web hit counter

Mengalahkan Gadis Bagian 2 Part 20

0
206

Mengalahkan Gadis Bagian 2 Part 20

Please Help Me, Fellas

Dua hari telah berlalu sejak menghilangnya Ara, Mila, kedua anak mereka, Fitri dan juga Wanda, namun baik Budi maupun Marto belum menemukan petunjuk apapun. Kabar hilangnya mereka dengan cepat menyebar, sampai ke rekan kerja Ara dan Budi di kantor masing-masing. Mereka semua juga ikut berupaya untuk mencari informasi, namun sampai saat ini belum ada hasil yang didapatkan.

Pak Hadi selaku atasan Budi pun sudah menyarankan kepadanya untuk tidak masuk kerja dulu, karena selain akan mengganggu fokusnya di kantor, Pak Hadi juga ingin memberikan waktu kepada Budi untuk mencari istrinya itu. Dia dan jajarannya sepakat untuk memberikan hari libur sampai batas waktu ditemukannya Ara. Ini juga merupakan wujud terima kasih mereka karena jasa Budi yang berhasil menggagalkan serangan hacker di banknya beberapa waktu yang lalu. Semua pegawai menyambut baik keputusan itu, dan mereka berkomitmen untuk mem-back up semua pekerjaan Budi sampai dia bisa masuk kerja lagi nantinya.

Bersama dengan Marto, Sakti dan juga Fadli mereka sudah berusaha melakukan pencarian, selain tentunya dibantu oleh pihak kepolisian yang juga kehilangan dua orang anggotanya. Budi dan Marto telah memberikan keterangan kepada kepolisian terkait kemungkinan terlibatnya Arjuna dalam peristiwa ini.

Hari ini pun mereka sudah seharian mencari petunjuk kesana kemari, namun tak juga membuahkan hasil. Setelah mengantar Marto pulang, malam ini Budi beserta Sakti dan Fadli menuju rumah Wijaya. Di rumah Wijaya sendiri sampai sekarang masih dijaga oleh pihak kepolisian atas perintah sang pimpinan. Para polisi berjaga jika saja ada pihak-pihak yang memiliki niat jahat kepada keluarga itu.

Sakti yang sudah cukup letih memilih untuk beristirahat, sementara itu Fadli bersama dengan Wijaya sedang berbincang di ruang keluarga. Hanya Budi yang masih sibuk di teras rumah mertuanya. Dia terlihat masih mengotak-atik laptopnya, meminta bantuan dari teman-teman dunia mayanya untuk ikut mencari, dan melacak keberadaan orang-orang yang dicurigai.

Sampai sekarang, informasi yang diperoleh hanyalah latar belakang Steve dan David McArthur sebelum masuk ke Indonesia. Sejak tewasnya Rory McArthur, ayah mereka, keduanya memang sempat dikabarkan menghilang, tak ada satupun yang tahu kemana rimbanya. Tapi kini mereka muncul kembali bersama dengan Bastian dan komplotannya. Budi juga memperoleh cukup banyak informasi tentang Bastian semasa hidup di Inggris, namun tak satupun informasi itu yang cukup berguna baginya kini.

Merasa tak ada lagi jalan keluar, Budi pun mengambil opsi terakhir. Opsi yang memang ingin dia hindari, tapi tampaknya dia memang tak bisa menyelesaikan ini sendirian. Budi pun mengambil ponselnya dan segera menghubungi seseorang.

Halo, Assalamualaikum Bud.”
“Waalaikumsalam. Pak, I need you as a Zeus.”

Iya, aku sudah tahu. Jaka baru saja memberitahuku tentang masalah ini.
“Jadi gimana Pak? Rasanya saya butuh bantuan teman-teman. Saya nggak bisa sendirian.”

Aku sudah menghubungi yang lainnya, kemungkinan beberapa akan langsung berangkat kesana malam ini atau besok. Sedangkan Queen mungkin akan menyusul.
“Hmm begitu, baiklah. Lalu bagaimana dengan orang satu itu?”

Yah kamu tahu sendiri lah, aku sendiri nggak pernah bisa menghubunginya. Tapi aku yakin ‘dia’ pasti akan datang.
“Sebenarnya, saya pikir ‘dia’ sudah ada di kota ini.”

Kenapa kamu bisa berpikir begitu?
“Beberapa waktu yang lalu ‘dia’ meninggalkan sebuah pesan di brankas saya. Padahal Bapak tahu sendiri seperti apa brankas itu, kemungkinan cuma ‘dia’ yang bisa membukanya.”

Apa yang dia sampaikan ke kamu?
“Cuma meminta saya untuk bersiap dan berhati-hati, karena mereka sudah memulai semua ini.”

Jadi sebenarnya ‘dia’ sudah tahu semua?
“Kemungkinan besar seperti itu Pak. Cuma yang saya heran, kalau ‘dia’ sudah tahu akan seperti ini, kenapa tidak bertindak untuk mencegahnya. Saya rasa ‘dia’ tahu tentang Ara dan anak saya.”

Entahlah, apakah mungkin ‘dia’ memberimu pesan itu sekedar memprediksi saja, atau mungkin ‘dia’ sudah punya rencana sendiri. ‘Dia’ memang sangat misterius Bud, jangankan untuk mengetahui apa yang sedang dipikirkan, siapa ‘dia’ saja sampai sekarang ini kita masih belum tahu.
“Ya itu dia Pak. Entah ‘dia’ cuma memprediksi atau beneran sudah tahu. Kalau memang cuma prediksi saja, saya yakin ‘dia’ sudah ada disini. Tapi kalau sudah tahu semua, kenapa cuma diam saja. Kalau sampai terjadi apa-apa pada keluarga saya, ‘dia’ harus ikut bertanggung jawab.”

Yaudah, nggak perlu berpikiran negatif sama teman sendiri. Meskipun kita nggak tahu apa yang sedang ‘dia’ lakukan, tapi percaya saja dia pasti akan membantumu. Seperti yang sudah-sudah.
“Ya, saya harap juga begitu. Oh iya Pak, ada satu hal yang mau saya tanyakan.”

Soal apa itu?
“Soal pembunuhan Rory McArthur. Apakah benar ini semua ulah kelompok kita? Dan siapa yang sebenarnya membunuh Rory? Sampai-sampai kedua anaknya datang dan membuat onar disini hanya untuk memancing kita keluar.”

Ya, memang benar. Orang kitalah yang membunuh Rory. Sebenarnya waktu itu, Zeus terdahulu hanya mengirimkan 3 orang saja, yaitu AssassinInsane dan Hurricane. Namun menurut mereka bertiga, ada seseorang yang membantu saat terjadi penyerangan itu, dan kemungkinan besar yang membunuh Rory dan juga Al Pacho adalah ‘dia’.
“Hmm, lalu apakah kira-kira ‘dia’ yang dulu masih sama dengan ‘dia’ yang sekarang?”

Entahlah. Dari semua anggota, hanya ‘dia’ yang tidak pernah diketahui regenerasinya. Sejak pertama kali sudah seperti itu Bud, makanya nggak heran kan kalau dapat julukan itu.
“Iya sih Pak. Cuma kalau seandainya ‘dia’ yang sekarang bukan yang dulu lagi, ini yang bikin repot. Kedua anak Rory itu bakal salah sasaran balas dendamnya.”

Yah mau gimana lagi. Mau salah sasaran atau nggak, yang jelas mereka sudah mengacau di negeri ini. Kalau memang polisi nggak bisa ngatasin, berarti memang sudah waktunya kita turun tangan.
“Setuju. Jadi Bapak juga akan ikut kesini?”

Mungkin ikut, karena yang mereka lakukan ini sudah keterlaluan. Aku jelas nggak mau melewatkan kesempatan ini, haha.
“Haduh, inget umur Pak. Mending serahin sama kita-kita aja.”

Ya kalau itu sih yang maju tetap kalian. Aku cuma mantau aja dari dekat.
“Ya sudahlah kalau begitu. Saya harap secepatnya temen-temen bisa datang kesini. Saya sudah sangat khawatir sama istri saya.”

Tenang aja Bud, beberapa pasti sudah dalam perjalanan kesana. Kita akan segera temukan istrimu dan juga yang lainnya. Kita akan bantai habis mereka kalau sampai istri kamu dan yang lainnya kenapa-napa.
“Iya Pak. Terima kasih banyak.”

Budi meletakkan kembali ponselnya setelah memutuskan sambungan telpon. Kini dia hanya bisa menunggu kedatangan ‘teman-temannya’. Sudah cukup lama mereka tidak bertemu, namun sayangnya pertemuan kali ini bukan untuk ajang reuni, tapi demi menyelamatkan istri dan anaknya, serta korban-korban penculikan yang lainnya. Budi bersumpah dalam dirinya, kalau sampai terjadi apa-apa dengan para korban, terutama istri dan anaknya, tak ada satupun dari pelaku penculikan itu yang akan dia biarkan hidup.

*****

Police Headquarter
07.00 am

Setelah selesai melaksanakan apel pagi rutin, beberapa petugas terlihat langsung menuju ke posnya masing-masing. Pengarahan dari sang pimpinan tadi sudah sangat jelas, mencari anggota mereka yang menghilang sejak 3 hari yang lalu. Selain Fitri dan Elsa, Ferdi dan Jimmy yang mengantar kedua polwan itu juga ikut menghilang. Tidak ada satupun dari mereka yang bisa dihubungi.

Sang pimpinan memanggil beberapa orang kepercayaannya yaitu Iptu Paidi, Iptu Fauzi dan Iptu Nickolai. Ketiga orang ini adalah nama-nama yang direkomendasikan oleh Fadli. Sejak kembali dan menemui Wijaya, Fadli memang sudah melakukan kontak dengan sang pimpinan, meskipun masih meminta keberadaannya untuk dirahasiakan, agar tidak sampai diketahui oleh anak buah Arjuna yang kemungkinan masih ada di kantor itu.

Ketiga polisi berpangkat Iptu itu pun mengikuti sang pimpinan dengan rasa penasaran di pikiran masing-masing. Mereka memang sudah tahu akan membahas perihal hilangnya para anggota itu, tapi mereka sendiri merasa ini kurang tepat. Rasanya masih banyak orang yang secara pangkat maupun jabatan lebih tinggi, tapi justru merekalah yang diajak berdiskusi oleh sang pimpinan.

“Oke, kalian saya kumpulkan disini untuk membahas langkah-langkah apa saja yang akan kita lakukan terkait dengan hilangnya beberapa anggota kita, serta hilangnya keluarga dari Bapak Wijaya,” ujar sang pimpinan saat mereka sudah duduk di dalam ruangannya.

“Maaf menyela komandan. Bukannya kami keberatan, tapi kenapa kami? Bukankah masih banyak yang lebih pantas untuk membahas hal ini?” tanya Iptu Paidi menyampaian rasa penasarannya.

“Karena kalianlah yang direkomendasikan oleh Fadli.”

“Loh, komandan sudah ketemu dengan Mas Fadli?” tanya Iptu Fauzi yang terkejut seperti kedua rekannya. Mereka sudah mendapat pesan dari Fadli untuk tidak membocorkan keberadaannya kepada siapapun, tapi ternyata sang pimpinan sudah mengetahuinya.

“Ketemu sih belum, cuma kemarin dia menghubungiku. Sama seperti yang dia minta ke kalian, dia juga memintaku untuk merahasiakan keberadaannya disini. Beruntung kalian membawa anggota-anggota baru untuk melakukan penjagaan di rumah Pak Wijaya, jadi mereka belum mengenal siapa Fadli yang sebenarnya.”

“Tapi sebelum kita membicarakan ini lebih jauh, kita masih menunggu satu orang lagi, mungkin sebentar lagi dia akan datang.”

“Siapa komandan?”

Belum sempat menjawab pertanyaan dari Iptu Paidi, terdengar ketukan dari pintu ruangan pimpinan. Setelah dipersilahkan masuk, muncullah seorang polisi muda yang hari ini bertugas piket di pintu gerbang markas.

“Selamat pagi Komandan Al, maaf mengganggu.”

“Ada apa?”

“Ada seseorang yang ingin bertemu dengan Komandan Al, katanya sudah ada janji.”

“Oh baiklah, suruh masuk.”

“Siap komandan!”

Polisi muda itupun pergi meninggalkan ruangan sang pimpinan. Tak berapa lama kemudian, dia kembali bersama dengan seorang pria yang mengenakan jaket kulit hitam, celana panjang hitam dan juga kacamata hitam yang bertengger di wajahnya. Setelah mempersilahkan sang tamu masuk, polisi muda itupun kembali keluar menuju ke pos penjagaannya.

“Selamat pagi Brigjen Alfarizy,” sapa sang pria itu menyalami sang pimpinan.

“Selamat pagi Ichi, selamat datang kembali disini,” balas sang pimpinan menyambut uluran tangan pria itu.

“Yah, sudah cukup lama saya tidak kesini, dan nampaknya keadaan sudah mulai kacau.”

“Yaa begitulah, seperti yang kamu tahu. Oh iya, perkenalkan ini ketiga anak buahku, Iptu Paidi, Iptu Fauzi dan Iptu Nickolai,” ucap sang pimpinan memperkenalkan pria itu kepada ketiga anak buahnya.

“Halo, saya Daichi Masaru, panggil saja Ichi,” Ichi menyalami ketiga polisi berpangkat Iptu tersebut.

“Nah, Ichi ini adalah seorang agen interpol. Dia asli jepang, tapi sudah lama menetap di Indonesia. Dialah orang yang kita tunggu-tunggu, karena dia yang nantinya akan membantu kita mencari anggota kita yang hilang. Dia ini juga adalah suami dari Wanda.”

“Wanda? Wanda siapa komandan?” tanya Iptu Nickolai.

“Wanda Masaru, istrinya. Atau yang selama ini kalian kenal dengan Elsa Maharani. Sama seperti Ichi, Wanda adalah agen interpol. Dia sedang melakukan penyamaran disini.”

“Hah, Elsa itu, interpol?” ketiga polisi itu kaget bukan kepalang.

“Ya, terus terang saja aku juga baru mengetahuinya. Dulu Ichi yang datang kesini menemuiku dan mengatakan akan melakukan penyelidikan disini karena mencurigai adanya anggota kita yang berkhianat. Aku tak menyangka kalau dia mengirimkan istrinya dan menyamar menjadi Elsa.”

Baik Iptu Paidi, Iptu Fauzi maupun Iptu Nickolai masih belum mempercayai apa yang mereka dengar. Mereka selama ini mengenal Elsa sebagai polwan yang baru saja dimutasikan dari ibukota. Dan selama itu mereka tak melihat ada sesuatu yang berbeda dari Elsa, sama seperti rekan-rekan mereka yang lainnya.

“Oke, kita sudah kumpul semua, kita mulai saja. Ichi, ada yang mau kamu sampaikan?”

“Begini, setiap dua hari sekali saya selalu mendapat laporan dari Wanda tentang penyelidikannya disini, namun setelah kemarin tidak ada kabar, saya menghubungi komandan Al dan baru mengetahui bahwa Wanda menghilang bersama dengan seorang rekannya Yang perlu saya sampaikan kepada kalian, orang yang kami selidiki selama ini adalah Arjuna.”

“Arjuna? Tapi kan Pak Arjuna sudah tewas dalam operasi kemarin?” ucap Iptu Fauzi yang juga turut serta dalam operasi tempo hari.

“Saya tidak yakin dia benar-benar tewas, bukan begitu komandan Al?”

“Ya, Ichi benar. Awalnya saya sempat percaya bahwa Arjuna sudah tewas, tapi dari informasi yang diberikan oleh Ichi, dan juga kemarin saya berkomunikasi dengan Fadli dan Pak Wijaya, saya jadi sangsi. Tidak mungkin dia tewas dalam permainan yang dia buat sendiri?”

“Permainan? Apa maksudnya komandan?” pertanyaan Iptu Fauzi yang membuat Brigjen Alfarizy menarik nafas dan mengelus jambang tipis yang menutupi pipinya.

Akhirnya sang pimpinan itupun menjelaskan semua informasi yang dia perolah baik dari Ichi maupun keluarga Wijaya, juga dari Fadli dan Marto. Penjelasan ini tentunya membuat ketiga polisi itu tercengang. Mereka tak pernah menduga bahwa persoalan yang sedang mereka hadapi ternyata lebih rumit dari perkiraan sebelumnya. Kedok asli dari Arjuna yang ternyata memiliki hubungan dengan kelompok Mata Angin, penyamaran Wanda untuk menyelidiki Arjuna, Fitri yang juga selama ini menyelidiki Arjuna seorang diri, serta konspirasi yang dilakukan Arjuna untuk menyingkirkan Fadli.

“Lalu bagaimana langkah selanjutnya komandan? Apakah kita akan kembali mengerahkan pasukan sementara masih ada kemungkinan orang-orangnya Arjuna disini?”

“Tentu saja tidak Nick, gerakan seperti itu akan dengan mudah diketahui oleh Arjuna. Kita tidak mau ambil resiko dengan mengorbankan nyawa anak buah kita tanpa mengetahui dengan jelas kekuatan lawan terlebih dahulu. Dan untuk itulah kalian aku panggil kesini.”

Iptu Nickolai, Iptu Paidi dan Iptu Fauzi saling bertatapan tak mengerti dengan perkataan pimpinannya barusan. Jika tidak mengerahkan pasukan, lalu apa yang harus mereka lakukan? Tidak mungkin mereka sendirian menghadapi kelompok Mata Angin, itu sama saja dengan menyerahkan nyawa mereka dengan cuma-cuma.

“Jadi gini, mulai hari ini kalian saya bebas tugaskan dari pekerjaan di kantor. Kalian bersama dengan Ichi temui Marto, diskusikan masalah ini dengannya. Kalian semua tahu sendiri kan reputasi Marto seperti apa meskipun sudah lama dia keluar dari kepolisian? Nah, nanti kalian berlima bergerak secara diam-diam. Cari lokasi tempat ditawannya korban-korban penculikan itu, pelajari bagaimana kekuatan mereka. Setelah semua jelas, beritahu saya, nantinya akan saya kirim bantuan dari sini.”

“Dan saya minta kalian secepat mungkin melakukan tugas ini, jangan terlalu banyak membuang waktu, karena semakin lama kita menemukan mereka, semakin banyak kemungkinan buruk yang akan terjadi kepada para korban, mengerti?!” ucap Brigjen Alfarizy dengan tegas.

Keempat orang di hadapannya mengangguk tanda mengerti. Bagi Ichi, kali ini dia lebih memilih untuk mengikuti saran dari Brigjen Alfarizy ketimbang bergerak sendiri. Ichi sudah memperhitungkan keberadaan McArthur bersaudara, sehingga terlalu riskan untuk memaksakan diri. Dengan adanya bantuan dan rencana seperti ini, dia berharap bisa segera menemukan istrinya beserta dengan korban-korban yang lain. Seperti apapun kondisinya, dia berharap semua korban itu masih dalam keadaan hidup.

Sementara bagi ketiga polisi lainnya, ada sedikit ketegangan yang muncul di dalam hati mereka. Ketiganya tahu ini sama sekali bukan tugas yang mudah, bahkan beresiko terhadap nyawa mereka sendiri. Namun mereka juga bangga karena dipercaya oleh sang pimpinan untuk mengemban tugas ini. Selain Ichi dan Marto, mereka yakin akan mendapat bantuan dari Fadli juga. Inilah yang mereka tunggu, kembali bekerja sama dengan Fadli, mengulangi apa yang pernah mereka lakukan lebih dari 3 tahun yang lalu.

Mereka bertiga adalah anak buah yang saat itu sangat loyal kepada Fadli. Kepergian Fadli karena dipindahtugaskan sempat membuat mereka sedikit kehilangan semangat. Namun kini, mereka siap untuk kembali bekerja sama dengannya, meskipun untuk saat ini status Fadli bukan lagi sebagai atasan mereka, tapi ketiganya tak peduli. Mereka bertekad untuk menjalankan tugas ini sebaik-baiknya, karena jika kasus ini bisa diselesaikan, sekaligus mereka akan menghancurkan kelompok Mata Angin dan mengakhiri semua kegilaan ini.

*****

Mafia Paintball
11.00 am

Marto sedang duduk berbincang dengan Fadli di ruang kerjanya. Dia baru saja mendapatkan telpon dari Brigjen Alfarizy kalau beberapa anak buahnya sedang menuju ke tempatnya. Seperti yang memang sudah mereka rencanakan, mereka akan mencoba bergerak terlebih dahulu untuk mencari informasi keberadaan Fitri dan yang lainnya disekap, setelah itu menghubungi pihak kepolisian untuk merencanakan operasi pembebasan, sekaligus penyergapan terhadap kelompok Mata Angin itu.

Tak lama kemudian yang ditunggu-tunggu oleh Marto dan Fadli datang juga. Ketiga polisi anak buah Alfarizy sudah berganti pakaian agar tidak terlalu menarik perhatian. Mereka kemudian saling sapa dan berbasa-basi sebentar, termasuk Ichi yang memperkenalkan diri sebagai suami dari Wanda.

“Jadi kalian sudah dengar semua dari komandan Al?” tanya Marto saat mereka sudah berada di ruangannya.

“Sudah Mas, tadi kami sempat dikumpulkan sama komandan Al sebelum disuruh kemari.”

“Kalau gitu langsung aja ya. Kita akan menyelidiki daerah Kaliurang. Aku baru saja mendapatkan informasi dari seseorang, dia mengaku sering melihat dua orang bule yang bolak-balik menuju ke arah sana.”

“Bule? Emang ada yang aneh kalau bule bolak-balik kesana Mas? Itukan daerah wisata,” potong Fauzi.

“Memang nggak aneh sih kalau ada bule yang kesana, bahkan orang yang memberi informasi kepadaku itu awalnya juga menganggap wajar. Tapi ini sudah sekitar 2 tahunan, lama-lama dia penasaran juga. Dia sempat tanya-tanya orang di daerah atas katanya tidak ada bule tinggal dan menetap disana.”

“Bentar Mas. Emangnya siapa orang itu kok kayaknya tahu banget bule ini sering bolak-balik kesana?”

“Orang itu adalah petugas di loket retribusi pintu masuk kawasan Kaliurang.”

“Lha kok, orang itu bisa ngasih informasi ke Mas Marto?”

“Jadi gini, kemarin aku sempat berkeliling untuk mencari info. Sampai disana aku tanya-tanya sama petugas itu. Aku tanya apa ada pengunjung-pengunjung aneh yang pernah dia lihat masuk, dan dia cerita soal kedua bule itu. Terus aku juga nanya, apakah dia pernah melihat dua orang polwan yang masih pakai seragam masuk kesana, waktu itu tiba-tiba mukanya jadi pucat.”

“Setelah aku desak, akhirnya dia bercerita kalau 3 hari yang lalu waktu berjaga, ada sebuah mobil yang di dalamnya ada dua orang polisi muda, dan dua orang polwan di kursi belakang. Polisi yang mengemudi mobil itu cuma senyum-senyum aja sama petugas loket itu, jadi dia mengira kalau mereka ini adalah pasangan selingkuh.”

“Karena mereka adalah polisi jadinya dia takut untuk melapor. Kemarin aja setelah aku bilang kalau aku suaminya salah satu polwan itu baru dia cerita, itupun minta kalau identitasnya dirahasiakan, takut dicari-cari sama polisi-polisi muda itu.”

“Hmm, jadi semakin jelas sekarang mereka dibawa kemana. Kalau gitu langsung aja Mas kita sisir daerah sana.”

“Jangan gegabah Nick, kamu nggak inget kegagalan operasi penggerebekan kelompok Mata Angin kemarin?” Fadli dengan kalem memotong ucapan Nickolai.

“Maksud Mas Fadli, ada kemungkinan ini jebakan?”

“Bisa jadi kan? Kemarin kalian pasti juga nggak ada yang mengira kalau kalian sudah masuk ke dalam perangkap.”

“Terus gimana dong Mas?”

“Maaf saya menyela. Saya paham dengan kekhawatiran dari saudara Fadli, tapi untuk sementara, itu adalah satu-satunya informasi yang kita punya, jadi tidak ada salahnya kita coba selidiki kesana. Tapi tentu saja kita nggak bisa terang-terangan, kita harus melakukannya secara diam-diam. Saya rasa saudara Marto tahu apa yang saya maksud bukan?” Ichi yang sedari terdiam kini mengutarakan pendapatnya sambil menatap Marto.

“Ya, untuk saat ini, hanya inilah satu-satunya informasi yang kita punya, dan mau nggak mau kita harus menyelidikinya. Saya sepakat dengan Ichi, karena itu kita akan bergerak nanti malam, dan kita akan mencari jalan lain. Terlalu beresiko jika harus lewat jalan utama itu.”

“Tapi Mas, kalau memang ini jebakan, saya rasa mereka sudah memperhitungkan kalau kita akan mencari jalan lain, dan sudah menyiapkan sesuatu untuk mengejutkan kita nantinya,” ucap Fadli mencoba memprediksi.

“Iya benar, karena itulah kita tidak akan lewat jalan yang sudah ada, tapi kita buat jalan kita sendiri. Sekarang sebaiknya kalian beristirahat dulu karena nanti malam kita akan membutuhkan tenaga yang banyak. Nanti jam 8 malam kita berkumpul lagi disini, berangkat ke Kaliurang bareng-bareng,” jawab Marto yang membuat mereka semua menganggukkan kepala.

Kini mereka mengerti dengan rencana yang dibuat oleh Marto. Mereka memang harus mempersiapkan fisik mereka sebaik mungkin. Membuka jalan diantara semak-semak dan hutan muda di malam hari bukanlah perkara gampang. Belum lagi resiko-resiko bertemu dengan binatang buas. Tapi mereka sudah menerima tugas ini, tak ada lagi alasan untuk mundur. Segala resiko harus mereka hadapi, sambil berharap semuanya berjalan sesuai dengan rencana mereka, dan semua tugas ini dapat terselesaikan dengan baik.

*****

The Previous Day
Downtown

Sebuah Aston Martin Vanquish Zagato berwarna merah menyala baru saja memasuki aera parkir hotel berbintang lima di kawasan pusat kota. Di dalamnya nampak sepasang pria dan wanita dengan senyum lebar mengembang di wajah mereka. Keduanya baru saja pulang dari kawasan Kaliurang untuk ‘menjenguk’ para korban mereka. Si pria senang karena rencananya berjalan dengan lancar, sedangkan si wanita puas karena keinginannya untuk membalas dendam sebentar lagi akan tercapai sepenuhnya. Belum sempat turun dari mobil, ponsel si pria ini berdering, sebuah panggilan masuk dari seseorang.

“Halo.”
Halo boss, ini Seto.

“Iya tahu. Ada apa?”
Saya mau laporan nih boss. Tadi ada orang yang nemuin saya, nanya-nanya soal pengunjung yang masuk akhir-akhir ini.

“Oh ya, siapa? Si Marto apa Budi?”
Saya nggak nanya namanya, tapi dia bilang suaminya si polwan boss.

“Ooh si Marto. Dia sendirian? Terus gimana?”
Iya boss sendirian aja tadi. Ya saya bilangin semua seperti yang boss suruh kemarin. Saya bilang soal kedua bule itu. Terus dia nanya soal polwan gitu, saya pura-pura panik boss dan nggak mau ngasih tahu, nah terus dia bilang kalau dia suami dari salah satu polwan itu, akhirnya saya cerita aja, saya bilang kalau memang kemarin ada dua orang polwan kesini sama dua orang polisi muda, kayaknya mau selingkuh, gitu boss.

“Haha bagus bagus, pinter kamu To, nggak rugi lah aku nyuruh kamu.”
Kalau sama saya sih, boss tahu beres aja lah, yang penting kan, hmm, yaah boss tahu sendiri lah, hehehe.

“Tenang aja, sesuai janji saya kemarin. Besok saya suruh anak buah nganterin duit itu ke kamu. Dan ingat, kalau ada orang lain lagi yang nanya, termasuk polisi, bilangnya seperti tadi ya. Jangan macem-macem, inget keluargamu.”
Siap boss, saya sih nggak usah diancem gitu. Uang dari boss ini sayang banget kalau ditolak.

“Yaudah kalau gitu. Nanti kalau ada apa-apa langsung kabari saya, jangan ke yang lain.”
Oke boss.

“Siapa Bas?” tanya si wanita ketika pria itu memasukkan kembali ponsel ke sakunya.

“Si Seto, penjaga loket Kaliurang. Dia baru aja ngasih laporan.”

“Laporan apaan emangnya?”

“Marto tadi datang kesana, nanya-nanya gitu. Sama Seto udah dijawab sesuai dengan apa yang aku perintahkan kemarin.”

“Yang kamu perintahkan kemarin? Apaan sih?”

“Yup. Aku udah tahu kalau lama kelamaan mereka, Budi ataupun Marto akan nyari sampai kesana, makanya aku nemuin Seto. Aku ajak dia kerja sama, kalau ada yang nanya-nanya soal pengunjung di Kaliurang, aku suruh dia jawab soal Steve dan David, juga soal polwan-polwan itu.”

“Lah, kalau dikasih tahu, entar mereka bakal nyari kesana dong?”

“Tenang aja Tha, semua udah diatur. Mereka nggak akan semudah itu menemukan villa kita. Kalaupun ketemu, itu artinya mereka sedang mengantar nyawa.”

“Hoo gitu. Yah padahal aku belum puas lihat mereka menderita.”

“Haha, belum puas gimana? Tadi aku lihat wajahmu kayaknya puas banget gitu?”

“Yaa masih kurang Bas. Kalau yang lainnya sih aku nggak peduli, tapi wanita itu, rasanya aku pengen mempermalukan dia lebih dari itu.”

“Kalau itu susah Tha. Denger sendiri kan tadi yang dibilang Pak Fuadi?”

“Iya sih. Padahal aku pengennya nggak kayak gitu, tapi Pak Fuadi udah bilang kayak gitu, mau gimana lagi.”

“Yaudah yuk turun. Gara-gara lihat tadi, aku jadi pengen nih.”

“Haha, kamu horny Bas? Gara-gara ngelihat yang mana emangnya?”

“Yaa semuanya lah. Polwan-polwan itu. Kedua wanita itu juga. Udah yuk ah.”

“Haha iyaa iyaa. Hayuk kalau gitu.”

Martha menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Bastian. Sebenarnya dia sendiri juga merasakan hal yang sama gara-gara melihat para korbannya tadi. Seharian ini mereka menghabiskan waktu di villa untuk melihat bagaimana wanita-wanita itu sedang ‘diajari’ untuk menjadi budak yang patuh. Dia masih teringat bagaimana Lusi, Beti dan Tata dikeroyok belasan anak buahnya. Teringat bagaimana tangisan Tata saat melihat Bastian, memintanya menghentikan semua ini, namun Bastian hanya tersenyum simpul dan pergi begitu saja.

Di ruangan lain, dia juga melihat bagaimana Rio dan Tono tak bosan-bosannya menggarap tubuh Fitri dan Wanda bergantian. Kedua wanita itu dipaksa tetap memakai seragam dinasnya, meskipun sudah tidak diikat lagi tangan dan kakinya. Martha tak tahu sudah berapa kali kedua wanita itu digagahi oleh Rio dan Tono, tapi terlihat olehnya tadi baik Fitri maupun Wanda sudah sangat menurut kepada kedua pria itu.

Dan yang terakhir tentu saja ketika melihat Mila dan Ara yang berada di kamar terpisah. Meskipun kecewa dengan keputusan Fuadi, namun dia sudah cukup puas melihat air mata yang mengalir di pipi kedua wanita cantik itu. Tinggal kini memperlihatkan semuanya kepada Budi, orang yang telah membuatnya sakit hati sampai sekarang ini. Dia tak sabar melihat bagaimana reaksi Budi saat mengetahui apa yang terjadi kepada istri dan kakak iparnya itu.

Mengingat semua yang dia lihat di villa yang penuh dengan aroma erotisme tadi, juga membayangkan bagaimana nantinya reaksi pria yang telah menyakiti hatinya itu, tiba-tiba membuat tubuhnya menghangat. Dia merasa dadanya mengeras, dan daerah bawahnya juga mulai basah. Dia pun segera turun dan menggandeng Bastian dengan mesra menuju kamar tempat mereka menginap. Sepertinya malam ini akan mereka habiskan dengan penuh gelora menuntaskan birahi pasangannya masing-masing.

*****

Present
Kediaman Wijaya

Sudah 3 hari ini, tepatnya sejak hilangnya Ara, Mila dan anak-anak mereka, kediaman Wijaya selalu dijaga ketat oleh beberapa petugas dari kepolisian. Mereka yang berjaga di dalam rumah memakai seragam dinasnya, sedangkan beberapa yang disebar di lingkungan sekitar rumah memakai pakaian bebas agat tidak terlalu mencolok.

Para tetangga Wijaya beberapa kali mengunjunginya, menyampaikan keprihatinan mereka dan juga memberikan dukungan moril kepada keluarga itu. Mereka juga ikut membantu sebisanya, apalagi Budi sudah memberikan beberapa buah foto yang dicurigai sebagai orang yang terlibat dalam kasus penculikan itu. Dan bila melihat salah satu dari orang-orang di foto itu mereka diminta untuk segera menghubungi Wijaya ataupun Budi, nanti merekalah yang akan meneruskannya ke kepolisian.

Siang ini, Budi dan Sakti masih berada di rumah itu menemani Wijaya yang sedang mencoba menghibur Aini yang tak henti-hentinya menangis. Aini, dan mereka semua merasa takut kalau peristiwa mengerikan yang pernah menimpa mereka dulu kembali terulang. Saat itu mereka masih bersyukur karena berhasil diselamatkan tanpa satupun korban jiwa. Tapi kali ini berbeda. Jika dulu mereka selamat karena bantuan Rio, kini justru Rio berada di pihak musuh yang dulu dilawannya. Apalagi kini mereka tahu bahwa Rio yang sekarang bukanlah Rio yang sebenarnya, bukan Rio yang mereka kenal sebagai saudara mereka.

Sakti terlihat sangat kacau. Sudah tiga hari ini dia tak bisa tidur, makanpun sekedarnya hanya untuk mengganjal perut saja. Dia yang dulu juga menjadi korban penculikan sangat mengkhawatirkan keselamatan istri dan anaknya. Saat itu dia melihat sendiri bagaimana perlakuan para penjahat itu kepada wanita-wanita yang diculik, dan dia takut kejadian yang serupa menimpa istrinya.

Meski begitu dia sendiri tak tahu harus berbuat apa. Dia dan Budi sudah berusaha mencari petunjuk namun hasilnya masih nihil. Hanya saja semalam ada setitik harapan setelah Budi mendapatkan telpon dari Marto. Meskipun belum jelas, tapi kemungkinan keberadaan istrinya dan korban-korban lainnya mulai ada kejelasan. Dia sebenarnya sudah ingin berangkat ke Kaliurang untuk mencari, namun dicegah oleh Budi. Adik ipar sekaligus sahabatnya itu mengatakan Marto yang akan melakukan pencarian, sekalian mengamati kondisi disana.

Memang jika mengingat siapa yang berada di balik semua ini, mereka semua wajib waspada. Kejadian beberapa tahun yang lalu cukup untuk menjadi pelajaran betapa liciknya musuh-musuh mereka. Ditambah lagi yang sekarang, kemungkinan juga lebih kejam daripada yang dulu, karena itulah Sakti memilih untuk menuruti kata-kata Budi.

Budi sendiri meskipun terlihat lebih tenang namun dalam hatinya dia juga sangat khawatir dengan keselamatan keluarganya. Dia tahu, para korban itu tidak akan dibunuh, namun kemungkinan besar mereka akan mendapatkan perlakuan yang sangat buruk dari para pelaku. Apalagi dia tahu kalau Fuadi ada disana, pria yang dulu pernah melecehkan istrinya. Dulu memang sudah sempat digagalkan, namun kini dia punya waktu yang lebih banyak, itu yang membuat Budi semakin khawatir, dan juga memendam kemarahan yang luar biasa.

Tiba-tiba saja lamunan Budi dikagetkan oleh bunyi notifikasi pesan dari ponselnya. Bukan ponsel yang sering digunakan sehari-hari, tapi ponsel yang selama ini dia gunakan untuk berkomunikasi dengan orang-orang tertentu saja. Beberapa pesan masuk hampir bersamaan, namun bunyinya hampir sama, “we’re here bro.” Budi pun membalas pesan itu dan meminta mereka untuk menuju rumahnya, dia akan segera kesana menemui mereka. Setelah merapikan barang-barangnya Budi pun beranjak menemui Wijaya untuk berpamintan.

“Ayah, saya mau ijin dulu.”

“Mau kemana Bud?”

“Ada beberapa orang yang mau saya temui.”

“Siapa?”

“Teman lama, yang akan membantu kita mencari Ara dan yang lainnya.”

“Teman lama?”

“Iya Yah, tapi maaf saya belum bisa cerita sekarang. Nanti pasti akan saya ceritakan kalau memang sudah tiba waktunya. Yang pasti, teman-teman saya ini datang untuk membantu kita.”

“Hmm, baiklah kalau begitu, kamu hati-hati yaa.”

“Iya Yah.”

Budi beranjak meninggalkan kamar mertuanya untuk menemui Sakti. Terlihat kakak iparnya itu sedang melamun, pandangannya kosong namun matanya terlihat merah, letih karena belum beristirahat.

“Sak, aku cabut dulu ya.”

“Mau kemana Cing?”

“Mau nemuin beberapa orang yang akan membantu kita.”

“Aku ikut ya?”

“Nggak usah, kamu di rumah aja jagain ayah sama ibu.”

“Tapi Cing…”

“Udah, kamu percayain aja semuanya sama aku. Lagian bentar lagi kan polisi yang jaga waktunya gantian, kalau nggak ada kamu mereka mau lapor ke siapa? Ayah nggak bisa ninggalin ibu gitu lho. Yaudah aku tinggal dulu, entar kalau ada apa-apa kabarin ya.”

Sakti hanya mengangguk saja. Dia sebenarnya benar-benar ikut adik iparnya itu, tapi memang benar apa yang dikatakan Budi, sebentar lagi waktunya pergantian petugas jaga, dan dia harus ada disana untuk menerima laporan. Dia juga tahu bisa mempercayakan semua ini kepada Budi. Meskipun belum tahu apa yang akan dilakukan adik iparnya itu, tapi Sakti yakin kalau Budi akan menyelamatkan mereka semua.

Tak berapa lama kemudian Budipun melajukan mobilnya meninggalkan rumah itu. Dengan kecepatan sedang mobil itu menembus ring road utara yang tidak begitu ramai kondisinya. Sekitar 30 menit kemudian dia sudah sampai di rumahnya. Masih terlihat sangat sepi, karena dia juga menyuruh pembantunya untuk libur saja. Rumah ini awalnya juga dijaga oleh polisi, namun karena Budi selalu berada di rumah Wijaya, maka petugas yang berjaga disini sudah ditarik untuk pekerjaan yang lainnya.

Setelah memarkirkan mobilnya, Budi mengambil tasnya dan segera masuk ke rumah. Begitu dia membuka pintu, ternyata sudah ada beberapa orang sedang duduk-duduk di ruang tengah rumahnya. Namun hal itu sama sekali tidak membuatnya kaget, tidak juga membuatnya bertanya-tanya bagaimana mereka bisa masuk ke dalam rumahnya yang semua pintunya dalam keadaan terkunci. Dia sudah tidak heran lagi karena cukup mengetahui kemampuan orang-orang itu.

Ada 5 orang yang duduk disana, 4 orang memakai topeng, 1 orang lagi tidak. Orang yang tidak memakai topeng ini berperawakan tidak begitu tinggi, hanya sebatas pundak Budi, dan juga perutnya sedikit membuncit, dengan rambutnya yang sudah mulai menipis dan berwarna keputihan. Budipun menyalami mereka satu-persatu. Belum sempat dia mengatakan apa-apa dari arah dapur muncul seorang berambut gondrong yang memakai topeng dengan membawa nampan berisi 7 gelas minuman dingin. Orang itu datang sambil bergumam tak jelas di balik topengnya.

“Heh San, kenape sih lu ngedumel aja dari tadi?” tanya salah satu orang bertopeng yang duduk.

“Gini nih kalau nggak ada Queen, gue mulu yang dijadiin babu kalian,” jawab orang yang membawa nampan tadi.

“Halah, emang kalau ada Queen, berani lu nyuruh dia? Yang ada elu yang diinjek-injek sama dia, hahaha.”

Mereka pun sempat tertawa mendengar kedua orang ini berdebat. Namun tak lama kemudian orang yang tidak memakai topeng itu memberi isyarat kepada semuanya untuk diam. Mereka kemudian duduk menghadap ke orang itu, menunggu apa yang mau dibicarakan olehnya.

“Oke Bud, jadi untuk sementara mereka berlima yang datang. Queen bilang dia akan menyusul secepatnya karena masih ada pekerjaan, sedangkan orang itu, yah kalian tahu sendirilah.”

“Iya Pak nggak apa apa, lagipula saya yakin kok kalau ‘dia’ sudah ada di kota ini. Dan makasih buat kalian semua yang udah datang,” ujar Budi sambil menatap satu persatu temannya itu. Meskipun mereka memakai topeng, tapi Budi bisa mengenalinya, karena dia sudah cukup hapal dengan topeng-topeng itu.

“Jadi gimana sekarang Bud? Lu udah dapet lokasinya mereka?” tanya pria yang tadi membawa nampan sambil membuka topengnya dan mengambil gelas lalu meminumnya.

“Belum pasti San. Ada sedikit petunjuk, tapi kemungkinan itu cuma jebakan. Kita harus pastiin dulu.”

“Tugas lu lah itu Shad, gara-gara elu balik kan anak bininya Budi diculik,” ujar pria gondrong tadi seenaknya.

“Busyet deh lu manggilnya yang bagusan dikit napa. Nggak sopan banget lu sama senior,” jawab orang yang dimaksud oleh pria gondrong tadi, membuat teman-temannya tertawa.

“Iya kakak Shadow, sekarang tugas kakak yaa buat mastiin petunjuknya si Budi,” ucap pria gondrong itu yang kembali membuat teman-temannya tertawa.

“Iyee iyee, entar malem gue cari tahu, gampanglah itu. Gimana Zeus?” tanya pria yang dipanggil Shadow tadi kepada pria yang tak memakai topeng.

“Iya, kamu cari tahu dulu kebenaran petunjuk itu, kalau bisa sekalian memetakan bagaimana keadaan dan kekuatan mereka. Setelah dapat, secepatnya kita akan bergerak.”

“Tapi sepertinya nanti malam Marto dan beberapa temannya juga akan bergerak Pak, apa bareng sama mereka saja,” ujar Budi memberikan informasi tambahan.

“Temen-temennya siapa Bud? Bukannya udah pada mati?” sahut pria gondrong itu.

“Bukan, bukan temen-temennya yang itu. Ada 4 orang polisi dan 1 orang agen interpol.”

“Oh, si Daichi Masaru itu ya? Lumayan juga sih dia,” ujar si pria gondrong yang mendapat anggukan dari Budi.

“Biarin aja mereka Bud, kita tetap bergerak sendiri. Kita juga harus inget untuk tetap menjaga kerahasiaan kita. Nanti aku akan bicara sama Alfarizy, biar mereka tetap berada di belakang kita nantinya.”

“Baiklah kalau begitu Pak.”

Mereka bertujuh pun kembali membahas rencana selanjutnya yang akan mereka jalankan, termasuk membagi informasi dan juga peran mereka nantinya ketika beraksi. Mereka sudah mengerti apa-apa saja yang harus dipersiapkan, karena saat datang ke rumah Budi ini, masing-masing sudah membawa perlengkapannya. Di salah satu ruangan di rumah Budi sudah terkumpul beberapa tas besar yang isinya tentu saja peralatan tempur andalan mereka masing-masing. Saking asyiknya membicarakan rencana itu, sampai-sampai tak seorangpun menyadari ada yang memperhatikan mereka dari tadi.

“Serius amat sih ngobrolnya.”

“Uanjeeeeng, ngagetin aja woy!” teriak si pria gondrong itu saking terkejutnya.

“Apa lu bilang? Anjing?” dan BUG! Sebuah bogem mentah secepat kilat mendarat di wajah si pria gondrong hingga membuatnya sedikit terjengkang.

“Huahahahaha. Rasain lu,” semua yang ada di ruangan itu menertawai si pria gondrong yang sedang mengelus-elus pipinya.

“Hai Queen, kok udah datang? Kirain masih nanti,” sapa Budi menyalami orang yang baru datang itu.

“Iya Bud, kerjaan bisa cepet kelar, makanya gue langsung kesini.”

Orang yang baru saja datang dan menghadiahi bogem mentah ke pria gondrong tadi adalah seorang wanita dengan pakaian serba hitam dan kain merah yang menutupi wajahnya. Pakaian yang dipakai cukup ketat sehingga memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah. Namun dibalik keindahan tubuhnya itu, tersimpan kekuatan yang tak bisa diremehkan. Buktinya, pria gondrong yang baru dipukulnya tadi, yang sebenarnya menguasai berbagai lairan beladiri dan memiliki tubuh yang sangat kuat, harus kesakitan menerima pukulannya.

“Oke, sudah kumpul semua. Yah anggap aja udah lengkap lah ya, ‘dia’ pasti tahu kok kita lagi ngumpul ini. Kita lanjutin lagi bahas rencana yang mau kita lakukan.”

Kembali mereka sibuk membicarakan rencananya. Budi bersyukur teman-temannya bisa datang semua. Dengan begini semuanya akan terasa lebih mudah. Meskipun sebenarnya kurang 1 orang lagi yang belum datang, tapi Budi yakin orang itu sedang mengamati mereka dari jauh. Kalaupun tidak, dia yakin orang itu sudah punya rencananya sendiri, yang sudah pasti memiliki tujuan yang sama, membebaskan para korban dan menghabisi para pelaku itu.

Meskipun masih ada kekhawatiran di dalam hatinya, namun kini dia sedikit lebih tenang dengan kehadiran teman-temannya itu. Dia sangat tahu kemampuan mereka, dan bila sudah bergabung seperti ini, dia yakin tak akan ada yang bisa melawan kekuatan mengerikan mereka. Kini Budi berharap secepat mungkin lokasi istrinya bisa ditemukan, dan segera bergerak untuk menyelamatkannya. Masih dengan tekadnya kemarin, jika terjadi sesuatu kepada salah satu korban-korban itu, terutama orang-orang yang dia sayangi, maka tak ada satupun dari para pelaku itu yang akan dia biarkan hidup.

*****

Hanya beberapa saat setelah kepergian Budi, para polisi yang akan menggantikan petugas jaga pun sudah tiba di kediaman Wijaya. Setelah melapor kepada Sakti, petugas yang sudah dari semalam berjaga itupun meninggalkan tempat. Kini Sakti terlihat sedang berbincang dengan salah satu dari polisi yang baru saja datang. Dia baru melihat orang itu sekarang, karena memang berbeda dengan yang kemarin-kemarin berjaga. Sakti berpikir bahwa mungkin memang dilakukan pergiliran jaga, agar yang kemarin bisa mengerjakan pekerjaan yang lainnya.

“Oh iya Pak, emangnya petugasnya digilir ya? Kayaknya saya baru pertama kali ini lihat Bapak?” tanya Sakti memastikan.

“Iya Pak, kita dikasih giliran dua hari itu. Jadi yang kemarin disini, sekarang balik ke kantor. Untuk yang nanti malam juga bakal beda lagi Pak orangnya,” jawab polisi itu memberikan penjelasan.

“Oh iya juga sih. Pasti jenuh ya Pak kalau disini terus.”

“Ah nggak juga kok Pak, namanya juga tugas. Tapi kalau boleh milih sih, saya milih tugas kayak gini. Puyeng Pak tiap hari di kantor ada aja laporan kejahatan, belum lagi kalau kita disuruh turun ke lapangan. Iya kalau kasusnya yang ringan-ringan, lha kalau kayak pembunuhan gitu, kan ngeri Pak.”

“Oh gitu ya Pak?” Sakti hanya tersenyum-senyum saja mendengarkan curhatan dari polisi itu.

“Iya Pak, tapi ya gimana lagi, namanya juga tugas.”

“Iyalah Pak, kerjaan apa aja, selama kita punya atasan, pasti, eehh apaan inii, aaakkhhh,,”

Belum sempat Sakti selesai berbicara, dia merasakan sesuatu yang tajam dan dingin menusuk lehernya. Saat akan berontak tiba-tiba tubuhnya terasa lemas sekali, dan dengan cepat dia kehilangan kesadarannya. Dia sempat melihat polisi yang berbincang dengannya itu tersenyum sebelum dia benar-benar pingsan.

“Oke, satu beres. Tinggal dua lagi, ayo sekarang giliran kalian!” perintah polisi tadi kepada rekan-rekannya yang lain.

Mereka pun menuju ke kamar Wijaya yang pintunya tertutup. Setelah beberapa kali mengetuk, akhirnya Wijaya pun keluar. Dia terlihat heran karena yang mengetuk ternyata adalah polisi, bukannya Sakti.

“Ada apa ya Pak?” tanya Wijaya kepada polisi itu.

“Ini Pak, Mas Sakti pingsan. Kayaknya sakit apa kecapekan gitu, gimana ini Pak?” jawab si polisi dengan wajah panik.

“Waduh, iya kayaknya. Sudah tiga hari ini dia kurang tidur. Dimana dia sekarang?”

“Itu Pak di ruang tamu.”

Wijaya pun segera menuju ke ruang tamu dan memang benar anaknya itu sedang direbahkan di sofa, dan seorang polisi nampak sedang memberinya minyak angin. Wijaya kemudian mendekati Sakti dan memegang dahinya, memang dia rasakan sedikit demam.

“Pak, bisa minta tolong panggilkan dokter nggak? Yang di sebelah itu aja, siapa tahu sudah pulang dari rumah sa aaaakkkhhhhh.”

Sama seperti Sakti, Wijaya belum sempat menyelesaikan ucapannya saat sesuatu yang tajam menusuk lehernya, dan tak lama kemudian kesadarannya pun hilang. Para polisi tadi meletakan tubuhnya di sebelah tubuh Sakti. Setelah itu salah seorang polisi itu masuk ke dalam kamar Wijaya, terlihat Aini yang masih menangis sambil memeluk guling. Tanpa kesulitan Aini pun berhasil dibius dan tubuhnya dibopong ke ruang tamu. Sedangkan seorang lagi tampak menuju belakang untuk membereskan pembantu Wijaya.

“Oke boss, beres semua, tinggal panggil mobilnya.”

Salah seorang kemudian nampak menelpon seseorang yang memang sudah stand by di sekitar kediaman Wijaya itu. Tak berapa lama kemudian masuklah sebuah mobil minibus warna hitam. Para polisi itu segera menggotong tubuh Sakti, Wijaya dan Aini memasuki mobil itu, kemudian menyuruh mobil hitam itu untuk berangkat terlebih dahulu.

Setelah mobil itu pergi, para polisi itu berkumpul di ruang tamu. Mereka kemudian melepas seragam dan atribut polisi yang mereka pakai, menggantinya dengan pakaian biasa yang memang sudah mereka persiapkan. Mereka meletakkan begitu saja seragam-seragam itu di lantai. Dan sebelum pergi dari rumah itu, salah satu yang merupakan ketua dari orang-orang itu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.

Halo. Gimana udah beres belum?
“Halo Pak Arjuna. Sudah beres Pak, mereka bertiga sudah dalam perjalanan kesitu.”

Oke, sesuai prediksi. Kalau gitu sebelum kalian pergi, bersihkan dulu jejak-jejak kalian, jangan sampai ada sidik jari tertinggal.
“Siap Pak, sedari tadi kami sudah pakai sarung tangan. Ini kami udah mau cabut.”

Bagus. Kalau gitu habis ini kalian ngumpul di markas bawah, ada hadiah buat kalian disana.
“Siap boss!”

*****
Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂