web hit counter

Kerja atau Sex Part 4

0
239
Kerja atau Sex

Kerja atau Sex Part 4

Awkwardness

Rasanya hatiku berbunga setelah kemarin malam, rasanya setelah terpendam keinginan ini setelah sekian lama. Nita dan saya menjadi lebih dekat, tapi yang tetap menjadi masalah adalah si Dody. Bagaimana ya seharusnya saya bersikap, sebagai seorang pria tentu saja saya senang bisa bersama dengan Nita, tapi sebagai pria juga saya merasa bersalah kepada Dody. Ini adalah sebuah perselingkuhan, yang pasti akan melukai dia. Apa yang terjadi jika Dody kembali ke kota, apakah Nita masih memilihku? Kalau seperti ini terus, jadi seperti lagunya Iwan Fals “Aku Bukan Pilihan”.

Saya sebagai seorang pria, tentu saja tidak ingin merebut Nita dari Dody. Di mana kehormatanku sebagai seorang lelaki, merebut seorang gadis dari seorang pria yang sedang merantau dan mencari nafkah untuk menikahi gadis pujaannya, dan di sini saya merebutnya. Cowok brengsek macam apa saya ini.

Sembari membereskan pekerjaan rumahku, terus saja berkutat pikiran itu, saya berusaha mengalihakan semuanya. Ya seperti lelaki lajang perantau pada umumnya, harus membereskan apartement kecilku ini, mesti nyuci baju, menyetrika, vacum karpet, ngecek stok di kulkas, dan belanja mingguan, ya tidak bisa belanja bulanan karena kulkasku kecil, mau kulkas gedepun apartement ngak muat.

Akhirnya sudah Senin, seperti hari kerja lainnya, saya memang selalu datang awal. Pukul 07:00 sudah ada di kantor, karena biasanya memang 7:30 kami sudah harus breafing dengan internal tim kami, apakah ada yang harus diselesaikan hari ini, atau ada isu-isu urgen apa yang perlu dikerjakan, kemudian 7:45 dengan pihak lain, biasanya dari backoffice atau marketing tergantung kebutuhan mereka. Jadi saya datang selalu lebih awal.

Tidak lama pak Stanly sudah muncul, dengan wajah sumringah, motonya itu harus mengawali pagi dengan ceria dan semangat, baru bisa melewati hari dengan ceria juga, walaupun prinsip itu tidak selalu berhasil dia terapkan, kadang dia ngamuk juga di tengah hari. Kemudian Nita juga sudah muncul, dia terenyum manis ketika melihatku.

Cubicalku berhadapan dengan pintu, paling ujung dari susunan meja, disampingku ada Nita, dan cubical depanku kosong. Jadi semua orang yang masuk pasti akan melihatku.

Senyuman Nita manis sekali, tapi ketika kusapa, suaranya tidak seperti Nita yang Sabtu lalu berkencan denganku, suaranya ini Nita yang biasaku dengarkan di Kantor. Nita seorang wanita tangguh. Saya mulai merasa apakah dia bipolar, atau mungkin berkepribadian ganda. Hari ini Nita menggunakan kemeja putih berenda dilehernya, terlihan menawan, dan rok putih yang ngepas, dengan blazer biru tua yang kontras dengan bajunya.

Dan akhirnya Hans dan Frank datang, dengan waktu yang ngepas atau boleh dibilang nyaris. Kami mulai dengan brefing simple dan cepat karena belum ada kerjaan yang signifikan buat kami, hanya memperhatikan beberapa isu dari tahun lalu, seperti kecepatan kerja kami, dan kadang sifat kami yang tidak berkompromi dengan marketing. Lebih diberikan solusi jangan asal langsung di bakar berkasnya, eh bukan di tolak berkasnya.

Pertemuan dengan pihak marketing dan backoffice hanya sekedar mengucapkan selamat tahun baru dan tidak ada kerjaan, hanya ngelindur liburan kemana, kemana saja, apa target tahun 2015 ini, ya basa basilah. Saya tahu kok, marketing paling ngak senang sama tim kami dan analis kredit, tapi mau gimana lagi mereka butuh kami (evil laugh inside).

Hari ini ada beberapa berkas yang sudah masuk, ya lumayanlah marketing buka tahun dengan berkas bagus, biasanya ini pertanda bagus. Jadi adalah jatah kerjaku dan kerja Nita, sedangkan si Hans dan Frank belum kebagian, Pak Stanly lebih mengutamakan kami berdua, karena katanya masih muda butuh pengalaman lebih jadinya diberi kesempatan lebih. Ya benar juga sih, biar kami bisa belajar lebih.

Sudah jam makan siang, seperti biasanya saya selalu membawa bekalku sendiri. Nita juga sering membawa bekal, kadang ada kadang tidaklah. Hari ini Nita membawa bekalnya sendiri, tapi sepertinya kemasan bekalnya sedikit berbeda. Sedangkan karena belum ada kerjaan Hans dan Frank memilih makan diluar, biar bisa berkeliaran, sedangkan Pak Stanly pulang makan kerumah dengan Isteri.

Alhasil Nita dan saya naik ke pantri untuk makan siang. Selama jam kerja tadi Nita dan saya jarang bicara, hanya curi-curi pandang saja padanya, tapi sepertinya matanya terus terpaku pada layar komputernya, walau sebenarnya kalau dia menatap layar saya masih bisa melihat wajahnya dengan jelas, karena layar komputer kami saling bersebelahan.

seperti ini kurang lebih cubicalnya

Hanya kami berdua di pentri, sepertinya kantor memang masih sepi, di pentri juga belum ada orang, mungkin mereka masih memilih makan diluar karena belum banyak kerjaan, sedangkan anak backoffice makan di patri bawah, karena tidak bisa lama meninggalkan tempatnya.

Saya membuka bekal yang kubuat sabtu lalu, bekal yang sudah ku simpan buat seminggu. Ya pekal instan juga namanya. Saya dan Nita duduk bersebelahan, dia disebelah kananku, meja pentri kami seperti meja kantin yang panjang dan bisa duduk hingga 5 orang sebarisnya dan ada 3 meja seperti itu diatas, jadi bisa buat 30 orang.

Bekalku hari ini adalah, dada ayam tanpa kulit panggang, kentang rebus sebiji dan mix vegetable. Aku penasaran dengan bekal Nita, bungkusan belaknya lebih besar dari biasanya. Saat dia buka, ternyata kotak makan dua susun, kotak bekal baru. Saat dia buka, ternyata di bagian atas ada dua potong ikan salmon panggang, mash pottato secuil dan buncis panggang. Yang aneh karena salmonya terlihat banyak untuk ukuran mash pottatonya dan buncisnya.

Nita menoleh menghadap kepadaku, kami saling pandang, lalu Nita dengan tiba-tiba

“Honey, I make this for you”, dengan nada dan suara seperti saat kami ngedate. Saya seperti dipukul dari titik buta dan langsung ke titik vital, JEDERRRR! Cute banget. Saya hanya terdiam, tidak bisa berkata kata.

“Kamu tidak suka?” wajahnya terlihat kecewa.

“Aku tahu kamu sudah hitung kalori kamu per harinya, tapi salmon kalorinya tidak seberapa kok”, dengan suara yang manja dan sambil merangkul lenganku dengan manja.

Sialan, saya kalap dan langsung mengecup bibirnya yang ada dalam jangkauan leherku. (Note: makanya tinggi, lengan panjang, kaki panjang leher panjang, yang lain juga panjang). Dia terkejut dan hanya tersenyum malu, momen ini sangat berharga untukku.

“Saya mau lah, itu kan buatanmu, kalau kelebihan kalorikan tinggal olahraga”, jawabku sambil tersenyum kepadanya.

Nita berubah saat hanya kami berdua, ketika tidak ada orang lain. Dia menjadi Nita yang imut dan ceria ketika bersamaku saja. Tapi terbesit lagi si Dody, apakah dia juga seperti ini bersama Dody? Tiba-tiba aku merasa sangat cemburu, Nita ini hanya untukku. Dalam pikiranku saat itu, Nita harusku rebut dari Dody, tapi harus kulakukan dengan gentleman, seperti orang pria sejati, tidak seperti pencuri yang masuk kerumah kosong saat tuannya tidak ada.

Kami saling suap saat makan siang, kami masih sempat saling cerita dan bercanda. Sebelum turun, kami sempatkan untuk saling memeluk, mendekap dengan erat, dan diakhiri dengan kecupan. Hubungan suami isteri dan pacar dalam satu kantor itu dilarang, dengan alasan menjaga profesionalisme. Karena ini pula kami harus menjaga hubungan kami tetap rahasia.

Saya masih belum berani bertanya secara langsung pada Nita, apakah dia juga bersikap sama kepada Dody, atau hanya padaku saja dia seperti itu. Aku samakin penasaran dan cemburu. Saat turun ke ruangan kami, Nita kembali bersikap seperti biasa. Kami melanjutkan kerja kami dan akhirnya bisa selesai sebelum waktunya, sehingga kami punya waktu lebih untuk melakukan beberapa pengecekan kembali.

Saat pulang kantor, Saya janjian dengan Nita untuk nongkrong di café dekat rumahnya. Dia memintaku menjemputnya di rumah jam 18:00. Ya tentu saja saya senang, bisa ngedate lagi nih, walaupun hanya sebentarlah, tidak bisa juga pulang larut karena besok masih harus kerja.

Pukul 18:00 saya sudah ada diteras rumah Nita, menunggunya masih bersiap. Dia keluar dengan baju yang sangat feminim menurutku, baju terusan hitam, berbahan sweater, turtle neck, tanpa lengan, dengan high heels hitam, dan tas kecil hitam juga, sangat serasi. Dia memintaku membaca mobilnya, katanya karena dia pakai rok, lebihnyaman naik mobil. Oh iya, saya lupa menjelaskan kepada pembaca, motorku motor R15 naked full modif kaki-kaki, jadi tidak normallah.

Dalam perjalanan saya memberanikan diri memulai pecakapan ini.

“Nit, kenapa kamu beda banget, kalau kita lagi berdua?” tanyaku padanya.

“Karena cuman kamu yang bisa buat aku nyaman, buat aku menjadi wanita yang bisa menyerah pada pria”, jawabnya dengan senyum dan menatapku, hanya saya, berarti Dody tidak dong!

“Hanya aku Nit?”, Saya berusaha memastikannya.

“Iya hanya kamu, tidak saudaraku, juga tidak si Dody”, ini dia jawaban yang ku tunggu-tunggu, tidak si Dody, cuman gue ! denger tuh Dody, eh ngak bisa ya.

Nita mulai bercerita, selama ini dia sebagai anak sulung harus menjadi panutan dan pelindung bagi adik-adinya yang semua perempuan, dia harus menjadi sosok laki-laki yang tangguh dirumahnya, ayahnya sudah lama meninggal dan ibunya yang menyokong keluarga mereka dan boleh dibilang sukses. Inilah yang membuat dia tumbuh dengan pandangan tidak perlu pria untuk menopangnya, karena dia bisa lebih tangguh dari pria-pria diluar sana.

“Tapi hanya sama kamu Ted, hanya sama Kamu, aku merasa menjadi wanita lagi, menjadi lemah, menjadi berserah pada pria, aku ingin diperhatikan, aku ingin dilindungi, oleh mu Ted”, lalu dia merapat padaku dan merangkul lenganku.

“Aku tahu kamu pasti keberatan juga dengan statusku yang masih pacar Dody kan?” kata Nita.

Dan aku hanya menatapnya dan mengangguk, saya harus kembali menyetir dan harus mengembalikan padanganku kejalan.

“Beri aku waktu hingga imlek Ted, hingga dia datang kemari, Aku akan katakan padanya”, nada suaranya berubah menjadi tegas.

Aku tidak menjawabnya, saya hanya mengecup keningnya dengan lembut.

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part