web hit counter

Kehidupan Di Jakarta Part 33-34

0
339

Part 33 & Part 34 – Kehidupan Di Jakarta

Hmm, sebaiknya gw kasih tahu, nggak, ya?
Kalo, gw nggak kasih tahu, gw nggak tega.
Kalo, gw kasih tahu, ntar gw salah lagi.

“Mending lo cari tau dulu, bro. Ada apa dengan mereka”
Saran Suara Sakti. Bener juga, sih.

“Emang, ada berita penting, tan?” Tanya gw.

“Nggak, tante kangen sama dia. Udah lama, nggak ketemu” jawab tante SuS, dengan wajah sendu.

Tante BeR, lalu me WA gw.
Mungkin supaya, nggak ketahuan tante SuS.

Tante BeR: “dia lama nggak ketemu putrinya. Soalnya dia berantem terus sama mantan suaminya. Jadi putrinya rada marah.
Kamu kenalkan, sama anaknya. Saran tante, sih kamu kasih tahu, aja. Tante rasa anaknya juga kangen sama mamanya. Tapi kamu ngomong ke anaknya, abis itu. Jangan pura-pura, nggak tahu.”

Gila, tante BeR makin lama makin ajaib. Bisa tahu gw kenal sama si Cathy.

“Kenal, kok, tan” jawab gw.

“Seriusan? Tante pengen ketemu, dong. Tolong bilangin. Tante udah nggak bisa komunikasi lagi. Tante kangen banget!” kata tante SuS.

“Ya, udah, ntar saya bantu, tan” jawab gw.

“Makasih, ya, Ge” kata tante SuS.

Jadi ternyata tante SuS ini janda.
Pantesan rapet banget. Berarti sekarang gw lagi bersama dua orang janda.

“Dari pada suntuk, mending kita jalan lagi, aja yuk! Lo ikut ya Sus. Lo nggak bawa mobil, kan?” Ajak tante BeR.

“Ayo! Nggak kok, gw ama supir tadi” Jawab tante SuS.

“Ya udah, saya ngikut aja, tan” jawab gw.

Akhirnya kita jalan-jalan, keliling Jakarta. Tumben Jakarta sepi. Biasanya ada nafas dimana-mana.

Setelah keliling Jakarta, si tante BeR, bertanya.

“Abis ini, kemana, nih?”

“Ke rumah lo aja, Say. Udah lama gw nggak main kerumah lo” ajak tante SuS. Boleh juga. Gw penasaran sama rumahnya tante BeR.

“Ya, udah ayo” jawab tante BeR.

Kita meluncur ke rumah tante BeR.
Dan…….

‘Jeng-jeng’

Ini bukan rumah, men. Ini mansion!
Sumpah gede banget. Gw pikir rumah begini cuma ada di luar negeri.

Mobilnya mewah semua lagi.
Ternyata mobil yang gw pake sekarang, adalah mobil paling murah diantara semua mobilnya. Dan kalo tante bilang, mobil tante masih ada empat, itu semua bohong. Ntah ada berapa koleksinya. Mungkin ada empat, yang bisa dikasih orang secara cuma-cuma. Sisanya bayar. Sadiss!

Lalu gw parkirkan mobil gw.
Masih atas nama tente BeR, sih.
Tapi gw percaya, ini bakal jadi mobil gw. Kalau perlu rumahnya sekalian buat gw.

“Ayo masuk. Anggap aja rumah sendiri” ajak tante BeR.

Bujukkk, ini barang mahal semua.
Gw jual diri, juga masih kalah mahal.
Dan gw lihat, ada foto tante dengan seorang cewek muda, yang kira-kira, masih SMA.

“Itu, anaknya, tan?” Tanya gw.

“Iya. Itu anak, tante. Dia lagi sekolah di luar negeri” jawab tante BeR.

Ibu ama anak, sama-sama cantik.
Bapaknya pengen cantik, pula.
Keluarga yang aneh.

Lalu, kita lanjut ngobrol-ngobrol.
Beberapa lama ngobrol ngarol-ngidul, tante BeR nyeletuk.

“Say, mau, nggak?” Tanya tante BeR ke tante SuS.

“Apa, yang kita pernah omongin?” Kata tante SuS.

Ada apa ini? Gw mencium sesuatu yang harum.

Tante BeR, menjawab dengan alisnya.

“Jadi mau nggak, nih?” Tanya tante BeR.

“Ya udah. Tapi gw ke toilet dulu, ya” jawab tante SuS.
Terus tante SuS pergi.

Lalu tante BeR, ngomong.

“Kamu udah ngapain sama aja, sama Susi?” Tanya tante BeR.
Waduh, gw di interogasi.

“Jawab Jujur, apa menenangkan hati tante aja?” Kata gw.

“Jujurlah. Ngapain yang manis-manis, doang”

“Kalo gitu, samalah, tan, sama apa yang kita lakukan” jawab gw.

“Maksudnya sex?” Tanya tante.

“Hehe, iya, tan”

“Kalo gitu, kamu tunggu sini” perintah tante BeR.

Lah, gw ditinggal sendirian.
Rumah segede begini, sepi lagi.
Horor, nggak, ya? Ihh.

Terus nggak lama, seorang perempuan dateng.

“Mas, ikut saya, mas. Dipanggil ibu” Kakinya napak, kan? Aman.
lalu gw ikuti mbaknya.

Mau diapain gw? Di eksekusi lagi.

Dan gw diajak ke depan sebuah pintu. Lumayan jauh dari ruang tamu. Gede banget ini rumah.
“Silahkan masuk mas” kata si mbak.
Hee?? Lalu si mbaknya pergi.

Permisi.
Lalu gw membuka pintu.

‘Bang-bang’

Tante SuS dan tante BeR, lagi tiduran di kasur, menggunakan linggerie.

“Sini, Ge. Waktu si Clara cerita 3somenya, tante jadi pengen nyoba. Jadi sekarang pengen tante realisasikan” Kata tante BeR.

‘Selamat kepada…. bapak Gege!
Berhasil memenangkan Jackpot, dari undian kondom!’

‘Pai pai pai pai pai pai pai pai’

Gila, bro! Gw diajak 3some lagi.
Gw nggak di eksekusi, tapi di eksekusex.
Apalagi sama tante-tante cantik, idaman gw.

“Kok, kamu bengong? Ayo, dong!” Perintah tante SuS.

Tanpa aba-aba lagi, Gw menanggalkan semua baju gw, sampai menyisakan CD, doang. Dan gw langsung loncat ke kasur.
Tanpa buang waktu, tante BeR langsung menyambar bibir gw. Seperti biasa, ciuman tante BeR lembut.

Tante SuS juga nggak tinggal diam.
Dia menciumi bagian dada serta perut gw.
Baru mulai aja, udah hot, men!

Nggak lama, tante SuS bertukar posisi dengan tante BeR. Tante SuS menciumi gw, tapi bedanya tante BeR tidak menciumi tubuh gw, melainkan tubuhnya tante SuS.

Gw merasakan, ada desahan dibalik ciuman tante SuS. Gw rasa tante BeR sedang mengeluarkan senjatanya. Gw yang nggak mau kalah dengan tante BeR, mengarahkan tangan gw keselangkangan tante SuS, yang ternyata udah banjir.

“Hauueemm” Desahan kecil keluar, dari mulut tante SuS.

Terus, kita berubah posisi. Tante BeR dan tante SuS saling berhadapan. Sementara gw dibelakang tante SuS.
Mereka berdua berciuman. Sementara gw menciumi, punggung halus tante SuS. Tangan gw, juga masih bermain di vaginanya.

“Hahhh”

Lagi-lagi tante SuS, mendesah.
Gw menikmati inci demi inci punggung dan tengkuknya.
Sambil mereka berciuman, tangan mereka nggak mau ketinggalan, memainkan toket, lawannya.

“Ge, tangan kamu enak banget!” Kata tante SuS.
Gw merasakan vaginanya lebih basah sekarang.

“Sini Ge, gantian”

Lalu mereka bangun dari tempat tidur, dan mencopot linggerie mereka. Kemudian, Tante SuS mencopot CD gw.
Dia mengelus-elus dan memainkan penis gw.

Tiba-tiba, Tante BeR, membuat gw kaget, dengan duduk di wajah gw. Vaginanya terpampang di muka gw.
“Ayo Ge, tante pengen di oral kamu”

Nggak perlu disuruh lagi, gw langsung memainkan lidah gw di vagina tante BeR.
Sementara tante SuS, sibuk dengan penis gw.

“Yahhhh…. Hahhhh….. Terus Ge! Fuck” Teriak tante BeR.
Gw, menambahkan jari-jari gw dala service oral yang gw berikan. Apalagi klitorisnya nggak luput dari lidah dan jari gw.

Dan dibagikan bawah gw, Gege kecil nggak luput dari kenikmatan. Karena tante SuS sudah memainkan mulutnya di penis gw. Pokoknya sex gw, PERFECT!

“Ge, tante mau pipis Ge!” Kata tante BeR.

“Haaaahhhhhh!” Air mancur deras mengalir, dari vagina tante BeR.

“Ahh, Ge, enak banget” tante BeR, langsung tepar di samping gw.

Sementara tante SuS, masih menungging di penis gw.
Ternyata, kulumannya tante SuS enak juga.

“Ge, punya tante, udah gatel” Kata tante SuS, dengan lembut.

“Ya udah, tante ubah posisi, aja” Jawab gw.

Lalu kita berubah posisi, dalam posisi 69.
Kita berdua sama-sama menikmati permainan masing-masing.
Walaupun tante SuS, lebih nggak konsen dibanding gw.
Sementara tante BeR, memainkan vaginanya sendiri.
Cukup lama dalam permainan, tante BeR bangkit dari tempat tidur, menuju kamar mandi.

Sementara tante SuS sudah banjir bandang.

“Ahh, Gee, tante keluar!”

‘Fyurrr’ Kata tante SuS.

“Tan, istirahat bentar, tan” ajak gw.

“Iya, tante juga capek” kata tante SuS.

“Jangan pada tewas dulu, ya” kata tante BeR, yang baru keluar dari kamar mandi, sambil menuju ke lemari yang aa di pojok ruangan.

Tante BeR lalu mengambil sesuatu di lemari tersebut.

‘Jeng-Jeng!’
Tante BeR, ngambil strap-on dildo! Yang dua sisi lagi.
Jangan-jangan, bokong gw mau dihantam.

“Say, elo, yang makein, dong. Udah lama, lo nggak makein gw ginian” kata tante BeR ke tante SuS.

“Ya udah, sini” jawab tante SuS.

Wait…..
Apa itu udah lama?
Berarti pernah! Apa jangan-jangan kedua janda ini ehem-ehem.

Lalu tante SuS memakaikan strap-on ke tante BeR, dengan mesra.
Gw jadi horny sendiri.

Apalagi, waktu tante SuS memasukan dildo bagian dalamnya ke vagina tante BeR plus ketika mengikatkan strapnya. Ada efek dramatisnya.

“Ayo main lagi!” Ajak tante BeR, yang sekarang punya penis palsu.

“Tan, itu masuk kemana nanti?” Tanya gw.
Kakek gw berpesan, untuk menjaga keperawanan bokong gw.

“Udah tenang, Ge” jawab tante BeR.

“Sorry ya Ge, Kalo yang ini punya tante” kata tante SuS. Hee??? Maksudnya??? Terus, gw gimana?

Lalu tante SuS merangkak di atas badan gw.
“Tan, maaf nih, sebelum lanjut, pake kondom dulu nggak?” Tanya gw.

“Udah nggak usah. Kalo sama si Susi, tante mah rela” jawab tante BeR.

Huuuuu, sentuhan langsung.

Lalu tante SuS yang nggak sabar, memasukan penis gw ke vaginanya.

Masih rapet, aja.
“Shhhhh…ahhhh. Ayo Say, lo juga” kata tante SuS. Juga??

“Nikmatin, ya, Say” kata tante BeR.

‘Jlebb’
Buset, Double penetretion.
Tambah sempit lagi. Menang banyak gw. Enyak-enyak-enyak-enyak.

“Haaaaahhhhhhh!” Tante SuS berteriak.

Lalu gw mulai memaju mundurkan badan gw, secara bergantian dengan tante BeR. Jadi tante SuS cuma bisa terima hentakan, di pantat sama vaginanya.

Enak, men. Ada sensasi baru.
Gw merasakan dildo tante BeR, di Bokongnya tante SuS. Kayak ada pijatananya. Gw rasa, gw udah diawang-awang.

“Ahhhh… Fuck me, more!” Gw rasa tante SuS udah, hampir kalah.

Dan gw cium, bibir tante SuS.

“Hahhhh, tante mau keluar!” Kata tante SuS.

“Bareng, Say! Aku bentar lagi” jawab tante BeR.
Ah, gw barengin aja sama mereka.

“Aku keluar dimana, tan?” Tanya gw.

“Di dalam aja!” Jawab kedua tante. Buset kompak banget.

Nggak lama, mereka mau sampai puncaknya.

“Ah, aku keluar, Say!”

“Iyahh, aku juga, Say!”

Kedua tante berteriak.
“Tann!”

‘Cuurrrrrrr’
Gw ikut keluar, akibat teriakan para tante.

Lalu kita semua tepar di kasur.

“Hah, enak ya, Sus” kata tante BeR.

“Iya, gw nggak nyangka akan seenak ini” kata SuS.

“Enak, nggak, Ge?” Tanya kedua tante.

“Enak, tan. Ada tekanan tambahan” Jawab gw.

“Hehe. Sebenarnya tante udah sering begitu sama, si Susi. Kamu kaget, ya?” Kata tante BeR.

Buset! Sering? Ini berdua, janda kesepian kali, ya.

“Iya, Ge. Tapi, tante Kalo sama dia pasti maunya di anal. Nggak tau, kenapa” tambah tante SuS.

“Abis kita sama-sama janda. Tapi Cuma sama kamu, loh, Kita berhubungan badan, sama laki-laki” kata tante BeR. Gw jadi malu.

“Hehehe. Jadi malu, tan” jawab gw.

“Btw, Ge. Tante nggak bisa, main Sama kamu lagi, Ge. Ini kayaknya terakhir, deh” kata tante SuS. Hii, apa tante hamil??
Waduh.

“Tante nggak enak, sama anak tante. Dari pertama kita berhubungan, tante jadi kepikiran anak tante terus. Jadi ini terakhir ya, Ge. Tapi Kalo kamu butuh apa-apa, kamu bilang aja” kata tante.

Kirain tante hamil. Kalo tante SuS hamil, Monique gimana?

“Itukan, hak tante. Jangan pikirin saya, tan. Anak tante lebih penting” jawab gw. Sekali-kali bijak dikit.

“Makasih, ya. Ge” kata tante SuS.

“Terus kamu mau nginep apa pulang, Ge?” Tanya tante BeR.

Udah malam, sih. Tapi gw pulang aja, deh. Biar aman.

“Pulang aja, tan. Nggak enak sama anak kost” jawab gw.

“Ya udah. Say, lo balik apa nginep?”

“Gw nginep, aja. Udah capek gw” jawab tante SuS.
Waduh, pada mau lanjut lagi.

“Oke, deh. Kamu mau balik sekarang apa entar, Ge?”

“Sekarang aja, tan. Takut tambah malam”

“Oke, deh”

Lalu gw bersiap-siap pulang.
Sementara kedua tante, masih begitu aja.

“Udah, ya, tan. Saya balik dulu”
“Eh, ini, Ge! Jangan sampe kelupaan” kata tante BeR.

‘Ting-ting’
Radar uang gw, langsung menyala.

“Nih, Ge. Sekalian dari si Susi” kata tante BeR, sambil memberikan 2 amplop cokelat yang lebih tebal dari biasanya.

“Makasih, ya, Tan. Sama mama baru juga” kata gw.

“Mama baru?” Tanya tante BeR, bingung.

“Masih inget aja kamu, Ge. Udah ah, Sana balik” jawab tante SuS.

“Balik, ya, tan” kata gw.

“Iya, hati-hati. Jangan nyasar!” Kata para tante.

“Iya, tan, tenang, saya kan hebat” lalu gw diam sejenak.

“Kenapa, Ge?”

“By the way, pintu keluarnya sebelah mana, tan?” Tanya gw.

“Ya elah, Ge! Banyak gaya, sih”
Ya begitulah gw. Gaya lebih penting.

Gw berhasil keluar dari rumah tante BeR. Dan sekarang gw udah nyampe kostsan.

Si Cathy, udah tidur belum, ya?
Coba gw cek dulu, deh.

‘Tok-tok’

“Cathy! Masih bangun nggak?”

“Sebentar, lagi dikamar mandi. Tunggu di ruang makan aja!” Oh, masih sadar.

“Iya. Ditunggu ya” jawab gw.

Lalu, gw menunggu di ruang makan.

Dan tiba-tiba, sosok tak asing, ada di depan gw.

“Dewi!”

“Gege!”

[table id=AdsKaisar /]

“Ngapain lo, Ge?” Tanya si Dewi.

“Lah, mestinya gw yang nanya? Lo ngapain?” Tanya gw.

“Gw, mah baru ngekost disini. Elo?”
Oh, jadi Dewi anak kost baru, yang tadi pagi Monique bilang.

“Lah, gw udah ngekost disini duluan. Dari pertama ketemu elo, gw juga udah ngekost disini” jawab gw.

“Hah, ngekost? Ini bukanya khusus perempuan?” Tanya dia.

Khusus perempuan? Dapat informasi dari, mana dia?
Emangnya, kita apaan? Masa kita lelaki kemayu.

“Hah? Darimana khusus perempuan? Orang campur, kok. Tapi emang ceweknya lebih banyak” Kata gw.

“Ah, parah. Berarti gw di bohongin temen gw. Katanya disini khusus cewek. Dia ngekost daerah sini juga” kata dia.

“Mungkin dia jarang liat cowok disini, kali. Jadi dia pikir, ini kost khusus cewek” kata gw menenangkan hatinya.

“Aduh, gimana, ya?” kata dia gelisah.

“Ada apa, nih? Tadi yang ngetuk kamar gw elo, ya Ge?” Tiba-tiba Cathy dateng. Si Cathy ini, lebih muda dari gw. Tapi gw merasa dia lebih tua.

“Iya. Tadi gw yang ngetuk. Ada hal penting. Btw lo udah kenal belum?” Kata gw.

“Oh, anak baru, ya. Kenalin gw Cathy” kata Cathy sambil menjulurkan tangannya.

“Halo, Dewi” Dewi, menyambut tangan Cathy.

“Kok, kelihatannya gelisah gitu?” Tanya Cathy.

“Iya, gw nggak tahu Kalo ini kostsan campur. Gw pikir khusus perempuan” kata Dewi.

“Pasti ada trauma, ya” kata Cathy.

“Iya, kok tahu?”

Hiii?? Mainan om-om, trauma ngekost, di kostsan campur? Nggak salah?

“Nggak salah, sih, bro. Namanya orang trauma, kan nggak peduli sikap orangnya dan siapa orangnya” kata Mario Sakti golden ways.

Bener juga, sih.
Suara Sakti, ini, memang bijaksana sekali.

“Udah, tenang aja. Cowok disini, semuanya udah jinak. Kalo ada yang macem-macem, ngomong aja. Tuh, orang bakal langsung, mati”
Kata Cathy.

Lo pikir kita hewan apa.
Memang kita liar, tapi kita bukan hewan juga, kali.

“Gitu, ya? Iya, deh gw percaya” kata Dewi.

“Udah, kamu istirahat aja. Besokkan hati Sabtu. Ntar kamu liat sendiri kelakuan anak cowok. Kemarin juga ada anak baru, kok.
Kamu, tanya-tanya, dia aja. Anak-anak cowok, besok bantuin dia, ya! Awas ampe nggak. Lo apalagi, Ge, jangan kabur lagi!” Kata Cathy.

Buset, dah. Monique aja cukup kali, jangan lo, juga.

“Iya nyonya” jawab gw dengan lembut.

“Terus, apaan yang mau diomongin, Ge?” Tanya Cathy.

“Mau ngobrol, ya? Gw tinggal dulu, deh” kata Dewi.
Lalu kita berdua ngangguk.

Lalu gw memulai pembicaraan penting ini.

“Jadi gini Cat, gw ketemu orang, yang pengen banget ketemu sama elo” kata gw.

“Siapa? Cewek, cowok?”

“Cewek. Lo, kenal, kok” kata gw.

“Siapa, Ge?” Dia tambah penasaran.

“Nih” gw kasih lihat foto tante SuS.

Dan, matanya mengeluarkan air mata.
Sebenarnya, ada masalah apa sih? Kok, kayaknya ada cerita, lain.

“Kok, lo kenal nyokap gw?” Tanya dia sendu.

“Adalah” kata gw.

“Gw juga, kangen sama nyokap gw. Tapi gw nggak boleh ketemu dia sama bokap gw. Katanya Kalo gw ketemu nyokap, gw bakal di pecat dari kantor. Terus biaya hidup gw bakal di ambil semua. fasilitas segala macem. Padahal dari dulu nyokap gw pegang hak asuh gw” kata dia.

Waduh ternyata masalah lebih besar dari bayangan gw.

“Kenapa lo, nggak lawan?” Tanya gw.

“Gw takut Kalo gw lawan, gw malah tambah jauh dari nyokap gw” jawab dia sambil nangis.

Aduh, anak orang, gw bikin nangis.
Saatnya menjadi Gege yang baik hati.

“Ya udah, sini-sini” kata gw merangkul si Cathy.

“Kesempetan lo, bro” Berisik lo! udah diam aja.

“Udah nangis aja. Keluarin semuanya. Jangan di simpen. Nanti tambah berat, lo” Kata gw, menenangkan hatinya.

Dia nangis sekencang-kencangnya.
Tangan gw yang nganggur, mencoba untuk ngeWA si Monique, untuk bantuin gw.

Gw: “Mon, lo ada di kost, kan? Kalo iya, turun keruang makan sekarang. Bantuin gw. Ini penting. Nggak usah dibales”

“Lah, Cathy, lo kenapa?” Monique datang secepat harapan gw.
Selamat gw. Si Cathy langsung meluk si Monique.
Monique langsung menatap gw.
Dan gw berikan gestur untuk menenangkan si Cathy.

“Gw sedih banget, Mon” jawab Cathy.

“Ya udah, lo cerita sama gw. Dikamar lo aja, ya” kata Monique.

“Iya, lo ceritain semuanya ke si Monique. Nanti Kalo ada apa-apa gw bantu” kata gw.

“Iya. Makasih ya, Ge” Kata Cathy.

Lalu mereka menuju kamarnya Cathy.
Si Monique sempet nengok ke gw. Gw pun memberikan gestur berterima kasih, karena dia udah datang.

Gw lalu nyantai di kamar gw.

Aduh masuk dalam pusaran apa gw.
Masalah gw sama bokap aja belum selesai.
Ada lagi masalaha perbokapan.
Kalo perbokepan, ayo deh gw jabanin.

Tapi untungnya, gw hanya nggak cocok sama bokap gw.
Nggak kayak Cathy yang bokapnya diktator.
Kasian juga itu anak.

Udah, lah. Tidur aja.

Di pagi yang cerah ini, anak-anak udah pada bangun.

“Ayo cowok, bantuin Dewi!” perintah ibu kost.

Pagi-pagi, ibu kost udah merintah.

“Terus, anak cewek ngapain?” Tanya Kevin.

“Ngawasin anak cowok sama masak” kata Vivi.

“Vi, pliss, jangan elo yang masak. Lo mau perintah kita boleh. Tapi jangan elo yang masak. Biar Monique aja” kata Boni.

Rasain lo neng! Songong, sih.

Kalau diperhatikan, Dewi mulai akrab dengan anak cowok.
Walaupun masih rada awkward dengan gw.

Mungkin karena gw pernah ngobel-ngobel mekinya.

Terus gw nyamperin si Monique.

“Mon kemarin gimana, si Cathy?” Tanya gw.

“Udah, mendingan, kok. Paling dia masih tidur sekarang. Soalnya dia curhat sampe malem. Emang gimana sih awalnya?” Tanya dia.

“Jadi gini, gw kenal sama nyokapnya. Terus, pas gw lagi ngobrol, gw kasih tahu alamat kostsan, kita. Dia nanya, gw kenal nggak sama si Cathy. Nyokapnya nggak tahu Kalo, gw sama anaknya satu kost. Nyokapnya cuma tau nama jalan, tempat kostnya Cathy. Makanya, pas dia tahu alamat kost kita, dia langsung nanya. Ya, gw bilang kenal. Nah, nyokapnya langsung semangat, gitu. Kangen katanya. Gw jadi nggak tega. Akhirnya gw bilang, deh ke si Cathy” kata gw.

“Si Cathy ngomong, dia kangen banget sama nyokapnya. Lo bilang, seadanya, aja, ke nyokapnya. Ntar gw bantu cari cela, supaya mereka bisa ketemu” kata Monique.

Udah pasti Monique nggak akan tega temennya punya masalah.
Benar-benar Memenuhi segala wife material.

“Iya. Ntar gw coba omongin, ke nyokapnya” jawab gw.

“Udah, sana kerja lagi. Gw mau cooking-cooking dulu” kata Monique.

“Iya, nyonya”

Berlanjut lagi bantuin si Dewi.
Gw bingung juga, kok bisa-bisanya si Dewi ngekost disini?

“Namanya juga cerita, bro. Semua harus dikait-kaittin. Kalo nggak, ceritanya nggak laku” kata suara sakti.

“Ah, nyaut melulu, lo. Kayak tante Debora”

“Hi, emang kita apaan, cynn. Najong, deh!”

Uwahhhh, ada setan banci.

“Misi, mas Gavin, itu ada tamu cowok, Nyari, mbak Tere” Pak Yono, nyamperin gw, pas lagi beberes, kamarnya Dewi.

Hmmm, pengen ketemu Tere.
Harus di cek n ricek.

“Ya udah, Pak, suruh tunggu di ruang tamu. kerja bagus Pak, sudah laporan ke saya” kata gw

“Siap, mas!”

“PASUKAN! Kumpul!” Teriak gw.

“Ada apa, boss?” Dengan sekejap, mereka udah ready di depan gw.

“Ehem. Jadi begini…..”

“Ya elah,,bengong. Kenapa, bro?” kata Kevin.

“Sorry-Sorry. Begini, ada seorang cowok yang pengen, ketemu Tere. Sekarang dia ada ruang tamu. Lo pada ngertikan. Oleh karena itu, gw akan memberikan kalian tugas. Radit, lo foto itu orang, terus lo cari tau tentang dia. Boni, lo tanya Tere, hari ini dia ada janji apa nggak. Supaya kita nggak salah sasaran. Alex sama Kevin, kita bertiga akan menahan si target dulu. Kalau target terbukti mengincar sesuatu, kita langsung interogasi! Ngerti???”

“SIAP!”

Lalu kita berempat menuju ruang tamu. Sementara Boni nyamperin Tere.

Hmm, tampang mencurigakan.
Tampang Playboy cap kapak.

“Cari siapa lo, bro?” Tanya Alex.
Alex dan Kevin duduk di sofa menghimpit dia.
Sementara gw, duduk sendiri.
Radit pura-pura main hape, untuk foto dia.
“Nyari, Tere” jawab dia.

“Udah janji?” Tanya Alex.

“Udah”

Lalu Radit meninggalkan kita. Sepertinya dia sudah dapat apa yang dibutuhkan.

“Nama lo sapa?” Tanya Kevin, dengan kesongongan tingkat dewa.
“Ariel” jawabnya, sok cool.

Pengen gw hantam, ni bocah!
Sabar, dulu.

Lalu, Boni memberi kabar melalui WA.
Boni: “lapor! Tuan putri nggak ada janji”

Hemm, belum apa-apa udah boong.
Gw, memberi isyarat, Kalo dia bohong.

“Bener, lo udah janji?” Tanya Kevin.

“Udah. Ngapain gw boong” kata dia mulai sinis.

“Emang mau ngapain, lo?” Tanya gw.

“Mau ngobrol. Gw, kan temennya lamanya dia” jawab dia, memproklamirkan diri.

Lalu, gw WA Radit untuk mengirim foto tersangka, ke Boni. Supaya Boni bisa kasih liat ke Tere. Bener nggak orang ini temen lamanya Tere.

Dan nggak lama, Boni bilang, Tere tahu tersangka, tapi, nggak terlalu kenal, sama tersangka.

Udah, dua kali boong lo, nyet.

Ehem, jadi begini kronologisnya, si Tere, bisa tahu dengan orang ini.

Katanya, si Tere punya temen.
Temennya, punya temen lagi.
Temennya, temennya Tere, punya ibu tiri.
Ibu tirinya, punya brondong.
Brondongnya, punya sahabat.
Sahabatnya, punya sepupu.
Sepupunya, punya temen yang udah nikah.
Temen yang udah nikah, Terus punya adik ipar.
Adik iparnya, punya restoran. Restorannya, punya banyak pelanggan.

Salah satu pelanggannya, punya kakak. Kakaknya, punya kenalan. Kenalannya, punya kakek.
Kakeknya, punya adik.
Adiknya, punya cucu.
Cucunya, ngefans sama seorang artis.
Artisnya, udah punya anak, yang masih sekolah.
Di sekolahnya, ada guru perempuan.
Guru perempuannya, punya suami.
Suaminya, punya kembaran.
Kembarannya, punya saingan. Saingannya, punya istri dua. Otomatis, saingannya punya dua mertua.
Ibu dari istri pertama saingannya, punya affair dengan ayah dari istri kedua saingannya.
Dari affair itulah, tersangka lahir.

Gimana?? complicated, kan!
Yang jadi pertanyaan gw, si Tere kenalnya, gimana????

“Ya, kayak gitu, bro”
Uaaaahhhh. Mati aja gw, men.

Terus Radit, menyampaikan laporannya, melalui WA.
Radit: “CODE RED! Playboy cap kaki babi!”

Ditambah Boni yang mengatakan..

Boni: “kelihatannya Tere nggak interest, bos”

Tandanya, tersangka bisa kita sergap dan interogasi.
Gw memberikan kode potong leher, ke Alex dan Kevin.

“Ayo, sini men, ikut kita bentar. Abis itu gw, anterin lo ke Tere!” Ajak si Kevin.

“Kemana?” Tanya tersangka.

“Udah ikut aja!” Kata si Alex.

Lalu tersangka, digiring ke ruang interogasi kita, yang biasa kita pakai buat rapat.

Gw mampir kedapur untuk mengambil pisau daging.
Lalu gw sembunyikan pisaunya.
Dan menuju ruangan interogasi.

“Duduk, lo men!” Kata si Kevin.
“Eits, ada apa, nih? Kasar banget lo” Kata tersangka.

Tersangka, didudukkan di bangku, sambil ditahan Kevin dan Alex.
Sementara gw duduk di sebarang tersangka.
Kita hanya dibatasi dengan meja.

“Ada urusan apa lo, dengan Tere?” Tanya gw.

“Jawab!” Gertak Kevin.

“Bukan urusan lo pada” tersangka rupanya, tak kooperatif.

‘Brakk!’ Gw menancapkan pisau daging ke meja.

“Jawab yang jujur!” Teriak gw.

Dia kaget, kayaknya.
Terus Boni dan Radit masuk ruangan.

“Ada apa, nih bro?” Tanya Boni, sambil memegang golok.
Sedangkan Radit megang balok kayu.

“Ada yang mau deketin Tere, bro” Jawab Alex.

“Oh, ada yang mau deketin Tere. Bisa apa lo Emangnya???” Kata Boni.

“Btw, lo liat linggis gw, men? Ada yang pengen gw cungkil” kata Kevin.

“Ada, tuh!” Jawab Radit.

Sepertinya, tersangka sedikit gentar dengan Gertakan kita.
Hidup orang yang bisanya cuma gertak!

“Jadi lo mau ngapain kesini, Hah??” Tanya gw sekali lagi.

“Mau, nembak Tere, bang” jawab tersangka.

“Wush! anak orang main lo tembak aja. Mati, masuk penjara, lo” kata gw.

“Kalo hukuman mati, gw yang eksekusi, lo, ya” kata si Kevin.

“Emang punya apa, lo?”

“Segalanya, bang” jawab dia.

“Wah, sombong juga lo. Iya, sih, lo punya segalanya.
Punya mobil, rumah, terus punya pacar. Siapa pacar, lo? Siti, ya? Terus, Ipeh. Siapa lagi? Oh si ini…. Wati” kata gw, Berdasarkan laporan si Radit.

“Jangan lupa, bos, tunangannya, Maemunah” tambah Radit.

“Oh iya, gw lupa. Untung lo ingetin” Muka tersangka langsung pucat. Ternyata kita sudah menembakkan peluru tepat ke sasaran.
Rasain, lo! Mampus!

“Kita laporin, aja, ini orang, ke ayang Maemunah” Alex mengeluarkan pendapat.

“Ampun bang. Saya minta maaf. Saya, nggak akan deketin Tere lagi. Sumpah, samber geledek. Tapi jangan laporin saya, bang. Saya cinta banget sama Maemunah”

“Elo, muka standar aja belagu banget, punya pacar banyak” kata gw.

“Awas, lo, deketin Tere lagi! Maemunah tercinta lo bakal terancam!” Ancam si Alex.

“Iya, bang saya janji”

“Udah sana pergi, jangan balik lagi!” Kata Kevin.

Lalu tersangka kita bebaskan.

Dan kita menuju ruang makan. Kelihatannya, makanan udah mateng.

“Dari mana aja, sih? Lo pada dicariin, nggak ketemu” kata jeng Vivi.

“Abis menginterogasi, orang yang mengancam tuan putri” jawab gw.

“Interogasi??? Maksudnya apa coba?” Kata Nia.

“Terus hasilnya, apa?” Tanya Monique.

Cuma Monique yang ngerti. Yang lainya nggak.

“Playboy cap tai kuda” Jawab gw.

“Bagus, deh” kata ibu Presiden.

“Apaan, sih? Kok, nggak jelas” kata si Gadis, anak kostsan juga.
Jarang gw omongin, ya?

“Udah. Nggak usah dipikirin. Urusan mereka itu. Kita makan aja, yuk” kata si Monique.

Lalu kita makan rame-rame. Bersama para anak baru juga.
Damainya suasana ini.

“Oh iya, tadi Pak Yono pesen, mulai besok, mau ada renovasi diruangan atas. Katanya mau dibikin gym. Cuma renovasi dikit, sih. Paling beberapa hari” Kata ibu kost.

Gw pikir biaya kost mau dinaikin.
Selamet-selamet.

“Terus kamar yang masih kosong gimana?” Tanya si Kevin.

“Pake aja, dulu. Masih lama keisinya” jawab ibu kost.

Benar-benar, ibu rumah tangga yang baik.
Jadikan aku suamimu, Monique!

Ngomong-ngomong, gw perhatikan, si Cathy dari tadi Nemplok terus sama si Monique.
Mungkin itu mengurangi kesedihannya.

Emang si Monique, ini, wanita idaman pria.
Bisa jadi istri yang baik.
Teman yang baik.
Kakak yang baik.
Tinggal gw lihat, bisa nggak dia jadi ibu yang baik.
Karena itu, ayo kita bikin anak, Mon!

“Lo kalau pengen sesuatu, dipikir-pikir dulu, bro. Jangan asal jeplak!” Kata suara Sakti.

“Ya, namanya, berharap, bro. Nggak ada salahnya, lah”

“Tereserah lo, dah. Kasian gw sama calon keluarga, lo nanti”

“Jangankan elo, men, gw aja kasian”

Halaman Utama : Kehidupan Di Jakarta

BERSAMBUNG – Kehidupan Di Jakarta Part 33-34 | Kehidupan Di Jakarta Part 33-34 – BERSAMBUNG

Selanjutnya ( Part 31-32 ) | ( Part 35-36 ) Selanjutnya