web hit counter

Mengalahkan Gadis Bagian 2 Part 25

0
240

Mengalahkan Gadis Bagian 2 Part 25

Epilog – Nueva Vida

Empat tahun sudah berlalu dari peristiwa yang menggemparkan itu. Semua yang terjadi tentu saja tak bisa ditutup-tutupi begitu saja. Suara baku tembak dan juga ledakan yang terjadi pagi itu mau tak mau mengundang perhatian warga sekitar. Beruntung sebelum para warga sampai, polisi yang diperintahkan oleh Brigjen Alfarizy sudah tiba terlebih dahulu untuk memasang police line dan menetralkan lokasi.

Namun meski begitu, masih saja ada beberapa warga yang berhasil menembus kawasan itu dan mengambil beberapa foto untuk kemudian disebarkan melalui berbagai forum dan media sosial. Sebuah pemandangan yang sangat mengerikan tentunya, dimana lokasi villa yang seharusnya sejuk dengan udara yang segar, pagi itu begitu panas dengan bau anyir darah dimana-mana. Foto-foto yang tersebar itu sontak membuat geger tak hanya di kota ini, tapi juga seantero negeri, bahkan menarik perhatian dunia internasional.

Beberapa kilometer dari kawasan villa juga diketahui bekas baku tembak antara polisi dan kelompok Mata Angin yang berakhir dengan kemenangan besar bagi kepolisian. Banjir darah dimana-mana tentu saja sulit untuk segera dihapus dan akhirnya masyarakat pun mengetahuinya. Pihak kepolisian kemudian memberikan konfirmasi mengenai apa yang terjadi. Mereka menyebutkan bahwa peristiwa yang terjadi di villa itu adalah penyerbuan kelompok teroris yang bekerja sama dengan kelompok Mata Angin dan telah melakukan berbagai macam aksi kejahatan serta menciptakan keresahan di masyarakat.

Kepolisian melaporkan bahwa dalam penyerangan itu mereka sukses menumpas semua teroris berkat bantuan dari interpol, namun operasi itu terpaksa harus menelan beberapa korban jiwa dari warga sipil. Pihak kepolisian mengkonfirmasi bahwa korban-korban tewas dalam kejadian itu adalah Beti, Lusi, Tata dan Tiara sebagai warga sipil, serta Elsa dari pihak kepolisian. Mereka menyebutkan bahwa keempat warga sipil ini adalah korban penculikan sedangkan Elsa adalah polwan yang ikut dalam operasi bersama dengan Fitri dengan tujuan pembebasan sandera. Kelima korban ini dinyatakan tewas karena ledakan.

Pihak kepolisian dan interpol sepakat untuk tidak membongkar identitas asli Elsa sehingga tetap disebutkan bahwa wanita itu merupakan polisi wanita anggota dari Kepolisian daerah setempat. Mereka juga sepakat untuk tetap merahasiakan tentang keberadaan tim Vanquish atas permintaan dari para anggotanya dan juga Zeus sendiri. Mereka meminta agar kepolisian dan interpol saja yang mengklaim operasi ini, sehingga kepercayaan masyarakat bisa pulih kembali.

Semua orang yang terlibat dalam operasi pagi itu tentu saja terpukul, tak terkecuali Daichi Masaru yang harus kehilangan istrinya. Saat diperintah oleh Queen untuk memeriksa sumber ledakan, dia bersama yang lain bahu membahu untuk memadamkan api terlebih dahulu. Setelah mereka masuk ke dalam ruangan ditemukan ada empat jasad berjenis kelamin perempuan yang masih utuh namun dengan luka bakar luar biasa dan hampir tak dapat dikenali. Selain itu ada sepasang jasad lagi yang tubuhnya hancur dan sama sekali tak bisa dikenali, namun mereka semua menyimpulkan bahwa itu adalah Fuadi dan Ara.

Setelah kejadian itu Ichi kembali ke negaranya untuk memulihkan kondisi kejiwaannya. Beberapa bulan kemudian dia dipanggil untuk menerima penghargaan karena telah ikut dalam operasi itu dan berhasil melaksanakannya dengan baik, meskipun dengan korban istrinya sendiri. Tujuan dari operasi mereka adalah kakak beradik Steve dan David, dan kedua pria itu sudah berhasil dibunuh oleh anggota Vanquish. Kepada rekan-rekannya Ichi mengatakan bahwa yang membunuh Steve dan David adalah anggota kepolisian dari Indonesia, dia sama sekali tak menyebutkan sedikitpun tentang Vanquish.

Kini setelah 4 tahun, Ichi kembali datang ke negara ini untuk mengunjungi makam istrinya. Dia hanya datang sendiri. Dan ketika sampai di tempat pemakaman, dia melihat seorang pria juga sudah berada disana. Pria itu tak lain adalah Budi yang mengunjungi makam Tiara, istrinya. Kelima wanita korban dari ledakan itu memang dimakamkan berdekatan.

“Dari tadi Bud?”

“Hei Chi, baru datang? Iya, aku udah dari tadi, ini udah mau balik, mau anterin Indah periksa.”

“Iya baru datang, dan langsung kesini. Periksa? Udah hamil ya istrimu?”

“Yup, udah jalan 5 bulan ini.”

“Wah selamat yaa, akhirnya si Ardi punya adik juga, haha.”

“Haha, iya terima kasih Chi. Yaudah, kalau gitu aku pamit ya, nanti sempatkanlah main ke rumahku.”

“Beres, aku pasti mampir. Aku juga sudah kangen sama masakan Indah, haha.”

“Haha, gampang itu. Nanti aku kasih tahu Indah. Yaudah aku duluan, nanti kabar-kabar ya?”

“Oke bro.”

Tak lama setelah Budi meninggalkan makam itu, Ichi segera duduk di samping nisan istrinya. Meskipun diberitakan bahwa korban bernama Elsa Maharani, namun di nisan ini tetap tertulis nama asli istrinya, Wanda Masaru. Dia duduk sambil mengelus-elus nisan itu, dan tak lama kemudian air matanya mengalir.

“Selamat pagi sayang, aku datang lagi. Aku bawakan bunga kesukaanmu,” ujar Ichi lirih sambil meletakkan setangkai mawar putih di atas pusara istrinya.

Wanda memang penyuka mawar putih, namun dia tak pernah suka jika diberi dalam jumlah yang banyak. ‘Terlalu berlebihan, setangkai aja cukuplah, emang mau kamu suruh aku makan bunga ini?’ itulah kata-kata Wanda yang masih terngiang di telinga Ichi, yang kerap membuatnya tersenyum disela tangis ketika mengingat istrinya.

“Sayang, sekali lagi maafkan aku. Kalau dulu aku tak memintamu untuk menyamar, seharusnya tidak seperti ini jadinya. Kita pasti masih akan terus bersama.”

“Maafkan aku yang bahkan tak bisa menjagamu sama sekali. Kamu sudah pergi untuk selamanya, tapi cintamu tidak. Dia akan tetap ada dihatiku, tak akan ada yang mampu menggantikkannya. Aku akan tetap mencintaimu sampai kita bersama lagi di kehidupan selanjutnya.”

Untuk beberapa saat lamanya Ichi masih berada disitu, bergumam sendirian seolah sedang menceritakan kegiatannya selama ini kepada istrinya. Kadang tertawa, kadang menangis, lalu terdiam. Seperti itulah yang selalu dilakukannya ketika datang kemari. Memang tak bisa sering, paling banyak setahun hanya dua kali saja, karena itulah cukup lama dia berada disitu, banyak hal yang dia ceritakan kepada istrinya.

Hingga hari beranjak sore barulah dia menyudahi ceritanya. Dia kembali menatap nisan itu dalam-dalam. Tersenyum dan kemudian menciumnya sesaat. Dia berdiri di depan makam istrinya untuk berpamitan.

“Aku pulang dulu sayang, semoga bisa secepatnya mengunjungimu lagi disini. Semoga kamu bahagia disana, dan tunggulah kedatanganku agar kita bisa bersama lagi selamanya. Dan juga, selamat ulang tahun.”

*****

“Pak Udin, bisa ke ruangan saya sebentar?” pinta seorang wanita kepada anak buahnya.

“Siap Bu Fitri, ada instruksi?” jawab pria itu setelah masuk ke ruangan wanita tadi, yang tak lain adalah Safitri.

“Begini, saya mau ijin dulu sore ini, mau nyiapin pesta ulang tahun buat anak saya. Pak Udin bisa handle untuk sementara kan?”

“Siap Bu, biar saya handle semua. Nanti kalau ada apa-apa saya laporkan ke Ibu.”

“Terima kasih Pak, kalau gitu saya pergi dulu.”

Fitri pun kemudian pergi meninggalkan kantornya. Saat ini dia sudah menjabat sebagai kapolsek di sebuah wilayah yang tak jauh dari rumahnya dan berpangkat AKP. Meskipun tak terlalu banyak, namun keterilbatannya dalam peristiwa beberapa tahun lalu membuatnya mendapatkan penghargaan dan promosi jabatan seperti yang dia tempati sekarang. Awalnya Fitri keberatan jika harus menjadi seorang kapolsek, namun kemudian atas saran dari Fadli diapun menerimanya.

Fadli sendiri saat ini kembali ditugaskan di kota ini untuk menjadi kapolres. Sedangkan ketiga rekannya yang turut dalam operasi dini hari itu yaitu Paidi, Fauzi dan Nickolai saat ini juga dipromosikan menjadi kapolres di kabupaten lain di propinsi ini. Mereka berempat juga memperoleh penghargaan berupa kenaikan pangkat dan sekarang menjadi AKBP. Jadilah sekarang keempat kabupaten di propinsi ini dipimpin oleh para polisi yang berhasil menaklukan kelompok Mata Angin.

Memang jika menilik kembali apa yang mereka lakukan dulu adalah sebuah pelanggaran karena bertindak tanpa adanya perintah dari atasan. Bahkan mereka telah menggerakkan anggota dalam jumlah yang banyak pada sebuah operasi yang beresiko sangat tinggi. Namun dengan keberhasilan yang sangat gemilang itu tanpa ada satupun korban jiwa dari pihak mereka, tak ada alasan untuk memberikan hukuman yang berat kepada mereka berempat. Memang sempat dikenai hukuman ringan berupa skors selama sebulan, namun sebenarnya itu tak lebih sebagai pemberian masa istirahat kepada mereka saja.

Dan kini semua telah berubah. Kondisi mencekam dengan adanya kelompok Mata Angin yang melakukan kejahatan dimana-mana telah berakhir. Kepercayaan masyarakat kepada pihak kepolisian telah kembali sepenuhnya. Setelah peristiwa itu, hingga saat ini, kota ini benar-benar menjadi kota yang sangat aman bagi warganya. Tingkat kriminalitas nyaris nol. Kalaupun ada hanyalah kasus-kasus sepele yang dengan mudah bisa segera diselesaikan.

Kehidupan warga yang sempat dipenuhi kecemasan dan rasa takut akibat teror kelompok Mata Angin telah berubah. Mereka kini bisa lebih tenang dalam melakukan rutinitasnya. Bekerja dengan perasaan yang tenang, bagi yang tinggal di rumah pun tak lagi khawatir hal-hal buruk akan terjadi kepada mereka. Hubungan antara warga masyarakat dengan kepolisian juga terjalin dengan sangat baik, apalagi di wilayah kerja Safitri yang kini dijadikan percontohan.

Meski tetap menunjukkan ketegasannya sebagai seorang aparat penegak hukum, namun Safitri berhasil merangkul semua pihak untuk kemudian bersatu dan bahu membahu membangun tempat tinggal mereka. Warga sering mengadakan kegiatan yang selalu melibatkan kepolisian. Jika dulu polisi hanya bertugas untuk keamanan saja, maka sekarang mereka bisa berpartisipasi aktif dalam kegiatan-kegiatan itu, selama memang bersedia dan memiliki kemampuan.

Fitri cukup merasa bahagia dengan kehidupannya kini. Karir yang luar biasa cemerlang dibarengi dengan rumah tangganya yang begitu harmonis. Meskipun saat ini dia bukan satu-satunya istri Marto, namun hal itu tak mengurangi kebahagiaannya. Ya, Marto telah bersatu kembali dengan Astri yang selama bertahun-tahun beridentitaskan Yani. Melalui pengobatan yang intensif dan bantuan dari teman-teman Budi, ingatan Astri sedikit demi sedikit bisa pulih, meskipun sangat sulit jika harus mengembalikan semua ingatan yang hilang.

Setahun setelah peristiwa itu akhirnya Marto kembali menikahi Astri. Fitri sama sekali tak keberatan, bahkan sebenarnya semua itu justru desakan darinya. Fitri tak mau suaminya itu menjalani hidup dengan menanggung sendiri beban dihatinya karena mengetahui istri pertamanya masih hidup, jadi menurut Fitri, sekalian saja dipersatukan kembali.

Selama 3 tahun ini mereka menjalani kehidupan yang harmonis dalam satu rumah. Ibu mertua Fitri dari pernikahan pertamanya terdahulu sudah meninggal, dan kini yang lebih banyak mengurus rumah adalah Astri. Dia menolak ketika Marto menyarankan untuk mencari asisten rumah tangga yang baru, karena menurutnya dia sendiri masih mampu untuk mengurusi semuanya. Lagipula anak-anak sudah semakin besar, dimana Zainal baru saja masuk SMA dan Andin yang baru masuk SMP, sehingga tidak banyak yang diurus Astri ketika mereka semua bekerja dan berangkat sekolah.

Dan hari ini, acara ulang tahun yang dipersiapkan oleh Fitri sebenarnya adalah ulang tahun Zainal, anak Astri. Namun hal itu bukan menjadi masalah karena Fitri sendiri juga sudah manganggap Zainal itu anaknya, begitu pula sebaliknya Astri sudah menganggap Andin sebagai anaknya sendiri. Kehidupan mereka bisa berjalan berdampingan dengan sangat harmonis, hal itu tentu saja bisa dijadikan contoh oleh para tetangganya.

Halo Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam. Pah lagi gimana?”

Oh ini masih di tempat Paintball Mah. Mamah udah mau berangkat?”
“Iya Pah. Papah mau dijemput sekalian apa berangkat sendiri?”

Mamah duluan aja deh, entar Papah nyusul, ini masih banyak kerjaan.
“Aduuh Paaah, kerjaan mulu sih? Ini anaknya ulang tahun lho, jangan terus-terusan sama kerjaan gitu dong, entar cepet kaya lho, nggak enak sama yang lain.”

Wuahahaha, Mamah bisa aja. Yowes, bentar lagi Papah berangkat, nanti ketemu disana aja ya.”
“Naah gitu dong. Terus Mbak Astri sama anak-anak nanti gimana Pah?”

Tenang aja, barusan Papah suruh si Mukidi buat jemput mereka pake mobil.
“Loh kalau gitu Papah nggak ada mobil dong? Mamah jemput aja ya?”

Nggak usah Mah, Papah kesana naik motornya Mukidi.”
“Yaa masa naik motor sih Pah yang bener aja?”

Lhoo Mamah belum tahu motornya Mukidi kayak apa? Motor sport lho ini, mobilnya Mamah aja kalah harganya.
“Hahaha masa sih. Yaudah kalau gitu terserah Papah aja, ini Mamah mau berangkat ya.”

Iya Mah hati-hati. Love you :*
Love you too.”

Fitri menutup telpon dan mengemudikan mobilnya menuju ke arah sebuah rumah makan cepat saji di kawasan yang tak begitu jauh dari kantornya. Mereka memang sudah memesan tempat disana sejak jauh-jauh hari. Namun karena saat ini adalah waktu-waktu sibuk pulang kantor dan kuliah membuat jalanan cukup ramai hingga macetpun tak terhindarkan.

Sepanjang perjalanan ini Fitri kembali terbayang-bayang dengan kehidupan yang dia jalani. Mulai dari pernikahan pertamanya dulu yang dirusak oleh Marto yang saat itu masih menjadi orang jahat, lalu perselingkuhan dengan atasannya sendiri sebagai bayaran atas dibebaskannya dia cari cengkeraman Marto. Hingga kemudian dia jatuh kedalam jerat seorang penjahat bernama Ramon dan malah diselamatkan oleh Marto yang kemudian menjadi suaminya.

Babak baru muncul dalam kehidupannya ketika memutuskan untuk menyerahkan tubuhnya kepada Arjuna yang saat itu juga atasannya. Meskipun bertujuan untuk menyelidiki keterlibatan Arjuna dengan kejahatan, namun justru dirinya tertangkap bahkan diperkosa habis-habisan oleh Rio dan Tono. Dia juga dipaksa untuk bersetubuh dengan Sakti di depan Mila yang diperkosa oleh Arjuna. Beruntung saat itu rekan-rekan Budi datang untuk mebebaskannya. Sampai sekarang dia belum tahu siapa mereka yang sebenarnya, namun dia tetap bersyukur keberadaan mereka bisa menyelamatkannya, meskipun tidak bisa menyelamatkan rekannya, Wanda.

Fitri juga bersyukur Marto mau menerimanya kembali dan tak mempermasalahkan apa yang telah terjadi selama ini. Dia memang pada akhirnya menceritakan semua ini kepada suaminya itu. Kali ini dia ingin benar-benar jujur, tanpa ada satupun hal yang ditutup-tutupi. Dia sudah siap jika seandainya Marto marah besar bahkan meninggalkannya, sebagai konsekuensi untuk apa yang telah diperbuatnya. Namun ternyata Marto sama sekali tidak marah, dia bisa mengerti dan ingin Fitri tak membahas hal-hal itu lagi kedepannya.

Marto sendiri saat ini usahanya sudah semakin maju, bahkan sudah bisa membuka cabang di beberapa tempat. Karyawannya pun kini semakin banyak, kesibukannya juga bertambah. Namun meski begitu dia sama sekali tak mau waktu untuk keluarganya terganggu. Baginya keluarga adalah yang utama, apapun urusannya jika itu bersamaan dengan waktu berkumpul bersama keluarga, maka urusan lain itu yang harus mengalah.

Tak terasa Fitri telah sampai di tempat yang akan digunakan untuk menggelar pesta ulang tahun Zainal. Fitri belum melihat Astri dan anak-anaknya serta beberapa teman yang mereka undang karena memang dia tiba setengah jam sebelum dimulainya acara. Fitri pun turun dari mobil untuk masuk ke rumah makan itu. Beberapa orang yang mengenalnya menyapa, kemudian seorang pegawai mengantarkannya ke lantai 2.

“Ini Bu tempatnya, sudah kami hias sesuai dengan permintaan kemarin,” ujar pegawai rumah makan itu.

“Wah bagus banget Mas, sesuai banget sama yang kita minta. Untuk yang lainnya sudah siap juga?”

“Sudah Bu. Untuk badutnya mereka udah dateng dan lagi siap-siap. Kue juga sudah siap, pengisi acara udah stand by¸ pokoknya semua sudah siap.”

“Wah terima kasih banyak ya Mas. Kalau gitu saya nunggu yang lainnya disini saja.”

“Baik Bu silahkan.”

Pegawai itupun meninggalkan Fitri sendirian di ruangan itu. Fitri mengambil ponselnya untuk menghubungi Marto memberitahukan bahwa dia sudah sampai di lokasi. Tak ada balasan dari Marto, mungkin dia sedang dalam perjalanan kemari. Fitri juga menghubungi Astri dan ternyata mereka pun sudah di jalan sedang terjebak macet.

Kembali dia menunggu orang-orang yang dia sayangi sampai di tempat itu. Dia menatap ke dinding yang terdapat tulisan nama dari Zainal yang berulang tahun. Dia tersenyum, menikmati kehidupannya kini. Berharap kedepan akan menjadi semakin indah, tidak perlu lagi ada kejadian-kejadian tidak mengenakan dalam hidupnya, atau siapapun seperti yang dulu pernah terjadi.

*****

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam. Eh Papa udah pulang.”

“Iya ni Ma, pulang duluan, kangen sama anak-anak, hehe.”

“Ooh sama anak-anak doang nih, sama Mamanya nggak?”

“Eciyee Mamanya cemburu yaa? Makin embem deh kalau cemburu gitu.”

“Hahaha Papa apaan sih.”

Senda gurau suami istri itu terhenti ketika putri kecil mereka menghampiri. Sang ayah langsung menggendong dan menciuminya, sedangkan sang istri masuk ke dalam rumah untuk melihat anak keduanya yang ternyata masih terlelap.

Sakti dan Mila kini sudah memiliki 2 orang anak, dimana yang kecil baru saja lahir beberapa bulan yang lalu. Mereka sampai sekarang masih menempati rumah Wijaya namun kini hanya tinggal berempat. Aini meninggal beberapa bulan setelah peristiwa tragis itu. Kehilangan Ara membuatnya sangat terpukul hingga berakibat buruk pada kesehatannya yang semakin hari semakin menurun.

Sedangkan Wijaya sendiri baru beberapa bulan ini meninggal. Hampir sama seperti Aini, peristiwa tragis yang menimpa Ara dulu berdampak sangat buruk kepadanya, dan kemudian diperparah dengan meninggalnya Aini. Bertahun-tahun dia menderita sakit hingga akhirnya tak mampu lagi bertahan. Berbagai upaya sudah dilakukan oleh Sakti maupun Budi, namun sepertinya semangat hidup Wijaya sudah benar-benar tidak ada.

Kini Sakti dan Mila memutuskan untuk meneruskan usaha butik milik Aini. Sakti keluar dari pekerjaannya setelah butik itu berkembang dengan sangat pesat. Kini, mereka bahkan membuka outlet di beberapa mall besar di kota ini, serta beberapa kota sekitar. Saat ini mereka sudah memiliki puluhan pegawai. Selain itu mereka juga menjual produk-produknya secara online yang dikelola bersama.

Sakti dan Mila sepakat untuk mengubur dalam-dalam peristiwa memilukan yang mereka alami 4 tahun silam. Mereka masih bersyukur karena bisa selamat dari kejadian itu, termasuk juga Tika, putri mereka. Meskipun mereka menyayangkan karena keberuntungan serupa tidak memihak kepada Ara yang harus menjadi salah satu dari korban ledakan itu.

Mereka berdua sebenarnya juga ikut terpukul, namun kemudian memaksakan diri untuk bisa menerima semuanya. Terlebih lagi keluarga sedang sangat membutuhkan mereka. Mila bahkan selama beberapa bulan juga harus membantu Budi mengurusi Ardi. Budi begitu terpukul karena kehilangan separuh jiwanya, bahkan sampai terlihat seperti orang yang linglung. Namun beruntung Mila selama itu dibantu oleh Indah sehingga tugasnya tak terlalu berat.

Kini setelah lepas dari bayang-bayang peristiwa mengerikan itu, mereka bisa menjalani hidupnya lagi dengan normal dan lebih berbahagia. Keluarga kecil dengan dua orang anak yang lucu dan menggemaskan. Memiliki usaha dengan omset luar biasa dan lebih dari cukup untuk menghidupi mereka. Juga sahabat-sahabat baru yang semakin dekat sejak peristiwa beberapa tahun silam itu.

“Pa, udah siap nih, mau berangkat sekarang?”

“Yaa hayuk aja, emang undangan dari Mas Marto jam berapa?”

“Jam 5 sih, tapi daripada telat Pa, kan pasti macet jalanan. Lagian Mbak Fitri udah disana kok.”

“Oh yaudah kalau gitu. Kado buat Zainal udah disiapin juga?”

“Udah beres ini. Yuk berangkat,” jawab Mila yang menggendong anak keduanya.

“Yuk.”

*****

“Pa, kalau anak kita lahir nanti, Papa maunya cewek apa cowok?”

“Hmm, yaa sedikasihnya aja sih Ma. Kalau kepengenan sih, Papa pengennya cewek aja.”

“Iya, biar Ardi ada pasangannya gitu ya, cowok sama cewek.”

“Iya Ma, Ardi kan juga pengennya dedek cewek, biar bisa diajak main kayak dedek Tika katanya.”

“Tapi nggak kebayang ya Pa kalau anak kita lahir nanti, besarnya bakal kayak gimana ya?”

“Loh nggak kebayang gimana Ma?”

“Iya lah, kan anaknya Venom sama Queen, kalau mewarisi bakat kita, kan bisa jadi jago banget entar, hehe.”

“Haha iya ya Ma. Jadi kalau cowok dia bakal jadi Venom junior yang juga punya kemampuannya Queen, tapi kalau cewek jadi Queen junior yang punya kemampuannya Venom.”

Budi yang baru pulang kerja sedang duduk bersantai dengan Indah istrinya di ruang keluarga. Dia terlihat sedang mengelusi perut istrinya yang sudah nampak membesar saat usia kandungannya kini berjalan 5 bulan. Mereka baru menikah enam bulan yang lalu setelah mendapatkan permintaan terakhir dari Wijaya sebelum dia meninggal. Wijaya ingin Budi mencari pengganti Ara untuk bisa merawat dirinya dan Ardi, dan pilihan itu jatuh kepada Indah.

Sejak peristiwa mengerikan itu Indah memang sudah sangat dekat dengan Budi. Dia selalu ada untuk bisa menenangkan Budi yang sedang terpuruk karena kehilangan Ara. Indah yang selalu menghiburnya dan memberikan motivasi agar segera bangkit karena dia masih memiliki Ardi yang harus diurus. Indah juga ikut membantu mengurus Ardi waktu itu, sehingga kedekatan mereka semakin terjalin. Karena itulah Ardi sama sekali tak menolak ketika Budi mengatakan akan menikahi Indah, bahkan Ardi terlihat sangat senang karena akhirnya memiliki ibu lagi.

Pernikahan antara mereka berdua sebenarnya terlihat biasa saja bagi kebanyakan orang, namun bagi yang tahu itu adalah pernikahan yang luar biasa. Pernikahan yang menyatukan dua orang hebat yang merupakan anggota dari sebuah satuan khusus rahasia dengan kemampuan luar biasa yang dimiliki masing-masing oleh mereka. Budi sempat ragu untuk menikahi Indah karena hal itu, namun ternyata tak satupun dari anggota lain yang merasa keberatan, bahkan pimpinan mereka pun memberikan restu.

Budi sebenarnya heran bagaimana ceritanya seorang Indah Rahmawati yang dikenalnya sebagai seorang gadis yang lugu ternyata adalah anggota Vanquish sama seperti dirinya. Akhirnya Indah pun menceritakan kisahnya sebelum menikah dengan Budi. Dulu saat dia masih kuliah, dia cukup dekat dengan seorang dosen wanita yang sudah cukup senior. Dosen itu ternyata adalah teman lama ibunya Indah. Akhirnya setelah cukup lama dekat, dosen itu mengajak Indah pergi ke suatu tempat dengan alasan untuk penelitian.

Namun ternyata begitu sampai di tempat tujuan mereka yang merupakan sebuah desa terpencil, sang dosen mengungkap jati dirinya yang sebenarnya. Indah tentu saja terkejut, apalagi setelah tahu bahwa sang dosen bertujuan untuk meminta Indah menjadi penerusnya. Tentu saja permintaan tersebut dia tolak karena merasa tak mampu. Dalam bayangan Indah, menjadi anggota dari sebuah satuan khusus seperti itu akan bersinggungan dengan dunia yang sangat keras, bahkan bukan tidak mungkin saling bunuh.

Indah sama sekali tak bisa membayangkan itu. Jangankan membunuh, melihat darah saja dia sudah pusing. Setelah dibujuk berulang-ulang akhirnya Indah menerimanya. Dia mendapat penjelasan dari sang dosen bahwa dulu diapun sama seperti Indah, namun berkat pelatihan dan pengalamannya, dia sudah tak takut lagi mengangkat senjata bahkan membunuh orang. Sejak saat itulah pelatihan secara rahasia dimulai.

Indah mendapatkan pelatihan yang menurutnya sangat berat. Beberapa kali dia hampir menyerah dan ingin berhenti, namun sang dosen terus memotivasinya sehingga dia bisa bertahan. Akhirnya setelah pelatihan bertahun-tahun, Indah memiliki kemampuan beladiri yang tak bisa dipandang sebelah mata. Selain itu dia juga mahir menggunakan berbagai jenis senjata tajam. Setelah itu dia kemudian dilatih untuk menggunakan berbagai jenis senjata api hingga benar-benar menguasainya.

Setelah mampu menguasi semua hal yang diberikan kepadanya dalam pelatihan itu, akhirnya secara resmi Indah ditunjuk menggantikan sang dosen, sebagai Queen yang baru. Zeus dan semua anggota Vanquish termasuk Budi sendiri sudah mendapatkan notifikasi tentang pergantian itu, namun mereka hanya tahu bahwa Queen sudah diregenerasi tanpa tahu identitas yang sebenarnya.

Misi pertama Indah sebagai Queen adalah ketika membubarkan sebuah organisasi yang bergerak di bidang human traficking dimana kebanyakan wanita yang menjadi korban. Operasi itu sukses besar yang berakhir dengan kematian semua anggota dari organisasi itu di tangan Indah. Hal ini tak sampai menjadi pemberitaan karena Indah melakukannya dengan sangat rapi sehingga tak menimbulkan kecurigaan dari siapapun. Dan peristiwa tragis yang membuat Budi kehilangan Ara itu adalah misi kedua yang dia jalani.

Budi benar-benar tak menyangka semua itu. Indah yang dikenalnya benar-benar jauh dari sosok seorang Queen yang tak kenal ampun jika sedang beraksi. Namun apa akhirnya dia memakluminya, karena memang begitulah yang terjadi pada semua anggota Vanquish, termasuk dirinya. Semua anggota itu bisa siapa saja, bisa bekerja sebagai apapun, dan bisa saja memiliki karakter apapun jika sedang tidak bertugas. Namun ketika misi memanggil, mereka akan menanggalkan semua itu dan berganti atribut menjadi orang yang benar-benar berbeda.

Sore ini mereka berdua sedang menunggu kedatangan Ardi yang tadi pamit untuk pergi ke rumah temannya, katanya mau belajar bersama. Budi hanya menggelengkan kepala saja. Jaman dia seumuran Ardi dulu, belajar paling hanya dengan orang tuanya saja. Lagipula pelajaran anak kelas 1 SD jaman dulu tidaklah seperti sekarang. Yah, perbedaan antara jaman dulu dan sekarang memang sudah terlalu jauh, namun dia bersyukur bahwa Ardi adalah anak yang dikaruniai otak yang cerdas serta fisik yang bagus, sehingga bisa mengikuti apa yang diajarkan di sekolah tanpa mengeluh sedikitpun.

Tak lama kemudian sang anak akhirnya pulang juga dengan mengendarai sepedanya. Dia datang mengucapkan salam dan mencium tangan kedua orang tuanya itu. Kemudian dia bergabung di ruang keluarga, lalu menceritakan aktivitasnya seharian ini dengan antusias. Setelah beberapa saat Indah ijin ke belakang untuk menyiapkan makan malam karena kebetulan hari pembantu mereka sedang ijin.

“Ayah, tadi siang waktu pulang sekolah Ardi lihat Bunda,” ucap Ardi lirih sepeninggal Indah, yang membuat Budi tersenyum.

“Wah, akhirnya kamu mau manggil Mama Indah dengan sebutan Bunda ya Nak. Emang kamu lihat dimana?” jawab Budi. Memang selama ini Ardi selalu memanggil Indah dengan sebutan Mama, karena baginya sebutan Bunda hanya milik Ara seorang.

“Ih bukan Yah. Mama Indah tetap Mama Indah. Yang Ardi lihat tadi itu Bunda,” jawaban Ardi kali ini membuat Budi mengernyitkan dahinya, namun kemudian tersenyum.

“Nak, Bunda kan udah tenang di atas sana. Mungkin Ardi kangen sama Bunda makanya waktu ngelihat orang lain Ardi kira itu Bunda. Ardi kalau kangen sama Bunda, berdoa yaa biar Bunda disana diberi tempat yang layak.”

“Ardi selalu berdoa kok buat Bunda. Tapi Yah, yang Ardi lihat tadi beneran Bunda,” jawaban Ardi semakin membuat bingung Budi.

“Emang Ardi lihatnya dimana? Bunda nyamperin Ardi?”

“Tadi di depan sekolah waktu Ardi nunggu dijemput sama Mama Indah. Bunda ada di seberang jalan. Waktu Ardi mau nyamperin ada bis berhenti gitu Yah, nah waktu bisnya udah jalan eh Bunda udah nggak ada.”

“Ardi yakin itu Bunda? Bukan orang yang mirip Bunda?”

“Yakin Yah. Wajahnya agak-agak mirip gitu sama Bunda, terus dari caranya ngelihat Ardi, Ardi yakin banget kalau itu beneran Bunda. Cuma Bunda yang ngelihat Ardi dengan cara seperti itu.”

Budi terdiam. Dia tahu anaknya ini tak mungkin berbohong. Tapi sulit bagi dirinya untuk mempercayai kata-kata itu. Bagaimanapun Ara sudah meninggal 4 tahun yang lalu. Kalau begitu siapa wanita yang dilihat oleh Ardi? Budi memutar otaknya, mencari kemungkinan-kemungkinan yang bisa membenarkan perkataan anaknya itu.

“Yah, kalau yang Ardi lihat itu beneran Bunda, nanti Ardi ajak pulang ya?”

“Iya Nak, nanti kalau kamu ketemu Bunda lagi ajak pulang aja. Yaudah, sekarang Ardi mandi dulu, nanti kita makan malem bareng-bareng, tuh Mama Indah lagi nyiapin makanan buat kita.”

“Yaudah kalau gitu, Ardi mandi dulu ya.”

Sepeninggal anaknya Budi terus berpikir. Ara sudah meninggal 4 tahun lalu akibat sebuah ledakan. Waktu itu jasadnya ditemukan dalam kondisi hancur dan terbakar, benar-benar tidak bisa dikenali. Tetapi hari ini Ardi mengatakan kalau dia melihat Ara. Bagaimana Ara bisa kembali setelah 4 tahun? Apakah sebenarnya Ara tidak benar-benar meninggal? Tapi kalau memang begitu kejadiannya, jasad siapa yang ditemukan dulu itu? Karena berdasarkan jumlahnya, sama persis dengan informasi yang diberikan oleh Shadow, ada 5 orang wanita yang seharusnya disana yaitu Ara, Wanda, Beti, Lusi dan Tata. Apakah mungkin Shadow salah memberikan informasi? Rasanya tidak mungkin, dia tak pernah melakukan kesalahan semacam itu.

Semakin penasaran Budi pun menuju ke ruang kerjanya. Dia nyalakan laptopnya lalu disambungkan ke internet, mencari informasi apa saja yang bisa memberinya petunjuk untuk mendapatkan kebenaran dari kata-kata Ardi tadi. Beberapa saat disitu dia tak bisa menemukan apa-apa, membuatnya hampir menyerah dan berkesimpulan bahwa orang yang dilihat Ardi tadi adalah orang lain yang mungkin memiliki tujuan tidak baik.

Hampir saja Budi mematikan laptopnya saat tiba-tiba dia teringat untuk membuka emailnya karena ada pekerjaan dari anak buahnya yang dikirim melalui email. Setelah selesai mendownload lampiran email itu, iseng-iseng Budi membuka folder spam. Cukup banyak email masuk di folder itu, yang kebanyakan adalah email-email tak jelas. Dihapusnya satu persatu email itu hingga tatapannya tertuju pada sebuah email lama. Tertera tanggal sekitar 3 tahun yang lalu.

Entah kenapa Budi penasaran sekali dan membukanya, tak seperti email-email sebelumnya yang langsung dia hapus. Ada dua buah tautan di dalam email itu. Budi ragu untuk membukanya karena takut itu adalah virus atau semacamnya. Namun rasa penasarannya yang entah datang darimana membuatnya membuka salah satu tautan itu. Budi terkejut begitu tautan itu terbuka. Tautan itu mengarahkannya ke sebuah situs untuk mengunggah foto, dan foto yang saat ini terbuka adalah screenshot dari database dinas imigrasi sekitar lebih dari 4 tahun yang lalu. Dia semakin terkejut ketika menemukan nama seseorang disana.

Karena semakin penasaran, Budi kembali ke emailnya dan membuka tautan kedua. Begitu tautan itu terbuka membuat Budi menganga tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sebuah portal berita yang memuat tentang peristiwa yang terjadi lebih dari 4 tahun yang lalu. Dia memegang keningnya yang mulai basah oleh keringat. Matanya masih terpaku di layar laptopnya, namun pikirannya menerawang, mencari hubungan antara kedua tautan itu.

“Hahaha, brengsek. Email ini bahkan dikirim 3 tahun yang lalu, tapi kenapa aku nggak menyadarinya,” Budi tertawa-tawa menggelengkan kepalanya.

Yah, 3 tahun yang lalu Budi memang masih dalam kondisi yang terpuruk, sehingga dia tak memperhatikan apapun di sekitarnya, termasuk email ini. Dia terlalu sibuk menangisi kepergian Ara sehingga tak menyadari bahwa ada sebuah petunjuk yang dikirimkan kepadanya.

“Pa, makan malam udah siap. Papa nggak mandi dulu?” ujar Indah yang masuk ke ruangan kerja Budi. Tak mendapat jawaban dari Budi membuat Indah bingung kemudian mendekat.

“Pa, Papa kenapa?” tanya Indah melihat Budi tertawa-tawa sendiri menatap laptop.

“Lihat ini Ma,” ujar Budi menyuruh Indah untuk mendekat.

Indah kemudian bergerak ke arah Budi untuk melihat laptop itu. Dan ekspresi Indah sama seperti ekspresi Budi saat pertama kali membuka kedua tautan itu tadi. Indah menatap tak percaya ke arah Budi. Kemudian Budi menceritakan tentang percapakannya dengan Ardi tadi tentang Ara.

“Jadi Pa, kalau gitu, Mbak Ara masih…?”

“Iya. Seharusnya begitu Ma.”

Indah kembali menatap ke arah laptop milik Budi itu. Kedua tautan itu di-minimize dan ditempatkan berdampingan. Tautan pertama adalah database dari dinas imigari lebih dari empat tahun lalu yang menampilkan data siapa saja orang asing yang masuk ke Indonesia. Tertanggal beberapa bulan sebelum peristiwa mengerikan itu. Terdapat sebuah nama dalam daftar itu, nama yang sempat disebutkan oleh Fuadi dalam video yang dikirimkan kepada Budi. Nama orang itu adalah Lee Sung Eul.

Di tautan kedua yang berada di sampingnya, sebuah portal berita yang menampilkan peristiwa meninggalnya seorang dokter ahli bedah plastik terkenal dari Korea Selatan. Di berita itu tertera tanggal kematian sang dokter adalah tepat dua bulan sebelum kedatangan Lee Sung Eul ke Indonesia. Judul berita dalam portal berbahasa Inggris itu adalah, Doctor Lee Sung Eul, South Korean well-known plastic surgeons expert has died for an UNKNOWN reason.

*****

 

THE END

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂