web hit counter

Love Tamarind Part 9

0
203
Love Tamarind

Love Tamarind Part 9

Nikmati saja Part II

Nikmatnya ciuman pertama itu seperti es salju
Dinginnya sampai ke hati
Manisnya seperti gula aren
Mabuk kepayang seperti anggur yang usianya ratusan tahun

Nggak perlu gin atau pun vodka
Para pecinta akan mabuk dengan sendirinya ketika mereka mendapatkan ciuman pertamanya.

#Pov Anik#

Elok kaget melihatku hari itu datang ke sekolah dibonceng oleh Rian. Aku tersenyum penuh kemenangan kepadanya. Dia menggeleng-geleng sambil mengacungkan jempol. Kemudian jari telunjuknya diacungkan dan memberikan isyarat untuk berhenti dengan menempelkannya di telapak tangan kirinya. Aku tahu artinya. Satu bulan lagi, aku harus mengakhiri hubungan ini. Bodo amat ama Elok. Aku tak peduli.

Ada yang aneh ama Rian hari ini. Ia menggandeng tanganku. Tak biasanya ia menggandeng tanganku. Dan ia menggenggam tanganku erat seolah-olah tak mau dilepaskan sampai aku sakit.

“Rian, udah dong! Sakit,” kataku.

Rian melonggarkan genggamannya. “Maaf, aku hanya tak ingin engkau lari Nik. Aku ingin bisa menggandengmu terus.”

Sial, kenapa jadi melankolis begini sih. Aku biasanya banyak bicara kalau di dekat Rian. Tapi dengan perlakuannya pagi ini. Aku banyak diam. Banyak menunduk, malu, bingung, campur aduk jadi satu.

Hari itu aku menemaninya kemana-mana. Bingung aja sih, kami sudah biasa melakukannya, tapi ini lain. Mungkin karena sekarang ada benih-benih cinta yang tumbuh di antara kami. Aku baru menyadarinya. Rian telah lama menyebarkan benih-benih cintanya kepadaku dengan persahabatan. Dia berikan tanpa aku sadari. Hingga kemudian aku pun jatuh ke dalam perangkap cintanya. Aku yang seharusnya memberikan perangkap itu sekarang malah senjata makan tuan.

Ia menikmati hari-hari bersamaku, belajar bersamaku, makan di kantin bersamaku, berangkat sekolah bersamaku, pulang sekolah bersamaku. Dan malam minggu aku pun dijemputnya. Inilah malam yang tak akan terlupakan seumur hidupku. Aku tak akan melupakan momen-momen terindah yang ia berikan kepadaku malam ini.

“Jalan kemana kita?” tanya Rian.

“Terserah deh, aku ngikut,” jawabku.

Dia menstarter motornya. Kota Kediri ini dekat dengan dua gunung. Gunung Klotok dan Gunung Wilis. Rian mengajakku untuk pergi ke Sumber Podang. Sebuah tempat di mana di sini cukup indah pemandangannya. Tanaman-tanamannya asri, ada hutan pinus yang masih ditemukan beberapa ekor tupai. Anak-anak tampak senang mandi di kali. Mereka mengingatkanku dengan Rian ketika kecil dulu. Rian mengajakku di sebuah gubuk di pinggir sawah. Kami duduk berdua di sana. Ia masih saja menggenggam erat tanganku.

“Aku jadi ingat ketika kita maen di empang dulu,” kataku.

“Ah nggak, itu masa-masa terburuk,” kata Rian.

“Apaan sih? Masa-masa indah tauk.”

“Nggak ah, masa-masa buruk. Gara-gara main di empang pulang nginjek tletong sapi.”

“Hahahahaha, salah sendiri nggak hati-hati.”

“Bukan salahku. Kamunya juga yang ngejahilin aku.”

“Kan emang kamu gampang dijahilin koq, Yan.”

“Kalau aku sih emang sengaja ngalah koq Nik. Aku pasrah selalu kamu jahilin.”

“Gombal.”

“Yah, terserah percaya apa nggak. Tapi aku sekarang lega rasanya. Plooong banget.”

“Lega gimana?”

“Aku telah menumpahkan perasaanku selama ini ke kamu.”

Rian menoleh kepadaku. Tangannya mengusap pipiku. Duh…ini pertama kalinya seorang cowok mengusap pipiku.

“Aku sebenarnya penasaran Nik, mungkin juga bisa pingsan saat ini juga,” katanya.

“Ada apa emang?”

“Aku boleh nyium kamu?”

DEG! Jantungku berdegup kencang. Apa aku nggak salah dengar? Rian….mau nyium aku. Aduh, sebentar. Sebentar. Rian, kamu tahu apa yang kamu katakan nggak? Aku nggak pernah dicium cowok Rian. Aku berkali-kali nolak koq mantan-mantanku mau nyium aku. Tapi, kenapa kamu ingin? Dan kenapa juga aku nggak nolak ya?

Tangan kananku digenggam dengan tangan kirinya. Tangan kanannya memegang wajahku agar maju ke arahnya. No no no…tidak, jangan Rian. Jangan, jangan Rian. Aku bisa cinta beneran ama kamu. Terlambat deh…..terlambat.

Aaahh….dunia melayang rasanya. Mataku terpejam saat bibirnya menyentuh bibirku. Alamak, aku mau pingsan sekarang. Nafasnya sekarang berhembus di wajahku. Aduh….nikmatnya. Manisnya ciuman ini. Dadaku makin berdegup kencang. Ada sesuatu rasa sesak di dadaku, rasa sesak yang amat, hingga seluruh panca inderaku tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Inikah rasanya ciuman pertama? Bibirku telah kuberikan kepada cowok ini. Teman sepermainanku sejak kecil. Dia menarik bibirnya. Tidak, aku ingin lagi. Tolong Rian lagi. Kepalaku kumajukan lagi dan mencari bibirnya. Ia menyambutku. Dicium lagi bibirku dan ditekannya lembut. Ahhh….Riaaann…

Cukup lama kami berciuman. Aku malu, mukaku memerah. Telingaku panas. Rian juga pasti. Kami canggung sekarang. Nggak ada kata-kata yang terucap. Aku kemudian bersandar di dadanya. Ia bersandar di dinding kayu gubuk ini. Tangan Rian melingkar diperutku. Tangan kiriku mendekap tangannya. Dadanya itu….nyaman sekali. Ia menciumi ubun-ubunku berkali-kali. Nyaman rasanya.

“Rian, aku baru kali ini dicium cowok,” kataku jujur.

“Aku juga, baru kali ini nyium cewek,” katanya.

“Berarti ini first kiss kita, ya?”

Rian mengangguk.

“Aku tak akan melupakan saat-saat ini Rian. Aku tak akan melupakannya. Aku ingin waktu berjalan lambat sekarang agar aku bisa seperti ini terus bersamamu.”

Rian mencium kepalaku lagi. Kini ia mengangkat daguku. Kami berciuman lagi. Aduuhh…dia romantis sekali sih. Aku merasakan sesuatu yang mengganjal di pinggangku. Itunya Rian berdiri. Keras banget. Malu, itulah yang sekarang ini aku rasakan.

Pulang ke rumah wajahku memerah. Aku berusaha menyembunyikannya, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Aku tahu Mbak Rahma sedikit suka ama Rian. Aku nggak ingin dia tahu kalau aku sudah jadian ama Rian. Kacaaau banget aku. Harusnya aku nggak jatuh cinta ama cowok, tapi ini beda. Aku yang jatuh cinta.

Aku tak banyak bicara. Langsung masuk kamar. Terus terang hatiku berbunga-bunga saat ini. Nggak mau siapapun menggangguku, kukunci pintu kamarku. Merebahkan diri di kasur sambil berulang kali aku sebut nama Rian. “Rian…Rian….Rian…”

#Pov Rian#

Sueneeeeeeeeeennngggg banget. Akhirnya aku bisa ngerasain gimana sih rasanya ciuman itu. Rasanya manis, lembut apalagi pake bibirnya Anik. Aduh….lemes aku, selama ciuman tadi otongku tegang terus. Buset dah. Cukup deh hari ini. Aku makin cinta ama Anik. Dia juga cinta ama aku. Duh gusti.

Mas Yogi tampak sedang menyemir sepatunya. Ia menatapku dengan pandangan aneh.

“Nahh…ini sepertinya ada kabar baru ini. Gimana kencannya?” tanyanya.

Aku cuma ngacungin jempol.

Wasem, kon apakne si Anik(Asem, kamu apain si Anik)?” tanyanya.

Aku nempelin jari telunjuk ku yang kanan ke yang kiri. Tiba-tiba Mas Yogi ngelempar kain lapnya ke mukaku.

“Aduh!” aku segera menepisnya.

“Jiangkriiiikk….aseeem tenan. Adikku wis gedhe. Wahahahahaha,” Mas Yogi ketawa keras. “Lanjutkan my brother, lanjutkan!”

Aku senyum-senyum sendiri masuk ke kamar. Dah ah, hatiku lagi seneng. Hari itu, aku pun mulai memasang foto Anik di laptopku. Aku ngeprint foto dia dan aku tempelin di kamar. Aku juga nyimpen foto dia di dompetku. Seneng pokoke atiku. Aku malam itu tidur sambil meluk guling, Moga malam ini mimpi ketemu dia. Emang bisa mimpi dipesen? Kalau bisa sih.

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part