web hit counter

Love Tamarind Part 15

0
277
Love Tamarind

Love Tamarind Part 15

Broken

Kamu tahu rasanya menjadi serpihan gelas?
Seperti seorang yang harus jujur sekalipun pahit
Apalagi ketika dua orang bersaudara harus menjadi musuh

Piye hasile?(bagaimana hasilnya)” tanya Mas Yogi.

“Lulus mas!” jawabku.

“Selamat yo,” katanya.

Ibuku memelukku, juga bapak. Aku akhirnya lulus. Nggak nyangka aja setelah lama menghabiskan masa-masa SMA aku bisa lulus. Yah, nilainya cukupanlah. Nggak terlalu baik, juga nggak terlalu jelek.

“Kuliah kemana rencananya?” tanya bapak.

“Aku kepengen ke UNAIR pak,” jawabku.

“Bagus, ngambil apa?”

“Entahlah, paling manajemen. AKu sudah demen ama Manajemen sejak dulu,” jawabku.

“Ya udah, bapak yakin kamu bisa,” kata bapak.

Setelah kejadian dengan si Ular Berbisa itu. Setiap ada kesempatan Si Ular berbisa itu minta jatah. Dan aku harus muasin memeknya itu. Brengsek emang.

Dan aku total setahun ini nggak ketemuan ama Anik. Memang aku berpapasan, tapi cuek. Nggak ngelirik dia sama sekali. Noleh saja nggak. Biarin dah. Bukan urusanku dia mau lulus atau nggak. Aku sudah bulatkan tekadku untuk ke Surabaya. Mengikuti SNMPTN di UNAIR dan akhirnya keterima. Kedua orang tuaku bersyukur aku bisa diterima. Nggak kalah ama Mas Yogi yang dulu kuliah di ITS.

Beberapa minggu sebelum hari keberangkatanku ke Surabaya ternyata Mas Yogi mau menikah ama Si Ular Salsa. Akhirnya yaaa kita mau nggak mau rewang dong. Mungkin dari semua orang hanya aku saja yang nggak semangat. Terutama ketika si Ular itu menatap ke arahku. Senyumannya penuh arti. Moga aja peju-pejuku itu nggak bikin anak. Kalau sampai bikin anak aku nggak tahu harus gimana lagi.

Setelah acara resepsi pernikahan dengan segala tetek bengeknya selesai akhirnya kehidupan kembali normal. Seminggu setelah acara pernikahan itu Mas Yogi memboyong si Salsa ke rumah. Dasar Si Ular. Di depan semua orang dia sok alim. Sok Jaim, tapi sebenarnya aku tahu bagaimana wataknya. Semakin dekat aku ama dia, semakin aku benci dengan Si Ular ini.

Mas Yogi tentunya ya tidur sama Salsa di kamarnyalah. Hari-hari berikutnya Salsa hadir di dalam keluarga kami. Sebenarnya keadaan keluarga ini normal kalau semuanya ngumpul. Kita ngobrol ngalor-ngidul, bercanda sana bercanda sini, tapi kalau sudah aku dan Salsa sendirian di rumah….

“Rian!” panggil Salsa manja.

“Apa mbak?”

Dia ada di dapur. Aku segera ke dapur. Dia nggak pake kerudungnya sekarang. Dia sudah selesai memasak dan sedang menata meja makan.

“Nggak ada apa-apa cuma kangen aja,” katanya.

“Udah deh mbak, nggak usah bercanda gitu.”

“Aku nggak bercanda lho. Beneran.”

“Mbak, harusnya mbak sudah sadar dong. Sekarang sudah punya Mas Yogi yang cinta banget ama mbak. Aku sudah maafin kelakuan mbak yang kemaren itu. Harusnya mbak sudah ngerti dan kita nggak perlu ngelakuin itu lagi.”

Eh, malah si Ular ini ketawa. “Ealah Rian Rian, kamu pikir aku bakal berhenti apa? Ada perbedaan antara kamu dan masmu yang mbak nggak pernah dapet.”

“Apa itu?”

“Kamu kalau di atas ranjang penuh perasaan, kaya’ bercinta ama orang yang disukai. Beda ama masmu. Masmu kepengennya muasin nafsunya. Kalau sama kamu nggak. Aku tahu koq, kamu selama ini ngentot ama aku pasti merem matanya, nggak berani lihat mata aku. Dan itu bikin aku makin suka, Yan.”

“Udah, aku nggak mau lagi melakukan ini mbak. Dosa!”

“Dosa? Dosa koq kamu juga mau? Hahahaha.”

“Sekarang mumpung masmu nggak ada, yuk! Mbak udah kangen berat ama kamu. Apalagi tiap kali gituan ama kamu mbak sampe lemes. Dari semua laki-laki cuma kamu yang kuat main ama mbak lebih dari dua jam. Kamu makannya apa sih sebenarnya?”

“Berarti ada orang selain aku dan Mas Yogi yang begituan ama mbak?”

“Cerita nggak yaa??”

“Katakan aja, toh nggak ada yang denger selain aku.”

“Hehehehe, jujurnya iya.”

“Nah, kan. Mbak bener-bener jahat. Udah ngejahatin Mas Yogi sampai segitunya.”

“Tapi bener, Yan. Mbak itu cinta ama masmu. Nggak tahu ya, mungkin karena masmu itu orangnya care sama mbak.”

“Sama siapa saja selain aku dan Mas Yogi?”

“Mau tahu aja, apa mau tahu banget?”

Aku lalu berbalik meninggalkan Salsa di dapur.

“Rian?!” panggilnya.

“Apa?”

“Kalau kamu kepengen tahu nama-nama siapa saja yang ngentot ama aku, sini deh tiap kali kamu nyampe aku kasih satu nama,” kata Salsa. Sekarang tiba-tiba dia sudah memelukku dan meremas-remas kontiku. “Jadi kalau kamu ngecrot, aku kasih satu nama buatmu.”

“Ada berapa nama?”

“Hmm…aku nggak bakal bilang.”

“Dasar lonte!”

Emang, trus awakmu arep lapo(emang, trus kamu mau apa)?”

Aku meronta agar ia melepaskan pelukannya.

“Mbak, Mas Yogi itu cinta banget ama mbak. Dia selalu muji-muji mbak. Masa’ mbak nggak ada perasaan sama sekali sih? Ini udah keterlaluan mbak. Aku takut kalau-kalau mbak sampai hamil gara-gara kelakuan kita,” kataku.

“Nggak usah takut. Aku sudah hamil koq. Tapi ini anak Masmu.”

“Yang bener?”

“Iya, setelah terakhir kali kita ML, aku kan haidh. Nah setelah haidh itu kamu nggak pernah ML ama aku. Cuma Mas Yogi aja, trus jadi deh. Kemarin itu pas resepsi sebenarnya aku udah hamil. Tenang aja, nggak perlu risau. Jadi kita kan bisa ngentot tanpa takut kan? Yuk!”

“Nggak mbak. Aku nggak mau.”

“Rian! Mau kemana?” panggilnya.

Aku segera berlari keluar rumah. Kuambil kunci motor dan kustarter sepeda motorku. Aku pergi.

“Rian! Rian!” panggilnya.

Nggak. Aku nggak mau lagi masuk jebakannya. Hari itu aku kembali ke Gua Selomangleng. Tempat di mana aku dan Anik mengungkapkan perasaanku. Bagaimana Anik sekarang ya? Aku tak pernah tahu kabarnya lagi. Sebenarnya….aku masih care ama Anik. Aku masih cinta ama dia. Aku itu bego, bego banget. Kalau toh Elok punya perjanjian ama Anik, so what? Akukan masih bisa pacaran ama Anik. Aku kan masih mencintai dia. Kenapa aku harus membencinya? Bener kata Anik. Aku itu begooooo banget jadi cowok. Gara-gara urusan konti juga aku sampai masuk perangkap si Ular itu.

Anik, kamu masih cinta ama aku nggak sih? Aku maafin kamu koq. Kembali dong ke aku. Air mataku meleleh mikirin Anik. Aku begooo bener. Anik, Anik, Anik.

****

Malemnya aku balik. Mas Yogi, Ibu sama bapak udah ada di rumah semuanya. Aku mem-BBM Mas Yogi. Apa yang dilakukan oleh Si Ular itu harus dihentikan.

Me: Mas, aku kepengen ngomong sama mas.

Yogi: Ngomong aja di sini. Wong ada di rumah koq.

Me: Ini rahasia mas. Tolonglah. Ketemuan yuk di mana gitu. Tapi jangan sampai ada yang tahu. Plis ini rahasia dan penting.

Yogi: Tunggu aku di pos kamling!

Aku kemudian keluar ke pos kamling yang ada di perempatan jalan. Agak jauh dari rumah. Tapi dari sini aku bisa melihat rumahku ama rumahnya Anik di ujung sana. Gimana kabarnya Anik? Kemarin aku lihat dia pergi sama seorang laki-laki seperti keluarganya. Ah, masa bodoh. Aku nggak ada hubungan ama Anik lagi koq.

Tak berapa lama kemudian Mas Yogi datang. Ia langsung duduk di sebelahku.

“Ada apa?” tanyanya.

“Aku mau minta maaf sama mas,” jawabku. Aku harus berani. Aku harus berani jujur ama Mas Yogi. Biar dikata aku nanti bonyok dihajar oleh dia.

“Apaan?”

“Sejujurnya aku pernah ngentot ama Mbak Salsa.”

JDUEESS! Beneran aku dipukul.

Omong opo awakmu? Pernah ngentu bojoku? (Bicara apa kamu? Pernah ngentot ama istriku)” Mas Yogi mencengkeram kerah bajuku.

“Dengerin dulu! Dengerin dulu! Mas kudu percoyo karo aku!”

Dia pun melepaskan cengkramannya. Aku pun berdiri.

“Selama ini, aku kan nggak pernah bohong sama mas. Aku juga nggak pernah berbuat jahat sama mas. Tapi aku udah nggak kuat lagi mas. Mengkhianati kepercayaan mas. Aku dipaksa mas gituan sama mbak Salsa. Aku awalnya lihat mas gituan ama Mbak Salsa trus kemudian Mbak Salsa ngancem kelakuan aku bakal diceritain ke mas. Akhirnya terjadilah mas.”

“Berapa kali kamu ngentot ama dia?”

“Kalo ada kesempatan pasti Mbak Salsa minta jatah ke aku.”

“Bohong kamu! Trus anak itu? Anakku apa anakmu?”

“Anaknya mas. Itu aku nggak bohong Mas bisa cek DNA deh. AKu nggak bohong!”

“Brengsek! Awakmu emang nggatheli Yan. Aku nggak gelem ndelok rupamu maneh. Asu tenan kowe. Mas-e dewe dipangan. Jancok!” (brengsek! kamu emang nggatheli Yan. Aku nggak mau lihat wajahmu lagi. Anjing kamu ini. Masnya sendiri dimakan. Jancok)

“Mas, aku nyuwun ngapuro, tapi beneran. Mbak Salsa iku uwonge ora apik. Lonte!” (Mas, aku minta maaf tapi beneran. Mbak Salsa itu bukan wanita baik-baik. Lonte)

“Jancok!” aku dipukulnya lagi. Aku tak membalas aku terima semuanya. Aku terjatuh dengan mulut berdarah.

“Mas, percoyo karo aku! Percoyo mas! Mbak Salsa iku dudu wong wadon apik!” (mas percayalah ama aku. Percaya. Mbak Salsa itu bukan cewek baik-baik)

“Kapan awakmu budhal nang Suroboyo? Aku ora sudi ndelok rupamu!” (Kapan kamu berangkat ke Surabaya? Aku nggak sudi lihat wajahmu)

Mas Yogi berbalik dan meninggalkan aku. Jiampuuuttt…

#Pov Anik#

Jakarta nih. Waahhh….macetnyaaaaaaa ampuuuunn. Ini pertama kalinya aku ke ibu kota. Welahdalah. Baru pertama kali ke ibu kota dianter ama pak dheku. Rasanya puanaasss. Rambutku sampe gatel. Ini pasti banyak ketombenya. Pengap banget. Aku ke Jakarta sama pak dheku naik kereta Gajayana, turun di stasiun Gambir. Setelah itu naik Kopaja trus muter-muter pake angkot. Tiba di rumah pak dhe maghrib. Capek maaaak…

“Nik, kamu istirahatnya di kamarnya Yuli ya,” kata pak Dhe.

“Nggih pak,” jawabku.

Yuli ini adalah sepupuku. Aku tak begitu akrab ama dia. Tapi setelah ini aku bakal lebih banyak ketemu ama dia. Aku keterima di Jurusan Komunikasi FISIP UI, sesuai cita-citaku kepengen jadi wartawan, reporter, penyiar tv. Hehehe. Aku sudah tinggalkan masa-masa SMA. So long Rian. Aku udah move on. Nggak mau terus-terusan mikirin kamu. Aku sadari aku salah. Tapi aku nggak mau jalan di tempat. Ada masa depan yang harus aku raih. Aku kepengen jadi reporter. Itulah cita-citaku.

Seorang cewek pake hotpants keluar kamar. Dia adalah Yuli.

“Ehh…ini ya Anik? Waah…lama nggak ketemu ama lo,” kata Yuli.

“Yulii…ya ampuun!” aku pelukan dan cipika-cipiki ama dia.

“Capek ya pasti?”

“Iya nih, capek banget!”

“Ya udah, sini gue bantu. Mandi sana, trus habis itu kita ngobrol yuk, udah lama nggak ketemu.”

Malam itu aku mandi, badanku udah lengket semua. Seger.

Rumah pak dhe ini nggak begitu besar sih. Masih masuk kampung. Tapi bisa dilewati mobil. Buktinya ada mobil di garasinya. Malam itu sambil melepaskan lelah aku ngobrol banyak ama Yuli. Udah lama kami nggak ketemu. Mungkin dua lebaran yang lalu adalah terakhir kali aku ngobrol ama dia. Aku pun jadi lebih akrab. Suaraku yang agak medok mulai terbiasa dengan logat “lo gue” khas anak jakarta. Ada telepon masuk.

“Eh, bentar ada telepon dari ibu,” kataku menyela perbincanganku ama Yuli.

“Halo bu,” kataku.

“Eh, gimana udah nyampe?” tanya ibu.

“Beres, udah nyampe. Ini lagi ngobrol ama Yuli,” jawabku.

“Syukurlah kalau begitu. Baik-baik di sana ya nak. Kuliah yang bener, jangan ikutan demo-demo nggak jelas! Jangan dugem! Jangan ikutan pergaulan bebas!…….” ibuku menasehatiku panjaaaang banget.

“Iya bu, iya, ngerti. Anik nggak bakal jadi anak nakal. Anik bakal jadi anak baik,” kataku.

“Ya udah. Istirahat kalau gitu,” kata ibuku.

“Inggih bu.”

Setelah itu ibu menutup teleponnya.

“Wah, foto siapa itu Nik?” tanya Yuli ketika melihat wallpaper ponselku. Oh iya. Aku lupa. Wallpaperku adalah wajahnya Rian. Fotonya. “Cowokmu?”

“Maunya sih gitu,” jawabku.

“Hah? Maunya. Maksudnya gimana?”

Aku pun bercerita tentang Rian. Bagaimana ia sangat mencintaiku, bagaimana juga persahabatan kami yang kandas. Eh…malah Si Yuli kebawa suasana sampe nangis. Aku juga jadi ikutan nangis deh. Duh…padahal aku sudah janji bakal move on. Tapi rasanya nggak bisa. Apalagi aku sudah janji akan terus suka ama Rian. Terus cinta ama dia.

“Waduh Niiik, lo koq bego banget sih jadi cewek? Ada yang cinta tulus ama lo koq ya digituin,” kata Yuli sambil menghapus air matanya pake tisu.

“Nggak taulah Yul, aku sampai sekarang masih kangen ama dia. Aku berharap ia masih mencintaiku,” kataku. Kami pun berpelukan saling menenangkan diri.

Aku masih cinta ama Rian.

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part