web hit counter

Kerja atau Sex Part 19

0
268
Kerja atau Sex

Kerja atau Sex Part 19

Couple Exercise

Setelah sarapan, aku bersiap untuk pamit, kata Nita dia ingin menyiapkan pakaian Thaiboxingnya dan gearnya dulu, kemudian ke apartementku, jadi aku balik duluan ke apartementku. Tiba di apartment sekitar pukul 0900, yang pertamaku lakukan adalah, menyikat gigi, aku terbiasa untuk itu, sangat tidak nyaman sebenarnya sarapan tanpa menyikat gigi, tapi karena keadaan memaksa, jadi ya mau diapa lagi.

Aku lanjutkan dengan mandi, biar bersih ketika Nita tiba nanti tentunya. Aku mandi tidak butuh waktu lama, paling 10 menitan. Saat aku selesai dan keluar dari kamar mandi, aku hanya melilitkan handuk di pinggangku, dan ternyata Nita sudah ada di atas kasurku sambil bermain handphone.

Saat melihatku keluar Nita mengangkat handphonenya, dan flashnya berpijar, dia mengambil gambarku. Apapula Nita ini tiba-tiba mengambil fotoku, aku terkejut ketika Nita melakukan itu. Lalu dia berdiri dan menghampiriku dan mengecup bibirku, kedua tangannya berumpu di dadaku, ciumannya terasa lebut, dan manis. Saat aku hendak memeluknya, Nita melepaskan ciumannya dan mundur, dan kembali duduk di atas kasurku.

Nita hanya menggunakan kaos longgar berwarna abu-abu yang dipadukan dengan legging hitam, dan tanpa make up, rambutnya di ikat ekor kuda kebelakang, wajahnya yang polos dan natural tetap membuatnya terlihat cantik dan menawan. Nita tersenym dan menatapku, melihat tubuhku dengan nakal dan menggigit bibir bawahnya dengan manja.

“I like what I see Master”, sambil dia menggerakkan jari telunjuknya memanggilku ke arahnya. Aku yang sudah dari kemarin ingin menerkamnya, di undang seperti ini jelas saja langsung menerkam. Aku langsung mengecup bibir Nita, bukan melumat bibir Nita tepatnya, ku peluk dia dan ku baringkan ke atas ranjangku. Bibir kami terpaut, lidah kami saling bersentuhan, kuhisap lembut lidahnya, begitu juga dengan Nita. Lidah kami saling bertautan, saling membelai, saling bertukar saliva.

“Tuan tidak memerlukan ini lagi”, sambil tangannya menarik handukku lepas dari tubuhku dan melemparnya entah kemana. Aku tidak mempedulikannya, aku kembali melanjutkan ciuman ku di bibir Nita. Nita meremas bokongku, membuatku sedikit terkejut, aku agak salah tingkah, tapi aku tidak mau kalah darinya. Aku menyelipkan tangaku ke dadanya, mulai meremas payudaranya dengan pelan, dia menggunakan sport bra (buat yang tidak tahu, nanti coba sendiri, kerasa kok bedanya sport bra dan bra biasa). Di balik branya, putingnya telah menegang dan sangat mudah untukku menemukannya, aku memainkan jariku di sekitarnya dan sesekali menyentuh ujung putingnya.

Nita mulai terbuai, sepertinya nafsunya sudah naik, desahannya sudah melai terdengar walau bibir kami tetap berautan. Tanggnya mengelus seluruh punggungku, berkeliaran mengusapnya, tangannya yang halus terasa hangat di punggungku yang masih dingin karena mandi. Ciuman kami semakin panas, hisapan, gigitan dan permainan lidah yang mulai meliar.

Tangan kananku ku letakkan di tengkuknya, menopang lehernya, dan lengan kiriku berupaya menyup kedalam kaosnya. Lenganku berusaha mencari putingnya dari balik sport branya, aku meremas payudaranya, memilin putingnya sambil mengemut bibir Nita dengan semangat.

Tangan Nita meraih tangan kananku, dia menggeser tanganku lain ke kepalanya, ke rambutnya, lalu meremas tanganku, Nita memberikanku tanda, dia ingin Aku menjambak rambutnya, dan itu yang ku lakukan, ku jambak rambutnya dan ku tarik belekang, membuatnya mendesah halus, dan tetap ku lumat bibirnya. Ciuman kami menjadi semakin panas, semakin tidak karuan.

Tanganku mulai berupaya melepaskan kaos Nita, Nita sedikit membantuku dengan sedikit mengangka tubuhnya agar kaosnya dengan mudah dapat ku selip keluar dari pungguungnya. Dengan sedikit usaha akhirnya kaosnya terlepas. AKu kembali menjambak rambut Nita, membuat kepalanya menengadah. Aku mengalihkan kecupanku dari bibir ke lehernya, mengikuti lekuk lehernya yang jenjang, setiap sudutnya ku kecup dan ku cium.

Perlahan lagi aku turun hingga ke gundukan payudaranya yang masih tertutup sport bra berwarna hitam, dadanya ter push ke tengah karena pengaruh sport bra, jadi lebih menggunung di tengah. Aku mulai mengucup dan menjilati gundukan itu, perlahan-lahan, kuberikan sedikit hisapan keras di sana, meninggalkan sedikit bercak kemerahan di sana. Sembari itu, Nita terus mengeluarkan suara-suara desahan halus dari bibirnya.

Nita memegangi kepalaku dan membenamkan wajahku di antara belahan dadanya, rasanya begitu lembut dan empuk. Tanganku mulai bergerilya ke pinggulnya meraih bokongnya yang sekal dan meremas-remasnya dengan lembut, lidahku terus menelusuri gundukan payudara Nita dengan lembut.

Aku berusaha menair leggingnya dari pinggulnya (pernah membumbuka legging?), walau ketat sangat mudah tertarik turun, dan langsung saja mengekspose paha Nita yang putih dan bersih, begitu pula dengan celana dalam sport berwarna hitam, mungkin agar senada dengan leggingnya.

Aku menarik pergelangan kaki Nita ke atas, dan menariknya ke pinggir ranjang, membuat tubuhnya terlipat, membuat Dia terkejut, dan menjerit kecil. Sambil tetap memegangi pergelangan kakinya Kini gundukan vaginanya terlihat jelas dari balik celana dalamnya, terpampang jelas di hadapanku.

Tubuh Nita menjadi sulit bergerak, kedua lengannya di letakkan di samping tubuhnya berusaha menopang tubuhnya, karena kini lututnya telah mengenai payudaranya dan pinggulnya sedikit terangkat dari kasur. Belum lagi kakinya yang terhalang oleh legging yang baru turun hingga pahanya, membuat tubuhnya semakin sulit bergerak, tentu saja hal ini membuatku bisa memanfaatkan kesempatan ini dengan baik.

Aku memindahkan tangan ku pahanya, tetap menekan turun ke tubuh Nita, dan aku perlahan mendekatkan wajah ku ke gundudukan yang masih tertutup celana dalam. Aku menghembuskan nafasku (hembusya, bukan di tiup) ke arahnya, membuat tubuh Nita sedikit menggeliat, mungkin karena hangatnya nafasku memberikan sensasi tersendiri. Lalu ku kecup dengan bibirku, sengaja ku buat lebih basah, agar rasa hangat itu menembus celana dalamnya. Ciuman ku berubah menjadi jilatan-jilatan dari luar celana dalam Nita membuatnya semakin menggeliat, tapi karena posisinya dia tidak dapat berbuat banyak.

“Ah… Ah… Tuan…”, Nita mulai merancau dan berusaha melepaskan dirinya, tapi aku berusaha menahannya dengan kedua tanganku. Sesekali aku beralih ke pahanya yang mulus, memberikan sedikit jilatan dan liur di sana, membuatnya kegelian dan berusaha melepaskan diri.

“Jangan Tuan… Tuan jangan di bawah…”, Nita merancuh, memang dia tidak senang jika aku yang menjilatinya, yang melayaninya, tapi lain di mulut lain di vaginanya. Walau bibir Nita berkata tidak, tapi vaginanya semakin basah dan hangat, aroma kewanitaannya semakin tercium olehku, pinggulnya bergerak mengikuti iramaku, tubuhnya menikmatinya.

Melihat Nita yang semakin menikmati dan terbuai, aku mulai menarik celana dalamnya, entah di bilang naik atau turun, karena kakinya sedang di atas, intinya celana dalam itu aku geser hingga ke lututnya, sehingga kini legging dan celana dalamnya bertumpuk, membuat kakinya semakin sulit bergerak.

Kini vaginanya telah terlihat dengan jelas di hadapanku, celah kecil yang indah itu, dengan aroma khasnya, langsung saja ku lumat lagi dengan bibirku, ku selipkan lidahku kedalamnya, menyusuri rongganya, mencari spot yang membuat Nita menggeliat. Dan berhasil, tubuh Nita menggeliat hebat dan tangannya mencengkram dengan erat di kasurku.

“Ah… Tuan… Ted…”, Nita merancuh menggeliat, berusaha lepas dariku, tapi aku berusaha tetap menahan tubuhnya. Aku tetap memegangi pahanya dan menekan tubuhnya turun. Aku tetap memainkan lidahku di vagina Nita, dan sudah terasa sangat lembab dan hangat di sana, pertahanan Nita sepertinya sebentar lagi akan bobol.

Benar, tidak lama berselang, tubuh Nita menggeliat kencang, dan terdengar desahan keras darinya. Vaginanya berkedut dan terasa cairan cintanya membasahi lidahku, rasa ini, sensasi di lidah ini memberikan kenikmatan tersendiri bagiku.

“Ah… Ted…” Nita berusaha mengatur nafasnya setelah orgasmenya. Aku kemudian melepaskan peganganku, membiarkan kakinya turun. Nita terbaring setengah tubuhnya berada di atas kasur, dan kakinya menyentuh lantai. Nita menutup wajahnya dengan lengannya, masih berusaha mengatur nafasnya.

“Ted, kamu bikin lemes…”, kata Nita lemah, melihatnya seperti itu aku berbaring di sampingnya.

“Kamu sih, gemesin”, sambil ku usap perutnya yang bidang dan ku kecup pundaknya. Nita lalu menyingkirkan lengannya dan menatapku. Tatapannya sayu dan manja, dan Nita perlahan memiringkan tubuhnya, dan kami berciuman.

“Tuan belum keluar”, tiba-tiba Nita menggenggam penisku dan memilin jarinya di kepala penisku, membuatku terkejut, dan sedikit menarik pinggulku. Nita hanya tersenyum melihatku terkejut. Nita kemudian berdiri dan melepaskan legging dan celana dalamnya, kini dia telah bottomless, tinggal mengenakkan sportbranya saja.

Nita kemudian menindihku, mengecup bibirku dengan lembut, dan kami berciuman mesrah, perlahan lidah kami bermain dan menari. Nita kemudian berpindah, mulai mencium leherku, dan sesekali menjilatinya. Lalu perlahan lagi Nita turun menuju arah dadaku, dan dia mulai menjilati pentilku, rasanya geli-geli gimana gitu, membuat tubuhku sedikit menggeliat. Tapi Nita tidak menyadarinya, dia mulai turun lagi keperutku, mengecup dan menjilatinya, dan dia memainkan lidahnya di pusarku sejenak, Sembari tangannya menyurusi tubuhku juga memberikan rasa hangat dari tangannya.

Kini Nita telah berlutut tepat di hadapan Penisku yang sudah menegang dari tadi. Tanpa menggunakan tangannya, Nita mulai menjilat kepala penisku, memutar-mutar lidahnya di sana. Menjilati seluruh batang penisku, kiri dan kanan, terasa lidahnya yang hangat menyapu seluruh permukaan penisku, memberikan kenikmatan yang luar biasa.

Nita beralih ku kantung zakarku dan memainkan bijiku dengan lidahnya menaik turunkan memutar mutarnya, sensasi luar biasa juga, sesekali dia menghisap bijinya dengan lembut kadang juga sedikit keras, membuatku sedikit meringis menahan rasa perihnya.

Nita menatapku dari balik penisku, memberikanku senyuman yang manis, sambil dia mulai menjilati batang penisku lagi. Naik dan turun, perlahan menyapu seluruh penisku dan kepalanya. Dan tanpa aba-aba Nita langsung memasukkan penisku kedalam mulutnya, Nita berusaha memasukkan sebanyak mungkin penisku kedalam mulutnya, walau dengan susah payah, dia berhasil memasukkan lebih dari setengah penisku kedalam mulutya.

Nita berhenti sejenak, mengatur nafasnya dan perlahan mulai menaik turunkan kepalanya membuat penisku keluar masuk dari mulutnya. Rasa hangat dan basah dari mulut nita memberikan rasa nikmat dan hangat. Nita terus bergerak menaik turunkan kepalanya, mengulum penisku dengan buasnya, sesekali dia lepaskan dan kembali menjilat penisku dan melanjutkan dengan berusaha membenamkan penisku semakin dalam kedalam mulutnya.

Nitapun kesulitan menahan liurnya, sehingga mulai mengalir membasahi selangkanganku. Aku hanya bisa menatap Nita yang sedang memberikanku pelayanan maksimalnya, dia berusaha untuk memuaskanku, beberapa kali terlihat dia seperti akan muntah, tapi dia menahannya dan melanjutkan kulumannya ke penisku.

Hampir 15 menit sepertinya Nita terus bergulat dengan penisku, tapi tidak ada ciri-ciri aku akan keluar, lalu aku bangkit dari dudukku, membuat Nita terkejut dan melepaskan penisku dan kulumannya.

“Kenapa Tuan?” dia hearn menatapku, dan menyingkirkan tubuhnya karena aku sekarang berdiri. Tanpa menjawabnya kutarik tubuhnya berdiri, dan kemudian menarik sportbranya lepas dari tubuhnya dan akhirnya kami berdua benar-benar tidak tertutup sehelai benangpun.

Akhirnya aku bisa lagi melihat tubuh polos Nita, aku mendekapnya, kurasakan sensasi yang berbeda ketika kulit kami bersentuhan, rasa hangat, rasa dekat ini tidak ingin kulepaskan rasanya.

“I love you”, ku bisikkan ke telinga Nita, dan pelukannya semakin erat. Aku mendekapnnya juga semakin erat, rasanya ingin melebur menjadi satu bersama dengan Nita. Perasaan ini begitu bahagia bisa bersamanya, tidak ingin ada yang mengganggu kami, tidak ada yang memisahkan kami.

“I love you too Ted”, Nita menatapku dan mengecup bibirku, dan bertaulah bibirkami, saling merasakan kehangatan tubuh kami berdua, saling merasakan kedekatan ini, indahnya rasanya.

“Kamu membuatku merasa menjadi wanita seutuhnya Ted, membuatku merasa memerlukan sandaran, memerlukan lelaki”, sambil dia menyandarkan kepalanya di pundakku. Ku usap lembut rambutnya dan ku kecup keningnya.

“Aku wanitamu Ted, aku pelayanmu, aku menyerahkan seluruh hati, jiwa dan ragaku padamu Ted”, Nita menatapku, tatapannya begitu tulus, suaranya begitu lembut, aku terhayut mendengar perkataan itu.

“Nita, akan ku jaga dirimu akan kulindungi dirimu, tidak akan kulepaskan!”, lalu aku mengecup bibirnya dengan lembut, kami kembali berciuman mesrah, rasanya sangat intim, menyatukan kami berdua.

Nita lalu melepaskan ciuman kami, dia membalikkan tubuhnya ke kasur, dan membuka kedua kakinya cukup lebar dan meletakkan kedua tangannya di atas kasur, sehingga kini posisinya menekuk ke kasur, dan dia menganggak bokongnya sedikit menungging ke arahku.

“Tuan, Aku milik mu sepenuhnya, pakailah aku sesuai kehendakmu”, dengan senyuman manis di wajahnya, dia mempertontonkan bokongnya dan vaginanya kepadaku. Terpampang seperti itu di hadapanku membuat perasaan yang luar biasa, rasa nafsu dan bangga pada diriku bahwa aku bisa memiliki Nita seutuhnya, dan bisa menikmati tubhunya, sungguh beruntung diriku ini.

Aku menggenggam pinggulnya, memposisikan diriku tepat di belakangnya, ku arahkan penisku menuju lubang sorgawinya.

“Nita, I’m going in”, perlahan ku tekan penisku memasuki vaginanya, dindin vaginanya mulai menegang dan mencengkram penisku, tubuhnya menegang, tapi aku gerakkan dengan perlan agar tidak membuat Nita terkejut.

Aku telah berhasil membenamkan seluruh penisku kedalam vagina Nita, aku merasakan kedutan di dalam sana, terasa hangat dan berlendir, terasa begitu nikmat walau hanya berdiam di dalamnya. Kedua tanganku kini memegangi pinggulnya, dan dalam posisi siap untuk menggarap Nita dengan tenaga penuh. Perlahan aku mulai menggerakkan pinggulku maju mundur dan kedua tanganku menahan tubuh Nita tetap di tempatnya.

“Ah… ah… ah…”, setiap hentakanku di iringi dengan suara desahan Nita, setiap keluar masuk penisku bersama dengan bunyi tepukan bokongnya ke pahaku, suara sautan Nita pun mengikuti. Perlahan ku naikkan ritmenya, semakin cepat dan semakin cepat.

Kini tidak ada lagi ritme dalam desahan Nita, hanya ada rancau dan suara eluhan bersambungan, gerakanku semakin kupercepat. Kini tubuh Nita semakin terdorong kedepan, kaki kanannya kini dia naikkan ke atas kasur, dan kaki kirinya yang sudah melemah kini bersandar di sisi tempat tidur, lengannya yang tadi menopang tubuhnya kini sudah bertumpu pada sikunya. Wajahnya sudah bersandar pada kasurku, dan Nita hanya bisa memejamkan matanya.

Suara Nita semakin lirih dalam setiap hentakanku, kini kedua kakinya sudah berlutut di atas kasur, dan menganggakang lebar untukku. Aku juga sudah semakin maju dan merapat ke tempat tidur. Tubuh Nita sudah terjerembab ke depan, hanya bokongnya saja yang terangkat membiarkan vaginanya menerima setiap hujaman penisku. Bahunya telah tersungkur ke kasur, wajahnya sudah semakin terbenam, bahkan Nita tidak sanggup lagi menahan liurnya yang telah mulai mengalir membasahi permukaan kasur.

Nita sudah semakin terlena dalam hujaman, dan hujamanku, seperti terhipnotis kedalam kepuasan seksualnya, dia tidak lagi sadar, hanya menikmati tiap sodokanku. Ku raih kedua tangan Nita yang kini tidak berdaya, ku tarik keduanya kebelakang. Dengan itu membuat seluruh tubuh bagian depannya terangkat dari kasur, ku tarik dengan kencang, kini topangan tubuh Nita berada di lututnya dan vaginanya yang terus ku rajam.

Kupercepat gerakanku, semakin kencang semakin keras, tubuh Nita bergetar setiap sodokanku masuk ke dalam tubuhnya, desahan-demi desahan terus keluar dari bibirnya, tubuhnya begitu pasrah ku gunakan. Terasa vaginanya semakin becek dan semakin hangat, bunyi bokongnya yang bulat semakin keras dan bergemah di kamarku.

“Ah… ah… Tuan… sudah mau…”, tanpa bisa menyelesaikan kalimatnya tubuhnya mengejang dan terasa cengkraman dalam vagina Nita dan bokongnya juga ikut berkedut, Nita telah orgasme lagi. Aku berhenti sejenak dari gerakanku, membiarkannya menikmati orgasmenya.

Saat tubuh Nita sudah berhenti berkedut, dan melemas, aku kembali melancarkan aksiku, aku kembali menggerakkan pinggulku maju mundur, dan menghentakkan penisku kedalam vaginanya sekamin keras dan cepat.

“Ah… ah… ah… Tuan… Ampun…”, aku terus menggerakkan dengan cepat, aku sangat menikmati ketika Nita memohon ampun padaku, apakah karena Egoku, entahlah, tapi ada kepuasan tersendiri bagiku. Tanpa mempedulikan rengekannya aku terus menyodok- dan menyodok.

“Ah… ah… ah…”, Nita hanya bisa mendesah panjang ketika tubuhnya kembali mengejang dengan kencang, dan rasa hangat itu membasahi daerah selangkangan dan pangkal pahaku, kali ini Nita squirt.

Nita sudah semakin lemas dan tidak berdaya, melihatnya aku menjadi iba. Ku lepaskan lengannya perlahan menurunkan tubuhnya ke atas kasur, membaringkannya, membiarkan penisku lepas dari vaginanya yang sudah banjir.

Aku membopongnya dan membaringkannya dengan benar di atas kasurku, sebanarnya aku ingin membiarkannya istirahat, tapi melihat wajahnya yang polos tanpa make up dan rambutnya yang acak-acakan serta tubuh telanjangnya membuatku bernafsu.

Aku lalu melumat putting Nita yang lembut dan pink, Nita hanya bisa pasrah karena masih tidak bertenaga, tubuhnya masih lemas. Nita hanya bisa menikmatinya, dan mendesah halus. Pasrah dan tak berdaya, Nita hanya bisa memejamkan matanya.

Aku lalu melebarkan pahanya, membuka kembali lubang surganya, dan bersiap memasukkan penisku. Seketika kuhujamkan masuk dengan kasar, pinggul Nita terangkat menyambut penisku.

“Ah…”, dia mendesah kecil ketika penisku masuk seluruhnya, ku diamkan sejenak, lalu mulai ku pompa vaginanya. Kuhujamkan semakin cepat kedalam vaginanya, Nita semakin merancuh, tiba-tiba tangannya meraih leherku, dilingkarkannya dan dia menarikku turun, bibir kami terpaut dan saling memberikan kehangatan.

Tubuh kami yang sudah dari tadi dipenuhi peluh saling bergesekan, rasa hangat ini, intensitas ini, sungguh perasaan yang luar biasa.

Dalam dekapan Nita, pinggulku terus naik turun, membuat penisku dengan intens bergerak dalam vagina Nita. Dalam ciuman kamipun suara desahan Nita masih terselip, kini rangkulan Nita berubah menjadi cengkraman di punggungku.

Rasanya nafsuku semakin naik ke ubun-ubun, ciuman ku ke tubuh Nita semakin ganas, kemana-mana, lidah kami terus bermain, Nita pun semakin liar, kakinya kini lengkar di pinggulku membuat bokongnya terangkat dari kasur membuat setiap hentakanku semakin dalam kedalam vaginanya. Semakin cepat permainan kami, semakin keras hentakanku.

“Ah…” Nita melepaskan ciuman ku dan mendesah panjang, matanya terpejam dan cengkraman kakinya semakin kencang padaku, membenamkan penisku dalam ke vaginanya, terasa kedutan dalam sana, terasa cairan membasahi penisku, Nita orgasme lagi. Aku tidak mempedulikan Nita sekarang aku sudah di ujung kenikmatanku, aku tidakakan memperlambat gerakanku.

Sedikit lagi aku akan orgasme, tapi rasanya tubuhku tidak ingin berhenti bergerak, rasa nikmat ini, aku malah semakin mempercepat gerakanku. Kudekap Nita semakin kencang, ku hujamkan penisku semakin dalam dan ku biarkan di sana. Terasa semburan hangat yang tidak tertahankan menyembur keluar dari penisku, aku mencapai orgasme. Entah berapa kali semburan ku tumpahkan kedalam vagina Nita, rasanya penuh oleh spermaku.

Kami berpelukan dalam sisa sisa kenikmatan kami, kedutan dalam vagina Nita masih rasa memijat penisku. Ku kecup kening Nita, lalu kemudan bibirnya, ku tatap matanya yang sayu terbuai dalam kenikmatan dunia ini.

“I love you Nita”, terucap dari bibirku, lalu ku cabut perlahan penisku dari vagina Nita, terdengar bunyi plok, dan aku melihat ke bawah, terlihat penisku yang sudah mengecil dan basah kuyup, berwarna keputihan karena bercak spermaku.

“I love you Ted”, Nita membalasku dan mencium bibirku, dan aku rebahkan tubuhku ke sampin Nita.

“Ted, banyak sekali sampai tumpah”, sambil Nita mengusap vaginannya, sambil tersenyum dan memperlihatkannya padaku, spermaku membanjiri vaginanya.

Aku mengecup pipi Nita, aku hanya bisa tersenyum dan Nita pun merangkulku, kami saling merangkul. Dalam benakku saat ini, jika Nita harus hamil karena perbuatanku aku pasti akan menikahinya, hidupku sekarang sudah cukup stabil dan mapan, tanpa bantuan keluargakupun harusnya aku bisa membiayai keluarga kecilku nantinya.

Tidak lama, tedengar suara dengkuran halus dari Nita, mungkin karena kelelahan Nita telah tertidur dalam pelukanku. Aku pun tidak lama kemudian tertidur memeluk Nita, dalam dekapanku.

***

Aku terbangun dari tidurku, namun aku tidak menemukan Nita di sisiku, dia sudah beranjak dari ranjangku. Tubuhku telah tertutup selimut, sepertinya Nita yang telah menutupi tubuh telanjangku dengan selimut. Terdengar suara pan dari luar kamarku, sepertinya Nita sedang memasak, aku memperhatikan jam, sekarang sudah pukul 1330. Pantas saja perutku sekarang terasa lapar.

Aku mengenakkan celana pendek lalu keluar dari kamarku, benar saja Nita sedang memasak. Yang membuatku tercengang adalah dia menggunakan kemeja kerjaku yang belum sempat ku cuci.

“Sudah bangun Tuan”, sambil menatapku dan tetap melanjutkkan masaknya, aku berajalan menuju arahnya dan melihat apa yang dia masak. Kulihat ada beberapa kantong plastik dan beberapa sayuran yang bukan berasal dari kulkasku, sepertinya Nita membawanya saat dia datang tadi. Nita saat ini sedang memasak cap cay udang, dan sepertinya sudah akan selesai.

“Kamu terlihat cantik ketika sedang memasak Nita”, aku memujinya sambil tersenyum, dan ini bukan gombalan, karena Nita terlihat cantik ketika dia memasak, sambutnya yang terurai melewati sisi bahunya dan wajahnya yang manis ketika sedang memasak, itu yang membuatnya terlihat cantik bagiku.

“Bilang saja mau di masakkan terus”, sambil tersenyum kepadaku dan dia mulai menyiapkan piring untuk mengangkat masakannya.

“Serius Nita, kamu cantik”, sambil merangkul pinggulnya yang hanya terbungkus oleh kemejaku, benar dugaanku, Nita masih belum menggunakan celana dalam, apalagi bra, pasti tidak. Nita hanya bisa tersipu malu dan membawa masakannya dan meletekkannya di atas meja.

Aku lalu merangkulnya dan mengecup bibirnya dengan lembut.

“Apa sih Tuan, aku nanti tambah lemes”, sambil mencubit lengan ku dengan manja.

“Aku masih harus latihan sebentar”, sambil Nita melepaskan diri dari pelukanku, dan dia mulai mengambil nasi yang sudah dia siapkan di rice cooker. Iya benar juga, har ini adalah jadwal latihannya, nanti malah dia tidak bisa latihan. Atau biar dia “latihan” bersama ku saja disini.

“Kegiatan kita juga sebenarnya membakar cukup banyak kalori loh”, sambil aku memeluk Nita dari belakang. Nita lalu meletakkan piring di meja dan berbalik menghadap padaku dan menatapku.

“Kalau Tuan memerintahkanku aku akan mematuhinya”, dengan wajah imutnya dan suara majanya Nita menunggu perintah dariku. Membayangkannya saja membuatku kembali bernafsu.

“Nita, kita makan dulu, kamu sudah masak masakan enak, selanjutnya tunggu perintahku sayang”, sambil mengecup bibir Nita. Lalu Nita melepaskan pelukanku, dan menganggkat ujung-ujung kemeja yang dia kenakkan dan menunduk seperti pelayan eropa.

“Siap Tuan”, gerakan menunduk dan mengangkat kemeja itu membuat vaginanya terlihat olehku, sepertinya Nita sengaja melakukan itu, kemudian dia tersenyum nakal padaku dan langsung mengambil posisi duduk untuk makan. Akupun duduk makan bersama Nita, masakan Nita benar-benar enak, mungkin karena dia juga sudah semakin sering memasak untukku.

Akhirnya sambil makan kami mengobrol, Nita sebenarnya ingin menggunakan chocker tadi, tapi ternyata dia lupa membawanya saat akan berangkat, karena dia berganti tas. Mungkin aku perlu menyediakan satu lagi di apartementku, kali saja perlu. Nanti malam mungkin akan langsung ku pesan online.

Dan kamipun selesai makan, aku dan Nita mencuci piring makan kami di dapur, dan semua sudah beres sekarang, dan sudah pukul 1400 juga, Nita harus tiba di tempat latihannya 1500. Aku masih ragu apakah aku akan menggarap Nita atau membiarkannya latihan.

Tapi karena dia sudah membawa perlengkapan latihannya, dan semuanya juga sudah dia siapkan yah biarlah dia pergi latihan hari ini, tapi sebelumnya…

“Nita, kamu pergi saja latihan hari ini”, kataku pada Nita sambil menatapnya, terlihat dia sedikit kecewa atau mungkin bingung.

“Yakin Tuan membiarkanku pergi?”, sambil memainkan ujung kemejaku yang dia pilin pilin dengan kedua tangannya.

“Iya sayang, tapi sebelum berangkat ayo mandi dulu”, sambil aku menarik tangan Nita menuju kamar mandi dalam kamarku.

Aku lalu dengan cekatan melucuti kemeja dari tubuh Nita, kini Nita sudah bertelanjang bulat di hadapanku, akupun langsung melepaskan celanaku. Aku mengecup bibir Nita dan menyalakan shower air panas. Tubuh kami pun terguyur dari kepala hingga kaki, rasa hangat air memberikan rasa relax pada tubuh kami, rasa letih dari pergumulan tadi langsung luntur bersama air.

Dalam guyuran air aku memeluk Nita dan mengecup bibirnya, sambil ku remas bokongnya yang molek. Saat itu juga Nita meraih penisku yang sudah menegang dan menggerakkannya naik dan turun. Sebelum nafsuku naik aku membalik tubuh Nita membelakangi ku, tapi sebenarnya tetap saja bokongnya yang semok membuat ku bernafsu.

Aku mengambil shampo untuk mencuci rambut Nita, perlahanku pijat kepalanya, dan dia menikmatinya, (kadang hal kecil seperti ini tanpa hubungan seksual pun membawa kesenangan tersendiri). Sambil ku pijit perlahan kepalanya dan Nita menikmatinya. Sekarang waktunya aku menyabuni tubuhnya, aku mengambil sabun cair dan menuangkannya ke tanganku, lalu perlahan ku usapkan keseluruh tubuhnya, perlahan ke setiap sudut tubuhnya.

Ku usap dengan lembut agar menghasilkan busa, ku usap dari pundaknya, turun ke punggungnya, beralih ke perut nita yang rata, kemudian naik ke payudaranya yang molek, ku usap berputar, mengelilingi dengan sedikit remasan lembut disana. Sambil terus berputar dan meremas dengan lembut sesekali aku mainkan puting Nita dengan jariku. Bibir kami sesekali saling berciuman dalam mandi kami.

Beralih dari payudara Nita, aku mulai menyabuni lengan Nita dari pundak turun hingga telapak tangannya, kemudian beralih ke pinggulnya yang aduhai, sambil menyabuni paha nya yang mulus, dan kakinya, aku kembali ke bokong Nita, bokong montok itu aku usap dengan lembut dan tentunya juga ku remas-remas. Ada sensasi tersendiri dari rasa kenyal dan licin dari bokong Nita ketika ku sabuni.

Untuk daerah ke wanitaan Nita, aku tidak banyak berkeliaran di sana, karena daerah wanita tidak boleh terlalu banyak kena sabun, karena dapat menyebabkan iritasi dan sabun biasa tidak cocok untuk daerah kewanitaan katanya dapat menyebabkan perubahan p.h..

Akhirnya ku guyur tubuh Nita dengan shower ku, hingga seluruh tubuhnya bersih dari sabun, Nita berputar-putar sambil mengangkat kedua tangannya saat aku sedang mengusap tubuhnya dan membersihkan sabun dari tubuhnya, dia terlihat menggemaskan ketika melakukan itu.

Sekarang giliran Nit ayang menyabuni tubuhku, dia mengambil sabun dengan tangannya lalu perlahan mengusapkannya juga keseluruh tubuhku. Mulai dari pundakku, dadaku, punggu, kedua lenganku paha dan kaki, dan bokongku, dan Nita membalas perbuatanku tadi, dia juga menyempatkan diri meremas bokongku, membuatku sedikit risih sebenarnya, tapi ada sensasi tersendiri. Kemudian dia beralih ke penisku, dan mulai menyabuninya sambil menaik turunkannya, tentu saja dari tadi penisku masih berdiri dari awal mandi hingga sekarang.

Kini Nita mengguyur tubuhku dengan air, dan membersihkan sisa sabun dari tubuhku, dari setiap lekuk tubuhku. Kini sabun itu sudah bersih, tapi dia masih tetap mengguyur tubuhku, terutama bagian penisku.

“Cool it off honey (dinginkan dia sayang)”, sambil tersenyum sambil menyiram penisku. Aku lalu langsung memeluk Nita dan meremas payudaranya, dengan lembut dengan sedikit cubitan kecil.

“Gimana bisa dingin sayang, kalau ada ini”, kemudian aku sedikit membungkukkan badanku dan melumat payudara Nita dengan buas, dan mengecupnya dengan keras menyebabkan putingnya memerah dan mengeluarkan bunyi, Nita pun memekik kecil karena kelakuanku itu, lalu kamipun tertawa bersama.

Aku kemudian keluar mengambil handuk, dan masuk kembali ke kamar mandi, rasanya cukup dingin tadi di luar sehingga aku harus berlari-lari kecil. Aku kemudian mengelap sekujur tubuh Nita, dan juga mengelap tubuhku tentunya, kemudian Nita lalu mengambil alih handuk untuk mengelap rambutnya yang basah. Tentunya lebih sulit dikeringkan karena rambutnya yang panjang.

Setelah kami selesai, Nita membungkus rambutnya dengan handukku, dan berjalan ke kamar masih dalam keadaan tidak berpakaian, dan mulai mencari pakaiannya yang berserakan tadi. Saat Nita membungkuk mengambil pakaian aku masih sempat mencubit kecil bokongnya, dan Nita terkejut, tapi bukannya berdiri dia malah menggodaku.

“Tuan tidak mau lagi?”, sambil Nita menggoyang-goyangkan pinggulnya kekiri dan kekanan.

“Ayo berangkat latihan, hari ini aku temani sayang”, sambil aku remas pantat Nita.

“Serius! Kamu mau temani aku latihan?”, Nita langsung menegakkan badannya dan menghadap kepadaku dengan senyum yang ceria sekali di wajahnya. Aku tidak menjawabnya aku hanya mengangguk dan mulai mencari pakaian ku dilemari.

Nita kini sudah berpakaian seperti saat dia datang tadi kaos longgar berwarna abu-abunya dan legging hitam sudah melekat ditubuhnya kembali. Aku sendiri menggukana kaos sweater yang longgar dan celana training, rasanya sangat senang menggunakan pakaian non-formal dan super-casual di saat libur seperti ini, dan tidak berbekal tas, aku menitipkan dompet dan handphoneku di tas Nita tentunya.

Olahraga kami di apartementku sudah selesai selanjutnya olahraga di sasana Thaiboxing, tentunya kedua hal ini pastinya membakar kalori kami berdua.
***

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part