web hit counter

Mengalahkan Gadis Bagian 2 Part 11

0
440

Mengalahkan Gadis Bagian 2 Part 11

The (Great) Escape?


Elsa

Suasana di lembaga pemasyarakatan kota ini nampak sedikit berbeda dari biasanya. Beberapa petugas dari kepolisian terlihat berseragam lengkap sampai memakai penutup kepala. Mereka juga membawa persenjataan dan kini sedang lengkap berjaga di beberapa titik di penjara ini. Sebuah kendaraan berupa bus berukuran sedang berwarna kecokelatan juga sudah berada disitu. Bus itu bukan bus biasa, seluruh permukaannya terbuat dari bahan anti peluru. Selain kaca di bagian depan, tak ada lagi yang terpasang di sisi lainnya sehingga tak memungkinkan bagi orang di luar untuk melihat apa saja yang ada di dalam bus itu.

Hari ini memang ada aktivitas lain di tempat ini, yaitu pemindahan beberapa narapidana kelas kakap yang akan ditempatkan di penjara yang sudah sedemikian terkenal di negeri ini. Penjara yang terletak di sebuah pulau di sebelah selatan pulau Jawa, yang memiliki tingkat keamanan tertinggi, serta akses keluar masuk yang sangat terbatas. Penjara yang hanya ditempati oleh para penjahat kelas kakap dan juga mereka yang sedang menunggu pelaksanaan eksekusi hukuman mati.

Ada empat orang yang hari ini akan dipindahkan, yaitu Yandi, Tanto, Maman dan Aris. Keempatnya adalah para penjahat yang dikenal kejam dan tanpa ampun dalam menjalankan aksinya. Mereka berempat merupakan tangan kanan dari kelompok ‘Mata Angin’ yang dulu pernah begitu tersohor di kota ini. Namun sejak peristiwa malam tahun baru berdarah beberapa tahun silam, keempatnya yang kebetulan tidak berada di tempat itu akhirnya ditangkap dan dijebloskan ke penjara atas perintah dari Wijaya yang saat itu masih aktif.

Wijaya mengeluarkan perintah penangkapan mereka karena untuk mengantisipasi jika suatu saat keempat orang ini membuat onar dan menghidupkan kembali mata angin yang akan meneror ketenteraman dan kedamaian warga kota ini. Langkah ini tentu saja mendapat sambutan positif dari pihak yang berwajib dan juga masyarakat, namun tidak dengan keempat orang ini serta anak buah mereka.

Sudah tiga tahun lebih mereka menjalani masa penahanan. Di penjara ini, mereka menempati sel khusus dengan penjagaan ekstra ketat selama 24 jam. Jam kunjungan mereka pun sangat dibatasi, itu pun diawasi baik secara langsung maupun dengan menggunakan kamera pengawas. Para pengunjung pun selalu mendapatkan pemeriksaan ketat baik orang maupun barang bawaannya.

Dan kini, atas perintah dari AKBP Arjuna yang mendapat instruksi dari pusat, keempat tahanan ini akan dipindahkan. Tentu saja untuk pemindahan kali ini dilakukan juga dengan pengamanan ekstra ketat, karena untuk mengantisipasi jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan selama perjalanan, seperti misalnya adanya penghadangan dari anak buah mereka berempat.

Setelah memastikan semua dokumen lengkap, proses pemindahan keempat narapidana inipun dimulai. Satu-persatu keluar dari selnya masing-masing dengan dikawal oleh 5 petugas bersenjata lengkap serta bertopeng. Dua orang berada di kanan kiri tahanan menggandengnya, 1 di depan dan 2 dibelakang. Para tahanan inipun kepalanya ditutupi oleh kain hitam, kedua tangannya diborgol, begitu pula kedua kakinya diikat rantai.

Proses pemindahan ini sebenarnya berjalan tertutup, namun ada saja cara para wartawan untuk mendapatkan gambar dan rekamannya. Arjuna tak terlalu mempermasalahkan hal itu asal mereka tidak sampai mengganggu proses pemindahan ini. Setelah keempat tahanan itu masuk ke dalam bus, tak lama kemudian iring-iringan itu keluar dari gerbang lembaga pemasyarakatan.

Bus itu dikawal oleh 2 truk yang membawa puluhan polisi bersenjata lengkap, serta ada beberapa mobil lagi yang berada di depan maupun di belakangnya. Sontak pemandangan ini menarik perhatian warga sekitar karena belum pernah terjadi hal seperti ini sebelumnya. Selain iring-iringan yang membawa keempat tahanan itu, beberapa mobil dengan logo media cetak maupun televisi mengikutinya.

Kini Arjuna dan beberapa anak buahnya menyusul meninggalkan lembaga pemasyarakatan itu untuk kembali menuju markasnya. Tinggal menunggu saja kabar dari tempat tujuan mereka jika iring-iringan itu sudah sampai. Mungkin perlu waktu seharian untuk menuju kesana. Meski begitu dia sudah memerintahkan anak buahnya untuk terus memantau perkembangan situasi perjalanan, agar jika terjadi sesuatu bisa segera dikirim bantuan untuk menindak lanjutinya, karena dia sudah berkoordinasi dengan beberapa kepolisian kota yang akan dilewati iring-iringan itu, dan merekapun sudah menyiapkan personelnya untuk mengawal proses pemindahan ini.

Sesampainya di markas, Arjuna menuju ke ruangannya dengan gestur yang terlihat enggan karena harus segera membuat laporan untuk diserahkan kepada pimpinannya. Tak dilihatnya Fitri di meja kerjanya, karena hari ini wanita itu memang sedang bertugas di lapangan. Namun ternyata ada Elsa disana. Mata mereka pun sempat saling bertatapan. Terlihat oleh Elsa wajah atasannya itu begitu suntuk.

“Sa, ke ruangan saya bentar.”

“Siap komandan.”

Tak lama menunggu Elsa pun masuk ke ruangan Arjuna. Dengan memberikan kode Arjuna menyuruh Elsa untuk mengunci pintunya. Elsa nampak menghela nafas, seperti sudah tahu apa yang diinginkan oleh komandannya itu. Setelah mengunci pintu Elsa pun berjalan mendekati Arjuna yang duduk di sofa tempat biasa dia menerima tamu. Dengan kode tangan dari Arjuna, Elsa langsung duduk di samping komandannya.

“Sa, bantuin saya bikin laporan ya.”

“Laporan apa komandan?”

“Itu lho, soal pemindahan narapidana ke Nusakambangan. Ada filenya di meja saya itu, tinggal kamu ketikan saja laporannya.”

“Siap komandan, saya buatkan sekarang.”

“Eh nanti dulu Sa,” Arjuna menahan tangan Elsa ketika wanita itu hendak beranjak, memintanya untuk tetap duduk di sampingnya.

“Hmm, ada apa komandan?” tanya Elsa meskipun dirinya tahu apa yang akan diminta atasannya itu.

“Kamu masih merah?” tanya Arjuna dan dijawab dengan anggukan oleh Elsa.

“Kalo gitu pake mulut aja yaa, biar agak legaan. Suntuk banget ini rasanya.”

Elsa sudah sangat paham apa yang harus dilakukannya, karena sudah sering, baik dirinya maupun Fitri dipanggil ke ruangan sang komandan untuk melakukan ini. Elsa pun segera berpindah posisi, dan kini duduk bersimpuh di hadapan Arjuna. Perlahan dia membuka resleting celana Arjuna, lalu mengeluarkan batang kemaluannya yang masih lemas itu, batang yang sudah entah berapa kali mengisi dan menyemburkan cairan hangatnya ke dalam kemaluan Elsa.

Dengan gerakan yang lembut Elsa mulai mengurut dan mengocok naik turun batang itu hingga perlahan-lahan mengeras. Arjuna yang bersandar di sofa menengadahkan kepalanya menikmati betapa lembutnya tangan Elsa di kemaluannya. Setelah cukup keras batang itu, Elsa pun mendekatkan wajahnya dan membuka bibirnya. Dia mengecup kepala penis itu, kemudian memainkan lidahnya di sekujur permukaan batang itu.

Tak cukup dengan hanya dikocok dan dijilat, kini batang kemaluan itu telah masuk sebagian di dalam mulut mungil Elsa. Sang wanita yang masih memakai seragam dinas lengkap itu mulai menaik turunkan kepalanya. Kadang berhenti dan memainkan lidahnya di kepala penis Arjuna, lalu kembali menaik turunkan kepalanya lagi. Arjuna memejamkan matanya menikmati servis yang diberikan oleh anak buahnya itu, yang dirasanya semakin hari semakin jago memanjakan batang kebanggaannya.

“Aaaahhh makin pinter kamu nyepong kontol Sa.”

“Aaahhh terussss Saaaaaa”

Hanya desahan dari Arjuna yang terdengar di ruangan itu. Sementara Elsa tak bersuara karena mulutnya sudah dipenuhi oleh penis Arjuna. Setelah beberapa menit melakukan itu Elsa merasa sang atasan akan segera mencapai puncaknya sehingga mempercepat kulumannya, hingga tiba-tiba dia merasa kepalanya ditahan untuk menelan sedemikian dalam penis panjang itu, lalu cairan-cairan hangat menyembur dan memenuhi rongga mulutnya.

Karena tak bisa menarik kepalanya terpaksa Elsa menelan habis cairan itu. Hampir saja dia tersedak kalau saja Arjuna tak segera menarik tangan yang menahan kepalanya itu. Elsa segera membersihkan cairan sperma Arjuna yang sempat keluar dari bibirnya, sambil dia mengatur kembali nafasnya.

“Kamu makin jago muasin aku Sa, kamu bener-bener cepat belajar, haha,” Elsa hanya menjawab dengan senyum saja celotehan komandannya itu.

“Yaudah, itu filenya kamu ambil. Kalo laporannya udah jadi nanti kasih ke saya dulu ya, saya periksa dulu sebelum dikasih ke pimpinan. Sekarang kamu boleh kembali ke meja kamu.”

“Iya, siap komandan.”

Elsa pun kemudian keluar dari ruangan Arjuna. Ruangan yang menjadi saksi bisa dimana Arjuna berkali-kali mengerjai dirinya dan juga Fitri. Setelah Elsa pergi, Arjuna mengambil ponselnya, kemudian menghubungi seseorang.

“Halo, sudah sampai dimana kalian?”
“…….”

“Oh yaudah, nanti kabari lagi aja.”

*****

10.00 am
Rumah Ara

Ara sedang merenung di kamarnya. Sudah beberapa hari ini dia tidak masuk kerja. Setelah kejadian di ruangan Pak Hamid beberapa hari yang lalu, membuatnya malas untuk ke kantor dan bertemu dengan atasannya itu. Dia beralasan kepada teman-temannya bahwa dia sedang tidak enak badan. Beruntung sampai saat ini belum ada yang menjenguknya kemari, karena dia pasti akan kebingungan jika ada menanyakan perihal yang sebenarnya.

Sebenarnya kemarin Indah sempat mengatakan akan menjenguknya, namun Ara melarang. Setelah sempat memaksa, akhirnya Indah bersedia untuk menuruti Ara setelah Ara mengatakan sesuatu padanya. Ara bersyukur Indah mau mengerti dan tak lagi memaksa untuk datang. Dan di kantor, Indah berbohong kepada teman-temannya dengan mengatakan bahwa dia sudah menjenguk Ara, dan mengatakan bahwa Ara baik-baik saja.

Ara kembali teringat peristiwa di ruangan Pak Hamid beberapa hari lalu. Dia begitu marah kepada atasanna itu. Tak menyangka atasan yang selama ini dipandang sebagai seorang yang bijak dan mengayomi anak buahnya ternyata bisa seperti itu. Sampai saat ini Ara hanya menceritakan hal itu kepada suaminya dan Eko, karena dia tahu mereka berdualah yang bisa membantunya menghadapi ini semua. Ara benar-benar merasa jijik jika mengingat kembali peristiwa itu, tapi dirinya juga tak habis pikir, bagaimana itu semua bisa terjadi?

*****

Same Time
Somewhere in Kaliurang

Sebuah mobil SUV warna hitam nampak memasuki sebuah villa di kawasan Kaliurang. Villa ini letaknya cukup menyendiri, berjauhan dengan villa yang lainnya. Dari mobil itu turun 5 orang, dimana 4 diantaranya berseragam polisi dan bertopeng serta membawa senjata lengkap. Mereka kemudian berjalan memasuki villa tersebut. Di dalam villa, sudah menunggu 4 orang pria, 2 diantaranya berperawakan tinggi besar dan berwajah bule.

Kehadiran keempat pria berseragam polisi ini cukup mengejutkan untuk salah satu orang yang sudah menunggu di dalam villa itu, namun tidak bagi yang lainnya. Pria yang terkejut itu memandang pria yang duduk di sebelahnya dengan tatapan penuh tanya.

“Boss, mereka siapa?”

“Lha mereka kan yang kamu tunggu Ton, gimana sih?”

“Tapi kok?” Tono yang masih kebingungan membuat semua orang yang berada disitu tertawa.

“Buka topeng kalian itu,” perintah Bastian pada keempat ‘polisi’ itu.

Keempat pria itupun membuka topeng mereka. Begitu terbuka Tono kembali terkejut, namun tak lama kemudian dia tertawa terbahak-bahak. Meskipun sudah sangat lama tidak bertemu, tapi dia masih ingat benar siapa keempat pria itu. Mereka tak lain adalah Yandi, Tanto, Maman dan Aris. Empat orang tahanan yang seharusnya sekarang dalam perjalanan menuju ke rumah tahanannya yang baru.

“Kok bisa gini boss? Wahahaha, bener-bener nggak nyangka saya,” Tono pun bangkit untuk menyalami keempat rekannya itu.

“Aku kan sudah bilang, mereka berempat akan dibebaskan tanpa menimbulkan kegaduhan.”

“Tapi, gimana bisa boss?” Tono kembali mempertanyakan situasi ini. Dia masih belum mengerti.

“Gampang saja. Surat perintah palsu, lalu empat seragam curian lengkap dengan peralatannya, dan yang terpenting, empat orang polisi yang ‘rela’ menggantikan mereka dengan iming-iming uang yang besar dan sedikit ancaman,” Bastian membentuk tanda petik dengan tangannya saat mengucapkan kata ‘rela’.

“Segampang itu?”

“Ya, segampang itu. Sekarang kamu sudah lebih tahu gimana aku kan Ton?”

“Hahaha, hebat boss, hebat. Saya bener-bener nggak nyangka kalau caranya akan seperti ini,” Tono benar-benar terkesan dengan Bastian, apalagi dengan apa yang terjadi, dia semakin menaruh rasa hormat kepada bossnya itu.

Bastian kemudian menuturkan bagaimana cara dia membebaskan keempat orang itu. Semua ini berawal dari sebuah surat perintah yang datang dari pusat untuk mengatur kepindahan keempat narapidana itu ke rumah tahanan baru yang lebih ketat pengamanannya, karena disinyalir ada pihak-pihak yang ingin membebaskan mereka, sehingga akan terlalu riskan untuk tetap berada di tempat itu.

Surat perintah itu memang benar-benar ada, dan ditanda tangani secara resmi oleh salah satu perwira tinggi di pusat. Namun yang tidak diketahui adalah, perwira tinggi tersebut dulunya adalah sekutu dari Fuadi, yang saat ini masih berada di dalam penjara. Sang perwira itu juga sangat mengenal baik Baktiawan Mahendra, sehingga ketika dimintai tolong oleh Bastian dia langsung saja mengerjakannya.

Sementara surat itu datang, pihak kepolisian di kota ini menyiapkan segala sesuatunya, termasuk personel yang akan mengawal beserta dokumen-dokumen yang diperlukan. Sebelumnya Bastian sudah menyuruh seseorang untuk mencari 4 orang yang kira-kira seusia dengan keempat narapidana itu.

Tidak sulit bagi orang suruhan Bastian untuk melakukan itu, karena jauh-jauh hari dia sudah mempersiapkannya. Dengan iming-iming perorang mendapat 10 Miliar rupiah tunai serta biaya pengobatan anggota keluarga mereka yang sedang sakit keras, dan sedikit ancaman jika tidak bersedia maka akan disiksa seluruh keluarganya, keempat itupun pasrah untuk dijadikan sebagai alat tukar.

Setelah semuanya siap, termasuk dokumen baru yang sudah dipalsukan, dan juga memilih para personel untuk pengawalan kepindahan itu, dimana tentu saja orang-orang yang dipilih adalah oknum yang selama ini memiliki hubungan baik dengan dunia hitam kota ini, proses pemindahan keempat narapidana itupun dilangsungkan.

Keempat polisi yang akan dijadikan alat tukar itu kemudian diberikan seragam yang sama dengan personel lainnya. Sesampainya di dalam sel masing-masing narapidana, mereka melakukan pertukaran seragam. Tentu saja untuk proses ini dilakukan secara tertutup dengan pengawalan yang sangat ketat, bahkan petugas dari pihak lapaspun tidak diperkenankan untuk mendekat.

Setelah bertukar, mereka yang memakai seragam tahananpun ditutup wajahnya menggunakan kain hitam untuk menghindarkan kecurigaan dari pihak lapas atau siapapun yang mengenali wajah para tahanan. Setelah itu mereka dimasukkan ke dalam bus, sedangkan para tahanan yang sebenarnya yang sudah memakai seragam polisi, mengikuti instruksi seseorang untuk naik ke mobil yang sudah dipersiapkan. Dan, disinilah mereka sekarang.

“Wah wah, boss memang hebat, nggak nyangka beneran saya. Eh tapi, nanti disananya gimana kalau mereka tahu yang datang bukan keempat orang ini?”

“Memangnya mereka tahu wajah keempat orang yang mau dikirim itu sebenarnya seperti apa?”

“Ya tapi kan, masak nggak tahu boss?”

“Halah, memang kamu pikir keempat orang ini seterkenal apa sampai semua orang pada tahu? Tenang aja, itu semua juga sudah diatur. Semua dokumen tentang mereka sudah dipalsukan. Empat orang pengganti itu juga sudah diperingatkan untuk tidak bicara macam-macam, karena kita juga punya orang disana yang mengawasi mereka. Kalau mereka berani macam-macam, pagi tadi adalah saat terakhir mereka melihat keluarganya.”

Mereka kemudian melanjutkan obrolan yang lebih banyak saling berkenalan karena Yandi, Tanto, Maman dan Aris tentunya belum mengenal Bastian, begitu juga sebaliknya. Tak terasa hampir 1 jam mereka asyik ngobrol sampai kemudian Steve membisikan sesuatu kepada Bastian sambil memperlihatkan jam tangannya. Bastian hanya mengangguk saja.

“Oh iya, karena kalian berempat baru saja keluar dari penjara, aku punya hadiah buat kalian.”

“Wah, hadiah apa nih boss?” tanya Yandi mewakili teman-temannya.

“Yan Yan, kalau denger hadiah aja kamu cepet banget nyambernya,” Tono memotong pembicaraan mereka.

“Yaa gimana lagi Kang, udah kelamaan di penjara nggak pernah dapet apa-apa, denger hadiah ya langsung semangat lah, siapa tahu hadiahnya cewek, haha.”

“Haha, kenapa emang Yan? Barang kalian nganggur ya selama tiga tahun?”

“Iya lah Kang, emang mau sama siapa? Sama tahanan yang lain? Ogah banget, najis.”

“Haha, kalau gitu pas banget Yan. Boss udah nyiapin 4 cewek cantik-cantik buat kalian. Masih muda, masih perawan semua.”

“Wah, yang bener boss? Mana ceweknya?”

“Busyet udah nggak sabaran aja kalian. Tuh ada di kamar itu,” ujar Tono sambil menujuk ke salah satu kamar tak jauh dari tempat mereka duduk. Keempatnya pun segera beranjak menuju kamar itu.

“Wuuiiih, cantik-cantik boss, beneran ini masih muda. Anak kuliahan ya boss?”

“Iya, mereka anak kuliahan, baru masuk tahun ini. Mereka itu anak-anak dari orang-orang yang sekarang nggantiin kalian di penjara sana. Itu tadi dikasih obat tidur, tapi paling bentar lagi sadar kok. Udah kalian sikat aja, daripada kelamaan.”

Tanpa menjawab lagi keempat pria yang selama lebih dari 3 tahun itu langsung menghampiri keempat gadis yang masih belum sadarkan diri itu. Mereka telah memilih pasangan sesuai dengan selera masing-masing. Sedangkan Bastian, Tono, Steve dan David sudah bersiap untuk meninggalkan tempat ini. Mereka memang berencana untuk membiarkan keempat orang itu bersenang-senang sepuasnya setelah sekian lama mendekam di dalam penjara.

Beberapa saat sebelum mereka pergi, dari kamar yang pintunya tidak tertutup rapat itu mulai terdengar tawa dari keempat pria serta juga teriakan dan tangis pilu dari keempat gadis yang sudah tersadar, yang sepertinya baru saja kehilangan keperawanan mereka. Tak ingin mengganggu, Bastian dan yang lainnya segera pergi, karena mereka punya acara sendiri setelah ini.

*****

 


Tiara


Budi

08.30 pm
Rumah Ara

Lamunan Ara terpecah saat mendengar suara mobil Budi memasuki halaman rumahnya. Ara bergegas menyambut suaminya itu. Dia berharap kali ini suaminya membawa kabar baik setelah beberapa hari ini mencoba untuk mencari tahu tentang video yang dimiliki oleh Pak Hamid.

“Assalamualaikum, Bunda.”

“Waalaikumsalam, Yah.”

Ara mencium tangan suaminya, lalu membawakan tas kerjanya, menggandeng sang suami masuk ke dalam rumah. Budi sempat melihat anaknya yang sedang tertidur, memberinya kecupan di keningnya kemudian meninggalkannya lagi. Kemudian dia bersama dengan Ara menuju ke kamar mereka.

“Yah, jadi gimana hasilnya?” tanya Ara yang sudah tidak sabar.

“Waduh Ayah nggak disuruh mandi apa makan dulu gitu? Kok langsung ditanyain gitu?” jawab Budi sambil senyum-senyum.

“Ih Ayah malah bercanda sih.”

“Iya iyaa sayangku. Sini jangan manyun gitu. Ayah ceritain deh.”

Arapun duduk di sebelah Budi yang nampak tenang. Dia sudah tak sabar lagi menantikan cerita Budi, karena jika suaminya sudah ingin bercerita seperti itu, berarti sudah ada titik terang untuk permasalahan yang dia hadapi, atau bahkan permasalahan itu sudah terselesaikan dengan baik.

“Jadi gini Bun, kemarin Ayah udah minta seseorang untuk ngambil laptopnya Pak Hamid, dan Ayah sudah lihat video itu. Sepintas memang di video itu terlihat mirip banget sama Bunda, tapi setelah Ayah teliti lagi, itu cuma hasil editan Bun.”

“Ayah minta tolong siapa? Eko?”

“Bukan. Ayah nggak mau ngelibatin Eko, karena itu Ayah minta bantuan seseorang.”

Budi mengulangi lagi kata ‘seseorang’, itu artinya dia benar-benar tidak ingin memberi tahu siapa orang itu. Ara bisa mengerti dan menantikan cerita selanjutnya.

“Jadi cewek yang di video itu sebenarnya adalah orang lain, tapi diedit dengan memakai CGI.”

“CGI? Apa itu Yah?”

Computer Generated Imagery. Bunda inget film Fast and Furious 7 kan? Dimana sosok Paul Parker yang udah meninggal muncul lagi di film itu? Intinya sama seperti itu Bun. Kalau di film itu sosok Paul Parker digantikan oleh Cody Parker, adiknya sendiri, tapi wajahnya diganti pakai wajah Paul dengan memakai CGI ini.”

“Tapi itukan kalau wajahnya aja Yah, kebetulan wajah Paul dan Cody mirip. Terus untuk, hmm, tubuhnya itu gimana? Kan jadi mirip banget sama tubuh Bunda.”

“Ya sama kayak yang di film itu. Sebelumnya kan Universal Studio sudah memetakan tubuh Paul Parker secara utuh di Fast and Furious 6, jadi setiap gerakan tubuh dari aktor penggantinya terlihat mirip banget sama Paul. Sedangkan kasusnya di video ini, untuk membuat seperti itu, pertama diperlukan orang yang memiliki postur tubuh mirip dengan Bunda, dan Ayah menduga itu adalah tubuh Nadya.”

“Lho kok bisa Nadya Yah?”

“Karena di laptop itu, selain video yang mirip Bunda itu, ada juga video-video lain, termasuk salah satunya Nadya. Dan setiap gerakan di video Nadya itu mirip sekali dengan gerakan di video mirip Bunda, hanya latar belakangnya saja yang diganti.”

“Tapi yang menjadi kelemahan di editan ini adalah, dia mengedit video yang sudah jadi, bukan video dari hasil rekaman langsung seperti yang di film itu, makanya banyak kejanggalan kalau kita meneliti dengan seksama.”

“Hmm, kira-kira siapa ya Yah yang melakukan ini semua?”

“Ayah juga belum tahu pastinya, tapi yang jelas ini bukan orang sembarangan. Penggunaan teknologi CGI ini sangat rumit dan tidak bisa dikerjakan dengan komputer pada umumnya. Lagipula dengan menggantikan wajah seperti itu, orang ini pasti memiliki banyak foto atau video Bunda, yang artinya orang ini perlu waktu yang cukup lama untuk membuntuti Bunda.”

Mendengar kalau dia dibuntuti tiba-tiba membuat Ara takut. Dia seperti teringat kejadian beberapa tahun silam dimana dirinya hampir menjadi korban. Saat itupun dia sering merasa sedang dibuntuti, dan nyatanya memang benar. Dia takut akan terjadi peristiwa seperti yang terjadi beberapa tahun silam.

“Yah, Bunda takut.”

“Udah nggak perlu takut. Kan ada Ayah. Ayah juga udah minta tolong seseorang kok untuk melindungi Bunda,” ujar Budi sambil memeluk Ara.

“Hmm? Siapa Yah?” tanya Ara, yang hanya dijawab dengan senyuman oleh Budi.

“Yang dulu itu?” tanya Ara lagi, kali ini Budi menggelengkan kepalanya, membuat Ara bingung.

Tapi kemudian Ara mengerti, kenapa Budi tidak mau memberitahukan siapa yang dia minta untuk mengambil laptop Pak Hamid, dan siapa yang dimintai tolong untuk melindunginya. Semakin sedikit yang Ara tahu, akan semakin baik untuknya, seperti halnya beberapa tahun yang lalu. Ara kembali tersenyum dan memeluk erat suaminya, mengerti betapa suaminya telah melindunginya.

“Terus video itu gimana Yah? Udah dihapus kan?”

“Udah kok, termasuk video-video lain, biar teman-teman Bunda nggak sampai dikerjai sama Pak Hamid.”

“Eh, emang siapa aja Yah?”

“Mungkin ada baiknya Bunda nggak tahu, lagian kan itu udah kejadian lama. Mungkin juga kan mereka udah ngelupain hal itu.”

“Iya sih.”

“Yaudah, Bunda sekarang udah lebih tenang kan? Besok udah bisa masuk kerja lagi.”

“Ah nggak ah Yah, Bunda males ketemu Pak Hamid.”

“Tenang aja Bun, kayaknya sih untuk sebulan kedepan Pak Hamid nggak akan masuk kerja kok,” Ara tiba-tiba tersentak mendengar penuturan Budi. Dia kembali teringat nasib Pak Dede dulu setelah berani mengusiknya, lalu bagaimana dengan Pak Hamid sekarang?

“Ayah apain dia?”

“Lho kok Ayah sih? Ayah nggak ngapa-ngapain kok. Cuma tadi denger-denger kabar kalau dia kecelakaan, tangan apa kakinya gitu tadi yang patah,” jawab Budi sambil tersenyum.

“Ih Ayah ngeri kalau udah marah gitu.”

“Ayah marah kalau ada yang berani gangguin orang-orang yang Ayah sayangi aja kok Bun, hehe.”

Keduanya kembali berpelukan. Kini perasaan Ara sudah jauh lebih lega. Beruntung dia memiliki suami seperti Budi yang selalu melindunginya. Jika saja saat itu Ara menuruti kemauan Pak Hamid, entah apa jadinya sekarang. Dia bersyukur telah membuat keputusan yang tepat dengan menceritakan semua itu pada suaminya. Padahal mungkin, banyak wanita lain yang akan terperdaya oleh tipu muslihat Pak Hamid, dan dengan terpaksa menyerahkan harga dirinya sebagai bayaran untuk tidak menjadi lebih malu lagi.

Meskipun kini dia merasa sedikit takut karena ternyata ada yang membuntutinya, namun Budi sudah memberinya perlindungan. Entah siapa pelindung yang dimaksud oleh Budi itu, tapi Ara percaya dia adalah orang yang sangat bisa diandalkan, seperti halnya beberapa tahun yang lalu. Sampai sekarang Budi tidak pernah menceritakan siapa orang itu kepada Ara, tapi Ara tak lagi ambil pusing, toh yang penting dirinya selamat dan sampai sekarang hidup berbahagia dengan Budi, dan juga Ardi anak mereka.

Sementara itu, Budi merasa lega kin karena telah berhasil menyelesaikan masalah istrinya. Sekarang dia bisa membuat istrinya merasa lebih tenang, tak perlu lagi memikirkan tentang video editan itu. Awalnya ketika pertama kali melihat video itu Budi sempat terkejut karena sangat mirip dengan istrinya, baik itu dari wajah, lekuk tubuh hingga suara. Dia sempat emosi, namun tak tahu harus emosi ke siapa karena dia tahu istrinya tak mungkin melakukan itu.

Akhirnya setelah mencoba menenangkan diri, Budi memindahkan semua video yang ada di folder itu ke laptopnya. Bukan laptop yang sehari-hari dipakainya bekerja, tapi laptop khusus yang dia miliki dengan berbagai aplikasi yang mungkin hanya dimiliki oleh segelintir orang saja di seluruh dunia. Laptop ini jarang dipakai, dia simpan di salah satu tempat di rumahnya, yang bahkan Ara sendiri tak mengetahuinya.

Setelah memindahkan semua video ke laptopnya, dan tak lupa menghapusnya dari laptop Pak Hamid, Budi memaikan video yang mirip dengan Ara itu disebuah aplikasi pemutar video khusus yang memiliki vitur CGI analyser. Dengan menggunakan aplikasi ini barulah terlihat bahwa video ini ternyata hanyalah editan semata, dimana video asli yang digunakan adalah milik Nadya.

Memang sangat mudah bagi Budi untuk menganalisa dan menghapus video itu, namun yang kini menjadi pikirannya adalah, siapa yang sudah bersusah payah membuat video seperti itu. Tentu saja ini bukan perbuatan orang iseng, karena proses untuk mengedit seperti ini membutuhkan orang yang benar-benar ahli, dan tentu saja biaya yang tidak sedikit. Orang yang melakukannya, sudah pasti memiliki tujuan tersendiri, dan tujuan itu pastilah tidak baik.

Kini Budi kembali meminta temannya itu untuk menelusuri asal mula video ini bisa sampai ke tangan Pak Hamid. Pak Hamid sendiri sudah dibereskan oleh teman Budi itu, dengan membuatnya seperti sebuah kecelakaan, kedua tangan dan kaki Pak Hamid sekarang harus mendapatkan operasi untuk kembali menyambung tulangnya.

Budi memang meminta temannya itu untuk tidak sampai membuat Pak Hamid kehilangan nyawa seperti halnya Pak Dede dulu. Karena dia tahu, dulu Pak Dede hanya sendirian, dan aksinya tak lebih hanya berlandaskan nafsu. Sedangkan untuk Pak Hamid, Budi yakin ada sesuatu yang lebih besar di balik ini semua. Kecurigaannya sebenarnya sudah mengarah kepada beberapa orang, namun dia masih harus mencari bukti untuk meyakinkan semua itu. Sampai saatnya nanti tiba, dia harus mulai semakin waspada untuk melindungi keluarganya, karena dia tahu sesuatu yang besar, sangat besar dan jahat, akan segera datang.

*****
Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂