web hit counter

Mengalahkan Gadis Bagian 2 Part 5

0
520

Mengalahkan Gadis Bagian 2 Part 5

Mencari Sebuah Jawaban

Minggu pagi yang begitu sejuk setelah semalaman seluruh penjuru kota diguyur hujan lebat yang cukup lama, yang sukses memaksa mereka yang sudah memiliki agenda menghabiskan malam minggu untuk membatalkan rencananya. Titik-titik air masih menetes di beberapa tempat, setelah mengucapkan perpisahan pada dedaunan yang sempat saat menjadi tempat persinggahan mereka.

Di koridor sebuah rumah sakit, pagi itu nampak 2 orang wanita berbeda generasi sedang berjalan menyusurinya. Wanita pertama berpakaian serba putih layaknya seorang perawat. Berjalan di sampingnya, atau lebih tepatnya mengikuti langkah dari si perawat, seorang gadis muda dengan pakaian modis yang hampir menutupi sekujur tubuhnya, layaknya hijaber gaul masa kini.

Langkah mereka ringan dan santai serta diselingi beberapa obrolan ringan untuk sekedar berbasa-basi, hingga akhirnya terhenti di depan sebuah ruangan. Ruangan yang berkapasitas hanya untuk satu orang saja. Nampak dari pintu ruangan itu, seorang wanita dengan pakaian khas pasien rumah sakit duduk termenung di ranjangnya melihat keluar jendela, namun pandangannya serasa kosong tanpa makna.

“Ini ruangannya Mbak Beti, saya tinggal dulu ya,” ujar sang perawat.

“Iya, makasih Suster,” jawab si gadis dengan sopan.

Gadis muda itupun melangkahkan kakinya memasuki ruangan tersebut. Langkahnya terhenti di depan ranjang si pasien. Terlihat tubuh pasien cukup segar, dan wajahnya pun tidak menampakan ekspresi pucat sama sekali, hanya memang pandangannya saja yang sedang menerawang entah kemana. Ini memang bukan rumah sakit umum seperti kebanyakan. Rumah Sakit Panti Lali Jiwo, berada di daerah Pakem. Rumah sakit ini tidak menerima pasien yang mengalami sakit pada fisiknya, tetapi mereka yang sakit atau terganggu kejiwaannya. Ya, ini adalah rumah sakit jiwa.

“Mbak Beti,” sapa sang gadis.

Wanita yang disapa itu pun menolehkan wajahnya, terpaku sesaat kemudian tersenyum lebar memandangi gadis yang memanggilnya barusan. Seketika tatapannya berubah, tak lagi terlihat kosong seperti sebelumnya. Kedua tangannya terentang menandakan sebuah undangan bagi gadis itu untuk memeluknya. Undangan yang disambut dengan segera oleh gadis itu yang langsung memeluk sang pasien.

“Kamu udah banyak berubah Indah,” ujar Beti.

“Hehe, Mbak masih inget sama Indah ya? Maaf ya baru sempat jenguk,” jawab Indah.

“Ya masihlah. Iya nggak papa, Mbak tahu kamu pasti lagi sibuk-sibuknya kan?” tanya Beti.

“Yaah, begitulah Mbak,” jawab Indah, sambil melepaskan pelukan mereka.

Indah yang hendak duduk di ranjang Beti mengurungkan niatnya saat melihat Beti bergerak turun dari ranjang. Beti kemudian perlahan mengambil sebuah buku catatan kecil dari bawah bantalnya, lalu menuntun tangan Indah untuk berjalan keluar. Mereka kemudian menuju ke sebuah bangku yang terletak di taman depan ruangan Beti. Bangku itu tidak basah karena memang bagian atasnya tertutup kanopi yang melindunginya dari hujan lebat semalam. Disitulah kemudian keduanya duduk.

“Kapan kamu balik ke Jogja Ndah?” tanya Beti.

“Udah beberapa bulan ini Mbak, Indah udah keterima kerja juga kok,” jawab Indah.

“Oh gitu, trus kamu tinggal dimana? Nggak mungkin dilaju dari Gunung Kidul kan?” tanya Beti lagi.

“Nggak kok Mbak, aku tinggal di rumah Om Risman. Tadinya sih mau ngekost disana, eh sama Om Risman malah disuruh tinggal disitu gratis, sekalian jadi ibu kost disana, hehe. Tapi aku ngakunya sama temen-temenku kalau aku ngekost disana,” jawab Indah.

“Hmm, Risman, si bandot tua itu ya. Hati-hati lho kamu sama dia Ndah,” ujar Beti.

“Iya Mbak tenang aja, Indah juga udah denger soal itu kok. Sekarang Om Risman nggak tinggal disitu, dia tinggal di Kaliurang, sekalian ngurusin villa punya bossnya katanya,” jawab Indah.

“Villa itu udah jadi milik dia Ndah,” ujar Beti singkat.

“Loh, kok bisa Mbak?” tanya Indah.

“Ada sebuah surat wasiat yang disimpan oleh pengacara bossnya, yang menerangkan kalau si boss ini meninggal, maka asetnya yang berupa tanah dan villa di Kaliurang itu akan menjadi milik Risman. Di surat wasiat itu juga tertulis siapa notaris dan pengacara yang ditunjuk untuk mengurusinya. Yah, paling nggak itulah yang dibilang Risman sama Mbak,” terang Beti.

“Lho emang Mbak Beti pernah ketemu Om Risman?” tanya Indah lagi.

“Pernah, tahun lalu, beberapa kali dia sempat menjengukku, dan dengan bangganya bercerita kalau sekarang dia sudah menguasai salah satu aset berharga milik bossnya, mungkin dia menganggapku benar-benar gila waktu itu makanya dia ceplas ceplos aja ngomongnya,” jawab Beti.

“Maksud Mbak Beti?” tanya Indah kebingungan.

“Kamu pikir aku benar-benar gila?” tanya Beti.

“Hmm, itu…” Indah tak tahu harus berkata apa, karena setahu dia memang begitulah keadaan Beti.

“Haha, aku memang sempat depresi di awal kematian Mas Ramon, tapi itu cuma sebentar aja Ndah, nggak berlarut-larut sampai sekarang. Aku cuma pura-pura gila aja disini supaya nggak kebawa-bawa, karena aku dengan semua yang berhubungan dengan kejadian malam itu diperiksa oleh polisi, aku males aja berurusan lama-lama dengan mereka,” jawab Beti panjang lebar.

“Jadi, selama ini Mbak hanya pura-pura aja? Sampai sekarang? Trus Mbak, hmm, untuk biaya selama disini gimana? Pastinya kan mahal banget?” tanya Indah.

“Terus terang aku juga nggak tahu siapa yang membiayaiku. Risman pernah cerita waktu menjengukku, dia bilang pernah ke bagian administrasi untuk menanyakan tentang biaya perawatanku, tapi pihak rumah sakit bilang sudah ada yang menanggungnya, makanya Risman juga santai-santai aja,” jawab Beri.

“Siapa Mbak?” tanya Indah lagi.

“Pihak rumah sakit aja juga nggak tahu. Setiap bulan mereka hanya menerima paket amplop yang berisikan sejumlah uang dan secarik kertas yang memberitahukan kalau uang itu untuk biayaku selama sebulan. Tak ada nama dan alamat pengirim di paket itu. Uang yang dikirimkan pun jumlahnya jauh lebih banyak ketimbang biaya yang seharusnya,” jawab Beti.

“Mbak Beti nggak tahu? Atau mungkin ngira-ngira gitu siapa yang ngirimin uang itu?” tanya Indah, masih penasaran.

“Nggak tahu Ndah, sama sekali nggak ada bayangan. Kamu juga sebaiknya hati-hati dan jangan terlalu sering kemari,” ujar Beti.

“Lho kenapa Mbak?”

“Aku yakin, siapapun orang yang mengirimkan uang itu, dia pasti selalu mengawasiku karena tahu aku masih belum keluar dari sini. Dan kalau dia selalu mengawasiku itu artinya dia tahu siapa saja yang menjengukku, dan dia pasti akan mencari tahu seluk beluk para penjengukku. Jadi kamu harus berhati-hati ya, jangan bahayakan dirimu,” terang Beti.

Keduanya lalu terdiam beberapa saat ketika ada beberapa orang melewati mereka. Hari yang masih pagi, terlebih cuaca yang lebih sejuk ketimbang biasanya, membuat aktivitas disini menjadi sedikit sepi. Setelah orang-orang itu melewati mereka, mereka berdua pun masih terdiam, seolah-olah sedang mencari bahan obrolan selanjutnya.

“Jadi, kamu kesini mau cari apa Ndah?” pertanyaan Beti yang begitu to the point, yang membuat Indah agak kebingungan untuk menjawabnya.

“Mencari kebenaran Mbak, rasanya udah waktunya aku tahu yang sebenarnya, semuanya,” jawab Indah setelah beberapa saat terdiam karena memang sedang mencari-cari kata yang pas untuk menjawab pertanyaan dari wanita yang masih memiliki hubungan saudara dengannya ini.

“Kamu yakin pengen tahu semuanya?” tanya Beti. Dia sudah tahu apa yang dimaui oleh Indah.

“Iya, aku yakin Mbak,” jawab Indah mantap.

“Kamu tahu, apa yang terjadi, apa yang dilakukan ayahmu sebelum dia meninggal malam itu?” tanya Beti.

“Hmm, nggak tahu Mbak,” jawab Indah menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Apa kamu akan mempercayai semua yang akan aku bilang nantinya? Karena kenyataan yang ada mungkin jauh sekali dari bayanganmu selama ini Ndah,” ucap Beti, yang membuat Indah terdiam sejenak.

“Iya, aku akan mempercayai Mbak Beti, karena cuma Mbak Beti satu-satunya saudara yang aku punya sekarang,” jawab Indah.

“Oke kalau gitu, Mbak akan cerita. Sekaget apapun kamu tolong jangan potong cerita Mbak sebelum selesai. Setelah Mbak selesai, terserah kamu mau kayak gimana, oke?” tanya Beti yang hanya dijawab dengan anggukan oleh Indah.

*****

 


Lusi


Tata

Other Place, Same Time

“Duuh ni anak jam segini masih molor aja. Ta bangun Ta!”

“Heeeemmmmm.”

“Yeee bangun udah siang ini lho.”

“Haduuh Mbak Lusiii, jam berapa sih Mbaak?”

“Udah jam 9 ini.”

“Masih pagi mbaaak, Tata masih ngantuk niiih.”

“Wah padahal udah Mbak rebusin mie instant, ya udah deh dibuang aja berarti ya?”

“Eh apaa? Mie rebus? Mana Mbak mana?”

“Hahahaha.”

Lusi tergelak melihat kelakuan saudaranya itu. Dia sendiri heran entah dimana enaknya mie instant itu sampai-sampai membuat Tata begitu menyukainya. Oke, dia sendiri juga suka, tapi tak sampai seperti Tata yang seolah-olah mentasbihkan mie instant sebagai makanan utamanya. Di lemari makanannya di dapur, mie instant terutama yang rebus dari berbagai merk dan rasa ada disana, sudah seperti orang jualan saja.

Dan baru beberapa hari ini Lusi tahu, sangat mudah baginya membujuk Tata kalau ada embel-embel mie rebusnya. Seperti pagi ini. Sebenarnya Lusi tak ada keperluan yang terlalu mendesak dengan Tata, hanya ingin menanyakan beberapa hal saja. Tapi memang setahu Lusi dari semalam Tata mengurusi pernikahan seorang kliennya hingga larut sekali, dan mungkin baru beberapa jam saja dia tidur, sehingga untuk memaksanya bangun, Lusi sudah bersiap-siap dengan semangkuk mie instant rebus, lengkap dengan telornya, intel rebus.

Tata langsung saja terbangun dan menyambar mangkuk yang dibawa oleh Lusi, dan langsung saja menyantap makanan favoritnya itu dengan lahap. Bukan apa-apa, karena memang dia sudah merasa sangat lapar hanya saja malas untuk bangun apalagi memasak, jadi mumpung sudah ada di depan mata ya langsung dia sikat saja. Tak peduli mata masih penuh belek, atau bekas iler yang mengering di pipinya, acara makannya tak boleh terganggu, dan hal itu tak ayal membuat Lusi semakin terpingkal-pingkal.

Lusi membiarkan Tata yang masih menikmati makanannya dan dia menunggu di ruang tengah, sambil menonton TV. Tak berapa lama kemudian Tata yang sudah menandaskan mangkuk mie rebusnya tadi keluar menghampiri Lusi.

“Kok tumben pagi-pagi kesini Mbak?” tanya Tata.

“Udah siang kali. Kamu ni kebiasaan ya bangunnya jam segini Ta?” tanya balik Lusi.

“Nggak juga sih Mbak, biasanya juga bangun pagi kok. Cuma kan semalem ngurusin nikahan klien, baru beres lewat tengah malam. Aku baru pulang aja jam 3 pagi, trus sejam kemudian deh baru tidur,” jawab Tata panjang lebar.

“Oh, kirain kamu emang kebiasaan bangun jam segini, nggak baik tau Ta,” ujar Lusi.

“Iya iya Mbakku. Jadi ada apa nih?” tanya Tata.

“Nggak, Mbak cuma mau nanya tempatnya Mbak Beti aja,” jawab Lusi.

“Tempat Mbak Beti? Mbak mau kesana?” tanya Tata.

“Iya Ta, mau say hello aja sih. Gimana juga kan ternyata kita masih saudara, meskipun jauh banget sih, Mbak cuma pengen lebih kenal dia aja,” jawab Lusi.

“Sekalian nyari orang buat misi kita Mbak?” tanya Tata lagi.

“Maksudnya Ta?” tanya Lusi bingung.

“Yaa mendiang suaminya Mbak Beti kan punya banyak kenalan orang-orang yang bisa bantu kita buat misi kita nanti Mbak, siapa tahu kan Mbak Beti kenal beberapa diantaranya,” jawab Tata.

“Eh iya juga ya. Ah tapi itu entar aja lah, masak baru ketemu langsung minta kayak gitu. Yang penting sekarang jalin silaturahmi dulu lah,” ujar Lusi.

“Iya sih, hehe,” sahut Tata.

Memang ada benarnya apa yang dibilang oleh Tata. Ramon, mendiang suami Beti seperti telah diketahui semua orang setelah peristiwa 3 tahun yang lalu, pastinya memiliki banyak kenalan, terutama orang yang bisa membantu Lusi maupun Tata untuk membalaskan dendam mereka. Memang kebanyakan sudah terbunuh malam itu, namun bukan berarti tak ada lagi yang bisa ditemui. Dan untuk itulah mereka merasa harus menanyakannya kepada Beti suatu saat nanti.

Lusi sudah mengetahui tentang Beti sejak beberapa tahun lalu saat Tata berada di masa rehabilitasinya di Bandung. Tata bercerita bahwa dia dan Beti merupakan saudara jauh, yang artinya Lusi juga memiliki hubungan saudara dengan Beti, meskipun jika dirunut silsilahnya akan sangat panjang sekali. Namun begitu saudara tetaplah saudara. Dan karena sekarang Lusi sudah berada di kota ini, maka dia berniat untuk mengunjungi saudaranya itu.

“Kamu mau ikut nggak entar?” tanya Lusi.

“Nggak deh kayaknya Mbak, aku ada janji sama orang butik hari ini,” jawab Tata.

“Oh ya udah deh kalau gitu. Tempatnya dimana Ta?” tanya Lusi.

“Di RSJ Panti Lali Jiwo Mbak, Jalan Kaliurang Km 17. Dari perempatan ringroad Mbak terus aja sampai Km 17, nanti sebelum lampu merah di kanan jalan Mbak,” papar Tata.

“Oh gitu. Oke deh, kalau gitu Mbak berangkat sekarang ya,” ujar Lusi.

“Oke, hati-hati ya Mbak,” jawab Tata.

Lusi dan Tata masih melanjutkan obrolan ringan mereka. Tata masih terlihat cukup lelah dari wajahnya, namun sudah tak seletih sebelumnya karena doping semangkuk mie rebus yang disiapkan oleh Lusi tadi. Lusi sebenarnya sudah sering menasehati Tata untuk tak terlalu banyak dan sering mengkonsumsi mie instant itu karena akan berakibat kurang baik pada kesehatannya, tapi Tata yang sudah terlanjur mencintai makanan ini hanya mengiyakan setiap nasehat dari Lusi tanpa melakukannya.

Akhirnya setelah berpamitan Lusi pun pergi sendiri untuk menemui Beti. Memang saat ini tujuannya adalah untuk berkenalan terlebih dahulu dengan Beti. Lusi mendengar bahwa Beti dirawat di rumah sakit jiwa itu cukup lama, dan dia berharap saat ini kondisi Beti sudah membaik sehingga bisa untuk diajak ngobrol. Yah, siapa tahu saja perkenalannya dengan Beti nanti bisa memberikannya informasi tambahan yang berkaitan dengan rencananya.

Lusi yang sudah mulai menghafal jalan-jalan utama di kota ini pun mengemudikan mobil sewaannya itu menuju ke tempat yang tadi sudah dijelaskan oleh Tata. Meskipun sebenarnya bisa menggunakan GPS, namun Lusi lebih memilih untuk mencarinya sendiri, sekaligus untuk membantunya menghafal jalanan dan tempat-tempat penting untuk dia kunjungi selama berada di kota ini.

Namun sebelum menuju ke tempat tujuannya itu, Lusi menyempatkan mampir dulu ke sebuah kios buah-buahan yang dia temui di jalan. Kurang etis rasanya menjenguk seseorang hanya dengan tangan kosong seperti ini. Yah meskipun entah nanti buahnya dimakan oleh yang bersangkutan atau tidak, itu urusan belakangan, yang penting membawa dulu. Sebuah karakteristik yang begitu khas dan kental dari mayoritas masyarakat di negeri ini.

“Apa tidak berlebihan membawa buah-buahan sebanyak itu hanya untuk mengunjungi orang yang sedang dirawat di rumah sakit?”

Lusi terkejut ketika ada seorang pria yang dengan tiba-tiba menegurnya seperti itu saat dia sedang membayar buah-buahan yang dia beli. Pria yang asing bagi Lusi, sama sekali tidak dikenalnya. Penampilannya yang santai dan casual cukup menarik. Perawakannya tinggi besar, badannya tegap, rambutnya cepak, dan sorot matanya sangat tajam menatap Lusi.

“Eh maaf, maksud anda?”

“Yah, buah yang anda beli ini terlalu banyak untuk dibawa menjenguk orang di rumah sakit bukan? Yah meskipun orang yang mau anda jenguk itu sebenarnya udah sembuh sih,” tanggap pria itu.

“Ehm, maaf, saya nggak ngerti maksud anda,” ucap Lusi.

“Haha, saya tahu anda mengerti maksud saya. Anda berniat membawa buah ini untuk menjenguk seseorang di rumah sakit jiwa bukan?” tanya pria itu, membuat Lusi menatapnya dengan tajam.

“Anda ini siapa? Maaf saya nggak kenal anda,” ujar Lusi dengan nada yang mulai meninggi karena panik.

“Anda memang belum tahu siapa saya, tapi saya sudah banyak tahu tentang anda, bahkan juga tujuan anda datang ke kota ini, saya sudah tahu, sangat tahu,” jawab pria itu.

“Maksud anda apa? Saya benar-benar nggak ngerti,” sanggah Lusi membuat pria itu tersenyum. Dia benar-benar bingung dengan kehadiran pria yang tak dikenalnya ini, tapi seolah-olah pria ini sudah begitu mengenalnya.

“Saya tahu siapa anda sebenarnya, dan apa tujuan anda datang kemari. Saya rasa misi anda untuk balas dendam itu cukup sulit karena siapa yang membunuh suami anda itu sampai sekarang belum jelas siapa orangnya, lagipula itu sudah lebih dari 3 tahun yang lalu. Jadi saya rasa anda akan membutuhkan sangat banyak bantuan untuk misi itu,” jawab pria itu panjang lebar, membuat Lusi terhenyak.

Bagaimana pria itu bisa mengetahui tujuannya sampai seperti itu? Bahkan dia tahu kapan suaminya terbunuh. Pria ini pun sampai bilang kalau Lusi akan butuh banyak bantuan, seperti yang memang sudah dia bahas dengan Tata. Tatapan Lusi jadi semakin tajam, bukan hanya karena keterkejutannya terhadap pria itu, tapi dia mulai merasakan ketakutan dengan hadirnya pria itu secara tiba-tiba.

“Sepertinya apa yang saya ucapkan tadi membuat anda terkejut, dan itu secara tidak langsung membenarkan apa yang saya tanyakan bukan, Ibu Lusia Anastasya? Atau saya harus memanggil anda, Nyonya Dede Nurdeni?”

*****

 


Indah


Beti

Kembali Ke RSJ

“Aku, dan juga ayahmu itu, bukan seperti yang selama ini kamu tahu Ndah. Kami bukan orang baik-baik, kami ini orang kotor, sangat kotor. Kamu tahu alasan ayahmu tetap memilih tinggal disana dan mengelola penginapan itu ketimbang pindah ke kota seperti yang sudah kami tawarkan kepadanya? Karena ayahmu menjadikan penginapan itu tempat untuk menjerat gadis-gadis muda, untuk ditidurinya Ndah,” Beti memulai ceritanya, yang membuat mata Indah terbelalak seketika, menggeleng tak percaya.

“Dan bukan hanya ayahmu saja, tapi Mbak dan juga Mas Ramon ikut membantunya. Bahkan Mas Ramon dan ayahmu sering bertukar korban hasil jeratan mereka Ndah. Semua itu menjadi semakin mudah karena ayahmu sudah memasang banyak kamera tersembunyi di penginapan itu, jadi dia punya semua rekaman persetubuhannya dengan gadis-gadis yang dia jebak. Begitu pula Mas Ramon yang selalu merekam aksinya setiap kali dia menjerat mangsanya. Mbak pun terpaksa mengikuti mereka karena Mbak juga sudah terlanjur terjerumus ke pergaulan bebas sejak muda dulu, sejak Mbak diperawani oleh ayahmu,” lanjut Beti, yang semakin membuat Indah terkejut, namun tetap memilih diam karena sudah berjanji tak memotong ucapan Beti.

“Hari itu, hari kematian ayah kamu, kami bertiga sudah merencanakan untuk menjebak teman-teman kantormu, Tiara, Nadya dan Lia. Semua itu karena Mas Ramon ingin meniduri Tiara, dan suami Nadya ingin meniduri Lia. Nadya dan suaminya yang sudah berhasil dijerat oleh Mas Ramon sampai mereka menjadi seperti itu. Dan untuk memudahkan aksi kami, maka kami pilihlah penginapan ayahmu sebagai lokasi penjebakan mereka, tentunya dengan imbalan nantinya ayahmu bisa menikmati wanita-wanita yang kami ajak itu,” lanjut Beti.

“Semuanya berjalan lancar saat itu karena Mas Ramon sudah mengatur agar suami Tiara dan Lia tidak bisa ikut acara itu. Sampai malam harinya, semua masih berjalan sesuai rencana. Kami menggunakan obat tidur untuk ketiga wanita itu, terutama Tiara dan Lia yang menjadi target utama, kami lebihkan dosisnya. Tiara sudah dibawa ke salah satu kamar oleh Mas Ramon, sedangkan Lia sudah dibawa ke kamar lainnya oleh suami Nadya. Sementara itu aku dan ayahmu membawa Nadya ke kamar yang lainnya lagi.”

“Aku tak tahu pasti apa yang terjadi di kamar lain. Kalau Mas Ramon belum sempat menyetubuhi Tiara, baru menelanjanginya saja. Lia mungkin sudah disetubuhi oleh suami Nadya. Ayahmu sudah sempat menyetubuhi Nadya saat itu, sampai tiba-tiba listrik di penginapan mati. Saat itulah seseorang memasuki penginapan, dan menembakkan peluru bius ke kami semua. Saat itu, bahkan sampai sekarang, aku belum tahu siapa orang yang telah menyusup ke penginapan. Yang jelas, ketika keesokan harinya kami terbangun, hanya tinggal aku, ayahmu dan Mas Ramon saja disitu, sedangkan yang lainnya sudah menghilang, termasuk barang-barang bawaan mereka.”

“Ketika aku berusaha untuk membangunkan ayahmu, ternyata Om Yusri sudah dalam keadaan, tak bernyawa, dengan mulutnya mengeluarkan busa, seperti orang keracunan. Kami benar-benar syok waktu itu. Mas Ramon mengambil langkah cepat dengan mengurus pemakaman ayahmu tanpa membawanya ke rumah sakit, karena takut akan menimbulkan hal-hal lain yang mengundang kecurigaan polisi.”

“Setelah pemakaman ayahmu, kami sempat mampir ke rumah ayahmu untuk melihat rekaman dari kamera tersembunyi yang terpasang di penginapan, siapa tahu ada petunjuk yang bisa kami dapatkan disana. Tapi ternyata semua rekaman itu sudah terhapus, entah oleh siapa. Bukan hanya rekaman itu, karena malamnya waktu Mas Ramon akan meniduri Tiara, dia sempat mengambil beberapa foto telanjang wanita itu dan dikirimkan ke boss, tapi paginya kami lihat semua foto itu sudah hilang, bahkan dengan sebagian besar data yang ada di ponsel Mas Ramon.”

“Itulah peristiwa yang terjadi malam itu Ndah. Jadi ayahmu meninggal bukan karena serangan jantung seperti kabar yang beredar, tapi karena dibunuh oleh seseorang. Saat itu aku dan Mas Ramon mencoba untuk menerka dan mencari siapa pelakunya. Ada satu orang yang dikenal oleh Mas Ramon yang menurutnya memiliki kemampuan untuk melakukan itu. Seorang mantan polisi bernama Marto.”

“Tapi yang menjadi persoalan, beberapa hari sebelum peristiwa itu Mas Ramon sudah menyingkirkan Marto, membunuhnya dan membuang mayatnya ke jurang, sehingga kemungkinan itu menjadi nihil. Lalu setelah melaporkan semua ini ke boss kami, kami mendapat gambaran tentang orang yang dicurigai oleh boss, seseorang yang bernama Rio, polisi yang memiliki kemampuan setara dengan Marto.”

“Tapi masalahnya lagi, Rio ini diketahui sedang berada di tempat lain. Lagipula sepertinya Rio tidak memiliki motif untuk melakukan itu, kecuali dia dimintai tolong oleh salah satu dari korban-korban kami. Dan disinilah semuanya menjadi buntu. Bahkan sampai dengan kematian Mas Ramon pun, aku masih tak tahu siapa yang melakukannya.”

“Selama tiga tahun aku berada disini, aku berusaha untuk menganalisa semua peristiwa ini, tapi tentu saja tidak bisa terlalu banyak karena terbatas untuk mengakses informasi. Semua analisaku ada di buku ini Ndah, kalau kamu mau, kamu bisa bawa buku ini,” pungkas Beti sambil memberikan buku kecil yang sedari tadi dibawanya kepada Indah.

Terlihat oleh Beti saat ini Indah sedang syok. Air mata beberapa kali turun membasahi pipinya yang putih. Dia tak ingin mempercayai apa yang dikatakan oleh Beti, tapi jika memang itu benar tentu saja hal itu sangat menjadi pukulan yang berat baginya. Dia benar-benar tak menyangka ayahnya sebejat itu. Bahkan sampai Beti pun, keponakannya sendiri, diperawaninya.

Indah memang cukup lama berpisah dengan ayahnya karena ikut dengan ibunya di kota lain setelah kedua orang tuanya itu bercerai. Beberapa hari setelah ibunya meninggal, dia pun mendengar kabar bahwa ayahnya juga meninggal karena serangan jantung. Namun dia tidak bisa pulang karena sedang menjalani ujian akhir semester waktu itu. Dan saat liburan, ketika dia nyekar ke makam ayahnya, dia mendapat kabar pula bahwa Ramon terlibat dalam sebuah peristiwa penculikan, dan akhirnya dia harus tewas di tangan polisi, yang juga mengakibatkan Beti mengalami stres dan harus dirawat di rumah sakit jiwa ini.

Sampai akhirnya beberapa bulan lalu, saat dia diterima kerja dan kembali ke kota ini, dia tahu bahwa Beti masih berada di rumah sakit ini. Waktu 3 tahun nampaknya jadi waktu yang sangat lama bagi seseorang untuk dirawat di sebuah rumah sakit, bahkan untuk rumah sakit jiwa sekalipun. Karena menang sudah sangat lama tidak bertemu, dan juga sebenarnya Indah ingin menanyakan sesuatu, atau lebih tempatnya memastikan, tentang ayahnya itu, dia pun kemudian berniat untuk menemui Beti, untuk mendapatkan kebenaran yang selama ini cukup membuatnya penasaran.

Dan ternyata apa yang baru saja dia dengar dari Beti tadi sangat-sangat di luar perkiraannya. Dia berharap Beti akan berkata bahwa benar ayahnya meninggal karena terkena serangan jantung. Tapi ternyata ayahnya meninggal arena dibunuh. Dan yang lebih membuatnya terkejut lagi adalah bagaimana sebenarnya kelakuan ayahnya selama ini, yang gemar menghisap madu dari kembang-kembang yang sedang bermekaran.

Keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing. Beti merasa lega karena sudah membagi bebannya dengan orang lain, yang selama ini dia simpan sendiri. Namun bagi Indah, ini adalah sebuah kenyataan pahit yang harus dia terima. Ada perasaan sedih, marah, dan akhirnya timbullah dendam di dalam hatinya. Jika memang ayahnya benar terbunuh, siapa yang telah melakukannya? Namun ada juga sedikit perasaan lega karena akhirnya dia bisa mengetahui cerita yang sebenarnya tentang ayahnya, meskipun itu bukan cerita yang indah.

“Ndah, kamu nggak papa?” tanya Beti memecah keheningan.

“Ehh, maaf Mbak, Indah cuma masih kaget aja. Apa yang Mbak ceritain tadi bener-bener di luar perkiraan Indah Mbak, Indah bener-bener nggak nyangka kalau ayah kayak gitu, kelakuannya,” jawab Indah sambil menyeka air matanya.

“Makanya tadi Mbak nanya dulu apakah kamu yakin mau denger semuanya, karena memang seperti itulah kenyataannya Ndah,” ujar Beti.

“Iya Mbak,” sahut Indah singkat.

“Mbak, apa Mbak bener-bener nggak tahu siapa yang udah membunuh ayah?” tanya Indah, dijawab oleh gelengan kepala dari Beti.

“Bukan hanya Mbak yang bingung, tapi Tiara, Lia dan Nadya pun bingung. Karena ternyata keesokan harinya mereka terbangun berada di rumah masing-masing, dengan pakaian lengkap, padahal malam harinya sudah jelas Tiara ditelanjangi oleh Mas Ramon, dan Lia bahkan mungkin sudah sempat disetubuhi oleh suaminya Nadya,” jawab Beti.

“Tapi kenapa cuma ayah yang dibunuh? Maksud Indah, itu bukan tembakan yang ngasal kan?” tanya Indah.

“Kemungkinan besar bukan Ndah, karena kami semua, kecuali Tiara dan Lia yang memang masih terkena efek obat tidur, tertembak tepat di leher samping. Orang yang bisa melakukan itu dalam kondisi gelap gulita, pasti bukan orang sembarangan,” jawab Beti menerawang.

“Kalau untuk kenapa yang dibunuh cuma ayah kamu, Mbak sendiri juga nggak tahu alasannya. Apakah orang itu adalah orang yang kenal dan memiliki dendam dengan ayah kamu, atau dia hanya memilih korban yang akan dibunuhnya secara acak untuk pengalih perhatian, Mbak belum tahu Ndah,” lanjut Beti.

Indah pun hanya bisa terdiam. Pikirannya mencoba mencari-cari alasan, kira-kira kenapa yang menjadi korban adalah ayahnya? Indah memang tak tahu apakah ayahnya punya musuh atau tidak, dan kemungkinan Beti pun juga tak tahu karena mereka tidak terlalu sering bertemu. Saat itu ayahnya sedang bergumul dengan Beti dan Nadya. Apakah si pembunuh ini adalah orang yang dekat dengan Nadya?

“Mbak, waktu itu Mbak dan ayah sedang, hmm, bercinta dengan Mbak Nadya kan?” tanya Indah.

“Iya.”

“Apa mungkin si pembunuh ini orang yang dekat dengan Mbak Nadya? Dan dia nggak terima karena Mbak Nadya, disetubuhi sama ayah?” tanya Indah mencoba memberi kemungkinan.

“Hmm, bisa jadi sih, sayangnya Mbak belum terlalu mengenal Nadya. Jadi Mbak juga nggak tahu dengan siapa saja Nadya atau suaminya berhubungan, baik itu keluarga, teman atau yang lainnya,” jawab Beti.

“Kamu mencurigainya?” tanya Beti.

“Semuanya bisa saja dicurigai kan Mbak? Dan kecurigaan paling besar harusnya mengarah ke Mbak Nadya karena waktu itu kalian kan sedang bersama. Tapi sebenarnya ada kemungkinan lain sih, bisa aja itu orang yang kenal dengan Mbak Ara ataupun Mbak Lia, dan dia sengaja membunuh ayah untuk mengalihkan tudingan ke Mbak Nadya,” ucap Indah, membuat Beti tersenyum.

“Mbak tahu kamu pasti menganalisa ke arah sana. Mbak juga sempat punya pemikiran seperti itu, tapi sebaiknya kamu baca dulu buku ini. Semua yang Mbak tahu ada di buku itu Ndah, nanti kamu baca dan pahami ini baik-baik.” ujar Beti sambil menyerahkan buku kecil yang sedari tadi dibawanya kepada Indah.

“Hmm, ya udah deh kalau gitu Mbak, nanti biar Indah baca dulu. Bukunya Indah bawa ya Mbak?” tanya Indah.

“Iya bawa aja, siapa tahu kamu nemu petunjuk,” jawab Beti.

“Ya udah kalau gitu, Indah permisi dulu ya Mbak. Nanti Indah sempetin deh main-main lagi kesini,” ujar Indah undur diri.

“Iya hati-hati pulangnya. Tapi inget pesen Mbak tadi, kamu nggak perlu sering-sering kesini, karena kemungkinan Mbak sedang diawasi oleh seseorang, oke?” jawab Beti, kemudian bangkit dan memeluk Indah, melepas kepergian adik sepupunya itu.

Indah pun kemudian berjalan menyusuri koridor rumah sakit itu. Dalam benaknya dia berpikir untuk mencari fakta-fakta lain mengenai kematian ayahnya yang terjadi lebih dari tiga tahun yang lalu. Pencariannya akan terasa lebih mudah karena secara kebetulan wanita-wanita yang diceritakan oleh Beti tadi adalah teman-teman satu kantornya semua, jadi dia tak perlu untuk mencarinya kesana kemari.

Deg! Indah tersentak menyadari sesuatu. Seingatnya tadi dia tidak bercerita kepada Beti dimana dia bekerja, tapi kenapa Beti bisa bilang kalau Ara, Nadya dan Lia adalah teman-teman kantornya? Bagaimana dia bisa mengetahuinya? Apa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Beti? Apa ada yang masih belum diceritakan Beti kepadanya? Apakah dia harus kembali ke tempat Beti lagi untuk menanyakannya sekarang?

Tapi kemudian Indah teringat lagi perkataan Beti, bahwa kemungkinan ada yang sedang mengawasinya di rumah sakit ini. Lalu buku kecil yang diberikan kepadanya tadi, yang belum sempat dibukanya. Apakah ada sesuatu yang ingin disampaikan Beti tapi tidak secara terang-terangan di rumah sakit ini? Indah pun kemudian berasumsi jika Beti sengaja memberikanya buku kecil itu karena memang ada sesuatu yang ingin disampaikannya, karena itulah dia mengurungkan niatnya untuk kembali ke ruangan Beti.

Indah meneruskan langkahnya menuju area parkir dimana mobilnya, atau lebih tepanya mobil pinjaman dari temannya dia parkirkan disana. Dia sempat berpapasan dengan seorang wanita cantik yang kira-kira seumuran dengan Beti kakak sepupunya, mereka sempat bertukar senyum sebelum sama-sama saling melewati.

Sesampainya di dalam mobil, Indah yang penasaran dengan buku kecil yang diberikan oleh Beti tadi berniat untuk membukanya. Tapi bukan dari halaman pertama, dia justru membukanya dari halaman terakhir. Dan begitu membaca tulisan yang ada disana, Indah sempat mengernyitkan dahinya, namun kemudian tersenyum tersenyum, ternyata benar, Beti ingin menyampaikan pesan secara diam-diam. Tertulis di halaman terakhir, bakar buku ini setelah kamu baca dan mengerti semuanya, jangan ada orang lain yang tahu, siapapun.

*****

 


Safitri


Yani

Somewhere Else

“Pagi Mbak Fitri.”

“Eh pagi Mbak Yani. Anak-anak kemana ya Mbak?”

“Tadi ikut sama Mas Marto, katanya nanti siang kalau bisa minta dijemput sama Mbak, kalau Mbak Fitri udah enakan badannya.”

“Oh gitu, iya deh lihat entar ya Mbak. Masak apa hari ini Mbak?”

“Ini saya masak sayur bayem, ayam goreng sama sambel terasi Mbak.”

“Wah pas ini, temenin saya makan ya Mbak.”

Fitri memang bangun kesiangan hari ini, dia masih merasa badannya belum terlalu fit. Bahkan sudah 2 hari dia tidak masuk kerja karena kondisi badannya itu. Beberapa hari sebelumnya memang dia dikirim ke pusat untuk mengikuti serangkaian penyuluhan tentang isu kekerasan terhadap wanita dan anak-anak. Peserta dari penyuluhan itu kesemuanya adalah polwan seperti dirinya, dan berasal dari berbagai daerah di tanah air.

Meskipun hanya penyuluhan namun kegiatannya lumayan padat sehingga cukup melelahkan, dan kebetulan pula Fitri memang sedang dalam kondisi yang kurang fit sejak awal berangkat. Jadilah ketika pulang kondisi badannya semakin menurun sehingga mau tak mau dia harus beristirahat di rumah. Atasannya pun cukup memaklumi kondisinya itu. Sebenarnya Arjuna sudah tahu kondisi Fitri saat menyuruhnya berangkat, namun dia tak punya pilihan lagi karena memang saat ini hanya Fitri dan Elsa yang dia percaya, sedangkan saat itu Elsa sudah terlanjur mengambil cuti sehingga mau tak mau Fitri yang harus berangkat.

Fitri yang saat ini kondisinya sudah lebih baik dibandingkan kemarin menyantap makanannya dengan lahap, membuat Yani tersenyum sendiri, karena setelah 2 hari tak nafsu makan akhirnya dia melihat majikannya ini bisa makan dengan lahap lagi. Sudah 2 tahun lebih Yani bekerja di rumah Fitri sebagai asisten rumah tangga. Meski begitu tak ada satupun di rumah ini yang menganggapnya pembantu. Mereka sudah menganggap Yani ini seperti keluarga sendiri.

Pada awalnya Yani yang masih sungkan selalu memanggil Fitri dengan sebuatn “Ibu” dan mertua Fitri dengan sebutan “Nyonya”. Tapi ternyata panggilan seperti itu membuat mereka risih sehingga meminta Yani untuk memanggil Fitri dengan “Mbak” saja dan mertua Fitri dengan panggilan “Ibu”. Selain Yani, Zainal anaknya pun juga sudah dianggap sebagai anak sendiri oleh Fitri. Dia memperlakukan Zainal sama dengan bagaimana dia memperlakukan Andin, anak kandungnya. Dan hebatnya, meskipun masih kecil, Zainal menyadari dengan tak pernah meminta yang macam-macam, sedangkan Andin juga mengerti dengan tak pernah memprotes perlakuan ibu kandungnya kepada Zainal.

Kehidupan mereka sampai saat ini terasa cukup adem ayem, seadem dan seayem suasana kota ini sekarang. Semua bisa saling menerima dan saling melengkapi. Terlepas dari apa yang terjadi kepada Fitri yang tak diketahui oleh suami dan keluarganya, kehidupan keluarga kecil ini terlihat bahagia. Fitri, sampai sekarang memang belum bisa lepas dari cengkraman sang atasan, atau mungkin bisa dibilang belum mau untuk lepas.

Mengingat masalah cengkraman atasannya, Fitri jadi teringat BBM Elsa semalam kepadanya yang mengatakan bahwa selama Fitri tidak berada di kantor, dialah yang menjadi korban pelampiasan nafsu sang atasan. Bahkan saking nafsunya, ketika Fitri masih di pusat dan Elsa baru saja masuk kerja selepas cuti, dia langsung dibawa oleh atasannya itu ke rumahnya dan dihajar habis-habisan disana seharian, sampai-sampai alat kelaminnya terasa lecet dan terpaksa berbohong kepada suaminya ketika dimintai jatah malam harinya.

Teringat itu membuat Fitri tersenyum sekaligus gundah. Tersenyum karena geli dengan cerita dari Elsa, namun gundah karena jika nanti dia kembali masuk kerja pasti akan mendapatkan perlakuan yang tak jauh beda dengan apa yang didapatkan oleh rekannya itu. Tapi ya mau bagaimana lagi, dia sudah terlanjur masuk ke dalam cengkraman sang atasan, mau tak mau harus menerimanya, sambil berharap dirinya tak akan diperlakukan sekasar itu oleh sang atasan.

“Kok senyum-senyum sendiri Mbak?” tanya Yani mengagetkan Fitri.

“Hehe nggak kok Mbak, ini masakanmu enak banget, udah beberapa hari ini lidahku pahit kalau buat makan, kali ini kerasa enak banget Mbak, hehe,” jawab Fitri beralasan.

“Ah Mbak Fit bisa aja. Ini kan masakan biasa, ya kayak biasanya saya masak aja Mbak,” ujar Yani malu-malu.

“Beneran kok Mbak, kalau aku ngerasainnya ini enak banget. Bayangin deh Mbak beberapa hari nggak doyan makan karena sakit, nah pas udah seger gini kan makan jadi enak banget rasanya,” papar Fitri.

“Iya juga sih, efek dari kemarin sakit ya Mbak Fit jadi nggak enak buat makan,” ucap Yani.

“Iya Mbak,” sahut Fitri.

“Eh Mbak Fit aku ke belakang dulu ya, itu cuciannya belum selesai tadi soalnya, tinggal dikit lagi kok nanggung Mbak kalau nggak keburu diberesin,” ujar Yani.

“Oh gitu, ya udah nggak papa Mbak,” jawab Fitri.

Yani pun kemudian meninggalkan Fitri menuju ke ruangan tempatnya mencuci baju, yang berada persis di samping kamar mandi yang biasa dia gunakan. Tinggal menyelesaikan sedikit saja pakaian yang harus dicuci, yang itu tak lain adalah pakaian dalam miliknya dan juga milik Fitri. Sementara itu Fitri masih melanjutkan makannya yang tinggal menyisakan sedikit lagi. Setelah selesai dengan makanannya Fitripun hendak membereskan sendiri sisa makanannya saat dia mendengar suara jeritan dari belakang rumah.

“Aaaaaaaaakkkk.”

Sesegera mungkin Fitri berlari menuju ke sumber suara itu, dan begitu sampai terlihat olehnya cucian yang sudah diperas oleh Yani berhamburan kemana-mana sehingga menjadi kotor lagi. Sedangkan Yani sendiri sedang terduduk mengangkang memegangi pinggulnya sendiri sambil meringis. Melihat itu Fitri yang tadinya panik mendadak tak mampu menahan tawanya, apalagi saat melihat ekspresi kesakitan dari Yani.

“Hahaha, kenapa Mbak Yani?” tanya Fitri masih tergelak.

“Duh kepeleset Mbak, nggak lihat saya tadi ada sikat cucian disitu, mana masih ada busanya lagi kan licin jadinya. Aduuuh pinggul saya sakit banget Mbak,” jawab Yani masih sambil meringis.

“Hehe ya udah sini tak bantuin berdiri, eh..” Fitri belum sempat mendekati Yani untuk membantunya, bahkan belum selesai mengucapkan kata-katanya, matanya tertuju pada pangkal paha Yani yang terbuka sedemikian lebar memperlihatkan isinya yang tak tertutup segitiga pengaman.

Ada sesuatu yang menarik perhatian Fitri disana. Bukan, bukan karena Yani tak memakai celana dalam sehingga mata Fitri jelalatan melihat barang pribadi Yani, karena dia juga sudah punya sendiri, meskipun bentuknya sedikit berbeda. Namun yang menarik perhatian Fitri adalah sesuatu seperti noda berwarna cokelat kemerahan yang ada tepat di atas bibir kemaluan Yani. Bentuknya tidak beraturan, dan juga tidak terlalu besar. Itu bukanlah sebuah tattoo, tapi lebih seperti tanda lahir.

“Mbak Fit, kok bengong?” tanya Yani melihat Fitri hanya terdiam saja.

“Eh nggak Mbak, itu ada yang lucu, hehe,” jawab Fitri.

“Apa tho Mbak yang lucu?” tanya Yani lagi sambil mengulurkan tangannya menyambut tangan Fitri yang hendak membantunya berdiri.

“Itu Mbak, Mbak punya tanda lahir di situ ya? Hupph,” tanya Fitri sambil menarik berdiri Yani.

“Oh ini, hehe iya Mbak,” jawab Yani sekenanya, merasa malu karena mengetahui pasti tadi Fitri sudah melihat area pribadinya. Meskipun sama-sama wanita tapi tetap saja ada perasaan malu ketika area pribadinya sampai terlihat oleh orang lain.

“Itu tanda dari lahir ya Mbak?” tanya Fitri.

“Saya kurang tahu sih, saya nggak bisa inget Mbak, ya pokoknya udah ada aja tanda itu disitu,” jawab Yani.

Fitri memang pernah mendengar dari Marto bahwa Yani ini seperti hilang ingatan. Dia bahkan tak ingat kapan dan dimana Zainal dilahirkan. Yang diingat oleh Yani hanyalah ketika sudah berada di rumah terpencil yang dulu pernah dipakai untuk merawat Marto. Menurut cerita Marto dari pengakuan Yani ketika dulu dia tanyai, Yani seperti seorang yang baru saja terbangun dari tidur yang sangat panjang, dan ketika terbangun dia sudah ada di tempat itu dengan seorang bayi berada di sampingnya. Sebelum itu dia tak bisa mengingat apa-apa lagi.

Terdengar sangat aneh memang oleh Fitri. Apakah sebelumnya Yani mengalami sesuatu saat atau sesudah melahirkan Zainal sehingga dia sampai kehilangan ingatannya seperti itu? Lalu jika memang hal itu terjadi, bagaimana dengan Zainal yang baru saja lahir, tentunya anak itu perlu menyusu kepada ibunya bukan? Apalagi dari cerita Yani, saat dia terbangung bayi Zainal terlihat sehat-sehat saja, bukan seperti bayi yang sudah lama tak disusui.

Belum lagi dengan respon masyarakat desa di dekat tempat tinggal Yani. Apakah mereka tidak menaruh kecurigaan tentang Yani? Wanita ini bukanlah penduduk asli daerah itu, lagipula rumahnya pun jauh terpisah dari warga desa yang lainnya. Marto pernah mencari tahu informasi tentang Yani dari warga desa tapi tak satupun dari mereka yang tahu pasti darimana asalnya Yani. Sungguh suatu hal yang tak masuk akal.

Lalu ketika Fitri pernah menanyakan bagaimana ceritanya Yani bisa merawat Marto, wanita itu menceritakan bahwa hari itu ketika dia sedang sendiri karena Zainal pergi mencari kayu bakar, datanglah seorang pria yang tak lain adalah Rio. Rio datang dan menanyakan apakah dia melihat ada seorang pria di sekitar rumahnya, dan tentu saja dijawab tidak karena memang saat itu Yani tak melihat siapapun kecuali Rio.

Beberapa saat setelah kepergian Rio datanglah Zainal dengan tergopoh-gopoh dan memberi tahunya bahwa dia baru saja melihat seorang pria yang tergeletak tak sadarkan diri. Yani pun ikut pergi ke tempat yang dimaksud Zainal tadi, namun begitu sampai tempat itu Yani tak melihat siapapun, hingga akhirnya mereka kembali ke rumah. Dan saat tiba di rumah, ternyata disana sudah ada Rio yang sedang membopong seorang pria yang tak sadarkan diri, dengan kondisi badan penuh luka dan bentuk kaki yang aneh, menandakan ada tulang yang patah di kaki pria itu, pria yang tak lain adalah Marto.

Saat itu Rio meminta tolong kepada Yani untuk bisa memberikan tempat untuk merawat Marto, dan disanggupi oleh Yani. Berminggu-minggu selama Marto dirawat di rumahnya, Rio kerap datang membawa banyak sekali obat-obatan dan juga berbagai kebutuhan yang diperlukan oleh Marto maupun Yani dan Zainal. Rio bahkan memberi Yani uang yang cukup banyak dengan alasan untuk membeli apa saja yang diperlukan untuk merawat Marto selagi dia tidak ada disana.

Sosok Yani memang misterius, bahkan Fitri sempat mencurigainya di awal-awal tinggal di rumahnya. Apalagi mendengar cerita yang tak masuk akal dari Marto tentang keadaan Yani dan Zainal. Namun sampai sekarang, Fitri tak pernah melihat hal-hal yang aneh dari Yani, semua berjalan dengan normal. Sikap dan tutur katanya pun selalu baik dan tulus. Sorot matanya juga menunjukkan kalau setiap omongannya itu adalah jujur dan tidak dibuat-buat, sehingga lama kelamaan Fitri mulai mengesampingkan kecurigaannya itu, meskipun tak melupakannya begitu saja.

Yani dan Zainal dibawa oleh Marto ke rumah ini tanpa identitas sama sekali, sehingga mau tak mau Fitri dan Marto harus membuatkan kartu identitas baru untuk Yani dan membuatkan akte kelahiran untuk Zainal. Yang menjadi permasalahan adalah mereka tidak tahu pasti kapan tanggal lahir dari Yani dan Zainal, hingga akhirnya mereka mengira-ngiranya saja. Dan untungnya semua itu berjalan lancar karena Fitri mengenal cukup baik perangkat-perangkat yang mengurusi kartu-kartu identitas itu.

Kini sudah lebih dari 3 tahun mereka tinggal bersama, tanpa ada satupun masalah yang pernah datang. Semua bisa hidup dengan begitu rukun dan saling membantu satu sama lain. Dengan adanya Yani di rumah ini membuat Fitri bisa lebih tenang meninggalkan anak dan mertuanya, sehingga ada yang membantu pekerjaan-pekerjaan di rumah, kadang juga Yani ikut mertuanya mengantarkan Andin dan Zainal ke sekolah.

Fitri kembali terusik dengan apa yang tadi sempat dia lihat, yaitu tanda lahir Yani. Bukan hal yang mengherankan sebenarnya ketika seseorang mempunyai tanda lahir, seperti apapun bentuknya dan dimanapun letaknya. Namun tanda lahir yang cukup unik itu mengingatkan Fitri akan cerita Marto suaminya tentang Astri, mantan istrinya yang sudah lama sekali meninggal. Marto bercerita bahwa salah satu ciri khas yang dimiliki Astri adalah sebuah tanda lahir yang terletak di sekitar daerah kewanitaannya. ‘Ah paling cuma kebetulan saja kalau mereka memiliki tanda lahir di tempat yang sama,’ batin Fitri.

Fitri sempat tersenyum dan menerka-nerka apa jadinya jika Marto melihat tanda lahir yang dipunyai oleh Yani, apakah dia akan teringat kembali tentang mantan istrinya? Tapi kalau Marto sampai bisa melihat tanda lahir milik Yani, itu artinya Marto juga akan melihat area paling pribadi milik Yani. Fitri langsung saja menepis angan-angan itu dan tersenyum dibuatnya. Senyumnya itu sedari tadi tak lepas dari pengelihatan Yani yang kebingungan dengan sikap aneh majikannya itu.


Tiara


Kamila

Di sebuah pusat perbelanjaan yang cukup besar di kota ini, nampak dua orang wanita beserta anak-anak mereka sedang asyik berbelanja. Kedua wanita itu mendorong troli belanjanya sedangkan seorang anak lelaki mendorong sebuah stroller dimana ada seorang anak bayi perempuan sedang tertawa-tawa di dalamnya.

“Ardi sayang, mau terus dorongin keretanya dedek Tika apa bantuin dorong belanjaannya Bunda?” tanya Ara.

“Ardi mau sama dedek Tika aja ya Bun?” jawab sang anak.

“Ya udah kalau gitu, tapi pelan-pelan ya sayang,” ujar Ara, yang dijawab dengan anggukan menggemaskan oleh anaknya.

Kemudian dengan berjalan santai, Ardi berada di tengah-tengah bunda dan tantenya yang sedang berbelanja, sambil mendorong stroller adik sepupunya itu dengan hati-hati. Troli yang dibawa masing-masing oleh Ara dan Mila juga nampak sudah terisi separuhnya. Mereka memang sedang belanja bulanan, seperti yang rutin mereka lakukan selama ini.

Sejak menikah dengan Sakti dan pindah ke kota ini, hampir setiap bulan memang Mila selalu pergi belanja kebutuhan bulanan bersama dengan Ara. Kadang suami keduanya menemani, terlebih saat Ardi masih bayi ataupun saat Mila masih mengandung Tika. Tapi hari ini hanya mereka pergi berdua saja bersama anak-anaknya karena para suami mereka masih terlelap akibat semalaman begadang nonton el classico, dimana Budi adalah pendukung si putih dari ibukota, sedangkan Sakti pendukung si merah biru dari Catalan.

Adanya pertandingan klasik itu maka semalam Budi mengajak Ara dan Ardi untuk menginap di rumah Wijaya, karena sudah sejak dari jaman kuliah dulu dia dan Sakti tak pernah melewatkan pertandingan itu, dan tentu saja diselingi dengan taruhan. Namun karena sama-sama dijewer oleh istri mereka masing-masing, maka sekarang tidak ada lagi taruhan-taruhan itu, paling yang kalah bakal kena bully sampai sebosannya yang menang. Maka dari itulah hari ini Ara dan Mila beserta anak-anak mereka berbelanja diantarkan oleh Sarbini.

Di waktu-waktu sebelumnya ketika mengantarkan Ara dan Mila, kadang Sarbini juga ikut berbelanja, namun kemarin istrinya sudah belanja sehingga hari ini selagi kedua ibu muda itu berbelanja, Sarbini lebih memilih untuk menghabiskan waktunya dengan menunggu di sebuah café yang berada di dalam supermarket itu. Dua cangkir kopi sudah dia kosongkan, dan baru saja datang cangkir ketiga di mejanya.

Sebenarnya hari ini Sarbini masih agak mengantuk karena semalam juga ikut begadang nonton sepak bola, namun karena tugas hari ini adalah mengantarkan para bidadari cantik ini maka rasa kantuk itu dia buang jauh-jauh dulu, karena bisa mengantarkan mereka berdua bersamaan seperti ini sangat jarang dia lakukan. Bisa bersama dengan dua orang wanita yang mulai memenuhi alam fantasinya seperti ini tentu saja tak akan dia lewatkan begitu saja. Apalagi semakin hari dia semakin terobsesi dengan kedua majikannya itu.

Namun sampai saat ini obsesi dan fantasi Sarbini hanyalah sampai disitu saja. Paling jauh untuk pelampiasannya adalah Tata, dimana dia akan dipakaikan pakaian Ara maupun Mila ketika akan disetubuhi oleh Sarbini. Pria tua itu belum berani berbuat lebih jauh karena memang sangat sulit untuk mendapatkan kesempatan itu. Ara sudah tinggal bersama Budi dan dia juga bekerja, jadi waktu untuk bisa menemuinya sangat terbatas. Sedangkan Mila tinggal bersama dengan Wijaya dan Aini, juga pembantu mereka, ditambah lagi dengan masih mengurusi Tika sehingga sulit juga untuk bisa mencari waktu khusus dengan Mila.

Dia sadar harus bisa menahan dirinya dulu untuk saat ini. Dia tak mau bertindak gegabah, seperti yang dikatakan oleh Tata. Saat ini dia mempercayakan kepada Tata untuk membuat rencana yang bisa menaklukan kedua majikannya itu. Sarbini tidak tahu kenapa Tata mau membantunya, namun dia juga tidak terlalu peduli apapun alasan Tata, yang jelas tujuan Sarbini hanyalah ingin menikmati tubuh indah kedua majikannya itu.

Saat Sarbini sedang larut dalam lamunan mesumnya, kedua majikannya itu masih asyik dengan kegiatan belanja mereka. Entah sudah berapa lama Ara dan Mila berkeliling mencari kebutuhan mereka. Mungkin ini juga yang membuat Budi dan Sakti merasa malas jika harus menemani istri mereka belanja, lama.

Ara dan Mila beberapa kali tersenyum menahan tawa melihat tingkah gemas Ardi. Dengan tingkah polosnya Ardi mencoba untuk bermain dan membuat adik sepupunya itu tersenyum. Dan ternyata tak sia-sia, karena adik sepupunya yang masih bayi itu malah cekikikan melihat tingkah-tingkah Ardi. Semua orang yang berada di sekitar mereka pun mau tak mau ikut tersenyum melihat kelakuan kedua bocah ini.

“Loh, Mbak Ara?” sapa seorang lelaki tiba-tiba.

“Eh, oh Pak Risman tho, kirain siapa, hehe. Sama siapa Pak?” tanya Ara ramah.

“Ini, sama ponakan. Bu Ara sama siapa?” tanya balik Pak Risman.

“Ini Pak, sama anak dan kakak ipar saya,” jawab Ara sambil menunjuk Mila.

Sesaat Mila, dan juga Pak Risman terdiam. Keduanya saling memandang dengan tatapan yang sama-sama terkejut, terutama Mila. Mila melihat lelaki itu lagi, lelaki yang ingin dia lupakan. Mila juga melihat wanita yang bersama dengan lelaki itu, wanita yang sangat dia kenal, dan dia bukanlah keponakan seperti yang dibilang oleh lelaki itu tadi.

“Eh, Mila tho? Walah kebetulan banget, udah lama kita nggak ketemu yaa,” ujar Pak Risman mengulurkan tangannya.

“Eh iya Pak, udah lama,” jawab Mila tergagap, sambil membalas uluran tangan Pak Risman.

“Loh, kalian saling kenal?” tanya Ara kebingungan.

“Iya Mbak Ara. Mila ini dulu kan kost di tempat saya, bareng sama ponakan saya ini. Oh iya, kenalin ini namanya Ratna,” jawab Pak Risman memperkenalkan wanita muda yang bersamanya kepada Ara.

“Lho emang Pak Risman punya kost-kostan?” tanya Ara lagi.

“Punya Mbak, sebenarnya cuma rumah biasa dulunya, tapi karena deket sama kampus dan kebetulan tanahnya yang kosong masih cukup luas ya saya bangun beberapa kamar lagi, saya buka buat kost gitu,” jawab Pak Risman menerangkan.

“Oh, kirain Bapak cuma ngurusin villa yang sering kami pakai itu Pak, hehe. Maaf Pak saya nggak tahu soalnya,” ujar Ara.

“Iya Mbak nggak papa. Oh iya, tadi Mbak Ara bilang Mila ini kakak iparnya, emang kapan nikahnya Mil kok nggak undang-undang?” tanya Pak Risman.

“Eh, udah hampir tiga tahun Pak. Maaf kemarin Mila nggak ngundang, soalnya ponsel Mila yang dulu hilang jadi kontaknya hilang semua, lagian acaranya di Surabaya Pak,” jawab Mila, masih sedikit tergagap, kebingungan mencari alasan.

“Oh gitu, pantesan nomor kamu pernah saya hubungi tapi udah nggak aktif lagi. Ya udah kalau gitu minta nomor kamu dong biar kita bisa kontek-kontekan lagi,” pinta Pak Risman, sedikit tersenyum.

“Ehm iya Pak, ini nomor saya,” Mila terpaksa memberikan nomornya kepada Pak Risman. Bisa-bisa Ara akan menaruh curiga kepadanya kalau saja dia tak memberikan nomornya, dan bisa-bisa dia akan diinterogasi oleh adik iparnya ini.

“Oke kalau gitu, kami duluan ya Mbak Ara, Mila, ini udah selesai kok belanjanya,” ujar Pak Risman.

“Iya Pak silahkan,” jawab Ara.

Mila hanya mengangguk sambil tersenyum dipaksakan. Sungguh sebuah kebetulan yang sama sekali tidak dia harapkan. Salah satu orang yang tak ingin lagi ditemui oleh Mila, salah satu orang yang telah merusak masa lalunya, orang yang benar-benar ingin dilupakannya. Saat semuanya sudah berjalan dengan begitu lancar, kini malah tiba-tiba dia harus bertemu lagi dengan orang itu.

Mau tak mau pertemuan ini kembali membuka memori buruk yang sebenarnya sudah dikubur oleh Mila. Memori buruk dalam salah satu periode paling kelam dalam hidupnya. Dan entah kenapa, dia merasa bahwa pertemuannya dengan pria itu hari ini akan kembali memori buruk itu ke hari-hari yang akan dia jalani kedepannya. Ketakutan akan hal itu perlahan mulai timbul menyeruak dalam pikiranya.

Namun satu pertanyaan yang muncul di benak Mila adalah tentang wanita muda yang bersama dengan Pak Risman tadi, Ratna. Bagaimana ceritanya Ratna bisa bersama dengan Pak Risman hari ini? Ratna seharusnya sudah tidak berada lagi di kota ini, karena seingat Mila, Ratna sudah lebih dulu pergi meninggalkan kota ini dibandingkan dengannya, seminggu sebelum dia pulang ke kota kelahirannya. Apakah dia ada disini karena kebetulan sedang main? Atau ada hal lain?

Pertemuannya dengan Pak Risman dan Ratna ini benar-benar telah merubah mood-nya sehingga mengajak Ara untuk segera menyudahi acara belanja mereka. Ara pun menyetujui karena memang apa yang ada dalam daftar belanjanya sudah terbeli semua. Setelah membayar seluruh belanjaan, mereka pun segera menuju ke tempat dimana Sarbini menunggu dan segera mengajak sang supir itu untuk segera pulang.

Dalam perjalanan pulang Mila lebih banyak diam, pandangannya tertuju ke luar jendela. Entah apa yang dia lihat namun saat ini pikirannya sedang menerawang jauh ke kejadian yang sudah lama sekali terjadi. Kejadian yang kembali teringat akibat pertemuannya dengan Pak Risman dan Ratna beberapa saat yang lalu.

“Mbak, Mbak Mila,” panggil Ara.

“Eh iya, kenapa Ra?” jawab Mila.

“Yee ditanyain malah ngelamun,” ujar Ara.

“Hehe, nggak kok. Nanya apa Ra?” tanya Mila.

“Itu lho soal Pak Risman. Mbak Mila dulu kost disana? Emang rumahnya daerah mana sih Mbak?” tanya Ara.

“Oh iya Ra, dulu aku dari awal kuliah sampai lulus kost disana. Rumahnya deket sama kampusku kok, daerah lembah,” jawab Mila.

“Oh gitu, kirain rumahnya di daerah atas sana,” ujar Ara.

“Lha kamu kok bisa kenal sama dia Ra?” tanya Mila penasaran.

“Iya Mbak, dia kan ngelola salah satu villa di daerah atas, nah kantorku kalau ngadain acaranya biasanya ke villa itu, dan kebetulan aku sama temenku Lia yang sering ngurusin, makanya kenal,” jawab Ara.

Obrolan mereka pun berlanjut sepanjang perjalanan. Sebenarnya Mila enggan untuk membahas pria itu, namun karena Ara terus saja bertanya mau tak mau dia harus menjawabnya. Hingga beberapa saat sebelum sampai di rumah, ponsel Mila bergetar menandakan ada sebuah SMS yang masuk, begitu dibacanya SMS itu matanya terbelalak.

Mila, ini Risman, simpen nomor ini ya. Aku kangen banget sama kamu sayang, kapan-kapan kita main lagi ya, hehe.’

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part