web hit counter

Love Tamarind Part 16

0
195
Love Tamarind

Love Tamarind Part 16

With You

Cinta itu bukan dicoba-coba seperti Sayur Asem
Kalau kamu yakin dia jodohmu
Maka seriuslah ama dia

#Pov Rian#

Hello Surabaya. Piye kabare cuk! Perjalanan dari Kediri ke Surabaya nggak susah-susah amat. Mau transportasi kereta ataupun bis sama enaknya. Tapi aku lebih suka pake kereta. Selain nanti turun di stasiun Gubeng dan tinggal jalan kaki menuju tempat kos, aku juga suka suasananya. Aku sengaja nggak bawa motor. Kepengen kenalan dulu ama kota ini. Puanas. Itulah yang pertama kali terlontar dalam hatiku. Panas banget. Gerah.

Bahkan ketika aku masuk ke kamar kosku yang lebarnya cuma 3 x 2,5 m ini rasanya pengap. Padahal jendelanya ada. Angin-anginnya ada. Tiap malam pasti masang kipas angin. Penghuni kosku rata-rata cowok semua. Dan di sini aturannya ketat. Nggak boleh bawa cewek masuk ke kamar. Ketemuan ya di teras saja sana. Jam 11 pagar sudah ditutup. Jangan harap ada bebas-bebasnya di sini.

Aku kenalan ama beberapa mahasiswa baru yang juga kuliah di UNAIR. Mereka adalah Erik, Andi, dan Totok. Yang lainnya sih kuliah di tempat lain. Aku tak begitu akrab karena mereka sudah senior dan katanya sebentar lagi udah mau skripsi.

Sampeyan teko endhi?(kamu dari mana)” tanya Erik.

Teko Kediri, lha sampeyan?(Dari Kediri, lha kamu)” tanyaku balik.

Aku teko Jombang. Wah…cedak yo (aku dari Jombang, deket ya),” kata Erik. “Iso bareng iki mulihe (Bisa bareng ini kalau pulang).”

Jombang ama Kediri emang satu jalur. Dilewati bis bisa dilewati kereta juga bisa.

Aku teko Jember, nek Totok iki teko Lamongan(Aku dari Jember, kalau Totok dari Lamongan),” kata Andi.

“Iki kabeh jurusan manajemen? (Ini semua jurusan manajemen)” tanyaku

“Nggak, Aku jurusan Teknik Sipil,” kata Totok.

“Tapi ospek besok kan ya sama semua,” kata Andi.

“Beda dong, anak teknik beda ospeknya,” kata Totok.

“Oh, begitu. Sampeyan (kamu) ngerokok nggak mas?” tanya Erik menawariku sebungkus rokok MILD.

“Nggak, aku nggak ngerokok mas,” kataku.

“Sorry yo, aku ngerokok,” kata Erik.

Kami mempersilakan Erik ngerokok. Kami saling ngobrol satu sama lain. Yah, mengakrabkan suasana. Ngomong masalah Surabaya, masalah angkot, masalah SNMPTN, sampai masalah politik yang ruwet. Tapi kami tak sampai malam ngobrolnya. Jam sepuluh kami sudah harus tidur karena besok jam enam kita sudah ada agenda ospek.

Singkat cerita aja ya. Kita ospek. Melewati hari-hari perploncoan. Yah tahu sendirilah, tugasnya aneh-aneh. Bikin bambu runcing. Trus sampai bikin pertunjukan segala, bikin drama. Asem tenan. Emangnya kita ini kuliah di jurusan kesenian apa?

Saat itulah hari terakhir Ospek. Aku nggak sengaja ketemu ama dia. Seseorang yang sekilas mirip Anik. Tapi bukan Anik. Melainkan Rahma. Itu juga nggak sengaja. Ketika selesai sholat Ashar, aku melihat seorang anak cewek berjilbab lebar pake kacamata ngejar kertas-kertas yang ia bawa karena tertiup angin.

Aku otomatis bergerak membantu dia, memunguti satu-satu dan menangkap kertas-kertas yang kabur itu. Setelah itu aku serahkan ke dia.

“Ini mbak,” kataku.

“Makasih ya mas….Lho, Rian???” katanya. Ia memanggil namaku.

Aku terkejut bukan main. “Mbak Rahma???”

“Ya ampuuuuunnn!” lenganku dicubit ama dia.

“Adududududuh!” aku mengaduh, sakit cubitannya.

“Nggak nyangka kamu kuliah di sini?” tanyanya.

“Iya mbak, noh pake baju item putih. Lagi ospek ini,” jawabku.

“Ya Ampun, Rian. Lama nggak ketemu. Kamu makin cakep aja ya,” ia mencubit pipiku.

“Aduh mbak udah dong, koq dicubiti terus sih?”

“Biarin, mbak kangen banget ama kamu. Sini deh ngobrol dulu yuk! Masih ISHOMA kan?”

“Iya.”

“Ya udah ngobrol dulu ayuk!”

Akhirnya aku pun menurut. Kami pergi ke sebuah kantin yang lumayan sepi karena memang kampus belum aktif, selain anak-anak yang ikut ospek nggak ada yang terlihat. Kami duduk berdua di sana. Mbak Rahma ini makin cantik ya. Ia sekarang pake kacamata. Wajahnya malah mirip ama Anik kalau begini.

“Aku nggak nyangka kamu bisa masuk UNAIR,” katanya.

“Mbak juga, jadi ngambil ke kedokteran?”

“Iya, kan mbak….sudah janji ama kamu.”

“Wah, masih ingat janji itu?”

Rahma mengangguk. Ya tuhan, mbak Rahma masih ingat aja ama janji itu.

“Aku sudah masuk ke kedokteran. Nanti lulus bakal jadi dokter. Dapet beasiswa terus. Enak kuliah gratis hehehe.”

“Selamat deh mbak.”

“Ngomong-ngomong hubunganmu sama Anik gimana?”

“Hah?”

“Udah deh, nggak usah disembunyikan. Mbak tahu koq. Anik udah cerita semuanya.”

Aku terdiam. Nggak tahu harus ngomong apa. Aku menarik nafas dalam-dalam.

“Nggak usah cerita deh kalau nggak mau.”

“Aku udah putus koq mbak,” kataku tiba-tiba.

“Iya, mbak udah tahu kamu putus. Maksudku kamu balikan ama dia apa nggak?”

Aku menggeleng.

“Oh, begitu. Tapi kalian masih akrab kan?”

Aku menggeleng lagi. “Aku nggak mau lagi hubungan ama dia?”

“Lho, koq gitu?”

“Maaf ya mbak, jangan ngomongin lagi soal Anik. Sakit hatiku.”

Mbak Rahma tersenyum. “Ya udah, aku ngerti koq. Ngomong-ngomong, kamu jurusan apa?”

“Jurusan Manajemen.”

“Hihihi. Sesuai dengan bidangmu.”

“Iya mbak, daripada mikirin matematika, fisika, kimia mending ini aja deh.”

“Trus, disuruh ngapain aja selama ospek?”

“Halah, mbak kaya’ nggak pernah ospek aja. Ya begitulah. Nih lihat disuruh bikin tag-name segedhe gaban gini trus kesana-kesini kaya’ orang gila.”

“Hahahaha.”

“Yee, malah ketawa.”

Soale awakmu iku lucu (Soalnya kamu itu lucu).”

“Mbak, udah punya pacar belum?”

“Belum.”

“Mosok? Gak percoyo aku. Cewek secakep Mbak Rahma ini nggak punya pacar?”

Kepalaku digetok ama kertas yang dia bawa. “Aduh.”

“Mbak nggak mau pacaran. Itu udah komitmen mbak. Kenapa tanya gitu? Naksir ama mbak?”

DEG! Kenapa Mbak Rahma tanya gitu? Kalau soal naksir sih…bingung juga. Sedikit sih aku suka ama Mbak Rahma. Lagian dia juga sahabatku sejak kecil. Aku pun ingin mencairkan suasana. Kucoba bercanda aja ah.

“Kalau misalnya iya?”

“Huu…kerja sana dulu, trus lamar aku!” kata dia sambil melet.

“Serius nih? Kalau aku sudah kerja mbak aku lamar gitu?”

“Heeeh…siapa yang mau ama kamu?”

“Lho, kan tadi nyuruh aku kerja dulu trus boleh ngelamar?”

“Kamu sama Anik aja tuh.”

“Nggak ah, kalau sama Mbak Rahma gimana?”

Kami terdiam. Ada sesuatu yang aneh menyelimuti kami berdua. Entah apa, tapi sesuatu kenyamanan lain. Apa aku jatuh cinta lagi??

“Udah ah, mbak mau pergi. Kamu nggak balik? Temen-temenmu udah balik lho.”

Aku melihat beberapa peserta ospek udah kembali ke gedung. Aku berdiri. “Eh iya”

“Udah sana!” katanya sambil mendorongku agar pergi.

“Bentar-bentar. Mbak minta nomor ponselnya dong. Pin BB juga boleh,” aku mengeluarkan ponselku.

“Nomorku 081244514XXX, pin ER71***”

Aku catet semuanya di memo. “Nanti aku call ya. Sampai besok ya mbak.”

“Iya, dasar!”

#Pov Rahma

Lho, Rian kuliah di sini? Alamak udah lama aku nggak ketemu ama dia. Dia makin cakep aja. Aduhh..malu aku. Kenapa juga bercandaku keceplosan ya tadi. Pake bilang “kerja sana trus ngelamar aku.”

Dia kan pernah pacaran ama Anik. Dulu Anik curhat ke aku. Kalau sebenarnya ia pacaran ama Rian, tapi dibuat taruhan sama temennya. Trus Rian jadi benci ama dia. Tapi aku tahu kalau Anik masih cinta ama Rian. Buktinya ponselnya Anik ada Wallpaper wajahnya Rian. Aku cemburuuu banget. Tapi yah, mau gimana lagi.

Namun setelah hari ini aku ketemu dia. Aku jadi tahu kalau dia beneran sudah putus ama Anik. Bahkan kaya’nya ia tak mau membahas hubungan mereka berdua. Setelah hari itu menyelesaikan tugasku. Aku segera pulang. Aku memang mengikuti semester pendek agar bisa ngejar SKS dan IPku. Selama ini IPku 3,7. Dan aku harus mempertahankannya atau lebih lagi. Belajar yang rajin. Hampir tiap hari aku habiskan waktu di perpustakaan sampai-sampai nggak terasa aku kena minus. Sekarang kacamataku selalu menemaniku. Kata ibuku aku jadi lebih mirip Anik kalau pake kacamata.

Malam Minggu. Aku tinggal di sebuah kos putri di sekitaran Gubeng. Dua lantai. Kamarnya ada lima belas. Banyak emang. Dan seperti biasa ada aja yang main ke kost putri ini buat dijemput. Maklumlah anak muda. Apel malam minggu. Aku masih jomblo dan nggak minat pacaran. Apalagi aku ikutan rohis. Jadinya yahh..nggak deh. Kalau mau ama aku lamar aja langsung.

Lho, ada BBM masuk.

Rian: ping!

Dari Rian!

Duh,…ni anak. Pake nembak langsung lagi. Aku harus jawab apa ya? DEG! Dadaku berdebar-debar. Dasar si Rian ini ASEEEMM. Tapi yang namanya Cinta emang bukan Sayur Asem yang dikit-dikit harus dicoba agar bumbunya pas. Aku apa harus jujur ama Rian?

Me: Aku mau bilang sesuatu ama kamu.

Rian: Apa mbak?

Me: Aku ama Anik itu suka ama orang yang sama.

Rian: Hah??

Uffhh…akhirnya aku bisa jujur.

Dia serius mau ke sini? Aku akhirnya meletakkan ponselku. Nggak ada BBM lagi dari dia. Apa dia serius mau ke sini? Akhirnya aku di kamar cuma harap-harap cemas. Dia dateng nggak, dateng nggak, dateng nggak. Aku aja berdebar-debar. Aku barusan jujur ama Rian. Salah nggak sih aku ini? Gimana Anik? Dia kan masih suka ama Rian. Wallpaper ponselnya aja fotonya Rian.

Duh, aku musti gimana? Emang aku dan Anik suka ama cowok yang sama. Cowok teman bermain kami sejak kecil. Tapi kalau misalnya Rian suka ama aku bagaimana? Kalau dia emang jujur suka ama aku juga bagaimana? Entah kenapa hari ini aku bisa jujur kepada diriku sendiri, jujur juga kepada Rian. Pantas nggak sih anak rohis seperti aku bisa suka ama cowok? Tapi ini bukan sembarang cowok. Dia adalah Rian. Sosok cowok spesial bagiku. Juga bagi Anik.

Tapi ini adalah kehidupanku. Cintaku. Salahkah aku memperjuangkan cintaku? Cinta yang ingin aku raih sejak dulu, sejak aku masih bermain dengan dia. Kalau dia sudah ada di depan mataku apakah aku harus menolaknya? Kalau Anik juga masih suka ama dia trus kenapa? Bukannya Rian sudah nggak jalan lagi ama dia? Bukankah Rian sudah nggak mau lagi dengan Anik? Bukankah dia juga barusan bilang dia mau syaratku.

Ponselku berbunyi. Aku segera angkat, itu dari Rian.

“Ya?” kataku singkat.

“Aku ada di luar mbak,” katanya.

Eh, beneran dia. Aku lihat ke luar jendela. Aku ada di lantai dua soalnya. Iya beneran. Itu dia pake kaos oblong. Ia ngos-ngosan seperti barusan lari dikejar anjing. Nekad juga ini anak.

“Bentar, aku turun!” kataku. Trus aku tutup teleponnya. Aku ambil kerudungku langsung kupakai. Segera aku turun dari kamarku lalu langsung keluar dari kost. Gila, turun dari tangga trus lari sampi depan aja aku juga ngos-ngosan.

Kini, coba bayangin deh seperti di film-film bagaimana kamera mengitari kami berdua. Kami saling berhadap-hadapan. Dia ada di depanku tersenyum manis sambil ngos-ngosan ngatur nafas. Aku juga. Trus kalau sudah begini ngapain? Nggak ada yang kami lakukan. Kami berdiam saling berhadapan. Sementara itu beberapa sepeda motor berjalan melintas di depan kami. Kadang juga penjual tahwa, anak-anak kecil yang lari-larian. Depan kostku memang jalan kecil yang mungkin hanya bisa dilewati oleh satu mobil. Jadi banyak yang lalu-lalang di sini. Ya, total kami diam saling berpandangan selama dua menit kurang lebih. Lucu kan?

Ini tak pernah aku rasakan sebelumnya. Aku jatuh cinta ama Rian. Cinta yang teramat dalam. Rian kemudian melangkah maju. Ia jalannya menyeret, eh ternyata sandal jepitnya putus! Ia lepas sandalnya, nyeker jalan ke arahku.

DIIINN! Sebuah sepeda motor hampir aja nabrak dia.

“Wooo, sontoloyo! Ndelok dalan cuk!” umpat pengemudi sepeda motor yang hampir nabrak Rian.

Tapi Rian tak peduli. Ia terus berjalan menuju ke arahku. Dan akhirnya jarak kami hanya tinggal dua langkah lagi. Aku berdebar-debar, aku nggak pernah seperti ini sebelumnya.

“Mbak Rahma, aku…aku…,” Rian terbata-bata.

“Nggak usah dikatakan, aku sudah tahu,” kataku.

Rian tersenyum. Ia menarik nafas dalam-dalam. “Hehehehe, aku nggak pernah seperti ini sebelumnya.”

“Kamu ini jadi cowok koq bego banget sih?”

“Udah jadi kebiasaan mungkin,” Rian menggaruk-garuk rambutnya.

“Trus?”

“Kita jadian?”

Aku mengangguk. Rian langsung mengepalkan tangannya dengan pose YES! Aku tertawa geli melihat itu.

Lho, Rian? Lapo kon nang kene? (Lho, Rian? Ngapain kamu di sini?)” seorang pemuda naik motor berhenti di sebelahnya.

“Eh Rik,” jawab Rian. “Gak lapo-lapo cuman ketemu konco lawas.(Nggak ada apa-apa cuma ketemu temen lama)”

Konco opo konco? (temen apa temen)” goda temennya Rian itu.

Aku pacare koq mas(aku pacarnya koq mas),” celetukku. Rian menoleh kepadaku. Ia agak terkejut mendengarnya.

“Hah? Beneran?”

“Yah…semenit yang lalu sih bisa dibilang begitu,” kata Rian.

“We..e..e..ee, asem tenan awakmu. Kuliah aja belum udah dapat pacar. Cakep pula? Kenalin mbak, Erik. Temennya kost Rian,” kata Erik.

“Rahma,” kataku.

“Yo wis, aku tinggal yo?” kata Erik.

“Eh, Rik, bareng,” kata Rian.

“Lho, udahan toh? Nggak ngobrol-ngobrol kalian?” tanya Erik

“Aku sih udah cukup, Rahma? Aku duluan ya?” kata Rian. Ini pertama kalinya ia nggak manggil aku dengan sebutan “mbak”.

Aku tersenyum sambil memberi salam. Dia membalasnya. Aku hanya bisa melihat ia dibonceng ama Erik. Dia masih menoleh ke arahku sampai ia tak terlihat lagi. Duh, hatiku berbunga-bunga. Aaaaaaakkkkkk!

#Pov Anik

“Nik? Kamu Anik bukan?” sapa seseorang.

Aku menoleh ke arahnya. “Zain??”

“Weeii…apa kabar?” tanyanya.

“Baik, baik. Kamu di UI juga?” tanyaku.

“Iya. Ngambil jurusan apa?”

“Komunikasi”

Ahhh..kenapa aku ketemu ama Zain lagi? Orang yang dulu cintanya aku tolak. Dia berbeda sekarang. Nggak seperti dulu yang culun. Rambutnya cepak, bajunya pun modist. Dia keren sekarang.

“Ada kuliah?” tanyanya.

“Ada nanti jam sembilan,” jawabku.

“Oh ya sudah, aku ada kuliah habis ini. Eh, boleh minta nomor ponselmu?” tanyanya.

“Boleh,” kataku. Kami bertukar nomor hp. Setelah itu ia cabut. Apa ini suatu kebetulan? Ataukah memang takdirku ketemu ama Zain?

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part