web hit counter

Love Tamarind Part 5

0
288
Love Tamarind

Love Tamarind Part 5

Cinta itu Ilusi

#Pov Rian#

Aku ada di kelas sendirian bersama Anik. Hari itu adalah hari Sabtu dan anak-anak sudah pulang semua. Kami sendirian di dalam kelas. Dia ingin bicarakan sesuatu kepadaku. Entah kenapa agak lain. Matahari sudah mulai berwarna kuning. Pertanda sebentar lagi sudah mau tenggelam. Ngapain juga kita masih di kelas coba?

“Rian, aku suka ama kamu,” katanya.

“Kamu cuma kepengen ngomong ini doang?” tanyaku.

“Iya,” katanya.

“Aku juga sebenarnya suka ama kamu Nik.”

“Beneran?”

“Iya. Sejak dulu.”

“Sejak kapan?”

“Sejak kamu masih kecil. Sejak kita masih bermain di empang, main di kebun tebu, dikejar ama Mbah Winih.”

“Kamu masih inget aja, aku udah lupa malahan. Hihihihi.”

“Trus?”

Kami berdua diam. Bingung mau ngomong apa. Hatiku saja berdebar-debar sekarang. Mungkin lebih cepat daripada seorang yang berlari maraton, mungkin juga lebih cepat dari kereta api ekspress, bahkan shinkasen sekalipun.

“Kita jadian?” tanyaku.

Anik mengangguk. Aku pun mendekat kepadanya. Kepalanya yang terbalut kerudung itu aku kecup keningnya. Tubuhku sangat nempel bahkan ia aku peluk. Eh, sejak kapan aku punya keberanian seperti itu? Nggak koq beneran aku meluk dia. Duh…dadanya kenyal banget menyentuh dadaku. Otongku langsung tegang.

Kacamata minusnya itu aku lepas. Kata orang anak cewek berkacamata itu nggak setia, karena bangun tidur yang dicari kacamatanya dulu. Sebenarnya aku sudah pernah lihat bagaimana dia tidak pakai kacamata. Dia agak sipit kalau nggak pake.

“Aku belum pernah ciuman ama cewek. Kamu mau aku cium?” tanyaku.

Anik mengangguk.

Perlahan-lahan bibirku sudah maju saja ke depan, mengecup sepasang bibir yang lembut miliknya itu. Aku mengecupnya lagi, kali ini aku basahi bibirnya dengan lidahku. Manisnyaaaa…..aku baru kali ini nyium cewek maaaak…enak rasanya maaakkk….selangiiiiiittt…Pokoknya rasanya ratusaaan….emang wafer?

Entah siapa yang memulai kami sudah berpanggutan. Aku ternyata berani juga ya? Hehehe. Aku menciumnya lagi dan lagi, bahkan ini pertama kalinya lidahku menari-nari di dalam lidahnya melakukan French Kiss. Nafas kami makin memburu, duh indah dunia saat itu. Kalau dipikir-pikir kita emang sahabatan lama, trus harus berakhir dengan cara seperti ini, rasanya mimpi. Tanganku mulai menggeranyangi tubuh Anik. Ia tak menolak ketika tanganku melingkar di pinggangnya. Kami masih berciuman entah berapa lama kami saling memanggut. Pokoknya sampai lidah kami pegel dan aku berhenti.

“Enak ya Nik?” kataku.

“Enak Yan,” jawabnya.

“Aku boleh megang boobs kamu nggak?” tanyaku.

Ia mengangguk. “Kan kita udah jadian.”

Duuhhh…..maaakk..aku megang susu maakk! Tanganku sudah ada di situ. Sesuatu bola yang empuk, kenyal, padat.

“Ohh…Rian…koq enak sih?” katanya.

Aku teruskan megang payudaranya itu. Kuremas-remas lembut, aku pun agak nakal sekarang kubuka kancing bajunya. Anik diam saja, ia bahkan ikut membantuku sekarang. Kemeja seragamnya sekarang dilepas. Heh?? Aku melihat cup bra berwarna hitam. Dan kulit buah dadanya itu ranum banget. Putih, aku bahkan bisa mencium parfumnya. Bau tubuhnya bikin aku makin konak.

“Niik, kamu koq seperti bidadari ya?” tanyaku.

Anik hanya tersenyum. Aku segera membenamkan wajahku di dua gundukan itu. Anik makin mendesah, tanganku mulai meraba-raba kaitan branya. Akhirnya lepas sudah bra itu. Aku turunkan dan kubuang ke lantai. Indah nian ini gundukan. Putingnya kecil sebesar kacang, warnanya pink merona. Alamaaak aku makin bernafsu ama Anik. Kuhisap dan kukenyot saja itu putingnya. Aku sekarang seperti bayi besar yang menyusu ke induknya.

“Ohh….ahh…Rian…hhhmmhh…teruss….aahhhh!”

Aku jilati dan mainkan puting susu itu sambil aku meremas-remas buah dadanya. Enak banget, sukar kuuangkapkan dengan kata-kata. Sensasinya seperti meremas marshmallow dengan susu di atasnya. Lidahku gemas sekali mengecup, menjilat dan bibirku menyedot kencang putingnya.

“Ahhh…Riaann….jangan kenceng-kenceng sakiit.”

“Sluuuurrrppp…aahhhh…”

Wajah kami berdua sudah sange berat. Kami kemudian berciuman lagi. Anik mulai melepas ikat pinggangku membuka celanaku dan meloloskannya. Aku bantu dia, hingga kemudian batangku yang perkasa keluar dari balik celana dalamku. Ia langsung meremas batangku.

“Niik…enak banget,” kataku.

“Nggak usah pemanasan yah, langsung. Aku kepengen ngerasain,” katanya.

Tiba-tiba Anik menurunkan roknya, kemudian celana dalamnya yang berwarna putih pun diturunkan, Ia tinggal memakai kerudungnya aja. Dia duduk di atas meja kelas. Kakinya dilebarkan menantang juniorku untuk masuk ke sarangnya.

“Nik, nggak apa-apa? Kamu masih perawan kan?”

“Ini semua untukmu sayangku, masuklah! Jadilah yang pertama!”

Ahh…what the fuck! Koq terlalu kebetulan gini? Ini terlalu mudah namanya. Ya udah apa boleh buat, mumpung ada rejeki. Kapanlagi aku bisa ML ama cewek yang aku suka? Ya nggak? Mana di kelas lagi. Bodo amat ketahuan guru, toh mereka udah pulang semua.

Anik merangkul leherku. Dipejamkan matanya. Pionku sudah menyentuh bibir memeknya. Geli rasanya ketika benda itu kugesek-gesekan naik turun. Anik sudah banjir. Perlahan-lahan aku pun memasukkannya. Gilaaaa….sempit banget, batangku seperti menusuk sesuatu yang sangat keras.

“Aaahhh….Riaaann…sakiiittt!” katanya.

“Tahan ya sayang, aku sayang kamu, aku cinta kamu,” kataku.

“Aku juga sayang!” katanya.

Untuk menghilangkan rasa sakit aku berciuman lagi dengan dia. Pantatku kumundurkan, kemudian aku majukan lagi. Kudorong, dorong dan SREETTT!

“NGGGGggggggggkkkk!” Anik menjerit dalam ciumanku. Aku sudah memerawani dia. Kini tinggal aku goyang maju mundur.

Tubuhnya yang duduk di atas meja itu bergetar hebat saat aku sudah memerawani dia. Aku memeluk Anik, dada kami berhimpitan, sementara pinggulku terus bergoyang maju mundur. Sempit rasanya, ahh…nggak…aku nggak kuat, rasanya ingin crot….Aduh, geli banget.

“Niik…aku mau keluar nih,” kataku.

“Iya sayang keluarin aja,” katanya.

“Aaahhhh….!” aku menjerit.

BYUUUUURRRRR! Tiba-tiba aku diguyur oleh air. Tampak Mas Yogi ada di depanku. Lho???

Aku terbangun. Aku masih ada di kamarku. Mas Yogi ada di sana dia nyiram aku pake segelas air. Aseeeeeemmmm…..itu tadi cuma mimpi toh? Ealaaaah…

“Mas Yogi, lagi enak-enak mimpi basah koq disiram sih?” tanyaku.

“Habis, berisik! Kowe(kamu) dari tadi manggil-manggil Anik. Mimpi basah? Makane ojo kakeyan ndelok bokep (makanya jangan banyak lihat bokep). Akhirnya kebawa mimpi,” katanya.

Aku akhirnya bangun dan kudapati celanaku basah dan lengket. Ehhh??? Aku sampe keluar? Ini baru pertama kali aku mimpi sampe keluar begini.

“Heh, kunyu mandi sana!” kata Mas Yogi.

“Iya mas, iya! Lagian ini kan hari minggu,” kataku.

“Habis ini bantu-bantu bapak sana, kerja bakti! Aku disuruh bangunin kamu tadi, ayo!”

Aku pun beranjak ke kamar mandi. Duh…kukira mimpi tadi itu beneran. Kalau beneran, waaaahh,…betapa indahnya dunia. Eh…tunggu tunggu tunggu. Aku nggak bakal seberani itu ama Anik. Aku nggak mau ngelakuin begituan ama dia. Kepengen aku awet-awetin. Ntar kalau sudah waktunya yang tepat aku kepengen begituan ama dia pas hari pernikahan. Nggak seperti di mimpi itu. Aku memang benar suka ama Anik, tapi bukan berarti aku harus berbuat seenaknya kepadanya. Cintaku bukan cinta nafsu. Ini baru pertama kali aku mimpiin Anik. Padahal biasanya nggak bisa bayangin mesum ke dia. Mungkin ini adalah Ultimate Fuck! Aku selama ini kan nggak pernah bayangin mesum ke Anik, sekali bayangin langsung bayangin ML.

Aku sudah putuskan. Dia bakal jadi istri masa depanku.

“Lho, Rian?! Koq belum mandi? Bantu-bantu bapak habis ini!” kata bapak.

Nggih pak, nggih(iya pak, iya),” kataku. Aku pun masuk ke kamar mandi. Nggak perlu coli. Orang udah becek kayak gini koq coli. Tambah lemes nanti.

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part