira kalau aku pembantu di rumah ini.

“Aku pemilik rumah ini,” Ucapku menyombongkan diri. “ada perlu apa??”

Dia mengamatiku sekali lagi, seakan masih tidak percaya denganku “Aku mau menyewa rumah ini, berapa harga sewanya? Akan kubayar uang sewanya untuk satu tahun. Setelah itu aku minta hari ini juga rumah ini harus dikosongkan, karena besok aku akan memindahkan barang-barangku,, dan,……”

“Wooo..wooo….woooo.. Tunggu dulu,” Kupotong ucapannya, aku sedikit kesal dengan gaya bicara dan permintaannya yang tidak masuk akal. “Denger ya Angela…”

Tiba-tiba dia terlihat sangat kaget, dan mundur beberapa langkah menjauhi pagar.

“bagaimana kamu bisa tau namaku?” tanya dia sambil melihat ke arah kanan dan kiri. Aneh, tiba-tiba saja Dia terlihat begitu tegang, paranoid dan defensif saat kusebut namanya.

“kita kuliah di tempat yang sama,” jawabku.

“Aku tidak pernah melihatmu di kampus!!” Serunya

“Ya jelas saja kamu tidak pernah melihatku, kita beda Fakultas!!. Sebelumnya aku juga tidak tau namamu, sampai kamu membuat heboh di acara ospek kemaren”

Mendengar penjelasanku bagaimana aku bisa tau namanya, dia terlihat rileks lalu dia mendekati pagar lagi “oh, waktu itu kamu ada disana? jadi kamu maba??”

“Bukan, aku…”

“Waitt, aku gak peduli!!!” Shit, Dia memotong ucapanku“ aku gak mau membuang-buang waktu dengan anak kecil,, panggil orang tuamu sana!!”

What the Fuck?? Anak kecil dia bilang?? Songong amat nih cewek.

“Tadi kan udah aku bilang, aku pemilik rumah ini,, asal kamu tau. rumah ini tidak disewakan.” Ucapku.

“Whattt? Minggu kemaren aku lewat depan sini dan aku lihat ada tanda kalau rumah ini disewakan” Ucapnya.

“Kamu terlambat, akulah pemilik baru rumah ini..” Ucapku dengan nada sinis, dia terlihat bete. Entah kenapa aku merasa senang melihat dia kesal. Seandainya belum ada Winry, bisa saja aku biarkan cewek songong ini menyewa rumah ini karena aku tidak terlalu membutuhkannya. Aku tidak bisa mengusir Winry begitu saja dari sini, apalagi setelah mendengar ucapan Mira tentang Winry.

“kalau kamu mau, ada kamar kosong untuk disewakan !!” Ucapku sambil menunjuk iklan ‘menerima kost’ yang menempel di pagar. Dia tampak berpikir keras sambil menatapku. Aku sih yakin, cewek glamour seperti dia tidak akan mau tinggal di sebuah kamar kecil sebagai anak kost. Lagipula aku juga tidak mau tinggal serumah bersama cewek yang songongnya selangit seperti dia. Tapi diluar dugaan…

“sebuah kamar sudah cukup buatku. Aku mau melihat kamarnya!!” Serunya.

“Ehh?. …” Aku sama sekali tidak menyangka kalau dia tetap bersikeras tinggal disiini meskipun hanya menyewa sebuah kamar. Kubuka pintu pagar dan kupersilahkan dia masuk.

“bytheway, aku Rega..” Ucapku mengenalkan diri saat dia masuk ke dalam halaman.

“Nggak Nanya…” Ucapnya singkat dan terasa sangat menyakitkan. FFFAAAAAAAAAAAAAKKKK, Bener-bener cewek yang sangat menyebalkan. Dia berjalan mendahuluiku masuk ke dalam rumah. Aku mengikutinya, Melihatnya dari belakang mataku fokus pada bongkahan pantat yang besar itu dibalik celana jeans ketat yang dia pakai.

Kemudian kubiarkan Angela mengamati keadaan dan suasana di dalam rumah sendirian. Aku hanya duduk di sofa sambil memandangnya. Cantik sih, tapi kecantikannya tidak selaras dengan sikapnya. Yang dikatakan Dicky tentang Angela itu benar, kalau dia itu jutek banget.

But, she’s fucking HOT. Selain mempunyai tubuh yang indah dengan kaki yang panjang dan perut yang langsing, payudaranya ituloh, Gilaaak, terlihat begitu menggiurkan meskipun sedang bersembunyi di balik kemeja denimnya. Menurutku, payudaranya itu terlalu besar untuk ukuran tubuhnya yang langsing. Sekilas dia begitu mirip dengan Rein mulai dari wajah, bentuk tubuh serta ukuran payudara. Aku belum bisa memastikan punya siapa yang lebih besar, mungkin aku baru bisa menilainya saat melihatnya langsung atau meremasnya. Shit, punyaku jadi berdiri saat membayangkannya. Tiba-tiba dia menatapku, aku langsung mengalihkan pandanganku dari tubuhnya, pura-pura tidak melihatnya. Aku teringat kalau dia tidak suka ada cowok melihat payudaranya itu.

“Yang mana kamarnya?” Tanya dia.

“ohhh, sekarang kamu bertanya?” ucapku sinis sambil berdiri dari sofa lalu berjalan menaiki anak tangga tanpa mengajaknya. Sumpah, males banget bicara sama dia.

Ketika aku sudah ada di lantai dua, Angela masih di bawah, menatapku sambil melipat kedua lengannya dibawah payudaranya.

“Kamu masih membutuhkan kamar?? Kenapa kamu masih disana?” Teriakku padanya. “kamarnya ada di atas sini”

Dengan muka yang jutek dia menaiki anak tangga, aku menunggunya di ujung anak tangga. Ketika dia menaiki anak tangga dan hampir tiba di ujung, dari atas sini aku bisa melihat dengan jelas belahan diantara kedua payudaranya yang besar itu di balik kemeja yang dia biarkan dua kancing atasnya terbuka. Damn, Putih, mulus dan sangat menggoda. Penisku bergetar tidak kuasa menahan godaan sebesar itu. Aku mencoba memfokuskan pandanganku pada payudaranya Angela. Sedikit kugeser posisiku maju, agar aku bisa mengintipnya dengan jelas. Damn, pemandangan yang menakjubkan. Kedua gundukan paydaranya yang besar menciptakan garis belahan yang begitu menggiurkan. Kedua payudaranya itu naik turun mengikuti langkah Angela menaiki anak tangga. Semakin mendekati ujung, payudaranya semakin terlihat lebih jelas bagaiakan gambar tiga dimensi. Seandainya aku bisa menyentuh sebentar saja payudara yang sepertinya lembut itu. Saat-saat seperti ini, aku sangat merindukan payudara besar kakakku yang bisa bebas kusentuh dan kuremas sesuka hati.

“lihat apa kamu?” Tanya dia, saat tiba di lantai dua. “KAMU BARU SAJA MELIHAT DADAKU??” Ucapnya dengan nada marah tepat di hadapanku.

Gawat. Aku ketahuan “Hahh? aku tidak melihatnya” Ucapku berbohong padanya.

“jelas-jelas kamu sedang melihat dadaku, aahh aku tau,, itu alasannya kamu naik duluan dan menungguku disini supaya kamu bisa melihat dadaku dari atas.. ya kan?? dasar cabul”

Bagaimana aku tidak melihat payudaranya ketika payudaranya itu terlihat sangat jelas. lagipula dari atas memang belahan payudaranya itu terlihat sangat mempesona. hihi

“Aa..aaku..tidak melakukannya dengan sengaja.. aku melihatmu, dan tidak sengaja memandang ke arah tete,,, oh maksudku dadamu.” Ucapku sambil memandang payudaranya. Shit, aku tidak bisa berhenti melihat payudaranya.

“Gak sengaja? Kamu pikir aku tidak tau apa yang ada di pikiran cowok cabul sepertimu? Bahkan kamu sedang melihat dadaku sekarang..”

“itu karena kita sedang membicarakan dadamu,,,”

“STOPPP LOOKING AT MY BOOBS !!” Teriak dia dengan sangat keras dan penuh dengan amarah.

“OKEE. OKEE.. Aku tidak akan melihatnya lagi.” Ucapku sambil melihat ke arah lain.

“Dasar cabul, denger yah !! jangan pernah melihat atau menyentuh tubuhku, No matter how sexy I look” Ucapnya.

“Kepedan banget, siapa juga yang mau menyentuh tubuhnya..” Ucapku lirih.

“apa kamu bilang??”

“Enggakk, aku gak bilang apa-apa.. “ Ucapku sambil berjalan membelakanginya “ada dua kamar kosong di belakang, kamu bebas memilih mana yang kamu suka. Yang satu jendelanya menghadap ke rumah tetangga sebelah, yang satu jendelanya menghadap ke belakang rumah” Jelasku padanya. Aku sangat berharap dia tidak suka dengan kamarnya dan tidak jadi tinggal disini. Aku tidak mau setiap hari harus berurusan dengan cewek seperti dia.

“Aku gak suka kamar belakang..” Serunya, Yess, aku sangat senang mendengarnya, “Aku mau yang ini” Ucapnya sambil menunjuk dan berjalan menuju pintu kamar disebelah kami yang merupakan kamarku.

“Hahhh?? No… kamar itu sudah ada yang menempati” Ucapku.

“Suruh dia pindah ke kamar belakang!” Perintahnya. WTF????

“Kamu gak bisa seenaknya menyuruh nyuruh orang lain pindah dari kamarnya..”

“Aku bisa melakukannya. Emang siapa yang menempati kamar ini? aku sendiri yang akan menyuruhnya pindah” Tanya dia

“Itu kamarku”

“Baguslah, sekarang juga pindahkan barang-barangmu, karena besok aku akan memindahkan barang-barangku”

Whattt? Nih cewek bener-bener memancing emosiku .. Aaaaaaaaaaarggghhhh

“Tidak bisa, Kamar itu tidak disewakan, kenapa sih kamu tidak mencari kost lain atau rumah lain?? Masih banyak rumah di komplek ini yang disewakan”

“Pokoknya aku mau kamar ini, kamu bisa pindah ke kamar yang itu” Ucapnya menunjuk kamarnya Winry. “atau kamar yang ada di bawah”

“Kedua kamar itu juga sudah ada orangnya, eh. kok jadi kamu yang ngatur-ngatur? Aku pemilik tempat ini. Kalau kamu tidak mau dengan kamar belakang, silahkan keluar dari rumah ini” Ucapku dengan tegas kepadanya. Dia terdiam sambil menatapku.

“Gak mau, kamu aja yang di kamar belakang” Ucapnya setelah hening beberapa saat.

“Aku juga gak mau tidur di kamar belakang”

“KERAS KEPALA BANGET SIH JADI ORANG” Serunya dengan nada tinggi

“KAMU ITU YANG DARITADI KERAS KEPALA” Balasku.

“Pokoknya aku mau kamar yang ini, kalau kamu gak mau memindahkan barang-barangmu, biar aku suruh orang untuk memindahkannya” Ucapnya sambil berbalik badan lalu berusaha membuka pintu kamarku.

“hei-hei mau ngapain sih?” Habis sudah kesabaranku pada cewek sialan ini. kalau dia memang tidak mau keluar dari dalam rumah secara baik baik, terpaksa aku akan mengusirnya secara paksa. Aku mendekatinya, berusaha mencegahnya untuk masuk ke dalam kamarku.

Tetapi hal yang tidak terduga terjadi saat aku mencegahnya memasuki kamarku. Saat tanganku akan berusaha menahan lengannya untuk membuka pintu kamar, tiba-tiba dia berbalik badan. Dan karena dia berbalik badan, tanganku yang terlanjur bergerak tidak sengaja mendorong dan memegang dengan penuh salah satu payudaranya sampai tubuhnya terdorong bersandar pada pintu kamarku.

Damn, padet banget payudara Angela.

Di saat yang bersamaan Winry keluar dari dalam kamarnya. Dia terlihat shock melihatku memojokkan seorang cewek di depan pintu kamarku dengan tanganku yang masih memegang payudara cewek itu. Aku yang tersadar masih memegang payudara Angela langsung dengan cepat memindahkan tanganku.

“Ma,,mmaaf,, aku gak sengaja” Ucapku.

Angela menatapku dengan mata melotot dan wajah memerah seperti menahan amarah yang sepertinya tidak bisa dia tahan lagi. Serta kedua telapak tangan yang mengepal.

“APA YANG SUDAH KAMU LAKUKAN?” Teriaknya dengan keras, lalu

PPPLLLLLLLLLAAAAAAAKKKKKKKKKKKKK

Sebagian wajahku langsung terasa sangat panas karena tamparan wajahnya,. Gilaaak sakit banget, ,oke kali ini aku memang pantas mendapatkannya. Angela masih menatapku, sedangkan Winry terlihat kebingungan dengan apa yang sebenarnya terjadi.

“Cowok brengsek, cabul, mesum… pokoknya Besok aku kesini, kamar ini harus kosong, kalau tidak,,, aku akan melaporkanmu pada polisi atas apa yang barusan kamu lakukan kepadaku” Ucapnya sambil berjalan menuju tangga, akhirnya dia akan pergi juga dari rumah ini.

“Kamu kira aku takut? Laporin aja, lagipula tadi aku gak sengaja…” Ucapku. Mendengar ucapanku, dia berhenti berjalan lalu berbalik badan menatapku lagi. Kemudian dia mengeluarkan handphone dari saku celananya lalu menggunakannya untuk menghubungi seseorang. Tak lama handphone itu mengeluarkan suara yang keras karena Angela mengaktifkan mode loudspeaker.

“LAYANAN BANTUAN POLISI, ADA YANG INGIN ANDA LAPORKAN?”

Ehh?

“Ada seorang cowok cabul sedang berusaha menyentuh dan meraba-raba tubuhku” Ucap Angela.

Whatt??

“BAIK, APAKAH ORANG ITU MASIH BERSAMA ANDA?”

“Ya, tolong Pak Polisi, cowok ini sangat cabul,, aku punya saksi, seorang cewek yang melihat kelakuan bejat cowok cabul itu kepadaku,” Ucap Angela sambil melihat Winry yang berdiri di depan pintu kamarnya. Winry langsung menatapku dengan kebingungan.

Apa yang harus aku lakukan? Apa aku bisa dipenjara hanya karena tidak sengaja menyentuh payudara seorang cewek?

“DIMANA LOKASI ANDA SEKARANG?”

Aku langsung terbayang beberapa mobil polisi mendatangi rumah ini, menangkapku, membrogol tanganku dan mencebloskanku ke dalam penjara. Apa nanti kata Rein? Bunda? Teman-temanku? Bagaimana nanti masa depanku? Ohh tidak,., Membayangkan itu membuatku menjadi sangat panik.

“ANGELA…PLEASE STOP, FINE, KAMAR ITU MILIKMU..” Ucapku

Angela mematikan panggilan teleponnya kepada polisi. Aku sangat lega, sialan nih cewek. Dia yang pintar memanfaatkan keadaan atau aku yang terlalu bodoh ya? Fuckkkk. Angela berjalan mendatangiku dengan senyum penuh kemenangan.

“Kamar itu milikku?” Tanya dia, aku tidak menjawabnya, aku masih kesel banget sama dia. Cewek sialan ini bagaiakan mimpi buruk di siang hari.

“Karena kamu bilang kamar itu milkku, jadi aku tidak perlu membayar sewanya” Ucapnya

“eh, ya gak bisa gitu dong” Ucapku

“kenapa enggak?, kamu sudah berani menyentuhku,, Kamu sudah untung banyak karena menyentuhku payudaraku”

Gilaaaaaak, mahal banget biaya yang harus kubayar hanya untuk memegang payudaranya. “. Ayolah,, Kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau” Ucapku sedikit memelas, masa’ iya dia tinggal disini tanpa membayar sewa sama sekali.

“Fine, aku akan membayar uang sewanya. sebagai gantinya karena kamu sudah berani menyentuh tubuhku, mulai sekarang kamu jadi asistenku..” Serunya

“Asisten? Maksudnya?” tanyaku

“Asisten artinya kamu memambantuku selama aku tinggal disini, mulai dari membelikan semua kebutuhanku, seperti makanan, kebuuthan sehari-hari, membersihkan kamarku, mencuci bajuku dan lain-lain”

“Kamu kira aku pembantu?? Enak aja,, nggak mau”

“ohh oke, aku bisa melanjutkan laporanku tadi ke kantor polisi..” Ancamnya sambil mengeluarkan lagi hanpdphone dari sakunya.

“Oke, oke, aku akan melakukannya..” Hadeeeh, begini banget ya nasibku. Sial banget ketemu cewek sialan ini.

“Katakan !!” perintahnya

“Apa?”

“katakan kalau mulai sekarang kamu adalah asistenku”

“MULAI SEKARANG AKU ADALAH ASISTENMU.. PUAS?”

“sangat Puasss” Ucapnya sambil tersenyum. kemudian aku mendengar ucapanku tadi dari handphonenya

MULAI SEKARANG AKU ADALAH ASISTENMU

“sebagai pengingat jika kamu pura-pura lupa” Ucapnya, Shit, dia merekamku dengan handphonenya.

“tugas pertamamu sebagai asistenku, pindahkan barang-barangmu sendiri. Besok aku kesini lagi membawa barang-barangku. Oke?? Oiyah, panggil aku cukup Angel,, satu lagi, kalau sekali lagi kamu berani sedikit saja menyentuhku, kamu akan mati” Ucapnya lalu berjalan menjauhiku.

“kalian adik kakak?” Tanya Angel kepada Winry sambil berjalan menuju tangga. Winry hanya menggelengkan kepalanya. Lalu Angel turun ke lantai bawah dan meninggkalan rumah ini. Kepergiannya dari rumah ini bagaiakan badai yang telah berlalu.

.

.

.

Seperti permintaan cewek sialan itu, sore itu juga aku memindahkan barang-barangku ke kamar belakang. Aku memilih kamar yang letaknya tepat disebelah kamar ini. Kamar yang jendelanya menghadap ke rumah tetangga sebelah. Setidaknya, di pagi hari sinar matahari masih bisa menjangkau melaui jendela kamar ini. Tiba-tiba Winry mendatangiku saat aku mengumpulkan barang-barangku.

“Senior,, kalau kamu mau, kamu bisa menempati kamarku, biar aku pindah ke kamar belakang” Ucapnya.

“eh, jangan.. gapapa kok Win, biar aku aja yang pindah ke belakang,” Ucapku. Aku tidak tega jika Winry yang harus pindah kebelakang dan harus menerima akibatnya.

“umm.. kalau gitu, boleh aku membantu?” Tanya Winry,

“Tentu, thanks..”

Karena ada Winry yang membantuku, tidak butuh waktu lama semua barang-barangku sudah kupindahkan. Karena cewek brengsek itu, aku harus menjelaskan kepada Winry apa yang sebenarnya terjadi saat dia melihatku menyentuh payudara cewek sialan itu agar Winry tidak salah paham. Kalau di pikir-pikir, bukan pertama kalinya Winry melihatku menyentuh payudara cewek lain. Hadeeehhh,

Setelah itu aku menghempaskan tubuhku di tempat tidur. Nyesek banget rasanya harus pindah kamar, karena kamar ini tidak ada balkon dan tidak ada kamar mandi di dalam. Faaaakkk, Mimpi apa aku semalam sampai bertemu dan berurusan dengan ular seperti cewek sialan itu. Seketika aku menyesal tadi menawarkan kamar untuknya. Namanya doang seperti bidadari, tapi kelakuannya seperti iblis.

Eh?

Bicara tentang bidadari, besok sudah hari sabtu. Dan besok aku ada janji untuk bertemu bidadari yang sangat cantik. Aku harus menelpon Rein, untuk menanyakan apakah besok bisa kupinjam mobilnya. Kuraih handphoneku untuk menelpon kakakku, dan langsung tersambung.

“Halo Rein…”

.

.

.

.

SEBELUMNYA DI TEMPAT LAIN

—-POV REIN—-

“shhhh”

Darahku berdesir ketika lidahnya yang basah menyapu liar ujung belahan pantatku di sela sela upayanya melepas celana dalamku. Satu-satunya kain yang masih menempel pada tubuhku. Tadi setelah dia menelenjangi pakaian dan bra yang kupakai, dia memaksaku untuk tengkurap di atas tempat tidur.

“angkat dikit pantatmu Cantik..” Perintahnya dari belakang.

Kuangkat sedikit pantatku agar dia bisa lebih leluasa melepaskan celana dalamku. Dengan perlahan dia memelorotkan celana dalamku sampai lolos dari kakiku. Dan akhirnya aku sudah tidak memakai apa-apa lagi dihadapannya. Kemudian dia menindihku, menekan-nekankan pangkal pahanya yang masih tertutupi CD pada pantatku. Lalu kedua tangannya meraba-raba kedua payudaraku dari samping.

“Montok banget sih kamu Man..” Bisiknya genit di telingaku “tubuhmu membuatku tidak bisa konsentrasi di kelas, tadi sepanjang kuliah jam kedua aku gak tahan pengen segera seperti ini denganmu”

Tekanan pinggulnya di pantatku semakin kuat. Gerakannya menandakan gairahnya yang meledak-ledak. Lalu dia mulai menciumi tengkuk leherku, pundakku lalu dilanjutkan dengan gigitan gigitan kecil di punggungku, Segala yang dia lakukan pada tubuhku membuatku terangsang.

“Ahhhh,,”

Kemudian dia menuntunku untuk nungging diatas tempat tidur. Kami berdua sama-sama nungging diatas tempat tidur dengan posisi kepalanya ada di belakang pantatku. Dilebarkan sedikit kedua pahaku lalu aku merasakan lidahnya mulai mengekplorasi area selangakanganku dari paha, belahan pantat hingga membelai lubang anusku, sampai akhirnya lidahnya itu menjilati memekku dari belakang. Kemudian aku merasakan satu, ah tidak, tapi dua jarinya dimasukkan ke dalam memekku. Jarinya mengaduk aduk di dalam memekku, sedangkan lidahnya memainkan dan merangsang klirotisku.

“Achhhhhhh..”

Aku mendesah, mengerang dan menggeliat sebagai respon akan kenikmatan yang kurasakan saat lidahnya bergerak liar di dalam memekku. Dia sangat tau dimana titik paling sensitif pada tubuhku. Aku sangat menikmati permainan jari, lidah dan mulutnya di kemaluanku. Aku bisa merasakan mulutnya menghisap memekku dengan sangat kuat, melahap semua cairan yang keluar dari sana. Uhhhh, rasanya enak banget.

“aachhhhhhh”

Rasanya ada kenikmatan sendiri saat ada yang menjilati memekku, membuatku nggak tahan, membuatku lebih bergairah, membuatku merasa di spesialkan, karena tidak semua cowok suka menjilati kemaluan pasangannya. Kalau kamu mau bercinta denganku, kamu harus mau menjilati punyaku dulu, baru aku akan mau bercinta denganmu. Karena aku sangat menyukai oral seks. Aku suka jika ada yang memanjakan memekku dengan mulut dan lidahnya. Apalagi setelah seharian menguras pikiran di kelas, jilatan lidahnya membuatku nyaman dan mampu menghilangkan segala penat yang kurasakan.

Kemudian tiba-tiba dia menampar pantatku dengan keras di dela-sela hisapan mulutnya di memekku.

PLAAAAKKK!!,

”Achhh teruss,,, lagiii”

PLAAAAKKK!!

Aku menjerit sangat keras penuh dengan kenikmatan. Kuremas salah satu payudaraku untuk menambah kenikmatannya.

“Masukkkin,,,,” Ucapku memohon padanya. Karena aku sudah tidak tahan ingin segera merasakan penis hitam itu lagi seperti semalam.

Mendengar permintaanku, dia menyudahi melakukan oral kepada memekku. Lalu tak berselang lama dia menusuk memekku dengan penis hitam besar dan panjangnya itu dari belakang.

“Akhhhhhhhhhhhhhhh”

Aku menjerit sangat keras saat penis hitam itu memaksa masuk ke dalam memekku. Memekku langsung terasa penuh, padahal kuyakin penis besar itu belum masuk seluruhnya. Tanpa berlama lama dia mengaduk aduk memekku dengan penis itu. Sungguh kenikmatan yang tiada tara saat penis besar itu menggesek gesek dinding memekku. Apalagi dia menusukku sambil tetap menampar nampar pantatku. Nikmat sekali rasanya..

PLAAAAKK !!

“AcccHH AHHHH.. achhhhhhhhh”

“Sukaa? Teriak yang kenceng Man,,” Ucapnya.

PLAAAAKK !!

“AHHH.. achhhhhhhhh,”

Beberapa menit kemudian aku berganti posisi. Kali ini aku terlentang dan dia memasukkan lagi penis hitamnya yang besar itu kedalam memekku.

“uhhhhhhh,, akkhhh…”

Dalam posisi seperti ini aku bisa melihat bagaimana penis hitam itu menghujam memekku. Begitu besarnya sampai hanya sepertiga bagian dari penis itu yang bisa masuk ke dalam memekku. Memekku sudah mulai becek dan licin yang membuat penis itu lebih leluasa menerobos masuk begitu dalam didalam memekku.

Aku tidak bisa menahannya lagi, aku merasakan sesuatu akan meledak di dalam diriku. Dia tau aku akan sampai puncak. Dia percepat gerakan menusuk penisnya pada memekku, sampai membuat cairanku tumpah dari dalam memekku.

“Ahhhh ahhhh. Ahhh dikit lagi,,, ahhh”

“Aaaaaaacchhhhhhhhhhhhh”

Sampai akhirnya aku mengerang sangat panjang saat aku mencapai orgasme pertamaku. Tubuhku sampai terangkat dan bergetar hebat. Kemudian kupeluk erat tubuhnya.

“Enak?” Tanya dia, setelah memberikan kepuasan kepadaku

Aku masih tidak bisa berkata apa-apa. Getaran tubuhku saat memeluknya mungkin bisa menjelaskan kepadanya betapa nikmatnya orgasme yang kurasakan. Kemudian kami berdua rebahan diatas tempat tidur, Aku masih lemas tak berdaya sambil mengatur nafas. Kumiringkan badanku menghadapnya lalu kukecup bibirnya sebaga tanda terimakasih karena telah membuatku puas. Dia sangat suka saat kucium.

Sebuah Dildo besar dan panjang berwarna hitam masih menancap di memekku. Dildo itu adalah mainan yang biasa dia gunakan untuk memuaskanku, karena dia tau kalau aku tidak akan cukup kalau hanya dengan jarinya, lidah maupun mulutnya.

Oiya, orang yang tadi mengoralku dan baru saja memberikan kepuasan kepadaku adalah Oliv, Roommate –ku di asrama mahasiswa. Dia adalah seorang biseksual.

Oliv mempunyai seorang cowok yang dia kencani sejak lama, tapi dia juga suka dengan cewek. Dia menyukaiku. Menurutnya, perbandingan antara dia suka cowok dan cewek itu seimbang. Sama-sama lima puluh persen. Tetapi dia bilang kalau urusan aktivitas seksual, dia lebih suka bercinta dengan sesama cewek. Dia lebih suka dengan lekuk tubuh indah cewek daripada tubuh kekar seorang cowok. Oliv menyukaiku karena bentuk tubuhku yang katanya indah. Dia juga mengatakan kalau lebih nyaman berpelukan denganku daripada dengan cowoknya. Cowoknya tau kalau Oliv mempunyai penyimpangan, dan cowoknya tidak mempemasalahkan itu. Cowoknya membebaskan Oliv untuk bertualang dengan cewek manapun asal bukan dengan cowok lain. Padahal sebenarnya Oliv beberapa kali pernah bercinta dengan cowok lain. Kata Oliv, beberapa kali dia bercinta bersama cowoknya sambil mengajak pasangan lesbiannya. Beruntung banget tuh cowoknya bisa 3S. Tapi Oliv tidak berani mengajakku melakukan itu, karena dia tau aku bukan cewek murahan seperti itu.

Lalu bagaimana denganku?. Apakah aku mempunyai orientasi yang sama seperti Oliv? entahlah. Aku masih menganggap kalau diriku ini adalah cewek heteroseksual, cewek normal yang masih suka dengan cowok daripada dengan cewek. Hubunganku dengan Oliv tidak lebih hanya sebatas partner seks. Karena aku masih cewek normal, cewek normal yang masih mempunyai nafsu dan butuh pelampiasan hasrat seksualku yang terbilang gede. Dan semenjak aku tinggal di asrama ini, aku tidak bisa lagi bercinta setiap hari melampiaskan nafsuku dengan adikku Rega. Aku pernah mencobanya dengan salah satu cowok kampus yang kuanggap menarik. Tapi gagal karena aku selalu teringat dengan Rega. Sepertinya aku tidak bisa Make Love dengan cowok lain selain dengan Rega. Selain itu, Masturbasi tidaklah cukup bagiku. Saat itulah, Oliv menawarkan petualangan yang berbeda.

Awalnya aku risih saat pertama kali kami melakukannya. Aku tidak bisa melupakan rasa aneh saat pertama kali kami berciuman atau rasa jijik pertama kali aku harus menjilati bibir kemaluan OLiv. Tapi lama-kelamaan aku jadi terbiasa, dia mengajariku dengan baik tanpa paksaan. Kini aku tidak ragu lagi mencium bibirnya atau sudah terbiasa menjilati cairan cinta dari memeknya. Kami sudah terbiasa mandi bersama, tidur telanjang berdua di bed yang sama padahal di dalam kamar ada dua bed. Dan seks menjadi menu harian kami berdua setiap malam setelah selesai dengan tugas-tugas kuliah. Tetapi tidak di akhir pekan, karena setiap akhir pekan dia pulang kerumahnya atau pergi kencan dengan cowoknya.

Harus kuakui aku mulai menyukai petualangan ini. Mungkin karena kami sama-sama cewek, kami saling mengerti keinginan kami satu sama lain. Kami saling memahami bagaimana cara memanjakan tubuh cewek secara seksual. Hal yang jarang bisa kami dapatkan dari cowok. Jadi seperti itulah hubunganku dengan Oliv. Dia menyukaiku, tapi bagiku dia hanya kuanggap sebagai pemuas hasrat seksualku yang gede, tidak lebih. Dan Oliv tidak keberatan dengan itu. So, bagaiamana menurut kalian tentang orientasi seksualku?

“Man.., nanti malam clubbing yuk? Udah lama kita nggak ke SKY HIGH” Ajak Oliv, setelah beberapa waktu dia mulai lagi menggerakkan Dildo yang yang masih menancap di Memekku sambil jari-jarinya yang lentik meremas payudaraku serta memilin milin putingnya. Sepertinya dia ingin membangkitkan gairahku lagi.

“shh,, Gak bisa Liv, Aku tidak ingin bangun terlambat besok. Karena Besok pagi aku harus pulang, aku sudah janji dengan adikku untuk pulang setiap akhir pekan.” Jawabku. Tanganku mulai meraba-raba paha Oliv. “Malahan Aku sedang mempertimbangkan untuk tidak lagi tinggal disini, aku ingin bersama adikku terus,, ahhh”

“Emangnya kamu bidadari yang harus ada setap saat untuk Rega?? Dia sudah besar Man , ,biarkan dia hidup mandiri. Kalau kamu tidak tinggal disini lagi, terus aku gimana??” Ucapnya lalu cemberut.

Langsung kulumat bibirnya yang sedang cemberut itu, kami berpagutan saling bertukar ludah selama beberapa saat sambil dia tetap memainkan Didlo di memekku.

“ahh,, tadi kan aku bilangnya sedang kupertimbangkan, belum tentu terjadi” Karena semua itu tergantung dengan keadaan Rega “lagipula, kamu masih bisa ‘main-main’ dengan yang lain” Aku tau dia punya pasangan lesbian lain di kampus selain denganku. Dia pernah mengajakku bercinta bersama mereka, tapi aku menolak karena aku tidak tertarik dengan cewek lain selain Oliv.

“Kamu selalu menjadi favoritku..” Ucapnya sambil meremas dengan kuat payudaraku “uhmm bagaimana kalau besok malam?? kamu ajak Rega sekalian ke SKY HIGH, sudah lama aku tidak bertemu dengannya” Usulnya. Tanganku menyelinap di balik Celana Dalam Oliv dan meraba-raba rambut-rambut kemaluannya.

“Dia tidak akan ke tempat-tempat seperti itu lagi” Jawabku. Rega sudah berjanji kepadaku, aku harap dia tidak lupa dengan janjinya itu.

“Kamu pasti yang melarang dia kan?? Kalau gitu ajak aku menginap di rumahmu, kemana aja deh pokoknya sama kamu” Ucapnya

“Gak Boleh,” Jawabku cepat tanpa keraguan. Oliv cemberut lagi. Aku tidak akan membiarkan Oliv berlama-lama dengan Rega lagi. Aku takut dia keceplosan mengatakan hubungannya denganku kepada Rega. Aku tidak mau Rega tau tentang hubungan ini. Karena aku ingin selalu terlihat seperti kakak yang sempurna baginya. “emangnya besok kamu gak keluar sama cowokmu?”

“Kamu kan tau aku Lagi Males sama dia,” Serunya kemudian berhenti memainkan dildo di memekku. Sepertinya dia masih bertengkar dengan cowoknya. “Man, semisal aku beneran putus dengan cowokku,, aku boleh deketin Rega ya? Kira-kira Cewek seperti apa yang dia suka?”

“Kamu belum tau dia suka cewek yang seperti apa? bukankah kamu pernah “menggodanya”??” Tanyaku.

Mungkin Rega akan suka dengan cewek seperti Oliv. Dari fisiknya, Oliv itu tipenya Rega banget. Kulitnya putih bersih, rambutnya pajang serta bibir yang imut. Selain mempunyai wajah yang menurutku cantik, Oliv mempunyai tubuh yang langsing dengan payudara yang kecil. Perbedaan ukuran payudaraku dengannya terlihat cukup jelas. Menurutku, Rega lebih suka dengan cewek yang berpayudara kecil. Karena beberapa kali dia dekat dengan tipe cewek seperti itu selain dengan ALexa. Kalau soal kepribadian, kupikir Rega lebih tertarik dengan cewek yang lebih dewasa darinya, seperti Alexa. Dia lebih suka dengan cewek yang bisa ‘membimbingnya’. Tapi karena alasan itulah yang membuat dia jadi sangat mudah diatur, didominasi, dan dipengaruhi untuk berbuat hal-hal yang buruk.

“Ummm, Apapun yang dia sukai, semua cowok itu sama saja, ” Ucap Oliv “mereka punya banyak kriteria dan alasan memilih cewek yang akan mereka cintai, Tapi mereka tidak butuh alasan untuk meniduri kita. Ada cowok yang suka dengan cewek yang tinggi, ada yang lebih tertarik dengan yang manis daripada yang cantik, ada juga cowok yang suka dengan janda anak dua. Ujung-ujungnya mereka hanya menginginkan satu hal dari cewek, Seks. Tapi Cowok belum tau, kalau terkadang cewek menggunakan seks sebagai senjata ampuh untuk meluluhkan hati cowok”

“Itu yang biasa kamu lakukan pada cowokmu saat kamu ingin dia membelikanmu sesuatu?”

Apa yang dikatakan Oliv tidak sepenuhnya salah. Meskipun tidak semua cowok dan cewek seperti apa yang dikatakan Oliv. Tapi Rega,, huft. Dia sangat mudah tergoda jika menyangkut dengan seks.

“Hahaha, ya kadang-kadang sih,, apa gunanya punya cowok tajir jika gak dimanfaatin” Ucapnya

“Aku jadi ragu membiarkanmu mendekati Rega” Ucapku, Oliv langsung cemberut “Lagipula sepertinya dia sedang dekat dengan seseorang” Seperti yang dikatakan Melly kepadaku.

“Masih dekat kan? Belum pacaran? jadi aku masih punya kesempatan,” Serunya “Kakaknya cantik dan seksi, adiknya ganteng dan keren, ‘bisa mendapatkan’ keduanya sekaligus adalah impian seorang dengan orientasi seksual sepertiku, bayangin jika suatu saat nanti aku menikahi adikmu, aku akan tetap bisa menikmati tubuh montokmu ini” Ucapnya lalu tersenyum penuh arti. Kemudian dia membenamkan wajahnya di payudaraku lalu menghisapnya dengan kuat. Sambil dia mulai lagi memainkan Dildo itu di memekku.

“Sshh, Livvv pelan pelan,,achhh”

Tiba-tiba saja Oliv semakin mempercepat memainkan dildo di memekku.

“ahh,, hahh.. ahh”

Kami berdua sama-sama tidur menyamping saling berhadapan. Kupeluk erat tubuhnya saat dia menghisap payudaraku dengan kuat.

TRRRIIINGGGGGGGGGGG TRIIIIINNNNGGGGGGG

Aku mendengar suara nada dering handphoneku berbunyi. Sambil tetap memeluk dan ‘menyusui’ Oliv, kuraih handphoneku yang tak jauh dari tubuhku. Ternyata yang menelepon adalah Rega. Oliv berhenti menghisap payudaraku menatapku. Kujawab telepon Adikku.

“Iya Dek kenapa?.. ahh hahhh hah”

Aku menepuk beberapa kali pundak Oliv sebagai tanda menyuruhnya untuk berhenti memainkan Dildo itu di memekku. Tapi dia sama sekali tidak mempedulikanku, dia tersenyum nakal menatapku sambil semakin menusukkan dildo itu sangat dalam di dalam memekku.

“hah..hah.. ini aku lagi di atas treadmill. Ahh, bentar Dek,!!”

Kujauhkan hanphoneku, lalu aku bicara kepada Oliv. “tidak bisakah kamu berhenti sebentar? Aku sedang telepon” Ucapku pada Oliv dengan suara pelan.

“aku tidak suka menunggu, aku menginginkanmu sekarang juga.” Ucapnya.

Aku sedikit mendorongnya, Oliv cemberut lagi. lalu kucabut Dildo di memekku kemudian turun dari tempat tidur dan berdiri dekat jendela kamar asrama di lantai 3. Lalu melanjutkan bicara dengan Rega lagi. Kulihat Oliv meraih Dildo itu, dan memasukkan ujungnya di mulutnya. Menjilati cairan memekku yang menempel disana.

“Iya Dek, kenapa?”

Rega bertanya kepadaku apakah dia bisa meminjam mobilku besok untuk pergi ke rumah temannya. Tiba-tiba aku menjadi cemas,. Aku ingin bertanya siapa temannya itu tapi aku khawatir dia menganggapku terlalu posesif kepadanya. Apakakah mungkin cewek bernama Luna yang dikatakan Melly kepadaku??

“Boleh, Besok aku akan mengantarkannya kesana” Ucapku. Aku harus mulai menaruh kepercayaan kepadanya karena dia sudah berjanji kepadaku. Malahan, dengan memakai mobilku, aku akan tau kemana dia pergi karena ada GPS di mobilku.

“Ohh gitu. yaudah, kabari kalau mau kesini”

Rega tidak ingin aku mengantarkan mobilku ke tempat kost, karena dia yang akan kesini mengambil mobilku.

“Bye, jangan telat makan !!”. Sambungan telepon kepada Rega terputus.

Ada apa ini? kenapa tiba-tiba aku menjadi gelisah setelah mendapatkan telepon dari Rega? Beberapa detik kemudian aku masih berdiri memandang ke arah luar jendela dengan tatapan kosong. Hanya karena dia mengatakan akan pergi ke rumah temannya, aku menjadi begitu cemas dan khawatir seperti ini. Sebagian diriku takut jika semua akan terluang kembali.

Tiba-tiba aku teringat ucapan seseorang kepadaku.

seharusnya aku yang bertanya seperti itu. apa yang telah kamu lakukan hingga membuat Rega bertindak seperti itu?

“Manda, kamu kenapa??” Tanya Oliv, dia menghampiriku “kenapa lagi adikmu? Apakah terjadi sesuatu?” Aku menggelangkan kepala pelan.

“Dia mau pinjam mobilku untuk pergi ke rumah temannya, tapi entah kenapa aku jadi khawatir” Ucapku pelan.

“Heii,, dia Cuma pergi ke rumah temannya, mungkin akan belajar kelompok” Ucapnya lalu kedua tangannya memegang pinggulku ”sudahlah, kamu terlalu mengkhawatirkan adikmu”

“Diamlah, kamu tidak tau apa-apa tentang dia. Aku mengkhawatirkannya karena dia adikku, dan karena dia adikku. aku merasa seperti aku harus menjaganya sampai dia bena-benar bisa menjaga dirinya sendiri” Ucapku sedikit membentaknya.

Atau sampai dia menemukan seeorang yang bisa menjaganya.

Tiba-tiba aku tersadar sesuatu, “Livv, maaf aku tidak bermaksud” Ucapku meminta maaf kepada Oliv karena sudah membentaknya. Dia menggelengkan kepalanya lalu memelukku.

“Amanda, Sadarkah kalau kamu terlalu banyak menghabiskan waktu dan pikiranmu hanya untuk adikmu, sampai kamu lupa mempedulikan dirimu sendiri” Ucap Oliv. “Bukankah sudah saatnya kamu membagi pikiranmu untuk hal lain? Misalnya seorang cowok. Aku sih senang dengan hubungan ini, hubungan kita. Tapi kupikir, kamu tidak akan seperti ini selamanya kan? Karena kamu bukan sepertiku. Bagaimana kalau kamu mulai mencari pasangan untukmu, seorang cowok yang kamu cintai”

Mencari seorang yang kucintai? Kupikir aku sudah menemukannya sejak lama. Tetapi aku menyadari cintaku kepadanya adalah sebuah kesalahan. Tapi aku tidak bisa meredam begitu saja perasaan ini.

“Liv,,” Aku masih memeluknya “kamu masih ingat saat kamu bilang kalau kamu menyukaiku? Saat itu aku sangat kebingungan, kupikir, bukankah aneh menyukai sesama cewek?” Tanyaku pada Oliv. Sama seperti aku yang mencintai adikku sendiri.

“Untuk mencapai sebuah tujuan, Kebanyakan orang mungkin lebih suka jalan yang lurus tetapi ada sebagian orang memilih jalan yang berbelok. Meskipun beda jalan yang dipilih, tapi tujuan mereka adalah sama. Mungkin tidak semua akan setuju, tapi aku adalah salah satu diantara orang-orang yang percaya bahwa setiap orang mempunyai hati yang sama, tidak peduli orang itu cowok ataupun cewek. Yang terpenting bukanlah objek dari apa yang kita cintai, tetapi emosi atau perasaan kita. Kupikir itu yang bisa kukatakan kepadamu, sebagai teman.” Dia melepas pelukannya “Tapi ingat, aku tidak akan memperlakukanmu sebagai teman, karena aku menyukaimu, karena aku menyukai cewek” Ucapnya lalu tersenyum. Itulah yang aku suka dari Oliv, dia selalu bisa melihat sesuatu dari sudut pandang yang lain.

Aku menyadari kalau cintaku kepada Rega adalah sebuah kesalahan. Tapi perasaanku kepadanya tidaklah pernah salah karena aku tidak bisa memilih dengan siapa aku akan jatuh cinta. Aku akan terus mencintainya, Karena bagiku, mencintainya adalah sebuah kesenangan dalam hidup meskipun perasaan ini tidak pernah terbalas. Hanya dengan melihat senyum di wajahnya aku merasakan bahagia. Untuk itu, aku akan dengan senang hati melakukan apapun yang diperlukan agar aku dapat melihat senyumnya lagi. Aku akan memastikan kalau dia akan mengisi hari-harinya lagi dengan kebahagaiaan. Seperti bidadari, Aku akan selalu ada untuknya, terus bersamanya, menjaganya sampai dia menemukan seseorang yang bisa menjaganya, Sampai dia menemukan cinta sejatinya, setelah itu mungkin aku akan… meninggalkannya.

“Kenapa kamu bertanya seperti itu? atau kamu ingin memulai menjalin hubungan yang serius denganku?” Tanya Oliv mendekatkan wajahnya ke wajahku “kamu mau jadi pacarku Man? Kalau dipikir-pikir, kita ini sebenarnya cocok lohh,,”

Sampai kapanpun, Aku akan selalu mencintaimu Dek. Kuraih tubuh Oliv didepanku, Kemudian aku mencium bibirnya yang merah itu dengan lembut. Sambil terpejam, Kubayangkan Seakan aku sedang mencium dan memeluk Rega.

“Jangan ngimpi!! Aku sudah mencintai orang lain” Ucapku setelah melepaskan bibirnya “Tapi, akhir pekan ini kamu bisa memiliki-ku”

“Serius??? Malam ini kita jadi clubbing??” Tanya Oliv.

Aku mengangguk, Akhir pekan ini Rega sudah punya rencana lain. Padahal aku sangat ingin menghabiskan akhir pekan bersamanya. Kupikir, mungkin sedikit mabuk malam ini bisa membantuku menghilangkan penat dan frustasiku karena memikirkan Rega.

“aku mandi dulu..” Seruku sambil berbalik badan untuk beranjak menuju kamar mandi. Tetapi Oliv menahan lenganku.

“Enak aja, aku belum selesai denganmu” Ucapnya Sambil menemplekan payudaranya yang kecil ke payudaraku. Lalu dia melingkarkan kedua lengannya di leherku dan kami berciuman panas lagi. Oliv semakin menekankan pyudaranya ke payudaraku. Tak mau kalah, aku juga semakin menekankan dadaku padanya, tak ayal kedua payudara kami saling menghimpit.Terasa sensasi geli saat kedua putting kami bertemu dan bergesakan.

Kemudian Oliv menyerbu payudaraku lagi, sambil berdiri dia menghisap dan menjilati puting payudaraku. Sedangkan jari-jari tangannya mulai meraba-raba memekku lagi. Tapi aku tidak diam saja, kubalikkan badannya lalu kudekap badannya dari belakang. Membuatnya tidak bisa berkutik.

“Sekarang giliranku,,” Ucapku sambil jari tanganku menyusup ke dala celana dalamnya, meraba rambut rambut di area selangkangannya kemudian kumasukkan jari tengah tanganku ke dalam memeknya Oliv yang hangat.

“Ahhh..”

Dari belakang, Kuciumi leher dan pundaknya Oliv yang sangat putih. Sedangkan tanganku yang lain menurunkan tali pakaian di pundaknya sampai baju tidurnya itu turun ke bawah. Lalu kubelai dan kuremas payudara Oliv secara bergantian. Dia terpejam, dia menggeliat merasakan seluruh bagian-bagian sensitifnya diserang secara bersamaan. Desahannya lirih tak tertahankan.

“enghh…”

Punggungnya kurasakan semakin lengket di dadaku karena keringat. Kini memeknya Oliv sudah semakin basah. Kutarik tanganku, kupindahkan ke belakang tubuhnya. Kupijat dan kuremas pantatnya yang tidak seberapa besar itu. Kubelai belahan pantatnya beberapa kali, dia sangat kegelian sampai membuat dia menjinjit. Kemudian kumasukkan jariku lagi ke dalam memeknya tapi kali ini dari belakang. Lalu kupercepat gerakan jariku, sambil sesekali kuusapkan ibu jari tanganku di anusnya. Asal kalian tau, lobang anus Oliv sudah tidak perawan, tetapi bukan karena penis cowok melainkan oleh sebuah dildo.

“Ahhh,, Mannndaaaa..”

Memeknya semakin basah dan dia semakin kesetanan. Oliv menatapku, wajahnya memerah, ekpresinya seperti menahan gairah yang sangat luar biasa dari dalam dirinya. Dari belakang kucium bibir Oliv yang daritadi merintih. Kumainkan lidahnya didalam mulutku. Lidah kami saling mencari dan menemukan, tak sampai lima menit kemudian Oliv mencapai orgasmenya yang pertama, bersamaan dengan orgasmenya, dia menghisap lidahku dengan sangat kencang. Matanya terpejam, tubuhnya tegang dan bergetar. Tak lama kemudian tubuhnya seperti kehilangan tenaga, dia begitu lemas. Seandainya tidak kudekap, mungkin dia akan ambruk.

Nafasnya terdengar begitu berat. Kutarik jari tanganku dari dalam memeknya dengan perlahan. Tetes demi tetes cairan orgasmenya menetes ke lantai. Oliv meraih tanganku yang jarinya masih basah terkena cairan orgasmenya. Lalu dia memasukkan jariku itu ke dalam mulutnya. Tanpa ragu sedikitpun dia menghisap jariku. Lalu dia berbalik badan, mememelukku. Saling mempertemukan payudara kami lagi..

“mandaa,, nanti main di toilet club yuk” Pintanya

“Hahh? Kayak gak ada tempat lain aja sih??” Mulai deh gilanya nih anak. Bukan pertama kalinya dia mengajakku bercinta di tempat yang tidak terduga. Bahkan kami pernah melakukannya di fitting room salah satu tempat perbelanjaan.

“please..please,,please, katamu aku bisa memilikimu “ Ucapnya dengan manja.

“Tergantung sejauh mana nanti kamu bisa membuatku cukup mabuk untuk melakukannya” Ucapku, dia tersenyum sambil menggesek-gesekan payudaranya dia payudaraku “Yaudah ayo mandi” !!

“nggak mau, sekali lagi” Pintanya dengan manja. “kita kan belum melakukan posisi favorit kita!!” Serunya, lalu dia naik ke tempat tidur.

“Sini!” ajaknya dengan ekspresi wajah yang masih mendambakan gairah. Dia masih terlihat bertenaga mesikupun baru saja orgasme. Aku menyusulnya, kemudian aku merebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Lalu Oliv segera menindihku tapi dengan posisi tubuh yang berlawanan denganku. Apa yang dimaksud Oliv dengan posisi favorit kami adalah posisi 69.

Kini tepat dihadapanku area selangkangan Oliv, terlihat rambut-rambut halus miliknya yang lebat. Kubuka belahan memeknya Oliv dengan tanganku, bagian dalam memeknya Oliv yang merah terlihat begitu jelas. Selain aroma cairan orgasmenya, samar samar aku mencium aroma sabun pemberih kewanitaan yang sama dengan punyaku.

Oliv sudah mulai memainkan lidahnya di memekku, kurasakan hangat sapuan lidahnya pada bibir kemaluanku. Aku tidak mau kalah, Langsung kuhisap memek Oliv dan Lidahku mulai menjilati bagian dalam memek Oliv.

Rangsangan seperti ini membuat libidoku naik dengan cepat. Biasanya kami bisa bertahan lama dalam posisi saling memanjakan seperti ini. Dan biasanya kami tidak cukup jika hanya satu kali orgasme, dengan hanya posisi seperti ini saja kami bisa berkali-kali orgasme atau multiple orgasm. Kami akan terus melakukannya sampai kami benar-benar klimaks.

Dalam hubungan seksual, Orgasme memang identik dengan penetrasi penis masuk ke dalam vagina. Tapi bagi Oliv orgasme tidak hanya terjadi secara fisik atau penetrasi, tapi juga perasaan. Oliv pernah berkata, saat bercinta dengan cowok, mereka hanya fokus pada masuknya penis ke dalam vagina, dan tidak setiap penetrasi membuatnya merasakan orgasme. Sedangkan saat bercinta dengan sesama cewek, mereka akan tau apa yang harus dilakukan agar pasangannya merasakan orgasme yang di idam-idamkan setiap wanita di dunia. Saat mendapat rangsangan yang tepat itulah, dia akan merasakan ledakan orgasme yang dahsyat di sekujur tubuhnya. Oliv tidak membutuhkan cowok untuk mencapai klimaks dalam orgasme. Intinya adalah, kami, cewek tidak membutuhkan cowok.

BERSAMBUNG

Daftar Part