web hit counter

Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 3

0
562

Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 3

Hari-hari Gilang berlangsung seperti biasa tapi dengan rutinitas baru. Hampir setiap hari setelah kuliah, dia datang ke kosan Rita untuk, ya, tahulah buat apa. Tapi selama enam bulan mereka pacaran, Gilang dan Rita tidak pernah ML. Semuanya sudah pernah dicoba kecuali yang satu itu. Gilang juga waktu itu tidak mau sampai ML. Karena dia pikir nanti akan merusak Rita. Gilang cuma mau ML sama istrinya nanti. Naif kalau dia pikir sekarang.

Selain rutinitas baru itu, pribadi Gilang juga sedikit berubah. Karena dia sering sekali crot dengan Rita, maka dia enggak bisa salat kalau enggak mandi besar dulu. Mandi besar ini yang dia suka malas. Karena malas mandi besar, jadi salat pun sering dia tinggalkan. Beda dengan Rita. Berhubung kegiatan esek-esek selalu terjadi di kamarnya, Rita langsung mandi dan salat. Rita tidak pernah ketinggalan salat satu kali pun.

Suatu hari, Gilang duduk waktu kuliah di samping temannya, Regina. Mereka sudah satu kelas sejak semester satu tapi baru kali ini Gilang punya pikiran lain soal dia. Regina ini anak Sunda asli tapi matanya sipit dan kulitnya lumayan putih. Dia senangnya pakai rok selutut kalau ke kampus. Dulu Regina ini biasa saja di mata Gilang, tapi semenjak pembicaraannya dengan Rita soal semua orang bisa dipakai, dia jadi berandai-andai. Si Regina ini juga bisa enggak, ya, dibujuk buat ML?

Tapi semua itu baru sebatas pikiran saja. Gilang yang masih polos waktu itu merasa kalau dia coba-coba dengan cewek lain, dia akan selingkuh dari Rita dan dia tidak mau jadi tukang selingkuh. Jadi dia cuma menindaklanjuti ketertarikannya pada Regina dengan ngobrol lebih banyak saja. Kebetulan karena mereka duduk sebelahan dan dapat tugas kelompok, mereka jadi satu kelompok.

Nama Regina diingat dulu saja, kita kembali ke Rita.

Enam bulan pacaran, akhirnya Rita skripsian dan wisuda. Rencananya Rita akan pindah ke ibukota buat kerja segera setelah wisuda. Beberapa hari sebelum wisuda, Rita ajak Gilang makan seafood dan bilang kalau dia sepertinya tidak akan bisa LDR, jadi dia minta putus. Lagipula, kata Rita, pacaran anak kuliahan jarang yang langgeng. Gilang sebetulnya tidak ingin putus, dia senang punya pacar karena alasan yang semua laki-laki tahu, tapi dia juga tahu kalau dia tidak mau menikah dengan Rita. Jadi dia iyakan.

Kali terakhir Gilang bersama dengan Rita adalah H minus satu menuju wisuda. Rita punya teman namanya Gea dan kosan Gea adalah kosan campur. Keluarga Gea kebetulan datang mengunjungi karena Gea akan diwisuda berbarengan dengan Rita. Maka, Gea dan keluarganya menginap di hotel, jadi kamarnya kosong. Rita punya ide meminjam kamar Gea supaya dia dan Gilang bisa menginap. Menginaplah mereka di sana. Dari sore, serangan esek-esek dilancarkan Gilang sampai tengah malam tapi tetap mereka tidak sampai ML. Gilang, waktu itu, masih jaga diri. Lalu mereka tidur tanpa pakai baju sampai kira-kira jam dua malam.

Gilang ingat sekali waktu itu. Jam dua subuh lewat sedikit, waktu dia sedang mimpi, ada yang menjilati jenderalnya. Dia bangun dan melihat Rita sedang mengulum jenderal dengan khusyuk. Gilang kaget. Rita senyum, “Hari terakhir, Lang. Ngewe, yuk.”

Gilang speechless.

Rita tidak menunggu jawaban. Jenderal Gilang dikulumnya dalam-dalam dan rasanya nikmat sekali. Gilang jatuh terbaring sambil mengerang. Tangannya memegang kepala Rita yang naik turun. Rita lama sekali menikmati jenderal Gilang sampai-sampai dia harus menahan diri dari crot saking lamanya. Semua bagian jenderal dari kepala sampai zakar habis dilumat. Bahkan Rita sampai menjilat lubang pantat Gilang. Sumpah, katanya, sensasinya tiada dua.

Ketika Gilang sudah tidak tahan, dia menyiasatinya dengan menarik Rita buat berciuman. Rita menciumnya seratus kali lebih buas dari biasanya. Tangannya tetap memegang penis Gilang, mengusapnya maju dan mundur. Gilang membabat habis dada Rita dengan tangannya lalu turun ke pantat. Rita berbaring di kasur lalu Gilang naik ke atasnya. Kaki mereka saling bertautan ketika berciuman. Rita menyelipkan jari-jarinya di antara rambut Gilang dan mendesah. “Masukin, Lang.”

“Kondom?”

“Langsung aja, enggak apa-apa.”

“Tapi nanti-.”

“Enggak apa-apa.”

Gilang sempat takut tapi Rita memegang penisnya dan memasukkannya ke dalam vagina. Gilang menganga ketika sensasi itu menyerang sang jenderal. Dia mendorong penisnya masuk perlahan dan terasa hangat. Bagian dalam vagina Rita berdenyut dan dia menggigit bibir bawahnya. “Enak, Lang. Udah lama.”

“Nanti kalau keluar di dalam gimana?”

“Sst. Jangan banyak ngomong.”

Gilang menurut. Digerakannya pinggul perlahan. Ajib, pikirnya. Tapi Gilang tidak tahan lama. Setiap kali dia menggenjot, jenderalnya serasa siap menyerah dan crot kapan saja, makanya dia bergerak lama dan lambat-lambat. Ketika dia sudah siap meletus, Gilang mencabut jenderal tapi Rita menahannya. Gilang menahan napas untuk bertahan lebih lama.

Lalu Rita bangkit duduk, mendorong Gilang ke samping agar dia rebahan, dan naik ke atasnya. Rita memasukkan penis Gilang ke dalam vaginanya lalu bergerak naik turun. Gilang dengan leluasa menatap seluruh tubuh Rita. Tangannya menggenggam kedua payudara Rita. Lalu Rita berganti ke gerakan maju mundur. Gilang tidak tahan. Dia mendorong tubuh Rita supaya bangun tapi Rita menggeleng. “Biar.”

“Mau keluar.”

“Di dalam saja. Biarin.”

Gilang tidak bisa memprotes karena gerakan Rita makin cepat dan intens. Tidak sampai sepuluh detik kemudian Gilang muncrat dan merasakan tubuhnya tegang. Belum pernah dia merasa senikmat itu. Setelah spermanya keluar semua, si jenderal mulai turun ketegangannya. Tapi Rita masih menggenjot. Matanya terpejam dan bibirnya digigit sambil mendesah.

“Saya sudah selesai,” kata Gilang.

Rita menyuruhnya diam. Rupanya dia belum selesai. Rita menggenjot Gilang lama sekali sampai akhirnya dia menganga lalu jatuh ke pelukan Gilang. Tubuhnya bergetar dan ngos-ngosan.

“Selesai?” tanya Gilang.

“Kamu cepat banget.”

Gilang meminta maaf sambil tertawa.

Itulah ML perpisahan dengan Rita. Besoknya Rita wisuda lalu bersiap keluar dari kosannya. Gilang membantu dia membereskan kosannya dan bertemu dengan keluarga Rita. Setelah ngobrol basa-basi, Rita berpamitan dan Gilang secara resmi jadi jomblo.

Besoknya Gilang kuliah seperti biasa. Hari itu tugas kelompok sedang dibahas dan dia harus duduk lagi di samping Regina. Gilang yang biasanya menyimak kuliah dengan serius, kali ini malah sibuk memperhatikan Regina. Cantik juga ternyata. Lalu Gilang membayangkan bagaimana kalau Regina tidak pakai baju. Tak disadari jenderal bangkit berdiri. Hasrat Gilang untuk ML muncul. Seharian Gilang tidak bisa melepaskan Regina dari benaknya lalu dia bertekad untuk bisa mendekatinya dan… membongkar pertahanannya.

Bersambung…

Daftar Part