web hit counter

Love Tamarind Part 3

0
324
Love Tamarind

Love Tamarind Part 3

Cinta itu Aneh

Hari ini si Anik jadian ama Zain. Jiaaan, rasane loro atiku(rasanya sakit hatiku). Kata Tukul Arwana seperti disobek-sobek. Tapi sekali lagi aku harus mengedepankan prasangka baik bahwa mereka bakal putus sebulan lagi sebagaimana taruhannya si Anik.

Anik memang terkenal seorang playgirl. Sering jadian ama cowok, tapi setelah itu putus, jadian lagi putus, jadian lagi putus. Dan setiap jadian putus-jadian putus itu selalu akulah yang jadi tempat sampahnya alias curhatnya. Aku pura-pura senyum di depannya seperti biasa, menyembunyikan luka di hatiku. Total hari itu aku nggak konsen apa yang diomongin ama guru di kelas. Gimana mau konsen? Di papan tulis ada wajahnya di sana. Duh, padahal duduknya dua bangku di samping kananku.

Setelah pulang sekolah. Tiba-tiba pasukan awan datang dari antah berantah membentuk awan hitam tebal sehingga dengan berbagai proses kimiwi dan fisikawi (emang ada?) akhirya terbentuklah sebuah rahmat dari tuhan berupa Hujan. Iya, hujan awal rintik-rintik, kemudian hujannya deras. Hujan deras disertai angin dan aku bengong di rumah.

“Heh, ngelamun aja,” Mas Yogi melempar koran ke arahku yang sedang melamun di sore hari. Ngelamun karena emang sekarang ini hujan dan aku nggak bisa ke mana-mana. PR udah dikerjakan semua. Habis itu ngelamun.

Opo seh mas(ada apa mas)?” gerutuku.

“Sedang mikirin cewek? Ngelamun wae.”

Sampeyan(kamu) itu lho, sok tahu!”

“Aku yo pernah muda An. Eh, sekarang juga masih muda ding, hehehehe. Biasanya anak cowok kalau sedang jatuh cinta itu ngelamunnya ya model kamu ini. Sopo iku(siapa itu)?”

“Anik,” kataku spontan.

“Hah? Anik? Anaknya Pak Abdul Karim itu?”

Aku keceplosan.

“Wahahahaha, selaramu koq jos tenan? Hebat, hebat, nggak percuma kowe dadi adikku.”

“Mas, ojok diomongne sopo-sopo(jangan bilang siapa-siapa) ya.”

“Trus, udah nembak?”

Aku menggeleng.

“Ealaaaahh…asem kowe, jadi selama ini belum nembak?”

“Aku nggak berani mas.”

“Lha? Kenapa? Takut ditolak?”

Aku mengangguk.

“Ealah Yan, Rian. Mendingan utarakan maksud hati kamu, biar cinta kamu nggak jadi sayur asem.”

“Hah? Koq sayur asem?”

“Iyo, sayur asem, nanggung. Manis kalau dibayangin tapi sebenarnya asin. Asem kan? Untungnya bukan asemnya ketek.”

“Wooo,…ndasmu mas mas(kepalamu itu kak kak)!” aku lempar koran tadi balik ke dirinya. Mas Yogi malah ketawa.

Sebuah BBM masuk ke ponselku. Aku lalu mengeceknya. Eh, dari Anik.

Agak lama ia tak menjawab.

Me: Maaf Nik, maaf. Ya udah deh. Aku ngaku salah, ngaku salah deh, kamu apain aja deh terserah.

Anik: :)

Me: Yee, malah senyum.

Anik: Maaf ya Rian, sorry deh. Habisnya aku hari ini ada janji ama Zain di mall, mau beli sesuatu tapi hujan. Gimana dong?

Aduh, Zain lagi nih.

Akhirnya dengan persetujuan yang aneh aku pun nganterin Anik ke mall pake sepeda motor minjem mas Yogi. Dengan bertutup mantel hujan kami pun berangkat. Dan aneh juga kenapa aku jabanin juga tuh anak. Udah hujan-hujan pake mantel pula. Tapi untungnya setelah sampai mall hujannya reda.

“Kamu tunggu bisa nggak?” kata Anik.

“Tunggu?” gumamku.

“Udah deh, tunggu bentar yah Yan. Aku takutnya anaknya nggak dateng,” kata Anik dengan mengiba. Nik, kalau saja kamu bukan orang yang aku suka, aku nggk bakal bilang…

“Oke,” kataku. “Aku tunggu di kafe depan itu ya sambil ngopi.”

Ia tersenyum. “Makasih ya Rian, kamu emang sahabatku yang paling pengertian.” Dia segera masuk ke mall. Nggak tahu mau cari apa sih mereka di mall ini.

Aku manggut-manggut aja. Setelah cari tempat parkir, aku pun duduk di kafe itu sambil memesan Cappucino. Yang kencan siapa eh, yang nungguin aku. Dasar semprul. Itulah masalahnya, aku nggak bisa bilang tidak ke Anik. Duh gusti. Aku menunggunya, setengah jam. Satu jam. Aku habiskan waktuku main wifi sambil online di kafe itu dengan smartphoneku. Mana tuh anak udah satu jam. Berarti kan dia ketemu ama si Zain. Ya udah deh, toh dia belum muncul juga. Kalau misalnya ada apa-apa juga paling nge-BBM aku. Kalau misalnya dia sudah selesai pastinya juga ngasih kabar aku. Toh dia tahu aku ada di sini. Tak mungkin si Anik ninggalin aku sendirian di sini.

#Pov Anik#

Ahhh…akhirnya selamet deh, selamet selamet selamet. Aku sampe juga di mall berkat bantuan Rian. Dia emang bener-bener sahabatku yang sangat diandalkan baik suka maupun duka. Aku segera menghampiri Zain yang sudah nunggu aku di stand Bread Talk.

“Lho, nekad juga ke sini? Kamu nggak datang aja aku nggak bakal marah koq. Wong hujan,” kata Zain.

“Yah, nggak bisa gitu dong. Lagian aku belum nge-save BBM kamu ama nomor ponselmu,” kataku.

“Yaelah,” kata Zain.

“Sory sory sory,” kataku.

Setelah itu aku pun mengesave nomor ponsel ama BBM-nya. Ya maklumlah baru jadian kemarin. Aku juga nggak pernah dekat ama Zain sebenarnya. Ini semua gara-gara Si Elok, kalau dia nggak nantangin taruhan aku nggak bakal deh kaya’ gini. Tapi sebagai seseorang yang mempunyai gelar Miss Rempong, aku nggak boleh dong diam aja. Harga diriku mana coba. Total sampai sekarang aku sudah mutusin delapan cowok. Dan Zain ini korbanku ke sembilan habis ini. Hahahaha….

Aku senyum-senyum sendiri.

“Kamu nggak apa-apa?” tanya Zain.

“Eh, i..iya, nggak apa-apa,” jawabku.

“Senyam-senyum sendiri, ntar dikira aku pacaran ama anak senewen lagi,” kata Zain.

Aku tersipu-sipu.

Kami pun jalan-jalan hari itu, main di Time Zone, cari buku, trus makan. Setelah itu kita pulang. Aku dianter ama Zain. Zain ini anaknya sebenarnya baik, pintar, kaya. Bahkan ia nganter aku ake mobil ayahnya. Nggak tahu anak ini udah punya SIM apa belum. Kita ngobrol ngalur ngidul bahas banyak hal. Tapi karena seleranya si Zain ini tinggi, ia lebih suka membahas sepak bola dan film. Segala sesuatu tentang keduanya itu ia obrolin bersama aku sepanjang sore itu.

Bahkan kalau aku tidak bilang, “Sampai besok Zain.” mungkin dia akan tetap ngoceh sekalipun aku sudah keluar dari mobilnya.

Aku hanya menghela nafas panjang. Akhirnya kencan pura-pura ini selesai. Ini demi taruhan. Pokoknya si Elok harus benar-benar bayar taruhannya ntar. Gila apa. Zain itu bukan cowok tipeku. Tipeku itu ya seperti Lee Min Ho gitu. Sebentar kayaknya ada yang lupa deh, tapi apa ya?

AKu masuk ke rumah.

“Assalaamualaikum?” sapaku.

“Wa alaikum salam.” mbak Rahma ada di ruang keluarga sedang nonton tv. “Udah reda hujannya?”

Wis mbak, wis terang (udah mbak, udah reda),” kataku.

“Helmnya bapak mana ya, nduk?” tanya bapak.

“Astaga! Aduh mati aku,” kataku. “Aku lupa, lupa, kelaleen! (kelupaan)”

“Hah?” Mbak Rahma bingung ngelihat aku.

“Lho, Nduk!? Anik, mau kemana?” tanya bapak.

“Mau ngambil helm pak,” kataku. Aku lupa kalau tadi kan aku perginya ama Rian naik sepeda motornya. Helmku masih ada ama dia.

Aku segera keluar lagi. Waduh, Rian. Aku lupa ama Rian. Koq aku nggak nge-BBM dia juga. Aku pun nge-BBM dia sekarang.

Me: Rian, kamu masih di sana?

Rian: Iya, habis dua Cappucino nih. Habis ini perutku bakal kembung.

Me: Aku ke sana ya, tunggu!

Aku naik angkot sekarang menyusul dia ke mall.

****

Setengah jam kemudian aku tiba. Aku panik dan segera menyusul dia di kafe itu. Dia masih ada di sana. Aku…aduuhh….aku terharu, Sahabatku, Rian. Dia setia menungguku sampai dua jam. Hiks…tak terasa air mataku meleleh. Rian, kamu baik banget. Aku menghampiri dia. Rian menoleh ke arahku. Ia langsung berdiri.

“Sudah?” tanyanya.

Aku mengangguk.

“Lho, koq kamu nangis? Kenopo Nik? (kenapa Nik) Diputus Zain? Biasanya kamu yang mutusin cowok.”

Aku menggeleng.

“Trus?”

“Kamu begoooooo banget sih jadi cowok?” aku masih nangis.

“Hah?”

Aku langsung peluk dia. “Ayo, anter aku pulang sekarang!”

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part