web hit counter

Kerja atau Sex Part 12

0
284
Kerja atau Sex

Kerja atau Sex Part 12

Make It Quick

Kami tidak menutup pintu rumah, agar orang sekitar tidak curiga, dari luarpun kami tidak terlihat karena ruang tamu tidak berhadapan langsung dengan pintu, jadi sedikit aman. Kami berdua duduk di sofa ruang tamu, sofanya cukup cozy dan bisa untuk bertiga, jadi biar kami selojoranpun bisa.

Aku dan Nita mulai bercumbu, saling berciuman, dan memeluk. Kurasakan tangan Nita mulai menarik kemejaku dan masuk kedalamnya, tangannya yang lembut mulai mengelus punggungku, aku juga tidak mau kalah, tanganku kini tengah mengelus bokongnya sambil berusah membuka resliting roknya. AKu mencoba melakukannya dengan cepat karena waktu kami yang sangat terbatas.

Saat mulai membuka reslitingnya, Nita menahan tanganku, dan mengarahkannya ke samping, kembali ke bokongnya.

“Jangan Tuan, Mama bisa pulang kapan saja”, dengan wajah yang sedikit memelas kepadaku. Ya sudah lah, waktu hanya sebenatar jadi sebisanya sajalah.

Nita kembali mencium bibirku, bibir kami kembali bertautan, Aku tiba-tiba merasa tangan Nita ada di resliting celanaku, bukannya tadi dia bilang sebenatar saja, tapi malah tangannya yang ada di celanaku. Aku tidak mempedulikan tangn Nita yang telah berhasil membuka reslitingku, sekarang dia sedang memegang Penisku dari luar celana dalamku, mengelus-ngelusnya. Aku tentu tidak mau kalah, Aku segera menjamah payudaranya dan mengelus dan meremasnya dari luar kemejanya.

Tanganku kiriku membuka tiga kancing bajunya dan berusaha menyelipkan tanganku masuk kedalam branya. Ku pilin-pilin ujung payudara Nita dengan jariku, Nafasnya mulai memburu dan terdengar mendesah halus. Nita lalu mengeluarkan penisku dari celana dalamku, dan mulai mengenggamnya dan menggerakkannya naik turun. Aku berusaha menyelipkan tangan kananku kedalam roknya, dan alhasil aku berhasil menggesek-gesek tanganku tepat di luar vaginanya, rasanya sudah hangat dan lembab disana.

Nita kembali mendorong tanganku keluar dari roknya, kemudian aku menatapnya penuh tanya. Nita lalu bergeser, dari posisi duduknya bersamaku di atas sofa, menjadi berlutu di hadapanku, di selangkanganku. Nita menatapku dari sana, menatapku dengan mata pasrah, rasanya membuatku menjadi superior atas Nita. Nita memejamkan matanya dan menempelkan pipinya pada penisku dan menyandarkannya dan mulai membelai-belainya di wajahnya. Seperti seekor kucing yang menggaruk-garuk wajahnya, tapi ini Nita dengan menggunakan penisku.

Nita mulai menjilat kepala penisku, memutar-mutar lidahnya di sekitar kepalanya, terasa basah dan hangat, begitu nikmat. Telah sebulan sepertinya Aku tidak mendapatkan jilatan seperti ini dari Nita, rasanya sensasional, walau tidak pro rasanya lidah Nita memberikan kepuasan tersendiri. Nita mulai turun ke batangnya dan menjilat seluruh batangnya dengan pelan dan lembut.

Nita sekarang berusaha memasukkan penisku kedalam mulutnya, pelan-pelan, sedikit demi sedikit. Nita mulai memaju mundurkan kepalanya, walau tidak seluruh batangku dia masukkan dama mulutnya rasanya sudah luar biasa, masih ada sesekali giginya mengenai batang penisku, tapi biarlah tetap saja rasanya nikmat. Ku usap rambutnya dengan lembut, ramtunya terasa sangat halus dan berkilau. Cahaya senja yang masuk keruang tamu ini membuat suasananya terasa begitu romantis.

Aku merasakan dan menikmati setiap hisapan, jilatan, dan gerakan kepala Nita di penisku, begitu nikmat dan luar biasa. Nafasku terasa relax dan sangat santai, sunggu perasaan yang tiada duanya.

PAGAR!!! Bunyi pagar yang di buka, mengejutkan kami berdua, Nita lansung menghentikan aktifitasnya dan menganting bajunya, aku juga langsung gelagapan berusaha memasukkan penisku kembali dalam celana. Lalu Nita langsung kembali melesat duduk di sampingku.

Bunyi mobil masuk dan kembali menutup pagar, kami intip dari dalam ternyata ibu Nita sudah pulang, waktu sudah menunjukkan 1910 saat itu. Aduh kondisinya sekarang Aku jadi tanggung nih, penisku masih terasa sesak di balik celanaku. Nita masih memperhatikan dirinya apakah ada yang salah atau tidak, dan sepertinya sudah aman.

“Sore Ai”, sapaku kepada Ai Meily, Ibu Nita.

“Eh Tedy, udah lama?” membalas sapaanku,

“Tidak di tawari minum Nit”, dia bertanya pada Nita, standarlah basa basi kalau ada tamu.

“Tedy sudah mau pulang kok”, jawab Nita dengan sedikit cengengesan.

“Iya Ai, dari kantor langsung kesini, ini sudah mau pulang juga”, jawabku mendukung jawaban dari Nita.

“Oh, ok kalau gitu, Ai masuk dulu kalau gitu”, katanya sambil berlalu kedalam rumah.

“Sono, pulang”, sambil Nita mengecup bibirku ketika Ibunya sudah masuk.

Akhirnya Aku berpamitan pada Nita, dan dengan kondisi yang masih horni, sepertinya aku perlu pelampiasan. Jadinya ku putuskan aku akan nge-gym malam ini dan melampiaskan penggunaan proteinku pada gym. Saat tiba dirumah ku chat Nita dan ku katakan bahwa malam ini aku akan nge-gym, ku ajak dia, tapi katanya dia ingin mengantar ibunya dan adik-adiknya jalan. Jadi akhirnya aku ke gym sendirian.

***

Gym hari Senin biasanya memang agak sepi, dan Aku sendiri tidak pernah nge-gym di hari senin. Positifnya adalah Aku bisa menguasai semua alat dan tidak perlu mengantri dan berebut alat seperti hari Sabtu dan Minggu. Aku tiba di gym sudah pukul 2000 malam, ternyata ada beberapa wanita yang sedang cycling, sepertinya ada kelas cycling di hari Senin di sini. Aku sebenarnya tidak peduli dengan jadwal kelas yang ada, karena tidak ada yang inginku ikuti.

Setelah kardio run, bench press, squat, shoulder and back press, dan leg press. Lumayan lah menurutku untuk menyalurkan proteinku. Tapi dengan repetisi yang kulakukan tidak terasa sudah menunjukkan pukul 2140, petugas sudah mulai membersihkan tempat itu, biasanya memang pukul 2200 tempat ini sudah tutup. Ya mau di apa lagi, harus segera menyelesikan dan ganti pakaian nih, setelah semua beres sudah pukul 2150, seperti biasa aku akan mandi dirumah.

“Misterrr T…”, sebuah suara yang sepertinya familiar tapi tidak seharusnya ada di sini, Aku menoleh melihat pria yang sedang berada di meja admin gym itu,

“Bang Andre?”, melihatnya aku merasa bingung. Bang Andre adalah teman kakaku, dulu dia seperjuangan dengan kakakku di perusahaan ayahku.

Harusnya dia juga sudah regional head, kenapa berpakaian seragam gym ini dan ada di meja kasir, ada yang tidak beres nih.

“Yo…”, sambil lemabaikan tangannya dengan expresi yang aneh, sangat mengenalku malah, dulu waktu kakakku masih pegawai biasa, kami sering nongkrong bareng, waktu itu aku juga masih baru masuk kuliah.Bang Andre ini sangat humoris dan sering mengerjaiku waktu dulu sering jalan bareng.

“Seragam Gym, duduk di meja kasir, ngapain lu bang?” tanyaku mengejarnya dengan pertanyaanku.

“Lu ngak tau nih tempat punya sapa?” dia bertanya balik padaku, dengan wajah menasaran.

“Ngak lah!” jawabku sedikit nyolot, karena sudah letih dan ciri-cirinya dia mau mengerjaiku lagi.

“Punya bapak kau lah!” jawabnya dengan lantang, ku pasang muka datar padanya dan menyilangkan tanganku.

“Beh, serius aku!” dengan yang dipaksakan serius sambil menunjuk papan nama gym ini.

“Bang, Air panasnya tidak menyala ya?”, suara seorang gadis tiba-tiba muncul dari samping, suaranya familiar juga nih, eh pas menoleh ternyata itu Elly. Bang Andre juga langsung menatap Elly. Elly masih menggunakan baju gym, yang boleh dibilang terbuka lah, namanya juga gym, kalau ketutup panas.
https://encrypted-tbn0.***********/…WV9aEeOjvoz0kyj0BeiBYscTT9FWXZ-ilK8QVjbho1WtX

Dengan Tanktop bellyless berwarna abu-abu dan celana legging warna hitam coklat dengan motif X <tahulah merek apa>, dan sepatu olahraga berwarna pink neon, rambutnya dia kuncir ekor kuda kebelakang, membuat kulit putihnya terekspose maksimal, dengan sedikit butiran-butiran keringat di tubuhnya.

“Maaf Neng, mesin air panasnya baru saja rusak neng, tadi itu sempat padam listrik kan, itu korslet mesin panas kami neng, orang kami lagi liatin tuh alat sekarang”, jawabnya singkat padat dan jelas.

“Ko Tedy, ngapain disini?”, Elly bertanya dan mengacuhkan Bang Andre, bang Andre kemudian beralih melihatku dan memainkan kode mata padaku, dan aku memplototi bang Andre.

“Nge-gym lah, masa shopping”, jawabku sedikit ketus pada Elly biar tidak terjadi hal yang “kuinginkan” lagi.

“Hahaha… Ko Tedy lucu deh”, sambil mencubit pinggangku, eh dia malah menggoda lagi.

“Neng kalau mau mandi air panas, di apartement ko Tedy itu bisa numpang mandi, dekat dari sini”, eh kok Bang Andre tahu aku tinggal dekat sini.

“Boleh juga tuh”, jawab Elly cepat dan langsung merangkulku.

“Eh!!! Yang bener saja bang!” jawabku protes ke bang Andre, melihat wajahnya yang tersenyum lebar membuatku ingin menghajarnya di sini.

“Aku ambil barang-barangku dulu ya Ko!”, Elly lalu melesat menuju kamar ganti wanita.

“Weh yang bener bang! Darimana abang tahu aku tinggal dekat sini?” tanyaku kepadanya, bikin rusuh saja nih Bang Andre.

“Tau lah, kakak kau lah yang cerita”, jawabnya sambil memainkan alisnya.

Elly tiba-tiba sudah melesat lagi dan menyambar tanganku, dan merangkulnya, dia hanya menutupi dirinya dengan jaket kain berwarna senada dengan tanktopnya.

“Ayo ko…”, sambil mendorongku keluar dari Gym. Sambil berjalan keluar gym ku tunjuk-tunjuk kearah Bang Andre, dan dia hanya tersenyum dan mengangkat jempolnya.

“Your welcome Mr T”, sambil kemudian dia tertawa saat aku melewati pintu keluar gym. Aku kemudian memberikannya salam jari tengah sebelum pintu tertutup.

“Elly, kamu naik apa?” tanyaku pada Elly, karena jelas aku malas memboncengnya, nanti Aku malah ngaceng lagi, padahal sudah ku salurkan dengan gym.

“Tadi aku di antas sama temen, kebetulan tadi dia mau ke mall sebelah jadi Aku minta nebeng”, jawabnya santai dan masih menempel padaku.

“Sepertinya memang jodoh ko, karena ketemu koko di sini, padahal tadi sudah mau taxi pulangnya”, jawabnya lagi sambil cengara-cengir menggandeng lenganku.

Sambil berjalan ke parkiran sambil bercerita, kenapa selama ini kami tidak pernah bertemu di gym ini, karena dia ngegym setiap senin, rabu dan jumat, sedangkan aku hanya sabtu atau minggu. Jelas lah tidak pernah bertemu, dan dia juga biasanya naik motor atau mobil ke gym. Tapi karena hari ini ada temannya jadinya dia nebeng.

“Kamu ngak papa pulangnya malam ? Aku antar pulang saja langsung”, tanyaku pada Elly, berupaya agar niatnya urung ke apartementku.

“Aku tinggal sendiri kok disini, papa mama di luar kota, ngak pulang juga ngak papa ko”, sambil dia menatapku dan mengeratkan rangkulannya pada tanganku. Mati aku, kalau nanti dia di apartement, terus modelnya kaya gini dan minta nginap, bisa-bisa ku embat juga dia. Bahaya nih anak frontal banget. Otakku sekarang berkecamuk, kapan lagi bisa menikmati wanita cantik selain Nita, belum Elly juga oke-oke saja, dan mau denganku, belum lagi tadi belum tuntas.

Akhirnya Elly sudah naik di atas motorku, aku tidak memakai helm, karena biasanya aku memang lewat gang-gang jika menuju ke tempat gym, kalau rajin sebenarnya bisa jalan kaki sih dari apartement ke gymku. Berselang beberapa saat kami sudah berada di apartementku, seperti biasa keamana disini sangat kosong, tidak ada satpam di pos loby, hanya ada di pintu masuk saja. Kami dengan leluasa langsung menuju lift dan menuju apartementku.

“Wah cozy banget ko…” sambil berkeliling sendiri di apartementku, untung dia sudah langsung melepas sepatunya begitu masuk apartement kalau tidak sudah ku usir dia. Dia dengan santainya menganggap ini tempatnya dan berkeliaran sesukanya, aku hanya bisa melongo melihatnya.

“Punya handuk ngak?” tanyaku padanya, dan membuka kulkas mencari minuman dingin, aku tidak bisa hidup tanpa minuman dingin.

“Punya kok ko, ada bawa sendiri”, sambil dia mengambil di dalam tasnya, sabun dan beberapa perlengkapan mandinya. Kemudian dia membuka jaketnya dan bersiap untuk masuk kamar mandi.

“Ngak mau bareng ko?”, dia melihatku dengan senyuman nakal, dan dengan gerakan tubuh yang menggoda.

“What?”, jawabku seolah tidak percaya, walaupun dalam hati aku sudah menjerit MAU…MAU… tapi aku urungkan. Elly pun sambil tertawa berlalu menuju kamar mandi dalam kamarku. Sebenarnya kamar mandiku memiliki pintu yang tembus, dari dapur dan dari kamar mandi, tapi entah kenapa dia masuk melalui pintu kamarku.

Dari pada aku kepikiran kelakuan si Elly lebih baik aku duduk di ruang tamu sambil nonton tv saja, jadi aku duduk di lantai, dan menyalakan tv ku dan mulai menonton. Acara tv di hari senin malam sepertinya memang tidak ada yang menarik, setelah berganti-ganti chanel akhirnya aku lupa aku menonton apa dan akhirnya mataku mulai berat, sehabis latihan aku mulai mengantuk. Perlahan ku baringkan tubuhku ke samping, biarlah tidur sejenak, jika sudah juga Elly pasti membangunkanku.

***

Rasa hangat dari lidah Nita, begitu nikmat di kepala penisku berputar-putar, mengintarinya, diatara celah uterusku, dia menghisap dengan lembut, mengecupnya. Mengecup seluruh batangku, terasa sentuhan bibirnya yang lembut, kadang dengan jilatan kecil di setiap sudutnya. Jemarinya bermain di kantung zakarku dan dia mulai memasukkan penisku dalam mulutnya, menggerakkannya keluar dan masuk dengan cepat, diikuti dengan isapan-isapan yang kencang. Nita sudah semakin ahli melakukannya, memberikan perasaan nikmat yang luar biasa.

Nita terasa lebih agresif, biasanya lebih kalem dan lembut, kulumat Nita lebih cepat dan lebih berirama. Aku hanya bisa menikmati kuluman itu, Nita bergerak dengan cepat, kini dia telah berada di atasku, siap memasukkan penisku kedalam vaginanya. Nita lebih berani hari ini, tubuhnya langsung naik turun di atas penisku. Bergerak dengan berirama, memainkan tubuhnya dan menyetakkan pinggulnya dengan kencang di atasku.

Aku ingin meraih payudara itu, aku berusaha menggerakkan tanganku, tapi tidak bisa, sesuatu menahannya. Apa yang terjadi aku tidak bisa menggerakkan tangganku, tanganku terikat diatas tubuhku. Nita kemudian mengecup bibirku dengan buas, dengan liar, ciuman yang tidak biasanya.

TUNGGU DULU, bukannya aku sedang tertidur di ruang tamuku tadi!!!

***

Ku buka mataku dengan segera, tubuhku sedang ditindih oleh Elly, dia sedang mengecup bibirku dengan buasnya. Aku berusaha melepaskan diri, aku melihat keatas, tanganku sedang terikat, diikat dengan handuk dan diikat di bawah kaki meja ruang tamuku sendiri.

Aku berusaha melepaskan ciuman Elly dan melepaskan tanganku, Elly hanya menatapku namun tetap mencium bibirku, kini tangannya memegangi kepalaku dan pinggulnya tetap bergerak naik turun, penisku saat ini sedang berada dalam vaginanya, rasa hangat ini, rasa nikmat ini, tapi kembali harga diriku sebagai lelaki sedang di rusak oleh Elly.

Elly lalu menegakkan tubuhnya, mempertontonkan dadanya yang bebas gerayun di hadapanku, rambutnya meliuk-liuk bersama dengan tubuhnya dan tubuhnya terus bergerak naik turun di atas tubuhku, bergerak dengan cepat dan liar, dan mendesah-desah.

“Ah… Ah… Ko let’s make it quick!”, dia bergerak cepat dan mengayun-ayunkan rambutnya,

“I will make you feel great!” dan terus bergerak dan kembali mencium bibirku dengan buasnya.

Shit man, I been r*pe by a girl, by Elly!!!

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part