web hit counter

Mengalahkan Gadis Bagian 2 Part 4

0
569

Mengalahkan Gadis Bagian 2 Part 4

Let’s Start Again

Seorang wanita nampak tengah sibuk merapikan baju-bajunya yang dia masukkan ke dalam koper. Di sampingnya sudah ada sebuah koper yang berukuran lebih besar dan sudah rapi. Koper besar itupun juga berisi pakaian-pakaian wanita tersebut. Setelah selesai dengan koper keduanya wanita itu memeriksa kembali tas yang akan dia bawa. Semua sudah siap, hanya tinggal menunggu lelaki di sampingnya yang nampak sedang mengepak sebuah kardus seukuran kardus mie instan.

“Teteh beneran udah yakin mau ke Jogja?”

“Iya Pras, Teteh udah yakin.”

“Trus Teh Lusi nanti disananya gimana? Tinggalnya, kendaraannya?” tanya Prasta.

“Udah kamu tenang aja, Teteh udah siapin semuanya. Dari kemarin-kemarin juga udah dibantuin nyari kontrakan sama Tata kok. Kalau masalah kendaraan gampang, banyak rental mobil disana,” jawab Lusi.

Prasta yang sudah selesai mengepak barang-barang di kardus kemudian memandangi kakak iparnya itu. Dia sebenarnya agak keberatan dengan keputusan Lusi untuk hijrah sementara ke kota pelajar itu, apalagi sendirian seperti ini. Kedua anak Lusi memang sudah dititipkan kepadanya dan istrinya, namun dengan Lusi yang harus sendirian pergi seperti itu tentu saja membuat Prasta sedikit khawatir. Memang sudah ada Tata disana, namun karena sama-sama perempuan, lagipula Tata juga memiliki kegiatan sendiri, pastinya hal itu akan membuat Lusi sendirian di kota itu.

“Harus banget ya Teteh kesana? Apa nggak cukup Tata aja yang disana?” tanya Prasta mencoba meyakinkan lagi.

“Iya Pras. Si Tata kan juga ada urusannya sendiri disana. Emang sih dia selalu ngasih kita info, tapi kan ruang gerak dia juga terbatas karena kegiatan dia juga banyak. Kalau Teteh disana kan bisa lebih leluasa nyari info Pras,” jawab Lusi.

“Nah itu dia Teh, kan Tata juga punya kegiatannya sendiri, jadi kan teteh bakalan sendirian disana nanti, apalagi Teteh udah lama banget nggak kesana, pasti asing kan dengan kondisinya sekarang,” papar Prasta.

“Udah kamu nggak usah khawatir, Teteh udah perhitungkan semuanya kok, jadi kamu tenang saja,” jawab Lusi yang menangkap kekhawatiran dari Prasta.

“Ya udah deh kalau Teteh emang udah yakin. Maaf ya Teh, Pras belum bisa bantuin lebih dari ini, kerjaan Pras lagi banyak nggak bisa ditinggal,” ujar Prasta.

“Nggak apa-apa Pras, kamu kan udah bantuin Teteh jagain anak-anak,” jawab Lusi.

“Iya Teh. Nanti kalau kerjaan Pras udah agak longgar Pras sempetin main kesana deh sama Lisa dan anak-anak.”

Merasa semua bawaannya sudah siap, Lusi dibantu Prasta segera memasukkan barang-barang itu ke dalam mobil. Sedangkan istri Prasta, yang juga adik kandung dari Lusi menemani Miko dan Desi. Kedua anak Lusi itu akan tinggal bersama Prasta dan istrinya selama Lusi di Jogja. Lusi sendiri pun belum bisa menjawab ketika ditanya akan berapa lama dia di Jogja, namun dia menjanjikan pada anaknya paling tidak minimal sebulan sekali dia akan pulang menunjungi mereka. Lusi tak terlalu khawatir karena kedua anaknya sudah sangat dekat dengan om dan tantenya itu.

Prasta dan istrinya yang sebenarnya agak keberatan dengan keputusan Lusi pada akhirnya tidak menolak untuk dititipi anak-anak Lusi, karena dengan begitu Lisa akan ada temannya di rumah. Selama ini Lisa memang hanya berdua saja dengan pembantunya ketika Prasta pergi bekerja. Pembantu mereka pun tak selalu bisa bersama Lisa karena dia pastinya banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Sementara itu Prasta dan Lisa tinggal di sebuah perumahan elite dimana para penghuninya termasuk tipe-tipe orang yang individualis dan kurang mengenal tetangga satu sama lain. Hal itu membuat Lisa tak memiliki teman untuk sekedar diajak bergosip ria.

Prasta dan Lisa, setelah sekian tahun menikah memang belum dikaruniai anak sampai sekarang. Keduanya sudah pernah memeriksakan diri ke dokter namun tidak ada masalah sama sekali dengan Prasta maupun Lisa, mungkin memang belum rejekinya saja. Terbesit dalam pikiran Prasta dan Lisa, siapa tahu dengan adanya Miko dan Desi bisa menjadi pancingan bagi mereka untuk segera memiliki momongan sendiri. Menjadi beban tersendiri bagi mereka setiap ada yang menanyakan kapan akan punya momongan, termasuk dari orang tua keduanya.

Selain menitipkan anak-anaknya pada Prasta dan Lisa, Lusi juga menitipkan cafenya untuk dikelola mereka berdua. Para karyawan café pun sudah diberi tahu, dan tak ada masalah bagi mereka karena mereka pun sudah mengenal Prasta dan Lisa yang memang sudah sering datang ke café tersebut dan sudah cukup dekat dengan para karyawan.

Sedangkan untuk rumah Lusi sendiri akan ditempati oleh salah seorang saudara mereka yang kebetulan sedang kuliah di Bandung. Sebelumnya saudaranya itu kost di daerah dekat kampusnya, namun atas permintaan Lusi akhirnya dia mau untuk menempati rumah itu. Ya siapa yang menolak diberi fasilitas rumah lengkap beserta isinya, serta pembantu yang melayaninya. Bahkan mobil Lusi pun juga dititipkan ke saudaranya itu.

Setelah semua barang tertata di bagasi mobil, Lusi kemudian menghampiri anak-anaknya yang sedang bersama tante mereka. Terlihat anak-anaknya begitu senang bermain dengan sang tante, begitu pula sebaliknya.

“Miko, Desi, jadi ikut anterin Mama ke stasiun nggak?” tanya Lusi.

“Jadi Mama,” jawab keduanya bersamaan.

“Yuk kalau gitu. Ajakin atuh Tante Lisanya,” ujar Lusi.

“Ayo Tante kita antar mama,” Desi pun menarik-narik tangan tantenya.

“Iya iya ayo kita antar mamanya Desi,” jawab Lisa sambil langsung merengkuh dan menggendong Desi.

Mereka pun segera menuju ke mobil dimana Prasta sudah menunggu di balik kemudi. Setelah semua masuk mobil pun segera menuju ke stasiun kota. Jarak antara rumah Lusi dan stasiun tak terlalu jauh, hanya sekitar 5 km. Jam menunjukkan pukul 07.30 waktu mereka sampai di stasiun. Masih ada 1 jam lagi sebelum kereta yang akan ditumpangi Lusi berangkat.

Mereka masih sempat menunggu sesaat di sebuah coffee shop yang ada di stasiun. Mengobrol ringan sambil Lusi memberi pesan kepada anak-anaknya supaya tidak nakal dan merepotkan om dan tantenya. Kedua anak itupun manggut-manggut menurut apa kata Lusi. Awalnya sangat sulit untuk memberi pengertian kepada kedua anaknya itu, bahkan mereka berdua ingin ikut kemana mamanya pergi, namun setelah diberi tahu bahwa selama Lusi pergi mereka akan tinggal bersama dengan Prasta dan Lisa, keduanya pun menurut saja.

“Miko sama Desi, nanti kalau udah tinggal sama Om Prasta dan Tante Lisa nggak boleh nakal lho ya. Nggak boleh bikin Om sama Tante marah lho. Miko sama Desi harus nurut apa yang dibilang sama Om dan Tante ya?”

“Iya Mama, Miko entar nggak nakal kok, kan Om sama Tante baik ke Miko.”

“Iya Ma, sama Desi juga baik kok.”

Jawaban kedua anak itu tentu saja membuat senyum dari Lusi, Lisa dan Prasta. Mereka berdua memang anak yang penurut. Meskipun masih begitu belia namun bisa dilihat bahwa keduanya saling menyayangi. Terlebih lagi Miko sang kakak yang semenjak ditinggal oleh papanya dia terlihat selalu berusaha untuk melindungi Desi adiknya.

Setelah lebih dari setengah jam berada disitu dan kemudian mendengar informasi bahwa keretanya akan segera berangkat, Lusi pun akhirnya berpamitan. Diiringi peluk hangat, kecupan dan lambaian tangan dari kedua anak, adik dan adik iparnya ini Lusi masuk ke peron untuk menuju ke kereta yang dia tumpangi.

Kini Lusi sudah berada di dalam kereta yang akan membawanya ke Jogja. Perlu waktu yang tidak sebentar untuknya meyakinkan diri membuat keputusan ini. Keputusan yang tentunya sangat berat karena dia harus berpisah dengan kedua darah dagingnya untuk entah berapa lama. Namun rasa dendam yang ada di dalam dirinya selama beberapa tahun ini tak bisa hilang begitu saja.

Dia sadar bahwa dirinya hanyalah seorang wanita biasa yang tak pernah berurusan dengan hal-hal semacam ini, namun setelah kemudian bertemu dengan Tata kembali dia mulai meyakinkan dirinya untuk bisa membalaskan dendamnya itu, atau setidaknya menemukan jawaban dari berbagai pertanyaan yang terus menghantuinya selama ini.

Setahun belakangan ini dia sudah mulai menyusun apa-apa saja yang nanti akan dia lakukan di Jogja. Dia sudah mencari banyak informasi yang berhubungan dengan rencananya itu, termasuk bantuan dari Tata yang sudah kembali ke kota itu. Meskipun sudah mendapatkan begitu banyak bantuan dari Tata, namun dirinya merasa belum puas jika belum mencari tahu sendiri. Bukan karena tak mempercayai Tata, tapi dia tahu Tata pun sudah punya rencana sendiri, dan pastinya akan semakin repot jika harus membantunya terus menerus.

Kereta yang ditumpangi Lusi perlahan bergerak meninggalkan kota yang selama beberapa tahun ini dia tinggali. Sudah lama sekali dia tidak melakukan perjalanan jarak jauh seperti ini seorang diri. Namun kini dia sudah memantapkan hati. Tak ada lagi kata berhenti dan berjalan mundur dari semua ini. Perjalanan 8 jam ini akan membawanya kepada hal baru yang belum pernah dia lakukan sebelumnya.

Membalas dendam memang tidak akan mengembalikan apa yang telah hilang dari dirinya. Tapi paling tidak, dia ingin merenggut sesuatu dari orang-orang yang telah merenggut kebahagiannya, separuh hidupnya, belahan jiwanya.

*****

 


Safitri


Elsa

Apel rutin yang biasanya dilakukan setiap pagi ini baru saja bubar. Setelah berbasa-basi sejenak dengan rekan-rekan kerjanya Fitri kemudian melangkahkan kaki masuk ke kantor dan menuju ke meja kerjanya. Sesaat terduduk disana pandangan Fitri mengarah ke sebuah meja yang tak jauh dari mejanya. Meja itu kini diduduki oleh seorang polisi yang baru beberapa bulan ini pindah ke kesatuannya. Namun bukan orang itu yang membuat Fitri tak henti memandang ke arah sana, tapi orang yang dulu pernah menempatinyalah yang menjadi alasannya.

Meja itu dulunya adalah meja yang ditempati oleh Fadli, rekan kerja yang cukup akrab dengannya. Dulu mereka sering ditugaskan bersama-sama sehingga menjadi dekat. Bukan hanya dekat sebatas pekerjaan, namun Fitri juga cukup akrab dengan anak dan istri Fadli karena Fadli ini juga adalah sahabat dari mendiang suami pertama Fitri. Dan sejak kematian suaminya, hubungannya dengan keluarga Fadli semakin dekat. Bisa dibilang dengan keluarga Fadli lah yang paling dekat dengannya dibandingkan dengan rekan-rekannya yang lain.

Fadli juga adalah orang yang pernah bersamanya mencari keberadaan anggota keluarga Wijaya yang ternyata diculik oleh kelompok Ramon. Bahkan Fadli adalah orang yang ditugaskan untuk memimpin pasukan yang secara khusus ditugaskan untuk membebaskan Wijaya dan keluarganya. Kasus yang semula dikira hanya penculikan biasa itu ternyata merupakan kasus besar yang banyak sekali melibatkan penjahat-penjahat berbahaya yang selama ini sudah menjadi target operasi mereka.

Saat itu sebenarnya Fitri agak heran dengan keputusan AKBP Arjuna yang saat itu berpangkat Kompol. Seharusnya banyak yang lebih layak dan lebih tinggi pangkatnya untuk memimpin pasukan dalam misi sepenting itu, namun justru Fadli lah yang dipilih. Entah karena faktor kedekatan Fadli dengan Wijaya atau karena sebab lain, baik Fitri maupun Fadli sendiri belum tahu sebabnya hingga kini.

Dan ternyata pasukan yang dipimpin oleh Fadli pulang dengan membawa kabar gembira. Mereka sukses membebaskan para sandera tanpa ada satupun yang mengalami luka serius, dan bisa menumpas para penjahat hingga tinggal menyisakan kedua pucuk pimpinannya saja. Kedua pucuk pimpinan penjahat yang berhasil ditangkap itu harus dirawat terlebih dahulu di rumah sakit karena mengalami luka tembak di kakinya.

Sayangnya, salah satu dari mereka terbunuh secara misterius di rumah sakit yang kamarnya dijaga ketat selama 24 jam. Entah bagaimana pembunuhan itu bisa terjadi sampai sekarang sama sekali belum terungkap. Sedangkan seorang lainnya yang tak lain adalah oknum perwira kepolisian kini sudah divonis dengan hukuman seumur hidup dan kini dimasukkan ke penjara dengan pengamanan maksimal.

Atas keberhasilan misinya itu tentu saja membawa keberuntungan bagi Fadli. Dia yang saat itu berpangkat Ipda mendapatkan kenaikan. Fitri sendiri yang juga dianggap berjasa dalam pengungkapan kasus itu, saat ini berpangkat Bripka. Namun sayangnya dengan kenaikan pangkat yang diperolehnya kini Fadli harus dipindah tugaskan jauh sekali di salah satu daerah di pulau paling timur negeri ini.

Namun sebelum kepergiannya, Fadli pernah sekali bertemu dengan Fitri dan menceritakan banyak hal kepadanya yang membuat Fitri terkejut tak percaya. Fadli meminta kepadanya untuk bisa merahasiakan ini semua. Dari apa yang diceritakan oleh Fadli itu ada beberapa hal yang masih samar-samar sehingga Fadli memintanya untuk sedikit demi sedikit mencari informasi. Tak lupa Fadli berpesan kepadanya untuk sangat berhati-hati dan tak mempercayai siapapun terkait rahasia ini.

Setelah dipindahkan, Fadli dan keluarganya sempat beberapa kali melakukan kontak dan bertukar kabar dengan Fitri, namun setelahnya tak ada kontak sama sekali. Nomor Fadli tak lagi bisa dihubungi, bahkan nomor istrinya juga. Fitri ingin mencari tahu, tapi mengingat apa saja yang disampaikan oleh Fadli membuat dia mengurungkan niatnya itu, dan berharap tak sampai terjadi sesuatu yang buruk pada Fadli dan keluarganya.

“Pagi Mbak Fit,” sapa seseorang mengagetkan lamunan Fitri.

“Eh kamu Sa, ngagetin aja. Dari mana?” tanya Fitri.

“Dari kantin Mbak, sarapan dulu. Pagi-pagi kok udah bengong aja? Ngelamunin apa sih Mbak?” tanya Elsa.

“Oh nggak Sa, siapa juga yang ngelamun,” jawab Fitri berusaha mengelak.

Elsa yang sebelum menyapa Fitri sempat memperhatikanya memandangi sebuah meja yang tak jauh dari sana, tak percaya begitu saja. Dia pun memandang ke meja itu, dan diikuti oleh Fitri.

“Ada yang dikangenin ya Mbak?” tanya Elsa lirih.

“Kangen apaan Sa?” Fitri masih mencoba mengelak.

“Aku tadi sempat lihat Mbak Fitri ngelihatin kesana terus, pasti lagi kangen sama Mas Fadli ya?” tanya Elsa sambal menunjuk meja yang mereka bicarakan. Elsa memang sudah tahu sedikit tentang Fadli dari cerita Fitri.

“Hhhhh, iya Sa. Udah hampir 3 tahun ini lho nggak ada kabarnya,” jawab Fitri lirih.

“Udah coba dihubungi lagi Mbak?” tanya Elsa.

“Aku kan udah pernah cerita ke kamu, nomornya udah nggak aktif lagi, nomor istrinya juga gitu,” jawab Fitri.

“Masih juga nggak mau nyari informasi dari teman-teman kita disana?” tanya Elsa.

“Nggak Sa. Kamu tahu sendiri kan, alasanku kenapa nggak nyari tahu tentang mereka lagi,” ujar Fitri sambal menatap Elsa, yang dijawab dengan anggukan oleh juniornya itu.

Fadli memang pernah berpesan kepada Fitri agar tak menceritakan rahasia itu ke siapapun, namun entah mengapa Fitri memiliki naluri bahwa Elsa ini bisa dia percaya, sehingga dia berbagi sedikit kepadanya. Tapi tentu saja yang diceritakan Fitri hanyalah sebagian kecil, hanya kulit luarnya saja. Dan terbukti sampai sekarang, Elsa yang terlihat cukup polos ini bisa menjaga rahasia itu dengan baik.

“Eh Mbak, seminggu ini kita bebas ya, hehe?” tanya Elsa setengah berbisik di telinga Fitri.

“Bebas gimana maksudmu?” tanya Fitri yang juga berbisik, kebingungan.

“Pak Arjuna kan lagi cuti pulang kampung dia, jadi nggak ada yang ngeresein kita seminggu ini,” jawab Elsa lirih.

“Haha, itu toh maksud kamu. Iya sih bebas, tapi apa kamu nggak kangen entar?” tanya Fitri menggoda Elsa.

“Ihh enggak ya, lha wong suamiku lagi di Jogja kok, dia kan ambil cuti juga seminggu ini, hihi,” jawab Elsa sambil berlalu menuju mejanya, membuat Fitri tersenyum menggeleng melihat juniornya itu.

Selama ini Elsa dan suaminya memang tinggal berjauh-jauhan karena pekerjaan yang harus dijalani oleh masing-masing. Pertemuan mereka pun belum tentu sebulan sekali, meskipun sang suami selalu mengusahakan untuk bisa bertemu. Umur pernikahan mereka yang belum masuk hitungan tahun itu membuat keduanya cukup tersiksa. Elsa pernah bercerita kepada Fitri kalau dia dan suaminya sempat berdiskusi agar salah satu mengalah dan keluar dari pekerjaannya, namun keinginan itu justru ditentang oleh keluarga mereka masing-masing, karena saat ini keduanya sudah mapan di tempat kerjanya.

Keakraban yang terjalin antara Fitri dan Elsa ini sebenarnya belum lama terjadi, tepatnya sekitar 4 bulan yang lalu. Hal itu terjadi lantaran adanya ‘panggilan’ dari atasan Fitri, Arjuna, untuk datang ke rumahnya. Begitu sampai dan masuk ke rumah itu, betapa terkejutnya Fitri mendapati sang atasan yang sedang telanjang bulat, sedang memompakan batang kemaluannya di lubang kewanitaan Elsa yang sedang menungging, juga dalam keadaan telanjang bulat.

Elsa pun sama saja terkejutnya saat melihat kedatangan Fitri, namun sudah tak mempunyai tenaga lagi waktu itu sehingga pasrah saja dengan apa yang terjadi. Fitri tak tahu bagaimana Elsa bisa tunduk juga pada Arjuna, dan sampai sekarang pun dia tak pernah menanyakan hal itu pada Elsa. Namun melihat kepolosan dan keluguan Elsa, pada akhirnya Fitri tak heran jika akhirnya kini Elsa bernasib sama dengan dirinya, menjadi alat pemuas bagi sang atasan.

Dan sejak hari itulah keduanya sering dipanggil secara bersamaan oleh sang atasan. Entah sudah berapa kali keduanya harus melayani atasannya itu. Bahkan mungkin kalau dihitung-hitung, lebih sering Arjuna yang merasakan kenikmatan tubuh Elsa ketimbang suaminya sendiri. Yang lebih membuat Arjuna merasa senang adalah dirinya bebas membuang spermanya di dalam luang surga kedua wanita itu tanpa harus takut keduanya hamil. Ya, suatu kali Fitri pernah keceplosan dan mengatakan kepada Arjuna bahwa dirinya sudah steril atas permintaan Marto suaminya. Sedangkan Elsa sendiri juga sedang ikut program KB karena sudah sepakat dengan sang suami untuk menunda memiliki momongan sampai mereka bisa tinggal bersama, tidak berjauh-jauhan seperti sekarang ini.

Meskipun sama-sama menjadi budak pemuas nafsu sang atasan, tapi tentu saja kondisi keduanya berbeda jauh. Elsa karena sudah pasrah dan benar-benar tunduk pada keperkasaan Arjuna di ranjang, meskipun sepengetahuan Fitri setiap kali selesai melakukan itu Elsa selalu menangis di rumahnya karena merasa begitu menyesal telah mengkhianati suaminya. Sedangkan Fitri yang sudah lama menjadi pelayan birahi Arjuna, memiliki sebuah tujuan tertentu yang hanya dia sendiri yang tahu.

*****

Piye, wes do ngumpul kabeh?” (Gimana, udah pada kumpul semua?)

Uwes Kang. Emang arep mbahas opo sih kok koyone penting banget ngene?” (Udah Kang. Emang mau bahas apaan sih kok kayaknya penting banget gini?)

Wes awake dewe rono sik wae, mengko rak yo ngerti.” (Udah kita kesana aja dulu, entar juga tahu.)

Kedua pria yang sedang bercakap-cakap ini pun menuju ke sebuah ruangan dimana sudah berkumpul sekitar 20an orang yang merupakan perwaklian dari 4 kabupaten. Ruangan ini adalah salah satu ruangan di sebuah gedung bekas pabrik yang sudah terbengkalai karena sudah bertahun-tahun ditinggal pemiliknya akibat gulung tikar. Gedung ini meskipun dari luar terlihat terbengkalai namun ternyata bagian dalamnya sudah diperbaiki dan digunakan menjadi markas oleh mereka.

Ruangan yang tadinya terdengar riuh oleh candaan orang-orang yang berkumpul di dalamnya mendadak hening ketika kedua pria itu masuk. Salah satunya seorang pria yang berperawakan tinggi besar dengan brewok menghiasi wajahnya menambah kesan sangar dari pria itu. Rasa hormat yang diberikan oleh semua orang yang berada di ruangan itu menunjukkan pria tersebut memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada yang lainnya. Pria itu mengedarkan pandangannya melihat satu persatu orang yang sudah berkumpul.

“Oke, selamat siang semuanya,” sapa pria itu.

“Siaaaang Kang,” jawab mereka serentak.

“Kalian mungkin masih bertanya-tanya kenapa tiba-tiba dipanggil untuk berkumpul disini. Atau ada yang tahu kira-kira untuk tujuan apa kalian dipanggil?”

Hening, tak ada yang menjawab. Mereka saling memandang satu sama lain, menggelengkan kepala dan mengangkat bahunya karena memang masih belum tahu kenapa mereka dikumpulkan di tempat ini. Mereka hanya menebak-nebak saja apa kira-kira tujuan dari pertemuan ini, namun lebih memilih untuk diam, menunggu apa yang akan disampaikan oleh orang yang berdiri di depan mereka itu.

“Oke, biar aku jelaskan. Aku panggil kalian semua kesini untuk mengajak kalian menghidupkan lagi ‘empat mata angin’ yang dulu pernah berjaya,” ujar pria itu.

“Hah, empat mata angin?” mereka pun bergumam.

Semua yang ada di ruangan ini paham apa itu empat mata angin yang disebutkan tadi. Itu bukan sembarang istilah, itu adalah istilah yang dulu pernah dipakai sebagai julukan kepada pimpinan mereka yang ada di masing-masing kabupaten tempat tinggal mereka. Dulu, setiap melakukan aksinya, mereka akan meninggalkan jejak entah berupa bendera atau sekedar coretan yang melambangkan atau menggambarkan simbol empat mata angin.

Istilah itu kemudian menghilang sejak terbunuhnya orang-orang yang mendapat julukan empat mata angin itu dalam peristiwa berdarah beberapa tahun silam. Bahkan bukan hanya pimpinannya saja, namun semua orang yang terlibat dalam peristiwa itu berhasil dihabisi oleh pihak yang berwajib. Peristiwa itulah yang kemudian membuat mereka yang tersisa takut untuk muncul ke permukaan karena tak mau bernasib sama dengan teman-temannya itu.

Bahkan setelah peristiwa itu, banyak dari rekan-rekan mereka yang akhirnya ditangkap dan dijebloskan ke balik jeruji besi. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang terlibat dengan narkoba, entah itu sebagai pengguna ataupun pengedar, sehingga setelah peristiwa itu suasana kota ini menjadi lebih aman dan tenteram dari sebelumnya. Keadaan yang dinikmati oleh mayoritas masyarakat, namun siksaan bagi mereka yang berada di pihak yang berseberangan.

Dan kini, pria yang berdiri di depan mereka ini, mengatakan akan menghidupkan kembali istilah tersebut. Bukan hanya bagaimana mereka melakukan itu, tapi juga siapa yang kemudian layak untuk menyandang predikat mata angin itu. Orang yang akan menyandang predikat itu tentunya bukan orang sembarangan, bukan penjahat kelas teri seperti mereka.

“Maaf Kang, saya bukan bermaksud gimana-gimana. Kami juga sebenarnya pengen empat mata angin itu ada lagi, tapi dengan kondisi yang sekarang, caranya gimana Kang?” tanya seseorang dari mereka mengungkapkan pendapatnya.

“Iya Kang, lagian nanti, siapa yang akan kita angkat jadi keempat mata angin? Yang sekarang ini kita bisa andalkan kan cuma Kang Tono aja, nah yang lainnya siapa Kang? Orang-orang yang pantas untuk itu kan, masih dipenjara semua Kang,” sahut yang lain memberikan tanggapannya.

Pria yang berdiri di depan mereka, yang tadi dipanggil Tono, sesaat tersenyum melihat respon dari pada anak buahnya itu. Dia memang sudah menduga mereka akan merespon seperti ini, sama persis dengan responnya ketika seminggu yang lalu dia dihubungi oleh seorang pria yang sama sekali tak dikenalnya, yang melontarkan ide tersebut. Namun kini dia sudah tahu jawabannya.

“Kalau siapanya, ya tentu saja temen-temen kita yang sekarang ini masih ada di dalam penjara. Tanto di utara, Maman di timur, Aris di selatan dan Yandi di barat. Aku nggak akan mengambil peranan sebagai mata angin, tapi aku yang akan jadi pimpinan keempat mata angin itu nantinya,” jawab Tono.

“Terus gimana Kang? Mereka kan masih di penjara semua. Saya dengar dari keluarganya Tanto pas mereka jenguk dia, pengamanannya itu ketat banget lho, sampai semua barang mereka diperiksa dan mereka sendiri digeledah,” ucap seorang dari mereka.

“Ya yang jelas kita harus membebaskan mereka dulu. Tapi kalian tenang saja, asal kalian mau bantu, itu urusan gampang,” jawab Tono.

“Kita sih pasti siap bantuin kang, tapi masalahnya kita harus gimana? Bukannya kita takut, tapi kalau inget nasib temen-temen kita beberapa tahun yang lalu, yaa, gimana yaa, ngeri juga Kang,” sahut seorang lagi diantara mereka.

“Haha, kalian masih takut sama mereka? Apa kalian pikir mereka yang yang menghabisi temen-temen kita?” tanya Tono, membuat semua yang ada disitu saling berpandangan, tak mengerti.

“Maksudnya gimana Kang? Bukan mereka yang menghabisi temen-temen kita?”

“Awalnya aku juga mikir mereka yang udah ngebantai temen-temen kita, termasuk kakakku sendiri, Kang Toro. Tapi beberapa waktu yang lalu aku diberitahu seseorang tentang kejadian yang sebenarnya, bahwa bukan mereka yang menghabisi temen-temen kita, tapi ada orang lain lagi. Pas mereka datang temen-temen kita sudah mati semua, mereka sendiri aja malah kebingungan,” papar Tono.

“Yang bener Kang? Terus kalau gitu, siapa orang yang udah ngebantai temen-temen kita? Dan siapa orang yang udah ngasih tahu Kang Tono soal itu? Apa Kang Tono percaya gitu aja sama orang itu?”

“Tadinya aku juga nggak percaya, sampai kemarin aku ketemu langsung dengan orangnya. Banyak kejadian yang diceritain sama orang itu, intinya adalah, bukan mereka yang udah ngebunuh temen-temen kita. Mereka itu nggak sehebat apa yang kita pikirkan selama ini, mereka hanya memanfaatkan berita itu untuk bisa menekan kita, dan terbukti sukses sampai sekarang, sampai kita nggak bisa ngapa-ngapain lagi,” jawab Tono panjang lebar.

“Mengenai siapa orang itu, sebentar lagi dia akan kesini dan kalian akan bertemu langsung dengannya. Setelah kalian tahu siapa dia, aku yakin kalian pun akan percaya sama kata-katanya,” lanjut Tono.

“Jadi, udah ketahuan Kang siapa yang udah ngebantai temen-temen kita?”

“Belum. Dan itulah kenapa kita akan bentuk lagi empat mata angin ini, buat mancing keluar orang-orang itu,” jawab Tono.

“Maksudnya gimana Kang?” tanya mereka belum mengerti.

“Kita bentuk empat mata angin lagi. Kita lakuin lagi apa yang dulu sering kita lakuin. Kita buat mereka yang udah ngaku-ngaku ngebunuh temen-temen kita itu kewalahan menghadapi kita, dan saat itulah aku yakin mereka bakalan dapat bantuan, dan bantuan itu pasti adalah orang-orang yang udah ngebunuh semua temen-temen kita. Kita bakal bikin perhitungan sama orang-orang itu!” jawab Tono tegas.

“Hmm, kalau buat ngelakuin yang kayak dulu lagi, kayaknya kita bakal butuh bekingan yang kuat deh Kang. Dulu kan kita punya, nah sekarang kan udah nggak ada lagi yang ngebeking kita Kang.”

Belum sempat Tono menjawab terdengar suara mobil berhenti di depan gedung, yang tak jauh dari ruangan itu. Nampak turun seorang pria muda, berpakaian rapi dengan stelan resmi dan kacamata hitam menghiasi wajahnya, menunjukkan dirinya adalah seorang yang berkelas. Orang itu masuk ke dalam gedung dan langsung menuju ke ruangan itu. Di samping kiri kanan pria muda itu nampak dua orang berperawakan tinggi besar dan berwajah bule mengawalnya. Penampilan kedua pengawalnya inipun tak kalah rapi dengan sang boss.

“Siapa bilang kita nggak punya bekingan yang kuat. Itu dia udah datang, orang yang aku ceritain tadi, dia yang akan jadi beking buat kita,” ujar Tono sambil berjalan menghampiri tamunya yang baru saja datang.

Semua orang terdiam melihat pria itu beserta kedua pengawalnya masuk ke ruangan. Mereka masih bertanya siapa sebenarnya ketiga orang ini. Mereka cukup terbius dengan kharisma yang dipancarkan oleh pemuda itu beserta kedua pengawalnya. Hanya Tono yang kemudian tersenyum menyambut mereka, kemudian menyalami si pria muda itu.

“Selamat datang boss,” sambut Tono.

“Makasih Ton. Aku ngganggu nggak nih?” tanya pria itu.

“Oh nggak boss santai aja, kita malah nunggu boss kok dari tadi, saya juga udah kasih tahu mereka mengenai rencana kita boss, mereka mau bantu tapi masih ragu karena masih takut dengan polisi. Mungkin boss bisa ngomong sesuatu nanti buat ngeyakinin mereka. Mari boss, saya perkenalkan boss sama mereka,” ucap Tono penuh hormat kepada pria muda itu.

Setelah berbincang sebentar, Tono pun mengajak pria itu untuk berdiri di depan orang-orang yang sudah sedari tadi berkumpul mendengarkan ceramah dari Tono.

“Nah teman-teman, inilah orang yang saya maksud tadi, inilah boss besar kita sekarang, orang yang akan jadi pemimpin dan sekaligus bekingan kita. Beliau ini adalah anak dari boss kita yang udah mati dulu, namanya Sebastian Mahendra.”

*****

 


Lusi


Tata

Hari sudah beranjak sore, matahari yang tadinya begitu menyengat seantero kota kini sudah mulai turun tertutup awan mendung. Di pintu keluar Stasiun Tugu nampak seorang wanita muda dengan kacamata hitam yang tak lepas dari wajahnya berdiri menunggu seseorang. Wanita yang cukup cantik dengan rambut panjang sedikit kecokelatan ini menarik perhatian beberapa pria yang berada di sekitarnya. Pakaiannya tidak terbuka, namun balutan celana jeans ketat dan jaket kulit yang juga ketat membuat kemolekan tubuhnya begitu terekspos.

Wanita itu sudah sekitar 15 menit menunggu disana sambil memainkan ponselnya, menanyakan keberadaan orang yang dijemputnya. Tak lama berselang muncul seorang wanita yang tak kalah cantiknya menghampiri wanita itu. Dengan celana jeans ketat dan cardigan yang menutupi kaos ketat yang dipakainya, tubuh indah wanita itu juga nampak terekspos dan begitu menarik di usianya yang tak bisa dikatakan muda lagi.

“Haiii Mbak Lusi, akhirnya nyampe juga di Jogja. Gimana kabarnya Mbak?” ujar wanita yang sedang menunggu tadi kegirangan dan langsung memeluk Lusi.

“Hei Tata, udah lama nunggunya ya? Kabar Mbak baik-baik aja kok, kamu sendiri gimana?” Lusi pun membalas pelukan Tata, membuat keduanya kian menjadi pusat perhatian.

“Nggak kok Mbak ini juga baru datang. Kabar Tata juga baik kok Mbak. Ya udah yuk, Mas barang-barangnya dimasukin ke mobil merah itu ya,” ujar Tata sambil menunjuk kearah mobilnya pada seorang pria yang membantu membawakan barang-barang Lusi.

“Gimana tadi Mbak perjalanannya? Lancar aja kan?” tanya Tata membuka obrolan setelah mereka sudah berada di dalam mobil dan Tata mengemudikannya meninggalkan stasiun.

“Lancar aja kok Ta, nggak sampai kelamaan berhenti di stasiun-stasiun sebelumnya,” jawab Lusi sambil memainkan ponselnya mengabari Lisa adiknya bahwa dia sudah sampai di Jogja, dan titip salam untuk anak-anaknya.

“Iya lah, eksekutif. Yang lain pasti ngalah kasih jalan, hehe. Kita mau langsung ke rumah kontrakan Mbak atau mau kemana dulu nih?” tanya Tata.

“Cari makan dulu aja Ta, tapi yang deket-deket rumah aja ya,” jawab Lusi.

“Oke Mbak.”

Tata kemudian mengarahkan mobilnya menuju ke sebuah rumah makan cepat saji di dekat rumah yang dia kontrak untuk ditempati Lusi. Selama itu keduanya terlibat obrolan ringan, sambil melepas kangen karena sudah hampir setahun tak bertemu meskipun komunikasi mereka masih terjalin dengan baik lewat sambungan telepon maupun saling berkirim pesan WhatsApp dan BBM.

Setelah selesai makan Tata dan Lusi segera menuju ke rumah kontrakan itu karena Tata tahu Lusi pastinya lelah setelah perjalanan kereta api Bandung-Yogyakarta yang memakan waktu kurang lebih 8 jam. Sesampainya di rumah kontrakan itu Tata membantu membawa barang bawaan Lusi ke dalam rumah, lalu ikut merebahkan dirinya di sofa ruang tengah bersama dengan Lusi.

“Rumahnya bagus Ta, rapi dan bersih,” kata Lusi mengomentari rumah yang akan dia tempati selama di Jogja ini.

“Iya Mbak, tadi pagi Tata udah minta orang buat bersih-bersih disini. Orang itu mulai besok kerja jadi pembantu disini Mbak, nanti deh Tata kenalin sama orangnya,” ujar Tata.

“Makasih lho Ta kamu udah mau bantuin Mbak,” ucap Lusi.

“Ah, ini sih nggak seberapa kalau dibandingin sama bantuan Mbak kemarin selama Tata di Bandung, Tata yang harusnya makasih sama Mbak Lusi,” jawab Tata.

“Iya deh sama-sama kalau gitu, hehe.”

“Mbak mau langsung istirahat?” tanya Tata.

“Nggak ah Ta, tadi di kereta juga udah tidur. Kenapa? Kamu lagi sibuk ya?” tanya Lusi.

“Oh nggak kok Mbak, Tata nyantai aja ini. Kalau gitu Tata temenin Mbak aja disini,” jawab Tata.

“Kirain lagi sibuk. Kalau emang ada urusan nggak apa-apa kok Ta mbak ditinggal,” ujar Lusi.

“Nggak kok mbak beneran deh, Tata kebetulan lagi kosong hari ini,” sahut Tata.

“Ya udah deh kalau gitu. Hmm, ngomong-ngomong rumah ini nggak jauh kan dari kantor orang itu?” tanya Lusi.

“Deket kok Mbak, itu kalau kita tadi lurus paling 200 meter lagi nyampe,” jawab Tata.

“Hmm, bagus deh kalau gitu,” ujar Lusi.

Lusi kemudian menyalakan TV dan bersantai sambil menontonnya bersama Tata. Dia masih malas untuk membereskan barang-barang bawaannya, besok saja lah sekalian, pikir Lusi.

“Jadi, rencananya Mbak Lusi mau berapa lama disini?” tanya Tata.

“Pastinya sih belum tahu Ta, tergantung sama perkembangan nanti aja. Tapi paling bulan ini Mbak sempetin pulang ke Bandung dulu jenguk anak-anak,” jawab Lusi.

“Oh gitu, tapi nggak buru-buru buat rencana itu kan Mbak?” tanya Tata.

“Kenapa emangnya Ta?” tanya Lusi.

“Kalau nggak buru-buru, nanti Mbak aku ajak jalan-jalan dulu aja, sekalian ngafalin jalan Mbak. Mbak Lusi kan udah lama banget nggak kesini, siapa tahu aja udah lupa. Jadi nanti kita nyewa mobilnya kalau Mbak Lusi udah hafal jalan aja, gimana?” tanya Tata memberi tawaran.

“Oh gitu, yaah boleh-boleh aja, daripada Mbak nyasar entar malah ngerepotin kamu lagi, hehe. Eh tapi kamunya repot nggak ngajakin mbak jalan-jalan? Kamu juga ada kerjaan kan?” tanya Lusi.

“Halah repot apa tho Mbak, kerjaan WO kan udah banyak temen yang bisa ngurusin, paling kalau pas hari-H aja Tata dateng buat mastiin. Kalau yang butik online itu gampang lah, selama ponsel ini masih ada baterai sama sinyalnya, semua beres, hehe. Lagian banyak yang bantuin kok Mbak jadi waktu Tata lebih longgar sekarang,” jawab Tata.

“Makasih deh kalau gitu, Mbak jadi enak kalau kayak gini, hehe,” ujar Lusi.

“Hehe, sama-sama Mbak,” sahut Tata.

Sore ini pun mereka habiskan dengan obrolan ringan seputar kegiatan yang saat ini mereka jalani. Tata sebenarnya adalah saudara jauh dari Lusi memang sebelumnya jarang sekali berinteraksi dengannya. Namun tiga tahun lalu, ketika terjadi peristiwa malam tahun baru berdarah yang memakan banyak korban itu, nama Tata akhirnya terseret setelah pada kasus itu dilakukan pengembangan.

Namun Tata hanya terkena kasus ringan karena penggunaan narkoba, sehingga dia harus menjalani serangkaian rehabilitasi. Saat itu Tata mengajukan keberatan jika harus direhab di kota ini, dan dia meminta untuk dipindahkan ke kota lain saja, sehingga akhirnya permintaannya dikabulkan dan dia dipindahkan ke Bandung. Dari situlah Tata teringat bahwa dia memiliki saudara di kota itu, yang tak lain adalah Lusi. Tata pun mencari tahu soal Lusi dan berhasil menghubunginya. Sejak saat itulah keduanya menjadi dekat, sampai-sampai banyak sekali hal yang Tata ceritakan kepada Lusi, begitu pula sebaliknya.

Setelah menghabiskan waktu lebih dari setahun di panti rehabilitasi itu Tata pun diperbolehkan untuk keluar, dan kemudian dibantu oleh Lusi untuk dicarikan tempat tinggal karena Tata menolak untuk tinggal bersama Lusi. Berawal dari saling curhat inilah yang akhirnya mencetuskan sebuah rencana yang sedang mereka lakukan saat ini, karena kebetulan sekali Tata mengenali orang-orang yang sedang dicari informasinya oleh Lusi.

Selain karena masih mempunyai hubungan saudara, semua bantuan yang diberikan oleh Lusi kepada Tata selama dia berada di panti rehabilitasi dan bantuan-bantuan lain selepas keluar, membuat Tata bersedia untuk membantu Lusi. Sebuah kebetulan lagi karena sebagian dari orang-orang yang menjadi sasaran Lusi, adalah orang-orang yang menjadi sasaran dendam Tata juga.

“Mbak udah malem nih, kita mau makan dimana?” tanya Tata.

Delivery aja gimana? Mbak lagi males keluar nih,” jawab Lusi.

“Hehe, sama, aku juga males keluar. Oke deh kalau gitu, Tata pesen dulu,” ujar Tata kemudian langsung menghubungi sebuah restoran cepat saji untuk memesan makanan.

“Jadi, rencananya Mbak Lusi mau mulai nyari informasi darimana?” tanya Tata.

“Nerusin dari apa yang udah kamu dapet aja Ta. Maunya Mbak sih sebenarnya cepet-cepet aja, tapi kayaknya mbak harus ngikutin saran kamu deh buat ngafalin lagi seluk beluk kota ini, jadi nggak usah buru-buru lah,” jawab Lusi.

“Terus kalau semuanya berjalan lancar, jadi rencana eksekusinya?” tanya Tata lagi.

“Jadilah, enak aja orang itu seneng-seneng di atas penderitaan mbak, dia harus menderita juga dong! Yah meskipun Mbak belum tahu nantinya gimana,” jawab Lusi sedikit emosi.

“Kalau masalah eksekusi entar Tata bantu nyari algojonya Mbak, Tata ada beberapa kenalan kok, moga-moga mereka bisa bantu,” ujar Tata.

“Makasih ya Ta, Mbak udah banyak banget ngerepotin kamu,” ucap Lusi.

It’s okay Mbak, not a big deal, karena kan kemungkinan orang yang kita kejar itu sama. Kalau emang beneran sama, dengan ngebantuin Mbak, itu sama aja Tata juga udah ngelakuin rencana Tata sendiri kan, sambil menyelam minum es campur lah Mbak, haha,” ujar Tata yang juga disambut dengan tawa oleh Lusi.

Lusi merasakan getir dalam tawanya sendiri. Dia menyadari bahwa kini dia sedang terlibat, atau mungkin membuat dirinya sendiri terlibat sesuatu yang dulu bahkan tak pernah dia bayangkan. Sebelumnya hidupnya lurus-lurus saja, sampai akhirnya peristiwa itu terjadi dan membuat dirinya limbung. Separuh jiwanya benar-benar melayang saat itu, entah berapa hari air matanya terus mengalir, yang hanya terhenti saat dia kehilangan kesadarannya saja.

Saking depresinya, dia bahkan pernah hampir berbuat nekat dengan mengakhiri hidupnya sebelum akhirnya dihentikan oleh seorang sahabat yang kebetulan mengunjunginya. Dukungan dan semangat dari keluarga dan para sahabatnya akhirnya mampu membantunya untuk bangkit sedikit demi sedikit, mencoba untuk melupakan dan mengikhlaskan hal itu.

Namun fakta-fakta yang kemudian dia dapatkan dari beberapa sumber yang dia percaya, membuat rasa kehilangan dan depresinya itu berubah menjadi dendam yang begitu besar. Semakin Lusi mencoba untuk mengumpulkan informasi dan fakta terkait peristiwa itu maka semakin besar pulalah dendam yang dia simpan.

Dia gelap mata, dan ingin membalaskan dendam itu, tapi dia tidak tahu bagaimana harus melakukannya. Hingga akhirnya pertemuannya dengan Tata yang seolah membuka jalan baginya untuk bisa membalaskan dendam itu. Tata yang juga memilik dendam tersendiri bersedia membantu Lusi karena adanya kemungkinan sasaran pembalasan dendam mereka adalah orang yang sama. Dan sejak saat itulah baik Lusi maupun Tata mulai merancang rencana apa yang akan mereka lakukan. Sudah setahun berjalan, dan kini mereka berdua sudah mendekat kepada tujuan dari rencana itu, semakin dekat.

*****
Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂