web hit counter

Kerja atau Sex Part 9

0
325
Kerja atau Sex

Kerja atau Sex Part 9

Relationship

Sejenak Aku terbaring di samping Nita, saat ini tubuh kami telah tertutup selimut, telah ku bersihkan tubuh Nita tadi dengan handuk, ku basuh keringatnya dan juga sisa cairan kami tadi. Udara dingin mulai terasa. Malam sudah semakin laru, kuperhatikan jam sekarang sudah sekitar pukul 12 tengah malam. Nita masih terbaring lemas di sampingku, terdengar dengkuran harus, Nita tertidur dengan lelap. Aku biarkan saja dulu Nita tidur, pasti tubuhnya sudah sangat lelah, karena telah ku genjot dari tadi.

Aku terus menatap wajahnya, seperti lagu “I Don’t Want to Miss a Thing” by Aerosmith saat seperti ini, sama persis dengan lirik lagunya : I could stay awake just to hear you breathing, Watch you smile while you are sleeping. Setiap waktu yang ku habiskan bersamamu adalah waktu yang paling berharga. Ku belai rambut Nita. Aku tersenyum sendiri melihat wajahnya yang manis, tertidur pulas.

Kalau besok pagi Ibu Nita memintaku untuk menikahinya, akan ku lakukan tanpa ragu.

“Jam berapa sekarang?” tiba-tiba Nita membuka matanya, dan tersentak bangun, Aku pun dibuat terkejut.

“Jam 12 Sayang”, jawabku padanya sambil memeluknya.

“Aku harus pulang, nanti mama mencariku”, jawabnya sedikit panik, tapi tetap merangkul tanganku.

“Tinggallah malam ini disini, kamu lelah Sayang”, memeluk tubuh Nita semakin erat, Aku tidak ingin melepaskannya.

“Tidak bisa Sayang, bagaimanapun Aku harus pulang”, jawabnya dan menatap wajahku.

“Biar Aku yang izin ke mamamu”, Aku masih berusaha membujuknya.

“Jangan dulu Sayang, pacar saja bukan, suami isteri apalagi, gimana bisa kamu minta izin ke mama?” nadanya manja padaku dan mengecup pipiku.

“Aku mandi dulu, baru pulang”, sambil dia beranjak dari pelukanku menuju kamar mandi.

Tubuhnya yang telanjang melengang menuju kekamar mandi, memandangnya dari belakang membuatnya terlihat begitu sexy. Walaupun jalannya sedikit gontai, mungkin karena kelelahan atau masih terasa perih. Kemudian Nita berbalik,

“Mau ikut?”, sambil menggerakkan jariku mengajakku , tentu saja Aku langsung melesat dari tempat tidurku menyusulnya.

Dikamar mandi kami mandi dengan air hangat, air dari shower mengguyur tubuh kami berdua. Memberikan kesegaran bagi tubuh kami, air hangat yang merilexkan terasa begitu nyaman. Bibir kami kembali terpaut di bawah guyuran air hangat. Nita lalu memegang lehernya, dia mengecek chockernya.

“Aduh jadih basah!” kami lupa melepaskan chocker itu sebelum mandi, jadi sembari itu Aku lepaskan chocker itu dari leher Nita.

“Simpan saja dulu, dikeringkan”, sambil ku lepas dan kupinggirkan chocker itu, lalu bibir kami kembali berciuman. Tapi kali ini tidak lama, Nita mendorongku dengan pelan mejauhi bibirnya.

“Kalau kamu lanjutkan, nanti beneran aku ngak pulang sayang”, sambil jarinya berputar-putar di dadaku, dengan senyuman tipis di wajahnya dan suara yang merdu dari bibirnya. Sungguk imut Nita saat itu.

Akhirnyaku peluk dia dan kami menyabuni badan kami dan segera berusaha menyelesaikan mandi kami, karena Nita harus pulang kerumahnya. Setelah mandi, untung saja di apartementku tersedia hairdryer (termasuk paket perabot bonus dari apartement), yang bisa di gunakan Nita untuk mengeringkan rambutnya. Akhirnya kami telah selesai bersiap sebelum pukul satu, Nita sudah tidak dandan lagi, dia tetap terlihat cantik walau tanpa make up.

Hampir pukul 1 dini hari baru kami tiba dirumah Nita. Aku yang mengemudikan mobil Nita, jalannya saja tadi sudah sempoyongan, akan sulit untuknya masih harus menyetir. Selama perjalanan pun Nita masih sempat tertidur. Saat tiba di rumah Nita, Aku sempatkan diri juga bertemu dengan Ibunya, walaupun bukan waktu yang tepat untuk bertamu, karena masih suasana Imlek, Aku tetap di sajikan kue-kue kering. Aku jadinya berbohong, mengatakan kami tadi lanjut nonton dulu, tapi lupa waktu. Ibunya sih adem ayem saja bertemu dengan Aku, walau baru jam 01 Aku membawa anaknya pulang. Setelah itu Aku naik taxi balik ke apartementku, waktu itu belum ngehits taxi online.

***

Hari Senin, 23 Januari 2015.

Aku menghubungi Nita sepertinya dia belum bangun, jadi akhirnya kuminta saja dia Untuk izin, bilang tidak enak badan jadi tidak masuk kantor. Hingga jam 0720 dia belum membaca ataupun membalas pesanku, jadi kuputuskan berangkat sendiri ke kantor. Tidak lupa sudah ku siapkan oleh-oleh untuk rekan-rekan.

Aku tiba di kantor cukup tepat waktu, tepat 0730 saat mulai breafing. Sembari mengejar ketertinggalan ku selama seminggu ini, rekan-rekan menyempatkan diri juga saling mengucapkan salam imlek padaku. Dan mulailah proses membagi oleh-oleh, kalau Aku sebutkan oleh-olehnya apa, langsung ketahuan Aku dari kota mana :p.

Nita hingga jam 0830 belum ada kabar, Aku sudah memulai pekerjaanku seperti biasanya dan mengejar ketertinggalanku. Ya lumayan juga lah pekerjaan yang tertinggal yang tidak sempat di bantu rekan yang lain.

Nita : “Aku baru bangun Sayang, badanku rasanya longgar semua”

Nita : “Tapi rasanya plong banget, seperti habis pijat reflexy”

Ted : “Kamu kecapean Sayang, istirahat saja dulu”

Nita : “Nanti Aku telp pak Stanly, bilang Aku kebablasan tidurnya habis latihan kemarin”

Ted : “Ok Sayang, nanti juga aku jawab begitu, biar sama jawabannya”

Nita : “Makasih ya semalam Sayang”

<Sticker Kiss >

Ted : “Aku yang makasih Sayang”

Nita : “Aku telp pak Stanly dulu ya”

Tidak lama kemudian, handphone pak Stanly berdering, tapi sepertinya dia sedang mencarinya di antara tumpukan kertas di mejanya, setelah beberapa saaat akhirnya di temukan dan dianggkatnya. Samar-samar dari tempatku terdengar, pak Stanly sedikit mengomol kepada Nita, karena berlatih terlalu keras dan jadi melewatkan jam kanto. Tapi dia tidak menyuruh Nita masuk, biar saja istirahat katanya yang penting besok sudah bisa masuk kerja.

Pak Stanly memang fatherly figur banget buat kami di tim ini, sangat perhatian pada kami, tapi juga tegas saat diperlukan. Kehidupan pribadinyapun sangat family man, isterinya juga sangat perhatian selalu menyempatkan diri membuatkan pak Stanly bekal atau kadang memanggilnya untuk pulang makan siang. Keluarga kecil yang bahagia menurutku sih. Walau kadang harus lembur di kantor, dia akan menelfon isterinya memberitahukan bahwa dia akan telat pulang, terdengar mereka sangat harmonis melalui telfon.

Mbak Claudia tiba-tiba menegurku, mengenai telfon Nita tadi.

“Anita bukannya menjemputmu kemarin di Bandara?”, tanyanya dengan penuh selidik padaku.

“Iya Mbak, sempat juga makan bareng dulu sih, habis itu Aku di antar balik, dan dia balik juga deh”, jawabku dengan tentunya kebohongan agar rekan kerja lain tidak curiga. Sambil berbicara dengan Mbak Claudia tentunya langsung ku chat juga Nita.

Ted : “Sayang, Mbak Claudia tahu kamu yang jemput aku semalam, jadi aku bilang habis diner kamu antar aku, dan kamu langsung pulang”

Nita : “Sip… Nanti aku jawab seperti itu Sayang”

Ya kami harus menyamakan jawaban kami agar tidak ada yang curiga dong tentunya. Mbak Claudia memang dekat dengan Nita, kadang Nita curhat ke Mbak Claudia, kadang juga sebaliknya. Kalau mau di bilang pak Stanly sebagai sosok ayah, Mbak Claudia ini seperti sosok kakak tertua dalam keluar kecil kami ini. Dia yang memberikan panduan kepada kami apabila pak Stanly tidak ditempat, atau kadang juga mendengarkan cerita-cerita kami, keluh kesah atau sekedar omong kosong saja.

Seperti Pak Stanly, Mbak Claudia sudah berkeluarga juga, walaupun belum di karuniai anak, sepertinya dia belum buru-buru pengen punya momongan, lagipula dia baru berusia 32 tahun. Suaminya bekerja di perusahaan investasi yang sangat besar dan sudah menjabat sebagai regional manager, jadi secara finansila gaji suaminya cukup gede. Suaminya sih setahuku lebih tua darinya 3 tahun, kurang lebih usia 35. Mereka berdua tinggal di daerah pinggiran kota dan merasa lebih nyaman di sana karena lebih tenang.

“Ah Tuh anak suka maksain diri sih”, celetuk Mbak Claudia kepadaku, mengenai Nita.

“Kau tuh yang mesti menegurnya, dia mah dengarnya cuman sama kau saja”, katanya lagi sambil menatapku. Dan Aku hanya bisa tertawa nyengir mendengarkan statementnya itu.

Hari ini Aku telah memiliki rencana Khusus, selain menjenguk Nita, Aku juga akan memintanya menjadi pacarku. Sebanarnya sih mau langsung meminta jadi istri tapi jangan dulu deh, nanti Ibunya shock. Jadi saat jam makan siang Aku sempatkan untuk keluar kantor membeli beberapa benda, dan tentunya memesan bunga untuk ku ambil pulang kerja nanti.

Ted : “gimana kondisi kamu?”

Nita : “Sudah agak enakkan sehabis tidur seharian”

Ted : “Baguslah kalau begitu”

Ted : “Betar habis kerja Aku kerumah ya?”

Nita : “Kenapa mesti izin, datang saja Sayang, kan ngak mungkin juga ku usir”

<Emoticon Kiss>

Ted : “Kalau kamu sudah baikan Aku pengen ajak kamu jalan”

Nita : “Ok Sayang”

Kurang lebih seperti itulah chatku dengan Nita, sebenarnya ingin ku telfon dia, namun Aku takut ada orang kantor yang mendengar. Sepanjang hari Aku hanya berusaha menyelesaikan pekerjaan ku yang masih menupuk dan untungnya bisa selesai sebelum pukul 1700. Jadi jadwalku tidak ada perubahan, sesuai dengan rencanaku.

Aku telah selesai merapikan seluruh pekerjaan ku dan Dokumen ku, tapi tetap saja kalah cepat dari Boby. Kalau masalah pulang kerja Boby ini yang paling cepat, dia senior ku dan Nita, kerjanya tergolong cepat, dan tergolong bisa memanfaatkan kapanpun untuk beristirahat buat ngerokok atau sekedar menghilang entah kemana. Mbak Claudia masih sibuk dengan pekerjaannya, ya boleh dibilang dia itu Spv 2 setelah Pak Stanly, jadi semua dokumen cabang sebelum di approve Pak Stanly mesti sudah lolos sortir dari Mbak Claudia, ya mungkin itu juga yang membuat kacamatanya terlihat makin tebal.

Sedangkan Hans dan Frank sudah selesai sih, tapi mereka masih sibuk berdiskusi mengenai hobby mereka, mereka berdua selalu senang memancing dan senang untuk touring, walaupun motor mereka berbeda satu caféracer dan satunya vespa. Mereka sudah lama bekerja di sini, sudah sejak 5 tahun lalu, dan mereka jadi sahabat yang akrab sejak itu.

Sedangkan Santi juga sudah bersiap pulang, Santi sendiri lebih ke gadis lugu yang baru pertama merantau, dia adalah Muslim yang taat sih menurutku, dia berhijab dan selalu menjaga tutur dan pandangnya. Walau kadang ada insiden kantor yang membuatnya marah, dia selalu istigfar. Sabar banget deh pokoknya. Walaupun dia dalam tim kami satu-satunya muslim, kami semua selalu akrab, dan kami di dalam tidak ada diskriminasi. Malah kalau boleh di bilang di tim kami lengkap semua agama juga ada, bahkan Agnostik sepertiku juga ada.

https://id.wikipedia.org/wiki/Agnostisisme <mungkin ada yang mau gabung dengan Aku>

Setelah pulang kantor Aku menyempatkan diri untuk ke apartement untuk Mandi dan berganti pakaian tentunya, setelah itu lalu menuju kerumah Nita. Membawakannya seikat mawar berjumlah 9 tangkai, artinya sih menurut orang saling mencintai selamanya. Setibanya di sana, motorku yang berisik membuat Nita mengetahui kehadiranku tanpa harus menekan bel ataupun menelfonnya.

Nita langsung berjalan keluar sudah siap dengan mini dress, berwarna biru muda, warna favoritnya.

Cantik dan simple, sungguh membuatku terpanah, tidak mampu berkata-kata. Nita selalu saja cantik di mataku. Dia membukakan pagar untukku dan mempersilahkanku masuk tentunya.

Kuberikan bunga yang telah kupersiapkan pada Nita, dia menerimanya dengan tersenyum dan dengan sangat cerita. Dia memelukkan sambil memegangi bunga yang ku berikan, tiba-tiba dia menciumku tepat di bibir. Aku cukup terkejut, karena posisiku saat ini masih berada di pekarangan depan. Aku hanya bisa terdiam dengan tingkahnya itu, dia kemudian mencium karangan bunga itu dan meletakkannya di dalam rumah, di dalam sebuah vas kecil.

Karena Nita menggunakan mini dress jadi dia menyarankan untuk menggunakan mobilnya saja. Ya akhirnya Aku yang menyetir, Nita duduk dengan anggun disisiku, selama perjalanan ku tanyakan bagaimana keadaannya, apakah baik saja, pegal dan kondisi fisiknya. Nita mengatakan semuanya terasa baik, hanya perlu tidur saja sudah pulih. Kulihat tadi juga jalan Nita sudah normal dan baik,tidak seperti kemarin malam lagi.

Nita tampak sangat senang Hari ini, wajahnya terus terseyum sepanjang perjalan kami menuju restoran yang kami tuju. Walalupun bukan restoran favoritku, aku memilih restoran yang cukup romantis dan terkenal di kota, berada di daerah pinggiran kota, Restoran ini cukup enak dan menyajikan suasana yang romantis deh pokoknya.

Setibanya disana, kami langsung mendapatkan tempat untuk duduk. Tempat sulit di jangkau dan tidak banyak yang tahu, harganya juga lumayanlah. Walau tidak menyediakan full set dinning, tempat ini juga sangat bagus pelayanannya. Tempat ini juga tergabung dalam kompleks golf, jadi dari tempat kami duduk bisa melihat padang golf yang luas dan cantik di malam hari.

Aku yang memesankan makanan untuk Nita, dan hanya menatapku sambil tersenyum. Dia bertanya bagaimana di kantor hari ini, bagaimana selama di kota halamanku, bagaimana dia dikantor selama aku tidak ada, dan banyak lagi tentang kehidupan pribadi kami.

Aku sendiri dibesarkan di sebuah keluarga yang kecil kalau boleh dibilang, ayahku adalah seorang pengusaha, cukup sukses bahkan berlebih sebenarnya. Ibu juga ikut mengurus bisnis kami, karena sejak muda Ibu juga adalah seorang wanita karir yang tangguh, jadi ketika mereka menikah wajar saja bisnis ini dikelola oleh mereka. Keluarga kami menjalankan berbagai bisnis, mulai dari distributor, import, eksport, waralaba, dan properti, tapi semua itu tidak ku sampaikan ke Nita.

Aku memiliki seorang kakak yang lebih tua dariku 5 tahun, sekarang dia telah menikah, dan bekerja dalam usaha keluarga kami, dia sangat telaten, dan berhasil meraih jabatannya dengan usahanya sendiri. Kakakku Alex, sering berkunjung saat aku baru tiba dikota ini, makanya aku sengaja membeli apartement yang memiliki kamar tambahan, biar dia bisa menginap jika datang, tetapi makin lama dia makin sibuk dan sulit menjengukku.

Nita sendiri memiliki 2 orang adik dan semuanya adalah perempuan, satu akan ujian nasional tahun ini karena sudah kelas 12 SMA, dan satunya masih kelas 10 SMA. Jadi mereka berdua masih berada di bawah tanggungan Ibunya dan Dia. Usaha garment milik ibu Nita cukup maju dan boleh dibilang berkembang dikota ini, menjadi pemasok juga di toko-toko kecil lain di kota ini. Sebenarnya Ibunya juga ingin Nita membantunya mengelola usaha ini tapi Nita lebih tertarik kedua Hukum yang kami geluti sekarang.

Ibu Nita, Meily, tidak keberatan jika anaknya mengerjakan apa yang dia sukai, begitupun dengan adik-adiknya. Tidak ada paksaan untuk menjadi apa mereka nantinya, karena mereka diberikan kebebasan untuk memilih dan mengejar cita-cita mereka. Ibunya adalah seorang single parent yang tangguh menurutku.

Kini kami telah selesai makan malam, malam baru pukul 2100 lebih sedikit. Sekarang kami menikmati minum kami, hari ini non alkohol karena perjalanan cukup jauh, kami minum juice. Udara dingin malam tidak begitu terasa, karena disini bayak pepohonan. Kami cukup menikmati tempat ini. Aku lalu merogoh kedalam kantong celanaku, ku ambil sebuah kotak kecil. Di dalamnya ada sebuah jam analog wanita, dan ku tunjukkan pada Nita. Bentuknya sederhana, dan terkesan cocok untuk dia kenakkan ke kantor.

Jam dengan sabuk dari kulit berwarna hitam, dan body jamnya berwarna gold, dan bagian latarnya berwarna hitam.<tidak aku posting gambarnya, karena sampai sekarang masih dikenakkan>.

“Nita, mungkin ini sedikit terlambat”, ku genggam tangannya, kirinya, dan dia meletakkan gelasnya yang dari tadi dia pegang di tangan kanannya. Mata kami saling menatap, terlihat senyum tipis di bibirnya.

“Nita, want you be my girl?”, sambil ku tatap matanya.

“Ofcourse!”, jawab Nita dengan lantang dan tegas.

Kupaikan jam tangan itu ketangan Nita, dan kemudian ku kecup tangannya. Nita sungguh beruntung aku bisa mendapatkanmu. Sekarang, malam ini kami resmi jadian, 23 Januari 2015. Malam ini Aku tidak ingin membuat Nita kecapean lagi, Aku sudah mau mengajak Nita pulang, segera mengantarkannya kerumahnya.

Akhirnya kami sudah berada dalam mobil, saya tetap yang menyetir, memacu kendaraan dengan santai, karena masih sore juga sih.

“Kita kemana lagi habis ini sayang”, kata Nita dengan manja mengelayut di lenganku, karena Mobil Nita matic, jadi tidak takut jika dia menghalangi perseneling.

“Aku nganter kamu langsung pulang nih sayang”, jawabku sambil mengecup ubun-ubunnya.

“Tidak ke apartementmu dulu sayang?”, tanyanya manja sambil menggerak-gerakkan badannya.

“Sebaiknya jangan dulu deh, kamu jadinya kecapean”, jawabku sekenanya pertanyaan Nita

“jangan apa?” dengan wajah sedikit cemberut, Nita memanyunkan bibirnya padaku, dan mencengkram lenganku.

“yang semalam, kamu jadinya kecapean”, jawabku sambil menepuk-nepuknya dengan lengan kiri yang sedang dia rangkul itu.

“Ih masa ngak lagi sayang, kalau aku mau gimana?” waduh pertanyaan yang frontal dari Nita membuatku sedikit gelagapan, kalau Kamu mau Apalagi Aku Nita.

“Kamu istirahat saja dulu sayang, nanti malah ngak masuk lagi besok, tunggu badan kamu fit dulu”, memberikan Nita penjelasan, walaupun sebenarnya dalam benakku, kalau bisa Aku lakukan akan aku lakukan tiap hari tanpa kenal waktu Nit.

“Ih kamu baik banget deh sayang, kalau laki-laki lain pasti mau terus”, jawabnya sambil senyum dan mencium pipiku. Aduh, kok aku jadi salah tingkah ya. Selama sisa perjalanan kami Nita terus merangkul lenganku, walaupun sebenarnya rasanya sedikit mati rasa, tapi biarlah yang penting Nita senang.

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part