web hit counter

Mengalahkan Gadis Bagian 2 Part 18

0
263

Mengalahkan Gadis Bagian 2 Part 18
Princesas Que Faltan

“Ton, kamu pantau terus mereka ya, pastikan semua aman,” ujar Bastian memberikan perintah. Tono pun tersenyum mengacungkan jempolnya. Tak seperti sebelumnya yang tidak tahu apa-apa, kali ini justru Tono lah yang mendapat tugas langsung dari Bastian.

“Beres boss, ini mereka juga barusan ngabarin kok. Paketan sudah ditangan, tinggal nunggu sampainya aja disini,” jawab Tono yang juga terlihat sibuk dengan ponselnya.

“Pak Arjuna sendiri, gimana paketnya?” Bastian mengalihkan pandangan kepada Arjuna.

“Kalau mereka mungkin agak nanti Bas, nggak bisa bareng. Untuk yang ini nggak usah buru-buru, tapi yang pasti mereka pasti nyampe kesini.”

“Eh, kalian ini ngomongin apaan sih? Paketan apaan?” Rio tak mengerti dengan pembicaraan antara Bastian dengan Tono dan Arjuna.

“Berisik aja sih lu. Udah deh lu duduk anteng aja disini, yang penting lu entar dapet bagian,” jawab Bastian sewot.

“Oh paketan cewek maksud lu? Emang nyiapin berapa orang lu Bas? Kita akan ada berdelapan nih.”

“Kenapa emangnya kalau kita berdelapan?”

“Yaa males aja gue kalau mainnya keroyokan, kalau bisa kan satu lawan satu.”

“Haha emang dasar lu ye. Tenang aja, Steve dan David nggak ikut kok, abis ini kan mereka ada tugas. Gue entar ada urusan sama Martha, Dokter Lee juga ada urusan sendiri, setelah nanti bantu-bantu disini. Jadi ya tinggal kalian berempat, cukup lah hidangan utama yang gue siapin.”

“Hidangan utama? Kalau gitu ada lagi selain itu dong?” tanya Rio menebak-nebak.

“Kenapa? Mau juga lu? Maruk amat jadi orang. Yang lain gue siapin buat yang lagi kerja sekarang ini.”

“Siapa emang?”

“Mata Angin.”

*****
Marto, Budi, Wijaya dan Fadli masih berada di ruangan itu sejak tadi. Banyak sekali yang mereka bicarakan. Dari pembicaraan ini memang banyak hal tak terduga yang terungkap. Fakta-fakta yang mengejutkan baik itu cerita Marto tentang identitas Yani yang sebenarnya dan teror yang menghantui keluarganya, kemudian cerita dari Fadli tentang perjuangannya bertahan hidup sampai akhirnya berada disini, juga cerita Budi tentang yang terjadi pada Ara dan bagaimana dia menghentikan serangan hacker beberapa waktu yang lalu.

Mereka kemudian menarik kesimpulan bahwa lawan yang kini mereka sedang hadapi benar-benar bukan lawan sembarangan. Yang pasti mereka punya orang-orang hebat dan didukung dengan peralatan-peralatan canggih, dan juga perancang strategi yang sangat cerdas namun juga licik. Namun dari itu semua, mereka juga meyakini bahwa apa yang sudah terjadi sampai sekarang ini bukanlah puncaknya, tapi baru sekedar awalan atau hanya sebatas pancingan saja. Entah siapa yang menjadi target utamanya, tapi lawan mereka benar-benar memiliki perencanaan yang sangat matang.

Setelah mengetahui ini semua mereka segera menghubungi orang-orang terdekat mereka untuk lebih meningkatkan kewaspadaannya. Marto tadi sudah mengirimkan pesan pada Fitri meminta istrinya itu untuk berhati-hati. Dia sampai menyebut nama Fadli dalam pesannya untuk lebih meyakinkan Fitri terhadap kata-katanya.

“Ma, lagi sibuk? Nanti kira-kira lembur lagi nggak?”
“Yaa lumayan sih Pa, kayaknya sih lembur tapi nggak sampai malem banget kok, ada apa?”

“Sekarang Mama harus lebih waspada. Ada beberapa pengkhianat yang ada di kantor Mama.”
“Maksudnya Pa? Pengkhianat gimana? Dan, kok Papa bisa tahu?”

“Fadli yang ngasih tahu Papa.”
“Loh, Mas Fadli? Papa ketemu sama Mas Fadli? Dimana Pa?”

“Iya. Udah nanti aja Papa ceritain kalau udah di rumah, yang penting Mama pulangnya hati-hati nanti.”
“Yaudah Pa, nanti Mama pulangnya seperti biasa kok, sama temen-temen.”Click to expand…Budi pun demikian, tadi dia juga meminta kepada istrinya untuk lebih waspada karena ‘teman’ yang dia minta untuk selalu mengawasinya saat ini harus pergi untuk sementara waktu karena ada kepentingan lain yang harus segera diselesaikan. Budi mengiyakan saja karena selama beberapa hari melakukan ‘temannya’ itu melakukan pengawasan tidak ada satupun hal yang mencurigakan.

“Bunda, udah pulang belum?”
“Udah Yah, ini baru aja nyampai.”

“Yaudah kalau gitu. Ini ayah masih di tempat Mas Marto, mungkin bentar lagi pulang.”
“Oh gitu. Yaudah nanti hati-hati ya Yah pulangnya.”

“Iya. Oh iya, mulai sekarang Bunda lebih hati-hati ya, jangan percaya kepada siapapun, terutama Rio.”
“Bang Rio? Emang kenapa Yah sama dia?”

“Nanti aja di rumah Ayah ceritain. Yang penting Bunda hati-hati, kalau ada apa-apa langsung hubungi Ayah.”
“Oh yaudah kalau gitu. Kalau udah beres disana cepetan pulang ya Yah.”Budi sebenarnya sudah mulai bisa menebak-nebak siapa yang sedang dipancing oleh kelompok Mata Angin ini. Dia sangat yakin bahwa kelompok ini, atau orang yang berada di balik semua rencana ini sedang mengincar dirinya dan juga teman-temannya. Entah apa tujuannya, tapi semua yang dilakukan selama ini memang sudah keterlaluan.

Melakukan berbagai kejahatan dengan korban jiwa yang tidak sedikit, tentu bukan urusan main-main. Berkali-kali sampai mempermalukan kepolisian ini mungkin hanya tujuan kecil mereka saja, Budi yakin ada tujuan yang lebih besar yang sedang mereka rencanakan. Namun dia tidak ingin gegabah menghadapi ini semua. Memanggil teman-temannya terlalu cepat sebelum semuanya jelas justru akan menambah runyam masalah.

Dia cukup mengenal watak dari beberapa temannya, dan dia tahu saat ini teman-temannya itu memantau dari jauh setelah semua yang terjadi ini. Jika memang merasa harus hadir, mereka pasti sudah hadir disini. Tapi sampai sekarang, selain temannya yang dimintai bantuan olehnya, belum ada lagi yang menghubugi dia. Itu berarti teman-temannya menganggap masalah ini belum terlalu serius sampai harus membuat mereka bertindak.

Memang sangat jarang sekali dia dan teman-temannya bertindak secara bersamaan satu tim penuh, karena selama ini setiap ada kasus yang paling luar biasa sekalipun, 4-5 orang saja sudah cukup. Mereka semua memang orang-orang dengan kemampuan khusus diatas rata-rata, namun terlihat biasa saja jika sedang bergaul dengan lingkungannya.

Tak terasa hari sudah gelap. Sudah sangat lama mereka berbincang disini. Hal ini tentu saja karena Fadli yang sudah begitu lama menghilang membuat yang lain penasaran dengan apa yang dijalani oleh Fadli selama ini. Saat baru saja hendak beranjak dari tempat duduknya masing-masing, tiba-tiba ponsel Wijaya berdering. Ada nama Sakti tertera di layar.

“Halo, Assalamualaikum.”
Waalaikumsalam. Ayah dimana?” terdengar suara Sakti yang agak panik di seberang sana.

“Ayah di tempatnya Marto Sak. Kenapa kamu kok panik gitu?” mendengar itu membuat Budi, Marto dan Fadli terdiam.
Ibu, ibu pingsan di teras rumah Yah.”

“Apa? Pingsan? Kok bisa?”
Sakti nggak tahu. Ini baru aja pulang tahu-tahu lihat ibu udah pingsan. Dan, Mila sama Tika juga nggak ada Yah.

“Apa? Mila sama Tika nggak ada? Udah coba kamu hubungi?”
Udah Sakti telpon, tapi nggak bisa-bisa dari tadi, ponselnya mati Yah.

“Yaudah yaudah, Ayah langsung pulang. Kamu panggil dokter dulu buat meriksa ibu.”
Baik Yah.

“Kenapa Yah?” tanya Budi setelah Wijaya mematikan ponselnya.

“Ibu kamu pingsan di teras rumah. Mila sama Tika juga nggak ada di rumah. Bud, coba kamu hubungi Ara sekarang, perasaan Ayah nggak enak,” jawab Wijaya dengan wajah yang memucat. Budi pun segera mengambil ponselnya menghubungi Ara.

Shit, nggak aktif ponselnya,” Budi memaki karena ponsel istrinya tidak bisa dihubungi. Dia mulai panik. Kemudian dia coba menghubungi pembantunya.

Halo Assalamualaikum.
“Waalaikumsalam. Mbak, ibu dimana?”

Pergi tadi Pak. Dijemput sama Pak Sarbini.
“Ardi juga ikut?”

Iya Pak, tadi ada Mbak Mila sama anaknya juga.
“Dari kapan?”

Udah sejam lebih kayaknya Pak.
“Yaudah makasih Mbak.”

“Gimana Bud?” tanya Wijaya yang kini melihat wajah panik dari Budi.

“Ara pergi sama Ardi. Dia tadi dijemput sama Pak Sarbini. Kata pembantu saya ada Mila dan Tika juga tadi Yah.”

“Ara juga nggak bisa dihubungi?”

“Nggak bisa juga Yah.”

“Yaudah, sekarang kita ke rumah Ayah. Sekalian coba kamu hubungai Sarbini.”

Wijaya, Budi dan Fadli pun segera meninggalkan tempat itu menuju ke kediaman Wijaya. Sementara itu Marto yang mendengar pembicaraan mereka tadi mendadak juga tidak enak perasaannya. Dia khawatir dengan istrinya, karena itu dia juga bergegas meninggalkan tempatnya ini untuk menjemput Fitri. Sebelumnya dia sudah berpesan kepada anak buahnya untuk langsung menutup arena permainan ini segera setelah pengunjung terakhir selesai bermain.

Saking paniknya Marto memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Dia berkali-kali mendapat makian dari pengguna jalan yang lain namun tak dihiraukannya. Dia terlalu panik bahkan tak sampai kepikiran untuk menghubungi istrinya terlebih dahulu. Begitu sampai di gerbang kantor istrinya yang merupakan markas besar kepolisian daerah itu dia segera melapor ke penjaga.

“Selamat malam Pak.”

“Selamat malam. Eh Mas Marto, ada apa Mas?”

“Saya mau jemput Fitri.”

“Loh kan Fitrinya udah pulang Mas?”

“Eh, udah pulang? Udah lama Pak?”

“Setengah jam mungkin Mas.”

“Tadi sama siapa ya pulangnya?”

“Tadi sama Jimmy, Ferdi dan Elsa kayaknya. Lha nggak coba di telpon dulu Mas?”

“Ponsel saya lowbat Pak. Yaudah kalau gitu makasih, saya permisi dulu.”

Marto hanya beralasan saja ponselnya mati, padahal dia memang tak sampai kepikiran menghubungi istrinya. Akhirnya Marto melajukan mobilnya menuju ke rumah. Dia kemudian mencoba menghubungi Fitri, namun sialnya ponsel Fitri juga tidak bisa dihubungi. Dia coba untuk menghubungi Elsa, sama juga. Kepala Marto kini dipenuhi dengan pikiran-pikiran buruk, terutama karena tadi mendengar kalau Ara dan Mila juga tidak bisa dihubungi.

Sesampainya di rumah, Marto menjadi semakin khawatir karena istrinya belum pulang. Kembali dia mencoba untuk menghubungi Fitri maupun Elsa, namun sama sekali tidak bisa. Dia juga tidak punya nomer telpon Jimmy maupun Ferdi yang tadi disebut-sebut pulang bersama istrinya. Dia terduduk di teras rumahnya, merenung sejenak, memikirkan kira-kira apa yang terjadi dengan istrinya maupun Elsa.

*****
Sementara itu Wijaya, Budi dan Fadli yang sudah sampai di rumah segera menemui Aini yang masih terbaring lemas di kamar. Sakti yang menungguinya terlihat panik dan berkali-kali mencoba menelpon istrinya, tapi tak pernah bisa.

“Sak, gimana kondisi ibu?”

“Baik Yah, tadi sudah diperiksa sama dokter, tekanan darahnya normal, nggak ada gejala-gejala aneh lainnya juga. Ini disuruh nunggu, kalau sampai nanti jam 10 belum sadar, atau ada gejala-gejala aneh suruh langsung bawa ke rumah sakit.”

“Mila gimana? Sudah bisa dihubungi?”

“Belum Yah, sama sekali nggak bisa dihubungi dari tadi.”

“Sarbini juga nggak bisa dihubungi. Kata pembantunya Ara, tadi Mila sama Tika kesana diantar Sarbini, terus nggak lama mereka pergi lagi sama Ara dan Ardi. Ara juga sampai sekarang nggak bisa dihubungi.”

Mereka semua kini panik. Kemana perginya Sarbini membawa Ara dan Mila serta anak-anak mereka. Kenapa sampai semuanya tidak bisa dihubungi. Saat itulah ponsel Budi berdering, dia segera keluar dari kamar untuk menerima panggilan itu. Tak lama kemudian dia masuk lagi dengan wajah yang nampak semakin bingung.

“Kenapa Bud?” tanya Wijaya.

“Barusan Mas Marto telpon. Tadi selepas kita pergi dia juga pergi untuk menjemput Fitri, tapi sampai di kantornya diberitahu oleh petugas jaga kalau Fitri sudah pulang. Tapi sampai sekarang Fitri belum sampai di rumahnya, bahkan ponselnya juga tidak bisa dihubungi. Nggak cuma Fitri, temannya yang bernama Elsa juga begitu.”

“Ada apa ini sebenarnya? Kemana perginya mereka semua? Bud, bisa coba kamu lacak keberadaan mereka nggak?”

“Bentar Yah, saya coba dulu.”

Budi kemudian keluar dari kamar menuju ke meja makan. Disana dia mengeluarkan laptopnya dan menyambungkannya ke internet. Dia coba melacak ponsel Ara. Meskipun dalam kondisi tidak aktif, Budi telah menaruh sesuatu di ponsel istrinya itu untuk dapat sewaktu-waktu melacaknya dengan aplikasi khusus yang dia buat sendiri.

Sesaat kemudian muncul sebuah titik berwarna biru di layar laptopnya. Dengan pencitraan satelit dia mengatur skala pemetaan di laptopnya agar bisa mengetahui dengan tepat dimana letak ponsel istrinya itu. Titik itu rupanya berdiam di sebuah lokasi yang cukup jauh dari tempatnya sekarang. Lokasi titik itu adalah di pinggir sebuah jalan yang menuju ke pantai paling terkenal di kota ini. Yang mengherankan, dari pencitraan satelit itu diketahui bahwa di lokasi itu hanyalah hamparan persawahan yang jauh dari pemukiman penduduk. Itu berarti, ponsel istrinya dibuang disana. Belum sempat dia melakukan hal yang lain tiba-tiba Fadli keluar dari kamar menuju kearahnya.

“Bud, barusan Pak Wijaya dapet telpon dari kepolisian.”

“Ada apa Mas?”

“Mereka menemukan Pak Sarbini tergeletak di pinggir jalan dengan kondisi badan penuh luka, mobil Pak Wijaya juga ditemukan nggak jauh dari situ, kondisinya rusak berat seperti habis dirusak orang. Mungkin dia tadi mengalami penganiayaan dan sekarang sedang dirawat di rumah sakit. Kami mau kesana, kamu ikut?”

“Yaudah, saya juga ikut.”

Mereka pun bersiap untuk menuju ke rumah sakit menemui Sarbini. Mereka berharap kondisi Sarbini tidak terlalu parah, sehingga bisa dimintai keterangan dan memberikan petunjuk kemana perginya Ara dan Mila. Sakti sebenarnya juga ingin ikut, namun dia disuruh untuk tetap di rumah saja menjaga Aini, kalau-kalau nanti terjadi sesuatu padanya. Dalam benak keempat pria itu kini mengkhawatirkan kondisi Ara dan Mila. Mereka tahu, akan terjadi sesuatu yang buruk pada kedua wanita itu jika tak segera ditemukan.

*****


Bastian

Martha
Di sebuah restoran hotel bintang 5 di kawasan pusat kota, nampak sepasang pria dan wanita baru saja menyelesaikan makan malam mereka. Kini keduanya sedang menikmati hidangan penutup yang disediakan dengan sesekali meneguk wine dari gelas masing-masing. Penampilan keduanya biasa saja, terlihat terlalu casual jika dibandingkan dengan tamu-tamu lainnya, tapi toh mereka tidak peduli, karena apa yang tersaji di meja sudah memperlihatkan bahwa mereka juga dari kalangan atas.

“Martha, malam ini kamu cantik banget.”

“Halah, Pak Bas ini bisa aja ngegombalnya. Orang saya cuma pakai kaos sama celana jeans gini, nggak pake make up juga, kok dibilang cantik.”

“Oh come on Tha, kita lagi dinner gini dan kamu masih aja manggil aku Pak. Kita udah sering bahas ini kan,” Bastian nampak tak nyaman dipanggil pak oleh Martha.

“Hehehe iya Bas, sorry.”

“Nah gitu kan lebih enak didengernya. Tapi serius kok, kamu cantik. Aku lebih suka lihat kamu kayak gini, terlihat natural.”

“Tumben-tumbenan kamu muji Bas, ada angin apa nih?”

“Nggak sih, aku cuma pengen minta satu hal dari kamu.”

“Haha Bas Bas, biasanya minta tinggal minta, pasti bakal aku turutin kan. Ngapain juga pakai muji-muji kayak gitu?”

“Ya karena permintaanku ini lain dari sebelumnya.”

“Hmm, yaudah, kamu mau minta apa emangnya?”

“Minta kamu jadi istriku.”

“Uhuk, apa Bas? Nggak salah denger aku?” Martha yang sedang meminum wine-nya pun tersedak mendengar kata-kata Bastian.

“Nggak kok, kamu nggak salah denger,” jawab Bastian dengan tenangnya.

“Udah deh nggak usah bercanda gitu. Kamu mau minta apa sebenarnya?”

“Aku serius Tha. Setelah semuanya ini selesai, aku pengen nikahin kamu,” ucap Bastian dengan sorot mata tajam menatap Martha.

“Tapi Bas, kamu kan tahu kalau aku…”

“Iya, aku tahu kamu masih nggak bisa ngelupain dia. Tapi cobalah kamu buka hati kamu Tha, ada orang lain disini yang bener-bener cinta sama kamu dan ingin ngebahagiain kamu. Jangan kamu terus terjebak sama masa lalu kamu,” Martha hanya terdiam mendengar perkataan dari Bastian.

“Coba kamu jujur dengan diri kamu sendiri, kamu nggak bisa ngelupain dia bukan karena kamu masih cinta, tapi karena dendam kan? Kita sudah sejauh ini untuk membalaskan dendam kamu, setelah semua selesai, lalu apa? Aku tahu kamu nggak pengen Budi sampai mati karena rencana kita, tapi membuatnya menjadi menderita sudah cukup kan untuk membalas sakit hati kamu?”

Martha masih terdiam. Memang benar apa yang dikatakan oleh Bastian. Sampai saat ini dia masih belum bisa melupakan sosok Budi. Pria yang pernah begitu dalam mengisi hatinya, lalu mencampakkannya begitu saja. Memang dia sudah tak lagi memiliki rasa cinta kepada Budi, yang tersisa kini hanyalah dendam yang begitu besar.

Dan memang benar, dia bahkan tak tahu setelah semua ini selesai apa yang akan dia lakukan, dia belum memikirkan sampai ke arah sana. Pikirannya saat ini hanya dipenuhi oleh bagaimana dia membalas dendam kepada Budi. Selama ini dia terjebak dalam kebingungan untuk melakukannya. Dia tak punya apa-apa dan siapa-siapa untuk membantunya.

Namun hadirnya Bastian seolah menjadi pembuka jalan untuknya membalas dendam. Bastian yang setahu dia juga memiliki dendam serupa kepada Ara kemudian mengajaknya untuk melakukan ini semua. Awalnya Martha begitu terkejut mendengar rencana Bastian yang dianggapnya terlalu berlebihan, tapi kemudian setelah Bastian menyakinkannya, dia menjadi tak peduli lagi dengan seberapa jahat rencana itu, yang penting dendamnya kepada Budi bisa terlampiaskan.

Tapi kini, disaat mereka sedang berada di tengah-tengah rencana yang hampir berhasil, Bastian memintanya untuk menikah dengannya. Martha bukannya sama sekali tak memiliki perasaan kepada Bastian. Jauh di lubuk hatinya, dia sudah begitu kagum dengan pria itu semenjak pertama kali bertemu. Semakin lama bersama perasaan itu semakin besar. Namun kemudian kehidupannya yang cenderung bebas membuatnya berpikir tak mungkin dia dan Bastian bisa melangkah ke jenjang yang lebih jauh. Ternyata pikirannya salah, nyatanya malam ini Bastian mengucapkan kata-kata yang memang sebenarnya ingin didengarnya.

“Aku sudah cerita ke kamu semua tentangku Bas. Masa laluku, kehidupanku, semuanya. Sedang kondisi seperti itu, kamu masih mau menikahiku? Come on Bas, open your eyes. Masih banyak cewek yang lebih pantas jadi nyonya Bastian.”

“Justru karena aku udah tahu kamu luar dalem, makanya aku mantap buat milih kamu. Kita semua punya masa lalu. Apa yang bakal kita lakuin sekarang ini, nantinya juga akan jadi masa lalu kita. Aku nggak peduli dengan semua itu. Aku cuma pengen kedepannya kita bisa bareng terus, bukan sebagai boss dan sekretarisnya, tapi sebagai suami dan istri.”

“Bas, akuu… entahlah, rasanya aku perlu waktu.”

“Nggak masalah Tha, toh kita juga nggak akan nikah besok. Aku tahu kamu pasti mau sama aku, cuma kamu masih ragu aja.”

“Dih, kepedean banget kamu.”

“Tapi bener kan?”

“Bodo amat lah. Udah yuk balik ke kamar aja.”

“Nah kan, belum nikah aja udah ngajakin ngamar.”

“Bodo.”

Martha pun bergegas pergi karena wajahnya sudah mulai memerah karena malu. Benar apa yang dikatakan oleh Bastian. Lagipula siapa yang mau menolaknya, seorang pengusaha muda yang sukses, dengan kekayaan yang melimpah, menjadi istrinya sudah pasti kehidupannya akan terjamin. Yah, meskipun sisi gelap seorang Bastian yang sangat pekat, tapi siapa peduli. Lagipula Martha juga memiliki rasa terhadap laki-laki itu.

Bastian yang cekikikan melihat Martha yang salah tingkah pun segera menyusul wanitanya itu. Mereka masuk lift bersamaan. Tak ada kata yang terucap dari keduanya. Martha hanya diam menundukkan kepalanya, bingung dengan situasi ini. Padahal selama ini dia sudah sering sekali hanya berduaan dengan Bastian, tapi permintaan Bastian tadi membuat suasana menjadi lain, menjadi sedikit canggung.

Setelah lift terbuka dengan cuek Bastian menggandeng tangan Martha menuju ke kamarnya. Martha masih saja terdiam mengikuti Bastian. Begitu masuk ke dalam kamar Martha melepaskan tangan Bastian karena ingin ke kamar mandi, sementara itu Bastian mengambil sebotol wine dari kulkas dan dua buah gelas. Kamar dengan kelas presidential ini memang memberikan fasilitas yang cukup lengkap untuk tamunya.

Tadinya Martha menolak ketika Bastian memesankan kamar ini, terlalu mewah katanya. Namun Bastian bersikeras, karena memang dirinya akan sering mengunjungi dan ikut menginap selama Martha disini. Akhirnya Martha pun menurut saja, lagipula Bastian yang membayar semua ini, sekaligus juga semua kebutuhannya selama berlibur disini, jadi tak perlu pusing dia memikirkannya.

Beberapa saat kemudian Martha keluar dan melihat Bastian yang duduk di sofa yang menghadap TV dengan memegang dua buah gelas yang sudah terisi. Bastian memberi kode agar Martha duduk di sebelahnya. Masih dengan suasana canggung Martha menurutinya. Diambilnya gelas yang disodorkan oleh Bastian dan langsung meminumnya hingga habis untuk menghilangkan kegugupannya.

“Hei hei, santai aja cantik, malam masih panjang lho.”

Martha hanya membalasnya dengan senyuman. Mengetahui kegugupan yang dirasakan Martha, Bastian pun merangkulkan tangannya ke pundak Martha. Dia berusaha untuk menciptakan suasana yang nyaman bagi mereka.

“Tha,” panggil Bastian lirih yang membuat Martha berpaling menatapnya.

“Aku cinta sama kamu.”

“Bas, aku hhmmmmpp.”

Belum sempat menyelesaikan kata-katanya, bibirnya sudah dilumat dengan lembut oleh Bastian. Awalnya dia hanya diam saja, namun lama kelamaan membalas ciuman dari Bastian. Bibir mereka saling melumat dan menghisap, semua itu dilakukannya dengan lembut. Martha merasakan sesuatu yang lain dari ciuman Bastian kali ini, benar-benar berbeda dari sebelumnya. Ciuman ini terasa begitu lembut, begitu penuh dengan perasaan. Tak lama kemudian Bastian menarik bibirnya. Matanya menatap Martha dengan sangat lembut.

Dia kemudian meletakkan gelasnya di meja, lalu berdiri untuk menyalakan musik jazz yang mengalun dengan begitu lembut. Bastian yang masih berdiri kemudian menghadap ke arah Martha, tangan kanannya terjulur.

Dance with me?”

Martha pun tersenyum, meletakkan gelasnya di meja lalu berdiri meraih tangan Bastian. Dengan lembut ditariknya tubuh Martha hingga berada di pelukannya. Kedua tangannya melingkar di punggung Martha, sedangkan kedua tangan Martha melingkar di lehernya. Keduanya bergoyang pelan seirama dengan musik yang begitu syahdu. Mata mereka saling tatap, dan senyum lebar tersungging dari bibir keduanya.

Perlahan Bastian mendekatkan wajahnya, lalu kembali dengan lembut mencium bibir Martha. Kali ini ciumannya langsung mendapat sambutan hangat dari Martha. Masih dengan menggoyangkan badan mengikuti alunan musik, keduanya saling berciuman dengan lembut, seolah ingin menyampaikan rasa sayangnya ke pasangan masing-masing.

I want you, now and forever,” ucap Bastian lirih disela-sela ciuman mereka.

I want you too.”

Lumatan mereka kini tak hanya sebatas saling hisap bibir, tapi lidah mereka pun mulai ikut bermain. Saling belit dan saling hisap, saling bertukar liur. Semakin lama tubuh mereka semakin menghangat. Pertukaran sayang itu kini mulai dibarengi dengan nafsu birahi yang perlahan-lahan muncul ingin ikut campur.

Tangan Bastian tak lagi diam. Keduanya menarik tubuh Martha agar semakin menempel, setelah itu mengelusi punggung Martha yang masih tertutup kaosnya. Tangan Martha pun sama, kini mulai mengacak-acak rambut Bastian yang sebenarnya masih kaku karena pomade.

Kedua tangan Bastian mulai nakal meremasi pantat Martha yang kencang, membuat nafas wanita itu semakin memburu sekarang. Dengan satu gerakan yang mantap Bastian mengangkat tubuh Martha, yang membuat wanita itu terpaksa menyilangkan kakinya di tubuh Bastian. Dalam posisi menggendong Martha itu, Bastian berjalan perlahan menuju ke tempat tidur.

Bastian kini terduduk di pinggiran tempat tidur dengan tubuhnya masih dipeluk oleh Martha. Ciuman mereka masih berlanjut, bahkan semakin memanas. Lidah mereka semakin liar menjelajahi rongga mulut pasangannya. Nafsu mereka perlahan-lahan mulai menyeruak mendominasi permainan ini.

Dengan sebuah gerakan cepat, kedua tangan Bastian mengangkat kaos Martha hingga terlepas dari tubuhnya. Tak mau kalah, Martha pun melakukan hal yang sama. Kembali tangan Bastian beraksi dengan lihainya melepaskan kancing bra Martha yang terletak di belakang, lalu melepaskan dan membuangnya sembarangan. Kini mereka berdua dalam posisi telanjang dada.

Kedua tangan Bastian tak menyia-nyiakan kedua gundukan indah yang menghiasi dada Martha. Meskipun sudah sering memainkannya, tapi Bastian tak pernah bosan. Kedua tangannya dengan lembut meremas gundukan-gundukan itu, membuat Martha sedikit mendesis disela-sela ciumannya. Kedua putingnya sudah mengeras, ikut dipermainkan juga oleh jari-jari nakal Bastian.

Desahan nafas sepasang manusia ini semakin lama semakin terdengar jelas. Bastian tak hanya menggunakan bibirnya untuk menciumi bibir Martha, namun kini sudah menyapu leher hingga kedua buah dada wanita itu. Kiri dan kanan dilumatnya bergantian. Meskipun tidak selembut saat memulai permainan tadi, namun masih terasa oleh Martha bahwa semua yang dilakukan Bastian ini tak hanya sekedar memuaskan birahinya saja, tapi lebih daripada itu untuk menyampaikan perasaannya juga.

Martha membalasnya dengan sepenuh hati, dengan gerakan sedikit menghentak dia buat tubuh Bastian terbaring di tempat tidur dengan kedua kaki masih menjuntai ke lantai. Martha dengan kerlingan nakalnya mulai memanjakan sang pejantan. Bibirnya membalas perlakuan Bastian sebelumnya. Lidahnya dengan telaten disapukannya menyusuri leher dan sekujur dada Bastian yang bidang.

Pada saat yang bersamaan kedua tangan Martha dengan lincah membuka ikat pinggang dan kancing celana Bastian. Semakin turun jilatan Martha ditubuh Bastian, semakin turun pula tangannya membuat celana panjang itu perlahan meninggalkan tempatnya. Kini Bastian hanya tinggal memakai celana dalam sedangkan dirinya masih berbalut celana jeans. Namun melihat pejantannya yang pasrah, dia pun berinisiatif membuka celana panjangnya sendiri, biarlah nanti G-string itu dilepaskan oleh Bastian.

Keduanya sudah sama-sama hampir bugil, hanya celana dalam saja yang menutupi tubuh mereka. Bastian masih dalam posisi berbaring namun kini sudah seluruh tubuhnya berada di tempat tidur. Martha dengan gerakan yang dibuat begitu nakal, merangkak dari kaki Bastian menuju ke pangkal pahanya. Celana dalam Bastian sudah mengembung, memperlihatkan batang yang tersimpan di dalamnya sudah mengeras hanya dengan melihat tingkah wanita itu.

Martha kemudian mendekatkan wajahnya ke bagian yang mengembung dari celana dalam Bastian. Perlahan dia ciumi gundukan itu, bergeser sedikit demi sedikit kebawah, kemudian naik lagi. Sambil menciumi itu mata Martha dengan nakal melirik Bastian. Terlihat kepuasan disana melihat sang pejantan yang hanya melenguh pasrah. Bukan Bastian yang biasanya mendominasi permainan, kini nampaknya lelaki itu sedang memberi Martha kesempatan untuk berkuasa atas dirinya.

Bastian mengangkat pinggulnya ketika dia rasakan bibir indah Martha menggigit karet celana dalamnya dan menariknya kebawah. Semakin kebawah hingga kini batang kebanggaannya mencuat dengan gagahnya. Martha terus menggigit turun celana dalam itu hingga lepas dari kaki Bastian. Sungguh hal ini membuat lelaki itu begitu bergairah, penisnya sudah tegang maksimal. Namun dia menahan dirinya, benar-benar memberi kesempatan kepada Martha untuk menguasai permainan.

Kini wajah Martha sudah berada di depan batang yang mengacung tegak itu. Bibirnya lembut mencium kepala penis Bastian, lalu turun hingga ke pangkalnya. Naik lagi, kemudian turun lagi. Selanjutnya batang itu habis dilumat oleh mulut hangat Martha. Dengan lembut dan telaten dia menggerakan kepalanya naik turun, membiarkan penis Bastian merasakan hangat rongga mulutnya.

Desahan Bastian sudah tak tertahan lagi. Kenikmatan yang dia rasakan dari kuluman Martha benar-benar berbeda dari sebelum-sebelumnya. Martha tak menggunakan tangannya sama sekali, hanya mulut dan lidahnya saja yang bekerja. Itu pun sudah cukup untuk membuat penis Bastian basah dalam ketegangannya. Tak tahan dengan permainan Martha, Bastian memutuskan untuk mengambil alih.

Ditariknya kepala Martha dari batangnya, kemudian dengan lembut merebahkan tubuh sang betina. Kini permainan berbalik, Bastian ingin membalas tuntas apa yang telah diperbuat Martha tadi. Sekujur leher hingga perut wanita itu habis oleh jilatan Bastian. Sempat berhenti agak lama di kedua buah dadanya, Bastian kini turun menuju ke perut Martha, dan semakin turun hingga membuat tubuh wanita itu beberapa kali menggelinjang merasakan geli.

Sama seperti yang dilakukan Martha, dengan menggunakan mulutnya Bastian menarik turun celana dalam model G-string yang dikenakan, hingga lepas dari kedua kakinya. Kini kedua insan itu polos tanpa sehelai benangpun. Martha melebarkan kakinya saat kepala Bastian menuju pangkal pahanya. Terasa nafas hangat Bastian disana, membuat degup jantung Martha kian terpacu.

“Aaaaaahhhhh Baaaasssss.”

Desahan Martha terdengar kala lidah hangat Bastian menyapu bibir kemaluannya. Sesekali lidah itu menyentil biji klitorisnya membuat tubuhnya menggelinjang. Permainan lidah Bastian pun dia rasakan berbeda dari sebelumnya, lebih lembut dan tidak terburu-buru. Vagina Martha sudah sangat basah, bukan hanya oleh ludah Bastian namun juga oleh cairan kewanitaannya sendiri.

Kini Bastian lebih banyak bermain dengan biji kecil di pangkal pahanya, memuat liang kewanitaannya semakin basah. Martha benar-benar tak tahan lagi, dorongan birahinya membuat tubuhnya mengejang saat sebuah gelombang menghantamnya. Dia orgasme oleh permainan indah lidah Bastian. Pinggulnya terangkat-angkat. Matanya tertutup menikmati rasa yang baru saja dia dapatkan.

Melihat itu Bastian tersenyum. Ekspresi wajah dan tubuh Martha ketika menikmati orgasmenya itu benar-benar membuatnya semakin jatuh hati. Setelah sesaat memberi waktu kepada sang betina untuk beristirahat, kini saatnya untuk pertemuan kelamin keduanya. Bastian menempelkan kepala penisnya di bibir vagina Martha, sementara wajahnya juga mendekat ke wajah cantik Martha.

Keduanya saling tatap. Bukan dengan pandangan penuh nafsu, tapi kali ini dengan penuh cinta. Perlahan tapi pasti akhirnya bibir mereka bertemu, saling melumat. Bersamaan dengan itu, Bastian mulai menekankan kepala penisnya untuk memasuki liang senggama Martha. Tak perlu waktu lama hingga seluruh batang itu tertelan oleh vagina Martha. Lubang yang sudah sering dia masuki, namun entah kenapa malam ini berbeda sekali rasanya. Jauh lebih nikmat.

Martha pun merasakan hal yang sama. Batang itu sudah berkali-kali memasukinya, namun kali ini nikmat sekali. Liang kewanitaannya seolah sedang berkenalan lagi dengan setiap inchi permukaan penis itu, padahal sebelumnya mereka sudah sangat akrab.

Tak lama kemudian Bastian mulai menggerakan pinggulnya. Perlahan, penis itu mulai terlihat keluar masuk di liang kewanitaan Martha. Kedua kaki dan tangan Martha memeluk tubuh Bastian. Tubuhnya mengikuti setiap gerakan sang pejantan, sambil sesekali dinding vaginanya melakukan gerakan meremas untuk semakin memanjakan penis itu.

Kini tubuh kondisi mereka berbalik. Kembali Bastian merebah di bawah Martha. Tubuh wanita itu tegak dengan batang penis yang keras berada di dalam tubuhnya. Dia menggerakkan tubuhnya pelan, maju dan mundur. Sesekali melingkar, kemudian bergerak naik turun. Kecepatannya semakin bertambah lantaran kenikmatan yang dia rasakan semakin terasa.

Gerakan cepat Martha tiba-tiba mendapat perlawanan dari Bastian. Kini suara tumbukan keduanya lebih keras terdengar, menghiasi desahan dan lenguhan mereka yang sudah sedari tadi mendominasi kamar ini, mengalahkan lantunan musik jazz yang syahdu. Mendapat perlawanan dari Bastian membuat Martha semakin menggila. Puncak kenikmatannya sebentar lagi, membuat Martha semakin cepat menggerakkan tubuhnya. Bastian mengetahui itu, dia pun memberikan respon yang sama kepada Martha, hingga akhirnya gelombang itu datang lagi menerpa Martha.

“Baaassss akkuuuuu keeluuuuuu,, aaaarrhhhhhhh.”

Tubuhnya mengejang, kepalanya terdongak ke belakang, membuat Bastian tak bisa melihat ekspresi kenikmatan Martha. Nafas wanita itu terengah-engah, keringat mulai bercucuran membasahi tubuhnya. Dinginnya kamar ini kalah dengan panasnya permainan mereka. Setelah merasa cukup memberi waktu Martha untuk beristirahat, kini giliran Bastian yang beraksi.

Dia meraih tubuh Martha dan memeluknya. Kemudian dengan gerakan lembut dia memutar tubuhnya membalikkan posisi mereka. Martha yang nampak kelelahan pasrah saja diperkakukan demikian. Tanpa mengeluarkan penisnya kini Bastian sudah menindih tubuh Martha.

Dengan bertumpu pada kedua tangannya, Bastian mulai menggerakkan penis itu kembali keluar masuk vagina Martha. Kembali desahan erotis sang wanita terdengar, bagaikan musik yang indah di telinga Bastian. Semakin lama gerakan Bastian semakin cepat. Martha merasakan sang pejantan sedang mengejar klimaksnya, sehingga diapun membantu dengan menggerakkan tubuhnya seirama dengan Bastian, juga memanjakan penis itu dengan berkali-kali meremasnya menggunakan dinding vaginanya.

“Aaaahhhhh Thaaaa, aku mau keluaaaarrr.”

“Akhuuu jugaaaa, barengan Baasss, barengaaaaaaannn.”

Bastian kian mempercepat gerakannya, begitu juga dengan Martha. Keduanya kini bersama-sama mengejar puncak kenikmatan itu. Bastian tak lagi menyangga tubuhnya dengan kedua tangannya. Kini dia memeluk tubuh indah Martha, begitupun sebaliknya.

“Aaaaaaaarrrgggghhhhhhhhh.”

Pekik keduanya bersamaan. Tubuh mereka pun mengejang bersamaan. Beberapa kali semburan hangat terasa oleh Martha di dinding rahimnya. Bastian pun merasakan kembali cairan hangat Martha di penisnya. Dalam pelukan Bastian, Martha menenggelamkan kepalanya di dada lelaki itu. Keduanya masih terdiam menikmati sisa-sisa orgasme mereka. Kadang pinggul mereka masih mengejat-ejat.

Beberapa saat kemudian Bastian mencabut penisnya yang telah melemas, membuat cairan yang dia lepaskan di dalam vagina Martha mengalir keluar. Dia membaringkan tubuhnya di samping Martha. Tangan kanannya ditindih oleh leher Martha. Mereka masih terpejam menikmati permainan mereka barusan. Sungguh ini adalah persetubuhan paling nikmat yang pernah mereka lakukan selama ini. Benar-benar berbeda, karena kali ini bukan hanya oleh nafsu belaka.

Perlahan Martha menggerakkan tubuhnya, memeluk Bastian. Sang pejantanpun membelai kepala Martha, mengelus rambut panjangnya yang sudah berantakan. Bastian mencium lembut kening Martha, cukup lama untuk memberi kenyamanan dan rasa tenang pada wanita itu.

“Aku pengen kayak gini terus Tha.”

“Bas,,”

“Iya?”

“Aku,, mau.”

“Makasih sayang.”

Bastian memeluk erat wanita itu. Wanita yang baru saja mau menerima permintaannya. Wanita yang akan dia jadikan nyonya Bastian untuk selamanya, setelah semua yang sedang mereka kerjakan ini, berakhir.

***

Sudah lebih dari satu jam ketiga pria itu menunggu sadarnya lelaki yang sedang terbaring di ranjang rumah sakit itu. Kondisinya cukup stabil, namun benar terlihat beberapa luka lebam di wajahnya, dan masih banyak lagi ditubuhnya yang tertutup oleh pakaian pasien itu. Selain mereka bertiga, ada juga beberapa polisi yang menunggu di luar kamar, bersiap dengan puluhan pertanyaan yang akan ditanyakan saat sang pasien sadar.

Fadli hanya terdiam saja. Wijaya nampak masih beberapa kali berkirim pesan dengan Sakti di rumah untuk memantau kondisi Aini. Sedangkan Budi masih sibuk dengan ponselnya, mengotak atik yang bisa dia otak atik, untuk mencari keberadaan istri dan kakak iparnya beserta anak-anak mereka, meskipun sampai sekarang masih tanpa hasil.

Tak lama kemudian pandangan mereka tertuju pada ranjang pasien saat lelaki yang terbaring disana beberapa kali menggeliatkan badannya. Wijaya kemudian mendekat, memeriksa apakah lelaki itu sudah sadar atau belum. Beberapa saat menunggu akhirnya lelaki itu membuka matanya, mencoba mengenali kondisi di sekeliling, hingga akhirnya bertemu mata dengan Wijaya.

“Tu… tuan.”

“Alhamdulillah kamu sudah sadar Sar. Fad panggilkan dokter.”

Segera dengan sigap Fadli pun memanggil dokter untuk memeriksa kondisi Sarbini. Wijaya, Budi dan Fadli hanya memperhatikan saja. Setelah berbincang sejenak menjelaskan kondisi Sarbini, dokter jaga itupun kemudian meninggalkan ruangan.

“Tu… Tuan, maafkan saya.”

“Sudah Sar, tenang dulu. Pelan-pelan coba kamu ceritakan ada apa tadi?”

“Semua ini salah saya Tuan, semua ini salah saya.”

“Iya iya, sekarang coba ceritakan. Pelan-pelan aja.”

“Semua gara-gara kekhilafan saya Tuan. Tapi saya bener-bener nggak nyangka kalau jadinya bakal seperti ini. Saya menyesal karena ternyata cuma dimanfaatkan saja,” dengan terbata-bata Sarbini mulai menjelaskan.

“Dimanfaatkan gimana Sar? Siapa yang memanfaatkan kamu?” tanya Wijaya semakin tak sabar. Melihat ini Budi pun mendekat untuk menahan Wijaya jika sewaktu-waktu mertuanya itu bertindak di luar dugaan. Budi melakukan itu karena dia sudah bisa menduga-guda kira-kira apa yang akan dikatakan oleh Sarbini.

“Mbak Tata, yang sudah menghasut saya sampai saya melakukan kesalahan ini.”

“Tata? Tata yang jadi suplayer di butiknya ibu?”

“Iya Tuan.”

“Lha terus apa hubungannya sama Tata.”

“Semua terjadi gara-gara perselingkuhan yang saya lakukan dengan Mbak Tata, dihari pernikahan Mas Budi dan Mbak Ara,” sontak perkataan itu membuat Wijaya dan Fadli terkejut, namun tidak begitu dengan Budi. Tapi mereka memilih untuk diam dulu menunggu Sarbini melanjutkan ceritanya.

“Setelah melakukan perselingkuhan yang pertama itu, saya jadi sering bertemu dan melakukan itu lagi dengan Mbak Tata, bahkan sampai beberapa hari yang lalu. Dan dari situ Mbak Tata mulai mempengaruhi saya, sehingga setiap bersetubuh dengannya, saya selalu membayangkan sedang bersetubuh dengan, Mbak Ara.”

“Apa katamu?” emosi Wijaya sontak meledak mendengar pengakuan dari Sarbini. Beruntung Budi yang sudah berada tepat di belakangnya langsung memegangi tubuh mertuanya itu.

“Sabar dulu Yah, biar dia selesaikan ceritanya dulu.”

“Maaf Tuan, Mas Budi, tapi memang itulah yang terjadi. Semakin lama saya jadi semakin terobsesi sama Mbak Ara, sampai saya berani mencuri beberapa pakaian Mbak Ara, dan menyuruh Mbak Tata memakainya waktu akan bersetubuh dengan saya. Bahkan, saya sempat melakukan hal tak senonoh kepada Mbak Ara waktu dia nggak sadar, meskipun nggak sampai menyetubuhinya.”

Budi semakin kuat menahan tubuh mertuanya yang dia rasakan semakin ingin menghampiri Sarbini. Bahkan dia sampai meminta tolong kepada Fadli. Kini sudah jelas bagi Budi siapa lelaki yang dulu berani menumpahkan cairan spermanya di wajah Ara, dan membuat beberapa bekas cupangan di kedua payudaranya. Meskipun sudah menduga bahwa Sarbinilah pelakunya, namun kini semakin jelas karena dia sudah mengakuinya sendiri.

“Bukan cuma itu saja, bahkan sejak kehadiran Mbak Mila di rumah, saya juga jadi tergila-gila dengannya. Sama seperti Mbak Ara, saya juga mencuri beberapa pakaiannya dan menyuruh Mbak Tata yang memakainya. Saya juga pernah, mengintip dan memotret Mbak Mila, waktu dia lagi mandi.”

“Semakin lama obsesi saya kepada Mbak Ara dan Mbak Mila semakin besar, apalagi Mbak Tata berjanji akan membantu saya supaya bisa, menyetubuhi keduanya. Saya sudah benar-benar dikuasai pikiran buruk, sampai-sampai saya menurut saja dengan semua yang dikatakan oleh Mbak Tata.”

“Sampai akhirnya tadi sore Mbak Tata menelpon saya, disuruh untuk siap-siap mengantar Mbak Mila menjemput Mbak Ara, untuk nantinya dibawa ke tempat Mbak Tata. Rencananya disana malam ini saya akan menyetubuhi mereka.”

“Mbak Tata yang mengatur semuanya. Dia menelpon Mbak Mila untuk memintanya datang ke tempatnya. Alasannya untuk melihat koleksi baju-baju terbarunya. Dia meminta Mbak Mila mengajak Tika karena bilangnya dia punya koleksi baju untuk anak sesuai Tika. Mbak Tata juga meminta Mbak Mila untuk mengajak Mbak Ara dan Ardi karena juga memiliki baju yang seusia Ardi.”

“Habis Mbak Mila telpon Mbak Ara akhirnya dia meminta saya untuk mengantarkan. Saya mau-mau aja karena ini memang sudah diatur. Tadinya Mbak Mila mau mengajak nyonya, tapi karena sedang ada tamu makanya kami pergi sendiri.”

“Tamu? Siapa tamunya?” Budi bertanya karena ini bisa menjadi petunjuk pingsannya Aini, dan siapa tahu menjadi petunjuk pula untuk hilangnya Ara dan Mila.

“Saya nggak tahu Mas, nggak kenal, cuma saya dengar kayaknya namanya Lusi gitu.”

Lusi. Sial, ini bukan kebetulan. Mereka benar-benar sudah mengatur semuanya,’ batin Budi. Dia tahu siapa Lusi, jika memang Lusi yang dimaksud oleh Sarbini itu adalah istri dari mending Dede, lelaki yang dulu adalah atasan Ara dan telah dia beri pelajaran karena sudah berbuat kurang ajar kepada istrinya.

“Lanjutkan ceritamu Sar!” hardik Wijaya tak sabar menunggu kelanjutan cerita Sarbini.

“Akhirnya saya menjemput Mbak Ara yang memang sudah bersiap-siap. Tapi baru sebentar meninggalkan rumah, belum sampai keluar dari gerbang perumahan Mas Budi, kami sudah dicegat oleh dua buah mobil sedan warna hitam. Beberapa orang keluar dari kedua mobil itu, lalu membuka paksa pintu mobil kami.”

“Kejadiannya cepat sekali, sampai saya nggak bisa menahan waktu mereka menyeret Mbak Ara dan Mbak Mila sama anak-anak ke mobil itu. Saya sempat melawan tapi akhirnya saya dikeroyok oleh mereka. Setelah itu saya nggak ingat apa-apa lagi Tuan,” ujar Sarbini mengakhiri ceritanya.

“Kamu memang bajingan Sarbini. Kamu sudah aku anggap sebagai keluarga sendiri. Istrimu sakit aku yang biayai. Anakmu sekolah aku yang biayai. Tapi ini balasan kamu? Kamu mau menodai anak-anakku hah?! Harusnya kamu mati aja sekalian!” emosi Wijaya sudah tak terbendung lagi, membuat para polisi yang menunggu di luar masuk ke kamar karena mendengar teriakannya.

“Sudah Yah sudah, sabar. Ini rumah sakit. Mas Fadli, tolong. Biar saya bicara dulu dengan Pak Sarbini,” Budi mencoba menenangkan Wijaya dan meminta Fadli beserta beberapa polisi itu untuk membawa Wijaya keluar.

Kemarahan Wijaya ini juga mengundang perhatian dari beberapa pengunjung rumah sakit yang kamarnya berada di sekitar situ. Fadli pun membawa Wijaya keluar, para polisi itu membantunya. Kini Budi dan dua orang polisi masih berada di dalam kamar Sarbini, entah apa yang mereka bicarakan. Tak lama kemudian Budi keluar dari kamar itu.

“Sudah Yah, kita pulang. Pak Sarbini biar diurusi sama bapak-bapak polisi ini. Ayah istirahat di rumah, biar saya sama Mas Marto yang mencari mereka, termasuk istri Mas Marto dan temannya. Saya yakin yang menculik mereka adalah orang yang sama.”

Meskipun masih diliputi emosi, namun Wijaya menuruti kata-kata menantunya itu. Dalam perjalanan pulang Wijaya masih saja memaki-maki Sarbini. Dia benar-benar menyesal telah mempekerjakan pria itu. Semua perlakuan baik yang diberikan olehnya dan keluarganya malah mendapat balasan seperti itu.

Memang semua ini bukan murni kesalahan Sarbini. Ada orang yang memanfaatkannya. Tapi tetap saja di mata Wijaya supirnya itu memiliki andil dalam hilangnya anak-anak dan cucu-cucunya. Dia bersumpah jika terjadi apa-apa terhadap mereka, maka Sarbini adalah salah satu orang yang harus mempertanggung jawabkan semua ini.

Sesampainya di rumah, Wijaya langsung menuju ke kamar, melihat kondisi Aini yang masih juga belum siuman. Sakti menanyakan apa yang terjadi, dan Budi menjelaskannya dengan hati-hati. Sakti juga sempat terbakar emosinya mendengar cerita Budi namun segera ditenangkan oleh Budi dan Fadli. Sakti tadinya juga ingin ikut Budi untuk menjadi Ara dan Mila erta anak-anak mereka, namun Budi melarangnya.

Budi menjelaskan bahwa ini bisa sangat berbahaya, karena itu dia akan meminta bantuan Marto. Sakti diminta untuk tetap di rumah menjaga orang tuanya. Budi juga meminta Fadli untuk malam ini tinggal di rumah Wijaya menjaga mereka. Fadli sendiri juga sudah menghubungi mantan rekan-rekannya di kepolisian yang sangat dia percaya, yaitu Iptu Paidi dan Iptu Fauzi untuk meminta bantuan, terutama pengamanan di rumah ini, dan juga di rumah Marto. Setelah memastikan semuanya, Budi segara menghubungi Marto.

Halo, gimana Bud?”
“Halo Mas, polisi udah ada disitu?”

Iya, ini udah ada kok. Terus gimana?”
“Yaudah, bentar lagi saya ke rumah Mas Marto, nanti saya ceritakan apa yang sudah saya dapat.”

Baiklah. Aku juga ada yang harus aku sampaikan ke kamu. Semua ini muaranya ada di satu orang Bud.
“Iya Mas, perkiraan saya juga seperti itu. Yasudah, saya berangkat dulu.”

Budi segera mohon pamit kepada mertuanya. Dia kemudian mengemudikan mobilnya menuju ke rumahnya terlebih dahulu, untuk mengambil beberapa barang, setelah itu baru menuju rumah Marto. Kali ini Budi sudah tak tahan lagi. Perbuatan para penjahat itu sudah keterlaluan, sampai menculik istri dan kakak iparnya, juga anak-anak mereka. Budi bersumpah dalam hatinya, jika sampai terjadi apa-apa kepada keluarganya itu, mereka akan menerima balasan yang jauh lebih keji. Dia akan memastikan, kematian mereka akan benar-benar sangat menyakitkan.

*****
Few Hours Earlier
Somewhere In Kaliurang

Dua buah mobil sedan warna hitam dan sebuah minibus yang juga berwarna hitam memasuki gerbang sebuah villa yang letaknya cukup berjauhan dari villa-villa lainnya. Villa itu dikelilingi oleh tembok setinggi 2 meter, yang di bagian atasnya masih ditambah lagi dengan pagar kawat berduri. Jika sedang tidak digunakan seperti ini, paling banyak hanya 4-5 orang penjaga yang menunggu disana. Tapi karena sedang ada kegiatan, kali ini jumlah penjaganya berlipat-lipat. Namun tentu saja, semua aktivitas yang terjadi di villa ini sama sekali tidak diketahui oleh orang-orang di sekitarnya. Yang mereka tahu hanyalah keluarga dari pemilik villa ini sedang menginap untuk liburan sehingga cukup sering terlihat keluar masuk.

Villa ini dulunya berupa sebuah bangunan utama yang difungsikan sebagai aula, dengan beberapa bangunan tambahan yang biasa digunakan menginap oleh para tamu. Namun karena untuk keperluan yang sudah direncanakan, Bastian telah merenovasinya. Bangunan utama tadi kini tak berbeda seperti rumah mewah kebanyakan. Kemudian kamar-kamar di bangunan lainnya telah mengalami perubahan. Masih ada beberapa kamar untuk menginap anak buahnya, dan sisanya telah diubah sesuai dengan kebutuhannya dalam menjalankan rencana ini.

Ketiga mobil itu kemudian berhenti tak jauh dari bangunan utama. Dari sedan yang pertama, dua orang pria yang memakai pakaian serba hitam dengan wajah yang tertutup turun, kemudian membuka kedua pintu belakang sedan itu. Mereka menurunkan seorang wanita berkerudung dan anak laki-lakinya yang sedang tak sadarkan diri. Sedangkan dari mobil sedan kedua, dua orang pria yang berpakaian serupa juga menurunkan seorang wanita berkerudung dan anak perempuan kecil yang juga tak sadarkan diri. Dari minibus turun beberapa orang pria, kemudian mereka menurunkan 3 orang wanita. Kondisinya sama, tak sadarkan diri.

Fuadi, Arjuna, Dokter Lee, Rio dan juga Tono yang menunggu di teras bangunan utama itu nampak tersenyum lebar. Terlebih lagi Rio, saat melihat kedua wanita berkerudung yang sedang dibopong oleh pria-pria itu. Dia sudah cukup lama menyimpan hasratnya kepada mereka, dan sepertinya malam ini dia bisa menuntaskan rasa penasarannya selama ini.

“Boss, mereka mau dibawa kemana?” tanya seorang pria yang membopong wanita itu.

“Dua yang berkerudung ini kalian masukan di dua kamar utama yang terpisah. Anak-anaknya taruh di kamar tamu atas. Kalau yang tiga itu terserah mau kalian bawa kemana, mereka jatah kalian,” jawab Fuadi sambil memperhatikan wajah wanita yang dibopong pria itu.

Tanpa menunggu lama mereka pun segera melaksanakan perintah bossnya itu. Kedua wanita berkerudung serta anak-anak mereka dibawa masuk ke bangunan utama, sedangkan ketiga wanita lainnya dibawa ke salah satu bangunan yang terdiri dari beberapa kamar yang sering digunakan oleh para anak buah itu menginap. Setelah beres, Fuadi mengajak yang lainnya untuk masuk ke ruang tengah.

“Pak Fuad, jatah saya nanti si Ara ya,” ujar Rio yang tak sabaran ingin segera menikmati wanita yang sedari tadi sudah diincarnya.

“Enak saja kamu. Dia itu jatahku. Mila itu jatahnya Arjuna,” jawab Fuadi dengan santainya.

“Lha terus jatah saya siapa dong? Itu yang bertiga udah jatahnya Mata Angin sama anak buahnya, masak saya disuruh gabung mereka?” ujar Rio kecewa dengan jawaban Fuadi.

“Tenang saja, jatah kamu dan Tono sudah disiapin. Sebentar lagi mereka juga datang kok. Nggak mungkinlah aku nyuruh kalian gabung sama anak buah.”

“Emang siapa lagi Pak yang mau datang? Spesial kan?”

“Haha memang benar kata si Bas, otak kamu itu cepat kerjanya kalau urusan wanita.”

“Hadeh, bapak sama anak sama aja sukanya ngeledek. Jadi siapa nih Pak?”

“Tenang aja Rio, jatah buat kalian spesial kok, udah aku siapin khusus,” jawab Arjuna menengahi.

Tak lama kemudian pembicaraan mereka terpotong karena sebuah mobil lagi masuk dan berhenti tak jauh dari mobil-mobil yang sebelumnya. Nampak dua orang polisi mudah keluar dari mobil. Di baju dinas mereka tertera nama Jimmy dan Ferdi. Keduanya masuk kemudian menyalami Arjuna dan yang lainnya.

“Gimana Jim, aman?”

“Aman ndan, itu mereka sudah kami bawa kesini.”

“Bagus-bagus. Ton, kamu bantu Jimmy sama Ferdi, bawa mereka ke ruangan yang sudah dipersiapkan,” ujar Arjuna memerintah Tono.

“Oke boss.”

Ketiganya kemudian beranjak. Rio yang penasaran pun ikut juga karena ingin mengetahui siapa yang sebenarnya dibawa oleh kedua polisi muda itu. Begitu diturunkan, wajah Rio yang tadinya cemberut karena wanita incarannya direbut oleh Fuadi, kini nampak kembali sumringah. Dua orang wanita yang masih berpakaian dinas seperti yang dipakai oleh Jimmy dan Ferdi, dalam keadaan tak sadarkan diri. Mengetahui itu Rio pun kembali masuk ke dalam menghampiri Fuadi dan Arjuna.

“Kenapa kamu senyum-senyum? Suka sama yang udah aku siapin?” tanya Arjuna.

“Suka banget Pak. Nggak nyangka saya kalau Pak Arjuna ngebawa Fitri kesini. Lagi-lagi saya bisa nikmatin bininya Marto, haha.”

“Haha kamu itu, bilangnya nggak suka kalau main bareng atau yang bekas anak buahmu, tapi seneng banget kamu sama bekasnya Marto?”

“Beda lah Pak. Eh tapi polwan yang satunya tadi siapa?”

“Kamu mau tahu? Kalau gitu kamu ikut aku. Kita bangunkan mereka, sebelum kalian pakai, aku mau ngomong sesuatu dulu sama mereka.”

Arjuna dan Rio kemudian beranjak menuju ke ruangan dimana Tono, Jimmy dan Ferdi membawa Fitri dan Elsa. Mereka meninggalkan Fuadi berdua saja dengan Dokter Lee, karena Arjuna tahu ada yang ingin mereka bicarakan.

“Dok, tolong Dokter periksa dulu Ara sama Mila ya, mereka pakai kontrasepsi atau tidak. Kalau masih pakai tolong dilepasin, saya dan Arjuna mau bikin mereka hamil,” pinta Fuadi sambil tersenyum kepada Dokter Lee.

“Haduh, kalian ini memang ada-ada saja. Dokter bedah plastik disuruh meriksa urusan begitu,” jawab Dokter Lee seenaknya.

“Hahaha, Dokter memang spesialisnya bedah plastik, tapi saya tahu Dokter juga memiliki banyak kemampuan lainya, seperti membuat saya hampir mati biar bisa keluar dari penjara itu kan.”

“Haha itu juga terpaksa karena permintaan Bastian, saya harus mempelajari lagi banyak hal. Tapi ya sudahlah, yang penting bayarannya lancar.”

“Tenang saja Dok, saya pastikan kalau semua rencana kita ini berhasil, Dokter akan dapat bagian yang nggak sedikit. Saya berhutang banyak sama Dokter sejak awal bukan, nggak mungkin saya akan lupa begitu saja.”

“Hmm, ya ya ya, penawaran yang menarik. Baiklah kalau begitu, biar saya urus dulu mereka. Tapi ingat, selama saya mengurus mereka, jangan ada satupun yang mengganggu.”

“Iya Dok, saya sudah sangat paham. Dokter orang yang tak pernah mau diganggu jika sedang melakukan pekerjaan. Saya tahu beres saja Dok, saya tunggu disini, sekalian nunggu Arjuna selesai urusannya dengan kedua polwan itu.”

“Baiklah, saya masuk dulu.”

Sepeninggal Dokter Lee kini Fuadi duduk sendirian bertemankan beberapa kaleng bir. Dia tersenyum lebar. Sampai saat ini, rencananya benar-benar berjalan dengan lancar. Seluruh harta Baktiawan sudah berada di tangannya. Kini tinggal menuntaskan dendamnya kepada Wijaya dengan menghamili anak dan menantunya. Serta membantu kakak beradik Steve dan David membalaskan dendam mereka kepada Budi dan rekan-rekannya.

****

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part