web hit counter

Mengalahkan Gadis Bagian 2 Part 3

0
560

Mengalahkan Gadis Bagian 2 Part 3

How Could This Happen?


Budi


Ara

Waktu masih cukup dini untuk memulai hari, matahari masih jauh dari waktu terbitnya, mungkin baru saja menerangi bagian timur dan sebagian wilayah tengah negeri ini. Udara pagi yang masih cukup dingin berkat guyuran hujan semalam, bagi sebagian orang memberikan sesuatu yang positif untuk memulai hari-hari mereka, namun bagi sebagian besar lainnya, kondisi yang seperti ini merupakan alasan sempurna untuk menunda meninggalkan alam mimpi mereka.

“Ayaah, banguun.”

“Heeemmm.”

“Heeeh, ayaah ayo bangun ah,” ujar sang wanita sambil menggoyang-goyang badan sang suami.

“Heemmm, jam berapa Bun?” tanya sang suami, yang masih terpejam erat matanya.

“Udah mau jam 5 ini. Ayo bangun dulu, sembahyang dulu.”

“Iya Bun.”

Perlahan Budi membuka matanya yang masih terasa berat. Sudah hampir jam 5, memang lebih lambat ketimbang sebelum-sebelumnya. Biasanya dia bangun, atau lebih tepatnya dibangunkan oleh Ara sekitar jam 4 pagi, tapi mungkin karena Ara tahu semalam Budi lembur sampai cukup larut sehingga dia sengaja agak menunda untuk membangunkan suaminya itu, meskipun dia sudah bangun lebih dari setengah jam yang lalu.

Kesadaran Budi sudah mulai terkumpul sepenuhnya. Dia kini bisa melihat wajah cantik istrinya tersenyum memandanginya. Rupanya Ara sudah mandi, terlihat dari badannya yang hanya terbungkus oleh handuk, rambut lurus sebahunya yang masih agak basah, juga butiran-butiran air di sekitaran pundaknya. Mendapati pemandangan yang begitu indah di pagi hari, tentu saja membuat mata Budi langsung terbuka sepenuhnya, diiringi dengan senyuman kepada istrinya itu.

Sudah lebih dari 3 tahun Budi menikmati pemandangan indah ini setiap paginya. Sebuah senyuman yang menurutnya paling indah di dunia, yang selalu menjadi suntikan semangat yang paling ampuh untuknya. Tak pernah ada rasa bosan untuk menikmati senyuman itu, yang ada ingin terus dan terus menikmatinya. Hal ini lah yang membuat Budi paling malas kalau disuruh tugas ke luar kota, apalagi sampai berhari-hari, karena harus absen menikmati senyuman indah istrinya.

“Udahan yah senyum-senyumnya?” tanya Ara membuyarkan lamunan Budi, sambil memencet hidung suaminya itu.

“Aduuuh kok dipencet sih Bun. Bentar dong, lagi enak nih,” jawab Budi dengan suara sengau karena kedua lubang hidungnya tertutup.

“Habisnya malah bengong sih, ayo sembahyang dulu, entar aja bengongnya dilanjut lagi. Buruan gih Bunda mau ganti baju juga,” ujar Ara sambil melepaskan tangannya dari hidung Budi.

Tanpa menjawab Budi pun segera bangkit dari tidurnya, lalu menyempatkan mengecup kening istrinya sebelum beranjak ke kamar mandi. Sementara Budi di kamar mandi Ara pun mengenakan pakaiannya. Ara belum memakai pakaian kerjanya karena hari memang masih terlalu pagi, lagipula setelah ini dia masih harus memandikan anaknya, karena Ardi lebih suka dan nurut jika dimandikan oleh bundanya.

Waktu sudah hampir jam setengah 6 ketika mereka berdua selesai melaksanakan sembahyang. Setelah menjalankan kewajibannya itu Ara pun segera menuju kamar sang anak untuk membangunkan dan memandikannya, sedangkan Budi menuju dapur untuk mengambil secangkir kopi yang sudah disiapkan oleh pembantunya. Saat hendak menuju ke meja kerja untuk mempersiapkan apa-apa yang akan dibawanya nanti tiba-tiba dia dipanggil oleh Ara.

“Ayaaaah,” panggil Ara setengah berteriak dari kamar Ardi.

“Iyaa Bun, kenapa?” balas Budi.

“Sini deh yah,” panggil Ara lagi.

Penasaran, Budi pun segera menuju ke kamar Ardi. Terlihat disana Ara duduk di sisi ranjang Ardi sambil memegangi dahi sang anak. Ardi sendiri nampak mukanya agak pucat dan terlihat masih mengantuk.

“Kenapa Bun?” tanya Budi.

“Ardi sakit deh yah kayaknya, nih badannya anget,” jawab Ara sambil menarik tangan Budi dan meletakkannya di dahi putranya itu.

“Oh iya, agak anget ya,” ucap Budi.

“Apa Bunda nggak usah masuk aja ya yah? Biar jagain Ardi aja?” tanya Ara.

“Kita bawa ke tempat eyangnya dulu aja Bun, kan di sebelahnya rumah Dokter Asih, nanti kita periksain disana. Kalau kira-kira cuma demam biasa Bunda masuk aja nggak apa-apa,” jawab Budi.

“Ya udah deh kalau gitu. Ayah mandi dulu aja sekalian siap-siap, Bunda juga mau ganti baju dulu,” ucap Ara.

“Ya udah, sekalian panggil si mbak, suruh kesini dulu jagain Ardi, sama bilangin nggak usah bikin sarapan,” jawab Budi.

Mereka pun sama-sama meninggalkan kamar Ardi untuk mempersiapkan diri masing-masing. Setengah jam kemudian mereka sudah berangkat menuju ke rumah Dokter Asih yang kebetulan bersebalahan dengan rumah Wijaya. Sepanjang perjalanan Ara terlihat khawatir dengan anaknya ini sehingga terus memeluk Ardi, sementara Budi terlihat lebih tenang. Jalanan masih cukup sepi sehingga mereka dengan cepat sampai di rumah Dokter Asih. Sesampainya di rumah Dokter Asih ternyata disana ada Aini juga, yang kelihatannya baru saja selesai menjalankan rutinitas hariannya, jalan-jalan pagi bersama Dokter Asih.

“Loh Ara, kenapa Nduk?” tanya Aini ketika Ara turun dari mobil menggedong Ardi.

“Ini Bu, si Ardi demam, mau periksa ke Dokter Asih,” jawab Ara.

“Oh ya udah sini Mbak Ara bawa masuk, biar saya periksa dulu,” sahut Dokter Asih.

Ara yang menggendong Ardi kemudian bersama Aini masuk mengikuti Dokter Asih, disusul oleh Budi. Dengan cekatan Dokter Asih memeriksa kondisi Ardi. Ara yang semula cukup khawatir menjadi lebih tenang ketika dilihat senyum dari dokter yang sudah dikenal dan menjadi dokter pribadinya sejak kecil itu.

“Nggak apa-apa kok Ardinya, cuma demam aja, mungkin karena kehujanan kemarin. Ini saya kasih obat penurun demam aja,” jelas Dokter Asih.

“Syukur deh kalau nggak kenapa-napa, saya agak khawatir tadi Dok, soalnya kan lagi banyak yang kena demam berdarah,” ujar Ara lega.

Setelah diberi obat oleh sang dokter, Budi pun menggendong Ardi dan membawanya ke rumah Wijaya. Disana mereka disambut oleh Wijaya dan Sakti yang sedang bercengkrama di teras rumah. Wijaya sempat keheranan melihat cucunya, namun setelah dijelaskan oleh Budi dan Ara diapun terlihat lega.

Mereka menyempatkan diri dulu untuk sarapan bersama di rumah Wijaya, sebelum kemudian Budi, Ara dan Sakti berangkat ke tempat kerja masing-masing. Budi mengantarkan Ara dulu sampai ke depan gerbang kantornya lalu melanjutkan menuju ke kantornya sendiri. Masih cukup sepi namun dua orang satpam kantor seperti biasa sudah stand by disana. Budi pun segera masuk ke ruangannya, menyiapkan apa-apa saja yang akan dia kerjakan hari ini.

Agendanya hari ini memang cukup padat karena akan ada kunjungan dan audit dari kantor pusat. Namun karena sudah semalaman dikerjakan oleh Budi maka pagi ini dia bisa lebih santai, hanya tinggal memeriksa beberapa bagian saja untuk memastikan semuanya beres. Setelah menyimpan dan menutup pekerjaannya, terpampanglah di layar laptop foto dirinya bersama anak dan istrinya. Budi tersenyum memandangi foto itu, foto kedua orang yang menjadi semangat hidupnya untuk saat ini.

Kembali Budi teringat peristiwa beberapa tahun silam, yang akhirnya membawanya ke kehidupan yang dia jalani sekarang. Saat itu Budi yang belum genap setahun resmi bergabung dengan sebuah organisasi rahasia bentukan beberapa pensiunan tentara, mendapatkan misi yang cukup berat baginya. Bukan berat karena harus menghadapi lawan tangguh atau mempertaruhkan nyawanya, namun karena pilihannya untuk menerima misi itu akan membuatnya mengorbankan begitu banyak hal, termasuk kehidupan dan cintanya.

”Jadi gimana Bud? Kamu menerima misi ini kan?” tanya orang itu.

“Tapi kenapa harus saya Pak? Saya kan baru aja gabung,” tanyaku.

“Karena cuma kamu yang bisa menjalankan misi ini. Kamu tahu kan ketujuh anggota yang lain seperti apa? Jadi ya, cuma kamu yang cocok Bud,” jawab pria itu.

“Tapi apa harus kayak gitu Pak? Apa nggak bisa dilindungi dari jauh saja seperti yang sudah-sudah?” tanyaku berusaha untuk menawar.

“Ini beda dengan yang sudah-sudah Bud, kita harus masuk ke kehidupan mereka untuk bisa melindunginya. Kita masih belum tahu seperti apa lawan kita yang sebenarnya, jadi melindungi mereka dari jauh rasanya terlalu riskan,” jawabnya mencoba menjelaskan.

“Bisa saya minta waktu dulu untuk berpikir Pak? Seandainya pun saya menerima misi ini, banyak hal yang harus saya urusi terlebih dahulu,” ujarku, meminta sedikit tambahan waktu.

“Detail dan latar belakang adanya misi ini sudah saya beritahu ke kamu, jadi waktu seminggu cukup kan?” tanyanya.

“Iya Pak, cukup,” jawabku terpaksa, karena tahu jika meminta waktu lebih tak akan diberikan olehnya.

Seminggu. Waktu yang sebenarnya terlalu singkat. Bukan untuk memikirkan apakah aku akan menerima misi ini atau tidak, karena bagaimanapun aku pasti harus menerimanya. Namun yang membuatku bingung adalah bagaimana menjelaskan ini kepada seseorang, yang selama dua tahun ini sudah mengisi hatiku.

Misi ini bukan misi biasa. Kalau hanya ditugaskan untuk menjadi bodyguard, melindungi target dari jarak jauh, atau menjadi mata-mata dan mengumpulkan informasi sedetail apapun aku bisa dengan mudah memutuskan untuk menerimanya. Tapi untuk misi ini, benar-benar harus ada yang dikorbankan, dan itu adalah jalan cinta antara aku dan kekasihku yang sudah mulai kujalin ke arah yang lebih serius.

Misi ini memang tak jauh-jauh dari tugas melindungi sebuah keluarga. Namun aku diharuskan untuk bisa masuk ke dalam keluarga itu, menjadi bagian dari mereka, bukan hanya untuk sekedar melindungi, tapi juga harus menebar ratusan umpan untuk bisa mendapatkan informasi lebih banyak lagi, dari lawan yang menjadi target dari organisasiku, dan itu memang bisa didapat jika aku benar-benar menjadi bagian dari keluarga itu, bisa dibilang misi ini adalah misi seumur hidup.

Yang membuatku semakin pusing adalah alasan apa yang harus aku sampaikan ke kekasihku nanti ketika menemuinya. Tidak mungkin aku memberi tahunya tentang misi ini. Organisasi yang aku ikuti ini sifatnya sangat-sangat rahasia, begitu juga dengan para anggotanya. Hanya memiliki 8 orang anggota yang entah bagaimana kami diseleksi. Kami pun hanya beberapa kali bertemu sehingga tak terlalu mengenal satu sama lain.

Hanya satu orang dari ketujuh orang rekanku itu yang aku kenal cukup baik, yaitu Mas Jaka, yang tak lain adalah saudara jauh dari mertua Mbak Filli, kakak pertamaku. Mas Jaka ini adalah seorang tentara angkatan laut, yang juga tergabung sebagai anggota dari pasukan khusus mereka yaitu Detasemen Jala Mangakara, atau yang lebih dikenal dengan nama Denjaka. Nama yang hampir sama, karena itulah di ponselku kuberi nama dia Den Jaka.

Selebihnya aku tak terlalu mengenal anggota yang lainnya, namun aku tahu sedikit tentang bagaimana watak dan karakter kelima anggota yang lainnya. Ya, lima yang lainnya, karena yang satu orang lagi, benar-benar misterius. Kami tak pernah benar-benar tahu siapa orang itu, bahkan kadang-kadang aku tak yakin kalau orang itu ada. Dan untuk itu mau tak mau aku harus membenarkan alasan pimpinanku memilihku untuk menjalankan misi ini, karena aku yang paling memungkinkan dan tidak akan terlihat mencolok oleh pihak lawan, yang entah siapa aku juga belum tahu.

Huft, akhirnya aku memutuskan untuk mengambil cuti selama seminggu dari pekerjaanku. Aku harus segera menemui kekasihku yang saat ini sedang bekerja di kota kembang. Entah bagaimana aku menjelaskannya nanti, alasan apa yang harus kusampaikan, kupikirkan nanti saja selama perjalanan.

Tanpa memberinya kabar terlebih dahulu, akupun segera berangkat ke Bandung dengan kereta pagi. Perjalanan yang memakan waktu sekitar 8 jam ini tak bisa membuatku memejamkan mataku., memikirkan kata-kata apa yang harus aku ucapkan nanti.

Tak terasa hari sudah sore ketika aku sampai di Bandung. Aku melangkahkan kaki untuk kemudian mencari taksi yang akan mengantarkanku ke tempat kekasihku. Jam segini dia mungkin saja belum sampai di kostnya, tapi tak masalah, aku akan menunggunya di warung yang tak jauh dari kostnya, seperti yang biasa aku lakukan jika mengunjunginya.

Aku menunggunya di warung tersebut sekalian makan, karena selama di kereta tadi perutku tak kemasukan apapun. Hampir sejam aku menunggunya saat kemudian aku melihat sebuah motor yang sangat familiar memasuki kost-kostan tersebut. Aku pun segera membayar makananku dan bergegas menuju ke tempat itu.

“Neng,” sapaku.

“Loh, Mas Budi?” ucap kekasihku terkejut, tak percaya aku sudah berdiri di depannya.

“Hehe, iya Neng,” jawabku terkekeh.

“Aaaaaa Mas Budi kok nggak kasih kabar kalau mau kesini sih?” ujarnya, seraya berhambur memelukku dengan erat. “Kangen maas,” ucapnya manja.

“Mas juga kangen sama Neng,” ucapku membalas pelukannya.

“Masuk aja yuk Neng, nggak enak dilihat orang,” ajakku, dijawab dengan anggukan oleh kekasihku.

Kami pun masuk ke dalam kamar kostnya sambil tangannya tetap memelukku dengan erat. Sikapnya ini semakin membuatku bingung, apa yang harus aku lakukan? Bagaimana aku harus mengatakannya? Aku benar-benar tak tega jika harus meninggalkannya.

Sesampainya di kamar dia langsung memelukku lagi dan menghujani wajahku dengan kecupan-kecupannya. Aku menerimanya saja dan sesekali membalasnya. Pikiranku masih bercabang, antara ingin meluapkan rasa rindu, dan juga kebimbangan dengan apa yang akan aku katakan kepadanya nanti.

“Neng, udah dulu dong, Mas kan baru sampai, capek nih,” kataku sambil menghentikan ciumanku.

“Tapi kan Neng kangen, Mas,” ujarnya merajuk.

“Ya sama Neng, Mas juga kangen, tapi masih capek nih, masnya nggak disuruh istirahat atau dipijitin dulu gitu? Hehe,” jawabku.

“Ya udah deh, istirahat dulu. Mas berapa hari disini?” tanya kekasihku yang masih belum melepas pelukannya.

“Tergantung,” jawabku singkat.

“Tergantung gimana Mas?” tanyanya.

“Yaa, sampai urusan Mas kelar,” jawabku.

“Emang urusan apa sih Mas?” tanyanya lagi.

“Ada deh, entar ya, Mas pengen rebahan dulu, boleh?” tanyaku.

Dia pun mengangguk dan melepaskan pelukannya, mempersilahkan aku untuk berbaring di kasurnya, kasur yang selalu menjadi tempat tidur kami jika aku berkunjung kemari. Kost ini memang membebaskan penghuninya untuk membawa masuk lawan jenis, karena memang di kost ini campuran berisikan pria dan wanita, bahkan ada yang sudah berkeluarga juga. Rata-rata penghuni kost ini adalah karyawan kantoran, seperti kekasihku. Prinsip mereka disini asalkan tidak saling mengganggu, maka terserah para penghuninya.

Akupun merebahkan tubuhku dan sempat terlelap beberapa saat. Ketika bangun aku lihat kekasihku sudah mandi dan berganti pakaian, menunggui di sampingku sambil membelai rambutku. Dia langsung mengecup keningku saat tahu aku terbangun, dan dilanjutkan dengan ciuman mesra di bibirku. Kami berciuman beberapa saat sebelum akhirnya aku beranjak mandi karena badanku rasanya sudah lengket semua.

Malam itu kami hanya keluar sebentar ke sebuah rumah makan yang tak jauh dari kost kekasihku untuk makan malam, lalu kembali lagi, untuk kangen-kangenan. Kami menghabiskan malam penuh gelora hingga larut, bahkan keesokan harinya kekasihku bolos kerja dengan alasan kurang enak badan. Hari itu kami tak kemana-mana, bahkan untuk makan pun kami pesan delivery.

Cukup banyak yang kami bicarakan seharian itu karena memang sudah 2 bulan ini kami tak bertemu karena kesibukan masing-masing. Dia menceritakan tentang teman-temannya, tentang pekerjaannya, juga tentang boss di tempatnya bekerja yang sering sekali menggodanya dan mengajaknya untuk keluar sekedar makan malam. Aku hanya tersenyum saja menanggapinya karena sebenarnya dia sudah sering menceritakannya lewat telepon, tapi kini aku bisa melihat bagaimana ekspresi kekesalannya saat menceritakan bagaimana kelakuan bossnya itu.

Tak terasa hari sudah malam lagi, dan dia masih terus asyik bercerita. Memang begitulah kekasihku ini, kalau dengan orang lain dia cukup tertutup, tapi kalau denganku dia bisa seharian ngomong terus kalau tak kupotong.

“Jadi sebenarnya Mas kesini ada urusan apa sih? Apa cuma mau nemuin Neng aja atau ada yang lain?” tanyannya.

Hmm, akhirnya, aku harus mengatakan tujuanku sebenarnya datang kesini menemuinya, bahkan tanpa memberinya kabar terlebih dahulu.

“Urusan Mas sebenarnya memang sama Neng,” jawabku.

“Sama Neng? Urusan apa Mas?” tanyanya.

“Hmm, gini Neng, ini tentang hubungan kita,” jawabku.

Aku terdiam sejenak melihat ekspresinya. Keningnya berkerut menandakan kebingungannya, tatapan matanya seolah bertanya, maksudnya apa? Dan akupun melihat seperti ada kekhawatiran di matanya, sepertinya dia mulai menebak apa yang kira-kira akan aku katakan selanjutnya. Aku pun menarik nafas, menguatkan hatiku untuk mengatakannya, untuk, mungkin, melukai hatinya.

“Mas rasa, hubungan kita sampai disini aja Neng,” ujarku lirih.

Dia tak bereaksi, hanya saja tatapan matanya semakin tajam, dan matanya memerah, seperti ada yang menggenang disana. Bibirnya terkatup, ada sedikit getaran disana.

“Kenapa?” tanyanya tertahan, menahan emosi dan tangis yang sebentar lagi akan pecah, membuat hatiku benar-benar teriris.

Aku masih diam, tak mampu menjawabnya. Aku belum mampu menemukan kata-kata yang tepat untuk kujadikan sebagai alasanku, karena hubungan kami memang tidak ada masalah. Dia tak ada salah apapun kepadaku, dia tak pernah berselingkuh. Bagaimana aku tahu? Karena aku selalu mengawasinya dari jauh, bahkan setiap SMS dan telepon yang dia lakukan aku mengetahuinya dengan detail, sehingga bisa kusimpulkan bahwa dia setia kepadaku.

Justru aku yang memiliki banyak salah kepadanya, karena selama pacaran dengannya aku beberapa kali terlibat affair dengan wanita lain, meskipun itu hanya sebatas have fun tanpa embel-embel perasaan. Tapi tak mungkin alasan itu yang aku pakai.

“Mas udah nggak sayang lagi sama Neng?” tanyanya, dengan sedikit terisak.

“Bukan, bukan itu,” jawabku sambil menggeleng.

“Ada orang lain?” tanyanya lagi, dan isaknya semakin kentara dengan air mata yang mulai turun menyusuri pipinya, yang juga kujawab dengan gelengan kepalaku.

“Trus kenapa Mas? Neng salah apa sama Mas?” tanyanya, dan tangisnya pun tak terbendung lagi.

Aku membiarkannya tanpa berusaha memeluk dan menenangkannya. Bukan karena aku tega, jujur akupun begitu sakit melihatnya menangis seperti itu, tapi kalau sampai aku memeluk dan menenangkannya, aku takut akan semakin melukainya.

“Neng nggak ada salah apa-apa sama Mas, nggak ada sama sekali. Maafin Mas, tapi ada sesuatu hal yang Mas bener-bener nggak bisa cerita ke Neng,” ucapku setelah lama terdiam.

Dia masih menatapku dengan tajam. Air matanya terus mengalir tanpa sedikitpun dia seka. Tatapannya tajam ke arah mataku, entah apa yang dia cari disana.

“Sebenarnya sesuatu itu apa Mas? Dari dulu Mas nyimpen rahasia yang nggak pernah mau Mas bilang ke Neng. Sekarang Mas mau mutusin hubungan kita dengan alasan sesuatu itu lagi. Sebenarnya ada apa Mas?” tanyanya mendesakku.

“Mas bukannya nggak mau cerita Neng. Mas pengen banget bisa cerita ini sama Neng, tapi Mas nggak bisa. Kalau sampai Mas ceritain ini, Mas akan nyeret Neng dalam situasi yang Mas sendiri mungkin nggak bisa kendalikan,” jawabku pelan.

“Neng nggak ngerti. Jelasin sama Neng, pokoknya jelasin sejelas-jelasnya!” bentaknya.

“Maaf Neng, Mas bener-bener nggak bisa. Kalau Mas cerita, keselamatan Neng dalam bahaya,” jawabku sambil menatap tajam matanya.

Dia terlihat terkejut, karena memang aku tak pernah menatapnya setajam ini. Dia terus menatapku, akupun juga menatapnya mencoba memberikan keyakinan dengan apa yang aku ucapkan tadi. Dia tahu kalau aku sudah berbicara seperti itu, berarti aku serius dan apa yang aku sampaikan itu benar adanya, apalagi ditambah dengan caraku menatapnya ini.

“Apa Mas melakukan sesuatu yang buruk? Atau terlibat dengan sesuatu yang nggak bener?” tanyanya masih dalam tangisnya.

“Nggak Neng, apa yang Mas lakuin ini bukan hal yang seperti itu. Mas minta maaf karena nggak bisa cerita sama Neng, tapi percaya sama Mas kalau apa yang Mas lakuin ini demi kebaikan kita,” jawabku.

“Demi kebaikan kita? Mutusin hubungan demi kebaikan kita? Kebaikan yang mana Mas? Apa kebaikan untuk Mas sendiri? Apa Mas nggak tahu kalau selama pacaran sama Mas, Neng udah jadi orang yang lebih baik ketimbang yang dulu? Neng udah berusaha meninggalkan kehidupan neng yang dulu, semua itu demi apa? Demi Mas! Demi hubungan kita! Sekarang kebaikan apa lagi yang Mas maksud itu?” tanyanya panjang lebar penuh dengan luapan emosi, tak pernah sebelumnya aku melihatnya seemosional ini.

“Maaf Neng, tapi ini benar-benar buat kebaikan kita, kebaikan Mas dan juga kebaikan Neng,” jawabku.

Susah payah malam itu aku jelaskan kepadanya tanpa mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, karena memang benar-benar aku tak bisa mengatakannya. Tangisnya sempat mereda meskipun tak sampai berhenti. Entah berapa lama aku berusaha menjelaskan kepadanya yang akhirnya berakhir pada pengusiranku dari kamar kostnya.

“Aku tahu, kamu selalu mendapat apa yang kamu mau, dan kamu selalu punya alasan untuk itu semua. Sekarang terserah kamu mau seperti apa, tapi lebih baik kamu pergi dari sini, biar aku sendiri aja.”

Tak ada lagi panggilan sayang diantara kami yang dia ucapkan. Dipanggil ‘kamu’ olehnya terasa begitu asing bagiku. Sudah lama, dua tahun lebih aku selalu dipanggil ‘mas’ olehnya, tapi kini semua tak lagi sama. Aku pun maklum, tanpa membantah aku pun mengemasi barang-barangku yang memang tak seberapa ini.

Dia masih terus menangis meskipun tak seperti sebelumnya, hanya menyisakan isak-isak kecil saja. Terus terang situasi ini pun membuatku merasa sakit dan sedih. Setiap tetes air mata yang keluar darinya seperti jarum yang menghujam jantungku, sakit banget. Tapi aku masih memasang ekspresi datar-datar saja meskipun dalam hati juga menangis. Biarlah seperti ini, mungkin dengan melihat ini dia akan berpikir betapa kejamnya diriku dan dia akan membenciku nantinya.

Dengan dia membenciku mungkin akan lebih baik, sehingga dia bisa segera melupakanku dan mencari pengganti, yang lebih baik dariku. Maaf neng kalau harus seperti ini caranya, tapi ini demi kebaikan kita, demi kebaikanmu.

Selesai mengemasi barangku akupun menghampirnya, namun dia bergeming dan segera berdiri menuju ke pintu, lalu membukanya. Aku pun mengambil tasku lalu berjalan menuju pintu. Kuhentikan langkahku sejenak untuk menatapnya, tapi dia membuang mukanya, tak mau melihatku. Akupun merengkuh tubuhya, memaksa memeluknya.

“Maafin mas neng kalau caranya harus kayak gini. Neng boleh benci sama mas setelah ini, tapi mas akan selalu sayang sama neng. Mas berharap neng bisa mendapatkan orang yang jauh lebih baik daripada mas,” ucapku lirih, dengan isak tertahan hingga badanku bergetar.

Tak ada tanggapan darinya. Tubuhnya mematung, tak membalas pelukanku. Lalu aku daratkan bibirku di kepalanya, memberinya kecupan selamat tinggal. Agak lama aku menciumnya, ingin kusampaikan rasa sayangku yang begitu besar kepadanya. Air mataku tak mampu kutahan turun membasahi pipiku. Kulepaskan ciuman dan pelukanku, lalu kuseka air mataku. Dia sejenak melihatku saat menyeka air mataku.

“Selamat tinggal, Neng.”

Akupun melangkah keluar dari kamarnya. Hanya beberapa langkah saja kemudian kudengar pintu kamar ditutup dengan sangat keras olehnya. Aku menghentikan langkahku dan menoleh ke belakang, menatap pintu itu dengan perasaan campur aduk. Kesedihan yang begitu besar kurasakan. Kesedihan yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Akupun kembali menghapus air mataku, lalu melangkahkan kakiku meninggalkan tempat ini, meninggalkan kekasih yang sangat aku sayangi, meninggalkan cintaku begitu saja.

Coba ku dengarkan
Alunan cinta yang kau nyanyikan
Teringat kembali
Saat melepaskan kisahmu
Dari cerita yang kutuliskan

Baru kusadari
Tak akan lagi ingkari
Hanyalah dirimu
Yang mampu membuat hatiku
Mengerti akan arti sepi

Maafkan aku
Harus membuatmu terluka dan menangis
Ukir kecewa dalam hatimu

Maaf, maaf dan maaf. Hanya itu yang mungkin bisa kuucapkan kepada kekasihku. Dalam perjalananku kembali ke kotaku, hatiku kembali mempertanyakan keputusanku ini, apa sudah benar langkah yang kuambil? Apa sudah tepat keputusan yang kupilih? Beragam pertanyaan serupa memenuhi kepalaku. Tapi aku sudah terlanjur melangkahkan kakiku, tak mungkin lagi menariknya, tak bisa lagi membatalkannya. Huft, semoga semua ini bisa berjalan dengan baik. Dan sekali lagi, maafkan mas, neng.

“Ehem, ngelamun aja Pak Kacab?”

“Eh Mbak Gita, duh ngagetin aja deh senengnya,” ucap Budi terkaget saat melihat Gita sudah berdiri di dekatnya.

“Ya lagian, pagi-pagi gini kamu malah ngelamun gitu. Mikirin apa tho Bud?” tanya Gita.

“Hehe, ada deh, mau tahu aja,” jawab Budi terkekeh.

“Hadeeh dasar kamu tuh ya kacab nggak jelas. Gimana persiapan audit hari ini Bud?” tanya Gita.

“Udah beres kok, semalem udah tak lembur, kamu gimana Mbak?” tanya Budi.

“Punyaku juga udah beres, tinggal ngecek punya yang lain nih,” jawab Gita.

“Mereka nanti datengnya jam berapa sih Mbak?” tanya Budi lagi.

“Kalau informasinya kemarin sih mereka bakal datang sekitar jam 9, ya kita siapin aja deh dari sekarang biar nggak repot nantinya, gimana?”

“Ya udah, mending mulai dicek aja kerjaan anak-anak lainnya Mbak.”

Tak lama berbincang, Gita pun meninggalkan ruangan Budi untuk memulai pekerjaan mereka masing-masing. Budi kembali memandang foto di layar laptopnya. Senyum terkembang di bibirnya. Dia memang sempat merutuki keputusannya dulu. Perlu waktu yang tidak sebentar untuk menyembuhkan kesedihannya. Beberapa bulan setelah pertemuan terakhir dengan kekasihnya itu Budi yang penasaran sempat memeriksa nomor kekasihnya, namun sudah lama tak ada aktivitas baik SMS maupun telepon, setelah dipastikan ternyata nomor itu sudah tidak aktif lagi.

Sampai sekarang Budi tak pernah tahu lagi kabar mantan kekasihnya itu. Ada rasa penasaran sebenarnya, rasa ingin tahu bagaimana kabar sang mantan, namun dia lebih memilih untuk tak mencari tahunya, karena akan membuka luka lamanya lagi. Dia hanya berharap kini mantannya itu sudah hidup bahagia dengan orang lain, orang yang dicintainya.

Kini dia merasa bahwa pilihannya untuk menerima misi ini sudah tepat. Awalnya sempat ada semacam kekhawatiran dalam dirinya karena dia belum mengetahui seperti apa keluarga yang harus dia lindungi itu. Dia belum tahu seperti apa sosok wanita yang harus dia dekati dan selanjutnya dia lindungi. Apakah wanita itu akan lebih baik daripada mantan kekasihya atau justru lebih buruk lagi? Apakah nantinya dia akan menemukan kecocokan dengan wanita itu atau tidak? Semua itulah yang mendasari kekhawatirannya, sampai akhirnya dia melihat Ara secara langsung.

Begitu melihat sosok Ara, wanita yang harus dia dekati, dia benar-benar merasakan kekaguman pada gadis itu. Secara fisik, gadis itu sungguh menarik, parasnya yang ayu dan sikapnya yang lemah lembut, siapa pria yang tak akan tertarik padanya? Rasa kekaguman dan ketertarikannya kian bertambah setelah Budi mencari tahu tentang latar belakang Ara, siapa orang tuanya, keluarganya, bagaimana kehidupannya, sifat-sifatnya, teman-temannya, lingkungan sekitarnya, semuanya. Dan semakin mencari, semakin dia penasaran dengan gadis itu, hingga akhirnya memantapkan diri untuk menerima misi itu dan mulai mendekati Ara.

Pertemuan pertama mereka sesungguhnya bukanlah sebuah kebetulan, karena Budi yang memang bekerja di bank yang berdekatan dengan kampus Ara, sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Mencari-cari kesempatan yang tepat untuk bisa berkenalan dengan gadis itu, dan mulai mendekatinya. Berawal dari keterpaksaan menerima misi itu, akhirnya Budi benar-benar jatuh cinta kepada Ara.

Dan ternyata, kekhawatirannya dulu tak pernah terjadi hingga kini, dia bahkan merasa nyaman dengan wanita yang saat ini, selama lebih dari 3 tahun ini selalu menemani dan mengisi hari-harinya, bahkan hingga dikaruniai anak yang begitu pintar dan lucu seperti Ardi. Ara benar-benar telah mampu mengisi kekosongan hatinya, dan menjadi pengganti yang sempurna untuk mantan kekasihnya itu. Misi seumur hidup yang awalnya dia jalani dengan keterpaksaan dan kesedihan, kini dia jalani dengan rasa cinta dan kebahagiaan.

Maafin Mas ya Neng kalau harus berakhir seperti ini. Sekarang Mas udah bahagia, dan Mas harap Neng juga bahagia dimanapun Neng berada dan dengan siapapun Neng sekarang. Rasa sayang itu masih akan terus ada, kenangan itu akan terus ada, tapi mas udah memilih jalan Mas sendiri, semoga Neng juga gitu, dan bahagia dengan jalan yang neng pilih itu,’ batin Budi.

*****

“Yaa ampuuun lucunyaa.”

“Astaga, Indaaah. Ih kamu ini ngagetin aja sih Ndah,” teriak Ara karena terkejut tiba-tiba saja Indah berteriak di samping telinganya ketika dia sedang memandangi foto anaknya.

Sebenarnya teriakan Indah tidak terlalu keras, tapi karena Ara yang sedari tadi melamun membuat suara Indah itu benar-benar membuatnya terkejut. Ara hari ini memang tak terlalu fokus bekerja karena anaknya sedang sakit. Meskipun tadi sudah diperiksa dan diberi obat, diberitahu bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan, dan sekarang juga sudah bersama dengan eyang dan tantenya, namun tetap saja perasaannya sebagai seorang ibu masih begitu mencemaskan sang anak.

Beberapa kali dia menghubungi ibunya untuk menanyakan bagaimana kabar Ardi, dan sedari tadi hanya mendapat kabar kalau Ardi saat ini sedang tertidur setelah tadi sempat sarapan lalu meminum obatnya. Berkali-kali pula Aini menenangkan Ara, memintanya untuk tak terlalu khawatir, bahkan Mila juga sempat mengirimkan foto Ardi yang sedang pulas tertidur, dan dari wajahnya nampak tak sepucat tadi pagi.

Indah yang memang mejanya bersebelahan dengan Ara menjadi penasaran dengan seniornya itu. Tidak biasanya Ara terlihat melamun dan murung seperti itu, Ara biasanya adalah sosok yang ceria dan murah senyum, namun hari ini nampak berbeda. Karena itulah Indah mendekatinya mencoba mencari tahu apa yang terjadi padanya.

“Yaa habisnya Mbak Ara ngelamun terus dari tadi sih, hehe. Emang ada apa sih Mbak kok ngelamun gitu?” tanya Indah.

“Ini Ndah, Ardi lagi sakit, tadi pagi sebelum berangkat ke kantor aku bawa dia ke dokter, kata dokter sih nggak apa-apa cuma demam biasa aja. Ini sebenarnya juga udah sama eyangnya, tapi aku masih aja kepikiran e,” jawab Ara.

“Oalah, lha Mbak Ara kok nggak ijin aja Mbak? Lagian Mbak masuk juga kerjanya nggak konsen gitu kan? Dari tadi Indah lihat mbak banyakan ngelamunnya lho,” ujar Indah.

“Tadinya sih mau nggak masuk Ndah, mau ijin aja. Tapi setelah Ardi diperiksa dan ternyata nggak kenapa-napa, Mbak disuruh masuk aja sama Mas Budi tadi. Lagian sekarang Ardinya juga udah baikan kok, nih tadi dikirimin foto sama Mbak Mila,” jawab Ara sambil menunjukkan foto di ponselnya kepada Indah.

“Mbak Mila siapa Mbak?” tanya Indah, sambil tersenyum melihat foto lucu Ardi yang sedang tertidur.

“Oh kamu belum tahu ya? Mbak Mila itu kakak iparnya Mbak, nih orangnya,” jawab Ara, lalu gantian menunjukkan foto Mila kepada Indah.

“Wah cantiknyaa. Mbak ini sekeluarga ceweknya cantik-cantik ya, hehe,” ucap Indah.

“Bisa aja kamu Ndah, kamu juga nggak kalah cantik gitu kok. Eh udah yuk lanjut kerja lagi, entar ditegur sama Pak Hamid lho,” ujar Ara.

“Ehem, wah kakak adik asyik banget ini kayaknya? Lagi ngerumpiin apa?” belum sempat Indah kembali ke mejanya ternyata Pak Hamid sudah berada disana menegur mereka, membuat kedua wanita ini hanya nyengir kuda saja.

Ara dan Indah ini memang menjadi primadona di kantor ini. Keduanya sama-sama cantik, dan memiliki sifat yang hampir sama. Karena itulah mereka sering dianggap kakak beradik oleh rekan-rekan kerja mereka. Hanya saja Ara yang memang lebih tua usianya terlihat lebih dewasa dan matang, sedangkan Indah masih terlihat sifat manjanya. Meski begitu tetap saja keduanya menjadi pemandangan yang menyegarkan di tengah-tengah kejenuhan teman-temannya dalam bekerja.

“Eh nggak Pak, ini katanya anaknya Mbak Ara lagi sakit, makanya tadi Indah tanya-tanyain bentar,” jawab Indah dengan gaya polosnya.

“Loh Ardi sakit Ra?” tanya Pak Hamid kepada Ara.

“Iya Pak tadi pagi sempat demam, tapi ini udah baikan kok,” jawab Ara.

“Apa kamu mau pulang duluan aja Ra kalau emang Ardinya lagi sakit? Entar kamu lanjutin kerjanya malah nggak konsen lagi,” Pak Hamid memberikan tawaran.

“Nggak Pak nggak apa-apa kok, dia udah ada yang jaga, eyangnya sama tantenya, jadi biar saya lanjutin kerjaan saya aja Pak,” tolak Ara.

“Beneran nih? Yakin bisa konsen?” tanya Pak Hamid memastikan.

“Iya Pak bener deh,” jawab Ara mantap.

“Oh ya udah kalau gitu, tapi kerjanya yang fokus ya. Nanti kalau kamu mau ijin pulang duluan, saya ada di ruangan,” kata Pak Hamid.

“Iya Pak, terima kasih,” jawab Ara sopan.

Pak Hamid pun sempat melihat-lihat anak buahnya yang lain sebentar, sebelum kemudian beranjak meninggalkan mereka menuju ruangannya.

“Ih Mbak Ara gimana sih? Kan udah Indah bantuin biar bisa pulang cepet,” ujar Indah sepeninggal Pak Hamid.

“Hehe nggak deh Ndah, lagian ini kerjaan Mbak juga masih lumayan banyak. Entar aja kalau bisa cepet beres, mbak ngadep Pak Hamid kalau mau pulang duluan,” jawab Ara.

“Ya udah deh kalau gitu. Eh tapi kapan-kapan aku boleh ya main ke tempat Mbak Ara, pengen kenalan sama Ardi nih, di foto kok lucu banget anaknya,” ujar Indah.

“Ya boleh lah, main aja. Kalau weekend kami biasanya di rumah kok. Ya kadang-kadang keluar jalan-jalan atau belanja sih. Kamu kalau mau ke rumah Mbak kabarin dulu aja ya,” ucap Ara.

“Iya deh nanti Indah kabarin Mbak. Emang rumah Mbak di daerah mana sih?” tanya Indah.

“Di perumahan elit ring road utara Ndah, kamu tahu nggak?” tanya Ara.

“Oh disitu? Tahu Mbak, Indah tahu,” jawab Indah.

“Ya udah, kalau mau main kabarin aja, nanti mbak kasih alamat lengkapnya, sama Mbak share lokasinya lewat WhatsApp biar nggak nyasar, hehe,” ucap Ara.

“Oke Mbak.”

Ara memang bersyukur memiliki atasan yang begitu baik kepada semua bawahannya. Sikap dan sifatnya menjadikan para anak buahnya tak hanya menganggap dia sebagai atasan, tapi juga sebagai ayah mereka. Seperti sikap yang baru saja ditunjukkan tadi, memberi Ara kelonggaran untuk bisa pulang karena anaknya sakit. Tapi Ara malah tak enak hati dengan toleransi yang diberikan atasannya itu, karena itulah dia lebih memilih untuk melanjutkan pekerjaannya saja, lagipula anaknya sekarang sudah lebih baik kondisinya.

Indah pun kemudian kembali ke mejanya untuk melanjutkan pekerjaannya. Begitu pun dengan Ara. Dia mencoba untuk mengumpulkan fokusnya lagi untuk menyelesaikan pekerjaannya yang cukup banyak hari ini. Tanpa mereka berdua sadari, ada seseorang yang sedari tadi mengamati mereka, memperhatikan kedua wanita paling cantik di kantornya ini. Yang satu seorang ibu muda, yang satu lagi seorang gadis muda yang terlihat masih polos. Memperhatikan kedua wanita cantik itu membuat pemilik sepasang mata itu tersenyum penuh misteri, entah apa yang ada di dalam benaknya.

*****

Pagi itu di sebuah apartemen, terlihat 3 orang sedang berbincang santai. Meskipun begitu ketiganya nampak sudah sangat rapi, siap untuk menjalani aktivitas pekerjaannya. Seorang diantara mereka berperawakan sedang dan dua orang lagi dengan tubuh tinggi besar dan berwajah kaukasia dengan rambut cokelatnya. Meskipun ketiganya nampak akrab namun masih terlihat kedua orang berwajah bule ini cukup menghormati seorang lainnya.

“Dave, Steve, gimana kalian udah bisa bahasa Indonesia kan?”

“Udah boss, asal jangan pakai kata-kata yang aneh-aneh aja,” jawab David, sang kakak.

“Kata-kata yang aneh gimana?” tanya sang boss bingung.

“Ya itu, yang biasa dipakai sama anak muda, bahasa gaul katanya,” jawab David.

“Haha, gaul alias alay. Udah tenang aja, gua nggak se-alay itu juga kok,” ujar sang boss.

“Iya boss, bahasa yang katanya alay itu susah, buat kami jadi bingung,” sahut Steve, sang adik, ditimpali dengan tawa oleh kedua orang lainnya.

“Ya sudahlah, yang penting kalian sudah lancar ngomong pakai bahasa Indonesia. Repot kalau kalian nggak bisa, apa-apa harus aku sendiri yang ngurusin nanti. Kalian tahu sendiri lah nggak semua orang disini bisa bahasa Inggris,” papar sang boss.

“Jadi, mau ada tugas baru lagi boss buat kita?” tanya Steve.

“Nggak Steve, belum. Tapi aku minta kalian siap-siap, minggu depan kita ke Jogja,” ujar sang boss.

“Hmm, jadi udah mau dimulai nih boss?” tanya Steve lagi.

“Yah begitulah. Gua sebenernya nggak begitu tertarik sama hal ini, tapi ini kan perintah dari ayah, jadi ya harus segera kita lakuin,” jawab sang boss.

“Mau langsung frontal atau gimana boss?” tanya David.

“Nggak lah, tetep seperti rencana awal, main cantik,” jawab sang boss.

“Memangnya, orangnya udah ditemui?” tanya Steve.

“Belum sih, tapi gua udah hubungin dia kemarin. Awalnya dia kaget dan nggak percaya, tapi setelah gua kasih tahu rencana itu, dia malah semangat. Dia minta waktu beberapa hari buat ngumpulin orang-orangnya, makanya minggu depan baru kita kesana,” terang sang boss.

“Hmm, well okelah kalau begitu,” ujar David dan Steve hampir bersamaan.

“Oh iya, gimana perangkat-perangkat yang kalian mau? Udah dapet semua?” tanya sang boss.

“Udah boss, sesuai dengan yang kami minta, udah datang semua, udah diinstall juga, it’s all doneeverything is set and ready to go,” jawab Steve, terlihat senang.

Great, welldone. Yang penting lakuin sesuai rencana aja, jangan melenceng, dan nggak usah berimprovisasi. Kita belum tahu seperti apa lawan kita, jadi jangan main-main dengan ini semua,” papar sang boss.

As your wish boss,” jawab Steve.

Sang boss nampak puas dengan kinerja kedua anak buahnya itu. Semua masih berjalan sesuai dengan apa yang sudah dia rencanakan. Setiap detail tahapan rencananya benar-benar dia pastikan sendiri. Dan dia cukup senang karena memiliki anak buah yang juga memiliki sifat perfeksionis seperti dirinya.

Good. Ya udah, kita berangkat ke kantor sekarang. Oh iya, nanti jam 4 sore kalian ke bandara ya, jemput seseorang,” perintah sang boss.

“Siapa boss?” tanya Steve.

“Dokter Lee.”

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂