web hit counter

Matahari 2 Part 8

1
531

Matahari 2 Part 8

SESUATU YANG BARU DIDALAM DIRIKU

Pov Angger..

Beberapa hari yang lalu di desa Jati Bening..

“ngger.. mencintai sesuatu itu jangan terlalu berlebihan.. dan belajarlah melepaskannya, ketika sesuatu itu harus diambil kembali oleh pemilikNya..” ucap Eyang Anjani kepadaku..

“kenapa harus seperti itu Eyang..? bukannya kalau mencintai itu harus sepenuh hati..? bukannya cinta itu ditakdirkan memang milik kita sebagai hambaNya..?” tanyaku dengan hati yang sangat sedih sekali.. Eyang Anjani hanya tersenyum lalu membelai rambutku..

“dengar ya sayang.. kita lahir kedunia ini tidak membawa apa – apa dan tidak memiliki apa – apa.. kita lahir dalam keadaan ‘polos’ (telanjang) ngger.. jadi apa yang harus kita akui sebagai milik kita..? nyawa..? raga..? cinta..? kasih sayang..? pasangan..? Ayah..? Ibu..? saudara..? teman..? atau apa..? apa yang menjadi milik kita..?” ucap Eyang Anjani dengan lembutnya..

“ngga ada.. itu semua milikNya dan hanya dititipkan kepada kita.. oleh karena itu, belajarlah melepaskan sesuatu yang pasti akan pergi, sesuatu yang pasti akan mati, dan sesuatu yang pasti akan lepas dari genggaman tangan kita..” ucap Eyang Anjani lagi dan aku langsung menatap wajah beliau..

“sangat sulit sekali eyang..” ucapku pelan..

Ya.. memang sangat sulit sekali melakukan apa yang disampaikan Eyang ini.. melepaskan sesuatu milikNya yang sudah diberikan kepada kita.. untuk apa..? terus kenapa harus diberikan kalau ujung – ujungnya harus diambil lagi..? jahat banget sih.. oh iya bukan diberikan tapi dititipkan kepada kita, tujuannya apa coba..? kenapa kita harus diberikan kenikmatan yang semu seperti itu..? untuk belajar menerima..? menerima apa..? apa setelah selesai kehidupan didunia ini, kita akan menghadapi kesakitan – kesakitan yang melebihi kesakitan didunia ini dialam keabadian sana..? aahhhhh.. gilaaa…

“memang sangat sulit ngger.. dan itu baru tingkatan pertama dalam menjalani kehidupan, belajar melepaskan.. kalau Angger sudah bisa melepaskan, selanjutnya tingkatan kedua yaitu belajar menerima.. menerima semua yang telah Angger lepaskan.. maka Angger akan menikmati indahnya yang dinamakan dengan ikhlas..” ucap Eyang Anjani sambil membelai rambutku..

“ikhlas..?” tanyaku dengan suara yang pelan..

“ya.. ikhlas.. orang yang telah menemukan ikhlas, adalah orang yang terkuat.. karena orang iklas itu bisa menaklukkan dirinya sendiri terhadap rasa cinta, ketakutan, amarah, kebencian dan nafsunya sendiri..” ucap Eyang Anjani..

“berat..? pastilah.. sangat sulit…? ya.. karena hanya dengan keikhlasan, kehidupan didunia ini akan terasa sangat indah.. dan itu akan menjadi bekal kita menuju alam keabadian kelak..” ucap Eyang Anjani lagi dan kembali aku menunduk..

Gilaaa.. berat sekali apa yang dibicarakan Eyang Anjani ini.. ga mungkin aku akan menjadi seperti yang dibicarakan Eyang Anjani ini.. sementara air mata dan darah sudah banyak dikorbankan.. gak mungkin aku akan melepaskan dan menerima begitu saja semua ini.. guendeng ancene og..

Belum mencoba belajar melepaskan, sekarang harus belajar menerima.. setelah itu baru menemukan ikhlas.. ahhhh.. ini sih gila banget.. apa aku harus ikhlas dengan semua yang sudah menimpaku seperti ini..? bajingaannn.. aku tau itu yang namanya ikhlas, tapi bukan seperti ini juga kali.. ini bukan ikhlas namanya.. tapi takut dan lari dari kenyataan.. dan itu gak sesuai dengan isi kepalaku.. bangsaattt..

“bagaimana dengan janji yang telah terucap lalu tersakiti Eyang..? bagaimana dengan kekasih yang telah dilukai..? bagaimana dengan teman yang menjadi korban..? dan bagaimana dengan rasa yang tertanam didalam jiwa..?” tanyaku dengan suara yang bergetar..

“janji bisa ingkar, pasangan bisa tak setia, teman bisa menghilang, dan rasa bisa berubah.. tapi kalau semua berasal dari sini, dia akan selalu ada dan tidak akan meninggalkan Angger dengan kondisi apapun..” ucap Eyang Anjani sambil menunjuk dadaku..

“justru karena berasal dari sini, Angger ga akan bisa melepaskannya dan Angger harus membalas semuanya Eyang..” ucapku sambil menepuk dadaku dan mengangkat wajahku..

“dan karena itu juga, Eyang berbicara seperti ini ngger.. karena hati tidak pernah mengajarkan dendam..” ucap Eyang Anjani..

“Eyang tau darah Angger itu darah panas.. dan Eyang juga tau, Eyang gak akan bisa menahan Angger untuk membalas dendam.. tapi setidaknya, jangan buat hati Angger menjadi rapuh.. karena kekuatan Angger yang sebenarnya ada dihati Angger.. dan dari hati inilah ilmu ikhlas itu berasal..”

“jadi kalau Angger sulit untuk mengamalkan ilmu ikhlas.. kenali dan kuasai hati Angger dulu.. hati inilah yang akan menuntun Angger untuk mencapai yang namanya ilmu ikhlas itu.. Eyang yakin, dengan berjalannya waktu dan berbagai macam perjalanan kehidupan.. Angger pasti bisa menguasai ilmu ikhlas itu..” ucap Eyang Anjani..

“engga Eyang.. Angger masih belum bisa menerima semua ini..” ucapku dengan emosi yang tertahan..

“oke.. tapi pilihannya hanya ada dua ngger.. yang pertama.. hati Angger akan selamanya seperti ini dan Angger akan menanggung semua beban berat kehidupan yang lalu, serta semua kehidupan yang akan Angger jalani.. atau yang kedua.. Angger melepaskannya dan berdamai dengan hati.. itu saja..” ucap Eyang Anjani

“kalau Angger mengikuti keras hati dan panasnya darah Angger, bukan hanya kerapuhan yang akan Angger terima.. tapi kelamnya kehidupan ini yang dibalut dengan dendam yang tak berujung.. dan Angger akan terus melihat air mata dan darah yang mengalir..” ucap Eyang dan kembali aku tertunduk mendengar ucapan Eyang ini..

Aku hanya menarik nafasku dalam – dalam lalu mengeluarkannya perlahan.. terus terang didalam hatiku ini sedang bergejolak.. darahku mendidih tapi aku merasa ada sesuatu yang mencoba meredamnya.. entah apa itu.. apa karena nasehat Eyang ini atau ada hal yang lain.. dan aku hanya bisa menundukkan kepalaku, sementara Eyang terus mengelus kepalaku dengan lembutnya..

“didalam darah Angger ini, mengalir darah Jati yang mempunyai kekuatan dan semangat yang sangat luar biasa.. darah ini sangat panas kalau Angger tidak bisa mengendalikannya..” ucap Eyang Anjani dengan suara yang sangat lembut sekali..

“didalam darah Angger ini mengalir darah Ranajaya.. bijak, damai dan sabar.. darah ini yang akan membantu menenangkan panasnya darah Angger.. itupun kalau Angger bisa menguasainya..”

“didalam darah Anger ini mengalir darah Van Gerrit yang mempunyai ketenangan, kecerdasan dan penuh percaya diri..”

“didalam darah Angger ini, mengalir darah Aminoto yang penuh dengan keberanian dan memiliki tanggung jawab yang hebat..” ucap Eyang Anjani dan aku langsung mengangkat wajahku lagi..

“leluhur Angger memang orang – orang yang luar biasa Eyang.. Angger gak akan bisa menjadi seperti beliau – beliau itu.. Angger hanya bisa menjadi diri Angger sendiri..” ucapku sambil menatap wajah Eyang..

“Eyang ga suruh Angger menjadi seperti beliau – beliau itu.. Eyang hanya mengingatkan Angger, kalau didarah Angger ini mengalir darah orang – orang hebat.. justru Eyang senang sekali kalau Angger menjadi diri Angger sendiri.. tapi ingat..” ucap Eyang Anjani sambil menunjuk kearah dadaku..

“kuasai ini dan jangan jadi laki – laki yang rapuh.. laki – laki yang kuat, adalah laki – laki yang bisa menguasai hatinya..” ucap Eyang pelan tapi sangat tegas sekali.. dan itu langsung membuat aku terdiam.. tidak ada lagi kata – kata yang tercucap dari bibirku.. aku hanya memandang Eyang tersayangku ini..

Gilaaaa.. semua kata – kata Eyangku ini sangat dalam dan membuat aku langsung tersadar.. memang semua terasa sulit untuk dijalani, tapi bukannya gak bisa.. dan mungkin inilah proses pendewasaan diriku.. aku akan menjalani semua dan mungkin waktu yang akan menempaku, sampai aku menemukan keikhlasan sesuai dengan apa yang dikatakan Eyang tadi.. entah seperti apa nanti jalannya.. kalau memang harus melalui jalan pertumpahan darah dulu.. ya udah.. aku akan melewatinya dan aku tidak akan menghindarinya.. hiufftttt.. huuuuu..

Eyang pun langsung tersenyum kepadaku sambil terus membelai rambutku.. entah apa yang dipikirkan Eyang.. yang jelas wajah beliau terlihat sangat senang sekali.. Eyang lalu berdiri dan berjalan kearah meja yang ada didekat kasur.. beliau lalu mengambil secangkir minuman yang ada diatas meja dan berjalan kearahku lagi.. setelah itu Eyang menyerahkan minuman itu kepadaku..

Akupun menyambutnya dan mengambil cangkir ditangan Eyang itu, lalu aku mencium aroma minuman yang masih hangat itu.. heemmmm.. ini bukan teh atau kopi, ini seperti ramuan dari beberapa tumbuhan.. entah apa namanya.. yang jelas aku gak pernah disuguhi atau meminum ramuan yang berwarna agak kehitaman ini..

“ini ramuan apa Eyang..?” tanyaku sambil melihat wajah Eyang..

“ini obat untuk hati yang rapuh..” ucap Eyang Anjani lalu tersenyum.. dan aku tau, itu hanya candaan saja dari Eyang Anjani..

“Eyang..” ucapku dengan manjanya..

“minumlah sayang.. ini hanya ramuan yang akan sedikit menenangkan pikiran Angger.. langsung dihabiskan ya..” ucap Eyang Anjani sambil mengelus rambutku..

Aku pun hanya menganggukan kepalaku, lalu aku meminum ramuan ini perlahan sampai habis.. rasa minuman ini pun agak hambar tapi sedikit manis.. ada juga asemnya, ada sedikit pahitnya.. ahhhhh.. aku bingung menjelaskan rasanya.. yang jelas, setelah aku meminum ramuan ini.. aliran airnya seperti mengalir kesyaraf – syaraf otakku dan mengantarkannya ke gumpalan otakku, lalu menyerap kedalamnya.. otakku yang seharian panas ini, perlahan mulai dingin dan tenang sekali.. kepalaku pun terasa segar dan sakitnya tidak terasa sama sekali..

Gilaaaa.. ramuan apa ini..? kenapa baru sekarang Eyang Anjani memberikan aku ramuan ini..? kenapa tidak dari dulu..? kalau aku tau ada minuman yang sangat luar biasa seperti ini, pasti aku akan memintanya terus ketika datang kedesa Jati Bening..

TOK.. TOK.. TOK..

Tiba – tiba pintu kamar ini diketuk seseorang.. Eyang Anjani lalu membalikkan tubuhnya dan berjalan kearah pintu lalu membukanya..

“bu..” ucap suara dari arah luar kamar dan terdengar suara Ayahku.. akupun langsung berdiri dan meletakkan cangkir diatas meja tadi.. setelah itu aku berjalan kearah pintu kamar..

“kenapa nak..?” tanya Eyang Anjani..

“Sandi pamit bu..” ucap Ayahku ke Eyang Anjani lalu melihat kearahku..

“Ayah mau balik kepulau seberang sekarang..?” tanyaku yang terkejut..

“iya Mas.. Bundamu telpon terus.. malam ini juga Ayah harus balik..” ucap Ayahku lalu tersenyum..

“yaaaa.. kok cepat banget sih yah..?” ucapku dengan sangat kecewa..

“kenapa..? Ayah disuruh lebih lama lagi disini..? telpon Bundamu gih..” ucap Ayahku..

“ya.. gak gitu juga kali yah.. nanti kalau Bunda marah sama Angger gimana..? kalau adek Bening yang ada disini dan dia yang telpon Bunda, lain cerita.. Bunda pasti ngijinin Ayah agak lama didesa ini..” ucapku..

“tadi Bening juga suruh Ayah balik kerumah malam ini juga..” ucap Ayah lagi..

“ya udah.. lengkap sudah kalau gitu..” ucapku dengan pasrahnya dan kembali Ayah tersenyum kepadaku lalu mengalihkan pandangannya kearah Eyang Anjani..

“Sandi pamit ya bu..” ucap Ayahku dengan suara yang sedikit bergetar..

“iya nak.. hati – hati ya.. salam buat buat Bundanya anak – anak dan salam juga buat sikembar..” ucap Eyang Anjani sambil mengelus kepala Ayahku..

“iya bu..” ucap Ayahku..

Ayah lalu meraih tangan Eyang dan mencium punggung tangan Eyang.. Eyang langsung meraih kedua pipi Ayah dan langsung memeluk putra tersayangnya itu.. suasana pun langsung haru menyelimuti ruangan ini.. mata Ayah berkaca – kaca, begitu juga dengan Eyang Anjani..

Lalu setelah beberapa saat, pelukan itupun terlepas.. Ayah lalu mendatangi aku dan aku langsung menyambutnya dengan mencium punggung tangannya.. setelah itu, kami berdua pun berpelukan dengan sangat erat sekali..

“yang datang, sambutlah dengan hangat.. dan yang pergi, ikhlaskanlah.. hatimu adalah rumahmu.. kamu pemiliknya dan kamu yang tau siapa yang berhak tinggal didalamnya.. jangan memaksa atau dipaksa.. adakalanya hati ini menangis dan adakalanya hati ini berbahagia.. yang terpenting, nikmatilah secukupnya..” ucap Ayahku sambil mengelus punggung dengan sangat pelan..

“i.. iya yah..” ucapku dengan suara yang bergetar dan mata yang berkaca – kaca..

Lalu Ayah melepaskan pelukannya dan memegang kedua pipiku..

“Ayah tidak pernah melarangmu untuk bersedih nak.. tapi kehidupanmu harus terus berlanjut.. jadi biarlah perjalanan ini yang akan menjadi obat disetiap lukamu..” ucap Ayahku pelan tapi sangat tegas sekali.. dan aku hanya menganggukkan kepalaku pelan..

Ayah menepuk pundakku pelan lalu melihat kearah Eyang Anjani sambil kembali tersenyum.. lalu beliau membalikkan tubuhnya dan berjalan kearah luar rumah.. aku dan Eyang Anjani mengantarkannya sampai kedepan pintu..

Sebelum naik mobil yang menunggu didepan rumah, Ayah melambaikan tangan kepada kami sejenak.. setelah itu naik kemobil dan mobilpun berjalan pelan meninggalkan kediaman Eyang Anjani..

Hiuuttfffff… huuuuu.. kelihatannya aku harus balik kekota pendidikan sekarang.. hatiku sudah cukup tenang dengan semua nasehat Eyang dan pesan Ayah tadi.. dan kepalaku juga sudah gak sakit lagi, karena ramuan dari Eyang yang aku minum tadi..

“Eyang.. Angger balik kekota pendidikan ya..” ucapku kepada Eyang..

“sudah malam nak.. istirahat aja dulu.. Angger juga kelihatannya capek banget.. besok aja ya baliknya..” ucap Eyang Anjani..

“ngga apa – apa Eyang.. Angger ingin menikmati perjalanan dimalam ini.. kelihatannya suasana mendukung banget.. apa lagi Angger ditemani bulan purnama, pasti enak banget Eyang..” ucapku sambil melihat kearah Eyang Anjani, lalu aku alihkan pandanganku kearah bulan purnama yang sedang bersinar dengar terangnya..

“terus mau naik apa nak..?” tanya Eyang Anjani.

“yang penting itu Eyang ijinkan aja dulu.. masalah kendaraan itu bisa pakai ini..” ucapku sambil menunjukkan Hpku..

“jaman sekarang.. apapun tinggal ketik diHp..” ucap Eyang Anjani sambil menggelangkan kepalanya pelan.. dan aku hanya tersenyum saja..

“ya sudah kalau begitu.. hati – hati dijalan ya sayang..” ucap Eyang sambil mengelus kedua pipiku..

“Eyang hanya mengingatkan sekali lagi.. jangan terlalu lama menyimpan sakit itu dihati.. lepaskanlah dengan perjalanan waktu ini.. maka ketenangan akan menemani sisa hidup Angger..” ucap Eyang dan aku hanya mengangguk sambil memejamkan kedua mataku sesaat..

Aku lalu meraih tangan Eyang dan menciumnya.. setelah itu aku berangkat keterminal kota ini, dengan menggunakan ojek online..

Hiuufffttttt.. huuuuu.. sebenarnya aku ngantuk dan lelah sekali.. tapi aku gak bisa lama – lama dirumah Eyang Anjani.. aku ingin istirahat dikosanku aja.. aku sudah kangen sama aroma bantal dikosanku..

Setelah sampai diterminal, aku singgah disebuah mini market.. mulutku sangat kecut sekali.. seharian ini aku ga mengemut permen.. lalu setelah membeli permen, aku berjalan kearah dalam terminal sambil mengemut manisnya permen didalam mulutku..

“WOII.. CUUKK..” seseorang memanggil dari arah samping terminal..

Aku lalu melihat kearah suara itu.. dan terlihat ada empat orang sedang berpesta minuman diemperan samping terminal..

Mereka memanggil siapa ya..? aku..? tapi siapa mereka..? aku loh ga kenal sama mereka.. apa mereka orang dari desa jati bening atau dari desa jati luhur..? tapi ga mungkinlah.. kalau dari kedua desa itu, mereka pasti sopan banget kalau manggil aku..

Karena aku gak mengenal mereka, aku pun dengan cueknya berjalan kearah dalam terminal..

“WOIII.. JIANCUUKKK..!!!” teriak orang itu lagi kearahku.. aku pun menghentikan langkahku dan menoleh kearah sekitarku.. gak ada orang lain yang berjalan didekatku.. karena ini sudah malam, terminal ini sudah lumayan sepi..

Kurang ajar.. mereka memanggil aku ya..? kok teriak gitu sih..? terus kenapa harus memaki seperti itu..? aku ada salah apa sama mereka..? ga sopan banget loh.. bajingannn..

Aku lalu berjalan mendekati mereka berempat.. gendut, gondrong, gundul dan cepak.. mereka berempat menatapku dengan tajam sambil menghisap rokok mereka..

“sampean manggil saya om..?” tanyaku kepada gundul yang berteriak tadi..

“iyalah.. siapa lagi kalau bukan kamu..” ucapnya dengan sinis..

“ada masalah apa sampean manggil saya seperti itu..?” tanyaku dengan santainya..

“mana uangmu, tambahin beli minuman.. kalau engga kupecahin kacamatamu itu, sekalian bola matamu juga..” ucap sigondrong sambil melirikku..

Assuuu.. dipalak to aku ini ceritanya..? jiancuukkk.. dikota kelahiranku sendiri, aku dipalak cuukkk.. bajingannn.. padahal dipulau seberang atau dikota pendidikan saja, aku gak pernah dipalak.. ini dikota kelahiranku sendiri aku malah dipalak.. luar biasa sekali og..

Bajingan laknat sekali mereka ini.. aku itu paling malas dengan manusia – manusia gak berguna macam mereka ini.. kalau mereka mau senang – senang atau mau berpesta, silahkan aja.. gak ada yang melarang kok.. tapi pakai uang sendiri, jangan nyusahin orang lain.. jiancuukkk.. ini itu ibaratnya.. orang yang mau minta uang buat merayakan hari besar kepada orang lain, tapi dia gak berkontribusi sama sekali kepada orang yang dimintai uang itu.. kan bajingan banget kalau gitu.. assuuu..

“hiufftttt huuuuu.. sampean yang minum, kenapa minta uangnya ke aku.?” Ucapku dengan cueknya..

“assuuu.. sudah culun, bergaya lagi..” ucap sicepak berdiri sambil membuka kaosnya dan memperlihatkan tattoo tengkorak didadanya..

Jianccuukkk.. apa coba maksudnya dia buka kaos dan memamerkan tattonya itu..? untuk menggertak aku..? ini kalau aku ladenin dan aku berkelahi sama dia, tattonya ngelawankan gak ya..? bajingan bener orang ini.. dan anehnya, emosiku gak naik sama sekali kekepalaku.. aku justru santai dan tenang sekali menghadapi para keparat ini..

“aku aja yang urus..” ucap sigundul kepada teman – temannya sambil berjalan mendekat kearahku..

“kamu mau cari selamat gak disini..?” ucapnya sambil melotot ketika sudah berdiri dihadapanku.. aroma minuman pun langsung keluar dari mulutnya..

Aku hanya menggelengkan kepalaku pelan, sambil meletakkan permenku dimulutku.. lalu..

BUHHGGGGG..

Tanpa banyak kata, aku hantam jidatnya dengan kepalan tangan kananku, sampai kepalanya termundur kebelakang..

“AARGGHHHH..” ucap sigundul berteriak kesakitan lalu..

BUHHGGGGG..

Aku injak dadanya dan..

BUUMMMM..

Sigundul roboh dan terlentang ditanah, lalu berguling – guling dan mengerang kesakitan sambil memegangi dadanya..

Ketiga temannya berdiri dan bersiap menyerangku.. aku pun memperbaiki posisi kaca mataku dan mengeluarkan permenku dari mulutku, lalu memasukannya lagi.. aku melakukannya dengan santai tanpa rasa takut sedikitpun..

“bajingaaannn..:” ucap sigrondong sambil loncat dan mengarahkan pukulannya kearah wajahku..

Dengan cepat aku memutarkan tubuhku dan mengarahkan tendangan balik kearah perutnya, dengan posisi dia masih meloncat dan pukulannya sudah dekat kearahku..

BUHHGGGGG..

“HUUPPPP..” ucapnya dengan perutnya termundur dan wajahnya mendekat kearahku.. lalu..

BUHHGGGGG..

Aku hantam mulutnya dengan kuat dan sigondrong langsung roboh juga ketanah, didekat sigundul yang sudah terlentang dengan nafas yang berat.. lalu..

BUHHGGGGG.. BUHHGGGGG..

BUHHGGGGG.. BUHHGGGGG..

Aku injak wajah sigundul dan sigondrong bergantian..

“AARGGHHHH..” teriak mereka dengan darah yang keluar dari mulut mereka berdua..

Lalu aku berdiri dan menatap sigendut dan sicepak..

“kalian mau maju atau aku yang maju..” ucapku sambil memegang batang permenku dan memperbaiki posisi kacamataku.. tangan kiriku pun menunjuk wajah mereka bergantian..

Cuukkk.. kok jadi begini ya aku..? biasanya aku selalu menghindari keributan walaupun ada orang yang menyentuhku.. tapi sekarang.. dia baru berbicara aja, aku sudah menjatuhkan dua orang dan menantang dua lainnya.. bajingaannn..

“jiancuukkkk..” ucap sigendut dengan emosinya sambil berjalan kearahku.. kedua tangannya pun terlihat terkepal..

Aku memajukan kakiku dua langkah kedepan, lalu aku memutar tubuhku dan mengarahkan tendangan balik kearah wajahnya..

BUHHGGGGG..

Tumitku pun langsung mengenai wajah sampingnya dan dia langsung oleng kesamping kiri.. aku lalu menyambutnya lagi dengan kepalan tangan kiriku kearah batang hidungnya..

BUHHGGGGG..

KRAAKKKKK..

“ARRGHHHHHH..” sigendut berteriak kesakitan dengan darah yang menyembur dari hidungnya yang patah kedalam.. dia memundurkan tubuhnya sambil memegangi hidungnya.. lalu..

BUHHGGGGG.. BUHHGGGGG.. BUHHGGGGG.. BUHHGGGGG..

Dari arah bawah, aku hantam perutnya yang gendut itu secara beruntun..

BUHHGGGGG.. BUHHGGGGG.. BUHHGGGGG.. BUHHGGGGG..

Aku memukulnya dengan keras dan cepat..

“ARGGHHHHH..” dia kesakitan sambil melepaskan pegangan dihidungnya yang berdarah dan patah itu..

BUHHGGGGG.. BUHHGGGGG.. BUHHGGGGG.. BUHHGGGGG..

Aku terus memukul perutnya sampai..

“HUEKSSSS….” Mulutnya mengeluarkan darah segar yang banyak..

Aku lalu memegang tangan kanannya dan menariknya lurus kearahku.. lalu..

KRAKKKKKKKK..

Aku hantam sikutnya kearah dalam dengan kuat, sampai lengannya patah dan aku langsung melepaskannya..

“AARRGGHHHHH..” sigendut berteriak kesakitan dengan tangan kanan yang patah dan menjuntai..

Aku mundur selangkah lalu aku maju lagi sambil menginjak mulutnya yang berteriak kesakitan itu dengan kuatnya..

BUHHGGGGG..

JEDDUUKKKK..

BUUMMMMM..

“AARRGGHHHHHH..” dia berteriak kesakitan lalu tumbang kebelakang.. kepala belakangnya pun menghantam tanah dengan kuatnya..

Dia roboh terlentang dengan darah keluar dari mulut dan hidungnya.. nafasnya berat dan matanya melotot.. tubuhnya pun mengejang dengan hebatnya..

“HOORRGGGG.. HORRGGGG.. HORRGGGG..” dia bernafas sambil mengeluarkan darah dari mulutnya..

Apa aku kasihan melihat kondisinya yang mengenaskan itu..? engga.. aku justru merasakan kenikmatan yang sangat luar biasa, dari sisi jiwaku yang lain.. aku puas dan aku sangat senang sekali melihatnya mengeluarkan darah segar seperti itu.. jiancuukkk…

Kembali aku memperbaiki posisi kacamataku sambil memegang batang permenku sebentar.. lalu aku mengemut permenku lagi sambil menatap sicepak yang tidak memakai kaos itu..

Sicepak terlihat gemetaran dengan wajah yang memucat.. aku lalu mendekatinya yang ketakutan itu dan aku melihat botol kosong yang ada disebelahnya.. aku mengambil botol kosong itu lalu..

PRANGGGGG..

Aku pecahkan botol kosong itu ke batu yang ada didekatku dan memegang bagian atasnya.. lalu aku mendekat kearahnya dan berdiri dihadapannya.. pecahan botol yang tajam itupun, aku tempelkan digaris tattonya yang bergambar tengkorak itu.. lalu aku tekan kedalam menembus kulitnya, sampai tetesan darah keluar dari celah pecahan botol itu….

“ARGHH..” teriak sicepak tertahan setelah aku menekan lebih dalam pecahan botol itu kedalam tubuhnya.. kepalaku pun menggeleng pelan dan mengisyaratkan dia untuk diam..

“jangan berteriak.. atau pecahan botol didadamu ini aku cabut, terus aku tanam kedalam perutmu dan pasti lebih dalam lagi.. lalu aku sobek – sobek isi dalam perutmu dan mengeluarkannya semua sampai tak bersisa..” ucapku pelan sambil menatapnya dengan tajam dan memegang batang permenku..

Lalu aku mengemut batang permenku lagi.. setelah itu aku cabut sedikit pecahan botol dari dalam dagingnya, sampai menyisakan beberapa mili saja didalam tubuhnya.. lalu aku goreskan pecahan botol itu, mengikuti lekukan gambar tengkorak didadanya itu..

SRETTT.. SRETTT.. SRETTT.. SRETTT.. SRETTT..

“HHPPPPPPPPP..” bibirnya bergetar, matanya berair, dan tubuhnya menggigil.. sicepak menahan goresan pecahan botol didadanya ini.. dia berusaha untuk tidak berteriak, walaupun darah segar mengalir didadanya dan kesakitan yang teramat sangat dirasakannya..

SRETTT.. SRETTT.. SRETTT.. SRETTT.. SRETTT..

Bunyi pecahan botol ini, ketika merobek kulit dan sedikit daging sicepak..

Dan aku terus mengukir dadanya dengan pecahan botol ini.. Aku melakukan itu sambil terus menatap matanya yang sangat ketakutan itu..

Tidak ada ketakutan didalam diriku, tidak ada rasa belas kasihan, tidak ada keraguan dan tanganku tidak gemetar sama sekali, ketika menyobek kulit dadanya itu..

SRETTT.. SRETTT.. SRETTT.. SRETTT.. SRETTT..

Aku melakukannya dengan sangat tenang dan seperti sedang menggoreskan pena disebuah kertas, untuk membuat syair cinta.. asyik gak..? cinta itu nikmat bung, walaupun darah sebagai penawarnya..

Aku sangat menikmati goresan – goresan ini, walaupun semakin lama semakin banyak darah yang mengalir didadanya..

Heemmmm.. aroma darah sicepak inipun, semakin membuatku bersemangat untuk mengggoreskan pecahan botol ini..

SRETTT.. SRETTT.. SRETTT.. SRETTT.. SRETTT..

“HHPPPPPPPPP..” gumamnya dengan wajah yang sudah sangat memucat…

“sampai kapan kamu menyiksa dia nyo..?” tanya seseorang yang berdiri tidak jauh dari aku.. aku lalu melihat kearah orang itu dengan pecahan botol ini masih tertanam didada sicepak.. dan disana, Om Satria sedang berdiri sambil menghisap rokoknya..

Jiancuukkk.. ganggu kesenanganku aja nih Om Satria.. gak lihat apa kalau aku lagi membuat syair – syair indah ditubuh sicepak..? assuuu..

“sampai selesai seluruh tattonya saya ukir om..” ucapku dengan cueknya lalu aku melihat kearah mata sicepak yang sudah dipenuhi air mata itu..

Lalu aku cabut pecahan botol itu dan aku goreskan lagi untuk membentuk dua lingkaran mata tengkorak..

SRETTT.. SRETTT.. SRETTT.. SRETTT.. SRETTT..

“HHPPPPPPPPP..” sicepak menahan kesakitannya dengan tubuh yang bergetar..

“selesai..” ucapku sambil mencabut pecahan botol itu dari kulit dada sicepak, lalu aku membuang pecahan botol itu tidak jauh dari aku.. darah sicepak tampak memenuhi dadanya dan disela – sela jari tanganku..

“kalau aku lihat kamu diterminal kota ini lagi, aku tidak akan mengukir dada atau bagian tubuhmu yang lain.. tapi akan aku cincang seluruh tubuhmu dan akan kubuat santapan anjing – anjing liar diluar sana..” ucapku sambil mendekatkan wajahku diwajahnya.. dan..

BUUMMMMMM..

Sicepak langsung roboh dan terlentang.. assuuu.. padahal aku belum memukulnya loh.. kok dia sudah roboh sendiri.. bajingaannnn..

“kita balik kekota pendidikan..” ucap Om Satria..

“entar om.. aku cuci tangan dulu..” ucapku sambil berjalan kearah kamar mandi yang tidak jauh dari tempatku berdiri ini..

Hiuuffttt.. huuuuu..

Jiancuukkkk.. apa ini proses untuk menuju jalan yang bernama ikhlas itu ya..? tapi kok bisa begini..? kenapa aku jadi raja tega seperti ini..? hehe.. biarlah.. seperti kata Ayahku tadi.. aku akan menikmati semua jalan yang akan aku lewati.. terserah sampai dijalan yang menuju ikhlas atau engga.. yang penting dinikmati..

Setelah membasuh tanganku yang penuh darah ini, aku keluar dari kamar mandi sambil mengemut permenku.. dan kulihat keempat orang yang memalakku tadi, masih terlentang ditanah.. dan aku cuek saja sambil berjalan kearah Om Satria..

“biarkan mereka disini.. nanti ada yang mengurus..” ucap Om Satria ketika aku sudah ada didekatnya..

“mau diurus atau engga.. terserah Om..” ucapku dengan cueknya sambil membuang batang permenku..

Om Satria hanya menggelengkan kepalanya sambil melihat kearahku.. lalu beliau membalikkan tubuhnya dan berjalan kearah parkiran mobil.. akupun langsung mengikutinya dari arah belakang..

Beberapa saat kemudian.. aku duduk dengan santainya disebelah Om Satria yang sedang menyetir..

“ada bayangan tentang BD..?” tanya Om Satria kepadaku

“belum Om.. tapi saya pasti akan menemukan mereka..” ucapku dengan dinginnya..

“apa menurutmu ini ada hubungannya dengan black house..?” tanya Om Satria lagi..

“apa Om mau menguji pemikiran saya..?” tanyaku balik..

“enggak.. aku hanya mau bertukar pikiran aja sama kamu..” jawab Om Satria dengan tenangnya..

Setelah itu kami berdiam diri beberapa saat.. aku lalu mengambil permenku lagi dikantong.. aku membukanya lalu mengemutnya..

“menurut saya sih engga ada hubungan antara black house dan BD om..” ucapku sambil memegang batang permenku lalu mengemutnya lagi..

“kamu yakin..? apa ada petunjuk..?” tanya Om Satria lagi..

“petunjuk sih gak ada Om.. tapi fellingku mengatakan kalau bukan Purnama yang ada dibalik ini semua..” ucapku..

“sampai mana keyakinanmu terhadap fellingmu itu..?” tanya Om Satria..

“kalau menurut saya, kita gak bisa menghubungkan BD dengan Black House atau iblis hitam atau bahasa kerennya Black Devil.. maksa banget itu..” ucapku dengan tenangnya..

“dari mana kamu tau tentang iblis hitam..? dan kalau kamu tau tentang iblis hitam, berarti kamu tau tentang hubungan Iblis Hitam dengan Black House..” tanya Om Satria lagi..

“pintar sekali Om mancing saya.. padahal Om adalah pelaku sejarah, ketika iblis hitam ditumbangkan oleh Pondok Merah..” ucapku sambil melirik Om Satria.. dan sengaja aku menjawab itu, karena hanya sedikit informasi tentang Iblis Hitam yang aku ketahui dari Mas Panji.. sekarang aku ingin mengorek keterangan dari pelaku sejarah itu sendiri, yaitu Om Satria.. aku juga penasaran.. sejauh mana Ayahku terlibat dalam perang yang dasyat itu.. Ayah dan Om satria satu angkatan.. kalau Om Satria pelaku sejarah, pasti Ayah juga terlibat didalamnya..

“dan sekarang kamu yang mancing aku.. baiklah.. aku akan cerita sedikit tentang Iblis Hitam dan Black House..” ucap Om Satria lalu diam sejenak..

“sebenarnya dua kelompok itu gak saling berhubungan.. karena Black House itu kumpulan preman dari kampus kuru.. sedangkan iblis hitam kumpulan preman – preman terpilih dari seluruh kampus dikota pendidikan.. dan mereka terpaksa saling terkait, karena pendiri Black House dan Iblis Hitam itu sama.. lalu ditahun – tahun berikutnya.. sebagian kecil penghuni Black House ada yang menjadi anggota Iblis hitam, hanya sebagian kecil loh ya.. sedangkan sisanya gak berhubungan dengan black house sama sekali..” ucap Om Satria lagi..

“sebenarnya aku sepakat dengan kamu.. BD dan Black House jaman sekarang ini, tidak berhubungan sama sekali.. tapi bukan berarti Purnama gak bisa melakukan hal yang sekeji itu kan..?” tanya Om Satria dan aku tau pertanyaan itu memancingku lagi..

“Purnama itu hanya seorang pemuda yang keras kepala, dan ingin menunjukkan eksistensinya didunia bajingan kampus dikota pendidikan.. itu saja..” ucapku lalu aku mengemut permenku lagi..

“hehehe.. pintar juga kamu..” ucap Om Satria lalu tersenyum dan menggelengkan kepalanya..

“dan saya merasa, ada yang memanfaatkan hubungan panas antara pondok merah dan black house.. dan tentu saja itu BD.. mereka ingin melihat kekuatan pondok merah sekarang dan siapa aja yang masih berdiri dibelakang pondok merah.. dan pasti kekuatan mereka sekarang lebih dasyat, karena dua ritual yang mereka lakukan selama ini.. mereka ingin mengetahui kekuatan pondok merah dan dibelakangnya, sambil menyempurnakan kekuatan mereka..” ucapku..

“ya.. dan kalau menurutku, ritual mereka masih kurang satu lagi korbannya..” sahut Om Satria..

“itulah Om.. dan sebelum BD menyempurnakan ritual itu, pasti BD akan membuat gesekan – gesekan antara black house dan pondok merah.. mereka ingin memecah konsentrasi kita dalam mencari keberadaan mereka..” sambungku..

“ya.. dan malam ini akan terjadi gesekan diantara dua kos itu.. beberapa anggota black house, membantai Kenzie dan ian.. lalu si Upik, dibantai oleh beberapa orang yang tidak dikenal.. dan pasti anggota black house mengiranya pondok merah pelakunya.. lalu BOOOMMMM..” ucap Om Satria dan itu langsung mengejutkan aku..

“gila.. kalau masalah ini saya belum tau Om..” ucapku..

“makanya kita harus kesana sekarang.. atau black house akan menjadi kuburan yang mengerikan..” ucap Om Satria..

“apa menurutmu Om, Purnama akan kalah dengan Badai, Dede, Mas Panji atau Mas Mas Karel..?” tanyaku..

“tergantung..” ucap Om Satria singkat..

“tergantung apa..?” tanyaku..

“Purnama akan sampai titik puncaknya gak dengan mata merahnya.. kalau hanya separuh aja kekuatannya.. Purnama akan menjadi bulan – bulanan dari pondok merah.. tapi kalau sampai dia dititik puncaknya, Cuma kamu yang bisa melawannya..” ucap Om Satria..

“emang kalau Mas Panji, Dede, Badai atau Mas Karel mencapai kekuatan mereka dengan mata mereka masing – masing, apa tidak bisa mengalahkan Purnama..?” tanyaku..

“gak tau juga sih.. karena mata merah, mata hitam dan mata biru itu misterius.. semua tergantung dari pribadi mereka sendiri.. mereka bisa menguasainya atau tidak..” jawab Om satria..

“kira – kira, dari mana Purnama dan Badai memiliki mata merah ya Om..?” tanyaku kepada Om Satria dan Om Satria langsung melirikku.. dan kalau dari cara meliriknya, Om satria seperti sedang menyimpan sesuatu yang diketahuinya.. dan kelihatannya Om Satria tau asal muasal mata merah ini..

“kamu tau mata merahmu dari mana..?” tanya Om Satria dan itu langsung membuatku terdiam..

Jiancuukkk.. malah dibalikkan ke aku lagi pertanyaannya.. akupun hanya menggelengkan kepalaku pelan..

“kamu aja gak tau, apa lagi aku..” ucap Om Satria sambil melihat kearah depan.. terlihat sekali kalau Om Satria menghindari tatapan mataku..

Baiklah.. mungkin aku akan mengetahuinya sendiri nanti.. mungkin Om Satria punya alasan tersendiri, yang memaksanya untuk tidak menceritakan tentang asal muasal mata merah ini..

“oh iya Om.. satu lagi pertanyaanku.. sejauh mana keterlibatan Ayah dalam pertempuran antara Pondok merah dan iblis hitam..?” tanyaku.. dan Om Satria hanya melirikku lalu menggelengkan kepalanya..

Jiancuukkk.. nanggung banget sih informasinya ini..? ini kalau aku lanjutkan pertanyaanku, pasti gak akan dijawab oleh Om Satria.. assuudahlah..

Dan perjalanan kami pun telah sampai didekat kosan black house.. tampak beberapa motor terparkir didepan kosan black house.. dan itu adalah kendaraan dari teman – teman pondok merah.. gilaaa.. pasti didalam lagi berlangsung pertempuran yang gila – gilaan..

Dan ketika mobil kami sudah berhenti, tampak Mita memasuki kosan black house dengan terburu – buru.. duhhh.. gilaaa.. pasti Dede akan menggila kalau tau ada Mita datang kekosan Purnama itu.. jiancuukkk..

Dan selang beberapa saat kemudian, datang seorang wanita lagi dan dia adalah Mala.. bajingaannn.. inikan wanita yang membersihkan luka Dede di orientasi terakhir dikampus teknik kita.. dan menurutku, pasti ada hubungan special diantara Mala dan Dede.. tapi kenapa Mala datang kekosan black house..? dia datang karena ada Dede atau dia mendatangi salah satu penghuni kosan black house..? duhhh.. bisa tambah gila nih didalam..

“itu Mala.. dia pasti mendatangi tunangannya dikosan ini..” ucap Om Satria dan langsung membuatku terkejut..

“loh.. Mala sudah tunangan..? sama siapa Om..? bukannya dia ada hubungan dengan Dede..?” tanyaku yang terkejut..

“tunangannya bernama Abimanyu.. dia salah satu penghuni kosan black house..” jawab Om Satria..

“bagaimana Om tau..?” tanyaku..

“kamu hanya tau kalau aku sudah mempunyai seorang putri ketika aku belum lulus kuliah.. tapi kamu gak tau kan siapa putriku itu..?” jawab Om Satria..

“cuuukk.. Mala putrinya Om..?” tanyaku yang terkejut..

“ya.. dan ibu Mala itu, asli orang jati bening yang sekarang sudah tinggal di ibukota propinsi..” jawab Om Satria dan aku hanya bisa menggelengkan kepala saja..

“sekarang lebih baik kamu turun dan hentikan pertempuran itu.. atau pertempuran itu akan memakan korban jiwa..” perintah Om Satria kepadaku..

“Om gak ikut turun..?” tanyaku..

“enggak.. ini bukan pertempuranku.. ini urusan kalian..” jawab Om Satria..

“oke Om.. tapi setelah ini, kita harus bicara lagi..” ucapku sambil membuka pintu mobil..

“entar dulu.. kamu pakai ini..” ucap Om Satria sambil mengambil jaket merah dari kursi belakang, tempat Om Satria duduk.. dan itu adalah jaket kebesaran pondok merah..

“ini jaket siapa Om..?” tanyaku..

“punyamulah.. kamu harus datang sebagai keluarga besar pondok merah..” ucap Om Satria..

Cukkk.. Om Satria masuk kamarku tanpa izin..? gilaaa.. untung dia teman Ayahku.. kalau enggak.. arrgghhhhhh..

Akupun langsung mengambil jaket itu dan mengenakannya.. dan ketika aku akan turun..

“hentikan pertempuran itu.. jangan malah memperkeruhnya.. sengaja aku mengambilkan jaketmu, agar kamu lebih bisa menguasai keadaan dan didengar oleh semua penghuni pondok merah..” ucap Om Satria..

“iyaaa..” ucapku dengan sedikit jengkel, karena Om Satria masuk kedalam kamarku tanpa izinku.. sedikit aja sih aku jengkelnya, karena memang ini untuk kebaikan semua..

Aku lalu turun dan berjalan kearah kosan black house.. dan ketika sampai didepan pintu kosan ini, aku mengambil permenku dan membukanya lalu mengemutnya.. setelah itu aku membuka pintu kosan ini perlahan..

Pemandangan yang mengerikan pun langsung terlihat diruangan tengah black house, ketika aku sudah membuka pintu depannya.. semua penghuni black house terkapar dengan bersimbah darah, termasuk Purnama.. dan kalau aku lihat, Dede Gagah yang habis menumbangkan Purnama.. terlihat Dede Gagah sedang berdiri dengan matanya yang berwarna hitam pekat.. Dede Gagah pun terlihat emosi yang sangat luar biasa.. dan kalau menurutku, ini kemarahan yang paling mengerikan yang pernah aku lihat diwajah Dede Gagah.. gilaaaa.. apa Dede gagah sudah mencapai titik puncak mata hitamnya..? bajingaannnn..

Apa Purnama bisa mudah ditumbangkan..? apa dia bisa dikalahkan oleh kekuatan penuh mata hitam yang dimiliki Dede Gagah saat ini..? atau jangan – jangan, Purnama belum mendapatkan kesempurnaan di mata merahnya..? gilaaa.. gilaa…

Sementara seluruh penghuni pondok merah, hanya melihat kearah Dede yang lagi emosi itu..

“harus beginikah caramu bersenang – senang..? sampai lupa diri..? atau sampai mana sih caramu bersenang – senang..? sampai ada yang mati..?” tiba – tiba terdengar suara Mala yang berjalan kearah Dede..

“la.. aku sakit, sakit sendiri.. jadi kalau aku lagi senang, jangan bilang aku lupa diri.. dan kamu jangan mengganggu kesenanganku.. biarkan aku menikmati kesenanganku, seperti kamu membiarkan aku menikmati kesakitanku.. paham..” ucap Dede dengan suara yang terdengar sangat menyeramkan..

Jiancuukkkk.. Dede Gagah beneran ada hubungan dengan Mala ya..? astagaaaa.. dan kalau aku mendengar dari ucapan Dede gagah.. sepertinya dia tau kalau Mala sudah mempunyai tunangan.. tapi yang mana tunangan Mala..? apa ada diantara salah satu penghuni black house yang tumbang ini..? guendeng ancene og..

“ke.. ke.. kenapa kamu seperti ini gah..?” ucap Mala yang terdengar sangat sedih sekali..

“diamlah la.. jangan bersuara lagi..” ucap Dede Gagah yang menahan emosinya yang menggila itu..

Dan diruang ini pun langsung sunyi senyap.. hanya tangisan Mita dan Mala yang terdengar.. Dede Gagah pun langsung mengangkat kakinya dan akan menginjak wajah Purnama yang terlentang itu..

Cukup.. cukup sudah pertempuran kali ini.. ini harus dihentikan.. ini harus dihentikan..

“De..” ucapku lalu aku mengemut permenku lagi..

Dede Gagah pun langsung terkejut dengan kedatanganku.. matanya yang menghitam itu, perlahan mulai kembali normal, ketika aku berjalan mendekatinya.. semua pandangan orang diruangan ini pun, langsung tertuju kepadaku..

“Mas.. Mas Angger..” ucap Dede terbata sambil menurunkan kakinya yang terangkat itu… aku lalu berjalan mendekati Dede Gagah sambil terus menatap matanya..

“cukup sudah emosimu kamu lampiaskan.. sekarang kita balik..” ucap ku ketika sudah berdiri dihadapan Dede Gagah.. aku berbicara sambil memegang batang permenku dengan tangan kiri, dan tangan kananku membersihkan darah yang ada diwajah Dede Gagah ini..

Gilaaa.. parah juga kondisi adekku ini.. sebenarnya aku marah dengan kondisi adek tersayangku ini.. tapi percuma juga kalau aku marah, mau aku lampiaskan kemana kemarahanku ini..? Purnama..? dia aja sudah terkapar seperti ini kok.. mungkin dilain waktu aja aku duel dengan Purnama.. mungkin disaat Purnama menemukan kesempurnaan mata merahnya itu.. bajingaannn..

“tapi ini tentang BD mas.. BD.. BD yang telah merengut nyawa mba Dinda.. BD yang menyakiti Mas Angger dan kita semua..” ucap Dede sambil melirik kearah Purnama..

Astagaaaa.. ternyata memang benar.. black house telah diadu dengan pondok merah..

“gak ada hubungannya black house dengan BD.. sekarang kita balik semua..” ucapku sambil menatap Dede, lalu melihat kearah Mas Panji dan keseluruh penghuni kosan pondok merah..

Mas Panji langsung berjalan mendekati kami berdua dan menepuk pundak Dede Gagah pelan dan berganti menepuk pundakku.. sedangkan penghuni pondok merah yang lain, hanya terdiam dan tidak ada yang menyahut.. kelihatannya pengaruh aku memakai jaket pondok merah ini, sehingga semua mendengarkan ucapanku.. guendengn ancene og..

Aku lalu melihat kearah Dede Gagah yang tidak mau beranjak dari tempat ini.. bajingannn.. ini pasti karena kehadiran Mala dan Mita ditempat ini.. wajah Dede Gagah terlihat marah dan sedih melihat kedua wanita itu..

“janji bisa ingkar, pasangan bisa tak setia, teman bisa menghilang, dan rasa bisa berubah.. tapi kalau semua berasal dari sini, dia akan selalu ada dan tidak akan meninggalkan kamu dengan kondisi apapun..” ucapku menirukan perkataan Eyang Anjani sambil menunjuk ke dada Dede..

Akupun langsung merangkul pundak Dede dan mengajaknya keluar dari tempat ini.. dan ketika sampai diluar, kami berpasasan dengan seorang laki – laki yang memiliki padangangan sangat tajam.. dia berjalan santai kearah dalam kosan sambil menghisap rokoknya.. Dede Gagah dan penghuni kosan pondok merah, hanya milirik laki – laki itu..

Akupun mengalihkan pandangan Dede Gagah untuk terus berjalan kearah sisemok.. dan ketika aku melirik kearah dalam kosan.. aku melihat laki – laki itu, menggenggam tangan Mala.. bajingaannn.. apa dia tunangan Mala..? apa laki – laki itu yang bernama Abimanyu..? gila.. gilaa.. untung aku menghalangi pandangan Dede Gagah.. kalau engga..? Dede pasti makin terasa sedih hatinya.. bajingaannnn..

Hiuufftttt.. huuuuu.. sekarang kembali dihidupanku hari ini..

Hari ini aku sedang duduk sendiri dikantin kampus negeri.. Dylan, Rogi dan Lia lagi kuliah.. sedangkan aku, aku lagi malas ikut kuliah.. aku lagi menenangkan sejenak pikiranku dikantin ini.. oh iya.. hari ini sudah seminggu Dinda meninggalkan aku.. tapi aku masih terus terbayang wajahnya dan senyum manisnya.. aku sudah mencoba untuk melupakannya, tapi tetap saja tidak bisa.. gilaaaa.. apa karena aku masih belum bisa menguasai hatiku..? apa aku masih rapuh..? jiancuukk.. jiancuukk..

Dan ketika wajah Dinda terbayang, emosiku pasti mendampinginya.. dan itu bisa dipastikan, aroma darah dan balas dendam pasti akan tercium dari hidungku.. bajingannn..

“cukup masbro.. cukup.. kenapa aroma darah terus sih yang dibahas..? bahaslah aroma lendir sekali – kali.. bosan aku dengar kemarahanmu itu…” tiba – tiba suara Stepen menyahut dari balik sempakku..

“bisa diam ga kamu..?” ucapku dengan sedkit emosi..

“kenapa Masbro..? kamu mau sakiti aku lagi..? kamu mau pukul aku lagi..? ingat.. semakin kamu sakitin fisikku, pembangunan jangka panjangmu pasti akan rusak.. kamu mau gak punya keturunan..?” ucap Stepen..

“jiancuukkk..” ucapku sambil menggelengkan pelan kepalaku

“eh Masbro.. aku kok mencium ada aroma dara yang mendekat ya..?” ucap stepen dan aku langsung melihat kearah depanku.. tampak Kak Dana berjalan mendekati aku..

“diam ya.. jangan bersuara..” ucapku..

“oke.. aku diam.. asalkan aku bisa menikmati aroma dara, dari wanita ini hehehehe..’ ucap stepen lalu tertawa..

“assuuu..” makiku..

 

Angela Ardana

“hai mas..” ucap Kak Dana ketika sudah berada didekatku..

“hai kak..” ucapku lalu aku mengemut permenku..

“boleh aku duduk..?” tanya Kak Dana..

“duduk aja kak.. gak ada yang melarang kok..” ucapku sambil memegang permenku..

Kak Dana pun langsung duduk dan wajahnya terlihat agak sedih..

“kamu masih marah sama aku ya mas..?” tanya Kak Dana..

“marah..? kenapa aku harus marah..?” tanyaku dengan santainya..

“hiuufffttttt.. karena kejadian malam itu..” ucap Kak Dana.. (kejadian ketika dia pergi dari kosan dan aku mencarinya dikosannya serta di rumahnya..)

“enggak kak..” jawabku singkat..

“maaf ya mas.. maaf banget.. padahal aku sendiri yang ngucapin.. kalau kita nikmati aja dan terserah seperti apa nantinya.. tapi nyatanya, aku yang gak bisa mengendalikan diri..” ucap Kak Dana lalu menunduk..

“sudahlah Kak.. gak usah dibahas.. aku yang harusnya meminta maaf.. karena aku yang memainkan perasaan wanita – wanita yang ada disekitarku..” ucapku dengan dinginnya..

“jangan gitu lah mas.. aku jadi merasa makin bersalah..” ucap Kak Dana Sambil mengangkat wajahnya dan terlihat matanya berkaca – kaca..

“Kak.. jangan teteskan air matamu.. atau air mata itu makin mengiris hatiku yang masih berduka ini..” ucapku sambil menatap wajah Kak Dana..

“maaf..” ucap Kak Dana lalu berdiri dan meninggalkan aku dengan air mata yang mulai menetes..

“kak..” panggilku dan Kak Dana tidak menghiraukan panggilanku..

Arrgghhhhhh.. kok jadi begini sih..? aku itu mau menenangkan diriku sejenak.. kok malah dapatnya tetesan air mata.. bangsattt..

Dan aku hanya bisa melihat kepergian Kak Dana.. aku gak mau mengejarnya, karena aku takutnya Kak Dana makin menangis dan akan mengacaukan semuanya.. aku masih berduka dan Kak Dana bersedih.. apa ga hancur kalau kami berdua melanjutkan obrolan kami..? hiuuffttt.. huuu.. biarlah kami berdua sama – sama tenang dulu.. nanti pasti ada kesempatan untuk ngobrol lagi kok.. huuuuuu…

“masbro.. kok aku seperti mengenali bau dara itu..?” tiba – tiba stepen bersuara..

“kamu lupa sama dia..?” tanyaku..

“Rono rene, ga ngerti karepe.. eling rasane, lali rupane.. hehehehe..” ucap stepen dengan pantunnya yang menggatelkan.. (arti pantun = kesana kemari gak ngerti maunya.. ingat rasanya, lupa wajahnya.. hehehehe..)

“taik kamu itu..” ucapku..

“hehehehehe.. senyum dikitlah masbro.. masa tegang terus sih..?”

“gak lucu..” ucapku singkat..

“assuuu..” maki stepen

Akupun langsung berdiri dan berjalan kearah luar kantin.. lebih baik aku mencari udara yang segar aja diluar kampus.. dari pada disini aku bertemu wanita – wanita yang lain.. bisa gila nanti aku.. bajingannn..

Aku lalu menuju parkiran mexi.. dan setelah sampai parkiran, aku lalu naik dan menarik gas mexi keluar kampus.. kelihatannya enak kalau nongkrong dikafe siang – siang begini.. akupun langsung menuju kafe yang berada dipinggiran kota ini..

Dan ketika sampai dikafe yang kutuju, aku langsung mencari kursi yang pemandangannya enak untuk aku lihat.. dan pandanganku langsung tertuju pada kursi yang ada dipojokan kafe ini.. dan disana.. duduk seorang wanita yang usianya jauh diatasku.. wanita itu agak menunduk dan sedang memainkan Hp yang ada ditangannya..

Dan ketika aku menatap kearahnya, tiba – tiba wanita itu mengangkat wajahnya dan membalas tatapanku.. kami berdua diam terpaku dengan tatapan yang sama – sama saling menyelidiki..

Cuukkkk.. cantik banget sih wanita ini.. biarpun usianya jauh diatasku, tapi kecantikannya luar biasa banget cuukkk.. selain itu juga, wajahnya manis dan wanita itu anggun sekali.. dia seperti bidadari tak bersayap.. gilaaa.. gilaa..

Tapi kok sepertinya aku pernah lihat wanita ini..? siapa ya..? dimana aku pernah lihat wanita ini..? dan wajahnya juga mirip sekali dengan seseorang yang aku kenal.. uhhhh..

Dan entah kenapa, kedua kakiku langsung melangkah kearahnya.. sesuatu didalam hatiku, seperti menuntunku untuk mendekati wanita setengah baya yang cantik itu..

“hai mba..” ucapku menyapanya dengan jantung yang berdetak dengan cepat…

Hiuffftttt.. huuuu.. kok lancang banget aku menyapanya.. sejak kapan aku memiliki keberanian mendekati wanita seperti ini..? guendeng ancene og..

“Angger..” ucapnya dengan suara yang bergetar..

Cuukkk.. kok dia kenal sama aku..? siapa wanita ini ya..?

“mba.. kenal sama aku..?” tanya dengan terkejutnya..

“eh.. maaf..” ucapnya lalu tertunduk malu.. wajahnya terlihat kemerahan dan itu makin membuat dia terlihat cantik aja..

“mba..” panggilku..

“ya..” ucapnya sambil mengangkat wajahnya dan menatapku lagi..

Gila… tatapan matanya kok gini amat ya..? jadi pengen ngecup bibirnya aku.. bajingaannnn..

“Gerhana Matahari Sandi.. biasa dipanggil Angger..” ucapku sambil menjulurkan tangan kananku kearahnya..

Cuukkk.. kok nekat banget aku ngajak kenalan ya..? kalau dia gak mau gimana..? emang dia mau bersentuhan dengan laki – laki yang bukan keluarganya..? arrgghhh.. kurang ajar banget sih aku ini..

“oh iya.. Ayu.. Kirana Ayu Pramesti..” ucap wanita itu lalu menyambut uluran tanganku dan menggenggamnya..

Assuuuuu.. lembut banget sih tangannya.. selain mulus dan putih, tangannya itu lembutttt banget.. gilaaaa.. tanganku yang disentuhnya aja bisa membuat seluruh tubuhku merinding.. apalagi kalau ‘anuku’ yang disentuh.. arrgghhhhhh.. gilaaaaaa..

 

Kirana Ayu Pramesti

Kami berjabat tangan dan saling berpandangan cukup lama sekali.. uhhhh.. gilaaa.. gak kuat aku.. gak kuaaatttt.. jabatan tangannya ini, terasa juga sampai dihatiku dan seperti menjabat serta membelai didalam sana.. gilaaaaa..

“masih lama ya..?” ucap mba Ayu yang mengejutkan aku..

“apanya mba..?” tanyaku..

“pegangan tangannya ngger..” ucap Mba Ayu dan dengan refleknya, aku langsung melepaskan pegangan tanganku..

“maaf mba.. maaf..” ucapku dengan malu – malu..

Mba Ayupun hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum dengan manisnya..

“kamu gak capek berdiri terus..?” tanya Mba Ayu dengan suara merdunya..

“capek sih mba.. boleh duduk disini gak..?” ucapku dan kubuat sesantai mungkin..

Cuukkkk.. gilaaaa.. berani juga aku bicara seperti ini ya..? gak takut apa kalau nanti diusir..? asuuuu..

“duduklah..” ucap mba Ayu dan aku sangat senang sekali mendengarnya.. aku lalu duduk dihadapan mba Ayu sambil terus menatap wajah cantiknya..

“bisa gak kalau ngelihatinnya gak begitu..” ucap Mba Ayu kepadaku dan aku hanya tersenyum kepadanya..

“enggak bisa..” ucapku dengan cueknya sambil terus menatap wajahnya.. mba Ayu pun langsung mengerutkan kedua alisnya dan itu makin membuat wajahnya nggemesin banget.. guendeng ancen og..

“gimana aku mau ngalihkan pandangan dari tatapan mata mba.. kalau tatapan itu mengajarkan aku indahnya berumah tangga..” ucapku dengan entengnya..

Jiancuukkkk.. kok jadi begini ya aku..? sehat apa gila aku ini..? kelihatannya ada yang gak beres sama otakku ini..

“kamu baru kuliah aja, sudah bicara masalah rumah tangga ngger..” ucap Mba Ayu lalu menunduk sambil meraih sedotan digelasnya, lalu menyedot minumannya sambil menatapku.. bajingaaaann..

“emang salah ya kalau aku bicara masalah rumah tangga mba..? salah gitu kalau aku belajar dan menyiapkannya dari sekarang..?” tanyaku..

“engga salah.. cuma aneh aja.. kita baru kenal dan baru mengobrol, kamu bahas masalah rumah tangga..” ucap Mba Ayu dengan santainya..

Cuukkk.. iya ya.. kok bodoh banget sih aku ini.. emang gak bakat aku kalau mendekati wanita itu.. bajingaannn..

“ya salah mba juga sih..” ucapku dengan cueknya..

“kok aku yang salah..?” tanya mba Ayu dengan herannya..

“siapa suruh punya wajah cantik dan keibuan seperti itu..” ucapku sambil terus menatap wajahnya..

“gila ya.. kamu itu sama seperti dia.. kalau bertemu wanita, langsung keluar gombalan bajingannya..” ucap mba Ayu sambil menggelengkan kepalanya..

“dia..? dia siapa..?” tanyaku dengan herannya.. dan mba Ayu hanya melebarkan senyumannya tanpa membuka bibirnya.. asuuuu.. gak lama kucium bibirnya itu.. nggemesin banget cuukkk.. tapi dibalik senyumnya yang nggemesin itu, tersimpan kesedihan dibalik tatapan bola matanya yang indah.. gilaaa..

“brengsek banget ya aku mba..?” tanyaku dan mba Ayu kembali mengerutkan kedua alis matanya..

“ternyata wajahku ini pasaran banget.. sampai orang yang pernah menyakiti hati mba, terlihat diwajahku..” ucapku dan tatapan ramah mba Ayu, langsung berubah sedikit tajam kearahku.. dia terlihat agak marah dengan ucapanku barusan..

“cintah itu indah ngger.. begitu juga takdir.. takdir itu selalu baik, walaupun ada air mata ketika kita menerima ke tidakadilan hati..” ucap mba Ayu dengan suara yang bergetar..

Cuukkkk.. kok jadi serius begini pembahasannya..? kenapa jadi bahas masalah hati sih..? duhhh.. salah ngomong kelihatannya aku.. gilaaa..

“ketidakadilan hati itu terasa, ketika kita tidak ikhlas dengan kepergian cinta yang terlanjur melekat.. padahal Sang Pencipta sudah mempersiapkan takdir lain dengan cintaNya yang luar biasa..” ucapku..

“aku sadar itu.. karena aku sudah menjalaninya.. walaupun sakit diawal, sekarang aku sudah menikmati indahnya takdir yang kujalani..” ucap mba Ayu dan tatapannya berubah menjadi sayu..

“kalau sudah menikmati indahnya takdir, kenapa mba Ayu menatapku seperti itu..?” tanyaku dan pandanganku tidak pernah lepas dari mata mba Ayu..

“siapa suruh kamu punya wajah ganteng dan siapa yang suruh kamu merayu ibu – ibu seperti aku..?” ucap mba Ayu dan dia langsung tersenyum lagi..

Assuuuu.. dibalikkin lagi kata – kataku.. bajingaannn..

“itu bukan rayuan mba.. itu bentuk kekagumanku kepada mahluk ciptaannya yang indah, dan duduk dihadapanku sekarang ini..” ucapku..

“hehe.. gombal…” ucap mba Ayu lalu tersenyum dan sekarang, senyumannya sangat lepas sekali..

Uhhhh.. beneran gak kuat aku lihat senyum manis wanita setengah baya ini.. gilaa.. gilaa..

“oh iya.. kalau ada anakku, apa kamu kamu berani merayuku seperti ini..?” tanya mba Ayu sambil melebarkan kedua bola mata indahnya itu..

“tergantung..” ucapku..

“tergantung apa..?” tanya mba Ayu dengan herannya..

“anaknya ngijinin gak kalau kalau ibunya aku rayu..” ucapku sekenanya..

“kalau gitu, kamu ngomong aja sama anakku..” ucap mba Ayu dengan cueknya.. dan aku hanya tersenyum saja..

“namanya Kaila.. Kaila Zahra..” ucap mba Ayu dan senyumku langsung hilang.. senyumku berganti dengan keterkejutan yang sangat menggetarkan hati, sampai terasa dikedua bijiku..

Bajingaannn.. mba Ayu ibunya Kaila..? Kaila Zahra..? wanita berwajah imut dan pernah aku lumat bibirnya itu..? gilaaaaa.. makanya wajah mba Ayu gak asing lagi.. wajahnya memang mirip sekali dengan Kaila.. dan aku pernah melihatnya berjalan dengan Kaila, didepan kampus negeri setahun yang lalu.. asssuuu.. assuuu..

Duhhh.. semoga aja mba Ayu gak menceritakan tingkahku yang kurang ajar ini sama Kaila.. semogaaaaa.. terus sekarang aku harus bagaimana..? aku harus tetap manggil mba Ayu ini dengan sebutan Mba atau Ibu ya..? guendengan ancene og..

“kenapa kamu bingung gitu ngger..?” tanya mba Ayu dengan tatapan yang sedikit mengejek kepadaku.. assuu’ig..

“aku memang bingung mba.. setelah ini aku memanggil mba itu dengan sebutan apa..? tetap mba, ibu atau ummi..? wajah cantik mba ini, lebih cocok jadi kakaknya Kaila loh..” ucapku untuk mengalihkan kebingungan hatiku..

“gila banget ya.. dalam keadaan terpojok aja, kamu masih bisa merayu aku..” ucap mba Ayu sambil kembali menggelengkan kepalanya pelan..

“hehehe..” dan aku hanya tertawa sambil menggaruk kepalaku..

“eh.. ngomong – ngomong aku tinggal dulu ya ngger.. aku dah janji mau jemput Kaila dikampusnya..” ucap mba Ayu sambil melihat kearah jam tangannya..

“oh iya mba.. apa aku antar..?” tanyaku basa – basi..

“antar..? gak salah nih..? kamu berani ketemu Kaila bareng sama aku..?” tanya mba Ayu sambil melebarkan mata indahnya itu lagi..

“berani..” ucapku dengan cueknya..

“aku tau itu.. karena apa yang kamu ucapkan, pasti kamu lakukan..” ucap mba Ayu sambil berdiri dari duduknya..

“tapi gak usah deh.. aku bawa mobil sendiri aja..” ucap mba Ayu..

“yahhhh.. terus..?” tanyaku..

“terus apa..?” tanya mba Ayu..

“kapan kita ketemu lagi..?” tanyaku dengan kurang ajarnya..

“gak tau..” ucap mba Ayu dengan cueknya lalu tersenyum.. setelah itu mba Ayu melangkah pergi meninggalkan aku..

Bajingaannnnn.. menggoda banget sih kamu itu mba.. gilaaaa.. gilaaa..

Dan aku hanya tersenyum melihat mba Ayu meninggalkan aku dengan senyum manisnya itu.. bajingaaaann..

“Maem jangan ga gawe wadah, maem bakmi kurang uyah.. ora nduwe pasangan ora masalah, masih ada umi yang solehah.. hahahaha..” ucap stepen dengan pantunnya yang gila itu, lalu dia tertawa dengan senangnya.. ( arti pantun = makan sayur gak pakai tempat, makan bakmi kurang garam.. ga punya pasangan gak masalah, masih ada ummi yang sholehah.. hahahaha..)

“bajingan kamu stepen.. kamu mau aku digorok sama Kaila..?” tanyaku..

“Awan – awan dijak nari.. ga usah pecicilan, lek gak wani nyede’i.. hahahaha..” ucap stepen yang kembali berpantun.. (arti pantun = siang – siang diajak nari.. ga usah betingkah, kalau gak berani dekatin.. hahahaha..)

“kurang ajar kamu itu.. tapi ngomong – ngomong, kamu itu sudah mulai dibully sama para pembaca disini loh.. sama seperti ayahmu dulu..” ucapku..

“santai aja masbro.. Daddy sudah cerita semua sama aku.. jadi aku santai aja kalau hadapin mereka..” ucap stepen dengan santainya..

“jadi beneran kamu gak takut di bully nih..?” tanyaku..

“anjing menggonggong, kafilah merokok.. titit imut melonglong, titit besar cuek kok..” ucap stepen dengan santainya..

“hehe.. bangsaatt kamu stepen.. mancing kamu ya.. mau kamu dibully seperti ayahmu..?” tanyaku..

“hahahahahaha..” dan Stepen pun hanya tertawa dengan senangnya..

#cuukkk.. entah seperti apa perasaanku hari ini.. aku seperti menemukan sesuatu yang baru didalam diriku.. entah apa itu.. tapi yang jelas, aku hanya menikmatinya saja.. menikmati secukupnya.. jiancuukkk..

Bersambung

Hallo Bosku, Disini Admin KisahMalah
Agar Admin Semakin Semangat Update Cerita Cerita Seru Seterusnya, Bantu Klik Iklan yang Ngambang ya.
Atau Gambar Dibawah INI

Atau Bagi Kamu yang suka bermain game Poker Online atau Gambling Online lainnya, bisa di coba daftarkan ya. Banyak Bonus dan Hadiahnya Loh.
Untuk yang Kesulitan Daftar bisa Hub Admin di WA untuk di bantu Daftar.
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part