web hit counter

Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 16

0
412

Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 16

Singkat cerita, setelah tahu apa yang dilakukan David pada Grace, Cecil meminta cerai. Mereka bertengkar hebat pastinya, tapi Cecil tidak cerita detail bagaimana mereka bertengkar. Awalnya David sempat menyangkal dan menuduh Ben dan Alina berbohong. Lalu dia mulai bilang benar dia menyetubuhi Grace tapi atas dasar suka sama suka. Barulah setelah lama berdebat David mengaku kalau dia memang tidak bisa menahan diri kalau lihat Grace.

Mereka bercerai dengan alasan yang tidak diketahui oleh keluarganya. Cecil tidak menceritakan kepada keluarganya karena malu dan tidak mau mengungkit masalah Grace. Masih terlalu sakit katanya. Cecil yakin David tidak menceritakan apa yang dia lakukan ke keluarganya juga karena seluruh keluarga David menyalahkan Cecil atas perceraian mereka. Cecil kemudian menjual rumah yang mereka tinggali lalu membeli apartemen dan tinggal sendirian.

Cecil sempat berubah perangainya dan memengaruhi kinerjanya di rumah sakit. Akhirnya dia memutuskan untuk menemui psikolog dan didiagnosa depresi. Lalu Cecil mencoba menyibukkan diri dalam pekerjaan dan kegiatan lainnya, makanya dia sibuk sekali ngajar, praktik, dan olahraga. Tapi semua itu hanya bertahan di siang hari. Ketika dia pulang dan mau tidur, depresinya datang lagi. Psikolognya menyarankan menceritakan pengalaman Cecil pada orang lain dan akhirnya dia curhat ke Ben, membagi ceritanya ke Mbak apartemen, dan akhirnya saya.

Sampai sini dulu cerita Cecil. Kita tinggalkan yang depresi dan kembali ke Gilang yang baru saja diterima kerja.

Gilang yang masuk kantor baru sebagai Account Relation Officer mulai beradaptasi dengan kehidupan kerja. Ada empat orang ARO yang bekerja di kantornya. Mereka dibagi menjadi dua tim dan Gilang kebagian menjadi partner Bang Boi. Bang Boi ini adalah ahli dalam pekerjaannya. Sudah belasan tahun dia bekerja di kantor itu.

Hari pertama bekerja, Gilang dibawa ke ruang Bu Wita dan diperkenalkan. Bu Wita adalah wanita yang semok dan mencuri perhatian Gilang. Tapi cuma sebatas itu karena Gilang langsung sibuk sama kerjaan.

Selama masa percobaan sebagai karyawan baru tiga bulan, Bang Boi membawa Gilang ke mana-mana. Dia diajak meeting strategi, pitching, negosiasi harga, mengawasi syuting iklan, mengadakan event-event on dan off air, dan segala macam kegiatan lainnya. Karena Gilang memang anak yang cerdas dan pintar bicara, Bang Boi suka dengan kinerjanya. Di sinilah Gilang bertemu banyak artis-artis.

Gaji bulan pertama Gilang cuma 80% dan separuhnya dia kirim ke Kota Kelahiran untuk ibunya. Gaji bulan kedua dia berikan sebagian untuk uang saku adiknya supaya ibunya tidak usah kasih uang buat si adik. Bulan ketiga, Bu Wita memanggil Gilang ke kantornya untuk penilaian. Bu Wita dapat laporan dari Bang Boi dan penilaian dari dia bagus sekali. Gilang langsung diberikan status karyawan tetap. Gaji gilang jadi penuh 100% ditambah tunjangan pendidikan, uang makan dan transport, de el el, de el el, dan uang dia jadi banyak. Maka biaya pendidikan adiknya dia yang tanggung sepenuhnya.

Di bulan keempat Gilang sudah dilepas sepenuhnya oleh Bang Boi untuk meeting dan bertemu klien. Di akhir bulan keempat itu kantornya kedapatan klien besar. Ada satu perusahaan Afrika Selatan yang akan meluncurkan seri berlian yang mahal. Mereka menggandeng perusahaan Amerika yang kemudian menggandeng perusahaan Indonesia. Perusahaan Indonesia menggandeng kantor Gilang untuk marketing campaign. Waktu itu Bang Boi yang pegang tapi Gilang ikut kasih ide-ide untuk marketing campaignnya. Ketika perusahaan berlian itu datang, Bang Boi menyuruh Gilang untuk persentasi dan hasilnya memuaskan. Si klien cuma mau ditangani oleh Gilang. Bang Boi dengan bangga melepas Gilang dan bilang ke Bu Wita kalau dia akan fokus ke proyek lain. Bu Wita khawatir dan menyuruh Bang Boi mengawasi Gilang. Gilang pun disuruh melapor secara rutin ke Bu Wita.

Maka proyek miliaran pun dimulai. Gilang mulai mengoordinasikan ide-idenya untuk peluncuran berlian dengan menelepon banyak Event Organizer terkenal lalu menghubungi Production House juga untuk pembuatan video. Selama dia bekerja, dia selalu laporan langsung ke Bu Wita. Setelah EO dan PH didapat, Gilang menyusun rapat koordinasi besar dengan si perusahaan berlian. Ini adalah meeting terbesar yang akan Gilang lakukan. Bu Wita deg deg ser sama meeting ini dan dia memutuskan untuk ikut.

Di meeting itu akan dibicarakan venue yang akan dipakai untuk peluncuran berlian. Ini tugasnya si EO. Setelah berdiskusi lumayan lama, akhirnya diputuskan bahwa Lombok yang akan menjadi lokasinya. Gilang yang mengusulkan dan menengahi diskusi antara perusahaan berlian dan EO. Kemudian akan dibuat juga video iklan berlian itu. Ini bagiannya si PH. Diskusi panjang terjadi soal konsep video sampai model yang akan dipakai. Akhirnya diputuskan bahwa artis JE yang akan dipakai untuk iklan karena waktu itu si JE lagi naik daun karena membintangi film-film kelas internasional. Itu pun diputuskan berdasarkan beberapa masukan Gilang. Melihat bagaimana piawainya Gilang, Bu Wita menjadi terkagum dengan kemampuannya. Meeting selesai tanpa halangan.

Selesai meeting, Bu Wita memanggil Gilang ke ruangannya. Dia meminta semua progress proyek dilaporkan ke dia langsung. Maka dijadwalkanlah meeting pribadi dengan Bu Wita setiap jam empat sore hari Senin dan Kamis.

Di antara kesibukannya, Gilang selalu memastikan kalau di hari Minggu dia bisa libur. Dia juga butuh istirahat dan sebetulnya sangat ingin pulang ke Kota Kelahiran untuk bertemu keluarga tapi belum bisa. Jadi dia hanya kontak-kontakan dengan ibu dan adiknya dengan chat saja. Tidak lupa, dia tetap menjaga hubungan dengan Tante Yuli. Gilang ingin sekali pulang dan ML dengan Tante Yuli. Tapi sayang belum terlaksana.

Suatu ketika di hari Minggu, Gilang diajak main sama teman-teman kampusnya yang ada di Jakarta. Mainlah dia dan sedikit terkejut campur senang melihat ada Regina di sana. Regina tambah cantik dan imut. Juga makin seksi dan putih. Kehorny-an Gilang yang dulu tidak tersalurkan padanya muncul lagi. Kalau dulu Regina sempat judes sama Gilang, sekarang tidak lagi. Regina ramah dan baik. Besoknya di sela-sela pekerjaan, Gilang mengirimkan chat ke Regina dan mereka mulai rutin ngobrol.

Kembali ke pekerjaan. Saking sibuknya Gilang sempat demam karena kelelahan. Ketika dia bilang begitu ke Regina, Regina berkata kalau dia mau jenguk Gilang. Gilang menyambut ini dengan bahagia. Regina lalu datang ke kosan Gilang membawa makanan dan obat. Oh, iya, Gilang ini kos di kos-kosan campur cowok dan cewek. Alasannya karena, ya, dia tidak mau tinggal sama cowok doang. Jadi ketika Regina datang berkunjung, tidak ada yang melarang Regina lama-lama main di kamar Gilang.

Regina bilang kalau akhirnya utang dia terbayar. Dulu Gilang mengurusnya waktu sakit, sekarang Regina yang gantian mengurusnya. Gilang senyum-senyum bahagia. Dia langsung berpikir lagi soal membuat kesempatan untuk bisa ngewe dengan Regina. Tapi dia harus pelan-pelan. Cewek kayak Regina ini bakal kabur kalau dikasih agresif. Pokoknya Regina menjadi permainan jangka panjang Gilang selama di Ibukota.

Di pekerjaan, Gilang yang sering ketemu artis dan ngobrol dengan mereka membuat tingkat kepercayaan diri dia meningkat. Gilang tidak ganteng tapi dia diajari cara dandan oleh Bang Boi supaya rapi dan menarik. Di sini dia jadi berani buat bicara sama siapa pun. Dari mulai OB sampai ke Presdir, dari mulai kru syuting paling rendah sampai ke sutradara, Gilang bisa ngobrol dengan santai.

Ada pengalaman menarik bagi Gilang ketika bantu-bantu event Bang Boi. Di event itu artis yang dipakainya adalah R. Si R ini terkenal judes dan sombong. Pokoknya saking sombongnya dia enggak mau ngobrol sama kru dan siapa pun. Dia cuma mau ngomong sama manajernya. Terus dia punya banyak permintaan yang aneh-aneh dan ngeyel. Tapi Gilang bisa masuk ke pertahanan R dan ngobrol lumayan akrab. Buat Gilang itu pencapaian yang hebat. Karena skill bicaranya yang mulus itu, di HP Gilang sudah banyak nomor telepon artis yang kalau-kalau ada rejeki, akan Gilang dekati dan dia ajak esek-esek. Siapa tahu dia bisa dapatkan salah satu dari mereka.

Cerita Gilang soal artis perempuan ini lumayan banyak dan menarik tapi bakal kepanjangan kalau dijabarkan satu-satu. Apakah ada yang suka sama grup cewek-cewek Ibukota yang anggotanya banyak itu? Katanya Gilang tahu mana yang centil dan mana yang lesbian. Atau mantan lesbian, ya? Yah, pokoknya gitu.

Skip.

Maka tibalah hari peluncuran brand berlian yang super mahal dan mewah di Lombok. Gilang dibelikan tiket oleh admin kantor untuk ke Lombok dan disiapkan kamar di hotel bintang lima. Bu Wita memutuskan ikut ke Lombok karena dia khawatir kalau-kalau ada yang tidak beres dengan acaranya. Bang Boi tidak ikut karena kebetulan proyek besar yang dia kerjakan juga sedang sibuk-sibuknya.

Terbanglah Gilang dengan Bu Wita ke Lombok.

Bu Wita ini berjilbab syari tapi dia tidak kagok kalau bersentuhan kulit sama laki-laki. Bersentuhan kulit ini maksudnya salaman, ya, bukan yang lain. Jadi dia kalau bercanda suka tepak tepok pundak orang. Gilang juga ditepok kalau ngobrol. Waktu mereka duduk sebelahan di pesawat, si Gilang mulai nakal. Bu Wita ternyata kalau dari dekat badannya wangi. Kulitnya juga mulus. Wajah sama tangan sama putihnya jadi Gilang yakin kalau sekujur tubuh Bu Wita juga pasti putih. Gilang mulai tanya-tanya latar belakang Bu Wita.

Bu Wita punya suami yang berbisnis di bidang properti. Bisnis itu juga menghasilkan, sangat menghasilkan malah. Dua anaknya sudah SD dan tidak khawatir kalau ditinggal-tinggal karena ada yang ngurus di rumah. Rumah tangga Bu Wita adem ayem dan harmonis kalau dengar dari cerita Gilang.

Sesampainya di Lombok, Gilang dan Bu Wita langsung sibuk mengurusi event. Eventnya masih lusa tapi sibuknya dari sekarang. Mereka sibuk siapkan ini itu sampai subuh di hari pertama. Ada sedikit kendala yang mengharuskan mereka bergadang. Besoknya juga masih ada beberapa hal yang harus diurus. Gilang belum pernah secapek itu dalam hidupnya. Sekitar jam dua belasan, Gilang ngantuk banget dan memutuskan untuk merem dulu di tenda perlengkapan. Ternyata di tenda sudah ada Bu Wita yang lagi menguap.

“Lang, saya tidur dulu sebentar, ya.”

Yah, keduluan, pikir Gilang. Bu Wita bos, ya, jadi Gilang ijinkan untuk tidur. Masa dilarang?

Bu Wita tidur di kursi. Baru lima menit, kepala Bu Wita sudah lunglai ke kiri dan tidur pulas. Gilang duduk-duduk di meja sambil main HP dan standby siapa tahu ada kendala lagi di persiapan. Tapi selama setengah jam dia duduk tidak ada masalah. Lalu mulailah otak mesumnya beraksi.

Bu Wita montok, bro. Yah, badan ibu anak dua kebanyakan gimanalah. Montok tapi enggak gemuk. Lebih kecil dari Linda badannya. Dadanya lumayan berisi dan sepertinya kalau dipegang enak. Sepertinya. Jadi mau pegang.

Gilang berjalan keluar tenda lalu tengok kanan kiri. Kru lagi sibuk siapkan dekorasi dan panggung dan tata ruang. Gilang menepuk pundak kepala kru dan bilang jangan masuk ke tenda, Bu Wita lagi tidur. Kru itu mengiyakan lalu berjaga di sekitar tenda supaya tidak ada yang masuk.

Gilang masuk ke tenda terus memosisikan diri di belakang Bu Wita. Dengan hati-hati Gilang meremas dada Bu Wita dari belakang. Sesuai harapan, rasanya njoooos. Jenderal yang lama tidak tegak langsung berdiri siap. Gilang memejamkan mata dan membayangkan isi baju Bu Wita sambil meremas dada Bu Wita dengan khidmat.

Tahunya Bu Wita bergerak. Dia bangun. Gilang dengan spontan menendang kaki kursi dan Bu Wita terjungkal. Gilang menahan tubuh Bu Wita dari jatuh. Satu tangan di dada Bu Wita, meremasnya keras, satunya berpegangan ke meja supaya mereka tidak jatuh ke lantai. Bu Wita kaget dan bangun.

“Astaghfirullah!”

“Hati-hati, Bu!” Gilang melepas pegangannya dari Bu Wita. Jantungnya dag dig dug kencang sekali. Si jenderal langsung melempem. Takut ketahuan.

“Kamu ngapain di belakang saya?”

“Saya mau ambil ini, Bu,” Gilang menyambar kotak peralatan di meja di belakang Bu Wita tadi tidur.

“Saya jatuh, ya?”

“Iya, tadi Ibu tidurnya keenakan kali terus miring ke kiri. Kursinya enggak seimbang terus terguling. Untung saya tangkap, Bu,” Gilang ngeles.

“Oh, gitu?”

“Iya. Bu. Tapi saya minta maaf, Bu. Tadi kayaknya tangan saya kena itu Ibu.”

Bu Wita menyentuh dada kirinya. Kayaknya terasa ngilu, deh, karena Gilang cengkeram pas jatuh.

“Iya…,” Bu Wita seperti belum sadar penuh dari tidurnya.

Tips buat cowok-cowok. Kalau lagi gerayang yang lagi tidur terus jatuh kayak Bu Wita tadi, remas aja keras dan alibinya menangkap dia jatuh. Kalau bilang begitu reaksi cewek yang digerayang bisa kayak Bu Wita.

“Enggak apa-apa. Makasih,” kata Bu Wita.

Keputusan yang bagus. Kalau Gilang tidak bilang begitu, mungkin Bu Wita bakal marah. Karena Gilang sok polos dan sok jujur, Bu Wita jadi menganggapnya itu murni kecelakaan dan Gilang tidak punya niat jelek. Aman.

Pekejaan berlanjut lagi dan Bu Wita sama Gilang bergadang lagi. Sekitar jam delapan malam para petinggi perusahaan berlian, artis, dan PH berdatangan. Gilang dan Bu Wita menyambut mereka, menempatkan mereka di kamar-kamar hotel, dan memastikan prasmanan hotel sudah siap. Sekitar jam sebelas, Gilang dapat kabar kalau hotel penuh sama tamu-tamu event. Lalu Gilang punya ide buruk.

“Bu,” kata Gilang.

“Ya?”

“Ada satu manajer yang enggak dapat kamar.”

“Kok, bisa?”

“Yang mereka bawa lebih tiga orang. Katanya ada orang asing yang maksa ikut.”

“Terus gimana?”

“Saya kasih kamar saya saja.”

“Oh. Kamu tidur di mana?”

“Kamar Ibu ada dua kasur, kan, ya? Eh, enggak, deng, jangan. Masa sekamar sama Ibu. Saya cari penginapan di sekitar sini saja.”

“Memang ada?”

“Belum nyari, sih.”

“Nanti susah enggak bolak balik ke sininya?”

“Ya, enggak tahu, Bu.”

Bu Wita terdiam. Gilang terus pergi, deh, ngalor ngidul. Dia bohong tentu saja. Kamarnya sudah pas, kok, dia cuma mau sekamar sama Bu Wita. Bu Wita mana cek hotelnya penuh atau enggak. Direktur, mah, tahu beres. Bu Wita ikut sibuk di venue karena dia cek sana cek sini sambil tunjuk-tunjuk Gilang. Teknis dan segala macamnya, mah, Gilang yang tahu.

Taktik Gilang buat Bu Wita adalah teknik penanaman ide. Inception, kalau kata Gilang. Dia melemparkan ide ke Bu Wita soal tidur sekamar tapi tidak dia follow up. Harapannya Bu Wita sendiri yang bakal kepikiran soal Gilang yang enggak dapat kamar tidur dan mengajaknya untuk tidur sekamar. Tapi itu persentasi itu berhasil cuma 50% atau kurang karena Bu Wita orangnya jilbaban syari.

Sampai jam dua belas, Bu Wita belum ada bicara sama Gilang. Gilang masih sibuk memantau perkembangan event sama EO. Jam setengah satu, Gilang ketiduran di kursi di belakang panggung. Saat itulah Bu Wita menepuk pundaknya.

“Lang. Dapat enggak penginapannya?”

“Enggak, Bu.”

“Ya, sudah, pakai kamar Ibu saja.”

“Ibu gimana?”

“Ibu, mah, gampang.”

“Ah, enggak, ah. Masa saya pakai Ibunya luntang lantung.”

“Ih, pakai sana.”

“Terus Ibu tidur di mana?”

“Enggak akan tidur.”

“Ya, saya juga enggak akan tidur, Bu. Masa direktur kerja sayanya tidur?”

“Ih, ngeyel.”

“Enggak enak, Bu. Saya diajarin sama orang tua saya buat menghormati perempuan, apalagi yang lebih tua dan lebih tinggi jabatannya. Ibu tidur saja. Nanti sakit.”

“Kamu yang enggak boleh sakit. Kamu, kan, project manager.”

“Ya, saya tidur di sini.”

“Di kamar, Gilang. Masuk angin.”

“Ya, masa sendirian?”

“Ya, sudah, Ibu juga di kamar. Rese banget jadi anak.”

Gilang diam. Apakah rencananya berhasil?

“Berdua gitu, Bu, sekamar?”

“Tuh, tadi disuruh sendiri enggak mau.”

“Kan, Ibu saja yang tidur. Saya di sini.”

“Terus kalau kamu sakit besok enggak bisa kerja?”

Gilang mengangguk. Berhasil! Berhasil! Hore!

Jam satu malam, Gilang dengan jantung berdegup keras dan si jenderal yang berdiri karena geer memikirkan apa yang akan terjadi berjalan masuk ke kamar Bu Wita.

“Mukanya biasa-biasa saja,” kata Bu Wita. Mungkin kegugupan Gilang terpancar di wajahnya.

Kamar hotelnya sama seperti Gilang tapi ada dua kasur. Memang sengaja Gilang memilihkan begitu. Gilang duduk di kasur dan menatap Bu Wita. “Maaf, ya, Bu.”

“Iya. Tidur sana.”

Bu Wita masuk ke kamar mandi lama sekali dan keluar dengan baju tidur berupa piyama gombrang yang sama sekali tidak memperlihatkan lekuk tubuh. Dia masih pakai jilbab tapi tidak selebar biasanya. Yang ini cuma menutupi bagian dada atasnya saja dan bentuk payudaranya lumayan terlihat. Gilang membetulkan posisi jenderal supaya kalau berdiri tidak kentara. Dia rebahan terus menutup tubuhnya pakai selimut.

“Mandi dulu Gilang. Jorok kamu.”

Gilang tertawa lalu masuk ke kamar mandi. Kamar mandinya wangi Bu Wita, meeeen. Makin sangelah Gilang. Sambil mandi dan bersih-bersih, terbersitlah ide di otak Gilang. Dia tersenyum. Oke. Kita lancarkan rencana mendapatkan Bu Wita.

Bersambung

Daftar Part