web hit counter

Kamu Cantik Hari Ini Part 11

0
432
KAMU CANTIK HARI INI

Kamu Cantik Hari Ini Part 11

Ade Indra Putra

Rosi Wahyuni

“Yah, kata oma. Besok Bella harus pagi-pagi ke rumah sakit. Soalnya Opa besok udah pulang.” Kata Bella disaat aku mengusap usap kepalanya supaya bisa tidur.
“Iya nak. Pagi-pagi kita besok pergi ya sayang. Sekarang Bella bobok dulu ya. Biar besok gak terlambat bangunnya. Biar kita jemput Opa sama Oma ya, nak”
“Iya yah. Bella bobok dulu. Bella mau baca doa. Malam Bund, yah.”. saat Bella hendak tidur dan memejamkan matanya hingga aku melihat Bella sudah tidur.

Aku gendong Bella menuju kamar Uni Ana dulu yang sekarang pindah ke rumahnya sendiri yang tak jauh dari sini. Rumahku ini hanya memiliki 3 kamar. Walau ukuran rumahku tidak kecil, tapi kata abak, biar rumah kecil biar serasa rame terus. Disaat aku balik ke ruang tengah di saat itu pula ku lihat Rosi pun tertidur dengan TV masih menonton Rosi tidur. Kubiarkan Rosi tidur di sofa itu dulu. Kalau aku bangunkan atau angkat dia ke kamar, pasti dia bangun. Mungkin dia kelelahan seharian tadi dengan aktifitas barunya. Aku selimuti Rosi supaya tidak kedinginan karena kampungku ini terkenal dengan kota yang sejuk. Jadi tidak ada satu rumahpun yang memakai jasa AC.

Akupun duduk di teras mengambil gitarku yang sudah berabu karena hanya tergantung indah di kamarku. Sambil menghisap rokokku, aku memainkan melodi-melodi indah sambil menikmati dinginnya malam di kota ini. Rumahku yang terletak di kawasan rame, dan budaya di minangkabau, adanya ronda jadi membuat kangennya aku dengan suasana ini. Dengan tetangga yang ramah, RT yang kompak, dan solid, menambah serunya suasana disini. Tetanggaku sedari tadi siang datang silih berganti ke rumahku, mereka penasaran dengan kedatangan Rosi dan Bella bersamaku. Untunglah Uni Ana bisa meredam penasaran mereka. Entah bagaimana dan apa yang Uni Ana katakan. Yang penting, pandangan mereka berbeda dengan pandangan tetangga Rosi di Jakarta. Terima kasih Uni Ana.

“Bang, udah ngerokoknya. Masuk gih. Dingin kali di luar.” Kata Rosi mengajakku ke dalam dengan selimut masih di badannya. Aku yakin dia kedinginan.
“Kok kamu bangun, yang?”
“Dingin, dan dengar ada petikan gitar. Pasti abang yang main pikir Rosi.”
“Mau bang buatkan the hangat?”
“Gak usah bang.”
“Hmmm ya udah” kataku saat menutup dan mengunci pintu rumah yang sudah menunjuk pukul 10 malam.

“Bang. Makasih ya.”
“Makasih?”
“Iya, abang sudah bawa Rosi dan Bella ke sini. Walau pasti abang bingung gimana menerangkan siapa kami ke amak dan uni.”
“Iya, lambat laun kan mereka akan tau.”
“Makasih ya bang. Rosi janji, Rosi akan jadi yang terbaik buat abang.”

Kata-kata itu. Kata-kata itu pernah aku sampaikan ke Afni sewaktu aku meyakinkannya menerimaku menjadi pacarnya dahulu. Ahhh.. kenapa sih aku gak bisa melupakan semua ituuu…
“Rosi nyusul Bella dulu tidur ya bang.” Mengagetkanku
“Kok sama Bella?”
“Gak enak aja kita tidur satu ranjang bang di rumah ini bang.”
“Betul juga” pikirku.
“Makasih ya sayang.” Kata Rosi sambil bibirnya mengecup lembut bibirku.

Aku membalas ciuman itu. Aku peluk dia dengan sangat mesra. Bukan hanya menciumnya, tetapi lidahku mengobrak abrik mulutnya. Lidah kamipun bertautan. Aku sangat merasakan bagaimana lembutnya ciuman itu. Begitu halus. Disana setan mengalahkan akal sehatku. Apa yang barusan dibilang Rosi langsung terpatahkan. Nafsu sudah menguasaiku.

“Gak enak bang, ntar amak dan uni pulang dan liat.”
“Amak gak bakalan pulang kok. Uni tidur di rumahnya kok.” Jawabku.
“Yakin gak apa?” tanyanya sambil menatapku sayu.

Aku hanya mengagguk pelan sekaan meyakinkannya. Aku lantas membawanya ke kamarku setelah aku mematikan TV, sebagian lampu yang menyisakan lampu tengah, memastikan pintu sudah terkunci, dan mengengok Bella dan mengecup keningnya. Setanku berkata, “Jangan bangun lagi ya nak. Ayah kangen sama Bundamu.”

Sekarang, Rosi duduk disampingku diatas kasurku. Ku peluk Rosi, kukecup keningnya lalu turun ke alis matanya yang indah, ke hidung dan sampai ke bibirnya. Ciuman itu semakin lama, semakin bergelora, aku tak pernah bosan dengan bibir itu. Dua lidah kami saling berkaitan diikuti dengan desahan nafas uyang semakin memburu.
“Ahhhh….. sluuuurrrrpppp.. sluuurrrrpppp…” bunyi itu yang terdengar di kamarku.

Tanganku yang tadinya hanya memeluk punggungnya, mulai menjalar ke depan, perlahan menuju ke payudaranya yang indah dan menggemaskan saat aku merasakannya. Tak pernah bosan disaat aku menikmati buah dadanya. Tanganku lebih liar lagi membuka satu persatu kancing pakaian tidurnya tanpa melihat. Tidak lama kemudian kaitan BHnya berhasil dilepaskan oleh tanganku yang sudah cukup terlatih ini. Kedua bukit kembar dengan puncaknya yang coklat kemerahan tersembul dengan sangat indah. Pakaian daster dan BH itupun segera terlempar ke lantai.
“Aaahhhhh banggg…. Jangan digituin teruuuuussss…. Ntar Rosi gak kuaaaatttt….”

Sementara itu, Rosi juga telah berhasil membuka kaos oblong yang kupakai, dan juga celana pendekku. Hanya tinggal celana dalam masing-masing yang masih memisahkan tubuh telanjang kami berdua. Kulepaskan ciumanku dibibrnya, menjalar kea rah telinga lalu kubisikkan kata-kata yang membuat dia semakin bernafsu.
“Bang, Aku beruntung ketemu sama kamu.” Dia tersenyum dan menatapku sambil berkata bahwa dia mencintaiku lebih dari apapun didunia ini.

Kulanjutkan ciumanku kelehernya, turun ke dadanya. Lalu dengan amat perlahan, dengan lidahku kudaki bukit indah itu sampai ke puncaknya. Kujilati dan kukulum puting susunya yang sudah mengacung keras. Dia mulai mendesah dan matanya terpejam dan bibirnya yang tipis itu sedikit merekah. Sungguh merangsang.
“Aaawwww.. Bang…. I Love You. Ahhhhhhhh….. ”

Tanganku mengelus, meremas, dan memilin putting di puncak bukit satunya lagi. Aku yang tidak ingin buru-buru, aku ingin menikmati detik demi detik yang indah ini secara perlahan. Berpindah dari satu sisi ke sisi satunya, diselingi dengan ciuman ke bibirnya lagi, membuatnya mulai berkeringat di udara yang dingin. Tangannya semakin liar mengacak-acak rambutku, bahkan kadang menarik dan menjambaknya, yang membuat nafsuku semakin bergelora.
“Aaawwww.. bang, enak banget.oohhh bang, ”

Dengan berbaring menyamping berhadapan, kulepaskan celana dalamnya. Satu-satunya kain yang tersisa. Perlakuan yang sama kuterima darinya, memebuat kemaluanku yang sudah sedemikian kerasnya mengacung gagah. Kubelai kakinya sejauh tanganku bisa menjangkau, perlahan naik ke paha. Berputar-putar, berpindah ke kiri ke kanan, sambil sesekali sekan tidak sengaja menyentuk gundukan indah yang terawat dan indah itu. Walau bukan pertama kalinya aku mengobrak abrik pabriknya itu.
“Aaawwww.. bang, enak banget.oohhh bang, Rosi beruntung dapatkan abang aaahhhhhh…. ”

Sementara dia rupanya sudah tidak sabar, dibelainya dan digenggamnya kemaluanku, digerakkan tangannya maju mundur. Nikmat sekali. Walaupun hal itu sudah sering kurasakan dalam keadaan sebelumnya bersama Rosi, tetapi kali ini rasanya lain. Mungkin pengaruh kamar dan rumah ini. Belum pernah aku melakukan hal segila ini di rumahku ini.
“Ahhhh…. Terus dek…. ”

Melalui paha sebelah dalam, perlahan tanganku naik ke atas, menuju ke kemaluannya. Begitu tersentuh, desahan nafasnya semakin keras, dan semakin memburu. Perlahan kubelai permukaan kemaluannya, lalu jari tengahku mulai menguak ke tengah. Kubelai dan kuputar-putar tonjolan daging sebesar kacang tanah yang sudah sangat licin dan basah. Tubuh Rosi mulai menggelinjang, pinggulnya bergerak ke kiri ke kanan, juga ke atas ke bawah. Keringatnya semakin deras keluar dari tubuhnya yang wangi.
“hhhh… yaaa…. Aaauuuuu.. uhhhh… gilaaa ini nikmat skali, Rosi rasa melayang baaaannggg.”

Ciumannya semakin ganas, dan mulai menggigit lidahku yang masih berada dalam mulutnya. Sementara tangannya semakin ganas bermain di jagoanku, maju mundur dengan cepat. Nampaknya nafsunya sudah mengalahkan kekhawatirannya tadi. Tubuhnya mengejang dan melengkung, kemudian terhempas ke tempat tidur disertai erangan yang panjang. Orgasme yang pertama dalam malam itu telah berhasil kupersembahkan.
“Aaaaahhhhhh……”

Dipeluknya aku dengan keras sambil berbisik,
“Oohhh, nikmat sekali, terima kasih sayang”

Aku tidak ingin beristirahat lama. Segera kutindih tubuhnya, lalu dengan perlahan kuciumi dia dari kening, ke bawah, ke bawah, dan terus ke bawah. Deru nafasnya kembali terdengar disertai rintihan panjang begitu lidahku mulai menguak kewanitaannya. Cairan vagina ditambah dengan air liurku membuat lobang hangat itu semakin basah. Kumainkan klirotisnya dengan lidah, sambil kedua tanganku meremas-remas pantatnya yang padan berisi.
“Abaaaaannggggg.. udaaaaahhhhh Rossssiiiii taaaaakkkk taaaaa…..haaaaannnn…”
“Ahhhhhh…..”

Tangannya kembali mengacak-acak rambutku dan sesekali kukunya agak panjang menancap kekepalaku. Ngilu sih. Kepalanya terangkat lalu terbanting kembali ke atas bantal menahan kenikmatan yang amat sangat. Perutnya terlihat naik turun dengan cepat, sementara kedua kakinya memelukku erat.

Beberapa saat, ditariknya kepalaku dan diciumnya dengan gemas. Kutatap matanya dalam-dalam sambil mengisyaratkan bahwa aku ingin memasukkan jagoanku ke sarangnya. Tanpa kata tersebut, dibalas dengan anggukan kepalanya sambil tersenyum manis.

Perlahan, dengan tangan kuarahkan jagoanku menuju ke kewanitaannya. Kogosok-gosok sedikit, kemudian dengan amat perlahan, kutekan dan kudorong masuk. Rosi merintih keras sekali, walau tidak pertama ia menerima hujaman jagoanku, tetapi Rosi tampak pertama kali kemasukan jagoanku. Dengan perlahan tapi pasti kutekan pinggulku, kumasukkan jagoanku sedikit demi sedikit. Lalu kuangkat sedikit, kutekan dengan sedikit tekanan. Dia mengerang keras. Ku cium dia dengan mesra. Matanya yang bening indah menatapku sangat dalam seakan menikmati permainan jagoanku.
BLEEEESSSS…….
PLAAAKKKK PLAAAAKKKK PLAAAAKKKKK….
“Aaaahhhh… aaaahhhh… aaaahhhhhhh….”

Setelah sekitar 20 menit aku bermain diatasnya, aku arahkan ia di atasku. Aku yang sejak tadi hanya memuaskannya tanpa banyak berkata dan hanya mengerang keenakkan kembali beraksi. Hunjaman dan tusukan kembali mengalahkan dinginnya hawa. Sudah beberapa kali ia orgasme, tetapi aku yang masih bertahan, tak ingin menyiksanya dengan lama. Aku rebahkan ia sampai pinggulnya di ujung kasur. Hal ini membuat kewanitaannya yang indah terlihat dengan jelasnya. Tapi bukan waktuku mempermainkannya lagi, ini waktu jagoanku, pikirku.
“Bang ingin tuntas ya, takut Bella bangun.”
“Iya baaaannggg.. cepaaaaaaaatttttt..”

Aku lancarkan tusukan jagoanku ke vaginanya. Setiap tusukan, desahan panjang mewarnai tusukan jagoanku. Akhirnya setelah hampir keluar, aku yang hendak mengeluarkan jagoanku dicegahnya.
“Rosi mau punya adik untuk Bella. Ahhhh…”

Crrrrroooooootttttt…… Crrrrooooootttt… Crrrrooooootttt….
Karena sudah tidak bisa menahan, akhirnya spermaku keluar dalam vaginanya. Sungguh nikmat. Tapi dalam pikiranku “Kenapa sekarang aku boleh menyuburinya setelah setahun lebih kami berhubungan seperti ini.”. Tapi langsung Rosi menjawab keraguanku.

“I Love You bang”
Dikecupnya bibirku manis sekali.. “Jangan tinggalin Rosi dan Bella ya sayang”

Walaupun aku masih capek, akupun masih membelai rambutnya sesekali mengusapnya. “Bang selalu ada kok untuk kalian. Bang janji akan bahagiakan kalian.”

Tiba-tiba dia melepaskan pagutanku,
“Rosi gak butuh bahagia, hanya butuh kalau abang selalu ada untuk Rosi dan Bella. Itu aja udah cukup.”
“Iya sayang” kembali kudekap ia. Rosipun menerima hal itu, terasa di dadaku mengalir air yang kurasa itu adalah air matanya. Aku usap pipinya. “Udaaahhh… jangan nangis terus.”.

Bersambung

Daftar Part