web hit counter

Mengalahkan Gadis Bagian 2 Part 2

0
629

Mengalahkan Gadis Bagian 2 Part 2

Lembaran Baru

Beberapa Minggu Sebelumnya

“Akhir kata kami mewakili diri sendiri maupun instansi ingin menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada bapak-bapak dan ibu-ibu yang telah mencurahkan segalanya demi kemajuan bank kita ini. Segala sumbangsih tenaga maupun pikiran akan terus kami jaga dan tentunya akan coba kami kembangkan sebaik mungkin.”

“Dan untuk bapak-bapak serta ibu-ibu yang mendapatkan promosi jabatan untuk menggantikan beliau-beliau yang telah pensiun, kami ucapkan selamat menjalankan tugas yang baru, semoga dengan jabatan yang baru ini bisa menambah motivasi kerja bapak ibu sekalian, sehingga apa yang telah dirintis dan dibesarkan oleh pendahulu kita bisa semakin maju kedepannya.”

“Demikian yang dapat saya sampaikan, kurang lebihnya mohon maaf, selamat malam.”

Prok prok prok prok prok..

Seraya berdiri, suara tepuk tangan para tamu dan undangan terdengar begitu riuh di dalam ballroom salah satu hotel bintang 5 di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat ini. Para undangan pun baru berhenti bertepuk tangan ketika Direktur Utama tersebut kembali duduk di kursinya setelah sebelumnya menyalami jajaran dewan komisaris yang duduk di sebelahnya. Acara kemudian diambil alih oleh MC dan dilanjutkan dengan hiburan yang diisi oleh artis-artis kenamaan ibukota.

“Acaranya meriah banget ya Yah.”

“Iya Bun, Ayah kira cuma acara pelantikan sama perpisahan biasa aja, ternyata semeriah ini.”

“Iya, artisnya aja sampai banyak gini. Tuh lihat Yah, si Ardi sampai joget-joget gitu.”

“Haha iya Bun, biarin aja deh lagi seneng anaknya.”

Budi dan Ara tersenyum melihat tingkah anaknya yang menggemaskan itu. Apalagi dia tampak bertemu dengan teman yang seusianya, sehingga dari tadi sibuk bermain dengan teman barunya itu. Untung saja ketika acara sambutan-sambutan oleh para petinggi bank, anak-anak itu bisa diam sehingga tidak mengganggu jalannya acara. Dan kini saat acara dilanjutkan dengan hiburan, anak-anak itu tampak antusias, tak terlihat lelah ataupun mengantuk meskipun waktu sudah menunjukkan hampir jam 11 malam.

“Bud, selamat ya kamu udah diangkat jadi kepala cabang sekarang,” sepasang suami istri menghampiri Budi dan Ara.

“Eh iya, terima kasih Pak Hadi, Bu Hadi. Selamat juga buat Bapak udah diangkat jadi kepala kanwil Pak,” jawab Budi membalas uluran tangan atasannya.

“Iya sama-sama. Saya harap kita bisa semakin bekerja sama nantinya ya, terutama untuk bersih-bersih di wilayah kita.”

“Maaf Pak, bersih-bersih gimana ya maksudnya?”

“Itu loh Bud, bersih-bersih wilayah kita dari orang-orang nggak bener. Siapa tahu masih ada sisa orang-orangnya Ramon di wilayah kita.”

“Owh itu maksud Bapak? Siap Pak. Pokoknya apapun program dari Pak Hadi, selama itu untuk kebaikan dan kemajuan perusahaan, saya pasti akan mendukungnya Pak.”

“Oke Bud, makasih ya. Oh iya, Bu Ara selamat ya.”

“Iya sama-sama Pak, Bu,” Ara pun membalas uluran tangan dari Pak Hadi dan istrinya.

Keempatnya kini nampak larut dalam obrolan santai. Mereka sudah saling mengenal sebelumnya karena memang Pak Hadi adalah kepala cabang di tempat kerja Budi. Kini posisi kepala cabang ditempati oleh Budi karena Pak Hadi pun promosi menjadi kepala kantor wilayah, menggantikan kakanwil sebelumnya yang sekarang sudah pensiun.

Hubungan antara mereka semakin baik dan akrab setelah adanya tragedi malam tahun baru berdarah itu. Pak Hadi dan istrinya yang memang terkenal memiliki sifat ngemong terhadap anak buahnya menunjukkan simpati yang begitu besar kepada Budi dan Ara. Mereka kerap bertandang ke rumah Budi, begitu pula sebaliknya, hingga hubungan kedua keluarga ini terjalin cukup baik.

Semula, Ramon yang lebih senior ketimbang Budi lah yang diproyeksikan oleh Pak Hadi untuk mendapatkan giliran promosi selanjutnya, namun ketika ada peristiwa itu, dengan Ramon menjadi salah satu yang tewas, membuat akhirnya Pak Hadi menjatuhkan pilihannya kepada orang lain.

Dan kini, setelah tiga tahun, saat kembali adanya pergeseran serta promosi jabatan, Pak Hadi dengan mantap merekomendasikan Budi untuk mengisi posisi yang dia tinggalkan. Pilihan ini tentu saja bukan asal tunjuk atau karena kedekatan semata, namun karena dilihat selama menjadi anak buahnya Budi selalu bekerja dengan penuh dedikasi dan loyalitas, banyak memiliki ide-ide serta inovasi yang brilian. Dan untuk itulah malam ini mereka ada di tempat ini, tentu saja untuk meresmikan jabatan baru mereka.

Selain Pak Hadi dan Budi tentunya ada banyak yang mendapatkan promosi serupa dari daerah lain, dan sebagian sudah dikenal oleh Budi, baik sebelum acara ini maupun baru berkenalan di acara ini. Usia mereka beragam, namun tak ada yang seusia dengan Budi, rata-rata usia mereka di atas usia Budi. Jadi bukan hal yang aneh jika pada akhirnya kehadiran Budi dan Ara menjadi salah satu pusat perhatian di acara tersebut, terutama Ara.

Sebenarnya istri dari rekan-rekan Budi ini juga banyak yang cantik, namun penampilan Ara yang masih fresh dengan polesan make up yang tipis dan sederhana tetap terlihat paling menonjol diantara yang lainnya, anggun dan menawan. Hampir semua mengagumi, baik itu laki-laki maupun perempuan, namun ada juga beberapa perempuan yang memandang sinis, lebih ke rasa iri dan cemburu sebenarnya. Budi dan Ara bukannya tak menyadari hal itu, namun mereka lebih memilih untuk bersikap biasa-biasa saja, terutama Ara yang lebih sibuk dengan anaknya.

“Besok mau langsung pulang atau gimana Mbak Ara?” tanya istri Pak Hadi.

“Oh nggak Bu, besok kita mau ngajak Ardi jalan-jalan ke Ancol dulu, lusa baru pulang. Emang ibu besok mau langsung pulang ke Jogja?” tanya Ara.

“Iya, soalnya si kecil lagi sakit. Tahu sendiri kan gimana manjanya dia. Kemarin sebenarnya dia mau ikut kesini, tapi malah sakit jadi ya ditinggal di Jogja sama kakak-kakaknya, makanya besok pagi kami langsung pulang.”

“Oh gitu ya Bu. Semoga lekas sembuh ya Bu putranya.”

“Iya makasih Mbak.”

“Oh iya Bu, saya permisi sebentar ya, mau nyari Ardi dulu,” ujar Ara saat melihat anaknya tak lagi di tempatnya.

“Iya Bu silahkan,” jawab istri Pak Hadi.

“Yah, bunda cari Ardi dulu ya, kayaknya dia ke arena bermain anak di sebelah deh,” Ara meminta ijin pada Budi yang sedang ngobrol dengan Pak Hadi.

“Oh iya Bun, Ayah tunggu disini ya, kayaknya bentar lagi selesai kok acaranya,” jawab Budi.

“Iya Yah. Saya duluan Pak Hadi,” ujar Ara.

“Silahkan Bu,” jawab Pak Hadi.

Ara pun meninggalkan suaminya lalu menuju ke arena bermain untuk anak yang memang disediakan oleh panitia. Rupanya benar Ardi sedang bermain-main disana dengan beberapa anak yang seusia dengannya. Anak-anak itu masih terlihat menikmati permainan mereka meski malam semakin larut. Namun Ara belum ingin mengganggu anaknya, ‘biar saja sampai nanti acara mau ditutup,’ pikir Ara.

Tak berapa lama kemudian ada seorang pria yang mendekat ke arah Ara. Pria itu rupanya sudah memperhatikan Ara sedari tadi, dan langsung menyusul ketika tahu Ara menuju tempat ini. Setelah memastikan tempat berdirinya Ara tidak terlihat dari tempat Budi yang masih berbincang dengan beberapa rekannya, pria itu pun segera menghampiri Ara.

“Lagi nungguin anaknya Bu?”

“Eh, iya Pak,” jawab Ara terkejut karena tiba-tiba ada pria berdiri di sampingnya.

“Yang mana anaknya Bu?”

“Itu Pak, yang pakai kemeja garis-garis biru putih.”

“Oh itu. Oh iya, perkenalkan saya Prasta, panggil saja Pras. Saya dari Bandung,” ujar pria tersebut menjulurkan tangannya memperkenalkan diri.

“Saya Tiara, dari Jogja,” jawab Ara membalas uluran tangan dari Prasta.

“Jogja? Hmm, istrinya Pak Budi ya?” tanya Prasta.

“Iya Pak,” jawab Ara singkat.

Ara harus sedikit memaksa untuk menarik tangannya karena Prasta menggenggamnya cukup erat, seperti tak mau melepaskannya. Kemudian Ara kembali melihat ke arah Ardi tanpa mempedulikan kehadiran Prasta. Ara merasa tidak nyaman berada di dekat lelaki itu, tatapan Prasta dia rasakan begitu tajam, seolah ingin mengintimidasi dan itu membuatnya risih. Akibatnya Ara jadi tak tahu kalau mata Prasta semakin jelalatan memandanginya, mulai dari kepala hingga ke ujung kakinya.

Prasta yang menatap Ara dari samping begitu terpesona dengan penampilan Ara. Hidungnya yang mancung, bibirnya yang berwarna merah muda dan terlihat agak basah. Tatapan matanya kemudian turun ke arah dada Ara. Meskipun tertutup oleh kerudung, namun dari samping Prasta bisa melihat buah dada Ara yang cukup besar, dan sepertinya masih sekal. Tatapannya kembali turun ke arah perut Ara yang rata, kemudian menuju ke pantatnya yang terlihat cukup menantang.

Penampilan Ara yang berpakaian tertutup dan tidak terlalu ketat ini tak menghalangi mata terlatih Prasta untuk menelanjanginya. Baru dalam angan-angannya saja sudah membuat celananya menjadi sesak, apalagi kalau melihat aslinya dalam keadaan polos. Prasta yang sudah memiliki istri ini terus melanjutkan aksinya, memandangi dan mengagumi kecantikan Ara tanpa terganggu karena di arena bermain ini tak terlalu banyak orang dewasanya. Orang-orang sepertinya lebih memilih untuk menikmati hiburan yang disediakan oleh panitia, kapan lagi bisa melihat langsung artis-artis yang selama ini hanya bisa mereka saksikan di televisi.

“Besok mau langsung pulang ke Jogja Bu?” tanya Prasta memulai pembicaraan.

“Nggak Pak, lusa pulangnya,” jawab Ara tanpa memalingkan wajahnya ke arah Prasta.

“Masih ada acara ya?” tanya Prasta lagi.

“Iya Pak,” jawab Ara singkat.

“Kalau boleh tahu, memang mau kemana?”

“Ke Ancol.”

“Lho, kebetulan banget, saya dan istri besok juga mau ke Ancol. Apa kita bareng aja? Saya bawa mobil kok Bu.”

“Hmm, nggak usah deh Pak, ngerepotin.”

“Udah nggak apa-apa, biar rame aja Bu kita jalan sama-sama, daripada nanti malah repot nyari kendaraan lho.”

“Nanti saya bilang suami saya dulu Pak.”

“Oke, kalau gitu saya minta PINnya dong Bu, biar nanti bisa ngabarin kalau Pak Budinya mau,” ujar Prasta setengah memaksa, saat melihat tangan Ara memegang ponselnya.

“Eh, oh, hmm iya Pak, ini 1A2B3C,” jawab Ara yang tak punya pilihan lain dan tak tahu bagaimana harus menolak permintaan Prasta.

Prasta dengan cepat mencatat PIN itu dan meng-invite kontak Ara. Suara notifikasi terdengar dari ponsel Ara, mau tak mau saat itu juga Ara menerimanya. Prasta tersenyum begitu muncul notifikasi di ponselnya, kini dia telah berteman dengan Ara di BBM. Melihat senyum Prasta yang kian lebar membuat Ara semakin risih, hingga akhirnya dia pun memanggil Ardi dan segera mengajaknya pergi menemui Budi kembali.

“Lho mau kemana Bu kok buru-buru? “

“Mau ke suami saya Pak, sebentar lagi kan acara selesai.”

“Ah masih lama kok, lagian anaknya juga masih asyik main itu.”

Ara terdiam, kehabisan kata-kata untuk menjawab Prasta, karena faktanya memang Ardi masih semangat bermain, bahkan menolak panggilan darinya. Prasta semakin lebar senyumnya saat melihat Ara terdiam kebingungan menjawab kata-katanya. Namun beruntung bagi Ara, sebuah pesan dari suaminya masuk tak lama kemudian.

Bun, Ardi masih main?”
“Iya Yah, tapi ini udah mau kesitu kok.”
Oke kalau gitu.”

Segera Ara menghampiri Ardi dan membisikkan kalau ayahnya sudah mencarinya. Ardi memang paling menurut dengan ayahnya, jadi begitu mendengar dia sudah dicari ayahnya langsung saja dia ikut ketika tangannya digandeng oleh Ara.

“Loh, udah mau balik?” tanya Prasta.

“Iya Pak, udah dicari suami saya barusan,” jawab Ara sekenanya.

“Oke, salam buat Budi ya. Jangan lupa BBM saya lho nanti. Dan satu lagi, jangan panggil Pak ya, panggil nama saya aja, Prasta,” ujar Prasta dengan senyum misterius, yang hanya dijawab dengan sebuah senyum sekilas yang sangat dipaksakan oleh Ara.

Prasta memandangi bidadari cantik itu berlalu meninggalkannya. Goyangan pantat Ara yang indah tak lepas dari tatapan matanya. Ketika Ara berbelok dan akhirnya hilang dari pandangannya, Prasta kembali mengambil ponselnya dan mengetik sebuah pesan untuk seseorang.

“Teh, aku udah kenalan sama dia dan dapat PIN BBMnya.”
Oke bagus, lanjutin aja.”

*****

Saat yang Bersamaan

Di sebuah café di salah satu sudut kota yang terkenal dengan julukan Paris van Java, di meja paling ujung bernomor 14, nampak seorang wanita sedang duduk sendirian sibuk dengan laptopnya. Entah sudah berapa lama wanita itu berada di café itu. Ditemani secangkir cappucino yang kini tinggal setengahnya, dan juga sebungkus rokok Marlboro menthol yang juga tinggal beberapa batang saja, wanita itu terus menatap ke layar laptop tanpa memperhatikan keadaan sekitar.

Memang tak ada yang perlu diperhatikan, karena café ini sepi sekali. Malam ini memang bukan akhir pekan, dan café itu bukanlah café yang terletak di kawasan nongkrong anak muda Bandung, sehingga jam segini hanya menyisakan dirinya, dan beberapa pegawai yang sedang membersihkan dan merapikan meja-meja di café tersebut.

“Maaf Bu, ehm, Bu Lusi udah mau pulang belum?” tanya seorang pelayan café kepada wanita itu dengan sopan.

“Oh belum Win. Udah mau pulang ya? Udah beres semua?” tanya balik wanita itu.

“Iya Bu, udah beres semua,” jawab si pelayan.

“Ya udah kalau mau pulang kalian duluan aja, nanti biar saya yang nutup cafenya,” ucap wanita itu.

“Baik Bu, kalau gitu kami permisi pulang dulu.”

“Ya, hati-hati.”

Sepeninggal para pegawainya, wanita yang juga adalah pemilik café itu pun melanjutkan kegiatannya. Tanda close sudah terpasang di pintu café, lampu pun sudah banyak yang dipadamkan, hanya tinggal beberapa saja yang masih menyala menemani wanita itu. Dia belum ingin pulang karena masih menunggu kabar dari seseorang, lagipula anak-anaknya pun pasti juga sudah tidur.

Kembali si wanita itu sibuk dengan laptopnya. Tangan kanannya berkali-kali menggeser dan memainkan mouse yang dipegangnya, sedangkan tangan kirinya masih dengan sebatang rokok yang baru saja dinyalakannya. Lantunan musik jazz yang lirih menemani malam syahdu wanita itu.

Layar laptop kembali menunjukkan sebuah video yang berlatar belakang di sebuah kamar tidur. Nampak di video itu sepasang insan sedang bergumul dengan panasnya. Sang wanita nampak begitu bersemangat menaik turunkan tubuhnya di atas tubuh sang lelaki yang tidur terlentang. Video yang berdurasi total hampir 30 menit ini sudah berjalan dua pertiganya.

Tak sampai menyelesaikan video yang ditontonnya, wanita itu menutup aplikasi video player di laptopnya, lalu beralih ke sebuah folder yang diberi nama ‘catatan harian’, yang kemudian satu demi satu file word di dalamnya dia baca kembali. Ya, dia sudah beberapa kali membaca file-file itu, selama itupun isinya tak pernah berubah, namun kembali malam ini dia membacanya lagi.

Melihat video persetubuhan tadi dan membaca catatan-catatan itu bukan membuatnya bergairah, namun justru amarah yang muncul menggelak di dalam dadanya. Ada semacam dendam yang dia rasakan begitu besar di hatinya, namun belum bisa diredakan hingga saat ini. Tapi dia tahu, untuk benar-benar menghilangkan dendam di dalam hatinya, jalan satu-satunya yang akan dia tempuh adalah dengan membalaskannya. Saat sedang berkecamuk pikirannya dengan dendam-dendamnya itu, dia dikagetkan oleh dering notifikasi sebuah pesan masuk di aplikasi sosial medianya.

Teh, aku udah kenalan sama dia dan dapat PIN BBMnya.”
“Oke bagus, lanjutin aja.”

Wanita itu tersenyum mendapati kabar yang dia tunggu sedari tadi akhirnya datang juga. Cukuplah sebagai langkah awal, belum perlu untuk bertindak lebih jauh lagi. Dia tidak ingin gegabah, karena setelah peristiwa tragis yang dia ikuti dari berbagai media 3 tahun silam, dia tahu orang-orang yang menjadi sasarannya dilindungi dengan sangat baik, jadi dia perlu untuk membuat rencana yang sangat matang.

Tak lama setelah itu dia pun mematikan laptopnya, merapikan barang-barangnya, dan memastikan semua sudah dalam keadaan beres sebelum dia meninggalkan café tersebut. Setelah mengunci pintu, wanita itu pun menuju mobilnya untuk segera pulang menuju ke rumahnya. Tanpa disadarinya, sepasang mata sejak tadi memperhatikan gerak geriknya dari kejauhan, dan kemudian mengikuti kemana mobil itu berjalan.

*****

Present

Seorang gadis cantik terlihat tergopoh-gopoh memasuki gerbang kantornya. Dia bahkan hanya sempat menyapa satpam tanpa menunggu jawaban saking terburu-burunya. Kedua orang satpam itu hanya tersenyum menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah sang gadis yang entah sudah berapa kali mereka lihat seperti itu. Padahal dia tidak telat masuk kerja, hanya saja sebagai pegawai baru dia ingin menunjukkan kesan yang baik pada para senior dan atasannya.

Begitu sampai di mejanya langsung terduduk lemas, nafasnya masih terengah-engah. Sambil menyeka keringat dan merapikan kerudungnya, gadis itu perlahan mengatur kembali nafasnya. Dia lalu mengambil sebuah buku tipis lalu mengipaskannya di depan wajahnya. Rekan-rekannya yang juga sudah datang pun menatapnya dengan heran.

“Kamu abis kejar-kejaran sama siapa Ndah?”

“Eh Mbak Lia. Nggak Mbak, takut telat aja tadi, hehe.”

“Telat? Indaaah Indah, jam 7 aja belum Ndah, telat darimana coba,” ucap Lia menggelengkan kepalanya.

“Hehe, ya kalau bisa datang lebih awal kan lebih bagus Mbak, lagian aku naik angkot berangkatnya Mbak jadi ya takut telat, hehe,” jawab Indah beralasan.

“Haduh kamu itu ada-ada aja. Itu dirapiin dulu Ndah kerudungmu, sama dipoles dikit, bedakmu agak luntur tuh kena keringat,” ujar Lia.

“Eh iya Mbak, permisi dulu yaa,” Indah pun kemudian menuju ke toilet untuk merapikan dandanannya.

Tak berapa lama kemudian suasana kantor semakin ramai. Terlihat Ara, Nadya, Wulan, Riko dan Eko datang bersamaan. Ara dan Eko kini semakin dekat layaknya kakak adik setelah Ara tahu siapa Eko sebenarnya. Dia tentu saja sangat berterima kasih untuk semua bantuan Eko tiga tahun yang lalu. Meski begitu, keduanya tetap bersikap biasa saja jika berada di kantor, dan sama-sama menjaga rahasia masing-masing.

Ara, Lia dan Nadya kini sudah kembali seperti dulu lagi. Mereka sempat syok berat dengan peristiwa tragis yang mereka alami. Terutama Lia dan Nadya. Butuh waktu hampir enam bulan lamanya bagi mereka untuk bisa menghilangkan trauma atas kejadian itu. Namun dukungan dan semangat yang tak henti diberikan oleh para sahabatnya membuat mereka mampu untuk bangkit dari keterpurukan.

Lia kini menjadi pribadi yang lebih baik dan dewasa seiring usianya. Dia sudah mengakui semua perbuatan buruknya kepada Erwin suaminya. Semua yang pernah dilakukan di belakang Erwin dia akui tanpa sedikit pun ditutup-tutupi. Beruntung Erwin bisa menerimanya dengan ikhlas, bahkan dia berjanji untuk memberikan perhatian yang lebih kepada Lia, serta berjanji akan lebih menjaga Lia. Kelapangan hati Erwin inilah yang membuat Lia berjanji kepada dirinya sendiri untuk setia kepada Erwin, tak akan lagi mengkhianatinya apapun yang terjadi nanti.

Namun sayangnya hal berbeda justru dialami oleh Nadya. Setelah sempat terpuruk akibat trauma dan kemudian bisa pulih seperti sedia kala, kini dia dan suaminya justru menjadi semakin liar kehidupan ranjangnya. Selama satu setengah tahun ini entah sudah berapa kali Nadya dan suaminya melakukan swinger dengan pasangan suami istri lainnya, dan mereka menikmatinya. Namun tentu saja, kalau sudah berada di kantor bersama dengan teman-temannya Nadya akan bersikap biasa-biasa saja. Pasangan-pasangan swinger-nya pun dia pilih secara hati-hati, dan banyak di antara mereka yang berasal dari luar daerah.

Namun bagaimanapun kondisi mereka sekarang, paling tidak trauma atas peristiwa tiga tahun yang lalu perlahan sudah mulai terlupakan. Meski diakui, bahkan oleh Ara sendiri bahwa untuk benar-benar melupakan peristiwa itu tentu hampir tidak mungkin, namun mereka lebih memilih untuk menjadikannya pelajaran yang cukup berarti dalam kehidupan mereka, dan mereka bisa mengambil hikmahnya dari kejadian itu.

Suasana kantor ini pun sempat tegang dan serba kacau saat peristiwa itu terjadi. Bagaimana tidak, tiga orang pegawainya menjadi korban dan sempat terekspos oleh media. Kantor ini pun sempat menjadi sangat ramai oleh awak media yang setiap harinya datang untuk mencari informasi lebih mendalam tentang Ara, Lia dan Nadya. Karena itulah Pak Hamid mengambil kebijakan untuk memberi ketiga bawahannya itu cuti selama 2 bulan.

Ditinggal 3 pegawai secara bersamaan dalam waktu yang cukup lama, ditambah lagi Wulan yang juga harus cuti selama 3 bulan karena melahirkan membuat kepala Pak Hamid pusing tujuh keliling. Beruntung anak buahnya yang lain sanggup untuk meng-handle pekerjaan yang ditinggalkan oleh keempat wanita itu. Dan beruntung lagi Ara hanya mengambil cuti itu selama sebulan karena dia merasa sudah siap untuk kembali bekerja.

Kini suasana kantor sudah kembali seperti sedia kala. Keceriaan yang dulu sempat hilang beberapa saat kini sudah kembali lagi. Lebih daripada itu, rasa kekeluargaan di kantor ini semakin erat terjalin. Peristiwa yang menimpa Ara, Lia dan Nadya seolah membuka pintu kekeluargaan dan rasa saling menghasihi satu sama lain.

Pak Hamid selaku pimpinan mereka, dan juga yang paling tua diantara para pegawainya sudah dianggap seperti bapak oleh mereka semua. Dia menjadi lebih perhatian dan lebih mengayomi para pegawainya. Rasa saling menyayangi dan melindungi layaknya anggota keluarga sendiri tumbuh dengan subur di diri masing-masing. Semua pegawai dari level tertinggi sampai terendah di kantor ini merasakannya, mungkin hanya karyawan baru saja yang belum sampai ke tahap ini, seperti Indah salah satunya.

“Tadi lari-larian lagi Ndah?” tanya Nadya saat melihat Indah berjalan dari kamar mandi.

“Hehe, iya Mbak Nad,” jawab Indah terkekeh.

“Hah, lagi? Emang kemarin-kemarin kayak gitu?” tanya Lia.

“Hampir tiap hari kali Li, kamunya aja yang dari kemarin datangnya siang terus, jadi nggak lihat si Indah lari-larian,” jawab Nadya.

“Lagian kamu nyari kost kok nggak deket-deket sini aja sih Ndah?” tanya Ara.

“Soalnya kemarin nyari di daerah sini udah penuh semua Mbak, lagian aku juga udah kenal kok sama yang punya kostku sekarang, jadi ya lumayan dapat harga miring, hehe,” jawab Indah.

Tak berapa lama mereka ngobrol sampai Pak Hamid datang. Sempat nimbrung sejenak sampai akhirnya mereka kini sudah berada di mejanya masing-masing. Rutinitas pekerjaan sudah dimulai. Di saat seperti ini semua akan fokus dengan kerjaan masing-masing, baru di saat istirahat atau sore hari setelah pekerjaan selesai mereka ramai dengan obrolan lagi.

*****

“Waduuh, makin serius aja ini kerjanya pak kepala cabang?”

“Eh Mbak Gita, haduh ngagetin aja tho Mbak?”

“Lha gimana tho udah diketuk dari tadi pintunya kamu nggak denger.”

“Haha sorry Mbak, maklum lagi asyik tadi. Ada apa Mbak?”

“Jangan terlalu serius Bud, biasa aja biar nggak kebawa stres. Nih laporan yang kamu minta kemarin dari anak-anak, udah aku periksa juga tadi.”

“Oh oke Mbak, makasih. Gimana ada masalah nggak?” tanya Budi sambil memeriksa laporan yang diletakkan di meja kerjanya.

“Nggak ada kok, masih aman,” jawab wanita itu.

Gita Angelina, seorang wanita yang sudah beberapa tahun ini bekerja satu kantor dengan Budi. Gita sebenarnya adalah senior Budi, dan harusnya dia bisa naik jabatan mendahului Budi, namun Gita bukan termasuk orang yang gila jabatan hingga melakukan segala cara untuk bisa mendapatkan promosi. Dia bahkan menolak ketika dipanggil oleh Pak Hadi, atasannya terdahulu, saat ditawari promosi ini.

“Apa kamu pengen stuck di posisi ini aja Mbak? Nggak pengen naik lagi?” tanya Budi tempo hari.

“Nggak Bud, aku nggak tertarik. Apa sih yang mau dikejar? Materi aku ngerasa udah lebih dari cukup. Jabatan? Prestige? Ah, aku bukan orang seperti itu,” jawabnya.

Secara materi Gita memang terbilang lebih dari cukup. Dia terlahir dari keluarga yang berada, dan dia adalah anak tunggal. Suaminya pun bekerja di perusahaan milik negara yang bergerak di jasa layanan telekomunikasi, dengan posisi yang sudah tinggi juga. Memiliki dua orang anak menjadikan hidupnya sudah terasa lengkap di usianya yang bulan lalu baru saja menginjak kepala 3 ini.

Terlebih lagi Gita mendapatkan dukungan penuh dari suaminya. Ketika dia menyampaikan tawaran dari Pak Hadi, dan juga bilang bahwa dia menolaknya, justru respon dari sang suami malah tertawa terbahak-bahak.

“Yakin mau kamu ditolak Ma? Kalau Papa sih malah seneng. Daripada kamu terima nanti malah makin jarang kamu di rumah,” begitulah apa yang diucapkan oleh suami Gita.

Gita, dan seluruh karyawan di kantornya pun sama sekali tak keberatan ketika pada akhirnya Pak Hadi mengajukan nama Budi untuk mendapatkan promosi. Mereka menilai Budi memang sudah layak untuk diangkat menjadi kepala cabang, dan tentu saja mereka begitu gembira saat mengetahui bahwa Budi tidak akan dipindah kemana-mana, tetap berada di situ sebagai kepala cabangnya.

Budi sendiri sempat merasa sungkan sebenarnya, karena selama ini sudah bersama dengan para karyawan disana sebagai rekan yang selevel, dan kini dia harus menjadi pimpinan mereka, tentu saja masih ada rasa tidak enak di hati Budi. Namun dukungan dari semua rekan kerjanya membuat Budi perlahan bisa mengesampingkan kesungkanannya itu.

Dalam pekerjaan sehari-hari mereka sangat profesional, beda ketika jam kantor telah usia. Saat berada di jam kerja, tak ada satupun yang tak memanggilnya Pak, kecuali Gita. Budi sendiri yang menolak panggilan itu, aneh katanya menerima panggilan seperti itu dari seseorang yang sudah bertahun-tahun memanggilnya, ‘Bud, Bud.’

Pun begitu dengan Gita, dia menolak dipanggil Bu oleh Budi dan ingin tetap dipanggil Mbak saja. Tapi tentu tidak bisa begitu ketika ada orang luar, atau atasan mereka berkunjung ke kantor cabang ini, semua harus tetap profesional, termasuk Budi dan Gita.

Sudah dua minggu ini Budi disibukkan dengan jabatan barunya. Dia berusaha keras memperlajari job description sebagai kepala cabang secepatnya, agar tak sampai menyusahkan anak buahnya. Selain mempelajari apa saja tugas dan kewajibannya, dia juga mempelajari bermacam file yang selama ini jarang bahkan tak pernah berurusan dengannya. Namun beruntung Pak Hadi sebagai pimpinan terdahulu sangat rapi dalam hal administrasi dan filling dokumen, sehingga memudahkan siapa saja untuk mengakses semua data yang menjadi kewenangan dari seorang kepala cabang.

Dalam waktu dua minggu ini sudah banyak yang berhasil Budi kuasai. Beberapa hal yang kurang ia mengerti ditanyakan kepada Gita dan rekan-rekan lainnya. Dia tak ingin sampai mengganggu Pak Hadi dengan menanyakan hal-hal ini karena Pak Hadi yang juga mendapat promosi jabatan pun pasti juga sedang melakukan hal yang sama dengan dirinya. Beruntung Gita dan rekan-rekan lainnya dengan senang hati membantu kesulitan Budi. Terlihat sekali mereka sangat suka dipimpin oleh seorang Budi.

“Gimana Pak Kacab? Udah beres kan?” tanya Gita setelah beberapa menit Budi mempelajari laporannya.

“Iya, sesuai antara file dan juga master budget-nya kok, makasih ya Mbak Git,” jawab Budi seraya menyunggingkan senyumnya.

“Oh iya, hasil tes urine kemarin gimana Bud?”

“Oh, aman kok Mbak, semua karyawan disini bersih. Tapi di cabangnya si Ramon dulu ada kena dua orang, sekarang lagi diproses mereka.”

“Oh gitu, bagus deh. Ya udah kalau gitu Bud, aku sekalian ijin ya ada janji sama klien ini.”

“Oh oke. Emang janjian sama siapa mbak?”

“Itu sama Pak Prabowo.”

“Oalah dia tho. Nasabah tetapmu itu Mbak? Jangan-jangan kesengsem sama kamu? Haha.”

“Halah opo tho Bud. Dah ah, aku pergi dulu ya.”

Gita mencelos. Bukan apa-apa, yang dikatakan Budi barusan, meskipun bercanda namun terasa sekali menusuk hatinya. Bukan, Gita bukan sakit hati dengan kata-kata Budi, tapi lebih ke sakit hati kepada kenyataan yang harus dia hadapi.

Bisa dibilang Pak Prabowo ini adalah nasabah tetapnya, nasabah prioritas mungkin. Bukan karena asetnya yang banyak atau pinjamannya yang besar, namun Pak Prabowo ini adalah nasabah yang selama 5 tahun lebih paling sering berurusan dengan bank itu, dan kebetulan sedari awal dengan Gita lah dia bertransaksi.

Entah sudah berapa kali dalam 5 tahun itu Gita dan Pak Prabowo mencapai kesepakatan kerja sama. Namun tentu saja ada harga yang sangat mahal yang harus dibayarkan oleh Gita. Setelah beberapa kesepakatan awal yang berjalan mulus, hingga tahun kedua dia berhasil dipaksa oleh Pak Prabowo untuk membayar kesepakatannya itu dengan tubuhnya, dan itu berjalan hingga sekarang. Bahkan ketika tidak ada kesepakatan sekalipun, seperti halnya hari ini, Gita tak bisa menolak setiap kali Pak Prabowo ‘membutuhkannya’. Entah sampai kapan hal ini akan terus berlangsung, namun Gita sangat berharap bisa mengakhiri semua ini secepatnya.

*****

“Mila, jadi nemenin Ibu ke butik?”

“Iya Bu jadi, sebentar ya Bu lagi nyiapin susunya Tika.”

“Ya udah, Ibu tunggu di depan ya, itu Pak Sarbini juga udah siap kok.”

“Iya Bu.”

Mila kembali sibuk mempersiapkan perlengkapan anaknya. Hari ini rencananya dia akan menemani ibu mertuanya ke butik. Dia sudah pernah beberapa kali kesana bersama dengan Tika anaknya, dan sepertinya bayi yang sedang lucu-lucunya itu nyaman-nyaman saja dibawa ke butik neneknya.

Butik milik Aini kini sudah berpindah lokasi. Kejadian 3 tahun silam dimana empat orang pegawainya tewas mengenaskan oleh tangan dingin anak buah Ramon membuatnya enggan, takut untuk kembali ke tempat itu lagi, sehingga Wijaya memutuskan mencari lokasi lain untuk memindahkan butiknya. Bangunan butiknya yang lama kini telah terjual dan menjadi arena bermain Game Online 24 jam yang selalu ramai dikunjungi para Gamers.

Awalnya memang ada ketakutan tempat itu tak akan terjual mengingat apa yang sudah terjadi di dalamnya. Tentu saja dengan peristiwa pembunuhan yang memakan empat korban jiwa itu membuat orang lantas berpikir bahwa tempat itu akan menjadi tempat berhantu, menyeramkan, penuh mistis, atau apalah namanya. Namun setelah kini digunakan untuk Game Online yang buka non-stop, kekhawatiran itu tak pernah terjadi hingga kini.

Wijaya berhasil mendapatkan lokasi yang strategis untuk butik barunya. Berada di keramaian dan dekat dengan pos polisi, serta terpasangnya kamera CCTV di berbagai sudut di kawasan itu membuat Wijaya berpikir kalau lokasi ini jauh lebih aman daripada lokasi sebelumnya. Aini pun tak merasa keberatan, malah dia terlihat sangat senang, karena kini pelanggannya semakin bertambah banyak lantaran lokasinya yang benar-benar strategis.

Awal pembukaan butik ini pun Aini juga sempat kesulitan untuk mencari pegawai, karena masih ada ketakutan peristiwa mengerikan sebelumnya akan terjadi lagi. Untuk itulah sejak dinikahi oleh Sakti dan pindah ke Jogja, Mila selalu membantu ibu mertuanya itu untuk mengelola butik tersebut. Setelah berjalan beberapa bulan dengan hanya berdua saja, atau bertiga jika sesekali Sakti datang membantu, mereka pun akhirnya bisa mendapatkan pegawai.

Kini butik itu sudah memiliki enam orang pegawai sehingga Mila sudah jarang kesana, terlebih saat hamil dan melahirkan Tika. Meski begitu beberapa kali Mila tetap menyempatkan diri untuk membantu ibu mertuanya karena kadang merasa bosan jika terus di rumah saja, maklum sebelum menikah dia sudah terbiasa bekerja.

Mila kembali memeriksa barang-barang yang akan dia bawa, terutama untuk keperluan Tika. Setelah merasa semua siap dia pun menggendong Tika yang masih tertidur, menjinjing tasnya dan segera keluar menemui Aini. Tepat saat Mila sampai di pintu terlihat sebuah mobil masuk ke halaman ruman itu.

Wijaya dan Aini yang sedang duduk di teras cukup mengenali mobil itu. Apalagi yang mengemudikannya si empunya mobil tanpa membawa supir. Pria itu pun turun dari mobil setelah memarkirkannya, kemudian menghampiri dan menjabat tangan Wijaya dan Aini, serta Mila yang baru saja keluar.

“Selamat pagi Pak, Bu, Dek Mila.”

“Pagi Arjuna. Wah sekarang makin seger dan sumringah aja nih setelah jadi AKBP?”

“Haha Pak Wijaya ini bisa aja.”

“Eh maaf Dek Arjuna, saya nggak bisa nemenin ngobrol ini, mau ke butik soalnya, sama Mila dan Tika,” ucap Aini.

“Oh iya Bu nggak apa-apa kok, silahkan,” jawab Arjuna.

“Yah, Mila berangkat dulu ya,” pamit Mila ke Wijaya sambil mencium tangannya.

“Iya ati-ati ya Nduk,” jawab Wijaya.

“Duluan Pak Arjuna,” pamit Mila sopan.

“Iya Dek Mila, hati-hati,” jawab Arjuna, sesaat hatinya berdesir.

Aini dan Mila yang sedang menggendong Tika pun langsung menuju ke mobil dimana Sarbini sudah menunggu mereka. Aini duduk di bangku depan di sebelah Sarbini sementara Mila duduk di belakangnya.

“Pak Sarbini, stroller-nya Tika tadi udah dimasukin?” tanya Mila.

“Sudah Mbak, saya masukin ke bagasi,” jawab Sarbini.

“Ya udah, yuk Pak jalan,” ujar Aini.

Sarbini pun segera memacu kendaraannya meninggalkan rumah, meninggalkan Wijaya dan Arjuna yang kembali asyik bercengkerama. Sekitar setengah jam kemudian sampailah di butik yang ternyata sudah dibuka oleh pegawai Aini. Sarbini membantu Mila menurunkan stroller dan tas perlengkapan Tika lalu membawanya ke dalam butik.

“Pak Sarbini, habis ini tolong ke Timoho dulu ya ambil barang di tempat Bu Tata, kemarin saya udah hubungi dia, tinggal ambil aja Pak,” ujar Aini.

“Oh iya Bu, habis ini saya langsung kesana,” jawab Sarbini.

“Makasih Pak.”

Setelah memastikan semuanya beres, tak lama kemudian Sarbini meninggalkan butik dan melajukan mobilnya ke daerah Timoho. Sudah rutin setiap minggu sekali Sarbini mengambil barang di tempat Tata. Tentu saja bukan hanya mengambil barang pesanan majikannya, tapi juga sekaligus memanjakan ‘barangnya’ sendiri.

Hubungan gelap Tata dan Sarbini sudah terjalin lagi setahun belakangan ini. Setelah peristiwa yang menimpa keluarga majikannya itu, tiba-tiba saja Sarbini hilang kontak dengan Tata. Hampir 2 tahun Tata menghilang begitu saja. Ketika mendatangi ke kantor wedding organizer yang dikelola Tata, rekan-rekannya mengatakan kalau Tata sedang pulang kampung dan urusan wedding organizer sementara diserahkan kepada rekan-rekannya itu.

Dua tahun menghilang tanpa kabar tentu saja membuat Sarbini blingsatan. Nafsu birahinya yang masih begitu tinggi di usianya yang sudah tidak muda lagi kini kehilangan tempat pelampiasan. Apalagi selama itu pula siksaan bagi Sarbini bertambah. Belum sempat dia bisa menikmati tubuh Ara lebih jauh lagi, kini hadir Mila yang menikah dengan Sakti.

Mila dan Ara sama-sama cantiknya, dengan ciri khas masing-masing, yang tentu saja mengusik khayalan Sarbini. Fantasinya yang melambung tentang Ara bertambah dengan kehadiran fantasi-fantasi baru tentang Mila. Pesona Kamila benar-benar membius Sarbini. Apalagi Mila tinggal di rumah Wijaya sehingga setiap hari Sarbini bisa melihat dan menikmati kecantikan wanita itu.

Sarbini pernah beberapa kali cukup beruntung ketika melihat Mila sedang menyusui anaknya. Mila sedang menyusui anaknya. Meskipun hanya sekilas, tapi semua yang dilihatnya itu terekam jelas di otak tuanya yang masih saja mesum. Dan seperti halnya yang dia lakukan pada Ara, entah sudah berapa pakaian dalam Mila yang hilang oleh tangan jahilnya.

Ketiadaan Tata membuat Sarbini mau tak mau kembali ke rutinitas lamanya, yaitu melayani dirinya sendiri dengan bantuan pakaian dalam Mila dan rekaman mesum di otaknya ketika Mila sedang menyusui. Dengan nafsunya yang begitu tinggi Sarbini masih enggan untuk mencari pelampiasan di lokalisasi, dia masih cukup bisa berpikir berkali-kali untuk melakukannya, masih takut kalau terserang penyakit.

Dan setelah kembali ke kota ini, Tata yang kemudian membuka bisnis berjualan baju online disamping wedding organizer-nya kembali bertemu dengan Sarbini. Melalui Sarbini pula Tata kemudian menjalin kerjasama dengan butik milik Aini. Selain membantu Aini memasarkan dagangannya via online, Tata juga menyuplai butik Aini dengan koleksi-koleksi terbarunya.

Sejak pertemuannya dengan Tata, kembali Sarbini seolah menemukan oasenya kembali di tengah padang gersang yang selama dua tahun ini dia alami. Dan kembali juga Sarbini mengambil beberapa pakaian Mila, untuk dipakaikan pada Tata saat mereka berhubungan badan, untuk memenuhi fantasi Sarbini.

Tata tahu dia masih berhutang kepada Sarbini, yaitu membantunya agar bisa mendapatkan tubuh Ara. Namun dia sendiri sekarang bingung bagaimana harus melakukan itu, karena sekarang Ramon dan Baktiawan sudah tewas, dan Fuadi dipenjara. Apalagi Sarbini juga menemukan target baru dalam diri Mila. Tapi Tata bertekat akan memenuhi janjinya kepada Sarbini, selain itu juga untuk membalaskan dendamnya kepada keluarga Wijaya. Saat ini dia masih belum tahu bagaimana caranya, tapi dia sudah membulatkan tekatnya untuk menghancurkan keluarga itu suatu saat nanti.

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part