web hit counter

Love Tamarind Part 13

0
190
Love Tamarind

Love Tamarind Part 13

Time’s up!

Andai seorang manusia bisa mengembalikan waktu
Akan banyak yang akan dia lakukan untuk kebaikan

#Pov Anik#

Sebulan sudah perjanjian aku dengan Elok. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Waktuku sudah habis. Kenapa cepat sekali berlalu? Perjanjianku dengan Elok. Waktuku sudah habis. Sekarang saatnya aku harus memutuskan hubungan ini ama Rian. Apa yang harus aku lakukan?

“Rian, kita nggak masuk yuk hari ini,” kataku ketika dibonceng Rian.

“Kenapa?” tanyanya.

“Udah deh, nggak usah masuk yuk,” kataku.

“Kamu masih sedih soal ayahmu? Kan udah seminggu.”

“Iya, tapi…bukan itu koq. Temenin aku Yan.”

“Mau kemana?”

“Ke Gua Selomangleng aja.”

Akhirnya kami berdua ke sana. Aku sengaja berbuat demikian agar tidak ketemu ama Elok. Setelah sampai kami jalan-jalan di sekitar tempat wisata ini. Aku dan Rian pun naik sampai ke puncak. Tempat di mana dia bilang suka ama aku. Berat hatiku kali ini.

“Kamu kenapa? Nggak apa-apa kan?” tanyanya.

“Rian, aku cintaaaaaa banget ama kamu,” kataku sambil memegang pipinya.

“Aku tahu koq, Nik. Aku tahu.”

“Aku nggak ingin kamu pergi, sungguh. Aku ingin kamu selalu di sisiku, selamanya.”

“Aku juga.”

“Terus terang, sekarang ini kamu adalah orang yang mau mengisi hari-hariku disaat bapak udah pergi. Kamu baik Rian. Kamu sangaaaat baik. Aku tak tahu apakah aku bisa membalas kebaikanmu ataukah tidak.”

“Kamu tak perlu membalasnya, aku ikhlas koq Nik. Sangat ikhlas.”

“Bukan itu masalahnya Rian. Aku…aku takut kehilangan kamu.”

“Aku juga.”

“Kamu tidak mengerti Rian,” aku langsung berbalik kemudian duduk diatas sebuah batu. AKu tutup mukaku. Aku bingung mengatakannya.

“Kamu kenapa sih? Koq nggak jelas gitu. Kalau kamu punya perasaan ama aku, aku sudah tahu. AKu sudah tahu kamu suka ama aku, sudah tahu.”

“Tapi, bukan itu maksudku,” air mataku mengalir. Aku nggak kuat lagi.

“Katakan dong, kalau kamu tak bilang mana aku bisa tahu?”

Maafkan aku Rian, aku harus jujur.

“Begini….aku akan cerita dari awal..”

Aku pun menceritakan semuanya kepada Rian dengan air mata bercucuran. Aku bahkan tak berani menatap wajahnya. Aku jujur kepadanya. Aku jujur tentang perjanjianku dengan Elok. Aku menangis saat itu, menangis sejadi-jadinya. Aku tutupi wajahku. AKu tak mampu melihat Rian. Aku tak mampu.

Rian diam. Ia telah mendengarkan seluruh penjelasanku. Tapi kenapa diam? Ia marah? Ia pantas marah.

“Ayo, kita kembali!” katanya.

Eh? Aku menoleh ke arahnya. Ia sudah membelakangiku. Punggungnya menjauh dariku. Tidak, Rian…maafkan aku.

“Rian, maafin aku! Maafin aku Rian!” aku mengiba kepadanya.

“Sudahlah, ayo kita masuk sekolah!” katanya.

Akhirnya aku dibonceng lagi olehnya. Kembali ke sekolah kami. Walaupun terlambat aku tetap masuk kelas. Itu pun dengan ijin dari Guru BP. Rian beralasan bahwa ia masih menemaniku yang lagi shock. Akhirnya setelah tahu aku sedang menangis, mereka mengijinkanku masuk ke kelas. Tentu saja teman-teman di kelas kaget melihat aku dan Rian yang baru masuk. Untung saat itu sedang nggak ada guru. Aku langsung melabrak ke Elok sambil sesenggukan.

Aku gebrak mejanya. BRAK! Semua anak menoleh ke arahku.

“Puas kamu? Puas?? Kamu kalah! Kalau sampai nanti aku nggak lihat kamu nyium Pak Sapto awas kamu!” kataku sambil menangis.

Aku menoleh ke arah Rian. Ia tanpa ekspresi. Tak menoleh ke arahku sama sekali. Aku tahu sekarang hatinya pasti hancur. Maafkan aku Rian. Maafkan aku. Elok gemetar melihatku yang sedang emosi. Aku kembali ke mejaku dan langsung menutupi mukaku dengan lengan. Kutundukkan kepalaku di meja dan menangis. Tak ada yang berani menenangkanku. Biasanya Rian yang menenangkanku ketika aku menangis. Sekarang ia pasti membenciku. Ia pasti membenciku. Aku sudah berjanji kalau aku tobat dari kelakuanku, tapi aku mengkhianatinya.

****

Aku sudah kehilangan bapak. Sekarang aku kehilangan Rian. Elok benar-benar brengsek. Hari itu dia benar-benar mencium Pak Sapto di hadapan banyak orang. Sukses hari itu dia dijuluki lonte. Rasain. Dia mengaku kalah. Aku menang. Tapi di sisi lain, aku kalah. Kalah segala-galanya. Tapi inilah keputusanku. Aku sudah tahu segala resikonya. Ini adalah resikonya. Resiko yang harus aku pilih. Resiko yang sudah aku pilih untuk aku hadapi seumur hidupku.

Mulai saat itu Rian tidak lagi menyapaku. Melihatku saja tidak. Ia tidak lagi main ke rumahku seperti biasanya. BBM pun nggak pernah dibalas. Tiap hari aku mengirim pesan “Maafkan aku”. Dia tak pernah membacanya. Entah berapa kali aku mengirimkannya pesan. Dia sekarang menjadi dingin kepadaku. Seolah-olah dia adalah pangeran dari negeri es.

Aku mengirimkan pesan ke BBM-nya, juga SMS kepadanya. Pesan yang sangat panjang.

“Rian. Maafkan perbuatanku ya. Aku tahu kamu pasti marah sama aku. Aku tahu sifatmu kalau sudah marah nggak bakal maafin orang itu. Aku tahu semuanya. Kan kita sudah sahabatan sejak lama.

Aku ingin jujur kepadamu. Aku ingin tumpahkan seluruhnya kepadamu. Kamu baca atau tidak itu terserah kamu. Aku tak pernah berharap pula pesan ini kamu baca. Karena sampai sekarang pun BBM-ku nggak pernah kamu baca.

Rian. Perasaanku jujur ama kamu. Aku beneran cinta ama kamu. Aku ingin bisa bersamamu. Aku jujur jatuh cinta kepadamu. Aku yang selama ini menaklukkan banyak laki-laki sekarang malah takluk kepadamu. Cara kamu menciumku, cara kamu memegang tanganku, cara kamu memperlakukanku. Semuanya. Itulah yang membuatku jatuh cinta kepadamu.

Rian, seandainya kamu bilang kepadaku sejak awal. Sejak dulu. Mungkin sekarang kita sudah jadi sepasang kekasih. Mungkin sekarang kita tak akan seperti ini. Aku hanya ingin pacaran dengan satu orang lelaki. Yaitu kamu. Aku sudah bersumpah, aku sudah bertekad. Aku tak akan menyerahkan diriku ke lelaki manapun. Aku akan menunggumu Rian. Aku akan menunggumu. Walaupun sakit diriku. Walaupun lama. Aku tetap berharap kepadamu. Aku bersumpah tidak akan menikahi laki-laki manapun. Aku hanya ingin kamu. Aku hanya ingin kamu. Beratkah permintaanku ini bagimu?

Rian. Jangan pergi. Tolong Rian, jangan pergi. Maafkan aku Rian. Rian…..”

Setelah mengirim pesan panjang itu, aku menangis. Kamarku sekarang berisi aura kesedihan. Aura kesedihan seorang Anik. Yang menyesal terhadap apa yang telah dilakukannya. Inilah hukumanku. Setelah itu, aku jauh dari Rian. Jauuuuhhh sekali.

Apalagi setelah kenaikan kelas. Ia masuk ke IPS, sedangkan aku ke IPA. Dia tidak lagi peduli kepadaku. Walaupun kami berpapasan, tapi menoleh kepadaku saja tidak. Sebegitu bencinyakah dia kepadaku?

Rian tak pernah datang lagi ke rumahku. Mbak Rahma sudah kuliah. Aku sendirian sekarang. Di rumah hanya ditemani ibu. Kadang aku sendiri karena ibu pergi mencari nafkah untuk kami. Aku termenung di dalam kamarku. Kupandangi foto Rian yang ada di laptopku. Kuusap-usap foto itu. Aku masih ingat bagaimana dia menciumku. Aku tak akan pernah melupakannya. Rianku. Engkaulah pangeranku, cintaku, kekasihku. Maafkan aku Rian.

#Pov Rian

Sungguh hatiku terkoyak mendengar pengakuan Anik. Teganya dia melakukan itu. Dan kenapa dia mengingkari janjinya. Kenapa aku yang jadi targetnya. Hari itu setelah kami kembali ke sekolah, dia melabrak Elok. Dan hari itu Elok dipermalukan dengan mencium Pak Sapto satpam sekolah.

Aku benci sekarang ama Anik. Pupus sudah harapanku kepadanya. Cinta yang selama ini aku berikan. Sayang yang selama ini aku berikan. Entah kenapa aku tak mau lagi melihat dia. Aku tak mau lagi menegur dia. Entah dia nangis, entah ia tersenyum aku tak pernah lagi peduli. Semenjak itu, aku menempuh jalur lain. Kalau dulu aku berjuang agar bisa masuk IPA. Sekarang aku ingin ke tujuanku sendiri ke IPS.

Naik ke kelas 3 aku pun masuk IPS. Berpisah dengan Anik. Aku tahu dia berkali-kali mengirimkan BBM bahkan ada SMS dari dia. Tapi aku tak pernah membacanya. Bahkan aku pun membuang nomorku. Kujual ponselku. Dia tak tahu lagi nomorku sekarang. Aku benci ama dia. Aku tak memaafkan dia.

Mas Yogi sampai heran kenapa aku melakukan itu. Aku hanya bilang “Bukan urusan mas”. Ibu juga heran dengan sikapku yang tiba-tiba memutuskan Anik. Anik, apakah engkau hanya sebuah pelangi? Yang hanya muncul sesaat setelah hujan reda? Padahal harapanku kepadamu ibarat bintang di langit. Mungkin kita nggak berjodoh Nik. Aku tak memaafkan dosamu ini. Sakit rasanya Nik, sakiiit.

Kabar terakhir, Mbak Rahma mendapatkan beasiswanya dan sekarang sudah kuliah. Entah si Anik. Aku tak peduli lagi kepadanya. Sudah kering air mataku untuknya. Andai ia tahu perasaanku kepadanya. Sesungguhnya aku pun berkorban untuk Anik. Kalau aku tak berpisah dengannya ia pasti akan disuruh mencium Pak Sapto itu. Satpam tua yang kumisnya lebar dan mata keranjang ke anak-anak sekolah. Aku tak mau dia menciumnya, maka aku pun berkorban untuk itu. APalagi cinta adalah pengorbanan.

Namun karena itu pula aku benci kepadanya. Benci dan cinta. Bedanya emang tipis. Tapi aku lebih memilih benci ama dia. Toh sampai sekarang aku masih kuat. Aku bisa berdiri sendiri. Aku bisa berjalan sendiri tanpa dia. Menikmati waktu-waktuku sendiri.

Tapi…tidak lama.

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part