web hit counter

Mengalahkan Gadis Bagian 2 Part 15

0
220

Mengalahkan Gadis Bagian 2 Part 15
Diversion

“Siap komandan! Mereka adalah, para Mata Angin.”

“Apa? Darimana kamu tahu kalau mereka adalah Mata Angin?”

“Mereka membawa bendera yang biasanya mereka tinggalkan sebagai jejak. Dan ada satu lagi yang lebih penting komandan.”

“Apa lagi?”

“Saya mengenali empat orang diantara mereka.”

“Empat orang? Siapa?”

Semua orang yang ada di tempat itu tiba-tiba saja merasakan sesuatu yang buruk. Mereka tegang menunggu jawaban dari petugas yang melapor itu, berharap jika jawaban yang keluar bukanlah sosok-sosok yang kini muncul di kepala mereka.

“Mereka adalah Yandi, Tanto, Maman dan Aris. Empat orang tahanan kita yang seharusnya sekarang berada di Nusakambangan,” seketika jawaban itu membuat mereka semua terkesiap. Bukan hal bagus sama sekali mendengar nama itu, bahkan terdengar buruk, sangat buruk.

“Jangan ngawur kamu. Mereka semua masih ada di Nusakambangan. Mereka dipindahkan dengan pengawalan ketat. Dan disana, sangat mustahil untuk bisa melarikan diri,” sang pimpinan kali ini tidak begitu mempercayai anak buahnya itu.

“Benar komandan. Tapi saya yakin sekali bahwa itu adalah mereka. Saya masih ingat wajah mereka, karena saya dulu juga ikut menangkap mereka.”

Kali ini sang pimpinan terdiam. Dia tidak ingin mempercayai anak buahnya itu, tapi kejadian munculnya kembali kelompok Mata Angin memang kemungkinan besar karena adanya keempat orang itu. Tapi bagaimana mungkin mereka bisa ada disini? Bukankah Nusakambangan adalah penjara dengan sistem keamanan terbaik di negeri ini? Bahkan seandainya pun mereka berhasil menerobosnya, mereka masih harus menyeberangi ganasnya laut selatan.

“Bagaimana selanjutnya komandan?” Arjuna yang sedari tadi diam tiba-tiba bertanya. Nampak oleh rekan-rekan yang lain bagaimana wajahnya seperti antusias mendengar laporan salah seorang petugas tadi. Dia seperti sedang melihat sebuah peluang untuk memulihkan nama baiknya.

“Hmm, kamu coba konfirmasi ke Nusakambangan, apakah keempat orang itu masih berada disana atau tidak. Dan juga siapkan beberapa intel terbaik kita untuk mencari informasi yang kaitannya dengan orang-orang yang katanya mirip dengan mereka itu.”

“Siap komandan!”

“Arjuna,” panggil sang pimpinan ketika Arjuna baru saja hendak melangkah pergi.

“Ya komandan?”

“Jika benar orang yang dilihat tadi adalah keempat orang itu, apa kamu siap untuk memimpin operasi penangkapan mereka?” tanya sang pimpinan yang membuat Arjuna terdiam sejenak, nampak sedang berpikir.

“Kalau diberi perintah, saya siap komandan!” jawab Arjuna tegas.

“Baiklah. Yang penting cari informasi dulu keberadaan mereka, termasuk seberapa besar kekuatan yang mereka punya, agar kita juga bisa menyiapkan personel kita. Jangan sampai kecolongan lagi. Peristiwa phantom robbery itu menunjukkan bahwa mereka orang-orang yang sangat cerdik, kita jangan sampai tertipu mentah-mentah lagi.”

“Siap komandan!”

Setelah mendapatkan instruksi, Arjuna pun segera memanggil beberapa orang untuk diberikan pengarahan. Untuk sementara mereka akan mengintai dulu, mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya tentang kelompok Mata Angin ini, sembari menyiapkan kekuatan personel, terutama membangkitkan lagi mental mereka yang sudah sangat jauh melemah. Kali ini mereka benar-benar harus menyiapkan semua dengan sebaik-baiknya, termasuk beberapa rencana cadangan bila sampai operasi mereka mengalami kendala.

Tak terasa waktu sudah lewat tengah malam dan suasana kantor sudah sangat sepi, semua petugas sudah pulang ke rumah masing-masing dengan perasaan yang sedikit lebih lega. Ya, mereka merasa seperti itu karena seperti menemukan sebuah petunjuk untuk segera mengakhiri semua kekacauan ini meskipun mereka tahu ini tidak akan mudah. Tapi paling tidak, kini harapan itu ada.

Dalam perjalanan pulang, seseorang yang selama ini menjadi musuh dalam selimut di lingkungan internal kepolisian nampak sedang menghubungi seseorang. Dialah yang selama ini memberitahukan semua langkah-langkah yang diambil pihak yang berwajib sehingga kelompok Mata Angin mengetahui celahnya, dan selalu bisa melakukan aksi mereka tanpa sekalipun bisa ditangkap.

“Halo, malam Boss.”
Ya malam. Ada kabar apa?

“Umpan sudah termakan, tinggal siapkan jaring.”
Hahaha, bagus. Bagus sekali. Baiklah, tetap beri kabar ke aku kapan mereka akan bergerak.
“Baik Boss.”

Sementara itu di tempat lain, orang yang menerima kabar dari oknum petugas yang berkhianat itu nampak tersenyum begitu lebar. Rencananya kini mulai memasuki tahap yang lebih ‘panas’ lagi. Permainan yang sebenarnya segera dimulai.

“Bagaimana Boss? Ada kabar?”

“Ya Dave, barusan dia mengabari kalau umpan yang kita sebar sudah mulai termakan, dan dia meminta kita untuk segera menyiapkan jaring,” ujar sang boss menjawab pertanyaan David.

“Jadi, kita siapkan jaringnya sekarang Bas?”

“Nggak, kita nggak akan pakai jaring,” Bastian menjawab pertanyaan dari Rio.

“Maksudmu,” tanya Rio tak mengerti, yang membuat Bastian tersenyum melihat mereka semua, Rio, David, Steve dan juga Tono.

“Kita akan main sedikit lebih keras. Kita siapkan petasan, kita akan membuat membuat tahun baru datang lebih awal,” ucapnya dengan santai, namun penuh dengan aura hitam yang begitu mengerikan. Akan tetapi aura hitam itu justru membuat keempat orang yang lainnya ikut tersenyum. Sudah tergambar di benak mereka apa saja yang akan mereka lakukan, untuk menyambut ‘pesta’ yang akan segera mereka gelar itu.

*****
Fitri baru saja melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Tadi dia pulang bersama Elsa dan 2 orang rekannya lagi, sementara itu mobilnya ditinggal di kantor. Setelah peristiwa perampokan pertama lebih dari sebulan yang lalu, memang sudah diinstruksikan oleh sang pimpinan bahwa mereka, terutama polwan, jika pulang malam harus diantar rekannya atau dijemput keluarganya, tidak boleh pulang sendirian. Hal ini untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

Karena memang sudah larut malam dan tak ingin mengganggu istirahat suaminya, Fitri memilih untuk pulang bersama dengan rekannya ketimbang harus minta dijemput oleh Marto. Ketika masuk ke dalam rumah ternyata Marto masih terjaga menonton TV menunggu istrinya pulang. Tentu saja dia tidak bisa tidur karena khawatir dengan kondisi istrinya, yang sedari tadi tidak bisa dihubungi.

“Papa belum tidur?” tanya Fitri kemudian menghampiri dan duduk di sebelah Marto.

“Belum Ma, nungguin Mama pulang. Tadi ditelpon nggak bisa-bisa soalnya, Papa jadi khawatir.”

“Iya Pa, tadi ponselnya mati habis baterai, lupa nggak bawa charger juga. Mau ngabarin pakai ponselnya Elsa, punya dia juga udah mati.”

“Oh gitu. Kok pulangnya malem banget ampe jam segini Ma? Ada apa emangnya tadi di kantor?”

“Wah kacau balau Pa di kantor tadi.”

“Kacau balau gimana?”

“Iya, tadi kan setelah seharian kita ngamanin demo di bank-bank itu, pas mau pulang malah ada kejadian yang nggak enak bener. Servernya kantor dibobol sama hacker yang tadi pagi ngebobol servernya bank-bank itu Pa.”

“Hah? Server di kepolisian bisa dibobol? Kok bisa Ma?”

“Iya bisa, lha yang bikin security system-nya dia juga, makanya gampang aja buat dia ngebobolnya Pa. Eh iya, terus tabungan kita yang di bank gimana Pa? Tadi Mama denger banyak banget nasabah bank yang kehilangan tabungan mereka, saldonya jadi nol semua.”

“Tenang aja Ma. Tabungan kita kan ada di banknya Budi, tadi Papa udah hubungi dia, dan dia bilang semua tabungan yang ada di banknya aman. Cuma di bank lain aja yang kejadiannya kayak gitu.”

“Wah syukur deh kalau aman. Nggak kebayang Pa kalau uang kita juga ludes, hehe.”

“Iya Ma untung aja kita nabungnya disana. Eh tapi, emang Mama tadi ngapain di kantor sampai pulangnya jam segini? Nggak ikut ngotak-atik server juga kan?”

“Ya nggak lah Pa, mana bisa Mama urusan kayak gitu. Jadi tadi tu, selain ngebobol server, hacker itu juga berhasil mengambil alih jaringan CCTV dan traffic light, terus dibikan kacau gitu. Ya akhirnya kita semua balik lagi turun ke jalan buat ngatur lalu lintas sampai tadi dirasa cukup aman kondisinya.”

“Wah pantesan. Tadi waktu pulang kok ngelihat traffic light-nya mati, terus ada polisi yang ngatur. Papa kira cuma disana aja, jadi di semua titik kayak gitu? Gila bener tuh penjahat.”

“Ada yang lebih gila lagi Pa.”

“Lha emang ada apa lagi Ma?”

“Tadi salah satu rekan yang kebagian ngatur di perempatan ring road selatan ketemu sama gerombolan Mata Angin. Untungnya sih gerombolan itu nggak bikin onar. Tapi tadi yang bikin kita kaget itu, diantara gerombolan itu ada Yandi, Tanto, Maman dan Aris.”

“Hah? Kok bisa? Lha mereka bukannya di Nusakambangan?”

Tentu saja Marto mengenali keempat orang itu. Dulu ketika dia masih berada di pihak yang salah, dia cukup akrab dengan keempatnya, yang masing-masing menjadi tangan kanan dari Mata Angin saat itu. Keempatnya dikenal sangat kejam dan tanpa belas kasihan, karena itulah selalu diberi tugas yang hubungannya dengan melenyapkan seseorang.

Marto cukup lega saat dulu keempat orang itu ditangkap karena berpotensi bisa menghidupkan lagi kelompok Mata Angin. Bahkan dia semakin lega saat beberapa waktu yang lalu mengikuti berita pemindahan mereka menuju ke Nusakambangan. Tapi mendengar istrinya menyebutkan bahwa keempatnya sudah berada di kota ini lagi, kekhawatiran yang lebih besar muncul di benak Marto.

“Yaa itu dia yang kita belum tahu Pa. Ini tadi baru dikasih instruksi buat ngirim intel, nyari informasi tentang mereka, sambil menyiapkan pasukan. Kalau nanti informasinya sudah jelas, baru dilakukan penangkapan Pa.”

“Hmm gitu. Yaa kalau memang benar mereka, semoga saja bisa cepat ditangkap, karena kalau nggak, mereka bisa bikin kekacauan yang lebih parah dari sekarang. Papa cukup kenal sama mereka Ma, mereka itu berbahaya. Kasih tahu sama teman-teman Mama, suruh mereka untuk bener-bener waspada, karena selain kejam, mereka berempat itu juga sangat licik.”

“Iya Pa, nanti coba Mama kasih tahu ke mereka.”

“Yaudah Mama mandi dulu terus ganti baju biar agak segeran badannya. Habis itu terus istirahat biar besok tetep fit.”

Fitri pun beranjak meninggalkan suaminya untuk mandi dan ganti baju. Tubuhnya yang begitu penat dan letih memang membutuhkan kesegaran sebelum nantinya beristirahat. Sedangkan Marto masih berada di tempatnya semula. Bukan melanjutkan menonton TV, namun kini otaknya tengah memikirkan apa yang baru saja diceritakan oleh istrinya tadi. Dia memiliki firasat yang sangat buruk mengenai hal ini.

Yandi, Tanto, Maman dan Aris yang seharusnya berada di penjara dengan tingkat keamanan terbaik sudah berada di kota ini, jika memang benar itu adalah mereka. Bagaimana caranya mereka bisa lolos dari sana? Dia sangat tahu kemampuan keempat orang itu, jika tanpa bantuan mereka tidak akan bisa meloloskan diri. Jika diberi bantuanpun, orang yang membantu itu sudah pasti memiliki kemampuan yang tidak bisa dianggap remeh.

Namun ada satu hal yang tiba-tiba mengusik pikiran Marto. Satu kemungkinan yang sebenarnya sangat kecil tapi masih bisa saja terjadi, meskipun itu harus dengan proses yang sangat rumit. Kemungkinan itu adalah, apakah sejak awal mereka berempat memang tidak penah dikirim ke Nusakambangan? Apakah sebenarnya, yang dikirim kesana adalah orang lain? Jika memang begitu, bagaimana mereka bisa melakukannya dengan mudah? Apakah ada orang-orang dalam yang membantu semua proses itu?

Jika benar apa yang diperkirakan oleh Marto, maka mereka sedang menghadapi sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Menghadapi musuh yang terlihat oleh mata itu sangatlah mudah. Namun menghadapi musuh tak terlihat, yang ternyata selama ini berada di dekat kita, akan menjadi hal yang sangat sulit. Fitri sudah pernah menceritakan kepadanya bahwa sang pimpinan sudah mencurigai adanya hal itu, namun setelah dilakukan penyelidikan secara mendalam dan penuh kerahasiaan, tidak ada ditemukan bukti mengenai hal itu.

Tapi Marto sangatlah meyakini ada pihak-pihak yang telah berkhianat, entah itu dari pihak kepolisian, atau mungkin pihak petugas rumah tahanan kota ini, atau bahkan mungkin juga petugas di Nusakambangan sana. Entah mana yang benar, tapi Marto sendiri juga harus bersiap untuk menghadapinya. Dia sendiri juga punya urusan dengan wanita yang tempo hari menemuinya itu. Semua serba terlihat rumit, namun bagi Marto, perlahan tapi pasti sebuah benang merah mulai dapat dia lihat.

“Pa, ayo tidur, udah jam segini lho,” lamunan Marto dibuyarkan oleh panggilan istrinya. Dia hanya mengangguk tersenyum, kemudian mematikan TV lalu berjalan menuju kamar menyusul istrinya yang sudah berbaring di tempat tidur mereka.

“Oh iya Ma, ada sesuatu yang pengen Papa omongin sama Mama.”

“Harus sekarang ya Pa?” tanya Fitri yang sebenarnya sudah sangat lelah, namun belum terlalu mengantuk.

“Iya, ini harus secepatnya, biar semuanya menjadi jelas.”

“Emang soal apa sih Pa?” Fitri memiringkan badannya menghadap suaminya itu. Marto menatap lekat mata istrinya.

“Soal Yani dan Zainal.”

*****
Sudah hampir seminggu sejak kemunculan empat orang yang diduga mirip dengan tahanan yang seharusnya berada di Nusakambangan. Selama itu pula pihak keamanan masih disibukkan oleh demo para nasabah bank yang belum juga mendapat penjelasan yang memuaskan. Selain itu juga mereka masih harus mengatur lalu lintas yang mulai semrawut karena traffic light masih belum bisa digunakan.

Selain itu juga beberapa personel yang tergabung dalam satuan khusus sedang dipersiapkan secara rahasia dengan pengawasan langsung dari sang pimpinan untuk upaya penangakapan para penjahat yang tergabung dalam kelompok Mata Angin itu. Sudah lumayan banyak informasi yang diperolah dari intel yang menyebar beberapa hari ini, termasuk dimana tempat yang mereka jadikan sebagai markas.

Sebuah bangunan tua berlantai 7 yang sudah lama kosong, berada tak jauh dari ring road selatan. Akses menuju bangunan itu sangat terbatas, itupun selalu dijaga selama 24 jam oleh orang-orang bersenjata. Para intel memastikan bahwa orang-orang yang berada di dalam gedung itu adalah anggota kelompok Mata Angin karena beberapa kali sempat melihat atribut sebuah bendera dengan logo kelompok tersebut.

Meski sudah mengetahui lokasi persembunyian para penjahat itu, polisi tidak ingin terburu-buru dalam bertindak. Mereka ingin benar-benar memastikan segalanya agar peristiwa phantom robbery tidak sampai terulang lagi. Selain itu mereka juga sedang menakar kekuatan sebenarnya dari musuh untuk mempersiapkan kekuatannya sediri dalam operasi nanti, kalaupun terpaksa harus berakhir dengan baku tembak.

Namun mereka belum bisa memastikan bahwa keempat orang yang dilaporkan mirip dengan Yandi, Tanto, Maman dan Aris itu adalah benar-benar mereka. Hal ini karena Arjuna sudah menghubungi pihak Nusakambangan, dan mendapatkan kepastian bahwa mereka berempat masih berada disana, masing-masing menempati sebuah sel yang cukup terisolasi dengan tingkat keamanan maksimal.

Terlebih lagi para intel yang disebarpun, meskipun sudah bisa memastikan lokasi kelompok Mata Angin, namun belum ada satupun yang memberi laporan bahwa mereka melihat orang-orang yang dicugai sebagai Yandi dan teman-temannya itu. Sementara itu petugas yang melaporkan kejadian malam itu bersikeras kalau yang dilihat adalah benar keempat orang itu karena merasa benar-benar hapal dengan wajah dan perawakan mereka.

Arjuna sendiri sepertinya sedang sangat fokus untuk menghadapi kasus ini. Dia terlihat sangat antusias jika ada laporan atau perkembangan baru yang hubungannya dengan rencana penangkapan kelompok Mata Angin. Sepertinya dia ingin sekali memanfaatkan peluang itu untuk memperbaiki nama baiknya yang telah tercoreng karena peristiwa phantom robbery. Paling tidak itulah yang dilihat dari para anak buahnya. Wajahnya yang sempat terlihat seperti orang yang depresi kini memancarkan aura yang penuh gairah dan semangat. Dia begitu fokus akan hal ini sampai-sampai tidak peduli dengan yang lainnya, termasuk Fitri dan Elsa.

Perubahan sikap dari Arjuna ini memang membuatnya tak pernah lagi menyentuh mereka berdua. Hal terakhir yang dilakukan adalah ketika Arjuna meminta Elsa melayani dengan mulutnya beberapa saat setelah dia mengawasi proses pemindahan tahanan. Setelah itu tak pernah lagi, bahkan berinteraksi dengan keduanya pun juga sangat jarang. Setelah peristiwa phantom robbery itu, bahkan belum sekalipun Arjuna menyapa, kalau belum disapa oleh mereka terlebih dahulu.

Meskipun merasa lega karena tak harus lagi merelakan tubuhnya untuk melayani sang atasan, namun hal ini juga semakin menimbulkan tanda tanya di diri mereka berdua. Perubahan yang terjadi pada Arjuna terlalu drastis bagi mereka. Mereka mulai mencari-cari, apakah selama ini yang mereka lakukan ini sebenarnya salah? Saat sedang terdiam merenung tiba-tiba mereka dikagetkan oleh sang pimpinan yang tiba-tiba memanggil beberapa orang petinggi di kantor itu. Terlihat mereka memasuki ruang rapat, dan kemudian pintunya ditutup rapat.

Semua orang yang melihatnya nampak bertanya-tanya, kira-kira apa yang akan dibahas karena ini diluar dari jadwal rapat rutin mereka. Masing-masing punya prediksi sendiri, namun semuanya mengarah kepada operasi penangkapan kelompok Mata Angin. Sepertinya pelaksanaan operasi itu tinggal sebentar lagi. Mendadak muncul ketegangan di dalam diri mereka. Meskipun bukan termasuk personel yang akan ikut, namun membayangkannya saja sudah membuat mereka merinding, memikirkan apa yang akan terjadi nanti.

Dan benar saja, rupanya sang pimpinan mengumpulkan para petinggi untuk membicarakan waktu pelaksanaan operasi itu. Arjuna sebagai penanggung jawab operasi itu dimintai keterangan tentang informasi yang telah berhasil dikumpulkan dari para intel yang telah beberapa hari ini disebar.

“Arjuna, tolong sampaikan laporan dari para intel yang kamu sebar kemarin.”

“Baik komandan. Informasi yang didapat adalah yang pertama, kita sudah mengetahui lokasi persembunyian mereka. Kita telah memetakan bagaimana akses menuju kesana dan juga bagaimana kondisi di sekitar tempat itu. Untuk aksesnya, hanya ada 1 jalan melalui gerbang depan, selebihnya gedung itu dikelilingi oleh tembok tebal setinggi kurang lebih 3 meter.”

“Kondisi gerbang itu selalu dijaga selama 24 jam oleh beberapa orang bersenjata. Mereka membagi giliran jaga menjadi 4 shift, bergantian setiap 6 jam sekali. Setiap shift jaga, ada sekitar 10 orang. Selama beberapa hari ini diintai tidak ada aktivitas keluar masuk di tempat itu, jadi kita perkirakan minimal ada 40 orang yang berada di dalam gedung itu.”

“Tidak adanya aktivitas ini, kita bisa simpulkan bahwa di dalam gedung itu sudah menyimpan bahan logistik yang cukup banyak untuk memenuhi kebutuhan mereka. Tapi kami prediksikan, bahwa mereka bahwa mereka membeli, atau mungkin merampok bahan logistik itu seminggu sekali. Jika terakhir kali mereka beraksi adalah ketika kita petugas kita melihatnya tempo hari, maka mereka akan beraksi lagi besok.”

“Hmm, jadi menurutmu besok akan ada aktivitas di tempat itu?” tanya sang pimpinan memotong penjelasan Arjuna.

“Benar komandan, itu prediksi kami. Jika besok ada aktivitas, saya rasa itu adalah saat yang tepat untuk melaksanakan operasi ini.”

“Menurutmu, berapa lagi kira-kira jumlah mereka yang ada di dalam sana? Kecuali ke-40 orang yang berjaga itu?”

“Jika melihat kapasitas gedung itu, rasanya akan cukup banyak komandan, mungkin 150-200 orang.”

“Lalu jumlah personel yang sudah kamu siapkan?”

“Saat ini kami menyiapkan 120 personel. 80 personel di garis depan, 40 untuk melindungi dari belakang.”

“Apa cukup dengan jumlah segitu?”

“Kalau menurut saya sudah cukup komandan. Karena mereka adalah anggota terbaik yang kita punya, orang-orang terpilih dengan kemampuan yang sudah teruji, dan juga ditunjang dengan kelengkapan persenjataan kita. Kalau dari laporan intel, para penjahat yang ada disana meskipun dilengkapi dengan senjata tapi itu hanya untuk penyerangan, bukan untuk pertahanan.”

“Lagipula kemungkinan mereka bukanlah orang-orang yang mendapat pelatihan militer seperti personel kita, jadi saya rasa meskipun kalah jumlah, tapi kita unggul dari segi kemampuan. Dan lagi, jika besok mereka mengadakan aktivitas, sudah pasti jumlah mereka akan lumayan berkurang. Itu menurut saya dan tim, jika ada masukan dari komandan ataupun yang lainnya, silahkan disampaikan, kami akan pertimbangkan semuanya.”

Mereka terdiam sejenak menelaah perkataan dari Arjuna. Memang benar, meskipun kalah jumlah, tapi kemungkinan secara kemampuan mereka masih unggul. Ditambah lagi berkurangnya anggota mereka untuk beraksi, menjadi saat yang tepat untuk bisa memberi mereka pelajaran.

“Lalu jika ada yang meninggalkan gedung itu untuk beraksi, apa yang kamu rencanakan untuk mereka?”

“Saya sudah perintahkan para intel untuk mengikuti jika ada anggota mereka yang meninggalkan gedung, dan segera mengabari kemana dan aksi apa yang mereka jalankan. Untuk itu harus ada personel yang disiagakan disini. Begitu mendapat laporan, segera menuju ke tempat tersebut untuk melakukan penangkapan. Kalaupun tidak ada aktivitas keluar, personel yang siaga disini bisa nanti membantu kami jika kami mengalami kesulitan.”

“Hmm, saya rasa rencana itu sudah cukup bagus. Bagaimana menurut yang lain?” tanya sang pimpinan sambil mengedarkan pandangan ke arah petinggi-petinggi yang lain. Semuanya pun mengangguk tanda memberi persetujuan untuk rencana yang disampaikan oleh Arjuna.

“Apakah kondisi sekitar aman untuk dilakukan operasi?” tanya sang pimpinan kepada Arjuna.

“Aman komandan. Jarak dengan pemukiman terdekat adalah sekitar 1 km. Untuk ini saya minta bantuan agar ada yang bertugas untuk menahan baik itu warga maupun wartawan yang ingin menyaksikan dari dekat. Karena kemungkinan kita akan mengadakan baku tembak, mereka harus tetap berada di jarak yang aman untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.”

“Baiklah. Saya putuskan besok adalah pelaksanaan operasi ini. Arjuna, segera persiapkan personelmu. Saya beri kamu wewenang penuh untuk operasi ini, termasuk kalian diijinkan untuk menyerang terlebih dahulu. Tapi usahakan sebanyak mungkin yang ditangkap dalam keadaan hidup untuk kita proses dan dimintai keterangan.”

“Siap komandan. Saya sendiri yang akan memastikan operasi ini berhasil,” ucap Arjuna berapi-api.

Setelah mengatur semuanya, rapatpun berakhir. Satu persatu dari mereka meninggalkan ruang rapat dengan wajah yang lebih cerah dari sebelumnya. Terlebih ketika Arjuna keluar, nampak begitu bersemangat. Dia kemudian berlalu untuk menemui para personel yang akan dibawanya untuk melaksanakan operasi esok hari. Saat melewati meja Fitri dan Elsa, nampak terlihat dia sedikit melirik pada kedua wanita itu, sambil sedikit tersenyum. Orang lain melihat itu sebagai tanda antusiasme Arjuna akan tugas ini. Namun entah kenapa, Fitri dan Elsa justru memiliki firasat yang buruk, sangat buruk.

*****
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali di halaman belakang markas besar kepolisian kota, nampak sudah ada 120 personel berbaris dengan rapi. Mereka sudah memakai perlengkapannya mulai dari rompi anti peluru hingga penutup kepala. Tak lupa senjata juga sudah menempel di badan mereka. Para personel ini dibagi menjadi 6 kelompok dengan dipimpin oleh satu komandan regu (danru). Empat kelompok sebagai tim penyerbu, sisanya berada di belakang sebagai tim pelindung.

Pagi ini mereka menerima pengarahan terakhir dari Arjuna sebelum berangkat melaksanakan operasi penyergapan kelompok Mata Angin. Arjuna sendiri juga akan ikut meskipun hanya akan berada bersama dengan tim pelindung, namun rasanya sudah cukup untuk bisa mengawasi jalannya operasi, bahkan memberikan instruksi langsung. Semuanya terlihat begitu bersemangat saat mendengar arahan Arjuna yang mengatakan bahwa ini adalah saat yang tepat untuk memulihkan nama baik mereka. Apalagi salah satu poin arahan Arjuna adalah, diperbolehkan untuk menyerang terlebih dahulu, namun diharapkan menyisakan beberapa untuk ditangkap hidup-hidup.

Selain tim yang dipimpin oleh Arjuna ini, di tempat yang lain juga sedang diberikan pengarahan sebuah tim yang beranggotakan kurang lebih 50 personel. Tugas dari tim ini adalah mengisolasi lokasi penyergapan agar tidak sampai ada warga maupun wartawan yang mendekat karena operasi ini berpotensi besar terjadi baku tembak.

Karena hari masih terlalu pagi, selain mereka belum ada lagi yang datang ke kantor selain petugas piket. Mereka memang sengaja berangkat pagi-pagi sekali agar seminimal mungkin menarik perhatian warga. Selain itu, dengan melakukan sergapan disaat-saat seperti ini, kemungkinan akan lebih mudah karena para penjahat itu pasti masih tertidur. Semua sudah direncanakan dengan sangat matang, dan kini mereka sudah siap untuk berangkat. Keberangkatan tim ini akan diangkut dengan menggunakan beberapa truk yang sengaja disewa dari pihak luar, agar tidak terlalu menarik perhatian, juga untuk menghindarkan kecurigaan apabila ada anggota kelompok Mata Angin yang sedang berkeliaran.

Tim pengisolasi lokasi penyergapan berangkat terlebih dahulu dengan menggunakan 2 buah truk, sedangkan tim penyergap berangkat 10 menit kemudian, rentang waktu yang dirasa cukup untuk memberikan kesempatan tim pertama melakukan tindakan isolasi. Perjalanan mereka memakan waktu kurang lebih setengah jam karena memang kondisi jalanan yang masih sepi.

Sesampainya di lokasi yang telah ditentukan, setelah mendapat kode dari tim isolasi, tim penyergap pun turun dan menyebar seperti yang telah direncanakan. Mereka menunggu sesaat untuk memastikan akan ada aktivitas di gedung itu atau tidak. Dan ternyata, tak lama kemudian terlihat pintu gerbang gedung itu terbuka, lalu keluar 2 buah mobil box berwarna hitam.

Arjuna langsung memberikan perintah kepada para intel untuk mengikuti mereka dengan berhati-hati, namun melarangnya langsung melakukan tindakan. Dia menyuruh para intel itu menunggu sampai benar-benar mereka yang berada di dalam mobil box itu beraksi, baru memanggil bantuan yang sudah bersiaga untuk menangkapnya.

Setelah menunggu sekitar 15 menit dan memastikan kedua mobil itu sudah cukup jauh dari lokasi gedung ini, Arjuna pun menginstruksikan anak buahnya untuk mulai bergerak. Arjuna juga meminta kepada anak buahnya itu untuk sangat berhati-hati dan benar-benar memperhatikan keadaan sekitar. Dia teringat dengan pesan Fitri yang kemarin menemuinya. Fitri mengatakan bahwa menurut Marto, suaminya, orang-orang yang menjadi sasaran mereka ini sangatlah licik dan kejam.

Arjuna tentu mengenal siapa Marto. Dia tahu kalau dulu Marto pernah berada di pihak orang-orang itu, sehingga kemungkinan Marto mengenal baik sifat dan kemampuan mereka. Bahkan dulu sebenarnya Arjuna sempat ingin menangkap Marto, namun karena jasanya yang besar kepada keluarga Wijaya, semua catatan kriminal Marto diputihkan, dan sampai sekarang dia menjadi orang baik, tak pernah berbuat apapun yang melanggar hukum.

Perlahan tapi pasti kini anak buah Arjuna semakin mendekat ke pintu gerbang. Sebentar lagi jam 6, waktunya mereka berganti shift. Mereka akan menunggu beberapa saat setelah pergantian shift itu dengan memperkirakan bahwa yang menggantikan masih belum terlalu fokus, dan yang digantikan dalam keadaan lengah dan mengantuk.

Setelah menunggu akhirnya terdengar beberapa orang bercakap-cakap, seperti sedang bertukar informasi sebelum mereka bergantian jaga. Setelah 5 menit, regu pertama dan kedua bergerak perlahan mendekat pintu gerbang. Tiga orang dari mereka menempelkan beberapa buah bahan peledak di pintu itu, sedangkan sisanya bersiaga untuk langsung menghujani para penjaga itu dengan tembakan. Setelah terpasang, ketiga orang itu mundur pada jarak yang aman, sedangkan seseorang yang memegang detonator nampak bersiap, memberikan aba-aba kepada semuanya untuk memakai masker pelindung mereka.

BLAAAAAARRRRRR

Pintu gerbang itu hancur berantakan saat bom itu meledak. Serta merta para polisi yang sudah bersiap tadi bergerak masuk dengan cepat. Terdengar rentetan tembakan dan teriakan di tengah kepulan asap bekas ledakan tadi. Namun tak berlangsung lama, sepertinya para penjaga itu berhasil dilumpuhkan.

“Gerbang aman, regu tiga dan empat masuk.”

Terdengar komandan regu satu memberikan aba-aba melalui radio. Serempak regu tiga dan empat yang sudah menunggu ikut masih ke dalam area gedung. Mereka berpencar dari empat penjuru, mengepung gedung itu, lalu mencari lokasi yang aman jika terjadi serangan balasan. Terdengar keributan dari dalam gedung, nampaknya para penjahat yang terkejut dengan ledakan dan rentetan tembakan tadi sedang menyiapkan senjata mereka dan bersiap membalas.

Tanpa diduga oleh para polisi, para penjahat menembakan senjatanya dengan membabi buta melalui celah-celah di gedung itu, seperti pintu maupun jendela yang sudah tidak ada kacanya. Polisi dengan sigap segera berlindung, beberapa bernasib sial terkena tembakan di tangan ataupun kakinya, namun tidak sampai berakibat fatal.

Masing-masing komandan regu masih mengamati sebelum membalas serangan itu. Tembakan dari para penjahat yang dilakukan dengan membabi buta ini tentu membuat mereka sulit untuk bergerak. Melihat hampir tidak ada celah untuk mencoba masuk, para komandan regu ini memerintahkan anak buahnya untuk menembakkan bom asap melalui jendela yang terbuka, berharap serangan mereka bisa sejenak terhenti dan memberikan waktu bagi para polisi ini untuk merangsek masuk.

Melalui aba-aba dari komandan regu satu, penembak bom asap dari masing-masing regu menembakkan secara bersamaan. Dengan cepat terlihat asap mulai mengepul dengan pekatnya di lantai 1. Suara tembakan dari dalam gedung terhenti, dan terdengar keributan dari sana.

“Naik! Naik! Naik!”

Sepertinya para penjahat itu berlarian untuk naik ke lantai 2. Komandan regu segera memimpin anak buahnya untuk merangsek memasuki gedung. Dengan sangat berhati-hati, begitu masuk mereka langsung mencari tempat persembunyian kalau-kalau masih ada penjahat disitu dan melepaskan tembakan lagi.

Setelah keempat regu masuk, arjuna memerintahkan regu lima dan enam untuk mendekat, namun tetap menjaga jarak dan mencari tempat yang aman dari kemungkinan adanya tembakan dari lantai-lantai atas gedung itu. Sementara itu di dalam gedung, nampaknya sudah tidak ada lagi penjahat yang berada di lantai 1, hanya tersisa beberapa senapan mesin yang ditinggalkan begitu saja. Mereka sempat heran juga, bagaimana para penjahat ini bisa memiliki senapan mesin sejumlah ini, dan pastinya masih lebih banyak lagi di lantai atas. Karena itulah mereka semakin meningkatkan kewaspadaannya.

Masing-masing komandan regu kemudian berkoordinasi dengan menggunakan kode. Ada dua buah tangga penghubung antar lantai disitu. Regu satu dan dua akan bergerak ke lantai 2, sedangkan regu tiga dan empat mem-back up. Regu satu naik dari tangga pertama dengan back up dari regu tiga, sedangkan regu dua naik dari tangga kedua dengan back up dari regu empat. Sebelum baik, kembali mereka menembakkan bom asap lagi melalui tangga itu. Sempat direspon dengan tembakan membabi buta lagi, namun setelah asap kian pekat terdengar lagi keributan dari lantai 2.

“Asap lagi, asap lagi, ayo cepat naik!”

Setelah tak ada lagi tembakan, regu satu dan dua naik. Mereka sempat melihat beberapa orang yang terlambat naik ke lantai 3 dan langsung saja menembakinya. Setelah memastikan kondisi aman, regu tiga dan empat segera naik dan langsung menuju lantai 3, sementara regu satu dan dua menjadi back up mereka. Sama seperti sebelumnya, mereka menembakkan bom asap dulu sebelum naik.

Hal seperti ini terus berjalan hingga akhirnya semua regu berada di lantai 5. Para polisi ini semakin bersemangat karena telah berhasil naik sampai kesini dan telah menghabisi beberapa penjahat. Mereka tak menghitungnya, namun kira-kira ada 20an orang penjahat yang berhasil mereka bereskan. Jumlah yang tentunya sangat sedikit dibandingkan dengan perkiraan, sehingga mereka berpikir bahwa sisanya dari orang-orang ini berada di lantai 6 dan 7.

Para polisi ini tidak ingin gegabah karena mereka tahu akan kalah jumlah. Hal yang konyol jika hanya dua regu saja yang naik terlebih dahulu seperti sebelumnya. Mereka mengatur siasat sejenak hingga akhirnya memutuskan untuk naik bersamaan. Arjuna yang memantau semua itu melalui radio juga menyetujui rencana itu.

Kemudian mereka menembakkan bom asap melalui celah di tangga. Terdengar suara keributan yang tidak jelas dari lantai 6, dan saat itulah keempat regu ini bergerak bersamaan. Rupanya di lantai 6 ini masih tersisa sekitar 10an orang yang memegang senapan mesin. Mereka juga dilengkapi dengan rompi anti peluru dan juga masker pelindung.

Tak pelak baku tembakpun tak terhindarkan lagi. Beberapa polisi mendapatkan luka tembak di kaki dan tangannya, namun mereka juga membalasnya dengan tak kalah membabi buta. Akhirnya satu persatu penjahat itu berhasil dilumpuhkan dengan semuanya tertembak di bagian kepalanya. Namun sayangnya, dari pihak kepolisian juga jatuh korban jiwa sebanyak 4 orang yang kondisinya sama, tertembak di kepala.

Melihat ini tentu saja menyulut kemarahan dari rekan-rekannya yang lain. Jika saja tidak ada komandan regu yang memberi perintah, pasti mereka akan menyerang dengan membabi buta ke lantai 7, yang tak lain adalah lantai paling atas di gedung ini. Namun kembali mereka berpikir bahwa, jika sampai dengan lantai 7 mereka baru bisa menghabisi sekitar 30 orang, itu artinya semua yang tersisa berada di lantai 7 itu.

Entah berapa pun jumlah para penjahat itu, namun para polisi mulai berpikir bahwa yang mereka hadapi tidaklah sebanyak yang diperkirakan, dan ini akan jauh lebih mudah. Kepercayaan diri para polisi ini sekarang meningkat drastis, mereka sangat yakin akan mengakhiri pertempuran ini dengan kemenangan. Meskipun begitu, para komandan regu tidak ingin mereka lengah yang nantinya bisa menyebabkan korban yang lebih banyak lagi.

Mereka berdiskusi agak lama dari sebelumnya untuk menentukan strategi seperti apa yang akan digunakan di lantai 7 nanti. Semua pilihan strategi ini nantinya akan menyebabkan hal yang sama, yaitu kemungkinan mereka harus membunuh semua penjahat itu, sementara pimpinan mereka menghendaki ada yang ditangkap hidup-hidup untuk dimintai keterangan terkait dengan kelompok Mata Angin ini.

Namun dalam kondisi baku tembak yang tidak menentu, dan kemungkinan semua penjahat itu membawa senjata, satu-satunya cara untuk melumpuhkan mereka adalah dengan menembak mati. Terjadi perdebatan singkat diantara komandan regu namun segera ditengahi oleh Arjuna yang berkomunikasi menggunakan radio.

Sudah kalian jangan bingung, saya baru saja mendapat instruksi dari pimpinan, kalau memang harus, habisi mereka semua.”

Setelah mendapat instruksi itu, semua anggota regu pun menyunggingkan senyumnya. Dendam karena 4 orang rekannya tewas dalam baku tembak tadi, juga dendam akibat begitu dipermalukannya mereka oleh kelompok Mata Angin, membuat keinginan mereka membalas semakin besar. Tatapan mereka penuh dengan semangat, tidak sedikit yang sampai menggenggam keras senjatanya, tak sabar untuk segera bertindak.

Setelah sejenak mengatur formasi, mereka yang bertugas menembakkan bom asap segera mengambil posisi. Begitu mendapatkan aba-aba, bom asap langsung ditembakkan. Namun tidak ada suara berisik seperti sebelumnya, nampaknya kali ini para penjahat sudah lebih siap. Mengetahui hal itu para komandan regu meminta anak buahnya untuk semakin berhati-hati.

Dengan aba-aba yang bersamaan, mereka semua bergerak dengan cepat menuju lantai 7. Mereka semua langsung mengambil tempat dan bersikap siaga. Tidak ada tembakan apapun dari para penjahat, nampaknya mereka sedang saling menunggu untuk melakukan serangan. Lantai 7 ini agak berbeda dengan lantai-lantai sebelumnya. Jika sebelumnya berupa sebuah ruangan besar tanpa ada pemisah dan barang-barang di dalamnya, di lantai 7 ini terdapat banyak partisi.

Mereka harus berhati-hati dengan kondisi ini. Kemungkinannya para penjahat juga bersembunyi di balik partisi-partisi itu dan bersiap untuk menyerang kapan saja. Suasana semakin menegang, detak jantung para polisi ini semakin cepat. Namun setelah menunggu beberapa saat, sama sekali tidak ada pergerakan dari para penjahat itu. Hal ini tentu saja membuat para polisi itu bingung.

NGIIIIIIIIIIIIIING

Tiba-tiba saja mereka dikejutkan oleh suara yang cukup memekakkan telinga. Para polisi ini saling pandang, mencoba mencari tahu suara apa itu, namun masing-masing dari mereka hanya menggelengkan kepala atau mengangkat bahunya, tanda bahwa mereka sama-sama tidak tahu.

Wah wah wah, banyak juga ya ternyata yang datang. Selamat datang bapak-bapak polisi yang terhormat, sudah lama saya menunggu kehadiran kalian.”

Bersamaan dengan itu terdengar suara seorang pria. Suara ini terdengar dari beberapa speaker yang berada di lantai itu. Para polisi itu bingung, mereka tidak mengira bahwa speaker-speaker itu aktif. Dan lebih bingung lagi, siapa yang sedang berbicara itu. Bagaimana dia bisa mengetahui kalau ada banyak polisi di tempat itu. Kembali mereka saling bertatapan, meskipun dengan wajah tertutup masker, namun terlihat sekali bahwa mereka kebingungan.

Hahaha, menyenangkan sekali melihat kalian kebingungan seperti ini. Tapi saya heran, kenapa bisa-bisanya kalian sampai ke lantai 7 ini? Apa yang kalian cari?

Arjuna yang juga mendengarnya melalui radio, nampak tersentak, seperti menyadari sesuatu. Wajahnya menjadi pucat, hal ini terlihat jelas oleh para anak buahnya di tim lima dan enam. Melihat wajah pucat Arjuna, mendadak perasaan merekapun menjadi tidak enak.

“Gawat. Nggak bener ini. Danru, cepat bawa semua anggota turun. Ini jebakan,” teriak Arjuna melalui radio komunikasinya, namun tak ada jawaban dari seorangpun yang berada di dalam.

“Danru 1, Danru 2, siapa saja yang dengar, cepat kalian semua turun!”

Kembali tak ada respon dari dalam, padahal dia dapat mendengar dengan jelas apa yang terjadi di dalam gedung. Bukan hanya Arjuna, tapi komandan regu lima dan enam, serta beberapa anggota regu yang memiliki radio juga bisa mendengarnya, tapi kenapa bisa tidak ada yang merespon?

Saya benar-benar tidak menyangka, tidak ada satupun dari kalian yang menyadarinya. Kalian pikir siapa yang menembak di lantai 1 tadi? Orang? Hahaha. Senapan mesin itu saya kendalikan dari jauh. Dan kalian memperkirakan orang-orang di dalam gedung ini berjumlah ratusan? Hahaha, bahkan semuanya sudah mati kalian tembaki tadi.

Kembali terdengar suara dari speaker di dalam gedung. Tentu saja hal ini membuat para polisi baik yang di dalam maupun yang di luar gedung terkejut.

Jangan terkejut begitu. Saya bisa melihat semua yang kalian lakukan sedari tadi. Apa kalian juga tidak menyadari sama sekali bahwa di gedung ini penuh dengan kamera?

Sekali lagi mereka tersentak. Saking semangatnya mereka memburu penjahat bahkan mereka tidak bisa menyadari hal itu. Setelah diberitahu baru mereka mengedarkan pandangannya, dan benar saja, di beberapa titik ada kamera dengan lampu yang menyala, tanda bahwa kamera-kamera itu aktif.

“Danru, semuanya, cepat keluar dari gedung itu!”

Di luar gedung, kembali Arjuna berteriak memberikan instruksi melalui radio, namun kembali tidak ada respon dari dalam. Entah apa yang terjadi dengan radio mereka.

“Brengsek. Harus ada yang memperingatkan mereka,” tiba-tiba saja Arjuna yang membawa senjata lengkap itu berlari masuk ke dalam gedung tanpa sempat di cegah oleh yang lainnya.

“Komandan tunggu, jangan masuk, bahaya!” teriak komandan regu lima dan enam bersamaan.

Namun terlambat, Arjuna sudah masuk ke dalam gedung itu. Baru saja para anggota regu lima dan enam hendak menyusul, terdengar rentetan tembakan dari senapan mesin yang ada di lantai satu, diikuti dengan sebuah teriakan yang mereka kenali sebagai suara Arjuna. Semua anggota regu lima dan enam beserta komandannya terdiam, membayangkan kengerian yang baru saja dihadapi Arjuna.

Seketika mereka dihinggapi ketakutan yang teramat sangat. Takut untuk masuk dan memperingatkan rekan-rekannya yang sudah berada di lantai 7, karena ternyata senapan mesin yang berada di lantai 1 masih aktif, dan siap menembak kapan saja jika ada yang memasuki gedung itu. Nyali mereka menciut seketika. Mereka hanya terdiam, menunggu apa yang akan terjadi.

Sementara itu di dalam gedung di lantai 7, para polisi ini nampaknya sudah menyadari apa yang terjadi. Para komandan regu segera memerintahkan anak buahnya untuk secepatnya turun dan keluar dari gedung. Namun.

Kalian tak perlu repot-repot keluar dari gedung ini. Karena di seluruh bagian dari gedung sudah dipasangi bom. Dan saya akan mulai menyalakannya berurutan dari lantai 1, dengar baik-baik.”

BLAAAAAAARRRRRR

Gedung ini serasa bergetar bersamaan dengan bunyi ledakan tadi. Kini para polisi yang berada di dalam gedung itu dihinggapi ketakutan yang teramat sangat. Mereka tahu, setelah ini akan diledakkan lantai 2, lantai 3 dan seterusnya hingga ke tempat mereka sekarang. Sudah tidak lagi bisa turun, jalan satu-satunya adalah melompat. Tapi, melompat dari lantai 7? Itu sama saja dengan bunuh diri karena dibawah sana adalah lantai beton, bukan kolam renang atau apapun yang bisa menyelamatkan mereka. Lagipula, setelah dilihat lagi, semua jendela di lantai 7 ini telah dipasang teralis, tidak mungkin untuk dijebol.

Sementara itu, para polisi yang berada di luar gedung nampak begitu terkejut dengan ledakan yang mereka lihat. Ledakan itu memiliki daya yang cukup hebat, cukup untuk membuat nyawa mereka terpisah dari tubuhnya. Dari apa yang terdengar di radio, mereka seolah sedang menantikan bagaimana teman-temannya di dalam gedung sedang menunggu ajal, tanpa bisa berbuat apapun.

BLAAAAAAARRRRRR
BLAAAAAAARRRRRR
BLAAAAAAARRRRRR
BLAAAAAAARRRRRR

Empat ledakan berturut-turut mengguncang gedung itu. Lantai 2, 3, 4 dan 5. Kini hanya tersisa lantai 6 dan 7, yang mereka tahu tak lama lagi akan mendapatkan gilirannya.

Bagaimana bapak-bapak? Sudahkah kalian cukup merasa ketakutan? Kalau belum, saya dekatkan lagi ajal kalian.

BLAAAAAAARRRRRR

Bom di lantai 6 pun kini juga telah meledak, dan para polisi yang berada di lantai 7 ini benar-benar bisa merasakannya. Ketakutan mereka kini sudah sampai pada puncaknya. Semua doa-doa yang mereka tahu sedang dirapalkan. Banyangan tentang keluarga mereka, semua yang mereka punya kini seperti hadir di depan mata. Hampir semuanya menangis, pasrah dengan keadaan ini, menunggu malaikat maut menjemput mereka.

Jadi, sudah siap untuk pergi bapak-bapak? Apakah ada pesan terakhir untuk keluarga kalian? Ah iya, keluarga kalian ya. Tenang saja, setelah kepergian kalian, kami akan menjaga mereka. Akan kami perlakukan dengan sebaik-baiknya istri dan anak gadis kalian. Anggota kami masih banyak yang membujang, mereka pasti tidak akan menolaknya, hahaha.

Baiklah bapak-bapak, semoga tidur kalian nyenyak, sampai jumpa di neraka.

BLAAAAAAARRRRRR

Para polisi yang berada di luar gedung langsung jatuh terduduk. Hati mereka hancur, melihat rekan-rekan mereka terbunuh dan mereka tak bisa berbuat apa-apa. 84 orang, ditambah seorang Arjuna, tewas sia-sia dalam menjalankan tugas yang sempat mereka kira akan berhasil dengan mudah. Namun kenyataannya malah sebaliknya.

Kembali mereka dipermalukan oleh kelompok Mata Angin. Setelah sebelumnya mereka dipermalukan secara psikis lewat phantom robbery, kini mereka dipermalukan secara fisik, dengan begitu kejamnya. Kemarahan yang begitu luar biasa menggelegak di dalam diri mereka, dendam mereka membara terhadap kelompok Mata Angin. Namun secara bersamaan, perasaan takut yang teramat sangat juga mendatangi mereka.

Ketakutan akan terjadinya hal yang sama kepada mereka di kemudian hari. Ketakutan melihat besarnya kemampuan lawan yang sama sekali tak bisa mereka kalahkan. Ketakutan akan banyak hal lagi. Bahkan tubuh mereka bergetar hebat sekarang, takut untuk bangkit, takut untuk meninggalkan tempat ini, takut untuk kembali dan menghadapi pertanyaan-pertanyaan tentang apa yang terjadi hari ini. Bagaimana mereka akan menjawanya?

Dengan tangan yang gemetar, komandan regu lima mengambil ponselnya, hendak menghubungi sang pimpinan di kantor sana. Bagaimanapun kondisinya, dia harus segera melaporkan ini kepada pimpinannya, entah nantinya akan ditarik mundur, atau akan dikirim bantuan, tapi yang pertama kali terlintas di benaknya saat itu adalah sesegera mungkin memberi laporan.

Halo, bagaimana operasinya? Sudah selesai? Kemana Arjuna kenapa malah kamu yang nelpon saya?
“Laa… lapor komandan, kami gagal. Dan, Komandan Arjuna, tewas.”

**

Beberapa intel yang tadi diperintahkan oleh Arjuna untuk mengikuti kedua mobil box yang keluar dari gedung itu nampak kebingungan. Sudah satu jam lebih sejak keluar dari gedung itu, mereka hanya berputar-putar saja seperti tak ada arah tujuannya. Sampai akhirnya kedua mobil itu menepi dan berhenti di depan sebuah ruko yang masih tertutup. Para intel itu segera menghubungi markas untuk meminta bantuan. Kebetulan sekali lokasi mereka saat ini tidak jauh dari markas.

Tak berapa lama regu bantuanpun datang beranggotakan sekitar 20 personel. Mereka juga memakai seragam lengkap dah membawa senjata. Mereka nampak mengamati situasi terlebih dahulu karena sejak berhenti tadi tidak ada seorangpun keluar dari kedua mobil box itu. Setelah menunggu cukup lama dan sama sekali tidak ada tanda-tanda pergerakan, komandan regu akhirnya memerintahkan anak buahnya untuk mendekat.

“Angkat tangan. Keluar dari mobil.”

Seketika pengemudi dari kedua mobil itu keluar dan langsung diringkus oleh seorang petugas. Kedua tangan mereka dibekuk di belakang punggung dan segera diborgol. Tanpa perlawanan berarti kedua pengemudi itu ditangkap. Mereka kemudian digeledah namun tak ditemukan apapun kecuali dompet yang berisi uang beberapa ratus ribu serta kartu identitas mereka.

Sebagaian petugas lainnya dengan berhati-hati memeriksa mobil itu. Mereka membuka box kedua mobil, namun tidak ada apa-apa di dalamnya. Para polisi kembali memeriksa dengan seksama setiap bagian dari kedua mobil itu, namun kembali hasilnya nihil. Mereka sempat bertatapan dengan wajah kebingungan. Beberapa orang menatap ke wajah intel yang mendekat seolah mempertanyakan benarkah mobil ini yang mereka ikuti, dan mendapat jawaban berupa anggukan dari mereka.

“Hei, katakan kemana tujuanmu? Kenapa mobil ini kosong? Dan kenapa kalian hanya berdua saja? Mana teman kalian yang lain?”

“Aa… ampun Paak. Kami bukan anggota mereka. Ka… kami orang biasa Pak.”

“Apa maksud kalian? Katakan yang jelas!”

“Kka… kami ini cuma supir biasa pak. Kami kerjanya di pasar induk, biasanya kami ngantar orang-orang yang belanja grosiran buat ngisi kios-kios mereka. Kami sudah seminggu lebih ditangkap sama orang-orang itu, dibawa ke gedung tadi. Kami diancam, kalau berani macam-macam keluarga kami akan dibunuh. Pagi ini kami dilepaskan, tapi kami disuruh berputar-putar sampai bensin kami habis, makanya kami berhenti disini.”

Para polisi terbengong mendengar penuturan dari salah satu supir itu. Mereka tidak percaya, namun dari wajahnya terlihat bahwa supir ini tidak berbohong. Wajahnya pun menyiratkan rasa ketakutan yang mendalam.

“Lalu kenapa begitu keluar dari gedung kalian tidak langsung melapor kepada polisi? Kenapa malah berputar-putar seperti ini?”

“Kami nggak berani Pak, karena mobil ini sudah mereka pasangi kamera. Kalau sampai kami nggak ngikutin perintah mereka, anak istri kami akan dibunuh Pak.”

“Brengsek, rupanya mereka cuma buat pengalihan. Kita dikerjai lagi,” para polisi terlihat sangat berang karena merasa untuk kesekian kalinya dikerjai oleh para penjahat itu.

“Selain kalian, apa ada mobil seperti ini lagi di gedung itu? Dan, sebanyak apa orang di dalam gedung itu yang kalian tahu?” komandan regu ini kembali melanjutkan interogasinya kepada kedua supir yang mereka tangkap.

“Nggak ada Pak, cuma kami aja. Kemarin agak banyak Pak, mungkin sekitar 50an orang, tapi setahu kami hari ini sudah banyak berkurang. Sebagian dari mereka pergi setelah memasang senjata-senjata gitu.”

“Senjata-senjata? Maksud kalian senjata yang kayak gimana?”

“Yaa senjata kayak yang di film-film itu Pak, kami nggak ngerti namanya apa. Sama satu lagi Pak, kemarin seharian mereka sibuk memasang sesuatu di sekeliling gedung. Saya denger, yang mereka pasang itu, bom.

“Apaa?!”

*****
Setelah mendengar laporan dari komandan regu lima yang betugas di lapangan, sang pimpinan markas besar kepolisian itu menjatuhkan begitu saja ponselnya. Wajahnya yang sebelumnya nampak sumringah kini terlihat begitu terpukul. Tubuhnya yang berdiri menyadar pada dinding perlahan lunglai dan mulai terjatuh, hingga akhirnya terduduk.

Semua orang yang melihat itu bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi. Sang pimpinan memang sengaja menerima telpon itu di luar ruangannya. Dia sudah sangat yakin bahwa operasi ini berhasil, dan ingin secepatnya memberitahukan kepada para anak buahnya yang berada di kantor. Namun ternyata kabar yang dia dapatkan sangat jauh dari angannya. Kini sikap yang dia tunjukkan malah membuat para anak buahnya kebingungan, sekaligus khawatir.

“Komandan, apa yang terjadi?” tanya seseorang yang kebetulan berada di dekat sang pimpinan, mencoba untuk membantunya berdiri namun dia menolaknya.

“Operasi kita, gagal. 85 rekan kita tewas dalam tugas, termasuk AKBP Arjuna.”

Suaranya tidak terlalu keras, namun suasana kantor yang senyap karena semua terdiam menunggu penjelasannya membuat perkataannya ini mampu didengar oleh semua orang. Mereka semua begitu histeris mendengar kabar ini, tak ada yang percaya. Mereka sudah bisa menebak siapa saja ke-85 orang yang dimaksudkan oleh sang pimpinan tadi.

Beberapa orang yang memiliki hubungan, atau berteman sangat dekat dengan para korban tak kuasa menahan tangisnya. Sebagian sisanya hanya terdiam, kembali terduduk di kursinya masing-masing. Operasi yang seharusnya sukses dan menjadi alat untuk memulihkan nama baik serta kepercayaan masyarakan kepada mereka, kini berakhir dengan sangat tragis. Untuk sekejap pikiran mereka kosong, tak tahu harus berbuat apa. Mereka terlalu shock mendengar kabar ini.

“Jadi, selanjutnya bagaimana komandan?”

Sang pemimpin sejenak memejamkan matanya, menarik nafasnya dalam-dalam. Dia sadar dia adalah pimpinan tertinggi di kantor, terlihat buruk seperti ini akan berdampak buruk ke anak buahnya juga, lebih buruk mungkin. Selain itu dialah yang memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan, yang tentunya sudah ditunggu oleh anak buahnya. Dia mencoba mengendalikan dirinya, berpikir sejenak untuk apa yang harus segera dilakukan untuk mengatasi hal ini.

“Kirimkan bantuan secepatnya ke lokasi, rekan-rekan kita yang selamat pasti sedang sangat terguncang sekarang. Bawa juga tim medis kesana, segera evakuasi semua korban, seperti apapun kondisi mereka. Jika ada wartawan atau warga mendekat segera hadang. Jangan ada satupun yang mengeluarkan pernyataan sebelum semuanya jelas.”

“Siap laksanakan komandan!”

Segera setelah menerima perintah orang tersebut beranjak untuk mengumpulkan sisa personel yang masih ada di kantor. Sedangkan lainnya terlihat masih sangat terguncang. Sang pemimpin kemudian berdiri untuk kemudian memberi arahan kepada mereka, paling tidak sedikit menguatkan mereka yang merasa kehilangan. Namun belum sempat berkata apa-apa seseorang yang baru saja menerima telpon menghampirinya.

“Lapor komandan, ada kabar dari Nusakambangan.”

“Kenapa? Tentang keempat orang itu?”

“Bukan komandan.”

“Lalu?”

“Baru saja ada seorang tahanan yang dinyatakan meninggal. Dan tahanan itu adalah, Fuadi Suseno.”

*****

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part