web hit counter

Love Tamarind Part 18

0
283
Love Tamarind

Love Tamarind Part 18

Liburan itu Nyemek-nyemek (agak basah)

Sesuatu yang basah itu ada kuahnya
Sesuatu yang kering jelas nggak ada airnya.
Kalau yang agak nyemek-nyemek itu serasa basah, agak basah, becek

#Pov Rian

Liburan semester. Tadaaa. Aku bisa habiskan liburan semesterku bersama Anik, eh koq Anik lagi? Sama Rahma. Rahma kali ini bukan Anik. Ingat itu. Seperti biasa. Aku pulang pake kereta. Apalagi liburan semester ini Rahma nggak ngambil semester pendek. Capek katanya. Ingin liburan juga.

Singkat cerita nyampe Kediri dan aku nganter dia sampai ke rumah. Kemudian sungkem ama bapak dan ibu. Mas Yogi nggak ada di rumah. Diakan udah punya kontrakan sendiri. Yah, moga aja Si Ular berbisa itu nggak ganggu lagi. Aku selama ini di kampus nggak pernah ngajak jalan Rahma.

Mungkin karena kita satu kampus trus kalau janjian ketemuan ya di kampus. Di perpus, di kantin, di kelas. Toh juga hampir tiap hari ketemu di kampus. Tapi liburan semester ini adalah momen yang tepat untuk aku biar bisa lebih dekat ama Rahma. Aku BBM dia dulu

YES! Aku segera dandan dong, mau ketemu pujaan hati masa’ tampang kisut? Setelah selesai aku langsung melompat menuju ke garasi ngambil motor matic. Aku starter motorku.

“Lho? Mau pergi, Yan?” tanya ibu.

“Nggih bu,” jawabku.

“Ohh…mau kencan ya?”

“Waduh, ibu koq tahu?”

“Lha parfumnya wangi. Sepuluh meter bisa kecium.”

“Iya tah?” aku mencium bauku sendiri.

“Yowis, ati-ati. Tapi ojo kebablasan lho ya. Ibu nggak mau tiba-tiba Bu Ika datang kemari laporan anaknya dihamili ama kamu.”

“Nggaklah bu. Kula pamit rumiyin (aku pergi dulu)”

Aku memakai helm dan mengambil sebuah helm yang nggak dipakai. Kemudian kutarik gasnya. Nggak berapa lama kemudian aku sudah ada di depan rumahnya. Rahma udah siap. Ia pakai kerudung hitam, atasan warna putih, pake rompi warna biru, dengan rok panjang warna abu-abu. Tahu nggak bedanya Anik ama Rahma. Anik, kadang pake celana. Rahma nggak. Ia pasti pake rok. Aku nggak pernah lihat dia pake celana. Rahma membetulkan kacamatanya.

Ia langsung menemuiku yang masih ada di atas sadel. “Wuihh…necisnya, wangi banget.”

“Iya dong, buat kekasihnya masa’ nggak boleh wangi?”

“Huu…uda mulai gombal.”

Aku nyerahin helm kepadanya. Ia menerimanya dan langsung memakainya.

“Mau kemana emang?”

“Terserah deh, mau kemana?”

“Ke Selomangleng?”

“Jangan Ma, yang lain.”

“Lho, kenapa?”

“Udah deh, kalau ke sana aku bisa ingat ama Anik lagi.”

“Oh…iya deh, aku ngerti. Ke Taman Sekartaji aja kalau gitu. Gimana?”

“Naah, boleh tuh. Oke, tancaaaapp!”

Kami pun melaju di atas jalanan kota Tahu. Nggak ramai. Iyalah kotanya kecil. Nggak seperti Surabaya, nggak seperti Bandung, nggak seperti Jakarta. Mau makan di warung aja harganya sangat terjangkau. Kalau biasanya nasi pecel plus teh anget di Surabaya habis 10.000 paling murah. Di sini ada yang cuma habis 5.000. Setengahnya dan rasanya nggak kalah enaknya.

Selama perjalanan, Rahma ngamplok aku seperti cicak. Walaupun duduknya miring. Tangannya dilingkarkan ke perutku. Sensasinya beda tentu saja. Kalau dengan Anik aku bisa merasakan dua bukit kembarnya, kalau Rahma nggak. Dibonceng pun ia masih jaga jarak. Wah, lain ini. Nggak berapa lama kemudian setelah naik di Jembatan Lama. Kami pun sampai di Taman Sekartaji.

Taman ini ada di depan sebuah Air mancur di Bundaran Jalan Mojoroto. Tamannya ada beberapa pohon rindang dan kalau Malam Minggu rame banget tempat ini penuh muda-mudi. Berhubung ini masih sore, jadinya sepi. Setelah sampai aku parkir kendaraanku di tempat parkir dan mulai jalan-jalan untuk mencari bangku. Kami lalu duduk di sana.

Seperti Anik. Rahma nggak banyak bicara. Kami hanya menggunakan bahasa tubuh. Tangan kami bergandengan erat dan dia menyandarkan kepalanya ke pundaku. Setelah sepuluh menit diam, barulah Rahma bicara.

“Rian?” katanya.

“Ya?”

“Kamu serius nggak ama aku?”

“Maksudnya?”

“Pernah nggak kamu mikirin kalau hubungan ini lebih jauh lagi?”

“Maksudnya apa Ma? Kamu kepengen aku nikahin kamu?”

Rahma mengangguk. Jujur, aku nggak pernah mikir sampai ke situ.

“Aku belum pernah mikir sampai ke situ, Ma.”

“Aku jujur belum pernah pacaran seperti ini, Yan. Aku juga sebenarnya nggak mau pacaran. Tapi….entah kenapa ama kamu aku mau. Mungkin emang kamu sudah jadi sahabat aku sejak lama. Sudah jadi orang yang spesial. Makanya aku jadi mau gitu aja.”

“Kamu nyesel pacaran ama aku?”

“Bukan begitu. Aku malah senang. Aku gembira. Orang yang aku sukai sejak dulu bisa jadi kekasihku. Dan aku nggak mau kita cuma berhenti sampai di sini aja. Ada alasannya Yan aku bilang begini. Pertama aku ingin meyakinkan diriku bahwa kamu memang benar-benar menyukaiku, Kedua, aku tak ingin kamu lepas dariku. Makanya aku ngasih kamu komitmen. Dan aku ingin lebih dari sekedar komitmen.”

Cinta itu bukan sayur asem. Yang bisa dicicip-cicip seenaknya. Ingat itu! Aku meyakinkan diriku. Apakah Rahma adalah wanita yang tepat? Apakah ia wanita yang tepat? Kalau memang ia wanita yang tepat. Kenapa aku masih belum bisa menyentuhnya? Tidak. Menyentuhnya bukan berarti menandakan ia wanita yang tepat atau tidak. Justru, seorang wanita yang mau menjaga dirinya itulah wanita yang tepat. Dan ini ada pada Rahma. Iya, ini ada pada Rahma. Itulah kenapa ia bertanya demikian.

Rahma sudah menyukaiku sejak dulu. Berbeda dengan Anik. Ia baru menyukaiku saat aku bilang perasaanku. Berbeda dengan Rahma. Dia sama seperti aku. Menyukai seseorang sudah sejak lama. Dan selama itu juga dipendam rasa cintanya. Sama seperti aku ketika aku harus mencintai Anik. Kupendam perasaanku selama itu juga. Tapi aku malah dikecewakan oleh dia. Aku bisa merasakan perasaan Rahma. Sekarang ketika orang yang disukainya bilang kalau ia suka ama dia. Maka jelas sekali, jelas sekali ia tak ingin aku pergi. Ia tak ingin hubungan ini seperti hubunganku dengan Anik. Ia ingin benar-benar mengunciku tepat di hatinya.

“Ma, aku barusan berpikir.”

“Nggak usah diomongin deh, kamukan biasanya O’on.”

“Waduh? Ngeledek,” aku cubit pinggangnya.

“Aduh! Rian, dasar iihhh!” aku balas dicubit lenganku.

“Adudududuh.”

Rahma tersenyum kepadaku, “Kamu mau ngomong apa, Yan?”

“Setelah dipikir-pikir….aku ingin serius ama kamu.”

Rahma tampak sumringah. “Beneran?”

“Iya. Lagian… kalau aku nggak serius, aku akan mengecewakan hati orang yang selama ini suka kepadaku.”

“Oh Riaan…,” Rahma memelukku.

Setelah itu lagi, kami membisu. Orang yang lalu lalang di taman udah sepi.

“Boleh aku cium kamu, Ma?” tanyaku.

Ia menoleh kepadaku. Kami saling menatap. Rahma menatapku dengan pandangan sayu. Dia seolah sudah mengijinkan aku untuk mengecupnya. Beneran nih? Wajahku pun mendekat. Sedikit demi sedikit. Aku sudah pernah mencium cewek, jadinya mencium Rahma nggak ada kesulitan tentunya, hanya saja ada sebuah perasaan. Perasaan yang kuat. Dadaku sesak, jantungku sekarang berdebar, dan aku seolah-olah tak bisa mendengar apapun, tak bisa melihat apapun kecuali Rahma. Ya, kecuali dia. Ini seperti yang digambarkan oleh ibuku. Orang yang benar-benar sedang jatuh cinta, ketemu ama cinta sejatinya.

Pelan tapi pasti waktu serasa lambaaaaaaaaat sekali. Bahkan rasanya sedetik itu seperti satu menit yang panjang. Aku memiringkan wajahku, kemudian bibirku sudah menempel di bibirnya. Clesssssssss……hatiku seperti tersiram es. Aku kecup bibir Rahma. Manis, Nafas kami bertemu, Aku pun memagutnya, beberapa kali. Setelah itu sudah. Aku menarik nafas panjang, Ciuman yang sebentar, tapi rasanya lamaaaa sekali. Rahma juga mengambil nafas panjang. Seolah-olah ia tadi menahan nafasnya.

“Rian….,” bisiknya.

“Ya?”

“Makasih ya, ini baru pertama kalinya aku dicium cowok. Aku tak akan melupakan momen ini. This is my first kiss. Aku tak tahu apakah kamu pernah ciuman ama cewek lain atau tidak sebelum ini, tapi….terus terang ciumanmu tadi dahsyat.”

Aku tersenyum.

“Pulang yuk!?” ajaknya.

#Pov Rahma#

Oh, my Goooddd…..Riaan…kamu menciumku. Aduh…kalau saja aku saat itu jadi es krim, aku sudah lumer. Ciumannya dahsyat. Oh tidaak. Aku makin erat merangkul Rian saat diantar pulang. Duuuuhh….rasanya selangiiiitttt.

Tak lama kemudian aku sudah sampai di depan rumah.

“Makasih ya, Rian?” kataku.

“Iya, sama-sama,” jawabnya.

Aku melihat ponselku ada SMS masuk. Aku langsung baca:

“Rahma, ibu pergi dulu nganter pesenan. Kalau sudah pulang dari acara kencannya kuncinya ibu taruh di bawah keset. Awas lho! Jangan kebablasan!”

“Wah, ibu nggak ada di rumah,” gumamku. “Masuk dulu yuk!”

“Nggak apa-apa nih?” tanya Rian.

“Ayo dong! Temenin sebentar!” kataku. Padahal aku kepengen dicium lagi. Duh…malu aku.

Rian memasukkan sepeda motornya ke dalam halaman rumah. Aku kemudian mengambil kunci yang ada di bawah keset. Ibu sekarang kan kerjanya menjahit, nggak menikah lagi. Beliau udah banyak juga pegawainya, pesenannya juga banyak. Dengan itu aja bisa mengkuliahkan aku dan Anik. Aku cukup salut ama beliau.

Rumah terbuka dan aku masuk. Rian juga ikut.

“Mau minum apa?” tanyaku.

“Terserah deh,” jawabnya.

Aku segera ke dapur ngambil sekotak jus dan dua gelas. Lalu kuantarkan kotak just itu ke meja. Rian segera menuangkan jus itu ke gelas. Aku duduk di sebelahnya. Rian minum satu gelas itu langsung. Kehausan sepertinya dia.

“Ahh…segerrr,” katanya.

“Syukurlah,” kataku.

“Makasih ya,” katanya.

“Rian.”

“Hmm?”

“Cium lagi dong!”

“Nah lho? Ketagihan ceritanya?”

“Kan udah aku bilang ciumanmu dahsyat. Kepengen dicium terus.”

Rian tampaknya mengerti akan kebutuhanku ini. Tangannya langsung melingkar ke punggungku. Dan cup ah…..kami berciuman. Kini aku memejamkan mataku. Menikmati sensasi bertemunya dua bibir kami. Hingga ia mulai bermain dengan lidahnya membasahi dan menggelitik bibirku. Aku beranikan diri menyentuh lidahnya. Lidah kami bertemu. ZRRRTTTT! seperti ada yang nyetrum. Tapi enak. Eh…tunggu, ZRRTT! itu bukan nyetrum, iya sih itu nyetrum. Tapi…di vaginaku, ada yang keluar sepertinya. Tiap kali lidahku bertemu dengan lidahnya, pasti nyetrum.

Kini Rian lebih berani, ia menyatukan lidahku dan lidahnya. Ia menghisap isi mulutku. Ohhh…nikmatnya. Inikah yang namanya French Kiss itu? Manis banget. Iya sih dia barusan minum jus. Aku mengelamuti lidahnya. Kuhisap lidahnya Rian. Gantian. Dia juga. Entah berapa lama kami ciuman sampai basah. Setelah itu kami memisahkan kedua bibir kami. Saling berpandangan. Nafas kami memburu.

“Itu tadi…luar biasa,” kata Rian.

“Iya, sama,” kataku.

Aku kemudian mengusap pipi Rian. Tangan Rian memegang tanganku. Tanganku diciumnya. Ohh…rasanya, aku ingin melayang. Rian mendorongku perlahan untuk rebahan di sofa. Eh, dia mau apa?

“Rian…kamu mau apa?” tanyaku.

Ia tak bicara. Setelah rebahan dia berbaring di sebelahku.

“Rian, jangan yah. Nanti kebablasan,” kataku.

“Nggak koq, aku nggak ngapa-ngapain kamu.”

Aku percaya ama Rian. Aku percaya ama dia.

“Aku boleh pegang dadamu?” tanyanya.

“Hah?” aku sedikit terkejut. Rian koq gitu sih? Aduh…gimana ini….aku bingung. Aku nggak pernah memperlihatkan bagian itu ke cowok manapun.

“Kalau kamu keberatan nggak apa-apa koq,” katanya.

Aku mengangguk. Aku mengangguk? Kenapa? Apakah aku nyaman dengan dirinya? Apakah karena aku sudah percaya penuh ama Rian? Dia mulai menyentuh gundukanku. Ahh….aneh rasanya, nyaman, enak. Dia pun memijatnya. Dan…sesuatu di bawah sana aku bisa rasakan mulai mengeras.

“Itu mu keras,” bisikku.

“Biarin, aku kan orang normal. Kaya’ gini nggak horni namanya ya nggak normal,” candanya. Aku tersenyum sambil kucubit hidungnya.

“Rian, peluk aku dong!” kataku.

Dia pun memelukku, kami berciuman lagi. Berbaring di atas sofa panjang. Berperlukan dan berciuman. Barangnya Rian benar-benar menempel di sekitar perutku sekarang. Keras, perkasa. Aku jadi ingat film JAV yang dulu aku tonton. Apakah punya Rian seperti itu juga? Gedhe. Keras. Heran aku, benda seperti itu bisa masuk ke tempat milik wanita yang kecil. Aku nyaman sekali dipeluknya. Ia memelukku dengan penuh perasaan. Aku sudah becek. Kemaluanku udah keluar cairan, entah berapa banyak. Yang jelas aku rasanya becek banget.

Adzan maghrib langsung membuyarkan percumbuan panas kita. Rian bangun. Aku juga. Kerudungku udah awut-awutan. Bajuku juga.

“AKu harus pulang, Ma,” katanya.

“Iya,” jawabku.

“Makasih ya,” katanya. Ia menciumku lagi sambil mengusap pipiku. Aku pun menciumnya lagi.

“Sama-sama Yan,” kataku.

Dia kemudian pamit. Setelah Rian pulang aku langsung lemes. Aduhh…nikmat sekali tadi. Aku lalu menaikkan rokku dan melihat celana dalamku. Iya bener, becek sampai basah. Aku segera masuk ke kamarku buat ganti celana alam sekalian mandi.

#Pov Anik#

Kenapa dadaku sakit ya? Bukan. Ini bukan asmaku. Aku semula mengira ini asma, tapi aku sudah menghirup obat asmaku. Koq masih ada? Aku hiraukan ini. Liburan semester ini aku belajar banyak tentang ilmu jurnalistik dengan mendatangi salah satu kantor stasiun tv swasta. Aku belajar banyak cara broadcasting, cara membagi siaran dengan iklan. Banyak deh. Aku jadi makin kepengen jadi reporter.

Tapi tetap saja dadaku ada yang sakit. Hingga akhirnya, rasa sakit itu hilang ketika aku bersuara dalam hatiku, “Rian”. DEG! Entah kenapa sakit itu lenyap. Aku pun menyebut namanya lagi dalam hati, “Rian, Rian, Rian, Rian”

Makin lama rasa sakit itu makin hilang. Apa yang terjadi ama Rian? Moga sekarang ia sudah dapat ganti diriku. Aku turut senang kalau dia sudah dapat ganti. Tapi tetap, cintaku tak akan berubah kepadanya. Aku masih banyak berharap, walaupun kemungkinannya kecil.

(bersambung…)

Dah ah, besok lagi. Klo sempet.

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part