web hit counter

Mengalahkan Gadis Bagian 2 Part 16

0
213

Mengalahkan Gadis Bagian 2 Part 16
Shocking Fact, Part 1

Kabar terjadinya operasi penyergapan kelompok Mata Angin yang dilakukan oleh pihak berwajib rupanya menyebar dengan sangat cepat. Lokasi penyergapan yang kebetulan cukup dekat dengan kantor stasiun TV lokal kota ini, ditambah beberapa warga dan wartawan yang nekat menerobos barikade dan menyebar lewat dunia maya membuat pihak kepolisian kesulitan untuk membendung dan memfilter informasi yang keluar.

Sayangnya, bukanlah berita baik yang kini tersebar, tapi sekali lagi, aparat penegak hukum ini dipermalukan oleh para penjahat. Tujuh ledakan yang terjadi secara berurutan serta rentetan baku tembak membuat semua orang yang mendengarnya berpikir mengenai banyaknya korban jiwa yang berjatuhan. Namun ternyata, fakta berbicara lain.

Ketika regu bantuan datang bersama puluhan ambulan beserta ratusan tim medis, mereka segera melakukan penyisiran di lokasi gedung itu. Sebagian membawa anggota regu lima dan enam yang mengalami trauma mendalam, sebagian besar sisanya masuk ke dalam gedung. Dari lantai 1 hingga lantai 6 mereka menemukan sekitar 35 jasad dengan kondisi yang sudah tidak dapat dikenali lagi akibat ledakan, namun 5 diantaranya terlihat mengenakan atribut kepolisian, dimana salah satunya diperkirakan sebagai Arjuna.

Begitu naik ke lantai teratas, mereka sudah bersiap untuk melihat kenyataan yang pahit dimana diperkirakan akan ada sekitar 80 jasad rekan-rekan mereka disana. Namun justru mereka dikejutkan oleh hal yang benar-benar tak terduga sebelumnya. Di lantai 7 ini tidak terlihat adanya bekas ledakan sama sekali, seperti di lantai-lantai sebelumnya. 80 sosok yang bergelimpangan di lantai ini juga bukan jasad-jasad mati, namun tubuh-tubuh yang masih bernyawa, dalam keadaaan pingsan.

Mereka semua masih memakai seragam lengkap, bahkan masker pelindung juga masih terpasang di wajah. Senjata yang mereka bawa sejak awal juga masih tergenggam di tangan masing-masing. Para petugas dari regu bantuan dan dari tim medis ini tentu saja sangat kebingungan, namun begitu mereka juga bersyukur karena bayangan kengerian itu tidak terjadi. Dengan segera mereka mengevakuasi tubuh-tubuh tak sadarkan diri itu satu persatu, lalu membawanya ke beberapa rumah sakit di kota ini untuk segera diberikan perawatan.

Berita ini juga langsung sampai ke telinga sang pimpinan di markas besar, yang langsung dia umumkan kepada anak buahnya. Ada sebuah kelegaan disana, karena meskipun harus kehilangan 5 nyawa anggotanya, tapi sebagian besar masih selamat. Namun begitu, pada akhirnya mereka memang tidak bisa menangkap satupun dari penjahat itu hidup-hidup untuk dimintai keterangan, sehingga sulit untuk bisa melakukan tindak lanjut mengenai hal ini.

Yang kini menjadi pemikiran sang pimpinan beserta semua anak buahnya adalah, ternyata hanya ada 30 orang yang berada di gedung itu. Sangat jauh dari apa yang telah mereka perkirakan. Bahkan untuk mengisi giliran jaga 4 shift yang diperkirakan per shift ada 10 orang saja tidak sampai. Bagaimana mungkin hal ini tidak disadari oleh para intel yang mengintai. Padahal semua penjaga yang terpantau itu tidak ada yang menutupi wajahnya, sehingga harusnya bisa dikenali jika ada yang berjaga 2 kali shift dalam sehari.

Apakah itu merupakan kesalahan dari intel yang sengaja memberikan informasi yang keliru, atau memang termasuk permainan dari para penjahat itu? Jika ada intel yang sengaja memberi informasi yang salah, artinya benar-benar ada pengkhianat di tubuh kepolisian. Tapi jika ini hanya permainan dari para penjahat, maka pihak yang berwajib benar-benar dipermalukan untuk kesekian kalinya. Sayangnya, satu-satunya orang yang memegang kunci informasi, sekaligus penanggung jawab dari operasi ini yaitu Arjuna, sudah meninggal.

Keesokan harinya markas besar itu ramai diserbu oleh para wartawan yang ingin mendapatkan kejelasan tentang kejadian kemarin. Sang pimpinan sudah memberikan arahan kepada bagian humas mengenai apa saja yang perlu dan tidak perlu disampaikan. Namun satu pertanyaan yang sama sekali tak bisa dijawab adalah bagaimana di lantai teratas gedung itu para polisi bisa sampai pingsan tanpa ada bekas serangan sama sekali. Tentu saja para wartawan ini tak puas dengan jawaban yang diberikan, dan terus mendesak sampai terjadi adu mulut.

Para wartawan merasa ada yang disembunyikan oleh pihak kepolisian. Tanpa adanya jawaban yang memuaskan, merekapun mulai berspekulasi mencari jawaban sendiri. Namun kemudian satu persatu wartawan meninggalkan markas besar untuk mencari sendiri kejelasan informasi dari sumber yang lainnya, dan tujuan mereka adalah beberapa rumah sakit tempat para korban yang selamat dirawat. Dengan bertanya pada mereka yang bertugas langsung di lapangan, para wartawan ini berharap bisa mendapatkan kronologi kejadiannya secara lebih rinci.

Namun begitu sampai rumah sakit, bukan kronologi kejadian yang didapatkan, mereka justru mendapatkan berita lain yang tak kalah menghebohkan. Berita itu tak lain adalah kondisi para korban tersebut yang saat ini mengalami gangguan pada kejiwaannya. Beberapa yang sudah sadar terlihat seperti orang linglung. Kondisi mereka relatif sama, pandangan yang kosong, kemudian tiba-tiba berteriak histeris, lalu tertawa terbahak-bahak, dan akhirnya menangis. Usaha orang-orang di sekitarnya yang sebenarnya adalah keluarga mereka sendiri untuk menenangkan nampak masih sia-sia. Mereka seperti tidak mengenali orang-orang yang ada di sekitarnya. Beberapa yang kondisinya dianggap parah bahkan sudah dipindahkan ke rumah sakit jiwa untuk mendapatkan tindakan lebih lanjut.

Hal ini tentu saja menjadi santapan empuk para pemburu berita. Mereka ramai-ramai menulis berita tentang kondisi kejiwaan yang kini dialami oleh para polisi tersebut. Dari yang semula merupakan anggota-anggota terpilih yang sudah teruji baik kemampuan maupun mentalnya, namun kini menjadi orang yang kehilangan akal sehatnya. Dan tentu saja satu lagi pertanyaan muncul, seperti apakah kondisi yang dialami para korban hingga membuat kondisi mental mereka yang seharusnya tahan banting menjadi seperti ini.

Berita ini menyebar dengan begitu cepat. Masyarakat yang mendengar ataupun membacanya kini menjadi semakin takut dan cemas. Jika aparat penegak hukum saja dibuat sampai seperti ini, apa jadinya nanti jika kelompok Mata Angin kembali beraksi. Belum satupun kejahatan mereka yang berhasil diungkap, kini sepertinya mereka berhasil membuka jalan untuk melakukan aksi-aksi selanjutnya dengan lebih nyaman.

*****
Sementara itu di ruang sang pimpinan, Iptu Paidi selaku komandan regu lima dan Iptu Fauzi yang merupakan komandan regu enam sedang dimintai laporan mengenai kronologi kejadian yang sebenarnya. Mereka menceritakan sejauh yang mereka tahu karena mereka hanya melihat semua itu dari luar, tidak benar-benar mengetahui apa yang terjadi di dalam gedung.

“Apa kalian yakin mendengar ledakan di lantai 7 kemarin?” tanya sang pimpinan yang masih belum yakin tentang apa yang terjadi, karena di lantai 7 ternyata tidak ada sama sekali bekas ledakan.

“Yang pasti kami mendengar suara ledakan ke 7 komandan, bahkan kami juga merasakan getarannya, sama seperti ledakan-ledakan sebelumnya. Kami semua berpikir bahwa itu terjadi di lantai 7, tapi bagaimana kejadian sebenarnya kami tidak tahu, meskipun sebenarnya ada yang berbeda dari ledakan ke 7 itu,” jawab Iptu Paidi menjelaskan.

“Apanya yang berbeda?”

“Setiap ledakan sebelumnya, meskipun sedikit tapi nampak kepulan asap keluar dari jendela di masing-masing lantai. Tapi saat di ledakan ke 7, kami tidak melihat hal itu sama sekali, baik di lantai 7 maupun yang lainnya,” jawab Iptu Paidi.

“Bagaimana dengan pecahan kaca jendela akibat ledakan?”

“Semua jendela di gedung itu sudah tidak ada kacanya komandan, karena itulah asap dari ledakan itu bisa mengepul keluar. Entah bom apa yang mereka pakai, tapi asapnya terlalu sedikit untuk sebuah ledakan yang cukup besar seperti itu.”

“Ini benar-benar aneh. Dari lantai 7 seperti tidak terjadi apa-apa, tapi semua anggota kita pingsan. Sudah ada kabar apa yang menjadi sebab pingsannya mereka? Atau kalian mungkin mempunyai perkiraan tentang apa yang terjadi?” pertanyaan sang pimpinan membuat keduanya saling tatap, dan kemudian menggelengkan kepalanya.

“Belum ada konfirmasi dari pihak rumah sakit komandan. Mungkin penyebabnya adalah semacam gas atau sejenisnya. Tapi saat kami ikut naik untuk membantu proses evakuasi, tidak ada tercium bau-bau atau apapun yang mengindikasikan ke arah sana. Kami, benar-benar tidak memiliki perkiraan apapun tentang apa yang terjadi disana.”

“Lalu, bagaimana dengan kamera CCTV dan speaker yang kalian ceritakan itu?”

“Untuk yang di lantai 1 sampai 6, semua rusak terkena ledakan, sedangkan yang di lantai 7 masih ada tapi sudah mati. Kami coba periksa kamera-kamera dan speaker itu, termasuk dengan senapan mesin di lantai 1 yang menyebabkan Komandan Arjuna tewas, semua dikendalikan dengan sistem nirkabel, dan sudah tidak bisa lagi ditelusuri darimana mereka melakukan itu,” jawab Iptu Fauzi, membuat sang pimpinan menghela nafas panjangnya.

“Kali ini, lawan yang kita hadapi benar-benar berbahaya. Selain kejam dan licik, mereka juga dibekali dengan teknologi-teknologi yang sangat canggih. Akan sangat sulit bagi kita untuk mengungkap siapa sebenarnya mereka tanpa adanya bantuan. Sayangnya, orang yang selama ini membantu kita justru membelot, atau mungkin dipaksa untuk membelot ke pihak musuh.”

Ketiganya terdiam dengan pikiran mereka masing-masing. Kejadian-kejadian yang terjadi sejak perampokan sadis pertama beberapa bulan lalu, semuanya benar-benar diluar perkiraan mereka. Atau lebih tepatnya, semua perkiraan termasuk rencana tindakan-tindakan yang akan dilakukan oleh para polisi itu seperti sudah diketahui oleh para penjahat. Dengan sangat mudah mereka memutar balikkannya dan justru menjadi aib untuk pihak kepolisian.

Kini sang pimpinan harus berpikir keras, mencari cara bagaimana menghentikan sepak terjang kelompok Mata Angin ini. Dia memilah-milah, kepada siapa dirinya harus meminta bantuan, karena merasa sudah pasti tidak akan bisa mengatasi semuanya ini sendirian. Beberapa nama muncul di benaknya, namun belum ada satupun yang membuatnya yakin untuk meminta pertolongan karena pertimbangan berbagai macam hal. Akhirnya dia hanya bisa menyandarkan tubuhnya di kursi, memijat kepalanya yang semakin pusing, berharap akan ada sesuatu yang luar biasa yang dapat membantunya.

*****
“Oh iya Ma, ada sesuatu yang pengen Papa omongin sama Mama.”

“Harus sekarang ya Pa?” tanya Fitri yang meskipun sudah cukup lelah, namun belum terlalu mengantuk.

“Iya, ini harus secepatnya, biar semuanya menjadi jelas.”

“Emang soal apa sih Pa?” Fitri memiringkan badannya menghadap suaminya itu. Marto menatap lekat mata istrinya.

“Soal Yani dan Zainal.”

“Mbak Yani dan Zainal? Emangnya ada apa dengan mereka?” Fitri yang tadinya enggan untuk menanggapi Marto kini menjadi penasaran.

“Ada beberapa hal sih Ma. Hmm, Mama tahu nggak kalau Yani punya ponsel?”

“Loh Mbak Yani punya ponsel? Kok Mama nggak tahu ya, sejak kapan itu Pa?” Fitri yang semakin antusias dan mulai hilang rasa kantuknya.

“Beberapa hari yang lalu, tepatnya waktu Andin keracunan itu. Malemnya itu kan Papa kebangun karena lapar, trus pas ke dapur, kok lampunya nyala, kirain Yani yang lupa matiin, tapi ternyata dia ada di kamar sebelah dapur.”

“Lha dia ngapain disana? Biasanya kan sama Zainal tidurnya?”

“Nah itu dia. Tadinya Papa juga bingung pas dengerin dia kayak bisik-bisik gitu. Papa sempet denger kok dia nyebut-nyebut nama Rio gitu. Papa ngiranya Yani bawa orang masuk ke rumah ini. Sempet mau Papa dobrak pintunya tapi kedengaran dia kayak mau keluar gitu, yaudah akhirnya Papa tungguin aja di depan pintu.”

“Rio? Rio bukannya temen Papa itu ya? Terus gimana pas dia keluar kamar?”

“Iya Ma, yang terlintas di pikiran Papa waktu itu ya si Rio itu. Nah pas keluar kamar dia kaget banget lihat Papa, tapi Papa yang lebih kaget lihat dia Ma, ternyata dia sendirian di kamar itu, dan emang beneran dia pegang ponsel. Papa kira emang dasar Papanya aja yang belum tahu, tapi setelah tanya ke ibbu, ternyata ibu juga nggak tahu, Mama juga ternyata nggak tahu kan.”

“Iya lho Pa beneran Mama nggak tahu. Padahal biasanya kalau ada apa-apa Mbak Yani pasti ngomong, lha ini kenapa kok main sembunyi-sembunyi gini ya? Mana telponan sama Rio lagi.”

“Ya itu Papa juga bingung Ma, belum sempet Papa nanyain sama dia, soalnya abis itu kan kita saling canggung, soalnya selain masalah ponsel itu, ada hal lain yang bikin Papa lebih kaget lagi Ma.”

“Eh, emang apa lagi Pa?” tanya Fitri semakin penasaran, benar-benar sudah hilang rasa kantuknya kini.

“Hmm, waktu dia keluar kamar itu, dia, nggak pakai apa-apa Ma,” jawab Marto agak ragu-ragu.

“Maksudnya, telanjang? Hmm, Papa pasti matanya langsung melotot ya ngeliatin tubuhnya Mbak Yani?”

“Iya, telanjang bulat. Bukan masalah ngeliatin tubuh dia Ma, tapi ada sesuatu di tubuh Yani yang bikin Papa terus ngelihatin dia,” ucapan Marto seketika mengingatkan Fitri pada sesuatu.

“Hmm, maksud Papa, tanda lahir di bawah perut Mbak Yani?” kini giliran Marto yang terkejut mendengar ucapan Fitri.

“Mama tahu?”

“Iya Pa, udah lama, Mama nggak sengaja lihat. Sebenarnya waktu itu sempet mau ngasih tahu Papa sih, apalagi Papa pernah cerita kalau Mbak Astri punya tanda lahir di tempat itu juga kan. Tapi terus Mama mikirnya paling cuma kebetulan aja letaknya sama, bentuknya belum tentu, makanya Mama nggak jadi ngasih tahu karena takut Papa kepikiran. Tapi, hmm, apa tanda lahir itu, sama kayak punya Mbak Astri?”

“Persis Ma, sama persis. Papa masih inget banget tanda lahir itu, nggak bakal lupa,” Marto menatap langit-langit kamarnya, seolah sedang membayangkan wajah Astri.

“Jadi gitu yaa. Hmm, Papa juga pernah cerita, kalau Papa ngerasa tatapan mata Mbak Yani itu mirip banget sama Mbak Astri, meskipun wajah mereka beda. Terus sekarang, kita tahu kalau mereka punya tanda lahir yang sama persis. Apa mungkin kalau mereka itu sebenarnya, orang yang sama?”

“Nggak tahu Ma, Papa bingung. Masalahnya dulu, Papa sendiri yang mastiin kalau jasad perempuan itu adalah Astri. Bahkan Papa juga ikut makamin dia. Kalau memang Yani itu adalah Astri, terus yang dulu Papa kubur itu siapa?”

Keduanya terdiam. Fitri tahu pasti saat ini suaminya sedang sangat galau berat karena hal ini. Dia tahu, meskipun sudah lama sekali, tapi Marto tak akan pernah bisa melupakan Astri. Meskipun kini mencintai dirinya, namun ada satu tempat di hatinya yang tak akan bisa tergantikan oleh siapapun. Selama ini yang diketahui Marto adalah Astri sudah meninggal, namun kini sosok Astri muncul dalam diri Yani. Secara wajah dan fisik memang berbeda, tapi dari tatapan mata, dan yang paling penting adalah tanda lahir itu, membuat sebuah pertanyaan besar muncul di benak mereka.

“Lalu, tentang Zainal? Apa yang mengganggu pikiran Papa?” tanya Fitri memecah kesunyian. Dia sendiri sebenarnya sudah memperkirakan apa yang dipikirkan oleh suaminya.

“Kalau dilihat dari usianya, meskipun kita tahu persis kapan tepatnya, tapi bisa jadi dia seumuran dengan anak yang dikandung Astri, jika terlahir.”

Kini Fitri mengerti semuanya. Jika memang Yani adalah Astri, berarti Zainal adalah benar anak kandung dari Marto. Tapi bagaimana cara membuktikannya? Karena yang mereka tahu selama ini Yani benar-benar telah kehilangan ingatan masa lalunya.

“Pa, sepertinya cuma ada satu cara untuk menjawab semua pertanyaan ini,” ucap Fitri yang membuat Marto memalingkan wajah memandangnya.

“Apa Ma?”

“Tes DNA.”Beberapa hari lamanya Marto mempertimbangkan istrinya untuk melakukan tes DNA untuk mengetahui apakah benar Zainal itu anak kandungnya atau bukan. Fitri menyarankan agar tes ini dilakukan tanpa sepengetahuan Yani, karena dia takut Yani menolak atau malah akan tersinggung dengan usulan ini. Marto terus berpikir bagaimana cara melakukan tes itu tanpa membuat Yani maupun Zainal menyadarinya.

Yani sendiri, setelah didesak oleh Fitri akhirnya mengakui tentang ponsel miliknya. Dia mengaku kalau memang Rio memberikan ponsel itu kepadanya, dengan alasan untuk terus bisa berkomunikasi. Fitri terus mendesak Yani agar menceritakan apa saja yang dia bicarakan jika sedang telponan dengan Rio, namun penjelasan Yani ternyata diluar apa yang dipikirkan oleh Fitri, maupun Marto.

Dengan linangan air mata Yani mengakui kalau sejak merawat Marto dulu di gubuknya, Rio yang memang cukup sering datang, tidak hanya bermaksud untuk menjenguk Marto saja, akan tetapi juga memadu kasih dengan Yani. Tanpa diketahui oleh Marto, jika sedang ditinggal latihan Marto bersama Zainal, Rio mendatanginya dan selalu berakhir dengan hubungan badan. Semuanya itu akhirnya berakhir saat Yani dan Zainal diajak pindah ke rumah Fitri, tak pernah lagi ada komunikasi antara dirinya dengan Rio.

Sampai setahun lalu ketika Rio mengunjungi Marto di rumah, lelaki itu diam-diam memberikan sebuah ponsel kepada Yani dan berpesan agar jangan menceritakan hal ini kepada siapapun. Alasan Rio saat itu adalah merasa tak enak dengan Marto. Yani yang memang pikirannya benar-benar polos menurut saja, dan sejak saat itu secara diam-diam Yani dan Rio kembali saling berhubungan, meskipun hanya melalui telpon.

Baik Marto maupun Fitri sebenarnya mencurigai ada hal lain yang disembunyikan oleh Yani, namun dari pengalaman mereka yang sering menginterogasi penjahat, pengakuan dari Yani ini terlihat benar-benar tulus, tak ada yang dia sembunyikan lagi. Wanita itu bahkan sampai bersumpah bahwa hanya sampai disitulah yang telah terjadi antara dirinya dengan Rio, tidak ada yang lebih.

Akhirnya untuk saat ini, Marto dan Fitri memilih untuk mempercayai perkataan Yani. Fitri sebenarnya sudah meminta Marto menghubungi Rio untuk menanyakan perihal pemberian ponsel itu, namun Marto punya pemikiran lain. Kejadian yang dulu pernah mereka alami bersama membuat dia memiliki firasat yang kurang baik terhadap Rio. Dia tidak ingin terburu-buru mencari kebenarannya, dan saat ini lebih berpikir bagaimana caranya membuktikan bahwa Yani itu Astri atau bukan, dan juga membuktikan Zainal itu anak kandungnya atau bukan.

Sampai akhirnya beberapa hari yang lalu, secara kebetulan Yani dan Zainal mengalami demam. Marto yang melihat itu sebagai sebuah kesempatan kemudian berinisiatif membawa mereka ke rumah sakit. Awalnya Yani menolak dan ingin hanya diperiksakan ke dokter praktek yang tak jauh dari rumah mereka saja. Namun Marto beralasan ingin mengambil sampel darah mereka agar mengetahui dengan pasti sakit yang diderita, jaga-jaga kalau sampai terkena deman berdarah yang memang sedang mewabah saat ini. Akhirnya Yani mengalah dan menurut saja dibawa ke rumah sakit.

Tanpa diketahui Yani, Marto sudah meminta kepada dokter untuk mengambil sampel darah lebih banyak yang seharusnya, dimana sebagian akan digunakan untuk keperluan tes DNA. Dokter itupun mengikuti keinginannya, dan baru saja mengabarkan kalau hasil tesnya sudah jadi. Kini Marto sedang dalam perjalanan ke rumah sakit untuk mengambilnya. Sepanjang perjalanan dia memikirkan apa yang akan dilakukannya jika dari hasil tes itu terbukti bahwa Yani itu sebenarnya adalah Astri dan Zainal adalah anak kandungnya. Sesampainya di rumah sakit, Marto langsung menuju ke ruang dokter itu. Tertera nama Dokter Sugeng di pintu ruangan.

“Gimana Geng hasil tesnya? Apa ada kecocokan DNAku sama anak itu?” tanya Marto saat baru saja dipersilahkan duduk.

“Sabarlah To, tanya kabar dulu kek apa gimana gitu, ini langsung aja nanyain hasil tes,” jawab Dokter Sugeng cekikikan.

“Halah orang kamu sehat-sehat gini ngapain pakai nanyain kabar segala. Buruan mana hasil tesnya?”

“Iya iya bentar, aku ambil dulu,” Dokter Sugeng kemudian berdiri dan mengambil sebuah amplop putih di lemarinya.

“Nih, kamu baca sendiri,” ujar Dokter Sugeng sambil menyerahkan amplop itu kepada Marto.

Segera saja Marto membuka amplop itu, mengambil kertas di dalamnya dan membacanya dengan seksama. Beberapa kali terlihat Marto mengernyitkan dahinya. Bukan karena tak paham, karena Marto lumayan paham bahasa-bahasa medis yang tertulis di kertas itu. Selesai membaca, Marto kemudian menatap Dokter Sugeng lekat-lekat, seolah meminta jawaban dari temannya itu. Dokter Sugeng menganggukkan kepalanya.

“Jadi, semua yang kamu cek ini, cocok?” tanya Marto.

“Iya, semua hasil tes anak itu identik, baik dengan kamu, maupun dengan perempuan itu.”

Marto kembali terdiam, dengan berbekal hasil tes DNA itu sekarang dia memastikan bahwa Zainal adalah benar anak kandung dari Yani dan dirinya, yang itu artinya adalah bahwa Yani sebenarnya adalah Astri.

“Tapi gimana mungkin Geng? Kamu tahu sendiri kan Astri sudah meninggal belasan tahun yang lalu? Bahkan kamu sendiri yang waktu itu mengotopsinya.”

Dokter Sugeng memang dulu adalah dokter yang mengotopsi jasad yang dibawa oleh Marto. Saat itu Dokter Sugeng memeriksa penyebab kematian Astri, dan dia juga memastikan bahwa wanita itu tewas dalam keadaan sedang hamil muda. Dokter Sugeng dan Marto sebenarnya sudah berteman sejak lama, sejak Marto dulu bertugas di ibukota. Mereka berteman akrab karena tinggal bertetangga, karena itulah Dokter Sugeng juga mengenal Astri dengan cukup baik. Mereka kemudian terpisah karena akhirnya Dokter Sugeng pindah ke kota ini, dan saat itu Marto sudah berubah menjadi orang berbeda. Mereka baru bertemu lagi beberapa tahun silam ketika terjadi peristiwa malam tahun baru berdarah, dimana Dokter Sugeng bertanggung jawab untuk merawat para korban.

Awalnya ketika dihubungi Marto untuk meminta bantuan melakukan tes DNA dia sempat bingung dan tidak percaya dengan penjelasan yang diberikan oleh Marto. Namun kemudian dirinya juga terkejut saat melihat sosok Yani. Dia juga merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh Marto, bahwa tatapan matanya sangat mirip dengan Astri. Dan tentu saja Dokter Sugeng lebih terkejut lagi ketika melihat hasil tes DNA yang dia lakukan. Hasil ini benar-benar membuktikan adanya hubungan darah antara Zainal dan Yani, serta Zainal dengan Marto.

“Aku sendiri juga nggak tahu To. Memang aku yang dulu mengotopsi Astri, dan wajah itu benar-benar wajah Astri. Waktu melihat Yani kemarin, memang mukanya beda banget, tapi aku seperti melihat tatapan mata Astri, sama seperti yang kamu ceritain. Aku juga bener-bener bingung, tapi gimana yaa, masalahnya kamu bilang kalau dia juga udah hilang.”

“Apa ingatannya nggak bisa dipulihkan Geng?”

“Tergantung gimana dia kehilangan ingatannya. Ada beberapa hal yang bisa bikin dia kayak gitu, seperti mengalami benturan yang sangat keras di kepalanya, atau dia tak sadarkan diri dalam waktu yang sangat lama, atau ingatannya memang sengaja dihapus, dengan kata lain dia dicuci otaknya.”

“Menurut kamu, sebab mana yang paling mungkin?”

“Hmm, entahlah. Jujur aku tak punya pandangan soal ini, tapi entah kenapa, aku merasa kemungkinan terakhir itu yang jadi penyebabnya, entah untuk tujuan apa.”

“Huft, terus terang aku juga berpikir begitu. Kalau memang dia sengaja dicuci otaknya, apa udah nggak ada harapan lagi?”

“Harapan itu selalu ada To. Pada dasarnya, semua yang pernah kita alami akan tersimpan di alam bawah sadar kita. Dengan metode yang tepat, kita bisa memanggil kembali ingatan-ingatan itu, tapi ya itu tadi, tergantung sama seberapa dalam memori itu terkubur di alam bawah sadar kita. Dan kalau benar dia dicuci otak, seberapa ‘hebat’ perlakuan yang diberikan kepadanya,” Dokter Sugeng membentuk tanda petik dengan tangannya saat mengucapkan kata hebat. Marto kembali terdiam, banyak hal yang kini berseliweran di benaknya.

“Lalu apa rencanamu setelah ini?” tanya Dokter Sugeng saat melihat Marto menggaruk-garuk kepalanya.

“Entahlah, tapi sepertinya aku harus kasih tahu Fitri dulu soal hasil tes ini, baru nanti kami diskusiin harus ngapain.”

*****
Hari sudah beranjak petang saat Marto duduk di teras rumahnya. Secangkir kopi kental yang masih mengepulkan asapnya dan juga sebatang rokok nampak setia menemai pria itu. Marto sedang menunggu istrinya pulang, karena sejak peristiwa penyergapan kelompok Mata Angin yang berakhir dengan kembali dipermalukannya polisi, Fitri hampir tiap hari lembur, entah apa yang sedang dilakukan di kantor Marto tak pernah menanyakannya, dan Fitri pun memang tak pernah menceritakannya.

Marto sendiri kasihan sebenarnya dengan para polisi yang sudah sebegitu dipermalukannya oleh kelompok Mata Angin itu. Dia penasaran kenapa kelompok itu bisa sedemikian superiornya terhadap polisi, hingga untuk menangkapnya saja bukan main sulitnya. Seandainya dia masih menjadi anggota polisi, sudah pasti dia akan habis-habisan demi menumpas kelompok itu.

Fitri kemarin menceritakan kepadanya bagaimana kondisi para polisi yang menjadi korban pada peristiwa itu. Sebagaian sampai masuk ke rumah sakit jiwa karena mengalami gangguan kejiwaan yang berat. Sisanya sudah pulang ke rumah masing-masing namun masih harus rutin mengikuti terapi ke psikolog.

Namun yang aneh adalah, setelah kejadian itu, kelompok Mata Angin sama sekali tak melakukan aksinya lagi. Padahal jika mereka mau melakukannya, kemungkinan aksi-aksi itu sama sekali tak akan bisa dihentikan. Mereka seperti memberi waktu kepada pihak yang berwajib untuk memulihkan diri dari rasa malu yang baru saja didapat.

Suasana yang tenang ini justru menimbulkan kekhawatiran berbagai pihak bahwa sebenarnya mereka sedang merencanakan sesuatu untuk melakukan aksi yang jauh lebih besar daripada yang sebelum-sebelumnya. Ketakutan masyarakat pun kian menjadi karena saat ini kepolisian seperti tidak berdaya sama sekali menghadapi kelompok Mata Angin. Operasi penyergapan yang dilakukan beberapa waktu lalu, yang seharusnya menjadi langkah maju dalam mengungkap kasus ini, nyatanya justru menjadi langkan mundur dari pihak yang berwajib.

Kekuatan kepolisian kota ini memang sudah menurun drastis sampai-sampai harus dibantu dari pihak lain, termasuk dari pusat. Namun tentu saja bantuan yang datangnya dari luar ini menjadi kurang efektif karena sifatnya hanya sementara saja. Itulah yang menjadi dasar ketakutan utama dari masyarakat jika suatu saat kelompok Mata Angin kembali muncul. Saat sedang memikirkan itu tiba-tiba terdengar suara mobil berhenti di depan rumahnya. Kembali hari itu Fitri pulang bersama dengan rekan-rekannya yang lain. Setelah sempat berbasa-basi sebentar Fitripun masuk disambut oleh Marto.

“Tumben pulangnya agak cepet Ma?”

“Iya nih Pa, hari ini nggak begitu banyak kerjaan kok, soalnya rekan-rekan yang kemarin cuti udah masuk. Tadi Papa jadi ke Dokter Sugeng?”

“Iya jadi. Dah Mama mandi dulu aja, entar kita bicarain ini.”

“Yaudah deh” Fitri mengecup kening suaminya sebelum kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.

Tadinya sempat terpikir oleh Fitri untuk mengajak suaminya mandi bareng, karena hari ini dia baru saja bersih dari tamu bulanannya. Seminggu penuh tak dijamah oleh suaminya membuat gairahnya sempat meninggi. Namun karena adanya hal penting yang akan mereka bicarakan, dan melihat sepertinya suaminya sedang tidak berada dalam mood yang baik untuk melakukan itu, Fitripun memilih untuk menundanya.

*****
Fitri dan Marto kini sudah berada di kamar setelah mereka makan malam, menemani anak-anak belajar dan memastikan semuanya sudah tidur. Mereka ingin membahasnya tanpa diketahui orang lain, terutama Yani.

“Jadi gimana hasilnya Pa?”

“Nih, coba Mama baca,” ujar Marto sambil menyerahkan amplop yang tadi sore dia peroleh dari Dokter Sugeng. Fitri pun membacanya, beberapa kali dia mengernyitkan dahinya, kurang mengerti dengan bahasa-bahasa medis di surat itu, namun dia sedikit bisa memahami kesimpulan yang tertera di bagian bahwanya.

“Jadi? Semuanya cocok Pa?” Fitri menatap Marto, meminta penjelasan dari suaminya.

“Iya, semua cocok. Itu artinya, Yani memang benar adalah Astri, dan Zainal itu anak kandung Papa.”

Fitri terdiam. Meskipun sudah memperkirakan sebelumnya, tapi tetap saja mendapat jawaban yang gamblang seperti itu membuat dirinya terkejut. Dia memikirkan banyak kemungkinan yang akan terjadi kedepannya. Ada satu bagian di hatinya yang sebenarnya menginginkan hasil yang berkebalikan dengan fakta ini. Ada sebuah ketidakrelaan dalam dirinya. Bukan tentang Zainal karena Fitri sudah menganggap anak itu seperti anaknya sendiri, tapi ini tentang Yani, atau mulai sekarang bisa dia sebut, Astri.

Fitri tak bisa membaca apa yang menjadi isi hati Marto setelah mengetahui semua ini. Apakah hati suaminya masih akan tetap sama seperti ini, atau akan terbagi dengan perempuan itu, atau justru dirinya akan tersisih dari hati Marto oleh kehadiran Astri.

“Terus, sekarang gimana Pa?” tanya Fitri dengan suara yang agak bergetar, seperti menahan sesuatu.

“Itu yang mau Papa bahas sama Mama. Tapi sebelumnya, ada satu hal yang mengganggu pikiran Papa,” jawab Marto menatap istrinya, yang matanya nampak mulai memerah.

“Ada apa lagi Pa?”

“Tentang Yani…”

“Astri Pa, itu Mbak Astri. Mungkin kita harus mulai memanggilnya Astri,” ucap Fitri memotong perkataan Marto.

“Belum saatnya, untuk saat ini lebih baik kita tetap menganggapnya sebagai Yani.”

“Maksud Papa? Kenapa harus seperti itu? Bukannya sudah jelas kalau Mbak Yani itu adalah Mbak Astri?” nada bicara Fitri mulai meninggi.

“Dengerin dulu, ini yang mau Papa kasih tahu ke Mama,” Marto membelai-belai kepala Fitri, mencoba menenangkannya karena dia tahu istrinya itu sudah mulai emosi, mungkin ada sebuah ketakutan yang muncul di dalam dirinya.

“Yaudah cepetan ngomong,” Fitri masih saja menjawab dengan nada yang tinggi.

“Gini, tadi Papa sempet diskusi bentar sama Dokter Sugeng. Mama perlu tahu, kalau Dokter Sugeng itu dulu sebelum kerja disini, dia kerja di ibukota, dan rumahnya tetanggaan sama Papa. Dia cukup mengenal Astri. Dan dia juga adalah dokter yang dulu mengotopsi jasad yang kami kira adalah Astri,” Fitri sontak terkejut mendengar penjelasan Marto, namun memilih diam karena dirinya masih agak emosi.

“Dia juga terkejut waktu pertama ngelihat Yani, dan bilang kalau tatapan mata Yani mirip sekali dengan Astri. Setelah melihat hasil tes DNA tadi sore, kami sempat membahas perihal sebab Yani bisa sampai hilang ingatan, dan salah satu kesimpulan yang kami ambil adalah, Yani sengaja dibuat hilang ingatan, dia dicuci otaknya.”

“Hah, dicuci otak? Kenapa bisa kepikiran gitu?” tanya Fitri yang emosinya sudah sedikit menurun.

“Semua ini, mungkin, ada hubungannya sama Rio.”

“Loh, kok jadi bawa-bawa Rio? Emangnya hubungannya sama Rio apaan Pa?”

“Mama masih ingat cerita Papa soal malam tahun baru berdarah itu? Yang Papa hampir mati tapi akhirnya ditolong sama seseorang yang sampai sekarang Papa nggak tahu siapa orang itu?” Fitri hanya menganggukan kepala. Kini dia malah bingung, karena Marto mengungkit lagi cerita itu, apa hubungannya? Batin Fitri.

“Satu hal yang belum Papa ceritain adalah, malam itu, waktu suasana lagi kacau, Rio justru membunuh Doni dan Karim, rekan satu tim kami,” Fitri membelalakkan matanya, tak percaya dengan cerita suaminya.

“Papa lihat sendiri kejadian itu. Papa sempat mau nanyain ke Rio, tapi orang yang nolong Papa itu bilang lewat radio untuk diam saja dan pura-pura nggak tahu, karena itu bisa bahaya buat Papa. Saat itulah Papa menyadari kalau Rio ini sebenarnya nggak berdiri di kubu yang sama dengan Papa.”

“Setelah mengetahui hasil tes DNA ini, lalu dihubungkan dengan kejadian Yani menelpon Rio malam itu, Papa jadi berpikir bahwa hadirnya Yani ini bukanlah suatu kebetulan. Bisa jadi, Yani memang benar-benar kehilangan ingatannya, tapi semua kejadian saat Papa dirawat olehnya dulu, hadirnya Rio saat itu, semuanya sudah diseting olehnya.”

“Tapi Pa, bukannya Rio itu kesini karena diminta sama Ara untuk menolongnya waktu itu?”

“Memang Ara yang meminta bantuan, tapi itu karena waktu itu, Rio datang mengunjungi keluarga Pak Wijaya. Kalau Rio tidak datang, mungkin Ara tidak akan meminta bantuannya karena mereka sudah lama sekali tak bertemu sebelumnya.”

“Darimana Papa tahu hal itu?”

“Dari Pak Wijaya langsung. Saat itu Papa juga menganggapnya sebagai sebuah kebetulan saja. Tapi setelah tahu Yani masih berhubungan secara diam-diam dengan Rio, membuat Papa mengambil kesimpulan seperti ini. Dan satu hal lagi, soal nama Yani, apa Mama nggak menyadari sesuatu?”

“Nama Mbak Yani? Emang kenapa Pa?” Fitri masih belum bisa menarik kesimpulan dari cerita Marto.

“Mama udah pernah Papa kasih tahu nama lengkapnya Astri kan? Astri Setyani.”

“Hah, jadi? Nama Yani itu, bukan kebetulan?”

“Bisa jadi Ma, bisa jadi. Kalau perkiraan Papa benar, berarti Rio terlibat dengan penculikan Astri dulu. Dia, dan mungkin komplotannya, mencuci otak Astri untuk membuatnya menjadi orang lain, dan melakukan sesuatu sehingga membuat seolah-oleh Astri meninggal.”

“Aduuh Pa, Mama beneran nggak ngerti deh. Maksud Papa gimana sih?”

“Mungkin, Rio dan komplotannya melakukan sesuatu, seperti menukar wajah Astri dengan perempuan lain. Dan sebenarnya perempuan yang meninggal itu adalah orang yang memiliki wajah Yani. Saat itu Papa yang sedang kalut tidak dapat memastikan benar-benar karena hanya dengan melihat wajah dan tanda lahir saja sudah cukup untuk mengira bahwa itu adalah Astri.”

“Tapi Pa, untuk tujuan apa Rio sampai melakukan hal seperti itu?”

“Papa juga belum tahu pastinya Ma. Mungkin dia ingin membuat Papa terpuruk, sampai akhirnya Papa berubah menjadi orang yang sangat jahat. Kalau memang benar begitu, artinya Rio ada hubungannya dengan Baktiawan, dan mungkin juga, dengan kejadian-kejadian beberapa bulan terakhir di kota ini.”

“Maksud Papa, Rio terlibat dengan semua tindak kejahatan ini?”

“Itu perkiraan Papa. Tapi masalahnya adalah, Papa sudah mengenalnya sejak pertama kali kami dipanggil untuk mengikuti pelatihan menjadi anggota satuan khusus. Dia orangnya sangat baik, Papa juga sedikit banyak mengenal keluarganya. Entah apa yang membuatnya bisa menjadi seperti itu.”

“Dan sekali lagi Ma, kalau perkiraan Papa ini benar, maka lawan yang sedang kalian hadapi, benar-benar lawan yang sangat berbahaya, karena Papa tahu, Rio itu sangat ahli dalam strategi. Mungkin itu yang membuat selama ini kalian selalu kesulitan untuk mengungkap kejahatan-kejahatan yang terjadi belakangan ini.”

Fitri terdiam mendengarkan penjelasan panjang lebar dari suaminya. Dia tak menyangka, dengan mengungkap kebenaran tentang siapa Yani sebenarnya, justru membuka beberapa kemungkinan baru yang sangat mengerikan. Dia kini berpikir, mencari hubungan antara beberapa kejadian ini, tentang hubungan antara Rio dan keberadaan Yani, tentang tindak kejahatan yang terjadi, dan juga tentang anaknya yang diracun beberapa minggu yang lalu beserta surat ancaman yang ditujukan kepada Marto.

Awalnya dia sempat bingung, tapi sekarang mulai mengerti kenapa suaminya bisa sampai mendapat surat ancaman seperti itu. Jika benar Rio berada di balik semua ini, maka memang wajar kalau tindakan penyelidikan yang sebenarnya sudah dilakukan Marto dengan diam-diam itu sampai ketahuan. Kini Fitri tahu, lawan yang sedang dia dan rekan-rekannya hadapi memang benar-benar lawan yang mengerikan.

Saat ini Fitri tak lagi memikirkan perihal hasil tes DNA yang membuktikan kehadiran Astri di tengah-tengah keluarganya. Kini dia lebih memikirkan tentang hal yang lebih jauh lagi, yang berkaitan dengan kejahatan yang terjadi belakangan ini. Apalagi kini dia tahu, suaminya tak lagi bisa bergerak bebas karena pasti ada yang mengawasinya, dan jika sampai macam-macam maka keselamatan keluarganya menjadi taruhan. Dan lagi, penyelidikan yang selama ini dilakukan sendirian oleh Fitri, juga telah mengalami kebuntuan.

*****
Di sebuah ruangan yang berisi beberapa set perangkat komputer super canggih, beberapa kali Eko menguap karena sudah sangat mengantuk. Sejak kemarin dia tidak tidur karena terus dipaksa untuk membobol berbagai situs baik milik pemerintah maupun yang lainnya, dan sudah entah berapa rupiah yang berhasil dikeruk dari apa yang telah dia lakukan ini.

Dia tidak bisa beristirahat barang sejenak, karena setiap saat selalu ada minimal 3 orang yang mengawasinya. Dua orang di kanan dan kirinya dengan moncong senapan yang selalu terarah kepadanya, serta satu orang lagi adalah Steve yang juga melakukan hal yang sama dengannya. Selain ketiga orang itu, hampir setiap jam sekali ada saja orang yang masuk untuk memantau pekerjaannya, entah siapa saja orang itu sama sekali tak dikenalinya.

Sudah berhari-hari Eko terkurung di ruangan ini. Untuk sekedar buang air pun, hanya diperbolehkan menggunakan toilet yang ada di ruangan ini. Sedangkan untuk makan, dia masih mendapatkan jatah yang cukup. Rupanya orang-orang yang menyanderanya ini tidak ingin dia sampai kenapa-kenapa karena masalah makanan karena itu akan menghambat pekerjaannya.

Setiap harinya dia hanya mendapatkan jatah tidur beberapa jam saja, selebihnya dipaksa untuk kembali ‘bekerja’. Kondisi fisiknya sudah menurun sebenarnya, terutama matanya yang hampir setiap saat dipaksa untuk menatap layar monitor. Tapi dia tidak dapat berbuat banyak untuk melawan, karena selain dia diawasi oleh orang-orang bersenjata, dia juga memikirkan nasib keluarganya yang mereka sandera. Dia tidak ingin terjadi apa-apa terhadap orang-orang yang mereka sayangi, meskipun tanpa sepengetahuannya, mereka sudah diapa-apakan.

Beberapa hari ini Eko ditugaskan untuk membobol berbagai situs dan mengambil alihnya. Dia akan meminta tebusan dengan nominal yang sangat tinggi untuk membebaskan kembali situs-situs itu. Jika kemudian dia sudah mendapat konfirmasi dari Steve bahwa uang tebusan sudah masuk, maka Eko akan membebaskannya, meninggalkannya tanpa jejak sama sekali.

Dan malam ini, Eko sedang berusaha untuk membobol sebuah situs judi online besar yang konon beromset ratusan juta hingga miliaran rupiah perbulannya. Eko harus bekerja keras karena ternyata ‘pekerjaannya’ ini mendapat gangguan dari para hacker kenamaan dari penjuru dunia. Dia tahu tujuan utama mereka bukanlah melindungi situs itu, tapi untuk mencari keberadaan dirinya. Dia berpikir, ini pasti permintaan dari gurunya.

Beruntung, atau justru sialnya, pekerjaan Eko ini dilindungi oleh Steve sehingga sampai saat ini keberadaannya tidak terlacak. Dengan ‘perlindungan’ dari Steve, kini Eko bisa melakukan tugasnya dengan aman. Bahkan Steve berhasil menyerang balik para pengganggu itu.

Sebenarnya, terbesit harapan dalam diri Eko bahwa ada salah satu dari para hacker itu, atau kalau perlu gurunya sendiri, bisa menemukan keberadaannya. Meskipun itu beresiko terhadap keselamatan diri dan keluarganya, namun bagi Eko itu merupakan pilihan terbaik dari berbagai macam kemungkinan terburuk. Nuraninya masih menolak melakukan hal-hal ini. Mengumpulkan yang dengan cara seperti ini, mengambil hak-hak orang lain, membuatnya kian merasa bersalah. Tapi sekali lagi, kondisi keluarganya yang sedang disandera membuatnya tak punya pilihan lain selain menurut.

Setelah berhasil menguasai situs itu, Eko kemudian memejamkan matanya, mengistirahatkan sejenak karena matanya sudah terasa panas sejak tadi. Saat ini dia hanya menunggu kabar dari Steve apakah uang tebusan yang diminta sudah masuk. Dari pengalaman-pengalaman yang sudah-sudah, situs semacam ini akan dengan cepat membayar tebusan karena jika semakin lama situs mereka dikuasai, semakin banyak uang mereka yang melayang.

Dan benar saja, tidak sampai satu jam, Steve mendapat informasi bahwa saldo rekening mereka sudah bertambah sebanyak 13 digit. Steve segera memberi tahu Eko, dan dengan mudah Eko membebaskan situs itu, meninggalkannya tanpa jejak seperti yang sudah-sudah. Eko menarik nafas lega karena dia pikir bisa mendapatkan istirahatnya malam ini. Tapi saat dia lengah, tiba-tiba lehernya serasa dijerat oleh sebuah tali dan ditarik ke belakang.

Eko yang terkejut, ditambah kondisi tubuhnya yang sedang lemas membuatnya tak sempat berekasi. Bahkan saat kedua tangannya diringkus dan diikat di kursi dia juga tak sempat melawan. Kini badan Eko tak bisa digerakkan. Kedua tangannya terikat kuat, sedangkan lehernya meskipun tidak terlalu kencang ikatannya, namun jika dia memaksakan diri untuk meronta itu sama saja dengan bunuh diri.

“Steve, apa-apaan ini? Kenapa aku diikat gini?” Eko meminta penjelasan kepada Steve yang masih duduk tenang di kursinya.

Well, itu supaya kamu bisa istirahat sejenak Mr. E-coli. Karena tugas kali ini adalah tugas terakhir kamu. Setelah ini, kamu akan kami bebaskan.”

“Tugas terakhir? Lalu, bagaimana dengan keluargaku?” entah mengapa justru perasaan Eko mendadak menjadi sangat tidak enak.

“Seperti yang dikatakan saudaraku kemarin, kami selalu memperlakukan keluargamu dengan sangat baik, terutama kepada keempat gadis itu, hahaha.”

“Apa maksudmu? Apa yang kalian lakukan kepada mereka?” teriak Eko dengan penuh emosi, karena dia sudah bisa menebak apa yang terjadi terhadap saudara-saudaranya itu.

“Kamu mau tahu? Baiklah, lihat baik-baik layar monitor di depanmu itu.”

Steve kemudian nampak mengotak-atik keyboard di hadapannya, dan beberapa saat kemudian layar monitor yang tadinya menampilkan situs yang baru saja dibebaskan oleh Eko berganti dengan sebuah video yang benar-benar menyayat hatinya.

“Bajingaaaaan! Kalian ingkar janji! Bajingan kalian semuaa! Aaaarrgggghhh!”

Eko berteriak dan meronta sekeras-kerasnya. Tak peduli lehernya yang terjerat tali menjadi semakin sakit karena rontaanya. Dia tak mempedulikan rasa sakit itu karena hatinya lebih sakit teriris-iris melihat video di hadapannya. Keempat gadis yang disayanginya, yaitu adik kandungnya, calon istrinya, serta dua orang calon adik iparnya sedang digagahi dengan paksa oleh empat orang pria, dimana 2 orang diantaranya tak lain adalah David dan Steve.

Steve kemudian menaikan volume speaker yang ada di ruangan tersebut hingga terdengarlah jeritan pilu saat keempat gadis itu kehilangan mahkota yang sudah bertahun-tahun mereka jaga. Bersamaan itu pula terdengar tawa puas dari keempat laki-laki biadab itu. Terlihat dengan sangat jelas oleh Eko di video itu, bagaimana darah mengalir dari kemaluan gadis-gadis yang dipaksa untuk menerima hujaman penis-penis yang berukuran besar.

Video itu rupanya sudah banyak diedit, karena beberapa saat kemudian menampilkan adegan yang sudah berubah pose. Keempat gadis itu dalam posisi menungging dengan wajah tersorot jelas oleh kamera. Wajah mereka nampak begitu kesakitan saat masing-masing kemaluannya dipompa dengan ganas oleh para lelaki dari belakang. Air mata mereka tak berhenti mengalir, suara tangisan mereka pun jelas terdengar.

Beberapa saat kemudian adegan di video itu sudah berubah lagi. Kini menampilkan keempat gadis itu dibaringkan dengan kaki terbuka lebar. Kemaluan mereka yang sedang dipompa oleh batang-batang biadab itu terpampang jelas, dan tak lama kemudian keempat pria itu ejakulasi hampir bersamaan. Saat penis-penis itu dicabut, mengalir keluarlah cairan kental putih bercampur dengan warna merah darah dari kemaluan gadis-gadis itu, diiringi dengan isak tangis yang belum berhenti dari mereka.

Eko tak kuasa menahan tangisnya melihat pemandangan itu. Hatinya sudah benar-benar hancur. Seharusnya dia sadar sedari awal bahwa para penjahat itu tak mungkin memenuhi janji mereka. Seharusnya dari awal dia sudah menolak permintaan mereka jika akhirnya pun akan menjadi seperti ini. Namun belum habis semua itu, Steve kembali berkata kepada Eko.

“Bagaimana? Pemandangan yang menarik bukan? Kamu tenang saja, keempat gadismu itu akan tetap kami biarkan hidup selama bisa melayani kebutuhan anak buah kami, tapi, tidak dengan orang tuamu,” seketika Eko menatap Steve dengan pandangan penuh amarah.

“Apa yang kamu lakukan kepada mereka bangsat?!”

Well, you better see it by yourself.

Steve kemudian kembali mengotak-atik keyboard-nya, dan sesaat kemudian tampilan di layar monitor di hadapan Eko berganti.

“Tidaaaaaaaaaaaakkkk!”

Tangis Eko kembali meledak melihat tanyangan yang ditampilkan di hadapannya. Di layar monitor itu, nampak kedua orang tuanya, serta kedua calon mertuanya tergantung dengan leher terikat tali. Kaki keempatnya tak menyentuh tanah.

This is the live show. Apa yang kamu lihat itu sama persis dengan apa yang terjadi di ruang sebelah sana,” kata Steve dengan entengnya.

Eko kembali menatap Steve dengan tajam. Kemarahan dalam dirinya memuncak. Setelah melihat gadis-gadis yang disayanginya diperkosa dengan brutal, dia melihat orang tua dan calon mertuanya dibunuh dengan sangat biadab. Dendam dalam dirinya benar-benar membuncah. Tak ada kata yang sanggup keluar dari bibirnya, namun tubuhnya terlihat bergetar menandakan kemarahan yang luar biasa.

Sedangkan Steve tiba-tiba beranjak dari kursinya, dan kini tangan kanannya memegang sebuah pistol glock yang selama ini menjadi senjata favoritnya. Perlahan Steve berjalan mendekati Eko. Sambil tersenyum dia kemudian mengarahkan ujung pistol itu di kepala Eko.

Your job done, your life too. Sampaikan salam kami kepada orang tua kamu.”

You’re fucking bastard! I swear to God, your death will be more painful and pathetic than this!” (Kalian bajingan! Aku bersumpah, kematianmu akan lebih menyakitkan dan menyedihkan dari ini)

Is that your last words? Well, it sounds cool dude.” (Itu kata-kata terakhirmu? Wah terdengar keren kawan)

Steve mendekatkan ujung pistolnya ke kepala Eko. Dia sudah bersiap untuk menarik pelatuknya. Sama sekali tak ada ketakutan yang terpancar dari mata Eko, yang ada adalah tatapan penuh amarah, kebencian dan dendam yang membara. Hal terakhir yang kemudian dilihat oleh Eko adalah sebuah kilatan cahaya yang keluar dari ujung pistol itu, setelahnya, semuanya terlihat gelap, sangat gelap.

****

Siang ini cuaca nampak berawan. Sedari pagi sinar matahari belum terlihat menembus sampai permukaan bumi. Awan sudah terkumpul cukup tebal namun tak juga mencurahkan butiran-butirannya untuk membasahi bumi, untuk ikut menghapus kesedihan bagi mereka yang mengalaminya, atau sekedar menyapa beberapa helai daun yang nampak mengering karena merindukan kehadiran mereka.

Di halaman belakang rumahnya, nampak Wijaya sedang bermain-main dengan cucunya yang mulai belajar berjalan. Tika, nama anak kecil itu, anak dari Sakti dan Kamila. Kehadirannya memang cukup menghibur bagi Wijaya yang kini lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah setelah pensiun dari pekerjaannya setahun yang lalu.

Awalnya sempat ada niatan dari Sakti dan Mila untuk membeli rumah dan hidup mandiri. Namun atas permintaan Wijaya dan Aini, merekapun akhirnya memilih untuk tinggal disini. Dengan begitu Sakti bisa lebih dekat dengan orang tua kandungnya, yang baru diketahuinya beberapa tahun yang lalu. Sedangkan Mila yang memang tidak bekerja, bisa membantu Aini mengurusi rumah ini, meskipun mereka sebenarnya sudah punya pembantu.

Tinggal bersama dengan orang tua seperti ini rupanya berdampak cukup baik untuk Sakti dan Mila. Keduanya yang memang memiliki masalah dengan orang tua mereka masing-masing kini dapat merasakan hangatnya kasih sayang yang diberikan oleh Wijaya dan Aini. Sakti yang sedari dulu tinggal bersama dengan Baktiawan, hanya dimanjakan oleh gelimangan harta. Kehidupannya yang seperti itu, ditambah lagi tidak pernah adanya sosok ibu selama ini membuat perilakunya menjadi begitu liar.

Sedangkan bagi Mila, dia lebih beruntung karena sempat merasakan kasih sayang kedua orang tuanya semasa kecil hingga remaja. Namun semua berubah sejak kedua orang tuanya bercerai akibat perbuatan ayahnya. Kini Mila tak tahu lagi bagaimana kabar ayahnya itu, bahkan dia tidak peduli. Kesalahan yang pernah dibuat ayahnya dulu membuatnya begitu membenci sosok yang pernah sangat dikaguminya itu.

Kini semuanya telah berubah. Berada di tengah-tengah keluarga yang harmonis membuat mereka merasakan kebahagiaan seutuhnya. Meskipun proses kearah ini harus melalui kejadian-kejadian yang sangat tidak mengenakan, toh kini mereka sudah melupakan semua itu. Memilih untuk menutup rapat-rapat lembaran lama dan menggantikannya dengan lembaran baru adalah sebuah langkah tepat dalam kehidupan dan kebahagiaan mereka saat ini.

Saat Wijaya sedang bermain-main dengan Tika di halaman belakang, Mila sedang berada di depan menyiram bunga-bunga koleksinya yang berada di teras rumah. Saat itulah tiba-tiba datang seorang pria yang berpakaian agak lusuh. Sempat dia mengira itu adalah pengemis, namun kemudian pria itu menyapanya dengan sopan.

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam. Cari siapa ya Pak?”

“Pak Wijayanya ada?”

“Iya ada. Maaf, Bapak siapa ya?”

“Nama saya Fadli, mantan anak buahnya Pak Wijaya. Bisa saya bertemu dengan beliau Mbak?”

“Oh iya sebentar saya panggilkan. Silahkan duduk dulu disini Pak.”

Mila kemudian mempersilahkan pria yang memperkenalkan dirinya sebagai Fadli itu untuk duduk di kursi teras. Dia awalnya sempat curiga dengan Fadli, namun melihatnya begitu sopan memperkenalkan diri dan menyampaikan maksudnya membuat kecurigaan Mila perlahan luntur. Mila pun segera beranjak ke dalam untuk memanggil ayah mertuanya itu.

“Ayah, ada tamu Yah.”

“Oh, siapa Nduk?”

“Katanya namanya Fadli, mantan anak buah Ayah gitu. Orangnya nunggu di teras Yah.”

“Fadli? Oh iya Ayah ingat. Ya sudah, ini kamu pegang dulu anakmu, biar Ayah nemuin Fadli. Sama tolong minta sama si mbak suruh buatin minum ya.”

“Iya Yah.”

Wijaya pun kemudian menuju teras rumahnya. Saat bertemu dengan Fadli, Wijaya dibuat sedikit terkejut dengan penampilan dari tamunya ini. Wajahnya sedikit berubah dengan brewok yang cukup lebat. Rambutnya yang biasanya terpotong cepak pun kini nampak memanjang. Dan lagi, pakaiannya terlihat terlalu lusuh untuk orang seperti Fadli.

“Selamat siang komandan, gimana kabarnya?”

“Astaga Fadli, kenapa kamu jadi seperti ini sekarang?”

“Ceritanya panjang komandan. Dan untuk itulah sekarang saya menemui komandan.”

“Maksud kamu?”

“Ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan kepada komandan, dan ini sangat penting sekali sifatnya.”

“Tentang apa?”

“Hmm, bisa kita bicara di tempat lain komandan? Dan kalau bisa, kita bicara sama Marto sekalian.”

Wijaya terdiam sejenak menatap Fadli. Wajahnya terlihat sangat serius. Lama menjadi atasannya, dia sangat mengerti sifat Fadli. Jika sudah sampai seperti ini, berarti ada sesuatu yang memang sangat penting yang ingin disampaikan.

“Baiklah, kita ke tempat Marto saja, biar aku suruh supirku nyiapin mobil dulu.”

“Maaf komandan, lebih baik kita pergi berdua saja. Biar saya yang bawa mobilnya.”

Kembali Wijaya menatap mata Fadli, dan lagi-lagi dia melihat kesungguhan disana. Wijaya mengangguk-angguk mengerti.

“Ya sudah kalau begitu. Tapi ini tentang apa? Kok sepertinya rahasia sekali.”

“Memang ini sangat rahasia komandan. Yang mau saya bicarakan ini, tentang Baktiawan, Rio, dan juga Arjuna.”

*****
“Gimana Steve, udah kamu beresin si Eko?”

“Sudah boss, dia dan orang tuanya sudah kami bereskan, tepat setelah pekerjaan terakhirnya selesai semalam.”

“Hmm bagus, lalu berapa uang yang sudah kamu dapatkan?”

“Belum saya lihat lagi, tapi sudah ada beberapa puluh triliun lah.”

“Ya ya ya, baguslah. Yang penting kamu atur itu supaya kita tidak sampai terlacak.”

“Siap boss, masalah itu serahkan saja sama saya,” Steve tersenyum lebar mendapat kepercayaan dari bossnya.

“Lu sendiri Yo, gimana urusan sama cewek-cewek itu?”

“Yah lumayan lah Bas, dapet ngembat perawannya calon bini Eko kemarin, haha,” jawab Rio dengan tawanya.

“Lu tuh emang ye, kalau disuruh yang lain ada aja nggak benernya, tapi giliran urusan sama perawan, cepet banget. Emang dasar otaklu cuma ada di selangkangan.”

“Yee jangan gitu lah Bas, David sama Steve kan juga dapet perawan. Tuh si Tono juga. Daripada lu kasih lagi ke empat orang Mata Angin kayak kemarin itu. Mana mereka lebih cantik lagi,” jawab Rio sewot. Dia memang mendengar tentang hadiah yang diberikan Bastian kepada empat orang mata angin yang baru saja bebas dari penjara. Tak masalah memang memberikan wanita kepada anak buahnya, namun yang menjadi permasalahan bagi Rio adalah, dia tidak rela jika anak buahnya mendapatkan keperawanan gadis-gadis itu sebelum dia yang mencicipinya. Pantang bagi dia menyetuh wanita yang merupakan ‘bekas’ dari anak buahnya.

“Wah wah, kalian ini memang kejam ya,” Dokter Lee yang sedari tadi terdiam akhirnya bersuara juga.

“Yaa Dokter kan tahu kita emang kayak gini. Ngebunuh orang sih udah bukan hal aneh kan?” Rio menimpali perkataan Dokter Lee.

“No no no. Bukan itu yang saya maksud. Kalau urusan bunuh membunuh sih saya sudah paham, dan nggak peduli kalian mau ngebunuh siapa. Tapi yang saya maksud gadis-gadis perawan itu lho. Kok bisa-bisanya kalian begitu kejam.”

“Loh, lha kita kan emang sering merawanin anak orang Dok. Dokter juga udah tahu itu, apanya yang kejam coba?” Rio masih tak mau mengalah, membuat Bastian hanya geleng-geleng kepala saja.

“Yang kejam itu bukan masalah merawanin mereka, oon. Yang kejam itu, kalian dapat perawan sebanyak itu kok satupun nggak ada yang dikasih ke aku?”

“Buahahahaha, anjeeng, gue kira apaan. Si Dokter otaknya udah mulai geser juga nih ke selangkangan.”

Ucapan Rio barusan membuat kelima pria di ruangan tertawa terbahak-bahak. Di ruangan itu saat ini sedang ada Bastian, Rio, Steve, Tono dan Dokter Lee. Bastian sengaja memanggil mereka hari ini untuk berkumpul, ada yang ingin dia sampaikan kepada yang lainnya.

“Oh iya Bas, lu ngumpulin kita disini katanya ada yang mau diomongin, emangnya apaan sih?” tanya Rio ketika tawa mereka sudah mereda.

“Entar, nunggu David dulu,” jawab Bastian yang kembali sibuk dengan ponselnya.

“Nah, si Davidnya kemana? Dari tadi nggak keliatan batang idungnya.”

“Dia lagi gue suruh jemput orang, bentar lagi juga nyampai kok.”

“Emang jemput siapa sih? Cewek ya? Mau pesta lagi lu?”

Tok tok tok. “Siang boss.”

Belum sempat Bastian menjawab terdengar pintu ruangan di ketuk dan terdengar suara David menyapa dari luar.

“Masuk Dave,” jawab Bastian.

Seketika pintu terbuka dan masuklah David diikuti oleh dua orang pria di belakangnya. Kedua pria yang datang bersama dengan David ini membuat semua orang di ruangan ini begitu terkejut, kecuali Bastian, Steve dan David sendiri tentunya.

“Pak Fuadi Suseno? Dan, AKBP Arjuna?” tiba-tiba terdengar celetukan dari Tono yang sedari tadi terdiam.

Rio yang juga terkejut kemudian memandang ke arah Bastian. Sementara itu Bastian hanya tersenyum saja melihat keterkejutan orang-orang itu. Dia kemudian bangkit, dan menyalami kedua orang yang memang sudah ditunggunya dari dari.

“Selamat datang AKBP Arjuna. Dan selamat datang kembali, Ayah.”

***

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part