web hit counter

Mengalahkan Gadis Bagian 2 Part 13

0
275

Mengalahkan Gadis Bagian 2 Part 13
Halo, Masa Lalu

“Mas, kamu pengennya anak cowok apa cewek?” tanya wanita itu sambil mengelus-elus perutnya yang sudah mulai nampak berubah.

“Kalau pengennya sih, cowok Dek, tapi ya sedikasihnya sama yang diatas aja deh,” jawabku tersenyum melihat apa yang dia lakukan.

“Hmm, kalau cowok, pasti nanti ganteng dan gagah, kayak bapaknya,” dia memandangiku sambil tersenyum.

“Hehe, kalau cewek, pasti juga manis dan cantik banget, kayak ibunya,” balasku kemudian merangkulnya.

“Duh aku kok udah nggak sabar yaa Mas nunggu 8 bulan lagi, pengen cepet-cepet lihat dia.”

“Iya dek, aku juga udah nggak sabar. Pengen cepet-cepet nggendong anak.”“Mas, Mas Marto dimana?”

“Eh Dudung, yaa saya masih di kantor. Ada apa Dung kok kayaknya panik gitu?”

“Mas cepet ke rumah sakit, tadi saya denger motornya Mbak Astri sama Mbak Yeni diserempet orang waktu pulang dari pasar.”

“Hah yang bener kamu Dung?”

“Iya Mas, makanya cepet kesana. Ini saya juga mau ngabarin suaminya Mbak Yeni.”

“Ya udah aku kesana sekarang, makasih Dung.”“Mbak, Mbak Yeni,” panggilku membuatnya menoleh mencari sumber suara. Begitu melihatku dia tiba-tiba langsung saja menangis.

“Mas Marto, hiks hiks hiks,” aku mendekatinya. Perasaanku menjadi semakin tidak enak.

“Mbak Yeni, apa yang terjadi? Dimana istriku?” tanyaku.

“Mas, hiks, istrimu diculik orang Mas,” jawabnya sambil menangis.

“Apa? Diculik? Sama siapa? Tolong cerita yang jelas Mbak,” aku semakin panik.Astri, kamu dimana sayang?

Sudah seminggu ini tidak hasil dari pencarian yang dilakukan oleh teman-temanku. Aku bahkan sudah meminta tolong kepada Rio untuk membantuku mencari Astri, tapi sampai sekarang, tak ada satupun petunjuk. Sampai tiba-tiba aku mendengar salah seorang temanku melapor kepada pimpinanku.

“Lapor Ndan, barusan saya dapat laporan dari masyarakat, ada seorang pemulung menemukan sesosok jasad wanita muda di dekat tempat pembuangan sampah. Kondisinya penuh luka dan tanpa busana.”

Entah kenapa firasatku menjadi sangat tidak enak. Setelah pimpinan memberi perintah kepada temanku untuk melihat ke lokasi, akupun mengikutinya. Tak lupa aku menghubungi Rio, karena firasatku mengatakan ini akan menjadi salah satu petunjuk menghilangnya istriku.

Sesampainya di lokasi aku langsung berlari ke arah kerumunan warga. Mereka langsung menyingkir memberikan jalan saat mengetahui petugas telah datang. Kulihat sesosok jasad yang sudah ditutupi dengan beberapa lembar koran bekas. Aku mendekatinya perlahan, dengan tangan gemetaran aku membuka koran penutup jasad itu.

Mataku terbelalak tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Nafasku tercekat, jantungku seolah berhenti berdetak. Jasad ini, wanita ini. Oh tidak. Aku tidak ingin mempercayai pandanganku saat ini. Tapi aku mengenali wajahnya, aku mengenali tubuhnya, dan aku mengenali sebuah tanda kecil di bawah pusar itu. Jasad wanita itu, istriku.

“Astriiiiiiii,, tidaaaaaaaakkk.”“Huaaahhh hahhh hahhh.”

Marto terbangun dari tidurnya dengan nafas memburu. Badannya basah oleh keringat. Seketika itu pula teriakan dan gerakan Marto membangunkan Fitri yang terlelap di sampingnya. Fitri yang terkejut melihat suaminya sudah terduduk, melihat wajahnya yang begitu pucat dan berkeringat.

“Papa kenapa? Mimpi buruk ya?”

“Hhh hhh, iya Ma. Papa mimpiin, Astri.”

Fitri yang sudah mengetahui apa yang terjadi kepada Astri dari cerita Marto segera memeluk suaminya itu. Dia dengan telaten mengusap keringat yang mengalir di kening Marto. Dia tak tahu seberapa buruk mimpi yang menghampiri suaminya, tapi melihat reaksinya, pastilah mimpi itu sangat buruk. Untuk saat ini dia berusaha menenangkan kembali suaminya.

“Pa, Mama nggak tahu Papa mimpi kayak gimana. Tapi Papa yang sabar yaa, itu cuma mimpi kok. Mendingan Papa berdoa buat Mbak Astri, biar dia tenang di alam sana,” bisik lirih Fitri di telinga Marto.

Marto hanya mengangguk saja. Dia tahu istrinya berusaha menenangkannya. Tapi untuk mendoakan agar Astri tenang di alam sana, Marto agak ragu sekarang. Bukan tak mau mendoakan, tapi sekarang dia ragu kalau Astri benar-benar sudah meninggal. Memang dia sendiri yang dulu mengantar jasad wanita itu ke rumah sakit untuk diotopsi. Dia juga yang menguburkan wanita itu dan menancapkan nisan yang tertulis nama Astri.

Marto masih teringat bagaimana hancurnya dia ketika melihat kondisi jasad wanita itu. Tubuh yang penuh lebam dan luka sayat, matanya yang terbelalak, menandakan ketakutan dan penderitaan luar biasa yang dialami wanita itu menjelang ajalnya. Bukan hanya itu, tapi juga janin yang sedang dikandungnya, yang bahkan belum berumur 2 bulan waktu itu. Marto masih belum lupa dengan semua itu, satu hal yang kemudian menjadi titik balik kehidupannya menjadi seorang yang begitu jahat.

Tapi kejadian beberapa hari yang lalu, dimana dia melihat Yani dalam kondisi tanpa busana, melihat sebuah tanda lahir yang sangat mirip dengan yang dipunyai Astri. Serta melihat bagaimana tatapan mata Yani sangat mirip dengan mata Astri, membuatnya berpikir bahwa, apakah Yani itu sebenarnya adalah Astri. Jika memang iya, lalu siapa wanita yang dulu dikuburkannya itu?

Setelah kejadian itu muncul kecanggungan luar biasa tiap kali Yani bertemu dengan Marto. Dia merasa sangat malu karena Marto melihatnya tanpa pakaian sama sekali. Apalagi tatapan Marto menjadi sedemikian tajam kepadanya setelah kejadian itu. Yani merasa ketakutan, namun dia tidak tahu apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Marto. Dia juga tidak tahu kalau selain melihat tubuh telanjangnya, Marto juga mendengar sedikit pembicaraannya dengan Rio di telpon.

Sampai sekarang Marto belum menceritakan hal ini sama sekali kepada orang lain, termasuk Fitri. Tentang tanda lahir itu, tentang tatapan Yani malam itu, bahkan tentang ponsel yang dimiliki oleh Yani, belum satupun yang dia ceritakan. Marto masih ingin meyakinkan dirinya, termasuk mencari waktu yang tepat untuk bercerita karena sekarang ini istrinya sering lembur, dan begitu pulang sudah dalam kondisi lelah. Tapi Marto berjanji, dalam waktu dekat ini, dia akan menceritakan semuanya kepada Fitri, dan mencari kebenaran atas dugaan-dugaannya terhadap Yani, dan anak Yani, Zainal.

*****
Budi sedang menikmati makan siangnya seorang diri. Dia memilih sebuah rumah makan yang menyajikan menu utama bebek goreng, makanan kesukaannya. Kali ini memilih tempat yang agak jauh dari kantornya, karena ingin bertemu dengan seorang ‘teman’ untuk membahas beberapa hal menyangkut dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi belakangan ini. Dan ‘temannya’ baru saja pergi meninggalkannya.

Saat itu seorang wanita baru saja tiba di parkiran rumah makan, tersenyum saat mengetahui Budi berada disana. Dia tidak merencanakan hal ini, tapi sebuah kebetulan yang luar biasa baginya karena memang ingin bertemu dengan Budi. Perlahan dia berjalan masuk mendekati meja Budi, yang belum menyadari dirinya diperhatikan oleh wanita itu.

“Sendirian aja Bud?” sapa wanita itu membuat Budi terkejut.

Budi tidak langsung menjawabnya. Dia masih memandangi wajah perempuan yang menyapanya itu. Wajahnya serasa familiar, namun dia masih berusaha untuk mengingatnya. Saat wanita itu tersenyum, mendadak Budi tersentak, perlahan namun pasti ingatanya menemukan sebuah nama, nama dari wanita itu, nama dari masa lalunya.

“Neng?” spontan Budi mengucapkan itu, nama yang tak pernah lagi dia ucapkan selama lebih dari 5 tahun ini. Meskipun kini nambah berbeda dibandingkan saat terakhir pertemuan mereka, namun Budi masih ingat wajah wanita yang dulu pernah mengisi hatinya itu.

“Neng? Haha, masih bisa kamu manggil aku kayak gitu setelah ninggalin aku? Boleh aku duduk disini?”

“Eh oh, iya silahkan.”

Wanita yang dipanggil Neng itupun duduk di depan Budi. Dia hanya tersenyum saja melihat bagaimana lelaki itu terbengong melihat dirinya. Dia kemudian memanggil pelayan, memesan seporsi makanan dan minuman dingin. Setelah pelayan itu pergi, kembali ditatapnya Budi yang masih terdiam.

“Kenapa bengong?”

“Eh nggak Neng… ee, maksudku, Martha.”

“Yah, panggilan itu terdengar lebih baik daripada Neng, meningatkanku pada hal yang menyakitkan.”

“Hmm, gimana kabarmu Tha?” tanya Budi berbasa-basi.

“Menurutmu?” Martha menjawabnya tanpa ekspresi.

“Kamu kelihatannya baik-baik saja,” Martha sempat tergelak dengan jawaban Budi.

“Yah, seperti yang kamu lihat, nggak kurang, nggak lebih.”

Budi kembali terdiam, dia bingung harus bagaimana. Tiba-tiba selera makannya menjadi hilang. Bebek goreng yang biasanya membuatnya makan dengan lahap kini serasa hambar. Tak lama kemudian pesanan Martha datang. Dengan santai wanita itu memakannya.

“Gimana kabar Sakti?” tanya Martha tiba-tiba.

“Loh, kamu kok kenal Sakti?” Budi terkejut tiba-tiba Martha menanyakan kabar sahabat sekaligus kakak iparnya.

“Gimana nggak kenal, aku kerja di perusahaan papanya, hmm, papa angkatnya.”

“Kamu dulu kerja di Mahendra Grup?”

“Sampai sekarangpun aku masih kerja disana. Aku sedang cuti, mengunjungi kota ini lagi, kota yang menyimpan banyak kenangan buatku, dan kebetulan sekali ketemu sama kamu disini.”

“Jadi, kamu kenal dengan Baktiawan? Dan juga Bastian?”

“Menurutmu? Bagaimana seorang sekretaris nggak mengenal bossnya?”

Budi sedikit mengernyitkan dahinya, melihat Martha yang masih dengan cuek menjawab disela-sela makannya. Dia seperti memikirkan sesuatu. Apakah benar sebuah kebetulan dia bertemu dengan Martha disini, atau ada hal lainnya.

“Aku juga sudah tahu sekarang, siapa sebenarnya wanita yang membuat kamu meninggalkanku dulu.”

“Eh, darimana kamu tahu?” Budi kembali terkejut saat Martha membahas hal itu.

“Bud Bud, gimana nggak tahu. Wajah kalian, kamu dan istri kamu, sempat jadi pemberitaan di TV kan 3 tahun yang lalu.”

Budi kembali terdiam. Memang benar apa yang dikatakan oleh Martha. Setelah peristiwa malam tahun baru berdarah lebih dari 3 tahun yang lalu, wajahnya dan Ara, juga korban-korban lain sempat tersorot kamera dan masuk berita. Jadi memang wajar jika pada akhirnya Martha bisa mengetahui bagaimana wajah Ara sekarang.

“Harus kuakui, dia memang lebih cantik daripada aku, dan sepertinya dia juga gadis yang baik. Wajar sih kalau akhirnya kamu lebih milih dia,” tutur Martha setelah menyelesaikan makan siangnya.

Budi masih terdiam, membiarkan wanita yang menjadi bagian dari masa lalunya itu meneruskan apa yang ingin disampaikannya. Namun tiba-tiba senyuman Martha tadi hilang, berganti dengan mimik wajah yang serius.

“Tapi justru setelah melihatnya, aku jadi begitu membencinya. Aku masih nggak terima dia ngerebut kamu dari aku. Aku semakin sakit hati, sampai sekarang.”

Tatapan mata Martha berubah menjadi tajam kepada Budi. Sebuah tatapan yang menyiratkan kebencian, sekaligus luka yang begitu mendalam. Sepeninggal Budi hari itu, sampai dengan saat ini kembali bertemu, rasa sakit di hati Martha sama sekali belum menghilang. Bertemu dengan lelaki yang telah menghancurkan hatinya itu, benar-benar seperti momen yang tepat untuk menumpahkan semuanya.

*****

MarthaPOV Martha
Flashback

“Maafin Mas Neng kalau caranya harus kayak gini. Neng boleh benci sama Mas setelah ini, tapi Mas akan selalu sayang sama Neng. Mas berharap Neng bisa mendapatkan orang yang jauh lebih baik daripada Mas.”

Dia mengucapkannya dengan lirih saat memaksa memeluk tubuhku. Kemudian dia mengecup keningku. Cukup lama kecupan itu, mungkin ingin menyampaikan rasa sayangnya padaku. Tapi aku tak bergeming. Rasa sayang apa? Baru saja dia hancurkan perasaanku. Dia melepaskan pelukannya, lalu seperti sedang menyeka air matanya, entahlah aku tak tahu karena aku sedang tak mau melihatnya.

“Selamat tinggal, Neng.”

Pergi. Dia benar-benar pergi meninggalkanku. Baru beberapa langkah dia keluar dari kamarku, aku sudah tak tahan. Emosiku memuncak, hatiku benar-benar sakit. Lelaki yang begitu kucintai, yang baru saja mengunjungiku setelah hampir 2 bulan tak bertemu, yang semalam menyirami dahaga kerinduanku, kini meninggalkanku begitu saja.

Blaammm!

Kubanting pintu kamarku sekuat tenaga, aku tak peduli. Aku segera menuju ke kasur dan menghempaskan badanku disana. Kupeluk guling dan kubenamkan kepalaku di bantal, menangis sekeras-kerasnya. Meluapkan bagaimana rasa sakit yang kualami sekarang.

Apa salahku sampai harus seperti ini? Selama menjalani hubungan jarak jauh aku selalu menjaga kesetiaanku kepadanya. Setiap ada lelaki yang mendekatiku selalu kutolak. Bahkan saat bossku di kantor dengan gencar menggodaku tetap saja tak kupedulikan. Semua ini hanya demi dia, dan demi masa depan yang pernah kami cita-citakan bersama.

Tapi ternyata semua itu percuma saja. Bukan kebahagiaan bersama dia yang akhirnya kudapatkan, tapi justru sakit yang teramat sangat dihatiku. Dia meninggalkanku untuk sebuah alasan yang bahkan dia tak mau mengatakannya.

Selama 3 hari aku hanya mengurung diri di kamarku, menangis dan menangis, itu saja yang aku lakukan. Sampai akhirnya seorang teman kerjaku datang menjenguk. Dia yang memaksaku makan karena perutku belum terisi makanan sama sekali. Dia juga memaksaku untuk menceritakan apa yang membuatku seperti ini. Tangisku kembali meledak namun aku ceritakan semuanya ke dia. Dia dengan sabar mendengarkanku dan memeluk tubuhku.

Akhirnya setelah seminggu penuh bolos, akupun kembali masuk kerja. Itupun setelah bossku menghubungiku meminta agar aku masuk karena ada hal penting yang ingin disampaikan. Kupikir benar-benar penting menyangkut pekerjaan, ternyata begitu sampai di ruangannya dia malah menanyai sebab mengapa aku membolos. Rupanya dia sudah mendengar dari temanku apa yang sedang kualami, dan dia berusaha bersikap simpatik, berusaha menjadi pangeran berkuda yang ingin menyelamatkan sang putri.

Aku yang saat itu masih labil tak bisa berpikir jernih. Bossku benar-benar terlihat berusaha sekali untuk menghiburku. Setiap kata-kata dan perbuatannya tak terlihat memiliki niatan yang buruk, sehingga aku menurut saja ketika dia sering mengajakku keluar untuk sekedar nonton ataupun makan malam. Apalagi selama itu dia tak pernah berbuat hal yang aneh-aneh.

Namun ternyata aku salah, dia melakukan itu semua hanya untuk mengambil kesempatan dariku yang sedang patah hati ini. Sampai pada akhirnya siang itu, setelah makan siang berdua dia mengajakku ke rumahnya, katanya untuk mengambil sesuatu yang tertinggal. Aku hanya menurut saja. Suasana rumahnya saat itu sepi karena istrinya masih bekerja dan anaknya masih belum pulang sekolah.

Disana, di ruang tamu rumahnya, dia kembali berkata-kata untuk menghiburku, memberiku banyak sekali nasehat. Aku bahkan terdiam saja waktu tiba-tiba dia sudah berada di sampingku dan memeluk tubuhku. Tangannya membelai rambut panjangku membuatku nyaman saat itu. Aku tak ingat bagaimana awalnya ketika akhirnya bibir kamu bertemu. Dengan sangat pelan dan lembut dia melumat bibirku.

Aku terbuai, mataku terpejam membiarkan apa yang dia lakukan. Mungkin karena rasa sakit dan kekosongan di hatiku membuatku sama sekali tak bereaksi atas semua yang dia lakukan, padahal sebelumnya aku selalu acuh setiap kali lelaki ini menggodaku. Aku benar-benar tak sadar apa yang terjadi siang itu, seolah aku seperti daun layu yang terbawa oleh aliran air, entah kemanapun air itu membawaku.

Sampai kemudian aku tersadar saat kurasakan bossku itu sedang berusaha membuka kait bra yang kupakai. Aku tersentak, seolah-olah baru saja dibangunkan dari tidur panjangku. Kulihat kondisiku, kemejaku sudah terlepas semua kancingnya menampakan tubuh putihku yang masih terbalut bra di bagian dadanya. Semua kesadaranku seolah kembali, otakku berputar, logikaku kembali bekerja.

Plaaaakkk..

“Dasar bajingan mesum.”

Seketika aku menampar keras dan memaki bossku itu. Dia nampak sangat terkejut karena yang dikiranya aku sudah jatuh kedalam pelukannya tiba-tiba bereaksi seperti itu. Aku yang takut dia akan marah dan berbuat hal yang mengerikan langsung saja membenahi pakaianku, mengambil tasku dan secepat mungkin berlari keluar dari rumah itu. Dan hari itu menjadi hari terakhir aku bekerja. Besoknya aku hanya datang ke kantor untuk menyerahkan surat pengunduran diri ke bagian HRD tanpa menemui bossku, aku sudah sangat muak dengannya.

Aku bertekat untuk pergi dari kota ini, meninggalkan semua kenangan buruk dan membuka lembaran baru di tempat yang baru. Disini aku mengalami patah hati, saat aku sedang cinta-cintanya kepada seseorang, orang itu mengakhiri hubungan kami tanpa alasan yang jelas. Disini pula aku mendapatkan perlakuan yang buruk dari bossku, lelaki yang tadinya kulihat tampil sebagai pahlawanku, tapi ternyata begitu busuk dibalik topeng yang dia pakai.

Aku memutuskan untuk pergi ke ibukota karena itulah yang pertama kali muncul di kepalaku. Aku berangkat hanya dengan modal nekat. Aku tak punya teman maupun keluarga disana. Entah kehidupannya seperti apa pun aku tak tahu. Yang aku tahu hanyalah aku ingin membuka lembaran hidup yang baru, melupakan semua kenangan-kenangan buruk yang kualami.

Namun ternyata benar kata orang, kehidupan di ibukota ini sangatlah kejam. Beberapa bulan aku disini untuk mencari pekerjaan namun tak kunjung memperolah hasil. Tabunganku sudah semakin menipis, dan jika sampai bulan tidak juga mendapat pekerjaan, entah bagaimana aku harus bertahan hidup.

Sampai pada akhirnya karena sudah benar-benar kepepet, aku bekerja di sebuah tempat karaoke yang cukup terkenal di ibukota. Dan di tempat inilah semuanya bermula. Tempat ini pengunjungnya rata-rata dari kalangan atas, karena memang tarif yang dipatok sangat mahal. Di tempat ini privasi para pengunjung juga sangat-sangat dijaga kerahasiaannya. Para pengunjung yang tentu saja kebanyakan pria itu selalu meminta ditemani oleh para wanita yang memang sudah disediakan oleh pihak pengelola. Yaa tentu saja, selain berkaraoke ria, ada hal lain yang akan mereka lakukan dengan para wanita itu.

Namun aku bukanlah salah satu dari para wanita yang tugasnya ‘menemani’ para pengunjung. Disini aku hanyalah bekerja di bagian administrasi, kadang menggantikan temanku sebagai kasir jika ada yang tidak masuk. Beberapa pengunjung yang melihatku sebenarnya ingin aku menemani mereka, bahkan dengan iming-iming uang yang sangat besar, namun selalu kutolak. Beruntung, pengelola tempat ini punya aturan yang ketat, yaitu selain para wanita yang sudah disediakan secara khusus, tidak boleh meminta karyawan wanita yang lainnya untuk ‘menemani’.

Meski begitu, beberapa tetanggaku yang akhirnya mengetahui kalau aku bekerja di tempat itu mulai bergunjing tentang pekerjaan apa yang aku lakukan. Dengan sepihak mereka mencap aku sebagai ‘perempuan yang nggak bener’, wanita panggilan, atau apalah yang sejenis itu. Tentu saja aku tidak terima karena aku tak pernah melakukan itu, namun tetap saja mereka menggunjingkan pekerjaanku. Bahkan ada beberapa tetanggaku yang menanyakan berapa tarifku untuk sekali main. Aku benar-benar sakit hati dengan semua itu. Ingin rasanya aku segera pindah dari tempat ini tapi sayangnya aku belum menemukan tempat tinggal yang pas, apalagi tabunganku juga masih belum cukup. Sehingga dengan terpaksa kutahan sakit hatiku sebisa mungkin.

Suatu malam ada seorang bapak-bapak terlihat memperhatikanku saat aku sedang bertugas di depan. Beberapa kali aku memergoki tatapannya, namun dia seolah tanpa sungkan terus saja memperhatikanku. Kemudian dia menghampiriku dan mengajak berkenalan.

“Hai, boleh aku tahu namamu?”

“Hmm, saya Martha Pak.”

“Martha, nama yang bagus. Bisa kita ngobrol sebentar?”

“Maaf Pak, saya sedang bekerja.”

“Kalau gitu kita ngobrol di room saja, kamu temenin saya, gimana?”

“Maaf Pak, saya nggak bisa. Kalau bapak mau ditemenin silahkan ke ruangan sebelah, disana Bapak bisa pilih siapa yang Bapak suka.”

“Tapi saya maunya sama kamu.”

“Sekali lagi maaf Pak, saya nggak bisa. Saya bukan salah satu dari mereka, dan di tempat ini sudah ada aturannya, kalau…”

“Saya tahu aturan di tempat ini Martha, saya kenal baik dengan pemilik tempat ini.”

“Tapi Pak, maaf. Aturan tetap aturan Pak.”

Tak lama kemudian managerku datang mendekat, mungkin karena melihatku yang sedang didekati oleh pria ini. Aku merasa lega karena terselamatkan dari keinginan pria yang bahkan aku belum tahu namanya ini.

“Selamat malam Boss, ada yang bisa dibantu?” aku tak terlalu terkejut mendengar managerku memanggil pria itu boss, karena memang sudah seperti itu. Baginya pengunjung adalah raja.

“Ah malam Pak Bonar. Ini lho, saya mau bicara sama Martha, boleh?”

“Hmm, kalau boleh tahu, ada apa ya Boss?”

“Saya mau nawarin dia bekerja di kantor, kalau dia mau,” aku sedikit terkejut mendegar perkataan pria itu.

“Oh begitu. Boleh saja kok Boss. Martha, kamu ikut sama Pak Bakti dulu ya.”

“Eh tapi Pak, saya kan…”

“Udah, masak sama boss sendiri mau nolak.”

“Eh, boss sendiri?” aku bingung dengan ucapan managerku barusan.

“Lho kamu belum tahu? Beliau ini Pak Baktiawan Mahendra, pemilik perusahaan Mahendra Grup, sekaligus pemilik tempat ini.”

Hah? Pemilik tempat ini? Waduh, aku bener-bener nggak tahu. Lagipula aku memang baru beberapa minggu pekerja disini, dan selama itu pula yang aku tahu hanyalah karyawan-karyawan yang bekerja disini, tak pernah tahu siapa pemiliknya. Dan ternyata, pemilikinya adalah pria yang sekarang sedang berdiri di depanku, yang beberapa saat yang lalu aku tolak keinginannya untuk bicara denganku.

“Ma… maaf Pak, saya nggak tahu, saya baru…”

“Udah ngobrolnya jangan disini. Kamu cepetan ganti baju, nanti ikut saya.”

“Ba… baik Pak.”

Selesai mengganti seragam kerjaku dengan pakaian saat aku berangkat dari kost tadi, akupun menghampiri Pak Bakti. Tanpa banyak bicara pria itu beranjak menuju ke mobilnya, aku hanya mengikutinya saja. Kami berdua duduk di bangku belakang, sementara supirnya nampak sedang membawa kami ke suatu tempat. Selama perjalanan kami hanya diam saja. Aku merasa benar-benar kikuk, bingung harus bersikap seperti apa.

Kemudian sampailah kami di sebuah rumah makan yang cukup mewah. Dengan cueknya Pak Bakti turun dan melangkah masuk, terpaksa aku mengikutinya. Aku sebenarnya risih karena menjadi pusat perhatian orang-orang disitu. Mereka melihatku bukan dengan tatapan kagum tapi justru tatapan heran dan cenderung merendahkan. Bagaimana tidak, masuk ke sebuah restoran mewah yang pengunjungnya dari kalangan atas, sedangkan diriku hanya memakai sebuah kaos ketat dibalut dengan cardigan dan celana jeans belel, serta sepasang flat shoes. Sama sekali tidak ada riasan di wajah dan rambutku yang tergerai, sangat berbeda dengan penampilan pengunjung lain.

Tapi aku tak terlalu ambil pusing, aku terus mengikuti langkah Pak Bakti menuju ke lantai atas, yang ternyata diperuntukkan bagi para pelanggan khusus. Di lantai 2 ini agak berbeda dengan di bawah karena terdapat beberapa ruangan tertutup, sepertinya memang sengaja dirancang untuk sebuah private dinner atau semacamnya. Dengan diikuti oleh 2 orang pelayan kamipun masuk ke dalam sebuah ruangan yang terletak di ujung, tertulis angka 14 di pintu ruangan itu.

Pak Bakti menyuruhku untuk memesan makanan, dan begitu membuka daftar menunya, astaga, harganya benar-benar sangat mahal. Kalau bukan bossku itu yang membayar, aku bisa puasa berhari-hari setelah makan dari sini. Setelah kedua pelayan tadi pergi, Pak Bakti masih diam saja, dia malah menyalakan rokoknya, menyodorkan kepadaku namun kutolak dengan gelengan kepala.

“Sudah berapa lama kamu kerja disana Tha?” tiba-tiba saja Pak Bakti memulai obrolan kami.

“Hmm, belum ada 2 bulan ini Pak.”

“Gimana, enak kerja disana? Puas dengan gajinya?”

“Enak kok Pak. Kalau masalah gaji, buat saya sudah cukup untuk membayar uang kost dan makan sehari-hari,” aku berhati-hati dalam menjawabnya mengingat pria ini adalah pemilik dari tempat kerjaku.

“Ada keinginan untuk kerja di tempat lain?”

“Kalau keinginan pasti ada Pak. Tapi untuk saat ini, saya merasa nyaman bekerja disana.”

Dia hanya tersenyum saja mendengar jawabanku. Sebagai seorang pemilik perusahaan, mungkin dia juga sudah paham dengan jawabanku ini. Aku sebenarnya berharap dia tidak melanjutkan pertanyaannya tentang tempat bekerjaku, karena pasti aku harus berpikir keras untuk menjawabnya, tentu saja agar aku tidak sampai kehilangan pekerjaanku.

Beruntung kecanggunganku sempat terselamatkan oleh datangnya beberapa pelayan yang membawakan makanan pesanan kami. Wah, cepat juga rupanya, aku pikir agak lama tadi. Mungkin karena memang pelanggan khusus, jadi perlakuannya pun berbeda, pikirku.

“Ayo silahkan dimakan, jangan malu-malu.”

Pertama aku memang agak sungkan. Bayangkan saja, seorang karyawan baru seperti aku diajak makan malam oleh seorang boss besar, pemilik sebuah perusahaan besar dan beberapa tempat usaha yang lain, salah satunya adalah tempatku bekerja. Apalagi makan malamnya di restoran semewah dan semahal ini. Rasanya kok sayang banget ya mengeluarkan uang sedemikian banyak hanya untuk sebuah makanan, yang setelah kita makanpun nanti keluarnya juga sama seperti makanan di warung pinggir jalan yang biasanya aku makan. Namun melihat Pak Bakti yang cuek, lama kelamaan rasa sungkanku menghilang.

Setelah makan malam ini selesai, dia kembali menyalakan rokoknya, kemudian berdiri menuju ke pintu dan memencet sebuah tombol yang berada didekatnya. Tak lama kemudian datang beberapa orang pelayan untuk membersihkan meja dari piring bekas kami, lalu menggantinya dengan beberapa dessert serta wine. Aku cukup takjub, baru pertama kalinya aku makan malam seperti ini.

“Saya mau kamu berhenti dari pekerjaan kamu sekarang,” aku yang sedang memandangi makanan penutup di meja dikejutkan oleh perkataan Pak Bakti.

“Mm… maksudnya, saya dipecat Pak? Ta… tapi Pak…”

“Bukan. Saya mau kamu pindah ke kantor saya, jadi sekretaris saya.”

“Sekretaris?” tentu saja aku begitu terkejut mendengarnya. Menjadi sekretaris untuk seorang boss besar seperti Pak Bakti?

“Iya, mulai minggu depan kamu jadi sekretaris saya.”

“Tapi Pak, saya kan cuma karyawan admin biasa. Saya mana bisa jadi sekretaris,” ujarku memberi alasan.

Bukannya aku tidak mau ditawari pekerjaan itu, tapi rasanya ini terlalu berlebihan. Kalau hanya ditawari sebagai karyawan biasa di perusahaannya sih sudah pasti aku mau, tapi sekretaris? Aku tahu bagaimana ribetnya pekerjaan itu karena ada temanku yang bekerja di posisi itu. Dia cerita bagaimana pusingnya menjadi sekretaris, apalagi jika mendapat boss yang gila kerja, belum lagi kalau nanti bossnya aneh-aneh.

“Saya tahu kamu bisa. Saya nawarin posisi kayak gini juga bukan sembarangan. Saya sudah lihat CV kamu, riwayat kerja dan pendidikan kamu. Terlalu sayang jika potensi yang kamu miliki cuma dipakai buat kerja di tempat itu.”

“Ssa… saya ngomong sama Pak Bonar dulu ya Pak.”

“Ngapain? Minta ijin? Bonar itu kan anak buahku, dia pasti ngasih ijin. Sudah, saya nggak mau denger penolakan lagi, yang jelas mulai besok kamu nggak usah kerja disana lagi. Kamu tenang saja, nanti akan ada yang ngajarin, kamu nggak akan sendiri. Saya nyari sekretaris lagi karena permintaan dia, katanya nggak sanggup kalau harus mengerjakan semuanya sendiri.”

Aku tak punya alasan lagi untuk menolaknya. Sepertinya pekerjaan itu memang berat sampai sekretaris Pak Bakti meminta untuk mencarikannya teman. Hmm, sepertinya memang bekerja disana akan lebih baik daripada yang sekarang. Paling tidak aku tak harus pulang pagi-pagi dan menjadi bahan gunjingan tetanggaku. Siapa tahu juga aku bisa cepat-cepat pindah dari kost-kostanku itu. Akupun akhirnya menerima tawaran dari Pak Bakti.

Setelah ngobrol beberapa saat dan menghabiskan makanan penutup di meja, kamipun beranjak keluar menuju mobil, mengantarkanku pulang. Lagi-lagi dalam perjalanan ini kami semua terdiam, hanya sesekali aku memberi tahu kepada supir kemana arah kostanku. Sampai di depan gang kostku, ketika aku hendak turun Pak Bakti menahan tanganku.

“Sebentar. Kamu bawa ini,” ucapnya seraya menyerahkan sebuah amplop yang sangat tebal kepadaku.

“Apa ini Pak?”

“Ini uang buat kamu. Besok kamu belanja, beli pakaian untuk kerja, yang bagus ya, saya nggak mau sekretaris saya penampilannya mengecewakan. Sekalian untuk perawatan juga, kamu tahulah bagaimana menjadi seorang sekretaris di perusahaan besar. Oh iya, sama sekalian bawa ini,” ujar Pak Bakti sambil menyerahkan sebuah kunci.

“Apalagi ini Pak?”

“Kunci apartemen kamu. Besok kamu pindah, saya nggak mau sekretaris saya tinggal di tempat kumuh kayak gini. Malam ini silahkan kamu packing, besok supir saya akan jemput kamu. Semua sudah saya siapkan di apartemen itu kecuali barang-barang pribadi yang harus kamu beli sendiri. Ini kartu nama saya, kalau uangnya kurang tinggal telpon saja. Ingat, beli yang bagus, jangan khawatir masalah uang.”

Akupun hanya terdiam mendengar penuturan dari Pak Bakti. Belum bekerja saja sudah diberikan banyak hal olehnya. Setelah berterima kasih kepadanya akupun memasukan amplop dan kunci itu ke dalam tas, lalu turun dari mobil menuju ke kostku. Sepanjang gang itu banyak orang yang melihatku sambil berbisik-bisik. Mereka pasti berpikiran macam-macam karena melihatku turun dari mobil mewah. Tapi aku sudah tak peduli lagi, karena besok aku akan pindah dari sini, memulai kehidupanku yang baru.

*****
Sudah hampir 6 bulan aku bekerja menjadi sekretaris Pak Bakti. Rupanya benar pekerjaan ini benar-benar membuatku kerepotan. Tapi untung saja aku tidak sendiri karena ada Cindy yang sudah lebih dulu bekerja disini. Dia sangat baik kepadaku. Banyak sekali mengajari apa yang harus aku lakukan, membagi pekerjaan sehingga bisa kami selesaikan semuanya, dan yang paling penting adalah pekerjaan kami bisa memuaskan Pak Bakti.

Cindy bercerita kepadaku kalau dulu dia sering kena marah karena pekerjaannya yang berantakan, karena itulah dia bersyukur sekali sekarang ada temannya, tak harus bekerja sendiri seperti sebelumnya. Kini kehidupanku sudah berubah. Penghasilan yang sangat besar dan pergaulan yang glamour, mengikuti gaya Cindy, dan tentunya permintaan dari Pak Bakti.

Selain pekerjaan di kantor, sekarang ada pekerjaan lainnya yang aku dan Cindy lakukan, yaitu memuaskan nafsu birahi Pak Bakti di ranjang. Semula tentu saja aku keberatan. Namun mengingat semua yang telah diberikan Pak Bakti kepadaku, juga mendengar bagaimana cerita-cerita dari Cindy, akhirnya akupun rela menyerahkan tubuhku kepada bossku itu.

Meskipun batinku terus menolak, namun lama-kelamaan aku mulai menikmatinya. Terlebih lagi selama ini Pak Bakti selalu memperlakukanku dengan baik, tidak pernah sampai membagi tubuhku kepada kolega-koleganya untuk memperlancar bisnisnya, seperti yang mungkin dilakukan oleh orang lain. Selama ini aku dan Cindy hanya melayaninya, dan satu orang lagi temannya yang kuketahui bernama Fuadi.

Sekali lagi Cindy berterima kasih kepadaku karena sebelumnya dia selalu kewalahan melayani kedua orang itu. Mereka berdua tak mau asal menambah wanita lagi, entah karena pertimbangan penyakit atau apa aku tidak tahu. Tapi kini sudah ada aku, jadi tugas Cindy sudah lebih ringan lagi.

Sebenarnya kadang aku berpikir, kalau semua ini adalah salah. Sama saja aku membenarkan gunjingan tetangga kostku dulu yang menyebutku ‘perempuan nggak bener’, tapi sebagian dari diriku membela diri. Jika yang digunjingkan oleh tetanggaku dulu aku bisa main dengan sembarang pria asal dapat uang, tapi kenyataannya tidak begitu. Aku hanya melayani mereka berdua saja, dan bukan semata-mata untuk uang saja, karena aku sudah mulai menikmatinya.

Namun, setelah sekian lama berada di ibukota ini, setelah bermacam-macam hal yang aku lalui, mulai dari dipandang rendah dan hina, hingga sekarang di posisi seperti sekarang ini, aku masih belum dapat melupakan rasa sakit hatiku. Bayang-bayang tentang dirinya dan peristiwa hari itu kadang masih menghantui mimpiku. Namun paling tidak ketika berada di kantor menjalankan rutinitasku bisa sedikit mengurangi rasa itu.

Hingga suatu hari, setelah setahun lebih aku bekerja di kantor ini terjadi peristiwa yang sangat menggemparkan. Bossku, Pak Baktiawan Mahendra, terlibat dalam sebuah kasus penculikan dan pemerkosaan di luar kota. Bahkan dalam peristiwa itu terjadi baku tembak antara polisi dan orang-orang yang kemudian kuketahui sebagai anak buah Pak Bakti. Aku benar-benar tak menyangka ternyata Pak Bakti sampai terlibat dalam dunia seperti itu.

Peristiwa itu banyak sekali memakan banyak korban jiwa, yang kesemuanya adalah dari pihak anak buah Pak Bakti. Pak Bakti dan Pak Fuadi ditangkap dengan luka tembak di kaki mereka. Mereka berdua dirawat di rumah sakit yang letaknya bersebelahan dengan kantor polisi. Kamar keduanya dijaga dengan sangat ketat. Namun beberapa hari kemudian aku mendengar kabar yang mengejutkan bahwa Pak Bakti tewas di kamarnya itu. Dia tewas dengan menderita luka tembak di kepalanya. Kasus ini menjadi rumit dan tak pernah terungkap oleh pihak kepolisian.

Dan yang lebih mengejutkan bagiku lagi adalah, salah satu korban penculikan itu, adalah keluarga dari seorang lelaki yang beberapa tahun silam telah menghancurkan hatiku. Aku melihatnya dengan jelas di TV. Wajah itu, sudah sedikit berubah, nampak sudah lebih dewasa dan matang. Namun melihat wajah itu lagi justru kembali membuka luka lamaku.

Aku penasaran kemudian mencari berita-berita lainnya di internet. Akhirnya aku mengetahui wanita yang membuatnya meninggalkanku saat itu. Tiara, nama wanita itu. Nama yang akan aku terus ingat, sebagai orang yang telah membuat hatku hancur berkeping-keping. Aku melihat beberapa fotonya bersama dengan Budi, mereka terlihat sangat bahagia, namun disisi lain membuatku semakin membencinya.

Setelah tewasnya Pak Bakti, kondisi perusahaan sempat limbung karena tidak ada yang memimpin. Baik aku maupun Cindy saat itu hanya menjalankan apa yang harus kami kerjakan, tapi jika sudah menyangkut masalah kebijakan dan otorisasi dokumen, kami kebingungan apa yang harus dilakukan hingga akhirnya menumpuk puluhan yang belum ditandatangani.

Beruntung, tak lama setelah itu datanglah anak dari Pak Bakti yang selama ini tinggal di luar negeri. Sebastian Mahendra namanya, kami biasa memanggilnya Pak Bastian. Orangnya masih muda, seumuran denganku. Dia pria yang sangat berkharisma dan berpendidikan, terlihat dari sikap dan bagaimana dia bertutur kata. Dengan cepat dia menyesuaikan diri di lingkungan perusahaan.

Kemampuan manajerialnya dalam memimpin perusahaan membuat kami kagum. Masih muda namun benar-benar berjiwa pemimpin sejati. Karena itulah kami para karyawan yang tadinya sudah kehilangan semangat bekerja, bahkan beberapa berencana untuk keluar dan mencari pekerjaan baru, menjadi kembali bersemangat, bahkan lebih dari sebelum-sebelumnya.

Aku dan Cindy pun tetap dengan pekerjaan kami, menjadi sekretaris dari Pak Bastian. Cindy lebih banyak mengurusi tentang kepegawaian sedangkan aku lebih banyak mengurusi hal-hal yang sifatnya lebih detail ke kegiatan boss baruku ini. Karena itulah makin lama aku makin dekat dengannya.

Namun tetap saja, anak memang tak jauh-jauh berbeda dengan ayahnya. Aku dan Cindy juga masih harus bertugas melayani nafsu boss kami. Namun bedanya kali ini, yang kami layani jauh lebih muda karena seumuran dengan kami, dan lebih ganteng tentunya. Terlebih lagi, Pak Bastian orangnya lebih lembut jika sedang denganku, memperlakukanku layaknya seorang wanita, itu yang membuatku memasrahkan diriku kepadanya.

Sama seperti saat melayani ayahnya dulu, aku dan Cindy juga harus melayani teman dekat dari Pak Bastian, yang kuketahui bernama Rio. Entah kebetulan atau tidak, tapi benar-benar sama dengan Pak Bakti dulu. Teman Pak Bastian ini juga seorang polisi, sama seperti Pak Fuadi. Aku jadi berpikir, apakah jangan-jangan kelakuan mereka sama seperti Pak Bakti dan Pak Fuadi yang bersinggungan dengan dunia hitam.

Aku menjadi semakin dekat dengan Pak Bastian gara-gara dia memergokiku sedang asyik mencari informasi tentang Tiara dan Budi di internet. Saking asyiknya, atau mungkin saking marahnya karena benci dan sakit hati, sampai-sampai aku tak sadar kalau Pak Bastian sudah berdiri di belakangku.

“Masih aja nyari info soal mereka?”

“Ehh, Bapak. Hmm… aa… anu pak, ini…”

“Udah nggak usah grogi gitu. Kalau mau cerita, saya tunggu di ruangan saya sekarang,” selesai berucap Pak Bastian langsung pergi begitu saja, dan entah kenapa aku langsung saja mengikutinya.

Sampai di dalam ruangan Pak Bastian dia mempersilahkanku untuk duduk. Dia mulai menanyaiku tentang kenapa aku mencari informasi soal Budi dan Tiara. Akhirnya siang itu aku menceritakan semuanya. Mulai dari bagaimana Budi memutuskan hubungan kami, hingga aku bertemu dengan Pak Bakti. Kuceritakan semua itu dengan lancar, selancar ait mataku yang turun membasahi pipiku.

Bahkan aku ingat dengan jelas, aku menceritakan semua percakapanku dengan Budi waktu dia memutuskanku. Aku menceritakan bagaimana dia tidak mau memberitahukan alasan sebenarnya kenapa meninggalkanku. Yang kini aku tahu adalah, Budi meninggalkanku untuk seorang perempuan bernama Tiara.

“Jadi, setelah tahu semuanya, apa yang selanjutnya mau kamu lakukan?” tanya Pak Bastian setelah aku selesai bercerita.

“Saya nggak tahu Pak, yang jelas saya masih ngerasa sakit hati banget, apalagi saya pernah lihat foto-foto mereka, saya jadi makin benci.”

“Apa yang bisa membuat kamu nggak sakit hati lagi?”

“Hmm, saya… saya nggak tahu Pak.”

“Apa dengan kembali ke Budi, sakit hatimu bisa hilang?”

“Saya rasa nggak Pak, saya udah terlanjur benci sama dia.”

“Kalau melihat mereka menderita, gimana?” aku terbelalak mendengar pertanyaan Pak Bastian.

“Maksud Bapak?”

“Yaa kita buat mereka menderita, membuat mereka menjadi terhina. Apa itu cukup untuk menyembuhkan sakit hatimu? Kalau bisa, aku akan bantu.”

“Ke… kenapa Bapak sampai mau bantu saya kayak gitu?”

“Sebenarnya bukan ngebantuin juga sih. Sasaranku beda sama kamu, tapi kita bisa melakukannya sama-sama.”

“Hmm, maaf Pak, tapi saya bener-bener nggak ngerti.”

“Kalau sasaran kamu Budi, maka sasaranku adalah Tiara. Kalau kamu sakit hati sama Budi, maka aku sakit hati sama Tiara. Kalau kamu marah dan benci kepada Tiara, maka sebaliknya, aku marah dan benci kepada Budi,” penjelasan Pak Bastian ini masih membuatku bingung. Aku coba mencernanya tapi tetap saja tidak mengerti.

“Bingung?” tanyanya, kujawab dengan anggukan kepalaku.

“Orang tuaku dan orang tua Tiara dulunya adalah sahabat baik. Aku ingat, dia masih kecil sekali, dan mungkin dia tak mengingat apapun waktu itu. Aku sendiri nggak terlalu memikirkannya karena nggak lama aku pindah ke Inggris. Tapi sebenarnya beberapa kali aku mencari tahu tentang dia. Aku lihat dia tumbuh menjadi gadis yang cantik, dan aku mulai menyukainya.”

“Tapi ternyata, dia sekarang justru bersama dengan orang lain. Aku jadi membencinya, apalagi setelah tahu orang tua Tiara adalah orang yang juga dibenci papaku. Kamu tahu apa sebabnya? Karena orang tua Tiaralah usaha papaku dulu hancur. Beruntung dengan sisa tabungan yang dimiliki, papaku berhasil membangun usaha lagi di kota ini, dan menjadi besar sampai seperti ini.”

“Aku dikirim ke Inggris sejak kecil rupanya karena papaku khawatir orang tua Tiara akan kembali mengganggu keluarga kami. Dan sekarang, ayahku tewas juga karena berurusan dengan keluarga itu, karena itulah sekarang aku juga menyimpan dendam kepada mereka.”

“Hmm, kalau tentang Pak Sakti itu?” tanyaku teringat akan teka-teki Pak Sakti, yang selama ini kutahu adalah anak Pak Bakti, namun ternyata bukan.

“Sakti itu adalah kakak kandungnya Tiara, tapi beda ibu. Itulah kebejatan ayahnya Tiara. Dia itu sebenarnya busuk, tapi selalu terlihat baik di mata orang karena dia tega mengorbankan siapapun, termasuk papaku, sahabat dekatnya dulu.”

Cerita Pak Bastian yang panjang lebar itu membuatku terdiam dan berpikir, betapa jahatnya keluarga dari orang yang telah merebut Budi dariku. Cerita itu semakin menambahkan kebencianku kepada mereka. Aku sudah tak peduli lagi bahwa mereka adalah korban dari penculikan yang dilakukan kelompok Pak Bakti. Justru aku menyayangkan, kenapa orang-orang itu tidak sekalian tewas saja malam itu.

“Aku punya dendam dengan keluarga itu, termasuk Budi. Karena merekalah papaku tewas. Nyawa harus dibayar dengan nyawa. Karena itulah aku tanya sama kamu, apakah dengan menderitanya mereka bisa membuat kamu sembuh dari sakit hatimu? Kalau iya, kita habisi sekalian si Budi, tapi kalau kamu pengen dia tetap hidup, kita biarkan hidup, tapi dengan kondisi yang akan membuatnya menderita di sisa umurnya. Gimana?”

Aku sejenak menatap mata Pak Bastian. Sebenarnya aku ragu, apakah kebencianku ini akan hilang jika Budi tak ada, atau akan sedih. Tapi melihatnya berbahagia saat ini benar-benar membuatku sakit dan menderita. Mungkin dengan melihatnya menderita, aku akan bisa menjadi bahagia. Lalu dengan mantap akupun mengangguk.

“Terserah Pak Bastian, tapi kalau bisa baik Budi maupun Tiara jangan sampai mati Pak.”

“Lho kenapa?”

“Saya ingin melihat Budi menderita, dengan melihat Tiara menjadi perempuan yang hina.”

“Hahaha, luar biasa Martha. Memang benar, ketika sedang sakit hati, wanita bisa jauh lebih kejam daripada pria. Baiklah, sesuai keinginanmu, karena itu juga sama seperti yang aku mau. Aku akan menceritakan beberapa hal lagi, tapi jangan sampai kamu ceritakan ini kepada siapapun. Kamu bisa dipercaya kan?”

Aku mengangguk mantap. Memantapkan hatiku untuk memilih jalan ini. Kejam? Ya, mungkin memang begitu. Tapi aku harus bisa kejam saat ini, terutama kepada mereka yang dulu dengan begitu saja merebut semua kebahagiaanku, menghancurkan impian indah yang pernah kurajut bersamanya. Mereka semua tertawa bahagia disaat aku begitu menderita.

Biarlah, mereka nikmati semua kebahagiaan yang mereka punya saat ini sepuasnya. Karena nanti jika tiba waktunya, aku akan merenggut semua itu dari mereka, dengan cara yang tidak akan pernah mereka duga sebelumnya. Pada saatnya nanti, akulah yang akan tertawa bahagia karena melihat mereka menderita. Kalau yang mereka lakukan itu kejam, akupun bisa lebih kejam lagi. Kalau yang dia lakukan padaku itu jahat, aku bisa lebih jahat daripada dirinya.

*****
Present
3[SUP]rd[/SUP] POV

“Nggak kerasa udah 5 tahun lebih ya kamu ninggalin aku,” ujar Marta memecah kesunyian diantara dirinya dan Budi.

“Kamu nggak pernah tahu Bud, seberapa sakitnya aku saat itu, dan bahkan sampai sekarang. Kamu nggak pernah tahu bagaimana aku menjalani hari-hariku setelah itu. Dengan bodohnya aku sempat mengira, air mata yang kamu keluarkan waktu kamu ninggalin aku dulu, juga akan membuat kamu merasa seperti yang aku rasakan. Tapi ternyata aku salah, kamu justru terlihat begitu bahagia.”

“Hmm, Martha, aku minta maaf soal,,”

“Ah sudahlah, buat apa minta maaf lagi? Apa bisa ngembaliin kamu ke aku?”

“Hmm, tidak.”

“Ya, apapun itu sepertinya nggak akan bisa ngembaliin kamu ke aku. Hidup kamu sepertinya sudah sempurna sekali sekarang. Rasa-rasanya, sebelum hari ini kamu pasti udah lupa sama aku. Dan kamu juga udah nggak ada rasa apa-apa lagi ke aku kan?” tanya Martha yang hanya membuat Budi terdiam menatapnya.

“Anakmu pasti sudah besar ya sekarang?”

“Iya, hampir 3 tahun. Hmm, maaf tapi aku harus balik ke kantor, jam istirahat udah lewat, nanti kapan-kapan kita sambung kalau sempet ketemu lagi,” ujar Budi sambil melirik arlojinya. Dia sudah semakin tak nyaman dengan pembicaraan ini.

“Ya tentu saja, pasti kita akan ketemu lagi,” ucap Martha tersenyum, membuat Budi menatapnya penuh selidik.

“Oh iya, sampaikan salamku ke istrimu Tiara, bilang sama dia buat selalu bahagiain kamu, karena kalau dia sampai nggak bisa, aku akan merebut kamu dari dia, dan aku yang akan ngasih kebahagiaan buat kamu.”

Budi hanya terdiam saja mendengar kata-kata Martha. Sebenarnya dia tersinggung, ingin marah kepada wanita itu, tapi dia tidak ingin memperpanjang urusan dengan mantan kekasihnya itu.

“Baiklah, aku permisi dulu,” Budipun berdiri dari kursinya, namun ketika hendak berjalan menjauh, Martha kembali berkata kepadanya.

“Satu lagi Bud, sampaikan juga salamku buat Sakti, tanyakan padanya, apa dia nggak kangen sama tubuh dan permainanku,” ujar Martha mengerling, membuat Budi semakin terkejut dan tersinggung, namun lagi-lagi ditahannya dalam diam.

Mata Martha terus mengikuti langkah Budi sampai masuk ke dalam mobilnya, dan berlalu meninggalkan rumah makan ini. Martha terus tersenyum karena dia berhasil membuat mantan kekasihnya itu bertambah beban pikirannya. Tak lama kemudian dia mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang.

“Halo Pak Bastian. Saya baru saja bertemu dengan Budi.”
Halo Martha. Oh ya, apa kamu mencari-carinya?

“Nggak Pak. Saya baru aja sampai tadi malam. Ini kebetulan saja ketemu sama dia pas makan siang.”
Oh gitu. Terus gimana?

“Yah seperti yang Bapak bilang sebelumnya, dia bener-bener terkejut ngelihat saya, dan lebih terkejut lagi mendengar apa yang saya ucapkan.”
Emang kamu bilang apa sama dia?

“Nggak banyak Pak, seperti apa yang Bapak suruh, nggak lebih.”
Hahaha, bagus sekali Martha. Dia pasti sedang kepikiran sekarang. Baiklah, kamu lanjutkan tugasmu, kalau ada apa-apa langsung hubungi aku, jangan bertindak diluar apa yang sudah kita rencanakan. Selebihnya, aku yang ngurusin.

“Baik Pak, akan saya lakukan sesuai perintah Pak Bastian. Sudah dulu Pak kalau gitu, nanti saya kabari lagi.”
Baiklah.”

*****
07.30 pm
Rumah Ara

“Ayah kenapa sih? Kok dari tadi Bunda lihat diem gitu terus?”

“Eh, nggak kok Bun, nggak ada apa-apa. Cuma masalah kerjaan aja.”

“Bener cuma masalah kerjaan? Biasanya kalau ada masalah kerjaan nggak sampai kayak gini. Ada yang Ayah sembunyiin dari Bunda?” tanya Ara menyelidik, karena memang belum pernah dia lihat suaminya seperti itu.

Budi menatap Ara. Dia bimbang apakah harus menceritakan yang tadi siang atau tidak. Selama ini Budi memang hampir selalu menceritakan apapun kepada istrinya tanpa ada yang ditutup-tutupi. Bahkan peristiwa ‘ciuman’ tak sengaja dengan Indah pun dia ceritakan juga. Hanya satu hal yang sampai sekarang belum diceritakan oleh Budi mengenai jati dirinya yang memang haruslah dirahasiakan.

Namun kali bertambah lagi satu rahasia Budi. Dia tak pernah menceritakan tentang Martha karena menurutnya tak penting untuk diketahui Ara. Namun wanita dari masa lalunya itu hari datang menemuinya, dan entah kenapa firasat Budi menjadi sangat buruk dengan kedatangan Martha. Dia khawatir mantan kekasihnya itu akan melakukan hal-hal yang buruk kepada Ara, atau malah mungkin, sudah memulai sesuatu yang berhubungan dengan itu.

Sebenarnya dia beranggapan kalau semakin sedikit yang diketahui Ara maka akan semakin bagus untuknya. Namun kali ini dia benar-benar bimbang, haruskah Ara tahu? Karena jika menceritakan hal ini, dia juga harus menceritakan hal lain yang selama ini dia rahasiakan rapat-rapat dari Ara. Bukan tak mempercayai istrinya, tapi Budi takut jika Ara mengetahuinya, Ara akan dibayangi ketakutan dan kekhawatiran setiap saat.

“Ayah, selama ini kan kita selalu saling terbuka. Semua yang Bunda tahu dan alami sudah Bunda ceritakan semuanya ke Ayah tanpa ada yang ditutup-tutupi. Bunda tahu Ayah punya sesuatu yang memang harus dirahasiakan dari siapapun. Tapi jika itu malah membuat Ayah kepikiran dan nggak tenang kayak gini, ada Bunda yang selalu siap dengerin dan bantuin Ayah.”

Tatapan lembut dari Ara benar-benar semakin membuat Budi bimbang. Dia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Setelah berpikir baik dan buruknya, Budi akhirnya memutuskan untuk menceritakannya kepada Ara. Mungkin memang sudah waktunya bagi Ara untuk tahu. Dia berharap jika istrinya ini bisa mengerti dengan semuanya, dan tetap bersamanya tanpa ada ketakutan dan kekhawatiran berlebih.

“Baiklah, Ayah bakal ceritain semua. Cerita ini nanti pasti akan mengejutkan, tapi Ayah harap Bunda bisa mengerti,” Budi menatap mata Ara sejenak sebelum melanjutkan perkataannya.

“Tadi siang tanpa sengaja Ayah ketemu dengan seseorang.”

“Siapa?”

“Seseorang dari masa lalu, mantan pacar Ayah, Marthania Pratiwi.”

****

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part