web hit counter

Mengalahkan Gadis Bagian 2 Part 8

0
506

Mengalahkan Gadis Bagian 2 Part 8

Gathering?

“Ayah, weekend besok jadi ikut acara gathering kan?”

“Ya jadi dong Bun, kenapa emangnya?”

“Nggak, ini si Eko mau mastiin aja, katanya buat finalisasi booking penginapan sama bus,” Ara pun kembali sibuk dengan ponselnya membalas pesan dari Eko.

“Oh gitu. Kok nggak pakai mobil sendiri sendiri aja sih?”

“Pak Hamid bilang sih biar lebih akrab Yah. Lagian kata Eko juga kalau kita bawa mobil sendiri sendiri entar ribet parkirnya. Penginapannya nggak nyediain tempat parkir yang luas.”

“Ooh gitu,” Budi hanya manggut-manggut saja mendengar jawaban dari Ara.

Sebenarnya dia sudah tahu itu dari Eko. Beberapa hari yang lalu dia mendapat kabar dari Eko mengenai penginapan yang akan mereka tempati selama acara gathering itu. Eko meminta saran dan pertimbangan kepada Budi, karena penginapan itu bisa jadi membangkitkan kenangan buruk bagi Ara, juga Nadya dan Lia. Eko sendiri sebenarnya ingin mencari tempat lain namun teman-teman panitia yang lain sepertinya sudah terlanjur menyukai tempat itu.

Karena yang lain memang sudah sepakat untuk memilih penginapan itu, maka Budi pun menyarankan kepada Eko untuk mengikutinya saja. Perkara nanti seperti apa reaksi Ara akan dia tangani sendiri, sedangkan untuk Nadya dan Lia, dia tak terlalu memikirkannya karena dia juga sudah tahu dari Eko kalau keduanya tidak akan ditempatkan di penginapan itu.

Tak lama kemudian mobil yang dikemudikan Budi sampai di depan gerbang kantor Ara. Ara pun segera merapikan diri dan mengambil tasnya, lalu menyalami dan mencium tangan suaminya.

“Bunda turun dulu ya, Yah.”

“Iya, semangat kerjanya ya sayang,” Budi mencium kening Ara sesaat sebelum istrinya itu turun dari mobil.

“Iya, Ayah juga. Hati-hati di jalan Yah.”

Setelah melambaikan tangan dan mobil suaminya bergerak meninggalkannya, Ara pun berjalan santai memasuki gerbang kantornya. Terlihat dua orang satpam yang cukup dikenalnya karena sudah cukup lama bekerja disana. Ara menyapa keduanya untuk sekedar berbasa-basi. Suasana kantor ini memang tak banyak berubah seperti saat pertama kali Ara masuk bekerja. Orang-orangnya baik, lingkungannya nyaman dan asri, membuatnya benar-benar betah bekerja disini.

Memasuki ruangan kantornya, seperti biasa sudah ada gadis cantik berkerudung yang sudah duduk manis di kursinya. Pagi ini dia terlihat sedang berbincang dengan seorang lelaki yang kini cukup dekat dengan Ara. Cukup dekat setelah pada peristiwa beberapa tahun yang lalu dia turun andil dalam membantu Ara dan keluarganya terlepas dari kejahatan yang menimpa mereka. Lelaki itu tak lain adalah Eko.

“Haii,, pagi Indah, pagi Ko.”

“Eh mbakku yang cantik udah datang, pagi Mbak.”

“Pagi Ra.”

Ketiganya pun bersalaman. Dan seperti biasanya, Indah selalu saja mencium tangan Ara. Gadis itu benar-benar menganggap Ara seperti kakaknya.

“Lagi ngobrolin apa nih kayaknya seru banget?” tanya Ara kepada Indah dan Eko setelah dia menghempaskan pantat di tempat duduknya.

“Ini lho Ra, lagi bahas masalah gathering besok. Aku sama Indah kan kan panitianya,” Eko mengambil kursi dan duduk di dekat mereka berdua.

“Oh iya ya, yang jomblo jomblo yang jadi panitia. Ehem, bisa-bisa abis acara gathering nanti kalian jadi nggak jomblo lagi nih, haha,” canda Ara yang ditanggapi berbeda oleh keduanya. Indah cemberut namun merona merah wajahnya sementara Eko justru tertawa terbahak-bahak.

“Ih Mbak Ara gitu deh. Nggak kok, lagian kan Mas Eko udah ada calonnya.”

“Kan masih calon Ndah, belum resmi ini.”

“Iya Ndah, sebelum janur kuning melengkung, aku masih milik umum kok.”

“Trus kalau janurnya udah melengkung gimana Ko?”

“Ya aku nyari janur satu lagi, buat dilengkungin sama Indah, haha.”

Ara dan Eko begitu kompak menggoda Indah sampai-sampai gadis cantik itu semakin merah wajahnya. Tak berapa lama kemudian mulai berdatanganlah rekan kerja mereka. Semakin ramai, semakin bertambah yang menggoda Indah membuat gadis itu semakin tak bisa berkutik, namun lama-lama dia ikut tertawa juga karena pandainya beberapa orang dalam melemparkan joke-joke segar.

******

On The Weekend

Budi dan Ara sedang duduk di teras rumahnya saat Pak Sarbini datang dengan mengendarai sepeda motornya. Pagi ini mereka akan diantar oleh Pak Sarbini sebelum nantinya berangkat bersama-sama ke tempat acara family gathering yang diadakan oleh kantor Ara. Setelah berbasa-basi sejenak mereka pun segera berangkat karena barang-barang bawaannya sudah sedari tadi dimasukan ke bagasi mobil oleh Budi.

Tak sampai 15 menit perjalanan mereka pun sudah sampai di kantor Ara. Terlihat sudah banyak rekan kerja Ara beserta keluarga mereka yang datang. Para panitia juga sudah berkumpul dan terlihat sibuk, mulai dari mengatur pembagian tempat duduk peserta hingga mempersiapkan keperluan yang akan mereka bawa untuk acara ini.

Setelah semuanya datang dan diberikan pengarahan oleh panitia, kedua bus yang mengangkut peserta itu pun berangkat, menyusul mobil panitia yang sudah terlebih dahulu berangkat. Jalanan mulai padat saat memasuki kawasan yang berbukit dan berkelok-kelok. Karena ini adalah long weekend, maka banyak sekali kendaraan berplat nomor luar kota. Namun untungnya kondisi jalan yang cukup padat itu tak sampai menimbulkan kemacetan.

Perjalanan ke tempat tujuan mereka memang cukup panjang, namun jadi tak terasa karena masing-masing mulai asyik bercengkerama dengan rekan-rekannya. Meskipun hampir setiap hari bertemu di kantor, namun karena sekarang mereka bersama dengan keluarganya masing-masing, ada saja tema untuk dibicarakan, hingga tak terasa dua jam sudah terlewati dan mereka kini sudah sampai ke tempat tujuannya.

Setelah semua turun dari bus, kembali panitia memberikan pengarahan untuk pembagian penginapan. Setelah itu mereka pun menuju ke penginapan masing-masing untuk beristirahat sejenak, sebelum nantinya berkumpul lagi untuk makan siang bersama. Begitupun dengan Ara dan Budi. Dengan menggendong Ardi, mereka berdua berjalan menuju ke tempat dimana mereka akan menginap untuk 2 malam ini.

Ara sempat berhenti dan terdiam beberapa saat sebelum memasuki penginapan ini. Dia tidak asing dengan tempat ini, tempat dimana sekitar 3 tahun lalu pernah ia inapi bersama Lia dan yang lainnya. Tempat dimana dia pernah dilecehkan oleh Ramon. Beruntung, kemudian ada seseorang yang menolongnya sebelum Ramon berbuat lebih jauh lagi.

Melihat istrinya yang terdiam, Budi segera mendekatinya dan memegang lembut pundak Ara. Ara tersentak dari lamunannya, memandang Budi yang tersenyum hangat kepadanya. Senyuman yang selama ini mampu memberinya ketenangan dan kehangatan dalam situasi apapun. Dan kini, melihat senyuman suaminya, Arapun ikut tersenyum, karena dia tahu, kali ini dia bersama suaminya, kali ini dia dilindungi oleh suaminya.

“Apa mau minta tuker aja Bun?” Budi mengangkap kegelisahan Ara. Dia tahu apa yang terjadi pada istrinya di penginapan ini beberapa tahun yang lalu.

“Eh, nggak Yah. Bunda cuma ngerasa, hmm…”

“Iya, Ayah tahu kok. Kalau Bunda mau biar Ayah bilang ke Eko.”

“Nggak usah, entar malah repot lagi ngaturnya,” meskipun kurang sreg dengan penginapan ini tapi Ara juga tak enak jika harus kembali merepotkan panitia.

“Yaudah kalau gitu, yuk masuk. Bunda tenang aja, tempat ini bukan tempat yang sama seperti dulu, tempat ini udah aman sekarang,” Budi menepuk-nepuk pundak Ara, menenangkan istrinya itu.

“Maksudnya?” Ara menatap suaminya bingung, belum paham dengan maksud dari perkataan Budi.

“Sebelumnya Ayah udah dikasih tahu sama Eko kalau kita bakalan nginep disini, makanya Ayah sekalian minta ke Eko buat ngecek tempat ini, dan Eko bilang udah aman. Percaya kan sama Eko?” penjelasan Budi yang kemudian dijawab dengan anggukan oleh Ara.

“Lagian yang ngelola udah ganti orang kok Bun, jadi tenang aja. Yuk masuk, kasian nih jagoan kita, udah pengen rebahan kayaknya,” Budi menunjukkan wajah Ardi yang nampak kecapekan ke Ara, sang ibu tersenyum geli.

Ara sudah tak lagi merasa gundah. Meskipun masih sedikit terbayang kenangan buruk itu, namun kini dia benar-benar yakin lebih terlindungi oleh suaminya. Apalagi ternyata, suaminya sudah menyuruh Eko untuk memeriksa penginapan ini terlebih dahulu. Tentu saja diapun mempercayai Eko, orang yang 3 tahun lalu juga sudah membantunya untuk lepas dari jeratan serta jebakan Ramon dan Fuadi.

Ketika masuk, penginapan ini memang telah benar-benar berubah. Seingat Ara dulu ada 5 kamar, namun rupanya pengelola penginapan ini sudah merenovasinya hingga tinggal ada 4 kamar saja, dan memang terasa lebih nyaman. Sekarang Ara merasa beruntung karena ditempatkan disini, karena tempat yang lain adalah penginapan dengan kapasitas yang lebih banyak, sehingga pastinya akan lebih ramai. Disini dia akan bersama dengan Kartika dan keluarganya, Wulan dan keluarganya, serta Indah dan Tasya sebagai panita.

Kecuali Indah dan Tasya, semua sudah berkumpul disini. Masih ada waktu lebih dari 2 jam untuk beristirahat sebelum nantinya mereka berkumpul lagi. Semua berharap acara gathering ini bisa membuat mereka semakin dekat satu sama lain, bukan hanya dengan sesama karyawan namun juga dengan keluarga mereka masing-masing. Namun siapa sangka, bahwa ternyata acara kali ini akan membuat sebuah perubahan untuk seseorang.

*****

Disaat yang bersamaan, di sebuah private room rumah makan mewah di kawasan kota, nampak 5 orang pria baru saja selesai menyantap makanan mereka. Kelimanya nampak serius membicarakan sesuatu di ruangan yang kini mulai dipenuhi kepulan asap rokok itu.

“Gimana Ton, anak buah udah bisa kamu kumpulkan semua?” tanya Bastian disela-sela kepulan asap rokoknya.

“Beres boss, yang jelas semua pentolannya udah pada kepegang sama saya. Begitu denger nama boss dan rencana kita, mereka langsung bersedia buat gabung,” Tono memberikan penjelasan, sambil mulutnya masih sibuk mengunyah buah-buahan.

“Bagus, dengan begitu kita bisa mulai bergerak,” Bastian menatap Rio, Steve dan David yang sedari tadi hanya diam.

“Jadi langkah selanjutnya gimana boss?” tanya Tono yang nampak sudah tak sabar untuk memulai aksi mereka.

“Yang jelas, kita bebaskan dulu keempat orang itu, biar para anak buahmu itu tambah semangat.”

“Caranya boss? Pengamanan mereka ketat banget lho, kalau kita paksain, bisa heboh nanti.”

“Kalau masalah itu kamu tenang aja. Bukan kamu atau anak buah kamu yang bakal beraksi. Aku juga nggak mau kalau sampai bikin heboh, bisa berantakan rencana kita nanti Ton,” ujar Bastian disambut oleh senyum dari Rio, Steve dan David.

Melihat ketiga orang yang lainnya tersenyum, membuat Tono pun ikut tersenyum. Dia memang belum begitu mengenal ketiga orang itu, tapi kalau sampai menjadi orang kepercayaan bossnya, sudah tentu ketiganya bukanlah orang sembarangan. Dan Tono yakin, ketiganyalah, atau paling tidak salah satu dari ketiga orang itu yang akan membebaskan keempat temannya dari penjara.

Bastian yang melihat Tono pun ikut tersenyum. Dia sudah tahu apa yang ada di benak Tono, namun bukan itu yang menjadi rencananya. Bukan Rio, Steve ataupun David yang akan dia tugasi untuk membebaskan keempat orang yang akan menjadi mata angin selanjutnya.

Dia sudah memiliki rencana lain, dan orang lain yang akan ditugasinya. Tentu saja orang itu adalah orang dengan potensi resiko terkecil sehingga operasi pembebasan para napi itu nanti tidak akan diketahui, bahkan disadari oleh pihak yang berwajib. Semua sudah direncanakan dengan detail oleh Bastian, dan sampai sekarang, belum ada satupun rencananya yang meleset.

Kelima pria itu masih melanjutkan obrolannya, dimana kakak beradik Steve dan David lebih banyak diam mendengarkan. Obrolan kali ini lebih banyak membahas rencana-rencana yang akan mereka lakukan setelah keempat calon mata angin itu dibebaskan. Jika saat ini semua terasa berjalan lambat, namun tidak begitu jika keempatnya sudah bebas. Mereka sudah menyusun serangkaian rencana jahat, sangat jahat.

*****

Budi sedang bersiap saat Ara masih membangunkan si kecil Ardi. Sejak sampai di kamar tadi, Ardi memang langsung merebahkan dirinya di kasur dan tertidur. Nampak sekali anak itu kelelahan, apalagi memang sebenarnya kondisi badannya belum benar-benar sehat karena baru saja sembuh dari sakitnya.

Setelah Ardi bangun, Budi lah yang kemudian menggendongnya. Mereka akan menuju ke salah satu penginapan yang memang memiliki ruang makan paling luas, yang menjadi tempat untuk makan siang mereka. Terlihat bahwa Wulan dan keluarganya, serta Kartika dan keluarganya juga sudah bersiap, sedangkan Indah dan Tasya sudah sedari tadi pergi untuk mempersiapkan acara lainnya.

Bersama-sama mereka pun pergi ke tempat makan siang. Rekan-rekan mereka banyak yang sudah berkumpul disana, suasana begitu ramai sehingga mereka pun segera berbaur. Menu untuk siang itu tentu saja menu-menu makanan laut. Ada beberapa diantaranya yang berbeda, karena alergi makan seafood.

Setelah acara makan siang, panitia mengumumkan kalau acara selanjutnya adalah bebas, para peserta dibolehkan untuk melakukan kegiatannya masing-masing namun sebisa mungkin untuk tidak terlalu jauh dari area penginapan. Akhirnya beberapa ada yang memilih untuk jalan-jalan ke pantai yang sudah mulai ramai oleh pengunjung, ada juga yang memilih untuk beramah tamah dengan yang lainnya.

Kondisi Ardi yang terlihat lemas membuat Budi memilih untuk ngobrol saja dengan keluarga dari rekan kerja istrinya, sedangkan Ara meminta ijin Budi untuk pergi ke pantai karena tadi diajak oleh Nadya dan Lia. Ketiga wanita ini awalnya hanya ngobrol-ngobrol biasa saja, sampai akhirnya mereka tiba di sebuah tempat yang tidak terlalu ramai, Nadya menanyakan perihal penginapan Ara.

“Eh Ra, kamu nginepnya di tempat yang, hmm dulu itu ya?” Nadya nampak ragu-ragu menanyakan hal itu pada Ara.

“Iya Nad, di tempat yang dulu,” jawab Ara singkat.

“Kamu nggak apa-apa Ra disitu? Kenapa nggak minta tukeran aja sama yang lain?” tanya Lia menambahkan.

“Nggak kok nggak apa-apa. Tempatnya udah beda sekarang, dari luar sih masih kelihatan sama, tapi dalamnya udah bener-bener beda. Nggak enak juga lah kalau minta tuker gitu, entar malah repot kalau ditanya alasannya kan. Lagian, peristiwa itu kan juga udah lama,” jawab Ara, menangkap apa yang dimaksud oleh kedua sahabatnya itu.

“Hmm iya sih, tapi aku sempet kepikiran lho tadi pas ngelihat penginapan itu. Tahu tahu keinget aja gitu Ra,” ujar Nadya sambil matanya menatap ke laut lepas.

Diantara mereka bertiga, memang Nadya lah yang paling mengingat peristiwa itu, meskipun tidak semuanya. Lia dan Ara memang saat itu diberikan obat tidur dengan dosis yang lebih banyak dibandingkan Nadya, sehingga sama sekali tidak ingat apa yang terjadi. Sedangkan Nadya, dia masih ingat bagaimana disetubuhi oleh Pak Yusri si pemilik penginapan terdahulu.

Dia kembali mengingat pada awalnya betapa terkejutnya dia mendapati dirinya sudah telanjang, hanya memakai kerudungnya saja. Dan saat itu, sebuah penis yang keras sedang bergerak dengan cepat keluar masuk di vaginanya. Dia yang awalnya menolak, kemudian terhanyut dan mengikuti permainan gila itu. Dia bahkan sampai mendapatkan 2 kali orgasme saat digagahi oleh Pak Yusri.

Dia juga teringat malam itu dirinya justru semakin terangsang saat mengetahui suaminya sedang menyetubuhi sahabatnya, Lia. Setelah peristiwa itu, Hendri suaminya pun mengakui kepadanya apa yang telah terjadi malam itu. Hendri bahkan menunjukkan kepadanya foto-foto telanjang Lia ketika sedang disetubuhi. Hendri berkata padanya bahwa suatu saat ingin kembali menikmati tubuh indah sahabatnya itu. Nadya menyanggupi untuk membantunya, namun sampai sekarang hal itu belum sekalipun terwujud.

Masih ada satu hal yang menjadi pertanyaan Nadya yang sampai sekarang belum terjawab. Dia masih penasaran, apakah malam itu, Ara berhasil disetubuhi oleh Ramon. Dia tak sempat menanyakannya karena setelah kejadian di penginapan itu dia jarang berkomunikasi dengan Ramon, hingga akhirnya terjadilah peristiwa malam tahun baru berdarah yang menewaskan banyak orang, termasuk Ramon.

Meski begitu, banyangan bahwa Ara telah dilecehkan, atau bahkan telah disetubuhi oleh Ramon sudah meracuni pikiran suaminya, sehingga kerap kali Hendri menyetubuhinya dengan membayangkan Ara. Nadya tak terlalu peduli sebenarnya, namun fantasi-fantasi Hendri sedikit banyak mengganggu pikirannya, bahkan dia juga dimintai bantuan oleh Hendri agar suaminya itu bisa merasakan tubuh Ara juga. Permintaan yang sulit karena dia tahu bagaimana Ara.

“Heh Nad, kok malah melamun sih,” tegur Lia mengagetkan Nadya.

“Hehe, nggak Li, aku keinget aja lagi sama peristiwa itu. Kalian berdua beneran nggak inget apa-apa?”

“Nggak tuh, seingetku sih tahu tahu aku udah dirumahku aja, di kamar, sama kayak kalian,” jawab Ara, yang kini pandangannya juga tertuju ke arah laut.

“Iya, aku sama sekali nggak inget. Cuma ya itu, kayak yang pernah aku ceritain ke kalian, pas aku bangun, kerasa lengket-lengket dan ngilu gitu vaginaku, sama kayak Nadya. Kamu nggak ya Ra?” kembali Lia menanyakan pertanyaan yang pernah dia tanyakan kepada Ara beberapa tahun lalu.

“Nggak, sama sekali nggak,” Ara menggelengkan kepalanya. Dia memang masih menutupi kalau saat itu, saat dirinya terbangun, ada lelehan sperma yang mulai mengering di wajahnya, dan juga bekas cupangan di kedua buah dadanya.

Sampai saat ini Ara belum mengetahui siapa yang melakukan itu padanya. Pikirannya tertuju pada Rio, tapi apakah mungkin dia yang melakukannya? Karena menurut Budi, Rio lah yang telah menolongnya, dan kedua sahabatnya, meskipun itu terlambat untuk Lia dan Nadya. Lagi pula, Rio masih memiliki ikatan saudara dengannya, meskipun jauh. Kalau bukan Rio, lalu siapa yang melakukannya?

Ketiga wanita itu kini terdiam. Mereka duduk memandang ke lautan lepas, sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Tanpa mereka sadari, seseorang memperhatikan mereka dari kejauhan. Tatapan orang itu, seolah menelanjangi ketiganya. Dia memang sudah mengetahui bagaimana lekuk indah tubuh wanita-wanita itu, namun itu semua hanya dari video.

Dia ingin melihatnya langsung, menikmati setiap inchi kulit mereka. Rencana demi rencana telah tersusun sedemikian rupa di dalam kepalanya. Dia harus berhati-hati dan memainkannya selembut mungkin. Karena dia tahu, sedikit saja celah terbuka, semuanya bisa hancur berantakan.

Sebentar lagi, sebentar lagi aku akan menikmati kalian bertiga,’ sang pria menyeringai tanpa melepaskan tatapannya dari ketiga wanita itu.

*****

Malam ini, suasana makan malam terasa begitu hangat. Lantunan musik yang dimainkan oleh band yang disewa panitia menambah syahdu suasana. Band yang disewa itu kebetulan bisa memainkan berbagai macam aliran musik, sehingga mampu melayani permintaan dari para peserta. Tidak sedikit pula yang menyumbangkan suara emasnya, termasuk sang pimpinan, Pak Hamid.

Terlihat bahwa para peserta semakin akrab karena siangnya sudah sempat saling berkenalan dan beramah tamah. Sedangkan para panitia sendiri terlihat sibuk mendiskusikan persiapan untuk acara esok hari. Ya, acara untuk besok lebih banyak diisi dengan berbagai permainan dan pembagian hadiah kepada para peserta. Bukan hadiah yang mahal memang karena sifatnya hanya untuk meramaikan saja.

Saat itu Ara dan Budi sedang bersama dengan yang lainnya. Terlihat oleh mereka Edwin, suami dari Lia, sendirian. Ara sempat melihat-lihat di sekitar, mencari sahabatnya itu, tapi Lia sepertinya tidak ada di tempat itu. Ara pun segera menghampiri Edwin.

“Mas Edwin, kok sendirian aja? Lia kemana?”

“Eh Ara. Lia tadi pergi sama Nadya, nggak tahu kemana, ada yang mau dibicarain katanya. Entahlah, urusan wanita mungkin, hehe.”

“Oh gitu. Pantesan nggak kelihatan dari tadi.”

“Iya, abis makan tadi langsung cabut mereka.”

“Yaudah Mas, ayo gabung disana sama yang lain.”

“Entar dulu Ra, mau ngerokok dulu.”

“Yaudah deh, aku balik kesana dulu ya Mas,” Edwin hanya mengangguk saja, kemudian Ara berlalu dan kembali ke suami dan teman-temannya.

“Kenapa Bun?” tanya Budi sesampainya Ara di sampingnya.

“Enggak Yah, nyamperin Mas Edwin tadi, nanyain Lia kemana, katanya lagi pergi sama Nadya,” mereka pun kembali asyik dengan obrolan bersama dengan teman-temannya.

Edwin masih menghisap rokoknya sambil menunggu istrinya. Lia sudah hampir setengah jam pergi bersama dengan Nadya, entah apa yang mereka bicarakan namun perasaan Edwin tidak enak. Dia sendiri bingung kenapa merasa seperti itu, tapi mencoba untuk tidak berpikir macam-macam.

Entah kenapa saat ini firasatnya benar-benar buruk. Dia teringat tadi siang waktu baru sampai di tempat ini, wajah Lia sempat berubah terlebih saat melihat Ara dan suaminya berjalan menuju ke penginapan mereka. Wajah Lia menyiratkan sesuatu, entah apa Edwin tak bisa menyimpulkannya. Saat ditanya, Lia seperti salah tingkah dan menjawab tidak ada apa-apa, kemudian segera berlalu meninggalkan Edwin yang makin keheranan.

Perubahan Lia itu sempat terlupakan karena setelah itu Lia bersikap biasa-biasa saja. Namun saat tadi Lia pamit untuk pergi dengan Nadya, tiba-tiba perasaanya menjadi tak enak. Dia ingin melarangnya, tapi tak punya alasan yang tepat untuk itu. Kini dia hanya berharap tidak terjadi apa-apa terhadap istrinya. Edwin tak tahu, jika firasat buruknya benar-benar terjadi.

*****

 


Lia


Nadya

Minggu pagi yang cerah, hari kedua acara gathering yang sepertinya akan penuh dengan kegiatan sebelum besok kembali ke rumah masing-masing. Fajar tadi, beberapa orang sudah terbangun dan mencari tempat terbaik di pantai ini untuk menyongsong matahari terbit, beberapa yang lainnya memilih untuk menyelesaikan mimpi mereka.

Sekarang semua sudah berkumpul di sebuah tempat yang cukup lapang. Terlihat semuanya sudah bersiap untuk acara hari ini, kecuali Budi dan Ara yang disibukan dengan si kecil Ardi yang nampaknya kondisi badannya semakin menurun. Beruntung panitia sudah menyiapkan obat-obatan yang diperlukan untuk penanganan awal. Mereka sempat menawarkan kepada Budi dan Ara untuk diantar ke dokter, namun karena Ardi tidak sampai menunjukkan gejala yang terlalu serius mereka menolaknya dengan halus.

Di tempat berkumpul itu, nampak sebuah panggung yang tak terlalu besar dan tinggi di hadapan para peserta gathering yang kini sudah berbaris rapi. Ada 3 orang wanita dengan pakaian ketat berdiri di panggung itu. Bentuk tubuh ketiga wanita itu mampu membuat para pria sesaat menatapnya lekat-lekat, sebelum akhirnya dijewer oleh istrinya masing-masing. Sedangkan yang tidak ada istrinya, sudah berbaris paling depan agar dapat memandangi ketiga wanita itu sepuasnya.

Ketiga wanita itu adalah instruktur yang disewa panitia untuk memimpin agenda pertama hari ini, yaitu senam aerobik. Irama musik yang cukup menghentak mengiringi senam mereka pagi itu. Semua peserta nampak antusias mengikuti gerakan para instruktur yang cukup santai, tidak terlalu sulit dan berat.

Setelah acara senam pagi selesai para peserta langsung menuju ke tempat dimana berbagai macam makanan sudah disuguhkan disana. Untuk hari ini, panitia memang tidak menyiapkan sarapan di lokasi penginapan, namun mereka telah bekerja sama dengan para pedagang makanan yang biasanya berjualan di area pantai untuk membuka stan di tempat itu, sehingga para peserta bebas untuk memilih makanan yang mereka inginkan.

Karena memang gathering ini lebih bersifat santai, panitia memberikan waktu yang cukup lama untuk acara pertama ini. Setelah acara ini akan diadakan berbagai macam games yang melibatkan semua peserta. Memang tidak semua games akan dimainkan oleh masing-masing, tapi panitia sudah membagi-bagi siapa saja yang akan mengikuti masing-masing games. Mereka memilih orang-orang yang dalam keseharian pekerjaan tidak terlalu akrab atau jarang berinteraksi untuk tergabung dalam satu game, tujuanya jelas agar kedepannya semua pegawai bisa lebih akrab di kantor.

Semua orang nampak antusias dengan acara yang selanjutnya yang akan mereka mainkan, kecuali Lia. Sedari tadi dia hanya melamun, hanya mengaduk-aduk makanannya yang baru berkurang sedikit. Dia sama sekali tidak merasa lapar pagi ini. Pikirannya melayang pada kejadian tadi malam, saat dimana dia meninggalkan suaminya setelah makan malam untuk pergi bersama Nadya.

“Heh, ngelamun aja. Ayok kita ke tempat games, yang lain udah pada kesana lho,” Lia kaget saat seorang temannya menempuk pundaknya dari belakang.

“Oh iya Mbak,” jawabnya begitu menyadari tempat ini sudah mulai sepi.


Tiara


Budi


Indah

Hari sudah beranjak siang, acara senam sekaligus sarapan sudah selesai. Para pedagang juga sudah kehabisan dagangan mereka. Sekarang saatnya untuk masuk ke acara games. Panitia yang menjadi penanggung jawab masing-masing games sudah mengumpulkan para pesertanya, kemudian menjelaskan apa yang akan mereka mainkan.

Budi dan Ara tergabung dengan beberapa pasang lainnya akan memainkan game yang panitia penanggung jawabnya adalah Indah dan Tasya. Game yang akan mereka mainkan simpel saja. Masing-masing pasangan suami istri harus memindahkan kelereng dari sebuah wadah ke wadah lainnya yang berjarak sekitar 10 meter. Mereka harus memindahkannya memakai sumpit.

Baik suami ataupun istrinya membawa sumpit, jadi sekali jalan mereka langsung membawa 2 buah kelereng. Namun tantangannya adalah, sambil memindahkan kelereng, masing-masing pasangan harus membawa sebuah bola tenis yang ditempelkan di dahi mereka, dan ketika ada terdengar suara musik, mereka harus berhenti untuk berjoget. Jika salah satu dari bola tenis atau kelereng mereka terjatuh, maka mereka harus memulainya lagi dari awal.

Setelah mendengar arahan dari panitia, para peserta pun mulai berdiskusi dengan pasangan masing-masing, membuat strategi bagaimana untuk memainkan game ini. Yang menjadi masalah adalah saat ini Ardi benar-benar tak mau lepas dari Ara, sehingga membuat bingung kedua orang tuanya. Indah yang melihat hal itu pun mendekat.

“Kenapa Mbak Ara?”

“Ini Ndah, Ardi maunya nempel terus sama aku, nggak mau lepas.”

“Ardi, ayah sama bunda mau main nih, Ardi ikut tante yuk,” Indah mencoba untuk membujuk Ardi, namun hanya dijawab dengan gelengan kepala.

Meskipun sudah cukup dekat dan sering bermain dengan Indah, nampaknya hari ini Ardi benar-benar ingin bermanja-manja dengan bundanya. Beberapa kali coba dibujuk namun tetap saja tak mau, bahkan kelihatan seperti mau menangsi. Akhirnya Ara pun mengusulkan sebuah solusi kepada Budi agar bisa tetap ikut bermain game.

“Yah, Ardi beneran nggak mau lepas ini. Ayah ikut gamenya sama Indah atau Tasya aja gimana?”

“Lha kok gitu Bun? Ya kalau Bunda nggak bisa Ayah nggak usah ikutan aja gamenya.”

“Jangan gitu dong Yah, nggak enak sama yang lainnya. Nggak enak juga sama panitia, mereka kan udah nyiapin semuanya,” Ara mencoba meyakinkan suaminya.

“Iya, tapi kan Bun…”

“Udah Ayah ikut aja. Ayah sama Indah aja, mau ya Ndah?” Ara mengalihkan pandangannya ke Indah.

“Eh, sama aku Mbak?” Indah terlihat terkejut dengan permintaan Ara. Bukan kenapa kenapa, tapi game ini sengaja disusun untuk pasangan suami istri, jadi menggunakan bola tenis yang akan menempel di dahi mereka, tentu saja Indah tak enak jika harus menggantikan Ara.

“Iya sama kamu. Kalau sama Tasya kan Mas Budi belum terlalu kenal, kalau sama kamu kan udah. Ya, mau ya?”

“Hmm, terserah sama Mas Budi aja deh,” Indah menatap sepasang suami istri itu bergantian.

“Gimana Yah?” tanya Ara yang sebenarnya Budi tahu kalau istrinya tidak ingin ditolak permintaannya.

“Yaudah deh kalau Bunda ngasih ijin,” jawab Budi.

“Hahaha, iya iya diijinin, lagian kan Bunda juga ngawasin dari sini kalau Ayah mau nakal,” canda Ara yang disambut dengan senyuman Budi, namun justru membuat wajah Indah memerah.

“Yaudah sana siap-siap,” ujar Ara pada keduanya, sambil masih menggendong anaknya.

Permintaan Ara kepada Indah untuk menggantikannya sebagai partner bermain game dengan suaminya memang lumrah, karena baik Ara maupun Budi lebih mengenal dan dekat dengan Indah ketimbang Tasya, lagipula Tasya yang mengusulkan permainan ini jadi dia yang lebih mengerti dan harus menjadi jurinya.

Indah dan Budi pun sempat berdiskusi sejenak untuk menyusun strategi memainkan game ini. Tidak ada trik khusus, hanya mereka memastikan untuk menjaga kekompakan langkah dan jogetan mereka nantinya, karena itulah kunci dari permainan ini. Budi dan Indah, serta pasangan lain sudah bersiap di tempatnya masing-masing, sedangkan Ara kini mendekat kearah Tasya untuk membantunya memberikan arahan, dan juga sebagai juri.

“Udah Ndah santai aja, jangan tegang gitu. Anggep aja aku pacar kamu, haha,” Budi mencoba untuk membuat Indah lebih rileks karena terlihat sekali wajah Indah cukup tegang.

Indah tegang bukan karena permainan ini, tapi karena saat ini wajahnya berhadapan dan sangat berdekatan dengan Budi, hanya dipisahkan oleh bola tenis yang menempel di dahi mereka. Dia benar-benar merasa tidak enak terutama pada Ara, meskipun Ara sendiri tadi yang memintanya. Budi sendiri sebenarnya juga merasa tegang dan tidak enak, tapi dia mencoba untuk lebih rileks. Budi yang memang lebih tinggi daripada Indah terpaksa harus sedikit menunduk.

“Semuanya siap? Mulaaaiiii,” teriak Tasya memberikan aba-aba.

Serentak masing-masing pasangan memulai aksi mereka. Ada 20 buah kelereng yang disediakan untuk tiap pasangan, jadi mereka memerlukan 10 putaran untuk bisa menyelesaikan game ini. Tidak ada waktu yang diberikan, permainan baru selesai kalau sudah didapatkan juara 1, 2 dan 3. Tapi jika sudah 1 jam belum ada yang menghabiskan kelerengnya, maka baru akan dihitung siapa yang terbanyak memindahkan kelereng.

Satu putaran sudah terlewati, semua peserta masih melakukannya dengan lancar. Memasuki putaran kedua sudah ada yang mulai menjatuhkan kelerengnya hingga harus memulai dari awal. Tasya bersama dengan Ara yang sedang menggendong Ardi nampak tertawa-tawa melihat bagaimana tingkah para peserta. Ara sendiri tertawa karena melihat bagaimana ekspresi Indah yang masih saja tegang. Dia paham, Indah pasti merasa tak enak padanya, namun justru itu yang membuat Ara geli.

Memasuki putaran ketiga, saat para peserta sedang fokus untuk menjaga bola-bola mereka agar tidak terjatuh, tiba-tiba saja terdengar musik dangdut, sehingga mereka harus berhenti dulu dan berjoget. Beberapa pasang akhirnya kehilangan fokus dan menjatuhkan bolanya, baik bola tenis di dahi mereka maupun kelereng yang mereka bawa dengan sumpit. Namun Budi dan Indah masih bisa menjaga bawaan mereka.

Ara dan Tasya yang melihat bagaimana kakunya Indah berjoget semakin terpingkal-pingkal. Bahkan Ardi yang sedari tadi pucat mukanya ikut tertawa melihatnya. Tahu bahwa dirinya ditertawakan oleh Ara membuat wajah Indah semakin memerah, yang membuat Budi mati-matian menahan tawa dan fokusnya. Beruntung bola-bola bawaan mereka tak sampai terjatuh, sehingga setelah musik berhenti mereka melanjutkanya lagi.

Setelah beberapa putaran dan beberapa kali berjoget, kini tinggal sedikit lagi kelereng yang harus dipindahkan oleh para pasangan itu. Sampai saat ini, pasangan Budi dan Indah serta Pak Wito, satpam kantor, dan istrinya adalah yang paling unggul. Belum sekalipun bola-bola mereka terjatuh, sementara yang lainnya entah sudah berapa kali terjatuh.

Kini kedua pasangan itu tinggal menyisakan 4 buah kelereng, atau 2 putaran lagi mereka akan selesai. Sampai tiba-tiba Indah kehilangan konsentrasinya sehingga membuat bola tenis yang menempel di dahinya dan dahi Budi terjatuh. Karena keduanya harus saling menekan bola itu, sehingga saat terjatuh kepala keduanya terdorong ke depan. Budi yang tidak siap tak mampu menahan kepalanya sehingga dahi mereka saling berbenturan. Bukan hanya dahi, namun bibir keduanya tanpa sengaja bersentuhan.

Merasakan bibirnya tersentuh oleh bibir Budi membuat Indah begitu terkejut dan reflek menarik kepalanya ke belakang, namun karena tak mampu menjaga keseimbangannya tubuhnya terhuyung jatuh kebelakang. Beruntung Budi cepat tanggap dan kedua tangannya menangkap pinggang Indah sehingga tak sampai terjatuh, namun itu mengakibatkan sumpit yang mereka pegang terlepas dan menjatuhkan kelerengnya.

Dari posisi Ara yang saat itu tepat di belakang Budi, hanya terlihat kalau kepala mereka berdua berbenturan dan itu mengakibatkan tubuh Indah limbung sebelum akhirnya ditangkap oleh Budi. Dia, dan juga yang lainnya tidak sampai melihat bagaimana bibir Budi sempat menyentuh bibir Indah. Melihat itu Ara dan yang lainnya pun semakin terpingkal-pingkal.

Bahkan Pak Wito yang saat sedang memimpin pun ikut-ikutan kehilangan fokus sehingga terjatuh akibat tersandung kakinya sendiri. Pasangan lainnya pun akhirnya ikut-ikutan tertawa hingga bola dan kelereng mereka ikut terjatuh sehingga semua harus mengulangi dari awal. Reaksi yang jauh berbeda ditunjukkan oleh Indah. Dia yang mengalami itu, mukanya semakin merah padam. Kikuk dan salah tingkah, menyadari dirinya baru saja mendapatkan ciuman pertama seumur hidupnya, meskipun itu benar-benar tidak disengaja.

Ara dan Tasya yang melihat ekspresi Indah semakin lebar tawanya, bahkan beberapa kali meledek Indah. Mereka mengira Indah malu karena hampir terjatuh, namun lebih daripada itu, Indah benar-benar tak tahu harus bagaimana sekarang. Budi yang sebenarnya juga terkejut dan merasa tak enak, kembali mencoba untuk lebih rileks dan menenangkan Indah. Sudah kepalang tanggung, permainan sedikit lagi akan selesai. Lagipula kejadian tadi benar-benar tidak disengaja.

“Udah Ndah, jangan dipikirin dulu. Kita selesein ini dulu, tinggal dikit lagi, ayo,” Budi pun menuntun Indah ke garis start.

Indah hanya terdiam, menurut saja dengan Budi. Meskipun agak kaku, akhirnya mereka bisa menyelesaikan game itu dan menjadi juara dua, di belakang pasangan Pak Wito dan istrinya. Sementara di tempat ketiga ada Danu, seorang cleaning service beserta istrinya. Ara yang masih menggendong Ardi pun segera menghampiri Budi dan Indah untuk memberikan selamat.

“Waah Ayah selamat yaa jadi juara 2,” ujar Ara seraya memberi kecupan di pipi Budi.

“Hehe makasih Bunda.”

“Selamat ya Ndah, untung Mas Budi sama kamu tadi, kalau sama aku belum tentu bisa dapet juara 2,” Ara juga memberi kecupan di pipi Indah yang masih nampak salah tingkah.

“Eh, iiya makasih Mbak. Hmm, yang tadi itu…”

“Haha kenapa kamu Ndah? Merah gitu mukanya? Oh yang tadi? Kepalanya Mas Budi keras yaa sampai kamu hampir jatuh gitu? Hahaha,” goda Ara yang semakin menjadi melihat wajah Indah yang masih begitu merah.

“Bunda nih malah digodain anak orang. Tuh liat mukanya udah kayak kepiting rebus itu lho, entar kalau mateng beneran gimana,” tanggap Budi mencoba untuk menghentikan godaan istrinya pada Indah, karena dia tahu persis apa yang dirasakan Indah saat ini.

Budi sendiri dalam hati sebenarnya juga merasa tak enak, canggung akibat kejadian tadi. Tapi melihat sikap istrinya yang seperti itu dia yakin kalau Ara tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya, sehingga dia bisa bersikap lebih santai dan berusaha agar istrinya tidak terus menggoda Indah, yang akan membuat Indah semakin salah tingkah, dan mungkin, merasa bersalah.

“Haha, habisnya kalian lucu sih Yah. Tahu nggak, tadi Ardi aja sampai ketawa lho lihatnya, iya kan nak,” Ardi yang mendengar itupun ikutan tertawa.

“Hmm, Mbak Ara, Mas Budi, saya permisi dulu yaa, mau ke Tasya.”

“Iya Ndah, makasih yaa,” jawab Ara yang masih menahan tawanya.

“Iya Ndah, maaf yaa soal tadi,” Indah hanya menjawab Budi dengan senyum yang dipaksakan sebelum berlalu menuju Tasya.

Indah ingin menghindar dari Ara karena dia merasa benar-benar tidak enak dengannya. Semakin dirinya diledek semakin merasa tak enak. Tapi sesampainya di tempat Tasya dia masih menerima ejekan dari temannya itu. Tapi masih mending lah, dia masih bisa menjawab dan membalas dengan mencubit lengan Tasya.

Di tempat lain, permainan yang lain pun nampaknya juga sudah selesai. Akhirnya mereka semua, dengan badan yang basah oleh keringat, menuju ke tempat makan di salah satu penginapan untuk makan siang bersama-sama. Setelah itu para peserta dibebaskan untuk melakukan kegiatan mereka masing-masing, sebelum nanti berkumpul lagi untuk makan malam bersama, sekaligus pemberian hadiah kepada para pemenang di masing-masing game siang ini.

*****

Semua peserta dan panitia gathering baru saja menyelesaikan makan malam mereka. Kini mereka terlihat lebih akrab satu sama lain, bahkan dengan keluarga masing-masing. Pak Hamid sebagai pimpinan dimana mereka bekerja sedang memberikan sambutannya. Dia merasa senang karena tujuan dari acara ini tercapai. Dia berterima kasih kepada panitia yang sudah dengan sukses menyelenggarakan acara ini, juga kepada seluruh peserta yang aktif mengikuti semua acara yang telah disusun oleh panitia.

Acara selanjutnya adalah pembagian hadiah kepada para pemenang games yang mereka lakukan tadi siang. Setelah semua pemenang diberikan hadiah, ternyata masih ada banyak doorprize untuk dibagikan. Panitia memang telah merancang, bagi yang tidak mendapatkan juara dari games, mereka tetap akan menerima hadiah, sehingga tidak ada peserta yang pulang dengan tangan hampa. Memang harganya tidak seberapa, namun semuanya terlihat senang menerima hadiah itu, karena yang mereka lihat adalah nilai kebersamannya, bukan nilai nominalnya.

Setelah acara pembagian hadiah dan doorprize selesai, dilanjutkan dengan hiburan. Sama seperti malam sebelumnya, beberapa orang kembali maju untuk menyumbangkan suara emasnya diiringi oleh band lokal yang sudah disewa oleh panitia. Terlihat semua peserta dan panitia menikmati acara itu, saling membaur dan bercengkrama, tidak ada yang terburu-buru meninggalkan tempat.

Saat ini Ara dan Budi duduk dan berbincang hangat dengan beberapa keluarga lainnya. Indah pun ada disana, duduk di sebelah Ara dan memangku Ardi yang kali ini sudah tak lagi menempel pada bundanya dan terlihat sudah mulai membaik kondisinya. Indah sebenarnya masih rikuh dan canggung pada Ara karena kejadian tadi siang, namun Ara sudah tak lagi membahas kejadian itu sama sekali, sehingga membuat Indah sedikit merasa lebih nyaman.

Meski begitu, dia masih lebih banyak diam, dan hanya menanggapi obrolan-obrolan itu seperlunya. Baik Ara maupun Budi mengerti kondisi Indah dan tidak mau mengukitnya lagi. Ara memang sengaja mengajak Indah untuk mencairkan suasana, karena dia tidak ingin Indah merasa bersalah karena kejadian tadi siang.

Beberapa kali Indah melirik, mencuri pandang kearah Budi. Dan beberapa kali pula pandangan mereka bertemu, yang langsung membuat Indah mengalihkan padangannya. Tapi entah kenapa, dia rasanya ingin terus menatap Budi, meskipun juga merasa sungkan kepada Ara. Dia merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya.

Setelah kejadian tadi siang, dia terus menerus kepikiran dengan suami dari orang yang sudah dia anggap sebagai kakaknya itu. Meskipun terus mencoba menepisnya, tapi pikiran itu selalu saja kembali. Sejak tadi siang, dia selalu terbayang wajah Budi, terbayang kejadian itu. Kejadian dimana, untuk pertama kalinya, meskipun benar-benar tidak disengaja, bibirnya bersentuhan dengan bibir seorang pria.

*****

“Mas Marto, ada yang nyari tuh,” Marto yang sedang bersiap-siap hendak pulang dikejutkan oleh seorang anak buahnya.

“Haduh, siapa lagi malem-malem gini, kita udah tutup Gus,” Marto cukup sewot karena plang tanda tutup sudah terpasang lebih dari 15 menit yang lalu.

“Nggak tahu Mas, katanya cuma mau ketemu Mas Marto, bukan mau booking kok.”

“Yaudah deh kalau gitu. Yang lain udah pada pulang?”

“Udah Mas, tinggal kita aja. Kalau gitu saya pulang duluan ya Mas, ada janji nih. Semua udah saya kunci kok Mas, tinggal pintu depan aja.”

“Iya duluan aja.”

“Oh iya, tamunya cewek lho Mas, cantik, sendirian lagi.”

“Lha terus?”

“Yaa, kali aja Mas. Tenang aja, saya nggak bakal ngomong sama Mbak Fitri kok.”

“Hush ngawur kamu, udah sana pulang.”

Marto masih mendengar tawa Agus, anak buahnya itu ketika pergi meninggalkannya. Setelah memastikan semuanya beres, Marto pun meraih tasnya dan beranjak meninggalkan ruangannya. Dia penasaran, siapa yang mencarinya malam-malam begini, sendirian pula. Naluri bertahan Marto yang mantan pasukan elit kepolisian pun bekerja, dia menyiapkan segala sesuatunya untuk berjaga-jaga akan hal-hal yang mungkin saja bisa terjadi.

Setelah mengunci pintu ruangannya, Marto beranjak ruang tamu. Sebenarnya ruangan itu lebih sering dipakai oleh para pelanggannya untuk menunggu giliran mereka main, daripada untuk menerima tamu.

Sesampainya di ruangan itu, terlihat oleh Marto seorang wanita yang berpostur cukup tinggi dengan potongan rambut lurus sebahu. Wanita itu memakai jaket kulit dan celana jeans berwarna hitam membalut tubuhnya. Posisinya membelakangi Marto, sedang melihat-lihat foto yang terpajang di dinding.

“Maaf, Mbak nyari saya?” ujar Marto pelan agar tidak mengagetkan wanita itu, sementara dia tetap waspada.

Perlahan wanita itu membalikkan badannya. Tangan kanan Marto sendiri saat ini berada di belakang punggungnya, memengang sebuah pistol yang sudah terbuka kuncinya, bersiap untuk kemungkinan terburuk. Namun begitu melihat wajah wanita itu tersenyum, matanya terbelalak, betapa terkejutnya Marto.

“Udah simpen aja pistol kamu itu, aku nggak bakal ngapa-ngapain kok,” ujar Wanita itu seperti sudah tahu apa yang dipikirkan oleh Marto.

Marto terkesiap melihat wajah wanita yang sudah tak asing lagi di depannya itu.

***
Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂