web hit counter

Jilbab Binal Part 8

0
877

Jilbab Binal Part 8

Meraih Kepuasan Bersama Mama

Gara-gara kecerobohanku menyenggol guci, keberadaanku akhirnya dipergoki oleh pak Broto. Begitu mendengar suara pecahan guci tersebut, pak Broto pun langsung melangkah cepat ke tempat persembunyianku. Tak butuh waktu lama bagi pak Broto untuk menemukanku. Raut wajahnya juga langsung kaget ketika melihat diriku sedang mengendap-endap di ruang tamu.
“Dephut…! Ternyata kamu..kamu ngapain di sini, bukannya kamu lagi kerja” tanyanya.
Dengan perasaan bingung dan campur aduk, aku hanya bisa gugup menjawabnya.
“Mmm..iitttu pak…ttadi Phut izin di kantor karena kurang enak badan..tapii..mmh..” kataku terputus karena pak Broto mendadak memegang tanganku dan membawaku menemui mama.
“Kamu nggak usah bohong Phut. Saya tahu, kamu tadi ngintipin saya sama mamaku kan. Mendingan kamu ikut saya sekarang…” gumamnya yang semakin membuatku salah tingkah. Bagaimana kalau mama tahu perselingkuhannya sekarang sudah diketahui olehku, anaknya. Apa yang mesti kuperbuat di depan mama. Akankah mama marah, akankah mama melarangku buka mulut dengan siapapun. Beragam pertanyaan kembali muncul dalam pikiranku, namun apalah daya, pertanyaan dipikiranku itu lagi-lagi tak bisa terjawab olehku. Ditambah pula kondisiku yang masih canggung untuk bertemu dengan mama di saat situasi yang tidak tepat seperti ini.
“Jau, lihat siapa ini…ternyata anakmu inilah yang daritadi ngintip kita berdua” sebutnya saat aku sudah berada di depan mama.
Kehadiranku tentu membuat mama terkejut dan bengong. Apalagi mama juga masih setengah telanjang usai berhubungan intim dengan pak Broto. “Phut, kamu…? Jadi tadi kamu melihat semuanya nak. Kamu lihat mama sama pak Broto gituan” kata mama pelan.
“Jau sepertinya anakmu terangsang melihat kita ngentot. Mungkin dia juga pengen ngentot bareng mamanya, hahahaha…” tawa pak Broto kurang ajar merendahkanku dan mamaku.
“Paak…jangan ngomong kotor gitu pak. Di sini ada anakku” tegas mama.
Bukannya memperdulikan kata-kata mama, pak Broto justru mengambil kesempatan mengulangi kelakuan cabulnya kepada mama sambil disaksikan olehku yang kini sudah tidak bersembunyi lagi. Dipeluknya mama, lalu diciuminya bibir mama. Lidah mereka kemudian beradu dan saling membelit, anehnya mama ikut terbuai dengan perlakuan tidak senonoh yang dirasakannya itu. Bahkan mama juga tak merasa malu dihadapanku. Sekejap saja, mama pun dengan mudahnya ditelanjangi oleh pak Broto. Sambil terus menciumi bibir mama, secara bersamaan tangan jahil pak Broto juga meremas payudara mama dan mengobel-ngobel vagina mama.

Akibat diserang dengan rangsangan bertubi-tubi, mama juga semakin liar dan tak terkendali. Dikulumnya lidah pak Broto dan dirabainya penis besar milik Broto. Sesekali terdengar pula desahan vulgar dari bibir tipis mama.
“Paaaak, mmmmh entot Jau sekarang. Jau udah nggak tahan. Jauwana pengen kontolmu” ceracau mamaku. Mama benar-benar sudah berubah 180 derajat dari sosok mama yang selama ini kukenal. Sosok mama yang alim sekarang tak ubahnya seperti pelacur pemuas birahi.
“Keraskan suaramu Jau, bilang ke Dephut anakmu, siapa kamu sekarang dan apa yang kamu mau sekarang…tunjukkan pada anakmu siapa dirimu Jau…!” perintah pak Broto.
“Mmmhh pak…uuughh…lihat mama nak, mama aaaah lagi pengen dientot sama pak Broto. Mama pengen dizinahi pak Broto, pengen kontol pak Broto. Uuughhh Dephut anakku, mamaaa mmm udah jadi PELACUR…” teriak mama dengan mata sayu melirik ke arahku.
“Hahaha, kamu dengar kan Phut, mamamu ini pelacurr. Kalian ibu dan anak sama-sama pelacuur. Terima kontolku ini Jauwana, rasakaaan sundal…SssLEebbhhh…” maki pak Broto menusukkan batang penisnya ke dalam vagina mama. Desahan demi desahan yang membahana di rumahku pun seolah menjadi irama penyemangat pertempuran birahi antara mama dan pak Broto.
“Teruuuus pakk, beenamkan semua kontolmu. Genjot memekku, genjooott…aaaaaah” racau mama menjadi-jadi.

Meski sedang menikmati hujaman penis pak Broto, tapi dapat kulihat pula mama juga mengarahkan pandangannya menatapku. Tak bisa kupingkiri, pergumulan panas mamaku dengan pak Broto ikut membuat libidoku naik. Entah keberanian darimana, tubuhku seakan bergerak sendiri melepaskan semua pakaianku, termasuk cd dan bhku. Seketika itu juga, aku pun sudah bugil di depan mamaku yang sedang digenjoti pak Broto. Kudekati mama perlahan, semakin dekat hingga akhirnya aku sudah berada di samping wajah mama.
“Phut, memek mamamu enak. Jepitannya sama seperti memekmu..aaaaaahh…Jau, anakmu liatin kita ngentot..oouugh, plok…PlOokkk..JLeebbh…” desah pak Broto yang terus bersemangat menggenjoti vagina mama. Disela penglihatanku yang masih terpukau sekaligus deg-degan menyaksikan keintiman mama dan pak Broto, tiba-tiba mama menarikku mendekatkan wajahku ke wajahnya. Bahkan jarak wajahku dan wajah mama hanya hitungan sentimeter. “Phut..” bisiknya pelan. Sedetik kemudian, CcUuupth…bibir mama lalu mendarat di bibirku.
“SssLLhhh….Uuucccmpthh…Mmmhh…SLhHh…MmmuuuaChh…aaahhh..maafin mama Phut, tapi mmm mama benar-benar nggak bisa menolak perbuatan pak Broto. Mama…mmmmhhh” tuturnya yang langsung kupotong dengan mengulum lidahnya. Birahiku benar-benar terbakar, tak hanya suka dengan lawan jenis, saat ini bahkan aku sudah menyukai sesama jenis yang tak lain adalah mama kandungku sendiri.
“Mamaa..nikmati aja ya…Phut juga Ssukaaa…aaaaah…Uuummpth..SsrrUuupthhh..SUurph…” balasku kepada mama.

Sementara itu, pak Broto yang menyaksikan hubungan sedarah terlarangku dengan mama disambutnya dengan senyum puas. Dibalikkan tubuh mama sampai menungging dan digenjotnya lagi vagina mama secara kasar. “Plaaaak…lonteee, kuentot kau di depan anakmu. Maznan, istri dan anakmu sudah kujadikan lonte. Aaaaah, aaaah..plokKk..Plookh….” maki pak Broto kepada mama dan aku.
Diperlakukan sekasar itu, mama hanya merem melek dan mulutnya cuma mendesah keenakan. Tak ada penolakan dari mama.
“Aaaaah iya pak, aku lontemu, pelacurmu..Phut, mama sudah jadi lonte..mamaaaaa Ssukaaa aaah enaaak..aaaaaah…” teriak mama di depan wajahku. Aku pun semakin berani karena terbawa keadaan, vaginaku ikut berdenyut dan basah. Kupalingkan wajahku ke arah penis pak Broto yang sedang memompa vagina mama, selanjutnya kujilat-jilati penis yang masih maju mundur di lubang peranakan tempat aku dilahirkan tersebut.
“Plop…bagus pelacuur kecilku, hisap kontolku, jilaaaaat…heeeeghhh..anakmu ngemut kontolku Jau, aaaaahHh Dephut jalaaaaaang” geramnya usai mencabut penis besar itu dan menghentakkannya ke tenggorokanku. “Gggglllokkh…Ggghhhhh…Uuhuk..GgLOokkghh…” hanya suara tertahan yang keluar dari mulutku sambil memainkan penis Broto. Kini giliran mama yang melihat kejalanganku. Kusedot penis pak Broto dalam-dalam sampai mulutku mengeluarkan air ludah yang sangat banyak. Tak berapa lama kemudian, tubuhku ditunggingkannya di sofa. Mengangkang dan siap untuk disetubuhi di samping mama.
“SLeeebh…uuughhHh…Phuuutt, plaaaaak..lonteeeee anakmu Jau, aaaaaaah, Ppookhh..Pookhh…sleeebh..jleebh..” hinanya memakiku seperti sebelum-sebelumnya. Menggoyangkan penisnya di lubang vaginaku, menampar pantatku, menjambak rambutku oooughh…

“Phut, ternyata kamu memang udah nggak perawan nak..kamu juga suka seperti ini di luaran sana ya. Kamu lebih nakal dari mama. Kamuuu mmmh….” kata mama mengocok vaginanya pakai jari.
“Iyaaa maaa. Phut diperawani sama pak Surya di kantor, Phut dientot pak Broto di rumah. Phut jugaaa aaaahh ppernaaah digilir sama teman-teman pak Surya. Phut memang nakaaaal, Phut pelacuurrr yang lahir dari rahim mama. Mama Jauwana,, induknya pelacuuuuurr aaaah” jawabku sambil mengatai mamaku pelacur.
“Kaliaaaan bikiiin saya nafssuuu..dasar keluargaaaa pelacuuur, lonteeee…plaaaaaak..plaaaaak..Jleeeebh…saya keluaaaaaaar Phuutttt aaarrrghh….” teriaknya lebih kuat, mencabut penisnya lalu mengarahkannya ke mulut serta wajahku dan wajah mama.
“Terimaa pejuku PelacUurr murahaaaan…Aaahhhhh..Ccroooothh..CrooooooooOooth….” pekiknya disertai semburan sperma ke wajahku dan mama. Belepotan sudah wajah kami berdua menerima tumpahan sperma hangat pak Broto. Gilanya, karena masih sama-sama bernafsu, mama dan akupun berganti-gantian saling mengecupi dan menjilati wajah kami masing-masing. Kadang mama juga meludahi wajahku dan kubalas dengan tindakan yang sama.
“Plaaaak, bilang sama mama, siapa kamu nak. Kamu anak siapa” bentak mama namun sambil mengedipkan matanya.
“Aku Defi Wahyuni ma, anakmu. Anak Jauwana pelacur betina…cuuuihhh” jelasku tak kalah binal. Setelah itu kami berciuman kembali dengan ganas, saling meraba dan menggesekkan vagina satu sama lain sampai akhirnya tertidur karena kelelahan. Di sisi lain, pak Broto sendiri sudah tumbang di sofa sesaat setelah selesai menuntaskan hasrat birahinya denganku dan mama.

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part