web hit counter

Love Tamarind Part 19

0
188
Love Tamarind

Love Tamarind Part 19

Ke Sarang Ular

Ular itu sebenarnya makhluk yang lemah
Karena lemah dia memakai bisa untuk melindungi diri
semakin bisanya mematikan semakin ular itu sejatinya lemah

#Pov Rian#

Aku cari sepatu baru. Rahma ikut. Jalan Doho kota Kediri merupakan sebuah jalan yang sepanjang deretan jalan ini adalah kawasan pertokoan. Pernah lihat Malioboro di Jogjakarta. Mungkin seperti itu. Tapi Jalan Doho ini nggak seperti Malioboro yang penuh dengan cita rasa seninya. Di Jalan Doho yang ada adalah pertokoannya saja. Dan yang paling menyenangkan adalah jalan-jalannya. Koq menyenangkan. Hmm….pertama karena barang-barangnya nggak terlalu mahal. Kedua, karena di pinggir jalan sini ada kuliner pecel yang rasanya nggak kalah enak dengan yang ada di restoran.

Mumpung masih liburan aku dan Rahma jalan-jalan di sini. Sepatuku udah usah. Aku ingin beli yang baru. Beli di Surabaya. Mahal bingiits. Sebenarnya ada yang murah cari sepatu yaitu di perempatan lampu merah jalan Kilisuci mau ke arah Jalan Kaliombo. Di sini ada yang jual sepatu obral. Tapi sayangnya sekalipun murah aku lebih senang ke sini nyari sandal daripada sepatu. Karena modelnya nggak aku suka.

“Rian, tuh belok situ!” Rahma nunjuk ke sebuah toko sepatu.

Aku langsung meminggirkan sepeda motorku dan memarkirnya. Setelah aku amankan sepeda motorku, aku masuk ke dalam toko sepatu itu. Waahh…banyak modelnya.

“Jadi pengen sepatu baru,” gumam Rahma.

“Kamu mau?” tanyaku.

“Nggak ah, uangmu mana cukup?”

“Kalau kamu mau aku akan belikan buatmu, biar aku pake sepatu lamaku aja.”

“Nggak ah, kamu aja yang beli. Kan aku cuma nemenin kamu.”

“Baiklah, beib.”

Aku pun milih-milih sepatu, keren-keren modelnya. Setelah hampir setengah jam muterin toko ini, akhirnya aku pun tertarik ama sebuah sepatu. Lalu sama mbak-mbak SPG-nya minta bungkus ini. Lagian harganya juga dapet diskon 40%. Lumayan kan. Rahma ikut andil bagian. Dia milihin sepatu buatku. Yah, sampe dikomentarin segala, “Kamu nggak cocok pake sepatu ini, kakimukan lebar” atau gini “Kamu cocok ini Yan, cuma kaya’nya mahal deh”. Baru pacaran aja udah kaya’ suami istri milih-milihin apa yang harus dibeli. Tapi begitulah Rahma, selalu tahu apa yang cocok bagiku. Dia tahu sifat-sifatku sejak dulu, dan setelah kami pacaran ia lebih makin tahu sifatku.

Puas beli sepatu kami mau beranjak pulang. Tapi Rahma kepengen jalan-jalan dulu di sepanjang Jalan Dhoho. Aku pun mengiyakannya. Banyak yang berubah ketika aku pergi dari kota kelahiran kami ini. Mall makin banyak. Ruko makin banyak. Lahan kosong makin menipis. Pabrik Rokok Gudang Garam juga sedikit berubah. Setelah dibeli ama American Tobacco, pabrik ini mengalami banyak perubahan terutama ketika direksinya diganti dengan yang lebih muda. Permasalahannya sebenarnya juga bertambah ketika peraturan pemerintah yang membatasi tentang produksi rokok ini, sehingga pabrik ini yang dulunya besar, sedikit-demi-sedikit mulai menjual asetnya. Walaupun masih besar, tapi sudah menjadi rahasia umum bahwa nafas pabrik rokok ini mulai terbatuk-batuk.

Saat aku asyik berjalan bergandengan tangan, tiba-tiba aku disenggol Rahma.

“Eh, Yan. Itu kaya’nya istrinya Mas Yogi deh,” kata Rahma.

“Mana?” tanyaku.

“Ituuuuu…ya ampun beneran Yan!” Rahma menunjuk ke sebuah mobil Honda Accord mewah yang terpakir di depan Hotel Surya. Hotel besar yang ada di Jalan Dhoho ini dan satu-satunya. Aku memicingkan mata. Walaupun malam hari tapi lampu-lampu di sekitar hotel sangat terang sehingga aku bisa lihat Salsa keluar dari mobil itu. Dia pakai kerudung warna pink, jeans ketat dan baju warna pink juga serta syal yang dibelitkan di kerudungnya yang juga ikut dibelitkan di lehernya.

“Eh, iya. Kamu bener,” kataku. “Koq kamu awas banget?”

“Iyalah. Aku ingat ama orang yang pernah aku lihat. Tuh lihat! Dia jalan ama siapa itu?” kata Rahma.

Salsa tampak gadengan tangan ama seorang Om-om. Aku jadi begidik melihatnya. Dia ngamplok Om-om itu. Pria itu badannya gedhe, tapi perutnya buncit. Dia meluk Salsa kemudian masuk ke lobi hotel.

“Ma, ikutin yuk. Aku jadi penasaran. Ngapain Mbak Salsa di sini,” kataku.

“Wah, Yan. Kalau cewek bukan mahromnya, masuk ke sini sambil peluk-peluk gitu ngapain coba?”

“Check-in?”

“Nah, tumben kamu nggak O’on.”

“Yah, semakin dekat ama kamu O’onku kan berkurang.”

“Hihihihi. Iya deh, iya. Yuk, ikutin!” heran aku koq Rahma yang semangat.

Akhirnya ini menjadi pengalaman pertamaku mengikuti orang. Mbak Salsa sama sekali nggak nengok kemana-mana. Ia konsentrasi ke pria itu. Setelah ngobrol sama resepsionis mereka berdua kemudian melenggang masuk ke dalam lift. Aku yang masih menggotong sepatu yang tadi barusan aku beli agaknya terlalu ribet. Langsung deh aku ke meja resepsionis.

“Ma, kamu awasin lantai berapa liftnya berhenti ya!” perintahku.

Rahma mengangguk.

Aku kemudian ke meja resepsionis dan menyapa petugasnya.

“Selamat malam ada yang bisa saya bantu pak?” tanyanya.

“Mbak, mau nitip sepatu saya dulu ya. Saya mau ketemu ama temen saya di atas,” kataku.

“Oh..iya pak, silakan!” kata mbak-mbak resepsionis sambil menerima bungkusan sepatuku. Aku lalu segera beringsut menuju ke Rahma yang mengawasi lift.

“Lantai berapa?” tanyaku.

“Lantai tiga,” jawabnya.

“Yuk, ke lantai tiga,” kataku.

“Naik lift?”

“Pake tangga aja, biar cepet. Kan kita sering olahraga,” kataku sambil menggandengnya. Kami segera menuju ke anak tangga yang ada di sebelah kanan lift.

Seperti dikejar setan kami berdua naik tangga dengan cepat. Rahma tak kalah gesit dari aku rupanya. Dan kurang dari semenit kami sudah ada di lantai tiga dengan sedikit ngos-ngosan. Dan kami masih melihat Mbak Salsa berjalan lambat ama Om-om tadi. Kali ini pemandangannya menjijikan. Mereka berdua berciuman di depan pintu kamar. What the fuck? Aku dan Rahma bersembunyi di balik tembok sambil tetap mengawasi mereka.

“Yan, koq mereka ciuman ya? Mbak Salsa selingkuh?” tanya Rahma.

Aku mengangkat bahu.

“Trus gimana dong? Kamu nggak menghubungi Mas Yogi? Istrinya selingkuh gitu lho,” bisik Rahma.

“Bentar, tunggu sampai mereka ada di dalam kamar,” kataku.

Kami menunggu. Dan si Om-om itu akhirnya membuka pintu kamar. Sambil masih berciuman mereka pun masuk. Aku menarik nafas panjang. Kemudian berjalan sampai berada di depan pintu kamar itu. Kamar 314. Ada tag tulisan “Do Not Distrub” di gagang pintunya.Uedan. Si Ular ada di dalam sarangnya nih. Kesempatan pikirku. Aku ngambil ponselku. Aku tak pernah menghubungi Mas Yogi selama ini. Akhirnya inilah untuk pertama kalinya aku menelpon dia.

Mas Yogi mengangkat teleponnya. “Halo?”

“Mas Yogi, Iki aku Rian,” kataku.

“Ono opo nyuk?”

“Mas, aku bisa minta tolong?”

“Minta tolong apa? Koq wani kowe nelpon aku? Aku wis muak ndelok raimu, nyuk! (Koq berani kamu nelpon aku? Aku udah muak lihat wajahmu, nyet)”

“Bentar dululah mas. Kita kesampingkan dulu dendamnya ini darurat. Beneran. Aku sama Rahma ini.”

“Rahma? Mbaknya si Anik?”

“Iya.”

“Di mana?”

“Di hotel Surya.”

Lha, lapo awakmu karo Rahma nang hotel? Kenthu kowe?(Lha, kenapa kamu ama Rahma di hotel? ngentot kalian?)”

Ora mas ora. Masiho aku pacaran karo Rahma, tapi aku ora sampe adoh koyo iku.(Nggak mas, nggak. Meskipun aku pacaran ama Rahma, tapi aku nggak sampe sejauh itu.)”

Halah, bojoku dewe wae kon kenthu koq. Lapo njaluk tulung? Koq jik eling karo masmu? Matio kono dewe!(Halah, istriku sendiri kamu entot koq. Kenapa minta tolong? Koq masih ingat sama masmu? Mati aja sendiri!)”

Mas sik talah. Rungokno dhisik. Ini beneran emergency. Sampeyan ke sini. Ke Kamar 314. Pokoke ke sini. Nek sampe aku macem-macem, patenono pisan aku nang kene mas. Suwer! (Mas, sebentar dulu. Dengerin dulu. Ini beneran emergency. Kamu ke sini. Ke kamar 314. Pokoknya ke sini. Kalau sampai aku macem-macem bunuh aja aku sekalian di sini. Suwer!)”

Mas Yogi nggak bersuara.

“Ayo mas! Beneran iki. Mreneo. Aku njaluk tulung.”

Njaluk tulung opo? (Minta tolong apa)”

Sampeyan mreneo dhisitlah aku nggak iso ngomong nek sampeyan ora mrene (Kamu ke sini dululah, aku nggak bisa ngomong kalau kamu nggak ke sini)”

Mungkin karena penasaran akhirnya Mas Yogi bilang, “Yo wis, tunggu sepuluh menit maneh aku teko.”

Aku menutup teleponku.

“Gimana?” tanya Rahma.

“Sebentar lagi masku akan datang. Kita tunggu aja,” jawabku.

“Waduh Rian, aku jadi nggak enak. Kita mergoki orang selingkuh kaya’ gini.”

“Biarin. Mbak Salsa itu orangnya udah nggak bener. Kamu udah bener tadi awas banget bisa tahu Mbak Salsa.”

“Iya, tapi kan….”

“Udahlah, orangnya emang pantas dikasih pelajaran.”

Sayup-sayup aku mendengar sesuatu. Aku dekatkan telingaku ke pintunya.

“Ahhh…ohhh…hhmmm….enak om. Terusin donnggg!” terdengar suara Mbak Salsa. Uedaaaann…uwonge lagi kentu. Bisa jadi tangkapan besar malam ini.

Rahma ikut-ikutan menguping. Aku heran aja ama tingkah Rahma yang ikut menguping.

“Wuih, kaya’nya seru mereka,” bisiknya.

“Udah ah, kita tunggu saja,” aku geret Rahma menjauh dari pintu.

Kami hanya berdiri di lorong panjang. Kadang juga bersandar di tembok, kadang juga jalan-jalan, muter-muter nggak jelas. Lama banget sih Mas Yogi. Udah lewat sepuluh menit ini. Akhirnya lima belas menit kemudian Mas Yogi datang. Ia pakai kaos Persik Kediri. Begitu melihatku dan Rahma yang sedang berdiri di lorong ia sedikit heran.

“Ada apa manggil aku ke sini?” tanyanya. Ia agak memelankan suaranya ketika melihat Rahma.

“Sebentar mas, Mas jangan emosi dulu,” kataku.

Ono opo seh? (Ada apa sih)”

Aku kemdian berdiri dan menunjuk ke kamar 314. “Di dalam sini ada Mbak Salsa. Aku mau buktikan kepada mas kalau aku selama ini nggak pernah bohong dan berusaha membela Mas Yogi. Dari dulu aku sudah bilang Mbak Salsa itu wanita yang nggak baik Mas Yogi nggak pernah dengar nasehatku.”

Awakmu ora usah memfitnah uwong, pengen tak hajar maneh? (Kamu jangan fitnah orang, mau tak hajar lagi?)” Mas Yogi mencengkram kerah bajuku.

Tiba-tiba tangan Rahma memegang tangan Mas Yogi. Entah kenapa Mas Yogi lalu perlahan-lahan melepasan cengkramannya.

“Mas, saya tahu perasaannya mas. Tapi jangan pakai kekerasan dulu. Aku yang pertama tahu kalau itu Mbak Salsa, bukan Rian. Kalau Mas Yogi nggak percaya ama Rian, trus kepada siapa lagi? Selama ini Rian baik. Dia sayang sama Mas. Dan nggak mau keluarga mas berantakan.”

Mas Yogi menarik nafas dalam-dalam.

“OK, kalau kamu cuma ngerjain aku, aku bakal gorok lehermu di sini,” ancam Mas Yogi.

Aku tak takut. Aku benar koq. Aku nggak bohong. Mas Yogi menempelkan telinganya di pintu. Ia mengerutkan dahinya, sampai-sampai alisnya hampir saja menyatu.

“J*nc*k!” umpatnya. Ia dengan kaki kanannya langsung menendang pintu itu hingga gagangnya lepas. BRAK!

Aku melihat pemandangan yang boleh dibilang salting. Om-om itu tampak sedang ngocok batangnya di depan wajah Mbak Salsa. Dan mereka berdua bugil. Ketika pintu didobrak sampai rusak Mbak Salsa seperti wajah seorang pemeran film bokep yang dipause. Melongo, mulut menganga dan dari penis si Om-om itu keluar sperma, muncrat membasahi wajahnya. Tapi mereka berdua mematung. Kaget, bingung.

“OOoo…jadi bener kata Rian, awakmu iki emang LONTE!” kata Mas Yogi masuk ke kamar dengan entengnya.

“Mas Yogi???” Salsa buru-buru mendorong Om-om tadi.

“Lho, lho, siapa kamu?” tanya Si Om-om.

“Saya suaminya, j*nc*k!” Mas Yogi marah. Bogem mentah langsung melayang ke arah Om-om itu. Pria paruh baya itu berguling karena pukulannya. Nggak tahu rasanya pasti sakit. Aku penah dipukul koq ama Mas Yogi, tahulah rasanya kaya’ apa.

Mbak Salsa yang nggak pakai apa-apa itu langsung berusaha meraih Mas Yogi yang ngamuk.

“Mas…mas…Mas Yogi, maafin aku mas! Maafin aku!” katanya.

Mas Yogi mendorong istrinya itu hingga kembali ke kasur.

“Mas! Mas maafin aku!” ibanya.

Aku masih berdiri di luar pintu. Dan Rahma langsung memelukku nggak mau melihat apa yang terjadi di dalam ana. Salsa melihatku, ia terkejut.

“Gara-gara lonte kaya’ kamu hubunganku sama adikku renggang, ya gara-gara lonte kaya’ kamu ini aku sampe mukul adikku. Jadi yang dikatakan oleh adikku selama ini benar. Aku selalu muji kamu Sa, aku selalu bangga-banggain kamu di hadapan orang tuaku, adikku, bahkan di hadapan anak-anak kita. Tapi ini balasanmu? Brengsek bener kamu. Hari ini selesai. Nikmati saja itu kontol-kontol langgananmu. Jiamput!”

“Mas, mas Yogi, maafin aku maass!” Salsa menjerit.

“Ayo Rian, pergi!” ajak Mas Yogi mempercepat langkahnya. Aku ikut di belakangnya.

Salsa mengambil selimut dan menutupi tubuhnya, ia tak sadar kalau wajahnya masih belepotan sperma. Ia berlari melewatiku dan langsung bersujud di bawah kaki Mas Yogi.

“Mas, tolong mas maafin aku. Tolong! Aku masih sayang ama anak-anak mas, maafin aku!” mbak Salsa kembali mengiba.

“Kita cerai hari ini. Mulai detik ini aku ceraikan kamu. Masih banyak wanita-wanita yang baik buat aku,” Mas Yogi menghindar dari Salsa. Ia berlari menuruni tangga.

Aku melewati Salsa yang menggelepar di lantai. Ia menangis. “Mas Yogiii…aahhhhhhhhhhhhh….maafin aku maaasss.”

Aku hanya menghela nafas panjang. Sambil merangkul Rahma aku meninggalkannya seorang diri.

“Rian, kamu brengsek! Aku bersumpah, aku akan ngancurin hidup kamu. Aku akan balas kamu! Aku akan balaaaasss!” ancam Mbak Salsa. Aku tak takut. Yang penting Mas Yogi sekarang sudah melihat keburukanmu. Dan dia percaya kepadaku sekarang.

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part