web hit counter

Love Tamarind Part 20

0
196
Love Tamarind

Love Tamarind Part 20

Berusaha untuk Masa Depan

Aku adalah pejuang cinta
Berusaha untuk meraih harapan kan cinta
Berusaha mendapatkan bidadari impian

Hubunganku dengan Rahma kian hot. Bahkan saking hotnya setelah liburan itu dan kita kembali ke kampus aku makin berpikir untuk masa depan. Cari kerja sambil kuliah. Keinginanku cari kerja didukung oleh ibuku. Bahkan bapak membantu aku untuk dikenalkan ke temannya yang mempunyai sebuah percetakan besar di Surabaya. Dan, akhirnya aku kerja sambilan di sana.

Dengan bekerja sambilan aku punya uang saku tambahan. Dan dengan bekerja sambilan pula akhirnya aku bawa sepeda motor ke Surabaya. Hal ini semata-mata untuk menghemat pengeluaranku. Dan juga mempercepat mobilitasku. Rahma? Sangat senang dong pergi ama aku pulang pergi Kediri Surabaya ngamplok di motor kaya’ cicak hehehe. Dan sekali lagi aku bisa merasakan empuknya payudaranya yang menempel di punggungku.

Sekarang Rahma nggak malu-malu lagi. Selama dua minggu liburan kami benar-benar melepaskan rasa kangen kami. Berciuman dan grepe-grepe. Intinya kita petting. Sebenarnya bisa aja sih aku minta dia untuk oral otongku, tapi aku tak mau memaksanya. Walaupun sebenarnya tinggal aku suruh dia mau aja. Tapi yang membuatku takjub adalah kejadian yang sama seperti apa yang aku dan Anik lakukan. Tapi bedanya adalah kini aku nggak kentang. Ceritanya begini.

Malam itu Hari Jumat. Aku maen ke rumahnya. Ibu Ika sedang keluar. Jadi aku di rumah Rahma sendirian. Saat itu agak beda.

Aku duduk di sofa dan Rahma ada di pangkuanku. Rahma saat itu pakai kemeja warna putih lengan panjang. Baru kali ini dia pake celana legging dengan kerudung warna orange. Kakinya mekangkang. Kami berciuman panas sekali. Tiba-tiba ia menghentikannya.

“Yan, aku mau ngasih sesuatu buat kamu,” katanya.

“Apaan?”

Rahma perlahan-lahan melepas kerudungnya. Aku menelan ludah. Aku baru kali ini lihat rambutnya. Lurus panjangnya sepungung dia menguncir rambutnya. Cantik sekali, dan sesuatu yang tidak aku duga adalah dia melepaskan kancing bajunya satu per satu. Aku bisa melihat payudaranya yang tertutup bra sekarang. Ia lepas kemejanya.

“Rahma, kamu??” aku tak percaya.

“Rian, kamu sudah janji bukan untuk serius. Maka ini adalah harga keseriusanku agar kamu semangat. Tolong dibuka dong!”

Aku menurut. Segera aku cari kaitan branya. Setelah dapat kulepas. Dan Rahma melepasan branya. Ia taruh bra itu di kursi. Aku melihatnya. Sungguh pemandangan yang indah. Dua buah bukit kembar, sekal, montok. Iya lebih besar daripada yang aku bayangkan. Ternyata remasanku kemarin itu menipuku. Bentuknya lebih besar. Seolah-olah branya itu menipuku. Aku melihat dada berukuran 34c dengan putingnya berwarna pink kecoklatan terpampang dan tampak mengeras. Aku melotot.

“Rian, aku malu,” katanya. Ia menutupi buah dadanya.

“Kenapa malu?”

“Habisnya kamu ngelihatku seperti itu,” katanya manja.

Aku tersenyum dan mencium bibirnya. Kali ini legannya melingar di leherku.

“Rahma, punyamu sangat indah. Aku tak pernah menyaksikan bentuk sesempurna ini. Kamu yakin memberikan ini untukku?”

Ia mengangguk. “Yakin, tapi ini aja yah. Kalo yang di bawah, ntar kalau kita udah menikah.”

Aku tersenyum. Dan, nggak perlu basa-basi. Karena ia masih aku pangku jadi jarak mulutku ama payudaranya sangat dekat. Aku ciumi teteknya, bagian atas, pangkalnya, lalu yang berada di dekat ketiak. Wangi sekali tubuh Rahma ini. Rahma menggelinjang setiap kali putingnya aku sentuh. Apalagi sampai aku jilat. Lalu aku kenyot.

“Ahh…Rian….nakal kamu!” keluhnya.

Aku sekarang menjadi bayi. Bayi yang kehausan. Kuhisap puting Rahma kiri kakan. Puas sekali aku.

“Riaaann…hhmmm…aku cinta kamu,” bisiknya.

“Aku juga Ma,” kataku.

Aku puas-puaskan diriku mencumi dadanya dan tanganku mulai beraksi. Kuremas-remas dadanya sambil kusedoti putingnya. Nikmat banget.

“Bentar Yan, aku ingin ngasih kami satu lagi,” katanya.

Aku diam. Menunggu kejutannya. Ia turun dari pangkuanku. Lalu dibuka kancing celanaku, resletingku dibuka. Kemudian diloloskannya celanaku. Hah? Mau apa dia?

“Ya Ampuuunnn…Rian, ini punyamu?” Rahma tertegun dengan penisku.

“Kenapa?”

“Bentukya keras, tegang aku pegang ya?”

Ahhh….baru kali ini Rahma memegang penisku. Lalu dikocoknya. Matanya melihat ke arahku. Mata kami bertatapan. Ini, sesuatu yang luar biasa. Dikocok oleh wanita yang dicintai. Ahhh….nikmat banget. Dan kejutan tak sampai disitu. Rahma meludahi penisku. Aaahh…air liurnya membasahi batangku, malah tambah horni. Ia lalu mengocok sambil menggelitiki kepala penisku. tangannya diputar-putar di kepalanya pionnya membuatku lemas, bersandar dikursi.

“Ahh…Rahmaa…adddduuh…kamu belajar dari mana?” tanyaku.

“Dari bokepmu kemarin itu,” jawabnya enteng.

“Gila, enak banget Ma,” kataku.

Dan…langkah selanjutnya adalah Rahma memajukan badannya. Ini aku tak pernah menduga sebelumnya ia melakukan titfuck. OMG. OMG. OMG. Ini sih nggak cuman enak, uenaaaaaaakkkk banget. Rahma masih melihatku. Tapi buah dadanya sekarang menjepit batangku. Ia naik turunkan dadanya. Waduh, aku nggak tahan nih bisa-bisa. Tangannya yang lembut juga ikut menggelitiki batang pionku. Udah deh, ini sangat enak, terlalu enak. Ahhhhhhkkk….aku nggak tahan.

“Rahma, aku nggak tahan lagi,” kataku.

“Iya Rian, keluarin aja!” katanya.

CROOOTTT CROOOTTT CROOOTTT! Tembakan spermaku berkali-kali muncrat, sebagian kena leher dan dagunya. Sebagian meleleh ke dadanya, ke perutku, sebagian mengotori daerah sebagian otongku, terutama rambut-rambutnya. Ini pengalaman baru bagi Rahma. Ia juga terkejut ketika punyaku keluar.

“Gileeeee, banyak bener,” gumam Rahma.

Aku tersenyum. Puas rasanya melihat wajah polos Rahma di saat aku muncrat. Ia mengocok pelan batangku.

“Udah Ma, jangan dikocok lagi. Ngilu,” kataku.

“Gimana tampangku?” tanya Rahma.

“Belepotan itu,” kataku.

“Huu…enak?” tanyanya.

“Iya, Ma. Enak.”

“Pengen nyoba blowjob, tapi ntar yah. Takut kebablasan. Aku bersihin dulu,” kata Rahma. Ia mengambil tissue. Dilapnya bekas lahar panasku dengan telaten. Baik di batang, tangannya, perutku, leher dan dadanya. Setelah bersih ia melakukan sesuatu yang mengejutkan aku. Kepala pionku diciumnya. Cuupp..

“Aduh! Ma…,” desahku.

“Rian, jangan pernah ini digunakan buat cewek lain. Ingat, kamu udah komitmen ama aku. Kalau sampai ini kamu gunain ama cewek lain. Aku potong!” ancamnya. Tapi sambil bilang gitu ia ngocokin punyaku. Waduuuhh…nggak deh, ampun Raham ampuuun.

“I…iya deh,” kataku. “Aku janji.”

Rahma tersenyum. Kami berciuman lagi kali ini toketnya nyentuh dadaku. Waaahhh….berjuta rasanya. Kenyal-kenyal gimana gitu.

Begitulah. Itu momen yang tak terlupakan. Aku dan Rahma benar-benar lengket seperti apa ya….seperti kertas ama lem. Dan karena aku bawa sepeda motor jugalah aku sering jalan-jalan kalau ada kesempatan ama Rahma. Kuliah, kerja, plus pacaran. Hingga tibalah saat yang kita tunggu ujian skripsinya Rahma. Bulan kemarin dia sudah lulus test untuk ijin kepraktekan sebagai dokter. Yah, punya cewek dokter juga ada enaknya, kalau sakit tahu harus bagaimana.

Aku ada di sidangnya waktu itu sebagai penonton. Memberi semangat kepadanya. Rahma emang luar biasa. Pintar, cerdas. Semua pertanyaan dosen penguji bisa ia jawab dengan sangat memuaskan. Ada yang menarik di dalam skripsinya. Sebagai kata pembukanya, ia memberikan tulisan:

“Ini kupersembakan untuk:

1. Tuhan YME yang selalu memberikan kebaikan kepadaku.
2. Kepada ayah yang selalu memanjakan aku.
3. Kepada seseorang yang akan mengisi hidupku dalam senang, susah, dan yang akan menjadi ayah dari anak-anakku.”

Langsung deh seluruh ruangan menoleh ke arahku terutama yang udah tahu hubunganku ama Rahma. “Ciee…ciee….cieee…..” gitu soraknya. Erik, Andi dan Totok kebetulan ikutan mereka langsung memukul-mukul bahuku. Aku ketawa saja melihat ulah mereka. Rahma tetep cool, aku tahu ia sangat malu saat itu.

Dan ketika sudah selesai sidangnya para dosen berdiskusi. Kami harap-harap cemas menunggu di luar. Moga aja Rahma dapat nilai yang baik. Aku berdo’a di luar ruangan. Kami yang terdiri dari temen-temenku yang udah kenal Rahma, juga temen-temen Rahma harap-harap cemas. Rahma di dalam juga belum keluar-keluar. Udah lima belas menit ini. Seperti nungguin orang bersalin aja. Begitu pintu terbuka kami melihat dosen penguji senyum-senyum sendiri. Kami melongo. Apaan nih?

Rahma keluar dengan derai air mata. Waduh….gimana hasilnya? Ia menghampiriku.

“Apa? Gimana?” tanyaku.

“Makasih ya Rian, selama ini udah dampingi aku. Hikss…,” kata Rahma sambil nangis.

“Trus? Nilainya?” tanyaku.

“Dapat A. Sangat memuaskan,” jawabnya.

Kami semua langsung bersorak. Wah, mirip ketika kesebelasan Persik Kediri menjebol gawang lawannya ini. Aku langsung meluk Rahma yang sedang terharu. Kami tertawa bersama. Hari itu, masa depan berubah. Rahma sudah menjadi sarjana sekarang. Bahkan dia juga sudah mengantongi surat ijin praktek. Apalagi punya cowok yang selalu mendampingi dia selama ini. Sempurna hidupnya.

Bulan Agustus, setelah Rahma wisuda. Aku, ibu, bapak dan Mas Yogi pergi ke rumahnya Rahma. Aku sudah bertekad bulat. Melamar Rahma. Rahma tentu saja kaget, tapi ia sangat senang bahwa aku benar-benar menjaga komitmenku. Aku benar-benar memilih dia untuk menjadi pendamping hidupku. Bu Ika tentu saja senang, karena memang sudah tahu kedekatanku ama Rahma. Dan tanggal pernikahan pun ditetapkan 4 November.

#Pov Anik

Capeknya kuliah. Udah tiga tahun ini aku nggak pulang. Ibu juga jarang aku telepon. Lebaran pun aku habiskan di rumah Pak Dhe. Ibu ngerti bahwa buat ongkos pulang pergi saja uangku nggak bakal cukup. Tapi hari ini aku dapat kabar dari Rahma. Kami ketemu di Skype. Aku melihat wajah Rahma di layar monitor.

Ia memberi salam kepadaku. Aku menjawabnya.

“Bagaimana kabarmu di Jakarta? Koq lama nggak pulang?” tanya Rahma.

“Mbak tahu sendiri kan ongkos bolak-balik itu nggak cukup buatku. Makanya aku di sini terus sampai aku lulus,” jawabku.

“Iya. AKu mau ngasih banyak kabar nih. Ada kabar buruk, ada kabar baik. Kamu mau pilih yang mana?”

Apaan sih Mbak Rahma ini, ngasih kabar koq ada dua. Tapi wajahnya koq cerah sih? Yang pasti kabar buruknya nggak begitu buruk.

“Apaan sih mbak? kalau ada kabar yang ingin disampaikan ngomong ajalah!”

“Ya udah, aku kasih kabar baik yah. Aku lulus, udah jadi dokter sekarang, nih surat ijin prakteknya. Truss ini dia aku dapet A, ayo jangan sampai kalah sama aku,” mbak Rahma memamerkan hasil skripsinya sama surat ijin praktek kedokteran.

“Waaaaaaaa…..selamat mbak! Aku juga senang, Mbak Rahma sih, aku nggak kaget. Emang hebat,” kataku.

“Hehehehe. Iya, semua orang ngucapin selamat. Setelah ini aku mau ngabarin ibu.”

“Trus, kabar satunya?”

Mbak Rahma terdiam sejenak. Tapi dia raut wajahnya nggak berubah. Tetep ceria. Aku jadi heran, kabar buruknya apa?

“Nik, aku minta maaf ya,” kata Mbak Rahma.

“Minta maaf kenapa mbak?”

“Soal Rian.”

“Rian? Kenapa dengan Rian?”

“Sebenarnya, aku sama Rian sudah menjalin hubungan selama tiga tahun ini.”

Tiba-tiba dadaku sesak. Aku mengambil nafas dalam-dalam.

“Nik, kamu nggak apa-apa?”

Aku menggeleng. Mataku berkaca-kaca.

“Maafin mbak ya. Itu terjadi begitu saja. Aku tahu kamu masih cinta ama Rian. Tapi, Rian malah dekat ama aku dia nembak aku dulu. Maaf aku nggak cerita ke kamu. Karena aku tahu perasaanmu. Aku nggak enak ama kamu, Nik. Aku seperti merebut Rian dari kamu.”

Air mataku meleleh. Aku menangis.

“Nik, maaf ya.”

“Ini memang salahku koq mbak. Aku harusnya nggak nyakiti Rian seperti itu. Huuuuu…..,” tangisku tak bisa dibendung.

“Aku pengen meluk kamu, Nik. Kalau misalnya ini terlalu menyakitkan bagimu,…aku akan paksa Rian untuk kembali kepadamu.”

“Nggak mbak! Nggak, jangan!” kataku. “Dia sudah milih mbak. Itu yang terbaik bagi dia. Ini adalah hukumanku mbak. Aku tak bisa berbuat seperti itu. Kalau Rian bahagia bersama mbak aku juga senang. Aku gembira. Apalagi melihat wajah mbak sekarang yang ceria aku ikut gembira.”

“Nik,..,” aku lihat Mbak Rahma juga menangis. “Kenapa ya kita suka ama cowok yang sama?”

Sakit sekali rasanya mendengar ini.

“Kamu baik-baik di Jakarta ya, cepet selesaikan kuliahnya. Oh iya, ada kabar lagi. Kuharap yang ini kamu siap, Mbak harap kamu lebih rela lagi kalau dengar yang ini.”

“Apa mbak?”

“Tanggal 4 November nanti Rian dan aku akan menikah.”

JDEERRRR! Jantungku serasa berhenti tiba-tiba. Aku memaksakan senyum.

“Oh ya? Syukurlah mbak. Berarti Rian emang serius ama mbak, aku turut senang,” kataku.

Sambil menangis, Mbak Rahma berkata, “Iya, tapi koq aku jadi sedih ya, Dek? Aku mikirin perasaan kamu. Aku juga kaget ketika dua hari yang lalu Rian datang ke rumah buat ngelamar aku. Aku bingung harus bagaimana ketika ingat dirimu, Nik. Hikkss….”

“Sudahlah mbak, aku nggak apa-apa. Kalau mbakku senang, kalau mbakku bahagia, kenapa aku harus sedih?”

“Trus kenapa kamu nangis, Nik? Mbak juga ikut nangis…hikkss..hikss..”

“Mbak Rahma jahat…bagaimana aku nggak nangis kalau orang yang aku cintai nggak milih aku…hikss…hikss…tapi….hikss…aku senang koq dia lebih milih Mbak Rahma. Aku selama ini kagum ama Mbak. Aku jujur sekarang, aku kagum sama mbak. Selalu sempurna. Semuanya selalu sempurna, pelajaran, nilai, bahkan dapat beasiswa. Aku aja nggak bisa seperti mbak…hikss…aku nggak nyesal Rian dapetin mbak…hikss…”

“Aku pengen meluk kamu, Nik.”

“Aku juga mbak.”

Kami berdua bervideo chat sambil sama-sama menangis.

“Mbak, boleh minta nomor teleponnya Rian?” tanyaku.

Mbak Rahma kemudian mengetikkan di layar chat nomor telepon Rian. Aku menyimpannya di ponselku. Kami tak lama kemudian mengakhiri chat itu.

***

Butuh waktu tiga hari agar diriku tenang. Tiga hari yang berat. Karena dua harinya aku terus menangis di kamar. Menyesal sekali, menyesal kenapa aku dulu nggak nyium Pak Sapto satpam sekolah itu. Aku yang bodoh. Bukankah cinta butuh pengorbanan? Aku tak pernah berkorban demi Rian. Selama ini justru Rian yang berkorban untukku. Ia sudah berkorban banyak untukku, tapi aku? Sama sekali tidak.

Pada hari ketiga, aku telpon Rian. Dia tak tahu nomor telepon ini. Jadi ia pasti akan mengangkatnya. Dia pun mengangkat.

“Yak, dengan Rian di sini?” aku kangen ama suara itu. Oh Rian, kamu tahu nggak kerinduanku sekarang ini?

“Halo, Rian?” sapaku.

Rian terdiam.

“Kamu masih ingat aku?” tanyaku.

“Anik?”

“Iya,” aku terdiam lagi. Cukup lama mungkin. Kemudian aku melanjutkan lagi, “Selamat yah, kudengar dari Rahma kalian akan menikah. Aku turut senang akhirnya kamu menemukan cewek pilihan. Mbak Rahma emang baik. Dia cewek yang cocok buatmu.”

“Iya.”

“Kamu gimana kabar?”

“Baik. Sekarang sedang di kantor ngurusi percetakan. Kuliah sambil kerja.”

“Oh, baguslah. Mbak Rahma emang suka ama cowok yang komitmen,” aku sedikit tertawa canggung. Benar-benar canggung. “Jangan sakiti Mbak Rahma ya, kamu harus setia ama dia!”

“Iya, aku akan setia ama dia.”

“Kamu masih marah ama aku, Rian?”

“Nggak, aku nggak marah, koq.”

“Syukurlah.”

“Kamu bagaimana kuliahnya?”

“Yah, begitulah. Aku kepengen jadi reporter.”

“Oh, begitu, ya? Sukses ya?”

“Makasih.”

“Kamu datang tanggal 4 November nanti?”

“Aku nggak janji.”

“Kamu nggak usah merasa bersalah lagi, Nik. Aku sudah maafin kamu koq.”

Bukan itu masalahnya Rian, bukan itu. “Iya, makasih ya…..,”

“Datang nggak?”

“Aku usahakan.”

“Makasih ya, kedatanganmu nanti aku tunggu.”

“Ok, maaf ganggu waktumu.”

“Nggak apa-apa.”

Setelah itu aku tutup teleponnya. Rian, kamu tetep aja bego. Bukan itu maksudku. Bukan. Kamu menyuruhku datang di hari pernikahanmu itu sama saja dengan membunuhku. Kamu tahu nggak sih? Kamu bego Rian, bego. O’onmu nggak pernah sembuh. Huaaaaaaa…….aku nangis lagi. Nyesal aku menelpon dia barusan.

(bersambung…)

ambil tissu dulu, nangis ane nulis bagian ini. :'(

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part