web hit counter

Kerja atau Sex Part 17

0
153
Kerja atau Sex

Kerja atau Sex Part 17

Dinner

Senin malam, aku masih melanjutkan pekerjaanku di kantor, masih ada beberapa dokumen yang harus ku periksa dan kupersiapkan untuk besok. Inggrid masih menungguku, untuk membukukan dokumen tersebut dan menscannya. Sambil menungguku dia sedang sibuk bermain dengan handphonenya, sesekali sepertinya dia mengambil gambar selfie, dengan beberapa ekspresi wajah yang lucu, hal itu tidak bisa kulewatkan, karena sepertinya dia sengaja melakukannya agar bisa terlihat olehku, atau mungkin aku hanya GeEr.

Kemudian handphone ku berbunyi, ternyata foto yang baru saja di ambil oleh Inggrid dia kirimkan padaku. Aku hanya tersenyum dan menatapnya saat dia mengirimkan gambar itu kepadaku, Inggrid lalu berjalan ke arahku dan melihat ke handphoneku.

“Ko, kamu masih menulis namaku Elly ya di handphone mu? Kenapa bukan Inggrid?” dia tiba-tiba bertanya padaku, karena nama Whatsapp yang ku save belum ku ubah, dan namanya masih Elly. Kalau itu juga aku masih bingung harus ku save dengan nama apa Inggrid di handphoneku. Sepertinya akan tetap ku simpat dengan nama Elly, karena ini adalah nomor yang terdaftar di group WA kantor kami.

“Ini kan nomor kerjamu, masa aku simpan dengan nama pribadimu, lagipula nama itukan harus tetap kamu rahasiakan”, jawabku padanya, sambil tersenyum, dan dia sepertinya menerima alasanku. Tiba-tiba Inggrid menarik kursiku keluar dari cubicalku, lalu duduk dia lalu duduk di atas pangkuanku, dan merangkul leherku, aku hampir kehilangan keseimbangan ketika dia melakukan itu, hal ini cukup membuatku terkejut.

Aku sendiri agak was-was karena pintu ruangan kami itu terbuka, walaupun lantai kami sudah kosong, tetap saja tidak enak jika dilihat karyawan lain. Inggrid memelukku dengan erat lalu mengecup pipiku.

“Ko, kalau gitu panggil Ling saja”, sambil dia menatapku dengan senyuman yang ceria, begitu imut wajahnya, aku sepertinya memang tidak bisa melawan jika sudah berhadapan dengan wajah gadis yang imut. Aku tidak bisa berkata apapun, aku hanya mengangguk tanda setuju.

“Ada sesuatu yang ingin ku katakan padamu Ling”, aku merangkul pinggulnya yang sedang duduk di atas pangkuanku, sebenarnya aku takut dia terjatuh, jadi sebaiknya ku pegangi dia. Inggrid lalu memandangku dengan serius.

“Aku akan melanjutkan pendidikan S2 ku, aku akan mencari yang ada jam extend sih, jadi tidak akan mengganggu pekerjaan”, kataku pada Inggrid. Dia terlihat sedikit terkejut, tapi hanya sesaat. Inggrid lalu memelukku erat dan menyandarkan kepalanya ke bahuku.

“Kalau koko memang ingin melanjutkan, itu adalah hal yang menggembirakan”, aku merasakan tubuhnya begitu relax bersandar padaku, ternyata dia memejamkan matanya, dia menikmati posisinya, tapi aku yang sedikit kesulitan dengan posisi duduknya.

“Hidup ini adalah pilihan ko, kadang kita bisa menikmati hidup seiring dengan “arus”, tapi ada kalanya kita harus berjalan melawan “arus” untuk membentuk jalan kita”, sambung Inggrid, kata-katanya ini membuatku terdiam dan berpikir, benar juga katanya mengingatkanku pada wejangan itu “Janganlah percaya pada sebuah takdir yang didapatkan manusia bagaimanapun dia berlaku, tapi percayalah pada sebuah takdir yang didapatkan manusia dengan bertindak”, kita bisa saja duduk dalam kenikmatan tanpa berbuat apapun, menikmati yang telah tersedia, tapi itu akan habis dan terbuai, tapi bertindaklah, bentuklah sendiri hidupmu, karena raihlah takdirmu sendiri.

Aku paham sekarang, aku mengerti, jalan ini sudah benar, aku harus keluar dan kembali mengejar takdirku, aku harus menjadi yang ingin ku perjuangkan! Aku sadar berkat Inggrid, aku harus kembali ke cita-citaku. Inggrid telah menjadi lebih dewasa dari diriku, dia telah tumbuh menjadi wanita yang tangguh dan kuat, menjadi wanita yang cerdas dan ceria, melewati kelamnya masa hidupnya dulu. Aku bangga padanya, aku bersyukur bertemu dengannya dulu, aku memutuskan takdirku sendiri karenanya.

Dalam lamunanku, bibir kami bertemu dan terpaut, ciuman yang lembut dari bibir Inggrid, sebuah ciuman yang layak dan lembut, rasanya sangat hangat. Aku merasakan kedekatan, kerinduan, dan kelembutannya, aku tidak ingin berpisah lagi dari Inggrid, mungkin waktu kami dulu bersama hanya sejenak, dalam pertikaian itu kami dipertemukan, dalam perjuangan kami bersama, hanya sejenak.

Aku dan Dia masih muda kala itu, kami tidak tahu apa yang kami rasakan, aku tidak tahu apakah dia wanita yang menungguku.

Inggrid tersenyum dengan ceria padaku, wajahnya begitu cerah, tidak terbanyang bahwa telah begitu banyak yang dia lewati. Setelah merapikan semuanya kami berdua berjalanan menuju lift, sambil bergandengan tangan. Inggid memegang tanganku, dan menganyun-ayunkannya dengan ceria, rasanya hatiku sangat ceria bersamanya, tidak ada beban bagiku, tidak ada beban di antara kami.

***

Sabtu, 30 Mei 2015

Hari ini merupakan hari ulang tahun Mbak Claudia, dia mengajak kami semua untuk makan malam bersama di salah satu rumah makan Korea di Kota, rumah makan itu cukup terkenal dan cukup mahallah, jadi tentunya kami seluruh tim merasa sangat senang dengan ajakan itu.

Malam itu Mbak Claudia dan Suaminya Ko Gerry menyambut kami ketika kami tiba di restoran itu, mereka berdua telah menunggu, mereka berdua tampak serasi, mereka terlihat sangat santai ketika berada di luar kantor. Ko Gerry hanya mengenakkan kaos oblong hitam polos, jins biru dan sepatu kets, usianya sekitar 35 tahunan, sedangkan mbak Claudia dia mengenakkan kaos oblong juga dengan warna abu-abu dipadukan dengan jins hitam dan sepatu mini bots. Benar-benar terasa santai.

Karena malam ini seluruh tim di panggil, masih mengingat taruhan dari Pak Stanly, Aku dan Nita harus jalan terpisah, jadi aku tiba terlebih dahulu, ternyata disana sudah ada Pak Stanly dan Isterinya yang duduk berhadapan, sambil berbincang dengan tuan rumah. Mereka berempat terlihat sedang double date, pak Stanly dan Isterinya terlihat muda, mungkin karena mereka rajin berolahraga dan hidup sehat, isteri Pak Stanly, Ce Jean tidak makan gorengan, Hidup yang sehat.

Aku lalu sedikit berbasa-basi, memberikan sebuah kado kepada Mbak Claudia, dan berbasa-basi dan mengambil duduk di samping pak Stanly. Meja yang disediakan adalah tiga buah meja persegi yang disusun memanjang, sehingga bisa duduk untuk 12 orang, dan tiap mejanya terdapat stove, harusnya cukup untuk kami seluruh tim.

Tidak lama berselang Inggrid datang, mungkin karena dia merasa dia adalah orang baru maka dia berusaha untuk datang lebih awal, walaupun akan selalu kalah dari Mbak Claudia dan Pak Stanly. Selama bekerja dengan mereka berdua, jika kami janjian jam 8, mereka akan datang 0730, mereka selalu lebih awal 30 menit atau bahkan lebih. Inggrid lalu menyapa mbak Claudia, memberikan kadonya dan menyapa semuanya dan memperkenalkan diri kepada Pasangan Pak Stanly dan Mbak Claudia, tentu saja memperkenalkan diri sebagai Elly, kemudian dengan cerianya dia duduk di sebelahku.

Tidak lama kemudian Nita tiba, melihat Elly(sepertinya jika sedang bersama rekan kantor aku akan memanggilnya Elly, biar tidak keceplosan) telah duduk di sisiku, wajahnya terlihat agak masam, dan terlihat serius. Nita berubah ketika wajahnya beralih ke Mbak Claudia, dia memberikan selamat dan memberikan sebuah kado kepada mereka, dan kemudian duduk tepat di hadapanku. Dia tersenyum manis padaku dan pada Elly, tapi aku merasa ada ancaman di balik senyuman itu.

Tidak lama berselang, rekan-rekan lainnya berdatangan, Boby duduk di sebelah Elly, Santi duduk disebelah Nita, dan Frank dan Hans berturut turut di samping Santi. Kami semua bercerita sambil tertawa lepas, diluar dari pekerjaan kami, kami hanya sebuah kelompok orang yang saling tidak menyinggung kehidupan pribadi, hanya bercanda mengenai semua yang umum, sangat jarang membahas hal pribadi.

Rumah makan korea tidak lengkap kalau kami tidak minum Somaek (Soju Bomb), pak Staly cukup mahir meramunya, dan membagikan kepada kami semua. Aku punya kelemahan kalau minum minuman keras sekelas bir, aku akan sangat mudah ke toilet untuk buang air kecil, dan itu sangat mengganggu. Sehabis kami makan berbagai masakan dan bbq ala korea ini, dan disertai dengan beberapa botol bir dan soju, akhirnya aku harus ke toilet.

Rasanya aku ke toilet cukup lama, karena toiletnya hanya ada dua, satunya sedang terisi sepertinya sedang BAB, dan satunya ada seorang anak yang entah sedang apa, dan ibunya sedang sibuk mengurusnya. Saat aku kembali ada sesuatu yang telah tersaji di meja kami, sepertinya makanan pencuci mulut. Tapi sepertinya ada yang aneh, mereka semua memiliki satu mangkuk di depan mereka dengan sesuatu yang seperti bubur ketan hitam dan ada sesuatu di atasnya seperti topping, tapi dimejaku hanya ada scoop ice cream.

Aku kemudian duduk, dan memperhatikan mereka, mereka lalu melihatku dengan rasa penasaran juga, kemudian Nita memulainya.

“Ted, kamu tidak suka kacang?” Nita menatapku sambil mencondongkan tubuhnya maju.

“Kacang? Aku makan kacang, memangnya kenapa?” aku balik bertanya dan menatap sekelilingku.

“Kalau kacang seperti ini kamu makan?” lalu dia menganggkat mangkunya dan menyodorkannya padaku. Benda yang terlihat seperti bubur ketan itu adalah kacang, dengan refleks bibir atasku langsung berkerut dan menyungging naik.

“Kalau kacang-kacangan rebus, masak, dan pasta seperti itu…No…”, aku menjawab Nita dengan sedikit ragu, tunggu dulu, mengapa mereka tiba-tiba menanyakan itu, dan kenapa hanya aku yang tidak mendapatkan makanan yang sama dengan mereka.

“Wow, ternyata Elly benar, kau tidak makan kacang-kacangan rebus!” timpal Boby sambil menepuk bahu Elly, Elly terlihat sedang tersenyum menatapku dan kami saling bertukar pandangan. Darimana Elly tahu aku tidak suka dengan kacang-kacangan yang di rebus, apakah dulu aku pernah makan sesuatu kacang rebus dulu bersamanya? Aku tidak mengingatnya.

Nita lalu meletakkan mangkuknya, sedikit keras, sehingga menimbulkan suara di meja, aku lalu mengalihakan pandanganku kepada Nita, dia tampak tidak senang. Aku tahu pikirannya, bagaimana mungkin dia yang notabenenya adalah pacarku, tidak tahu jika aku tidak suka makan-makanan seperti ini, malah Elly yang orang baru lebih tahu, ini adalah pertanda buruk bagiku.

“Aku tidak suka teksturnya, bukan karena rasanya, rasanya berpasir itu membuatku tidak nyaman”, aku berusaha menjelaskan kepada Nita dan rekan-rekan yang lain mengapa aku tidak suka dengan masakan itu. Tapi sepertinya malah membuat Nita semakin marah, dia mencengkram kencang sendok yang sedang dia pegang, seperti sedang menahan amarahnya.

“Iya…iya… tadi Elly juga bilang seperti itu, katanya tekstur seperti pasir itu membuat lidahmu dan mulutmu tidak nyaman…”, sambung Boby masih tersenyum dan terkesima, dan tidak menyadari hawa membunuh yang terpancar dari Nita, perasaanku sudah tidak enak.

“Aku punya kenalan yang tipikalnya seperti Ko Teddy, jadi sebenarnya aku hanya menebaknya saja, dan ternyata benar…”, Elly tiba-tiba memberikan keterangan itu, sepertinya dia sadar Nita sedang marah, atau mungkin cemburu padanya yang lebih mengenalku. Nita lalu berdiri dan meninggalkan meja, menuju ke toilet, sepertinya dia sudah tidak tahan lagi dengan amarahnya.

Sepertinya aku akan ada dalam masalah besar malam ini, walau suasana disisi lain tetap ceria karena tidak menyadari perubahan sikap Nita,tapi aku merasa was-was.

“Sepertinya Nita menyukaimu, dan dia cemburu padaku” tiba-tiba Elly berbisik ketelingaku, lalu tertawa kecil dan mulai memakan pencuci mulutnya. Pencuci mulut yang membawa bencana ini bernama Danpatjuk.

Sejak Nita kembali dari toilet, Dia mengabaikanku, tapi dia bersikap biasa kepada semuanya, kecuali padaku, kecuali aku. Malam itu Nita sepertinya marah kepadaku, ketika pulang dia langsung saja pulan, saat ku chatpun tidak di balas olehnya, aku telpon pun tidak diangkat. Ambil positifnya, saat itu aku masih berdiri, dan belum dalam perjalanan menuju rumah sakit dalam ambulance.

***

Pukul 2300, aku berada di depan rumah Nita, mobilnya sudah terparkir dengan rapi, dan lampu dalam rumah semuanya telah padam, tinggal lampu pekarangan yang menyala. Aku mencoba menelponnya lagi, kali ini masih tidak di angkat. Jika dia masih terjaga, mungkin dia bisa mendengarkan suara motorku tadi saat baru tiba.

Aku mencoba menelponnya lagi, ini sudah kali ketiga, tapi belum ada jawaban. Tapi lampu ruang tamu rumah Nita tiba-tiba menyala, dan pintunya terbuka. Nita berdiri di depan pintu, menggunakan piyama tidur, yang terdiri dari kemeja dan celana panjang dengan motif kartun, tidak seksi sama sekali. Wajah polosnya tanpa make up, dan terlihat matanya sedikit sebam, apakah dia baru saja menangis?

Nita berjalan membukakan pagar rumahnya, dan memintaku memasukkan motorku dan parkir di depan mobilnya, kemudian dia menyuruhku masuk. Lalu dia menutup pintu dan menguncinya, lalu Nita merangkul lenganku dengan erat.

“Sorry Honey, how could that bitch even knew you better than me” <maaf sayang, bagaimana mungkin jalang itu lebih mengetahuimu daripada aku>, dia menyandarkan kepalanya pada bahuku dan menatap mataku.

“I should know you more!” dia mendorongku ke sofa dan kami berdua pun duduk di sana. Nita mengeceup bibirku dengan kasarnya, tidak biasanya Nita seperti ini, mungkin dia geram, mungkin dia marah, mungkin dia cemburu. Apakah harus kuberitahukan tentang Inggrid, aku sendiri merasa tidak yakin. Sebaiknya ku rahasiakan saja dulu, belum waktunya ku beritahukan kepada Nita mengenai Inggrid, begitu pun sebaliknya.

***

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part