web hit counter

Kerja atau Sex Part 11

0
296
Kerja atau Sex

Kerja atau Sex Part 11

The New Girl

Sudah tanggal 4 Mei 2015, Senin pertama di bulan Mei, dan sudah waktunya pegawai baru itu untuk masuk kerja. Sejak kejadian teguran Pak Stanly sebelumnya, Aku dan Nita sudah tidak pernah lagi ke kantor bersama, kami dengan kendaraan kami masing-masing, Nita naik mobil dan Aku naik motorku ke kantor.

Tapi biasannya sebelum ke kantor Nita selalu menyempatkan diri ke apartementku, memberiku morning kiss, hal kecil yang memberikan kami semangat untuk menghadapi hari. Mungkin para pasangan mesti mencoba hal ini, karena dapat memberikan positive vibe. Sama seperti biasanya Nita singgah dulu, dan kali ini kami berciuman cukup lama, tapi kami tidak ingin telat ke kantor, dan kami harus menyudahinya.

Aku duluan tiba di kantor seperti biasa karena motor selalu lebih cepatlah dibandingkan mobil. Lagipula Nita berkendara mobil itu tergantung mood, kalau moodnya lagi bagus dia akan sangat santai dan sabar mengedarai mobil, kalau sedang badmood walau ada polisi tidur gas tidak kendor. Itu adalah indikasi yang sangat baik untuk melihat mood Nita.

Saat tiba di lantai 5, kulihat pintu ruangan kami sudah terbuka, ternyata karyawan baru itu sudah datang dan sedang berbicara dengan pak Stanly. Gadis itu tampak serius memperhatikan arahan dari Pak Stanly, dia duduk di meja Mbak Claudia, karena meja itu yang paling dekat dan bisa berhadapan dengan Pak Stanly.

https://encrypted-tbn0.***********/…mSaQX9j_XUXrka2wOB33K0Eeiv7xQ0tzTpOeucPHQDXmg

Pantas saja Boby, Hans, dan Frank bersemangat melihat karyawan baru ini, bening juga. Rambutnya panjang dia biarkan terurai, sedikit kecoklatan dengan wajah yang oval dan kulit yang putih, cantik juga menurutku. Dia menggunakan blues terusan berwarna putih, single piece yang cukup ketat dan menunjukkan bentuk tubuhnya, nah ini kesan pertama begitu menggoda. Belum juga Aku mencapai mesin absen dalam ruangan kami, tiba-tiba Boby yang selama ini datang selalu mepet, menepuk pundakku.

“SELAMAT PAGI”, sapa Boby kepada semuanya. Pak Stanly menatapnya dengan sedikit terkejut.

“Wah! pagi kali kau hari ini”, tiba-tiba logatnya keluar karena melihat boby yang baru kali ini muncul sebelum 0730.

“Ada anggota baru, harus memberi contoh yang bagus dong” sambung Boby, sambil menawarkan tangannya kepada pegawai baru itu untuk berkenalan.

“Boby *****, Senior Legal Staff”, sambil semakin mendekat dan merapat di kepada gadis itu.

Kalau ada yang bening saja Boby itu paling cepat. Aku sendiri meletakkan tasku di mejaku terlebih dahulu dan menyalakan komputerku, komputerku sudah mulai lambat karena banyak isinya, jadi sebaiknya di nyalakan dulu, biasanya juga tanpa sepengetahuan Pak Stanly, aku biarkan komputerku menyala karena malas menunggunya startup.

“Elly **** ”, sambil dia berdiri dari kursi dan menjabat tangan Boby, suaranya terdengar riang dan tanpa beban, ya mungkin karena masih fresh graduade, masih belum ada beban hidup lah. Setelah selesai merapikan barang bawaan ku, AKu lalu menghampiri Elly dan memperkenalkan diri.

“Theodore *****, biasa di panggil Tedy”, begitulahlah bagi yang belum tahu kenapa orang dengan nama Theodore di panggil Tedy mungkin bisa di go*gle saja.

“Elly, kamu duduk di samping Boby, di cubical yang ujung dekat pintu”, sahut Pak Stanly dari cubiclanya dan dia mulai membuka-buka berkasnya, seperti biasa di awal bulan Pak Stanly mulai masuk mode robotnya, karena harus mengerjakan laporan regional.

“Nanti kalau Claudia datang, dia yang akan membantumu, sementara ngobrol saja dengan Boby, dia nganggur kok”, sambung pak Stanly

“Siap Pak”, jawab Elly dengan ceria, dan terlihat wajah Boby sumringah, lalu sadar bahwa dia baru saja di celah Pak Stanly.

“Masa ngak ada kerjaan sih bos, banyak tapi udah kelar”, jawab Boby berusaha membela diri.

“Iya…ya…ya…”, sambil Pak Stanly melambaikan tangannya mengusir mereka berdua.

Tidak lama setelah itu Nita mucul dan berkenalan dengan Elly, dan di susul Santi dan Mbak Claudia, serta Hans dan Frank. Setelah seluruh kru lengkap kami briefing dan saling memperkenalkan diri secara formal dan mulai briefing dengan tim busines dan lain-lain saling memperkan Elly.

Dilihat dari tubuhnya, kurang lebih dia sekitar 160-170 cm tubuhnya terlihat mungil dan proporsional, terlihat imut dengan postur tubuh seperti itu ditambah dengan kepribadiannya yang ceria dia terlihat seperti baby doll.

Kami mulai mengerjakan pekerjaan kami, mulai dengan sistem baru ini, dimana semua dokumen harus melalui Elly dulu baru menuju ke divisi lain, jadi setelah checked semua dokumen harus di serahkan kepadanya, sekarang Mbak Claudia membantu Elly dengan telaten dan dijelaskan satu persatu. Jadi secara teori perkajaan kami telah berkurang dan di alihkan kepada Elly.

***

Selang dua minggu berlalu, sudah tanggal 18 Mei 2015, walau sudah melewati masa Kenaikan Isa, Nita masih tidak ku ganggu, karena masih ada Pentakosta. Pekerjaan kami dibulan ini juga tergolong sibuk jadi kami kadang juga rembur hingga malam, dan biasanyapun sehabis kerja Aku tetap memenuhi jadwal melatihku di Selasa dan Kamis, begitu juga Nita, jadinya kami hanya punya waktu Senin, Rabu dan Jumat, itupun kami lembur, jadi alhasil kami hanya bertemu di kantor.

Plus karena taruhan dengan Pak Stanly, Aku dan Nita tidak bisa bermesraan atau terlalu dekat selama jam kerja, dan seluruh Tim ingin menang dalam taruhan ini agar bisa di traktir oleh Pak Stanly, jadi tiap kami saling berdekatan, ada saja diantar mereka yang muncul mencegat kami. Yang paling semangat mencegat kami adalah Boby, sepertinya dia bertaruh lagi dengan Frank dan Hans untuk kami tidak akan ketahuan.

Karena posisi duduk Elly yang berada tepat di depanku, kadang juga dia bertanya padaku mengenai dokumentasi ini, karena memang sebelumnya kami semua mengerjakannya sendiri, dia malas bertanya pada Boby, karena apapun yang dia tanyakan pada Bob, akan berakhir dengan gombalan dari Bob. Tapi walaupun di gombal oleh Bob sebenarnya dia cukup merespon dan menanggapi gombalan dari Boby.

“Ko Tedy, kalau dokumen yang ini dimasukkan kedalam folder yang mana ya?”, tanya kepadaku sambil mengangkat dokumen yang sedang dia pegang, sambil memiringkan kepalanya, jadi tetap melihatku.

“Itu masukkan saja ke dalam folder identitas nasabah, kalau yang itu masukkan dalam folder lain-lain”, jawabku singkat padanya, dia segera memasukkan dokumen-dokumen itu dan merapikan foldernya. Oh iya, folder yang saya maksud disini adalah map (dokumen fisik ya, bukan folder di komputer), kami berkutat dengan dokumen fisik dan soft, jadi mesti di scan juga.

Nita tiba-tiba menchatku, kami sekarang berkomunikasi via chat, biar tidak diperhatikan oleh Elly karena kami saling berhadapan dengannya.

Nita : “Cie, Koko ni”

Ted : “Cie yang cemburu”

Nita : “Sapa yang cemburu?”

Ted : “Oh ngak toh”

Ted : “Kalau gitu Aku panggil dia mei mei juga ah”

Nita : “Kamu berani?” <Sticker Marah>

Ted : “Katanya ngak cemburu?”

Nita : “Iya deh, Aku cemburu Koko Tedy sayang”

Ted : “Gitu dong ngaku…” <Sticker kiss>

Kemudian kami lanjutkan dengan chat tidak jelas dan membuatku cengengesan, dan sepertinya Boby menyadari itu, dan terbatuk-batuk dan memberikkanku kode mata, ah biar chat saja tidak bisa liat orang senang. Kami melanjutkan pekerjaanku dan Nita harus keluar kantor untuk keperluan penandatanganan menjelang jam makan siang, jadi sepertinya kami tidak akan makan di pentri. Berkulang lah lagi waktuku menatap wajah Nita.

Aku sendiri sudah berada di lantai atas dan sedang bersiap memakan bekalku, yang lain sedang memutuskan untuk makan diluar, dan seperti biasa Pak Stanly pulang, makan di rumah. Ternyata Elly tidak ikut pergi bersama rekan-rekan yang lain, ternyata dia membawa bekal. Dia meletakkan bekalnya di samping kananku dan duduk disebelahku.

“Ko Tedy bawa bekal ya tiap hari?” dia memulai pembicaraan kami berdua.

“Iya, kecuali hari Jumat, Jumat mah makan di luar”, jawabku sekenanya, dan mulai makan, karena masih banyak kerjaan Aku akan segera menyelesaikan makanku dan melanjutkan pekerjaanku.

“Wah enak ya ada yang buatin bekal, istrinya ya ko?” tanya Elly lagi.

“Enak aja dibuatin, buat sendiri nih… and I’m not married yet”, kataku dengan nada sedikit bercanda.

“Wah ada harapan nih… Kalau pacar?” Aku sedikit tidak percaya apa yang ku dengarkan, gadis ini sangat frontal.

“Untuk sekarang it’s complicated” jawabku, karena hubungan ku dengan Nita sekarang kan memang sedang gimana gitu, tapi tetap saja dia pacarku. Benar juga pikirku kenapa Pak Stanly menyuruhku dan Nita merahasiakan hubungan kami, kami belum tahu sifat si Elly, jangan-jangan dia ember dan rahasia kami ketahuan satu kantor kan bisa repot.

“Wah kalau gitu Elly punya kesempatan dong Ko…” tiba-tiba dia makin merapat padaku.

“Eh, kesempatan apa?” jawabku pura-pura blo’on dan menghindari kesalah pahaman, bisa saja Aku yang ke Ge’Er-an.

“Buat jadi pacar Koko…” Shit, anak ini frontal banget, langsung berbicara seperti itu kepada lawan jenis, kepada orangnya langsung dan tanpa basabasi. Elly sangat percaya diri sepertinya, walaupun orangnya supel dan ceplas-ceplos, tapi Aku tidak menyangka untuk urusan ini dia juga ceplas-ceplos.

“Are you kidding me?” jawabku sambil menatapnya, dengan tatapan yang bercanda.

“Offcorse not… You kind of Hot, and you are totally my type…”, dia langsung merangkul lengan kananku. Payudaranya otomatis langsung mengenai lenganku, payudara itu terasa lebih ranum dibandingkan milik Nita, mungkin karena Nita rutin berolahraga jadi lebih kenyal dan kokoh [pemilihan kata yang agak aneh, payudara kok kokoh].

Aku berusaha melepaskan tangan Elly dariku, tentunya dengan pelan, tidak se-frontal dia.

“Apakah saya tidak cantik dan bukan Type mu Ko?” tanya sambil memanyunkan bibirnya melepaskan rangkulannya.

“No…No… Kamu pintar, cantik, kalau kriteria yang lain Aku sih belum tahu masuk apa tidak?”, jawabku spontan karena salah tingkah, Aku kemudian tersadar kenapa ku jawab seperti itu. Kalau mungkin sekarang ada Nita, aku sudah dapat Kao Dode (Lutut terbang) dari Nita.

“Kalau gitu kasih tahu Elly dong kriteria yang lainnya?”, kejar Elly sedikit penasaran dan menatapku dengan mata penuh penasaran. Anak ini benar-benar frontal, untung aku (sedang) tobat, kalau tidak sudahku embat juga dia.

“Gimana ya, harus mandiri, bisa di andalkan dan pengertian yang pasti”, jawabku sekenanya saja asal, lalu Elly terlihat sedikit berpikir.

“Seperti Ce Anita ya? Itu type Ko Tedy?” waduh langsung menjurus ke Nita, apakah sejelas itu kriteriaku, padahal itupun asal-asalan ku jawab, bisa langsung buyar nih taruhan.

“Anita? Emang kamu lihat dia seperti itu?” tanyaku berusaha menghindari menjawab.

“Iya, Ce Anita itu, mandiri, jago banget kerjanya, atletis, cantik, pintar lagi, kalau Elly lesbian sudah Elly godain ce Anita”, jawabnya dengan santai cepat.

“Masa Ko Tedy ngak ngelihat itu?”, memulai memperhatikanku, menatapku seperti curiga padaku.

“Jangan-jangan Ko Tedy gay?” sambil sedikit berbisik padaku.

“WHAAAATT!!!”, jelas saja bukan, saya pencinta vagina. Personaly saya tidak mendukung atau menentang LGBT, semua orang punya hak yang sama.

“Bukanlah, Aku suka perempuan”, jawabku dengan cepat dan tegas. Kemudian Elly pun tertawa lepas dan menepuk bahuku. Lalu dengan seketika dia mencium pipiku, aduh anak ini frontal banget.

“Yuk makan”, mengalihkan pandangannya dan mulali memakan bekalnya seperti tidak terjadi apa-apa. Waduh anak ini, ngak lama Aku terkam juga dia. Sambil makan kami bercerita banyak juga sih sebenarnya, akhirnya Aku jadinya tetap cerita dengannya walau makanku sudah selesai, menunggunya selesai makan.

Saat kami turun Nita sudah kembali ke kantor, dia melihat kami berdua turun bersama, matanya melihatku dengan sedikit sinis dan menganggkat dagunya tinggi, kalau boleh dibilang gaya seperti sedang menantang orang bertarung. Tamat riwayatku kalau Nita tahu tadi aku di cium oleh Elly, walau sebagaimana in-nya Nita padaku tetap saja kalau masalah cemburu aku sedikit paranoid, hubungan ranjang kami memang panas dan percintaan juga mesra, tapi dari pengalaman orang lain biasanya jika urusan itu panas, urusan pertengkaran juga akan ‘PANAS’.

Saat pulang kerja, aku menyempatkan diri mengajak Nita untuk singgah ke sebuah café dekat rumahnya, café kecil di jalan kecil, jadinya tidak begitu ramai, private lah, kami juga sudah akrab dengan pemilik café itu sebelum kami jadianpun kami sering kesana.

Aku dan Nita terlebih dahulu memarkirkan kendaraan kami di rumah Nita, dan berjalan kaki menuju café tersebut, karena letaknya memamng tidak jauh dari rumah Nita. Saat di café, Aku menceritakan kejadi siang itu kepada Nita, Nita mendengarkannya dengan tenang dan seksama, semuanya ku ceritakan termasuk ketika Elly mengecup pipiku. Aku tidak ingin Nita tahu hal ini dari orang lain, jadi sebaiknya kuberi tahu Nita terlebih dahulu.

Yang luar biasa dari Nita adalah sikap tenangnya saat seperti ini, dia tidak marah, dia tidak tiba-tiba mengamuk, dia mendengarkan ceritaku hingga selesai. Kemudian dengan tenang Nita memainkan pulpen dijemarinya yang lentik, pulpen yang tertinggal oleh pramusaji tadi untuk menulis pesanan kami.

“Ted, honey… Kamu jujur aku sudah senang banget… Aku tahu pacarku itu lelaki Alfa, dan pasti banyak wanita yang menyukaimu… Aku senang bisa menjadi wanita Alfamu sayang…” dia mengatakan itu sambil tersenyum, namun berbeda dengan wajah dan suaranya yang manja, tangan kirinya baru saja mematahkan pulpen yang dia mainkan dari tadi.

Nita memang bipolar sepertinya, dan bipolarnya keluar di saat bersamaan. I need to take her to a doctor. Mungkin detail ini tidak penting, Nita adalah ambidextrous atau mahir menggunakan tangan kiri dan kanannya, dia menulis dan menggambar menggunakan tangan kanan, memotong, memasak dengan tangan kiri, atau membuat kerajinan kecil lainnya dengan tangan kiri. Menurutku kedua tangannya sama kuatnya, hanya berbeda sedikitlah.

Setelah nongkrong sejenak dan bercerita lebih lama, akhirnya Aku mengantar Nita pulang kerumahnya, dari café ini kerumah Nita sambil berjalan kaki, sepanjang jalan kenangan kami saling bergandeng tangan <lirik lagu>. Sesaat sebelum sampai dirumah kami berpapasan dengan kedua Adik Nita, adik pertamanya yang mengendarai mobil, mereka hanya membuka jendela dan men-cie-cie kami, Ibu Nita belum pulang dari tokonya alhasil dirumah tidak ada orang.

Sore ini bisa menjadi kesempatan bagus bagi kami berdua untuk dapat bersenggamah sesaat, selama ini kami memang tidak mendapatkan kesempatan untuk berduaan. Nita mengajakku masuk dan kami berdua duduk di ruang tamu rumahnya, Nita kemudian merogoh kedalam tasnya dan langsung memakai chocker pemberianku. Sepertinya selama ini Nita selalu membawa chocker itu dalam tasnya. Sepertinya ini pertanda yang jelas dari Nita apa yang ingin dia lakukan selanjutnya. Waktu kami hanya sekejap saja, karena biasanya Ibu Nita akan pulang sekitar jam 1900, dan sekarang sudah 1830.

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part